BAB III METODE PENELITIAN
3.4 Metode Analisa Data
Metode analisa adalah suatu proses pengumpulan data yang didasarkan atas segala data yang sudah diolah. Metode analisis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Analisis data dilakukan secara kualitatif, komperhensif, dan lengkap. Analisis data artinya menguraikan data secara bermutu
dalam kalimat yang teratur, runtun, logis, tidak tumpang tindih, dan efektif, sehingga memudahkan interpretasi data dan pemahaman hasil analisis. Komperhensif artinya analisis data secara mendalam dari berbagai aspek sesuai dengan lingkup penelitian.
Lengkap artinya tidak ada bagian yang terlupakan, semuanya sudah masuk analisis.
Analisis data dan interpetasi seperti ini akan menghasilkan produk penelitian hukum normatif yang sempurna.20
3.5 METODE PENYAJIAN DATA
Data yang telah terkumpul melalui pengumpulan data, dianalisa kemudian dikaji untuk diolah yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya ilmiah. Data yang telah terkumpul dalam penelitian, kemudian disajikan dalam bentuk uraian makalah.
20 Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 127.
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Prosedur Pemeriksaan di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Terdapat 2 (dua) komponen pokok dari kegiatan pemeriksaan dan pemberian Tanda Masuk dan Tanda Keluar, yaitu kegiatan pemeriksaan keimigrasian di satu sisi, dan sisi lainnya adalah tindak lanjut dari hasil pemeriksaan keimigrasian yang outputnya adalah pemberian Tanda Masuk dan Tanda Keluar. Pengertian Tanda Masuk sesuai Pasal 1 angka 19 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian jo. Pasal 1 angka 8 PP Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian: “Tanda Masuk adalah tanda tertentu berupa cap yang dibubuhkan pada Dokumen Perjalanan warga negara Indonesia dan Orang Asing, baik manual maupun elektronik, yang diberikan oleh Pejabat Imigrasi sebagai tanda bahwa yang bersangkutan masuk Wilayah Indonesia”, sedangkan menurut Pasal 1 angka 20 UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian jo. Pasal 1 angka 9 PP Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian “Tanda Keluar adalah tanda tertentu berupa cap yang dibubuhkan pada Dokumen Perjalanan warga negara Indonesia dan Orang Asing, baik manual maupun elektronik, yang diberikan oleh Pejabat Imigrasi sebagai tanda bahwa yang bersangkutan keluar Wilayah Indonesia”.
Pemeriksaan keimigrasian dilakukan oleh Pejabat Imigrasi atau Petugas Pemeriksa Pendaratan terhadap setiap orang yang masuk atau keluar melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi untuk memeriksa dan mendapatkan keterangan mengenai orang yang akan melintas baik secara langsung maupun tidak
langsung. Prinsip dasar setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia bedasarkan pada:21
1. Pasal 9 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011; dan
2. Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013, “Setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia wajib melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi”.
Prosedur bagi warga negara untukmasuk dan keluar dari wilayah Indonesia terdapat beberapa persyaratan yang dibagi menjadi 5, diantaranya:
1. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Orang Asing;
Syarat masuk:
• memiliki Visa yang sah dan masih berlaku, kecuali yang dibebaskan dari kewajiban memiliki Visa;
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan.
Syarat keluar:
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan;
• telah memiliki tanda naik Alat Angkut, kecuali bagi Orang Asing pelintas batas tradisional; dan
• memiliki izin keluar bagi Orang Asing yang dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian.
2. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Warga Negara Indonesia;
Syarat masuk:
• memiliki Dokumen Perjalanan Republik Indonesia yang sah dan masih berlaku
Syarat keluar:
• memiliki Dokumen Perjalanan Republik Indonesia yang sah dan masih berlaku;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan;
• tercantum dalam daftar awak Alat Angkut atau penumpang, kecuali bagi kendaraan pribadi dan kendaraan muatan barang.
21 Ahmad Harry Lesmana, Maroloan J Baringbing, Loc. Cit, hal. 27.
3. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Anak Berkewarganegaraan Ganda;
Syarat masuk dan keluar:
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan atau daftar Penangkalan;
• memiliki fasilitas Keimigrasian jika menggunakan Paspor Kebangsaan;
• Anak berkewarganegaraan ganda yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia harus menggunakan paspor yang sama; dan
• Anak berkewarganegaraan ganda yang masuk Wilayah Indonesia dengan menggunakan Paspor Kebangsaan dibebaskan dari kewajiban memiliki Visa, Izin Tinggal, dan Izin Masuk Kembali.
4. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Awak Alat Angkut; dan
Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut laut:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak kapal; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.
Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut laut:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau crew member certificate yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak Alat Angkut; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.
Syarat masuk atau keluar Wilayah Indonesia bagi awak alat angkut lainnya:
• memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak Alat Angkut, kecuali bagi kendaraan pribadi dan kendaraan muatan barang; dan
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan atau daftar Pencegahan.
5. Persyaratan Masuk dan Keluar Wilayah Indonesia bagi Nakhoda, Awak Kapal, atau Tenaga Ahli Asing.
i. Syarat bagi Nakhoda, awak kapal, atau tenaga ahli asing di atas kapal laut atau alat apung, yang datang langsung dengan Alat Angkutnya untuk beroperasi di perairan Nusantara, laut teritorial, landas kontinen, dan/atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak kapal;
• tidak termasuk dalam daftar Penangkalan; dan
• mendapatkan Tanda Masuk dari Pejabat Imigrasi di Tempat Pemeriksaan Imigrasi.
ii. Syarat Nakhoda, awak kapal, atau tenaga ahli asing di atas kapal laut, alat apung, atau instalasi yang beroperasi di perairan Nusantara, laut teritorial, landas kontinen, dan/atau Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang keluar Wilayah Indonesia harus memenuhi persyaratan:
• memiliki Dokumen Perjalanan dan/atau buku pelaut yang sah dan masih berlaku;
• terdaftar dalam daftar awak kapal;
• tidak termasuk dalam daftar Pencegahan; dan
• memiliki Izin Tinggal terbatas yang sah dan masih berlaku.
Petugas Imigrasi dalam melakukan pemeriksaan keimigrasian dipaksa untuk melakukan peayanan yang berkualitas dan cepat. Pelayanan pada pemeriksaan Keimigrasian mengedepankan security service yaitu memberikan pelayanan dengan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) pemeriksaan dan mengedepankan keamanan melalui prinsip kehati-hatian.
Tujuan dari pemeriksaan keimigrasian adalah untuk melindungi negara dari ancaman pihak lain dan pengawasan. Protokol dalam melakukan pemeriksaan adalah melakukan pengecekan terhadap dokumen perjalanan dengan memeriksa fitur pengamanan, masa berlaku dokumen pejalanan, kesesuaian
singkat untuk melakukan finalisasi pemeriksaan identitas pemegang data dengan dokumen perjalanan miliknya.
Petugas Imigrasi juga melakukan pemindaian dengan Membaca dan merekam data identitas pemegang, kemudian hasil pindaian akan terekam dalam data perlintasan, setelah SIMKIM akan memverifikasi data pemegang dalam basis data Keimigrasian; dan memverifikasi data pemegang dalam daftar Penangkalan. Jika seluruh tahapan tersebut sudah selesai, langkah selanjutnya adalah pengambilan Data Biometrik, yang dilakukan dengan mengambil dan merekam foto wajah serta sidik jari, sepanjang Data Biometrik yang bersangkutan (penumpang WNA) belum terekam, pemeriksaan dalam daftar Penangkalan, dilakukan untuk memastikan Orang Asing tidak tercantum dalam daftar Penangkalan. Prosedur pemeriksaan keimigrasian bagi WNI dan WNA tidak jauh berbeda, yang membedakan bagi WNA terdapat perekaman foto dan sidik jari di Konter Pemeriksaan Area Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan bagi WNA akan diwawancara tujuannya, tinggal dimana, berapa lama tinggal di Indonesia, sehingga petugas dapat mengetahuia apakah keterang yang disampaikan sudah sesuai dengan Visa pemiliki dokumen.
Pemeriksaan Keimigrasian terhadap setiap orang yang masuk atau keluar Wilayah Indonesia melalui pos lintas batas dilakukan dengan memeriksa surat perjalanan lintas batas atau Pas Lintas Batas, kemudian memindai surat perjalanan lintas batas atau Pas Lintas Batas, dan memeriksa dalam daftar Pencegahan atau Penangkalan. Pemeriksaan Keimigrasian bagi awak Alat Angkut dilakukan dengan mekanisme memeriksa dokumen perjalanan dan/atau buku pelaut untuk awak Alat Angkut laut, memeriksa dokumen Perjalanan dan/atau crew member certificate untuk awak Alat
Angkut udara; atau memeriksa dokumen Perjalanan untuk awak Alat Angkut lainnya, kemudian memeriksa daftar awak Alat Angkut kecuali Alat Angkut darat, setelah semua diperiksan Langkah selanjutnya memindai Dokumen Perjalanan, seelah itu mengambil Data Biometrik; dan memeriksa dalam daftar Penangkalan.
4.2 Mengoptimalkan Penggunaan Autogate Untuk Mengurangi Antrian Pemeriksaan Keimigrasian Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Implementasi fasilitas sistem Autogate diberikan kepada Warga Negara Indonesia pemegang paspor elektronik maupun paspor non elektronik yang sudah terpasang di Bandara Internasional Internasional Soekarno-Hatta. Jika sebelumnya paspor non elektronik harus melalui tahapan registrasi terlebih dahulu jika ingin melintas pada Sistem Autogate yang ada di Bandara Internasional International Soekarno-Hatta. Kini para pengguna paspor biasa sudah tidak perlu lagi melakukan registrasi terlebih dahulu. Sejalan dengan penjelsan tersebut, sebagaimana diatur dalam Pasal 84 Ayat (2) Permenkumham Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Masuk Dan Keluar Wilayah Indonesia Di Tempat Pemeriksaan Imigrasi “Mesin Autogate sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat digunakan oleh warga negara Indonesia dan warga negara asing tertentu”, namun untuk saat ini perlintasan melalui Autogate di Bandara Internasional Soekarno-Hatta baru diberlakukan untuk pemegang Paspor Republik Indonesia.
Pemeriksaan Keimigrasian dengan menggunakan mesin Autogate dilakukan dengan tahapan:
a. melakukan pemindaian Dokumen Perjalanan dan boarding pass;
b. pengambilan sidik jari dan foto pada mesin Autogate;
c. mesin Autogate merekam data kedatangan atau keberangkatan yang berlaku sebagai Tanda Masuk atau Tanda Keluar secara elektronik; dan
d. pintu mesin Autogate terbuka secara otomatis dan proses pemeriksaan Keimigrasian dinyatakan selesai.
Dalam hal pemeriksaan Keimigrasian secara elektronik dengan menggunakan mesin Autogate tidak dapat dilaksanakan, pemeriksaan dilakukan secara manual pada Konter Imigrasi. Untuk tinggi badan kurang dari 120cm dan usia di bawah 14 tahun yang masih dalam pengawasan orang tua, pemeriksaan dilakukan di konter secara manual.
Pemeriksaan melalui Autogate memiliki fitur keamanan yang tinggi karena mesin Autogate secara otomatis melakukan verifikasi yang meliputi Data Biometrik yang tersimpan dalam kartu elektronik, masa berlaku kartu elektronik, daftar Pencegahan atau Penangkalan masa berlaku Paspor dan dokumen Keimigrasian atau Izin Tinggalnya.
Autogate memiliki fitur keamanan yang tinggi dengan diimplementasikannya Autogate sebagai pemeriksaan alternatif tentunya akan memberikan keuntungan kepada Direktorat Jendel Imigrasi dan penumpang khusunya WNI. Manfaat implementasi sistem Autogate adalah:
1. meningkatkan kualitas pelayanan publik karena memiliki fitur kemanana yang canggih dan futuristik;
2. mempermudah, mempercepat, dan menyederhanakan proses pemeriksaan keimigrasian;
3. salah satu perwujudan tata nilai akuntabilitas dalam tubuh Ditjen Imigrasi; dan
4. meminimalisir interaksi petugas dengan masyarakat
Optimaliasai pengunaan autogate system di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta telah mengurangi keluhan penumpang di Tempat Masuk Imigrasi Bandara Internasioal Soekarno- Hatta karena pemeriksaan yang lama dan menigkatnya indeks kepuasan masyarakat khususnya pada Direktorat Jenderal Imigrasi. Saat Pemeriksaan Keimigrasian terkadang pada hari dan waktu tertentu dapat terjadi penumpukkan pemeriksaan penumpang di Area Imigrasi. Area Imigrasi adalah area terbatas, seluruh kegiatan di Area Imigrasi dibatasi dan diatur dalam peraturan perundang-undangan, sehingga pemeriksaan yang cepat dan aman akan memberikan suasana Area Imigrasi yang clean and clear. Untuk mengurangi antrean saat Pemeriksaan Keimigrasian adalah pemeriksaan melalui Autogate, jika terjadi penumpukan penumpang sudah sebaiknya petugas mengarahkan menggunakan Autogate. Dampak yang dirasakan langsung penggunaan Autogate oleh Petugas Imigrasi dan penumpang adalah kemudahan pemeriksaan dokumen perjalanan dalam hal ini paspor, sehingga mengurangi jumlah antrian pemeriksaan di konter Imigrasi.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pemeriksaan Keimigrasian memiliki banyak syarat dan prosedur karena hal in menyangkut dengan keaman suatu negara dalam melakukan pengawasan, karenanya dalam keadaan tertentu Pemeriksaan Keimigrasian membutuhkan waktu lebih saat Pemeriksaan Keimigrasian. Selain itu pada waktu tertentu, Tempat Pemeriksaan Imigrasi kerap terjadi masalah, seperti sistem Border Control Management (BCM) mengalami gangguan, kedatangan atau keberangkatan pesawat yang berbarengan yang menyebabkan penumpukan penumpang, Saat hari besar umat beragama atau hari libur nasional kerap terjadi penumpukan di Area Imigrasi.
Mesin Autogate adalah solusi dalam pemecahan masalah antrian kecuali jika terjadi gangguan teknis seperti jaringan listrik yang lambat, mesin auogate mati, kejadian ini hal tetap harus dilakukan pemeriksaan manual. Mesin autogate memliki fitur keamanan yang tinggi karena data langsung terhubung keadalam SIMKIM, sehingga hal ini juga mengurangi beban Pejabat Imigrasi dalam melakukan pemeriksaan terhadap WNI di Bandara Internasional Soekarno - Hatta
5.2 Saran
Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang sesuai antara hasil dan harapan. Setiap penumpang yang melintas melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Soekarno - Hatta akan merasakan pelayanan berkualitas, yaitu pelayanan yang efektif dan efisien.
Pelayanan yang efektif dan efisien akan memberikan kesan baik dari masyarakat, sehingga berdampak positif pada kinerja Pegawai Imgirasi. Tempat Pemeriksaan
Imigrasi Bandara Soekarno – Hatta telah memberikan prosedur pemeriksaan keimigrasian yang tepat dan sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku.
Berdasarkan dari permasalahan yang dituangkan dalam kesimpulan diatas, penulis menyarankan untuk mempercepat pemeriksaan keimigrasian dengan memperhatikan SOP yang berlaku, namun jika dirasa hal tersebut tidak memungkinkan pemeriksaan melalui autogate adalah sarana alternatif pemeriksaan yang aman dan cepat, agar penumpukan antria dapat diselesaika dengan cepat. Petugas Imigrasi juga perlu membantu mengarahkan dan menertibkan penumpang apabila dirasa akan terjadi penumpukan penumpang di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2004).
Chalid Norpuko dan Abu Achmadi, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004).
Mardalis, Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004).
Rhona K.M. Smith dkk, Hukum Hak Asasi Manusia (Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008).
Herlin Wijayanti, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian, (Malang: Bayumedia Publishing, 2011).
Jazim Hamidi dan Charles Christian, Hukum keimigrasian bagi orang asing di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016).
Andry Indrady, Ph. D, Dinamika Isu Keimigrasian (Depok: Politeknik Imigrasi, 2019).
Ahmad Harry Lesmana, Maroloan J Baringbing, “Pemeriksaan Keimigrasian di Tempat Pemeriksaan Imigrasi”, (Depok: BPSDM KUMHAM Press, 2020).
Iman Santoso, M, Peran Keimigrasian dalam Rangka Peningkatan Ekonomi dan Pemeliharaan Ketahanan Nasional Secara Seimbang, (Tesis Hukum Universitas Krisnadwipayana Jakarta, 2004).
Alifine Qinthara Fatharani, Dara Gautama Meilina, A. A. Gede Raka Arta Yoga,
“Penggunaan Autogate di Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta”. Jurnal Ideas Vol. 7 No. 4, November 2021.
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2013 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian.
Peraturan Menteri Hukum Dan Ham Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Masuk Dan Keluar Wilayah Indonesia Di Tempat Pemeriksaan Imigrasi.
Sumber Lain
https://www.angkasapura2.co.id/id/business_relation/our_airport/16-Bandara Internasional-internasional-soekarno-hatta
https://soekarnohatta.imigrasi.go.id/profil-sejarah
https://nagabiru86.wordpress.com/2009/06/12/data-sekunder-dan-data-primer/