BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan fase peralihan individu dari fase kanak-kanak menuju fase dewasa. Remaja bukan lagi anak-anak, tetapi juga belum dewasa (Hurlock, 2004). Pada masa remaja, seseorang mulai berpikir abstrak. Menurut Jamaluddin (2019), berpikir berpikir abstrak merupakan kemampuan seseorang untuk memproses suatu informasi yang berhubungan dengan objek, prinsip, dan konsep yang secara fisik tidap dapat dilihat. Hal ini dikarenakan adanya kematangan secara kognitif yaitu interaksi dari struktur otak dan lingkungan pertemanan yang semakin hari semakin luas, sehingga hal ini dapat mengakibatkan kemampuan remaja untuk berpikir abstrak baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkungannya (Prakoso, 2015).
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri. Seseorang pada fase remaja memiliki sikap, sifat, dan perilaku yang selalu ingin tahu akan segala hal. Setiap individu pada fase remaja selalu ingin mencoba dan melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya seperti mencoba untuk meminum minuman alkohol, merokok, dan sebagainya (Prakoso, 2015). Hal ini merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua maupun guru, karena guru merupakan pengganti orangtua siswa ketika di sekolah. Hal ini harus di perhatikan karena mencegah adanya sifat dan sikap perilaku yang dapat berdampak negatif, sehingga sikap dan perilaku tersebut haruslah di bimbing dengan memberikan kesadaran siswa akan kontrol terhadap dirinya sendiri.
Kemampuan seseorang dalam mengontrol dirinya sendiri sangatlah diperlukan bagi setiap individu (Mulyani, 2016). Pasalnya, seseorang akan mudah sekali jatuh dan mengikuti arus lingkungan sekitar yang merupakan dampak dari adanya perkembangan teknologi. Hal ini wajar terutama dikalangan pelajar, namun hal ini memiliki resiko yang tinggi karena tidak semua hasil perkembangan zaman merupakan hal yang positif, sehingga hal ini memerlukan perhatian khusus.
Setiap manusia memiliki kontrol baik dari dalam dirinya maupun dari luar.
Kontrol dari dalam dapat diperoleh dari nilai-nilai yang dianut oleh masing-masing commit to user
individu, dapat berasal dari nilai keluarga, nilai agama, dan nilai kepercayaan lainnya. Sedangkan kontrol dari luar, dapat diperoleh dari norma-norma dan peraturan yang ada di masyarakat sekitar. Kontrol diri merupakan pengaruh seseorang atau peraturan mengenai fisiknya, tingkah laku dan proses-proses psikologisnya, dengan kata lain, sekelompok proses yang mengikat dirinya (Calhoun dan Acocella, 1990).
Purnama, Windrawanto, Dwikurnaningsih (2018) melakukan sebuah penelitian mengenai Hubungan Perilaku Minum-minuman Keras dengan Kontrol Diri Remaja Laki-laki di desa Kopeng, Getasan, Kab. Salatiga. Pada penelitian tersebut, didapatkan hasil yaitu semakin tinggi perilaku minum-minuman keras, maka akan semakin rendah tingkat kontrol diri remaja laki-laki di desa Kopeng kecamatan Getasan, sebaliknya jika perilaku minum-minuman keras rendah maka tingkat kontrol diri akan semakin tingi pada remaja laki-laki di desa Kopeng kecamatan Getasan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Purnama, Windrawanto, dan Dwikurnaningsih, terdapat hubungan antara kontrol diri dengan perilaku meminum minuman alkohol.
Astuti (2019) menyatakan bahwa perilaku-perilaku yang merupakan akibat dari kontrol diri yang rendah pada peserta didik ialah pergaulan yang salah dengan teman sebayanya, peserta didik yang memiliki emosi yang meluap-luap dan tidak dapat dikendalikan, serta kurangnya memiliki sikap yang mencerminkan jati diri mereka sendiri. Permasalahan mengenai kurangnya sikap kontrol diri khususnya terhadap minuman-minuman alkohol pada setiap peserta didik di Indonesia kerap kali di temukan. Banyak peserta didik di sekolah menengah, baik sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan juga sekolah menengah kejuruan yang tidak mampu mengontrol hawa nafsu yang terdapat di dalam dirinya untuk mencoba hal- hal yang mungkin baru pertama kali mereka temukan.
Remaja sulit sekali mengontrol perilaku yang dilakukannya, yakni dalam hal ini ialah meminum minuman keras atau alkohol. Perilaku seperti ini kerap kali ditemukan di berbagai sekolah, banyak peserta didik yang masih dibawah umur dengan berani nya membawa dan meminum minuman alkohol tersebut di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil penelitian survey need assesment yang commit to user
dilakukan mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP UNS angkatan 2012 menunjukkan bahwa keterampilan mengontrol diri sangat dibutuhkan bagi siswa SMK (64,99%) dan sangat penting bagi siswa SMK (65,13%).
Terdapat beberapa contoh kasus-kasus peserta didik meminum minuman alkohol. Contoh kasus seperti ini terjadi sekitar bulan Agustus 2019, dilansir dari akun Youtube Tribun Solo (2019, Agustus 21) terdapat sebuah video mengenai peserta didik meminum minuman alkohol di dalam kelas pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dalam video tersebut, terdapat sejumlah peserta didik (teman-temannya) yang mendukung pelaku untuk meminum minuman alkohol tersebut. Ironinya, dalam video tersebut terdapat guru bidang studi yang sedang mengajar di dalam kelas tersebut. Tidak hanya kasus ini saja, menurut sindonews.com, Barnogroho (2015, Oktober 17) mengungkapkan bahwa terdapat sekumpulan siswa SD dan SMP di Yogyakarta tertangkap meminum minuman keras oplosan. Para pelajar yang masih dibawah umur ini tertangkap meminum minuman keras di pinggir jalan sekitar terminal Giwangan. Contoh kasus yang selanjutnya ialah dilansir oleh liputan6.com, Dewi (2019, Maret 29) mengungkapkan bahwa usai Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), terdapat 7 pelajar SMK di Lenteng Agung, Jakarta Selatan melakukan pesta minuman keras.
Ketiga contoh kasus tersebut hanyalah sebagian kecil dari kasus yang terdapat di lapangan. Masih banyak kasus yang serupa terjadi di Indonesia, khususnya daerah Solo Raya. Banyak peserta didik yang meminum minuman alkohol baik di sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini patut diperhatikan, karena para peserta didik tidak hanya melanggar peraturan dari pemerintah, namun juga melanggar peraturan dari sekolah. Kasus ini merupakan tantangan yang cukup besar bagi kepala sekolah, staff sekolah, dan guru-guru sekolah khususnya guru bimbingan dan konseling.
Minuman beralkohol merupakan minuman yang mengandung alkohol. Menurut Hawari (2006) alkohol merupakan bagian dari zat adiktif. Hal ini menunjukkan bahwa minuman beralkohol dapat memberikan efek adiktif (ketagihan) dan dependensi (ketergantungan). Jika remaja merasakan rasa adiktif dari alkohol, hal tersebut dapat berdampak kepada peningkatan konsumsi minuman beralkohol, dan commit to user
tentu saja akan menyebabkan efek negatif terhadap masa depan remaja, karena mengonsumsi zat adiktif secara terus-menerus dapat memberikan efek yang buruk bagi kesehatan di masa yang akan dating.
Di Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) bernomor 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran, dan penjualan minuman beralkohol.
Peraturan pemerintah tersebut penjualan minuman beralkohol golongan A (kadar maksimal 5 persen) kepada konsumen yang berusia dibawah 21 tahun atau tanpa menunjukkan kartu identitas (KTP) kepada petugas atau pramuniaga. Namun sayangnya, di lapang masih banyak remaja dibawah umur 21 tahun dengan mudah nya mengonsumsi minum-minuman alkohol.
Seseorang yang sudah tercandu akan suatu kebiasaan tertentu, akan sulit untuk melepaskan kebiasan tersebut. Begitu juga dengan meminum minuman alkohol.
Jika seseorang sudah menjadi pecandu minuman alkohol, akan sulit melepaskan kebiasaan meminum minumannya tersebut (Prasetya, 2017). Pengaruh dari minuman beralkohol yaitu dapat berupa perilaku emosional yang tak terkendali, dan cenderung bersikap agresif. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka penulis menyarankan untuk mengobati permasalahan tersebut dengan memberikan layanan konseling kelompok dengan konseling pendekatan SFBT kepada seluruh peserta didik tingkat SMK di seluruh Solo Raya yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam permasalahan tersebut.
Banyak penelitian yang sudah dilakukan oleh para peneliti untuk meningkatkan keterampilan mengontrol diri terhadap minuman alkohol. Adapun beberapa penelitiannya ialah sebagai berikut. Grant (2012) seorang therapist asal Australia melakukan sebuah penelitian dengan melibatkan 225 partisipan berumur rata-rata 20 tahun. Grant menyatakan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk peneliti selanjutnya yakni ialah konseling dan pengisian asesmen haruslah dilakukan secara langsung. Selain itu, peneliti juga haruslah melakukan suatu tindak lanjut apakah klien sudah mencapai tujuannya. Dan yang terakhir, Grant menyatakan bahwa peneliti selanjutnya haruslah mengadakan suatu evaluasi tindak lanjut untuk
commit to user
mempertimbangkan tambahan konseling untuk perubahan yang terjadi terhadap klien.
Kenji Yokotani dan Katsuhiro Tamura (2014) melakukan sebuah penelitian dengan judul Solution-Focused Group Therapy for Repeated-Drug Users.
Rekomendasi peneliti terhadap peneliti selanjutnya ialah karena peneliti ini hanya terbatas pada ruang lingkup penjara dengan klien laki-laki, peneliti berharap peneliti selanjutnya dapat melakukannya dengan klien berjenis kelamin perempuan.
Selain itu, peneliti juga terbatas terhadap pecandu alkohol, bukan pengedar. Peneliti juga berharap agar peneliti selanjutnya mampu melakukannya terhadap pecandu minuman alkohol di ruang lingkup yang lebih luas dan mampu menurunkan angka penggunaan minuman alkohol di lingkungan masyarakat.
Berdasarkan 2 penelitian yang sudah dilakukan oleh para ahli (Grant, 2012;Yokotani & Tamura, 2014), kekurangan dari ketiga penelitian yang sudah dipaparkan diatas ialah klien dari penelitian yang dilakukan merupakan orang dewasa, bukan remaja. Namun peneliti dapat melakukan dengan klien seorang remaja, hal ini didasarkan atas rekomendasi peneliti sebelumnya (Grant, 2012;Yokotani & Tamura, 2014). Selain itu peneliti akan melakukan penelitian dengan klien berjenis kelamin perempuan (Grant, 2012;Yokotani & Tamura, 2014).
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, tidak ada penelitian yang berada pada latar sekolah, sehingga peneliti dapat melakukan dengan latar pendidikan (sekolah) berdasarkan rekomendasi peneliti-peneliti tersebut dalam rangka memperluas ruang lingkup konseling SFBT. Rekomendasi peneliti sebelumnya juga menyatakan bahwa peneliti haruslah melakukan suatu evaluasi tindak lanjut untuk mengetahui apakah klien sudah mencapai tujuannya, hal ini sudah tertuang dalam produk yang disusun yakni lembar kerja siswa (LKS) dan pemberian follow up.
Peneliti bermaksud mengembangkan panduan peningkatan keterampilan mengontrol diri terhadap minuman alkohol dengan sasaran partisipan yang merupakan remaja (peserta didik SMK). Fokus yang peneliti tawarkan tidak hanya pada kesehatan klien, tetapi peneliti juga menyesuaikan dengan hukum yang berlaku di Indonesia yakni menekankan pada larangan meminum minuman alkohol sebelum berumur 21 tahun sebagai bentuk sikap kontrol diri dan disiplin diri. Selain commit to user
itu, agar penelitian dapat lebih efektif, peneliti menyisipkan media audio visual yakni berupa video yang berkaitan dengan efek samping dari minuman alkohol pada salah satu sesi konseling kelompok yaitu sesi kedua.
Pemilihan media video dikarenakan peneliti menyesuaikan dengan minat remaja saat ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan penelitian Munir (2017) dengan hasil penelitian bahwa minat siswa yang diberi layanan bimbingan dengan menggunakan media audio visual lebih baik, dibandingkan yang tidak diberi layanan bimbingan dengan menggunakan media audio visual.
Media video yang akan diberikan kepada klien merupakan video yang berisikan efek samping yang ditimbulkan dengan meminum minuman alkohol. Hal ini disesuaikan dengan tujuan khusus yakni peserta didik mampu menunjukkan bahaya dan efek samping dari meminum minuman alkohol. Selain itu, adapun tujuan khusus lainnya pada sesi kedua ini yakni agar peserta didik mampu mengukur tingkat bahaya alkohol, hal ini dapat dikolaborasikan dengan penggunaan teknik scalling question yang merupakan salah satu teknik dari SFBT. Pemilihan
pendekatan teknik SFGT juga dilakukan karena selain efektif dan efesien, guru BK pun merasa bahwa SFGT sangat diperlukan pada pemberian konseling di sekolah.
Solution Focused Brief Therapy (SFBT) merupakan salah satu pendekatan
konseling dan psikoterapi postmodern. SFBT merupakan teori yang berfokus terhadap solusi (Sumarwiyah dkk., 2015). Asumsi utama dari pendekatan SFBT ini ialah terletak pada tujuan dari konseling ini akan dipilih langsung oleh klien dan hanya klien sendirilah yang memiliki potensi untuk melakukan suatu perubahan.
SFBT memiliki beberapa teknik-teknik, adapun teknik-tekniknya ialah sebagai
berikut; (a) penekanan pertanyaan perubahan yang diinginkan klien (Coping Question), (b) Pengecualian terhadap masalah (Exceptions Question), (c) Skala
permasalahan yang dihadapi (Scalling Question, (d) Miracle Question (Macdonalds, 2007).
Maka dari itu, dalam pengembangan keterampilan mengontrol diri di tengah pergaulan yang sangat bebas saat ini, peserta didik perlu disediakan layanan yang berupa konseling kelompok yang bersifat penyembuhan dan pengobatan terhadap siswa yang sudah terjerumus terhadap permasalahan tersebut. Layanan konseling commit to user
kelompok dengan pendekatan solution focused-brief therapy merupakan salah satu bentuk layanan yang praktis, relatif sederhana, tetapi menstimulus agar peserta didik mampu berpikir dan bertindak ke arah positif dan memahami sisi negatif dengan meminum minuman alkohol yang terdapat di pergaulan remaja saat ini demi terwujudnya lingkungan pergaulan yang lebih baik dan siswa yang lebih produktif.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur pada tanggal 29 November 2019 kepada guru BK di SMK Kristen 1 Surakarta, yakni Ibu Dra. Sri Maryati dan beberapa peserta didik (1 siswa kelas XI MM dan 1 siswi XI Keperawatan) di SMK Kristen 1 Surakarta. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, produk berupa panduan konseling dengan pendekatan solution focused-brief therapy sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kurangnya keterampilan peserta didik dalam mengontrol diri terhadap minuman alkohol. Maka peneliti melakukan penelitian dengan judul Pengembangan Panduan Keterampilan Mengontrol Diri Terhadap Minuman Alkohol Melalui Pendekatan Solution Focused-Brief Therapy Bagi Peserta Didik SMK.
B. Tujuan Penelitian dan Pengembangan
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dirumuskan tujuan penelitian dan pengembangan ini ialah menghasilkan prototipe-2 pendekatan konseling solution focused-brief therapy untuk meningkatkan keterampilan mengontrol diri terhadap minuman alkohol bagi peserta didik SMK yang telah dilakukan uji validitas ahli.
C. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Produk yang dikembangkan dalam penelitian pengembangan ini adalah panduan dan lembar kerja siswa (LKS). Adapun isi dari buku panduan yakni berupa langkah-langkah melakukan konseling kelompok dengan pendekatan SFBT, kurikulum layanan, rencana pelaksanaan layanan dan materi singkat mengenai kontrol diri & konseling SFBT, serta rubrik penilaian siswa dan evaluasi.
Sedangkan untuk lembar kerja siswa (LKS) berisikan materi singkat mengenai kontrol diri dan lembar evaluasi siswa yang akan dijelaskan lebih lanjut pada bab
IV. commit to user
D. Pentingnya Penelitian dan Pengembangan
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan ialah melakukan wawancara tidak terstruktur kepada guru bimbingan dan konseling dan peserta didik di SMK Kristen 1 Surakarta. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, SMK Kristen 1 Surakarta merasa bahwa produk panduan mengembangkan keterampilan mengontrol diri terhadap minuman alkohol melalui pendekatan solution focused- brief therapy merasa sangat penting dan sangat diperlukan bagi sekolah tersebut.
Harapannya melalui pengembangan pendekatan solution focused-brief therapy yang dikemas dalam konseling kelompok ini dapat memberikan pemahaman bagi guru BK dan peserta didik.
E. Asumsi dan Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan 1. Asumsi Penelitian dan Pengembangan
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah panduan pengembangan keterampilan mengontrol diri terhadap minuman alkohol melalui pendekatan konseling solution focused-brief therapy pada peserta didik sekolah menengah kejuruan (SMK), adapun asumsi dari produk pengembangan konseling ini sebagai berikut.
a. Panduan pendekatan konseling solution focused-brief therapy yang dikemas dalam konseling kelompok dapat dijadikan sebagai salah satu layanan bimbingan dan konseling secara praktis sehingga peserta didik dapat mudah memahami layanan yang diberikan.
b. Panduan pendekatan konseling solution focused brief therapy dengan menyisipkan media audio visual berupa video. Sehingga dapat bervariatif dan tidak terlalu monoton bagi peserta didik SMK.
c. Panduan pendekatan konseling solution focused-brief therapy memiliki tujuan yaitu meningkatkan keterampilan mengontrol diri peserta didik dengan fokus terhadap gangguan akibat minuman alkohol dan sanksi atau hukuman yang didapatkan akibat meminum minuman alkohol berdasarkan paraturan pemerintah Indonesia. Peneliti menyesuaikan dengan latar peserta didik dan latar hukum yang berlaku di Indonesia. Sehingga peserta didik
commit to user
dapat mudah memahami dan menerima layanan yang diberikan serta mendapatkan dampak yang positif dari layanan yang diberikan.
2. Keterbatasan Penelitian dan Pengembangan Keterbatasan
Pengembangan pendekatan konseling solution focused-brief therapy yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mengontrol diri terhadap minuman alkohol dalam menunjang pelayanan bimbingan dan konseling sebagai berikut.
a. Pengembangan produk dilakukan hanya sampai pada tahap pembuatan prototipe-2 yang telah diuji ahli sehingga masih memerlukan tahap uji kepraktisan dan uji keefektifan.
b. Produk yang dihasilkan dirancang untuk jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
F. Definisi Konseptual dan Definisi Operasional 1. Definisi Konseptual
a. Kontrol Diri
Kontrol diri merupakan suatu kemampuan seseorang dalam membimbing, mengatur, dan mengarahkan perilakunya menuju hal yang positif. (Golfred dan Merbaum, 1990). Menurut Goleman (2005:131) menyatakan bahwa kontrol diri ialah keterampilan yang dimiliki oleh individu untuk mengendalikan diri dari segala emosi yang terdapat disekitarnya. Kontrol diri memiliki 3 aspek yaitu kontrol perilaku, kontrol kognitif, dan kontrol dalam mengambil keputusan.
b. Solution Focused-Brief Therapy
Solution Focused Brief Therapy (SFBT) merupakan salah satu pendekatan
konseling dan psikoterapi postmodern. Erford (2015) menyatakan bahwa SFBT dapat dijelaskan sebagai suatu modal sosial-konstrukvis yang berdasarkan pada respon klien dalam menarik makna personal dari pengalaman-pengalaman kehidupannya.
Tahap-tahap dalam melakukan konseling dengan pendekatan Solution- Focused Brief Therapy (SFBT) menurut Seligman (dalam Mulawarman, 2014:70) ialah sebagai berikut: (1) Establishing relationship (membina hubungan baik); (2) Identifying a solvable complaint (mengidentifikasi commit to user
permasalahan yang dapat ditemukan solusinya); (3) Establishing goals (menetapkan tujuan);(4) Designing and Implementing Intervention (merancang dan menetapkan intervensi);(5) Termination, evaluation and follow-up (pengakhiran, evaluasi, dan tindak lanjut).
2. Definisi Operasional
Panduan peningkatan keterampilan mengontrol diri terhadap minuman alkohol melalui pendekatan konseling solution focused group therapy pada peserta didik SMK merupakan produk yang disusun dengan tujuan agar guru BK mampu memberikan layanan konseling dengan menggunakan pendekatan solution focused brief therapy terhadap peserta didik yang memiliki masalah
dalam kurangnya self control terhadap minuman alkohol. Melalui penggunaan panduan ini, diharapkan agar guru BK mampu memberikan layanan konseling dengan menggunakan pendekatan SFBT secara maksimal dan dapat membantu peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Panduan yang dibuat disertai dengan LKS agar dapat mempermudah guru BK dalam mengevaluasi perkembangan peserta didik setelah mendapatkan layanan yang diberikan.
commit to user