USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
58 KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA
PEMERKOSAAN ANAK DIBAWAH UMUR (Studi Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat
No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap) Faisal Salim Putra Ritonga
Syafruddin Kalo, Madiasa Ablisar, Marlina [email protected]
ABSTRACT
Based on the provisions of article 1 point 1 of the Act No.23 of 2003 Year shield cover Children Jo article 1 1 of the Act No. 35 year 2014 about changes in the law No.23 of the year 2003 on the protection of the child, which States that the child is someone who has not aged 18 (eighteen) years of age, including children who are still in the womb.
Children as subjects of law who are immature (human) does not cover the possibility of getting involved with the law, which means that a child can be the subject or object of the law in a legal events. One of the issues of concern to children is a special case of rape. Rape is a type of crime that affects very bad especially on victims, for rape would violate human rights and may damage the dignity of humanity, especially against the soul, reason and offspring. One of his Ruling State Court matter Rantauprapat matter No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap is something rape against children under age. In this case the occurrence of criminal offence deliberately doing hokey pokey, a series of lies or persuading a child do it. The defendant committing criminal acts against children under age (15 years) with doing serangakian lies with persuading the victim to perform coitus. Policy formulation of the law of criminal offence rape of children under based on the provisions of article 81 paragraph (2) of Act No.35 year 2014 about changes in the Law No.23 of the year 2003 on the protection of Children and the law On article 290 of the criminal clause (2) and (3), article 292, 293, article 294 Article paragraph (1) and section 295. The application of the criminal law against the crime of rape children under based on the ruling of the District Court Rantauprapat No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap based on article 81 paragraph (2) and the provisions of article 76 d. consideration of judge against based on the verdict of the District Court Rantauprapat No.694/Pid. Sus/2016/PN-Rap has not been fullest to suppress the occurrence of cases of abuse and permerkosaan minors. Judges in meting out criminal prison to the defendant should have maximum as in the provisions of article 81 paragraph (2) and the provisions of article 76 D Act No.35 year 2014 about changes in the Law No.23 of the year 2003 on the protection of The child. Recommended for law enforcement gives the application of criminal law in state court verdict Rantauprapat No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap in accordance with the criminal law policy contained in the provisions of Act No.35 year 2014 about changes top of Act No.23 of year 2003 on the protection of Children so that the existence of a deterrent effect for the accused and legal certainty for the victims.
Keywords : legal policy, crime, rape, minors, PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Negara Republik Indonesia secara jelas dituangkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 bahwa Negara bertujuan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpuh darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut serta dalam upaya perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sehubungan dengan hal tersebut, sudah sepatutnya masyarakat Indonesia mendapat perlindungan dalam aspek-aspek kehidupannya. Berdasarkan ketentuan Pasal 28 B ayat (2) UUD 1945 menyatakan setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasaan dan diskriminasi.
Hukum sebagai alat kontrol sosial dalam masyarakat dituntut untuk dapat mengatasi atau mewaspadai segala bentuk perubahan sosial atau kebudayaan. Hukum merupakan sebagai pembuktian yang sebagian aturan hukum yang mengatur macam-macam pembuktian, syarat dan
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
59 tata cara bagi yang melanggarnya.1Bentuk perundang-undangan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dan memahami bagaimana prosedur-prosedur yang berlaku dalam hukum itu sendiri. Persoalan kejahatan bukanlah merupakan persoalan yang sederhana terutama dalam masyarakat yang sedang mengalami perkembangan seperti di Indonesia. Perkembangan itu dapat dipastikan terjadi karena adanya perubahan tata nilai, dimana perubahan tata nilai bersifat negatif menjurus ke arah runtuhnya nilai-nilai budaya yang sudah ada.2
Pada dasarnya fenomena munculnya kejahatan sebagai gejala sosial karena Saat ini kasus tindak pidana pemerkosaan anak di bawah umur menjadi perhatian khusus yang harus di perhatikan. Berdasarkan data dari Komisis Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa kasus pelanggaran anak mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, adapun tahun 2014 mecapai 5.066 kasus, tahun 2015 mencapai 4.309 kasus dan tahun 2016 mencapai 4.620 kasus.
Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa kasus pelanggaran terhadap anak masih menjadi perhatian khusus hingga saat ini masih kompleks. Kasus terhadapanak yang menjadi korban masih serius untuk diperhatikan oleh penegak hukum maupun masyarakat umum untuk memberikan perlindungan bagi anak.3
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Pelindungan Anak Jo Pasal 1 angka 1 Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, yang menyatakan bahwa anak merupakan seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.4 Anak sebagai subyek hukum yang belum dewasa (manusia) tidak menutup kemungkinan terlibat dengan hukum, yang artinya bahwa anak dapat menjadi subyek hukum maupun objek dalam sebuah peristiwa hukum.5 Salah satu persoalan anak yang menjadi perhatian khusus merupakan kasus pemerkosaan. Pemerkosaan merupakan salah satu dari kejahatan seksual yang diakibatkan dari adanya perubahan yang terjadi dalam struktur masyarakat kita. Menurut Moeljatno Pemerkosaan adalah sebagai segala perbuatan yang asusila atau perbuatan keji yang berhubungan dengan nafsu kekelaminannya.6
Kekerasan dan pemerkosaan pada anak adalah perilaku pendekatan, terkait dengan seks yang tidak diinginkan. Termasuk dalam hal ini merupakan perilaku permintaan untuk melakukan seks dan perilaku lainnya baik secara verbal maupun fisik yang merujuk terjadinya seks. Untuk mengetahui lebih rinci mengenai pemerkosaan terhadap anak dibawah umur, adapun bentuk kekerasan dan pemerkosaan adalah sebagai berikut:
1. Exhibitionism seksual: sengaja memamerkan alat kelamin pada anak;
2. Voyeurism: orang dewasa mencium anak dengan bernafsu;
3. Fonding: mengelus/meraba alat kelamin seorang anak;
4. Afaellatio: orang dewasa memaksa anak untuk melakukan kontrak mulut.7
Pelindungan serta pengaturan terhadap anak dibawah umur terhadap pemerkosaan sangat diharapkan diterapkan secara khusus dan tegas agar terciptanya kepastian hukum, tujuan hukum serta kenyamanan bagi perkembangan anak. Pada hakekatnya, kebijakan hukum pidana dan undang- undang perlindungan anak merupakan diharapakan menjadikan proses penegakan hukum pidana secara menyeluruh atau total sehingga memberikan kepastian sesuai ketentuan hukum tersebut.8 Berdasarkan hal ini maka dilakukan penelitian mengenai Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Dibawah Umur (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap).
Rumusan Masalah
1Hari Sasangka & Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, (Surabaya: Mandar Maju, 2003), Hlm.10.
2B.Simandjuntak, Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial, (Bandung: Tarsito,1981), Hlm.71.
3Hari Anak Nasional, KPAI:Kasus pelanggaran terhadap anak makin kompleks, https;//metro.sindonews.com, diakses pada tanggal 27 juli, pukul 12:30 WIB.
4Pasal 1 Angka 1 Undang-Undang No.23 Tahun 2003 tentang Pelindungan Anak Jo Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak,
5Zaeni Asyhadie dan Arief Rahman, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada, 2016), Hlm.61 & 71.
6Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), Hlm.106
7Kartini Katono, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, (Bandung: Mandar Maju, 1985), Hlm.264.
8Lilik Mulyadi, Komplikasi Hukum Pidana Dalam Perspektif Teoritis Dan Praktik Peradilan, (Bandung, Mandar Maju, 2010), Hlm.88.
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
60 Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana formulasi kebijakan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan anak di bawah umur?
2. Bagaimana penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan anak di bawah umur berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rantau prapat perkara No.
694/Pid.Sus/2016/PN-Rap?
3. Bagaimana pertimbangan hakim terhadap tindak pidana pemerkosaan anak di bawah umur berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rantau prapat perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui formulasi kebijakan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rantau Prapat perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap.
2. Untuk mengetahui penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rantau prapat perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap.
3. Untuk mengetahui pertimbangan hukum oleh hakim terhadap tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rantau Prapat perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat baik dari segi teoretis maupun praktis sebagai berikut:
1. Segi Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dan memberikan sumbangan pemikiran bagi masyarakat dan tentunya diharapkan juga dapat memberikan masukan bagi perkembangan penelitian-penelitian yang tema dan kajian yang hampir sama dengan penelitian ini.
2. Segi Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi hakimyang menangani perkara pemerkosaan anak di bawah umur khususnya majelis hakim di Pengadilan Negeri Rantau prapat.
KERANGKA TEORI
Teori merupakan tujuan akhir dari pengetahuan. Lahirnya filsafat ilmu dikembangkan teori merupakan kebenaran yang dimaksudkan untuk menuntut dan memberikan arah bagi pencarian kebenaran terhadap pertanyaan kefilsafatan tentang apa yang diartikan dengan kebenaran dari sesuatu.9 Kerangka teori merupakan bagian yang penting dalam penelitian yang artinya teori hukum harus dijadikan dasar dalam meberikan deskripsi atau penelitian apa yang seharusnya memuat hukum. Teori juga bisa digunakan untuk menjelaskan apa fakta dan peristiwa hukum yang terjadi. Teori hukum dalam penelitian berguna sebagai pisau analisis pembahasan tentang peristiwa atau fakta hukum yang diajukan dalam masalah penelitian.10 Landasan teori pada suatu penelitian merupakan dasar-dasar operasional penelitian. Landasan teori dalam suatu penelitian adalah bersifat strategis memberikan realisasi pelaksanaan penelitian.11
Penelitian ini menggunakan teori kebijakan hukum pidana oleh Marc Ancel dan teori pembuktian berdasarkan undang-undang negatif. Menurut Marc Ancel pengertian penal policy (kebijakan hukum pidana) adalah suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberikan
9Suratman. H.Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, (Bandung:Alfabeta Bandung, 2014), Hlm.14.
10 Mukti Fajar Nur Dewata dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif Dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2010), Hlm.146.
11Kaelan MS, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat (Paradigma Bagi Perkembangan Penelitian Interdisipliner Bidang Filsafat, Budaya, Sosial, Semiotika, Sasta, Hukum dan Seni), (Yogyakarta:
Paradigma, 2005), Hlm.239.
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
61 pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada penyelengara atau pelaksana putusan pengadilan.12
Martiman Prodjohamidjojo menyebutkan pembuktikan merupakan mengandung maksud dan usaha untuk menyatakan kebenaran adalah suatu peristiwa sehingga dapat diterima oleh akal terhadap kebenaran peristiwa tersebut. Implementasi hukum acara pidana, acara pembuktian adalah dalam rangka mencari kebenaran materiil dan KUHAP menetapkan tahapan dalam mencari kebenaran sejati yaitu:
(1). Penyidikan;
(2). Penuntutan;
(3). Pemeriksaan di persidangan;
(4). Pelaksanaan, pengamatan, dan pengawasan.13
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Formulasi Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Pemerkosaan Anak di Bawah Umur
1. Pemerkosaan Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana
Telah banyak terjadi di masyarakat kasus-kasus pemerkosaan yang dapat menggambarkan beberapa problematika yang dihadapi oleh korban yang mengalami tindak pidana perkosaan yang disebabkan karena adanya kelemahan-kelemahan dalam perumusan undang-undang, baik mengenai unsur-unsur sanksi dan proses pemeriksaan serta pembuktiannya. Dalam kaitannya dengan tindak pidana pemerkosaan, kelemahannya KUHP terletak pada sempitnya ruang lingkup tindak pidana pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Berdasarkan hal tersebut dibentuknya Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak yang memberikan khusus mengenai perlindungan terhadap anak dibawah umur.
Hukum pidana memberikan kebijakan mengenai tindak pidana pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Peraturan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan diatur sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 285 KUHP bahwa barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.
Berdasarkan pemahaman pasal 285 KUHP, hanya memberikan mengenai arti dari pemerkosaan. Jika membahas lebih lanjut mengenai formulasi kebijakan hukum pidana terhadap tindak pidana kejahatan yang mengandung unsur pemerkosaan dapat mengacu melalui ketentuan Pasal 287 KUHP. Kejahatan yang dimaksud diatas adalah dirumuskan dalam Pasal 287 KUHP, adapun sebagai berikut:
(1). Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan diluar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umumnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya belum dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
(2). Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai 12 tahun atau jika ada salah satu hal yang berdasarkan Pasal 291 dan Pasal 294.
Apabila rumusan Pasal 287 ayat (1) dirinci, terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
a. Unsur-unsur objektif;
1). Pembuatnya bersetubuh yang artinya merupakan pemerkosaan terhadap anak terjadi karena ada persetubuhan yang terjadi baik diluar kehendak korban maupun didalam kehendak korban sendiri (suka sama senang). Atas dasar suka sama senang korban anak tersebut tidak dipidana kecuali anak tersebut mengetahui bahwa pelaku sudah bersuami, sehingga anak tersebut dapat dipidana dengan 284 KUHP.14
2). Objek dalam hal ini merupakan perempuan diluar perkawinan, yang artinya perempuan diluar perkawinan.
3). Belum mencapai umur 15 (lima belas) tahun atau jika umurnya belum mencapai batas waktu dikatakan sah untuk menikah. Dalm hal ini memiliki arti bahwa ada indikator anak yang belum waktunya disetubuhi ini ada pada bentuk fisik dan psikis. Bentuk fisik terlihat pada wajah dan tubuhnya yang masih anak-anak, seperti tubuh anak-anak pada umumnya atau belum datang haid. Adapun bentuk psikis dapat dilihat pada kelakuannya, mislanya masih senang bermain pada umumnya anak belum berumur 15 (lima belas) tahun.
b. Unsur Subjektif
12Barda Nawawi Arief, Loc.cit. Hlm.30.
13Martiman Prodjohamidjojo, Sistem Pembuktian dan Alat-Alat Bukti, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983), Hlm.12.
14Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana (bagian I), (Jakarta: Raja Grafindo, 2005),Hlm.71
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
62 Diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum 15 tahun. Dalam kejahatan ini dirumuskan unsur kesalahannya, yang berupa kesengajaan, yakni diketahuinya umurnya belum lima belas tahun dan kealpaan yakni sepatutnya harus diduganya umurnya belum lima belas tahun atau jika umurnya tidak jelas yang dimana belum waktunya untuk menikah.
Tindak Pidana Pemerkosaan
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana dijelaskan mengenai perkosaan yang berbunyi sebagai berikut:
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.
Bertitik tolak melalui ketentuan Pasal 285 tersebut, dapat dinyatakan bahwa pengertian delik pemerkosaan adalah delik yang dengan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang perempuan yang bukan istrinya ancaman mana dimaksud agar perempuan tersebut tidak berdaya sehingga dapat disetubuhi.
Menurut ketentuan Pasal 15 Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa:
Kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum.
Unsur-unsur Tindak Pidana Pemerkosaan
Berdasarkan ketentuan Pasal 285 KUHP menyatakan bahwa barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun. Pada ketentuannya unsur-unsur tindak pidana pemerkosaan diatur dalam ketentuan Pasal 285, 287, 289 KUHP. Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam delik pemerkosaan yang dapat dijadikan sebagai dasar hukuman pidana yaitu sebagai berikut:
(1). Barang siapa
(2). Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.
(3). Memaksa
(4). Seorang wanita bersetubuhan dengan dia (5). Diluar perkawinan15
Penyebab Tindak Pidana Pemerkosaan
Selain hawa nafsu yang menjadi salah satu faktor penyebab tindak pidana pemerkosaan, adapun beberapa faktor lainnya, adalah yakni:
(1). Faktor psikis dan kejiwaan;
(2). Faktor merosotnya norma susila dan kontrol sosial;
(3). Faktor interaksi dan situas;i (4). Faktor ekonomi;
(5). Faktor kemajuan dan ilmu pengetahuan.16
2. Pemerkosaan Menurut Undang-undang Perlindungan Anak Anak
Anak merupakan pewaris dan pelanjut masa depan bangsa. Saat ini persoalan anak menjadi situasi yang semakin hari semakin memburuk di Indonesia.Dunia anak yang seharusnya diwarnai oleh keinginan bermain, berlajar, dan mengembangkan minat serta bakatnya untuk masa depan, realitanya diwarnai data kelam yang sangat menyedihkan. Pengertian anak menurut Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak yakni Pasal 1 ayat (1) menyatakan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih di dalam kandungan.
15Leden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dan Masalah Prevensinya, (Jakarta:Sinar Grafika, 1996), Hlm.52-53.
16Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Log.cit, Hlm.66-67.
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
63 Hak-hak Anak
Hak anak dalam Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak terdapat dalam Pasal 1 sampai Pasal 18 yang menyatakan bahwa:
a. Setiap hak anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusian, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi;
b. Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat;
c. Setiap anak berhak mendapat perlindungan di satuan pendiikan dari kejahatan seksual dan kekerasan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain;
d. Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua;
e. Setiap anak penyandang disabilitas berhak memperileh rehabilitas, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial,;
f. Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari:
a. Penyalahgunaan dalam kegiatan politik;
b. Perlibatan dalam sengketa bersenjata;
c. Perlibatan dalam kerusuhan sosial;
d. Perlibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan;
e. Pelibatan dalam peperangan;
f. Kejahatan seksual.
Perlindungan Hukum Terhadap Anak
Berbicara mengenai persoalan tentang anak menjadi perhatian khusus, karena banyak kasus- kasus kekerasan, pemerkosaan yang terjadi pada anak dibawah umur. Anak merupakan generasi masa depan, sehingga harus dijaga dan dilindungan setiap kehidupannya.Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Berdasarkan Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anakmenyatakan bahwa anak merupakan seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.17
Adapun penderitaan yang diderita korban sebagai dampak dari perkosaandapat dibedakan menjadi:
1. Dampak secara fisik;
2. Dampak secara mental;
3. Dampak dalam kehidupan pribadi dan sosial.18
Berdasarkan pemahaman diatas, adapun ancaman kebijakan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur menurut Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak diatur melalui Pasal 81 dan Pasal 82, yang menyatakan sebagai berikut:
1. Pasal 81 Undang-Undang No.35 tahun 2014 tentang Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yakni:
(1). Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling banyak 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
(2). Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tpu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain;
(3). Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, Pengasuh Anak, Pendidik, atau Tenaga kependidikan maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancama pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
2. Pasal 82 Undang-Undang No.35 tahun 2014 tentang Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yakni:
(1). Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
17Pasal 1 Angka 1 Undang-undang No.35 tahun 2014 tentang Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
18Johan Runtu, Perlindungan Hukum Terhadap Tindak Pidana Perkosaan Dalam Peradilan Pidana,Lex CrimenVol.I, No.2, Apr-Jun 2012,Hlm.23
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
64 (2). Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang
Tua, Wali, Pengasuh Anak, Pendidik, atau Tenaga kependidikan, maka pidanannya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Mengenai kebijakan hukum pidana terhadap tindak pidana bagi anak dibawah umur juga diatur di dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Republik Indonesia No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sebagaimana dalam Pasal 81 dinyatakan bahwa:
(1). Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (tahun) dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
(2). ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain;
Ketentuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sebagaimana dalam Pasal 82 ayat (1) menyatakan bahwa: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (tahun) dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).19
3. Kebijakan Hukum Pidana Upaya Non-Penal dan Upaya Penal dalam Tindak Pidana Pemerkosaan
Pencegahan atau menanggulangi kejahatan harus dilakukan pendekatan integral yaitu antara sarana penal dan non penal.
a. Kebijakan Non-Penal
Kebijakan penanggulangan kejahatan melalui jalur non-penal ini adalah penanggulangan kejahatan sebelum terjadinya kejahatan yang lebih bersifat tindakan preventif atau pencegahan terjadinya tindak pidana. Faktor-faktor apa saja berhubungan dengan memperbaiki moral bangsa yang dapat ditempuh dengan berbagai upaya pencegahan, baik melalui peningkatan nilai-nilai keagamaan, penyuluhan melalui pemuka masyarakat, pendidikan moral disekolah-sekolah, termasuk pembentukan moral dan karakter dalam keluarga. Upaya penanggulangan kejahatan dengan pendekatan non-penal merupakan bentuk upaya pencegahan tanpa menggunakan hukum pidana dengan mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap kejahatan dan pemidanaan melalui media massa.20
b. Kebijakan Penal
Penanggulangan kejahatan melalui jalur penal adalah penanggulangan kejahatan setelah terjadinya kejahatan. Penanggulangan ini bersifat represif (menekan, mengekang, menahan atau menindas21), artinya setiap pelaku kejahatan diberikan hukuman sesuai dengan hukuman yang positif. Penanggulangan kejahatan melalui jalur penal menyangkut bekerjanya fungsi aparatur penagak hukum sistem peradilan pidana yang terdiri dari kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga-lembaga masyarakat.22
Penerapan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Dibawah Umur Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
Jaksa Penuntut Umum pada tanggal 27 September 2016 dengan No. Register Perkara PDM-324/RP.Rap/09/2016 yang pada pokonya menyatakan bahwa dakwaan pertama Terdakwa JS alias JD melanggar Pasal 81 ayat (2) Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak dan Dakwaan kedua melanggar Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dakwaan kedua melanggar Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
19Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Republik Indonesia No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
20 Marlina, Peradilan Pidana Anak Di Indonesia: Pengembangan Konsep Diversi Dan Restorasi Justice, (Medan: PT. Refika Aditama, 2009), Hlm. 15
21 Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op Cit, hlm. 950.
22 Marlina, Op Cit, Hlm. 16.
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
65 Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (Requisitoire)
Berdasarkan fakta di persidangan Jaksa Penuntut Umum berkeyakinan bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan atas dakwaan yang tuduhkan kepada Terdakwa, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang memberatkan, yakni:
1. Perbuatan Terdakwa bukan hanya melanggar norma hukum positif yang berlaku, namun hal itu telah pula melanggar norma-norma kesusilaan dan kepatutan maupun agama;
2. Perbuatan Terdakwa menimbulkan trauma bagi saksi korban sehingga dapat mempengaruhi perkembangan psikisnya;
3. Perbuatan Terdakwa mengakibatkan saksi korban kehilanga keperawanannya.
Hal-hal yang meringankan adalah:
1. Terdakwa bersikap sopan di persidangan;
2. Terdakwa belum pernah dihukum.
Penuntut Umum menuntut supaya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rantau prapat yang memeriksa dan mengadili perkara memutuskanmenjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa JD selama 10 (sepuluh) tahun penjara dan denda sebesar Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan Subsider selama 1 (satu) tahun kurungan dengan perintah Terdakwa tetap ditahan.
Analisa Pertimbangan Hakim Terhadap Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Dibawah Umur Berdasarkan Putusan Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat No. 694/Pid.Sus/2016/PN Rap
Pertimbangan Hakim Terhadap Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Di Bawah Umur Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat No. 694/Pid.Sus/2016/PN- Rap
Berdasarkan fakta hukum yang terungkap dalam persidangan yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa dapat diperoleh sebuah fakta hukum bahwa benar telah terjadi pemerkosaan terhadap anak korban sebagaimana yang didakwakan kepada Terdakwa. Perbuatan yang didakwakan adalah pemerkosaan terhadap dengan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengan dirinya.
Pemerkosaan dilakukan JD (Terdakwa) dengan SI (korban) hari Rabu tanggal 20 April 2016 pukul 08.00 wib anak korban dan Terdakwa menyewa rumah kontrakan di Jln. Batu Sangkar Kel. Bakaran Batu, Kec. Rantau Selatan Kab.Labuhanbatu dan saat itu sekira pukul 08:30 wib JD (Terdakwa) mengajak SIN (Anak Korban) untuk bersetubuhan.
Pada tanggal 23 Juni 2015 Personil Kepolisian Polres Labuhanbatu berhasil menangkap Terdakwa di sebuah wisma pelangi bersama anak korban dan selanjutnya polisi membawa Terdakwa guna proses hukum lebih lanjut. Proses penyidikan perkara ini di mulai dari tanggal 24 Juni 2016 sampai 22 Agustus 2016, Selanjutnya Penuntut Umum sejak tanggal 8 September 2016 sampai 27 September 2016. Perpanjangan penahanan oleh ketua Pengadilan Negeri Rantauprapat sejak tanggal 23 Oktober 2016 sampai dengan tanggal 21 Desember 2016. Berdasarkan laporan dari Ibu korban di Kepolisian Polres Labuhanbatu, maka penyidik membuat berkas pemeriksaan Terdakwa, Korban, dan Saksi yang akan dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri Rantauprapat, Selanjutnya Kejaksaan Negeri Rantauprapat melimpahkan ke Pengadilan Negeri Rantauprapat.
Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat akan membuat dasar pertimbangan hukum berdasarkan surat dakwaan dan tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut dalam persidangan. Adapun dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
66 Tabel 1
Dasar Pertimbangan Hakim Putusan Perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap
No. Dasar Petimbangan Hakim Berdasarkan Pasal 81 ayat (2) UUPA 1.
Setiap orang yang dimaksud dengan setiap orang dalam ilmu hukum pidana diartikan sebagai orang selaku subjek hukum pendukung hak dan kewajiban yang atas perbuatannya ia dapat dibebani pertanggung jawaban pidana. Dalam hal ini berdasarkan keterangan saksi-saksi dan keterangan Terdakwa serta dihubungkan dengan bukti surat maupun barang bukti dimana satu sama lain telah saling bersesuaian. Majelis
Hakim berpendapat, bahwa dengan dihadapkannya Terdakwa ke persidangan yang identitasnya telah dibenarkan oleh Terdakwa dan saksi-saksi. Maka yang dimaksud dengan unsur setiap orang dalam perkara a quo menunjuk kepada diri Terdakwa JD dan bukan orang lain. Unsur setiap orang dalam hal ini telah terpenuhi.
2
Dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. Bahwa yang dimaksud dengan kata dengan sengaja adalah bahwa pelaku mengetahui dan menyadari akan perbuatan yang dilakukannya tersebut baik sebagai tujuan yang dimaksud, maupun sebagai kepastian atau kemungkinan yang dapat di bayangkan. Kesengajaan berarti perbuatannya dikehendaki dan iinsyafi akan segala akibat-akibatnya.
Membujuk atau mengajak anak dengan menjanjikan sesuatu. Anak berdasarkan UU RI No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak Bab I ketentuan umum Pasal 1 angka (1) adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Demikian pula yang dimaksud persetubuhan adalah masuknya alat kelamin laki- laki ke lubang kemaluan perempuan, dengan tidak memperhatikan apakah alat kelamin laki-laki mengalami ejakulasi atau tidak.
Sumber: Pertimbangan Hukum Majelis Hakim Putusan Perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap Berdasarkan pertimbangan hakim diatas dapat dilihat pertimbangan hakim tersebut dalam menjatuhkan sanksi kepada Terdakwa didasari pada ketentuan dalam Undang-Undang Pelindungan Anak. Penjatuhan hukuman tersebut juga diliputi berdasarkan keterangan saksi korban, Terdakwa, Anak Korban maupun alat bukti berupa surat. Dalam hal ini keyakinan Hakim juga digunakan untuk melihat apakah Terdakwa merupakan orang yang bersalah dalam perkara.
Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Pemerkosaan Anak Di Bawah Umur Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat No. 694/Pid.Sus/2016/PN- Rap.
Berdasarkan hukum acara tindak pidana persidangan Anak dibawah umur di
Putusan Hakim tersebut harus memberikan kepastian hukum yang seadil-adilnya bagi Terdakwa dan Korban. Khususnya bagi terdakwa putusan tersebut bertujuan memberikan efek jera bagi yang melakukan tindak pidana.Pada bagian ini dilakukan analisis terhadap pertimbangan hukum yang dilakukan oleh Hakim terhadap putusan No.694/Pid.Sus/2016/PN- Rap. Adapun, putusan yang dijatuhkan hakim dalam perkara ini dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini:
Tabel 2
Putusan Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat Perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap
No. Putusan Majelis Hakim Perkara No.649/Pid.Sus/2016/PN-Rap
1. Menyatakan Terdakwa JS als JD tersebut diatas, telah terbuktu secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja melakukan tipu muslihat membujuk anak untuk melakukan persetubuhan dengannya”
2. Menjatuhkan pidana Terdakwa dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun dan denda sebesar Rp.1.000.000.000,- dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar maka digantu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menentapkan Terdakwa tetap ditahan;
5. Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp.5.000,- .
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
67 Analisa yang dilakukan terhadap pertimbangan hakim dalam putusan No.649/Pid.Sus/2016/PN.Rap, mengenai pemerkosaan terhadap anak dibawah umur, Jaksa Penuntut Umum menuntut Terdakwa (JS als JD) telah melanggar Pasal 81 ayat (2) dan Pasal 82 ayat (1) Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang ancaman pidananya 10 (sepuluh) tahun penjara dan denda sebesar 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah), Subsider 1 (satu) tahun kurungan dengan perintah agar Terdakwa ditahan.
Pada kenyataannya hakim yang memeriksa dan mengadili perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap dalam menjatuhkan putusan tidak sesuai sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 81 ayat (2) Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak. Berdasarkan dalam ketentuan Pasal 81 dinyatakan bahwa setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 D23 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling banyak 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Dalam Putusan diatas hakim hanya menghukum Terdakwa 8 (delapan tahun) dan menjatuhkan denda sebesar Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana penjara yang hanya dijatuhkan selama 6 (enam) bulan dalam penjara.
Hal ini tentu tidak sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 81 (2) Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa ketentuan pidana yang dilakukan bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat adapun dasar putusannya terhadap perkara diatas adalah karena Terdakwa selama proses persidangan di Pengadilan Terdakwa bersikap sopan dan Terdakwa belum pernah dihukum. Hal-hal tersebut yang menjadi pertimbangannya dalam putusan sehingga mengurangi hukuman pada Terdakwa yang seharusnya mendapatkan hukuman 15 (lima belas) tahun penjara menjadi 8 (delapan) tahun dan denda yang harus dibayar juga dikurangi menjadi Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dari denda Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).24
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Formulasi kebijakan hukum tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur didasarkan pada ketentuan Pasal 81 ayat (2) Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana pada Pasal 290 ayat (2) dan (3), Pasal 292, Pasal 293, Pasal 294 ayat (1) dan Pasal 295.
2. Penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat No. 694/Pid.Sus/2016/PN-Rap, didasarkan pada Pasal 81 ayat (2) dan ketentuan Pasal 76 D Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.
3. Dasar pertimbangan hukum oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat yang memeriksa dan memutus perkara No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap, tidak berdasarkan hukum pembuktian yang logis dikarenakan putusan hakim tersebut tergolong meringankan hukuman Terdakwa sebagai pelaku tindak pidana yang tidak didasarkan pada Pasal 81 ayat (2) dan ketentuan Pasal 76 D.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, saran-saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Apabila terjadi tindak pidana pemerkosaan anak dibawah umur dalam lingkungan masyarakat diharapkan melaporkan dan menyelesaikan dengan jalur litigasi agar memberikan hukuman bagi pelaku sesuai dengan kebijakan hukum pidana yang berlaku.
2. Diharapkan bagi penegak hukum seharusnya memberikan penerapan hukum pidana pada putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat No.694/Pid.Sus/206/PN-Rap sesuai dengan
23 Pasal 76 D UUPA menyatakan setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dnegan orang lain.
24Berdasarkan Hasil Wawancara Terhadap Dharma.Simbolon Sebagai Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat, Pada Tanggal 05 Oktober 2017.
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
68 kebijakan hukum pidana yang terdapat pada ketentuan Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.
3. Bagi Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat berdasarkan putusan No.694/Pid.Sus/2016/PN- Rap seharusnya memberikan putusan yang adil sesuai dengan kebijakan hukum pidana bagi yang melanggar tindak pidana pencabulan dan pemerkosaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Arief Rahman, dan Zaeni Asyhadie, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2016.
Chazawi, Adami, Pelajaran Hukum Pidana (bagian I), Jakarta : Raja Grafindo, 2005.
Dillah, Philips H.Suratman, Metode Penelitian Hukum, Bandung : Alfabeta, 2014.
Gultom, Elisatris - Dikdik M. Arief Mansur Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan Antara Norma dan Realita, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007.
Lily, Rosita & Hari Sasangka, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana, Surabaya : Mandar Maju, 2003.
Katono, Kartini, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual, Bandung : Mandar Maju, 1985.
Marlina, Peradilan Pidana Anak Di Indonesia: Pengembangan Konsep Diversi Dan Restorasi Justice, Medan : PT. Refika Aditama, 2009.
Marpaung, Leden, Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dan Masalah Prevensinya, Jakarta : Sinar Grafika, 1996.
Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Jakarta : Bumi Aksara, 2003.
MS, Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat (Paradigma Bagi Perkembangan Penelitian Interdisipliner Bidang Filsafat, Budaya, Sosial, Semiotika, Sasta, Hukum dan Seni), Yogyakarta : Paradigma, 2005.
Mulyadi, Lilik, Komplikasi Hukum Pidana Dalam Perspektif Teoritis Dan Praktik Peradilan, Bandung : Mandar Maju, 2010.
Prodjohamidjojo, Martiman, Sistem Pembuktian dan Alat-Alat Bukti. Jakarta : Ghalia Indonesia, 1983.
Simandjuntak, B. Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial, Bandung : Tarsito, 1981.
Yulianto Achmad, dan Mukti Fajar Nur Dewata Dualisme Penelitian Hukum Normatif Dan Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Undang-undang No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang No.23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Putusan Pengadilan
Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat Putusan No.694/Pid.Sus/2016/PN-Rap.
Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat PutusanNo.558/Pid.Sus/2017/PN-Rap.
Putusan Pengadilan Negeri Rantauprapat PutusanNo.401/Pid.Sus/2017/PN-Rap.
Jurnal
USU Law Journal, Vol.6.No.2 (April 2018)
58 - 69
69 Johan, Runtu. Perlindungan Hukum Terhadap Tindak Pidana Perkosaan Dalam Peradilan
Pidana,Lex CrimenVol.I, No.2, Apr-Jun 2012.
Kamus
Tim Penyusun Kamus Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Balai Pustaka. Jakarta. 1990.
Internet
Hari Anak Nasional, KPAI:Kasus pelanggaran terhadap anak makin kompleks, https;//metro.sindonews.com, diakses pada tanggal 27 juli, pukul 12:30 WIB.