SCIENTIA
Jurnal Farmasi dan Kesehatan
Diterbitkan oleh STIFI Perintis Padang setiap bulan Februari dan Agustus
Website : http://www.jurnalscientia.org/index.php/scientia
7 (2) ; 129 – 133, 2017
EFEK HEPATOPROTEKTOR BEBERAPA FRAKSI DARI
EKSTRAK DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) TERHADAP MENCIT
PUTIH JANTAN GALUR SWISS WEBSTER YANG DIINDUKSI
PARASETAMOL
Sari Meisyayati, Safitri, dan Mauizatul Hasanah
STIFI Bhakti Pertiwi Palembang
Email: [email protected]
ABSTRAK
Ekstrak daun sukun menunjukkan adanya efek hepatoprotektor pada penelitian terdahulu sehingga perlu adanya penelitian lanjutan pada beberapa fraksi ekstraknya. Penelitian ini menggunakan 6 kelompok perlakuan yang terdiri dari kontrol normal, kontrol positif, pembanding (sediaan yang mengandung sylmarin 35 mg/kgbb), fraksi etil asetat, fraksi heksan serta fraksi sisa daun sukun dengan dosis masing-masing 47 mg/kgbb. Tiap kelompok perlakuan diberikan sediaan uji selama 7 hari. Selanjutnya kecuali kontrol normal pada hari ke-8 tiap kelompok perlakuan diinduksi hepatotoksik dengan parasetamol dosis 1400 mg/kgbb dan setelah 24 jam dilakukan pengambilan darah melalui arteri carotis untuk diukur aktivitas SGOT dan SGPTnya. Lebih lanjut diperoleh kadar rata-rata SGOT (U/L) masing-masing kelompok berturut-turut 49, 152; 237,048; 78,783; 73,554; 88,195 serta 97,956. Untuk kadar rata-rata SGPT (U/L) diperoleh berturut-turut 35,208; 159,658; 59,959; 58,215; 79,132 serta 86,104. Dari hasil tersebut diketahui bahwa kadar SGOT dan SGPT masing-masing fraksi berbeda secara bermakna dengan kelompok kontrol positif (P<0,05).Kadar rata-rata SGOT seluruh fraksi tidak berbeda bermakna dengan kelompok pembanding namun untuk kadar SGPT, hanya fraksi etil asetat yang menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna dengan kelompok pembanding. Dapat disimpulkan bahwa masing-masing fraksi ekstrak daun sukun dengan dosis 47 mg/kgbb memberikan efek hepatoprotektor dan fraksi etil asetatlah yang menunjukkan efek hepatoprotektor terbesar diantara ketiganya.
Kata Kunci :Daun sukun, fraksi etil asetat, SGOT, SGPT, hepatoprotektor, parasetamol
ABSTRACT
Sukun leaves extract showed hepatoprotector effect on recent study. Thus, it needs more study to elaborate which compound has responsible to the effect. This research was focused on hepatoprotector effect of the fraction of sukun leaves extract. Six group of white male Swiss Webster mice used in this study were: normal group, negative control group, positive control group, water, aethyl acetate and hexane fraction of sukun leaves extract groups at dose of 47 mg/kg. Test compound was administrated to each group of animal for 7 days. On 8th day, liver toxicity was induced by paracetamol orally at dose of 1400 mg/kgbw. More over, the blood sample were taken from carotid artery after 24 hour of liver toxic induction to
measure SGOT and SGPT activity. The result showed that there were significant difference between negative control group and the fraction groups which indicated hepatoprotector effect. Statistically, there were no significant difference between fraction group on SGOT activity level which indicated equality effect on reducing SGOT. On the other hand, the hepatoprotector effect of aethyl acetate fraction showed the strongest among three fraction on reducing SGPT level. It was concluded that aethyl acetate fraction of sukun leaves extract on dose 47 mg/kgbw has the strongest hepatoprotection effect.
Keywords : sukun, Artocarpus altilis , aethyl acetate, hepatoprotector, paracetamol
PENDAHULUAN
Penggunaan obat-obatan sintetik dalam jangka waktu panjang seringkali menyebabkan kerusakan pada beberapa organ yang salah satunya adalah hati. Beberapa obat yang dapat menyebabkan hepatotoksik diantaranya adalah isoniazid, rifampisin, tetrasiklin, parasetamol dan fenitoin. (Brunton, L. et al. 2008;Gershwin, ME.et al. 2008) sehingga perlu dicari alternatif obat tambahan yang untuk mengatasi masalah ini.
Salah satu tumbuhan obat tradisional yang digunakan sebagai hepatoprotektor adalah daun sukun (Artocarpus altilis) (Sidik. 1998; Hariana, A.2013). Daun ini mengandung asam hidrosianat, asetilkolin, flavonoid, tanin, dan riboflavin (Mustafa, AM, 2013). Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Supriadi, A. 2013) diketahui bahwa ekstrak daun sukun pada dosis 140, 313,6 dan 700 mg/kgBB memberikan efek hepatoprotektor. Lebih lanjut pada dosis 140 mg/kgBB memberikan efek hepatoprotektor paling baik dibandingkan dengan dosis 313,6 dan 700 mg/kgBB. Oleh kerena itu, peneliti tertarik untuk melanjutkan penelitian sebelumnya dengan meneliti efek hepatoprotektor pada fraksi ekstrak daun sukun tersebut.
METODE PENELITIAN Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah alat destilasi vakum, rotary evaporator, spektrofotometer uv-vis, timbangan analitik, timbangan hewan labu fraksinasi, kaca arloji, tabung tentukur.
Bahan yang digunakan adalah daun sukun, etanol hasil destilasi, aquadest, etil asetat , n-heksan, parasetamol dan sediaan farmasi yang mengandung sylmarin, tween 80 pereaksi SGOT dan SGPT.
Hewan Percobaan
Mencit putih jantan galur Swiss-Webster dengan bobot 20-30 gram dan berprilaku normal.
Ekstraksi dan fraksinasi daun sukun
Daun sukun diekstraksi secara maserasi selama 5 hari kemudian diulangi sebanyak 2 kali. Hasil maserasi didestilasi vakum untuk mendapatkan ekstrak kental. Selanjutnya dilakukan fraksinasi dengan pengulangan sebanyak 3 kali terhadap ekstrak tersebut dengan menggunakan aquadest, n-heksan dan etil asetat sehingga diperoleh fraksi n- heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air. Hasil fraksinasi kemudian didestilasi vakum untuk memperoleh fraksi kentalnya.(Harbone, JB.1987).
Pembuatan sediaan uji
Masing-masing senyawa uji dibuat suspensi dengan penambahan tween 80 sebanyak 2% b/v
Uji efek hepatoprotektor
Setelah dilakukan aklimatisasi selam 7 hari, mencit putih jantan dibagi dalam 6 kelompok perlakuan secara acak yang terdiri dari : kelompok normal yaitu kelompok hewan percobaan yan hanya diberi sediaan pensuspensi tanpa diinduksi hepatotoksik, kelompok,kontrol positif yaitu kelompok hewan percobaan yang hanya diberi sediaan pensuspensi , kelompok pembanding dan 3 kelompok hewan yang diberi sediaan uji berupa fraksi
n-heksan daun sukun dengan dosis 47 mg/kgbb, fraksi etil asetat daun sukun dengan dosis 47 mg/kgbb dan fraksi air daun sukun dengan dosis 47 mg/kgbb. Selanjutnya masing-masing hewan dan seluruh kelompok percobaan diberikan sediaan uji sebanyak 1 kali dalam sehari selama 7 hari.
Pada hari ke-8, kecuali kelompok normal masing-masing hewan dari kelompok perlakuan diinduksi hepatotoksik menggunakan parasetamol dosis 1400 mg/kgbb. Selanjutnya Pada hari ke-10 dilakukan pengambilan serum dari masing-masing hewan dari seluruh kelompok perlakuan, caranya dengan memotong arteri carotis. Darah ditampung dengan tabung reraksi. Kemudian darah disentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit. Serum diambil untuk ditentukan kadar SGOT dan SGPT (Sagita, A. 2006; Hapsari, A. et al.2011).
Penetapan kadar SGOT dan SGPT
Pipet 1 ml larutan kerja dan hangatkan pada suhu 30ºC - 37ºC selama 5 menit. Pipet 100 μl serum. Campur homogen dan hangatkan pada suhu 30ºC - 37ºC selama 60 detik. Baca absorban test setiap 60 detik selama 3 menit terhadap blanko air pada panjang gelombang 340 nm. Hitung nilai rata-rata dari selisih absorbansinya.
Aktivitas SGOT dan SGPT dapat dihitung dengan rumus :
Akt.ivitas SGOT dan SGPT (U/I) = ΔAbs/menit×F
F = 1743
F unit aktifitas enzim SGOT atau SGPT perliter darah permenit
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil pengujian efek hepatoprotektor, diperoleh data kadar SGOT dan SGPT pada seluruh kelompok perlakuan sebagai berikut :
Tabel I. Aktivitas enzim
Kelompok Perlakuan Aktifitas Enzim Rata-Rata (U/L) SGOT SGPT Normal 49,152 ±25,952 35,208 ±14,127 Kontrol Positif 237,048 ±75,644 159,658 ±19,665 Pembanding 78,783 ±20,527 59,959 ±13,078 FEADS 47 mg/kg bb 73,554 ±21,888 58,215 ±13,867 FADS 47 mg/kg bb 88,195 ±29,466 79,132 ±23,822 FHDS 47 mg/kg bb 97,956 ±19,888 86,104 ±20,423 Keterangan :
FEADS : Fraksi Etil Asetat Daun Sukun
FADS : Fraksi Air Daun Sukun FHDS : Fraksi Heksan Daun Sukun
Gambar 1. Kadar SGOT rata-rata tiap-tiap kelompok perlakuan setelah pengujian
Gambar 2. Kadar SGPT rata-rata tiap-tiap kelompok perlakuan setelah pengujian
Berdasarkan data aktivitas SGOT dan SGPT yang diperoleh, terlihat bahwa kelompok kontrol positif menunjukkan nilai
tertinggi untuk masing-masing parameter tersebut (Gambar 1 dan Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kerusakan hati yang paling besar pada kelompok tersebut yang diakibatkan oleh penginduksian parasetamol pada dosis tinggi. Efek toksik dari parasetamol pada prinsipnya diperantarai oleh suatu metabolit reaktif didalam hati. Parasetamol akan mengalami biotransformasi dihati, sebagian besar berkonjugasi atau berikatan dengan asam glukuronat sehingga terbentuk metabolit elektrofil, N-asetil-p-benzokuinonimina (Gershwin, ME. et al. 2008) Berbeda halnya dengan kelompok normal yang menunjukkan nilai terendah untuk kedua parameter. Hal tersebut disebabkan karena kelompok hewan tersebut tidak diinduksi dengan parasetamol sehingga tidak terjadi kerusakan hati di kelompok ini..
Pada kelompok hewan yang diberikan fraksi ekstrak daun sukun, terlihat bahwa kadar rata-rata SGOT dan SGPTnya lebih besar dibanding kelompok normal. Hal tersebut menunjukkan terjadinya toksisitas hati akibat penginduksian parasetamol namun kadar rata-rata kedua parameter ini jauh lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol positif dan secara statistik berbeda nyata. Berdasarkan uji statistik Anova One Way, kadar rata-rata SGOT diantara ketiga fraksi ekstrak daun sukun tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (P=0,78) hal tersebut menunjukkan setaranya kemampuan ketiga jenis fraksi ekstrak daun sukun dalam menurunkan kadar SGOT. namun hal tersebut kemampuan tersebut berbeda untuk enzim SGPT dimana fraksi ekstrak etil asetat daun sukun menunjukkan kemampuan terbesar diantara ketiga fraksi berdasarkan uji T independent.
KESIMPULAN
Fraksi etil asetat, air dan n-heksan daun sukun dengan dosis 47 mg/kgBB memiliki efek hepatoprotektor dan fraksi etil asetat menunjukkan efek hepatoprotektor yang terbesar.
DAFTAR PUSTAKA
Brunton, L. Keith Parker. Donald Blumenthal. Iain Buxton, 2008,
Goodmann & Gilmann’s : Manual of Pharmacology and Therapeutics.
Mc Graw Hill Medical, USA Domer, F.R., 1971, Animal experiments in
pharmalogical analysis, USA : Charles.C. Thomas publisher, Illinois, P. 275-286.
Gershwin, ME. John M Verling, Michael P Manns, 2008, Liver Immunology: Principles and Practice, Humana Press , New Jersey
Ganong, W. F., 1995, Buku Ajaran Kedokteran, Edisi 17, Jakarta , Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ghosh, A., T. Ghosh, and S. Jain, 2010,
Silymarin-A Review on The Pharmacodynamics and Bioavailability Enhancement Approaches, Journal of Pharmaceutical Science and Tehnology 2 (10),348-355.
Hapsari, Amalia Budhi., Neni S, Edi D. 2011, Pengaruh Pemberian Simunox terhadap Kadar AST dan ALT pada Manusia Sehat. Artikel Karya Tulis Ilmiah, Bandung: Program Pendidikan Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Harborne, J. B., 1987, Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan, Terbitan Kedua.
Hariana, Arif, 2013, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Jakarta, Penebar Swadaya.
Mustafa, AM., 1998, Isi kandungan
Artocarpus communis, Food Science 9, 23.
Sagita, A., 2006, Pengaruh Ekstrak
Andrographis paniculata
(Sambiloto) Terhadap Kadar Serum Glutamat Oksaloasetat Transaminase Pada Tikus Wistar Yang Diberi Parasetamol. Artikel Karya Tulis Ilmiah, Semarang , Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.
Sidik. 1998, Tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat hepatoprotektor.
Didalam : sidik, Hadi S, editor. Hepatitis, penangulangan dan pemanfaatan tumbuhan sebagai hepatoprotektor, Prosiding simposium dan diskusi panel : 22 oktober 1988, Bandung. Jurusan Farmasi FMIPA UNPAD Bandung. Hal 23-46.91.
Supriadi, A., 2013, Uji Efek Hepatoprotektor Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) pada mencit putih jantan galur Swiss Webster yang diinduksi parasetamol, STIFI Bhakti Pertiwi, Palembang.