• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta

Dalam dokumen oleh SHAHINSHAH SATRIA AL AZIZ, S.H. NIP (Halaman 18-0)

BAB II KERANGKA TEORI

2.6 Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta

Kantor imigrasi Soekarno-Hatta diresmikan oleh menteri kehakiman pada Tanggal 1 April 1985, merupakan pengganti dari kantor imigrasi Halim Perdana Kusuma. Dimana pada saat itu kegiatan penerbangan dipindahkan ke Bandara Internasional internasional Soekarno-Hatta, mengingat beban dan volume kerja yang cukup besar terjadilah perubahan klasifikasi Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta dari Kantor Imigrasi Kelas I Soekarno-Soekarno-Hatta menjadi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta yang telah dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.14.PR.07.04 Tahun 2003 Tanggal 3 Desember 2003. Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta berubah menjadi Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta yang telah

dituangkan dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor 19 Tahun 2018 tanggal 13 Juli 2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Imigrasi. 14

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soetta merupakan Unit Pelaksana Teknis di bidang Keimigrasian, bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DKI Jakarta.

Tugas pokok dan fungsinya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan pengawasan perlintasan & penegakan hukum di bidang keimigrasian. Wilayah Kerja Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Bandara

13 https://www.angkasapura2.co.id/id/business_relation/our_airport/16-Bandara Internasional-internasional-soekarno-hatta (diakses pada 5 Januari 2022, pukul 15.22)

14 https://soekarnohatta.imigrasi.go.id/profil-sejarah (diakses pada 5 Januari 2022, pukul 15.30)

Internasional Soekarno- Hatta mengawasi 2 (dua) kecamatan, yaitu Kecamatan Cengkareng dan Kecamatan Kalideres. Untuk Wilayah Cengkareng terdiri dari 6 Kelurahan yaitu Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Duri

Kosambi, Kapuk, Kedaung Kaliangke dan Rawa Buaya. Wilayah Kalideres terdiri dari 5 Kelurahan yaitu Kelurahan Kalideres, Kamal, Pegadungan, Semanan dan Tegal Alur. Bandara Internasional Internasional Soekarno Hatta merupakan wilayah kerja Kanim Kelas I Khusus Soekarno-Hatta sebagai Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI).

Selain itu juga pelaksanaan tugas keimigrasian didukung dengan pola kerja kesisteman yang terintegrasi satu sama lain:

1. Sistem penerbitan paspor berbasis biometric dan face recognition;

2. Sistem e-office sebagai sarana pelayanan keimigrasian yang terkoneksi antara Unit Pelaksana Teknis (UPT) dengan Kantor Wilayah serta Direktorat Jenderal Imigrasi dan Direktorat Jenderal Imigrasi;

3. Sistem Enhanced Cekal System (ECS) sebagai sarana pemeriksaan cegah tangkal (cekal);

4. Passenger Moving System (PMS) sebagai sarana perlintasan orang di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI);

5. sistem Border Control Management (BCM) dapat terekam ke pusat data keimigrasian;

6. e-passport ; dan

7. Autogate sebagai sarana perlintasan orang (khususnya WNI) di Tempat Pemeriksaan Imigrasi baik yang menggunakan e-passport maupun paspor biasa.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu, sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisi sampai menyusun laporannya.15 Metode merupakan unsur mutlak yang harus ada dalam kegiatan penelitian.

Seseorang yang melakukan penelitian atau sedang membuat karya ilmiah diharuskan menggunakan metode.

Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara analisa dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis, sistematis, dan konsisten. Metodologi berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu, sistematis adalah berdasarkan suatu sistem, dan konsisten untuk menjelaskan tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.

Pengertian metode penelitian dapat disimpulkan menjadi, suatu cara atau jalan untuk memecahkan gejala-gejala alam atau gejala-gejala sosial dalam kehidupan, guna menentukan, menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan dan menemukan solusinya dengan cara mengumpulkan, menyusun serta menginterpretasikan kata-kata yang sesuai dengan pedoman dan aturan yang berlaku dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode penelitian disebut juga metode ilmiah yang memerlukan sistematika dan prosedur yang harus ditempuh dengan tidak meninggalkan setiap unsur yang diperlukan dalam suatu penelitian.16 Suatu penelitian, pada hakikatnya adalah untuk mendapatkan kebenaran atas

15 Chalid Norpuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal. 1.

16 Mardalis, Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hal.14.

sesuatu. Suatu penelitian tidak akan mencapai hal yang diharapkan dalam dunia ilmu pengetahuan, bila tidak ditunjang dengan metode yang tepat dan benar. Fungsi penelitian adalah untuk mencari penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan yang akan diteliti. Permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah mengenai Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate untuk mengurai antrian pada Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Bandara Internasional Soekarno - Hatta

Hasil akhir yang diharapkan dari metode penelitian adalah kebenaran ilmiah.

Langkah-langkah yang digunakan dalam melakukan suatu penelitian haruslah dilandasi dengan suatu metode yang memberikan petunjuk yang cermat. agar dapat menghasilkan suatu karya ilmiah yang berkualitas.

3.1 Metode Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif didefinisikan oleh Crasweel sebagai

“sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia, berdasarkan pada penciptaan gambaran holistik lengkap yang dibentuk dengan kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun dalam sebuah latar alamiah”.

Dalam penelitian ini, pembahasan yang dilakukan atas permasalahan yang diajukan menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini bertujuan untuk menganalisa Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate pada Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Bandara Internasional Soekarno - Hatta. Selain itu peneliti membutuhkan informan yang berkompeten sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kesimpulan analisa dalam menjawab permasalahan penelitian.

3. 2 Spesifikasi Penelitian

Spesifikasi penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa penelitian deskriptif analisis. Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya, selanjutnya dilakukan analisis melalui peraturan-peraturan yang berlaku dikaitkan dengan aturan-aturan yang berlaku, pendapat Pejabat Imigrasi dan/atau Petugas Imigrasi di lapangan, dan praktik pelaksanaan yang menyangkut mengenai materi proses pelaksanaan Pemeriksaan Keimigrasian melalui Autogate untuk mengurai antrian pada Tempat Pemeriksaan Imigrasi di Bandara Internasional Soekarno - Hatta.

Analisa penelitian ini diharapkan dapat mengetahui keadaan yang ada pada teori dan praktek, sehingga diharapkan pada akhir kegiatan dapat memecahkan masalah yang ada.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data, diperlukan data yang bersumber dari buku-buku, literatur, dan pendapat Pejabat Imigrasi dan/atau Petugas Imigrasi di lapangan yang berkaitan dengan penelitian ini, ataupun sumber lain yang ada di lapangan untuk menunjang keberhasilan dan efektivitas penelitian. Pengumpulannya dilakukan dengan cara mengumpulkan dan meneliti peraturan-peraturan, buku-buku bahan sumber bacaan lain yang berkaitan dengan masalah di lapangan.

Sumber data penilitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah sumber data yang diperoleh tidak melalui media perantara atau diperoleh secara langsung dari narasumber. Data primer dapat berupa opini,

hasil observasi, kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian.17 Data sekunder adalahdata yang bersumber dari penelitian kepustakaan (library research) yang bahan hukumnya berasal dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

Penelitian hukum normatif, bahan pustaka merupakan data dasar, yang dalam ilmu penelitian digolongkan sebagai data sekunder, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder.18

Ciri-ciri umum dari data sekunder adalah:19

a. Data sekunder pada umumnya ada dalam keadaan siap berbuat (ready made)

b. Bentuk maupun isi data sekunder telah dibentuk dan diisi oleh peneliti-peneliti terdahulu

c. Data sekunder dapat diperoleh tanpa terikat, dibatasi oleh waktu dan tempat.

Bahan data sekunder meliputi tiga bahan kepustakaan, yaitu:

a. Data Primer

Data-data yang mengikat yang dalam hal ini berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam makalah. Data primer dalam penulisan makalah ini terdiri dari:

1) Berbagai peraturan yang menyangkut Hukum Perdata, seperti:

(a) KUHP (Kitab Undang-Undang Pidana)

2) Berbagai peraturan Perundang-undangan yang menyangkut tentang hukum keimigrasian, seperti:

17 https://nagabiru86.wordpress.com/2009/06/12/data-sekunder-dan-data-primer/ diakses pada tanggal 2 Februari 2021.

18 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.Cit., hal. 24.

19 Ibid.

(a) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian

(b) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik

3) Buku-buku yang menyangkut tentang keimigrasian

(a) Buku-buku mengenai keimigrasian dan hukum keimigrasian.

b. Data Sekunder

Data-data yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami data primer, yang berupa:

1) Makalah dan Artikel, meliputi makalah tentang keimigrasian dan pelayanan publik.

2) Situs internet tentang tentang keimigrasian dan pelayanan publik.

c. Bahan Tersier

Bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap data primer dan data sekunder yang berupa :

1) Kamus-Kamus Hukum.

2) Kamus Besar Bahasa Indonesia . 3) Ensiklopedia.

3.4 Metode Analisa Data

Metode analisa adalah suatu proses pengumpulan data yang didasarkan atas segala data yang sudah diolah. Metode analisis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Analisis data dilakukan secara kualitatif, komperhensif, dan lengkap. Analisis data artinya menguraikan data secara bermutu

dalam kalimat yang teratur, runtun, logis, tidak tumpang tindih, dan efektif, sehingga memudahkan interpretasi data dan pemahaman hasil analisis. Komperhensif artinya analisis data secara mendalam dari berbagai aspek sesuai dengan lingkup penelitian.

Lengkap artinya tidak ada bagian yang terlupakan, semuanya sudah masuk analisis.

Analisis data dan interpetasi seperti ini akan menghasilkan produk penelitian hukum normatif yang sempurna.20

3.5 METODE PENYAJIAN DATA

Data yang telah terkumpul melalui pengumpulan data, dianalisa kemudian dikaji untuk diolah yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya ilmiah. Data yang telah terkumpul dalam penelitian, kemudian disajikan dalam bentuk uraian makalah.

20 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 127.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Prosedur Pemeriksaan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Terdapat 2 (dua) komponen pokok dari kegiatan pemeriksaan dan pemberian Tanda Masuk dan Tanda Keluar, yaitu kegiatan pemeriksaan keimigrasian di satu sisi, dan sisi lainnya adalah tindak lanjut dari hasil pemeriksaan keimigrasian yang outputnya adalah pemberian Tanda Masuk dan Tanda Keluar. Pengertian Tanda Masuk sesuai Pasal 1 angka 19 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian jo. Pasal 1 angka 8 PP Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian: “Tanda Masuk adalah tanda tertentu berupa cap yang dibubuhkan pada Dokumen Perjalanan warga negara Indonesia dan Orang Asing, baik manual maupun elektronik, yang diberikan oleh Pejabat Imigrasi sebagai tanda bahwa yang bersangkutan masuk Wilayah Indonesia”, sedangkan menurut Pasal 1 angka 20 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian jo. Pasal 1 angka 9 PP Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian “Tanda Keluar adalah tanda tertentu berupa cap yang dibubuhkan pada Dokumen Perjalanan warga negara Indonesia dan Orang Asing, baik manual maupun elektronik, yang diberikan oleh Pejabat Imigrasi sebagai tanda bahwa yang bersangkutan keluar Wilayah Indonesia”.

Pemeriksaan keimigrasian dilakukan oleh Pejabat Imigrasi atau Petugas Pemeriksa Pendaratan terhadap setiap orang yang masuk atau keluar melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi untuk memeriksa dan mendapatkan keterangan mengenai orang yang akan melintas baik secara langsung maupun tidak

langsung. Prinsip dasar setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia bedasarkan pada:21

1. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011; dan

2. Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013, “Setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia wajib melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi”.

Prosedur bagi warga negara untukmasuk dan keluar dari wilayah Indonesia terdapat beberapa persyaratan yang dibagi menjadi 5, diantaranya:

1. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Orang Asing;

Syarat masuk:

• memiliki Visa yang sah dan masih berlaku, kecuali yang dibebaskan dari kewajiban memiliki Visa;

• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku; dan

• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan.

Syarat keluar:

• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;

• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan;

• telah memiliki tanda naik Alat Angkut, kecuali bagi Orang Asing pelintas batas tradisional; dan

• memiliki izin keluar bagi Orang Asing yang dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian.

2. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Warga Negara Indonesia;

Syarat masuk:

• memiliki Dokumen Perjalanan Republik Indonesia yang sah dan masih berlaku

Syarat keluar:

• memiliki Dokumen Perjalanan Republik Indonesia yang sah dan masih berlaku;

• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan;

• tercantum dalam daftar awak Alat Angkut atau penumpang, kecuali bagi kendaraan pribadi dan kendaraan muatan barang.

21 Ahmad Harry Lesmana, Maroloan J Baringbing, Loc. Cit, hal. 27.

3. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Anak Berkewarganegaraan Ganda;

Syarat masuk dan keluar:

• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;

• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan atau daftar Penangkalan;

• memiliki fasilitas Keimigrasian jika menggunakan Paspor Kebangsaan;

• Anak berkewarganegaraan ganda yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia harus menggunakan paspor yang sama; dan

• Anak berkewarganegaraan ganda yang masuk Wilayah Indonesia dengan menggunakan Paspor Kebangsaan dibebaskan dari kewajiban memiliki Visa, Izin Tinggal, dan Izin Masuk Kembali.

4. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Awak Alat Angkut; dan

Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut laut:

• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;

• terdaftar dalam daftar awak kapal; dan

• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.

Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut laut:

• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau crew member certificate yang sah dan masih berlaku;

• terdaftar dalam daftar awak Alat Angkut; dan

• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.

Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut lainnya:

• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;

• terdaftar dalam daftar awak Alat Angkut, kecuali bagi kendaraan pribadi dan kendaraan muatan barang; dan

• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.

5. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Nakhoda, Awak Kapal, atau Tenaga Ahli Asing.

i. Syarat bagi Nakhoda, awak kapal, atau tenaga ahli asing di atas kapal laut atau alat apung, yang datang langsung dengan Alat Angkutnya untuk beroperasi di perairan Nusantara, laut teritorial, landas kontinen, dan/atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia:

• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;

• terdaftar dalam daftar awak kapal;

• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan; dan

• mendapatkan Tanda Masuk dari Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi.

ii. Syarat Nakhoda, awak kapal, atau tenaga ahli asing di atas kapal laut, alat apung, atau instalasi yang beroperasi di perairan Nusantara, laut teritorial, landas kontinen, dan/atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang keluar Wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan:

• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;

• terdaftar dalam daftar awak kapal;

• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan; dan

• memiliki Izin Tinggal terbatas yang sah dan masih berlaku.

Petugas Imigrasi dalam melakukan pemeriksaan keimigrasian dipaksa untuk melakukan peayanan yang berkualitas dan cepat. Pelayanan pada pemeriksaan Keimigrasian mengedepankan security service yaitu memberikan pelayanan dengan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) pemeriksaan dan mengedepankan keamanan melalui prinsip kehati-hatian.

Tujuan dari pemeriksaan keimigrasian adalah untuk melindungi negara dari ancaman pihak lain dan pengawasan. Protokol dalam melakukan pemeriksaan adalah melakukan pengecekan terhadap dokumen perjalanan dengan memeriksa fitur pengamanan, masa berlaku dokumen pejalanan, kesesuaian

singkat untuk melakukan finalisasi pemeriksaan identitas pemegang data dengan dokumen perjalanan miliknya.

Petugas Imigrasi juga melakukan pemindaian dengan Membaca dan merekam data identitas pemegang, kemudian hasil pindaian akan terekam dalam data perlintasan, setelah SIMKIM akan memverifikasi data pemegang dalam basis data Keimigrasian; dan memverifikasi data pemegang dalam daftar Penangkalan. Jika seluruh tahapan tersebut sudah selesai, langkah selanjutnya adalah pengambilan Data Biometrik, yang dilakukan dengan mengambil dan merekam foto wajah serta sidik jari, sepanjang Data Biometrik yang bersangkutan (penumpang WNA) belum terekam, pemeriksaan dalam daftar Penangkalan, dilakukan untuk memastikan Orang Asing tidak tercantum dalam daftar Penangkalan. Prosedur pemeriksaan keimigrasian bagi WNI dan WNA tidak jauh berbeda, yang membedakan bagi WNA terdapat perekaman foto dan sidik jari di Konter Pemeriksaan Area Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan bagi WNA akan diwawancara tujuannya, tinggal dimana, berapa lama tinggal di Indonesia, sehingga petugas dapat mengetahuia apakah keterang yang disampaikan sudah sesuai dengan Visa pemiliki dokumen.

Pemeriksaan Keimigrasian terhadap setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia melalui pos lintas batas dilakukan dengan memeriksa surat perjalanan lintas batas atau Pas Lintas Batas, kemudian memindai surat perjalanan lintas batas atau Pas Lintas Batas, dan memeriksa dalam daftar Pencegahan atau Penangkalan. Pemeriksaan Keimigrasian bagi awak Alat Angkut dilakukan dengan mekanisme memeriksa dokumen perjalanan dan/atau buku pelaut untuk awak Alat Angkut laut, memeriksa dokumen Perjalanan dan/atau crew member certificate untuk awak Alat

Angkut udara; atau memeriksa dokumen Perjalanan untuk awak Alat Angkut lainnya, kemudian memeriksa daftar awak Alat Angkut kecuali Alat Angkut darat, setelah semua diperiksan Langkah selanjutnya memindai Dokumen Perjalanan, seelah itu mengambil Data Biometrik; dan memeriksa dalam daftar Penangkalan.

4.2 Mengoptimalkan Penggunaan Autogate Untuk Mengurangi Antrian Pemeriksaan Keimigrasian Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Implementasi fasilitas sistem Autogate diberikan kepada Warga Negara Indonesia pemegang paspor elektronik maupun paspor non elektronik yang sudah terpasang di Bandara Internasional Internasional Soekarno-Hatta. Jika sebelumnya paspor non elektronik harus melalui tahapan registrasi terlebih dahulu jika ingin melintas pada Sistem Autogate yang ada di Bandara Internasional International Soekarno-Hatta. Kini para pengguna paspor biasa sudah tidak perlu lagi melakukan registrasi terlebih dahulu. Sejalan dengan penjelsan tersebut, sebagaimana diatur dalam Pasal 84 Ayat (2) Permenkumham Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Masuk Dan Keluar Wilayah Indonesia Di Tempat Pemeriksaan Imigrasi “Mesin Autogate sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan oleh warga negara Indonesia dan warga negara asing tertentu”, namun untuk saat ini perlintasan melalui Autogate di Bandara Internasional Soekarno-Hatta baru diberlakukan untuk pemegang Paspor Republik Indonesia.

Pemeriksaan Keimigrasian dengan menggunakan mesin Autogate dilakukan dengan tahapan:

a. melakukan pemindaian Dokumen Perjalanan dan boarding pass;

b. pengambilan sidik jari dan foto pada mesin Autogate;

c. mesin Autogate merekam data kedatangan atau keberangkatan yang berlaku sebagai Tanda Masuk atau Tanda Keluar secara elektronik; dan

d. pintu mesin Autogate terbuka secara otomatis dan proses pemeriksaan Keimigrasian dinyatakan selesai.

Dalam hal pemeriksaan Keimigrasian secara elektronik dengan menggunakan mesin Autogate tidak dapat dilaksanakan, pemeriksaan dilakukan secara manual pada Konter Imigrasi. Untuk tinggi badan kurang dari 120cm dan usia di bawah 14 tahun yang masih dalam pengawasan orang tua, pemeriksaan dilakukan di konter secara manual.

Pemeriksaan melalui Autogate memiliki fitur keamanan yang tinggi karena mesin Autogate secara otomatis melakukan verifikasi yang meliputi Data Biometrik yang tersimpan dalam kartu elektronik, masa berlaku kartu elektronik, daftar Pencegahan atau Penangkalan masa berlaku Paspor dan dokumen Keimigrasian atau Izin Tinggalnya.

Autogate memiliki fitur keamanan yang tinggi dengan diimplementasikannya Autogate sebagai pemeriksaan alternatif tentunya akan memberikan keuntungan kepada Direktorat Jendel Imigrasi dan penumpang khusunya WNI. Manfaat implementasi sistem Autogate adalah:

1. meningkatkan kualitas pelayanan publik karena memiliki fitur kemanana yang canggih dan futuristik;

2. mempermudah, mempercepat, dan menyederhanakan proses pemeriksaan keimigrasian;

3. salah satu perwujudan tata nilai akuntabilitas dalam tubuh Ditjen Imigrasi; dan

4. meminimalisir interaksi petugas dengan masyarakat

Optimaliasai pengunaan autogate system di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta telah mengurangi keluhan penumpang di Tempat Masuk Imigrasi Bandara Internasioal Soekarno- Hatta karena pemeriksaan yang lama dan menigkatnya indeks kepuasan masyarakat khususnya pada Direktorat Jenderal Imigrasi. Saat Pemeriksaan Keimigrasian terkadang pada hari dan waktu tertentu dapat terjadi penumpukkan pemeriksaan penumpang di Area Imigrasi. Area Imigrasi adalah area terbatas, seluruh kegiatan di Area Imigrasi dibatasi dan diatur dalam peraturan perundang-undangan, sehingga pemeriksaan yang cepat dan aman akan memberikan suasana Area Imigrasi yang clean and clear. Untuk mengurangi antrean saat Pemeriksaan Keimigrasian adalah pemeriksaan melalui Autogate, jika terjadi penumpukan penumpang sudah sebaiknya petugas mengarahkan menggunakan Autogate. Dampak yang dirasakan langsung penggunaan Autogate oleh Petugas Imigrasi dan penumpang adalah kemudahan pemeriksaan dokumen perjalanan dalam hal ini paspor, sehingga mengurangi jumlah antrian pemeriksaan di konter Imigrasi.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pemeriksaan Keimigrasian memiliki banyak syarat dan prosedur karena hal in menyangkut dengan keaman suatu negara dalam melakukan pengawasan, karenanya dalam keadaan tertentu Pemeriksaan Keimigrasian membutuhkan waktu lebih saat Pemeriksaan Keimigrasian. Selain itu pada waktu tertentu, Tempat Pemeriksaan Imigrasi kerap terjadi masalah, seperti sistem Border Control Management (BCM) mengalami gangguan, kedatangan atau keberangkatan pesawat yang berbarengan yang menyebabkan penumpukan penumpang, Saat hari besar umat beragama atau hari libur nasional kerap terjadi penumpukan di Area Imigrasi.

Pemeriksaan Keimigrasian memiliki banyak syarat dan prosedur karena hal in menyangkut dengan keaman suatu negara dalam melakukan pengawasan, karenanya dalam keadaan tertentu Pemeriksaan Keimigrasian membutuhkan waktu lebih saat Pemeriksaan Keimigrasian. Selain itu pada waktu tertentu, Tempat Pemeriksaan Imigrasi kerap terjadi masalah, seperti sistem Border Control Management (BCM) mengalami gangguan, kedatangan atau keberangkatan pesawat yang berbarengan yang menyebabkan penumpukan penumpang, Saat hari besar umat beragama atau hari libur nasional kerap terjadi penumpukan di Area Imigrasi.

Dalam dokumen oleh SHAHINSHAH SATRIA AL AZIZ, S.H. NIP (Halaman 18-0)