1 BAB III
DESA SLANGIT MERUPAKAN DESA BUDAYA
A. Selayang Pandang Desa Slangit 1. Asal-usul desa Slangit
Pada zaman dahulu, Pangeran Cakra Buana yang biasa dikenal dengan sebutan Mbah Kuwu Cirebon oleh masyarakat Cirebon, mempunyai keinginan untuk membangun suatu pedukuhan bagian Barat. Kemudian beliau membuka hutan yang masih angker dan hutan tersebut masih dihuni oleh siluman dan binatang buas. Dengan datangnya Mbah kuwu hutan tersebut dijadikannya sebuah pedukuhan yang tenang dan nyaman untuk suatu pemukinan walaupun pada saat ini masih kekurangan sumber air.
Bukan hanya dijadikan sebuah pemukiman, hutan tersebut juga dijadikan sebuah lahan pertanian oleh Mbah kuwu Cirebon. Setiap harinya Mbah kuwu ini bercocok tanam, beliau menanam padi sampai kesebelah Barat, dan sekarang lahan pertanian itu disebut dengan desa Jungjang. Setiap harinya, Mbah kuwu dibantu oleh seorang lelaki yang masih bujangan bernama Jaka Dolog. Mbah kuwu juga dalam hal ini membuat sebuah bangunan berupa bale untuk keperluan bermusyawarah dan istirahat, bale ini diberi nama Ki Wasiat. Mbah Kuwu biasanya menggarap sawahnya menggunakan weluku (bajak) yang ditarik oleh sebuah kerbau yang diberi nama Dongkol. Tempat yang dulunya dijadikan kandang kerbaunya Mbah kuwu sekarang diberi nama Kandang Dalem, dan jembatan yang biasa dilewati kerbau Mbah Kuwu dinamakan Wo Dalem, dan tempat untuk mencari makannya kerbau tersebut dinamakan Tegal Pangonan.
Pada suatu ketika Mbah kuwu kedatangan seorang pemuda, pemuda ini masih keturunan Galuh bernama KI Bandang Samaran. Ki Bandang ini datang secara kebetulan, ia yang sedang mencari seorang guru, dan saat itu guru yang selama ini dia cari kini ada di hadapannya yaitu Mbah Kuwu Cirebon. Singkat cerita Ki Bandang ini bertguru kepada Mbah Kuwu, setelah lama Ki Bandang Samaran berguru kepada Mbah Kuwu, kemudian Mbah Kuwu memberikan kepercayaan kepada Ki Badang Samaran untuk membimbing masyarakat dipedukuhan
2
tersebut. Ki Bedung Samaran ini dikenal sebagai Ki Gede Limas oleh masyarakat pedukuhan itu.
Suatu ketika Mbah kuwu teringat akan suatu barang miliknya, barang tersebut berupa sepotong kayu pemberian Ki Danuwarsi. Setelah itu, kayu tersebut ditancapkan oleh Mbah kuwu ini dipekarangan tempat tinggal Ki Gede Limas.
Setelah ditancapkan tak diduga, potongan kayu itu tumbuh menjadi sebuah pohon, dan pohon tersebut diberi nama pohon slangit, karena saking tingginya pohon tersebut sehingga terlihat pohon tersebut nempel ke langit. Dengan terjadinya suatu fenomena tersebut maka nama pohon itu dijadikan nama untuk pedukuhan tersebut, sampai saat ini nama tersebut dijadikan nama di sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Klangenan yakni desa Slangit. 1
2. Identitas Masyarakat Desa Slangit
a. Nilai-nilai sosial dan keguyuban masyarakat desa Slangit
Masyarakat desa Slangit masih menunjukkan sifat pedesaannya, dimana dalam hal ini masyarakat masih mempertahankan budaya-budaya yang ditinggalkan nenek moyang mereka. Budaya atau kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia dengan budinya berupa segenap sumber jiwa, yakni cipta, rasa, dan karsa. Dalam hal ini, alam memiliki dua tujuan, yakni alam digarap sebagai alat kerja manusia serta alam juga dapat ditelaah oleh budi manusia dan digali dasar-dasarnya sehingga memperoleh pengetahuan.2
Seperti yang kita ketahui, ketika membahas mengenai budaya yang ditinggalkan nenek moyang, maka tidak terlepas dari dunia mistik. Pada dasarnya masyarakat pedesaan masih mempercayai mengenai hal mistik yang bersumber dari yang Maha Segala-Nya. Budaya-budaya yang dimaksud diantaranya yakni seperti upacara dan sesajian.3
1 Data ini diambil dari arsip desa Slangit, dan hasil dari wawancara bersama Kuwu desa Slangit bapak Sura.
Kamis, 12 Juli 2018. Pukul 11.00. di balai desa Slangit.
2 Djoko Widagdho. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : PT Bumi Aksara. 2010. Hal. 27
3 Hasil wawancara dengan bapak Muhaemin. Jumat, 03 Agustus 2018. Pukul 11.00. di Balai Desa Slangit
3
Dalam hal ini, sesaji dbagi menjadi empat jenis, antara lain :
1) Sesaji yang diperuntukkan untuk Yang Kuasa, rasul, para wali, dewa- dewa, kekuatan yang terdapat pada seorang ulama atau ulama, setan, roh dan lainnya, dengan tujuan untuk menyenangkan mereka. Sesaji ini biasa mereka sebut dengan nama Slametan.
2) Sesaji sebagai sarana untuk menolak pengaruh setan, roh jahat, dan hantu- hantu. Sesaji ini mereka sebut dengan nama Penulakan.
3) Sesaji yang dilakukan secara teratur kepada rasul, wali, jin, kekuatan sesorang yang sudah meninggal, hantu baik, binatang, dan tumbuhan.
Sesaji ini disebut dengan Wadima.
4) Sesajian yang berupa makanan yang diberikan para wali, malaikat untuk keselamatan roh-roh orang-orang meninggal dan keselamatan penyelenggara acara, keluarganya dan hartanya. Sesaji ini disebut dengan Sedekah.4
Dalam hal ini masyarakat desa Slangit hanya menjalankan dua sesaji, yakni yang disebut Slametan dan Sedekah. Biasanya sesaji Slametan terdiri dari makanan yang telah ditentukan oleh kesepakatan daerahnya masing- masing. Sedangkan Sedekah cukup terdiri dari kembang-kembang yang diteletakan ke air dalam bejana, disertai dengan kue-kue dan makanan sekedarnya.
Pada upacara dan tradisi dan adat yang ada di desa Slangit, ditemukan beragam upacara, entah dari upacara kesuburan tanah, menjaga keharmonisan manusia dengan alam, maupun hubungan anatara dunia nyata dan dunia ghaib. Dimana dalam hal ini tari topeng diajdikan sebagai media daya tarik wisata budaya yang ada di Slangit.5
Budaya yang masih dilaksanakan masyarakat desa Slangit antara lain : Slametan, Tahlilan, memperingati hari besar Islam, ngunjung buyut,Mider dan mepet, mapag Sri, dan sedekah bumi.
4 Capt. R. P. Suyono. Dunia Mistik Orang Jawa: Roh, ritual,benda magis. Yogyakarta: PT LkiS Printing Cemerlang. 2007. Hal. 131-132
5 Altri Tiyar Barunawati dan Syamsul Alam Patusuri. Pengembangan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Slangit, Cirebon, Jawa Barat. JUMPA. Volume 2. Nomor 2. 2 Januari 2016. Hal. 100
4
b. Religiusitas dan Spiritualitas Masyarakat Slangi.
Dalam hal ini mayoritas agama dari masyarakat desa Slangit beragama Islam. Bisa dibilang hampir keseluruhan masyarakat desa Slangit 100 % Muslim.6 Walaupun tingkat pendidikan formal di desa Slangit begitu rendah, tidak mempengaruhi religiusitas masyarakat desa Slangit. Bisa dikatakan desa Slangit merupakan desa yang paling mengedepankan soal agama. Dimana dalam hal ini, desa Slangit merupakan desa satu-satunya di Kecamatan Klangenan yang mampu mengundang Dai Kondang dalam acara Pengajian rutin sebuah TPQ dan TPA atau biasa masyarakat sebut dengan Madrasah.
Walaupun dari segi pendidikan mereka rendah, tetapi mereka mempunyai cara untuk mencapai sesuatu hal yang berhubungan dengan Tuhannya, walaupun dengan konsisi yang buta akan pendidikan, tetapi mereka berusaha dengan keras untuk menyatu dengan energi yang ada disekitarnya.
Dalam hal penyatuan diri ini bisa lewat alam semesta dengan cara melestarikan budaya yang telah ditinggalkan nenek moyang, serta melakukan suatu ritual guna untuk bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan mereka.
Dengan demikian, masyarakat masih melestarikan sebuah budaya yang tidak terlepas dari keyakinan yang mereka pegang. Adapun budaya yang mereka laksanakan setiap tahunnya atau setiap peringatannya tidak jauh-jauh dengan sesuatu yang berbau Islam. Budaya tersebut antara lain : Slametan, Tahlilan, Marhabanan, dan Meperingati Hari besar Islam.
1) Makna Slametan
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Slametan bersal dari kata dasar selamat. Slametan adalah sebuah tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat jawa. Slametan juga merupakan bentuk undangan untuk beberapa undangan atau saudara. Biasanya secara tradisional acara Slametan tersebut dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk.
6 Data ini diambil dari arsip desa Slangit, dan hasil dari wawancara bersama Kuwu desa Slangit bapak Sura.
Kamis, 12 Juli 2018. Pukul 11.00. di balai desa Slangit.
5
Acara slametan ini biasanya dilakukan dalam acara syukuran menyambut kelahiran seorang anak hingga anak besar, slametan untuk orang yang sudah meninggal. Dalam acara ini susunan adat atau susunan slametan untuk menyambut kelahiran antara lain : ngupati (empat bulanan janin), mitung wulang / memitu (Tujuh bulanan janin), lahiran, puputan, bebersih, mudun lemah.7
Beda halnya dengan upacara slametan untuk orang meninggal.
Dimana dalam hal ini adanya beberapa tahapan untuk slametan orang yang sudah meninggal. Bisanaya slametan untuk orang yag sudah meninggal diawali dengan telungdina, mitungdina, matangpuluh, nyatus, nyewu, mendek loro, dan mendek 3 serta bebata.8 Serta setiap prosesi ini masyarakat setempat berbondong-bondong datang kerumah yang meninggal untuk tahlilan sampai prosesi ini berakhir.
a) Slametan yang dilakukan untuk menyambut kelahiran seorang anak 1. Slametan Ngupati
Ngupati merupakan upacara Slametan memperingati 4 bulan kehamilan. Istilah ngupat berasal dari kata kapat “empat” yang berarti seseorang yang dibuatkan slametan sudah berusia 4 bulan. Tradisi tersebut tertanam kuat di Jawa.
Tradisi ngupati diyakini sebagai hari dimana Tuhan meniupkan ruh kepada jabang bayi sekaligus dicatat umurnya, matinya, rezekinya, dan nasib baik buruknya. Sebagaimana tertera dalam Al- Qur’an dan Hadits.
7 Hasil wawancara dengan ibu Deni dan ibu Adini. 05 Agustus 2018. Pukul 20.43. diwarung ibu Deni. Ibu Deni dan ibu Adini merupakan masyarakat desa Jemaras Lor. Mereka merupakan bagian dari masyarakat yang berperan sebagai ibu rumah tangga, mereka merupakan salah satu dari sekian masyarakat yang masih melestarikan budaya yang ada di desa Jemaras Lor. Budaya yang ada di Desa Jemaras Lor tidak jauh beda dari budaya yang ada Di Desa Slangit.
8 Hasil wawancara dengan ibu Deni. 05 Agustus 2018. Pukul. 21.38. di warung ibu Deni.
6
Biasanya dalam tradisi ngupati ini diisi dengan doa dan tahlil serta bacaan ayat-ayat suci alqur’an seperti : QS. Maryam, QS. Yusuf, QS.
Al- Ikhlas, QS. Taubat, QS. Yassin, QS. Ar- Rahman, serta QS. Al- Fatihah. Semuanya dibacakan bersamaan dengan dipimpin oleh seorang imam atau tokoh masyarkat/ ulama.9
Doa-doa tersebut bertujuan untuk meminta keselamatan, keberkahan dan kesejahteraan sang bayi. Mereka meminta untuk dilapangkan rezekinta, dipanjangkan umurnya, dibaguskan bentuk rupanya dan diberi nasib yang baik. Dibacakannya QS. Maryam dan Yusuf dengan harapan bayinya lahir jika perempuan seperti Maryam, dan jika laki-laki seperti Nabi Yusuf.
Dibaakannya QS. Taubat agar kelak bisa menjadi manusia yang selalu bertaubat dan kembali kepada Allah SWT. QS. Al- Ikhlas dan Yassin bertujuan supaya jabang bayi memilki tauhid yang kuat, kokoh. QS. Ar-Rahman agar sang bayi memiliki sifat kasih dan sayang kepada orangtua, sesama manusia, dan alam semesta.10
Setelah dibacakannya ayat-ayat Al-qur’an secara bersamaan, biasanya diakhir upacara atau acara ngupati tersebut dibawakannya makanan yang biasanya masyarakat Slangit sebut dengan berkat.
Berkat ini dibuat untuk masyarakat yang sudah ikut mendoakan sang jabang bayi. Biasanya berkat ini berisi ketupat sayur. Ketupat tersebut memiliki sebuah filosofi yang berarti rapat atau utuh. Sehingga masyarakat Slangit mempercayai bahwa si jabang bayi akan memiliki organ tubuh yang lengkap dan berada pada tempatnya.11
9 Hasil wawancara dengan Bapak Satariyah. 13 Agustus 2018. Pukul. 13.00. dikediaman bapak Satariyah. Bapak Satariah merupakan salah satu tokoh masyarakat atau bisa disebut sebagai ulama yang berada di desa Jemaras Lor, dan beliaupun biasa memimpin acara tahlilan atau Slametan.
10 Hasil wawancara dengan bapak Satariah. 13 Agustus 2018. Pukul. 13. 00. Di kediaman bapak Satariah.
11 Wawancara dengan ibu Hj. Muani. 23 Agustus 2018. Pukul. 20.00. di kediaman Ibu Hj. Muani. Ibu HJ. Muani mrupakan pedagang yang masih mempercayai mitos-mitos yang berlaku dimsyarakat. Sehingga denggan demikian beliau masih menjalankan budaya yang ada di desanya.
7
2. Slametan Memitu atau Nuju Bulan
Memitu atau nuju bulan merupakan sebuah upacara yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang sedang menantikan kelahiran anak pertama. Istilah memitu berasal dari kata mitu yang dalam bahasa Jawa berarti tujuh.12
Upacara ini dilaksanakan ketika usia kehamilan menginjak usia tujuh bulan, dan biasanya dilaksakan tanggal 7, 17, atau 27 sesuai dengan kesiapan yang bersangkutan. Alat yang digunakan untuk upacara ini adalah 7 lembar kain Tapih yang berbeda warna, Pendil atau Belanga, bunga tujuh rupa, sesaji ( nasi uduk, juwadah pasar, rujak parud, rujak asem, rujak pisang, rujak selasih, aneka buah dan umbi, dan tebu wulung ), bubur punar, dan kelapa muda yang digambar salah satu tokoh wayang biasanya tokoh Arjuna.13
Prosesi upacara memitu biasanya dilaksakan dihalaman rumah yang dipimpin oleh lebe atau sesepuh kampung. Upacara ini biasanya dibuka dengan membaca QS. Lukman dan Yusuf.
Dengan harapan anak yang dilahirkan memiliki budi pekerti seperti Lukman dan ketampanan seperti Yusuf. Setelah dibacaannya surah Al-qur’an, maka masuklah ke acara inti yakni pemandian.
Jalannya upacara ini diawali dengan pembacaan kidung, pembagian sesajen kepada para tamu sambl mengahmpiri sang ibu dan memandikan sang ibu dengan ai bunga tujuh rupa, kemudian sang ibu berganti kain sebanyak 7 kali. Setelah berganti kain kemudian paparaji menjatuhkan kelapa muda yang telah digambar tokoh pewayangan.
12 Hasil wawancara dengan bapak H. Nasdija. 23 Agustus 2018. Pukul. 20.00. di kediaman ibu Hj. Muani. Bapak H. Nasdija merupakan salah satu tokoh masyarakat desa Jemaras Lor. Kurang lebih beliau berumur 70 tahun, beliau merupakan salah satu masyarakat yang masih menjalankan tradisi dan beliau merupakan salah satu masyarakat yang masih mau menurunkan tradisi ke anak cucunya. Sehingga ketika mengadakan Slametan beliau selalu menggunankan adat tradisi nenek moyang.
13 Hasil wawancara dengan ibu Siti. 20 agustus 2018. Pukul. 14.00. dikediaman ibu Siti. Ibu Siti merupakan salah satu masyarakat desa Jemaras Lor yang biasa mengatasi atau mempersiapkan upacara-upacara adat yang bersangkutan dengan penyambutan seorang anak dan orang meninggal.
8
Makna filosofi dari dijatuhkannya kelapa yakni melambangkan kemudahan si ibu hamil dalam melahirkan nanti. Penutup dari upacara ini adalah suami dari ibu hamil mengambil pendil yang berisi tanaman dan uang koin yang lari menuju jalan perempatan, dan memecahkan pendil tersebut. Pemecahan pendil itu simbol dari pecahnya ketuban saat melahirkan.
Tujuan dari dilaksanakannya upacara memitu ini adalah sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang telah mengaruniai mereka anak.
Bukan hanya itu, acara ini juga bertujuan untuk memohon kelancaran saat melahirkan nanti, agar sang ibu dan anak selamat dan sehat.
3. Slametan Puputan
Setelah diadakannya acara memitu, masyarakat jawa biasanya menunggu kelahiran sang bayi. Ketika sang bayi sudah lahir, yang dilakukan masyarakat Jawa adalah Surak kepanjangan dari sukuran rakyat. Biasanya syukuran ini berupa menaburkan uang logam ke masyarakat sekitar yang sudah siap mengambilnya. Hal ini merupakan simbol dari ikut sertanya masyarakat sekitar menyambut kedatangnya sang bayi.
Setelah acara lahiran biasaya selang beberapa minggu, masyarakat Jawa mengadakan Slametan puputan. Slametan puputan ini merupakan tanda dari mengering dan putusnya puser sang bayi. Bukan hanya itu dalam acara ini pula sekaligus pemebrian nama kepada sang bayi dari orang tua.14
14 Hasil wawancara dengan ibu Hj. Muani. 23 Agustus 2018. Pukul 20.00. di kediaman ibu Hj. Muani.
9 4. Slametan Bebersih
Slametan bebersih merupakan upacara ketika sang bayi berusia 40 hari. Acara ini bertujuan untuk membersihkan ibu dan sang bayi. Biasanya dalam acara bebrsih ini ada ritual cukur rambut. Dimana dalam hal ini diadakan 3 kali cukur.
Cukur rambut pertama biasanya orang tua membuat bubur putih. Cukur rambut kedua membuat bubur merah putih.
Cukur ketiga membuat bubur hijau.15 Upacara cukur ini merupakan simbol dari membungnya sial dari sang anak.
5. Slametan Mudun Lemah
Mudun Lemah atau biasa disebut dengan Tedhak Siten yang berarti mendekat ke tanah. Uapacara ini biasanya dilakukan saat sang bayi berusia 8 bulan. Tradisi ini menjadi simbol bagi masyarakat Jawa mengisyaratkan dalam usia tersebut seorang anak yang sudah waktunya kembali ke tanah. Menginjakkan kaki ke tanah berupaya untuk pendekatan kepada dirinya sndiri yang berunsurkan tanah.16
Alat yang digunakan untuk acara ini adalah banyu gege (air yang disimpan dalam tempayan dalam semalam dan pagi harinya dihangatkan oleh sinar matahari), ayam panggang, pisang raja (agar si anak dimasa depan bisa hidup sejahtera dan mulai), juwada warna-warni (7 wara : putih, merah, hijau, kuning, biru, cokelat, merah muda/ung), tangga yang terbuat dari tebu ireng, kurungan ayam (diisi dengan benda : alat tulis, emas, uang, dll). Biasanya upacara ini diawali dengan memandikan bayi (bermakna si bayi dalam keadaan suci), menginjak bubur yang biasa disebut bubur Chetil (bermakna bahwa bayi akan menjadi kuat kokoh untuk menapaki keidupan), menyebar uang atau biasa disebut udhek-udhek duit yang berisi beras kuning (bermakna
15 Hasil wawancara dengan ibu Hj. Muani. 23 Agustus 2018. Pukul 20.00. di kediaman ibu Hj. Muani.
16 Hasil wawancara dengan ibu Siti. 20 agustus 2018. Pukul. 14.00. dikediaman ibu Siti.
10
suapaya kelak sang anak menjadi dermawan), dan terakhir yakni memilih barang.17
Tradisi ini digelar sebagai bentuk harapan dan doa agar sang anak mampu menjadi orang yang berguna bagi agama, negara, dan masyarakat. serta bertujuan agar sang anak tau hakikat dirinya sendiri yang berunsur dari tanah.
Akhir dari prosesi Slametan untuk anak adalah mereka sudah tumbuh dewasa. Anak laki-laki proses terakhirnya khitan dan menikah, sedangkan anak perempuan proses terakhirnya yakni menikah. Dengan begitu inilah urutan prosesi upacara untuk menyambut kelahiran seorang anak.
b) Slametan untuk orang yang sudah meninggal
Slametan untuk orang yang sudah meninggal ini merupakan salah satu cara masyarakat untuk menghargai atau menghormati salah satu keluarganya yang sudah meninggal. Adapun urutan upacara untuk orang meninggal yakni : telungdina, mitungdina, matangpuluh, nyatus, nyewu, mendek loro, dan mendek 3 serta bebata.18
1. Slametan Telung Dina
Slametan telung dina merupakan suatu prosesi dimana orang yang sudah meninggal sudah tiga hari meninggalkan dunia, dimana dalam prosesi ini biasanya keluarga yang meninggal membuat bubur sop atau bubur sayur. Hal ini merupakan adat yang biasa dilakukan oleh masyarakat desa termasuk desa Slangit. Pada hari ketiga ini biasanya warga dikasih berkat berupa makanan beserta lauk pauk yang biasanya ditempatkan diember atau bakul kecil.
Pada tahap ini sebagaian orang meyakini bahwa jasad yang dimakamkan mulai membengkak. Sehingga dengan demikian, diadakannya slametan tersebut.
17 Hasil wawancara dengan ibu Siti. 20 agustus 2018. Pukul. 14.00. dikediaman ibu Siti.
18 Hasil wawancara dengan ibu Deni. 05 Agustus 2018. Pukul. 21.38. di warung ibu Deni.
11
2. Slametan Mitung Dina
Slametan mitung dina, dimana dalam hal ini berakhirnya acara tahilan yang berlangsung dari hari pertama sampai tujuh hari, dan tak lupa orang yang dateng pula diberi bingkisan berupa sembako. Dalam hal ini pula diyakini adanya perpindahan orang yang sudah meninggal ini dari kamarnya ke tempat pemandiannya terakhir.19
Pada tahap ini diyakini pembengkakan meuju puncaknya dan akhirnya meletus. Setelah itu daging mulai hancur, terurai dan kemudian membusuk.
3. Slametan Matang Puluh
Slametan Matang Pulu, dimana dalam hal ini diadakannya tahlilan dirumah duka. Setelah itu, pada saat ini pula masyarakat memeprcayai bahwa arwah orang yang sudah meninggal ini sudah pindah ke alam kubur.
Sebelumnya arwah ini ada di tempat pemandian terakhirnya.
Tahap ini diyakini proses pembusukan diikuti dengan pergerakan tubuh secara pelahan namun pasti. Kepala secara pelahan mulai tegak seperti halnya lutut.
4. Slametan Nyatus
Slametan Nyatus, tidak jauh beda dengan acara sebelumnya yakni mengadakan tahlil dan pembagian berkat.
Tahap ini pula diyakini bahwa tubuh yang membusuk berubah menjadi orang yang sedang duduk tegak dengan lutut tertekuk keatas.
19 Hasil wawancara dengan ibu Adini. 05 Agustus 2018. Pukul. 21.50. diwarung ibu Deni.
12
5. Slametan Nyewu, Mendek Loro, serta Mendek Telu
Dalam hal ini tidak jauh beda dengan proses sebelumnya yakni tahlilan dirumah duka dan pembagian berkat. Dalam tahap ini diyakini bahwa semua tulang akan terkumpul bersama sebelum akhirnya melebur dengan tanah.
6. Slametan Bebata.
Bebata ini merupaka suatu kegiatan berupa memberi tanda pada makam orang yang sudah meninggal tersebut.
Fungsi dari kegiatan ini hanya memberi tanda saja pada makam keluarga mereka, tidak lebih dari itu.
Jika diamati gerakan tulang dalam proses pembusukan ini, maka akan sama dengan gerakan pertumbuhan jabang bayi dalam kandungan. Namun dengan gerakan terbalik. Dengan demikian, adat para leluhur kita sangat kaya akan ilmu pengetahuan yang jauh melampaui akal pemikiran orang zaman modern. Semuanya dilandasi dengan ilmu Ilahiyah yang sangat jarang dimiliki manusia pada umumnya.
c) Tahlilan
Awal mula adanya tahlilan ini berawal dari upacara peribadatan atau biasa kita sebut dengan slametan yang dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, yang saat itu mayoritasnya beragama Hindu Budha. Upacara ini merupakan suatu bentuk penghormatan dan mendoakan orang yang sudah meninggal.
Acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang bisa dilakukan oleh masyarakata umum. Acara ini umunya dilaksanakan untuk slametan orang meninggal. Dimana dalam hal ini sanak- saudara berkumpul untuk membacakan ayat Al-Qur’an, dzikir- dzikir, serta doa-doa tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit.
13
Dalam konsep teologi dan filsafat yang terdapat dalam upacara tahlilan ini yakni turut serta untuk membentuk mental solidaritas. Dimana pengaruh konsep teologinya adalah masyarakat percaya bahwa dosa mereka terhadap sesama manusia dapat tertutup dengan amalan-amalan yang baik dan bertindak sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Adapun dari konsep filsafatnya yakni sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendiri haruslah tolong- menolong sesama sesama manusia, supaya dapat memepersatukan umat seutuhnya dan menghindari pertikaian.20
Bukan hanya itu, dalam upacara tahlilan pula terdapat nilai sosial dan ekonomi. Dimana dari segi nilai sosial berupaya untuk saling mengenal dan bersilaturahmi suatu masyarakat dengan masyarakat lain. Adapun dari segi nilai ekonominya yakni warga saling membantu untuk warga yang tertimpa musibah. Dimana setiap warga membantu warga yang yang terkena musibah dari segi finansial.
d) Peringatan Hari Besar Islam
Adapun hari besar Islam yang diperingati oleh masyarakat Slangit, diantara :
1. Muludan
Muludan merupakan peringatan hari hari lahir Nabi Muhammad Saw. Dimana dalam hal ini biasanya masyarakat desa Slangit memperingatinya dengan cara membuat acara pengajian. Entah dari setiap musholah atau perwakilan dari masjid desa.
Bisa dikatakan, sebagian besar masyarakat desa Slangit antusias untuk menyelenggrakan kegiatan tersebut. Pengajian ini biasanya dihadiri dari anak-anak hingga lansia. Dari sini pula terlihat bahwa jiwa-jiwa religius mereka diperlihatkan.
20 Rhoni Rodin. Tradisi Tahlilan Dan Yassinan. Jurnal Kebudayaan Islam. Vol. 11. Nomor. 1. Januari – Juni 2013. Hal. 86
14
Bukan hanya itu, masyarakat desa Slangit pula mempercayai bahwa setiap ada anggota keluarganya lahir pada bulan lahirnya Nabi Muhammad atau biasa disebut bulan mulud maka mereka membuat syukuran kecil-kecilan berupa membuat nasi kuning. Masyarakat mempercayai dengan diadakannya syukuran ini, bertujuan untuk membuang kesialan pada sang anak.
2. Rajaban
Rajaban atau Isra’ Mi’raj merupakan perjaan Nabi Muhammad Saw. Isra’ yang berarti perjalanan Nabi yang berawal dari Masjid Al-Haram di kota Makkah dan dilanjutkan ke Masjid Al-Aqsa di Yerussalem. Adapun Mi’raj berarti perjalanan Nabi dari bumi menuju langit tujuh dan menuju Sidrah Al-Muntaha untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk melakukan ibadah shalat dan puasa.21
Perjalanan Nabi berawal dari kota Makkah menuju Palestina dengan ditemani malaikat Jibril dan bebrapa malaikat lainnya.
Setelah itu, dilanjutkan menuju langit sampai langit ke tujuh.
Pada seiap langitnya Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi- nabi sebelumnya. Pada langit pertama bertemu Nabi Adan As, langit kedua bertemu Nabi Isa As, langit ketiga beretemu Nabi Yusuf As, langit keempat bertemu Nabi Daud As, langit kelima bertemu Nabi Musa As, langit keenam bertemu Nabi Ibrahim, dan langit ketujuh bertemu Nabi Idris dan Nabi Nuh As.
21 Roro Fatikhin. Tesis : Isra’ Mi’raj Rasul dalam Naskah Perpustakaan Masjid Agung Surakarta : Kajian Filologi Arab. Yogyakarta : diajukan kepada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Program Studi Agama dan Filsafat Konsentrasi Ilmu Bahasa Arab. 2015. Hal. 180
15
Setelah itu Nabi sampailah di Sidratulmuntaha, ditempat inilah Nabi bertemu dengan Allah SWT tanpa adanya hijab sedikitpun yang ,menghalangi. Dari pertemuan Nabi dengan Allah SWT ini, Nabi mendapat perintah ibadah shalat lima waktu yang kemudian menjadi ibadah yang wajib dilakukan umat Islam. Bukan hanya itu, saat perjalan ini pula Nabi melihat surga dan neraka, dalam kedua tempat ini Nabi diperlihatkan bagaimana kenikmatan dan siksaan pada hari kiamat nanti, sebagai balasan atas amal perbuatan yang manusia lakukan selama hidup didunia.
Masyarakat desa Slangit pada saat bulan Rajab memperingatinya tidak jauh beda dengan tradisi muludan yakni mengelar acara pengajian. Serta, masyarakat desa Slangit juga mempercayai bahwa setiap keluarganya yang lahir pada bulan Rajab mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan membuat Sekullanggi. Sekul yang berarti sega atau nasi, sedangkan langgi merupakan bumbu atau rempah-rempah. Sehingga sekullanggi ini adalah sebuah nasi yang dicampur dengan rempah-rempah. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan sial atautolak bala bagi keluarganya yang lahir bulan Rajab.22
3. Ngunjung Buyut
Ngunjung Buyut merupakan suatu ritual tiap tahun untuk mengunjungi makam para leluhur, yang ada di petilasan atau tempat nenek moyang terdahulu. Acara ini biasanya dilakukan oleh masyarakat sekitar. Buyut sendiri biasanya orang yang dianggap suci atau orang yang mempunyai jasa untuk menyebarkan agama Islam di desa Slangit.23
22 Hasil wawancara dengan ibu Adini dan ibu Deni. 25 Agustus 2018. Pukul 21.00. diwarung ibu Deni.
23 Ibid., hal. 101
16
Prosesi atau upacara adat ngunjung buyut ini dimulai dengan arak-arakan dengan membawa makanan dari warga sekitar, yang sejak pagi dilakukan dan mengelilingi perkampungan desa Slangit. Upacara ngunjung buyut diawali dengan upacara membersihkan makam dan pusaka. Selain memiliki makna spiritual, upacara ngunjung buyut juga memiliki makna sosial yaitu dapat mempererat tali silaturahmi anatar anggota dan keturunan.24
Biasanya dalam prosesi ngunjung buyut ini diadakannya beberapa penampilan anatara lain : wayang kulit, wayang golek, serta ttak lupa Tari Topeng pun ikut memeriahkan acara ngunjung buyut tersebut. Dimana dalam prosesi ini doa bersama menjadi pemanis atu pelengkap prosesi tersebut.25
c. Perekonomian Masyarakat Desa Slangit
Jika dilihat dari gambaran soal sosial budaya, maka bisa dipastikan pekerjaan yang paling mendominasi adalah seorang petani. Walaupun ada pula yang menjadi pedagang, buruh, dan pekerja industri.26 Adapun upacara atau tradisi dan adat yang ada di desa Slangit, ditemukan beragam upacara yang mewakili profesi mereka petani. Entah dari upacara kesuburan tanah, menjaga keharmonisan manusia dengan alam, maupun hubungan anatara dunia nyata dan dunia ghaib. Dimana dalam hal ini tari topeng diajdikan sebagai media daya tarik wisata budaya yang ada di Slangit.27
24 Hasil wawancara denga kepala desa Slangit bapak Sura. Jumat, 03 Agustus 2018. Pukul 10.30. di balai desa Slangit.
25 Altri Tiyar Barunawati dan Syamsul Alam Patusuri. Pengembangan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Slangit, Cirebon, Jawa Barat. JUMPA. Volume 2. Nomor 2. 2 Januari 2016. Hal. 100
26 Data ini diambil dari arsip desa Slangit, dan hasil dari wawancara bersama Kuwu desa Slangit bapak Sura.
Kamis, 12 Juli 2018. Pukul 11.00. di balai desa Slangit.
27 Altri Tiyar Barunawati dan Syamsul Alam Patusuri. Pengembangan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Slangit, Cirebon, Jawa Barat. JUMPA. Volume 2. Nomor 2. 2 Januari 2016. Hal. 100
17
Hampir setiap tahunnya, budaya yang masih dilaksanakan masyarakat desa Slangit antara lain : Mider dan Mepet, Mapag Sri, dan Sedekah Bumi.
a) Mider dan Mepet
Mider atau Rapet adalah sebuah ristus lintas yang sudah dilaksanakan berabad-abad oleh masyarakat. upacara ini meupakan upacara dalam menyambut musim tanam. Upacara ini dipengeruhi oleh sistem kepercayaan masyarakat lokal, yang merupakan sikritisme dengan agama Hindu dan Islam.28
Mider mempunyai arti keliling, dimana dalam upacara ini dilakukan olh ketua adat dan kepala desadikebun dan sawah warga desa Slangit, yang sudah siap dikelolah dan ditanami. Ketika sawah dan kebunnya sudah siap dikelolah dan ditanami dan dipanen, ketua adat dan kepala desa akan memeprhatikan tanda-tada alam sekitar. Setelah itu ketua adat dan kepala desa pergi ke makam Sunan Gunung Jati untuk mengambil air. Air tersebut merupakan simbolik pemebri kesuburan tanah, sehingga diharapkan hasil tanam warga mendapat hasil yang terbaik. Biasanya upacara ini dilakukan menjelang musim hujan yaitu sekitar bulan Oktober, November, dan Desember.29
Dalam tradisi tanam ini, diadakan upacara ritual untuk para leluhur.
Dimana seni Topeng menjadi media untuk sarana meminta ijin kepada leluhur dalam proses tanamnya.30
Desa Slangit, hingga saat ini masih memegang kepercayaan yang dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu. Mereka memepercayai bahwa Dewi Sri sebagai pelindung tanaman dan pertanian. Dewi Sri ini biasa disebut juga dengan nama Dewi Pohaci dan Dewi Padi.31
28 Altri Tiyar Barunawati dan Syamsul Alam Patusuri. Pengembangan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Slangit, Cirebon, Jawa Barat. JUMPA. Volume 2. Nomor 2. 2 Januari 2016. Hal. 100
29 Hasil wawancara dengan bapak Muhaemin. Jumat, 03 Agustus 2018. Pukul 11.00. di balai desa Slangit
30 Altri Tiyar Barunawati dan Syamsul Alam Patusuri. Pengembangan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Slangit, Cirebon, Jawa Barat. JUMPA. Volume 2. Nomor 2. 2 Januari 2016. Hal. 101
31 Altri Tiyar Barunawati dan Syamsul Alam Patusuri. Pengembangan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Slangit, Cirebon, Jawa Barat. JUMPA. Volume 2. Nomor 2. 2 Januari 2016. Hal. 102
18
Mapag Sri tersebut menghabiskan waktu selama tiga hari. Hari pertama merupakan hari dimana ketua adat, kepala desa, dan masyarakat sekitar pergi ke makam para leluhur. Hari kedua, diadakannya sebuah festival dan arak-arakan keliling kampung untuk mengarak boneka Dewi Sri. Hari ketiga, dimana hari diadakannya hiburan seperti kesenian tari topeng sepanjang hari, dan dimalam harinya diadakannya acara doa-doa dan pagelaran topeng selama seharian penuh.32 Tari topeng ini dijadikan sarana untuk meminta ijin kepada para leluhur serta menjadi sarana penghibur bagi masyarakat sekitarnya.
b) Sedekah Bumi
Sedekah Bumi adalah tradisi yang dilaksanakan masyarakat desa Slangit bentuk ungkapan terimakasih kepada sang pencipta yang telah memberikan kehidupan dan hasil panen yang berlimpah.33 Dalam megadakan acara ini masyarakat sekitar sangat antusias, masyarakat mengirim hasil buminya kepada kepala desa dan keraton. Biasanya hasil yang diserahkan berupa ubi-ubian, buah-buahan, sayur-sayuran, dan hasil ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan sebagainya. upacara sedekah bumi ini dilakukan setiap tahun pada bulan-bulan panen yaitu sekitar bulan Oktober.34
Jika dilihat dari beberapa penjelasan diatas, dalam setiap upacara adat khususnya yang ada di desa Slangit terdapat pertunjukan tari topeng.
Tari topeng itu sendiri merupakan salah satu ikon dari desa Slangit itu sendiri. Bukan hanya itu, seni topeng ini memiliki fungsi yaitu dijadikan sebagai media atau sarana untuk meminta ijin kepada para leluhur yang telah tiada.
32 Hasil wawancara dengan bapak Sanija. Selasa, 31 Juni 2018. Pukul. 13.00. di rumah bapak Sanija.
33 Altri Tiyar Barunawati dan Syamsul Alam Patusuri. Pengembangan Daya Tarik Wisata Budaya Desa Slangit, Cirebon, Jawa Barat. JUMPA. Volume 2. Nomor 2. 2 Januari 2016. Hal. 102
34 Hasil wawancara dengan bapak Sanija. Selasa, 31 Juni 2018. Pukul. 13.00. dirumah bapak Sanija.
19 B. Budaya Tari Topeng
1. Definis Tari topeng
Seni tari topeng adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang ada di Indonesia. Tari topeng adalah tarian yang penarinya mengenakan topeng. Tari topeng biasanya ditampilkan oleh seorang penari atau beberapa penari. Tari topeng memiliki suatu ekspresi yang khas dari sebuah daerah yang mempunyai latar belakang khusus. Dengan demikian, tari topeng pada dasarnya merupakan suatu seni tari yang menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng oleh para penari pada saat pementasannya.
Pada umumnya masyarakat mengartikan kata “topeng” berarti tutup muka atau kedok yang biasa dipakai oleh penari topeng pada waktu menari. Sama halnya dengan yang dikatakan Marsita35, bahwa kata “topeng” bersal dari taweng atau toweng yang berarti penutup muka. Beda halnya dengan pendapat Wijaya Arja dan Sujana Arja36, Wijaya Arja berpendapat bahwa “topeng” bersala dari kata
“ketop-ketop gepeng” yaitu dua buah benda gepeng atau lempengan berbentuk uang logam berwarna emas yang terpasang pada Sobrah (tutup kepala) bagian depan yang jika terkena sinar tampak berkilau, yang dalam bahasa Cirebon disebut “ketop-ketop”. Adapun menurut Sujana Arja, mengatakan bahwa “topeng”
berasal dari kata “topong gepeng” yang berarti tutup kepala penari topeng yang lazim disebut Sobrah atau Tekes yang pada bagian atasnya berbentuk pipih atau gepeng.37
Hampir semua masyarakat, ketika melihat tari topeng pasti lebih fokus pada topeng atau kedok yang digunakan oleh sang penari. Menurut Muhaemin38 inti dari tari topeng itu berada pada hiasan kepala yaitu Sobrah. Sobrah ini berasal dari bahasa Arab yaitu Sobrun yang artinya sabar. Sifat sabar ini mewakili cara Sunan Gunung Jati yang sangat sabar menyebarkan agama Islam yang saat itu masyarakat Cirebon yang masih di pengaruhi oleh budaya Hindu Budha.39
35 Marsita adalah salah satu penari topeng yang berasal dari Ujung Gebang Kecamatan Susukan. Marsita juga merupakan pimpinan lingkungan seni yang ada di Ujung Gebang.
36 Wijaya Arja dan Sujana Arja merupakan salah satu penari atau tokoh tari topeng yang berasal dai desa Slangit Kecamatan Klangenan
37 Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Cirebon. Deskripsi Kesenian Daerah Cirebon. Cirebon : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon. 2001. Hal 94-95
38 Muhaemin merupakan salah satu tokoh masyarakat desa Slangit. Muhaemin juga termasuk dalam jajaran aparat desa Slangit. Jabatan dari Muhaemin sendiri yakni sebagai Lebe.
39 Hasil wawancara dengan bapak Muhaemin. Kamis, 12 Juli 2018. Pukul : 11.00. di Balai Desa Slangit.
20
2. Sejarah Perkembangan Tari Topeng Cirebon
Seni tari topeng berkembang sejak abad ke-10 – 11 M, dalam tokoh cerita panji pada zaman pemerintahan Raja Lembu Amilur, atau Prabu Panji Dewa di Jenggala yang wilayahnya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura dan Bali.
Seni tari topeng Cirebon konon, berasal dari Jawa Timur atau Jenggala.
Menurut Enouch Atmadibrata dalam karya tulisnya yang berjudul Pengetahuan Tari Sunda, mengemukakan bahwa “tari topeng” mempunyai sejarah berasal dari Jawa Timur yang dibawa oleh seniman, keliling ke Jawa Barat melalui Jawa Tengah, di mana setibanya di Sunda (Jawa Barat) bersenyawa atau tumbuh berpadu dengan kesenian rakyat40.
Sebelum penduduk Cirebon mengenal Islam, masyarakatnya masih beraga Hindu dan Budha. Setelah masuknya para wali, mereka mempelajari segala sesuatu yang digemari oleh orang Hindu dan Budha, maka para wali ini masuk ke lingkungan Hindu dan Budha melalui jalur kesenian, karena kesenian ini merupakan salah satu kegemaran orang Hindu dan Budha. Setelah itu, Sunan Gunung Jati mulai mempelajari tari topeng dari Raden Panji Inu Kertapati atau Panji Putra atau Panji Gedog. Raden Panji Inu Kertapati merupakan putra dari Prabu Panji Dewa atau Panji Lembu Amiluhur yang berasal dari negeri Jenggala.
Kedudukan Sunan Gunung Jati saat itu menjadi seorang raja, dan rasanya tidak mungkin bagi Sunan Gunung Jati menyiarkan agama Islam sendiri. dengan begitu, akhirnya Sunan Gunung Jati mengutus Sunan Kalijaga untuk membantunya menyebarkan agama Islam diwilayah Cirebon. Sunan Kali Jaga diajarkan tari topeng beserta gendingnya dan makna dari setiap gerakannya yang mengandung ajaran agama Islam.
Sunan Kalijaga Jaga menyebarkan agama Islam dengan cara ngamen atau menjadi topeng bebarang. Topeng bebrang berarti keliling dari satu tempat ketempat lain. Istilah ini dikenal hingga wilayah Karawang. Stategi siar agama Islam melalui tari topeng ini dilakukan dari desa ke desa, dari halaman ke halaman yang bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat lewat gerakan dan alunan gamelan. Syarat dari pertunjukan ini yaitu membaca dua kalimat syahadat sebelum menonton dan mempelajari tari topeng, akhirnya dengan strategi seperti ini banyak masyarakat yang tertarik. Proses pengenalan Islam ini tidak serta merta
40 Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Cirebon. Deskripsi Kesenian Daerah Cirebon. Cirebon : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon. 2001. Hal 97
21
langsung dikenalkan dengan baca Al-qur’an dan shalat, melainkan dengan alunan gamelan, dan gerak tari yang berisi ajaran Islam. Metode siar agama Islam dengan melalui tari topeng ini berhasil diterima oleh masyarakat luas, sehingga tari topeng masih dilestarikan dan selalu dikenalkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.41
Tari Topeng dahulu kala berpusat di Keraton, tetapi dengan seiring berjalannya waktu tari topeng dianggap sebagai tarian yang berasal dari rakyat.
Sehingga dengan demikian sampailah tari topeng ke desa Slangit. Awal mula adanya tari topeng didesa Slangit yakni dibawa oleh seseorang yang bernama Ki Empi. Awalnya Ki Empi ini mengenalkan tari topeng didaerah Sitiwinangun atau Kebagusan. Ki Empi tersebut mengenalkan tari topeng ini keanak cucunya yakni Ki Wardaya atau Ki wartama. Ki Wardaya ini memiliki sorang putri bernama Nyi Wuryati, dahulu kala Nyi Wuryati ini menjadi seorang penari di Keraton, setiap ada acara apapun yang berhubungan dengan keraton maka Nyi Wuryati ini selalu berpartisipasi, sampai akhirnya Nyi Wuryati bertemu dengan sesama penari yakni bapak Ardja. Ardja ini merupakan seorang penari yang berasal dari Arjawinangun atau lebih tepatnya didesa Jungjang.
Setelah menikah Arja dan Nyi Wuryati menetap di desa Slangit, dan dari sinilah tari topeng mulai ada di desa Slangit. Sebenarnya yang benar-benar keturunan dari Sunan Gunung Jati adalah Nyi Wuryati, tetapi masyarakat lebih mengenal Ardja sebagai penari yang melesatrikan tari topeng di desa Slangit.hal ini diseabkan karena Nyi Wuryati hanya aktif menari di area Keraton saja, beda halnya dengan Ardja yang mengajarkan tari topeng ini dari desa ke desa, dan dari rumah ke rumah, layaknya siar yang dilakukan Sunan Kali Jaga.
Keturunan Ardja dan Nyi Wuryati inilah yang hingga saat ini masih melestarikan kesenian tari topeng, dan yang masih melestarikan tari topeng didaerah Slangit saat ini adalah anak Ardja yang bernama Sujana dan Keni.
Sebenarnya setiap anak diajarkan tari topeng, tetapi hanya bebarapa anak saja yang masih mau melestarikan kesenian tari topeng ini, hingga saat ini yang masih tersisa adalah Keni karena dari sekian bersaudara hanya Keni yang masih hidup,
41 Hasil wawancara dengan bapak Sanija. Rabu, 11 Juli 2018. Pukul : 11.00. di kediaman bapak Sanija.
22
tetapi dari keturunan Sujana tetap ada yang melestarikan yakni Sanija yang memiliki sanggar tari bermana Langgeng Saputra.42
Adapun silsilah keluarga atau rante awal adanya tari topeng Cirebon diwilayah Cirebon hingga masuk ke desa Slangit antara lain :43
42 Hasil wawancara dengan bapak Sanija. Rabu, 11 Juli 2018. Pukul : 11.00. di kediaman bapak Sanija.
43 Manuskrip yang ditulis tangan oleh keturunan Ardja.
23 3. Karakteristik Tari Topeng Slangit
Karakteristik tari topeng Cirebon, khusunya para tokoh tari topeng Slangit, berpendapat bahwa seluruh gerakan tari topeng menggmbarkan perilaku dan karakteristik kehidupan manusia di dunia. Tari topeng memiliki 5 macam tarian, dimana dalam setiap tarian memiliki karaktreistik yang berbeda.44 Adapun 5 macam tari topeng tersebut, yakni : tari topeng Panji, Samba (Pamindo), Rumyang, Tumenggung, Klana/Rahwana.45
a. Tari Topeng Panji
Panji merupakan asal kata dari siji yang berarti pertama atau kesatu. Wajah topeng ini berwarna putih berseri, lambang dari kebersihan atau kesucian bagaikan bayi yang baru lahir. Karakter dari tari topeng ini adalah halus, lungguh, dan alim.
b. Tari Topeng Samba (Pamindo)
Tari ini merupakan tari kedua, dimana kata mindo yang berarti kedua.
Tarian ini menggambarkan seseorang yang mulai memasuki masa remaja. Rias wajahnya berwarna putih berseri, dihiasi dengan rambut keriting (ikal) pada dahinya, lambang kesopanan dan keramahan. Karakter dari topeng ini yakni ganjen, genit, dan lincah.
c. Tari Topeng Rumyang
Rumyang bersal dari kata ramyang-ramyang yang berarti muulai terang.
Tarian ini menggambarkan seseorang yang sudah mulai dewasa dan tahu arti kehidupan. Rias wajahnya berwarna oranye, lambang peralihan dari masa remaja ke masa dewasa. Karakternya agak sedikit genit tetapi bercampur alim.
d. Tari Topeng Tumenggung
Rias wajahnya merah dan berkumis tipis, menggambarkan seseorang yang telah mempunyai kedudukan dan rasa tanggung jawab yang tinggi sesuai dengan kedewasaannya. Karakteristik dari topeng ini yakni gagah dan tangguh.
44 Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Cirebon. Deskripsi Kesenian Daerah Cirebon. Cirebon : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon. 2001. Hal 96
45 Ibid., hal 96-97
24 e. Tari Topeng Klana/Rahwana
Rias wajahnya berwarna merah padam, berkumis tebal dan menyeramkan, menggamabrkan orang yang serakah, angkara murka, dan tidak dapat mengenalikan diri. Karakteristik dari tari topeng ini melambangkan gagah dan besar.
Tari topeng Cirebon memiliki beberapa gaya, yakni gaya Slangit, gaya Ciliwung, dan gaya Losari. Pertama, gaya Slangit diikuti oleh wilayah Kreyo. Kedua, gaya Ciliwung termasuk wilayah Kalianyar, Susukan, dan Gegesik. Ketiga, gaya Losari itu sendiri.46 Menurut Sanija47, dari ketiga gaya itu memiliki perbedaan, yang membedakan ketiganya yaitu gerak, versi tokoh, dan wilayahnya.48 Tari topeng ini memiliki suatu ekspresi yang khas dari sebuah daerah yang mempunyai latar belakang khusus.
Setiap gaya ini memiliki keunikan tersendiri, dimana dalam gaya Ciliwung lebih kepada suatu hiburan, kemudian keunikan yang terdapat dalam tari topeng gaya Losari yakni lebih dikenal dengan ke mistisnya. Sedangkan gaya Slangit ini sendiri yakni memiliki keunikan yang berbeda dari dua sebelumnya, keunikan yang ada dalam gaya Slangit yakni ada pada aturan-aturan.49
Aturan-aturan yang dimaksud dalam gaya tari Slangit ini yakni ada pada gerakannya, di mana dalam gaya Slangit yang paling menonjol terletak pada gaya dan gerakannya.50 Adanya aturan-aturan dalam gaya Slangit ini bertujuan untuk membedakan karakter yang ada dalam sebuah tarian. Di mana kebanyakan tarian satu dengan tarian lainnya, tidak ada pembeda yang spesifik. Sehingga dengan demikian alasan dari menekannya pada aturan-aturan yakni untuk membedakan pesan yang ada dalam sebuah tarian.
46 Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Cirebon. Deskripsi Kesenian Daerah Cirebon. Cirebon : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Cirebon. 2001. Hal 96
47 Sanija merupakan salah satu turunan penari topeng yang ada di Desa Slangit. Sanija juga merupakan pimpinan sanggar tari Langgeng Putra
48 Hasil wawancara dengan Sanija. Senin, 1 Januari 2018. Pukul : 14.00.
49 Hasil wawancara dengan Sanija. Minggu, 18 Februari 2018. Pukul. 13.35.
50 Ibid., pukul. 13. 50.
25
Awalnya fungsi tari topeng sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat mistis, hal ini berkaitan dengan peninggalan Hindu-Budha. Sedagkan tari topeng yang diciptakan oleh para Wali lebih pada menjadikannya sebagai sarana penyebaran agama Islam.
Sebenarnya pertunjukan tari topeng Cirebon merupakan gabungan anatara unsur campuran budaya, yang bersifat mistis-magis sebagai serapan kebudayaan Jawa, serta serapan nilai filosofi agama Islam. Contoh dari hal ini yakni mengenai penanggalan Jawa, ada yang diperbolehkan menggelar acara hajatan dan ada pula yang dilarang.51
Hal ini adalah sebuah refleksi atas kekuatan yang ada dialam, bentuk kepatuhan atas pada adat serta ke agama yang dianutnya.hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Cirebon meyakini bahwa tari topeng sebagai tradisi dalam pemujaan kepada leluhur. Sebab, pada dasarnya tari topeng tersebut memiliki suatu relasi antara hubungan yang bersifat horizontal maupun fertikal.
Dengan demikian, tari topeng oleh masyarakat Cirebon khususya Slangit dijadikan suatu sarana atau media untuk meminta ijin kepada para leluhur yang telah tiada. Sebab, tari topeng tersebut merupakan bentuk penyatuan antara Tuhan, Alam, dan manusia.
51 Hasil wawancara dengan H. Nasdija. Selasa, 9 Oktober 2018. Pukul : 19.30. dikediaman H. Nasdija