• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Moehammed Heikal / MMPP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Moehammed Heikal / MMPP"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN ASET PADA PERGURUAN TINGGI di KOTA MEDAN (STUDI KASUS PADA INSTITUT

TEKNOLOGI MEDAN DAN STMIK POTENSI UTAMA)

TESIS

Oleh:

Moehammed Heikal 117048007/ MMPP

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2014

(2)

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN ASET PADA PERGURUAN TINGGI DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS PADA STMIK POTENSI

UTAMA DAN INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN)

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Manajemen Properti dan Penilaian pada Sekolah Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara

Oleh

Moehammed Heikal 117048007/MMPP

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2014

(3)

Judul : PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN ASET PADA PERGURUAN TINGGI DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS PADA STMIK POTENSI UTAMA DAN INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN)

Nama Mahasiswa : MOEHAMMED HEIKAL Nomor Pokok : 117048007

Program Studi : Magister Manajemen Properti dan Penilaian

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. A Rahim Matondang, MSIE) (Ir. Sugiharto Pujangkoro, MM) Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Direktur Sekolah Pascasarjana,

(Dr. Khaira Amalia Fachrudin, SE.Ak, ) (Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc) Tanggal Lulus : 28 Agustus 2014

(4)

Tanggal lulus : 28 Agustus 2014 Telah diuji pada

Tanggal : 28 Agustus 2014

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir A Rahim Matondang, MSIE Anggota : 1. Ir. Sugiharto Pujangkoro, MM

2. Prof. Prihatin Lumbanraja, M.Si 3. Dr. Yenni Absah, M.Si

(5)

PERNYATAAN Judul Tesis

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN ASET PADA PERGURUAN TINGGI DI KOTA MEDAN (STUDI KASUS PADA STMIK POTENSI

UTAMA DAN INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN)

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Manajemen Properti dan Penilaian pada Program Studi Magister Manajemen Properti dan Penilaian Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau bagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 28 Agustus 2014 Penulis,

Moehammed Heikal

(6)

PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN ASET PADA PERGURUAN TINGGI di KOTA MEDAN

(Studi Kasus pada STMIK POTENSI UTAMA dan INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN)

ABSTRAK

Manajemen Aset yang baik merupakan keuntungan bagi pemilik perguruan tinggi.

Dengan teraplikasinya sistem manajemen aset, pemilik bukan hanya dapat memprediksi akan biaya operasional tetapi juga dapat memprediksi pertambahan nilai (capital gain) yang akan didapat pada masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisis bagaimanakah penerapan manajemen aset di STMIK Potensi Utama dan Institut Teknologi Medan lalu sudah memenuhi standart ISO 55000. Jenis Penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian disebut deskriptif kuantitatif karena penelitian bertujuan untuk mencari ciri-ciri, unsur-unsur ataupun sifat-sifat suatu fenomena.Populasi yang diteliti adalah keseluruhan pegawai dan pengurus yayasan dari STMIK Potensi Utama dan Insitut Teknologi Medan. Populasi kurang dari 100 orang maka sampel diambil secara keseluruhan. Maka sampel dalam penelitian ini adalah 55 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan perlu dilakukan sosialisasi dan aturan oleh pihak pemerintah yang membawahi perguruan tinggi tentang pentingnya penerapan manajemen aset yang baik berdasarkan ISO 55000 dalam rangka menjaga kualitas lingkungan perguruan tinggi, penerapan perencanaan manajemen aset di STMIK Potensi Utama dan ITM belum sesuai dengan standar ISO 55000, penerapan pelaksanaan manajemen aset di STMIK Potensi Utamadan ITM belum sesuai dengan standar ISO 55000, penerapan pengelolaan manajemen aset di STMIK Potensi Utama terhadap variabel Pembiayaan Aset (Aset Costing), Penciptaan Aset (Asset Creation), Pengetahuan dan Data tentang Aset (Asset Knowlodge and Data), dan Analisis Tingkat Resiko (Risk Assesment) penerapannya sudah sesuai dengan standar ISO 55000, penerapan pengelolaan manajemen aset di ITM belum sesuai dengan standar ISO 55000.

Kata Kunci : Manajemen Aset, Metode SAM, Optimalisasi Aset, ISO 55000

(7)

ASSET MANAGEMENT SYSTEM IMPLEMENTATION IN HIGHER EDUCATION in MEDAN

(Case Study:STMIK POTENSI UTAMA and INSTITUTE OF TECHNOLOGY MEDAN)

ABSTRACT

Good Asset Management is an advantage for the owner of the college. With teraplikasinya asset management system, the owner will be able to predict not only operational costs but also can predict the value (capital gain) that will be obtained in the future. This study aims to evaluate and analyze how asset management application in STMIK Potensi Utama and Instituteof Technology Medan has met the standard of ISO 55000. type is descriptive quantitative research. Called descriptive quantitative research because the research aimed to explore the characteristics, elements or properties of a phenomenon. The population studied was overall employee and the board of trustees of STMIK Potensi Utama and Instituteof Technology Medan. Population of less than 100 people, the sample taken as a whole. Then the sample in this study was 55 people.

The results of this study show needs to be disseminated and the rules by the authorities in charge of the college about the importance of good asset management practices based on ISO 55000 in order to maintain the quality of the college environment, the implementation of asset management planning in STMIK Potensi Utama and Instituteof Technology Medan is not in accordance with the ISO 55000 standard , application of asset management implementation in the Main Potential STMIK Potensi Utama and Instituteof Technology Medanis not in accordance with the ISO 55000 standard, the application of the management of the assets in the variable STMIK Potensi Utama Financing asset (asset Costing), Creation of asset (asset Creation), Knowledge and Data on asset (asset knowlodge and data), and Analysis of Risk (Risk Assessment) application is in conformity with the ISO 55000 standard, the implementation of asset management in the management of Instituteof Technology Medan is not in accordance with the ISO 55000 standard.

Keywords: Asset Management, SAM method, Asset Optimization, ISO 55000

(8)

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Selama melakukan penelitan dan penulisan tesis ini, Penulis banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Univesitas Sumatera Utara

2. Bapak Prof.Dr.Erman Munir, M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Dr. Khaira Amalia F, SE, Ak, MBA,MAPPI (Cert) selaku Ketua Program Studi Magister Manajemen Properti dan Penilaian.

4. Bapak Ir. Sugiharto Pujangkoro, MM selaku sekretaris Program Studi dan Komisi pembimbing yang telah banyak membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penulisan tesis ini.

5. Bapak Prof.Dr. Ir. A. Rahim Matondang, M.S.I.E, selaku anggota Komisi pembimbing yang telah banyak membimbing dan mengarahkan peneliti dalam penulisan tesis ini.

6. Ibu Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, M.Si selaku anggota Komisi Pembanding yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini.

7. Ibu Dr. Yenni Absah, MSi., selaku Anggota Komisi Pembanding yang telah banyak memberikan masukan untuk perbaikan tesis ini.

8. Seluruh pengelola yayasan STMIK Potensi Utama dan ITM yang bekerja sama dalam memberikan data yang dibutuhkan dalam tesis ini.

9. Seluruh Staf pengajar dan Staf Administrasi Program Studi Magister Manajemen Properti dan Penilaian Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

10. Kedua orangtua Peneliti M Nawawiy Loebis dan Ibunda Pristiwani Mei Hilda, kedua saudara peneliti atas semua kasih sayang dan semangat yang telah diberikan.

11. Rekan-rekan Sekolah Pascasarja Magister Manajemen Properti dan Penilaian Angkatan I dan II atas bantuan dan dukungan selama peneliti menempuh studi dalam penulisa tesis ini.

Peneliti menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkahi kita semua. Amin.

Medan , Agustus 2014 Peneliti

Moehammed Heikal

(9)

RIWAYAT HIDUP

Moehammed Heikal, lahir di Medan Sumatera Utara pada tanggal 14 Oktober 1985 dari pasangan Ayahanda M Nawawiy Loebis dan Ibunda Pristiwani Mei Hilda.

Pendidikan sekolah dasar di SD Bhayangkari, Medan, Sumatera Utara. Setelah lulus SD tahun 1996 melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Medan, Sumatera Utara lulus tahun 2000. Selanjutnya melajutkan ke pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Medan, Sumatera Utara lulus tahun 2003. Pada tahun 2003 melanjutkan pendidikan di STIE APRIN pada Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, lulus pada tahun 2007. Kemudian melanjutkan pendidikan di Program Studi Magister Manajamen Properti dan Penilaian Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara pada tahun 2011.

Medan , Agustus 2014

Moehammed Heikal

(10)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Batasan Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Teori Manajemen Aset ... 8

2.1.1 Pengertian Manajemen Aset ... 8

2.1.2 Pengertian Aset ... 9

2.1.3 Manajemen Aset ... 11

2.1.3.1 Definisi Manajemen Aset ... 11

2.1.3.2 Manajemen Aset dalam ISO 55000 ... 11

2.1.3.3 Siklus Manajemen Aset ... 19

2.1.4 Penilaian Manajemen Aset ... 20

2.2 Penelitian Terdahulu ... 21

2.3 Kerangka Konsep Penelitian ... 23

2.4 Hipotesis Penelitian ... 28

BAB III METODE PENELITIAN. ... 29

3.1 Jenis dan Sifat Penelitian. ... 29

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian. ... 29

3.2.1 Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer Potensi Utama ... 29

3.2.2 Institut Teknologi Medan ... 30

3.3 Fokus Penelitian ... 30

3.4 Populasi dan Sampel ... 31

3.4.1 Populasi ... 31

3.4.2 Sampel ... 31

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.5.1 Obsersi ... 32

3.5.2 Wawancara ... 32

3.5.3 Kuisioner ... 33

3.6 Metode Analisis Data ... 33

(11)

3.6.1 Proses Penilaian ... 38

3.6.2 Validitas dan Reliabilitas ... 38

3.7 Pengolahan dan Analisis Data ... 39

3.8 Skala Penelitian ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. ... 41

4.1 Hasil Penelitian ... 41

4.1.1 Sejarah ITM dan STMIK Potensi utama ... 41

4.1.1.1 Sejarah ITM ... 41

4.1.1.2 Sejarah STMIK Potensi utama ... 44

4.1.2 Visi, Misi sertaTujuan ITM dan STMIK Potensi utama ... 45

4.1.2 1 Visi, Misi dan Tujuan ITM ... 45

4.1.2.2 Visi, Misi dan Tujuan STMIK Potensi utama ... 46

4.1.3 Struktur Organisasi ITM dan STMIK Potensi utama ... 47

4.1.3.1 Struktur Organisasi ITM ... 47

4.1.3.2 Struktur Organisasi Potensi utama ... 47

4.1.4 Karakteristik Responden ... 50

4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 52

4.2.1 Uji Validitas Data ... 53

4.2.1.1 Uji Validitas Terhadap Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 55

4.2.1.2 Uji Validitas Terhadap Variabel-variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 56

4.2.1.3 Uji Validitas Terhadap Variabel-variabel Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 57

4.2.1.4 Uji Validitas Terhadap Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi .... utama ... 58

4.2.1.5 Uji Validitas Terhadap Variabel-variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 58

4.2.1.6 Uji Validitas Terhadap Variabel-variabel Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 59

4.2.2 Uji Reliabilitas ... 59

4.2.2.1 Uji Reliabilitas Terhadap Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 60

4.2.2.2 Uji Reliabilitas Terhadap Variabel-variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 60

4.2.2.3 Uji Reliabilitas Terhadap Variabel-variabel Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 61

4.2.2.4 Uji Reliabilitas Terhadap Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi .... Utama... 61

4.2.2.5 Uji Reliabilitas Terhadap Variabel-variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 62

(12)

4.2.2.6 Uji Reliabilitas Terhadap Variabel-variabel Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi

utama ... 62

4.3 Metode Analisis SAM ... 63

4.4 Penerapan Manajemen Aset di ITM ... 64

4.4.1 Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 65

4.4.2 Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 68

4.4.3 Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 72

4.5 Penerapan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 76

4.5.1 Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 77

4.5.2 Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 80

4.5.3 Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 84

4.6 Hasil Analisis Model SAM terhadap Penerapan Manajemen Aset di ITM ... 88

4.6.1 Hasil Analisis Model SAM terhadap Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 90

4.6.2 Hasil Analisis Model SAM terhadap Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 91

4.6.3 Hasil Analisis Model SAM terhadap Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 93

4.7 Hasil Analisis Model SAM terhadap Penerapan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 94

4.7.1 Hasil Analisis Model SAM terhadap Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 96

4.7.2 Hasil Analisis Model SAM terhadap Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 97

4.7.3 Hasil Analisis Model SAM terhadap Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 98

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………... 104 5.1 Kesimpulan ... 103

5.1.1 Penerapan ISO 55000 dalam bagian perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 103

5.1.2 Penerapan ISO 55000 dalam bagian pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 104

5.1.3 Penerapan ISO 55000 dalam bagian pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 106

5.1.4 Penerapan ISO 55000 dalam bagian perencanaan Manajemen Aset di ITM... 107

5.1.5 Penerapan ISO 55000 dalam bagian pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 108

5.1.6 Penerapan ISO 55000 dalam bagian pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 109

5.2 Saran ... 111

DAFTAR PUSTAKA ... 114

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

3.1 Penelitian SAM Rating ... 38

4.1 Pembagian Kuisioner Berdasarkan Bagian Manajemen Aset ... 50

4.2 Hasil Uji Validitas Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 55

4.3 Hasil Uji Validitas Variabel-variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 56

4.4 Hasil Uji Validitas Variabel-variabel Pengeloaan Manajemen Aset di ITM ... 56

4.5 Hasil Uji Validitas Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 57

4.6 Hasil Uji Validitas Variabel-variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 58

4.7 Hasil Uji Validitas Variabel-variabel Pengeloaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 59

4.8 Uji Reliabilitas Kuisioner Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 60

4.9 Uji Reliabilitas Kuisioner Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 61

4.10 Uji Reliabilitas Kuisioner Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 61

4.11 Uji Reliabilitas Kuisioner Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 62

4.12 Uji Reliabilitas Kuisioner Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 62

4.13 Uji Reliabilitas Kuisioner Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 63

4.14 Elemen dan Variabel dalam Penerapan Manajemen Aset di ITM ... 64

4.15 Penjelasan Responden Terhadap Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 66

4.16 Penjelasan Responden Terhadap Variabel-variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 69

4.17 Penjelasan Responden Terhadap Variabel-variabel Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 73

4.18 Elemen dan Variabel dalam Penerapan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 76

4.19 Penjelasan Responden Terhadap Variabel-variabel Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 78

(14)

Lanjutan Daftar Tabel

Nomor Judul Halaman

4.20 Penjelasan Responden Terhadap Variabel-variabel Pelaksanaan

Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 81

4.21 Penjelasan Responden Terhadap Variabel-variabel Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 85

4.22 Nilai Rata-Rata Penerapan Manajemen Aset di ITM ... 90

4.23 Nilai Rata-Rata Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 91

4.24 Nilai Rata-Rata Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 93

4.25 Nilai Rata-Rata Penerapan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 96

4.26 Nilai Rata-Rata Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 97

4.27 Nilai Rata-Rata Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 99

4.28 Ringkasan Analisis Model SAM Terhadap Penerapan Manajemen Aset di ITM dan STMIK Potensi utama ... 100

(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Hierarki Manajemen Aset ... 18

2.2 Siklus Hidup Aset ... 19

2.3 Kerangka Konseptual Penelitian... 28

3.1 Kampus STMIK Potensi utama ... 29

3.2 Kampus Institut Teknologi Medan ... 30

3.3 Kerangka Konseptual SAM Studi Kasus USQ, Australia ... 36

3.4 Model Analisa SAM ... 37

4.1 Persentase Pendapat Responden Terhadap Variabel-Variabel Bagian Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 68

4.2 Persentase Pendapat Responden Terhadap Variabel-Variabel Bagian Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 72

4.3 Persentase Pendapat Responden Terhadap Variabel-Variabel Bagian Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 76

4.4 Persentase Pendapat Responden Terhadap Variabel-Variabel Bagian Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 80

4.5 Persentase Pendapat Responden Terhadap Variabel-Variabel Bagian Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 84

4.6 Persentase Pendapat Responden Terhadap Variabel-Variabel Bagian Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 88

4.7 Analisis Model SAM Terhadap Variabel-Variabel Perencanaan Manajemen Aset di ITM ... 90

4.8 Analisis Model SAM Terhadap Variabel-Variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di ITM ... 92

4.9 Analisis Model SAM Terhadap Variabel-Variabel Pengelolaan Manajemen Aset di ITM ... 93

4.10 Analisis Model SAM Terhadap Variabel-Variabel Perencanaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 96

4.11 Analisis Model SAM Terhadap Variabel-Variabel Pelaksanaan Manajemen Aset di STMIK Potansi utama... 98

4.12 Analisis Model SAM Terhadap Variabel-Variabel Pengelolaan Manajemen Aset di STMIK Potensi utama ... 99

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Lampiran 1 Klasifikasi Pertanyaan Kuisioner Munurut Variabel SAM ... 117 Lampiran 2 Hasil Kuisioner Manajemen Aset di ITM dan STMIK Potensi Utama .... 118 Lampiran 2 Nilai Rata-Rata (Mean) Terhadap Perencanaan, Pelaksanaan dan

Pengelolaan Manajemen Aset di ITM dan STMIK Potensi Utama ... 119 Lampiran 4 Hasil Uji Reliabailitas dan Validitas dengan Menggunakan SPSS

Versi 20 ... 120

(17)

DAFTAR SINGKATAN ISO International Standard Organization IEC International Electrotechnical Commision ITM Institut Teknologi Medan

STMIK Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer KN/L Kementerian Negara/Lembaga

SWOT Strength, Weaknesses, Oppurtunities, Threats SAM Stategic asset Management

PEST Political, Economic, Social, Technological

STEER Socio-cultural, Technological, Economic, Ecological, Regulatory

SSB Sama Sekali Belum

SK Sangat Kurang

N Netral

SB Sangat Baik

S Sudah

STTM Sekolah Tinggi Teknik Medan DIKTI Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi

SK Surat Keputusan

BAN-PT Badan Akreditasi Nasional-Peguruan Tinggi PTS Perguruan Tinggi Swasta

SDM Sumber Daya Manusia

SPSS Statistical Product and Service Solution

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan kota-kota di Indonesia telah memicu peningkatan aktivitas pembangunan dalam bentuk pembangunan baru yang berskala besar dan terus mengalami perubahan setiap tahunnya. Perubahan tersebut disebabkan karena berkembangnya berbagai kegiatan manusia seiring dengan perkembangan teknologi dan juga bentuk dari kegiatan itu sendiri, peningkatan jumlah penduduk yang pada akhirnya membutuhkan wadah atau tempat diperkotaan yang mengakibatkan perubahan fisik dan juga penggunaan lahan di kota.

Selain itu, peningkatan jumlah penduduk tersebut mengakibatkan peningkatan harga lahan diperkotaan dengan berbagai fungsi dan kegunaan. Perkembangan ini menjadi pemicu kenaikan harga lahan di perkotaan, oleh sebab itu manajemen aset yang baik sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan sehingga nilai dari lahan tersebut meningkat serta kenyamanan pengguna akan juga terpenuhi.

Sebagai salah satu daerah otonom berstatus kota di provinsi Sumatera utara, maka kedudukan, fungsi dan peranan kota Medan cukup penting dan strategis secara regional. Bahkan sebagai ibukota provinsi Sumatera utara, kota Medan sering digunakan sebagai barometer dalam pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah daerah. Secara geografis, kota Medan memiliki kedudukan strategis sebab berbatasan langsung dengan selat Malaka di bagian utara, sehingga relatif dekat dengan kota-kota /negara yang lebih maju seperti Pulau Penang Malaysia, Singapura dan lain-lain. Secara demografis kota Medan diperkirakan memiliki

(19)

pangsa pasar barang / jasa yang relatif besar. Hal ini tidak terlepas dari jumlah penduduknya yang relatif besar dimana tahun 2011 telah mencapai 2.117.244 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2011). Secara ekonomis dengan struktur ekonomi yang didominasi sektor tertier dan sekunder, kota Medan sangat potensial berkembang menjadi pusat perdagangan dan keuangan regional/nasional.

Selain sebagai kota perdagangan dan ibu kota provinsi, kota Medan juga menjadi pusat pendidikan di provinsi Sumatera utara. Saat ini di kota Medan terdapat 47 perguruan tinggi yang diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sebagaimana diketahui pendidikan merupakan modal dalam pembangunan, sehingga menjadi penting bagi pihak pemerintah maupun swasta untuk menaruh perhatian terhadap kualitas dari lembaga pendidikan tinggi yang ada di Sumatera utara.

Perguruan tinggi memegang peranan penting dalam era globalisasi saat ini karena kompetensi menjadi basis dalam kompetisi antar pelaku ekonomi.

Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan kini menjadi variabel pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus sebagai faktor yang mampu meningkatkan kesejahteraan individu dan mobilitas sosial. Di Amerika Serikat, sebuah survei terbaru menemukan bahwa proporsi individu yang percaya bahwa pendidikan tinggi "benar-benar diperlukan" untuk sukses meningkat dari 31% pada tahun 2000 menjadi 55% pada tahun 2009 oleh Royal Irish Academy (2010) yang dimuat di web site http://www.ria.ie/. Dengan kata lain perguruan tinggi mempunyai peranan penting dalam menerapkan ilmu–ilmu baru yang bermanfaat di masyarakat. Banyaknya perguruan tinggi yang ada di kota Medan berbanding lurus dengan jumlah aset perguruan tinggi. Meningkatnya urbanisasi, kebutuhan

(20)

masyarakat akan pendidikan tinggi mengharuskan pihak perguruan tinggi untuk memiliki sistem manajemen aset.

Manajemen aset adalah sebuah proses perbaikan yang terus-menerus untuk meningkatkan ketersediaan, keamanan, umur dari aset yaitu sistem, fasilitas, peralatan dan proses. Menurut Jim (2007), manajemen aset adalah alat/ilmu untuk meningkatkan efisiensi dari sebuah organisasi. Manajemen aset dipercaya dapat memberikan pelayanan yang baik bagi pengguna, sehingga perguruan tinggi dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi. Peningkatan ini dapat dilakukan dengan memperhitungkan biaya operasional, keamanan, tingkat penggunaan ruang kelas dan tingkat penggunaan fasilitas perguruan tinggi.

Aset atau barang atau benda adalah sesuatu yang dapat dimiliki dan yang mempunyai nilai ekonomis (economic value), nilai komersial atau nilai pertukaran yang dimiliki atau digunakan suatu badan usaha, lembaga atau perorangan (Lembaga Administrasi Negara, 2007). Secara fisik, aset yang dibeli perlu dikelola lebih baik, untuk itu dibutuhkan perangkat administrasi yang memadai agar aset yang dibeli menjadi terjaga dan dapat dikendalikan. Banyak kendala dalam mengelola aset karena dalam pencatatan aset selalu berubah-ubah, baik berubah karena pengadaan, penghapusan bahkan karena adanya kehilangan.

Perubahan aset ini akan berakibat pada perubahan pencatatan mulai dari proses perencanaan sampai dengan penghapusan.

Seiring dengan banyaknya aset dan peluang pengembangan dari perguruan tinggi, sering terjadi kesalahan dalam perencanaan, pengadaan, serta inventarisasi data yang berkaitan dengan aset. Tertib administrasi dalam pencatatan aset sangat diperlukan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam pengadaan aset baru.

(21)

Manajemen aset yang baik merupakan keuntungan bagi pemilik perguruan tinggi.

Dengan diterapkannya sistem manajemen aset, pemilik bukan hanya dapat memperkirakan akan biaya operasional tetapi juga dapat memperkirakan pertambahan nilai (capital gain) yang akan didapat pada masa yang akan datang.

Menurut Siregar (2011), ada empat tahapan besar dalam manajemen aset yaitu inventarisasi aset, legal audit, penilaian aset dan optimalisasi kegunaan aset.

Penerapan manajemen aset dalam sebuah organisasi berdasarkan standar yang ada dan mengatur tentang penerapan manajemen aset yang baik. “International Standard Organization (ISO) adalah organisasi internasional yang dibentuk dalam rangka membuat standar internasional. Pekerjaan dalam rangka membuat standar internasional ini biasanya dilakukan melalui Komite Teknik ISO. Setiap anggota ISO yang tertarik pada satu subjek dan teknikal komite yang menentukan apakah subjek tersebut layak untuk dibuat standarnya. Organisasi internasional, pemerintah dan non pemerintah yang tergabung dalam ISO juga mengambil bagian dalam pekerjaan komite. ISO juga bekerja sama dengan International Electrotechnical Commision (IEC) dalam hal standarisasi elektro teknikal.

Sebuah standar terhadap suatu subjek akan disetujui sebagai sebuah standar internasional jika 75% dari komite teknikal menyetujuinya. ” (ISO 55000, 2010)

Terkait standar yang mengatur tentang manajemen aset, ISO mengeluarkan standar bernomor 55000 atau ISO 55000. Defenisi manajemen aset menurut ISO 55000 adalah suatu aktivitas yang mengurusi aset dan sistem aset dan dilakukan secara sistematis dan koordinatif dalam melakukan optimalisasi dan keberlanjutan aset, kinerja, resiko dan pengeluaran terhadap siklus hidup aset melalui rencana strategis organisasi. Rencana strategis organisasi adalah rata-rata dari rencana

(22)

jangka panjang organisasi yang diambil dari badan, visi, misi, nilai, kebijakan bisnis, tugas yang diberikan oleh pemilik, tujuan dan manajemen resiko organisasi.

Di dalam penerapan aset manajemen ini perguruan tinggi tentunya banyak menghadapi tantangan. Membuat sebuah aset menjadi optimal bukan merupakan tugas yang mudah. Temuan awal dari penelitian ini mengungkapkan bahwa STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan (ITM) belum menerapkan manajemen aset perguruan tinggi.

Adapun temuan awal ini didasari pada observasi yang dilakukan dan wawancara awal dengan Bpk. Bob Sublihar sebagai Ketua Yayasan STMIK Potensi utama dan Bpk. Ludi sebagai salah satu dosen di Institut Teknologi Medan (ITM). Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa STMIK Potensi utama dan ITM tidak memahami mengenai manajemen aset namun mereka secara tidak langsung telah melaksanakan proses manajemen aset seperti inventarisasi aset dan audit legalitas dan belum melakukan penilaian aset serta pengoptimalannya. Pelaksanaan manajemen aset tanpa pemahaman yang baik tentang manajemen aset tentunya membawa permasalahan tersendiri bagi pemilik aset dalam hal ini STMIK Potensi utama dan ITM. Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Sistem Manajemen Aset Pada Perguruan Tinggi di Kota Medan (Studi Kasus pada STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan ).”

(23)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasar uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitan ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan manajemen aset di STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan?

1. Apakah sistem manajemen aset di STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan sudah memenuhi standart ISO 55000?

1.3 Batasan Masalah

Dari uraian di atas, ruang lingkup penelitian ini akan dibatasi pada:

1. Penerapan manajemen aset berupa perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan aset tidak bergerak yang dimiliki oleh STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan.

2. Studi kasus menggunakan data aset di dua Perguruan Tinggi, yakni STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan.

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengevaluasi dan menganalisis bagaimana kah penerapan manajemen aset di STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan.

2. Untuk mengevaluasi dan menganalisis apakah sistem manajemen aset di STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan sudah memenuhi standart ISO 55000.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat yang dapat berguna untuk berbagi pihak antara lain pihak perguruan tinggi di kota Medan, organisasi manajemen aset dan bagi peneliti selanjutnya, yaitu:

(24)

1. Manfaat bagi perguruan tinggi, sebagai masukan terhadap manajemen aset yang baik sesuai dengan standar internasional dalam hal ini ISO 55000 dalam mewujudkan optimalisasi aset yang dimiliki oleh perguruan tinggi.

2. Manfaat bagi manajemen aset STMIK Potensi utama dan ITM, sebagai bahan masukan untuk mengetahui standar yang mengatur tentang manajemen aset yang baik dalam rangka meningkatkan kinerja dan kualitas jasa yang diberikan terhadap pengelolaan aset perguruann tinggi.

3. Bagi peneliti selanjutnya, sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam pada masa yang akan datang.

4. Bagi masyarakat umum, sebagai bahan masukan untuk mengetahui dan memahami standar yang mengatur tentang manajemen aset yang baik dalam rangka mengoptimalkan aset yang dimiliki melalui proses dan prosedur yang benar sehingga dapat menambah nilai ekonomis terhadap aset yang dimiliki.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Manajemen Aset

Fenomena umum yang terjadi di Perguruan tinggi di Sumatera Utara ini ditemukan sangat banyak aset daripada perguruan tinggi tersebut tidak berguna dan tidak optimal, seperti ruang kelas, ruang perpustakaan, fasilitas yang mendukung terhadap proses belajar dan mengajar sehingga return tidak seperti yang diharapkan dan tidak optimal.

2.1.1 Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu, management, yang artinya, pengelolaan, melaksanakan dan mengatur. Kata ini, diadopsi ke bahasa Indonesia dan telah menjadai istilah yang lazim digunakan sehari-hari. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (2008), manajemen dapat berarti, yaitu:

a) Penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.

b) Pimpinan yang bertanggung jawab atas jalannya perusahaan dan organisasi.

Manajemen terbagi dalam bentuk yang lebih spesifik. Menurut Hanafi (2008), mendefinisikan manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan untuk mencapa tujuan organisasi dengan menggunakan sumber daya organisasi. Untuk dapat lebih menjelaskan tentang pengertian manajemen maka selanjutnya akan dipaparkan proses dari manajemen, yaitu:

a) Planning atau perencanaan

Perencanaan adalah kegiatan menetapkan tujuan organisasi dan memilih cara yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.

(26)

b) Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah kegiatan yang mengkoordinir sumber daya, tugas dan otoritas diantara anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan cara yang efisien dan efektif.

c) Pengarahan

Pengarahan adalah kegiatan memberi arahan (directing), mempengaruhi orang lain (influencing) dan memotivasi orang tersebut untuk bekerja (motivating).

d) Pengendalian

Pengendalian bertujuan untuk melihat apakah kegiatan organisasi sesuai dengan rencana.

2.1.2 Pengertian Aset

Aset berasal dari bahasa Inggris dengan kata dasar asset. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, definisi aset adalah:

a) Sesuatu yang mempunyai nilai tukar b) Modal, kekayaan

Pengertian aset secara umum adalah barang (thing) atau sesuatu barang yang mempunyai nilai ekonomi (economic value), nilai komersil (commercial value) atau nilai tukar (exchange value) yang dimiliki oleh badan usaha, instansi atau individu (Siregar, 2004). Menurut Hidayat (2008), Aset adalah sesuatu milik perorangan atau perusahaan yang memiliki nilai uang.

Aset dapat diklasifikasikan menjadi benda bergerak dan benda tidak bergerak.

Benda bergerak dapat diklasifikasikan lagi menjadi 2 macam, berwujud dan tidak berwujud. Contoh aset berwujud, mobil, sepeda motor. Contoh aset tidak

(27)

berwujud, hak cipta, logo perusahaan. Contoh benda tidak bergerak, adalah rumah dan bangunan. Menurut Siregar (2004), pengelolaan aset berdasarkan pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yakni yang mengedepankan pembangunan pada tiga bidang, yaitu:

a) Sumber daya alam

Sumber daya alam adalah semua kekayaan alam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

b) Sumber daya manusia

Sumber daya manusia adalah semua potensi yang terdapat pada manusia seperti, akal, pikiran, seni keterampilan, dan sebagainya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bagi dirinya sendiri maupun orang lain atau masyarakat pada umumnya.

c) Infrastruktur

Infrastruktur adalah sesuatu buatan manusia yang dapat digunakan sebagai sarana untuk kehidupan dan sebagai sarana untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan semaksimalnya, baik untuk saat ini maupun keberlanjutannya di masa yang akan datang.

Aset dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dimaknai sebagai suatu potensi yang pada saat ini memiliki nilai dan masih dapat dikembangkan sehingga akan terus bertambah nilainya atau pada sebagian aset akan hilang nilainya dan memungkinkan terjadinya penghapusan aset.

(28)

2.1.3 Manajemen Aset

2.1.3.1 Definisi Manajemen Aset

Menurut Hadinata (2011) bahwa manajemen aset mencakup proses mulai dari perencanaan sampai dengan penghapusan (disposal) serta pengawasan terhadap aset-aset tersebut selama umur penggunaannya oleh suatu organisasi atau Kementerian Negara/Lembaga (KN/L).

Dalam buku yang berjudul “Pedoman Sistem Terpadu Pengelolaan Aset yang Strategis” Tahun 2012 dikemukakan bahwa manajemen atau pengelolaan aset adalah cara-ciri dalam mengatur, merencanakan, mendesain, dan memonitor dalam prosess mengakuisisi, memelihara, memperbarui, dan pembuangan segala bentuk infrastruktur dan aset teknis; untuk mendukung pengadaan servis public.

Aset Pengelolaan adalah sesuatu yang sistematik, suatu proses yang terstruktur, mencakupi seluruh umur hidup suatu aset fisik (e.g ‘physical Asets’).

Dari definisi diatas dapat dilihat bahwa bagaimana manajemen aset merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam menyediakan, mengelola hingga menghapus aset bagi seluruh sektor yang memiliki aset.

2.1.3.2 Manajemen Aset dalam ISO 55000

International Standard Organization (ISO) adalah organisasi internasional yang dibentuk dalam rangka membuat standar internasional. Pekerjaan dalam rangka membuat standar internasional ini biasanya dilakukan melalui komite teknik ISO. Setiap anggota ISO yang tertarik pada satu subjek dan teknikal komite yang menentukan apakah subjek tersebut layak untuk dibuat standarnya.

Organisasi internasional, pemerintah dan non pemerintah yang tergabung dalam ISO juga mengambil bagian dalam pekerjaan komite. ISO juga bekerja sama

(29)

dengan International Electrotechnical Commision (IEC) dalam hal standarisasi elektro teknikal. Sebuah standar terhadap suatu subjek akan disetujui sebagai sebuah standar internasional jika 75% dari komite teknikal menyetujuinya. (ISO 55000, 2010)

Terkait standar yang mengatur tentang manajemen aset, ISO mengeluarkan standar bernomor 55000 atau ISO 55000. Defenisi manajemen aset menurut ISO 55000 adalah suatu aktivitas yang mengurusi aset dan sistem aset dan dilakukan secara sistematis dan koordinatif dalam melakukan optimalisasi dan keberlanjutan aset, kinerja, resiko dan pengeluaran terhadap siklus hidup aset melalui rencana strategis organisasi. Rencana strategis organisasi adalah rata-rata dari rencana jangka panjang organisasi yang diambil dari badan, visi, misi, nilai, kebijakan bisnis, tugas yang diberikan oleh pemilik, tujuan dan manajemen resiko organisasi.

Manajemen aset mengoptimalkan kegunaan dari sebuah aset dalam bentuk manfaat layanan dan keuntungan secara finansial. Upaya ini dapat dilakukan melalui empat hal yaitu,

a) Penciptaan aset,

b) Pengoperasian dan pemeliharaan aset,

c) Optimalisasi melalui penggantian dan perbaikan, dan d) Menghapus aset.

Adapun dalam pengerjaannya dibutuhkan empat tahapan yaitu, a) Inventarisasi aset

Inventarisasi aset adalah bagaimana mendata keseluruhan aset yang dimiliki.

(30)

b) Legal audit

Legal audit adalah mempertanyakan status legalitas aset secara hukum.

Identifikasi permasalahan dan mencari solusi secara legal yang selanjutnya memutuskan apakah aset itu masih bisa digunakan atau harus dilakukan pengalihan.

c) Penilaian aset

Penilaian aset memiliki peran penting dalam manajemen aset. Hal itu dikarenakan setelah mengetahui nilai dari aset tersebut maka prediksi nilai aset di masa depan dan optimalisasi aset dapat dilakukan.. penilaian terhadap nilai aset yang dimiliki umumnya dilakukan oleh penilai independen.

d) Optimalisasi dan penggunaan aset

Pada tahap ini dibutuhkan strategi untuk memaksimalkan penggunaan aset sehingga pertambahan nilai aset dan prediksi keuntungan dapat diproyeksikan.

Manajemen aset perlu mengetahui siklus hidup aset (life cycle). Hal tersebut disebabkan karena siklus hidup aset merupakan hal yang paling berkaitan dengan biaya modal dan biaya operasi. Pemahaman tentang siklus hidup aset akan menghindari kesalahan dalam mengasumsikan biaya modal dan operasi aset. Jika diambil tingkat rata-rata, sebuah organisasi yang menggunakan manajemen aset mampu meningkatkan keuntungan secara signifikan sebesar 20% hingga 50% dan secara bersamaan terus melakukan kontrol biaya, resiko secara simultan dalam siklus yang panjang (Woodhouse, 2011).

Kunci pokok dan elemen manajemen aset yang baik berdasarkan ISO 5500 adalah :

(31)

a) Multi disiplin

Manajemen aset memiliki banyak hunbungan dengan departemen lainnya yang melampaui beberapa batasan aturan dan berfokus pada net value-for- money (nilai dari uang)

b) Sistematis

Teraplikasi secara struktural di dalam sistem manajemen organisasi.

c) Berorientasi kepada sistem

Melihat kebutuhan dan penyesuaian aset terhadap kebutuhan organisasi yang selanjutnya di basiskan kepada net total value (nilai total)

d) Berbasis resiko

Mempertimbangkan segala jenis resiko secara benar kepada setiap keputusan yang akan dilakukan

e) Optimal

Mencari keputusan yang terbaik antara tujuan tujuan yang bertentangan, seperti biaya dibandingkan kinerja, dan dampak jangka pendek dibandingkan dengan dampak jangka panjang.

f) Berkelanjutan

Perencanaan harus meliputi life cycle value secara optimal, termasuk kinerja sistem yang sedang berjalan.

g) Integrasi

Aset manajemen harus bergabung dengan aspek lainnya dan bekerja secara keseluruhan.

Hal mendasar dalam penerapan manajemen aset yang berhasil berdasarkan ISO 55000 dapat dilihat melalui:

(32)

a. Struktur organisasi disusun berdasarkan hal mendasar yang dibutuhkan oleh manajemen aset dan kepemimpinan yang jelas,

b. Komunikasi dan koordinasi yang jelas antar bagian dalam manajemen aset, c. Komitmen dan kompetensi dari setiap staff yang terlibat dalam manajemen

aset, dan

d. Melakukan pelatihan dan pertukaran informasi dalam menambah pengetahuan mengenai kondisi aset, kinerja, resiko dan biaya dan hubungan diantara masing-masing elemen manajemen aset.

ISO 55000 menjelaskan bahwa manajemen aset yang baik mensyaratkan perintah dan aturan yang dibuat oleh pimpinan dapat dilaksanakan dan dipahami oleh seluruh karyawan. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka akan sulit mewujudkan manajemen aset yang baik dalam suatu organisasi. Pelaksanaan manajemen aset yang baik dilaksanakan secara efisien dan efektif oleh organisasi manajemen aset. Efisiensi dan efektifitas dalam manajemen aset berdasarkan ISO 55000 dapat dilihat melalui:

a. Struktur organisasi, otoritas dan tanggung jawab,

b. Aktivitas manajemen aset dilakukan oleh pihak ke 3 (outsourcing), c. Pelatihan, pemahaman dan kompetensi,

d. Komunikasi, partisipasi dan konsultasi, e. Dokumentasi sistem manajemen aset, f. Manajemen informasi,

g. Manajemen resiko,

h. Aturan/legal dan syarat manajemen aset yang ada, dan i. Pergantian manajemen.

(33)

Membuat keputusan yang baik didalam manajemen aset adalah penting dalam menyelaraskan manajemen aset. Untuk menciptakan keputusan yang baik maka diperlukan informasi tentang aset dengan melakukan analisa SWOT (strength, weaknesses, oppurtunities, threats). Ini penting dalam mengetahui hubungan antara aktivitas manajemen aset yang aktual dan potensial terhadap biaya jangka panjang dan jangka pendek, resiko, kinerja, dan siklus hidup aset. Hanya dengan cara ini pembuat keputusan mendapat informasi terhadap seluruh siklus hidup aset. Berdasarkan informasi tersebut maka dapat diambil sebuah keputusan dalam pengelolaan sumber daya, waktu dan anggaran. Pada akhirnya keputusan manajemen aset dibuat dengan membandingkan setaip aset yang dimiliki dengan melihat aset mana yang lebih menguntungkan.

Dalam mewujudkan rencana strategis organisasi dan memberikan keuntungan terbaik kepada pemiliki, sebuah organisasi manajemen aset harus mempertanyakan dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan meliputi:

1. Apakah sistem manajemen aset mengetahui seluruh aset yang dimiliki, dimana posisi aset tersebut, dan apa fungsi dan kontribusi aset tersebut?

2. Apakah sistem manajemen aset mengetahui apa manfaat dari aset yang dimiliki baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang?

3. Apakah aset tersebut dapat mengantarkan sistem manajemen aset dalam mencapai tujuan dengan menggunakan biaya yang efektif?

4. Apakah sistem manajemen aset mendapatkan nilai maksimal dari aset yang dimiliki?

5. Apakah sistem manajemen aset dapat mengelola keseluruhan aset?

6. Apakah manajemen aset mengetahui resiko negatif dari aset yang dimiliki

(34)

terhadap lingkungan dan orang-orang disekitarnya?

7. Apakah anggaran yang dikeluarkan oleh sistem manajemen aset terhadap aset yang dimiliki sudah sesuai dengan kebutuhan?

8. Apakah manajemen aset sebagai organisasi selalu dengan cepat melakukan evaluasi investasi, serta mengetahui efek dari aset yang berfungsi dan tidak berfungsi?

9. Apakah sistem manajemen aset mengetahui resiko dari keputusan yang diambil dalam hal operasional aset terkait kerugian jangka panjang untuk keuntungan jangka pendek?

10. Apakah sistem manajemen aset mengetahui resiko yang ditimbulkan oleh satu aset terhadap aset lainnya?

11. Apakah sistem manajemen aset mengevaluasi dengan baik strategi manajemen aset yang dimiliki demi kepentingan operasional, peraturan dan lingkungan keuangan?

12. Apakah sistem manajemen aset selalu memperbaiki kinerja sistem manajemen aset yang dimiliki?

13. Apakah sistem manajemen aset mempunyai kebijakan, strategi, dan rencana manajemen aset sehingga aset tersebut dapat berkelanjutan?

14. Apakah pendekatan sistem manajemen aset yang berkelanjutan tersebut dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pemilik?

15. Apakah kondisi, kemampuan dan standar hidup pekerja masuk kedalam kebijakan manajemen aset?

16. Apakah sistem manajemen aset melakukan inovasi dalam mengoptimalkan aset?

(35)

17. Apakah semua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan audit yang jelas dan meninterpretasikannya didepan pemilik?

Manajemen aset yang terintegrasi sangat penting dalam organisasi manajemen aset yang menitik beratkan pada penciptaan aset. Aset dalam jumlah besar dan memiliki karakteristik yang bervariasi akan menciptakan masalah pada pemilik sehingga hal tersebut akan meningkatkan kebutuhan pemilik terhadap manajemen aset. Terdapat tingkatan organisasi dalam manajemen aset dan tergantung pada jumlah dan kerumitan aset yang dimiliki. Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1 Hirarki Manajemen Aset

Gambar 2.1 Hierarki Manajemen Aset Sumber: ISO 55000

Dari Gambar 2.1 dapat kita ketahui bahwa manajemen aset harus terlebih dahulu mengatur portfolio dari organisasi kemudian menjalankan sistem dari aset tersebut yang akhirnya mengatur aset secara individu dengan memperhitungkan resiko yang berbeda - beda di setiap tingkatannya.

(36)

2.1.3.3 Siklus Manajemen Aset

Pemahaman tentang aset secara menyeluruh merupakan hal yang paling penting dan utama dalam pengelolaan aset atau manajemen aset. Aset tentunya memiliki siklus hidup yang sangat penting dalam mendukung peran pengeloaan atau manajemen aset. Adapun siklus aset dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Gambar 2.2. Siklus Hidup Aset Sumber: Mitchell (2006)

Perencanaan aset meliputi konfirmasi tentang pelayanan yang dibutuhkan oleh pelanggan dan memastikan bahwa aset yang diajukan merupakan solusi yang paling efektif untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pengadaan aset merupakan peningkatan dari aset dimana pembiayaan dapat menjadi alasan yang diharapkan untuk menyediakan keuntungan diluar tahun pembiayaan.

Pengoperasian aset mempunyai fungsi yang berhubungan dengan kerja, pengendalian aset dan biaya yang berhunbungan dengannya yang merupakan komponen penting dalam aset yang dinamis atau berumur pendek.

Penghapusan aset adalah pilihan ketika sebuah aset tidak diperlukan lagi, menjadi tidak ekonomis untuk di perbaiki atau direhabilitasi. Pilihan tindakan terhadap aset tersebut dilakukan secara hati-hati dan melalui analisa keuangan atas aset yang dimiliki tersebut.

(37)

2.1.4 Penilaian Manajemen Aset

Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan manajemen aset di dalam suatu organisasi maka di perlukan indikator – indikator penilaian. Dalam International Asset Management, indikator–indikator yang diperlukan secara umum adalah :

a. Kebijakan dan peraturan (policy and standards) b. Analisis permintaan (demand analysis)

c. Perencanaan strategis (strategic planning)

d. Perencanaan aset manajement (asset management plans) e. Evaluasi Biaya Operasional (opex evaluation)

f. Evaluasi Pengeluaran Modal (capex evaluation) g. Pembiayaan aset (aset costing)

h. Pengadaan aset (aset creation)

i. Sistem pembuatan (system engineering) j. Jadwal perawatan (maintenance delivery)

k. Sumber cadangan untuk hal yang darurat (resource and outage incident response)

l. Pengetahuan tentang aset dan penggunaan nya (asset knowledge standarts and asset ratinalisation)

m. Sistem informasi aset (asset information system)

n. Pengetahuan dan data tentang aset (asset knowledge and data) o. Kompetensi individu (individual competency)

p. Struktur organisasi (structural organisational) q. Kontrak dan persediaan (contract and supply)

(38)

r. Analisis tingkat resiko (risk assesment)

s. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) t. Pergantian suhu dan iklim (weather and climate change) u. Audit dan peninjauan (review and audit)

Variabel-variabel di atas kemudian diukur dalam skala untuk menunjukkan derajat kualitas dari masing-masing variabel.

2.2 Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu/yang telah dilakukan dalam lingkup manajemen aset dapat dilihat dibawah ini, yaitu:

1. Supriyati, dkk. (2011) mengungkapkan bahwa Pengelolaan tangible fixed asset yang berjalan saat ini masih bersifat manual walau sistem pencatatan sudah menggunakan aplikasi excel. Proses pencatatan data dengan menggunakan excel tidak dapat terintegrasi dengan baik dalam jaringan dan juga history penyimpanan data, oleh sebab itu diperlukan suatu sistem pengelolaan Fixed Asset yang terintegrasi dengan sistem komputer yang disebut dengan aplikasi Smart Asset Campus.

2. Povey and Peach (2013) mengungkapkan bahwa Metode Strategic Asset management yang diterapkan di University of Southern Queensland memberikan nilai rata-rata variable diteliti adalah 3 dan 4 dimana nilai maksimalnya adalah 6. Adapun varibel-variabel yang diteliti tersebut dikelompokkan menjadi 3 bagian besar yaitu Strategic, Operational and Tactical.

(39)

3. The Australian Aset Management Collaborative Group’s – AAMCoG (2012) mengungkapkan bahwa strategi dari pengelolaan aset (Asset Management Strategy) mengikuti spesifikasi dari kebijakan pengelolaan aset (Asset Management Policy) dan menjabarkan aktifitas dalam pengelolaan aset, yang membantu mencapai objektif dari sistim pengelolaan aset (Asset Management Objectives). Oleh karena itu secara tidak langsung strategi tersebut mendukung strategi suatu organisasi dan juga terwujudnya objektif dalam suatu organisasi.

4. Hanis, dkk. (2011) mengungkapkan bahwa ada tantangan yang signifikan bagi pemerintah lokal Indonesia untuk melaksanakan kerangka kerja manajemen aset terhadap aset publik. Tantangan tersebut adalah: tidak adanya kerangka kelembagaan dan hukum untuk mendukung aplikasi manajemen aset, prinsip non-profit aset publik, beberapa aturan hukum yang terlibat dalam proses manajemen aset publik, kompleksitas tujuan pemerintah daerah, ketersediaan data untuk mengelola aset pubik dan dan keterbatasan sumber daya manusia.

5. Vanier (2001) mengidentifikasi tingkat pasar manajemen aset di Amerika Utara, memenuhi kebutuhan alat pendukung keputusan organisasi kota dalam mengidentifikasi tantangan untuk perbaikan dan pembaharuan serta perencanaan yang dihadapi oleh pemilik aset. Hal tersebut terintegrasi dengan sistem manajemen yang ada seperti sistem komputerisasi pada informasi geografis. Sistem yang sudah ada di dalam sebuah perusahaan merupakan sebuah tantangan terbesar untuk mengembangkannya.

(40)

2.3 Kerangka Konsep Penelitian

Adapun penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pelaksanaan manajemen aset dilaksanakan di ITM dan juga STMIK Potensi utama.

Manajemen aset yang ada di perguruan tinggi swasta tersebut diuji dengan menggunakan model SAM. Sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu manajemen aset di ITM dan STMIK Potensi utama dibagi kedalam 3 bagian besar dari manajemen aset, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan. Metode penilaian dan manajemen aset SAM dengan menggunakan rating dan target sebagai pembanding. Kemudian hasil analisa dengan menggunakan model SAM tersebut disesuaikan dengan ISO 55000 yang akan menerangkan apakah penerapan manajemen aset di ITM dan STMIK Potensi utama tersebut sudah sesuai dengan aturan tentang manajemen aset dalam ISO 55000. Povey dan Peach (2013) menggunakan indikator–indikator dalam International Management Asset antara lain:

1. Kebijakan dan peraturan (policy and standards)

Adalah kebijakan dan peraturan di perguruan tinggi yang berkaitan dengan manajemen aset. Derajat kualitasnya ditentukan oleh tingkat kelengkapan peraturan dan kebijakan terkait dengan manajemen aset berikut penerapannya di lingkungan perguruan tinggi.

2. Analisis permintaan (demand analysis)

Dalam konteks perguruan tinggi, analisis permintaan dikaitkan dengan kenaikan jumlah pendaftar di kedua perguruan tinggi tersebut dari tahun ke tahun.

(41)

3. Perencanaan strategis (strategic planning)

Proses perencanaan strategis dilakukan untuk menentukan strategi atau arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber daya kedua perguruan tinggi (termasuk modal dan sumber daya manusia) untuk mencapai target yang ditetapkan. Berbagai teknik analisis bisnis dapat digunakan dalam proses ini, termasuk analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), PEST (Political, Economic, Social, Technological), atau STEER (Socio-cultural, Technological, Economic, Ecological, Regulatory). Variabel ini dianalisis berdasarkan perencanaan strategis serta kualitas perencanaan di kedua perguruan tinggi tersebut.

4. Perencanaan aset manajement (asset management plans)

Perencanaan strategis meliputi perencanaan terhadap kebutuhan aset di masa depan, perencanaan terhadap pengelolaan dan optimalisasi aset di kedua perguruan tinggi.

5. Evaluasi biayao operasional (opex evaluation)

Adalah belanja operasional dari kedua perguruan tinggi. Variabel ini dinilai dari tingkat kecukupan, efisiensi dan efektifitas dari pengeluaran.

6. Evaluasi pengeluaran modal (capex evaluation)

Adalah belanja yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah aset tetap atau aset lainnya yang memberi manfaat, termasuk di dalamnya pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan atau menambah masa manfaat, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas aset. Belanja modal meliputi: belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, serta belanja modal fisik lainnya

(42)

Suatu belanja dikategorikan sebagai belanja modal apabila:

a. Pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya perolehan aset tetap atau aset lainnya yang menambah masa umur, manfaat, dan kapasitas.

b. Pengeluaran tersebut melebihi batasan minimum kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

c. Perolehan aset tetap tersebut dimaksudkan bukan untuk dijual.

7. Pembiayaan aset (asset costing)

Adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan suatu aset dan bisa atau siap dimanfaatkan.

8. Penciptaan aset (asset creation)

Adalah proses pengadaan aset, baik yang sifatnya baru maupun hasil kreasi/modifikasi dari sumber daya yang dimiliki oleh kedua perguruan tinggi.

9. Rekayasa sistem (system engineering)

Adalah proses kreatif penciptaan suatu sistem manajemen aset dalam rangka meningkatkan atau mempertahankan nilai suatu aset.

10. Jadwal perawatan (maintenance delivery)

Ada-tidaknya jadwal perawatan mempengaruhi kinerja dan tingkat depresiasi suatu aset. Semakin sering perawatan dilakukan, maka usia hidup aset akan semakin panjang dan akan selalu memberikan manfaat.

11. Sumber cadangan untuk hal yang darurat (resource and outage incident response)

Dalam hal keadaan darurat, pihak manajemen aset harus memiliki respon

(43)

tanggap darurat. Hal ini meliputi kemampuan dan kecepatan respon, maupun ada-tidaknya sumber cadangan untuk merespon hal darurat tadi jika sumber utama tidak berfungsi. Keadaan darurat tersebut dapat berupa terjadinya gempa bumi, lift tiba-tiba tidak berfungsi, dan terjadinya kebakaran.

12. Pengetahuan tentang aset dan penggunaannya (asset knowledge standarts and asset rationalisation)

Pengetahuan tentang aset dan penggunannya mutlak dimiliki oleh para penentu kebijakan di level manajemen hingga pegawai di tingkat teknis.

Bagaimana aset berfungsi, berapa nilai aset, dan sebagainya. Pengetahuan dan penggunan aset dicerminkan dari ada-tidaknya manajemen aset.

13. Sistem informasi aset (asset information system)

Sistem informasi aset adalah seperangkat system yang menyajikan informasi mengenai aset, mulai dari permintaan aset, persetujuan permintaan aset, pembelian aset, registrasi aset, status kepemilikan, status pemanfaatan, dsb.

14. Pengetahuan dan data tentang aset (asset knowledge and data)

Ada-tidaknya pengetahuan dan data aset dapat dicerminkan dari keberadaan sistem informasi aset yang dimiliki.

15. Kompetensi individu (individual competency)

Kompetensi individu menyangkut manajemen aset, mulai dari pengambil kebijakan, level manajemen, hingga pegawai teknis. Kompetensi individu ini mendorong setiap anggota organisasi untuk terus bekerja lebih baik dan melakukan evaluasi terhadap setiap pekerjaan yang dilakukan.

(44)

16. Struktur organisasi (structural organisational)

Struktur organisasi yayasan perguruan tinggi menggambarkan apakah organisasi bekerja secara optimal seperti rancang-bangun yang dibuat.

17. Kontrak dan persediaan (contract and supply)

Ada tidaknya dokumen kontrak dan persediaan atas suatu aset.

18. Analisis tingkat resiko (risk assesment)

Ada-tidaknya metode analisis yang meliputi faktor penilaian, karakterisasi, komunikasi, manajemen dan kebijakan yang berkaitan dengan risiko asset.

19. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development)

Apakah visi dari kedua yayasan tersebut sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang tercermin dari development planning dalam jangka waktu tertentu.

20. Pergantian suhu dan iklim (weather and climate change)

Apakah kedua yayasan perguruan tinggi dalam pengelolaan perguruan tinggi turut menekankan pentingnya pergantian suhu dan iklim dalam kebijakan maupun peraturan mereka.

21. Audit dan peninjauan (review and audit)

Apakah pihak yayasan menyelenggarakan kegiatan audit dan peninjauan yang dilakukan juga oleh pihak auditor independen.

Variabel-variabel di atas kemudian diukur dalam skala 0 hingga 4 untuk menunjukkan derajat kualitas dari masing-masing variabe seperti diuraikan di atas. Uraian dari pada variabel dan bagian dari manajemen aset dapat dilihat pada Gambar 2.3 kerangka konseptual penelitian.

(45)

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran, maka hipotesis yang diajukan peneliti adalah:

1. ITM belum menerapkan Sistem Manajemen Aset sesuai dengan ISO 55000.

2. STMIK Potensi Utama belum menerapkan Sistem Manajemen Aset sesuai dengan ISO 55000.

Gambar 2.3. Kerangka Konseptual Penelian

Pelaksanaan Manajemen Aset

di ITM dan STMIK Potensi Utama

Model SAM berupa Strategic, Tactical

and Operation

Implementasi Model SAM dengan menggunakan Rangking atau rata-

rata Pengelompokan Manajemen Aset ITM dan STMIK Potensi Utama kedalam 3 kelompok besar yaitu Strategic, Tactical and Operation

Dianalisa dengan Menggunakan

Model SAM

Hasil Analisa Manajemen Aset di ITM dan STMIK

Potensi Utama dalam bentuk Rangking atau

rata-rata

Hasil Analisa

ISO 55000

Hasil analisa dengan model SAM disesuaikan dengan

ISO 55000 Penerapan

Manajemen Aset di ITM dan STMIK

Potensi Utama Sesuai atau tidak dengan ISO 55000

(46)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Penelitian disebut deskriptif kualitatif karena penelitian bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki dalam mencari makna, menemukan kebenara secara empiris logis (Effendi dan Tukiran, 2012). Metode ini dalam pelaksanaannya dilakukan melalui: teknik survei, studi kasus, studi komparatif, studi tentang waktu dan gerak, analisis tingkah laku, dan analisis dokumenter.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) sebagai berikut:

3.2.1 Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer Potensi Utama Medan

Gambar 3.1. Kampus STMIK Potensi Utama

(47)

3.2.2 Institut Teknologi Medan

Gambar 3.2. Kampus Institut Teknologi Medan (ITM)

Waktu penelitian berlangsung dari bulan Februari 2014 sampai dengan Agustus 2014.

3.3 Fokus Penelitian

Penetapan fokus dalam penelitian kualitatif sangat penting untuk membatasi studi dan mengarahkan pelaksanaan suatu pengamatan. Fokus dalam penelitian kualitatif sifatnya abstrak, artinya dapat berubah sesuai dengan latar belakang penelitian.

Memfokuskan dan membatasi pengumpulan data dapat dipandang kemanfaatannya sebagai reduksi data yang sudah diantisipasi sebelumnya dan merupakan pra-analisis yang mengesampingkan variabel-variabel dan berkaitan untuk menghindari pengumpulan data yang berlimpah. Penentuan fokus memiliki dua tujuan yaitu:

1. Penetapan fokus untuk membatasi studi, bahwa dengan adanya fokus penelitian, tempat penelitian menjadi layak. Sekaligus membatasi fokus pada

(48)

domain/kategori yang mengandung banyak data/informasi dari domain- domain atau kategori - kategori tertentu;

2. Penentuan fokus secara efektif menetapkan kriteria sumber informasi untuk menjaring informasi yang mengalir masuk, sehingga temuannya memiliki arti dan nilai yang strategis bagi informan.

3.4 Populasi dan Samp el 3.4.1 Populasi

Populasi yang diteliti adalah keseluruhan pegawai dan pengurus yayasan dari STMIK Potensi utama dan Institut Teknologi Medan. Dimana pengertian populasi di dalam penelitian adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti. Populasi pada penelitian ini adalah sebanyak 54 orang , yaitu:

1. Institut Teknologi Medan, terdiri dari:

a. 8 (delapan) orang yang merupakan pimpinan yayasan, b. 11 (sebelas) orang pimpinan fakultas dan program studi, dan c. 8 (delapan) orang kepala bagian dan staf.

2. STMIK Potensi utama, terdiri dari:

a. 7 (tujuh) orang yang merupakan pimpinan yayasan, b. 13 (tiga belas) orang kepala bagian, dan

c. 7 (tujuh) orang kepala prodi dan staf.

3.4.2 Sampel

Sampel menurut Arikunto (2004) adalah keseluruhan dari populasi yang diambil dengan menggunakan data tertentu. Oleh sebab itu, apabila populasi kurang dari 100 orang maka sampel diambil secara keseluruhan, sedangkan

Referensi

Dokumen terkait

Kontrol diri akan berkembang seiring dengan kematangan emosi, maka dari itu individu dengan kontrol diri yang baik, emosinya tidak akan meledak dihadapan orang

Dipilihnya panduan model pendidikan sa- dar lingkungan bermuatan potensi lokal me- ngenai pemanfaatan lahan pekarangan dengan tanaman sayuran atas dasar pertimbangan:

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi istilah asing bidang perkomputeran yang paling dikenal oleh kalangan mahasiswa di Kota Surakarta, (2)

informasi publik ini dibatasi dengan hak individual dan privacy seseorang terkait dengan data kesehatan yang bersifat rahasia (rahasia medis). Jadi dalam hal ini dapat dianalisis

Layout dirasa masih kurang layak dikarenakan jarak antar gudang material dengan stasiun kerja yang cukup jauh, maka dari itu perlu perbaikan tata letak fasilitas

Hasil penelitian menunjukan pada Indonesia dan Thailand tidak terdapat hubungan kausal, kemudian Filipina, Singapura, dan Malaysia terdapat hubungan kausal antara

Berdasarkan pada uraian yang telah diberikan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa estimator linier dalam bentuk umum untuk model linier pada kasus homoskedastik dan

Kapasitas tungku pembakaran batu bata menjadi kendala pengembangan sentra ini, sehingga bantuan tungku pembakaran batu bata akan mendukung potensi sentra batubata di Desa