PEMERIKSAAN KEIMIGRASIAN MELALUI AUTOGATE UNTUK MENGURAI ANTRIAN PADA TEMPAT PEMERIKSAAN IMIGRASI DI BANDARA
INTERNASIONAL INTERNASIONAL SOEKARNO - HATTA
oleh
SHAHINSHAH SATRIA AL AZIZ, S.H.
NIP. 199303312017121002 .
KANTOR IMIGRASI KELAS I KHUSUS TPI SOEKARNO-HATTA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
2022
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 2
1.1 Latar Belakang ... 2
1.2 Pokok Permasalahan ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Signifikasi Penelitian ... 7
1.5 Sistematika Penulisan... 8
BAB II KERANGKA TEORI ... 11
2.1 Imigrasi... 11
2.2 Tempat Pemerikaan Imigrasi (TPI) ... 15
2.3 Area Imigrasi ... 15
2.4 Sistem Autogate ... 16
2.5 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta ... 16
2.6 Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta ... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 19
3.1 Metode Pendekatan ... 20
3.2 Spesifikasi Penelitian ... 21
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 21
3.4 Metode Analisa Data ... 23
3.5 Metode Peyajian Data ... 24
BAB IV PEMBAHASAN ... 25
4.1 Prosedur Pemeriksaan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Internasional Sokarno-Hatta ... 25
4.2 Mengoptimalkan Penggunaan Autogate Untuk Mengurai Antrian Pemeriksaan Keimigrasian di Bandara Internasional Soerkarno-Hatta ... 30
BAB V PENUTUP ... 33
5.1 Kesimpulan ... 33
5.2 Saran ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 35
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Globalisasi telah bergulir di seluruh sektor kehidupan masyarakat dunia dan berkembang pada unsur teknologi di bidang informasi dan komunikasi yang menembus batas wilayah kenegaraan. Aspek hubungan kemanusiaan yang selama ini bersifat nasional saat ini berkembang menjadi bersifat internasional dan memiliki cakupan yang sangat luas, bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya tuntutan terwujudnya tingkat kesetaraan dalam aspek kehidupan kemanusiaan, sehingga mendorong adanya kewajiban untuk menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia sebagai bagian kehidupan universal. Hak atas kebebasan pribadi merupakan salah satu hak yang paling mendasar bagi setiap orang karena menyangkut juga hak menentukan nasib sendiri.1
Perkembangan global dewasa ini mendorong meningkatnya mobilitas penduduk dunia. Faktor pergerakan manusian dapat timbul dari keinginan pribadi yang juga dipengaruhi oleh faktor–faktor eksternal, misalnya mencari penghidupan yang lebih baik, mencari pengalaman baru atau terpaksa bahaya yang ditimbulkan manusia maupun alam.2 Peningkatan mobilitas mendorong pemerintah untuk terus berinovasi dalam memberikan pelayanan dan pengawasan khususnya di dalam negeri.
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa tujuan didirikan Negara Republik Indonesia, antara lain adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Amanat tersebut mengandung makna negara berkewajiban memenuhi kebutuhan setiap warga negara melalui suatu sistem pemerintahan yang mendukung terciptanya penyelenggaraan pelayanan publik yang prima dalam rangka memenuhi kebutuhan
1 Rhona K.M. Smith dkk, Hukum Hak Asasi Manusia (Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008), hal. 261.
dasar dan hak sipil setiap warga negara atas barang publik, jasa publik, dan pelayanan administratif.
Aspek pelayanan dan pengawasan tidak pula terlepas dari geografis Wilayah Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang mempunyai jarak yang dekat, bahkan berbatasan langsung dengan negara tetangga, yang pelaksanaan Fungsi Keimigrasian di sepanjang garis perbatasan merupakan kewenangan Direktorat Jenderal Imigrasi.
Pada tempat tertentu sepanjang garis perbatasan terdapat lalu lintas tradisional masuk dan keluar warga negara Indonesia dan warga negara tetangga. Dalam rangka meningkatkan pelayanan dan memudahkan pengawasan dapat diatur perjanjian lintas batas dan diupayakan perluasan Tempat Pemeriksaan Imigrasi.
Wilayah Indonesia menjadi zona tertentu Imigrasi. Peran Imigrasi melalui fungsi keimigrasian memberikan pelayanan keimigrasian, penegakan hukum, keamanan negara, dan fasilitator pembangunan kesejahteraan masyarakat. Keempat hal tersebut menjadi satu wadah dalam unsur pemeriksaan keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi di pelabuhan laut, bandar udara, pos lintas batas, atau tempat lain sebagai tempat masuk dan keluar Wilayah Indonesia.
Pemeriksaan keimigrasian merupakan salah satu tugas dan fungsi Imigrasi khususnya dalam mengatur lalu lintas orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia di Tempat Pemeriksaan Imigrasi. Dalam menjalankan fungsi di bidang pelayanan dan keamanan, imigrasi memberikan pelayanan di konter pemeriksaan keimigrasian dengan melakukan pemeriksaan di konter imigrasi. Salah satu bentuk keamanan keimigrasian adalah melakukan pengawasan terhadap orang asing di dalam negeri.
Pemeriksaan keimigrasian juga bagian dari perwujudan pelaksanaan penegakan kedaulatan atas Wilayah Indonesia dalam rangka menjaga ketertiban kehidupan berbangsa dan bernegara menuju masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Direktorat Jenderal Imigrasi sebagai instansi yang berwenang dibidang keimigrasian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 44 Tahun 2015 yang selanjutnya disebut Permenkumham Nomor 44 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pemeriksaan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia Di Tempat Pemeriksaan Imigrasi dalam Permenkumham Nomor 44 Tahun 2015.
Permenkumham Nomor 44 Tahun 2015 Tata Cara Pemeriksaan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia Di Tempat Pemeriksaan Imigrasi mengatur pelaksanaan pemeriksaan keimigrasian dalam Pasal 2 (1) berbunyi “Setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia wajib melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Pejabat Imigrasi di TPI”. Pemeriksaan Keimigrasian dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan terhadap Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing atau Orang Indonesia.
Setiap warga negara Indonesia yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan:
a. memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;
b. tidak termasuk dalam daftar Pencegahan;
c. tercantum dalam daftar penumpang atau awak Alat Angkut kecuali bagi kendaraan pribadi dan kendaraan muatan barang.
Sedangkan pemeriksaan Keimigrasian terhadap orang asing yang masuk Wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. memiliki Visa yang sah dan masih berlaku, kecuali yang dibebaskan dari kewajiban memiliki Visa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan;
b. memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku paling singkat 6 (enam) bulan;
c. tidak termasuk dalam daftar Penangkalan.
Pemeriksaan melalui konter di area Imigrasi dalam pelaksanaannya memiliki banyak kendala salah satunya adalah antrian penumpang yang menumpuk.
Penumupukan penumpang ini terjadi karena sebab-sebab tertentu, seperti:
1. system yang lambat karena ada masalah pada SIMKIM (Sistem Informasi Keimigrasian);
2. hari besar umat beragama dan hari libur nasional;
3. penumpang yang bepergian untuk ibadah;
4. ketersediaan petugas; dll.
Imigrasi dalam melakukan penyelenggaraan pelayanan publik masih dihadapkan pada kondisi yang belum sesuai dengan kebutuhan dan perubahan di berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga terciptanya inovasi dalam memberikan pelayanan yaitu pemeriksaan melalui Autogate System. Direktorat Jenderal Imigrasi telah mengimplementasikan kemudahan layanan pemeriksaan keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi melalui sistem Autogate.
Sistem Autogate adalah sarana pemeriksaan keimigrasian melalui pintu perlintasan otomatis bagi setiap Warga Negara Indonesia yang akan masuk dan keluar wilayah Indonesia dimana untuk membuka pintu tersebut terlebih dahulu diperlukan prosedur pemindaian paspor dan sidik jari yang tersedia pada peralatan Autogate. Penerapan di Autogate Bandara Internasional Soekarno-Hatta sangat berguna dari segi pengawasan keimigrasian dengan melakukan pemindaian data diri penumpang, sidik jari, dan juga face recognition sebagai bentuk dari pengawasan yang dilakukan oleh Autogate.3 Sistem cekal yang terdapat pada Autogate merupakan bentuk dari pengawasan keimigrasian. Bentuk pelayanan yang menjadi pedoman dalam memberikan pelayanan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan
3 Alifine Qinthara Fatharani, Dara Gautama Meilina, A. A. Gede Raka Arta Yoga, “Penggunaan Autogate di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta”. Jurnal Ideas Vol. 7 No. 4,
Publik dengan melaksanakan pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.4
Sehingga dalam hal ini penulis memberikan judul dalam karya tulis penulis yaitu
“PEMERIKSAAN KEIMIGRASIAN MELALUI AUTOGATE UNTUK MENGURAI ANTRIAN PADA TEMPAT PEMERIKSAAN IMIGRASI DI BANDARA INTERNASIONAL INTERNASIONAL SOEKARNO HATTA”.
1.2 Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas, penulis akan memaparkan masalah pada pelayanan keimigrasian, penumpukan penumpang di area imigrasi merupakan penghambatan dalam menciptakan kondisi pelayanan yang publik yang berkualitas dan cepat dengan menganalisis agar dapat mengidentifikasi kendala dan cara untuk menghadapinya.
Oleh karena itu, penulis melakukan analisis mengenai hal tersebut berdasarkan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana prosedur pemeriksaan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta?
2. Bagaimana mengoptimalkan penggunaan Autogate untuk mengurangi antrian pemeriksaan keimigrasian di Bandara Internasional Internasional Soekarno-Hatta?
4
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan diatas, tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui prosedur pemeriksaan keimigrasian di area imigrasi Bandara Internasional Internasional Soekarno - Hatta.
Selain Tujuan umum tersebut terdapat tujuan penelitian khusus, yaitu untuk menganalisa pemeriksaan keimigrasian melalui Autogate sebagai sarana pemeriksaan untuk mengurai antrian yang Panjang di area Imigrasi Bandara Internasional Internasional Soekarno - Hatta sesuai Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan Direktorat Jenderal Imigrasi.
1.4 Signifikasi Penelitian
Hasil Manfaat penulisan ini diharapkan dapat mencakup dua sisi, yaitu:
1. Signifikansi Akademis
Manfaat penulisan ini dari sisi akademis adalah mengkorelasikan teori terkait Standar Operasional Prosedur (SOP) penggunaan Autogate di area imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tidak hanya itu, diharapkan pula hasil penulisan ini dapat dijadikan pedoman pembelajaran dan menjadi suatu acuan dalam mengatasi pokok permasalahan dalam penelitian.
2. Signifikansi Praktis
Untuk kepentingan praktis, diharapkan hasil penelitian ini selain dapat memberikan kontribusi berupa masukan kepada Petugas Imigrasi khususnya kepada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta dan Kantor Imigrasi lainnya dalam hal perlakuan pemeriksaan keimigrasian melalui Autogate. Selain itu, hasil penulisan ini juga diharapkan dapat
memberikan pemahaman serta sebagai agen sosialisasi penanganan terhadap masalah dalam pemeriksaan keimigrasian.
Hasil Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk kepentingan teoretis dan praktis, yakni:
1. Secara teoritis, berguna untuk :
a. Pengembangan ilmu hukum materil di bidang keimigrasian terkait dengan isu yang dibahas dalam penelitian ini;
b. Memberikan masukan pemikiran bagi peneliti selanjutnya terhadap permasalahan serupa;
c. Memberikan informasi kepustakaan tambahan bagi para akademisi hukum, khususnya di bidang hukum keimigrasian.
2. Secara praktis, berguna sebagai bahan pertimbangan bagi semua praktisi hukum yang terlibat dan berkepentingan, yaitu :
a. Pembuat Peraturan : sebagai bahan masukan untuk merevisi atau bahkan membuat aturan hukum baru yang lebih tegas terkait pemeriksaan keimigrasian yang berkualitas dan cepat.
b. Direktorat Jenderal Imigrasi : sebagai dasar kepastian hukum dalam membuat kebijakan strategis terkait dengan Tindakan administrative keimigrasian terhadap pemeriksaan keimigrasian melalui Autogate.
c. Masyarakat: sebagai dasar kepastian hukum demi menjaga keberlangsungan dan keharmonisan di tatanan masyarakat.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam Bab ini penulis akan menguraikan secara singkat mengenai Latar Belakang Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate untuk mengurai antrian pada Tempat
Pemeriksaan Keimigrasian di Bandara Internasional Soekarno - Hatta, serta menjelaskan Pokok permasalahan, Tujuan Penelitian, Signifikasi Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB 2 KERANGKA TEORI
Dalam Bab ini penulis akan menbahas mengenai konsep- konsep dan teori-teori yang digunakan sebagai landasan pemikiran terkait dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate untuk mengurai antrian pada Tempat Pemeriksaan Keimigrasian di Bandara Internasional Soekarno - Hatta.
BAB 3 METODE PENELITIAN
Pada bab ini membahas mengenai metode penelitian yang digunakan dalam penelitian yang terdiri dari pendekatan penelitian, metode dan strategi penelitian, hipotesis kerja, informan, proses penelitian, site penelitian, dan keterbatasan penelitian.
BAB 4 ANALISIS PEMERIKSAAN KEIMIGRASIAN
MELALUI AUTOGATE UNTUK
MENGURANGI ANTRIAN KONTER
PEMERIKSAAN KEIMIGRASIAN
Dalam bab ini akan dijabarkan mekanisme Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate untuk
mengurai antrian pada Tempat Pemeriksaan Keimigrasian di Bandara Internasional Soekarno - Hatta sesuai aturan yang berlaku. Serta analisis terhadap kendala yang dihadapi dan cara penanganannya. Analisa dikaji berdasarkan teori- teori dan hasil pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis.
BAB 5 PENUTUP
Bab ini merupakan bab penutup yang akan menyajikan kesimpulan dan saran berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan penulis pada bab sebelumnya. Dan selanjutnya kesimpulan dan saran ini akan diuraikan pada dua sub bab sebagai berikut :
5.1 Kesimpulan 5.2 Saran
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Imigrasi
Istilah imigrasi berasal dari bahasa Latin migratio yang artinya perpindahan orang dari suatu tempat atau Negara menuju ke tempat atau Negara lain. Ada istilah emigratio yang mempunyai pengertian berbeda, yaitu perpindahan penduduk dari suatu wilayah atau Negara ke luar menuju wilayah atau Negara lain. Sebaliknya, istilah immigratio dalam bahasa Latin mempunyai arti perpindahan penduduk dari suatu Negara untuk masuk ke dalam Negara lain.5
Secara etimologi istilah emigrasi, imigrasi dan transmigrasi ketiganya berasal dari bahasa Latin migration, yang berarti perpindahan penduduk.
Perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain, dekat atau jauh. Jadi dengan demikian, pengertian migran adalah perpindahan penduduk secara besar-besaran dari satu tempat ke tempat lain. 6 Pengertian imigrasi adalah satu hak asasi manusia, yaitu memasuki negara lain.
Oxford Dictionary of Law juga memberikan definisi imigrasi sebagai berikut:
“Immigration is the act of entering a country other than one’s native country with the intention of living there permanently.” Dari definisi ini dipahami bahwa perpindahan itu mempunyai maksud yang pasti, yakni untuk tinggal menetap dan mencari nafkah di suatu tempat yang
5 Herlin Wijayanti, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian, (Malang: Bayumedia Publishing, 2011), hal.
129.
6 Jazim Hamidi dan Charles Christian, Hukum keimigrasian bagi orang asing di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), hal. 1.
baru. Oleh karena itu, orang asing yang bertamasya, atau mengunjungi suatu konfrensi internasional, atau merupakan romboongan msisi kesenian atau olahraga, atau juga menjadi diplomat tidak dapat disebut sebagai orang imigran.
Sementara itu Hamid Awaludin mantan Menteri Hukum dan HAM RI memberikan penjelesan tentang imigrasi, sebagai berikut:
“Imigrasi adalah pelantaran depan Indonesia yang pertama kali dijejak warga asing. Senyum Indonesia yang pertama menyambut orang- orang yang hendak memasuki wilayah kedaulatan Indonesia adalah senyum petugas imigrasi, segala coreng moreng citra dan wajah bangsa ini sedikit banyak ditentukan oleh coreng moreng wajah imigrasi, etalase bangsa kita”.
Sedangkan Keimigrasian dalam Undang-Undang Keimigrasian Nomor 6 Tahun 2016 huruf (a) menjelaskan:
“Keimigrasian merupakan bagian dari perwujudan pelaksanaan penegakan kedaulatan atas Wilayah Indonesia dalam rangka menjaga ketertiban kehidupan berbangsa dan bernegara menuju masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
Pada dasarnya fungsi dan peranan keimigrasian bersifat universal, yaitu melaksanakan pengaturan lalu lintas orang masuk atau ke luar wilayah suatu negara. Lazimnya dilaksanakan berdasarkan suatu politik imigrasi, yaitu kebijakan negara yang telah ditetapkan atau digariskan oleh pemerintahnya sesuai dengan ketentuan hukum, peraturan perundang-undangan yang berlaku.7
7 Iman Santoso, M, Peran Keimigrasian dalam Rangka Peningkatan Ekonomi dan Pemeliharaan Ketahanan
Secara operasional, peran keimigrasian di Indonesia selalu mengandung tiga fungsi, yaitu :
a. Fungsi Pelayanan Masyarakat Dari aspek ini imigrasi dituntut untuk memberikan pelayanan prima di bidang keimigrasian, baik kepada WNI maupun WNA. Pelayanan bagi WNI terdiri atas pemberian paspor, surat perjalanan laksanana paspor (SPLP), pas lintas batas (PLB) dan pemberian tanda bertolak atau masuk.
Pelayanan bagi WNA terdiri atas pemberian dan perpanjangan dokumen keimigrasian (DOKIM) yang berupa Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS), Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP), Kemudahan Khusus Keimigrasian (DAHSUSKIM), perpanjangan visa kunjungan, pemberian izin masuk kembali, izin bertolak dan pemberian tanda bertolak dan masuk.8
b. Fungsi Keamanan Imigrasi berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang negara. Dikatakan demikian Karena imigrasi merupakan institusi pertama dan terakhir yang menyaring kedatangan dan keberangkatan orang asing ked an ari wilayah RI. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada WNI dijabarkan melalui tindakan pencegahan keluar negeri bagi WNI. Pelaksanaan fungsi keamanan yang ditujukan kepada WNA adalah sebagai berikut:9
• Melakukan seleksi terhadap setiap maksud kedatangan orang asing melalui pemeriksaan permohonan visa.
• Melakukan kerjasama dengan aparatur kemanan negara lain, khususnya dalam memberikan supervise perihal
8 Jazim Hamidi dan Charles Christian, Op.cit. Hal. 113.
9 Ibid. hal. 114.
penegakan hukum keimigrasian.
• Melakukan operasi intelijen keimigrasian bagi kepentingan keamanan negara.
• Melakukan pencegahan dan penangkalan.
c. Fungsi Penegakan Hukum Dalam pelaksanaan tugas keimigrasian, keseluruhan aturan hukum tersebut harus ditegakkan kepada setiap orang yang berada di wilayah Indonesia, baik itu WNI ditujukan kepada permasalahan identitas palsu, pertanggungjawaban sponsor, kepemilikan sponsor ganda, dan keterlibatan dalam pelanggaran aturan keimigrasian.
Penegakan hukum terhadap WNA ditujukan pada permasalahan:
pemalsuan identias, pendaftaran orang asing dan pemberian buku pengawasan orang asing, penyalahgunaan izin tinggal, masuk secara illegal atau beada secara illegal, pemantauan atau razia dan kerawanan secara geografis dalam perlintasan. Secara operasional, fungsi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh institusi imigrasi juga mencakup penolakan pemberian izin masuk, izin bertolak, izin keimigrasian, dan tindakan keimigrasian. semua itu merupakan bentuk penegakan hukum yang bersifat administratif. Sementara itu dalam hal penegakan hukum yang bersifat pro yusticia, yaitu kewenangan penyidikan, tercakup tugas penyidikan (pemanggilan, penangkapan, penahanan, pemeriksaan, penggeledahan dan penyitaan), pemberkasan perkara serta pengajuan berkas perkara ke penuntut
umum.10
2.2 Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI)
TPI adalah tempat pemeriksaan di pelabuhan laut, bandar udara, pos lintas batas, atau tempat lain sebagai tempat masuk dan keluar Wilayah Indonesia. Setiap orang yang keluar dan/atau masuk wilayah Indonesia wajib melalui pemerikasaan keimigrasian.
Berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH- 02.GR.02.02 Tahun 2020 tentang Tempat Pemeriksaan Imigrasi telah menetapkan daftar TPI yang terdiri dari: 8 Pemeriksaan Keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi: 11
1. 90 (sembilan puluh) TPI Pelabuhan Laut;
2. 37 (tiga puluh tujuh) TPI Bandar Udara;
3. 11 (sebelas) TPI Pos Lintas Batas Internasional; dan
4. 44 (empat puluh empat) TPI Pos Lintas Batas Tradisional Sehingga jumlah keseluruhan TPI saat ini berjumlah 182 (seratus delapan puluh dua) TPI.
2.3 Area Imigrasi
Area imigrasi merupakan cerminan dari standar kualitas pelayanan keimigrasian di suatu negara. Bagi orang asing yang datang ke suatu negara, maka area yang pertama kali ditemui adalah area imigrasi.12 Area imigrasi merupakan wujud kewibawaan dari suatu negara. Pasal 20 Undang-Undang
10 Ibid. hal. 113-114.
11 Ahmad Harry Lesmana, Maroloan J Baringbing, “Pemeriksaan Keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi”, (Depok: BPSDM KUMHAM Press, 2020), hal. 7-8.
12 Ahmad Harry Lesmana, Maroloan J Baringbing, op. cit., hal 19.
Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian menjelaskan “Area Imigrasi merupakan suatu area tertentu untuk melakukan pemeriksaan keimigrasian yang merupakan area terbatas yang hanya dapat dilalui oleh penumpang atau awak alat angkut yang akan keluar atau masuk Wilayah Indonesia, atau pejabat dan petugas yang berwenang”.
2.4 Sistem Autogate
Sistem Autogate adalah sarana pemeriksaan keimigrasian melalui pintu perlintasan otomatis bagi setiap Warga Negara Indonesia yang akan masuk dan keluar wilayah Indonesia dimana untuk membuka pintu tersebut terlebih dahulu diperlukan prosedur pemindaian paspor dan sidik jari yang tersedia pada peralatan Autogate. Implementasi fasilitas sistem Autogate diberikan kepada Warga Negara Indonesia pemegang paspor elektronik maupun paspor non elektronik yang sudah terpasang di Bandara Internasional Internasional Soekarno- Hatta. Jika sebelumnya paspor non elektronik harus melalui tahapan registrasi terlebih dahulu jika ingin melintas pada Sistem Autogate yang ada di Bandara Internasional International Soekarno-Hatta.
2.5 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta
Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta kerap disingkat SHIA atau Bandar Udara Cengkareng dengan IATA penunjuk "CGK", merupakan sebuah bandar udara utama yang melayani penerbangan untuk Jakarta, Indonesia. Bandar udara ini diberi nama sesuai dengan nama dwitunggal tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, yang sekaligus merupakan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama. Nama populer dalam masyarakat adalah Bandara Internasional Cengkareng oleh karena berdekatan
dengan wilayah Cengkareng, Jakarta Barat, meskipun secara geografis berada di kecamatan Benda, Kota Tangerang.13
2.6 Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta
Kantor imigrasi Soekarno-Hatta diresmikan oleh menteri kehakiman pada Tanggal 1 April 1985, merupakan pengganti dari kantor imigrasi Halim Perdana Kusuma. Dimana pada saat itu kegiatan penerbangan dipindahkan ke Bandara Internasional internasional Soekarno-Hatta, mengingat beban dan volume kerja yang cukup besar terjadilah perubahan klasifikasi Kantor Imigrasi Soekarno- Hatta dari Kantor Imigrasi Kelas I Soekarno-Hatta menjadi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta yang telah dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.14.PR.07.04 Tahun 2003 Tanggal 3 Desember 2003. Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta berubah menjadi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta yang telah
dituangkan dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor 19 Tahun 2018 tanggal 13 Juli 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Imigrasi. 14
Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soetta merupakan Unit Pelaksana Teknis di bidang Keimigrasian, bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI Jakarta.
Tugas pokok dan fungsinya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan pengawasan perlintasan & penegakan hukum di bidang keimigrasian. Wilayah Kerja Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Bandara
13 https://www.angkasapura2.co.id/id/business_relation/our_airport/16-Bandara Internasional-internasional- soekarno-hatta (diakses pada 5 Januari 2022, pukul 15.22)
14 https://soekarnohatta.imigrasi.go.id/profil-sejarah (diakses pada 5 Januari 2022, pukul 15.30)
Internasional Soekarno- Hatta mengawasi 2 (dua) kecamatan, yaitu Kecamatan Cengkareng dan Kecamatan Kalideres. Untuk Wilayah Cengkareng terdiri dari 6 Kelurahan yaitu Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Duri
Kosambi, Kapuk, Kedaung Kaliangke dan Rawa Buaya. Wilayah Kalideres terdiri dari 5 Kelurahan yaitu Kelurahan Kalideres, Kamal, Pegadungan, Semanan dan Tegal Alur. Bandara Internasional Internasional Soekarno Hatta merupakan wilayah kerja Kanim Kelas I Khusus Soekarno-Hatta sebagai Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI).
Selain itu juga pelaksanaan tugas keimigrasian didukung dengan pola kerja kesisteman yang terintegrasi satu sama lain:
1. Sistem penerbitan paspor berbasis biometric dan face recognition;
2. Sistem e-office sebagai sarana pelayanan keimigrasian yang terkoneksi antara Unit Pelaksana Teknis (UPT) dengan Kantor Wilayah serta Direktorat Jenderal Imigrasi dan Direktorat Jenderal Imigrasi;
3. Sistem Enhanced Cekal System (ECS) sebagai sarana pemeriksaan cegah tangkal (cekal);
4. Passenger Moving System (PMS) sebagai sarana perlintasan orang di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI);
5. sistem Border Control Management (BCM) dapat terekam ke pusat data keimigrasian;
6. e-passport ; dan
7. Autogate sebagai sarana perlintasan orang (khususnya WNI) di Tempat Pemeriksaan Imigrasi baik yang menggunakan e-passport maupun paspor biasa.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu, sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisi sampai menyusun laporannya.15 Metode merupakan unsur mutlak yang harus ada dalam kegiatan penelitian.
Seseorang yang melakukan penelitian atau sedang membuat karya ilmiah diharuskan menggunakan metode.
Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara analisa dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten. Metodologi berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu, sistematis adalah berdasarkan suatu sistem, dan konsisten untuk menjelaskan tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.
Pengertian metode penelitian dapat disimpulkan menjadi, suatu cara atau jalan untuk memecahkan gejala-gejala alam atau gejala-gejala sosial dalam kehidupan, guna menentukan, menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan dan menemukan solusinya dengan cara mengumpulkan, menyusun serta menginterpretasikan kata-kata yang sesuai dengan pedoman dan aturan yang berlaku dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode penelitian disebut juga metode ilmiah yang memerlukan sistematika dan prosedur yang harus ditempuh dengan tidak meninggalkan setiap unsur yang diperlukan dalam suatu penelitian.16 Suatu penelitian, pada hakikatnya adalah untuk mendapatkan kebenaran atas
15 Chalid Norpuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 1.
16 Mardalis, Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal.14.
sesuatu. Suatu penelitian tidak akan mencapai hal yang diharapkan dalam dunia ilmu pengetahuan, bila tidak ditunjang dengan metode yang tepat dan benar. Fungsi penelitian adalah untuk mencari penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan yang akan diteliti. Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah mengenai Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate untuk mengurai antrian pada Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Bandara Internasional Soekarno - Hatta
Hasil akhir yang diharapkan dari metode penelitian adalah kebenaran ilmiah.
Langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan suatu penelitian haruslah dilandasi dengan suatu metode yang memberikan petunjuk yang cermat. agar dapat menghasilkan suatu karya ilmiah yang berkualitas.
3.1 Metode Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif didefinisikan oleh Crasweel sebagai
“sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia, berdasarkan pada penciptaan gambaran holistik lengkap yang dibentuk dengan kata- kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar alamiah”.
Dalam penelitian ini, pembahasan yang dilakukan atas permasalahan yang diajukan menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisa Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate pada Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Bandara Internasional Soekarno - Hatta. Selain itu peneliti membutuhkan informan yang berkompeten sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kesimpulan analisa dalam menjawab permasalahan penelitian.
3. 2 Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa penelitian deskriptif analisis. Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya, selanjutnya dilakukan analisis melalui peraturan-peraturan yang berlaku dikaitkan dengan aturan-aturan yang berlaku, pendapat Pejabat Imigrasi dan/atau Petugas Imigrasi di lapangan, dan praktik pelaksanaan yang menyangkut mengenai materi proses pelaksanaan Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate untuk mengurai antrian pada Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Bandara Internasional Soekarno - Hatta.
Analisa penelitian ini diharapkan dapat mengetahui keadaan yang ada pada teori dan praktek, sehingga diharapkan pada akhir kegiatan dapat memecahkan masalah yang ada.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data, diperlukan data yang bersumber dari buku-buku, literatur, dan pendapat Pejabat Imigrasi dan/atau Petugas Imigrasi di lapangan yang berkaitan dengan penelitian ini, ataupun sumber lain yang ada di lapangan untuk menunjang keberhasilan dan efektivitas penelitian. Pengumpulannya dilakukan dengan cara mengumpulkan dan meneliti peraturan-peraturan, buku- buku bahan sumber bacaan lain yang berkaitan dengan masalah di lapangan.
Sumber data penilitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah sumber data yang diperoleh tidak melalui media perantara atau diperoleh secara langsung dari narasumber. Data primer dapat berupa opini,
hasil observasi, kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian.17 Data sekunder adalahdata yang bersumber dari penelitian kepustakaan (library research) yang bahan hukumnya berasal dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
Penelitian hukum normatif, bahan pustaka merupakan data dasar, yang dalam ilmu penelitian digolongkan sebagai data sekunder, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder.18
Ciri-ciri umum dari data sekunder adalah:19
a. Data sekunder pada umumnya ada dalam keadaan siap berbuat (ready made)
b. Bentuk maupun isi data sekunder telah dibentuk dan diisi oleh peneliti-peneliti terdahulu
c. Data sekunder dapat diperoleh tanpa terikat, dibatasi oleh waktu dan tempat.
Bahan data sekunder meliputi tiga bahan kepustakaan, yaitu:
a. Data Primer
Data-data yang mengikat yang dalam hal ini berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam makalah. Data primer dalam penulisan makalah ini terdiri dari:
1) Berbagai peraturan yang menyangkut Hukum Perdata, seperti:
(a) KUHP (Kitab Undang-Undang Pidana)
2) Berbagai peraturan Perundang-undangan yang menyangkut tentang hukum keimigrasian, seperti:
17 https://nagabiru86.wordpress.com/2009/06/12/data-sekunder-dan-data-primer/ diakses pada tanggal 2 Februari 2021.
18 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.Cit., hal. 24.
19 Ibid.
(a) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian
(b) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik
3) Buku-buku yang menyangkut tentang keimigrasian
(a) Buku-buku mengenai keimigrasian dan hukum keimigrasian.
b. Data Sekunder
Data-data yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami data primer, yang berupa:
1) Makalah dan Artikel, meliputi makalah tentang keimigrasian dan pelayanan publik.
2) Situs internet tentang tentang keimigrasian dan pelayanan publik.
c. Bahan Tersier
Bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap data primer dan data sekunder yang berupa :
1) Kamus-Kamus Hukum.
2) Kamus Besar Bahasa Indonesia . 3) Ensiklopedia.
3.4 Metode Analisa Data
Metode analisa adalah suatu proses pengumpulan data yang didasarkan atas segala data yang sudah diolah. Metode analisis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Analisis data dilakukan secara kualitatif, komperhensif, dan lengkap. Analisis data artinya menguraikan data secara bermutu
dalam kalimat yang teratur, runtun, logis, tidak tumpang tindih, dan efektif, sehingga memudahkan interpretasi data dan pemahaman hasil analisis. Komperhensif artinya analisis data secara mendalam dari berbagai aspek sesuai dengan lingkup penelitian.
Lengkap artinya tidak ada bagian yang terlupakan, semuanya sudah masuk analisis.
Analisis data dan interpetasi seperti ini akan menghasilkan produk penelitian hukum normatif yang sempurna.20
3.5 METODE PENYAJIAN DATA
Data yang telah terkumpul melalui pengumpulan data, dianalisa kemudian dikaji untuk diolah yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya ilmiah. Data yang telah terkumpul dalam penelitian, kemudian disajikan dalam bentuk uraian makalah.
20 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 127.
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Prosedur Pemeriksaan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Terdapat 2 (dua) komponen pokok dari kegiatan pemeriksaan dan pemberian Tanda Masuk dan Tanda Keluar, yaitu kegiatan pemeriksaan keimigrasian di satu sisi, dan sisi lainnya adalah tindak lanjut dari hasil pemeriksaan keimigrasian yang outputnya adalah pemberian Tanda Masuk dan Tanda Keluar. Pengertian Tanda Masuk sesuai Pasal 1 angka 19 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian jo. Pasal 1 angka 8 PP Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian: “Tanda Masuk adalah tanda tertentu berupa cap yang dibubuhkan pada Dokumen Perjalanan warga negara Indonesia dan Orang Asing, baik manual maupun elektronik, yang diberikan oleh Pejabat Imigrasi sebagai tanda bahwa yang bersangkutan masuk Wilayah Indonesia”, sedangkan menurut Pasal 1 angka 20 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian jo. Pasal 1 angka 9 PP Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian “Tanda Keluar adalah tanda tertentu berupa cap yang dibubuhkan pada Dokumen Perjalanan warga negara Indonesia dan Orang Asing, baik manual maupun elektronik, yang diberikan oleh Pejabat Imigrasi sebagai tanda bahwa yang bersangkutan keluar Wilayah Indonesia”.
Pemeriksaan keimigrasian dilakukan oleh Pejabat Imigrasi atau Petugas Pemeriksa Pendaratan terhadap setiap orang yang masuk atau keluar melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi untuk memeriksa dan mendapatkan keterangan mengenai orang yang akan melintas baik secara langsung maupun tidak
langsung. Prinsip dasar setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia bedasarkan pada:21
1. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011; dan
2. Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013, “Setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia wajib melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi”.
Prosedur bagi warga negara untukmasuk dan keluar dari wilayah Indonesia terdapat beberapa persyaratan yang dibagi menjadi 5, diantaranya:
1. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Orang Asing;
Syarat masuk:
• memiliki Visa yang sah dan masih berlaku, kecuali yang dibebaskan dari kewajiban memiliki Visa;
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan.
Syarat keluar:
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan;
• telah memiliki tanda naik Alat Angkut, kecuali bagi Orang Asing pelintas batas tradisional; dan
• memiliki izin keluar bagi Orang Asing yang dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian.
2. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Warga Negara Indonesia;
Syarat masuk:
• memiliki Dokumen Perjalanan Republik Indonesia yang sah dan masih berlaku
Syarat keluar:
• memiliki Dokumen Perjalanan Republik Indonesia yang sah dan masih berlaku;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan;
• tercantum dalam daftar awak Alat Angkut atau penumpang, kecuali bagi kendaraan pribadi dan kendaraan muatan barang.
21 Ahmad Harry Lesmana, Maroloan J Baringbing, Loc. Cit, hal. 27.
3. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Anak Berkewarganegaraan Ganda;
Syarat masuk dan keluar:
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan atau daftar Penangkalan;
• memiliki fasilitas Keimigrasian jika menggunakan Paspor Kebangsaan;
• Anak berkewarganegaraan ganda yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia harus menggunakan paspor yang sama; dan
• Anak berkewarganegaraan ganda yang masuk Wilayah Indonesia dengan menggunakan Paspor Kebangsaan dibebaskan dari kewajiban memiliki Visa, Izin Tinggal, dan Izin Masuk Kembali.
4. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Awak Alat Angkut; dan
Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut laut:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak kapal; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.
Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut laut:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau crew member certificate yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak Alat Angkut; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.
Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut lainnya:
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak Alat Angkut, kecuali bagi kendaraan pribadi dan kendaraan muatan barang; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.
5. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Nakhoda, Awak Kapal, atau Tenaga Ahli Asing.
i. Syarat bagi Nakhoda, awak kapal, atau tenaga ahli asing di atas kapal laut atau alat apung, yang datang langsung dengan Alat Angkutnya untuk beroperasi di perairan Nusantara, laut teritorial, landas kontinen, dan/atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak kapal;
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan; dan
• mendapatkan Tanda Masuk dari Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi.
ii. Syarat Nakhoda, awak kapal, atau tenaga ahli asing di atas kapal laut, alat apung, atau instalasi yang beroperasi di perairan Nusantara, laut teritorial, landas kontinen, dan/atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang keluar Wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak kapal;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan; dan
• memiliki Izin Tinggal terbatas yang sah dan masih berlaku.
Petugas Imigrasi dalam melakukan pemeriksaan keimigrasian dipaksa untuk melakukan peayanan yang berkualitas dan cepat. Pelayanan pada pemeriksaan Keimigrasian mengedepankan security service yaitu memberikan pelayanan dengan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) pemeriksaan dan mengedepankan keamanan melalui prinsip kehati-hatian.
Tujuan dari pemeriksaan keimigrasian adalah untuk melindungi negara dari ancaman pihak lain dan pengawasan. Protokol dalam melakukan pemeriksaan adalah melakukan pengecekan terhadap dokumen perjalanan dengan memeriksa fitur pengamanan, masa berlaku dokumen pejalanan, kesesuaian
singkat untuk melakukan finalisasi pemeriksaan identitas pemegang data dengan dokumen perjalanan miliknya.
Petugas Imigrasi juga melakukan pemindaian dengan Membaca dan merekam data identitas pemegang, kemudian hasil pindaian akan terekam dalam data perlintasan, setelah SIMKIM akan memverifikasi data pemegang dalam basis data Keimigrasian; dan memverifikasi data pemegang dalam daftar Penangkalan. Jika seluruh tahapan tersebut sudah selesai, langkah selanjutnya adalah pengambilan Data Biometrik, yang dilakukan dengan mengambil dan merekam foto wajah serta sidik jari, sepanjang Data Biometrik yang bersangkutan (penumpang WNA) belum terekam, pemeriksaan dalam daftar Penangkalan, dilakukan untuk memastikan Orang Asing tidak tercantum dalam daftar Penangkalan. Prosedur pemeriksaan keimigrasian bagi WNI dan WNA tidak jauh berbeda, yang membedakan bagi WNA terdapat perekaman foto dan sidik jari di Konter Pemeriksaan Area Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan bagi WNA akan diwawancara tujuannya, tinggal dimana, berapa lama tinggal di Indonesia, sehingga petugas dapat mengetahuia apakah keterang yang disampaikan sudah sesuai dengan Visa pemiliki dokumen.
Pemeriksaan Keimigrasian terhadap setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia melalui pos lintas batas dilakukan dengan memeriksa surat perjalanan lintas batas atau Pas Lintas Batas, kemudian memindai surat perjalanan lintas batas atau Pas Lintas Batas, dan memeriksa dalam daftar Pencegahan atau Penangkalan. Pemeriksaan Keimigrasian bagi awak Alat Angkut dilakukan dengan mekanisme memeriksa dokumen perjalanan dan/atau buku pelaut untuk awak Alat Angkut laut, memeriksa dokumen Perjalanan dan/atau crew member certificate untuk awak Alat
Angkut udara; atau memeriksa dokumen Perjalanan untuk awak Alat Angkut lainnya, kemudian memeriksa daftar awak Alat Angkut kecuali Alat Angkut darat, setelah semua diperiksan Langkah selanjutnya memindai Dokumen Perjalanan, seelah itu mengambil Data Biometrik; dan memeriksa dalam daftar Penangkalan.
4.2 Mengoptimalkan Penggunaan Autogate Untuk Mengurangi Antrian Pemeriksaan Keimigrasian Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Implementasi fasilitas sistem Autogate diberikan kepada Warga Negara Indonesia pemegang paspor elektronik maupun paspor non elektronik yang sudah terpasang di Bandara Internasional Internasional Soekarno-Hatta. Jika sebelumnya paspor non elektronik harus melalui tahapan registrasi terlebih dahulu jika ingin melintas pada Sistem Autogate yang ada di Bandara Internasional International Soekarno-Hatta. Kini para pengguna paspor biasa sudah tidak perlu lagi melakukan registrasi terlebih dahulu. Sejalan dengan penjelsan tersebut, sebagaimana diatur dalam Pasal 84 Ayat (2) Permenkumham Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Masuk Dan Keluar Wilayah Indonesia Di Tempat Pemeriksaan Imigrasi “Mesin Autogate sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan oleh warga negara Indonesia dan warga negara asing tertentu”, namun untuk saat ini perlintasan melalui Autogate di Bandara Internasional Soekarno-Hatta baru diberlakukan untuk pemegang Paspor Republik Indonesia.
Pemeriksaan Keimigrasian dengan menggunakan mesin Autogate dilakukan dengan tahapan:
a. melakukan pemindaian Dokumen Perjalanan dan boarding pass;
b. pengambilan sidik jari dan foto pada mesin Autogate;
c. mesin Autogate merekam data kedatangan atau keberangkatan yang berlaku sebagai Tanda Masuk atau Tanda Keluar secara elektronik; dan
d. pintu mesin Autogate terbuka secara otomatis dan proses pemeriksaan Keimigrasian dinyatakan selesai.
Dalam hal pemeriksaan Keimigrasian secara elektronik dengan menggunakan mesin Autogate tidak dapat dilaksanakan, pemeriksaan dilakukan secara manual pada Konter Imigrasi. Untuk tinggi badan kurang dari 120cm dan usia di bawah 14 tahun yang masih dalam pengawasan orang tua, pemeriksaan dilakukan di konter secara manual.
Pemeriksaan melalui Autogate memiliki fitur keamanan yang tinggi karena mesin Autogate secara otomatis melakukan verifikasi yang meliputi Data Biometrik yang tersimpan dalam kartu elektronik, masa berlaku kartu elektronik, daftar Pencegahan atau Penangkalan masa berlaku Paspor dan dokumen Keimigrasian atau Izin Tinggalnya.
Autogate memiliki fitur keamanan yang tinggi dengan diimplementasikannya Autogate sebagai pemeriksaan alternatif tentunya akan memberikan keuntungan kepada Direktorat Jendel Imigrasi dan penumpang khusunya WNI. Manfaat implementasi sistem Autogate adalah:
1. meningkatkan kualitas pelayanan publik karena memiliki fitur kemanana yang canggih dan futuristik;
2. mempermudah, mempercepat, dan menyederhanakan proses pemeriksaan keimigrasian;
3. salah satu perwujudan tata nilai akuntabilitas dalam tubuh Ditjen Imigrasi; dan
4. meminimalisir interaksi petugas dengan masyarakat
Optimaliasai pengunaan autogate system di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta telah mengurangi keluhan penumpang di Tempat Masuk Imigrasi Bandara Internasioal Soekarno- Hatta karena pemeriksaan yang lama dan menigkatnya indeks kepuasan masyarakat khususnya pada Direktorat Jenderal Imigrasi. Saat Pemeriksaan Keimigrasian terkadang pada hari dan waktu tertentu dapat terjadi penumpukkan pemeriksaan penumpang di Area Imigrasi. Area Imigrasi adalah area terbatas, seluruh kegiatan di Area Imigrasi dibatasi dan diatur dalam peraturan perundang- undangan, sehingga pemeriksaan yang cepat dan aman akan memberikan suasana Area Imigrasi yang clean and clear. Untuk mengurangi antrean saat Pemeriksaan Keimigrasian adalah pemeriksaan melalui Autogate, jika terjadi penumpukan penumpang sudah sebaiknya petugas mengarahkan menggunakan Autogate. Dampak yang dirasakan langsung penggunaan Autogate oleh Petugas Imigrasi dan penumpang adalah kemudahan pemeriksaan dokumen perjalanan dalam hal ini paspor, sehingga mengurangi jumlah antrian pemeriksaan di konter Imigrasi.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pemeriksaan Keimigrasian memiliki banyak syarat dan prosedur karena hal in menyangkut dengan keaman suatu negara dalam melakukan pengawasan, karenanya dalam keadaan tertentu Pemeriksaan Keimigrasian membutuhkan waktu lebih saat Pemeriksaan Keimigrasian. Selain itu pada waktu tertentu, Tempat Pemeriksaan Imigrasi kerap terjadi masalah, seperti sistem Border Control Management (BCM) mengalami gangguan, kedatangan atau keberangkatan pesawat yang berbarengan yang menyebabkan penumpukan penumpang, Saat hari besar umat beragama atau hari libur nasional kerap terjadi penumpukan di Area Imigrasi.
Mesin Autogate adalah solusi dalam pemecahan masalah antrian kecuali jika terjadi gangguan teknis seperti jaringan listrik yang lambat, mesin auogate mati, kejadian ini hal tetap harus dilakukan pemeriksaan manual. Mesin autogate memliki fitur keamanan yang tinggi karena data langsung terhubung keadalam SIMKIM, sehingga hal ini juga mengurangi beban Pejabat Imigrasi dalam melakukan pemeriksaan terhadap WNI di Bandara Internasional Soekarno - Hatta
5.2 Saran
Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang sesuai antara hasil dan harapan. Setiap penumpang yang melintas melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Soekarno - Hatta akan merasakan pelayanan berkualitas, yaitu pelayanan yang efektif dan efisien.
Pelayanan yang efektif dan efisien akan memberikan kesan baik dari masyarakat, sehingga berdampak positif pada kinerja Pegawai Imgirasi. Tempat Pemeriksaan
Imigrasi Bandara Soekarno – Hatta telah memberikan prosedur pemeriksaan keimigrasian yang tepat dan sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku.
Berdasarkan dari permasalahan yang dituangkan dalam kesimpulan diatas, penulis menyarankan untuk mempercepat pemeriksaan keimigrasian dengan memperhatikan SOP yang berlaku, namun jika dirasa hal tersebut tidak memungkinkan pemeriksaan melalui autogate adalah sarana alternatif pemeriksaan yang aman dan cepat, agar penumpukan antria dapat diselesaika dengan cepat. Petugas Imigrasi juga perlu membantu mengarahkan dan menertibkan penumpang apabila dirasa akan terjadi penumpukan penumpang di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004).
Chalid Norpuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004).
Mardalis, Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004).
Rhona K.M. Smith dkk, Hukum Hak Asasi Manusia (Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008).
Herlin Wijayanti, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian, (Malang: Bayumedia Publishing, 2011).
Jazim Hamidi dan Charles Christian, Hukum keimigrasian bagi orang asing di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016).
Andry Indrady, Ph. D, Dinamika Isu Keimigrasian (Depok: Politeknik Imigrasi, 2019).
Ahmad Harry Lesmana, Maroloan J Baringbing, “Pemeriksaan Keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi”, (Depok: BPSDM KUMHAM Press, 2020).
Iman Santoso, M, Peran Keimigrasian dalam Rangka Peningkatan Ekonomi dan Pemeliharaan Ketahanan Nasional Secara Seimbang, (Tesis Hukum Universitas Krisnadwipayana Jakarta, 2004).
Alifine Qinthara Fatharani, Dara Gautama Meilina, A. A. Gede Raka Arta Yoga,
“Penggunaan Autogate di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta”. Jurnal Ideas Vol. 7 No. 4, November 2021.
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2013 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian.
Peraturan Menteri Hukum Dan Ham Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Masuk Dan Keluar Wilayah Indonesia Di Tempat Pemeriksaan Imigrasi.
Sumber Lain
https://www.angkasapura2.co.id/id/business_relation/our_airport/16-Bandara Internasional- internasional-soekarno-hatta
https://soekarnohatta.imigrasi.go.id/profil-sejarah
https://nagabiru86.wordpress.com/2009/06/12/data-sekunder-dan-data-primer/