• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENAL TRADISI NYADRAN LOANO-MARON, KEC. LOANO PURWOREJO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENGENAL TRADISI NYADRAN LOANO-MARON, KEC. LOANO PURWOREJO"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

MENGENAL TRADISI NYADRAN LOANO-MARON, KEC. LOANO

PURWOREJO

(2)

MENGENAL TRADISI NYADRAN LOANO-MARON, KEC. LOANO

PURWOREJO

Disusun oleh : TIM KKN-PPM UGM JT-001

KKN-PPM Universitas Gadjah Mada Loano, Kab. Purworejo, Jawa Tengah

(3)

Kecamatan Loano berada di kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kecamatan Loano berbatasan dengan kecamatan Bener di sebelah utara, kecamatan Gebang di sebelah barat, Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah timur, dan kecamatan Kaligesing di sebelah selatan.

Kecamatan Loano terbagi menjadi 21 desa antara lain Kalinongko, Trirejo, Karangrejo, Kalikalong, Rimun, Tepansari, Kaliglagah, Tridadi, Banyuasin Separe, Guyangan, Kalisemo, Loano, Jetis, Maron, Kedungpoh, Kebon Gunung, Mudalrejo, Kemejing, Banyuasin Kembaran, Sedayu, dan Ngargosari.

Desa Loano terbagi menjadi 12 dusun dan 7 RW. Sementara Desa Maron terbagi menjadi 5 dusun dan 5 RW.

(4)

Kompleks makam Adipati Anden (Sumber : Erwan Wilodilogo)

Kompleks makam K.H.R. Zaennudin (Sumber : dokumentasi pribadi)

(5)

Salah satu budaya yang masih dilestarikan di desa Loano-Maron, kecamatan Loano, Purworejo adalah tradisi nyadran. Tradisi nyadran adalah rangkaian kegiatan yang terdiri dari pembersihan makam leluhur, pembacaan doa yang meliputi ayat Al-Qur'an dan tahlil, serta umumnya ditutup dengan acara makan bersama.

Tradisi Nyadran biasanya dilaksanakan sebelum memasuki bulan Ramadhan atau pada 10 Rajab atau pada tanggal 15, 20, 23 bulan Sya'ban atau bulan Ruwah. Oleh karena itu, tradisi Nyadran juga biasa disebut Ruwahan.

Pelaksanaan tradisi Nyadran juga dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lain.

Kedepannya, masyarakat dan pemerintah desa tidak menutup kemungkinan untuk menjadikan tradisi Nyadran ini sebagai salah satu wisata religi di desa Loano dan Maron.

(6)

(Sumber : M. Faisol Reza/Youtube)

Tradisi Nyadran merupakan hasil penggabungan tradisi Hindu-Buddha dengan ajaran para Walisongo di Jawa. Tradisi Nyadran umumnya dimulai dengan pembersihan makam, biasanya dilakukan dengan membersihkan area sekitar makam dari rumput-rumput yang mengganggu di sekitar makam. Setelah membersihkan makam, para peziarah biasanya mendoakan para leluhur yang telah mendahului pulang ke pangkuan Tuhan YME seperti kakek- nenek, orang tua, sanak saudara, atau tokoh yang berjasa bagi desa.

(7)

Tradisi Nyadran di Masyarakat Jawa

Tradisi Nyadran di Masyarakat Jawa

Bagi masyarakat Jawa, tradisi dan budaya yang sudah ada secara turun temurun berkaitan dengan keyakinan dan praktek keagamaan. Tradisi masyarakat Jawa yang berkembang banyak dipengaruhi oleh ajaran dan kepercayaan Hindu- Buddha yang masih terjaga hingga sekarang. Salah satunya adalah tradisi Nyadran yang berkembang di masyarakat Jawa.

Tradisi Nyadran merupakan tradisi warisan zaman Majapahit yang dikenal sebagai upacara Sraddha. Upacara Sraddha merupakan upacara ritual yang dilakukan oleh Raja Hayam Wuruk untuk menghormati arwah para leluhur yang kemudian dilestarikan di kalangan masyarakat. Upacara Sraddha pada masa Hindu- Buddha pelaksanaannya menggunakan puji- pujian dan sesaji. Tradisi Sraddha kemudian diakulturasikan oleh para Wali Songo dalam penyebaran agama Islam. Puji-pujian dan sesaji dalam tradisi Sraddha kemudian digantikan dengan doa-doa yang bersumber dari Al-Qur'an.

(8)

Bulan Sya'ban atau bulan menjelang Ramadhan dalam ajaran agama Islam diyakini sebagai waktu yang tepat untuk mengintrospeksi diri atas amal perbuatan yang telah dilakukan.

S e h i n g ga , p e l a ks a n a a n t ra d i s i N ya d ra n dimaksudkan untuk introspeksi diri atas amal perbuatan yang telah dilakukan.

Tradisi Nyadran yang dilakukan oleh masyarakat Jawa mempunyai unsur sosial dan unsur keagamaan. Unsur sosial yang terdapat dalam tradisi Nyadran meliputi gotong royong yang dilakukan oleh warga saat mempersiapkan perlengkapan tradisi atau saat kegiatan membersihkan makam para leluhur dan kebersamaan yang mempererat tali silaturahmi antar warga saat pelaksanaan. Selain itu, dalam tradisi Nyadran juga terdapat interaksi manusia dengan para leluhur yang telah meninggal seperti mengirimkan doa untuk arwah para leluhur.

Tradisi Nyadran pada dasarnya mempunyai kemiripan dengan tradisi Sraddha yaitu interaksi dengan para leluhur. Namun bedanya, pada tradisi Sraddha masyarakat menggunakan sesaji dan ritus sesembahan lainnya.

(9)

Prosesi tersebut kemudian ditransformasikan oleh para wali menjadi sarat dengan unsur Islam guna memudahkan dakwah agama. Selain itu, tradisi Nyadran juga merupakan bentuk pelestarian warisan dari para pendahulu.

Tradisi Nyadran juga erat kaitannya dengan nyekar atau ziarah kubur. Nyekar berasal dari kata 'sekar' yang berarti bunga. Nyekar merupakan salah satu tradisi ziarah kubur yaitu menaburkan bunga ke atas makam leluhur.

Namun, pelaksanaan di suatu daerah dapat berbeda dengan daerah lainnya.

Tradisi Nyadran dilakukan pada saat bulan Sya'ban, bulan menjelang Ramadhan atau bulan Ruwah (sebutan untuk bulan Sya'ban dalam kalendar Jawa). Pelaksanaan tradisi tersebut dapat berbeda sesuai daerah masing-masing yaitu pada tanggal 10 Rajab atau 15, 20, 23 Ruwah sehingga tradisi Nyadran juga dapat disebut sebagai acara Ruwahan. Bulan Ruwah dalam masyarakat tradisional Jawa dikenal sebagai 'bulan arwah'.

(10)

Pada bulan Ruwah, masyarakat Jawa melakukan penghormatan kepada para leluhur dengan melakukan ritual-ritual tradisi. Masyarakat Jawa biasanya melakukan ritual membersihkan makam leluhur atau biasa disebut besik. Pada umumnya ketika mengunjungi makam, peziarah akan membawa sadranan yaitu keranjang yang berisi nasi, sayur, dan lauk. Kemudian, peziarah melakukan doa bersama atau tahlilan untuk mendoakan para leluhur. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan acara makan bersama atau kenduri untuk mempererat tali silaturahmi.

(Sumber : blogkulo.com)

(11)

Pelaksanaan Tradisi Nyadran di Berbagai Daerah

Pelaksanaan tradisi Nyadran di kalangan masyarakat Jawa dapat berbeda di setiap daerah.

Umumnya di beberapa daerah, masyarakat membersihkan makam sambil membawa sadranan atau keranjang yang terdiri dari nasi, sayur, dan lauk pauk. Di daerah Magelang, biasanya masyarakat hanya membersihkan makam tanpa membawa sadranan. Kemudian, keesokan harinya mengadakan doa bersama untuk para leluhur yang dilanjutkan dengan acara makan bersama atau kenduri.

Sementara prosesi Nyadran di keraton Yogyakarta sama dengan prosesi Nyadran di keraton Surakarta. Prosesi Nyadran dibuka dengan tahlil oleh abdi dalem yang dituakan, kemudian mempersembahkan sesaji berupa makanan tertutup kain putih di atas papan serta bunga dan kemenyan dalam sebuah kotak yang disebut gendoko.

(12)

Namun, yang membedakan antara tradisi Nyadran di keraton Yogyakarta dan Surakarta adalah keraton Surakarta melaksanakan ritual Nyadran lebih awal pada Jumat setelah tanggal 8 Ruwah dan keraton Yogyakarta melaksanakannya pada hari Jumat setelah tanggal 15 Ruwah.

Tradisi Nyadran di makam Mbah Nyi Bagelen yang ada di Desa Soko, Kecamatan Bagelen, Purworejo memiliki prosesi yang cukup berbeda. Di Desa Soko, Nyadran dilakukan apabila ujar atau janji akan suatu hal sudah terkabul.

Prosesi Nyadran dimulai dengan mempersiapkan sesaji berupa tumpeng, ingkung, golong, badhek, abon-abon, gedhang ayu, suruh ayu, palawija, arang-arang kambang, dan rujak asem yang masing-masing mempunyai makna simbolik tersendiri. Selanjutnya, pelaksanaan Nyadran dilakukan dengan obong-obong sebelum menyembelih kambing, menyembelih kambing, memasak kambing, obong-obong sebelum kenduri, dan kenduri.

(13)

Tujuan dari tradisi Nyadran ini adalah mendidik generasi muda agar lebih mengenal sejarah dan menghormati kepada yang lebih tua, menjalin interaksi sosial antar warga, melestarikan tradisi, dan ungkapan rasa syukur atas berkah Tuhan melalui sedekah kepada masyarakat di sekitar makam Mbah Nyi Ngobaran.

Tradisi Nyadran Pepunden di kawasan lereng gunung Sumbing, Dusun Jambon, Gandurejo, Bulu, Temanggung (Sumber : Anis Efizudin/ANTARA FOTO)

(14)

Tradisi Nyadran di desa Kedunglo, Kecamatan Kemiri, Purworejo dilaksanakan di makam punden desa yaitu makam Sunan Kalijaga dan Sunan Geseng. Nyadran dimulai dengan mempersiapkan tempat dan sesaji yang dilakukan oleh sesepuh desa dan warga sesuai dengan tugasnya masing-masing. Kemudian sesaji yang sudah disiapkan di dalam bokor dibawa oleh para sesepuh desa ke rumah mbah Gondo sebagai yang dituakan untuk berkumpul lalu dibawa ke makam.

Setelah sampai di makam, dilakukan pembakaran kemenyan untuk menandakan sesaji sudah datang.

Upacara Nyadran kemudian dibuka dengan membaca doa dan mantra-mantra.

Sesajian harus disajikan dengan alas tampah yang terbuat dari anyaman bambu dan dibungkus daun dan ditata di depan makam. Setelah selesai, dilanjutkan dengan cara makan bersama atau kenduri untuk meminta keselamatan. Tradisi Nyadran dilakukan untuk menghormati para leluhur, mewariskan budaya yang merupakan jati diri masyarakat, dan mendapatkan kedamaian jiwa melalui berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

(15)

TRADISI NYADRAN DI LOANO-MARON, KECAMATAN LOANO, PURWOREJO

Tradisi Nyadran yang dilakukan di Desa Loano dan Desa Maron pelaksanaannya cukup berbeda dengan daerah lain di Jawa yang menggunakan sesajian dan perlengkapan lain.

Pelaksanaan tradisi Nyadran di Desa Loano dan Desa Maron lebih berfokus pada ritual mendoakan para leluhur sesuai dengan aturan agama Islam.

Selain itu, tradisi Nyadran juga lebih umum disebut sebagai tradisi Ruwahan karena dilakukan pada bulan Ruwah.

(16)

Pelaksanaan tradisi Nyadran atau Ruwahan di Desa Loano dan Desa Maron umumnya dimulai dengan acara membersihkan areal sekitar makam agar terlihat lebih rapi dan bersih. Selanjutnya dilakukan acara doa bersama atau tahlilan di sekitar makam leluhur yaitu tokoh pendiri desa, tokoh pemuka agama di desa, atau sanak saudara. Setelah berdoa bersama, dilanjutkan dengan acara makan bersama yang dilakukan dengan berkumpul di mushola setempat. Tradisi Nyadran ini dilakukan sebelum bulan Ramadhan atau pada bulan Ruwah.

Menurut pernyataan dari narasumber yaitu Mas Widaryanto selaku anggota Karang Taruna Maron yang berdomisili di RW 04 Dusun Glagah Malang, Desa Maron, Loano, Purworejo, kegiatan Nyadran dimulai dengan membersihkan makam para leluhur. Setelah membersihkan makam, selanjutnya peziarah mengadakan doa bersama atau tahlilan di sekitar makam.

(17)

Kegiatan Nyadran di Dusun Glagah Malang biasanya dilaksanakan setiap tanggal 16 bulan Ruwah (sebutan bulan Sya'ban dalam kalender Jawa). Banyak warga setempat yang turut berpartisipasi dalam kegiatan Nyadran.

Makam yang biasanya dikunjungi adalah makam tokoh-tokoh penting desa Maron seperti makam yang ada di Solotiyang, salah satunya adalah makam Simbah K.H.R. Zaennudin atau yang kerap disapa Mbah Zein. Mbah Zein adalah salah satu tokoh ulama keturunan keraton Yogyakarta yang berjasa bagi Desa Maron. Beliau turut serta dalam membesarkan pondok pesantren Maron dan mempelopori perkembangan ajaran agama Islam di Desa Maron. Mbah Zein turut mengembangkan pondok pesantren Al-Anwar Maron yang didirikan oleh mertua beliau yaitu Simbah Syiroj. Oleh karena jasanya dalam mengajarkan agama Islam untuk penduduk Maron, beliau tetap dikenang hingga saat ini dan banyak peziarah yang berkunjung ke makam beliau.

(18)

Tradisi nyadran di makam Mbah Zein sudah menjadi wisata religi yang dilaksanakan setiap bulan Ruwah. Setiap tahunnya banyak peziarah dari dalam kota maupun luar kota bahkan luar Jawa berkunjung ke makam Mbah Zein.

Pelaksanaan tradisi Nyadran di makam Mbah Zein biasanya dilaksanakan sekaligus memperingati meninggalnya Mbah Zein. Ruwahan dilakukan dengan mengirimkan doa di sekitaran makam. Peziarah yang datang antara lain warga Maron setempat dan jamaah pengajian rutin yang diadakan setiap hari Rabu.

Makam Mbah Zein (Sumber : dokumentasi pribadi)

(19)

Tradisi Nyadran yang dilakukan juga memiliki fungsi yaitu untuk melestarikan tradisi turun temurun dan selalu mengingat sejarah pendiri desa dan tokoh-tokoh penting yang ada di desa. Selain itu dalam melaksanakan tradisi Nyadran hendaknya selalu menjaga peraturan yang ada dan selalu ingat akan niat awal melakukan ritual agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik.

Terkait dengan pelaksanaan tradisi Nyadran, semoga generasi penerus tetap menjaga tradisi tersebut kedepannya agar generasi selanjutnya juga dapat mengetahui sejarah desa dan tokoh-tokoh penting yang ada di desa karena tradisi merupakan salah satu jati diri masyarakat.

(20)

Hal tersebut seperti pernyataan Mas Widaryanto yang dikutip sebagai berikut.

‘Kalau saya pribadi, tradisi Nyadran sangat penting karena selain tradisi turun temurun, juga mengingatkan saya tentang sejarah pendiri desa dan tokoh-tokoh penting yang ada di desa saya. Pesan bagi peziarah senantiasa selalu menjaga peraturan yang ada dan yang paling penting tidak menyalahgunakan tempat makam sebagai sarana untuk menjalankan ritual yang menjerumus ke hal yang tidak diinginkan. Pesan bagi generasi sekarang untuk tradisi Nyadran, semoga tetap bisa menjaga tradisi tersebut karena merupakan tradisi turun temurun.

Diharapkan agar generasi sekarang juga tahu sejarah desa dan tokoh-tokoh penting yang ada di desa.' (Wawancara 21 Juli 2020)

(21)

Terkait dengan pelaksanaan tradisi Nyadran atau tradisi ziarah makam leluhur di Desa Maron, sebaiknya masyarakat setempat turut berpartisipasi dalam melestarikan tradisi yang ada dan senantiasa luruskan niat saat melaksanakan tradisi. Pernyataan tersebut sesuai dengan kutipan wawancara dengan Ibu Ani selaku Lurah Desa Maron.

‘Tradisi ziarah kubur yang ada harus tetap kita lestarikan. Bagi yang mau ziarah, luruskan niat hanya berdoa dan mendoakan yang meninggal hanya kepada Allah SWT, jangan dengan niatan lainnya.’ (Wawancara 21 Juli 2020)

Tradisi Nyadran yang dilaksanakan di Desa Loano dan Desa Maron merupakan salah satu wisata religi yang diminati. Seperti halnya dengan peziarah bernama M. Faisol Reza yang pada tanggal 24 April 2019 membagikan momen kegiatan Nyadran di akun youtube miliknya.

(22)

Rombongan peserta kegiatan Nyadran di Desa Maron Loano Purworejo melakukan kegiatan ziarah di tiga kompleks pemakaman yaitu Sigemblong, Tengahsawah, dan Solotiyang.

(Sumber :M. Faisol Reza/Youtube)

Selain itu, kegiatan ziarah makam di Desa Maron juga dilakukan oleh ribuan umat NU Loano untuk memperingati hari santri pada tanggal 20 Oktober 2019. Rute ziarah dimulai dari makam simbah Zein Solotiyang Loano, makam Imam Puro Purworejo, makam Bulus Gebang, makam Tuan Guru Loning, makam Ukirsari Grabag, makam Awu Awu Langit Ngombol, makam Santren Bagelen, dan makam Masjid Agung Purworejo.

(23)

(Sumber : Muhamad Ansori/purworejo.sorot.co)

Kegiatan ini bertujuan untuk mawas diri dan menambah semangat para peserta untuk melanjutkan perjuangan ulama terdahulu seperti dituturkan oleh Suprayitno selaku panitia penyelenggara.

‘Ini sebagai bagian dari meneladani perjuangan para santri dan ulama terdahulu dalam mengembangkan Islam.’

(24)

Kegiatan ziarah makam juga pernah dilaksanakan dalam rangka mengenang jasa pahlawan yang diikuti oleh siswa SMP Takhasus Nuril Anwar beserta segenap siswa SD dan SMP lain di kecamatan Loano pada tanggal 16 Agustus 2018. Para peserta didampingi camat Loano, bapak Laksamana Sakti dan segenap jajaran pemerintah kecamatan Loano, kapolsek Loano, koramil Loano, dan lurah Desa Maron, bapak Puji Mangastowo, S.T. Para peserta melakukan ziarah makam pahlawan di pemakaman Solotiyang, kecamatan Loano, Purworejo.

Ziarah makam Solotiyang dilakukan di makam Pahlawan Serma Anumerta Subandi dan Kopral Satu Anumerta Sumpras yang telah gugur dalam perjuangan membangun bangsa. Melalui kegiatan ziarah ini, diharapkan peserta dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air dan sebagai sarana untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang telah berjasa untuk negara.

(25)

Terkait dengan pelaksanaan tradisi Nyadran atau Ruwahan di desa Loano, Pak Sungkono selaku Bayan Dusun Tlepo, Loano, menuturkan bahwa di dusun Tlepo terdapat 2 makam yang masing-masing adalah makam yang dituakan atau makam sesepuh desa. Di sebelah utara terdapat makam Mbah Nyai Tlepo dan di sebelah selatan terdapat makam Nyai Anggraeni.

Warga dusun Tlepo selalu mengadakan tradisi Ruwahan atau Punggahan secara rutin setiap tahun atau tepatnya hari Jum'at terakhir sebelum puasa. Sebelum diadakan Ruwahan, biasanya seminggu dan sehari sebelum acara, warga bergotong-royong melaksanakan kerja bakti di makam. Kemudian, acara Ruwahan diisi dengan pengajian dan mengirim doa kepada para pendahulu.

Pak Sungkono juga mengungkapkan kesan selama melaksanakan acara Ruwahan. Melalui acara Ruwahan, warga bisa saling mempererat tali silaturahmi. Warga yang turut berpartisipasi sangat antusias walaupun di tahun ini acara

(26)

Anak-anak juga senang mengikuti acara Ruwahan untuk menyambut bulan Ramadhan. Terakhir, beliau berpesan agar generasi muda tetap semangat dalam melestarikan tradisi Ruwahan ini dan sebisa mungkin jangan meninggalkannya.

Selanjutnya, Mas Gangga selaku anggota Karang Taruna Loano menuturkan bahwa di tempat tinggal beliau, dusun Tlepo, tradisi Nyadran lebih umum disebut sebagai Ruwahan.

Rangkaian acara Ruwahan dimulai dengan membersihkan makam yang ada di tempat pemakaman umum di dusun sambil tahlilan untuk mengirim doa kepada para leluhur. Karena terdapat dua tempat pemakaman umum di dusun, acara Ruwahan berlangsung bisa sampai setengah hari yaitu mulai dari pukul 7-8 pagi sampai sekitar pukul 11 siang lebih. Ruwahan kemudian dilanjutkan dengan mengaji bersama di masjid setempat.

Mas Gangga juga membandingkan acara Ruwahan yang ada di dusun Tlepo, Loano dan kegiatan Nyadran yang pernah diikuti di Ampel, Boyolali.

(27)

Menurut beliau, tradisi Nyadran di Ampel, Boyolali lebih ramai karena tradisi Nyadran dilakukan dua kali dalam setahun. Setiap warga bergotong royong memasak nasi tumpeng dan ingkung untuk satu dusun yang berjumlah hampir seratus porsi yang kemudian akan dibawa ke makam sesepuh lalu dilakukan doa bersama. Banyak tamu yang datang untuk bersilaturahmi pada acara Nyadran bahkan sampai dari luar kota.

Kegiatan Nyadran atau Ruwahan di dusun Tlepo, Loano dilakukan seperti kegiatan Nyadran pada umumnya. Namun, bisa jadi pelaksanaan kegiatan Nyadran bisa berbeda antar dusun.

Persamaan antara pelaksanaan kegiatan Nyadran atau Ruwahan antar dusun adalah warga lokal mempunyai rasa gotong royong yang kuat dan kompak dalam merayakannya.

Dalam melaksanakan acara Ruwahan, Mas Gangga menuturkan bahwa secara pribadi beliau lebih tertarik pada anak-anak kecil di daerah setempat yang masih antusias turut meramaikan acara.

(28)

Biasanya anak-anak kecil banyak yang turut membantu membersihkan makam dengan dibimbing oleh orang yang lebih tua. Beliau menuturkan bahwa tradisi lokal seperti ini sudah seharusnya diajarkan pada generasi penerus bangsa.

Walaupun generasi sekarang sudah merasakan perkembangan zaman, diharapkan tradisi-tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu jangan sampai dilupakan. Kegiatan mengirim doa dari rumah dengan ziarah makam pelaksanaannya cenderung sama, tetapi mengirim doa melalui ziarah makam dirasa mempunyai kesan lebih menghormati kepada para leluhur.

Generasi penerus juga diharapkan untuk tetap menjaga tradisi yang sudah ada turun temurun dan jangan sampai kehilangan jati diri ibarat “orang Jawa jare ojo sampe ilang Jawane (orang Jawa katanya jangan sampai hilang unsur Jawanya)”.

(29)

Pernyataan tersebut sesuai dengan kutipan wawancara dengan Mas Gangga sebagai berikut.

'Kalau aku secara pribadi, aku lebih tertarik sama anak-anak kecil generasi penerus yang masih antusias banget ikut mau bersih-bersih, ya walaupun aku suka ngomel-ngomel sama anak kecil biar nggak cuma main-main doang. Kan kadang ada yang susah dikasih tahu gitu ya, Mbak.

Soalnya kalo kita nggak menanamkan tradisi kaya gini ke mereka, siapa lagi yang bakal meneruskan?

Zaman sudah berkembang, dunia digital apalagi.

Tapi kalau bisa yang seperti ini budaya-budaya jangan sampai dilupakan.' (Wawancara 28 Juli 2020)

Terakhir, diharapkan untuk generasi penerus agar tidak melupakan orang-orang terdahulu atau sesepuh terutama keluarga. Tidak selalu harus di hari-hari Raya, sesekali jika ada waktu, diharapkan menyempatkan diri untuk menjenguk mereka di tempat peristirahatan terakhirnya.

(30)

Tradisi Nyadran atau Ruwahan yang dilakukan di Desa Loano dan Desa Maron, kecamatan Loano lebih banyak berfokus pada prosesi kegiatan ziarah makam berdasarkan ajaran agama Islam tanpa adanya upacara mempersembahkan sesajian. Kegiatan tersebut biasanya hanya meliputi gotong royong membersihkan makam, mengirim doa kepada leluhur lewat tahlilan, dan acara makan bersama.

T r a d i s i N y a d r a n a t a u R u w a h a n merupakan tradisi turun temurun yang harus dilestarikan bersama karena tradisi merupakan jati diri suatu masyarakat. Melalui tradisi ini, masyarakat dapat menjaga tali silaturahmi antar keluarga, saudara, dan tetangga. Walaupun pelaksanaanya dapat berbeda di setiap daerah, tetapi tujuannya tetap sama yaitu menjaga hubungan antara generasi penerus dengan para leluhur.

(31)

Tujuan dari diadakannya tradisi Nyadran bukan mengajak masyarakat untuk menjadi orang yang musyrik atau menyembah roh leluhur.

Namun, hadirnya tradisi Nyadran dapat digunakan sebagai momen untuk menunjukkan rasa hormat terhadap para leluhur yang telah berpulang dengan cara mendoakan sesuai ajaran agama dengan harapan para leluhur tenang di alam yang lain. Selain itu, tradisi Nyadran juga merupakan bentuk rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta.

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Purworejo. 2019.

Kecamatan Loano dalam Angka 2019. Purworejo : Badan Pusat Statistik Kabupaten Purworejo

beritatagar.id, “Sejarah (ritual) nyadran di Jawa”, 15 Mei 2018. https://beritagar.id/artikel/telatah/sejarah- ritual-nyadran-di-jawa (Diakses pada 23 Juli 2020)

Kastolani dan Abdullah Yusuf (2016). Relasi Islami dan Budaya Lokal : Studi Tentang Tradisi Nyadran di Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang.

Kontemplasi, Vol.4, No.1, hlm.53-68.

kompas.com. “Mengenal Nyadran, Tradisi Unik Masyarakat Jawa Menyambut Bulan Ramadan”, 17 April 2020.

https://superapps.kompas.com/read/54408/mengen al-nyadran-tradisi-unik-masyarakat-jawa-

menyambut-bulan-ramadan (Diakses pada 23 Juli 2020)

kompas.com, “Ruwahan”, Tradisi Menjelang Ramadhan, 28 Agustus 2008.

http://kompas.com/nasional/read/2008/08/28/143

(33)

purworejo.sorot.co, “Peringati Hari Santri, Ribuan Umat NU Loano Ziarahi Makam Aulia Purworejo”, 21 Oktober 2019. http://purworejo.sorot.co/berita-10070- peringati-hari-santri-ribuan-umat-nu-loano-ziarahi- makam-aulia-purworejo.html (Diakses pada 17 Juli 2020)

Rahayu, Febtia Eka Puji (2017). Kajian Folklor dalam Tradisi Nyadran di Makam Mbah Nyi Ngobaran Desa Soko Kecamatan Bagelen Kabupatan Purworejo. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Muhammadiyah Purworejo, Vol.10, No.2, hlm.24-27.

Reza, M. Faisol. “Nyadran Kampung Maron Loano Purworejo.” YouTube, diunggah oleh M. Faisol Reza, 24 April 2019, http://youtu.be/EABcjHMgCgI

suryaden.com, “Sya'ban, Nisfu Sya'ban, Ruwah, Nyadran”, 22 Mei 2016.

http://www.suryaden.com/ageman/syaban-nisfu- syaban-ruwah-nyadran (Diakses pada 19 Juli 2020)

yayasannurilanwar.com, “Ziarah Makam Pahlawan Bersama Camat Loano”, 20 Agustus 2018.

http://yayasannurilanwar.com/berita/ziarah-makam-

(34)

Referensi

Dokumen terkait

royong dan peduli sosial pada tradisi Nyadran di Dukuh Wonorejo, Desa Bulusan,. Kecamatan Karangdowo,

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan: (1) makna yang terkandung dalam tradisi nyadran di Desa Kedungjambal, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo yaitu, Melestarikan

Adapun hasil dari penelitian dari prosesi tradisi nyadran di Desa Ketundan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang, yaitu: (1) prosesi meliputi: (a) berseh makam,

Karakteristik sosial ekonomi yang memiliki hubungan dengan keputusan petani jahe melakukan pengolahan jahe di desa Jetis kecamatan Loano kabupaten Purworejo adalah umur (sangat

yang biasa disebut dengan “nyadran” oleh masyarakat Dusun Pomahan, Desa Pomahan, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro. Tradisi ini semula bertujuan untuk memberikan

Selain itu, sesepuh juga akan berpesan kepada masyarakat Desa Sodong untuk tidak menyamakan Tradisi Nyadran dengan acara ritual apapun yang bertentangan dengan

Besarnya rata-rata biaya total yang digunakan 20 responden pemilik industri kecil lanting di Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo, untuk memproduksi lanting dalam satu periode

Hasil penelitan menunjukkan bahwa a kepercayaan masyarakat terhadap tradisi nyadran yaitu untuk menghilangkan bala’ atau musibah serta budaya nyekar sebelum hajatan dipercaya untuk