• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN PARIWISATA KESEHATAN DAN KEBUGARAN DI THAILAND. pariwisata kesehatan dan kebugaran di ASEAN yang kemudian Thailand

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II PERKEMBANGAN PARIWISATA KESEHATAN DAN KEBUGARAN DI THAILAND. pariwisata kesehatan dan kebugaran di ASEAN yang kemudian Thailand"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

31 BAB II

PERKEMBANGAN PARIWISATA KESEHATAN DAN KEBUGARAN DI THAILAND

Bab ini membahas mengenai gambaran umum mengenai perkembangan pariwisata kesehatan dan kebugaran di ASEAN yang kemudian Thailand mengambil peran penting dalam mewujudkan integrasi kawasan ASEAN di bidang pariwisata demi tercapainya kepentingan nasionalnya melalui pembentukan ASEAN Spa Service Standard dan ASEAN Green Hotel mengingat posisi Thailand sebagai koordinator utama pengembangan Health and Wellness Tourism di ASEAN Tourism Forum.

2.1 ASEAN Tourism Forum

ASEAN Tourism Forum (ATF) merupakan kerjasama regional yang bertujuan untuk membahas mengenai perkembangan sektor pariwisata dan mempromosikan pariwisata ASEAN sebagai tujuan utama wisatawan internasional dengan membuka peluang dan forum dialog antara pemerintah, sektor swasta, dan Travel Exchange (TRAVEX) antar penjual produk pariwisata dari ASEAN dan pembeli utama pasar pariwisata internasional.42

Bagi ASEAN, sektor pariwisata mempercepat integrasi kawasan Asia Tenggara dalam berbagai bidang seperti ekonomi, keamanan, dan sosial budaya

42 Mayang Sri Wahyuni, Loc.Cit.

(2)

32

yang selaras dengan cita-cita ASEAN. Maka dari itu untuk menyempurnakan citacita tersebut disepakatilah forum ini.43

ASEAN Tourism Forum menjadi penggerak utama pembangunan dan pengembangan industri pariwisata yang bekerjasama dengan berbagai pihak seperti pemerintah dan swasta dalam level regional maupun internasional untuk membahas, memantau, dan menyusun program kerja dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan regional maupun internasional ke Asia Tenggara.44

Forum ini sebagai kerjasama kawasan berusaha keras untuk berfokus dalam kepentingan kolektif intra ASEAN untuk mengekspos produk dan dampak promosi forum tersebut. Pertemuan yang diadakan tersebut penting dampaknya bagi negara- negara yang terlibat untuk saling berdiskusi, bertukar ide, dan berkoordinasi dalam meningkatkan kualitas pariwisata kawasan dalam bidang pariwisata.45

Peran aktif sektor pariwisata bersama dengan pemerintah dan pihak swasta dalam mengelola dan menetapkan sektor-sektor yang menjadi prioritas seperti fasilitas akomodasi, peningkatan kualitas dalam fasilitas, travel agent atau jasa dalam pariwisata, akses pemasaran atau promosi pariwisata melalui website dan teknologi komunikasi, pembangunan kualitas sumber daya alam maupun manusia, mengatur keselamatan dan keamanan pariwisata, penyedia layanan kesehatan serta

43 Reza Renaldy, Loc.Cit.

44 Tourism Malaysia, 2014, Prime Minister Of Malaysia Officially Opens The 33rd Asean Tourism Forum (ATF): Asean - Advancing Tourism Together, diakses dalam https://www.tourism.gov.my/media/view/prime-minister-of-malaysia-officially-opens-the-33rd- asean-tourism-forum-atf-2014-asean-advancing-tourism-together (09/03/2021, 15.23 WIB)

45 Lady Amalia D.A.P, 2016, Efektifitas ASEAN Tourism Strategic Plan 2011-2015 di Indonesia, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, Volume 5, No.1, Februari, hal. 259.

(3)

33

ketersediaan layanan transportasi, perhubungan udara dan perjalanan internasional demi tercapainya tujuan ASEAN Tourism Forum.46

ASEAN NTOs bertugas untuk mengawasi, mengatur program kerja dan kebijakan yang telah disahkan oleh para menteri, mempersiapkan prosedur dalam mendorong keterlibatan aktor yang terlibat dalam sektor pariwisata seperti pihak swasta dan organisasi non pemerintah, ambil bagian dalam pembentukan dan pelaksanaan program kerja untuk meningkatkan kerjasama pariwisata, serta mengundang para ahli pariwisata dari organisasi di tingkat regional maupun internasional dengan tujuan ikut andil dalam membantu proses pengembangan dan pengimplementasian kebijakan dan program kerja bila hal tersebut diperlukan.47

Beberapa proyek ASEAN NTOs diantaranya meningkatkan dan menyelaraskan standar pariwisata ASEAN. Standar tersebut dirancang untuk mempromosikan keberlanjutan dan kualitas produk. Kemudian mengadakan forum investasi pariwisata untuk mempromosikan pembentukan investasi dan pengembangan koridor pariwisata ASEAN. 48 M-ATM menjadi rangkaian agenda acara ATF selanjutnya yang membahas mengenai persoalan dan kelanjutan dari keinginan bersama dalam menentukan arah kebijakan pengembangan sektor industri pariwisata di ASEAN.49

46 BAB III ASEAN Tourism Forum (ATF) dan Kerjasama Negara-negara ASEAN dalam Bidang

Pariwisata, diakses dalam

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/16057/g.%20BAB%20III.pdf?sequence=7

&isAllowed=y, hal. 47 (11/03/2021, 15.20 WIB)

47ASEAN, 2012, Ministerial Understanding on ASEAN Cooperation in Tourism, diakses dalam https://asean.org/?static_post=ministerial-understanding-on-asean-cooperation-in-tourism

(24/03/2021. 09.41 WIB)

48 UNWTO, 2010, ASEAN Integration And Its Impact On Tourism, diakses dalam https://www.travel-impact-newswire.com/wp-content/uploads/2010/08/UNWTO-REPORT-on- ASEAN-Tourism-Integration.pdf (06/04/2021, 08.57 WIB)

49 Ibid.

(4)

34 2.1.1 Tujuan ASEAN Tourism Forum

ASEAN Tourism Forum sebagai bentuk dari kerjasama regional untuk mempromosikan pariwisata di ASEAN sebagai destinasi wisata tunggal wisatawan mancanegara mempunyai tujuan utama dan khusus dalam pembentukannya. Tujuan utama pembentukannya yaitu:

1. Mempromosikan ASEAN sebagai salah satu tujuan atraktif dari berbagai sisi.

2. Menciptakan dan meningkatkan kesadaran bahwa ASEAN merupakan kawasan tujuan wisatawan yang mempunyai daya saing tinggi di Asia Pasifik.

3. Menggaet lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke negara-negara anggota ASEAN.

4. Memasarkan perjalanan wisatawan intra ASEAN.

5. Mempererat kerjasama antar sektor dalam industri pariwisata ASEAN.

Selain mempunyai tujuan umun dalam pembentukan forum ini, menjadi salah satu bagian yang penting dengan adanya tujuan khusus dalam pembentukan ASEAN Tourism Forum untuk mendukung dan mendorong terlaksananya tujuan utaman yang diantaranya dijabarkan sebagai berikut:

1. Mengadakan rapat besar industri pariwisata ASEAN untuk bertukar ide dan meninjau pembangunan industri untuk mempercepat pertumbuhan industri pariwisata di ASEAN.

(5)

35

2. Menyediakan wadah dalam hal jual beli produk pariwisata negara-negara ASEAN baik secara individual maupun secara kawasan.50

2.2 Pembentukan ASEAN Tourism Strategic Plan dalam ASEAN Tourism Forum

ASEAN Tourism Strategic Plan 2011-2015 dibentuk dan disahkan dalam pertemuan ke-14 oleh ASEAN Tourism Minister sebagai pengembangan dari Roadmap for Integration of Tourism Sector (RITS) dengan tujuan mengembangkan cetak biru yang memuat kebijakan, proyek ASEAN NTOs dalam strategi pemasaran produk, pengembangan produk, standarisasi, peningkatan kualitas dan jumlah sumber daya manusia, pendanaan produk, serta komunikasi antara negara di ASEAN.51

ATSP 2011-2015 memiliki tujuan yang spesifik sebagai acuan dalam pelaksanaan programnya yaitu:52

1. Meninjau pemimpin ASEAN dan Ministerial Declaration sehubungan dengan pembentukan ASEAN Community dan integrasi sektor pariwisata di bawah arahan ASEAN Framework Agreement on Services, The Vientiane Action Plan, ASEAN Tourism Agreement, dan Roadmap untuk Integrasi Sektor Pariwisata.

50 IH Ghalib, 2016, Bab II Peranan ASEAN melalui ASEAN Tourism Forum, diakses dalam http://repository.unpas.ac.id/12073/5/BAB%20II%20FIX.pdf (05/04/2021, 11.39 WIB)

51 JA Nurjaman, 2017, Bab II Tinjauan Umum Mengenai Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), diakses dalam http://repository.unpas.ac.id/27349/4/BAB%20II.pdf (20/02/2021, 11.24 WIB)

52 Ibid.

(6)

36

2. Melakukan konsultasi dan wawancara dengan ASEAN NTOs dan Chairs of the Task Forces dan Kelompok Kerja serta sektor swasta, termasuk pejabat ASEANTA dan NTO dari mitra wicara untuk mendapatkan masukan ide, pendapat, dan rekomendasi tentang visi dan sasaran Pariwisata ASEAN pada tahun 2015.

3. Melakukan penilaian terhadap pekerjaan dan proyek yang dilakukan oleh NTO, gugus tugas dan kelompok kerja di bidang pemasaran, pengembangan produk, standar, pengembangan tenaga kerja, investasi, pariwisata kapal pesiar dan manajemen krisis yang relevan.

4. Mengidentifikasi wilayah baru, program dan kegiatan dengan melibatkan organisasi pariwisata nasional, Satgas dan Kelompok Kerja serta forum ASEAN yang lainnya untuk mencapai visi dan tujuan pariwisata ASEAN pada tahun 2015.

5. Mempersiapkan roadmap baru untuk mengidentifikasi program dan kegiatan, kerangka waktu, dan unit penanggung jawab.

Menteri Pariwisata di tahun 2011 menetapkan slogan pariwisata ASEAN sebagai cara untuk mempromosikan pariwisata di ASEAN yang berjudul

“Southeast ASIA Feel The Warmth”. Pada tahun 2012 ASEAN telah menuntaskan beberapa rencana kegiatan yang telah diagendakan dalam ATSP.53

ASEAN Tourism Strategic Plan sebagai salah satu bentuk dari rezim pariwisata internasional ini merupakan manifesto bagi pertumbuhan ekonomi

53 Ibid.

(7)

37

negara. Dengan menerapkan konsep Sustainable Tourism, pariwisata mempunyai posisi yang penting bagi kebijakan pembangunan perekonomian suatu negara.

Konsep Sustainable Tourism dapat didefinisikan sebagai opsi lain dari pariwisata yang perlu dilakukan guna mengantisipasi dampak yang akan ditimbulkan dari pariwisata bagi beberapa aspek seperti sosial, ekonomi, dan lingkungan. UNWTO dan UNEP (United Nations Environment Programme) menetapkan 12 tujuan dari pariwisata berkelanjutan.54

2.2.1 Strategic Directions ATSP 2011-2015

Makna yang terkandung dalam visi ATSP 2011-2015 ini mengisyaratkan bahwa angka kunjungan wisatawan ASEAN di tahun 2015 akan semakin meningkat, disusul dengan bertambahnya konektivitas, meningkatnya kualitas layanan pariwisata dan kualitas hidup, serta masyarakat ASEAN berkesempatan untuk bekerja sama dengan pemangku kepentigan dalam sektor pariwisata di wilayahnya. Melalui visi tersebut terbentuklah 3 arahan strategi dengan 8 aksi strategis dalam penetapan ATSP.55

1. Strategic Directions 1

Pengembangan produk dari kawasan yang berpengalaman serta strategi pemasaran dan investasi yang kreatif.

Strategic Action:

54 Dini Septyana Rahayu, Implikasi ASEAN Tourism Strategic Plan (ATSP) Dalam Pengembangan

Project Ten New Bali’s Indonesia, diakses dalam

http://repo.unida.gontor.ac.id/1226/1/4.%20Jurnal%20Dauliyah%20Dini%20Septyana.pdf (31/03/2022, 11.33 WIB)

55 Devianna Natasya, 2017, Efektivitas ASEAN Tourism Strategic Plan dalam Mewujudkan Destinasi Pariwisata Tunggal, diakses dalam https://www.slideshare.net/EarlNatasya1/efektivitas- asean-tourism-strategic-plan-dalam-mewujudkan-destinasi-pariwisata-tunggal (09/04/2021, 14.45 WIB)

(8)

38

a. Mengembangkan dan menerapkan strategi pemasaran pariwisata bagi wilayah ASEAN. (Mengembangkan strategi pemasaran pariwisata ASEAN yang akan menciptakan merek, target pasar, strategi komunikasi, pendekatan distribusi dan struktur implementasi; membentuk kelompok riset pasar yang memberikan informasi tentang keberhasilan pariwisata secara teratur)

b. Mengembangkan kawasan atau sub-kawasan yang berpengalaman dan kreatif serta strategi investasi melalui paket wisata. (Mengembangkan paket produk wisata berbasis alam; paket produk wisata budaya dan warisan;

paket pariwisata berbasis komunitas; pariwisata berbasis sungai; produk regional untuk pariwisata kesehatan dan kebugaran; bekerjasama dengan CCI/CCS untuk mengurangi hambatan dan mendorong investasi)

c. Meningkatkan kebijakan dalam relasi eksternal dan prosedur dalam pariwisata ASEAN. (Membuat kebijakan dan program hubungan masyarakat untuk mempublikasikan dan mempromosikan tujuan NTO ASEAN; Mengembangkan kebijakan dan prosedur kerjasama dengan mitra dialog untuk mendukung implementasi ATSP; Mengembangkan kebijakan dan prosedur kerjasama dengan organisasi internasional untuk mendukung pelaksanaan ATSP; Mengembangkan sistem komunikasi dan kebijakan untuk berkomunikasi dengan pemangku kepentingan sektor swasta yang penting)

(9)

39 2. Strategic Directions 2

Strategi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pelayanan dan fasilitas dalam kawasan.

Strategic Action:

a. Mengembangkan seperangkat standar pariwisata ASEAN melalui proses sertifikasi. (Merevisi dan mengembangkan Standar ASEAN Green Hotel, Homestay ASEAN, Standar Toilet Umum ASEAN, Standar Pelayanan Spa ASEAN, Standar Keamanan dan Keselamatan Pariwisata ASEAN, Standar Kota Wisata Bersih ASEAN, Standar Pariwisata Berbasis Komunitas dengan proses sertifikasi; Meningkatkan kemampuan pariwisata ASEAN untuk mengatasi isu perubahan iklim)

b. Menerapkan Mutual Recognition Arrangement (MRA) untuk pariwisata ASEAN yang profesional beserta dengan persyaratannya.

(Mengembangkan alat dan mengimplementasikan program pengembangan sumber daya manusia untuk standar kompetensi ASEAN tentang tata graha;

Mengembangkan alat dan melaksanakan program pengembangan sumber daya manusia untuk standar kompetensi ASEAN untuk front office, layanan makanan dan minuman, produksi makanan, agen perjalanan dan kegiatan operasi tur; Mengembangkan alat untuk memantau situasi pasar tenaga kerja sektor pariwisata di setiap Negara Anggota ASE AN yang akan mendukung pelaksanaan MRA dan profesional pariwisata)

c. Memberi kesempatan dalam meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan. (Menetapkan kebijakan dan prosedur untuk

(10)

40

pengembangan program peningkatan kapasitas termasuk sistem penilaian dan kriteria untuk menilai inisiatif yang akan mendapatkan pendanaan ASEAN; Menyusun rencana pengembangan sumber daya manusia setiap tahun berdasarkan prioritas daerah)

3. Strategic Directions 3

Meningkatkan dan mempercepat fasilitas perjalanan dan konektivitas ASEAN.

Strategic Action:

a. Mengajukan visa tunggal bagi kawasan ASEAN. (Mendukung pengembangan visa bersama untuk wilayah tersebut dengan bekerja sama dengan kelompok-kelompok terkait di dalam ASEAN; Bekerja dengan badanbadan ASEAN lainnya untuk memperluas konektivitas melalui transportasi udara, air, kereta api dan darat)

Dalam setiap arahan strategis tersebut terdapat serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menyelaraskan dan merekonstruksi cara kerja dari arahan strategis ATSP tersebut. Serangkaian kegiatan tersebut bertujuan untuk mendukung terlaksananya ketiga arahan strategis dalam ATSP. Arahan strategis ini akan menjadi tanggung jawab kelompok kerja yang berurusan langsung dalam bidang komunikasi, pemasaran, dan pengembangan produk.56

Di dalam poin arahan strategi ke-2 untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pelayanan dan fasilitas dalam kawasan terdapat program aksi dalam mengembangkan seperangkat standar pariwisata ASEAN melalui proses sertifikasi,

56 Ibid.

(11)

41

Thailand dipercaya untuk mengembangkan ASEAN Spa Service Standard sebagai proses sertifikasi pengembangan Health and Wellness Tourism yang disetujui oleh ASEAN NTOs dan M-ATM.57

2.3 Pembentukan ASEAN Spa Service Standard dan ASEAN Green Hotel Standard.

Industri spa mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap tahunnya.

Industri ini menjadi ciri khas pariwisata di banyak negara anggota ASEAN.

Diperkirakan terdapat hampir 2000 bisnis spa di negara anggota ASEAN, namun masih belum ada standar yang diterima secara umum tentang spa dan layanan apa yang perlu disediakan. Hal tersebut membatasi potensi pertumbuhan dan perkembangan industri spa lebih lanjut. Penetapan standar spa ASEAN dipandang sebagai peluang untuk menstandarisasi pemahaman dasar tentang spa dan menetapkan standar minimum di semua negara anggota. 58

Banyak negara di dunia menghadapi populasi yang menua dan negara- negara anggota ASEAN menghadapi masalah yang sama. Dengan kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan, menjadi semakin penting untuk meminimalkan beban anggaran kesehatan nasional. Spa adalah bagian hemat biaya dari promosi kesejahteraan, dan penetapan standar ini dipandang sebagai sarana untuk mengedukasi dan melindungi konsumen yang mencari perawatan kontemporer dan tradisional dalam keinginan mereka untuk kesejahteraan. Dengan banyaknya spa

57 Ibid.

58 ASEAN Spa Services Standard, diakses dalam https://www.asean.org/wp- content/uploads/2012/05/ASEAN-Spa-Services-Standard-1.pdf (07/07/2022, 17.56 WIB)

(12)

42

dunia yang mencari inspirasi ke Asia, banyak dari perawatan yang berlatar belakang budaya dan tradisional sekarang disalahgunakan dan beresiko hilang akibat dilakukan di luar konteks dengan cara yang berpotensi mengikis kebudayaan dan tradisi yang telah dibagun negara sehingga negara-negara anggota harus menghormati budaya dan tradisi ASEAN maka perlu adanya standar yang memperkuat .59

Pengembangan standar ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, layanan dan fasilitas melalui kesepakatan industri spa terpadu di seluruh negara anggota yang menetapkan tingkat profesional spa dalam tujuh elemen kriteria dan persyaratan spa profesional: Tempat, Layanan, Orang, Produk, Peralatan, Manajemen dan Lingkungan.60

Pengembangan Standar Spa ASEAN juga akan memastikan implementasi ATSP 2011-2015 dalam pemetaan strategi pengembangan standar spa di ASEAN melalui proses sertifikasi. Departemen Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand telah mengusulkan dan bekerja sama dengan dukungan Asosiasi Spa Thailand di ASEAN. Draf standar ini dibentuk untuk memastikan bahwa standar ini merupakan standar internasional yang dapat dilaksanakan sesuai rencana strategis pariwisata ASEAN dan Asosiasi Spa Thailand (TSPA) telah memberikan dukungan aktif mereka untuk kemajuan industri spa di negara-negara anggota ASEAN.61

59 Ibid.

60 Ibid.

61 ASEAN Spa Standard Action Statement, diakses dalam https://tourism.gov.mm/es/wp- content/uploads/2019/05/Asean-Spa-Standard.pdf (08/07/2022, 00.43 WIB)

(13)

43

ASEAN Green Hotel Award adalah sebuah upacara yang diadakan oleh Negara-negara Anggota ASEAN, sebagai pengakuan kepada mereka yang memenuhi Standar Hotel Hijau ASEAN. Tujuan dari Standard ini adalah untuk mengembangkan Association of South East Asian Nations (ASEAN) Green Hotel Standard dengan proses sertifikasi yang meningkatkan ramah lingkungan dan konservasi energi di industri akomodasi ASEAN. Standar tersebut menetapkan operasi hotel hijau profesional, seperti rencana lingkungan, produk hijau, sumber daya manusia dan manajemen lingkungan, yang memungkinkan lingkungan dan masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari pendekatan kolektif untuk profesionalisme operasional.62

Asas ramah lingkungan merupakan persyaratan penilaian, sebagaimana diatur dalam ASEAN Green Hotel Standard, yang telah disepakati oleh semua Negara Anggota ASEAN sejak pertama kali disusun pada tahun 2007. Ada 11 kriteria utama yang dimasukkan dalam ASEAN Green Hotel Standard. . Penilaian untuk ASEAN Green Hotel Standard dilakukan oleh badan berwenang nasional di negara masing-masing. Setiap Negara Anggota ASEAN dapat menominasikan hingga 10 hotel hijau sebagai penerima Penghargaan Hotel Hijau. Semua pemenang akan mendapatkan piagam dan sertifikat ASEAN Green Hotel Award dengan masa berlaku 2 tahun.63

Standar Hotel Hijau ASEAN memiliki kriteria utama, yaitu: Kebijakan dan tindakan lingkungan untuk operasional hotel; Penggunaan produk ramah

62 ASEAN Green Hotel Standard, diakses dalam http://www.frangipanilangkawi.com/green- practices/awards-recognition/asean-green-hotel-standard-2016-2018/ (08/07/2022, 11.26 WIB)

63 Ibid

(14)

44

lingkungan; Kolaborasi dengan masyarakat dan organisasi lokal; Pengembangan sumber daya manusia; Pengelolaan limbah padat; Efisiensi energi; Efisiensi air dan kualitas air; Pengelolaan kualitas udara (indoor dan outdoor); Pengendalian pencemaran suara; Pengolahan dan pengelolaan air limbah; Pengelolaan pembuangan bahan beracun dan kimia.64

Namun dalam perkembangannya, hanya terdapat enam aspek yang disetujui sebagai standar pariwisata ASEAN (ASEAN Tourism Standards) yaitu Green Hotel, Food and Beverage Service, Public Restroom, Home Stay, Ecotourism, dan Tourism Heritage. Standar dalam pelayanan spa tidak dapat dikategorikan dalam aspek standar pengembangan pariwisata di Asia Tenggara mengingat tidak semua negara di kawasan Asia Tenggara memiliki kapabilitas untuk mengembangkan pariwisata dalam aspek spa, hanya beberapa negara yang memiliki latar belakang perawatan tradisional seperti Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.65

2.4 Dinamika Pariwisata Kesehatan dan Kebugaran di Thailand

Jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat terlihat berasal dari kunjungan wisatawan luar maupun dalam kawasan ASEAN. Terhitung terdapat 81.229 ribu orang yang mengunjungi ASEAN dan pada tahun 2012 terdapat kenaikan jumlah kunjungan sebesar 89.225 ribu orang. Di tahun 2013 jumlahnya

64 Eddy Krismeidi Soemawilaga, ASEAN Framework, Parameters and Approaches on Tourism Responding to Climate Change, diakses dalam https://webunwto.s3.eu-west- 1.amazonaws.com/imported_images/40536/asean-climatechange-tourism-140518.pdf (08/07/2022, 12.51 WIB)

65 ASEAN Spa Service Standard, Loc.Cit.

(15)

45

semakin naik mencapai 102.119 ribu orang kemudian pada tahun 2014 mengalami peningkatan kunjungan sebesar 105.084 ribu orang.66

Berkat promosi pariwisata tersebut ASEAN menerima kunjungan wisatawan sebanyak 108.904 ribu orang. Jumlah tersebut naik sebesar 43 persen dari jumlah kedatangan wisatawan mancanegara di tahun 2015 yang kemudian diikuti oleh wisatawan dari kawasan asia sejumlah 36 persen.67

UNWTO atau Organisasi Pariwisata Dunia juga menyatakan bahwa pada tahun 2013 tingkat kunjungan wisatawan tertinggi di dunia dicatatkan oleh ASEAN dengan perolehan 12% diatas rata-rata persentase jumlah kunjungan wisatawan global. Kontribusi pariwisata bagi perekonomian negara-negara ASEAN mencapai angka 8-9 persen dengan menyumbang devisa negara sebesar US$9,07 miliar di tahun 2012 dan mengalami kenaikan 6,03 persen pada 2013.68

Menurut Laporan Global Wellness Intitute (GWI), tingkat pertumbuhan sektor pariwisata kesehatan dua kali lipat daripada pertumbuhan pariwisata secara keseluruhan. Dampak perekonomian melalui pariwisata kesehatan diperbesar oleh banyaknya penawaran produk dan layanan.69

66 Lisbet Sihombing, 2020, Utilization Of Asean Tourism Forum For Indonesia Tourism Promotion.

Artikel. Jakarta: DPR RI, hal. 37

67 Ibid.

68 Buletin Komunitas ASEAN, 2014, Geliat Bisnis di ASEAN, diakses dalam https://kemlu.go.id/download/L3NpdGVzL3B1c2F0L0RvY3VtZW50cy9NYWphbGFoL01hamFs YWglMjBNYXN5YXJha2F0JTIwQVNFQU4vTWFqYWxhaCUyME1hc3lhcmFrYXQlMjBBU0 VBTiUyMEVkaXNpJTIwNS5wZGY (30/04/2021, 09.45 WIB)

69 Global Wellness Intitute, Global Wellness Institute Study: $3.4 Trillion Global Wellness Market is Now Three Times Larger than Worldwide Pharmaceutical Industry, diakses dalam https://globalwellnessinstitute.org/press-room/press-releases/global-wellness-institute-study-34- trillion-global-wellness-market-is-now-three-times-larger-than-worldwide-pharmaceutical- industry/ (23/04/2022, 04.22 WIB)

(16)

46

Thailand kembali pulih di tahun 2012 dengan kenaikan produk domestik bruto sebesar 5,8 persen dan dari sektor pariwisata juga mengalami peningkatan jumlah kunjungan dengan jumlah wisatawan sebesar 22.303.065 orang.70

Jumlah wisatawan semakin bertambah pada tahun 2013 menjadi 24.137.568 orang terhitung kunjungan sejak bulan Januari hingga November. Tercatat pada tahun 2016, pariwisata Thailand berkontibusi terhadap GDP sebanyak 20,6 persen atau sekitar 82,5 miliar dolar AS. Kontribusi pariwisata yang sangat besar tersebut juga berpengaruh terhadap perekonomian di tahun 2017 dengan menyumbang sejumlah 9,4 persen dari total keseluruhan produk domestik bruto di tahun tersebut dan membuka ladang pekerjaan sebanyak 2,3 juta. Pada tahun 2018 jumlah kunjugan wisatawan meningkat sebanyak 7,54 persen dari tahun sebelumnya dengan jumlah wisatawan 35.381.210 orang.71

Dampak ekonomi dari pariwisata kesehatan diperbesar oleh banyaknya rangkaian produk dan layanan kesehatan yang ditawarkan oleh destinasi pariwisata kesehatan di seluruh dunia. Setiap negara yang mengembangkan pariwisata kesehatan memiliki potensi dan keunggulan masing-masing di bidangnya, seperti yang digambarkan oleh GWI di bagan berikut (Gambar 1).

70 Buletin Komunitas ASEAN, 2014, Potensi Pasar ASEAN, diakses dalam https://kemlu.go.id/download/L3NpdGVzL3B1c2F0L0RvY3VtZW50cy9NYWphbGFoL01hamFs YWglMjBNYXN5YXJha2F0JTIwQVNFQU4vTWFqYWxhaCUyME1hc3lhcmFrYXQlMjBBU0 VBTiUyMEVkaXNpJTIwNC5wZGY= (30/04/2021, 08.47 WIB)

71 Ibid.

(17)

47

Gambar 1: Produk Wisata Kesehatan di Dunia

Sumber: Global Wellness Institute.

Dengan permintaan konsumen akan layanan dan produk kesehatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, sebuah studi penting yang dirilis oleh The Global Wellness Institute mengungkapkan bahwa di tahun 2014 pasar kesehatan global bernilai $3,4 triliun, menjadikannya hampir tiga kali lebih besar dari $1 triliun industri farmasi di seluruh dunia.72

Menurut firma riset nirlaba independen Southern Research International, sektor industri spa tumbuh 58 persen dari $60 miliar pada tahun 2007 menjadi $94 miliar pada tahun 2013, dengan peningkatan 47 persen di lokasi spa dari 71.762 menjadi 105.591. Pariwisata kesehatan berkembang menjadi $494 miliar dalam pendapatan, naik 12,5 persen dari 2012, secara signifikan melampaui perkiraan pertumbuhan asli SRI sebesar 9 persen. Sejalan dengan popularitas health and wellness tourism, $4,5 triliun total ekonomi dari pasar kesehatan global mencatatkan sekitar $639 miliar dari jumlah keseluruhan penghasilan pariwisata kesehatan (Gambar 2).73

72 Ibid.

73 Ibid.

(18)

48

Gambar 2: Global Wellness Market

Sumber: Global Wellness Institute.

Thailand termasuk di antara negara-negara terbesar dalam hal total inbound medical tourism spending; bukti bahwa wisata medis membawa manfaat tidak hanya bagi negara maju tetapi juga bagi negara berkembang dan mengembangkan ekonomi di seluruh benua. Pemerintah di Thailand telah bertujuan untuk menjadikan negara ini sebagai pusat pariwisata medis global melalui inisiatif investasi termasuk pembebasan pajak untuk investasi ke fasilitas kesehatan baru dan Thailand adalah salah satu dari lima tujuan teratas pariwisata medis secara global, menurut penelitian oleh World Travel & Tourism Council (WTTC).74

74 World Travel & Tourism Council, Medical Tourism: A Prescription For A Healthier Economy, diakses dalam https://wttc.org/Portals/0/Documents/Reports/2019/Medical%20Tourism- Nov%202019.pdf?ver=2021-02-25-182803-880 (23/04/2022, 08.48 WIB)

(19)

49

Gambar 3: Inbound Trips Health Tourism Data

Sumber: Global Wellness Institute.

Menurut data Global Wellness Institute dalam Global Spa and Wellness Economy Monitor memperlihatkan bahwa Thailand menjadi pusat kekuatan pariwisata kesehatan yang mendominasi di Asia. Thailand mendorong turis untuk mengeluarkan biaya perjalanan kesehatan lebih banyak karena melakukan perjalanan internasional. Lokasi strategis sebagai pintu gerbang pertumbuhan ekonomi memungkinkan Thailand untuk menawarkan tujuan investasi yang ideal untuk berbagai produsen perangkat medis dan penyedia layanan kesehatan.

Thailand menempati urutan ke-5 dalam peringkat industri pariwisata medis di dunia.75

Investasi asing merupakan pendorong penting pasar properti di Thailand dan membantu mendukung pekerjaan, pendapatan pemerintah dan pembangunan baru Thailand diakui sebagai tujuan wisata kesehatan paling kompetitif secara

75 Global Wellness Institute, 2015, Top 12 Countries for Inbound Wellness Tourism, diakses dalam https://globalwellnessinstitute.org/global-wellness-institute-blog/2015/06/24/2015-6-24-which- countries-drive-the-most-inbound-wellness-tourism-trips/ (23/04/2022, 08.10 WIB)

(20)

50

global dalam hal perawatan berkualitas tinggi dengan biaya perawatan kesehatan yang terjangkau.76

Pemerintah Thailand telah secara aktif mendorong perluasan kegiatan manufaktur seperti yang terkait dengan peralatan medis, produk farmasi serta suplemen medis melalui berbagai insentif promosi investasinya. Baru-baru ini pemerintah Thailand juga mulai memberikan penekanan yang lebih besar pada promosi layanan medis sebagai bagian dari inisiatif untuk mendorong Thailand menjadi pusat medis nomor satu di Asia dengan berbagai layanan kelas satu. Untuk tujuan ini, Thailand BOI (Board of Investment) telah memberikan insentif untuk merangsang investasi di empat bidang tambahan layanan medis termasuk pusat medis tradisional Thailand, pusat medis khusus penanganan darurat, rumah sakit, dan layanan transportasi.77

BOI menawarkan berbagai insentif untuk proyek-proyek investasi yang memenuhi tujuan pembangunan nasional. Insentif pajak termasuk pembebasan pajak penghasilan badan, bersama dengan pembebasan bea masuk atas mesin yang diperlukan untuk proyek dan bahan baku atau penting yang digunakan dalam pembuatan produk ekspor. Untuk insentif non-pajak, BOI juga memberikan izin untuk mendatangkan tenaga kerja asing, izin untuk mengambil atau mengirim valuta asing ke luar negeri, dan izin untuk memiliki tanah untuk digunakan dalam proyek.78

76 South China Morning Post, Thailand Tweaks Visa-For-Cash Plan, Popular Among Chinese, To Aid Developers Amid Supply Glut, diakses dalam Https://Www.Thestreet.Com/Partner/Thailand- Tweaks-Visa-For-Cash-Plan-Popular-Among-Chinese-To-Aid-Developers-Amid-Supply-Glut- 15510736 (23/04/2022, 04.18 WIB)

77 Ibid.

78 Ibid.

(21)

51

Survei Kementerian Kesehatan Masyarakat menunjukkan bahwa kemampuan Thailand untuk menawarkan layanan berkualitas tinggi dengan biaya yang lebih masuk akal yang dibebankan oleh pesaing di negara lain adalah faktor terpenting dalam membantu menarik wisatawan untuk industri medis dan kesehatan. Hal tersebut yang menarik minat wisatawan untuk menempatkan Thailand sebagai tujuan utamanya terlepas dari berbagai negara yang unggul di bidangnya. Dikombinasikan dengan reputasi internasional fasilitas layanan medis kelas dunia dan perhatian Thailand, keterampilan profesional medis dan konsultasi yang diberikan oleh penasihat kesehatannya, ini adalah faktor kunci yang menarik banyak pengunjung ke industri pariwisata kesehatan dan kebugaran Thailand setiap tahunnya. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa perawatan medis umum dan pembedahan, ortopedi canggih, fertilisasi in vitro, perawatan gigi adalah layanan kesehatan yang paling dicari oleh para wisatawan.79

Berdasarkan Global Access to Healthcare Index 2017 oleh Economist Intelligence Unit, beberapa negara berkembang menempati peringkat tinggi dan unggul dari beberapa negara maju, dan Thailand menempati urutan ke-15, berada di posisi ke-3 negara kawasan Asia setelah Jepang dan Taiwan (Gambar 4).80

79 Thailand Investment Review, Thailand Medical Destination: Finding Wealth In Wellness, diakses dalam https://www.boi.go.th/upload/content/TIRMay2020.pdf (12/04/2022, 12.06 WIB)

80 KPMG, Medical Tourism Industri Focus in Thailand, diakses dalam https://www.kpmg.com/th (23/04/2022, 07.04 WIB)

(22)

52

Gambar 4: Global Healthcare Index

Sumber: KPMG in Thailand, Medical Tourism Industri Focus

Pertumbuhan pariwisata medis kemungkinan akan mendorong perluasan dan modernisasi fasilitas kesehatan di negara berkembang. Wisatawan medis dapat mengakses prosedur khusus seperti operasi kompleks, perawatan khusus untuk penyakit kronis, dan metode perawatan terfokus lainnya. Dengan meningkatnya kekhawatiran akan meningkatnya biaya medis, populasi yang menua, peningkatan penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup, ditambah dengan faktor-faktor seperti peningkatan kesadaran kesehatan di kalangan masyarakat, Thailand menawarkan wisata kesehatan yang dapat membantu mengurangi beban penyakit secara signifikan dan membantu orang menerima perawatan di waktu yang cepat dan dengan biaya yang tepat.81

Di tahun 2003, kesehatan digolongkan sebagai salah satu sektor dalam pengembangan komunitas ekonomi ASEAN dari lima sektor yang di prioritaskan lainnya seperti Perhubungan Udara, Jasa Pariwisata, Logistik, dan e-ASEAN.

Kesehatan menjadi salah satu isu yang mendapat sorotan dan perhatian bagi

81 Ibid.

(23)

53

masyarakat dan menjadi pembahasan di setiap pertemuan yang diadakan negara- negara ASEAN.82

Thailand menjadi salah satu tujuan wisata kesehatan terkemuka di dunia yang menarik minat wisatawan mancanegara berkat ketenaran dan pengalamannya dalam mengembangkan wisata kesehatan yang merupakan bagian dari kebudayaan dan ciri khas di Thailand.83

Thailand menjadi salah satu negara tujuan utama dari 10 pasar pariwisata kesehatan se-Asia Pasifik. Menurut The Tourism Authority of Thailand (TAT) pada tahun 2012-2013, pariwisata kesehatan dan kebugaran mencatatkan jumlah kedatangan wisatawan ke Thailand sejumlah 858.340 dengan total pendapatan selama periode tersebut sebesar 31,12 miliar baht. Kampanye pemasaran digital

“Find Your Fabulous” di tahun 2013 diluncurkan bagi wisatawan agar dapat memesan produk spa secara online dengan menampilkan 150 paket kesehatan yang ditawarkan oleh 30 penyedia paket kesehatan terkemuka. Thailand Health and Wellness Tourism Show juga diadakan pada tanggal 14-17 September 2015 untuk mempertemukan pembeli internasional dengan penjual layanan medis dan kebugaran di Thailand.84

Periode Januari hingga November tahun 2013, sektor pariwisata Thailand mencatatkan kunjungan wisatawan sebanyak 24.137.568 orang yang di dominasi

82 Buletin Komunitas ASEAN, 2013, Konferensi Tingkat Tinggi Ke-23 ASEAN, diakses dalam https://kemlu.go.id/download/L3NpdGVzL3B1c2F0L0RvY3VtZW50cy9NYWphbGFoL01hamFs YWglMjBNYXN5YXJha2F0JTIwQVNFQU4vTWFqYWxhaCUyME1hc3lhcmFrYXQlMjBBU0 VBTiUyMEVkaXNpJTIwMy5wZGY (27/04/2021, 15.01 WIB)

83 Wellness Spa Tourism in Thailand, diakses dalam

https://www.visitsoutheastasia.travel/guides/wellness-spa-tourism-in-thailand/ (17/12/12021, 10.37 WIB)

84 Niramol Thongpan & Fan Ching Yu, 2015, World of Wellness, diakses dalam https://www.bangkokpost.com/business/641800/world-of-wellness. (20/12/21, 09.47 WIB)

(24)

54

oleh wisatawan mancanegara yang berasal dari India, Malaysia, Rusia, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Jumlah tersebut semakin bertambah dari tahun sebelumnya pada 2012 sejumlah 22.303.065 wisatawan mengunjungi Thailand.85

Terdapat beberapa faktor pendorong dan penarik dalam sektor industri pariwisata yang berhubungan dengan kesehatan. Faktor pendorong yang erat kaitannya dengan perkembangan industri pariwisata yaitu tingginya biaya dalam pelayanan di negara asal, cakupan asuransi yang terbatas dengan antiran yang panjang. Faktor penarik dalam konteks industri pariwisata kesehatan di Thailand adalah biaya yang terjangkau dan terbilang murah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan kualitas yang sama, fasilitas medis menawarkan kepastian harga melalui harga paket yang tetap, faktor pendukung lain yang membuat industri pariwisata kesehatan semakin berkembang dengan contoh biaya perjalanan, akomodasi, makanan dengan harga yang murah.86

Terdapat fakor internal dan eksternal yang mempengaruhi kekuatan dan kelemahan Thailand dalam sektor pariwisata khususnya kesehatan seperti Sumber daya manusia, teknologi kedokteran yang modern, dan sumber keuangan internal untuk ekspansi.87

Selain itu faktor eksternal juga menjadi faktor utama lainnya dalam pengembangan pariwisata kesehatan tersebut yang meliputi lingkungan pasar

8585 Buletin Komunitas ASEAN, 2014, Potensi Pasar ASEAN: Geliat Sektor Pariwisata ASEAN.

Kementerian Luar Negeri RI. Edisi 4, hal. 5, diakses dalam https://kemlu.go.id/portal/id/read/724/halaman_list_lainnya/buletin-komunitas-asean (28/04/2020, 09.37 WIB)

86 Supakankunti, S. dan C. Herberholz, 2012, Transforming the ASEAN Economic Community (AEC) into A Global Services Hub: Enhancing the Competitiveness of the Health Services Sectors in Thailand’ in Tullao, T. S. and H. H. Lim (eds.), Developing ASEAN Economic Community (AEC) into A Global Services Hub, ERIA Research Project Report 2011-1, Jakarta: ERIA, hal. 156.

87 Ibid, hal. 159.

(25)

55

eksternal dengan peluang dan ancaman melalui persaingan global dan regional di bidang kesehatan, berubahnya demografi, epidemiologi, perekonomian, serta industri jasa kesehatan yang semakin meluas.88

Kerjasama dengan sejumlah instansi seperti Tourism Authority of Thailand dan beberapa Kementerian diperlukan untuk menyelaraskan visi dan strategi Thailand termasuk mengembangkan sektor kebugaran dan produk herbal Thailand.

Kebijakan dalam standar akreditasi rumah sakit dan standar internasional seperti ISO dan JCI ditetapkan untuk memberikan pelayanan kelas dunia. Kebijakan lainnya terdapat dalam agenda pembahasan undang-undang malpraktik untuk memperkuat hak-hak pasien. Permasalahan lain terdapat dalam persaingan ahli medis akibat kebijakan universal dan kebijakan pusat medis yang berpotensi dapat memperburuk emigrasi tenaga kerja terampil.89

88 Ibid, hal. 160.

89 Ibid.

Referensi

Dokumen terkait

hakim pada pengadilan khusus bukan sarjana hukum. Hakim pengadilan khusus dan lembaga quasi- pengadilan memang tidak diharuskan secara mutlak harus berasal dari latar belakang

Demikian juga waktu yang diperlukan untuk mencapai kecepatan kehilangan berat puncak II juga semakin lama dengan adanya pelapisan CPS, kecuali pada kayu puspa dan

Berdasarkan uraian pelaksanaan Pemantauan Penggunaan BBM di Sektor Usaha Pertambangan terhadap 21 Perusahaan Tambang diatas, output (keluaran) yang dihasilkan dari

Media sosialini selain mudah menyebarkan kebaikan,juga mudah menyebar ketidakbaikan, seperti kita mudah sekali membagikan berita yang belum jelas

Salah satu kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini bahwa tujuan dari pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan adalah untuk meningkatkan skill,

Untuk menggambarkan indeks dan status keberlanjutan pengelolaan hutan rawa gambut terhadap kebakaran secara keseluruhan untuk masing-masing dimensi berdasarkan

Perawat ingin menjalin hubungan saling percaya dan merasa senang karena klien sudah mulai memberika respon positi% terhadap dirinya.. Klien mulai merasa senang dengan

Aksesi-aksesi yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut berdasarkan karakter produktivitas dan kadar minyak adalah aksesi Palembang, Pontianak, Pidi, Palembang I,