• Tidak ada hasil yang ditemukan

Besok Senin, UNAIR dan Australia Langsungkan Diskusi Kemaritiman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Besok Senin, UNAIR dan Australia Langsungkan Diskusi Kemaritiman"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Besok Senin, UNAIR dan Australia Langsungkan Diskusi Kemaritiman

UNAIR NEWS – The Perth USAsia Centre dan Universitas Airlangga mengundang sivitas akademika untuk hadir dalam diskusi panel yang membahas tentang peluang dan tantangan bidang maritim yang dihadapi Indonesia dan Australia.

Diskusi panel bertema “The Blue Zone: Environment, Security and Resources in the Indo-Pacific Maritime Realm” akan diselenggarakan di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, Senin (22/5). Diskusi tersebut dihadiri empat panelis yang merupakan pakar di bidangnya.

Keempat panelis tersebut adalah Dino Patti Djalal (mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat), dan Prof. Stephen Smith (mantan Menteri Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan Australia).

Selain kedua panelis di atas, ada pula Prof. Erika Techera (pengajar The University of Western Australia Oceans Institute), dan Prof. Sri Subekti Bendryman (pengajar UNAIR dan Sekretaris Jenderal Konsorsium Mitra Bahari Jawa Timur) sebagai panelis.

Dalam diskusi panel The Blue Zone tersebut, Rektor UNAIR Prof.

Dr. Mochammad Nasih, Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson, serta Menteri Pertambangan dan Minyak Bumi Australia Barat Bill Johnston akan memberikan sambutan.

Acara yang berlangsung pada pukul 14.30 sampai 16.00 tersebut akan dipandu oleh Prof. Gordon Flake sebagai moderator.

Acara diskusi panel ini merupakan bentuk kerjasama sister- province antara Jawa Timur dan Australia Barat. Selain itu,

(2)

diskusi panel ini merupakan bagian dari konferensi tahunan “In The Zone” yang digelar Perth USAsia Centre.

Penulis: Defrina Sukma S

UNAIR Persiapkan Kolaborasi Penelitian dengan Australia

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga tengah menyiapkan peneliti- peneliti terbaiknya untuk bisa melakukan kolaborsai riset dan publikasi internasional dengan beberapa universitas terkemuka di Australia. Universitas tersebut tergabung dalam Indonesia- Australia Centre (AIC) dan termasuk dalam Top Five University di Australia. Senin (31/10) lalu, diadakan pertemuan antara pihak AIC dan UNAIR untuk membahas persiapan penelitian yang akan dilakukan kedua negara tersebut.

AIC diwakili Richard Price selaku Research Director dan Meghan Power selaku manager Projects and Programs. Kedatangan mereka disambut oleh pimpinan UNAIR, meliputi Direktur Pendidikan Prof. Tri Nyoman Pusparini, Ketua Deputi International Office and Partnership (IOP) Margaretha S.Psi., M.Sc, Koordinator Peneliti UNAIR untuk AIC Dr. Achmad Chusnu Romdhoni., dr., SP,THT-KL(K), dan beberapa perwakilan peneliti dari Institute of Tropical Disease UNAIR.

Kedatangan delegasi AIC ke UNAIR merupakan tindak lanjut dari pertemuan peneliti antar kedua negara yang bertajuk

“Indonesia-Australia Research Summit” yang diadakan pada Agustus lalu. Richard Price dan Meghan Power mengatakan bahwa UNAIR termasuk universitas yang memiliki kualitas tinggi. Maka dari itu, diharapkan adanya kontribusi dan partisipasi UNAIR dalam riset di AIC.

(3)

Margaretha mengatakan, kolaborasi riset yang dicanangkan AIC ini memiliki sistem funding atau mendanai penelitian yang sudah terseleksi. Diawal, beberapa universitas di Indonesia menyerahkan proposal penelitian yang sudah ada, dan dikirim ke sekretariat AIC pusat untuk direview. Proposal yang sudah masuk kualifikasi akan dipasangkan dengan research partner yang sudah ditunjuk dari salah satu universitas di Australia.

Setelah itu, barulah kedua perguruan tinggi bisa melakukan penelitian bersama.

Margaretha menambahkan, ini merupakan kolaborasi yang eksklusif. Sebab, UNAIR mempunyai peluang besar untuk bisa melakukan kolaborasi riset bersama Top Five University di Australia.

“Maka dari itu IOP bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI) UNAIR mempersiapkan proposal penelitian dari peneliti-peneliti yang ada di UNAIR agar bisa terlibat dalam program kolaborasi riset AIC ini. Kalau berhasil membuat suatu kerjasama dalam bidang riset, maknanya akan kuat untuk meningkatkan kapasistas peneliti yang ada di UNAIR dan memungkinkan adanya publikasi internasional,” Ujar Margaretha.

“Sebisa mungkin dalam dua minggu ke depan kita sudah mendapatkan proposal penelitian yang bisa langsung dikirimkan ke sekretariat AIC. Kita juga berharap kontribusi peneliti di UNAIR untuk membuat proposal yang kompetitif agar bisa terjalin kerjasama dengan Australia. Ini merupakan kesempatan besar bagi kita. Jadi sayang untuk dilewatkan,” tambah Margaretha.

Margaretha berharap, peneliti di UNAIR mempersiapkan proposal penelitian yang siap untuk diikutkan dalam kerjasama internasional lainnya. Karena setelah ini, akan ada program pendanaan penelitian dari ASEAN COST, sebuah komite di ASEAN yang mengembangkan riset dalam pengembangan keilmuan dan teknologi. Pertahunnya, dana yang bisa digelontorkan mencapai USD1.000.000.

(4)

Sementara itu Richard Price menegaskan, ia yakin dengan kekuatan yang UNAIR miliki bisa menambah cluster dalam penelitian yang ada. Diharapkan, penelitian yang akan dikaji dapat mengangkat masalah-masalah global terbaru yang sedang dihadapi Indonesia dan Australia. Selain topik seputar kesehatan, bisa juga masalah infrastruktur, pengelolaan air, ketahanan pangan, dan topik lainnya. (*)

Penulis : Faridah Hariani Editor : Binti Q. Masruroh

Kuliah Umum Hubungan Bilateral dari Dubes dan Mantan Menlu Australia di UNAIR

UNAIR NEWS – Paul Grigson, Dubes Australia untuk Indonesia dan Prof. Stephen Smith, Mantan Menteri Luar Negeri Australia, Senin (31/10) siang kemarin hadir di Universitas Airlangga.

Mereka berdua memberikan kuliah umum kepada mahasiswa mengenai

“Bilateral Relationship between Australia and Indonesia”, di Aula Kahuripan Kampus C UNAIR.

Menurut Paul Grigson, kuliah umum ini merupakan bentuk kunjungan sekaligus sarana berbagi ilmu yang dilakukan Australia untuk dapat meningkatkan dan membangun hubungan baik antar-kedua negara. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman akan hubungan Indonesia-Australia dan juga mengajak mahasiswa melanjutkan studi lanjut di Negeri Kanguru itu.

Bagi Grigson, kehadirannya ini merupakan kunjungan ke UNAIR

(5)

kali pertamanya, sedangkan bagi Smith, UNAIR bukan hal baru baginya, sebab Februari 2016 lalu Ia juga memberikan kuliah di Fakultas Hukum UNAIR mengenai tantangan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Paul Grigson memberikan pemaparan tentang Hubungan Australia dan Indonesia dalam hal Pariwisata dan Pendidikan. Di bidang parisiwata, wisata yang ditawarkan Indonesia membuat orang Australia sering datang ke negeri ini. Wisata Indonesia tidak lagi soal Bali dan Lombok, tetapi banyak tempat yang lebih menarik lainnya, tetapi terkadang persoalan infrastruktur dan akses sering kali menjadi kendala.

”Orang Australia tidak hanya berwisata ke Bali dan Lombok, banyak tempat lain yang juga menarik. Misalnya di Riau, yang dalam waktu dekat akan ada bandara untuk mempermudah akses wisatawan kesana,” ujar Paul, alumni University of Queensland ini.

Di bidang pendidikan, Paul juga mengajak mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di negeri Kanguru tersebut. Berbagai data dipaparkan soal keunggulan yang dapat didapat selama studi di Australia. Pertama, delapan kampus asal Australia masuk 50 besar kampus terbaik dunia, tentu saja kualitas keilmuan dan penelitiannya juga maju. Kedua, empat kota di Australia dinobatkan sebagai kota pelajar/mahasiswa. Persoalan mengenai kenyamanan dan lingkungan kota dan kampus menjadi faktor penting penunjang pendidikan. Ketiga, biaya kuliah di Australia lebih murah dibandingan dengan kampus di Amerika Serikat maupun di Eropa.

Pejabat Dubes sejak Januari 2015 ini juga memaparkan data jumlah mahasiswa yang melanjutkan studi di Australia. Selama 25 tahun mahasiswa Indonesia di Australia selalu meningkat 24 persen, sesuai data UNESCO. Beberapa kampus yang seiring menjadi rujukan, diantaranya Australia National University, University of Melbourne, University of Queensland, University of New South Wales.

(6)

“Kami menargetkan jumlah mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Australia semakin meningkat, jumlah wisata juga akan kita tingkatkan pula, salah satunya melalui kemudahan mengurus dokumen visa.” Kata Dubes yang mahir berbahasa Prancis ini.

Mantan Dubes Australia untuk Thailand (2008-2010) ini juga sering berinteraksi dengan mahasiswa terkait pertanyaan- pertanyaan singkat seputar Australia. “Mana yang lebih banyak, jumlah penduduk Australia atau jumlah Sapi di Australia,”

tanya Grigson. “Jumlah sapi lebih banyak,” kata Grigson disambut tepuk tangan dan tawa.

HUBUNGAN LAMA

Sementara itu Stephen Smith, Mantan Menlu Australia menjelaskan, hubungan Australia-Indonesia telah dibangun sejak lama, bahkan dahulu sejak masa penjajahan, kerja sama perdagangan telah dimulai. Ia juga menjelaskan kerjasama pada level provinsi dan kota, misalnya, Provinsi Jawa Timur telah melakukan kerasama dengan Australia Barat, begitu juga Kota Surabaya dengan Perth.

“Untuk meningkatkan kerja sama antara Indonesia dan Australia itu perlu adanya hubungan yang baik antar negara, negara bagian hingga kota-kota kecil sekalipun, karena ini merupakan bagian peningkatan hubungan kedua negara,” kata Smith, Guru Besar Hukum Internasional di University of Western Australia.

Ditanya perbedaan mendasar mengenai Indonesia dan Austalia, menurut Smith, bahwa meningkatkan kerja sama antar kedua negara, persoalan persamaan negaralah yang menjadi titik temu, dan baik-tidaknya hubungan,jangan terlalu fokus pada perbedaan. “Fokus Australia saat ini menjalin hubungan baik dengan negara-negara di Asia, termasuk Indonesia dan India,”

ujar Profesor yang pernah berkarir di Parlemen Australia selama 20 tahun ini.

Smith menambahkan, Australia saat ini juga menjadi tujuan imigran mencari suaka, bahkan delapan dari sepuluh negara yang

(7)

memasok pengungsi sering mencari penghidupan di Australia.

Terkait dengan jumlah pemeluk Islam yang tinggal di Australia, Dubes Australia Paul menjawab bahwa saat ini terdapat lebih dari 500.000 muslim tinggal disana, bahkan 40% lahir di Australia. (*)

Penulis: Ahalla Tsauro Editor: Bambang Bes

Kunjungi UNAIR, AIC Bahas Kerjasama Penelitian dan Ajang Research Summit

UNAIR NEWS – Dalam rangka mengembangkan riset kolaborasi, UNAIR kembali menerima kunjungan dari The Australia Indonesia Centre (AIC). Badan yang mewadahi kerjasama riset antar perguruan tinggi di Australia dan Indonesia tersebut membahas kerja sama pada Senin, ( 13/6).

Dalam kunjungannya, AIC yang diwakili oleh Prof. Richard Price selaku Direktur Penelitian AIC, dan Katrina Reid selaku AIC Research Officer, diterima oleh UNAIR melalui International Office and Partnership (IOP) dan perwakilan dari Fakultas di lingkungan UNAIR. Pertemuan yang dilaksanakan di ruang Sidang Pleno, Gedung Manajemen UNAIR tersebut membahas mengenai kerjasama antara empat Perguruan Tinggi (PT) di Australian dengan UNAIR.

“PT Australia yang kerjasama itu ada empat PT, Monash University, Australia National University, The University of Melbourne dan The University of Sydney. Sedangkan di Indonesia ada tujuh PT, salah satunya ya UNAIR,” ujar Margaretha,

(8)

S.Psi., P.G.Dip.Psych., M.Sc, selaku Deputi IOP UNAIR.

AIC memiliki empat bidang dalam tema riset kolaborasi, yaitu bidang energi, bidang infrastruktur, bidang kesehatan, dan bidang agrikultur. Dalam hal tersebut, AIC akan bekerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki keunggulan di bidang yang telah ditentukan. UNAIR menjadi salah satu universitas yang diajak kerjasama dengan AIC, pasalnya UNAIR memiliki keunggulan di bidang kesehatan.

“Terdiri dari empat cluster (bidang,- red). UNAIR sebagai leader di cluster health,” ujar Margaretha.

Dalam kesempatan tersebut, AIC menginginkan agar kerjasama dibidang riset dapat diperluas lagi, sehingga semakin banyak peneliti di UNAIR yang berminat untuk mengembangkan kerjasama riset dengan Collaborator di Australia, terutama dari empat Universitas ternama di Australia.

“AIC ini sudah disepakati oleh Kemenristekdikti sebagai bentuk kerja sama yang unggul, artinya Kemenristekdikti akan menyediakan pendanaan jikalau terjadi kerja sama riset,”

ungkap Margaretha. “Kalau semakin banyak peneliti UNAIR mau terlibat disini, itu akan memperluas kesempatan peneliti UNAIR untuk menggunakan dana Kemenristekditi untuk kolaborasi riset internasional,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Margaretha menjelaskan beberapa kendala yang ditemui saat sedang melakukan riset kolaborasi, salah satunya adalah perbedaan minat dari peneliti. Pasalnya selama ini seorang peneliti akan memiliki ide penelitian yang berbeda dengan yang lainnya.

“Riset kolaborasi adalah hal yang diinginkan namun tidak mudah untuk dilaksanakan, karena itu butuh proses. Harus ada persamaan minat bagi peneliti, sama-sama dibidang kimia tapi dalam bidang apa, kan harus di matching kan istilahnya,”

jelasnya.

(9)

Selain membahas tentang riset kolaborasi AIC, pertemuan tersebut juga membahas event Research Summit, yaitu pertemuan oleh berbagai peneliti dari Australia dan Indonesia.

Margaretha menjelaskan, tujuan diadakannya Research Summit adalah agar peneliti di Indonesia dan Australia saling sharing informasi yang didapat terkait riset mereka selama ini.

“Rencananya diadakan pada Bulan Agustus tahun ini, di Surabaya,” tandasnya.

Margaretha berharap, para peneliti UNAIR dapat menggunakan kesempatan event perkumpulan para peneliti tersebut guna menampilkan karya penelitian mereka selama ini.

“Paling tidak untuk memperkuat recognition global, jadi pengakuan dari internasional,” jelasnya. “Artinya research summit ini bisa dijadikan ajang bagi peneliti di UNAIR yang pernah bekerjasama dengan peneliti di Australia untuk menampilkan karyanya,” imbuhnya mengakhiri. (*)

Penulis : Dilan Salsabila Editor : Nuri Hermawan

Ide Menarik dari Kampus Unggulan Negeri Kanguru

UNAIR NEWS – Kampus tua yang kaya dengan nilai historis menarik untuk diceritakan. Termasuk keberadaan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Universitas of Western Australia (UWA). Sebagai kampus tua yang sama-sama telah berumur lebih dari seabad ini, kedua kampus tersebut menyimpan pesona tersendiri.

(10)

Baru-baru ini, Wakil Dekan III FK UNAIR Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K) bersama Ketua Unit International Office and Partnership (IOP) FK UNAIR Linda Dewanti, dr., MKes., MHSc., Ph.D berkesempatan berkunjung ke Universitas of Western Australia.

Selama di sana, mereka berkeliling ke sejumlah tempat penting.

Menariknya, ada banyak fasilitas akadamik dan penunjang aktivitas belajar di sana yang dapat diadaptasi di UNAIR.

Kesemuanya mereka abadikan dalam sebuah catatan perjalanan.

Berikut cerita pengalaman Prof. Mertaniasih dan dokter Linda selengkapnya:

Cerita dari Universitas Australia Barat (UWA)

Sebagaimana kampus lainnya, Universitas Airlangga dipandang sebagai mitra yang potensial bagi Universitas Australia Barat (UWA). Dalam kesempatan khusus, UWA mengundang delegasi FK UNAIR sebagai perwakilan delegasi dari Indonesia bersama sepuluh delegasi lainnya dari Inggris, Jerman, Spanyol, Brazil, Jepang untuk berkunjung dan bergabung dalam

‘partnersday program’ di UWA, Perth, Australia.

Kedatangan kami di UWA rupanya bebarengan dengan perayaan O’Day Festival. Yakni sebuah event seperti pesta selamat datang terbesar yang diselenggarakan oleh sebuah perkumpulan untuk mahasiswa baru. Ada satu tempat berkumpulnya klub dari berbagai fakultas dan berbagai komunitas. Di sana, mereka menyediakan informasi dan pameran seputar program kegiatan yang bisa diikuti oleh mahasiswa.

Acara tersebut memang diperuntukkan bagi para mahasiswa baru sebelum memulai kuliah semester pertama. Para mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya, bahasa dan ras dapat menikmati acara pameran yang dikemas menarik diiringi penampilan grup musik, wisata kuliner, dan bagi-bagi hadiah.

Berkeliling menikmati sekitaran kampus UWA memberikan keasyikan tersendiri. Dalam sejarahnya, kampus tua yang

(11)

berdiri sejak tahun 1911 itu memiliki pesona bangunan klasik.

UWA memelihara bangunan kuno dengan ukiran arsitektur yang eksotis. Ruang terbuka UWA ditumbuhi banyak pepohonan rindang sehingga tercipta suasana sejuk. Pemandangan elok kian lengkap karena mereka juga memelihara binatang khas seperti burung merak di salah satu bangunan, dan angsa di kolam depan utama gedung kampus.

Konsep lingkungan asri yang dipertahankan di UWA membawa keuntungan dari segala aspek. Meskipun UWA terletak di daerah pinggiran kota Perth, hal itu justru menguntungkan bagi para mahasiswa yang mendambakan suasana belajar yang tenang, nyaman, serta jauh dari keramaian. Bayangkan betapa menyenangkannya belajar sembari menikmati semilir sejuknya angin perbukitan, kicauan burung, serta sejuknya pemandangan hijau di sekitar.

Fasilitas umum terbaik

Dalam perkembangannya, UWA memiliki sembilan fakultas, termasuk fakultas kedokteran. Sekadar informasi, UWA merupakan perguruan tinggi pertama di Australia Barat dan menduduki peringkat perguruan tinggi top 100 dunia.

Pencapaian tersebut tak lepas dari kualitas berbagai aspek pendukung. Seperti penyediaan fasilitas dan akomodasi yang dirancang agar dapat menunjang segala keperluan mahasiswa dan para tamu. Dan tampaknya, UWA telah menyediakan berbagai fasilitas tersebut secara memadai.

Di gerbang utama UWA, para pengunjung UWA akan menemukan mesin

‘Help Point’ yang terhubung dengan pusat informasi. Dengan mesin itu, para tamu dapat bertanya dan memperoleh informasi secara langsung melalui ‘Help Point’.

Di setiap perempatan atau persimpangan jalan, ada banyak rambu dan peta untuk menuju setiap bangunan, departemen bahkan fakultas. Ruang terbuka kampus juga begitu luas. Hijau, nyaman dan bersih sehingga semua orang merasa nyaman berada disana.

(12)

Di pintu masuk perpustakaan, ada pusat informasi dengan tanda

‘ASK’ untuk menyambut setiap orang yang membutuhkan informasi.

Di dekat pintu keluar, ada kotak khusus untuk pengembalian buku yang dianggap sebagai ‘Koleksi buku yang paling dicari’

untuk menghindari salah taruh buku.

Perpustakaan itu menerapkan “mobile shelving” (rak bergerak) yang berarti semua rak buku bisa dipindahkan dengan mudah sehingga lebih banyak rak bisa disimpan. Dengan demikian, maka pemanfaatan area ruangan perpustakaan jadi lebih efisien.

‘Parents room’ juga tersedia di perpustakaan.

Selain kenyamanan di area perpus, kantin di sana juga menawarkan kenyamanan serupa. Dengan area bangunan yang cukup luas, kantin di sana menyediakan bermacam menu yang menggugah selera, pelayanan mandiri, dan menerapkan sistem satu harga untuk semua menu makanan. Fasilitas menyenangkan semacam itu menjadikan kantin sebagai tempat favorit berkumpul para mahasiswa sambil bersantap siang. Sekeliling kantin juga didesain meriah. Disekelilingnya dipasang banyak bendera dari negara-negara mitra atau asal negara dari setiap mahasiswa UWA.

UWA juga menyediakan tiga jenis asrama untuk mahasiswanya.

Mulai dari asrama yang paling sederhana hingga mewah dengan kapasitas hingga 500 mahasiswa. Asrama berlokasi di kampus dan dilengkapi dengan fasilitas hiburan sepeti biliar, games, dan tenis meja. Ada pula fasilitas olahraga yang disediakan oleh UWA.

Di seberang kampus, berdiri sebuah hotel kampus yang menyediakan akomodasi untuk para tamu universitas dan keluarga mahasiswa. Staf hotel UWA adalah para mahasiswa UWA yang sedang bekerja paruh waktu.

Di UWA juga terdapat banyak tempat-tempat lainnya yang menarik, seperti museum seni, gedung teater, fasilitas olahraga, pojok alumni, dan social groups. Alumni dan pendonor

(13)

yang berjasa cukup dihargai. Nama mereka dicatat di dalam ataupun di luar bangunan kampus. Termasuk tiga peraih nobel Laureate seperti Professor Barry Marshall di bidang Fisiologi (tahun raih 2015), Professor Brian Schmidt di bidang Fisika (2011), dan Robin Warrem di bidang Kedokteran (2005).

Satu lagi yang menarik. Keberadaan bangunan kampus yang klasik di sana juga dikelola dan dibuka untuk umum. Oleh karenanya unit bisnis UWA menyediakan paket pernikahan bagi masyarakat umum.

Gedung klasik yang telah berusia ratusan tahun ini memang tampak begitu menarik. Koridor gedung dikelilingi pilar tinggi nan menjulang menjadikannya sebagai lokasi favorit pemotretan acara pernikahan. Karena keindahan bangunan tersebut, menjadikan kampus UWA sebagai tempat paling terkenal sebagai tempat penyelenggarakaan pernikahan di Perth. (*)

Penulis: Sefya Hayu, Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K) dan Linda Dewanti, dr., MKes., MHSc., Ph.D.

Editor: Defrina Sukma S

FK UNAIR Anugerahi Visiting Professor kepada Pakar Preeklampsia Dunia

UNAIR NEWS – Pengakuan atas kontribusi positif seseorang perlu diwujudkan sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan. Kali ini, sivitas Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kembali mewujudkan apresiasiasinya kepada seorang tokoh guru besar bidang Obstetri dan Ginekologi yang tak lain adalah seorang pakar preeklampsia dunia.

(14)

Acara penganugerahan visiting professor kali ini diberikan kepada Prof. Gustaaf Albert Dekker, MD., PhD., FDCOG., FRANZCOG dari The University of Adelaide, Australia, di Aula FKUA,( 17/5). Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor III UNAIR Prof. Ir. Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D, Dekan FK UNAIR Prof. Soetojo, dr., Sp.U (K), jajaran dekanat FK UNAIR, Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR – RSUD Dr.

Soetomo, serta sivitas akademika FK UNAIR.

Dekan FK UNAIR Prof. Soetojo mengungkapkan, kegiatan penganugerahan gelar profesor tamu FK UNAIR kepada sejumlah pakar kesehatan sudah berlangsung beberapa kali sejak tahun 2007. Dari 29 departemen di FK UNAIR, sebagian diantaranya sudah mewujudkan hal itu.

“Kami berharap, acara ini akan menginspirasi departemen lainnya untuk menggelar acara serupa,” ungkap Prof. Soetojo.

Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR – RSUD Dr.

Soetomo Dr. dr. Hendy Hendarto, Sp.OG (K) mengungkapkan, Prof.

Dekker selama ini memberikan banyak kontribusi positif khususnya pada bidang keilmuan obstetri dan ginekologi.

Dr. Hendy mengungkapkan, semangat Prof. Dekker tidak hanya ditunjukkan dalam lingkup kerjasama akademika, melainkan pada bidang pengabdian masyarakat. “Beliau antuasias menjadi konsultan dan terjun langsung melihat bagaimana program Penanggulangan Kematian Ibu dan Bayi (PENAKIB) yang menjadi pilot project Departemen Obstetri dan Ginekologi di wilayah Mulyorejo dan Madura,” tutur dr. Hendy.

(15)

Prof. Dekker ketika berfose bersama Dekan dan Wakil Dekan FK UNAIR. (Foto: UNAIR NEWS)

Kerjasama berlangsung lama

Prof. Dekker kelahiran 7 Agustus 1955 itu mengungkapkan rasa bahagia dan sempat merasa deg-degan saat dilantik menjadi profesor tamu di FK UNAIR. “Saya merasa terhormat bisa menjadi bagian dari kolaborasi kerjasama antara dua universitas.

Kerjasama ini saya rasa bisa memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun civitas akademika,” tutur Prof. Dekker yang menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Our Medical Student in Surabaya and Adelaide, and The Future of Our Specialty” pada acara yang sama.

Prof. Dekker adalah seorang Direktur Klinis pada Divisi Anak dan perempuan Kantor Pelayanan Kesehatan Adelaide Utara (RS Lyell McEwin dan Modbury) sekaligus Guru Besar bidang Obstetri dan Ginekologi Universitas Adelaide. Ia menempuh pendidikan dokter di Universitas Leiden pada tahun 1978 dan memperoleh gelar cumlaude.

(16)

Gelar profesor tamu ini merupakan wujud kerjasama antara FK UNAIR dengan Universitas Adelaide yang telah berlangsung sejak 14 tahun lalu. Kerjasama pada Divisi Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNAIR ini diprakarsai oleh Prof.

Dr. H. Erry Gumilar D, dr., Sp.OG(K) bersama Prof Dekker.

Kedekatan personal keduanya sudah terbangun jauh sebelum nota kesepahaman disepakati.

Awalnya, Prof. Dekker diundang sebagai pembicara dalam sebuah acara divisi Fetomaternal. Seiring berjalannya waktu, ia mulai membimbing beberapa staf dosen jenjang pendidikan doktoral, dan mengajar para mahasiswa dokter spesialis. Prof. Dekker dikenal cukup aktif membuat rambu-rambu pembelajaran, dan buku panduan untuk mahasiswa.

Setelah dilantik menjadi profesor tamu FK UNAIR, Prof. Dekker berencana kembali melanjutkan penelitiannya tentang kasus preeklapmsia bersama rekan peneliti lainnya. Kali ini, ia akan memprioritaskan penelitian tentang hubungan preeklampsia dengan biaya hidup rendah pada perempuan muda. Sebelumnya, bersama dengan rekan peneliti FK UNAIR, Prof. Dekker telah mempublikasikan lebih dari 90 naskah penelitian. (*)

Penulis: Sefya H. Istighfarica Editor: Defrina Sukma S.

PTN Jatim dan Australia Barat Sepakati Empat Hal Kerjasama

UNAIR NEWS – Langkah internasionalisasi pendidikan bagi perguruan tinggi negeri di Jawa Timur memperoleh ruang baru, setelah sembilan perguruan tinggi negeri (PTN) di Jatim melakukan pertemuan dengan enam perguruan tinggi di Australia

(17)

Barat. Universitas Airlangga dipercaya menjadi tuan rumah untuk pertemuan yang dihadiri Menteri Pendidikan Australia Barat, Peter Collier MLC. Pertemuan dilangsungkan di Kantor Manajemen UNAIR, Selasa (3/5).

Pejabat dari sembilan PTN yang hadir antara lain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Jember (Unej), dan Universitas Brawijaya Malang.

Sedangkan pejabat dari enam perguruan tinggi di Australia Barat yang hadir antara lain berasal dari Universitas Curtin, Universitas Murdoch, Universitas Edith Cowan, Universitas Notre Dame, dan Universitas Australia Barat.

Pertemuan tersebut membahas peningkatan kerjasama akademik dan juga potensi kerjasama dalam pendidikan dan penelitian antara perguruan tinggi di Australia Barat dengan PTN di Jatim. Dalam pertemuan ini setidaknya telah dibahas empat bidang yang akan dikolaborasikan perguruan tinggi di Jatim dengan Australia Barat.

Pertama, riset dan publikasi jurnal internasional. Kedua, pengembangan sumber daya manusia. Ketiga, pertukaran mahasiswa. Keempat, pengembangan program pendidikan berupa gelar ganda dan gelar bersama.

Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, S.E., M.T., Ak, menyampaikan rasa terima kasih karena UNAIR diberi kesempatan menjadi tuan rumah pelaksanaan pertemuan ini. Ia juga mengatakan bahwa saat ini beberapa perguruan tinggi di Indonesia, termasuk UNAIR, tengah ditarget oleh pemerintah (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) untuk menembus peringkat 500 besar kampus top dunia.

(18)

Pimpinan PTN Australia Barat dan PTN di Jatim diabadikan bersama di depan Gedung Rektorat UNAIR, Selasa (3/5) kemarin.

(Foto: UNAIR NEWS)

Pelaksana tugas Ketua International Office and Partnership (IOP) Margaretha Rehulina mengatakan bahwa pertemuan ini berawal dari kunjungan Atase Pendidikan Australia ke UNAIR dalam rangka pertemuan kerjasama.

Menurut Margaretha, salah satu yang menarik dari pertemuan kerjasama ini adalah kemungkinan terbentuknya kelompok kerja bersama yang terdiri dari berbagai universitas negeri di Jatim dan universitas di Australia Barat.

“Menariknya dari pertemuan ini bukan sekadar U2U (university to university), karena hal tersebut sudah ada. Ada kerjasama dengan nilai tambah yaitu bikin kelompok kerja bersama.

Makanya, tadi ada salah satu tawaran dari ITS maupun UNAIR tentang pembuatan konsorsium perguruan tinggi di Jatim dengan Australia Barat, terutama di bidang riset kolaborasi dan student mobility,” kata Margaretha. (*)

(19)

Penulis : Defrina Sukma S.

Referensi

Dokumen terkait

Pengetahuan Masyarakat Desa Bakung, Jogonalan, Klaten tentang asam jawa untuk menyembuhkan batuk Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat pengetahuan

Pengetahuan adalah segala sesuatu informasi dan pengalaman yang diperoleh responden (masyarakat) terhadap penggunaan, pemanfaatan dan pengertian obat generik. Obat Generik adalah

Berdasarkan permasalahan tersebut, diadakanlah pelatihan aplikasi software WISN yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan staf manajerial di

Skripsi yang berjudul “Identifikasi Rhodamin B Pada Kerupuk Singkong Dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis dan Densitometri” (Di Pasar Kota Malang) ini

Area toko buku 1 ini berada di lantai dasar disini terdapat berbagai furniture yang di transformasi dari logo Uranus dan juga di dominasi oleh warna dari Uranus

Apa rencana yang akan dilakukan lembaga Anda untuk mengembangkan UMKM di Kabupaten Gunungkidul?... Profil Responden

Jika subunit dalam unit yang dipilih memberikan hasil yang sama, hal ini kelihatan- nya tidak ekonomis untuk mengukur sebuah sampel dari subunit dalam setiap unit yang dipilih..

Pada bab terakhir ini diuraikan mengenai kesimpulan yang dapat ditarik dari pengerjaan Tugas Akhir ini. Selain itu juga diuraikan mengenai saran-saran yang dapat diperhatikan untuk