Bab 3 Analisis Data
Seperti yang telah disebutkan dalam Bab 2, pada masa Periode Nara (710-794), terdapat suatu kepercayaan mengenai empat dewa yang menjaga tiap-tiap arah mata angin kota Kyoto yang disebut dengan istilah Shijin (四神) atau terkadang juga bisa
disebut dengan Shiseijyuu (四聖獣) yang terdiri atas : Seiryuu (青龍), Byakko (白虎),
Genbu (玄武), dan Suzaku (朱雀). (Nakanishi, 1991:117).
3.1 Analisis Konsep Shijin (Empat Dewa) yang Ada di Kyoto Melalui Sudut Pandang Masyarakat Kyoto Pada Masa Periode Nara (710-794)
Pada bagian ini, penulis akan menjelaskan tentang analisis dari tiap-tiap konsep mengenai empat dewa tersebut melalui sudut pandang masyarakat Jepang Periode Nara (710-794) dengan menggunakan konsep empat dewa, seperti dikemukakan oleh Nakanishi (1991:117) berikut ini :
四神とは南西東北にそれぞれの方角を守る守護神である。北に大山があ
って玄 武棲む、東に川流れ青龍棲む、南に大池あって朱雀棲む、西に大
道あって白虎棲む。
Yang disebut dengan Shijin adalah dewa penjaga yang menjaga tiap-tiap sudut arah. Di utara terdapat gunung besar tempat tinggal Genbu, di timur mengalir sungai tempat tinggal Seiryuu, di selatan terdapat kolam besar tempat tinggal Suzaku, di barat terdapat jalan besar tempat tinggal Byakko.
Berikut adalah ke-empat uraian analisis dari dewa-dewa penjaga arah (Shijin) tersebut ditinjau dari sudut pandang masyarakat Kyoto masa Periode Nara (710-794)
3.1.1 Analisis Konsep Dewa Seiryuu (青龍) dari Sudut Pandang Masyarakat
Kyoto yang Menggunakan Konsep Gogyou
Seiryuu, dewa berbentuk naga berwarna hijau atau biru yang diyakini mewakili musim semi dan berelemen kayu serta dipercaya menjaga arah timur kota Kyoto. (Kitagawa,1966)
Di Cina, Naga disebut dengan Shenlong yaitu naga berwarna hijau yang memiliki empat tanduk dan di cakarnya selalu membawa bola permata yang melambangkan kemakmuran. Naga atau Shenlong ini, dipercaya sebagai penguasa langit yang selalu mengawasi masyarakat Cina dari atas langit. (http://www.onmark.productions.com, Hachi Hogobutsu : The Eight Protector of Twelve Zodiacs, 21-01-2005)
Dari konsep di atas, penulis dapat menganalisis bahwa naga merupakan hewan yang tidak terdapat pada mitologi dan kebudayaan Jepang karena pada awalnya, hewan ini berasal dari mitologi dan kebudayaan Cina yang masuk ke Jepang pada Periode Asuka (552-710) dan setelah masuknya budaya Cina ke Jepang, Shenlong (naga Cina berwarna hijau) tersebut berubah nama menjadi Seiryuu yang secara harafiahnya berarti “naga biru”. Perubahan ini disebabkan karena kanji “Sei/Aoi(青)” dalam bahasa Jepang
yang digunakan pada periode ini sering digunakan untuk menyebut warna biru/hijau contoh :
1. (青)信号 = Aoshingou 2. (青)りんご = Aoringo
dalam konteks kata No.1 di atas, masyarakat Jepang menggunakan kanji (青) untuk
mendefinisikan warna hijau rambu lalu lintas dan hal yang sama juga digunakan pada konteks kata No.2 yang digunakan untuk mendefinisikan warna hijau pada buah apel.
Warna biru atau hijau diambil oleh masyarakat Jepang karena warna tersebut dianggap sebagai warna yang mempunyai arti memberi kehidupan kepada bumi dan masyarakat Jepang menganggap warna tersebut sebagai lambang kesuburan musim semi. Hal tersebut didukung oleh konsep Gogyou Moku yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:121).
Berbeda dengan Shenlong, menurut Animonster 79 (2005:50) Seiryuu merupakan sosok dewa yang tinggal di sungai atau air dan merupakan simbol kekuatan kaisar karena dianggap mampu mengontrol hujan untuk mengisi sungai dan laut, bahkan membuat air bah/banjir.
Gambar 2 Seiryuu
Berdasarkan konsep Gogyou (木 ) - elemen kayu, penulis menganalisis bahwa masyarakat Kyoto mengambil wujud atau sosok naga sebagai sebuah perwujudan yang dipercaya untuk melindungi kota Kyoto bagian timur karena sosoknya yang panjang dan
fisik yang kuat. Analisis penulis di atas didukung oleh kutipan konsep dari bab 2 mengenai konsep Gogyou (水) berikut ini:
春。東を象徴する。物事の眼を見抜く洞察力と、行動力、精神力を持つ。 Melambangkan musim semi, dan arah timur. Mempunyai kekuatan mental, kekuatan gerak dan kemampuan penglihatan yang tajam. (Nakanishi, 1991:92)
Alasan mengapa Seiryuu tinggal di timur kota Kyoto adalah karena di sebelah timur kota Kyoto terdapat sebuah sungai besar yang bernama sungai Takano yang pada masa itu merupakan sumber kehidupan yang sangat vital bagi masyarakat Kyoto. Sekarang ini, sungai besar itu sudah tidak ada dan telah digantikan dengan dibangunnya kuil Ryuutaku-ji di timur Kyoto. (Inumaru, 1991:77).
Secara keseluruhan, penulis dapat menganalisis bahwa, bagi masyarakat Kyoto, Seiryuu berperan sebagai dewa pelindung berwujud naga yang menjaga dan mengontrol kebutuhan masyarakat Kyoto yang berupa air sebagai sarana “kehidupan”.
3.1.2 Analisis Konsep Dewa Byakko(白虎) dari Sudut Pandang Masyarakat Kyoto
yang Menggunakan Konsep Gogyou
Byakko, sosok dewa berwujud harimau putih yang diyakini mewakili musim gugur, dan berelemen logam, serta dipercaya menjaga arah barat kota Kyoto. Byakko dipercaya dapat berubah wujud menjadi Kirin. (Nakanishi, 1991:121).
Kirin adalah salah satu hewan mitos Cina yang masuk bersamaan dengan masuknya ajaran dan kepercayaan Cina ke Jepang pada periode Asuka (552-710). Kirin sebelum masuk ke Jepang sebenarnya memiliki wujud kuda bertanduk dengan badan
yang diselimuti api dan hanya akan muncul di hadapan seseorang apabila orang tersebut dianggap pantas olehnya. (Murakami,1987).
Sosok Byakko atau harimau putih muncul karena adanya konsep Gogyou(金) – elemen logam seperti berikut :
秋。西を象徴する。磨くことによって、輝く原石のような華やかさを持 つ。
Melambangkan musim gugur dan arah barat. Jika digosok, akan memiliki kilauan indah bagai berlian. (Nakanishi, 1991:92)
Gambar 3 Gambar 4
Byakko Kirin
Gambar 2 adalah gambar Byakko yang berwujud harimau putih sedangkan gambar 3 adalah gambar dari Kirin yang mempunyai tubuh terselimuti api yang merupakan perubahan dari Byakko yang hanya akan muncul menjelang kelahiran orang yang bijaksana atau dianggap pantas bagi-nya. (Murakami,1987).
Warna putih Byakko didasarkan pada konsep Gogyou Kin oleh Nakanishi (1991:121) mempunyai arti: kepolosan hati dan kebijaksanaan yang cemerlang bagaikan
kilauan berlian dan sosok harimau diambil karena dipercaya sebagai hewan yang memiliki kecerdikan yang tinggi.
Dari hasil penggabungan konsep Shijin dan konsep Gogyou yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991) inilah, penulis dapat menganalisis bahwa Byakko merupakan sosok dewa yang bertugas sebagai pelindung arah barat kota Kyoto karena di sebelah barat kota Kyoto terdapat sebuah jalan besar yang merupakan sumber atau jalur perdagangan yang vital bagi masyarakat kota Kyoto. Sekarang ini, di arah barat kota Kyoto terdapat sebuah jalan yang bernama Byakko-oji.
Berdasarkan konsep-konsep yang yang telah dikemukakan di atas, penulis juga dapat menganalisis bahwa setelah masuk ke Jepang, Kirin memiliki sosok hewan berkepala naga, berbadan rusa, berekor lembu, berkuku kuda, dan bertanduk satu dan Kirin tersebut dipercaya hanya akan muncul menjelang kelahiran atau kematian orang yang hebat dan bijaksana. Dari pola pemikiran seperti inilah, masyarakat Kyoto mengambil wujud hewan macan putih untuk menggantikan sosok Kirin sebagai perwujudan dewa pelindung mereka karena, pada periode Nara mereka menganggap bahwa macan putih adalah sosok hewan yang memiliki kecerdikan tinggi dan dipercaya hanya akan muncul menjelang kelahiran orang yang mulia atau bijaksana (kelahiran Kaisar). Byakko dipercaya memiliki tugas untuk melindungi dan menjaga “kesejahteraan” perekonomian dari masyarakat kota Kyoto.
3.1.3 Analisis Konsep Dewa Genbu(玄武) dari Sudut Pandang Masyarakat Kyoto
Genbu, sosok dewa yang dilambangkan dengan wujud kura-kura hitam, mewakili musim dingin, dan berelemen air yang dipercaya menjaga arah utara kota Kyoto. Genbu yang sering digambarkan bersama seekor ular ini dianggap sebagai lambang kebijaksanaan dan panjang umur. Genbu berasal dari huruf 玄(gen) dan 武(bu)
yang berarti ksatria/prajurit hitam. Dalam konteks ini, prajurit atau ksatria disamakan dengan kura-kura karena, pada masa itu tempurung kura-kura yang kuat sering dijadikan sebagai baju baja pelindung yang digunakan untuk berperang. (Inumaru, 1991:83).
Berdasarkan konsep diatas, penulis menganalisis bahwa tidak seperti Seiryuu dan Suzaku yang mendapat pengaruh dari budaya dan dewa-dewa di Cina, Genbu merupakan salah satu hewan mitos asli Jepang yang tidak mendapat pengaruh dari budaya Cina tersebut karena, masyarakat Kyoto mengambil sosok kura-kura yang bagi masyarakat Jepang dianggap sebagai hewan yang melambangkan perlindungan. Sosok ular yang selalu terlihat bersama Genbu pun sebenarnya adalah salah satu hewan mitos Jepang yang dikenal dengan nama Orochi. (Murakami,1987).
Gambar 5 Genbu
Gambar 4 adalah gambar yang menunjukkan sosok Genbu yang menjaga arah utara kota Kyoto. Pada gambar di atas terlihat sosok kura-kura dan sosok ular yang bernama Orochi seperti yang telah ditulis oleh penulis.
Konsep yang menyebabkan timbulnya sosok kura-kura hitam adalah konsep Gogyou(水) - elemen tanah seperti kutipan berikut :
冬。北を象徴する。流れる水のような柔軟性をもち、調和にも破壊にも 力を発揮する。
Melambangkan musim dingin, dan arah utara. Mempunyai sifat yang lembut bagaikan air yang mengalir, selaras dengan itu, kekuatannya juga dapat membawa kehancuran. (Nakanishi, 1991:92)
Warna hitam pada Genbu melambangkan kekuatan pertahanan, di lain pihak warna hitam juga dapat melambangkan ketidakadaan atau kehampaan seperti yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:121).
Berdasarkan perbandingan konsep Gogyou(水) yang dan konsep Shijin yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991) di atas, penulis juga dapat menganalisis bahwa dari sosok Genbu terdapat sosok kura-kura yang bagi masyarakat Kyoto dipercaya memberikan perlindungan dan mempunyai sifat lembut. Sebaliknya sosok ular dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat membawa kehancuran. Jadi, berdasarkan prinsip keselarasan Onmyou (Yinyang) antara kedua hewan tersebut, masyarakat Kyoto periode Nara mengambil wujud kedua hewan mitos tersebut sebagai dewa pelindung mereka karena, Shijin Genbu adalah sosok dewa yang dapat bersifat melindungi maupun bersifat menyerang atau menghancurkan.
Berdasarkan analisis penulis, Genbu dipercaya sebagai dewa pelindung arah utara kota Kyoto karena di sana terdapat sebuah gunung besar yang sampai masa kini
pun masih ada di kota Osaka. Pada masa periode Nara, gunung tersebut diyakini menjadi tameng atau perisai dari serangan-serangan musuh. Oleh karena itu, Genbu berperan sebagai dewa pelindung yang menjaga dan mengawasi “keamanan” kota Kyoto yang dilambangkan dengan sosok kura-kura dan sosok ular. Analisis penulis ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Inumaru (1991:4-7).
3.1.4 Analisis Konsep Dewa Suzaku(朱雀) dari Sudut Pandang Masyarakat Kyoto
yang Menggunakan Konsep Gogyou
Suzaku, sosok dewa yang digambarkan sebagai burung yang diselimuti api, dipercaya menjaga arah selatan kota Kyoto, mewakili musim panas, dan berelemen api. Suzaku berasal dari huruf 朱(su)-yang berarti merah dan huruf 雀(jaku)-yang berarti burung gereja.
Dalam hewan mitos Cina, Suzaku sebenarnya merupakan satu pasangan dengan Seiryuu atau Shenlong. Apabila sebelumnya telah disebutkan kalau Shenlong mengawasi manusia dari atas langit, maka Suzaku mengawasi manusia dari darat atau tanah. (http://www.onmark.productions.com, Hachi Hogobutsu : The Eight Protector of Twelve Zodiacs, 21-01-2005)
Menurut Animonster 92 (2006:53), masyarakat Cina menyebut Phoenix sebagai Fenghuang, penguasa segala burung . Phoenix jantan disebut Feng sedangkan Phoenix betina disebut Huang dan merupakan simbol kekuatan dari surga kepada Ratu.
Setiap bagian tubuh Phoenix Cina, melambangkan sesuatu. Kepalanya melambangkan langit, matanya melambangkan matahari, punggungnya melambangkan
bulan, sayapnya melambangkan angin, kakinya melambangkan bumi, dan ekornya melambangkan planet. (Nakanishi, 1991:121)
Phoenix Cina(Fenghuang) dan Phoenix Jepang(Suzaku) memiliki persamaan pada semua aspek seperti yang telah disebutkan dalam Animonster 92 (2006:53) seperti di atas, kecuali pada satu konsep yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991) mengenai pengaruh prinsip Gogyou pada Suzaku yaitu : bulu-bulu Suzaku melambangkan lima warna elemen dasar yaitu hitam, merah, putih, hijau dan kuning.
Phoenix atau Suzaku di Jepang, dianggap sebagai burung api suci dengan kekuatan gaib yang bisa hidup mencapai 500-12.994 tahun. Saat mencapai akhir hidupnya, burung beserta sarangnya akan terbakar dan dari abunya akan lahir Phoenix baru. Burung ini abadi dan sangat kuat karena bisa menyembuhkan diri sendiri bila terluka. Warna merah Phoenix merupakan simbol api dan keagungan bagi masyarakat Jepang. (Nakanishi, 1991:121)
Suzaku atau yang biasa lebih dikenal dengan burung Phoenix merupakan lambang dari keabadian, karena dikatakan bahwa Suzaku atau burung Phoenix tidak akan pernah mati dan akan tetap abadi selama api di tubuhnya tidak padam. (Murakami,1987:55)
Gambar 6 Suzaku
Sosok Suzaku ini diambil oleh masyarakat Kyoto berdasarkan konsep Gogyou(火) – elemen api seperti kutipan berikut :
夏。南を象徴する。燃え上がる情熱と、活動力、向上心を持つ。
Melambangkan musim panas, dan arah selatan. Memiliki kekuatan hati, kekuatan usaha dan hasrat yang membara. (Nakanishi, 1991:92)
Berdasarkan konsep-konsep di atas, penulis dapat menganalisis bahwa Suzaku adalah sosok dewa yang berasal dari pengaruh budaya Cina dan diambil oleh masyarakat Jepang melalui proses akulturasi budaya terutama oleh masyarakat Kyoto untuk dijadikan simbol dewa pelindung mereka karena Suzaku dianggap sebagai wujud yang melambangkan ke lima warna elemen dasar (Gogyou) dan dipercaya oleh masyarakat Kyoto periode Nara sebagai simbol api yang melambangkan keagungan dan keabadian. Analisis penulis diatas didukung oleh konsep yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991). Suzaku dipercaya sebagai pelindung kota Kyoto di arah selatan karena dikatakan bahwa di sana konon terdapat sebuah kolam atau sumber mata air yang terus mengalir dan tidak akan pernah mengering. Sekarang ini, di lokasi ini (selatan Kyoto) terdapat peninggalan bersejarah Suzaku-mon atau gerbang Suzaku. (Tamaru, et.al., 1996)
Secara garis besar, Suzaku mempunyai tugas utama untuk melindungi dan menjaga hasrat masyarakat Kyoto agar terus memiliki “kekuatan” untuk berusaha dan berjuang.
3.2 Analisis Perbedaan Pemakaian Konsep Fengshui di Cina dan di Jepang
konsep Fengshui dalam masyarakat Jepang. Ajaran Budha yang berasal dari India dan ajaran tentang paham Konfusianisme masuk ke Jepang Pada tahun 552 dibawa oleh orang Korea yang datang berdagang ke Jepang. Sebelum terjadi proses masuknya kedua pola pikir ini, kepercayaan/religi masyarakat Jepang masih belum terstrukturisasi dan masih berupa penggabungan atas sistem pemujaan alam dengan sekte-sekte religius. Sejak masuknya kedua ajaran tersebut, masyarakat Jepang mulai menggunakan kata Shinto yang merupakan adaptasi dari ajaran Budha dan Konfusianisme untuk menjalankan ritual-ritual kepercayaannya. (Inumaru, 1991:43)
Keyakinan terhadap Fengshui dikenal di Jepang pada abad 6 sampai abad ke-7, yaitu pada masa Dinasti Tang (Cina) atau pada masa periode Nara (Jepang). Pada masa itu (Nara, 710-794), Fengshui langsung digunakan untuk menetapkan Kyoto sebagai ibukota Jepang didasarkan pada keselarasan lingkungan kota Kyoto dengan alam sekitar. (Purawiardi, 2004:11)
Fengshui bagi masyarakat Cina, diciptakan dan dikembangkan untuk mengatur tata letak benda-benda dengan melihat konsep geomansi atau struktur tanah untuk memilih tempat yang baik agar selaras dan harmonis dengan keadaan sekelilingnya sehingga dapat memperkuat energi kehidupan (Chi). (Hoo, 1997:1)
Menurut Miyamoto dalam Fransiska (2005:11), peraturan dan prinsip Fengshui di Cina hampir sama dengan prinsip Fengshui di Jepang, namun sebenarnya terdapat perbedaan atau penyimpangan dari pemakaian konsep Fengshui di antara kedua negara tersebut.
Berdasarkan penjelasan tentang proses masuknya konsep Fengshui dalam masyarakat Jepang di atas, penulis dapat menganalisis bahwa: sejak masuknya ajaran Budha dan konsep Konfusianisme tersebut, masyarakat Jepang mengenal konsep tentang
keselarasan dan keharmonisan dengan alam, jadi ketika paham Fengshui masuk ke Jepang, masyarakat Jepang langsung mengadaptasi dan mengembangkannya untuk sistem penerapan tata letak benda-benda. Fengshui yang pada mulanya diciptakan dan dikembangkan untuk mengatur tata letak benda-benda (mengatur letak-letak penempatan meja, kursi, dsb) dengan melihat konsep geomansi atau struktur tanah untuk memilih tempat yang baik agar selaras dan harmonis dengan keadaan sekelilingnya sehingga dapat memperkuat energi kehidupan (Chi), setelah masuk ke Jepang, ajaran atau prinsip Fengshui tersebut menjadi sedikit berubah atau mengalami sedikit penyimpangan karena terjadinya proses akulturasi budaya antara budaya asli dari Cina bercampur dengan konsep Gogyou dan konsep Onmyoudou masyarakat Jepang. Perubahan-perubahan yang terjadi pada sistem penerapan konsep Fengshui di Jepang adalah perluasan ruang lingkup dalam sistem penerapan konsep tersebut yaitu pada proses pembuatan taman, istana kekaisaran, pembuatan kota dan rumah bangsawan, dimana masyarakat Jepang percaya bahwa dengan menciptakan keharmonisan lansekap berdasarkan konsep keselarasan antar lima elemen alam (Gogyou) akan dapat meningkatkan tatanan bangunan.
Analisis penulis di atas didukung oleh konsep pergeseran fungsi Fengshui yang dikemukakan oleh Purawiardi (2004:11) berikut ini :
Peraturan dan prinsip Fengshui di Jepang hampir sama dengan prinsip Fengshui di Cina, namun terdapat sedikit perbedaan atau penyimpangan dalam sistem penerapannya.
3.3 Analisis Hubungan Konsep Fengshui Dengan Konsep Onmyoudou di Jepang Di dalam konsep Fengshui, terdapat prinsip dasar mengenai filsafat tradisional
kehidupan (Chi) yang saling melengkapi yang menguasai alam, yaitu Yin dan Yang, yang digunakan dalam melakukan sistem penerapan Fuusui (Koh, 2002:95).
Konsep Onmyoudou berasal dari ajaran Taoisme Cina yang karakteristik utamanya adalah pencapaian kesejahteraan fisik dan spiritual melalui perantara doa, mantera dan lain-lain. Konsep Onmyoudou ini merupakan suatu pola pikir yang menyatakan tentang bentuk keselarasan antara In (bayangan) dan You (cahaya). (Nakanishi, 1991:87)
Berdasarkan konsep Fengshui dan konsep Onmyoudou tersebut, penulis menganalisis bahwa untuk menerapkan konsep Fuusui Jepang yang bertujuan memperoleh keselarasan dengan cara memperkuat energi kehidupan atau Chi, maka diperlukan suatu konsep yang menjelaskan pola tentang energi kehidupan tersebut yaitu konsep Onmyoudou.
Konsep Onmyoudou ini menjelaskan mengenai hubungan antara sesuatu yang saling bertentangan yang dalam hal ini disebut dengan In(Yin) dan You(Yang). Di Cina, konsep Yinyang ini hanya merupakan filosofi semata yang hanya digunakan untuk menerapkan Fengshui di Cina; sedangkan di Jepang, konsep Onmyoudou yang sama-sama mengunakan prinsip serupa sudah menjadi sebuah pola pikir dan ajaran yang digunakan oleh masyrakat Jepang bukan hanya untuk penerapan Fengshui saja, tetapi juga diterapkan dalam prinsip kehidupan sehari-hari. Analisis ini didukung oleh konsep Onmyoudou yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:87) berikut ini :
陰陽道とはあらゆるものは陰(日かけ)と陽(日なた)の相応する二つ の気の調和する形で存在しているという考え方である。
Onmyoudou adalah suatu pola pikir yang menyatakan tentang bentuk keselarasan antara kedua energi kehidupan (Chi) yang saling mendukung, yaitu In (bayangan) dan You (cahaya).
Dalam konsep Onmyoudou, terdapat pola pikir yang menyatakan bahwa apabila terdapat kebaikan pastilah ada kejahatan, dalam cahaya pasti ada bayangan, dalam kemenangan pasti ada kekalahan, dan lain-lain. Pola pikir yang seperti inilah yang menyebabkan pergeseran fungsi Fengshui yang awalnya digunakan untuk menyelaraskan tata letak benda-benda menjadi digunakan untuk proses pemilihan tata letak bangunan, pembuatan struktur taman dan sebagainya. Analisis penulis ini didukung oleh konsep mengenai prinsip Opposite yang dikemukakan oleh Engel (1959:23) berikut ini :
Di dalam kelemahan ada kekuatan, di dalam kepasifan dan tanpa perlawanan ada kemenangan. Hal ini adalah keseimbangan dari terang dan gelap, sisi positif Yousei(陽性), dan sisi negatif Insei(陰性) yaitu In dan You. Apabila konsep “Opposite” ini diterapkan pada alam, kita tidak akan menemukan pertentangan melainkan kesatuan karena unsur yang satu saling melengkapi unsur yang lainnya.
3.4 Analisis Konsep Inyougogyou Bagi Masyarakat Jepang Periode Nara (710-794) Bagi masyarakat Jepang yang menganut ajaran tentang konsep Onmyoudou, konsep Gogyou merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari inti ajaran Onmyoudou mengenai konsep keseimbangan energi Chi yaitu In dan You. (Nakanishi, 1991:92)
Menurut Miyamoto dalam Fransiska (2005:11), dalam prinsip dasar ajaran Onmyoudou, terdapat konsep mengenai Inyou-gogyousetsu, yaitu prinsip mengenai
emas/logam (金), dan kayu (木) dimana dapat disimpulkan bahwa semua benda di dunia
mempunyai sifat lima unsur.
Berdasarkan prinsip ajaran Onmyoudou tersebut, penulis menganalisis bahwa dari prinsip keselarasan antara lima unsur yang dipercaya terdapat pada semua benda yang terdapat di alam semesta itu, masyarakat Jepang mulai mempercayai ilmu peramalan atau Fortune Telling, sehingga mereka juga bisa menggunakan astrologi, membaca bintang, bahkan sampai memperhitungkan kelahiran dan kematian keluarga kaisar untuk mencapai keharmonisan dalam hidup mereka.
Penulis juga dapat menganalisis bahwa sesuai dengan ajaran Onmyoudou mengenai konsep keseimbangan In dan You dan konsep Opposite yang mengatakan bahwa dalam cahaya pasti ada bayangan, maka penggunaan prinsip Gogyou ini tidak terbatas hanya untuk tujuan yang baik-baik saja seperti untuk meramalkan kelahiran seseorang, untuk melakukan pengusiran roh jahat, penyucian rumah dan lain-lain, tetapi biasanya juga dapat digunakan mengutuk seseorang, bahkan sampai melakukan pembunuhan terhadap seseorang
Analisis penulis diatas didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Sansom (1931:113) berikut ini :
In Gogyousetsu, all beings are considered to consists of five elements, moku (wood), ka (fire), do (earth), gon (metal), sui (water) and through the combination of some of these, good or ill fortune can be told. Onmyoist can foretell the fortune of directions, days, personal lives, social events, natural phenomena and other things which based on this Chinese way of thought.
Dalam Gogyousetsu, semua benda dianggap terdiri atas lima elemen, moku (kayu), ka (api), do (tanah), gon (logam), sui (air) dan dari kombinasi inilah, ramalan baik atau buruk dapat dilakukan. Para Onmyouji, dapat meramalkan tentang arah, hari, kehidupan pribadi, kejadian sosial, fenomena alam dan lain-lain berdasarkan pola pikir Cina ini.
3.5 Analisis Pengaruh Konsep Inyougogyou Terhadap Konsep Shijinsouou dan Kepercayaan Shijin
Menurut Miyamoto dalam Fransiska (2005:11), dalam masyarakat Jepang, konsep Inyougogyou yang mempunyai arti keselarasan antara lima unsur yang saling bertolak belakang memberikan pengaruh kepada semua agama dan ajaran yang ada di Jepang seperti Taoisme, Shinto dan Budha yang menyebabkan munculnya suatu konsep yang disebut konsep Shijinsouou.
Yang dimaksud dengan konsep Shijinsouou adalah suatu konsep dimana dalam memilih tanah yang baik harus didasarkan atas prinsip keselarasan lima elemen yang masing-masing terdapat di arah utara, barat, timur, dan selatan yang dilambangkan dengan hewan-hewan mistik yang tidak terdapat dalam dua belas lambang zodiak Cina yang disebut dengan Shijin. (Miyamoto dalam Fransiska, 2005:11)
Berdasarkan dua konsep di atas, penulis dapat menganalisis bahwa dalam suatu pemilihan tanah yang baik harus didasarkan atas keselarasan antara elemen-elemen yang terdapat di alam. Oleh karena itu, masyarakat Jepang menciptakan suatu konsep untuk memilih suatu tanah yang baik yaitu konsep Shijinsouou dimana dalam konsep tersebut dijelaskan mengenai keberadaan hewan-hewan yang mewakili tiap-tiap arah mata angin yang dipercaya dapat memberikan peruntungan yang baik.
Dari konsep Shijinsouou tersebut, masyarakat Jepang melambangkan tiap-tiap arah mata angin tersebut dengan wujud empat hewan atau dewa dimana tiap-tiap dewa tersebut juga dipercaya mewakili 4 elemen dasar yang terdapat pada alam seperti yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:92) berikut ini:
Kayu Melambangkan musim semi, dan arah timur. Mempunyai kekuatan mental, kekuatan gerak dan kemampuan penglihatan yang tajam. Api Melambangkan musim panas, dan arah selatan. Memiliki kekuatan
hati, kekuatan usaha dan hasrat yang membara.
Air Melambangkan musim dingin, dan arah utara. Mempunyai sifat yang lembut bagaikan air yang mengalir, selaras dengan itu, kekuatannya juga dapat membawa kehancuran.
Logam Melambangkan musim gugur, dan arah barat. Jika digosok, akan memiliki kilauan indah bagai berlian.
Berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:92) di atas, penulis dapat menganalisis bahwa:
1. Dari konsep Gogyou elemen kayu, dipilihlah hewan naga hijau yang dalam bahasa Jepang disebut Seiryuu, karena naga dipercaya masyarakat Jepang sebagai hewan yang memiliki kekuatan baik mental maupun fisik dan mempunyai tatapan mata yang tajam dan warna hijau melambangkan kesuburan musim semi.
2. Dari konsep Gogyou elemen logam, dipilihlah hewan harimau putih yang dalam bahasa Jepang disebut Byakko, karena harimau dianggap masyarakat Jepang sebagai hewan cerdik yang akan keluar untuk berburu mangsa di musim gugur dan warna putih melambangkan kilauan indah berlian.
3. Dari konsep Gogyou elemen air, dipilihlah hewan kura-kura hitam yang dalam bahasa Jepang disebut Genbu, karena kura-kura dianggap masyarakat Jepang sebagai hewan yang mempunyai kekuatan untuk memberikan perlindungan. Warna hitam dipilih untuk mewakili musim dingin.
4. Dari konsep Gogyou elemen api, dipilihlah hewan burung merah yang disebut Phoenix atau disebut Suzaku dalam bahasa Jepang, karena Phoenix atau Suzaku dianggap melambangkan kekuatan hasrat yang membara dan warna merah dari Suzaku melambangkan musim panas.
3.6 Analisis Pemilihan Kota Kyoto Sebagai Ibukota Pada Periode Nara (710-794) Berdasarkan Konsep Gogyou
Menurut Miyamoto dalam Fransiska (2005:11) menjelaskan bahwa syarat-syarat tanah yang baik harus memenuhi kriteria konsep Shijinsouou dimana terdapat dewa naga hijau di timur yang menguasai sungai, dewa macan putih yang ada di barat yang menguasai jalan, dewa burung Phoenix di selatan yang menguasai kolam, dan dewa kura-kura hitam di utara yang menguasai gunung.
Keane (2000:28) menuliskan bahwa Heian-Kyo yang sekarang merupakan kota Kyoto, dibangun dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam geomansi untuk menciptakan tempat kediaman yang harmonis.
Berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Miyamoto dalam Fransiska (2005:11) di atas, penulis dapat menganalisis bahwa tanah yang baik harus memiliki pertanda baik yaitu tanah yang dilindungi empat dewa dan di sekitar tanah tersebut dikelilingi oleh sungai, jalan, kolam, dan gunung.
Kota Kyoto dianggap oleh para Onmyouji sebagai kota yang memenuhi kriteria Shijinsouou tersebut, karena jika dilihat dari peta lansekap kota Kyoto (Inumaru, 1991:77), di sekeliling kota tersebut terdapat :
2. Gunung Hiei di sebelah utara kota Kyoto yang berfungsi sebagai perisai atau pelindung kota Kyoto dari serangan-serangan tentara lain.
3. Jalan besar yang bernama Byakko-Oji di arah barat kota Kyoto yang sering digunakan sebagai jalur perdagangan masyarakat Kyoto.
4. Kolam Kurama di arah selatan kota Kyoto yang merupakan bagian dari kuil tertua di kota Kyoto yaitu kuil Kurama.
Dari keadaan lansekap tersebut, kota Kyoto dipercaya memiliki prinsip-prinsip yang terkandung dalam geomansi untuk menciptakan tempat kediaman yang harmonis. Kondisi ini menggunakan ekspresi yang ada pada lansekap yang terdiri dari empat dewa pelindung (Shijin).
Analisis penulis di atas didukung oleh konsep Shijin yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:117) berikut ini :
四神とは南西東北にそれぞれの方角を守る守護神である。北に大山があ
って玄 武棲む、東に川流れ青龍棲む、南に大池あって朱雀棲む、西に大
道あって白虎棲む。
Yang disebut dengan Shijin adalah dewa penjaga yang menjaga tiap-tiap sudut arah. Di arah utara terdapat gunung besar tempat tinggal Genbu, di arah timur mengalir sungai tempat tinggal Seiryuu, di arah selatan terdapat kolam besar tempat tinggal Suzaku, di arah barat terdapat jalan besar tempat tinggal Byakko.
3.7 Analisis Konsep Kimon Atau Gerbang Setan yang Ada Di Kyoto
Kimon adalah nama dari gerbang setan tempat keluar-masuknya setan yang dipercaya berada di arah timur laut kota Kyoto. Pada saat membangun Heian-Kyo, di pojok sebelah timur laut yang terdapat lembah, masyarakat Kyoto harus mempertimbangkan pintu masuknya setan-setan atau Kimon, dimana setan-setan dapat keluar masuk dengan mudah. Kimon tersebut dipercaya oleh masyarakat Kyoto
dilindungi secara alami oleh gunung yang menonjol yaitu Hiei-Zan yang berfungsi sebagai segel atau Fuuin. (Keane, 2000:28)
Menurut Nakanishi (1991:154), setan-setan atau iblis yang keluar dari gerbang setan di sebelah timur laut kota Kyoto biasa disebut oleh masyarakat Jepang sebagai Jyuren. Jyuren dapat dibagi atas dua unsur kehidupan (YinYang) dan lima unsur elemen alam (api, air, tanah, logam, dan kayu) yang kesemua setan itu diwakili oleh sepuluh setan.
Dari kedua konsep mengenai Kimon tersebut, penulis menganalisis bahwa sebenarnya konsep Kimon ini merupakan konsep yang tidak dapat terlepas dari konsep Shijin karena apabila di dalam suatu lansekap terdapat pertanda baik dua unsur kehidupan dan 5 unsur elemen, maka sebaliknya akan terdapat pertanda buruk dua unsur kehidupan dan lima unsur elemen. Hal tersebut sesuai dengan konsep Opposite yang telah penulis sebutkan pada sub-bab sebelumnya tentang keseimbangan unsur positif dan negatif, dimana ada cahaya pasti ada kegelapan/bayangan.
Kota Kyoto tidak terlepas dari konsep Kimon ini, karena masyarakat kota Kyoto pada masa itu percaya bahwa jiwa-jiwa orang yang telah meninggal berubah menjadi roh-roh dan menempati laut, hutan, gunung dan perairan dalam (Inumaru, 1991:45). Dalam konteks ini, masyarakat Kyoto percaya bahwa lembah dalam yang terdapat di arah timur laut Kyoto merupakan tempat tinggal para setan (Jyuren).
Tapi bukan berarti pengaruh negatif dari Kimon ini akan terasa karena keempat dewa yang ada di sekeliling kota Kyoto tersebut berfungsi sebagai segel Fuuin untuk mencegah setan-setan Jyuren tersebut keluar dari gerbang setan (Kimon).
Jepang, semua makhluk yang ada di dunia, baik atau buruk, dianggap terdiri dari lima unsur elemen dan masing-masing diwakili oleh salah satu elemen.
Apabila keempat dewa (Shijin) masing-masing diwakili konsep Gogyou elemen air (Genbu), logam (Byakko), api (Suzaku), dan kayu (Seiryuu), maka untuk menjaga keharmonisan konsep Gogyou, gerbang setan atau Kimon tersebut diwakili dengan konsep Gogyou elemen tanah yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:92) berikut ini :
季節の変わり目、中央を象徴する。流動性と安定性を併せ持ち、世界を 支える土台なる。
Melambangkan pergantian musim, dan melambangkan bagian tengah. Menjadi lahan/tanah yang menyangga dunia dengan menggabungkan sifat likuiditas dan stabilitas.
Dari konsep yang dikemukakan oleh Nakanishi (1991:92) di atas, dapat disimpulkan bahwa bagi masyarakat Jepang, khususnya masyarakat kota Kyoto, gerbang setan atau Kimon mewakili pergantian musim dari musim dingin yang hampa menuju musim semi yang penuh dengan kehidupan dan berperan sebagai lahan penyangga dan berfungsi sebagai penjaga stabilitas kota Kyoto bersama-sama dengan eksistensi empat dewa (Shijin).
Analisis penulis di atas didukung oleh Nakanishi (1991) yang mengemukakan tentang konsep Inyougogyousetsu dan oleh Engel (1959) yang mengemukakan tentang prinsip Opposite dalam In dan You, serta didukung dengan konsep Jyuren oleh Nakanishi (1991:154) berikut ini :
十千とは陰陽道における日の順序を数える数調である木、火、土、金、 水を陰と陽に分けた「十千」が妖族に当てられていたのである。
Yang dimaksud dengan Jyuren adalah jumlah keselarasan urutan hari berdasarkan Onmyoudou yang dapat dihitung berdasarkan elemen kayu, api, tanah, logam, air dan “Jyuren” yang dibagi atas Yin dan Yang dapat dikategorikan sebagai setan/iblis.
3.8 Analisis Sistem Percampuran Budaya Terhadap Seni dan Budaya Yang Ada di Jepang
Ajaran Konfusianisme Cina yang berisi tentang konsep Fengshui dan Inyougogyou masuk ke Jepang pada masa kepercayaan dan religi masyarakat Jepang masih belum terstrukturisasi dan masih berupa penggabungan atas sistem pemujaan alam dengan sekte-sekte religius. Sejak masuknya kedua ajaran tersebut, masyarakat Jepang mulai menggunakan kata Shinto yang merupakan adaptasi dari ajaran Budha dan Konfusianisme untuk menjalankan ritual-ritual kepercayaannya (Inumaru, 1991:46). Berdasarkan kutipan di atas, penulis menganalisis bahwa sejak munculnya ajaran Shinto, pikiran masyarakat Jepang menjadi sedikit lebih terbuka terhadap datangnya budaya dari luar. Kata “terbuka” yang penulis gunakan ini bukan termasuk dalam konteks masyarakat Jepang yang menerima kebudayaan asing yang datang dari luar, tetapi mengambil dan menyerap kebudayaan tersebut serta menggabungkannya dengan konsep-konsep ajaran yang ada sudah ada di Jepang. Hal ini terjadi karena pada masa ini masyarakat Jepang masih menganggap dirinya sebagai “Center of The World”. (Inumaru, 1991:50)
Budaya-budaya yang masuk ke Jepang dianggap oleh orang Jepang sebagai pelengkap untuk menyempurnakan seni dan budaya mereka sendiri. Dan jika dilihat dari sudut pandang percampuran budaya, konsep-konsep ajaran di Jepang dapat dilihat dari
Ajaran Konfusianisme yang masuk ke Jepang dan menyatu dengan ajaran dan religi lokal yang terdapat di Jepang sehingga menyebabkan timbulnya ajaran Shinto di Jepang, serta konsep-konsep yang masuk kemudian seperti konsep Fengshui dan Inyougogyou, serta konsep Shijinsouou merupakan wujud proses dari akulturasi budaya di Jepang karena semua ajaran tersebut melakukan penyatuan konsep pola pikir masyarakat Cina dengan religi asli masyarakat Jepang yang pada saat itu masih memuja alam dan tidak mempunyai budaya asli yang terstruktur. Bentuk-bentuk akulturasi budaya dari konsep-konsep diatas berupa perubahan cara pola pikir masyarakat Kyoto pada periode Nara dan perubahan bentuk dari dewa-dewa yang terdapat dalam Shijin seperti Seiryuu, dan Suzaku. Analisis ini didukung oleh teori akulturasi Koentjaraningrat (1993:25) yaitu :
Akulturasi budaya dilihat dari sudut pandang manusia adalah suatu tahap tertentu dari proses perubahan kebudayaan karena adanya percampuran antara dua kebudayaan atau lebih namun dalam konteks akulturasi, kedua budaya yang bercampur tidak melebur menjadi sebuah budaya yang baru melainkan menjadi sebuah budaya campuran yang masih tetap memiliki nilai-nilai dasar dari salah satu budaya yang bercampur tersebut.
Sedangkan yang tergolong dalam proses asimilasi budaya adalah bentuk tata letak dalam sistem penataan kota yang terlihat dari sistem penataan kota Kyoto yang mirip dengan kota Chang’An di Cina (Inumaru, 1991:7), munculnya lukisan asli Jepang yang disebut Ukiyo-e yang didasari dari seni lukis Cina dan pengambilan huruf Kanji yang diambil langsung begitu saja dari Cina yang menyebabkan munculnya huruf asli Jepang yaitu huruf-huruf Kana yang merupakan pengembangan dari huruf kanji tersebut, serta perubahan bentuk dari Kirin di Cina menjadi Byakko yang merupakan salah satu dewa pelindung kota Kyoto di Jepang. Analisis ini didukung oleh teori asimilasi budaya yang terdapat dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia (1988:133) seperti berikut :
Asimilasi budaya dilihat dari sudut pandang kebudayaan manusia adalah suatu tahap tertentu dari proses pergeseran atau perubahan kebudayaan karena adanya percampuran dua kebudayaan atau lebih. Perubahan kebudayaan itu terjadi karena adanya kontak atau pergaulan antara dua atau lebih kelompok pendukung kebudayaan yang berbeda. Kontak tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang panjang sehingga ciri khas unsur kebudayaan masing-masing menjadi berubah dan kemudian lahirlah kebudayaan campuran yang benar-benar baru.
Dalam analisis ini, penulis hanya mengambil konsep percampuran budaya secara umum dan secara luas (tidak dipandang dari konsep masyarakat Jepang sebagai Center of The World) menurut teori Koentjaraningrat (1993) dan menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1988).