• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Ekonomi Regional Jawa Tengah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kajian Ekonomi Regional Jawa Tengah"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

Kajian Ekonomi Regional

Jawa Tengah

Triwulan I-2011

Kantor Bank Indonesia Semarang

Jl. Imam Bardjo SH No.4 Semarang, Telp. (024) 8310246, Fax. (024) 8417791

http://www.bi.go.id

(2)
(3)

Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Tengah

Triwulan I Tahun 2011

Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Tengah dipublikasikan

secara triwulanan oleh Kantor Bank Indonesia Semarang, untuk

menganalisis

perkembangan

ekonomi

Jawa

Tengah

secara

komprehensif. Isi kajian dalam buku ini mencakup perkembangan

ekonomi makro, inflasi, moneter, perbankan, sistem pembayaran,

keuangan daerah, dan prospek ekonomi Jawa Tengah. Penerbitan buku

ini bertujuan untuk: (1) melaporkan kondisi perkembangan ekonomi dan

keuangan di Jawa Tengah kepada Kantor Pusat Bank Indonesia sebagai

masukan pengambilan kebijakan, dan (2) menyampaikan informasi

kepada

external stakeholders di daerah mengenai perkembangan

ekonomi dan keuangan terkini.

Kantor Bank Indonesia Semarang

Ratna E. Amiaty Pemimpin

Sutikno Deputi Pemimpin Bidang Ekonomi Moneter H. Yunnokusumo Deputi Pemimpin Bidang Perbankan

Mohamad M. Toha Deputi Pemimpin Bidang Manajemen Intern dan Sistem Pembayaran

Herdiana A.W. Peneliti Ekonomi Madya Senior Imam Fauzy Pengawas Bank Madya Senior I Ketut Suena Pengawas Bank Madya Senior Tatung M. Toufik Kepala Bidang Sistem Pembayaran Imam Mustiantoko Kepala Bidang Manajemen Intern

Softcopy buku ini dapat di-download dari

DIBI (Data dan Informasi Bisnis Indonesia) di website Bank Indonesia dengan alamat

(4)
(5)

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Tengah Triwulan I-2011 dapat selesai disusun dan dipublikasikan kepada

stakeholder Bank Indonesia. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Tengah diterbitkan secara periodik setiap triwulan sebagai perwujudan peranan Kantor Bank Indonesia

Semarang dalam memberikan informasi kepada stakeholder tentang perkembangan

ekonomi Jawa Tengah terkini serta prospeknya di masa mendatang. Kami berharap informasi yang kami sajikan ini dapat menjadi salah satu referensi atau acuan dalam proses diskusi atau peroses pengambilan kebijakan berbagai pihak terkait.

Dalam proses penyusunan Kajian Ekonomi Regional ini, kami menggunakan data yang diperoleh dari berbagai pihak, yakni instansi di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Badan Pusat Statistik, pelaku usaha dan akademisi, laporan dari perbankan serta data hasil analisis intern Bank Indonesia dan sumber-sumber lain yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Untuk itu kepada para pihak tersebut, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya dan semoga hubungan yang telah terjalin erat selama ini dapat ditingkatkan di masa yang akan datang.

Kami juga menyadari bahwa masih terdapat kesalahan dalam penyusunan kajian ini ataupun terdapat penyajian data yang kurang tepat, oleh karena itu kami senantiasa mengharapkan kritikan dan masukan membangun demi penyempurnaan di masa yang akan datang.

Akhirnya, besar harapan kami mudah-mudahan laporan triwulanan ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan dalam memahami perekonomian Jawa Tengah. Terima kasih.

Semarang, Mei 2011

KANTOR BANK INDONESIA SEMARANG Ttd

Ratna E. Amiaty Pemimpin

(6)
(7)

Daftar Isi

Kata Pengantar...i

Daftar Isi ... iii

Ringkasan Eksekutif... v

Bab 1 Perkembangan Ekonomi Makro... 1

1.1. Analisis PDRB Sisi Permintaan ... 2

1.1.1. Konsumsi ... 2

1.1.2. Investasi ... 4

1.1.3. Ekspor dan Impor... 6

1.2. Analisis PDRB Sisi Penawaran ... 7

1.2.1. Sektor Pertanian ... 7

1.2.2. Sektor Industri Pengolahan... 8

1.2.3. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR)... 9

1.2.4. Sektor Jasa ...10

1.2.5. Sektor Lainnya ...11

Bab 2Perkembangan Inflasi...15

2.1. Inflasi Berdasarkan Kelompok...16

2.2. Disagregasi Inflasi ...23

2.3. Inflasi Empat Kota di Jawa Tengah ...25

2.4. Inflasi Kota-Kota di Jawa...27

BOKS LAPORAN SURVEI LAPANGAN PRODUKSI DAN PEMBENTUKAN HARGA KOMODITAS CABAI DI KABUPATEN MAGELANG DAN WONOSOBO...29

Bab 3Perkembangan Perbankan ...35

3.1. Intermediasi Bank Umum ...36

3.1.1. Penghimpunan Dana Masyarakat ...37

3.1.2 Penyaluran Kredit...39

3.2.Suku Bunga...42

3.3. Perkembangan Kondisi Bank Umum di 6 Eks. Karesidenan di Jawa Tengah...43

3.4. Kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ...45

3.5. Kinerja Perbankan Syariah...48

BOKS TRANSPARANSI SUKU BUNGA DASAR KREDIT (SBDK) ATAU PRIME LENDING RATE BANK UMUM KONVENSIONAL DI INDONESIA ...51

Bab 4Keuangan Daerah...53

4.1. Realisasi Pendapatan Daerah...53

(8)

Bab 5Perkembangan Sistem Pembayaran ...57

5.1. Perkembangan Transaksi Pembayaran Tunai...57

5.1.1. Aliran Uang Kartal Masuk/Keluar (Inflow/Outflow) ...57

5.1.2. Penyediaan Uang Kartal Layak Edar / Penyediaan Tanda Tidak Berharga (PTTB) Uang Kartal...58

5.1.3. Uang Palsu ...59

5.2. Transaksi Keuangan secara Non Tunai ...59

5.2.1. Transaksi Kliring...59

5.2.2. Transaksi RTGS ...60

Bab 6 Kesejahteraan Masyarakat ...61

6.1. Ketenagakerjaan...61

6.2. Nilai Tukar Petani...63

Bab 7Prospek Ekonomi...65

7.1. Pertumbuhan Ekonomi ...65

7.2. Inflasi ...68

Daftar Istilah...72

LAMPIRAN...75

(9)

Ringkasan Eksekutif

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I-2011 semakin meningkat, tumbuh sebesar 5,9% (yoy), dibanding triwulan sebelumnya yang

tercatat sebesar 5,7% (yoy). Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi terutama

didorong oleh sektor non-tradable, meski dilihat dari kontribusi terhadap pertumbuhan, sektor industri pengolahan dan sektor PHR menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Sedangkan sektor pertanian mampu tumbuh positif terkait dengan terjadinya panen raya padi yang terpusat di triwulan ini. Dari sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penopang pertumbuhan triwulan ini. Secara triwulanan, perekonomian juga mengalami peningkatan sebesar 6,4% (qtq) dibandingkan triwulan IV-2010.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih tumbuh signifikan.

Konsumsi pemerintah juga mengalami pertumbuhan tahunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Selanjutnya, investasi masih mampu tumbuh cukup tinggi yang didorong oleh adanya proyek-proyek perbaikan maupun pembangunan infrastruktur baru yang dilakukan oleh pemerintah maupun investasi yang dilakukan oleh pihak swasta.

Dari sisi penawaran, sektor non-tradable pada triwulan I-2011 menjadi

pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada

sektor pengangkutan dan sektor jasa-jasa. Sementara dilihat dari kontribusi terhadap pertumbuhan pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini, terutama disumbang oleh pertumbuhan di sektor industri, sektor perdagangan, hotel dan restaurant. Semakin membaiknya kondisi perekonomian global maupun nasional terus menjadi pendorong pertumbuhan di sektor industri. Panen raya padi tahun ini yang terpusat pada triwulan ini menyebabkan sektor pertanian mengalami perbaikan kinerja pertumbuhan tahunan yang signifikan dan tercatat tumbuh positif walapun masih pada level yang relatif rendah.

Secara tahunan, tekanan inflasi pada triwulan ini mulai menunjukkan penurunan, setelah pada triwulan IV-2010 inflasi IHK tercatat di atas sasaran

inflasi 5%±1%. Inflasi Jawa Tengah triwulan IV-2010 secara tahunan tercatat sebesar

6,65% (yoy) meningkat dari triwulan sebelumnya yang mencapai 6,88% (yoy). Menurunnya tekanan inflasi tersebut terutama terkait dengan membaiknya pasokan sehingga harga pangan yang meningkat tinggi pada akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 mengalami koreksi harga. Kondisi yang sama juga terjadipada inflasi triwulanan yang menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi Jawa Tengah triwulan I-2011 secara triwulanan tercatat sebesar 0,15% (qtq) turun dari triwulan sebelumnya yang mencapai 1,62% (qtq). Sementara itu, inflasi inti cenderung meningkat sejalan dengan tekanan dari imported inflation terkait kenaikan harga komoditas internasional. Namun, nilai tukar Rupiah yang cenderung menguat mengurangi tekanan inflasi dari faktor eksternal. Sementara itu, ekspektasi inflasi relatif stabil dan tekanan inflasi dari kesenjangan ouput relatif minimal.

(10)

Kondisi tersebut tercermin pada indicator-indikator utama perbankan yang menunjukkan peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya. Penyaluran kredit perbankan di Jawa Tengah sampai dengan triwulan I-2011 tercatat cukup tinggi, meningkat menjadi 22,52% (yoy) disbanding pertumbuhan kredit secara nasional yang mencapai 24,1% (yoy). Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan peningkatan menjadi sebesar 17,58% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, pada triwulan laporan LDR tercatat sebesar 96,36%, meningkat dari triwulan sebelumnya (95,38%). Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan intermediasi perbankan di Jawa

Tengah berjalan semakin membaik. Sementara itu, rasio gross Non Performing Loan (NPL)

tetap terkendali di bawah 5%.

Perkembangan Sistem Pembayaran sampai dengan triwulan I-2011 relatif

stabil dengan menunjukkan adanya tren peningkatan. Peningkatan kegiatan sistem

pembayaran ini selaras dengan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang menunjukkan angka pertumbuhan positif pula. Peningkatan aktivitas pertumbuhan ekonomi tersebut ditunjukkan oleh peningkatan secara umum pada keluar masuk uang kas di Bank Indonesia serta peningkatan transaksi pembayaran non tunai, baik kliring

maupun melalui sistemReal Time Gross Settlement.

Kinerja keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada triwulan I-2011

masih terbatas. Realisasi pendapatan yang melampaui target belum diikuti realisasi

belanja yang optimal. Realisasi pendapatan tercatat melampaui target anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2011, khususnya pada pendapatan asli daerah yang mencapai 29,68%. Sementara itu, realisasi belanja daerah baru mencapai 7,10%, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 8,44%.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II-2011 diperkirakan akan tumbuh sedikit melambat dibandingkan triwulan ini, yaitu

dalam kisaran 5,5%-5,7% (yoy). Pertumbuhan tersebut secara sektoral masih akan

disumbang oleh sektor industri pengolahan dan sektor PHR. Sedangkan sektor pertanian diperkirakan masih akan mengalami peningkatan pertumbuhan walaupun masa panen raya telah usai, namun panen-panen kecil masih akan terjadi sepanjang triwulan II-2011 kedepan yang diyakini masih lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara dari sisi penggunaan konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh stabil dan masih akan tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi serta didukung oleh pertumbuhan investasi yang relatif cukup tinggi.

Sementara laju inflasi Jawa Tengah pada triwulan II-2011 diperkirakan

meningkat dan berada dalam kisaran 6,2%-6,7% (yoy). Tekanan inflasi pada

triwulan mendatang diperkirakan dipengaruhi oleh kondisi pasokan komoditas yang semakin terbatas, khususnya bahan makanan, sejalan dengan berlalunya masa panen raya yang telah mencapai puncaknya pada triwulan I-2011. Sementara itu, tekanan di sisi permintaan diperkirakan relatif stabil, walaupun terdapat potensi peningkatan seiring masa liburan sekolah. Sementara itu, beberapa faktor yang diperkirakan dapat

mempengaruhi laju inflasi kelompok administered price hingga akhir tahun, antara lain:

(1) penyesuaian harga BBM mengingat harga minyak dunia masih cenderung mengalami kenaikan, (2) rencana kenaikan tarif tol pada bulan September 2011, dan (3) kenaikan tarif RSUD Kota Semarang. Selain itu, terdapat potensi kenaikan harga gula pasir pada

(11)

triwulan I-2011 terkait dengan akan masuknya musim giling pada Mei 2011 disamping

juga potensi peningkatan imported inflation akibat kenaikan harga beberapa komoditas

internasional seperti minyak mentah, gandum, jagung, kedelai, dan CPO.

(12)
(13)

Bab 1

Perkembangan Ekonomi Makro

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I-2011 semakin menngkat, tumbuh sebesar 5,9% (yoy), dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,7% (yoy). Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh sektor non-tradable, meski dilihat dari kontribusi terhadap pertumbuhan, sektor industri pengolahan dan sektor PHR menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Sedangkan sektor pertanian mampu tumbuh positif terkait dengan terjadinya panen raya padi yang terpusat di triwulan ini. Dari sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penopang pertumbuhan triwulan ini. Secara triwulanan, perekonomian juga mengalami peningkatan sebesar 6,4% (qtq) dibandingkan triwulan IV-2010.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan ini memperlihatkan kinerja yang baik, berada dalam level yang relatif tinggi serta menunjukkan tren peningkatan. Bila dibandingkan dengan angka pertumbuhan ekonomi nasional, perekonomian Jawa Tengah masih tumbuh di bawah angka nasional pada triwulan ini. Pada triwulan I-2011, perekonomian nasional mencatat angka pertumbuhan sebesar 6,5% (yoy).

Sumber: BPS,

Catatan: Terdapat revisi angka pertumbuhan pada tahun 2009 dan triwulan I, II dan III tahun 2010

Grafik 1.1. Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah vs Nasional

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih tumbuh signifikan,

konsumsi rumah tangga di triwulan ini masih tetap terjaga pertumbuhannya walaupun masih berada di awal tahun. Konsumsi pemerintah juga mengalami pertumbuhan

3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 7.5

I II III IV I II III IV I*)

2009 2010 2011

Prtmbhn Ek. Jateng (%, yoy) Prtmbhn Ek. Nasional (%, yoy)

(14)

mampu tumbuh cukup tinggi yang didorong oleh adanya proyek-proyek perbaikan maupun pembangunan infrastruktur baru yang dilakukan oleh pemerintah maupun investasi yang dilakukan oleh pihak swasta.

Dari sisi penawaran, semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan tahunan

yang positif pada triwulan ini, terutama ditopang oleh pertumbuhan di sektor industri, sektor perdagangan, hotel dan restaurant. Makin membaiknya kondisi perekonomian global maupun nasional terus menjadi pendorong pertumbuhan di sektor industri. Panen raya padi tahun ini yang terpusat pada triwulan laporan menyebabkan sektor pertanian mengalami perbaikan kinerja pertumbuhan tahunan yang signifikan, tercatat mengalami pertumbuhan positif walapun masih berada pada level yang relatif rendah.

Tabel 1.1

Pertumbuhan PDRB Jawa Tengah Menurut Jenis Penggunaan (persen, yoy)

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah (data PDRB berdasarkan harga konstan tahun 2000)

Keterangan : *) angka sangat sementara, terdapat revisi angka PDRB Jateng pada triwulan I,II dan III tahun 2010

1.1. Analisis PDRB Sisi Permintaan

Dari sisi permintaan, seperti halnya periode-periode sebelumnya, konsumsi

rumah tangga masih menjadi komponen terbesar penyumbang pertumbuhan PDRB pada triwulan ini, diikuti oleh konsumsi pemerintah dan investasi.

1.1.1. Konsumsi

Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2011 tumbuh cukup signifikan sebesar 6,5% (yoy), sedikit melambat bila dibandingkan angka pertumbuhan

pada triwulan IV-2010 sebesar 7,3% (yoy). Secara umum, pertumbuhan konsumsi

rumah tangga masih cukup kuat walaupun angka pertumbuhan tahunannya lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara triwulanan yang masih tumbuh positif yaitu sebesar 0,7% (qtq).

2011

I II III IV Total I*)

1 Kons. Rumah Tangga 6.0 5.9 5.5 7.3 6.2 6.5

2 Kons. LNP 1.8 3.7 -2.9 -2.9 -0.1 -4.1 3 Kons. Pemerintah 1.7 0.2 4.0 6.0 3.1 11.9 4 P M T B 9.7 8.9 6.5 7.1 8.0 6.4 5 Ekspor 19.3 16.6 13.8 -3.3 11.2 -7.1 6 Impor 34.8 3.9 -9.4 -5.9 4.0 -6.4 PDRB 6.1 6.0 5.6 5.7 5.8 5.9 No Penggunaan 2010

(15)

Sumber : Survei Konsumen, Bank Indonesia Sumber: PT PLN (Persero) Distribusi Wil. Jateng&DIY

Grafik 1.2. Indeks Keyakinan Konsumen Grafik 1.3. Penjualan Listrik segmen Rumah

Tangga di Jawa Tengah

Masih kuatnya level konsumsi rumah tangga tersebut terkonfirmasi pula dari hasil Survei Konsumen yang diselenggarakan oleh Kantor Bank Indonesia sampai dengan posisi akhir triwulan I-2011, yang menunjukkan bahwa indeks keyakinan konsumen di Jawa

Tengah masih optimis1 dan berada dalam tren yang meningkat, yaitu pada nilai 113,3

dibandingkan posisi pada akhir tahun 2010 sebesar 102,4.

Prompt indicator lainnya yang menunjukkan pertumbuhan positif

konsumsi rumah tangga adalah penjualan listrik PLN segmen Rumah Tangga

(Grafik 1.3.), yang juga menunjukkan nilai pertumbuhan tahunan yang positif pada

triwulan ini, walaupun nilainya memang sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan adanya indikasi kebutuhan konsumsi

energi masyarakat yang masih cukup tinggi. Selain itu,Penjualan Bahan Bakar Minyak

(BBM) jenis Solar dan Premium Jawa Tengah juga dapat menjadi prompt indicator

untuk menggambarkan konsumsi bahan bakar masyarakat. Realisasi penerimaan pajak penjualan BBM pada triwulan ini menunjukkan pertumbuhan yang postif dan masih realtif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV-2010.

Sumber : Dinas PPAD Prov. Jawa Tengah Sumber : Bank Indonesia Grafik 1.4. Penerimaan Pajak BBM-KB Jawa

Tengah.

Grafik 1.5. Posisi Giro Pemerintah di Perbankan Jawa Tengah

Konsumsi pemerintah pada triwulan I-2011 tumbuh sebesar 11,9% (yoy), jauh lebih tinggi bila dibandingkan angka pertumbuhan pada triwulan IV-2010

0 20 40 60 80 100 120 140 160 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2009 2010 2011 (Indeks)

IndeksKeyakinan Konsumen (IKK) Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Ekspektasi Konsumen (IEK)

Optimis Pesimis 5 .1 8.7 10.3 7.7 7.9 7.7 4.2 7.0 5.5 0 2 4 6 8 10 12 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000 2,200 I II III IV I II III IV I 2009 2010 2011 Ju ta KW h

Rumah Tangga g_yoy (%,RHS)

-20% -10% 0% 10% 20% 30% 0 50 100 150 200 250 i ii iii iv i ii iii iv i 2009 2010 2011 Rp .M ili ar Penerimaan Pajak BBM KB growth (yoy) 0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 2009 2010 2011 Rp M ili ar Giro Pemerintah

(16)

sebesar 6,0% (yoy). Walaupun tingkat penyerapan belanja pemerintah di triwulan ini masih rendah (secara triwulanan pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar -13,5%), pertumbuhan tahunan yang lebih tinggi tersebut diperkirakan terdorong percepatan pelaksanaan program-program pemerintah dan pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur pada awal tahun ini, seperti perbaikan jalan utama di pantura barat dan timur, pembangunan beberapa jembatan yang ambrol dan lain sebagainya.

Dataprompt indicatoryang ada yaitu simpanan giro milik pemerintah yang ada di perbankan menunjukkan peningkatan yang signifikan di awal tahun, diisi kembali dengan

dana anggaran tahun yang baru setelah berkurang signifikan pada akhir tahun (Grafik

1.5.). Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan anggaran masih relatif rendah di triwulan

awal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya (lihat bab keuangan daerah).

1.1.2. Investasi

Investasi yang tercermin dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada triwulan I-2011 masih tumbuh signifikan sebesar 6,4% (yoy), namun lebih rendah bila dibandingkan dengan angka pertumbuhan pada triwulan IV-2010 sebesar 7,1% (yoy).

Pertumbuhan ini tidak lepas dari pelaksanaan beberapa proyek besar yang dilakukan pemerintah maupun swasta seperti jalan tol, jembatan, waduk, pembangkit listrik, instalasi air bersih serta pendirian pabrik dan gedung perkantoran. Diantaranya adalah, Proyek jalan tol Semarang-Solo masih terus berjalan yang kini beranjak ke seksi II (Ungaran-Bawen), pembangunan jalan JLLS di Selatan Jawa Tengah, pembangunan waduk Jatibarang di Semarang dan waduk Logung di Kudus, pembangunan jalan lingkar Ambarawa, pendirian pabrik gula di Blora dan lain sebagainya. Secara triwulanan PMTB triwulan ini mengalami penurunan sebesar -1,2% (qtq), setelah sebelumnya tumbuh signifikan sebesar 4,8% (qtq) pada triwulan IV-2010.

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Sumber: PT. PLN (Perserp) Distribusi Wil. Jateng&DIY

Grafik 1.6. Penjualan Semen di Jawa Tengah Grafik 1.7. Perkembangan Jumlah

Pelanggan PLN Segmen Industri di Jawa Tengah

Salah satu informasi yang dapat menjadi indikator perkembangan

investasi diantaranya adalah konsumsi semen di Jawa Tengah. Pada grafik 1.6.

terlihat bahwa pertumbuhan penjualan semen di Jawa Tengah pada triwulan I-2011 mengalami peningkatan, yang menunjukkan maraknya pembangunan di wilayah Jawa

Tengah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Prompt indicator

perkembangan investasi lainnya dapat dilihat dari pertambahan jumlah pelanggan PLN dari sektor industri dan bisnis yang mengindikasikan terus

-3.7 -9.0 -2.1 26.7 14.1 1.3 0.8 -13.9 12.7 -20 -10 0 10 20 30 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 i ii iii iv i ii iii iv i Ri bu to n Konsumsi Semen g_semen (yoy,%) 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 4,600 4,700 4,800 4,900 5,000 5,100 5,200 5,300 I II III IV I II III IV I 2009 2010 2011 Pelanggan Industri g_yoy %

(17)

terjadinya ekspansi oleh kalangan dunia usaha di Jawa Tengah. (Grafik 1.7. dan 1.8)

Sumber: PT. PLN Distribusi Wil. Jateng&DIY Sumber : Dinas PPAD Prov Jawa Tengah, diolah

Grafik 1.8. Perkembangan Jumlah

Pelanggan PLN Segmen Bisnis di Jawa Tengah

Grafik 1.9. Perkembagan Penjualan Truck/Pick-up Baru di Jawa Tengah

Indikator lain yang juga dapat digunakan untuk menggambarkan perkembangan investasi adalah pembelian kendaraan angkut barang seperti

truk/pick up baru. Grafik 1.9. menunjukkan perkembangan jumlah pengadaan truk

baru di Jawa Tengah pada triwulan ini juga masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi pada kisaran 25% (yoy). Pembelian truk biasanya dipergunakan untuk

keperluan bisnis/usaha, sehingga perkembangan penjualan truk ini dapat menjadi proxy

peningkatan investasi. Dari sisi pembiayaan juga terlihat bahwa posisi kredit

investasi yang disalurkan oleh perbankan di Jawa tengah mengalami

peningkatan baik nominal maupun pertumbuhannya, seperti terlihat pada grafik

1.10.

Sumber: Bank Indonesia, diolah Sumber : DSM, Bank Indonesia

Grafik 1.10. Perkembangan Kredit

Investasi di Jawa Tengah Grafik 1.11. Perkembangan Impor NonMigas Barang Modal Jawa Tengah

0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 200 210 220 230 240 I II III IV I II III IV I 2009 2010 2011 Ribu Pelanggan Bisnis g_yoy % -50 -25 0 25 50 75 100 125 150 0 500 1000 1500 2000 Ja n F e b M a r A p r M e i Ju n Jul A gs s e p O k t N o v D e s Ja n F e b M a r A p r M e i Ju n Jul A gs s e p O k t N o v D e s Ja n F e b M a r 2009 2010 2011

Total Truck/Pick-Up (Unit) g_yoy (%,RHS) 0% 10% 20% 30% 40% 50% 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000

i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i

2008 2009 2010 2011 Kredit Investasi g_yoy (% -RHS) Rp. miliar -100 -50 0 50 100 150 200 250 300 350 0 100 200 300 400 500 600

I II III IV I II III IV I II III IV I

2008 2009 2010 2011 Ju ta U SD Capital g_yoy (%, RHS)

(18)

Sementara itu, data impor non migas Jawa Tengah untuk barang-barang

modal2 (Capital Goods) memperlihatkan penurunan pada triwulan ini bila

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan tahunannya juga mengalami

kontraksi yang cukup dalam. (Grafik 1.11.)

1.1.3. Ekspor dan Impor

Perdagangan eksternal (ekspor-impor dan perdagangan antar pulau) di wilayah Jawa Tengah pada triwulan I-2011 masih mengalami perlambatan.

Perkembangan ekspor3 pada PDRB Jawa Tengah triwulan I-2011 masih mengalami

kontraksi sebesar -7,1% (yoy), melambat dibandingkan angka pertumbuhan pada triwulan IV-2010 yang juga mengalami kontraksi sebesar -3,3% (yoy). Sejalan dengan ekspor, impor juga masih mengalami kontraksi sebesar -6,4% (yoy) melambat dari pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar -5,9% (yoy).

Sumber : DSM Bank Indonesia

Grafik 1.12. Perkembangan Ekspor Impor

Non Migas di Jawa Tengah GrafikBongkar Muat Peti Kemas1.13. Perkembangan Volume

Berdasarkan data ekspor dan impor luar negeri yang diolah dari Direktorat

Statistik Ekonomi dan Moneter (DSM) Bank Indonesia, kinerja ekspor non migas

Jawa Tengah sampai dengan triwulan I-2011 justru masih tumbuh positif walaupun mengalami perlambatan dari triwulan sebelumnya. Sementara itu, impor non migas menunjukkan adanya kontraksi pertumbuhan tahunannya pada triwulan ini sejalan

dengan impor perdagangan eksternal dalam PDRB Jawa Tengah. (Grafik 1.12.)

Selanjutnya, volume arus bongkar muat peti kemas untuk kegiatan ekspor impor ke luar negeri di terminal peti kemas semarang juga mengkonfirmasikan adanya penurunan pertumbuhan pada triwulan ini dibandingkan triwulan sebelumnya baik

besaran volume maupun pertumbuhan tahunannya. (Grafik 1.13).

2

Barang-barang impor berdasarkan klasifikasi BEC dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu: 1. Barang modal (Capital) adalah barang-barang yang digunakan untuk keperluan investasi 2. Bahan baku (Raw Material) adalah barang-barang mentah atau setengah jadi yang akan diproses

kembali oleh sektor industri

3. Konsumsi (Consumption) adalah kategori barang-barang jadi yang digunakan langsung untuk konsumsi baik habis pakai maupun tidak.

BEC merupakan pengklasifikasian kode barang dengan 3 digit angka, yang dikelompokkan berdasarkan kegunaan utama barang berdasarkan daya angkut komoditi tersebut.

3Pengertian ekspor dan impor dalam konteks PDRB adalah mencakup perdagangan barang dan jasa antar

negara dan antar provinsi

-100 -50 0 50 100 150 200 0 100 200 300 400 500 Ja n Fe b M a r A p r M e i Ju n Ju l A gs Se p O k t N o v D e s Ja n Fe b M a r A p r M e i Ju n Ju l A gs Se p O k t N o v D e s Ja n Fe b M a r 2009 2010 2011 Ju ta U SD

Ekspor non migas (nilai) Impor non migas (nilai) g_ekspor (yoy,%- RHS) g_impor(yoy,% -RHS) -5 0 5 10 15 20 0 10 20 30 40 50 60 i ii iii iv i ii iii iv i 2009 2010 2011 R ib u TE U S Ekspor Impor g_exp (%,yoy) -RHS g_imp (%,yoy) -RHS

(19)

Sementara itu, perdagangan antar daerah yang juga menjadi komponen dalam penghitungan ekspor impor dalam PDRB ini diperkirakan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini karena puncak aktivitas perdagangan antar daerah telah terjadi pada triwulan sebelumnya disamping adanya beberapa gangguan transportasi seperti putusnya jembatan dan kerusakan di beberapa ruas jalur pantura yang saat ini sedang diperbaiki. Penurunan aktivitas perdagangan antar daerah inilah yang ditengarai menjadi penyebab kontraksi pertumbuhan ekspor dan impor dalam PDRB Jawa Tengah.

1.2. Analisis PDRB Sisi Penawaran

Dilihat dari sisi sektoral, semua sektor mengalami pertumbuhan positif pada triwulan ini,dengan pertumbuhan yang cukup tinggi dialami oleh sektor angkutan dan komunikasi, sektor jasa-jasa, sektor industri pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restaurant (PHR). Dari sisi sumbangan terhadap pertumbuhan, sektor industri pengolahan, sektor PHR memberikan sumbangan pertumbuhan yang terbesar terhadap PDRB Jawa Tengah periode triwulan ini.

Tabel 1.2.

Pertumbuhan PDRB Jawa Tengah Menurut Lapangan Usaha (YoY, PERSEN)

Sumber : BPS Provinsi Jawa Tengah (data PDRB berdasarkan harga konstan tahun 2000)

Keterangan : *) angka sangat sementara), terdapat revisi angka PDRB Jateng pada triwulan I,II dan III tahun 2010

1.2.1. Sektor Pertanian

Sektor pertanian pada triwulan I-2011 mengalami pertumbuhan sebesar 1,6% (yoy), meningkat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan

IV-2010 yang mengalami kontraksi sebesar -1,7% (yoy). Peningkatan pertumbuhan ini

disebabkan oleh terjadinya panen raya tanaman bahan makanan, khususnya padi yang pada tahun ini terpusat pada triwulan I-2011. Cuaca ekstrim pada tahun 2010 di satu sisi memberikan pengaruh yang cukup baik pada sub sektor tanaman bahan makanan khususnya komoditas padi, sehingga hasil panennya cukup melimpah pada panen raya kali ini. Namun di sisi lain justru memberikan dampak negatif terhadap produksi komoditas-komoditas lainnya, misalnya tanaman palawija, hortikultura, buah-buahan dan

2011

I II III IV Total I*)

1 Pertanian 4.6 2.5 3.5 -1.7 2.5 1.6

2 Pertambangan & Penggalian 11.3 9.8 10.7 -2.9 7.1 2.0

3 Industri Pengolahan 8.0 8.3 5.5 5.9 6.9 7.2

4 Listrik, Gas & Air Bersih 9.3 8.8 7.6 8.0 8.4 4.9

5 Konstruksi 9.1 8.5 5.2 5.2 6.9 5.6

6 Perdagangan, Hotel & Restaurant 5.0 5.2 5.9 8.0 6.1 7.0

7 Pengangkutan & Komunikasi 5.9 5.2 7.4 8.1 6.7 8.7

8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perush. 3.7 3.8 5.0 7.6 5.0 4.8

9 Jasa-Jasa 4.3 6.9 8.5 9.7 7.4 8.2

PDRB 6.1 6.0 5.6 5.7 5.8 5.9

2010 Lapangan Usaha

(20)

Salah satu prompt indicator yang digunakan untuk melihat kinerja sektor pertanian, khususnya tanaman bahan makanan (tabama) adalah pertumbuhan

produksi padi. Dari grafik 1.14. terlihat bahwa produksi padi triwulan ini mengalami

peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan dengan produksi triwulan IV-2010 karena terjadinya panen raya. Terlihat juga bahwa jumlah produksi padi pada panen raya tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produksi padi pada periode yang sama tahun sebelumnya sehingga pertumbuhan tahunannya dapat mencapai 29,8% (yoy). Namun, seperti telah disinggung sebelumnya, komoditas jagung justru menunjukkan kinerja yang sebaliknya. Pertumbuhan produksi jagung mengalami kontraksi hingga sebesar -30,8% (yoy) pada triwulan ini.

Sumber : Dinpertan TPH Prov. Jateng Sumber : Dinpertan TPH Prov. Jateng *Ket: Angka perkiraan Dinas dan ARAM I *Ket: Angka perkiraan Dinas dan ARAM I

Grafik 1.14. Perkembangan Produksi Padi di Jawa Tengah

Grafik 1.15. Perkembangan Produksi Palawija di Jawa Tengah

1.2.2. Sektor Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan tumbuh cukup signifikan sebesar 7,2% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tumbuh

sebesar 5,9% (yoy).Iklim usaha yang kondusif serta kondisi perekonomian yang sangat

mendukung baik tingkat nasional maupun daerah diperkirakan turut mendorong tingginya pertumbuhan sektor ini.

Salah satu prompt indicator sektor ini adalah produksi pada salah satu

industri dalam subsektor industri makanan, minuman dan tembakau yaitu

industri rokok yang tercermin oleh penerimaan cukai rokok. Penerimaan cukai rokok

menunjukkan adanya peningkatan angka pertumbuhan pada triwulan ini yang mengindikasikan adanya peningkatan produksi industri rokok di Jawa Tengah (Grafik 1.16). -60 -40 -20 0 20 40 60 80 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000

i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i*

2007 2008 2009 2010 2011 Ribu ton Produksi Padi growth_yoy % -40 -20 0 20 40 60 80 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600

i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i* 2007 2008 2009 2010 2011 Ri bu to n Jagung ptmbh. Jagung RHS (%,yoy)

(21)

Sumber : Kanwil Dit. Jend Bea Cukai Jateng&DIY, diolah Sumber: DSM, Bank Indonesia

Grafik 1.16 Penerimaan Cukai di Jawa Tengah

Grafik 1.17. Perkembangan Impor Non Migas Bahan baku Jawa Tengah

Data impor bahan baku4 (raw material) juga terus menunjukkan

pertumbuhan yang signifikan hingga triwulan ini yang mengindikasikan masih

terjaganya gairah dunia industri untuk memproduksi barang lebih banyak, atau dapat

pula menunjukkan peningkatan kapasitas produksi di sektor industri (Grafik 1.17).

Sementara itu, hasil liaison yang dilakukan oleh Bank Indonesia di wilayah Jawa

Tengah menunjukkan masih berlanjutnya tren peningkatan di sektor industri pada triwulan ini. Demikian pula kapasitas produksi juga berada dalam tingkat yang cukup tinggi, seiring dengan kegiatan produksi yang meningkat.

1.2.3. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR)

Pada triwulan I-2011 sektor PHR tumbuh cukup signifikan sebesar 7,0% (yoy), sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan

IV-2010 yang tercatat sebesar 8,0% (yoy). Secara triwulanan, sektor ini juga mengalami

penurunan sebesar -1,4% dari triwulan IV-2010. Namun, secara umum sektor PHR masih menunjukkan kinerja pertumbuhan yang cukup bagus yang ditopang oleh masih kuatnya tingkat konsumsi masyarakat serta ekspektasi dan optimisme keyakinan konsumen yang terus terjaga seiring membaiknya kondisi perekonomian dan relatif menurunnya tingkat inflasi.

Prompt indicator dari perkembangan sektor ini dapat dilihat dari hasil Survei Perdagangan Eceran (SPE) yang dilakukan Bank Indonesia pada triwulan

I-2011 (Grafik 1.18.). Indeks Perdagangan Eceran hasil Survei Perdagangan Eceran (SPE)

yang dilakukan di beberapa pusat perbelanjaan menunjukkan bahwa perkembangan indeks perdagangan eceran menunjukkan tren peningkatan hingga akhir triwulan I-2011, sehingga pertumbuhan tahunannya mengalami peningkatan.

-20 -10 0 10 20 30 40 50 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0

I II III IV I II III IV I II III IV I*

2008 2009 2010 2011 Rp .T ri liu n Penerimaan cukai g_yoy (%) 33.7 29.543.332.4 -36.8 -7.2 -3.9 0.9 78.3 39.2 16.2 54.2 20.2 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 0 100 200 300 400 500 600 700 800

I II III IV I II III IV I II III IV I

2008 2009 2010 2011 Ju ta U SD Raw Material g_yoy (%, RHS)

(22)

Sumber : SPE Bank Indonesia Semarang Sumber : BPS, dalam persen (%)

Grafik 1.18 Indeks Penjualan Eceran Riil Grafik 1.19. Tingkat Penghunian Kamar

Hotel Jawa Tengah

Selain itu, jumlah kendaraan baru (mobil maupun sepeda motor) yang terdaftar di Jawa Tengah yang ditunjukkan oleh jumlah obyek Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Baru (PBBNKB I) juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut tidak lepas dari masih tingginya animo masyarakat dalam melakukan pembelian barang-barang khususnya kendaraan, yang pada akhirnya turut meningkatkan volume transaksi perdagangan yang cukup signifikan di Jawa Tengah.

Sub sektor Hotel juga menunjukkan peningkatan pada triwulan ini yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan tingkat penghunian kamar hotel pada triwulan IV-2010 dibandingkan triwulan sebelumnya. TPK triwulan ini tercatat sebesar 42,1% lebih

tinggi dibandingkan TPK triwulan III-2010 yang tercatat sebesar 41,7%.(Grafik 1.19.)

Sumber : Dinas PPAD Prov Jawa Tengah Sumber : Dinas PPAD Prov Jawa Tengah Grafik 1.20. Penjualan Motor Baru di Jawa

Tengah

Grafik 1.21. Penjualan Mobil Baru di Jawa Tengah

1.2.4. Sektor Jasa

Sektor jasa-jasa pada triwulan ini tumbuh sebesar 8,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV-2010 yang tercatat sebesar

9,7% (yoy).Meskipun melambat, pertumbuhan sektor ini juga masih cukup tinggi pada

triwulan ini. Perlambatan ini juga tidak lepas dari peran sub sektor jasa pemerintahan umum yang memang aktivitasnya cenderung menurun pada awal tahun terkait dengan masih rendahnya realisasi penyerapan anggaran belanja pemerintah pada triwulan-triwulan awal tahun. Sedangkan untuk sub sektor jasa swasta diperkirakan menjadi penopang pertumbuhan pada triwulan ini.

Salah satu prompt indicator pertumbuhan sektor ini dapat dilihat dari

-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100. 0 120.0 Ja n F e b M ar A p r M e i J un Jul Ags Sep Okt No v D e s Ja n F e b M ar A p r M e i J un Jul Ags Sep Okt No v D e s Ja n F e b M ar 2009 2010 2011 IndeksPenjualanEceranRiil g_yoy (%, RHS) 9.5 17.1 0.7 21.8 -0.2 -6.2 12.3 5.1 5.8 11.7 1.3 -1.9 3.1 -10 -5 0 5 10 15 20 25 0 10 20 30 40 50

I II III IV I II III IV I II III IV I*

2008 2009 2010 2011

Tingkat Hunian Hotel g_yoy (RHS) -20 -10 0 10 20 30 40 50 0 50 100 150 200 250 300

i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i

2007 2008 2009 2010 2011 Ri bu U ni t

Sepeda Motor (Unit) g_yoy (%,RHS) -40 -20 0 20 40 60 80 0 2000 4000 6000 8000 10000

i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i

2007 2008 2009 2010 2011

Sedan, jeep, st.wagon g_yoy (%,RHS)

(23)

perkembangan kredit sektor jasa-jasa oleh perbankan di Jawa Tengah. Dari grafik 1.22 di bawah terlihat bahwa penyaluran kredit jasa mengalami peningkatan dari sisi nominal dan pertumbuhan baik secara tahunan maupun triwulanan.

Sumber: LBU, Bank Indonesia, diolah Sumber: LBU, Bank Indonesia, diolah Grafik 1.22. Perkembangan Kredit Sektor

Jasa di Jawa Tengah

Grafik 1.23. Perkembangan Kredit Sektor Konstruksi di Jawa Tengah

1.2.5. Sektor Lainnya

Pada triwulan I-2011, sektor konstruksi mengalami pertumbuhan sebesar 5,6% (yoy), relatif meningkat bila dibandingkan angka pertumbuhan triwulan

IV-2010 yang juga sebesar 5,2% (yoy).Perkembangan konstruksi pada triwulan ini sangat

dipengaruhi oleh pelaksanaan proyek infrastruktur pemerintah maupun swasta yang sudah berjalan pada triwulan ini, khususnya perbaikan jalan raya utama dan jembatan yang rusak karena pengaruh musim hujan maupun beban berat kendaraan. Diantaranya adalah perbaikan ruas jalan pantura timur (ruas Kudus-Pati), pantura barat (Tegal), jembatan Pabelan (Magelang) dan sebagainya. Selain itu, pembangunan berbagai gedung perkantoran serta pembangunan/perluasan pabrik oleh pihak swasta juga turut menyumbang pertumbuhan sektor ini.

Prompt indicator perkembangan sektor ini dapat dilihat pada Grafik 1.6. yang memperlihatkan bahwa pertumbuhan konsumsi semen pada triwulan ini meningkat tajam dibanding pertumbuhan pada triwulan sebelumnya. Konsumsi semen itu sendiri dapat digunakan sebagai cerminan dari kinerja sektor ini mengingat peran semen yang cukup sentral sebagai bahan baku dalam setiap pengerjaan konstruksi bangunan maupun infrastruktur. Posisi kredit sektor konstruksi juga memperlihatkan adanya peningkatan pertumbuhan tahunannya yang cukup tinggi pada triwulan ini dibandingkan dengan

triwulan sebelumnya. (Grafik 1.23)

Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan pada triwulan I-2011

tumbuh sebesar 4,8% (yoy). Mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan angka

pertumbuhan pada triwulan IV-2010 yang tercatat sebesar 7,6% (yoy). Pada subsektor perbankan, pertumbuhan kredit perbankan pada triwulan I-2011 tercatat sebesar 22,52% (yoy) meningkat dari pertumbuhan triwulan IV-2010 yang tercatat sebesar 19,57%. Pertumbuhan kredit yang positif pada triwulan ini banyak dipengaruhi peningkatan

aktivitas ekonomi pada awal tahun ini yang mengalami peningkatan. (lihat Bab III

Perkembangan Perbankan) -10 0 10 20 30 40 50 0 1 2 3 4 5 6 7

i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i

2007 2008 2009 2010 2011 Rp Tr ili un Kred Jasa g_yoy- RHS % -20 -10 0 10 20 30 40 50 0.0 0.4 0.8 1.2 1.6 2.0

i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i ii iii iv i

2007 2008 2009 2010 2011 Rp Tr iliu n Kred. Bangunan g_yoy- RHS %

(24)

TABEL 1.3

PERKEMBANGAN KEGIATAN BANK (RP MILIAR)

Sumber : LBU dan LBPR, Bank Indonesia * Keterangan: Kredit menurut lokasi bank

Secara umum kinerja sub sektor perbankan masih tumbuh cukup baik dan stabil.

Beberapa indikator kinerja perbankan, seperti dana pihak ketiga, outstanding kredit, LDR

(loan to deposit ratio) serta kualitas kredit yang tercermin dari rasio NPL (non performing loans) masih relatif cukup baik (Tabel 1.3).

Sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan I-2011 tumbuh signifikan sebesar 8,7% (yoy), masih meningkat dibandingkan pertumbuhan

triwulan IV-2010 yang tercatat sebesar 8,1% (yoy).Peningkatan pertumbuhan sektor

ini terutama didorong oleh aktivitas komunikasi yang dilakukan masyarakat yang terus meningkat, khususnya melalui telekomunikasi seluler maupun akses internet yang

pertumbuhannya sangat pesat. Sedangkan salah satu prompt indicator yang

menunjukkan peningkatan subsektor pengangkutan adalah hasil survei penjualan eceran (SPE) yang dilakukan KBI Semarang khususnya kelompok

transportasi dan Komunikasi (Grafik 1.24.). Indeks penjualan riil kelompok

transportasi dan komunikasi ini menunjukkan pertumbuhan yang masih positif pada akhir triwulan ini.

Sumber : Survei Penjualan Eceran, BI Semarang Sumber : PT. PLN Distrbusi Wil. Jateng&DIY, diolah

Grafik 1.24. Indeks Penjualan Riil

Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

Grafik 1.25. Penjualan Listrik PLN Jawa Tengah

Sektor listrik, gas dan air (LGA) mengalami pertumbuhan sebesar 4,9% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan IV-2010 yang tercatat

sebesar 8,0% (yoy). Pada sub sektor listrik, pola pertumbuhan tahunannya masih

tercatat positif dan sejalan dengan pergerakan pergerakan pertumbuhan sektor ini dimana pertumbuhan penjualan listrik pada triwulan ini sedikit melambat dibandingkan 2011

I II III IV I

1. Aset Rp miliar 129,543 138,145 143,488 149,757 155,952

Pertumbuhan (%, yoy) 14.38 19.04 17.69 19.24 20.39

2. Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp miliar 99,556 104,680 107,403 113,037 117,054

Pertumbuhan (%, yoy) 10.45 13.46 14.44 15.94 17.58

3. Kredit Rp miliar 92,060 98,362 102,348 107,842 112,791

Pertumbuhan (%, yoy) 15.31 18.98 19.06 19.57 22.52

5. Loan to Deposit Ratio (LDR) (%) 92.47 93.96 95.29 95.38 96.36

7. Non Performing Loans(NPL) (%) 3.02 3.04 2.99 2.71 3.08

No. I N D I K A T O R Satuan 2010 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 0 50 100 150 200 250 300 350 J an F e b M a r A p r M e i Ju n Jul A g s S e p O k t N o v D e s J an F e b M a r A p r M e i Ju n Jul A g s S e p O k t N o v D e s J an F e b M a r 2009 2010 2011

Transport dan Komunikasi g_yoy (%, RHS) 2.1 6.5 7.2 8.1 10.3 8.2 5.6 6.1 5.4 0 2 4 6 8 10 12 3,200 3,400 3,600 3,800 4,000 4,200 I II III IV I II III IV I 2009 2010 2011 Ju ta KW h

(25)

pertumbuhan triwulan sebelumnya. Sementara itu sub sektor air bersih diperkirakan

tumbuh stabil. Prompt indicator untuk perkembangan sektor ini diantaranya adalah

penjualan listrik oleh PLN (total konsumsi listrik Jawa Tengah), sebagaimana terlihat dari grafik 1.25.

Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 2,0% (yoy), mengalami perbaikan dibanding pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang

tercatat mengalami kontraksi sebesar -2,9% (yoy). Peningkatan sektor ini terutama

disebabkan oleh meningkatnya produksi sub sektor penggalian pasir dan batu yang sangat dominan porsinya. Peningkatan subsektor penggalian pasir ini salah satunya disebabkan oleh maraknya aktivitas penggalian pasir pasca erupsi merapi dan banjir lahar dingin di Magelang yang menghasilkan stok pasir yang sangat melimpah.

(26)
(27)

Bab 2

Perkembangan Inflasi

Secara tahunan, tekanan inflasi pada triwulan ini mulai menunjukkan penurunan, setelah pada triwulan IV-2010 inflasi IHK tercatat di atas sasaran inflasi 5%±1%. Inflasi Jawa Tengah triwulan IV-2010 secara tahunan tercatat sebesar 6,65% (yoy) meningkat dari triwulan sebelumnya yang mencapai 6,88% (yoy). Menurunnya tekanan inflasi tersebut terutama terkait dengan membaiknya pasokan sehingga harga pangan yang meningkat tinggi pada akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 mengalami koreksi harga. Kondisi yang sama juga terjadipada inflasi triwulanan yang menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi Jawa Tengah triwulan I-2011 secara triwulanan tercatat sebesar 0,15% (qtq) turun dari triwulan sebelumnya yang mencapai 1,62% (qtq). Sementara itu, inflasi inti cenderung meningkat sejalan dengan tekanan dari imported inflation terkait kenaikan harga komoditas internasional. Namun, nilai tukar Rupiah yang cenderung menguat mengurangi tekanan inflasi dari faktor eksternal. Sementara itu, ekspektasi inflasi relatif stabil dan tekanan inflasi dari kesenjangan ouput relatif minimal.

Pada triwulan I-2011, tekanan inflasi mulai menunjukkan penurunan, setelah pada triwulan IV-2010 inflasi IHK tercatat tinggi, di atas sasaran inflasi 5%±1%. Menurunnya tekanan inflasi tersebut terutama terkait dengan membaiknya pasokan sehingga harga pangan yang meningkat tinggi pada akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 mengalami

koreksi harga. Dari sisi pasokan, puncak panen raya yang terjadi pada triwulan ini

mendorong peningkatan pasokan komoditas, terutama untuk komoditas bahan pangan seperti beras. Selain itu, beberapa kebijakan yang terkait dengan pelaksanaan impor, seperti batas waktu yang baru akan berakhir pada akhir triwulan dan pembebasan bea masuk untuk beberapa komoditas, diperkirakan juga menjadi salah satu faktor yang

mendorong kenaikan pasokan komoditas di Jawa Tengah. Sementara itu dari sisi

distribusi, meski terjadi beberapa gangguan pada infrastruktur jalan namun secara

umum tidak memberikan dampak yang signigikan. Intensitas curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan proses perbaikan infrastruktur jalan di Jawa Tengah, seperti Pantura Barat, Pantura Timur dan Magelang-Yogya, tidak berjalan dengan baik. Kondisi tersebut diperkirakan cukup berpengaruh terhadap kelancaran distribusi komoditas di Jawa Tengah.

Dengan berbagai kondisi tersebut, laju inflasi Jawa Tengah triwulan I-2011 secara tahunan tercatat sebesar 6,65% (yoy), menurun dari triwulan IV-2010 yang sebesar 6,88% (yoy). Demikian juga dengan inflasi kuartalan yang pada triwulan ini lebih rendah dari triwulan IV-2010, masing-masing tercatat sebesar 0,15% dan 1,62% (qtq). Rendahnya inflasi triwulanan tersebut disebabkan perkembangan harga IHK telah mengalami deflasi pada bulan Februari dan Maret 2011 setelah pada Januari 2011 masih mengalami inflasi yang tinggi (0,8% mtm). Pada bulan Februari 2011, IHK tercatat mengalami deflasi sebesar -0,32% (mtm), yang didukung oleh produksi beras yang cukup

(28)

mencapai -0,45%, yang selain disumbang oleh penurunan harga beras juga karena koreksi harga cabai.

Dibandingkan dengan inflasi nasional, inflasi Jawa Tengah secara tahunan (yoy) pada triwulan I-2011 tercatat lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 6,65% (yoy), demikian juga dengan inflasi kuartalan yang lebih rendah dari inflasi nasional yang

tercatat sebesar 0,70% (qtq)(Grafik 2.1.). Sampai dengan Maret 2011, inflasi IHK Jawa

Tengah mencapai 0,15% (ytd). Dilihat kota di Jawa Tengah yang disurvei oleh BPS, penurunan tekanan inflasi terjadi di semua kota. Bahkan secara triwulan, kota tegal mengalami deflasi.

Sumber: BPS

Grafik 2.1.

Inflasi Jawa Tengah Dibandingkan Nasional (%)

2.1. Inflasi Berdasarkan Kelompok

Sejalan dengan puncak panen raya padi yang terjadi pada triwulan ini dan membaikan pasokan komoditas bumbu-bumbuan, berdasarkan kelompok komoditas, kelompok bahan makanan mengalami deflasi pada triwulan I-2011 sehingga secara tahunan menurun cukup tajam. Sementara itu, kenaikan harga masih terjadi pada kelompok lainnya, dengan inflasi tertinggi di triwulan ini terjadi pada kelompok sandang dan kelompok perumahan.

Secara kuartalan, tekanan harga pada triwulan ini relatif lebih rendah dibanding

triwulan IV-2010, terutama disumbang oleh deflasi pada kelompok bahan makanan. Bila dibandingkan dengan laju inflasi pada triwulan I-2010, inflasi pada triwulan I-2011 jauh lebih rendah. Deflasi yang cukup dalam pada kelompok bahan makanan pada triwulan ini (-2,38% qtq) terutama terkait koreksi harga komoditas bumbu-bumbuan yang meningkat cukup tinggi di triwulan sebelumnya dan awal triwulan laporan. Sementara itu, inflasi pada kelompok sandang terutama disumbang oleh emas perhiasan terkait kenaikan harga emas internasional, sehingga kelompok sandang meningkat sebesar 1,60% (qtq) pada

triwulan I-2011(Tabel 2.1.).

-2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 Ja n Fe b M ar Apr M ei Ju ni Juli Agt Sep Okt N op Des Jan Feb M ar Apr M ei Ju ni Juli Agt Sep Okt N op Des Jan Feb M ar Apr M ei Ju ni Juli Agt Sep Okt N op Des Jan Feb M ar 2008 2009 2010 2011 Jateng (mtm) Nas (mtm) Jateng (yoy) Nas (yoy) %

Kenaikan Harga BBM Konversi Mitan

Kenaikan Tarif PAM Puasa& Lebaran Tahun Ajaran Baru

Kenaikan Cukai Rokok

Kenaikan TDL Tahun Ajaran Baru

(29)

TABEL 2.1.

INFLASI JAWA TENGAH KUARTALAN

BERDASARKAN KELOMPOK BARANG DAN JASA (%; QTQ)

NO KELOMPOK IV-09 I-10 II-10 III-10 IV-10 I-11

UMUM / TOTAL 0,39 0,91 1,33 2,87 1,62 0,15 1 BAHAN MAKANAN -0,77 1,16 4,83 5,68 4,67 -2,38 2 MAKANAN JADI 1,18 2,06 0,22 2,46 1,37 0,84 3 PERUMAHAN 0,99 0,54 0,39 1,62 0,50 1,35 4 SANDANG 1,53 0,25 1,40 0,96 2,47 1,60 5 KESEHATAN 0,65 0,22 0,21 0,40 0,64 0,58 6 PENDIDIKAN 0,01 0,14 0,11 2,09 -0,05 0,40 7 TRANSPOR, KOMUNIKASI -0,31 0,47 0,06 2,93 -0,38 0,46 Sumber : BPS, diolah

Secara tahunan, penurunan inflasi terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi. Sementara kelompok lainnya masih menunjukkan peningkatan kecuali kelompok transpor yang relatif stabil. Meski telah menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan triwulan IV-2010, inflasi tahunan kelompok bahan makanan masih menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok komoditas yang lainnya, yaitu mencapai 13,20% (yoy). Kelompok komoditas lain yang juga mengalami penurunan tekanan harga tahunan pada triwulan ini adalah kelompok Makanan Jadi. Laju inflasi pada kelompok Makanan Jadi pada triwulan ini mencapai 4,96% (yoy), menurun dibanding triwulan IV-2010 (6,23%) dan lebih rendah dibanding posisi yang sama pada

tahun sebelumnya (7,81%).(Tabel 2.2.)

TABEL 2.2.

INFLASI JAWA TENGAH TAHUNAN

BERDASARKAN KELOMPOK BARANG DAN JASA (%; YOY)

NO KELOMPOK IV-09 I-10 II-10 III-10 IV-10 I-11

UMUM / TOTAL 3,32 3,40 4,57 5,59 6,88 6,08 1 BAHAN MAKANAN 3,75 3,16 9,37 11,20 17,30 13,20 2 MAKANAN JADI 7,53 7,81 6,08 6,04 6,23 4,96 3 PERUMAHAN 3,49 2,18 2,28 3,58 3,09 3,92 4 SANDANG 5,70 2,54 4,53 4,20 5,17 6,58 5 KESEHATAN 3,40 1,70 1,24 1,49 1,48 1,85 6 PENDIDIKAN 2,45 2,48 2,55 2,37 2,30 2,57 7 TRANSPOR, KOMUNIKASI -3,40 1,69 1,37 3,16 3,08 3,06 Sumber : BPS, diolah

Pada triwulan I-2011, kelompok bahan makananmengalami penurunan angka

inflasi yang cukup besar (Tabel 2.3). Penurunan IHK pada kelompok ini terutama

disebabkan oleh penurunan harga pada sebagian besar subkelompok komoditas yang menjadi komponen pembentuk inflasi dalam kelompok bahan makanan. Subkelompok yang mengalami penurunan terbesar pada triwulan ini adalah subkelompok bumbu-bumbuan yang mencapai -11,67% (qtq), kemudian disusul oleh subkelompok sayur-sayuran dan padi-padian, masing-masing sebesar -5,93% dan -3,22% (qtq). Sementara itu, subkelompok komoditas bahan makanan yang mengalami kenaikan harga yang

(30)

masing sebesar 3,08% dan 2,54% (qtq). Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi, antara lain: beras, cabe merah, cabe rawit, minyak goreng, bawang merah, daging ayam ras, cabe hijau, kangkung, tomat sayur, wortel, kelapa, pisang, semangka, lele dan kacang panjang. Sedangkan komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara telur ayam ras, susu bubuk, tahu mentah, dan pindang asin.

TABEL 2.3.

INFLASI JAWA TENGAH TAHUNAN

BERDASARKAN SUB KELOMPOK BAHAN MAKANAN (%; YOY)

Sumber : BPS, diolah

Walaupun mengalami menurunan harga yang dignifikan, namun secara tahunan inflasi pada subkelompok bumbu-bumbuan masih relatif tinggi dan merupakan yang tertinggi diantara subkelompok komoditas lainnya. Pada triwulan laporan, inflasi tahunan pada subkelompok ini mencapai 60,34% (yoy). Sementara itu, laju perubahan IHK subkelompok padi-padian tercatat cukup rendah, setelah mengalami deflasi pada Februari dan Maret 2011.

Khusus untuk komoditas cabai, berdasarkan survei yang dilakukan KBI Semarang diperkirakan tingkat produksi cabai dalam 3-6 bulan ke depan akan cukup melimpah seiring dengan banyaknya petani yang beralih menanam cabai, sehingga diperkirakan

harga komoditas cabai dapat stabil dan kembali ke posisi normal(lihat boks). Sementara

itu subkelompok komoditas lain yang mengalami tekanan harga tahunan yang relatif besar antara lain subkelompok sayur-sayuran, lemak & minyak dan padi-padian, masing-masing sebesar 15,76%, 14,97% dan 11,09% (yoy). Relatif masih tingginya laju inflasi tahunan pada subkelompok bumbu-bumbuan pada triwulan I-2011 terutama disebabkan oleh penurunan produksi beberapa komoditas akibat anomali cuaca. Kondisi tersebut diperkirakan memicu kenaikan harga yang cukup signifikan pada komoditas subkelompok bumbu-bumbuan, terutama cabai.

Sementara itu dari sisi perkembangan harga global, indeks harga beberapa komoditas bahan pangan di pasar internasional yang menunjukkan peningkatan sejak semester II-2010 diperkirakan juga berpengaruh terhadap harga komoditas di pasar

2009

12 3 6 9 12 1 2 3

UMUM 3.32 3.40 4.57 5.59 6.88 6.74 6.09 6.08

BAHAN MAKANAN 3.75 3.16 9.37 11.20 17.30 16.35 13.82 13.20

Padi-padian, Umbi-umbian dan Hasilnya 6.14 11.74 9.67 19.71 21.59 14.09 8.04 11.09

Daging dan Hasil-hasilnya 6.98 4.57 5.54 10.21 6.92 7.17 5.98 4.91

Ikan Segar -2.29 -6.43 -3.17 0.49 4.02 5.71 6.77 8.72

Ikan Diawetkan 3.05 -0.97 4.43 5.65 7.33 8.00 9.03 10.10

Telur, Susu dan Hasil-hasilnya -0.42 -0.96 1.72 4.40 4.52 5.98 7.51 7.98

Sayur-sayuran -5.01 -8.42 17.03 12.55 24.34 27.18 19.28 15.76

Kacang - kacangan 1.30 0.46 0.76 2.79 3.30 3.43 4.66 5.46

Buah - buahan 5.18 2.80 4.07 3.34 4.66 7.11 8.98 6.50

Bumbu - bumbuan 22.30 9.20 67.80 22.57 70.61 71.29 59.44 60.34

Lemak dan Minyak -3.67 0.15 -1.95 11.93 21.90 20.59 24.12 14.97

Bahan Makanan Lainnya 1.27 0.70 1.85 3.17 5.53 4.97 5.66 5.00

(31)

regional, mengingat pasokan beberapa komoditas, seperti beras, cabai dan kedelai, pada

triwulan ini juga dipenuhi dari impor.(Grafik 2.2.)

Sumber: IMF Sumber: IMF

Grafik 2.2.

Perkembangan Indeks Harga Komoditas Dunia

Perkembangan pasokan dan distribusi bahan pangan yang terjadi di pasar regional juga diperkuat dengan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH), untuk wilayah semarang dan sekitarnya SPH dilakukan oleh KBI Semarang pada setiap minggu.

Harga komoditas bahan pangan yang berupa padi-padian atau beras pada triwulan ini relatif lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya. Penurunan harga tersebut terutama dipicu oleh panen raya yang terjadi pada triwulan ini. Namun menjelang akhir triwulan, harga beras berangsur-angsur menunjukkan kenaikan, seiring menurunnya jumlah pasokan pasca panen. Tren penurunan harga pada triwulan ini juga terjadi pada komoditas bumbu-bumbuan, khususnya cabai, setelah mengalami kenaikan yang cukup signifikan pada akhir triwulan IV-2010. Berdasarkan SPH, penurunan tersebut disebabkan oleh pasokan yang mencukupi dan permintaan yang relatif stabil. Kondisi yang sama juga terjadi pada komoditas daging ayam ras. Sementara itu, komoditas telur ayam menunjukkan kenaikan pada triwulan ini yang berdasarkan SPH disebabkan oleh

peningkatan permintaan.(Grafik 2.3.)

0 10 20 30 40 50 60 70 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 1 2 3 2008 2009 2010 2011 Gula (cent/kg)

IndeksKomoditasMakanan hargaGandum Harga Padi Harga Kedelai Harga Gula

150 170 190 210 230 250 270 290 310 330 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 2008 2009 2010 2011 IndeksPertanian IndeksBahan Pangan

(32)

Sumber: SPH KBI Semarang

Grafik 2.3.

Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Bahan Makanan Hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) KBI Semarang

Kelompok Makanan Jadi mengalami inflasi pada triwulan ini, sebesar 0,84%

(qtq). Seluruh subkelompok yang menjadi komponen pembentuk inflasi dalam kelompok

makanan jadi mengalami kenaikan harga(Tabel 2.4.).

8,000 8,250 8,500 8,750 9,000 9,250 9,500

I II III IV V I II III IV V I II III IV I II III IV V

Des Jan Feb Mar

2010 2011 Beras 10,000 11,000 12,000 13,000 14,000 15,000 22,000 23,000 24,000 25,000 26,000 27,000

I II III IV V I II III IV V I II III IV I II III IV V

Des Jan Feb Mar

2010 2011

Daging dan Telur Ayam Ras

Daging Ayam Ras Telur Ayam Ras

DagingAyam (Rp/kg) TelurAyam (Rp/kg) 65,000 65,500 66,000 66,500 67,000 67,500 68,000 68,500

I II III IV V I II III IV V I II III IV I II III IV V

Des Jan Feb Mar

2010 2011 Daging Sapi 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 55,000

I II III IV V I II III IV V I II III IV I II III IV V

Des Jan Feb Mar

2010 2011

Bumbu-bumbuan

Cabe Merah Cabe Rawit Bawang Merah Bawang Putih

4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000 11,000 12,000 13,000

I II III IV V I II III IV V I II III IV I II III IV V

Des Jan Feb Mar

2010 2011

Sayur-sayuran

Wortel Kentang Kacang Panjang Kangkung

9,000 10,000 11,000 12,000 13,000 14,000

I II III IV V I II III IV V I II III IV I II III IV V

Des Jan Feb Mar

2010 2011

Minyak Goreng

Curah Merk 1 Merk 2

37,000 38,000 39,000 40,000 41,000 42,000 43,000 18,000 19,000 20,000 21,000 22,000 23,000

I II III IV V I II III IV V I II III IV I II III IV V

Des Jan Feb Mar

2010 2011 U d a n g B a sa h (R p /k g) Ikan-Ikanan

(33)

TABEL 2.4.

INFLASI JAWA TENGAH TAHUNAN

BERDASARKAN SUB KELOMPOK MAKANAN JADI (%; YOY)

Sumber : BPS, diolah

Subkelompok tembakau dan minuman beralkohol menjadi komponen yang mengalami inflasi terbesar, mencapai 1,14% (qtq). Sementara itu, subkelompok makanan jadi dan subkelompok minuman tidak berakohol masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,89% dan 0,40% (qtq). Beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi pada kelompok antara lain rokok kretek filter, gulai dan sate. Sementara itu, harga gula pasir domestik pada triwulan I-2011 cenderung stabil, seiring dengan stabilnya harga gula pasir

dunia.(Grafik 2.4.)

Dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya, tekanan inflasi pada kelompok ini relative melambat dari 7,81% (yoy) pada triwulan I-2010 menjadi 4,96% pada triwulan ini. Perlambatan laju inflasi tahunan tersebut terutama bersumber pada subkelompok Minuman Tidak Beralkohol yang melambat dari 17,91% (yoy) pada triwulan I-2010 menjadi 1,23% (yoy).

Sumber: IMF dan SPH KBI Semarang Grafik 2.4.

Perkembangan Harga Gula Pasir di Dunia dan Hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) KBI Semarang

Pada kelompok Sandang, tren kenaikan harga emas internasional yang terjadi

sejak akhir 2008 diperkirakan menjadi pemicu kenaikan harga emas perhiasan di level

regional (Grafik 2.5.). Kondisi tersebut mendorong kenaikan laju inflasi pada

subkelompok barang pribadi dan sandang lain hingga mencapai 3,88% (qtq) pada triwulan I-2011 dan secara tahunan, inflasi subkelompok barang pribadi mencapai

18,33% (yoy)(Tabel 2.5.). 8,000 8,500 9,000 9,500 10,000 10,500 11,000 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2009 2010 2011 Dunia Lokal Lokal(Rp/kg) Dunia(USD/pound) 2009 12 3 6 9 12 1 2 3 UMUM 3.32 3.40 4.57 5.59 6.88 6.74 6.09 6.08 MAKANAN JADI 7.53 7.81 6.08 6.04 6.23 5.71 5.06 4.96 Makanan Jadi 4.40 5.22 4.22 6.08 5.96 5.92 5.20 5.14

Minuman yang Tidak Beralkohol 20.65 17.91 10.84 3.67 4.15 2.30 1.40 1.23

Tembakau dan Minuman Beralkohol 7.26 7.81 8.26 8.62 9.46 8.49 8.38 8.26

(34)

TABEL 2.5.

INFLASI JAWA TENGAH TAHUNAN

BERDASARKAN SUB KELOMPOK SANDANG (%; YOY)

Sumber : BPS, diolah

Sementara itu, harga kapas di level internasional pada triwulan ini mengalami penurunan yang sangat signifikan. Namun demikian, harga kapas tersebut masih berada di level yang cukup tinggi, baik secara triwulanan maupun tahunan. Penurunan harga kapas di level internasional tersebut salah satunya disebabkan oleh penurunan permintaan

kapas dari importir terbesar di dunia, yaitu China.(Grafik 2.5.)

Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan kelompok sandang meningkat menjadi 6,58% pada triwulan I-2011 dari 5,17% pada triwulan sebelumnya.

Sumber: IMF

Grafik 2.5.

Perkembangan Indeks Harga Kapas Dunia dan Harga Emas

Sementara itu, tren kenaikan harga minyak dunia yang masih terjadi hingga saat ini menjadi pemicu inflasi pada komoditas BBM non subsidi (Pertamax). Berdasarkan data dari PT. Pertamina, harga BBM nonsubsidi di Jawa Tengah pada Maret 2011 mengalami kenaikan dibanding bulan Februari 2011, berkisar dari Rp150/liter hingga Rp350/liter

(Grafik 2.6.). Kondisi tersebut mendorong inflasi padakelompok Transport, khususnya

subkelompok transport dan subkelompok sarana & penunjang transport, dimana laju inflasi triwulanan pada kedua subkelompok tersebut masing-masing sebesar 0,79% dan 0,14% (qtq). Dengan demikian, laju inflasi tahunan pada kedua subkelompok tersebut

mencapai 1,21% dan 25,56% (yoy)(Tabel 2.6.). Kenaikan biaya/jasa perpanjangan STNK

pada Juli 2010, serta naiknya tarif angkutan udara dan angkutan darat (bus AKDP, bus AKAP, dan kereta api) pada September 2010 membuat laju inflasi tahunan subkelompok sarana & penunjang transport pada triwulan I-2011 mengalami kenaikan yang sangat signifikan. 500 600 700 800 900 1,000 1,100 1,200 1,300 1,400 1,500 150 170 190 210 230 250 270 290 310 330 350 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 2008 2009 2010 2011 Lokal Internasional EmasDunia (USD/troyonce) EmasLokal (Rp.ribu/gr) 253.17 100 150 200 250 300 350 400 450 500 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 2008 2009 2010 2011

cent/kg Harga Kapas Dunia

2009 12 3 6 9 12 1 2 3 UMUM 3.32 3.40 4.57 5.59 6.88 6.74 6.09 6.08 SANDANG 5.70 2.54 4.53 4.20 5.17 5.23 5.35 6.58 Sandang Laki-laki 3.67 2.84 2.52 2.21 3.07 3.42 3.60 3.92 Sandang Wanita 3.10 2.47 2.28 2.06 2.29 2.32 2.52 2.30 Sandang Anak-anak 3.27 3.41 3.33 2.13 2.94 2.50 2.32 2.39

Barang Pribadi dan Sandang Lain 15.72 1.95 11.64 12.24 14.04 14.15 14.39 18.33

(35)

TABEL 2.6.

INFLASI JAWA TENGAH TAHUNAN

BERDASARKAN SUB KELOMPOK TRANSPOR (%; YOY)

Sumber : BPS, diolah

Sumber: IMF

Grafik 2.6.

Perkembangan Indeks Harga Energi Dunia dan Harga Minyak Dunia

2.2. Disagregasi Inflasi

Berdasarkan disagregasi inflasi, penurunan inflasi IHK terutama terjadi pada

kelompokvolatile food (VF), sementara inflasi inti cenderung meningkat. Pada kelompok

administered price, inflasi cenderung stabil sejalan dengan tidak adanya kebijakan Pemerintah yang bersifat strategis.

VF menurun menjadi 14,73% pada triwulan I-2011 dari 18,24% (yoy) pada triwulan sebelumnya. VF menurun karena membaiknya pasokan, terutama beras sejalan dengan panen raya padi yang cukup baik. Pada tahun 2011, produksi padi terutama terjadi pada triwulan I. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, produksi padi pada triwulan I-2011 mencapai 4,43 juta ton, atau meningkat 29,8% dibanding triwulan sebelumnya

(lihat bab I). Disamping itu, menurunnya harga beras juga didukung oleh pengadaan

beras Bulog yang cukup baik, yang hingga triwulan I-2011 sebesar 137.916 ton atau mencapai 24,2% dari prognosa 2011. Pengadaan tersebut lebih tinggi dibanding posisi yang sama tahun 2010 yang sebesar 49.257 ton atau mencapai 9,85% dari prognosa 2010.

Administered pricerelatif stabil, yaitu sebesar 4,47%, dibanding 4,46% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Inflasi adm prices pada triwulan I-2011 terutama terkait dengan

2009

12 3 6 9 12 1 2 3

UMUM 3.32 3.40 4.57 5.59 6.88 6.74 6.09 6.08

TRANSPOR,KOMUNIKASI -3.40 1.69 1.37 3.16 3.08 2.96 2.92 3.06

Transpor -5.06 2.49 1.99 1.20 1.12 1.06 0.99 1.21

Komunikasi Dan Pengiriman -0.17 -0.16 -0.15 -0.12 -0.12 -0.46 -0.45 -0.43 Sarana dan Penunjang Transpor 0.91 0.88 0.83 26.05 25.48 25.47 25.47 25.56

Jasa Keuangan 0.77 0.77 0.77 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Komoditi 2010 2011 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 20 40 60 80 100 120 140 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 2008 2009 2010 2011

Indeks Harga Energi (USD) Harga Minyak

(USD/barel) Indeks Harga Energi

WTI Minas

(36)

TABEL 2.4.

KOMODITAS PENYUMBANG INFLASI

Sumber: BPS, diolah

Ditengah menurunnya inflasi volatile food dan stabilnya administered prices, inflasi inti justru cenderung meningkat. Pada triwulan I-2011, inflasi inti meningkat menjadi 4,51% dari 4,21% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Dilihat dari faktor-faktor yang memengaruhi inflasi, kenaikan inflasi terutama bersumber dari imported inflation sejalan dengan kenaikan harga emas internasional. Sementara itu, tekanan inflasi dari kenaikan harga komoditas internasional dapat diredam nilai tukar yang cenderung menguat (Grafik 2.7.)

Sumber: BI, diolah

Grafik 2.7. Perkembangan Nilai Tukar

-0 0 1 1 1 1 1 2 2 2 8700 8800 8900 9000 9100 9200 9300 9400 9500

Jan-10 Mar-10 May-10 Jul-10 Sep-10 Nov-10 Jan-11 Mar-11

Kurs Harian Vol. Harian (RHS) Vol Triwulanan (RHS)

Rp/USD %

2011 Kelompok Komoditas Inflasi (mtm%) Sumbangan (%) Maret

Volatile foods Cabai Merah -30.34 -0.17

Volatile foods Beras -2.82 -0.16

Volatile foods Cabai Rawit -16.19 -0.15

Volatile foods Minyak Goreng -6.47 -0.10

Volatile foods Bawang Merah -6.80 -0.04

Core Inflation Tukang 3.99 0.11

Core Inflation Emas Perhiasan 5.24 0.08

Volatile foods Telur Ayam Ras 7.76 0.07

Volatile foods Bawang Putih 5.68 0.03

Core Inflation Gulai 5.23 0.02

Februari

Volatile foods Beras -3.14 -0.19

Volatile foods Cabai Merah -18.2 -0.13

Volatile foods Cabai Rawit -5.54 -0.065

Volatile foods Daging Ayam Ras -2.14 -0.035

Core Inflation Pasir -1.72 -0.02

Core Inflation Batu Bata 9.86 0.07

Volatile foods Minyak Goreng 1.91 0.03

Adm.Price PAM 2.34 0.03

Core Inflation Mobil 1.97 0.02

Volatile foods Telur Ayam Ras 2.59 0.02 Januari

Volatile foods Cabai Merah -7.52 -0.065

Volatile foods Daging Ayam Ras -1.87 -0.032

Volatile foods Bawang Putih -4.89 -0.027

Volatile foods Telur Ayam Ras -3.07 -0.026

Volatile foods Kacang Panjang -9.48 -0.022

Volatile foods Beras 8.27 0.13

Volatile foods Bawang Merah 18.67 0.10

Volatile foods Cabai Rawit 21.39 0.097

Volatile foods Minyak Goreng 4.21 0.067

Core Inflation Batu Bata 6.10 0.036

Deflasi Inflasi Deflasi Inflasi Deflasi Inflasi

Gambar

Grafik 1.1. Perbandingan Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah vs Nasional
Grafik 1.9. Perkembagan Penjualan Truck/Pick-up Baru di Jawa Tengah
Grafik 1.12. Perkembangan Ekspor Impor
Grafik 1.21. Penjualan Mobil Baru di Jawa Tengah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk sengketa hasil pemilu diselesaikan di Mahkamah Konstitusi (MK), sedangkan penyelesaian perkara pidana pemilu diselesaikan melalui Pengadilan Negeri (PN),

Penelitian ini menyimpulkan bahwa prevalensi dismenore pada remaja putri usia 15-17 tahun di Surakarta masih tinggi, dan faktor yang berpengaruh pada derajat dismenore antara

Untuk mengetahui dimensi Jaminan (Assurance) kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut berdasarkan tingkat kepuasan pasien pengguna BPJS kesehatan di Puskesmas

Sebagai lokasi yang dahulunya merupakan pusat orientasi maka keberadaan fasilitas ini dapat dianggap sebagai pengganti PIM berupa gudang relik dengan preferensi kemanan

Penelitian ini difokuskan pada lirik lagu ciptaan Efek Rumah Kaca dalam album Sinestesia yaitu “ Merah dan Biru ” Lirik-lirik lagu tersebut bersifat puitis dan memiliki

Madrasah Aliyah Islamiyah Tanggulangin Sidoarjo adalah kemampuan guru membuat jadwal penggunaan strategi pembelajaran yang sudah sesuai dengan materi, membuat

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dampak pendidikan akhlak bagi Santri pada Kitab Washaya Al-Abaa‟ Lil Abnaa‟ karya Syaikh Muhammad Syakir (Studi Kasus di