• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usulan Perbaikan Kualitas Layanan Bimbingan Belajar Antonius Budianto

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Usulan Perbaikan Kualitas Layanan Bimbingan Belajar Antonius Budianto"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Usulan Perbaikan Kualitas Layanan Bimbingan Belajar Antonius Budianto

Maria Christianti, Hotna Marina R. Sitorus, Alfian

Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Universitas Katolik Parahyangan Jl. Ciumbuleuit 94, Bandung 40141

Email: [email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak

Bimbingan belajar Antonius Budianto (AB) merupakan salah satu tempat bimbingan belajar bagi siswa SMP & SMA yang menawarkan program bimbingan belajar untuk mata pelajaran matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarin serta persiapan tes masuk SMP/SMA/Perguruan tinggi favorit. Permasalahan yang sering dihadapi adalah penurunan jumlah siswa karena tidak adanya peningkatan prestasi akademik dari siswa sebelum dan setelah mengikuti bimbel. Penurunan secara signifikan terlihat pada siswa kelas 2 & 3 SMP serta 3 SMA dalam kurung waktu 5 semester terakhir. Selain itu, terdapat keluhan yang disampaikan siswa kelas 1 SMA mengenai sistem pembagian kelas yang dilakukan pihak bimbel AB.

Dalam penelitian ini, dilakukan pengukuran kualitas pelayanan bimbel AB serta dirancang usulan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan bimbel AB. Penelitian diawali dengan mengidentifikasi atribut yang relevan. Kemudian dilanjutkan dengan merancang dan menyebarkan kuesioner kepada siswa aktif bimbel AB. Setelah itu dilakukan pengukuran kualitas pelayanan bimbel AB dengan metode SERVQUAL. Hasil pengukuran itu kemudian dipetakan dalam matriks kuadran IPA untuk membantu peneliti dalam membuat prioritas usulan perbaikan.

Dari proses identifikasi atribut, diperoleh 25 atribut yang akan digunakan dalam penelitian. Setelah serangkaian proses pengujian, atribut yang dapat diolah lebih lanjut hanya 21 atribut. Atribut tersebut kemudian digunakan untuk melakukan perhitungan SERVQUAL score. Dari hasil perhitungan diperoleh SERVQUAL score sebesar -0,29. Nilai negatif menunjukkan bahwa bimbel AB belum sepenuhnya mampu memenuhi ekspektasi konsumennya. Dari hasil pemetaan matriks kuadran IPA diperoleh 29% atribut yang berada pada kuadran I dan 33% atribut berada pada kuadran III. Usulan perbaikan diprioritaskan bagi atribut yang berada pada kuadran I. Usulan yang diberikan diantaranya menyebarkan angket penilaian kualitas bimbel AB secara periodik, membagi kelas berdasarkan kemampuan akademik siswa, mengalokasikan waktu 1,5 jam bagi siswa SMA, dan sebagainya. Dengan usulan perbaikan yang dirancang diharapkan tidak akan terjadi permasalahan yang serupa dikemudian hari.

Kata kunci: Kualitas Layanan, Bimbingan Belajar, SERVQUAL, IPA

Pendahuluan

Seiring berjalannya waktu, sekolah-sekolah yang ada di Indonesia saling berebut menjadi yang terbaik dengan berbagai cara. Misalnya, dengan menjadi pemenang lomba prestasi akademik, non-akademik, meningkatkan status akreditasinya, maupun dengan meningkatkan kesulitan pelajaran yang diberikan. Seringkali siswa sendiri tidak menguasai materi yang diberikan sekolah karena sulitnya materi yang diberikan sekolah. Bimbingan belajar (bimbel) merupakan salah satu industri yang bergerak di bidang jasa dan seringkali dipercaya sebagai solusi untuk menghadapi permasalahan tersebut.

Bimbingan belajar Antonius Budianto (AB) merupakan salah satu tempat bimbingan belajar bagi kelas 1 SMP hingga kelas 3 SMA. Bimbel AB menawarkan pendampingan belajar untuk mata pelajaran matematika, fisika, kimia, bahasa inggris, dan bahasa mandarin. AB juga menyediakan program persiapan untuk siswa kelas 6 SD dalam menghadapi tes masuk ke SMP favorit, untuk siswa 3 SMP yang akan menghadapi tes masuk SMA, dan siswa kelas 3 SMA yang akan menghadapi ujian tes masuk perguruan tinggi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik, keunggulan AB adalah kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah pemilik sendiri sehingga tidak ada beban untuk membayar kontrakan. Hal ini akan

(2)

menyebabkan bimbel AB lebih murah dibandingkan tempat bimbel lain. Selain itu, siswa merasa lebih nyaman karena disediakan makanan dan dapat mengambil makanan tersebut secara bebas. Selain itu disediakan juga televisi, piano, dan gitar yang dapat digunakan siswa ketika menunggu les ataupun menunggu dijemput oleh orangtuanya.

Menurut pemilik, permasalahan yang paling utama dari bimbel AB adalah banyaknya jumlah siswa yang keluar untuk mencari tempat bimbingan belajar lain. Siswa-siswi tersebut mencari tempat bimbingan lain disertai keluhan bahwa tidak ada peningkatan prestasi belajar sebelum dan setelah mengikuti bimbel.

Gambar 1 menunjukkan perkembangan jumlah siswa SMP yang terdaftar di bimbel AB selama lima semester terakhir. Dari gambar di tersebut dapat dilihat terjadi terjadi peningkatan yang signifikan dari jumlah siswa kelas 3 SMP pada tahun ajaran 2015/2016 dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan keterangan pemilik, beberapa orang siswa dari kelas tersebut memang sudah berprestasi di sekolah, namun siswa-siswa tersebut mengikuti bimbel dengan tujuan untuk mendapatkan soal latihan yang lebih banyak sebagai persiapan menghadapi ulangan. Oleh karena prestasi siswa-siswa tersebut diketahui banyak orang, tahun ajaran berikutnya banyak yang mengikuti bimbel AB sehingga terjadi kenaikan yang signifikan.

Gambar 1. Perkembangan Jumlah Siswa SMP yang Mengikuti Bimbel AB

Penurunan yang signifikan juga terjadi pada siswa kelas 2 SMP tahun akademik 2015/2016 dibandingkan tahun ajaran sebelumnya. Berdasarkan keterangan pemilik, jumlah siswa sebanyak 30 orang sudah melebihi kapasitas

kelas, maka dari itu siswa-siswa tersebut dibagi ke dalam dua kelas berbeda dengan pengajar yang berbeda pula. Dalam waktu sekitar 3 bulan, banyak siswa yang keluar dan mencari tempat bimbel lain. Siswa yang keluar tersebut berasal dari satu kelas yang sama. Sedangkan di kelas lain, jumlah siswa yang keluar tidak sebanyak di kelas tersebut.

Penurunan serupa juga terjadi pada siswa kelas 3 SMA selama lima semester terakhir seperti pada Gambar 2. Penurunan terjadi ketika kapasitas kelas tidak cukup menampung jumlah siswa dan kelas dibagi menjadi 2 kelompok seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Gambar 2. Perkembangan Jumlah Siswa SMP yang Mengikuti Bimbel AB

Disamping itu terdapat keluhan-keluhan yang disampaikan oleh siswa terkait guru dan proses belajar mengajar, jadwal, dan fasilitas yang disediakan. Keluhan tersebut mengidikasikan adanya ketidakpuasan pelanggan. Hal ini membuat bimbel AB harus melakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya.

Metode Penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hasil pengukuran kualitas layanan bimbel AB berdasarkan konsep SERVQUAL, mengetahui prioritas perbaikan kualitas layanan bimbel AB berdasarkan metode IPA, dan merancang usulan perbaikan. Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan studi pendahuluan dengan melakukan pengamatan secara langsung pada kegiatan belajar mengajar di bimbel AB. Serta melakukan wawancara dengan pemilik untuk mengetahui permasalahan yang sedang terjadi dan melakukan wawancara kepada siswa untuk

(3)

memperoleh keluhan-keluhan mengenai sistem pelayanan bimbel AB.

Langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi dan merumuskan permasalahan yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara. Kemudian dilanjutkan dengan pembatasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan agar objek penelitian tidak terlalu luas dan mencegah penelitian yang tidak terstruktur.

Selanjutnya adalah menentukan tujuan penelitian. Penelitian ini ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami bimbel AB dengan cara melakukan pengukuran kualitas pelayanan yang diberikan. Hasil pengukuran tersebut akan dijadikan acuan untuk merancang usulan perbaikan guna meningkatkan kualitas pelayanan bimbel AB.

Tahap selanjutnya adalah melakukan studi literatur guna memperoleh teori-teori dan metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Studi literatur juga diperlukan peneliti sebagai acuan dan pegangan dalam melakukan penelitian.

Dalam melakukan pengukuran perlu dilakukan identifikasi atribut penelitian. Identifikasi atribut dilakukan dengan mempelajari atribut-atribut yang telah teridentifikasi dalam penelitian Walley, et. al (2012) untuk dijadikan acuan. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan wawancara kepada siswa aktif bimbel AB.

Setelah melakukan identifikasi atribut, langkah selanjutnya adalah menyusun instrumen penelitian berupa kuesioner serta melakukan penyebaran kuesioner. Kuesioner disebarkan kepada seluruh siswa aktif bimbel AB yang terlibat secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar di bimbel AB.

Selanjutnya dilakukan pengujian tabulasi silang untuk mengetahui pengaruh dari data profil responden yang terkumpul terhadap penilaian bimbel AB secara keseluruhan.

Tahap selanjutnya adalah melakukan pengujian reliabilitas terhadap GAP dan tingkat kepentingan untuk mengetahui tingkat kestabilan dan konsistensi hasil pengukuran. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian validitas untuk mengetahui seberapa tepat alat ukur yang digunakan mengukur sesuatu yang seharusnya diukur.

Tahap selanjutnya adalah melakukan pengukuran kualitas layanan bimbel AB untuk setiap data yang dinyatakan valid dan reliable. Hasil pengukuran tersebut digunakan sebagai

dasar untuk melakukan perancangan usulan perbaikan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan bimbel AB.

Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan. Serta merancang usulan perbaikan berdasarkan hasil pengolahan data, kritik dan saran yang disampaikan siswa, serta data profil responden yang diperoleh. Serta langkah terakhir adalah membuat kesimpulan dan saran penelitian.

Hasil dan Pembahasan

Berikut merupakan hasil yang diperoleh dari penelitian beserta pembahasan untuk setiap hasil yang diperoleh.

Identifikasi Atribut

Proses identifikasi atribut pertama-tama dilakukan dengan melihat atribut-atribut dari penelitian Walley, et. al (2012) untuk dijadikan acuan oleh karena adanya kemiripan dengan penelitian ini. Kemudia dilakukan wawancara dengan 34 siswa aktif bimbel AB. Wawancara dilakukan dengan cara meminta siswa tersebut menceritakan pengalaman positif dan negatif selama mengikuti bimbel AB.

Setiap pernyataan yang muncul dari hasil wawancara kemudian dikelompokkan berdasarkan kesamaan maknanya untuk kemudian diinterpretasikan menjadi atribut yang lebih terukur. Dari hasil identifikasi atribut diperoleh 25 atribut seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Atribut Akhir

Kode Atribut Akhir

A1 Persentase guru yang dapat mengajar dengan baik dan menarik

A2 Kecepatan guru ketika mengajar dalam setiap pertemuan selalu konsisten

A3 Cara penyampaian materi oleh guru mudah dipahami dan kecepatannya sesuai A4 Kemampuan guru dalam menangani siswa

di kelas dinilai baik A5

Kemampuan guru untuk menguasai materi dengan baik dan dapat menjawab

pertanyaan siswa

A6 Jumlah guru yang mengajar cukup untuk menjalankan kegiatan

A7 Sikap guru yang menyenangkan dan membuat siswa berani bertanya

A8 Kesesuaian materi yang diberikan sesuai dengan materi di sekolah

A9 Kemudahan memperoleh ringkasan materi untuk membantu proses belajar

A10 Jumlah latihan soal yang diberikan sudah cukup

A11 Kualitas soal latihan yang diberikan dinilai baik

A12 Jumlah siswa di kelas efektif untuk suasana belajar yang nyaman

(4)

(lanjut)

Tabel 1. Atribut Akhir (lanjutan)

Kode Atribut Akhir

A13

Kemampuan nyata tempat bimbel dalam membantu siswa untuk memperoleh pembelajaran hasil yang diharapkan A14 Fleksibilitas jadwal les

A15 Ketepatan waktu pelaksanaan bimbel A16 Lama belajar sesuai dengan yang

dijanjikan

A17 Adanya kesempatan berinteraksi dengan guru di luar jam les

A18 Fasilitas pendukung yang disediakan cukup memadai

A19 Fasilitas belajar yang disediakan cukup memadai

A20 Adanya fasilitas pelengkap

A21 Jarak tempat bimbel dari sekolah cukup jauh

A22 Suasana tempat les nyaman A23 Biaya yang dikeluarkan cukup tinggi A24

Kemampuan staff dalam memberikan informasi yang dibutuhkan siswa dinilai baik

A25 Tempat bimbel dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan setiap siswa

Hasil identifikasi atribut akan digunakan untuk menyusun kuesioner yang akan diolah lebih lanjut untuk melakukan pengukuran kualitas layanan bimbel AB.

Penyusunan dan Penyebaran Kuesioner Kuesioner yang disusun terdiri dari empat bagian. Bagian yang pertama berisi profil responden. Bagian kedua berisi pertanyaan mengenai penilaian responden terhadap ekspektasinya untuk pelayanan bimbel secara keseluruhan. Bagian ketiga berisi pertanyaan mengenai penilaian responden terhadap performansi pelayanan bimbel AB. Bagian keempat berisi pertanyaan mengenai penilaian responden terhadap tingkat kepentingan dari setiap atribut yang telah teridentifikasi. Serta pada bagian akhir berisi pertanyaan mengenai penilaian responden terhadap pelayanan bimbel AB secara keseluruhan, kritik, dan saran.

Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner disusun menggunakan skala Likert dari 1 (Sangat tidak setuju) hingga 5 (Sangat setuju) dan 1 (Sangat tidak penting) hingga 5 (Sangat penting). Skala Likert digunakan karena skala ini cocok untuk mengukur pendapat, sikap, dan persepsi mengenai suatu hal (Riduwan dan Akdon, 2009).

Kuesioner yang telah disusun kemudian disebarkan kepada seluruh populasi yaitu seluruh siswa aktif bimbel AB dari kelas 1

hingga 3 SMA. Siswa aktif yang terdaftar adalah 86 siswa. Total kuesioner yang disebarkan sebanyak 86 kuesioner. Akan tetapi, hanya terdapat 75 kuesioner yang dapat diolah karena ada kuesioner yang tidak diisi secara lengkap, ada kuesioner yang diisi dengan jawaban yang sama semua, serta ada beberapa siswa aktif yang sudah keluar. Uji Tabulasi Silang

Uji tabulasi silang dilakukan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh dari satu variabel terhadap variabel lainnya (Riduwan dan Akdon, 2009). Uji tabulasi silang dilakukan terhadap data profil responden berdasarkan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan bimbel dalam satu hari terhadap penilaian bimbel AB secara keseluruhan. Pengujian ini dilakukan dengan hipotesis awal tidak ada pengaruh antara data profil responden berdasarkan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan bimbel dalam satu hari terhadap penilaian bimbel AB secara keseluruhan. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Hasil Pengujian Tabulasi Silang

Waktu (jam)

Penilaian Pelayanan Keseluruhan Total Cukup setuju Kurang setuju Sangat setuju Setuju 1 N 8 1 22 24 55 % 14.5 1.8 40.0 43.6 100 1.5 N 5 0 4 6 15 % 33.3 0.0 26.7 40.0 100 2 N 1 0 2 2 5 % 20.0 0.0 40.0 40.0 100 Total N 14 1 28 32 75 % 18.7 1.3 37.3 42.7 100 Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2-sided) Pearson Chi-Square 3.214 a 6 .782 Likelihood Ratio 3.231 6 .779 N of Valid Cases 75

Dari hasil pengujian di atas dapat dilihat bahwa nilai Pearson Chi-Square yang diperoleh adalah 0,782. Nilai tersebut lebih kecil dari nilai chi-square tabel yaitu 1,635. Apabila nilai pearson chi-square lebih besar dari nilai chi-square tabel maka hipotesis awal tidak ditolak (Michael, 2001). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa profil responden berdasarkan waktu yang dihabiskan untuk kegiatan bimbel setiap pertemuan tidak mempengaruhi penilaian responden terhadap pelayanan bimbel AB secara keseluruhan.

(5)

Pengujian Reliabilitas Pengukuran

Reliabilitas mengindikasikan sampai sejauh mana suatu alat ukur dapat mengukur tanpa bias (error free) dan menghasilkan pengukuran yang konsisten dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, reliabilitas mengindikasikan tingkat kestabilan dan konsistensi dari hasil pengukuran yang dilakukan oleh alat ukur (Sekaran, 2000).

Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan suatu koefisien yaitu Cronbach’s alpha. Nilai Cronbach’s alpha yang semakin mendekati 1, berarti semakin tinggi konsistensi alat ukur tersebut. Pada umumnya, reliabilitas 0,60 dinyatakan sebagai poor reliability, reliabilitas diatas 0,70 dinyatakan sebagai acceptable, dan nilai reliabilitas diatas 0,80 dinyatakan sebagai good (Sekaran, 2000).

Pada penelitian ini, pengujian reliabilitas dilakukan pada GAP dan tingkat kepentingan dari seluruh atribut yang digunakan dalam penelitian. Hasil pengujian reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 3 seperti di bawah ini.

Tabel 3. Hasil Pengujian Reliabilitas pada GAP dan Tingkat Kepentingan Cronbach's Alpha N of Items GAP .860 25 Tingkat Kepentingan .881 25

Dari Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa nilai Cronbach’s alpha yang diperoleh adalah 0,881. Nilai ini sudah melebihi nilai Cronbach’s alpha yang dapat diterima yaitu 0,7. Oleh karena itu, seluruh atribut pada tingkat kepentingan yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan reliable.

Pengujian Validitas

Pengujian validitas dilakukan untuk memastikan bahwa apa yang diukur sesuai dengan apa yang seharusnya diukur, bukan hal-hal lain (Sekaran, 2000). Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan construct validity dan criterion-related validity. Construct validity digunakan untuk membuktikan seberapa baik hasil yang diperoleh dari alat ukur cocok dengan teori yang sudah ada (Sekaran, 2000). Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menguji validitas konstruk adalah analisis faktor. Melalui analisis faktor ini akan diuji apakah konsep konstruk yang digunakan sudah sesuai

dengan konsep konstruk secara teoritis (Yusrizal, 2008). Pengujian dilakukan dengan menggunakan KMO and Bartlett’s test. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4 seperti di bawah ini.

Tabel 4. Hasil Pengujian KMO and Bartlett’s Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling

Adequacy. .643 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 801.427 df 300 Bartlett's Test of Sphericity Sig. .000

Dari Tabel 4 di atas dapat dilhat bahwa nilai KMO-MSA adalah 0,643 dan nilai ini sudah melebihi 0,5 (Yusrizal, 2008). Selain itu dari hasil Bartlett’s test juga diperoleh nilai signifikansi <0,05 dengan derajat kebebasan 300 (Yusrizal, 2008). Dari kedua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa proses analisis faktor dapat dilanjutkan. Langkah selanjutnya adalah memeriksa tabel anti-image matrix untuk menentukan variabel mana yang tidak perlu diikutsertakan dalam penelitian. Caranya adalah dengan melihat anti-image correlation pada nilai-nilai MSA yang diberi tanda “a”.

Apabila nilai MSA ini ≥ 0,5 maka variabel tersebut tetap diikutsertakan dalam penelitian (Yusrizal, 2008). Rekapitulasi nilai MSA dapat dilihat pada Tabel 5 seperti di bawah ini.

Tabel 5. Rekapitulasi Nilai MSA

Atri-but MSA Atri-but MSA Atri-but MSA A1 0.524 A10 0.744 A19 0.392 A2 0.723 A11 0.570 A20 0.690 A3 0.792 A12 0.790 A21 0.779 A4 0.632 A13 0.708 A22 0.669 A5 0.718 A14 0.776 A23 0.852 A6 0.597 A15 0.439 A24 0.592 A7 0.683 A16 0.593 A25 0.555 A8 0.476 A17 0.437 A9 0.597 A18 0.595

Dari Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa terdapat beberapa nilai MSA kurang dari 0,5. Oleh karena itu, atribut-atribut tersebut tidak diikutsertakan dalam penelitian (Yusrizal, 2008). Atribut yang pertama kali dihilangkan adalah A19 karena nilainya paling kecil.

Setelah atribut tersebut dihilangkan, dilakukan pengujian dengan langkah yang sama sehingga diperoleh hasil seperti pada Tabel 6 di bawah ini.

Tabel 6. Hasil Pengujian KMO and Bartlett’s Test Setelah A19 Dikeluarkan

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling

(6)

Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 738.855 df 276 Sig. .000

Pada Tabel 6 di atas dapat dlihat bahwa nilai KMO-MSA yang diperoleh adalah 0,678 dan masih tetap melebihi 0,5. Serta hasil Bartlett’s test juga menunjukkan nilai signifikansi <0,05 dengan derajat kebebasan 276. Dari kedua hal ini dapat disimpulkan bahwa proses analisis faktor dapat dilanjutkan. Dengan cara yang sama perlu dilakukan pemeriksaan terhadap nilai-nilai dari MSA pada tabel anti-image matrix setelah atribut A19 dihilangkan. Rekapitulasi nilai MSA dapat dilihat pada Tabel 7 seperti di bawah ini.

Tabel 7. Rekapitulasi Nilai MSA Setelah A19 Dihilangkan

Atri-but MSA

Atri-but MSA Atri-but MSA

A1 0.510 A9 0.615 A17 0.444 A2 0.691 A10 0.724 A18 0.467 A3 0.788 A11 0.589 A20 0.692 A4 0.663 A12 0.783 A21 0.788 A5 0.741 A13 0.733 A22 0.741 A6 0.632 A14 0.768 A23 0.840 A7 0.684 A15 0.507 A24 0.706 A8 0.528 A16 0.660 A25 0.593 Dari Tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa masih ada nilai MSA yang kurang dari 0,5 sehingga atribut tersebut tidak diikutsertakan dari penelitian. Atribut yang dihilangkan adalah A17 karena nilainya lebih kecil dibandingkan atribut A18. Kemudian dilakukan pengujian dengan langkah yang sama sehingga diperoleh hasil seperti pada Tabel 8 seperti di bawah ini.

Tabel 8. Hasil Pengujian KMO and Bartlett’s Test Setelah A19 dan A17 Dikeluarkan

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .701 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 698.635 df 253 Sig. .000

Dari Tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa nilai KMO-MSA yang diperoleh adalah 0,701. Nilai ini sudah melebihi 0,5. Serta hasil Bartlett’s test menunjukkan nilai signifikansi <0,05 dengan derajat kebebasan 253. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses analisis faktor dapat dilanjutkan. Dengan cara yang sama pula perlu diperhatikan nilai dari MSA pada tabel anti-image correlation. Rekapitulasi nilai MSA dapat dilihat pada Tabel 9 seperti di bawah ini.

Tabel 9. Rekapitulasi Nilai MSA Setelah A19 dan A17 Dihilangkan

Atri-but MSA

Atri-but MSA Atri-but MSA

A1 0.500 A2 0.726 A3 0.786 (lanjut)

Tabel 9. Rekapitulasi Nilai MSA Setelah A19 dan A17 Dihilangkan (lanjutan)

Atri-but MSA

Atri-but MSA Atri-but MSA

A4 0.677 A11 0.619 A20 0.651 A5 0.774 A12 0.744 A21 0.799 A6 0.590 A13 0.725 A22 0.827 A7 0.758 A14 0.776 A23 0.849 A8 0.543 A15 0.608 A24 0.720 A9 0.613 A16 0.693 A25 0.593 A10 0.715 A18 0.365

Dari Tabel 9 di atas masih terdapat nilai MSA yang kurang dari 0,5. Oleh karena itu perlu diakukan prosedur yang sama sebelum proses analisis faktor dilanjutkan. Setelah atribut A18 dihilangkan, hasil pengujian KMO-MSA dapat dilihat pada Tabel 10 seperti di bawah ini.

Tabel 10. Hasil Pengujian KMO and Bartlett’s Test

Setelah A19, A17, dan A18 Dikeluarkan Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .716 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square 677.200 df 231 Sig. .000

Berdasarkan Tabel 10 di atas dapat dilihat bahwa nilai KMO-MSA yang diperoeh sebesar 0,716 dan nilai ini sudah melebihi 0,5. Berdasarkan Bartlett’s test juga diperoleh nilai signifikansi <0,05 dengan derajat kebebasan 231. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses analisis faktor dapat dilanjutkan. Dengan cara yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nilai MSA pada tabel anti-image correlation perlu dilihat apakah masih ada atribut yang nilai MSA-nya di bawah 0,5. Rekapitulasi nilai MSA dapat dilihat pada Tabel 11 seperti di bawah ini.

Tabel 11. Rekapitulasi Nilai MSA Setelah A19, A17, dan A18 Dihilangkan

Atri-but MSA

Atri-but MSA Atri-but MSA

A1 0.521 A9 0.611 A20 0.761 A2 0.717 A10 0.710 A21 0.793 A3 0.797 A11 0.638 A22 0.828 A4 0.683 A12 0.775 A23 0.848 A5 0.801 A13 0.731 A24 0.726 A6 0.585 A14 0.788 A25 0.603 A7 0.753 A15 0.624 A25 0.593 A8 0.565 A16 0.690

(7)

Pada Tabel 11 di atas dapat dilihat bahwa tidak ada lagi nilai MSA yang masih di bawah 0,5. Sehingga tidak perlu dilakukan pemilihan terhadap atribut penelitian lagi. Langkah selanjutnya adalah melihat item communialities untuk setiap atribut. Atribut-atribut yang memiliki item communialities kurang dari 0,4 berarti atribut tersebut tidak berkorelasi dengan item lainnya. Apabila hal ini terjadi, maka peneliti harus mempertimbangkan apakah atribut tersebut diikutsertakan dalam penelitian atau tidak (Osborne dan Costello, 2009). Item communialities dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 12 seperti di bawah ini.

Tabel 12.Item Communialities

Initial Extraction A1 1.000 .638 A2 1.000 .616 A3 1.000 .721 A4 1.000 .546 A5 1.000 .466 A6 1.000 .491 A7 1.000 .688 A8 1.000 .416 A9 1.000 .786 A10 1.000 .720 A11 1.000 .649 A12 1.000 .781 A13 1.000 .735 A14 1.000 .711 A15 1.000 .781 A16 1.000 .702 A20 1.000 .552 A21 1.000 .714 A22 1.000 .671 A23 1.000 .533 A24 1.000 .724 A25 1.000 .821

Dari Tabel 12 di atas dapat diketahui bahwa tidak ada atribut yang nilai ekstraksinya kurang dari 0,4. Sehingga seluruh atribut yang telah diuji dapat digunakan untuk pengolahan selanjutnya.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian criterion-related validity. Pengujian criterion-related validity dilakukan dengan validitas prediktif. Validitas prediktif mengindikasikan kemamapuan alat ukur untuk membedakan individu-individu berdasarkan kriteria di masa depan (Sekaran, 2000).

Pengujian dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment (r). Apabila nilai Pearson Correlation menunjukkan nilai yang lebih besar dari r tabel, maka atribut tersebut dinyatakan valid dan layak dilakukan pengolahan lebih lanjut (Rahmawati, 2010). Rekapitulasi hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 13 seperti di bawah ini.

Tabel 13. Rekapitulasi Uji Validitas Prediktif

Atribut Pearson Correlation R tabel Keputusan A1 0,280 0,224 Valid A2 0,269 Valid A3 0,256 Valid A4 0,284 Valid (lanjut)

Tabel 13. Rekapitulasi Uji Validitas Prediktif (lanjutan) Atribut Pearson Correlation R tabel Keputusan A5 0,314 0,224 Valid A6 0,249 Valid A7 0,442 Valid A8 0,362 Valid A9 0,263 Valid A10 0,298 Valid A11 0,232 Valid A12 0,322 Valid A13 0,276 Valid A14 0,456 Valid A15 0,258 Valid A16 0,288 Valid

A17 0,070 Tidak Valid

A18 0,030 Tidak Valid

A19 0,078 Tidak Valid

A20 0,247 Valid A21 0,324 Valid A22 0,228 Valid A23 0,292 Valid A24 0,293 Valid A25 0,231 Valid

Pada Tabel 13 di atas dapat dilihat bahwa atribut yang tidak valid adalah A17, A18, dan A19. Berdasarkan hasil pengujian validitas, atribut yang tidak diikutsertakan dalam penelitian adalah A17, A18, dan A19. Sehingga total atribut akhir yang digunakan dalam penelitian berjumlah 22 atribut.

Perhitungan SERVQUAL Score

SERVQUAL Score diperoleh dengan cara mengurangkan nilai persepsi dengan nilai ekspektasi untuk setiap atribut pada masing-masing responden (Zeithaml, et. al, 1990). Kemudian dihitung nilai rata-rata performansi setiap atribut sehingga diperoleh hasil seperti Tabel 14 di bawah ini.

Tabel 14. Hasil Perhitungan SERVQUAL Score

Atribut GAP A1 -0.31 A2 -0.21 A3 -0.63 A4 -0.43 A5 -0.25 A6 -0.24 A7 -0.41 A8 -0.03 A9 -0.03 A10 -0.03

(8)

A11 -0.07 A12 -0.40 A13 -0.52 A14 -0.43 A15 -0.33 A16 -0.33 (lanjut)

Tabel 14. Hasil Perhitungan SERVQUAL Score (lanjutan) Atribut GAP A20 -0.03 A21 -0.31 A22 -0.16 A23 -0.37 A24 -0.39 A25 -0.56

Dari Tabel 14 di atas dapat dilihat bahwa masih banyak atribut yang memiliki SERVQUAL Score negatif. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa atribut yang diberi warna adalah atribut-atribut yang memiliki GAP di atas rata-rata GAP keseluruhan yakni 0,29. Langkah selanjutnya adalah membuat matriks kuadran IPA.

Importance-Performance Analysis (IPA)

Menurut Matrilla dan James (1997) dalam Chen dan Lin (2013), model IPA membantu pihak manajemen dengan memfokuskan strategi pada ekspektasi pelanggan yang terkait dengan tingkat kepentingan dan performansi.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung rata-rata performansi dan tingkat kepentingan untuk setiap atribut. Nilai rata-rata dari GAP akan dijadikan sebagai sumbu X dalam matriks kuadran IPA. Sedangkan, nilai rata-rata tingkat kepentingan akan dijadikan sebagai sumbu Y. Hasil pemetaan matriks kuadran IPA dapat dilihat pada Gambar 3 seperti di bawah ini.

Gambar 3. Hasil Pemetaan Matriks Kuadran IPA

Dari Gambar 3 di atas diperoleh 6 atribut berada pada Kuadran I, 7 atribut berada pada Kuadran II, 7 atribut berada pada Kuadran III, dan 2 atribut berada pada Kuadran IV. Tabel 15 berikut merupakan penjelasan untuk masing-masing kuadran.

Tabel 15. Rekapitulasi Atribut pada Masing-masing Kuadran IPA

Kuadran Kode Atribut

(I (Prioritas Pertama)

A1

Persentase guru yang dapat mengajar dengan baik dan

menarik A3

Cara penyampaian materi oleh guru mudah dipahami

dan kecepatannya sesuai A4

Kemampuan guru dalam menangani siswa di kelas

dinilai baik A7

Sikap guru yang menyenangkan dan membuat

siswa berani bertanya A12

Jumlah siswa di kelas efektif untuk suasana belajar yang

nyaman

A13

Kemampuan nyata tempat bimbel dalam membantu siswa untuk memperoleh hasil

pembelajaran yang diharapkan II (Prioritas Kedua) A2

Kecepatan guru dalam mengajar setiap pertemuan

selalu konsisten A5

Kemampuan guru untuk menguasai materi dengan baik dan dapat menjawab

pertanyaan siswa A6

Jumlah guru yang mengajar cukup untuk menjalankan

kegiatan A8

Kesesuaian materi yang diberikan sesuai dengan

materi di sekolah A9

Kemudahan memperoleh ringkasan materi untuk membantu proses belajar A10 Jumlah latihan soal yang diberikan sudah cukup A11 Kualitas latihan soal yang

diberikan dinilai baik

III (Prioritas

Ketiga)

A14 Fleksibilitas jadwal les A15 Ketepatan waktu pelaksanaan

bimbel

A16 Lama belajar sesuai dengan yang dijanjikan A21 Jarak tempat bimbel dari

sekolah cukup jauh A23 Biaya yang dikeluarkan cukup

tinggi A24

Kemampuan staff dalam memberikan informasi yang dibutuhkan siswa dinilai baik A25

Tempat bimbel dapat memenuhi kebutuhan dan

keinginan setiap siswa IV

(Prioritas

A20 Adanya fasilitas pelengkap A22 Suasana tempat les nyaman

(9)

Keempat)

Pada penelitian ini akan dirancang usulan perbaikan mengikuti atribut-atribut hasil penelitian yang berada pada kuadran I dan III karena performansi atribut-atribut yang berada pada kedua kuadran ini masih berada di bawah ekspektasi konsumennya.

Usulan Perbaikan

Berdasarkan hasil pengukuran kualitas layanan bimbel AB, hasil pemetaan matriks kuadran IPA, data profil responden, serta kritik dan saran yang disampaikan oleh siswa, maka usulan perbaikan yang diberikan untuk pihak bimbel AB adalah seperti pada Tabel 16 di bawah ini.

Tabel 16. Usulan Perbaikan

No Usulan Atribut

1 Mengadakan training untuk seluruh guru yang mengajar

A1 A13 2 Menyebarkan angket penilaian

kualitas bimbel AB secara periodik A1 A3 A25

3 Melakukan evaluasi pada guru yang mengajar secara berkala

A1 A3 A4 A13 4

Membagi kelas berdasarkan kemampuan akademik setiap

siswa

A7

5

Siswa kelas 1 SMA dibagi menjadi 3 kelompok dan menugaskan guru

yang sama untuk mengajar di ketiga kelompok tersebut

A12

6 Meningkatkan kualitas materi yang

diberikan A13

7

Mengatur jadwal les berdasarkan jam pulang sekolah dan jadwal

kegiatan ekstrakulikuler

A14 8 Menambah ruang kelas A14 A15 9 Menambah jumlah guru A15 10 Menambah jumlah pertemuan per

minggu

A15 A16 11 Mengalokasikan waktu 1,5 jam

setiap pertemuan bagi siswa SMA A16 12 Mencari kontrakan yang dekat

dengan sekolah Santo Aloysius A21 13

Tidak menaikkan tarif bimbingan untuk beberapa periode

mendatang

A23

14

Staff sebaiknya selalu mencari informasi-informasi terbaru seputar

sekolah & kuliah

A24 15 Melakukan pendekatan kepada

siswa A25

Kesimpulan

Berdasarkan konsep SERVQUAL,

diperoleh hasil bahwa nilai GAP dari seluruh atribut yang digunakan dalam penelitian

bernilai negatif. Hal ini berarti bahwa bimbel AB belum sepenuhnya dapat memenuhi ekspektasi siswanya. Atribut-atribut yang memiliki GAP yang berada di atas rata-rata GAP keseluruhan adalah kecepatan guru ketika mengajar dalam setiap pertemuan selalu konsisten, kemampuan guru untuk menguasai materi dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan siswa, kesesuaian materi yang diberikan sesuai dengan materi di sekolah, kemudahan memperoleh ringkasan materi untuk membantu proses belajar, jumlah latihan soal yang diberikan sudah cukup, kualitas latihan soal yang diberikan dinilai baik, adanya fasilitas pelengkap, dan suasana tempat les nyaman. Sedangkan nilai GAP pada atribut lain masih berada di bawah rata-rata nilai GAP keseluruhan.

Berdasarkan hasil pemetaan atribut ke dalam kuadran IPA, atribut-atribut yang menjadi fokus peneliti dalam merancang usulan perbaikan adalah atribut-atribut yang berada pada kuadran I dan III. Atribut yang berada pada kuadran I adalah persentase guru yang dapat mengajar dengan baik dan menarik, cara penyampaian materi oleh guru mudah dipahami dan kecepatannya sesuai, kemampuan guru dalam menangani siswa di kelas dinilai baik, sikap guru yang menyenangkan dan membuat siswa berani bertanya, jumlah siswa di kelas efektif untuk suasana belajar yang nyaman, serta kemampuan nyata tempat bimbel dalam membantu siswa untuk memperoleh hasil pembelajaran yang diharapkan. Sedangkan atribut yang berada pada kuadran III adalah fleksibilitas jadwal les, ketepatan waktu pelaksanaan bimbel, lama belajar sesuai dengan yang dijanjikan, jarak tempat bimbel dari sekolah cukup jauh, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi, kemampuan staff dalam memberikan informasi yang dibutuhkan siswa dinilai baik, serta tempat bimbel dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan setiap siswa.

Usulan perbaikan yang diberikan adalah diantaranya menyebarkan angket penilaian kualitas bimbel AB secara periodik, membagi kelas berdasarkan kemampuan akademik setiap siswa, mengatur jadwal les berdasarkan jam pulang sekolah dan jadwal kegiatan ekstrakulikuler, mengalokasikan waktu 1,5 jam bagi siswa SMA, tidak menaikkan tarif bimbingan untuk beberapa periode mendatang, staff selalu mencari informasi

(10)

terbaru seputar sekolah dan kuliah, serta melakukan pendekatan kepada siswa. Serta terdapat 4 usulan perbaikan yang tidak dapat langsung diterapkan oleh pihak bimbel AB seperti melakukan evaluasi pada guru siswa kelas 1 SMA dibagi menjadi 3 kelompok dan menugaskan guru yang sama untuk mengajar di ketiga kelompok tersebut, meningkatkan kualitas materi yang diberikan, dan menambah jumlah pertemuan per minggu bagi siswa SMA.

Saran

Adapun saran yang diberikan peneliti adalah sebagai berikut:

1. Bimbel AB diharapkan untuk melakukan perbaikan terkait kecepatan guru dalam menjelaskan yang terlalu cepat menurut sebagian besar siswa.

2. Bimbel AB dapat menerapkan usulan perbaikan yang telah dirancang dalam penelitian ini.

Daftar Pustaka

Chen, Y. C., & Lin, S. (2013). Applying Importance-Performance Analysis for Improving Internal Marketing of Hospital Management in Taiwan. International Business Research, 6(4), 45-54. doi:10.5539/ibr.v6n4p45

Martilla, J. A., & James, J. C. (1977). Importance-Performance Analysis. Journal of Marketing. Diunduh dari https://bibliotecadigital.ipb.pt/bitstream/1019 8/7120/1/IBIMA_2.pdf

Michael, R.S. (2001). Crosstabulation & Chi-Square. Indiana: Indiana University

Bloomington. Diunduh dari

http://www.indiana.edu/~educy520/sec5982 /week_12/chi_sq_summary011020.pdf Osborne, J. W. & Costello, A. B. (2009). Best

Practices in Exploratory Factor Analysis: Four Recommendation for Getting the Most from Your Analysis. Pan-Pasific Management Review, 12(2), 131-146 Rahmawati, H. (2010). Analisis Kualitas

Pelayanan Jasa Menggunakan Metode SERVQUAL dan Importance Performance Analysis di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Karanganyar. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Diunduh dari https://eprints.uns.ac.id/7556/

Riduwan & Akdon. (2009). Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung: CV. Alfabeta

Sekaran, U. (2000). Research Methods for Business. New York: John Willey & Sons, Inc.

Walley, K., Custance, P., & Zhang, R. (2012). Service Quality in the Language Training Market in China. Marketing Intelligence & Planning, 30(4), 477-491. doi: 10.1108/02634501211231955

Yusrizal. (2008). Pengujian Validitas Konstruk dengan Menggunakan Analisis Faktor. Jurnal Tabularasa PPS UNIMED, 5(1), 73-92.

Zeithaml, V.A., Parasuraman, A., & Berry, L. L. (1990). Delivering Quality Service Balancing Customer Perceptions and Expectations. New York: The Free Press

Gambar

Gambar 1. Perkembangan Jumlah Siswa SMP  yang Mengikuti Bimbel AB
Tabel 2. Hasil Pengujian Tabulasi Silang  Waktu
Tabel 4. Hasil Pengujian KMO and Bartlett’s Test  Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling
Tabel  10.  Hasil  Pengujian  KMO  and  Bartlett’s  Test  Setelah A19, A17, dan A18 Dikeluarkan
+4

Referensi

Dokumen terkait