• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR KEPALA BAPPEDA KOTA BANDA ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR KEPALA BAPPEDA KOTA BANDA ACEH"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH i KATA PENGANTAR

KEPALA BAPPEDA KOTA BANDA ACEH

Pelayanan publik yang berkualitas merupakan dambaan warga kota yang harus dipenuhi oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Dengan diterapkannya Otonomi Daerah, semakin mendorong Pemerintah Kota Banda Aceh untuk terus berupaya melayani warga kota secara cepat, efektif, dan efisien. Pemerintah Kota Banda Aceh memiliki komitmen kuat memberikan pelayanan berkualitas dan terbaik bagi warga kota. Dengan menyediakan pelayanan publik berkualitas secara berkelanjutan akan berimplikasi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan warga kota.

Laporan Evaluasi Indeks/Tingkat Kepuasan Masyarakat (TKM) terhadap Pelayanan Pemerintah Kota Banda Aceh dilaksanakan dalam rangka menyahuti amanat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No : KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Lebih lanjut, laporan evaluasi ini memuat tingkat kepuasan masyarakat terhadap beberapa pelayanan instansi Pemerintah Kota Banda Aceh, terutama Puskesmas Meuraxa, Puskesmas Banda Raya, Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (KPPTSP), dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy. Informasi awal dari evaluasi ini diharapkan menjadi pertimbangan untuk terus membenahi dan memperbaiki unsur pelayanan yang belum memuaskan warga kota. Disisi lainnya, unsur pelayanan yang telah memuaskan warga kota agar tetap dipertahankan dan terus memberikan pelayanan berkualitas di masa mendatang.

Rampungnya laporan ini tidak terlepas dari dukungan dan kontribusi positif dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih dihaturkan kepada jajaran Dinas Kesehatan, Puskesmas Meuraxa, Puskesmas Banda Raya, KPPTSP, dan PDAM Tirta Daroy.

Kepada Tim Ahli/Peneliti dari Unit Kajian Pelatihan dan Perencanaan Pembangunan Regional (UP3R) Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, juga dihaturkan terima kasih. Semoga hasil kegiatan evaluasi ini bermanfaat dalam mendorong pelayanan publik berkualitas serta memuaskan warga kota di masa mendatang.

[ [[[ [

Banda Aceh, Agustus 2012 KEPALA BAPPEDA KOTA BANDA ACEH,

Ir. BAHAGIA, Dipl.SE Pembina Utama Muda NIP. 19611218 198909 1 001

(2)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH ii DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR KEPALA BAPPEDA KOTA BANDA ACEH ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... I-1 1.1 Latar Belakang Masalah ... I-1 1.2 Dasar Hukum ... I-3 1.3 Tujuan Studi ... I-3 1.4 Sasaran Studi ... I-3 1.5 Output (keluaran) ... I-4 1.4 Manfaat Studi ... I-5

BAB II KERANGKA KONSEPTUAL ... II-1 2.1 Pelayanan Publik ... II-1 2.2 Prinsip-Prinsip Pelayanan Publik ... II-3 2.3 Peningkatan Kualitas Pelayanan ... II-4 2.4 Indeks Kepuasaan Masyarakat ... II-5

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... III-1 2.1 Lokasi Studi ... III-1 2.2 Teknik Pengumpulan Data dan Responden ... III-1 2.3 metode Analisis Data ... III-2

BAB IV KONDISI UMUM KOTA BANDA ACEH ... IV-1 4.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah... IV-1 4.2 Pemerintahan ... IV-3 4.3 Demografi dan Ketenagakerjaan ... IV-5 4.3.1 Perkembangan dan Kepadatan Penduduk ... IV-5 4.3.2 Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... IV-8 4.3.3 Penduduk Menurut Kelompok Umur ... IV-10 4.3.4 Ketenagakerjaan ... IV-12 4.4 Kondisi Ekonomi Kota ... IV-13 4.4.1 Perkembangan PDRB... IV-13 4.4.2 Struktur Ekonomi Kota ... IV-15 4.4.3 Pertumbuhan Ekonomi ... IV-16 4.4.4 Pendapatan Per Kapita ... IV-19

(3)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH iii

4.5 Fasilitas Publik ... IV-20 4.5.1 Kesehatan ... IV-20 4.5.2 Pendidikan ... IV-22 4.5.3 Transportasi Darat dan Laut ... IV-22 4.5.4 Telekomunikasi dan Informasi ... IV-24

BAB V ANALISIS INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT

KOTA BANDA ACEH ... V-1 5.1 Karakteristik Responden ... V-1 5.2 Puskesmas Meuraxa ... V-7 5.3 Puskesmas Banda Raya ... V-11 5.4 PDAM Tirta Daroy ... V-14 5.5 KPPTSP Kota Banda Aceh ... V-18 5.6 Unit Pelayanan Puskesmas (Meuraxa dan Banda Raya) ... V-21 5.7 Perbandingan Antarunit Pelayanan... V-22

BAB VI PENUTUP ... VI-1 6.1 Kesimpulan ... VI-1 6.2 Rekomendasi ... VI-2

DAFTAR PUSTAKA

(4)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH iv DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Jumlah Responden Sasaran Studi

III-2 Tabel 3.2 Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu

Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan III-4

Tabel 4.1 Jumlah Gampong dan Mukim di Kota Banda Aceh Menurut

Kecamatan Tahun 2011 IV-3

Tabel 4.2 Jumlah PNS menurut Golongan dan Jenis Kelamin di Kota Banda Aceh, Tahun 2011 (orang)

IV-5

Tabel 4.3 Banyaknya Jumlah Penduduk dan Kepadatan penduduk Menurut Kecamatan di Kota Banda Aceh Tahun 2011

IV-8

Tabel 4.4 Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan di Kota Banda Aceh, Tahun 2011 (jiwa)

IV-9

Tabel 4.5 Kontribusi Sektor Ekonomi dalam PDRB ADHK 2000 Kota Banda Aceh, Tahun 2003-2011

IV-16

Tabel 4.6 Perkembangan Fasilitas Kesehatan di Kota Banda Aceh, Tahun 2007-2011 (unit)

IV-21

Tabel 4.7 Ketersediaan Tenaga Kesehatan di Kota Banda Aceh, Tahun 2011 (orang)

IV-21

Tabel 4.8 Ketersediaan Fasilitas Pendidikan di Kota Banda Aceh Tahun 2011 (unit)

IV-22

Tabel 4.9 Panjang Jalan Kota dan Gampong Menurut Kondisi Jalan,

Tahun 2009-2011 (km) III-23

Tabel 4.10 Panjang Jalan Kota dan Gampong Menurut Jenis Permukaan,

Tahun 2009-2011 (km) III-24

Tabel 5.1 Jumlah Responden Menurut Unit Pelayanan dan Jenis Kelamin

V-2

Tabel 5.2 Jumlah Responden Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

V-3

Tabel 5.3 Jumlah Responden Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin

V-4

(5)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH v Tabel 5.4 Jumlah Responden Menurut Jenis Pekerjaan dan Jenis

Kelamin

V-6

Tabel 5.5 Jumlah Responden Pada Unit Pelayanan Puskesmas Meuraxa Menurut Karakteristiknya

V-7

Tabel 5.6 Jumlah Responden yang Menjawab dan Nilai Rata-rata Unsur Pelayanan pada Unit Pelayanan Puskesmas Meuraxa

V-9

Tabel 5.7 Jumlah Responden Pada Unit Pelayanan Puskesmas Banda Raya Menurut Karakteristiknya

V-11

Tabel 5.8 Jumlah Responden yang Menjawab dan Nilai Rata-rata Unsur Pelayanan pada Unit Pelayanan Puskesmas Banda Raya

V-12

Tabel 5.9 Jumlah Responden Pada Unit Pelayanan PDAM Tirta Daroy Menurut Tempat Tinggal

V-14

Tabel 5.10 Jumlah Responden Pada Unit Pelayanan PDAM Tirta Daroy Menurut Karakteristiknya

V-15

Tabel 5.11 Jumlah Responden yang Menjawab dan Nilai Rata-rata Unsur Pelayanan PDAM Tirta Daroy Kota Banda Aceh

V-17

Tabel 5.12 Jumlah Responden Pada Unit Pelayanan KPPTSP Menurut Karakteristiknya

V-18

Tabel 5.13 Jumlah Responden Pada Unit Pelayanan KPPTSP Menurut Tujuan

V-19

Tabel 5.14 Jumlah Responden yang Menjawab dan Nilai Rata-rata Unsur Pelayanan pada Unit Pelayanan KPPSTP Kota Banda Aceh

V-20

Tabel 5.15 Jumlah Responden yang Menjawab dan Nilai Rata-rata Unsur Pelayanan pada Unit Pelayanan Puskesmas (Meuraxa dan Banda Raya)

V-21

Tabel 5.16 Jumlah Responden yang Menjawab dan Nilai Rata-rata Unsur Pelayanan pada Empat Unit Pelayanan (Puskesmas Meuraxa, Puskesmas Banda Raya, PDAM Tirta Daroy, KPPTSP)

V-23

(6)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH vi DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1 Luas Wilayah Kota Banda Aceh Menurut Kecamatan, 2011 (Km2)

IV-2

Gambar 4.2 Peta Administratif Kota Banda Aceh IV-2

Gambar 4.3 Kondisi Tingkat Pendidikan PNS Kota Banda Aceh, Tahun 2011

IV-4

Gambar 4.4 Perkembangan Penduduk di Kota Banda Aceh, Tahun 2001-2011

IV-6

Gambar 4.5 Perkembangan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kota Banda Aceh, Tahun 2007-2011 (jiwa)

IV-9

Gambar 4.6 Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kota Banda Aceh, Tahun 2005-2011 (jiwa)

IV-10

Gambar 4.7 Penduduk Usia Produktif dan Non Produktif Menurut Jenis Kelamin di Kota Banda Aceh, Tahun 2005-2011 (jiwa)

IV-12

Gambar 4.8 TPT dan TPAK Kota Banda Aceh, Tahun 2008-2011 IV-13 Gambar 4.9 Perkembangan PDRB Kota Banda Aceh, Tahun 2002-

2011

IV-15

Gambar 4.10 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Banda Aceh, Tahun 2003-2011

IV-18

Gambar 4.11 Laju Pertumbuhan Sektoral Kota Banda Aceh, Tahun 2005-2011 (%)

IV-19

Gambar 4.12 Pendapatan Per kapita Kota Banda Aceh dan Provinsi Aceh Tahun 2005-2011 (Ribuan Rupiah)

IV-20

Gambar 5.1 Responden Menurut Kelompok Umur (persen) V-3 Gambar 5.2 Responden Menurut Tingkat Pendidikan (persen) V-5

(7)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH vii Gambar 5.3 Responden Menurut Jenis Pekerjaan (persen) V-6 Gambar 5.4 Nilai Rata-rata Unsur Pelayanan pada Empat Unit

Pelayanan (Puskesmas Meuraxa, Puskesmas Banda Raya, PDAM Tirta Daroy, KPPTSP)

V-24

Gambar 5.5 Nilai IKM pada Empat Unit Pelayanan (Puskesmas Meuraxa, Puskesmas Banda Raya, PDAM Tirta Daroy, KPPTSP)

V-25

(8)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH I-1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Undang-undang Dasar 1945 telah mengamanatkan, bahwa Negara wajib melayani setiap warga negara untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka pelayanan umum dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Diterapkannya Otonomi Daerah berdasarkan Undang-undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang diperbaharui dengan Undang-undang No.32 Tahun 2004 secara fundamental memiliki tujuan strategis untuk meningkatkan pelayanan publik yang berkualitas di daerah.

Otonomi Daerah memberikan ruang dan kewenangan yang besar bagi daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan di tingkat daerah berdasarkan prinsip akuntabilitas, transparansi, responsifitas, dan partisipasi. Karena itu, dengan Otonomi Daerah diharapkan penyelenggaraan pelayanan publik bagi masyarakat lebih optimal, cepat, dan berkualitas.

Pemerintah Daerah sebagai penyedia layanan (service provider) harus terus berupaya memberikan pelayanan publik berkualitas. Hal tersebut cukup beralasan mengingat tingkat kualitas kinerja pelayanan publik memiliki dampak (impact) yang luas dalam berbagai kehidupan, terutama untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat. Karena itu, langkah taktis dan upaya penyempurnaan pelayanan publik (public service) harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Lebih lanjut upaya peningkatan kualitas pelayanan harus dilaksanakan secara bersama-sama, terpadu, terprogram, terarah, dan konsisten dengan memperhatikan kebutuhan dan harapan masyarakat, sehingga pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat diberikan secara tepat, cepat, murah, terbuka, sederhana dan mudah dilaksanakan serta tidak diskriminatif.

Keberhasilan Pemerintah Daerah dalam menjalankan perannya sebagai penyedia layanan (service provider) sangat ditentukan pada tingkat kualitas pelayanan publik yang disediakan. Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan publik, salah satunya dilakukan melalui evaluasi secara berkala untuk menilai kinerja pelayanan yang disediakan oleh berbagai Unit Organisasi/Perangkat Daerah. Secara garis besar terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai kinerja pelayanan publik, yaitu,

(9)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH I-2 pendekatan yang melihat kinerja pelayanan dari perspektif pemberi layanan (birokrasi- Pemerintah Daerah) dan pendekatan yang melihat kinerja pelayanan dari perspektif pengguna layanan atau publik.

Dalam kerangka otonomi Daerah dewasa ini yang terkait erat dengan prinsip- prinsip demokrasi sebagai landasannya maka pendekatan dari perspektif publik sebagai pengguna layanan dalam menilai kinerja pelayanan harus menjadi perhatian penting untuk mengetahui sejauh apa pelayanan yang disediakan telah memenuhi harapan, kepuasan maupun kebutuhan publik lokal lainnya sebagai konstituennya. Hal ini sejalan dengan prinsip demokrasi yang representatif (representative democracy), dimana keterwakilan publik lokal tidak hanya sebatas pada wakil-wakil mereka di DPRD, tetapi juga harus merepresentasikan kebutuhan dan kepentingan mereka yang terwujud dalam kebijakan maupun program-program pembangunan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah (Hossein : 1995).

Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 65 Tahun 2005 Tentang Pedoman Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal dan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) No. 63 Tahun 2003 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik mengamanatkan kepada seluruh institusi pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk melakukan survey Indeks Kepuasan Masyarakat sebagai tolak ukur keberhasilan penyelanggaraan pelayanan. Kedua produk hukum tersebut secara tersurat menegaskan bahwa kepuasan masyarakat merupakan ukuran untuk menilai kualitas layanan publik. Sebagai tindak nyata dari kedua peraturan tersebut, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara telah menetapkan Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat berdasarkan Keputusan Menpan No. 25 Tahun 2004. Keputusan Menpan tersebut menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengevaluasi penyelanggaraan pelayanan publik sekaligus sebagai alat guna meningkatkan kinerja pelayanan publik.

Sebagai upaya untuk mewujudkan pemerintahan daerah yang bersih (good local governance), Pemerintah Kota Banda Aceh sangat berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan publik secara berkelanjutan. Untuk mewujudkan komitmen tersebut secara nyata, Pemerintah Kota Banda Aceh mengimplimentasikan kegiatan Evaluasi Indeks/Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Pelayanan Pemerintah Kota Banda Aceh.

Melalui kegiatan evaluasi tersebut diharapkan dapat diketahui secara objektif tingkat kepuasan warga kota terhadap pelayanan Pemerintah Kota Banda Aceh beberapa tahun

(10)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH I-3 terakhir. Dengan demikian, Pemerintah Kota Banda Aceh melalui SKPK/unit pelayanan dapat terus memberikan pelayanan publik berkualitas bagi warga kota di masa mendatang.

.

1.2 Dasar Hukum

Dasar hukum yang menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan evaluasi ini sebagai berikut :

1. Undang-undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang No.32 Tahun 2004;

2. Undang-undang No.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

3. Undang-undang No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;

4. Instruksi Presiden Republik Indonesia No.1 Tahun 1995 tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur Kepada Masyarakat;

5. Keputusan Men.PAN No.63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik;

6. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No : KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah.

1.3 Tujuan Studi

Adapun tujuan studi ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Pemerintah Kota Banda Aceh, yang diukur dari Tingkat Kepuasan Masyarakat (TKM) yang diharapkan sebagai bahan evaluasi kinerja SKPK/unit pelayanan untuk menetapkan kebijakan lanjutan peningkatan pelayanan publik yang berkualitas di Kota Banda Aceh di masa mendatang.

1.4 Sasaran Studi

Sasaran yang ingin dicapai dari studi ini, yaitu :

(11)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH I-4 a. Diketahuinya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang telah

diimplimentasikan beberapa SKPK/unit pelayanan di Kota Banda Aceh;

b. Diketahuinya kelemahan atau kekurangan beberapa SKPK/unit pelayanan dalam menyelenggarakan pelayanan kepada warga kota;

c. Meningkatnya capaian kinerja SKPK/unit pelayanan di Kota Banda Aceh dalam memberikan pelayanan kepada warga kota; dan

d. Tumbuhnya kreativitas, prakarsa, dan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik.

1.3 Output (Keluaran)

Output (keluaran) dari studi ini berbentuk buku/dokumen Evaluasi Indeks/Tingkat Kepuasan Masyarakat (TKM) Kota Banda Aceh, yang memuat antara lain gambaran tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Pemerintah Kota Banda Aceh, yang diukur dari Tingkat Kepuasan Masyarakat (TKM), dan gambaran kinerja beberapa SKPK/unit pelayanan sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan lanjutan guna peningkatan kualitas pelayanan publik.

1.4 Manfaat Studi

Hasil dari studi ini diharapkan berguna antara lain sebagai berikut :

a. Sebagai masukan awal dalam penetapan kebijakan lanjutan guna mewujudkan peningkatan pelayanan publik yang berkualitas;

b. Bagi SKPK, sebagai informasi untuk memperbaiki kinerja pelayanannya bagi warga kota ke tingkat yang lebih baik dan berkualitas;

c. Bagi Masyarakat, sebagai informasi untuk menilai kinerja SKPK dan kualitas pelayanan yang telah dilaksanakan Pemerintah Kota Banda Aceh.

(12)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH II-1 BAB II

KERANGKA KONSEPTUAL

2.1 Pelayanan Publik

Pada hakekatnya pelayanan publik merupakan tugas utama dalam administrasi negara yang dilakukan oleh aparatur negara. Perkembangan yang muncul di sejumlah negara dalam bidang pelayanan publik menunjukkan adanya pergeseran lebih ke arah penerapan prinsip orientasi pasar dalam penyediaan pelayanan (Osborn don Gabler, 1995). Ini berarti bahwa pelayanan yang diberikan pemerintah harus mengutamakan pelayanan terhadap masyarakatnya. Hal ini diperkuat dengan prinsip catalytic government, yang mengandung arti bahwa aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan publik bertindak sebagai katalisator, memberikan kemudahan dan kelancaran. Untuk itu dibutuhkan visi yang jelas dalam memberikan pelayanan yang terdepan untuk masyarakatnya.

Dalam konteks ini pemerintah lebih bertindak sebagai regulator dibanding implementor atau aktor pelayanan. Oleh karena itu pemerintah perlu memberdayakan kelompok masyarakat itu sendiri sebagai penyedia atau pelaksana pelayanan. Sementara itu, pemerintah hanya membantu masyarakat agar mampu membantu dirinya sendiri (helping people to help themselves), yang merupakan prinsip self-help atau steering rather than rowing dalam gagasan Reinventing Government.

Dipandang dan sisi masyarakat, tuntutan pelayanan terus mengalami perubahan yang didorong oleh arus globalisasi. Di samping itu tuntutan masyarakat mempunyai perbedaan yang sangat dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan dan nilai yang berlaku pada masing-masing individu maupun kelompok masyarakat. Hal ini membuka cakrawala baru bagi aparatur untuk semakin berperan secara lebih baik dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhannya.

Merujuk SK MENPAN nomor 63 tahun 2003, pelayanan publik, atau pelayanan umum, pada dasarnya merupakan, "segala bentuk pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah, di lingkungan BUMN/BUMD dalam bentuk barang dan jasa, baik dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan." Dengan

(13)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH II-2 demikian pengertian pelayanan publik sebagaimana dimaksud SK tersebut mempunyai arti yang sangat luas.

Diterapkannya kebijakan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dilihat dari sisi pelayanan pubik, diharapkan point of delivery menjadi lebih pendek, dalam arti titik antaran pelayanan menjadi lebih dekat ke masyarakat.

Konsekuensi logisnya adalah perlu pelimpahan kewenangan menyangkut pelayanan publik pada tingkatan pemenintah di bawahnya, utamanya pemerintah kecamatan.

Pelayanan yang dilakukan pemerintah dapat diklasifikasikan dalam pelayanan administrasi dan pelayanan pembangunan (Hossein, 1995), sedangkan berdasarkan fungsi pemerintah dalam melakukan pelayanan publik terdapat 3 fungsi pelayanan.

Pertama, environmental services. Bentuk ini mencakup penyediaan sarana dan prasarana lingkungan (dalam arti luas) antara lain jalan, jembatan, drainase, jambatan dsb. Juga termasuk dalam bentuk layanan ini adalah personal services antara lain pelayanan pendidikan dan kesehatan, keagamaan dsb. Kedua, developmental services, Layanan bentuk ini lebih bersifat memampukan dan memfasilitasi (enabling and facilitating), atau sarana dan prasarana yang dapat menunjang peningkatan pertumbuhan perekonomian termasuk pelayanan yang berupa pelayanan administrative yang bersifat legalitas misalnya melegalkan sesuatu kepemilikan atau keberadaan seseorang individu dalam masyarakat yang berbentuk pelayanan perijinan, KTP, akte kelahiran, dan sebagainya. Ketiga, protective services Bentuk ketiga ini lebih bersifat pemberian pelayanan keamanan dan perlindungan yang dilakukan oleh polisi pamong praja, militer, bahaya kebakaran, bencana alam dan sebagainya.

Sementara itu menurut Keputusan MENPAN Nomor 63 Tahun 2003, pelayanan publik dapat dikelompokkan kedalam 3 (tiga) kelompok besar, yaitu:

1. Pelayanan administratif, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan publik seperti kewarganegaraan, sertifikat kompetensi, kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu barang dan sebagainya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah KTP, BPKB, SIM, STNK, IMB, Akte Pernikahan, Akte Kelahiran, Akte Kematian dan sebagainya.

2. Pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk atau jenis barang yang digunakan oleh publik. Yang termasuk dalam kelompok ini misalnya jaringan telepon, penyediaan tenaga listrik, air bersih dan sebagainya.

(14)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH II-3 3. Pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang

dibutuhkan oleh publik. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah pendidikan, pemeliharaan kesehatan, penyelenggaraan transportasi, pos dan sebagainya.

2.2 Prinsip-Prinsip Pelayanan Publik

Sherwood dalam Soeprihanto(2001) menyatakan: Profesionalisme pemerintah sedang mengalami pemunduran. Saat ini lebih banyak pejabat politik dalam birokrasi, dan lingkungan kerja belum mendukung atau dapat dipercaya. Tetapi pejabat pemerintah mempunyai peran penting untuk memulihkan lingkungan kerja agar sesuai dengan standar profesionalisme. Dengan demikian bidang pelayanan publik masih perlu mendapat perhatian dan pembenahan secara sungguh-sunguh dalam berbagai sektor yang menjadi pendukung terselenggaranya pelayanan publik yang efektif sehingga dapat menjawab tantangan yang ada yaitu memberikan pelayanan yang profesional guna memenuhi tuntutan masyarakat.

Dalam kondisi demikian tentunya menjadi tugas pemerintah untuk mewujudkan pelayan yang dibutuhkan masyarakat. Maka salah satu alasan penting kehadiran pelayanan pemerintah, termasuk pelayanan publik yaitu diperlukan untuk melindungi kepentingan masyarakat, jika layanan yang dibutuhkan itu ternyata tidak dapat dijangkau masyarakat atau disediakan oleh mekanisme pasar. Meluasnya peran pemerintah dalam menyelenggarakan fungsi pelayanan (publik) berkembang dengan munculnya paham atau pandangan tentang filsafat negara. Adanya perluasan fungsi tersebut tidak lain adalah untuk kesejahteraan rakyat.

Perluasan yang besar pada akhir-akhir ini dalam fungsi kesejahteraan itu telah memperlihatkan konsepsi baru tentang sifat pemerintahan konsepsi ini meletakkan pemerintahan dalam hubungan-hubungan yang lebih akrab dan kooperatif dengan manusia biasa sekaligus meruntuhkan tradisi pemerintahan sebagai suatu kekuasaan.

Selain itu fungsi pelayanan yang dijalankan oleh Pemerintah saat ini sesungguhnya adalah untuk melayani masyarakat. Hal ini berarti pelayanan merupakan sesuatu yang terkait dengan peran dan fungsi pemerintah yang harus dijalankannya.

Peran dan fungsinya itu dimaksudkan selain untuk melindungi juga memenuhi kebutuhan dasar masyarakat secara luas guna mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Seperti juga disampaikan oleh Osborne dan Ted Gabler : mengupayakan peningkatan pelayanan publik oleh birokrasi pemerintah yaitu dengan memberi

(15)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH II-4 wewenang kepada swasta lebih banyak berpartsipasi, karena mereka menyadari pemerintah itu milik rakyat bukan rakyat milik kekuasaan pemerintah. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam rangka memperbaiki sistim untuk mewujudkan masyarakat lebih baik maka Osborne dan Ted Gabler menyimpulkan prinsip-prinsip yang mereka anggap sebagai keputusan model baru yaitu:

1. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan tidak perlu harus selalu menjadi pelaksana dalam berbagai urusan pemerintahan tetapi cukup sebagai penggerak.

2. Sebagai badan yang dimiliki masyarakat luas, pemerintah bukan hanya senantiasa melayani publik tetapi juga memberdayakan segenap lapisan secara optimal. Sebagai pemilik wewenang untuk mengkompetisikan berbagai lapisan, pemerintah hendaknya tetap menyuntikkan ide pembangunan tetapi dalam misinya ini tetap diberi kebebasan berkarya kepada berbagai lapisan tersebut agar hasil dan berbagai masukan dapat ditampung, dalam rangka pemenuhan kebutuhan bersama. Dengan demikian berbagai pihak bukan hanya sekedar menghabiskan anggaran tetapi menemukan pertumbuhan kembangnya.

3. Pemerintah sebagai pembangkit partisipasi seluruh lapisan masyarakat juga mampu melihat dan mengantisipasi keadaan dalam arti lebih baik mencegah akan terjadinya berbagai kemungkinan kendala daripada menanggulangi di kemudian hari.

4. Dengan kewenangannya, pemerintah yang terdesentralisasi mampu menyerahkan sebagian urusan pemerintahannya, sehingga kekakuan aturan dari pemerintah pusat yang lebih atas dapat berganti mengikut sertakan daerah- daerah, dimana diharapkan terbentuk tim kerja yang optimal dan potensial.

5. Pemerintah sudah waktunya berorientasi pasar, dimana kecenderungannya penyelewengan dan korupsi relatif kecil sehingga untuk itu diperlukan perubahan aturan agar lebih efektif dan efisien melalui pengendalian mekanisme pasar itu sendiri.

Ruang lingkup pelayanan publik meliputi semua bentuk pelayanan yang berkaitan dengan kepentingan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik dengan tujuan:

a. Mewujudkan kepastian hak, tanggung jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik.

b. Mewujudkan sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang baik sesuai dengan asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance).

(16)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH II-5 c. Terpenuhinya hak-hak masyarakat dalam memperoleh pelayanan publik secara

maksimal.

d. Mewujudkan partisipasi dan ketaatan masyarakat dalam meningkatkan kuliatas pelayanan publik sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

2.3 Peningkatan Kualitas Pelayanan

Peningkatan kualitas pelayanan menurut Parasuraman at.al (dalam Tjiptono, 1996: 70) meliputi lima dimensi pokok, yaitu:

a. Bukti langsung (tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi.

b. Keandalan (reliability) yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjian dengan segera, akurat, dan memuaskan.

c. Daya tanggap (responsiveness) yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.

d. Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan kemampuan,kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.

e. Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan.

Lovelock (2005) mengemukakan lima prinsip yang harus diperhatikan bagi pelayan publik, agar kualitas layanan dapat dicapai antara lain:

1. Tangible (terjamah), yang antara lain meliputi kemampuan fisik, peralatan, personil dan komunikasi material.

2. Realiable (handal), yang meliputi kemampuan membentuk pelayanan yang dijanjikan dengan tepat dan memilki keajegan.

3. Responsiveness (pertanggungjawaban), yaitu rasa tanggung jawab terhadap mutu pelayanan.

4. Assurance (jaminan), yang meliputi pengetahuan, perilaku dan kemampuan pegawai.

5. Empathy (empati), yaitu perhatian perorangan pada pelanggan.

(17)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH II-6 2.4 Indek Kepuasan Masyarakat (IKM)

Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.

Kep./25/M.PAN/2/2004 tentang Indek Kepuasan Masyarakat, menyatakan bahwa:

“Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) adalah data dan informasi tentang tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran secara kuantitatif dan kualitaif atas pendapat masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari aparatur penyelenggara pelayanan publik dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhannya”.

Untuk mengetahui kepuasan masyarakat atau pelanggan dapat dilakukan melalui pengukuran kepuasan masyarakat atau pelanggan, untuk dapat mengetahui sampai sejauh mana pelayanan telah mampu memenuhi harapan atau dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan, maka organisasi harus mengetahui tingkat harapan pelanggan atau suatu atribut tertentu. Harapan pelanggan ini selanjutnya akan dibandingkan dengan kinerja aktualnya, sehingga dari sini akan diperoleh indeks kepuasan pelanggan yang mencerminkan kualitas pelayanan yang diterima oleh pelanggan.

Menurut Tjiptono (1997:31), Indeks Kepuasan Pelanggan adalah mengukur perbedaan antara apa yang ingin diwujudkan oleh pelanggan dalam membeli suatu produk atau jasa dan apa yang sesungguhnya ditawarkan perusahaan. Sedangkan pandangan lainnya memberikan alasan pengunaan Indeks Kepuasan Pelanggan sebagai ukuran untuk mengetahui kualitas pelayanan adalah berdasarkan kebanyakan pendapat yang mengatakan bahwa untuk mengetahui program mutu, apapun bentuk organisasinya keberhasilan dari program mutu tersebut diukur dari kepuasan pelanggan”.

Menurut Kep./25/M.PAN/2/2004 tersebut terdapat 14 unsur yang “relevan, valid dan reliable”, sebagai unsur minimal yang harus ada sebagai dasar pengukuran indeks kepuasan masyarakat, yaitu:

1. Prosedur Pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan.

2. Persyaratan Pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya.

3. Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan.

(18)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH II-7 4. Kedislipinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam

memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggungjawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan.

6. Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan ketrampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan atau menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat.

7. Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggaraan pelayanan.

8. Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani.

9. Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati.

10. Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang telah ditetapkan oleh unit pelayanan.

11. Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan.

12. Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan,sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

13. Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepeda penerima pelayanan.

14. Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit pelayanan ataupun sarana yang digunakan sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan.

(19)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH III-1 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Studi

Sesuai dengan tujuan studi, lokasi kegiatan difokuskan di Kota Banda Aceh.

Adapun SKPK/unit pelayanan yang akan dijadikan sebagai sasaran studi mencakup Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu (KPPTSP), Puskesmas Banda Raya, Puskesmas Meuraxa, dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy Kota Banda Aceh.

3.2 Teknik Pengumpulan Data dan Responden

Untuk mendukung pencapaian tujuan kegiatan ini, diperlukan berbagai data dan informasi. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan warga kota yang memanfaatkan pelayanan Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu (KPPTSP), Puskesmas Banda Raya, Puskesmas Meuraxa, dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Banda Aceh. Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) sebagai penuntun yang telah dirancang sebelumnya. Responden dipilih secara acak yang ditentukan sesuai cakupan wilayah masing-masing unit pelayanan. Jumlah responden untuk satu unit pelayanan sebanyak 150 orang, sesuai petunjuk Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004, tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Dengan demikian, total responden empat unit pelayanan adalah 600 responden.

(20)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH III-2 Tabel 3.1

Jumlah Responden Sasaran Studi

No SKPK/

Unit Pelayanan

Jumlah Responden

Jenis Pelayanan

1. KPPTSP 150 Perizinan dan Non Perizinan

2. Puskesmas Banda Raya

150 Kesehatan 3. Puskesmas Meuraxa 150 Kesehatan

4. PDAM 150 Air Minum

Total 600

Disamping itu, untuk keperluan analisis, juga digunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai laporan, literatur-literatur, buku-buku, hasil-hasil kajian/riset, dan sumber-sumber lainnya.

3.3 Metode Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan pengukuran Tingkat Kepuasan Masyarakat (TKM) yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004, tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Nilai IKM dihitung dengan menggunakan nilai rata-rata tertimbang masing-masing unsur pelayanan. Dalam perhitungan indeks kepuasan masyarakat terdapat 14 unsur pelayanan yang dikaji, setiap unsur pelayanan memiliki penimbang yang sama. Ke-14 unsur pelayanan tersebut, meliputi :

1. Prosedur Pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan.

2. Persyaratan Pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya.

3. Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan.

4. Kedislipinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku.

(21)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH III-3 5. Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan

tanggungjawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan.

6. Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan ketrampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan atau menyelesaikan pelayanan kepada masyarakat.

7. Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggaraan pelayanan.

8. Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani.

9. Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati.

10. Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang telah ditetapkan oleh unit pelayanan.

11. Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan.

12. Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan,sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

13. Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepeda penerima pelayanan.

14. Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit pelayanan ataupun sarana yang digunakan sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan.

Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dihitung dengan menggunakan “nilai rata-rata tertimbang” masing-masing unsur pelayanan. Dalam penghitungan indeks kepuasan masyarakat terhadap 14 unsur pelayanan yang dikaji, setiap unsur pelayanan memiliki penimbang yang sama. Kriteria kinerja masing-masing unit pelayanandapat dilihat pada tabel berikut :

(22)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH III-4 Tabel 3.2

Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan

Nilai Persepsi

Nilai Interval

Ikm

Nilai Interval Konversi Ikm

Mutu Pelayanan

Kinerja Unit Pelayanan

1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak baik

2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang baik

3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik

4 3,26 – 4,00 81,26 – 100,00 A Sangat baik

Sumber : Kepmen PAN No. Kep./25/M.PAN/2/2004

(23)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-1 BAB IV

GAMBARAN UMUM KOTA BANDA ACEH

4.1 Letak Geografis dan Luas Wilayah

Banda Aceh termasuk salah satu kota Islam tertua di Asia Tenggara. Kota yang sudah berumur paling kurang 807 tahun ini, dulunya merupakan ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun oleh Sultan Johan Syah pada hari Jum’at, tanggal 1 Ramadhan 601 H atau 22 April 1205 M. Sebagai Ibukota dan pusat Pemerintahan Aceh, Kota Banda menempati posisi antara 05016’15”- 05036’16” Lintang Utara (LU) dan 95016’15”-95022’35”

Bujur Timur (BT), dengan ketinggian rata-rata 0,80 meter diatas permukaan laut.

Kota Banda Aceh berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar di sebelah timur dan selatan. Di sebelah utara dan barat, berbatasan langsung dengan Selat Malaka dan Samudera Indonesia. Dengan posisi tersebut Kota Banda Aceh dinilai sangat strategis sebagai pintu masuk wisatawan domestik dan manca negara ke Aceh, sekaligus berpeluang membuka kemitraan lintas daerah dalam menjalin kerjasama perdagangan.

Luas wilayah Kota Banda Aceh sebesar 61,36 kilometer persegi (km2) dan termasuk wilayah yang relatif kecil dari seluruh kabupaten/kota di Aceh. Luas wilayah antarkecamatan sangat bervariasi. Dua kecamatan memiliki wilayah yang paling luas, yakni Syiah Kuala dan Kuta Alam. Luas wilayah Kecamatan Syiah Kuala mencapai 14,24 km2 atau 23,21 persen dari total luas wilayah, dan Kecamatan Kuta Alam seluas 10,05 km2 (16,38 persen).

Kecamatan yang terkecil luasnya adalah Kecamatan Jaya Baru, yakni seluas 3,78 km2 (6,16 persen). Kecamatan lainnya, seperti Baiturrahman seluas 4,54 km2 (7,40 persen), Banda Raya seluas 4,79 km2 (7,81 persen), Lueng Bata seluas 5,34 km2 (8,70 persen), Kuta Raja seluas 5,21 km2 (8,49 persen), dan Ulee Kareng seluas 6,15 km2 (10,02 persen). Luas Kota Banda Aceh menurut kecamatan, selengkapnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

(24)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-2 Gambar 4.1

Luas Wilayah Kota Banda Aceh Menurut Kecamatan, 2012 (Km2)

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2012

Gambar 4.2

Peta Administratif Kota Banda Aceh

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2012 11.83

7.81 6.16 7.4 8.7

16.38

8.49 23.21

10.02

0 5 10 15 20 25

(25)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-3 4.2 Pemerintahan

Secara administratif, Kota Banda Aceh terdiri dari 9 kecamatan, 90 gampong, dan 17 mukim (kondisi tahun 2011). Gampong paling banyak terdapat di Kecamatan Meuraxa, yakni sebanyak 16 gampong (17,78 persen). Disusul Kecamatan Kuta Alam sebanyak 11 gampong (12,22 persen). Selanjutnya tiga kecamatan masing-masing memiliki 10 gampong, meliputi Banda Raya, Baiturrahman, dan Syiah Kuala. Tiga kecamatan lainnya, seperti Jaya Baru, Lueng Bata, dan Ulee Kareng, masing-masing memiliki 9 gampong.

Adapun Kuta Raja hanya memiliki 6 gampong (6,67 persen).

Keberadaan Mukim sangat berperan penting dalam mendorong perkembangan aktivitas sosial-kemasyarakatan di gampong dan kecamatan. Dari 17 mukim yang ada di Banda Aceh, 3 mukim terdapat di Kecamatan Syiah Kuala. Sementara Lueng Bata dan Kuta Raja masing-masing memiliki 1 mukim dan kecamatan lainnya memiliki masing- masing 2 mukim. Secara lebih rinci, jumlah gampong dan mukim menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1

Jumlah Gampong dan Mukim di Kota Banda Aceh Menurut Kecamatan Tahun 2011

No Kecamatan Ibukota Jumlah Gampong

Jumlah Mukim

1. Meuraxa Ulee Lheue 16 2

2. Banda Raya Lamlagang 10 2

3. Jaya Baru Lampoh Daya 9 2

4. Baiturrahman Neusu Daya 10 2

5. Lueng Bata Lueng Bata 9 1

6. Kuta Alam Bandar Baru 11 2

7. Kuta Raja Keudah 6 1

8. Syiah Kuala Lamgugob 10 3

9. Ulee Kareng Ulee Kareng 9 2

Jumlah 90 17

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2012

Untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi warga kota, hingga akhir tahun 2011 Pemerintah Kota Banda Aceh telah memiliki 12 dinas, 7 badan, dan 16 kantor (termasuk 9 kantor kecamatan). Jumlah aparatur yang mengabdi di lingkungan pemerintah kota sampai akhir tahun 2011 sebanyak 6.366 orang.

(26)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-4 Angka tersebut cenderung menurun dibanding tahun 2010 yang mencapai 6.551 orang.

Bahkan, tahun 2007 tercatat aparatur yang mengabdi di Kota Banda Aceh sebanyak 7.483 orang. Dalam tiga tahun terakhir, Pemerintah kota tidak lagi merekrut aparatur, kecuali mengangkat tenaga honorer yang ada menjadi PNS. Hal tersebut didasari bahwa aparatur yang ada saat ini dipandang cukup memadai dalam memberikan pelayanan bagi warga kota. Dari 6.366 orang PNS, lebih dari separuh (65,03 persen) atau berjumlah 4.140 orang adalah kaum perempuan. Sedangkan selebihnya 34,97 persen atau 2.226 orang merupakan laki-laki. Sebaliknya, tahun 2007 laki-laki sangat mendominasi dalam struktur PNS, yakni hampir 67,18 persen (5.027 orang). Sementara kaum perempuan tidak lebih dari 2.456 orang (32,82 persen).

Ketersediaan sumberdaya aparatur berkualitas dan berdaya saing tinggi merupakan keharusan sesuai tuntutan globalisasi dan otonomi daerah. Dari sisi tingkat pendidikan, pada tahun 2011 hampir 51,85 persen merupakan tamatan sarjana (S1). Meski demikian, aparatur berpendidikan tamatan SLTA juga cukup memadai, yakni 22,64.

Angka tersebut naik dibanding tahun 2010 yang sebanyak 20,64 persen. Aparatur berpendidikan S2 tidak lebih dari 2,94 persen, naik dibanding tahun 2010 yang sebanyak 2,44 persen, seperti terlihat pada gambar berikut.

Gambar 4.3

Kondisi Tingkat Pendidikan PNS Kota Banda Aceh, Tahun 2010-2011

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2012 0.55

1.01

20.64 0.91

12.27 9.77 0.25

52.14 2.44

0.42 0.88

22.64 1.85

9.33 9.46 0.63

51.85 2.94

0 10 20 30 40 50 60

SD SMP SLTA D1 D2 D3 D4 S1 S2

persen

2011 2010

(27)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-5 Dari sisi tingkat golongan, hampir 43,95 persen aparatur di Kota Banda Aceh termasuk golongan III, atau sebanyak 2.798 orang. Disusul golongan IV yang mencapai 1.969 orang (30,92 persen). Adapun aparatur golongan II juga terlihat cukup memadai, yakni sebanyak 1.542 orang (24,22 orang).

Tabel 4.2

Jumlah PNS menurut Golongan dan Jenis Kelamin di Kota Banda Aceh, Tahun 2011 (orang)

No Golongan Laki-laki Perempuan Jumlah

1. I/b 2 0 2

2. I/c 20 2 22

3. I/d 33 0 33

4. II/a 261 173 434

5. II/b 187 267 454

6. II/c 88 248 336

7. II/d 87 231 318

8. III/a 223 423 646

9. III/b 325 483 808

10. III/c 237 428 665

11. III/d 278 401 679

12. IV/a 392 1.412 1.804

13. IV/b 75 69 144

14. IV/c 17 3 20

15. IV/d 1 0 1

Jumlah 2.226 4.140 6.366

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2012

4.3 Demografi dan Ketenagakerjaan

4.3.1 Perkembangan dan Kepadatan Penduduk

Sebelum tsunami melanda pesisir Aceh, termasuk Banda Aceh di penghujung tahun 2004 yang lalu, perkembangan penduduk Banda Aceh menunjukkan kecenderungan meningkat. Konflik juga diakui relatif menjadi penghambat bagi masyarakat untuk mencari nafkah, menetap, dan mendiami di Banda Aceh. Dari data yang dihimpun, tercatat penduduk Banda Aceh pada tahun 2001 berjumlah 223.223 jiwa. Angka tersebut naik drastis hingga mencapai 265. 098 jiwa tahun 2004, atau rata-

(28)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-6 rata naik 5,89 persen setiap tahunnya. Angka pertumbuhan penduduk tersebut sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi rata-rata yang sebesar 5,38 persen/tahun (periode 2001-2004).

Bencana tsunami yang terjadi di penghujung tahun 2004 mengakibatkan berkurangnya jumlah penduduk di Kota Banda Aceh. Kecuali banyak yang meninggal, disinyalir pula ada penduduk yang telah berpindah ke tempat lain. Data sensus penduduk Aceh–Nias (SPAN, 2005), menyebutkan penduduk Banda Aceh tidak lebih dari 177.881 jiwa. Itu artinya turun sebesar -32,89 persen pada tahun 2005.

Gambar 4.4

Perkembangan Penduduk di Kota Banda Aceh, Tahun 2001-2011

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka, beberapa edisi

Rehabilitasi dan rekonstruksi yang didukung penuh BRR NAD-Nias dan Masyarakat Internasional/NGO, berimplikasi positif terhadap peningkatan penduduk di Kota Banda Aceh. Banda Aceh menjadi incaran pendatang dari luar daerah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sekaligus menetap menjadi warga kota. Tahun 2006, terjadi lonjakan penduduk sebesar 0,28 persen, atau meningkat menjadi 178.380 jiwa.

Bahkan, tahun 2007 naik drastis hingga mencapai 23,14 persen (sebanyak 219.659 jiwa).

Memasuki tahun 2011, tercatat penduduk Kota Banda Aceh sebanyak 228.562 jiwa, juga naik dibanding tahun-tahun sebelumnya, khususnya pasca tsunami. Sepanjang

1.13 1.24 4.22 12.56

-32.89 0.28

23.14

-0.79-2.60 5.64

1.94

-40 -30 -20 -10 0 10 20 30

0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

pertumbuhan (%)

Jumlah (jiwa)

Jumlah (jiwa) pertumbuhan (%)

(29)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-7 tahun 2005-2011, terjadi pertumbuhan penduduk rata-rata hampir 4,26 persen setiap tahunnya. Angka pertumbuhan tersebut masih lebih rendah ketimbang periode 2001- 2004. Selain itu, jumlah penduduk yang dicapai tahun 2011, belum mampu mengimbangi yang pernah dicapai tahun 2004.

Luas wilayah Kota Banda Aceh yang relatif kecil akan memudahkan Pemerintah Kota meningkatkan pemerataan pembangunan. Pemerintah Kota harus mengupayakan tidak terjadinya disparitas pembangunan antarkecamatan, termasuk yang berada di wilayah pesisir. Data tahun 2011, menyiratkan hampir 18,89 persen penduduk atau paling kurang 43.184 jiwa mendiami di Kecamatan Kuta Alam. Itu artinya relatif terjadinya pergeseran konsentrasi penduduk yang berarti selama tujuh tahun terakhir. Tahun 2004, Kuta Alam juga tertinggi jumlah penduduknya, yakni sebanyak 20,64 persen, dari total penduduk Kota Banda Aceh.

Di Kecamatan Syiah Kuala, yang merupakan pusat pendidikan, jumlah penduduknya juga terlihat cukup memadai, yaitu 35.648 jiwa (15,60 persen). Penduduk yang cukup dominan juga terlihat di Kecamatan Baiturrahman, yang merupakan pusat perdagangan. Meuraxa dan Kuta Raja yang berada di wilayah pesisir termasuk terendah didiami penduduk, yakni masing-masing sebanyak 16.861 jiwa (7,38 persen) dan sebanyak 10.672 jiwa (4,67 persen).

Rata-rata penduduk setiap kecamatan di Kota Banda Aceh tergolong padat. Di Baiturrahman, misalnya, rata-rata setiap kilometer persegi (km2) dihuni hampir 6.844 jiwa, paling padat dibanding dengan kecamatan lainnya. Demikian pula di Jaya Baru yang mencapai rata-rata 5.962 jiwa/km2. Secara keseluruhan, rata-rata penduduk di Kota Banda Aceh hampir 3.725 jiwa/km2, masih jauh lebih rendah ketimbang tahun 2004 yang mencapai 4.320 jiwa/km2. Kendati demikian, angka tersebut masih tergolong sangat tinggi dibanding tingkat kepadatan kabupaten/kota di Aceh. Ke depan, wacana perluasan Kota Banda Aceh patut dipertimbangkan dalam rangka mengantisipasi perkembangan populasi penduduk yang cenderung meningkat.

(30)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-8 Tabel 4.3

Banyaknya Jumlah Penduduk dan Kepadatan penduduk Menurut Kecamatan di Kota Banda Aceh Tahun 2011 Kecamatan % Jumlah

(jiwa) % Kepadatan (km2)

Meuraxa 8,11 16.861 7,38 2.322

Jaya Baru 9,89 22.535 9,86 5.962

Banda Raya 8,84 21.369 9,35 4.461

Baiturrahman 15,2 31.073 13,59 6.844

Lueng Bata 8,71 24.132 10,56 4.519

Kuta Alam 20,6 43.184 18,89 4.297

Kuta Raja 5,67 10.672 4,67 2.048

Syiah Kuala 14 35.648 15,60 2.503

Ulee Kareng 8,97 23.088 10,10 3.754

Jumlah 100 228.562 3.725

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2012

4.3.2 Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Selama lima tahun terakhir (periode 2007-2011) atau pasca tsunami, struktur penduduk Kota Banda Aceh dari sisi jenis kelamin belum mengalami pergeseran yang berarti. Itu artinya, laki-laki masih mendominasi dibanding perempuan. Tahun 2007, penduduk laki-laki mencapai 52,86 persen dari keseluruhan penduduk Banda Aceh.

Selanjutnya komposisi penduduk laki-laki sedikit menurun menjadi 51,67 persen pada tahun 2008. Memasuki tahun 2011, tercatat laki-laki sebanyak 51,51 persen, sedikit menurun dibanding tahun 2009 (sebanyak 52,86 persen).

Secara absolut, hingga tahun 2011 tercatat laki-laki sebanyak 117.732 jiwa, cenderung bertambah dibanding tahun 2008. Tahun 2008 tercatat laki-laki sebanyak 112.588 jiwa. Sementara itu, kaum perempuan sebanyak 103.543 jiwa pada tahun 2007, naik drastis menjadi 110.830 jiwa tahun 2011.

Kendati laki-laki dalam struktur penduduk Banda Aceh cukup dominan, kaum perempuan juga harus menjadi prioritas dalam pembangunan. Kaum perempuan diupayakan dapat berpartisipasi secara signifikan dalam pembangunan. Kecuali untuk mengantisipasi disparitas jender, pemberdayaan kaum perempuan diarahkan agar produktif dan handal sehingga perannya dalam kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan sosial kemasyarakatan meningkat secara signifikan.

(31)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-9 Gambar 4.5

Perkembangan Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kota Banda Aceh, Tahun 2007-2011 (jiwa)

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka, beberapa edisi

Dari seluruh kecamatan yang diamati, tidak satu pun kecamatan didominasi kaum perempuan. Bahkan, di Meuraxa proporsi laki-laki hampir 54,15 persen dan perempuan tidak lebih dari 45,85 persen, seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Tabel 4.4

Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan di Kota Banda Aceh, Tahun 2011 (jiwa)

Kecamatan Jenis Kelamin (Jiwa) Jumlah

(Jiwa) Laki-laki % Perempuan %

Meuraxa 9.131 54,15 7.730 45,85 16.861

Jaya Baru 11.451 50,81 11.084 49,19 22.535

Banda Raya 10.800 50,54 10.569 49,46 21.369

Baiturrahman 15.976 51,41 15.097 48,59 31.073

Lueng Bata 12.372 51,27 11.760 48,73 24.132

Kuta Alam 22.600 52,33 20.584 47,67 43.184

Kuta Raja 5.671 53,14 5.001 46,86 10.672

Syiah Kuala 17.869 50,13 17.779 49,87 35.648

Ulee Kareng 11.862 51,38 11.226 48,62 23.088 Jumlah 117.732 51,51 110.830 48,49 228.562 Sumber : Banda Aceh Dalam Angka 2012

116,116

112,588 112,199

115,098

117,732

103,543 105,330

100,042

108,348

110,830

90,000 95,000 100,000 105,000 110,000 115,000 120,000

2007 2008 2009 2010 2011

Jumlah (Jiwa) laki-laki

Perempuan

(32)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-10 4.3.3 Penduduk Menurut Kelompok Umur

Dari sisi struktur penduduk menurut kelompok umur, telah terjadi perubahan yang menggembirakan angka ketergantungan (dependency ratio) antara penduduk usia produktif dengan usia non produktif. Pada tahun 2005, angka beban ketergantungan di Kota Banda Aceh sebesar 33,19. Hal ini bermakna bahwa dalam setiap 100 jiwa penduduk usia produktif menanggung beban penduduk non produktif sedikitnya 33 jiwa. Pada tahun 2009, angka beban ketergantungan tersebut naik drastis hingga mencapai 55 jiwa, dari setiap 100 jiwa (sebesar 55,16). Hingga akhir tahun 2011, angka beban ketergantungan telah menurun menjadi 37.

Menurunnya angka beban ketergantungan tersebut cukup beralasan, mengingat terjadinya perubahan yang signifikan pada struktur penduduk menurut kelompok umur di Kota Banda Aceh. Penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) telah meningkat pertumbuhannya rata-rata 8,39 persen selama tahun 2005-2011.

Gambar 4.6

Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kota Banda Aceh, Tahun 2005-2011 (jiwa)

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka, beberapa edisi 39,213

130,831 4,213

61,539

136,796 13,906

55,214

162,908 5,324

56,478

166,638 5,446

0 50,000 100,000 150,000 200,000

0-14 15-64 65 +

Jumlah (jiwa) 2011 2010 2009 2005

(33)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-11 Dari keseluruhan penduduk Kota Banda Aceh (tahun 2011), lebih setengah atau hampir 72,90 persen merupakan penduduk usia produktif. Angka tersebut sedikit menurun dibanding tahun 2005, yaitu sebesar 73,55 persen. Sebaliknya, penduduk non produktif (balita/anak-anak dan lanjut usia) naik menjadi 27,1 persen (tahun 2011), dari sebelumnya (tahun 2005) sebanyak 24,41 persen. Masih cukup memadainya penduduk usia produktif harus disikapi melalui kebijakan yang membuka akses lebih luas guna berpartisipasi di semua sektor pembangunan. Penduduk usia produktif merupakan bagian dari angkatan kerja sehingga membutuhkan penyediaan lapangan kerja yang layak serta kesempatan atau akses berusaha yang kondusif. Lebih lanjut, jika penduduk usia produktif tersebut tidak terserap dalam lapangan kerja akan berdampak terjadinya pengangguran di daerah. Terbatasnya lapangan kerja menyebabkan pula pengalihan sumberdaya manusia (SDM) ke daerah lain.

Hingga akhir tahun 2011, potensi penduduk usia produktif lebih banyak laki-laki.

Tercatat laki-laki usia produktif sebanyak 86.421 jiwa, atau sekitar 51,86 persen dari total penduduk usia produktif Kota Banda Aceh. Sedangkan perempuan usia produktif paling kurang 80.217 jiwa (48,14 persen). Penduduk non produktif didominasi perempuan, yaitu 30.613 jiwa (49,43 persen). Dan, laki-laki non produktif tidak lebih dari 31.311 jiwa (50,56 persen).

Jika dicermati tahun 2005, laki-laki produktif mencapai 52,18 persen dan perempuan 47,82 persen. Selanjutnya, laki-laki usia non produktif mencapai 51,38 persen dan perempuan 48,62 persen. Kurun waktu 2005-2011 belum mengalami pergeseran yang berarti struktur penduduk menurut kelompok umur, dan laki-laki berusia produktif lebih menonjol ketimbang kaum perempuan. Kondisi diatas merupakan modal utama bagi Pemerintah Kota untuk mendayagunakan potensi sumberdaya laki-laki sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Disisi lain, kaum perempuan juga tidak boleh diabaikan. Pembangunan menekankan pentingnya kaum perempuan mengambil bagian serta berperan signifikan dalam pembangunan. Dengan demikian, tidak ada diskriminasi pembangunan antara laki-laki dan perempuan yang pada akhirnya kaum perempuan dapat memperbaiki kehidupannya yang lebih sejahtera dan produktif dari sisi sosial- ekonomi.

(34)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-12 Gambar 4.7

Penduduk Usia Produktif dan Non Produktif Menurut Jenis Kelamin di Kota Banda Aceh, Tahun 2005-2011 (jiwa)

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka, beberapa edisi

4.3.4 Ketenagakerjaan

Data Agustus 2008 menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Banda Aceh masih diatas Provinsi Aceh. TPT Banda Aceh sebesar 11,4 persen dan Provinsi Aceh sebesar 9,56 persen. Tahun berikutnya (2009), TPT Banda Aceh turun menjadi 9,8 persen, masih juga lebih tinggi dari Provinsi Aceh yang sebesar 8,71 persen.

Selain itu, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Banda Aceh sebesar 62,9 persen (kondisi Agustus 2009). Angka tersebut juga sedikit lebih tinggi dari Provinsi Aceh yang sebesar 62,50 persen. Memasuki tahun 2011, tercatat TPAK Kota Banda Aceh sebesar 61,7 persen dan TPT sebesar 8,5 persen. Itu artinya bahwa angka pengangguran di Kota Banda Aceh sudah menunjukkan penurunan. Ke depan, diharapkan angka pengangguran terus menurun sejalan dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai di Kota Banda Aceh.

71,384

62,625

22,402 21,200

72,188

64,608

40,011

35,434 86,421

80,217

31311 30,613

0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 100,000

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Usia Produktif Usia Non Produktif

Jumlah (jiwa) 2005 2009 2011

(35)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-13 Gambar 4.8

TPT dan TPAK Kota Banda Aceh, Tahun 2008-2011

Sumber : Banda Aceh Dalam Angka, beberapa edisi

4.4 Kondisi Ekonomi Kota 4.4.1 Perkembangan PDRB

Pelayanan publik yang berkualitas di sektor ekonomi akan sangat mendorong warga kota, termasuk dari luar daerah untuk berinvestasi dan melakukan aktivitas bisnis di Kota Banda Aceh. Demikian pula dengan iklim bisnis yang kondusif, terutama tanpa pungutan liar, prosedur perizinan yang cepat dan transparan, dan kemudahan mendapatkan permodalan dari perbankan menjadi pemicu bagi warga berinvestasi di Kota Banda Aceh. Hal tersebut harus terus diwujudkan Pemerintah Kota sehingga diharapkan berimplikasi signifikan terhadap kemajuan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan warga kota.

Sebagai kota yang dinamis dan dihuni warga kota yang heterogen, perekonomian Kota Banda Aceh cenderung berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ekonomi kota telah mengalami pemulihan yang berarti pasca terjadinya gempa bumi dan tsunami di penghujung tahun 2004. Bahkan, lonjakan pertumbuhan ekonomi mencapai 19 persen tahun 2007, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Aceh dan Nasional. Lebih lanjut, angka pertumbuhan ekonomi tersebut tertinggi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Kemajuan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari upaya

63.01 62.9

53.7

61.7

11.4 9.8 11.6

8.5 0.00

10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00

2008 2009 2010 2011

Persen

TPAK TPT

(36)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-14 percepatan pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah Kota dan dukungan dunia usaha/swasta.

Dalam kurun waktu 2002-2011, pertumbuhan rata-rata kenaikan PDRB ADHB sangat tinggi, yaitu mencapai 22,07 persen setiap tahunnya. Awal tahun 2002, misalnya PDRB ADHB Kota Banda Aceh masih berkisar Rp.1.493,05 milyar. Nilai tambah tersebut meningkat Rp.1.644,68 milyar tahun 2003 dan mencapai Rp.1.816,93 milyar tahun 2004.

Di akhir tahun 2004, bencana tsunami melanda pesisir Aceh, termasuk Kota Banda Aceh. Ketersediaan dana yang cukup besar serta usaha-usaha rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilaksanakan BRR-NAD-Nias dan NGO/donatur asing berimplikasi positif terhadap kinerja ekonomi kota. Tahun 2005, tercatat PDRB ADHB Kota mencapai Rp.2.762,33 milyar, jauh lebih tinggi dari tahun 2002. Akhir tahun 2011, PDRB ADHB hampir mencapai Rp.8.992,04 milyar, naik drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.

PDRB Atas Dasar Harga konstan (ADHK) juga meningkat selama periode 2002- 2011. Rata-rata pertumbuhannya sebesar 10,54 persen/tahun. Sampai tahun 2011, tercatat PDRB ADHK mencapai Rp.3.241,17 milyar, jauh lebih tinggi dibanding tahun 2002 yang masih sebesar Rp.1.314,95 milyar.

Kemajuan ekonomi yang dicapai Kota Banda Aceh beberapa tahun terakhir sebagai wujud nyata kerja keras pemerintah kota, di samping dukungan berbagai pihak, terutama kalangan dunia usaha/swasta, Pemerintah Aceh, BRR NAD-Nias dan masyarakat internasional/NGO yang melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami di Banda Aceh.

(37)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-15 Gambar 4.9

Perkembangan PDRB Kota Banda Aceh, Tahun 2002-2011 (milyar rupiah)

Sumber : PDRB Kota Banda Aceh, beberapa edisi

4.4.2 Struktur Ekonomi Kota

Struktur perekonomian Kota Banda Aceh pasca tsunami bertumpu pada sektor tersier dengan lapangan usaha jasa-jasa sebagai leading sector. Sebelum tsunami, aktivitas ekonomi kota juga bertumpu pada sektor tersier, namun didominasi sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Kurun waktu 2005-2011, kontribusi jasa-jasa dalam PDRB masih sangat menonjol. Meski demikian, adanya kecenderungan kontribusi sektor tersebut semakin menurun. Kondisi tersebut sejalan dengan semakin meningkatnya kontribusi sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Karena itu, berbagai pelayanan publik yang dapat mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha di sektor perdagangan, hotel, dan restoran harus terus diwujudkan Pemerintah Kota Banda Aceh.

Data BPS (2011) mengungkapkan, hampir 45,25 persen nilai tambah PDRB disumbangkan jasa-jasa. Sementara delapan tahun yang lalu, kontribusi jasa-jasa tidak lebih dari 14,03 persen. Secara absolut, kontribusi nilai tambah jasa-jasa mencapai

1,493.05 1,644.68

1,816.93 2,762.33

3,452.80 4,346.37

5,354.16 6,502.12

7,765.09 8,992.04

1,314.95 1,388.33 1,479.85

2,063.98 2,172.26

2,584.97 2,730.64

2,885.68 3,057.07

3,241.17

0.00 2,000.00 4,000.00 6,000.00 8,000.00 10,000.00 2002

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

milyar rupiah ADHK

ADHB

(38)

BAPPEDA KOTA BANDA ACEH IV-16 Rp.1.446.700,99 juta pada tahun 2011. Naik rata-rata hampir 32,38 persen setiap tahunnya di banding tahun 2004 yang berkisar Rp.205.848,42 juta.

Pasca tsunami, lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran, termasuk juga pengangkutan dan komunikasi yang merupakan andalan sektor tersier semakin berkembang. Kontribusi kedua lapangan usaha tersebut terus meningkat kontribusinya terhadap ekonomi kota. Sebagai gambaran, kontribusi perdagangan, hotel, dan restoran pada tahun 2011 hanya sebesar 22,79 persen. Padahal tahun 2007, kontribusinya tidak lebih dari 20,99 persen. Demikian juga dengan pengangkutan dan komunikasi, di mana tahun 2007 kontribusinya sebesar 16,00 persen, sementara akhir tahun 2011 mencapai 17,05 persen.

Tabel 4.5

Kontribusi Sektor Ekonomi dalam PDRB ADHK 2000 Kota Banda Aceh, Tahun 2003-2011 (%)

Sektor Ekonomi Tahun (%)

2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Pertanian 10,28 4,74 4,64 3,95 3,83 3,69 3,58 3,53

Pertambangan dan penggalian 0,0 2,56 2,52 2,17 2,09 2,00 0,00 0,00

Industri pengolahan 3,44 2,35 2,34 2,09 2,14 2,20 2,25 2,25

Listrik dan air minum 0,60 0,35 0,34 0,38 0,41 0,44 0,45 0,49

Bangunan/Konstruksi 9,00 6,33 6,68 6,06 6,12 6,15 6,21 6,24

Perdagangan, hotel dan restoran 34,77 23,13 23,28 20,99 21,00 21,04 22,17 22,79 Pengangkutan dan komunikasi 23,26 18,04 17,72 16,00 15,96 15,92 16,71 17,05 Keuangan, persewaan dan jasa

perusahaan

4,64 2,00 2,60 2,37 2,47 2,50 2,38 2,40

Jasa-jasa 14,03 43,06 42,40 48,16 48,06 48,06 46,25 45,25

PDRB 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber : PDRB Kota Banda Aceh, beberapa edisi

4.4.3 Pertumbuhan Ekonomi

Laju perekonomian Kota Banda Aceh tumbuh sebesar 5,58 persen pada tahun 2003, masih lebih tinggi dibanding Nasional (4,7 persen), dan Provinsi Aceh (3,7 persen).

Secara perlahan, aktivitas ekonomi terus menguat dan berkembang sehingga tumbuh sebesar 6,59 persen tahun 2004, juga jauh lebih tinggi dari Nasional (5,0 persen) dan Provinsi Aceh (5,7 persen). Namun demikian, memasuki tahun 2005, kondisi

Referensi

Dokumen terkait

Pencantuman logo atau nama perusahaan dan atau produk sponsor pada bagian bawah atau samping dibeberapa media publikasi dan promosi event dengan besar space 15 % dari space SPONSOR

Tujuan utama dari media gambar adalah untuk menampilkan konsep yang ingin disampaikan kepada anak dalam proses pembelajaran guru tentang berdongeng dan anak juga mengerti

Status hidrasi pada atlet dapat diketahui melalui berbagai macam parameter, antara lain perubahan berat badan sebelum dan sesudah latihan, pengukuran jumlah total

Menurut Mubyarto (2000), analisis pemasaran dianggap efisien apabiladianggap mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen kepada konsumen dengan biaya wajar serta

Pekerjaan libur ketika hujan karena kendaraan tidak dapat masuk ke proyek (Faktor Intrinsik- Faktor Lain).. Tidak ada hari libur (Faktor Intrinsik-

Kaki yang berubah menjadi alat kelamin umumnya dapat ditemukan di dua bagian, di daerah segmen cincin yang ke tujuh (Gambar 16, 34 dalam kunci identifikasi) atau pada bagian

kan sertifi kat ISO 9000 merasakan beberapa manfaat sebagai berikut: 1) Perubahan mind set Pegawai Negeri Sipil untuk menerapkan budaya mutu khususnya di

Bapak Tatag Muttaqin S.Hut selaku pembimbing skripsi pendamping yang telah memberikan saran, arahan yang tak henti-hentinya dan masukan- masukannya, sehingga