36
BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian
Peneliti melakukan objek penelitian di PT. BestProfit Futures Malang, dan subjek penelitian ini adalah karyawan tetap PT. BestProfit Futures Malang, Ruko Pelita, Jalan Letjen S. Parman No 59, Kavling 1,3-5 Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, provinsi Jawa Timur 65122.
B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah menggunakan penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2017) menyatakan bahwa, pendekatan kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat potivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Penelitian ini berupa angka- angka dan analisis menggunakan statistik untuk mengukur serta mendapatkan hasil penelitian melului kuesioner.
C. Jenis Data
Data yang digunakan yaitu data primer. Menurut Sugiyono (2017) menyatakan bahwa, data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpulan data. Data penelitian ini dikumpulkan dengan cara menyebarkan angket kuesioner pada karyawan tetap PT.
BestProfit Futures Malang. Setelah mendapatkan hasil penyebaran data kuisioner kemudian dihitung dengan program aplikasi SPSS.
D. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Menurut Sugiyono (2017) menyatakan bahwa, populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik sehingga populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan tetap PT. BestProfit Futures Malang yang berjumlah 139 orang.
2. Sampel
Sedangkan sampel menurut Sugiyono (2017) adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling atau sampling jenuh. Menurut Sugiyono (2017) menyatakan bahwa, teknik total sampling atau sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Maka dari itu sampel pada penelitian ini mengambil seluruh jumlah populasi, yaitu berjumlah 139 orang.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Menurut Sugiyono (2017) menyatakan bahwa, kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden. Teknik ini mengumpulkan data dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan terhadap responden, dengan harapan responden akan memberikan respon terhadap pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Cara
peneliti mengumpulkan data yaitu dengan mendatangi responden secara langsung dan memberikan kuesioner kepada pekerja pada jam istirahat serta menunggu responden untuk mengisi kuesioner.
F. Definisi Operasional Variabel Peneliti 1. Definisi Operasional Variabel
Tabel 1.1 Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Indikator
Kinerja (Y) Robbins
(2015)
kinerja adalah pencapaian yang optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki seorang
karyawan PT. BestProfit Futures Malang dan merupakan hal yang selalu menjadi perhatian para pimpinan organisasi
• Kualitas Kerja
• Kuantitas Kerja
• Ketepatan Waktu
Stres Kerja (X) Robbins and Judge (2018)
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh transaksi antara individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan- tuntutan yang berasal dari PT. BestProfit Futures Malang dengan sumber daya dalam sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang.
• Tuntunan Tugas
• Tuntunan Peran
• Tuntunan Antar Pribadi
• Struktur Organisasi
• Kepemimpinan Organisasi
Cyberloafing (Z) Lim and Chen (2012)
cyberloafing adalah aktivitas yang dilakukan oleh karyawan PT.
BestProfit Futures Malang untuk
menjelajahi internet yang tidak terkait dengan pekerjaan selama jam kerja serta menggunakan komunikasi melalui email pribadi selama jam kerja
• Browsing Activities
• E-mailing Activities
Definisi operasional variabel pada penelitian ini menggunakan variabel, definisi, dan indikator pada Kinerja Karyawan (Y), Stres Kerja (X), Cyberloafing (Z).
2. Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel yang akan dilakukan peneliti yaitu dengan skala likert. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan (Sugiyono, 2017).
Tabel 3.2 Skala Likert
Kategori Skor
Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Tidak Setuju (TS) 2
Netral (N) 3
Setuju (S) 4
Sangat Setuju (SS) 5
G. Pengujian Instrumen
Suatu alat ukur dapat dinyatakan baik dan mampu memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh para ahli. Uji yang digunakan untuk menguji kuliatas instrumen yaitu uji validitas dan reliabilitas.
1. Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2017) menyatakan bahwa, uji validitas merupakan persamaan data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang diperoleh langsung yang terjadi pada subyek penelitian. Uji validitas digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu kuesioner.
Jika hasil dari perhitungan diperoleh nilai diatas atau lebih besar dari taraf signifikansi yaitu 5%(0,005) maka data tersebut dapat dinyatakan valid. Kemudian dasar untuk pengambilan keputusan yang digunakan dalam menguji validitas butir angket adalah jika 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 >
𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 , maka dinyatakan valid dan jika 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 , maka dinyatakan tidak valid. Untuk menghitungnya dapat digunakan rumus yaitu sebagai berikut:
Keterangan:
r = Koefisien korelasi variabel X dan Y n = Jumlah responden
x = Skor item instrumen y = Skor total item instrumen
∑x = Jumlah skor x
∑y = Jumlah skor y 2. Uji Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2017) menyatakan bahwa, uji reliabilitas adalah alat uji yang digunakan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Jika intrumen dari kuesioner yang digunakan dapat menghasilkan data yang sama dalam beberapa kali atau konsisten untuk mengukur suatu obyek maka intrumen tersebut dinyatakan reliabel. Cara yang digunakan dalam penelitian ini untuk
menguji reliabilitas kuesioner adalah dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha. Jika nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,6 maka dikatakan kuesioner penelitian tersebut reeliable. Cara untuk menghitungnya menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑟 = ( 𝑘
𝑘 − 1 (1 −∑ 𝜎𝑏 𝜎2𝑡
2
)
Keterangan:
r = Reliabilitas instrumen
𝑘 = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
∑ 𝜎𝑏2 = Jumlah varians butir 𝜎2𝑡 = Varians total
H. Uji Asumsi Klasik 1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat distribusi normal antara variabel terikat dan variabel bebas, apabila distribusi data normal atau mendekati normal, berarti model regresi adalah baik. Pengujian untuk menentukan data terdistribusi normal atau tidak, dapat menggunakan uji statistik non- parametrik. Uji statistik non-parametrik yang digunakan adalah uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov (1-Sample K-S) dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jika nilai signifikansi residual lebih besar dari (>) 0,05, maka data dinyatakan berdistribusi normal
b. Jika nilai signifikansi residual lebih kecil dari (<) 0,05, maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal
2. Uji Multikolinieritas
Uji Multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen.
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independent, pengujian ada tidaknya multikolinieritas dalam model regresi dapat dilihat dengan melihat nilai tolerance dan nilai VIF (Variance Inflation Factor). Menurut Ghozali (2008) menyatakan bahwa, nilai yang umum digunakan untuk menunjukkan multikolinieritas yaitu nilai tolerance ≤ 0,10 atau nilai VIF ≥10. Jika nilai VIF tidak lebih dari 10 dan nilai tolerance tidak kurang dari 0.1, maka dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain dalam model regresi. Model regresi dikatakan baik apabila homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.
Homoskedastisitas yaitu apabila varians dari residual pengamatan satu ke pengamatan lainnya tetap. Apabila berbeda, disebut heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan
menggunakan uji glejser. Menurut Ghozali (2008) menyatakan bahwa, uji glejser dilakukan untuk meregres nilai absolute residual terhadap variabel independent, untuk menentukan terjadi heteroskedastisitas atau tidak adalah dengan melihat nilai sig atau signifikansi yang dihasilkan dari uji regresi tersebut. Kriteria yang digunakan adalah:
a. Jika nilai sig yang dihasilkan lebih dari 0,05, maka terbebas dari asumsi heteroskedastisitas.
b. Jika nilai sig kurang dari 0,05 maka terjadi asumsi heteroskedastisitas.
I. Teknik Analisis Data 1. Rentang Skala
Rentang skala adalah alat yang digunakan untuk mengukur dan menilai variabel yang diteliti. Pada penelitian ini analisis rentang skala digunakan untuk mengetahui dan mendeskripsikan Stres Kerja, Perilaku Cyberloafing, dan Kinerja Karyawan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑅𝑠 = 𝑛(𝑚 − 1) 𝑚 Keterangan:
Rs = Rentang Skala n = Jumlah Sampel
m = Jumlah Alternatif jawaban
kemudian selanjutnya yaitu melakukan perhitungan rentang skala dengan menggunakan rumus diatas, yaitu sebagai berikut:
𝑅𝑠 = 𝑛(𝑚 − 1) 𝑚 𝑅𝑠 =139(5 − 1)
5 𝑅𝑠 =556
5 𝑅𝑠 = 111,2
Jadi berdasarkan hasil perhitungan diatas, maka diperoleh rentang skala sebesar 111,2 dan dibulatkan menjadi 111. Oleh karena itu skala pada penelitian untuk setiap kriteria adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3 Rentang Skala Rentang
skala
Stres Kerja (X)
Perilaku Cyberloafing
(Z)
Kinerja Karyawan (Y)
139-250 Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah
251-361 Rendah Rendah Rendah
362-472 Cukup Cukup Cukup
473-583 Tinggi Tinggi Tinggi
584-694 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi
2. Uji Analisis Jalur (Path Analysis)
Dalam penelitian ini analisis data menggunakan analisis jalur (path analys). Analisis jalur (path analysis) digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat, dengan tujuan menerangkan pengaruh langsung atau tidak langsung antar variabel bebas dengan
variabel terikat. Pada penelitian ini digunakan analisis jalur (path analysis) karena untuk mengetahui dan menganalisis seberapa besar pengaruh langsung Stres Kerja, Perilaku Cyberloafing dan Kinerja Karyawan. pada penelitian ini model analisis jalur yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Pengaruh Langsung
a. pengaruh stres kerja (X) terhadap kinerja karyawan (Y) Gambar 3.1 analisis jalur stres kerja terhadap kinerja
karyawan
Dirumuskan persamaan Y= α + β1.X + e
b. pengaruh stres kerja (X) terhadap perilaku cyberloafing (Z) Gambar 3.2 analisis jalur stres kerja terhadap perilaku
cyberloafing
Dirumuskan persamaan Z = α + β2.X + e
c. pengaruh perilaku cyberloafing (Z) terhadap kinerja karyawan (Y)
Gambar 3.3 analisis jalur perilaku cyberloafing terhadap kinerja karyawan
Dirumuskan persamaan Y = α + β3.Z + e
Stres Kerja (X) Kinerja Karyawan (Y)
Stres Kerja (X)
Perilaku Cyberloafing (Z)
Perilaku Cyberloafing (Z)
Kinerja Karyawan (Y)
2) Pengaruh Tidak Langsung
a. Pengaruh Stres Kerja (X) Terhadap Kinerja Karyawan (Y) Melalui Perilaku Cyberloafing (Z).
Gambar 3.4 Analisis jalur stres serja terhadap kinerja karyawan melalui perilaku cyberloafing
H2 H3
H4 H1
Dirumuskan persamaan Y = α + β1.X + β2.Z + e Keterangan :
a = Konstanta
β = Koefisien Regresi
X = Variabel Bebas (Stres Kerja)
Z = Variabel Intervening (Perilaku Cyberloafing) Y = Variabel Terikat (Kinerja Karyawan)
e = Standar Error
Stres Kerja (X)
Kinerja Karyawan
(Y) Perilaku
Cyberloafing (Z)
J. Uji Hipotesis 1. Uji T
Menurut Ghozali (2008) menyatakan bahwa, pada dasarnya uji T untuk menunjukan seberapa jauh pengaruh antara satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel terikat (dependen) atau dengan kata lain seberapa jauh pengaruh satu variabel bebas terhadap variabel terikat. Untuk melakukan uji T dilakukan dengan pengujian dengan menggunakan signifikansi level 0,05 (α = 5%). Dasar-dasar kriteria untuk pengambilan hipotesis dalam uji T adalah sebagai berikut :
a. Jika nilai signifikansi > 0,05 atau t hitung < t tabel maka hipotesis ditolak atau artinya variabel bebas tidak mempunyai pengaruh secara signifikan dan positif terhadap variabel terikat.
b. Jika nilai signifikansi < 0,05 atau t hitung > t tabel maka hipotesis diterima atau artinya variabel bebas mempunyai pengaruh secara signifikan dan positif terhadap variabel terikat.
2. Uji Sobel
Menurut Ghozali (2008) menyatakan bahwa, pengujian hipotesis intervening atau mediasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji sobel, uji sobel pada penelitian ini dilakukan dengan cara menguji kekuatan pengaruh tidak langsung variabel bebas terhadap variabel terikat melalui variabel intervening yang akan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑆𝑎𝑏 = √𝑏2𝑆𝑎2+ 𝑎2𝑆𝑏2+ 𝑆𝑎2𝑆𝑏2 Keterangan :
Sa = Standar Eror X-Z Sb = Standar Eror Z-Y b = Koefisien Regresi Z-Y a = Koefisien Regresi X-Z
kemudian selanjutnya adalah menguji signifikan pengaruh tidak langsung secara parsial, untuk menghitungnya menggunakan rumus sebagai berikut:
𝑍 = 𝑎𝑏 𝑆𝑎𝑏
Jika hasil nilai dari Z lebih besar dari (>) 1,96, maka terjadi pengaruh intervening secara signifikan, sedangkan jika nilai dari Z lebih kecil dari (<) 1,96, maka tidak terjadi pengaruh intervening secara signifikan.