• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan banyak naskah Jawa Kuno diselamatkan ke Bali. Di Jawa, pusat-pusat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan banyak naskah Jawa Kuno diselamatkan ke Bali. Di Jawa, pusat-pusat"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Kedatangan agama Islam di Pulau Jawa dan runtuhnya kerajaan Majapahit mengakibatkan banyak naskah Jawa Kuno diselamatkan ke Bali. Di Jawa, pusat-pusat yang dahulu termasyhur dengan aktivitas kesusastraan Jawa Kuna, kini tidak berkembang lagi. Suasana khas yang diperlukan untuk menumbuhsuburkan karya sastra Jawa Kuna pada masa itu dan agama Hindu yang dahulu mengilhami sejumlah besar karya sastra Jawa Kuno telah lenyap. Bali disebutkan menjadi benteng terakhir atas kehidupan kesusastraan Jawa Kuno sampai sekarang (Zoetmulder, 1985:24--27).

Istana-istana di Bali tetap merupakan penjaga setia kesusastraan Jawa Kuno. Di kalangan brahmana dan istana, karya-karya sastra Jawa Kuno tetap dibaca, dipelajari, dan disalin kembali atau karya-karya baru diciptakan. Masyarakat Bali terus mengembangkan sastra Jawa Kuno, khususnya kakawin, dan kegiatan olah sastra tersebut mencapai puncaknya pada masa kerajaan Gelgel, abad XVI, pada saat pemerintahan Dalem Waturenggong. Pada masa itu, tampil pujangga-pujangga besar, seperti Danghyang Nirartha dan Ki Gusti Dauh Bale Agung (Creese dalam Suarka, dkk., 2005:1). Tradisi sastra Jawa Kuno (Kawi) tersebut berlanjut terus pada masa kerajaan Klungkung, abad XVIII-XIX, terutama pada masa pemerintahan Dewa Agung Istri Kanya. Abad XIX muncul pengarang besar Bali, yaitu Ida Pedanda Ngurah dari Geria Gede Blayu Marga Tabanan, dengan empat buah mahakaryanya, yaitu: Kakawin Surantaka, Geguritan Yadñeng Ukir, Kakawin Gunung Kawi, dan Kidung Bhuwana Winasa (Palguna dalam Geria, 2012:4).

(2)

Abad XX di Bali muncul dua orang pengarang besar Bali bernama Ida Pedanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar Intaran Sanur dan I Gusti Ngurah Made Agung (Cokorda Mantuk Ring Rana). Ada sejumlah karya Ida Pedanda Made Sidemen antara lain Siwagama (prosa), Kakawin Candra Bhairawa, Kakawin Cayadijaya, Kakawin Singhalangghyala, Kakawin Kalpha Sanghara, Kidung Pisacarana, Kidung Rangsang, dan Geguritan Salampah Laku (Agastia, 1994:V). Sedangkan karya-karya dari I Gusti Ngurah Made Agung (Cokorda Mantuk Ring Rana) yaitu Geguritan Nengah Jimbaran, Geguritan Dharma Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, Geguritan Hredaya Sastra, Kidung Loda, Kakawin Atlas, dan Geguritan Purwa Sanghara (Agastia, 2012:1). Di samping itu, juga gubahan pada abad XX yaitu Kakawin Gajah Mada yang pernah diteliti oleh Partini Sarjono Pradotokusumo (1986). Dalam penelitiannya disebutkan, pemilik naskah itu bernama Cokorda Agung Suyasa dari Puri Saren Kauh Ubud. Kakawin karya dari Made Degung yaitu Kakawin Nilacandra (1993) dan Kakawin Eka Dasa Siwa (1998) (Beratha, 2006:277). Kakawin Gubahan Prof. Dr. dr. I Nyoman Adiputra, M.O.H., P.F.K., Sp. Erg., yaitu Kakawin Universitas Udayana/ Udayana Mahawidya (1994), Kakawin Bali Dwipa (1995), Kakawin Sanghyang Kala-Kali (1996), Kakawin Bali Sabha Lango (1997) diterbitkan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tahun 2002, Kakawin Rāja Patni Mokta (1998).1

Dari kakawin abad XX seperti tersebut di atas, salah satunya dijadikan objek dalam penelitian ini, yaitu Kakawin Rāja Patni Mokta yang selanjutnya disebut dengan KRPM. Kakawin ini digubah oleh Prof. Dr. dr. I Nyoman Adiputra, M.O.H., P.F.K., Sp. Erg., dari Banjar Selat Peken, Kecamatan Susut Kabupaten Bangli. Karya-karya Prof. Dr.

(3)

dr. I Nyoman Adiputra, M.O.H., P.F.K., Sp. Erg., sangat berkualitas, meskipun ada beberapa yang salah tulis namun tidaklah fatal. Hal ini menurut Prof. Dr. dr. I Nyoman Adiputra, M.O.H., P.F.K., Sp. Erg., adalah karena keterbatasannya sebagai manusia dan bukan seorang tamatan Jawa Kuno melainkan seorang dokter2. Kecintaannya terhadap bahasa Jawa Kuno inilah patut mendapatkan apresiasi sehingga karya-karya Prof. Dr. dr. I Nyoman Adiputra, M.O.H., P.F.K., Sp. Erg., banyak dijadikan bahan kajian ilmiah oleh mahasiswa-mahasiswa Jawa Kuno.

Pengarang dalam KRPM menyebutkan nama tokoh utama yaitu Sang Dyah Dewi Siti Marum ‘seorang wanita bangsawan yang cantik’ istri dari Raja Sunantara. Kata ‘Siti’ yang berasal dari kata ‘Ksiti’ artinya bumi, tanah, negeri, (Zoetmulder, 2011:524) menjadi simbol kemuliaan seorang istri raja. KRPM memunculkan nama tokoh Siti sebagai perwujudan perempuan yang santun. Tradisi Jawa menganggap setiap anak yang bernama Siti diharapkan menjadi anak yang berbudi baik. Di dalam tradisi Jawa Kuno, nama-nama tokoh sering dijumpai bernama Ksiti contoh Ksiti Sundari. Ksiti maupun Siti keduanya berarti sama, hanya saja dibedakan periodisasinya. Ada anggapan, Siti merupakan nama pemeluk Muslim, sementara Ksiti merupakan nama pemeluk Hindu.

Keunggulan KRPM yaitu satu-satunya karya yang berani memunculkan nama Siti. Jika dilihat di keseluruhan teks, Sang Dyah Dewi Siti Marum merupakan kelahiran Jawa dan besar dengan tradisi Jawa. Sang Dyah Dewi Siti Marum juga digambarkan menjadi perempuan yang sangat santun, soleha, dan berbudi pekerti luhur. Kesantunan inilah yang membuat Sang Raja Sunantara sedih dan mengalami penderitaan ketika Sang Dyah Dewi Siti Marum meninggal.

Kemuliaan Sang Dyah Dewi Siti Marum membuat pengarang menyebutnya

(4)

dengan dua puluh sembilan (29) nama lain. Adapun nama lain tersebut, yaitu: (1) Sang Kuwaśeng Jagat artinya sang penguasa di dunia (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018); kuwaśeng berasal dari kata waśa artinya kekuasaan, kekuatan, pemerintahan (Zoetmulder, 2011:1397). Kata waśa mengalami afiksasi, yaitu mendapat tambahan prefiks (ka-) dan infiks (-um-) menjadi kata kumawaśa. Konsonan m dan vokal a pada kata kumawaśa luluh sehingga terbentuk kata kuwaśa. Kata kuwaśa mendapat sufiks (i) + (ng), terjadi persandian suara vokal a dan sufiks i menjadi e sehingga terbentuklah kata kuwaśeng’penguasa’. Sedangkan kata jagat artinya dunia (Zoetmulder, 2011:404)); (2) Nareśwari artinya permaisuri (Zoetmulder, 2011:693); (3) Ibu artinya ibu (Zoetmulder, 2011:376); (4) Sang Dewi artinya seorang dewi atau seorang ratu (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018) dan Dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216)); (5) Śrī nātha artinya istri raja (Śrī artinya kilau, sinar, kecantikan, nasib baik, kemakmuran, kekayaan, kesuburan; cahaya kekuasaan (śakti) yang melekat yang menjadi sifat raja. Śri sebagai esensi kecantikan atau śakti kerajaan sering dipersonifikasikan (dewi kesuburan, dewi kecantikan yang khas, dewi istana (Zoetmulder, 2011:1123), dan nātha artinya 1. pelindung, penjaga dan 2. raja, pangeran dan penguasa (Zoetmulder, 2011:693)); (6) Dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216); (7) Prameśwari artinya istri utama raja, permaisuri (Zoetmulder, 2011:769); (8) Nara duhitā artinya seorang perempuan (nara artinya orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan duhitā artinya anak perempuan (Zoetmulder, 2011:232)); (9) sang dewya artinya seorang dewi atau ratu (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018) dan kata dewya berasal dari kata (dewi + a). Terjadi persandian antara suara vokal (i + a = ya) sehingga terbentuk kata

(5)

dewya. Kata dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216)); (10) Duhitā ratu artinya raja perempuan (duhitā artinya anak perempuan (Zoetmulder, 2011:232) dan ratu artinya raja, ratu (Zoetmulder, 2011:931)); (11) Śrī Supadmi artinya permaisuri yang baik dan cantik (Śrī artinya kilau, sinar, kecantikan, nasib baik, kemakmuran, kekayaan, kesuburan; cahaya kekuasaan (śakti) yang melekat yang menjadi sifat raja. Śri sebagai esensi kecantikan atau śakti kerajaan sering dipersonifikasikan (dewi kesuburan, dewi kecantikan yang khas, dewi istana (Zoetmulder, 2011:1123) dan kata Supadmi berasal dari kata su + padmi. Awalan su artinya baik amat, sangat (Nala Antara, 2008:682) dan padmi artinya permaisuri (Alwi, 2005:809)); (12) Narāryeng dewi artinya seorang ratu atau dewi yang dihormati (Narāryeng berasal dari kata “nara + arya + i + ng”, terjadi persadian suara vokal (a+a = ā) dan (a+i = e) sehingga terbentuk kata Narāryeng. Arti dari kata nara yaitu orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691), kata arya artinya terhormat, terpandang, mulia, ningrat’ (Zoetmulder, 2011:65), dan kata dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216)); (13) Sang Sudewi artinya seorang dewi atau ratu yang baik (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018) dan kata sudewi berasal dari kata (su + dewi). Awalan (su-) artinya baik amat, sangat’ (Nala Antara, 2008:682) dan dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216)); (14) Nareśwara padmi artinya permaisuri raja (Nareśwara artinya ‘raja orang-orang’, raja (Zoetmulder, 2011:692) dan padmi artinya permaisuri (Alwi, 2005:809)); (15) Nareśwari Dewi Marum artinya permaisuri yang cantik atau ratu yang cantik (Nareśwari artinya permaisuri (Zoetmulder, 2011:693, dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216), marum artinya indah, cantik, menarik, luwes, halus, manis, harum)); (16) Nareduhitā artinya seorang

(6)

perempuan (nareduhita berasal dari kata “nara + i + duhitā”, terjadi persandian suara vokal (a + i = e) sehingga terbentuklah kata nareduhitā. Nara artinya orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan duhitā artinya anak perempuan (Zoetmulder, 2011:232)); (17) Nara sudewi artinya seorang dewi atau ratu yang cantik (Nara artinya orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan kata sudewi berasal dari kata (su- + dewi). Awalan (su-) artinya baik amat, sangat (Nala Antara, 2008:682) dan dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216)); (18) Ratna Kasih artinya permata kesayangan (Ratna artinya permata (Zoetmulder, 2011:930) dan Kasih artinya cinta kasih, kemurahan hati, kekasih, orang yang dicintai, kesayangan (Zoetmulder, 2011:68)); (19) Sang nṛpa duhitā artinya seorang raja perempuan (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018), nṛpa artinya pelindung orang, pangeran, raja, yang berkuasa (Zoetmulder, 2011:709), dan duhitā artinya anak perempuan (Zoetmulder, 2011:232)); (20) Nara ḍatu artinya seorang ratu (Nara artinya orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan kata ḍatu sama dengan kata ratu’raja, ratu’ (Zoetmulder, 2011:204;931)); (21) Padmi Duhita artinya seorang permaisuri (padmi artinya permaisuri (Alwi, 2005:809) dan duhitā artinya anak perempuan (Zoetmulder, 2011:232)); (22) Yayi artinya dinda (Zoetmulder, 2011:1492); (23) Ratna Sudewi artinya permata atau Dewi yang baik dan cantik (Ratna’permata’ (Zoetmulder, 2011:930) dan kata sudewi berasal dari kata (su + dewi). Awalan (su-) artinya baik amat, sangat’ (Nala Antara, 2008:682) dan dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216)); (24) Sang Narārya duhitā artinya seorang perempuan terhormat (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018), kata Narārya berasal dari kata (nara + arya), terjadi persadian suara vokal (a + a = ā) sehingga terbentuk kata

(7)

narārya. Arti dari kata nara yaitu orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691), kata arya artinya terhormat, terpandang, mulia, ningrat (Zoetmulder, 2011:65), dan kata duhitā artinya anak perempuan (Zoetmulder, 2011:232)); (25) Narārya duhitā artinya perempuan terhormat (kata Narārya berasal dari kata (nara + arya), terjadi persadian suara vokal (a + a = ā) sehingga terbentuk kata narārya. Arti dari kata nara yaitu orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691), kata arya yaitu terhormat, terpandang, mulia, ningrat (Zoetmulder, 2011:65)); dan kata duhitā artinya anak perempuan (Zoetmulder, 2011:232)); (26) Sang Dyah artinya Seorang wanita dari kelahiran bangsawan (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018) dan Dyah artinya pria atau wanita muda dari kelahiran bangsawan (Zoetmulder, 2011:245)); (27) Sang Mottama Wanita artinya Seorang wanita yang utama (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018), kata mottama berasal dari kata (ma + uttama), terjadi persandian suara vokal (a + u = o) sehingga terbentuk kata mottama. Kata uttama artinya yang paling tinggi, tertinggi, kepala, pokok, baku, paling baik, ulung, unggul, utama (Zoetmulder, 2011:245). Wanita artinya perempuan, wanita, isteri (Zoetmulder, 2011:1383)); (28) Dewi Patni artinya ratu atau istri (dewi artinya dewi, ratu, putri, wanita (Zoetmulder, 2011:216) dan patni artinya istri, nyonya (rumah) (Zoetmulder, 2011:796)); (29) Śrī Nareswari artinya permaisuri yang cantik (Śrī artinya kilau, sinar, kecantikan, nasib baik, kemakmuran, kekayaan, kesuburan; cahaya kekuasaan (śakti) yang melekat yang menjadi sifat raja. Śrī sebagai esensi kecantikan atau śakti kerajaan sering dipersonifikasikan (dewi kesuburan, dewi kecantikan yang khas, dewi istana) (Zoetmulder, 2011:1123) dan Nareśwari artinya permaisuri (Zoetmulder, 2011:693)).

(8)

Dari nama-nama di atas tidak ada menunjukkan kesinoniman kata, atas nama yang sebenarnya, sehingga alasan pengarang menyebut nama tokoh utama perempuan dengan banyak sebutan. Tujuannya, untuk menyesuaikan penempatan guru laghu dengan kedudukan wirama sehingga nama-nama yang berbeda itu sebagai “abhiseka” atau gelar yang sengaja diberikan oleh pengarang untuk menghormati tokoh dan ketokohan tokoh utama dalam hubungannya dengan kehidupan sosial, budaya, dan tata kerajaan. Inilah hal yang menarik untuk diteliti, sebab tokoh utama ini telah memberikan inspirasi yang panjang dan luas kepada pengarang dalam menghormati tokoh utama. Pengarang pun dalam catatan teks tidak dapat menentukan kesejajaran nama tokoh utama. Dari catatan penulis dan informasi dari pengarang, maka dalam analisis tentang nama dan gelar tokoh utama digunakan Sang Dyah Dewi Siti Marum.

Tokoh laki-laki sebagai suami Sang Dyah Dewi Siti Marum juga memiliki nama lain dalam teks KRPM, yaitu: (1) priya artinya (orang) yang dicintai, kekasih, kesayangan (Zoetmulder, 2011:865); (2) Nara ḍatu artinya raja laki-laki (berasal dari kata nara artinya orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan kata ḍatu sama dengan kata ratu’raja, ratu’(Zoetmulder, 2011:204;931)); (3) nātha Sunantara artinya raja Sunantara (nātha artinya 1. pelindung, penjaga dan 2. raja, pangeran dan penguasa (Zoetmulder, 2011:693), sedangkan kata Sunantara sendiri kemungkinan terinspirasi dari cerita Tamtam yang memuat kata Sunantara. Setelah dibaca keseluruhan teks KRPM ternyata kata Sunantara berasal dari kata Sunyantara yang berarti orang yang memahami dan melaksanakan ajaran kesunyian (Zoetmulder, 2011:1147;41); (4) Sang Nātheng Bumi artinya seorang raja di dunia (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018), nātheng berasal dari kata (nātha + i + ng),

(9)

terjadi persandian antara suara vokal (a + i = e) sehingga terbentuklah kata nātheng. Kata nātha artinya 1. pelindung, penjaga dan 2. raja, pangeran dan penguasa (Zoetmulder, 2011:693), sedangkan kata bumi artinya bumi, dunia, tanah, daratan, negeri, dasar, alas (Zoetmulder, 2011:141)); (5) laki artinya jenis laki-laki; laki, suami (Zoetmulder, 2011:558); (6) nṛpa artinya “pelindung orang”, pangeran, raja, yang berkuasa (Zoetmulder, 2011:709); (7) bapa artinya ayah, bapa(k) (Zoetmulder, 2011:108); (8) Jagatnātha artinya raja dunia (Zoetmulder, 2011:405); (9) nātha artinya 1. pelindung, penjaga dan 2. raja, pangeran dan penguasa (Zoetmulder, 2011:693); (10) sang nṛpati artinya seorang raja atau sang raja (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018) dan nṛpati artinya “raja orang-orang”, pangeran, raja, yang berkuasa (Zoetmulder, 2011:710)); (11) Prabu bumi artinya raja dunia (Prabu artinya raja (Zoetmulder, 2011:834) dan bumi artinya bumi, dunia, tanah, daratan, negeri, dasar, alas (Zoetmulder, 2011:141)); (12) narottama nusantara artinya orang utama nusantara (kata narottama berasal dari kata (nara + uttama), terjadi persandian antara suara vokal (a + u = o) sehingga terbentuklah kata narottama. Kata nara artinya orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan uttama artinya yang paling tinggi, tertinggi, kepala, pokok, baku, paling baik, ulung, unggul, utama (Zoetmulder, 2011:1355). Sedangkan kata nusantara artinya sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia (Alwi, 2005:789)); (13) sang nara uttama artinya seorang yang utama (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018), nara artinya orang laki-laki, laki-laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan uttama artinya yang paling tinggi, tertinggi, kepala, pokok, baku, paling baik, ulung, unggul, utama (Zoetmulder, 2011:1355)); (14) rāja artinya raja, yang berkuasa, pemimpin (Zoetmulder, 2011:904);

(10)

(15) sang narottama artinya seorang yang utama (sang artinya seorang, sang (Zoetmulder, 2011:1018), kata narottama berasal dari kata (nara + uttama) dan terjadi persandian antara suara vokal (a + u = o) sehingga terbentuklah kata narottama. Kata nara artinya orang laki-laki, laki-laki, jantan, orang, diri (Zoetmulder, 2011:691) dan uttama artinya yang paling tinggi, tertinggi, kepala, pokok, baku, paling baik, ulung, unggul, utama (Zoetmulder, 2011:1355)). Dari catatan penulis dan informasi dari pengarang, maka dalam analisis tentang nama dan gelar tokoh laki-laki digunakan Raja Sunantara.

Keseluruhan isi cerita mengisahkan mangkatnya permaisuri yang dalam teks KRPM bernama Sang Dyah Dewi Siti Marum tahun 1996 Masehi berdasarkan Candra Sangkala (Wolu Eka Sanga Bumi). Tanda-tanda alam berupa bintang-bintang di langit bercahaya dan ada ekornya sebagai tanda penguasa di dunia menemukan ajalnya, sebelum disiarkan kabar kematian Sang Dyah Dewi Siti Marum. Kematian beliau membuat sedih sang raja, keluarga, dan seluruh masyarakat. Matahari bagaikan berhenti terbit dari wilayah puncak pegunungan, awan berbentuk manusia memenuhi angkasa sebagai pertanda bela sungkawa. Prosesi kematian dilaksanakan di tiga tempat, yaitu: di Istana Jakarta, di Kalitan dan di Mangadeg. Raja Sunantara merasa kehilangan, beliau meratap, memohon pada Tuhan agar Sang Dyah Dewi Siti Marum diberikan tempat yang layak. Sang Raja Sunantara juga memohon agar Sang Dyah Dewi Siti Marum senantiasa menjaganya dari atas sana. Harapan Sang Raja Sunantara agar Sang Dyah Dewi Siti Marum terus memberikan welas asih dalam perjalanannya, sisa dari usianya sehingga berhasil dalam tujuan.

(11)

Dyah Dewi Siti Marum tentang keunggulannya ketika masih hidup. Selain itu, berisi tentang uraian hal-hal yang dilakukan Sang Dyah Dewi Siti Marum ketika masih hidup dan upacara setelah kematian Sang Dyah Dewi Siti Marum yang dilaksanakan di Istana. Upacara diadakan pada hari pertama sampai dengan hari ketiga berturut-turut, sebulan lima hari, serta pada hari keseribu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk puja bhakti atas jasa-jasa Sang Dyah Dewi Siti Marum yang telah mampu menyejahterakan kehidupan rakyat. Berdasarkan hal tersebut dan pemahaman penulis, dalam teks KRPM dominan membicarakan tentang puja bhakti kepada mendiang Sang Dyah Dewi Siti Marum sehingga menarik untuk diteliti dari segi wacana puja bhakti.

Naskah KRPM didapatkan dari pengarangnya. Jarang dijumpai ada pengarang yang produktif menulis karya sastra tradisional seperti kakawin di zaman modern ini. Pengarang merupakan guru besar di Fakultas Kedokteran UNUD. Walaupun sastra (Kakawin) bukan bagian dari ilmu beliau, tetapi beliau sudah mulai mempelajari kakawin sejak kelas IV Sekolah Rakyat (SR). Tamat SR sudah menguasai Seronca, Wasantatilaka, Wirat, dan Sragdara. Kepiawaian pengarang dalam ilmu sastra disebabkan oleh lingkungan di desa tempat kelahirannya merupakan pusat kebudayaan dan sastra sehingga pengarang memiliki kemampuan dalam bidang seni dan sastra. Ini terbukti dari prestasi yang diperoleh dan karya-karya sastra yang ia ciptakan.3

KRPM tercipta oleh pengarang karena terinspirasi dari meninggalnya Sang Dyah Dewi Siti Marum serta jasa-jasanya semasih hidup. Hal itu dilakukan oleh pengarang karena keinginannya untuk mendokumentasikan meninggalnya Sang Dyah Dewi Siti Marum sebagai bentuk puja bhakti kepada kerajaan. Sungguh bahagia dan bangga penulis atas kreativitas pengarang kakawin ini, sehingga penulis merasa tertarik meneliti

(12)

KRPM sebagai bahan kajian, sekaligus sebagai penghargaan terhadap hasil ciptaannya dan berusaha menyebarluaskan kepada masyarakat agar karya sastra tradisional khususnya kakawin berkembang secara berkelanjutan.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut.

1) Bagaimanakah bentuk wacana puja bhakti dalam KRPM? 2) Bagaimanakah fungsi wacana puja bhakti dalam KRPM? 3) Bagaimanakah makna wacana puja bhakti dalam KRPM?

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Kedua tujuan tersebut diuraikan sebagai berikut.

1.3.1 Tujuan umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk ikut melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional. Selain itu, untuk memberikan penjelasan tentang wacana puja bhakti dalam KRPM. Dengan mengenal karya tersebut, diharapkan masyarakat akan mencintai peninggalan kebudayaan sehingga keberadaannya tetap terjaga dan diwariskan secara turun temurun.

1.3.2 Tujuan khusus

Tujuan khusus berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut.

(13)

1) Mengetahui bentuk wacana puja bhakti dalam KRPM. 2) Mengetahui fungsi wacana puja bhakti dalam KRPM. 3) Mengetahui makna wacana puja bhakti dalam KRPM.

1.4Manfaat Penelitian

Temuan yang dihasilkan penelitian ini dapat memberikan manfaat secara teoretis dan praktis. Kedua manfaat penelitian itu dapat diuraikan sebagai berikut.

1.4.1 Manfaat teoretis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat berguna, baik bagi peneliti, lembaga, dan masyarakat luas. Di samping itu, dapat memberikan kontribusi positif untuk mengembangkan penelitian dalam bidang sastra dan memberikan sumbangan acuan untuk dipakai pegangan dalam membuka wawasan tentang kakawin.

1.4.2 Manfaat praktis

Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk membantu kebutuhan masyarakat mengenai informasi karya sastra Jawa Kuno, khususnya kakawin. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi pembaca dalam memahami karya sastra kakawin.

Referensi

Dokumen terkait

Control menu adalah menu yang digunakan untuk melakukan manipulasi jendela atau layar Visual Basic. Pada control menu ini dapat dilakukan perubahan ukuran, pemindahan

Berdasarkan tabel di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa responden yang menjawab kuat perhatian terhadap perayaan pacu jalur adalah 19 orang yaitu 64,3 %,

Penilaian yang dilakukan terhadap dosen dilaksanakan dengan berbasis pada pengawasan, artinya penilaian yang dilakukan terhadap dosen tidak saja ditujukan untuk

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengukur kadar senyawa fenol dalam buah mengkudu (Morinda citrifolia) mentah, mengkal, dan matang, membandingkan daya

Selanjutnya baru bisa diajukan permohonan perubahan hak menjadi Hak Milik, kemudian diterbitkan hak atas tanah Hak Milik, sehingga hal tersebut menyebabkan proses perubahan

Dalam studi ini dilakukan analisis residu insektisida piretroid dengan bahan aktif beta siflutrin yang diaplikasikan pada tanaman kangkung.. Insektisida yang digunakan

Jadi sebelum potong padi saya bekerja sebagai buruh bangunan" (Wawancara tanggal 17 Desember 2008). Dengan demikian, tampak salah satu penyebab perempunan bekerja sebagai

Penyusunan laporan mengenai sistem administrasi dalam bidang kerjasama yang diajukan, pekerjaan yang dikerjakan, uraian dan sub uraian dari setiap pekerjaan, pembelian alat