• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENDAPATAN DAN DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN MUNA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PENDAPATAN DAN DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN MUNA"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENDAPATAN DAN DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN MUNA

(Analysis of Revenue and Business Power Beef Cattle in Muna Regency) Safri Lasahudu1), Ayub M. Padangaran2), La Ode Nafiu2)

1) Program Studi Magister Agribisnis Universitas Haluoleo

2)Pascasarjana Universitas Haluoleo Naskah diterima: 24 Desember 2016

Naskah direvisi: 11 Maret 2017 Disetujui diterbitkan: 24 Maret 2017

Abstract: The study was conducted in Tongkuno District aimed at knowing livestock business income, and analyzing the competitiveness of beef cattle business. Data came from 78 respondents interviewed using a questionnaire. The variables observed included aspects of production: seeds / feeders, feed, cages, labor, agricultural feed, equipment and medicines; and aspects of income were livestock sales.

Data were analyzed using income analysis and Polycy Analysis Matrix (PAM) to analyze competitiveness. The results showed that farmers' income was Rp. 2,319,102,935 with an average income per year is Rp. 5,946,418, and this activity is feasible to be developed with an R/C ratio = 1.6.

The analysis shows that the competitiveness of beef cattle farms in competentive Tongkuno District competes with a PCR value of 0.6 and has comparative competitiveness with a DRC value of 0.8.

Keywords: income analysis, beef cattle, competetive, comparative.

Intisari: Studi dilakukan di Kecamatan Tongkuno bertujuan mengetahui pendapatan usaha ternak, dan menganalisis daya saing usaha sapi potong. Data berasal dari 78 responden yang diwawancarai menggunakan kuesioner. Variabel yang diamati meliputi aspek produksi: benih/pengumpan, pakan, kandang, tenaga kerja, pakan pertanian, peralatan dan obat-obatan; dan aspek pendapatan adalah penjualan ternak. Data dianalisis dengan menggunakan analisis pendapatan dan Polycy Analysis Matrix (PAM) untuk menganalisis daya saing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan peternak sebesar Rp. 2.319.102.935 dengan penghasilan rata-rata per tahun adalah Rp. 5,946,418, dan kegiatan ini layak untuk dikembangkan dengan nilai R/C rasio = 1,6. Analisis menunjukkan bahwa daya saing peternakan sapi potong di Kabupaten Tongkuno kompetetif bersaing dengan nilai PCR 0,6 dan memiliki daya saing komparatif dengan nilai DRC 0,8.

Kata Kunci : analisis pendapatan, sapi potong, daya saing, komparatif.

I. PENDAHULUAN

Pembangunan peternakan diarahkan untuk meningkatkan mutu hasil produksi, meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan kerja serta memberikan kesempatan berusaha bagi masyarakat di pedesaan. Peternakan yang tangguh memerlukan kerja keras, keuletan dan kemauan yang kuat dari peternak itu sendiri agar mencapai tujuan yang diinginkan. Keberhasilan yang ingin dicapai akan memacu motivasi peternak untuk terus berusaha memelihara ternak sapi secara terus menerus dan bahkan bisa menjadi mata pencaharian utama. Usaha ternak sapi potong dapat dikatakan berhasil bila telah memberikan kontribusi pendapatan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup peternak sehari-hari, hal ini dapat dilihat dari berkembangnya jumlah kepemilikan ternak, pertumbuhan berat badan ternak dan tambahan pendapatan keluarga.

(2)

Pada peternakan sapi potong rakyat, sebagian usaha tersebut berada pada kondisi yang serba terbatas dengan skala usaha yang relatif kecil. Walaupun demikian kedudukan ekonomi usaha ternak sapi potong ini bagi petani besar artinya, sebab kehadiran usaha ternak selain dapat memanfaatkan tenaga kerja keluarga dan limbah usaha tani, serta kotoran sapi sebagai pupuk kandang yang utama adalah mendapatkan uang tunai harian. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan pendapatan peternak, usaha ini cukup memadai untuk dikembangkan.

Mengingat peternakan sapi potong termasuk usaha dengan penanaman modal yang tinggi, bila dibandingkan dengan kebanyakan usaha lain. Hal ini menuntut penggunaan yang maksimum ingin dicapai. Produksi daging sapi tahunan yang tinggi merupakan hasil dari perhatian yang dicurahkan setiap hari terhadap segala hal yang berhubungan dengan breeding, feebding, dan management. Bila secara praktis teknik tersebut diterapkan pada suatu kelompok dalam jumlah yang cukup, hasilnya merupakan pendapatan yang memuaskan. Pembangunan di subsektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian. Selain itu, industri peternakan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan peternak, dari yang berskala kecil menjadi skala besar dan berorientasi produksi primer menjadi yang bernilai tambah. Sektor peternakan di Indonesia pada umumnya berbasis pada peternakan rakyat skala kecil dan sambilan, namun jumlah rumah tangga peternak cukup banyak maka total produksinya dapat berperan secara nasional. Oleh karena itu sudah selayaknya apabila dalam pembinaaan peternakan rakyat layak diberikan hak hidup dan diberdayakan semaksimal mungkin (Utoyo, 2001).

Kondisi peternakan rakyat pada saat ini cukup memperihatinkan karena tidak memiliki daya saing.

Ini disebabkan ternakan sehingga produktivitas dari peternakan rakyat ini masih rendah. Rendahnya produktivitas menyebabkan pendapatan yang diperoleh peternak dari kegiatan peternakan ini belum mampu untuk meningkatkan keadaan sosial ekonomi mereka. Sebagai salah satu faktor produksi, tenaga kerja manusia memegang pran yang sangat vital dalam proses produksi, termasuk dalam sektor pertanian. Hal ini dapat dimengerti karena berapapun besarnya alokasi faktor produksi yang lainnya tak akan berarti apa-apa tanpa adanya dukungan tenaga kerja manusia secara penuh. Namun keterbatasan lapangan pekerjaan dan rendahnya keterampilan menyebabkan tenaga kerja di Indonesia sangat tidak terbatas jika dibandingkan faktor produksi yang lain (Mubyarto, 1984). Salah satu sektor yang banyak menyerapkan tenaga kerja manusia adalah sektor pertanian yang didalamnya termasuk sektor peternakan karena dalam proses produksi banyak menggunakan tenaga kerja manusia sehingga bisa mengurangi pengangguran di daerah sekitar peternakan.

Peternakan sapi potong sebagai salah satu peternakan yang sebagian besar dilakukan peternak rakyat dengan sekala kecil juga tidak terlepas dari permasalahan di atas. Rendahnya pengetahuan sebagian peternak tentang usaha ternak sapi potong menyebabkan rendahnya produktivitas dan efisiensi peternakan yang diusahakan. Keadaan ini tidak hanya menyebabkan rendahnya pendapatan peternak tetapi secara umum akan menyebabkan rendahnya produksi dagiang sapi secara nasional.

Kabupaten Muna merupakan salah satu daerah penghasil ternak sapi potong di Sulawesi Tenggara, sehingga sebagai salah satu sentra pengembangan sapi potong. Berdasarkan data BPS Sulawesi Tenggara (2014), populasi ternak sapi di Kabupaten Muna menempati urutan kedua terbesar di Sulawesi Tenggara setelah Kabupaten Konawe Selatan dengan jumlah populasi 53.203.

Objek yang menjadi penelitian adalah Usaha ternak sapi potong di Kecamatan Tongkuno yang mana belum dikelola secara optimal karena peternak masih dihadapkan pada keterbatasan pengetahuan pengelolaan biaya produksi. Dengan demikian, studi bertujuan untuk mengetahui pendapatan usaha ternak, dan menganalisis daya saing usaha sapi potong.

II. METODE STUDI

Studi dilakukan di wilayah Kabupaten Muna. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) sampling pada satu Kecamatan Tongkuno. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan

(3)

Januari sampai Februari 2014. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: studi pustaka, observasi, dan wawancara. Sumber data yang digunakan adalah: data primer, dan data sekunder.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peternak sapi potong di Kecamatan Tongkuno yang berjumlah 555 peternak. Dari populasi tersebut diambil sampel sebanyak 78 responden yang ditentukan secara proposional. Hal ini sejalan dengan pendapat Guildford (1979) dalam Muhammad Nur (2011) yang menyatakan bahwa jika jumlah populasi relatif lebih besar dan relative homogen, maka sampel meliputi sejumlah elemen/responden yang lebih besar dari persyaratan yakni 30 responden. Responden dipilih dengan mengunakan metode random sampling.

Analisis pendapatan yang digunakan menurut Soekartawi (1986) adalah : π = TR – TC

keterangan : π = Pendapatan, TC = Total Cost, TR = Total Penerimaan

Untuk menganalisis daya saing usaha ternak sapi potong potong digunakan metode Polycy Analisis Matrix (PAM), menurut Person dkk. (2005) dengan proses sebagaimana pada Tabel 1.

Tabel 1. Cara Perhitungan Keuntungan Privat dan Ekonomis dengan Metode PAM

Deskripsi Penerimaan Biaya input tradable Biaya input non tradable Keuntungan

Harga privat A B C D

Harga sosial E F G H

Transfer I J K L

Sumber: Monke dan Pearson (1989)

Berdasarkan Tabel 1, selanjutnya dapat dianalisis dengan berbagai indikator: analisis keunggulan kompetetif dan analisis keunggulan komparatif

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendapatan Usaha Ternak

Biaya merupakan sejumlah uang yang dinyatakan dari sumber-sumber (ekonomi) yang dikorbankan untuk mencapai tujuan tertentu. Daniel (2001) menyatakan bahwa biaya produksi adalah sebagai kompensasi yang diterima oleh para pemilik faktor-faktor produksi atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani/peternak dalam proses produksi baik secara tunai maupun tidak tunai.

Besarnya biaya penyusutan sebagai biaya tetap yang dikeluarkan oleh peternak sapi potong dalam satu tahun dapat di lihat pada pada Tabel 2.

Tabel 2. Biaya Penyusutan yang Digunakan dalam Usahatani Ternak Sapi Potong di Kecamatan Tongkuno

Biaya Tetap Jumlah (Rp)

Penyusutan Tali Ternak 36.045.500

Penyusutan Jergen 6.700.000

Penyusutan Kandang 268.846.155

Penyusutan Parang 4.054.545

Penyusatan Tempat Air Minum 3.323.530

Penyusutan Tempat Pakan 3.533.335

Pajak Penjualan Ternak 55.300.000

Pemeliharaan Kebun Pakan 140.400.000

Jumlah 518.203.065

Rata-rata 6.643.629

(4)

Tabel 2 terlihat bahwa rata-rata penyusutan biaya tetap dalam usaha peternakan sapi potong di Kecamatan Tongkuno bervariasi sesuai dengan nilai penyusutan masing-masing unsur biaya. Nilai penyusutan paling besar adalah penyusutan kandang, kemudian pemeliharaan kandang, dan yang terkecil adalah nilai penyusutan tempat air minum.

Biaya variabel atau disebut dengan biaya tidak tetap biasa didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan atau ditanggung oleh peternak selama masa produksi yang besar kecilnya dipengaruhi oleh skala atau jumlah produksi. Artinya bahwa semakin tinggi skala produksi maka akan semakin meningkat pula biaya variabel yang harus ditanggung oleh peternak selama masa produksi berlangsung. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel (2002). Besarnya biaya variabel yang dikeluarkan oleh peternak sapi potong selama satu tahun dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Biaya Variabel yang Digunakan dalam Usaha Ternak Sapi Potong di Kecamatan Tongkuno

Jenis Biaya Jumlah (Rp)

Obat-Obatan 270.754.000

Upah tenaga Kerja 3.032.640.000

Jumlah 3.303.394.000

Rata-rata 42.351.205

Penerimaan usaha peternakan sapi potong yang diperoleh dari penjumlahan antara jumlah sapi yang telah dijual, jumlah ternak sapi yang di konsumsi dan jumlah ternak sapi yang masih ada dijumlahkan dengan harga jual. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soekartawi (1995) yang menyatakan bahwa penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Total penerimaan yang diperoleh peternak dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Penerimaan yang Diperoleh dalam Usahatani Ternak Sapi Potong di Kecamatan Tongkuno

Jenis Penerimaan Jumlah (Rp)

Penjualan Sapi 6.140.700.000

Rata-rata Penerimaan 78.726.923

Pendapatan atau keuntungan merupakan tujuan setiap jenis usaha. Keuntungan dapat dicapai jika jumlah penerimaan yang diperoleh dari hasil usaha lebih besar daripada jumlah pengeluarannya.

Semaking tinggi selisih tersebut, semaking meningkat keuntungan yang dapat diperoleh. Bisa diartikan pula bahwa secara ekonomi usaha tersebut layak dipertahankan atau dilanjutkan. Jika situasinya terbalik, usaha tersebut mengalami kerugian dan secara ekonomis sudah tidak layak dilanjutkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekartawi (2002), yang menyatakan bahwa pendapatan (keuntungan) adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya.

Tabel. 5. Pendapatan dalam Usaha Ternak Sapi Potong di Kecamatan Tongkuno

No Uraian Jumlah (Rp)

(1) (2) (3)

1 Penerimaan

Penjualan Sapi 6.140.700.000

Total Penerimaan 6.140.700.000

Rata-rata penerimaan 78.726.923

Rata-rata penerimaan/tahun 15.745.385

Rata-rata penerimaan/bulan 1.312.115

2 Biaya Operasional

Obat-Obatan 270.754.000

Upah tenaga Kerja 3.032.640.000

Jumlah 3.303.394.000

(5)

(1) (2) (3) 3 Biaya Tetap

Penyusutan Tali Ternak 36.045.500

Penyusutan Jergen 6.700.000

Penyusutan Kandang 268.846.155

Penyusutan Parang 4.054.545

Penyusatan Tempat Air Minum 3.323.530

Penyusutan Tempat Pakan 3.533.335

Pajak Penjualan Ternak 55.300.000

Pemeliharaan Kebun Pakan 140.400.000

Jumlah 518.203.065

4 Total Biaya (2+3) 3.821.597.065

5 Pendapatan (1-4) 2.319.102.935

6 Rata-rata Pendapatan Peternak 29.732.089

7 Rata-rata pendapatan /tahun 5.946.418

8 Rata-rata pendapatan /bulan 495.535

9 R/C ratio 1,6

Analisis Daya Saing

Daya saing usaha ternak sapi potong diukur menggunakan Metode Policy Analysis Matrix (PAM) melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif. Daya saing usaha ternak sapi potong dilakukan dengan melihat hasil perhitungan Tabel 1. Nilai privat adalah nilai atau harga yang berlaku di Kecamatan Tongkuno pada saat studi. Data mengenai jumlah serta nilai privat untuk input dan output yang digunakan dalam usaha ternak sapi potong dapat disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah dan Nilai Privat Tradabel Input, Non Tradable Input dan 0utput Usaha Ternak Sapi Potong

Uraian Jenis Input Jumlah (Rp)

Tradable Input Obat-Obatan 270.754.000

Penyusutan Tali Ternak 36.045.500

Penyusutan Jergen 6.700.000

Jumlah 313.499.500

Non Tradable Input

Penyusutan Kandang 268.846.155

Penyusutan Parang 4.054.545

Pajak Penjualan Ternak 55.300.000

Penyusatan Tempat Air Minum 3.323.530

Penyusutan Tempat Pakan 3.533.335

Upah Tenaga Kerja 3.032.640.000

Pemeliharaan Kebun Pakan 140.400.000

Jumlah 3.508.097.565

Biaya Total 3.821.597.065

Penerimaan 6.140.700.000

Ppendapatan 2.723.093.269

(6)

Nilai ekonomis adalah nilai yang dihitung berdasarkan harga yang berlaku di daerah perbatasan negara Indonesia dengan Negara lain yang menjadi tujuan ekspor atau impor (border price). Untuk menentukan nilai ekonomis dari modal yang digunakan sebagai penyusutan digunakan umur ekonomis setiap alat yang digunakan. Berdasarkan data harga batas serta harga ekonomis, maka nilai dari tradable input dan non tradable input adalah seperti Tabel 7.

Tabel 7. Jumlah dan Nilai Ekonomis radabel input, Non Tradable Input dan Output Usaha Ternak Sapi Potong di Kecamatan Tongkuno

Uraian Jenis Input Jumlah (Rp)

Tradable input

Obat-Obatan 233.348.500

Penyusutan Tali Ternak 30.847.917

Penyusutan Jergen 5.360.000

Jumlah 269.556.417

Non Tradable

input

Penyusutan Kandang 268.846.155

Penyusutan Parang 4.054.545

Penyusatan Tempat Air Minum 3.323.530

Penyusutan Tempat Pakan 3.533.335

Upah Tenaga Kerja 1.516.320.000

Pemeliharaan Kebun Pakan 140.400.000

Jumlah 1.936.477.565

Biaya Total 2.206.033.982

Penerimaan 6.379.500.000

Pendapatan 4.173.466.018

Jika nilai-nilai privat dan nilai ekonomis yang dihitung pada Tabel 6 dan 7 dimasukan kedalam tabel transfer maka hasilnya adalah seperti Tabel 8.

Tabel 8. Perhitungan Nilai Transfer antara Nilai Privat dan Nilai Ekonomis Usaha Ternak Sapi Potong di Kecamatan Tongkuno

Uraian Penerimaan

(Rp)

Biaya Input Tradable (Rp)

Biaya Input Non Tradable (Rp)

Keuntungan (Rp) Harga Privat 6.140.700.000 313.499.500 3.508.097.565 2.319.102.935 Harga Ekonomis 6.379.500.000 269.556.417 1.936.477.565 4.173.466.018 Transfer -238.800.000 43.943.083 1.571.620.000 -1.854.363.083

Ukuran yang biasa digunakan untuk melihat keunnggulan kompetitif dan komparatif adalah Privat Cost Ratio (PCR) dan Domestic Resources Cost Ratio (DRC). Efisiensi finansial dan Keunggulan kompetitif suatu komoditas ditentukan oleh nilai keuntungan privat dan nilai Privat Cost Ratio (PCR)

C 3.508.097.565

PCR = --- = --- = 0,6 (A-B) (6.140.700.000 - 313.499.500 )

G 1.936.477.565

DRC = --- = --- = 0,8 (E-F) (6.379.500.000 - 269.556.417)

(7)

Keunggulan Kompetitif

Indikator keunggulan kompetitif adalah Private Cost Ratio (PCR) yang mencerminkan berapa banyak sistem usaha penggemukan dapat membayar input faktor domestik (sewa lahan, upah tenaga kerja dan bunga modal) dan tetap dalam kondisi kompetitif. Usaha ternak sapi potong memiliki nilai PCR < 1, yang bermakna memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage). Usaha ternak sapi potong memiliki nilai PCR sebesar 0,6. Nilai tersebut menunjukkan bahwa untuk mendapatkan 1 unit nilai tambah usaha ternak sapi potong diperlukan tambahan biaya input faktor domestik sebesar 0,6 unit dalam nilai privat, hal ini menunjukan bahwa usaha ternak sapi potong memiliki daya saing kompetetif.

Keunggulan Komparatif

Dalam proses produksi sebagian usaha menggunakan sumberdaya dalam negeri dan sebagian lagi tetap menggunakan bahan dari luar negeri. Apakah penggunaan sumberdaya domestik tersebut menguntungkan atau tidak, dapat dianalisis dengan Domestic Resource Cost (DRC). DRC merupakan rasio antara biaya input faktor domestik dengan nilai tambah output dari biaya input tradable yang dinilai pada harga sosial. Nilai DRC merupakan indikator kemampuan usaha ternak sapi potong untuk membiayai biaya input faktor domestiknya pada harga sosial atau dikenal sebagai indikator keunggulan komparatif. Usaha ternak sapi potong memiliki nilai DRC < 1, yang bermakna bahwa komoditas memiliki keunggulan komparatif, semakin efisien dan mampu hidup tanpa bantuan atau intervensi pemerintah serta mempunyai peluang untuk ekspor. Nilai koefisien DRC pada usaha ternak sapi potong sebesar 0,8. Nilai DRC tersebut mempunyai arti bahwa untuk . Nilai tersebut menunjukkan bahwa untuk mendapatkan 1 unit nilai tambah usaha ternak sapi potong diperlukan tambahan biaya input faktor luar sebesar 0,8 unit dalam nilai ekonomis, hal ini menunjukan bahwa usaha ternak sapi potong memiliki daya saing komperatif.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang diuaraikan pada hasil dan pembahasan, maka kesimpulan yang ditarik adalah: pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha ternak sapi potong di Kecamatan Tongkuno menguntungkan dengan nila R/C ratio sebesar 1,6; Secara daya saing menunjukan bahwa usaha pembibitan sapi potong di Kabupaten Muna memiliki daya saing kompetetif dengan nilai Privat Cost Ratio (PCR) sebesar 0,6 dan memiliki daya saing komperatif dengan nilai Domestic Resourscer Cost (DRC) sebesar 0,8.

DAFTAR PUSTAKA

Alex F. dan Nitisemito, 1982. Pembelajaan Perusahaan. Gahlia Indonesia, Jakarta

Astuti, M., 1999. Pemuliaan Ternak, Pengembangan dan Usaha Perbaikan Genetik Ternak Lokal.

Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Pemuliaan Ternak pada Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Astuti, M., W. Hardjosubroto dan S. Lebdosoekajo. 1983. Analisis Jarak Beranak Sapi Potong di Kecamatan Cangkringan DIY. Proceeding Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan BP3. Departemen Pertanian, Bogor.

Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutahir dalam Makanan Ternak. PT. Gramedia. Jakarta.

Arikunto, S., 2006. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktik. Edisis Revisi VI. Jakarta: PT.

Rineka Cipta.

(8)

Bamualim, A., R.B. Windahayati.1990 . Status dan peranan sapi lokal pesisir di Sumatra Barat.

Prosiding. Eminar Sistem Kelembagaan Usaha Tani Tanaman-Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Bamualim, A., R.B. Windahayati, 2003. Status dan Peranan Sapi Lokal Pesisir di Sumatra Barat.

Prosiding. Seminar Sistem Kelembagaan Usaha tani Tanaman-Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Bamualim, A., R.B. 2008. Arah penelitian pengembangan sapi potong di Indonesia.

Badan Pusat Statistik, 2014. Kabupaten Muna Dalam Angka. Sulawesi Tenggara.

Dalton, C. 1987. An Introduction to Practical Animal Breeding. English Language Book Society, Longman.

Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian Untuk Perencanaan. Univesrsitas Indonesia Press, Jakarta.

Delgado. C.1999. The Next Food Revoutiion. Food Agriculture and Environment Discussion. Paper 28.

International Food Policy Research Institution.

Dinas Pertanian Kabupaten Muna., 2009. Muna Dalam Anggka. Kabupaten Muna. Sulawesi Tenggara.

Downey, W.D. dan Steven Erickson., 1989. Manajemen Agribisnis. Erlangga. Jakarta.

Fakultas Peternakan UGM dengan Dinas Pertanian Propinsi DIY, 2003. Kajian/Analisis dan Evaluasi Bantuang Langsung Masyarakat (BLM) Agribisnis Sapi Potong. Yogyakarta.

Gray, C.,2007. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Kedua, Cetakan Kedua, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gittinger. J. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-proyek Pertanian. Edisi Kedua.Diterjemahkan oleh Sutomo dan Mangiri. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Hardjosubroto, W., 1994. Breed evaluation of large ruminants in Indonesia. In: Evaluation of large ruminants for the tropics. Aciar Proceedings Series, No. 5: 74-81.

Husnan S. Muhammad P. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Edisi Keempat. UPP AMP YKPN.

Yogyakarta.

Husnan, S. dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek. UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Ibrahim, H.M., 2003. Studi Kelayakan Bisnis, Edisi Revisi. Penerbit Rineka Cipta.

Jakarta.

Kadariah, Karlina L., Gray.,1999. Pengantar Evaluasi Proyek Edisi Revisi. Kerjasama Program Perencanaan Nasional Lembaga Penyelidikan Ekonomi Dan Masyarakat FEUI Dengan Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Kartosapoetra, A.G. 1998. Kerusakan Tanah Pertanian dan Usaha untuk Merehabilitasinya. Bina Aksara. Jakarta.

Keman , S., 1986. Keterkaitan Produktivitas Ternak dengan Iklim, Masalah dan Tantangan. Pidato Pengukuhan Guru Besar, Pada Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mata, Yogyakarta.

Nur, D. 2005. Geologi Lingkungan. Graha Ilmu. Jakarta.

Malelak, Z., 2000. Analisis kelayak Usaha Sapi Potong Skala rumahtangga di Kabupaten Kupang, Tesis S2. MEP – UGM, Tidak Dipublikasikan.

Mudrajad. K. 2005. Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif. Erlangga, Jakarta.

Zani, M. 2011. Analisis Keuntungan dan Efisiensi Pemasaran Kacang Mete di Provinsi Sulawesi Tenggara. Tesis. Tidak Dipublikasikan. Pascasarjana Unhalu Kendari.

Nur, M. 2011. Analisis Finansial dan Ekonomi Rehabilitasi Tanaman Kakao di Sulawesi Tenggara.

Tesis tidak Dipublikasikan. Pascasarjana Unhalu Kendari.

Mosher, A.T., 1987. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Syarat-Syarat Pokok Pembangunan dan Modernisasi.

Monke, EA., Perason. 1989. The Polycy Analysis Matrix for Agriculture Development. Itacha and London: Cornell University Press.

Novianti, T. 2003. Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Komoditas Unggulan Sayuran [tesis]. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

(9)

Padangaran,A.M., (2011). Manajeman Proyek Pengembangan Masyarakat.: Unhalu Press.

Pane, I., 1994. Produktivitas dan breeding sapi potong.Pros. Seminar Nasional Sapi potong. 2 – 3 September 1991. Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin, Ujung Pandang.

Pearson. S.. C. Goscth.. S. Bahri 2005. Aplikasi Policy Analysis Matrix Pada Pertanian Indonesia.

Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Usaha Peternakan Ayam Pedaging, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Salvator, D., 1997. Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. Erlangga, Jakarta.

Saragih, B., 1998. Agribisnis Paradigma baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. CV.

Nasional, Jakarta.

Syafaat. 2003. Konsep pengembangan Wilayah berbasis Agribisnis dalam rangka Pemberdayaan Petani. Forum Penelitian Agro-Ekonomi, 21 (1): 26-43.

Siregar, M. 2010. Upaya peningkatan efesiensi usaha ternak ditinjau dari aspek agribisnis yang berdaya saing. Forum Penelitian Agro-Ekonomi 21 (1) 44-56.

Siregar, M. 2010. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Simatupang dan Novianti, 2003. Dukungan Kebijakan Dalam Pengembangan Agribisnis Peternakan Memasuki Perdagangan Bebas. Makalah Sapi Potong.

Simatupang dan Hestina , 2004. Dukungan Kebijakan Dalam Pengembangan Agribisnis Peternakan Memasuki Perdagangan Bebas. Makalah. Bali.

Siregar, B.S., dan Hartono., 2000. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Siregar, M., dan Ilham, 2003. Upaya Peningkatan Efesiensi Usaha Ternak Ditinjau Dari Aspek Agribisnis Yang Berdaya Saing. Forum Penelitian Agro-Ekonomi, 21 (1) 44-56.

Sudaryanto, T., dan P, Simatupang, 1993. Arahan Pengembanagan Agribisnis : Suatu Catatan Kerangka Analisis dalam Prosiding Perspektif Pengembangan Agribisnis di Indonesia. Pusat penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.

Sucipto, A. 2010. Studi Kelayakan Bisnis. Analisis Integratif dan Studi Kasus. UIN. Maliki press.

Malang.

Suryana, A., 1980. Keuntungan komparatif dalam produksi ubikayu dan jagung di jawa timur dan lampung dengan analisa penghematan biaya sumberdaya domestik (BSD). Tesis Magister Sains, Fakultas Pasca Sarjana, Intitut Pertanian Bogor, Bogor.

Sugeng, 2002. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suryana, A., 2007. Keuntungan Komparatif dalam Produksi Ubi Kayu dan Jagung di Jawa Timur dan Lampung dengan Analisa Penghematan Biaya Sumber Daya Domestik. Tesis. Sekolah Pascasarjana, IPB, Bogor

Sukirno, (2009). Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Edisi Kedua. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada.

Jakarta.

Soekardono, 2009. Ekonomi Agribisnis Peternakan. CV. Akademika Persindo. Jakarta.

Soeharjo dan Patong. 1984. Sendi-sendi Pokok Usaha Tani. Departemen Pertanian, Bogor Swastha dan Sukotjo. 1997. Pengantar Bisnis Modern. Penerbit Liberty. Yogyakarta .Tohir, 1991. Seuntai Pengetahuan Usaha Tani Indonesia, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Hamanay, J.,2002. Perbandingan Pendapatan dari Dua Pola pemeliharaan Sapi di Kabupaten Kupang, Tesis S2. Program Pasca sarjana UGM. Tidak Dipublikasikan.

Yakub, L.M., 2004. Analisis Finansial Usaha Ternak Sapi Rakyat Lokal di Kabupaten Muna. Tesis S2, Program Pasca Sarjana UGM, Tidak Dipublikasikan.

Wahyuni. 2006. Strategi Memotivasi Profesionalisme Peternak Sapi Potong Rakyat : Analisis Peran dan Agen Rantai Pasok. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.

Williamson, G. dan W. J. A. Payne, 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Universitas Gajah Mada-Press, Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh pengaktifan zeolit, yaitu dapat memurnikan zeolit dari komponen pengotor, menghilangkan jenis kation logam tertentu dan molekul air yang terdapat dalam rongga,

A tárgyalások következő fordulójára augusztus 10-én került sor. Erre készülvén mindkét országos képviselet feljegyzést állított össze

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis dengan judul

Bouman, Sosiologi Fundamental, diterjemahkan oleh: Ratmoko, (Jakarta: Djambatan, 1982), hlm.. lembaga pesantren tidak akan luput dari perubahan-perubahan baik struktur

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan Hidayah-Nya kepada Peneliti, sehingga penelitian yang berjudul: Problematika

Merancang sistem pengereman hidrolik yang sesuai dengan kendaraan bermotor roda tiga untuk penyandang disabilitas tidak hanya pembagian selang hidrolik ke rem cakram secara merata

Materi yang disampaikan dalam proses bimbingan dan konseling Islam di padepokan Anggur Ijo Ngalian Semarang yaitu menyesuaikan permasalahan yang dihadapi di hadapi

Fuzzy Neural Network atau Jaringan Syaraf Kabur atau sistem neuro- fuzzy adalah mesin belajar yang menemukan parameter sistem kabur (yaitu, himpunan fuzzy, aturan fuzzy)