• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Konsep Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Konsep Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Pendekatan Saintifik

1. Konsep Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalaui tahapan- tahapan mengamati, (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah bahwa informasi bias berasal dari mana saja, kapan saja, tidak tergantung pada informasi seorah dari guru.

Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu

(2)

10 dari berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.1

Vygotsky, dalam teorinya menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas- tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan atau tugas itu berada dala zone of proximal development daerah terletak antara tingkat perkembangan anak saat ini yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.2

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki krakteristik tersendiri, diantara krakteristik itu sebagai berikut:3 1. Berpusat pada peserta didik

2. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsesp, hokum atau prinsip

3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berfikir tingkat tinggi peserta didik

4. Dapat mengembangkan krakter peserta didik

Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 disetiap jenjang dilaksanakan menggunakan pendekatan saintifik. Proses

1 M. Hosnan, Pendekatan Saintifk dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), hal. 34

2 Ibid, 35

3 Ibid, 36

(3)

11

Produktif Kreatif Inovatif Afektif

pembelajaran saintifik menyentuh tiga ranah dalam pembelajaran, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Proses pembelajaran yang melibatkan tiga ranah tersebut digambar sebagai berikut:4

Gambar I:

Aspek Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

Bagan diatas menggambarkan bahwa proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik mencakup tiga ranah yakni ranah

4 Paparan Wakil Manteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, Konsep dan Implementasi Kurikulum 2013, Jakarta: 14 Januari 2014

Sikap (Tahu Mengapa)

Pengetahuan (Tahu Apa) Keterampilan

(Tahu Bagaimana)

(4)

12 sikap, pengetahuan dan keterampilan. Ketiga ranah tersebut sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan yang memiliki lintasan perolehan psikologis yang berbeda. Ranah sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan. Pada ranah pengetahuan diperoleh melalui aktivitas mengingat,memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Sedangkan pada ranah keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta.

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah.

Proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria berikut:5

1. Materi pembelajaran berbasis fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran.

2. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru – peserta didik terbebas dari prasangka, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari logika.

3. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berfikir secara kritis analitis dan tepat.

5 Abdul Madjid dan Chairul Rochman, Pendekatan Ilmiah dalam Implementasi Kurikulum 2013 (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2014), 70.

(5)

13 4. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berfikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.

5. Mendorong peserta didik mampu memahami, menerapkan dan mengembangkan pola pikir yang rasional dan objektif.

6. Berbasis pada konsep, teori dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan

7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas.

Pendekatan saintifik berkaitan erat dengan metode saintifik.

Metode `saintifik pada umumnya melibatkan kegiatan pengamatan yang dibutuhkan perumusan hipotesis utau mengumpulkan data.

Untuk dapat disebut ilmiah, harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang diobservasi, empiris dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.6

Adapun unsur-unsur pendekatan saintifik dalam pembelajaran yaitu meliputi: menggali informasi melalui pengamatan (observing), mengajukan pertanyaan (questioning), mengumpulkan informasi/mencoba (experimenting), menganalisis/menalar (associating), dan mengkomunikasikan (comunication) dengan membentuk jaringan/networking.

6 Ridwan Abdullah Sani, Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013, (Jakarta : 2014), 50-51.

(6)

14 2. Aspek-aspek Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

Model pembelajaran saintifik merupakan suatu bentuk model pembelajaran inovasi yang dikembangkan oleh pemerintah dalam dunia pendidikan. Hal ini dapat diasumsikan bahwa proses pembelajaran selalu bersifat flaksibel dengan tidak menghilangkan nilai-nilai dalam proses pembelajaran tersebut.

Pembelajaran saintifik menyentuh lima (5) aspek yakni mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Kelima aspek tersebut merupakan suatu acuan dalam mengaplikasikan proses pembelajaran saintifik, hal ini pendekatan saintifik pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tetap menyentuh tiga ranah dalam pendidikan yakni kognitif, sikomotorik dan afektif.

Gambar 2:

Proses Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran

Mengkom unikasikan Mengasosiasi

Mengumpulkan informasi Menany

a Mengamati

(7)

15 1. Mengamati (Observing)

Kegiatan pertama pada pendekatan ilmiah (scientific approach) adalah pada langkah pembelajaran mengamati / observing. Metode observasi adalah salah satu strategi pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual dan media asli dalam rangka membelajarkan siswa yang mengutamakan kebermaknaan proses belajar. Metode observasi mengedepankan pengamatan langsung pada objek yang akan dipelajari sehingga siswa mendapatkan fakta berbentuk data yang objektif yang kemudian dianalisis sesuai tingkat perkembangan siswa, item yang dianalisis siswa kemudian digunakan sebagai bahan penyusunan evaluasi bagi siswa.7

Istilah observasi berasal dari bahasa latin yang berarti

“melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi yang berarti pengamatan bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah, sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat re- checkingin atau pembuktian terhadap informasi/keterangan yang diperoleh sebelumnya.8

7 M. Hosnan, Pendektan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21, (Bogor:

2014), 39.

8 Ibid, 40

(8)

16 Guru menfasislitasi pesertadidik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk melakukan hal penting dari suatu objek. Observasi dalam pembelajaran akan evektif jika siswa dan guru melengkapi diri dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain, seperti tape recorder, kamera, film atau video, gambar, daftar cek, skala rentang, catatan anakdot, catatan berkala dan alat-alat lain.9

Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini:

1. Menentukan objek yang akan diobservasi.

2. Membuat pedoman observasi sesuai dengan linkup objek yang akan diobservasi.

3. Menentukan secara jelas data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder.

4. Menentukan dimana tempat objek yang akan diobservasi.

5. Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancer.

6. Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi, seperti menggunakan buku catatan,

9 Daryanto, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, (Yogyakarta: 2014), hal. 63.

(9)

17 kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.10

Metode mengamati lebih mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.

Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan lama dan matang, biaya dan tenaga relative banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.11

2. Menanya (Questioning)

Kegiatan “menanya” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk

10 Ibid, 61

11 Ibid, 60

(10)

18 membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.12

Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, ataupun dibaca. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang kongkrit sampai pada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, ataupun hal lain yang lebih abstrak.

Pertanyaan yang bersifat faktual sampai pada pertanyaan yang bersifat hipotetik.13

3. Mengumpulkan Informasi

Kegiatan “mengumpulkan informasi” merupakan tindak lanjut dari bertanya. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas wawancara dengan narasumber, dan sebagainya. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara

12 Ibid, 65

13 M. Hosnan, Pendekatan Saintifik dan Konteks Dalam Pembelajaran Abad 21, (Bogor:

2014), 49.

(11)

19 yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.14

4. Mengasosiasi/Mengolah informasi/Menalar

Kegiatan “mengasosiasi/mengolah informasi/menalar”

dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.

Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi tersebut. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berfikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.

Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah

14 Ibid, 57.

(12)

20 banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemauan mengelompkkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukkan menjadi penggalan memori.15

Penalaran adalah proses berfikir logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran yang dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penalaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Menurut teori asosiasi proses pembelajaran akan efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik.16

Terdapat dua cara dalam penalaran pada proses pembelajaran pendekatan saintifik yakni proses penalaran induktif dan proses penaran deduktif. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut-atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi, menalar secara induktifadalh proses penarikan simpulan dari kasus-kasus yang bersifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum.

Sedangkan penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataan-pernyataan atau fenomena

15 Daryanto, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013, (Yogyakarta: 2014), hal. 70 – 71.

16 Ibid, 71-72

(13)

21 yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus.

Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola penalaran silogisme. Cara kerja menalar secara deduktif adalah merupakan hal-hal umum terlebih dahulu untuk kemudian dihubungkan kedalam bagian-bagian yang khusus.17

5. Mengkomunikasikan

Tahapan terakhir dalam proses pembelajaran saintifik yakni kegiatan mengkomunikasikan. Hal ini memberikan sebuah gambaran bahwa guru memberikan suatu kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengkomunikasikan beberapa hal temuan yang didapatkan dilapangan yang sesuai dengan konsep pembelajaran yang telah diterima pada saat proses pembelajaran berlangsung yakni pendisian secara kognitif.

Kegiatan “mengkomunikasikan” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, ataupun media lainnya. Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan

17 Ibid, 75-76

(14)

22 pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.18

3. Tujuan Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013

Pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki ruang lingkup pembahasan yakni pada aspek kemampuan sikap, kemampuan keterampilan dan kemampuan pengetahuan.

Ketiga aspek tersebut menjadi suatu tujuan dalam melakukan penerapan pendekatan saintifik.

Tujuan pendekatan saintifik sebagai berikut:19

a. Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berfikir tingkat tinggi siswa.

b. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.

c. Terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.

d. Diperolehnya hasil belajar yang tinggi.

e. Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.

f. Untuk mengembangkan krakter siswa.

18 Ibid, 80

19 M. Hosnan, Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21, (Bogor: 2014), 36.

(15)

23 Prosses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik merupakan suatu bentuk usaha dalam melakukan proses pembelajaran agar dapat mencapai suatu bentuk pembelajaran yang efektif yakni proses pembelajaran yang dapat melibatkan pendidik dan peserta didik secara aktif. Hal ini dapat memberikan dampak yang signifikan kepada peserta didik dalam mengeksplosrasikan pengetahuan yang didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung.

B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

a. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan pengetahuan, sikap, dan kreativitas siswa melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata pembelajaran diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menjadikan orang makhluk hidup belajar.20

Pembelajaran merupakan proses interaksi individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu sepanjang hidupna. Sedangkan proses belajar mengajar suatu kegiatan yang didalamnya terjadi suatu proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif, dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat

20 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diakses pada tanggal 27 Juli 2017 dari, http://kbbi.web.id

(16)

24 perubahan dalam diri siswa baik perubahan dari tingkat pengetahuan, pemahaman, keterampilan ataupun sikap.21

Jazuli mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah cara menjadikan orang belajar, artinya terjadi manipulasi lingkungan untuk memberi kemudahan orang belajar.

Pembelajaran merupakan proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar.22

Al-Ghazali mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses bimbingan dan penyerapan mikro anak didik dari gurunya untuk mencapai tujuan belajar yaitu teraktualisasikannya pengetahuan. Mengajar adalah aktivitas eksplorasi untuk mengeluarkan pengetahuan dari daya menjadi aktual.23 Al-Ghazali menguraikan pandangannya terhadap pembelajaran menjadi beberapa bagian sebagai bertikut:

Pertama; menciptakan rasa aman, kasih sayang, dan lingkungan yang kondusif sehingga memungkinkan siswa belajar dengan nyaman. Kedua; pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi dan tingkat pemahaman siswa.

Ketiga: mengajar dengan contoh (keteladanan). Keempat:

mengajar dengan praktek (demonstrasi), kelima: membimbing, menasehat murid dan melarang mereka dari akhlak tercela,

21 Oemar Hamalik, Prose Belajar Mengajar, (Bandung : 2001), hal. 48

22 M. Jazuli, Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni, (Semarang: 2008), 137-139.

23 Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Jaya Star Nine: 2013), 38

(17)

25 keenam: mengajarkan satu ilmu secara mendalam kemudian melakukan tafakkur.24

Pendidikan Agama Islam adalah usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran islam, bersikap inklusif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerja sama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional (Undang- undang No. 2 Tahun 1989).

Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama islam dari Al-Qur’an dan Al-Hadits melalui kegiatan bimbingan pengajaran, latihan, serta pengguanaan pengalaman.25

Pendidikan Islam secara fungsional adalah merupakan upaya manusia muslim merekayasa pembentukan insan kamil melalui penciptaan situasi interaksi edukatif yang kondusif.

Dalam posisinya demikian, pendidikan islam adalah model rekayasa individual dan sosial yang paling efektif untuk

24 Ibid, 39-40

25 Depertemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Agama Islam SMP dan MTs (Jakarta: Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2003), 7.

(18)

26 menyiapkan dan menciptakan bentuk masyarakat ideal ke masa depan.26

Kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman ajaran agama islam peserta sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial. Dalam arti kualitas atau kesalehan pribadi itu diharapkan mampu memancar keluar dalam hubungnan keseharian dengan manusia lainnya (bermasyarakat), baik yang seagama (sesame muslim) maupun yang tidak seagama (hubungan dengan non muslim) serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhwah wathaniyah) dan bahkan ukhwah insaniyah.27

Dari uraian diatas maka penulis dapat memberikan suatu pengertian tentang Pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar dalam melakukan bimbingan kepada siswa untuk menghantarkan menjadi insan yang berkepribadian luhur, mengerti, memahami, serta mengamalkan ajaran islam yang dianutnya sebagai bekal hidup didunia dan akhirat serta memahami ajaran sebagai pedoman hidupnya.

26 Abu Muhammad Iqbal, Konsep Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan, (Madiun Jawa Timur: 2013), 4.

27 H. Mgs. Nazaruddin, Manajemen Pembelajaran (Implementasi Konsep, Krakteristik dan Metodelogi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum), (Yogyakarta: )

(19)

27 b. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan Pendidikan Islam dalam lembaga pendidikan merupakan meningkatkan kualitas keimanan siswa melalui pembarian dan penanaman pemahaman pengetahuan maupun nilai-nilai dasar tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang insanul kamil yakni berkembang dalam pengetahuan dengan keimanan, ketakwaan, serta dapat mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa ahli mengungkapan rumusan tentang tujuan pendidikan Islam sebgaimana menurut Zuhairi tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dari pribadi manusia muslim secara menyeluruh melalui latihan kejiwaan, pikiran, kecerdasan, perasaan, panca indra, sehingga memiliki kepribadian yang uatama.28

Referensi

Dokumen terkait

(2) memperkenalkan diri dan menjelaskan hak dan kewajiban baik pasien maupun perawat (3) melakukan validasi identitas dan keluhan pasien berdasarkan rekam medis (4)

Kebiijakan Pemerintah mengeluarkan Perda No. 10 tahun 1956 tentang pemberantasan pelacuran di jalanan dalam Kota Besar Semarang dan penutupan rumah tempat pelacuran

Hasil pengujian stabilitas menunjukkan bahwa jumlah kantong yang terseret pada puncak susunan dipengaruhi oleh kemiringan struktur.. Pada susunan dan bentuk kantong sama,

Penyusunan Kamus Bahasa Kutai - Bahasa Indonesia ini se­ bagian besar sudah dilengkapi dengan contoh kalimat, ungkapan atau peribahasa, meskipun beberapa contoh belum dapat dikata­

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah wanita usia 30 - 50 tahun, bersedia menjadi subjek penelitian, belum mengalami menopause, tidak memiliki riwayat

246 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BuDI PEKERTI FAKToR-FAKToR YANG MENYEBABKAN KEMAJuAN PERADABAN ISLAM DI DuNIA BAB 9... Sebelum mulai pembelajaran, bacalah al-Qur’an

Tantangan Dan Dinamika Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa Dalam Mempertahankan Identitas Nasional Dalam Sudut Pandang Peraturan Hukum