• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS SMK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS SMK"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS SMK

(Studi Kasus Pembelajaran di Program Studi Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta)

SKRIPSI

Oleh :

Fakhry Ajie Hidayat

NIM : K 1504024

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS SMK

(Studi Kasus Pembelajaran di Program Studi Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta)

Oleh :

Fakhry Ajie Hidayat

NIM : K 1504024

Skripsi

Ditulis dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan

Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010

(3)

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Program Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta pada :

Hari : Selasa

Tanggal : 5 Januari 2010

Persetujuan Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

ßòÙò Ì¿³®·²ôÜ®-ôÓòмòÓòÍ·ò ß²·- ο¸³¿©¿¬·ôÍÌòÓÌ

(4)

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan

Pada hari : Selasa

Tanggal : 5 Januari 2010

Tim Penguji Skripsi :

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Sutrisno, ST, MPd ………

Sekretaris : Drs. H. Suhardjono, MSi ..…….………

Anggota I : Drs. AG Thamrin, MPd, MSi ………

Anggota II : Anis Rahmawati, ST, MT ………...

Disahkan Oleh

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Dekan

Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd

(5)

ABSTRAK

Fakhry Ajie Hidayat. K1504024. MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS SMK (Studi Kasus Pembelajaran di Program Studi Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta). Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Desember 2010.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jawaban dari masalah : (1) Kesesuaian prinsip pembelajaran di PTS/B UNS dengan kaidah prinsip pembelajaran berdasarkan Managemen Berbasis Sekolah di SMK. (2) Kesesuaian pelaksanaan pembelajaran di PTS/B UNS dengan kaidah pelaksanaan pembelajaran berdasarkan Managemen Berbasis Sekolah di SMK. (3) Kesesuaian penilaiaan pembelajaran di PTS/B UNS dengan kaidah penilaiaan berdasarkan Managemen Berbasis Sekolah di SMK.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan strategi penelitian tunggal terpancang. Tempat penelitian di Program study PTS/B FKIP UNS. Sumber data diperoleh dari wawancara informan/ narasumber, dokumen dan arsip dari hasil observasi lapangan. Teknik sampling yang digunakan yaitu

“Purposive Sampling”, atau lebih tepat disebut sebagai cuplikan “criteria-based selection”. Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah triangulasi sumber dan triangulasi peneliti. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prinsip pembelajaran di Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan hampir semua sudah sesuai dengan prinsip pembelajaran manajemen berbasis sekolah di SMK.

(2) Pelaksanaan pembelajaran di Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan kurang sesuai dengan kaidah pelaksanaan pembelajaran manajemen berbasis sekolah di SMK.

(3) Penilaian pembelajaran di Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan sesuai dengan kaidah penilaian pembelajaran manajemen berbasis sekolah di SMK

(6)

MOTTO

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)’

~ (QS. Al-Insyirah : 6-7) ~

“Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan sesuatu pekerjaan, maka ia mengerjakan dengan sempurna”

~ (HR. Baihaqi) ~

“Hidup adalah sebuah permainan. Bagaimana cara kita bermain cantik dalam permainan ini”.

“Dasari setiap yang akan kita perbuat dan akan kita hasilkan adalah dari niat baik”.

“Sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup, tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses”.

(7)

PERSEMBAHAN

Segala yang pernah dilalui jadikanlah suatu pengalaman, segala yang sedang dilalui adalah kenyataan, dan segala yang akan dilalui adalah harapan dan cita-cita

Karya ini dipersembahkan kepada:

1. Ayah (Alm) dan Ibu, mutiara kehidupan Ku

2. Keluarga dan Budhe.

3. Rekan-rekan PTB 2004 4. Calon pendamping hidup 5. Rekan-rekan profesi 6. Almamater

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini, untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu dikesempatan yang berbahagia ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas segala bantuannya kepada yang terhormat:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS Surakarta.

3. Ketua Program Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan FKIP UNS Surakarta.

4. Drs. AG. Tamrin, MPd, MSi, Sebagai Dosen Pembimbing I 5. Anis Rahmawati, ST, MT. Sebagai Dosen Pembimbing II

6. Ayah (Alm), ibu, dan saudaraku yang selalu memberikan dorongan dan dukungannya.

7. Teman-teman PTB 2004 dan semua pihak yang telah mendukung terlaksana dan selesainya penulisan skripsi.

8. Calon pendamping yang selalu setia menunngu.

9. Rekan-rekan seprofesi

Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan di dalam penyusunan Skripsi ini yang sebenarnya tidak dikehendaki. Akhir kata penulis berharap semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pendidikan dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan seperti yang diharapkan oleh semua pihak. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita semua. Amin.

(9)

Surakarta, Januari 2010

Penulis

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

PENGAJUAN ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 3

D. Perumusan Masalah ... 3

E. Tujuan Penelitian ... 4

F. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II LANDASAN TEORI ... 5

A. Tinjauan Pustaka ... 5

1. Menejemen sekolah ... 5

2. Pembelajaran ... 8

a. Pengertian Pembelajaran ...………. .... 8

b. Prinsip Pelaksanaan KTSP ... 9

c. Pelaksanaan Pembelajaran ... 11

d. Penilaian Hasil Belajar ... 28

(11)

B. Kerangka Bepikir ... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 32

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 32

B. Bentuk dan Strategi Penelitian ... 33

C. Sumber Data ... 33

D. Teknik Sampling ... 35

E. Teknik Pengumpulan Data ... 35

F. Validitas Data ... 36

G. Analisis Data ... 37

H. Prosedur penlitian ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 41

A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 41

1. Program Study Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan .... 41

a. Tinjauan Umum ... 41

b. Visi ... 41

c. Misi ... 41

d. Sasaran ... 42

e. Tujuan ... 42

f. Kurikulum ... 42

g. Mata Kuliah Keahlian ... 43

h. Data Administrasi ... 44

B. Deskripsi Temuan Studi Penelitian ... 48

C. Interpretasi Hasil Penelitian ... 63

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ... 66

A. Kesimpulan ... 66

B. Implikasi ... 66

C. Saran ... 67

DAFTAR PUSTAKA ... 68

LAMPIRAN ... 69

(12)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Daftar Nama Dosen Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan

FKIP UNS ... 44 Tabel 2. Daftar Nama Studi Lanjut dan Rencana Studi Lanjut Dosen

Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan FKIP UNS ... 46 Tabel 3. Daftar Peralatan Inventaris Lab.Kayu Pendidikan Teknik Sipil/

Bangunan FKIP UNS Tahun 2007 ... 97 Tabel 4. Daftar Peralatan Inventaris Lab.Beton Pendidikan Teknik Sipil/

Bangunan FKIP UNS Tahun 2007 ... 100 Tabel 5. Daftar Peralatan Inventaris Lab.Mektan Pendidikan Teknik

Sipil/Bangunan FKIP UNS Tahun 2007 ... 102 Tabel 6. Daftar Peralatan Inventaris Lab.Ilmu Ukur Tanah Pendidikan

Teknik Sipil/Bangunan FKIP UNS Tahun 2007 ... 104 Tabel 7. Daftar Peralatan Inventaris Lab. Plambing Pendidikan Teknik

Sipil/Bangunan FKIP UNS Tahun 2007 ... 106 Tabel 8 . Daftar Peralatan Inventaris Lab.Baja Pendidikan Teknik Sipil/

Bangunan FKIP UNS Tahun 2007 ... 107

(13)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Keangka Pemikiran ... 31 Gambar 2. Komponen Analisis Data Model Interaktif ... 38 Gambar 3. Skema Prosedur Penelitian ... 40

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Tabel wawancara dosen konsentrasi bangunan gedung

PTS/B, dosen konsentrasi Gambar Bangunan PTS/B dan dosen Laboratorium PTS/B tentang kesesuaian prinsip pembelajaran di Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan dengan kaidah prinsip pembelajaran menejemen berbasis sekolah di SMK ... 69 Lampiran 2. Tabel observasi tentang kesesuaian pelaksanaan

pembelajaran di Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan dengan kaidah pelaksanaan pembelajaran manejemen berbasis sekolah di SMK ... 77 Lampiran 3. Tabel wawancara mahasiswa Pendidikan Teknik

Sipil/Bangunan tentang kesesuaian pelaksanaan pembelajaran di Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan dengan kaidah pelaksanaan pembelajaran manejemen berbasis sekolah di SMK ... 89 Lampiran 4. Tabel wawancara dosen konsentrasi bangunan gedung

PTS/B, dosen konsentrasi Gambar Bangunan PTS/B dan dosen Laboratorium PTS/B tentang kesesuaian penilaian pembelajaran di Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan dengan kaidah penilaian pembelajaran menejemen berbasis sekolah di SMK ... 94 Lampiran 5. Inventaris Laboratoriun Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan

FKIP UNS... 97 Lampiran 6. Surat Perijinan ... 108

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menyongsong era globalisasi, berbagai upaya dilakukan untuk menyiapkan/menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Upaya yang dilakukan adalah mengkaji kurikulum, tenaga pengajar, metode pembelajaran yang dipergunakan, sarana dan prasarana yang dipergunakan oleh lembaga atau penyelenggara pendidikan, sehingga menghasilkan lulusan berkualitas dan kompetitif. Perubahan kurikulum yang terjadi dewasa ini merupakan, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik, disamping pengembangan model/sistem penilaian performansi yang berhubungan dengan hasil belajar siswa.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Tujuan yang hendak dicapai meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh karena itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program dengan kebutuhan dan potensi di masing- masing daerah.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan yang disusun oleh BSNP terutama yang berkaitan dengan Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional terdiri atas standar isi,

(16)

pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Undang-undang nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tahun 2003 dan peraturan pemerintah RI nomor 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu pada SI dan SKL. Kegiatan penyelenggaraan pendidikan yang mengikuti SI dan SKL dalam KTSP adalah penilaian. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 pasal pasal 57 (ayat 2) menyatakan bahwa “Evaluasi (penilaian) dilakukan terhadap peserta didik, lembaga dan program pendidikan jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan dan jenis pendidikan”.

Pembelajaran di sekolah merupakan aplikasi pelaksanaan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan, yaitu terjadinya perubahan prilaku peserta didik ke arah positip. Sehingga diharapkan mulai dari prinsip pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai penilaian pembelajaran harus perfect. Guna mengetahui tercapai tidaknya suatu tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum, maka dalam kegiatan pembelajaran diperlukan suatu alat ukur. Dalam pembelajaran alat ukur berfungsi sebagai alat untuk membantu mengungkap kemampuan-kemampuan laten yang berada dalam diri peserta didik. Hasil pengukuran merupakan input yang memberikan gambaran mengenai kemampuan peserta didik dan berfungsi sebagai indikator keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Sesuai misi Pendidikan Teknik dan Kejuruan Program Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai tenaga kependidikan (guru) dan teknisi di bidang struktur dan gambar bangunan yang siap berkembang ke arah profesional, mempunyai daya saing, dan mempunyai sikap mandiri.

Maka, pembelajaran sekarang ini harus ada peningkatan kualitas. Karena dirasa pembelajaran di PTS/B kurang menyesuaikan standar pembelajaran KTSP yang dilakukan SMK mulai prinsip pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai penilaian pembelajarannya.

(17)

Dari latar belakang tersebut penulis memberi judul skripsi : Manajemen Pembelajaran Berbasis SMK (Studi Kasus Pembelajaran di Program Studi Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta).

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dalam latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Apakah prinsip pembelajaran di PTS/B sesuai dengan kaidah prinsip pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK?

2. Apakah pelaksanaan pembelajaran di PTS/B sesuai dengan kaidah pelaksanaan pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK?

3. Apakah penilaian pembelajaran di PTS/B sesuai dengan kaidah penilaiaan pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK?

C. Pembatasan Masalah

Agar permasalahan dan pembahasannya tidak meluas dan lebih mengarah pada tujuan penelitian, maka diberi batasan sebagai berikut:

1. Kaidah prinsip pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran berdasarkan KTSP.

2. Pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran konsentrasi Gambar Bangunan dan Struktur Bangunan di PTS/B UNS.

3. Pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di kelas dan di laboratorium PTS/B UNS.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kesesuaian prinsip pembelajaran di PTS/B dengan kaidah prinsip pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK?

(18)

3. Bagaimana kesesuaian penilaian pembelajaran di PTS/B dengan kaidah penilaian pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK?

E. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui kesesuaian prinsip pembelajaran di PTS/B dengan kaidah prinsip pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK.

2. Mengetahui kesesuaian pelaksanaan pembelajaran di PTS/B dengan kaidah pelaksanaan pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK.

3. Mengetahui kesesuaian penilaian pembelajaran di PTS/B dengan kaidah penilaian pembelajaran Manajemen Berbasis Sekolah di SMK.

F. Manfaat Penulisan

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis maupun praktis.

1. Manfaat Teoritis

a. Memberikan informasi kepada Kepala Program dan dosen PTS/B mengenai kesesuaian prinsip pembelajaran di PTS/B, dengan kaidah prinsip pembelajaran berdasarkan Manajemen Berbasis Sekolah di SMK.

b. Memberikan informasi kepada Kepala Program dan dosen PTS/B mengenai kesesuaian pelaksanaan pembelajaran di PTS/B, dengan kaidah pelaksanaan pembelajaran berdasarkan Manajemen Berbasis Sekolah di SMK.

c. Memberikan informasi kepada Kepala Program dan dosen PTS/B mengenai kesesuaian penilaian pembelajaran di PTS/B, dengan kaidah penilaian pembelajaran berdasarkan Manajemen Berbasis Sekolah di SMK.

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai laporan kondisi pembelajaran kepada Kepala Program PTS/B UNS.

b. Sebagai pedoman dasar perbaikan kualitas pembelajaran di PTS/B UNS.

(19)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Manajement Sekolah a. Pengertian Manajemen Sekolah

T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa: “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.

Secara khusus dalam konteks pendidikan, Djam’an Satori (1980) memberikan pengertian manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang diartikan sebagai “Keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien”.

Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “Administrasi pendidikan sebagai rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan formal”.

Dari pengertian di atas, dapat ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa :

1) Manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan.

2) Manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya.

3) Manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.

b. Fungsi Manajemen

Fungsi-fungsi manajemen pendidikan dalam perspektif persekolahan,

(20)

1) Perencanaan (planning)

Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz (1984) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective.

(Perencanaan dapat didefinisikan sebagai proses di mana manajer menetapkan tujuan, ases masa depan, dan mengembangkan tindakan yang dirancang untuk mencapai tujuan tersebut)

Sedangkan T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa:

“Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini”.

Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin.

T. Hani Handoko (1995) mengemukakan sembilan manfaat perencanaan yaitu:

a) Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan lingkungan.

b) Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama.

c) Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran.

d) Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat.

e) Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi.

f) Memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi.

g) Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami.

h) Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti.

i) Menghemat waktu, usaha dan dana.

Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan, yaitu :

a) Penentuan tujuan

(21)

b) Pendefinisian gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya modal.

c) Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas.

Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu :

a) Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan b) Merumuskan keadaan saat ini

c) Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan

d) Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Perencanaan strategik akhir-akhir ini menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan lingkungan yang sangat pesat dan sangat sulit diprediksikan, seperti perkembangan teknologi yang sangat pesat, pekerjaan manajerial yang semakin kompleks, dan percepatan perubahan lingkungan eksternal lainnya.

2) Pengorganisasian (organizing)

George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa: “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”.

3) Pelaksanaan (actuating)

George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa: “Actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut”.

(22)

4) Pengawasan (controlling)

T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa :

“Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan–tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan”.

2. Pembelajaran a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotor peserta didik.

(23)

b. Prinsip Pelaksanaan KTSP

Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd (2006 : 247) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sebagai berikut :

1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu : a) Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME.

b) Belajar untuk memahami dan menghayati.

c) Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif.

d) Belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain.

e) Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran efektif, aktif, kratif dan menyenangkan.

3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapatkan pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap pengembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan keindividuan, kesosialan, dan moral.

4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka dan hangat, dengan prinsip tutwuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan).

5) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam kesimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan

7) Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri, diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan

Ketujuh prinsip diatas harus diperhatikan oleh pelaksana kurikulum (guru) dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, baik menyangkut perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

(24)

Permendiknas, No.22 Tahun 2006 dikutip oleh Dr. E. Mulyasa M.Pd (2006:151) Prinsip pengembangan KTSP sebagai berikut :

1) Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan peserta didik dan lingkungannya

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.

2) Beragam dan terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.

3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

4) Relevan dengan kebutuhan

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan dan memperhatikan pengembangan integritas pribadi, kecerdasan spiritual, keterampilan berpikir (thinking skill), kreatifitas sosial, kemampuan akademik, dan keterampilan vokasional.

5) Menyeluruh dan berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.

6) Belajar sepanjang hayat

Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, informal dan nonformal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

(25)

7) Seimbang antara kepentingan global, nasional dan lokal

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan global, nasional dan lokal untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan global, nasional, dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan perkembangan era globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

c. Pelaksanaan Pembelajaran

Menurut Dr. E. Mulyasa M.Pd (2006 : 255) Pelaksanaan Pembelajaran berbasis KTSP mencakup tiga hal, antara lain :

1) Pre Tes (Tes Awal)

Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pre tes. Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajagi proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Oleh itu pre tes memegang peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran. Fungsi pre tes ini antara lain:

a) Untuk menyiapkan peserta didik dalam proses belajar, karena dengan pre tes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang harus mereka kerjakan.

b) Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pre tes dengan post tes.

c) Untuk mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki peserta didik mengenai kompetensi dasar yang akan dijadikan topik dalam proses pembelajaran.

d) Untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai, kompetensi dasar mana yang telah dikuasai peserta didik, serta kompetensi dasar mana yang perlu mendapatkan penekanan dan perhatian khusus.

(26)

Untuk mencapai fungsi yang ketiga dan keempat maka hasil pre tes harus segera diperiksa, sebelum pelaksanaan proses pembelajaran inti dilaksanakan. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara cepat dan cermat, jangan sampai mengganggu suasana belajar, dan jangan sampai mengalihkan perhatian peserta didik. Untuk itu, pada waktu guru memeriksa pre test, peserta didik perlu diberikan kegiatan lain, misalnya membaca hand out, atau text books. Dalam hal ini pre test sebaiknya dilaksanakan secara lisan atau perbuatan.

2) Pembentukan Kompetensi

Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada peserta didik, dan bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan. Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.

Kualitas pembentukan kompetensi dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembentukan kompetensi dikatakan berhasil dan berkualitas aapabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembentukan kompetensi dasar, disamping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembentukan kompetensi dapat dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) sesuai dengan kompetensi dasar. Lebih lanjut proses pembentukan kompetensi dapat dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat dan pembangunan.

(27)

Untuk memenuhi tuntutan tersebut diatas perlu dikembangkan pengalaman belajar yang kondusif untuk membentuk manusia yang berkualitas tinggi, baik mental, moral maupun fisik. Hal ini berarti kalau kompetensinya bersifat afektif psikomotorik, tidak cukup diajarkan dengan ceramah, atau sumber yang mengandung nilai kognitif. Namun perlu penghayatan yang disertai pengalaman nilai-nilai konatif, afektif, yang dimanifestasikan dalam perilaku (beharvioral skill) sehari-hari. Metode dan strategi belajar mengajar yang kondusif untuk hal tersebut perlu dikembangkan, misalnya metode inquiry, discovery, problem solving, dan sebagainya. Dengan metode dan strategi tersebut diharapkan setiap peserta didik dapat mengembangkan kompetensi dasar dan potensinya secara optimal, sehngga akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat apabila mereka telah melakukan suatu program pendidikan pada satuan pendidikan tertentu.

Hal-hal yang berkaitan dalam proses pembelajaran antara lain:

a) Persiapan Pengajaran

Persiapan mengajar pada hakekatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan tentang apa yang dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran, terutama berkaitan dengan pembentukan kompetensi. Dalam mengembangkan persiapan mengajar, terlebih dahulu harus menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar.

Kemampuan membuat persiapan mengajar merupakan langkah awal yang harus dimiliki guru dan sebagai muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pembelajaran.

Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang akan

(28)

didik telah menguasai kompetensi tertentu. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap persiapan mengajar sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik.

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan persiapan mengajar, diantaranya :

(1) Kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas, makin konkrit kompetensi makin mudah diamati, dan makin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.

(2) Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.

(3) Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

(4) Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh serta jelas pencapaiannya.

(5) Harus ada koordinasi antarkomponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksakan secara tim (team teaching) atau moving class.

Dr. E. Mulyasa M.Pd (2003) menyebutkan bahwa guru profesional harus mampu mengembangkan persiapan mengajar yang baik, logis dan sistematis, karena disamping untuk kepentingan pelaksanaan pembelajaran, persiapan mengajar merupakan bentuk dari “profesional accoutability”.

Dengan mengutip pemikiran Cythia, Dr. E. Mulyasa M.Pd (2003) mengemukakan bahwa persiapan mengajar akan membantu guru dalam mengorganisasikan materi standar, serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran.

(29)

b) Pengembangan Silabus

Istilah silabus didefinisikan sebagai "Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran" (Salim, 1987: 98).

Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standard kopetensi dan kopetensi dasar yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standard kopetensi dan kopetensi dasar.

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standard kopetensi, kopetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

Prinsip pengembangan silabus : (1) Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Di samping itu, strategi pembelajaran yang dirancang dalam silabus perlu memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori belajar.

(2) Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Prinsip ini mendasari pengembangan silabus, baik dalam pemilihan materi pembelajaran, strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penetapan waktu, strategi penilaian maupun dalam mempertimbangkan kebutuhan media dan alat pembelajaran. Kesesuaian antara isi dan pendekatan pembelajaran yang tercermin dalam materi pembelajaran

(30)

(3) Sistematis

Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. SK dan KD merupakan acuan utama dalam pengembangan silabus. Dari kedua komponen ini, ditentukan indikator pencapaian, dipilih materi pembelajaran yang diperlukan, strategi pembelajaran yang sesuai, kebutuhan waktu dan media, serta teknik dan instrumen penilaian yang tepat untuk mengetahui pencapaian kompetensi tersebut.

(4) Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara KD, indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, serta teknik dan instrumen penilaian. Dengan prinsip konsistensi ini, pemilihan materi pembelajaran, penetapan strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan sumber dan media pembelajaran, serta penetapan teknik dan penyusunan instrumen penilaian semata-mata diarahkan pada pencapaian KD dalam rangka pencapaian SK.

(5) Memadai

Cakupan indikator, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian KD. Dengan prinsip ini, maka tuntutan kompetensi harus dapat terpenuhi dengan pengembangan materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan. Sebagai contoh, jika SK dan KD menuntut kemampuan menganalisis suatu obyek belajar, maka indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan teknik serta instrumen penilaian harus secara memadai mendukung kemampuan untuk menganalisis.

(31)

(6) Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi. Banyak fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan dapat mendukung kemudahan dalam menguasai kompetensi perlu dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran. Di samping itu, penggunaan media dan sumber belajar berbasis teknologi informasi, seperti komputer dan internet perlu dioptimalkan, tidak hanya untuk pencapaian kompetensi, melainkan juga untuk menanamkan kebiasaan mencari informasi yang lebih luas kepada peserta didik.

(7) Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas silabus ini memungkinkan pengembangan dan penyesuaian silabus dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

(8) Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor. Prinsip ini hendaknya dipertimbangkan, baik dalam mengembangkan materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, maupun penilaiannya. Kegiatan pembelajaran dalam silabus perlu dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik memiliki keleluasaan untuk mengembangkan kemampuannya, bukan hanya kemampuan kognitif saja, melainkan juga dapat mempertajam

(32)

c) Strategi Pembelajaran

Strategi adalah ilmu dan kiat guru untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Conny R.Setiawan dan T. Jaka Roni, 1993 : 55).

Seorang guru yang akan mengajar, harus menentukan strategi yang dipilihnya sebelum strategi tersebut dikembangkan dalam satuan pengajaran. Dengan memilih strategi tertentu, berarti guru menguasai model belajar yang dipilihnya, mengetahui kekuatan dan kelemahannya, supaya dapat digunakan sesuai tujuan yang dicapai.

Ada beberapa dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan stategi belajar-mengajar, dengan maksud agar dapat dipilih strategi yang tepat dan dapat digunakan secara efektif.

T. Jaka Roni (1980) menyebutkan beberapa dasar mengklasifikasikan strategi belajar-mengajar :

i. Pengaturan guru dan murid

ii. Struktur peristiwa belajar-mengajar, yang bersifat tertutup dan terbuka

iii. Peranan guru-murid di dalam mengolah pesan iv. Proses berpikir deduktif dan induktif

v. Pengelompokan berdasarkan kondisi belajar yang sesuai dengan tujuan belajar yang akan dicapai

d) Prosedur Pembelajaran i. Pendahuluan

Udin S. Winataputra, dkk. (2003) mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan pendahuluan, yaitu :

Menciptakan kondisi awal pembelajaran, meliputi: membina keakraban, menciptakan kesiapan belajar peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang demokratis.

Apersepsi/pre test, meliputi : kegiatan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi sebelumnya, memberikan komentar atas jawaban yang diberikan peserta didik dan membangkitkan motivasi dan perhatian peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

Sementara itu, Depdiknas (2003) mengemukakan bahwa dalam kegiatan pendahuluan, perlu dilakukan pemanasan dan apersepsi,

(33)

yang diketahui dan dipahami peserta didik; (b) Motivasi peserta didik ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik; dan (c) Peserta didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang baru.

ii. Kegiatan Inti

Udin S. Winataputra, dkk. (2003) mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan inti, yaitu:

Menyampaikan tujuan yang ingin dicapai, baik secara lisan maupun tulisan.

Menyampaikan alternatif kegiatan belajar yang akan ditempuh Membahas Materi

Depdiknas (2003) membagi kegiatan inti ke dalam tiga tahap kegiatan yaitu:

Kegiatan eksplorasi merupakan usaha memperoleh atau mencari informasi baru. Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan eksplorasi, yaitu: (a) Memperkenalkan materi/keterampilan baru; (b) Mengaitkan materi dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik; (c) Mencari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaaan peserta didik akan materi baru tersebut.

Konsolidasi merupakan negosiasi dalam rangka mencapai pengetahuan baru. Dalam kegiatan konsolidasi pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah : (a) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajar baru;

(b) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam pemecahan masalah; (c) Meletakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi pelajaran yang baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam lingkungan; dan (d) Mencari metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik.

Pembentukan sikap dan perilaku merupakan pemprosesan pengetahuan menjadi nilai, sikap dan perilaku. Yang perlu diperhatikan dalam pembentukan sikap dan perilaku, adalah : (a) Peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari; (b) Peserta didik membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari;

dan (c) Cari metodologi yang paling tepat agar terjadi perubahan

(34)

iii. Kegiatan Akhir Dan Tindak Lanjut Pembelajaran

Udin S. Winataputra, dkk. (2003) mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran , yaitu :

Penilaian akhir

Analisis hasil penilaian akhir Tindak lanjut

Mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang;

Menutup kegiatan pembelajaran.

Sementara itu, Depdiknas (2003) mengemukakan dalam kegiatan akhir perlu dilakukan penilaian formatif, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

Mengembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik

Menggunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru

Mencari metodologi yang paling tepat yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai

e) Pengembangan Bahan Ajar

Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.

f) Model Pembelajaran Afektif

Pembelajaran afektif berbeda dengan pembelajaran intelektual dan keterampilan, karena segi afektif sangat bersifat subjektif, lebih mudah berubah, dan tidak ada materi khusus yang harus dipelajari. Ada beberapa model pembelajaran afektif. Merujuk pada pemikiran Nana Syaodih Sukmadinata (2005) sebagai berikut:

i. Model Konsiderasi

Manusia seringkali bersifat egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan, dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Melalui penggunaan model konsiderasi (consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli,

(35)

lebih memperhatikan orang lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan orang lain.

Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2005) :

Menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung konsiderasi, Meminta siswa menganalisis situasi untuk menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain,

Siswa menuliskan responsnya masing-masing, Siswa menganalisis respons siswa lain,

Mengajak siswa melihat konsekuesi dari tiap tindakannya, Meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.

ii. Model Pembentukan Rasional

Dalam kehidupannya, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi segala aktivitasnya. Nilai-nilai ini ada yang tersembunyi, dan ada pula yang dapat dinyatakan secara eksplisit. Nilai juga bersifat multidimensional, ada yang relatif dan ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational building model) bertujuan mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai.

Langkah-langkah pembelajaran rasional menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2005):

Menigidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atau penyimpangan tindakan,

Menghimpun informasi tambahan,

Menganalisis situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atau ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam masyarakat,

Mencari alternatif tindakan dengan memikirkan akibat-akibatnya, Mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau ketentuan- ketentuan legal dalam masyarakat.

iii. Klarifikasi Nilai

Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung, disadari atau tidak. Klarifikasi nilai (value clarification model) merupakan pendekatan mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau

(36)

model ini bertujuan, agar para siswa menyadari nilai-nilai yang mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki keterampilan proses menilai.

Langkah-langkah pembelajaran klasifikasi nilai menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2005) :

Pemilihan: para siswa mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah alternatif tindakan mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya,

Menghargai pemilihan: siswa menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya,

Berbuat: siswa melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal lainnya.

iv. Pengembangan Moral Kognitif

Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau reorganisasi kognitif, yang berlangsung secara berangsur melalui tahap pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampuan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif.

Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2005) :

Menghadapkan siswa pada suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai,

Siswa diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu,

Siswa diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan kejelekannya,

Siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik, Siswa menerapkan tindakan dalam segi lain.

v. Model Nondirektif

Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri. Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif. Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Penggunaan model ini bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya.

(37)

Langkah-langkah pembelajaran nondirekif menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2005) :

Menciptakan sesuatu yang permisif melalui ekspresi bebas,

Pengungkapan siswa mengemukakan perasaan, pemikiran dan masalah- masalah yang dihadapinya, guru menerima dan memberikan klarifikasi, Pengembangan pemahaman (insight), siswa mendiskusikan masalah, guru memberikan dorongan,

Perencanaan dan penentuan keputusan, siswa merencanakan dan menentukan keputusan, guru memberikan klarifikasi,

Integrasi, siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan positif.

g) Media Pembelajaran

Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.

National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.

Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :

i. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong,

(38)

Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.

ii. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) Obyek terlalu besar; (b) Obyek terlalu kecil; (c) Obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) Obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) Obyek yang terlalu kompleks; (f) Obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) Obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.

iii. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.

iv. Media menghasilkan keseragaman pengamatan.

v. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.

vi. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.

vii. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.

viii. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak

Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya :

i. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik ii. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan

sejenisnya

iii. Projected still media : slide, over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya

iv. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

v.

(39)

h) Sumber Belajar Untuk Mengefektifkan Pembelajaran Siswa

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.

Fungsi sumber belajar :

i. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) Mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.

ii. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) Mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional;

dan (b) Memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.

iii. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) Perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) Pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.

iv. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) Meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) Penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.

v. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) Mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) Memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.

vi. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.

(40)

Secara garis besarnya, terdapat dua jenis sumber belajar yaitu:

i. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.

ii. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran

i) Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas adalah upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), di dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.

Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu i. Masalah Individual :

Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).

Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).

Helplessness (peragaan ketidakmampuan).

ii. Masalah Kelompok :

Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya.

Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati

(41)

Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya.

“Membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok.

Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.

Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan keadaan baru.

j) Team Teaching

Ahmadi dan Prasetya (2005) menyatakan bahwa Team teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan bersama oleh beberapa orang. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa.

Pelaksanaan belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode ceramah atau bersama-sama dengan metode diskusi panel.

3) Post Test

Pada umumnya pelaksanaan pembelajaran dilakhiri dengan post tes.

Sama halnya dengan pre tes, post tes juga memiliki banyak kegunaan, terutama dalam melihat keberhasilan pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Menurut Dr. E. Mulyasa, M.Pd (2006 : 258) Fungsi post test adalah :

a) Untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, baik secara individu maupun kelompok. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan hasil pre test dan post test.

b) Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasainya. Sehubungan dengan kompetensi dan tujuan yang belum

(42)

c) Untuk mengetahui peserta didik yang belum mengikuti kegiatan remedial, dan yang perlu mengikuti kegiatan pengayaan, serta untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar yang dihadapi.

d) Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi

d. Penilaian Hasil Belajar

Penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan : 1) Penilaian Kelas

Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum dan ujian akhir. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam kompetensi dasar tertentu. Ulangan harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab para peserta didik, dan tugas- tuga terstruktur yang berkaitan dengan konsep yang sedang dibahas.

Ulangan harian minimal dilakukan tiga kali dalam setiap semester.

Ulangan harian ini terutama ditujukan terutama untuk memperbaiki program pembelajaran, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan untuk tujuan-tujuan lain, misalkan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nilai bagi para peserta didik.

Ulangan umum dilaksanakan setiap akhir semester, dengan bahan yang diujikan sebagai berikut:

a) Ulangan umum semester pertama soalnya diambil dari materi semester pertama.

b) Ulangan umum semester kedua soalnya merupakan gabungan dari materi semester pertama dan kedua, dengan penekanan pada materi semester kedua.

Ulangan umum dilaksanakan secara bersama untuk kelas-kelas pararel, dan pada umumnya dilakukan ulangan umum bersama, baik tingkat rayon, kecamatan, kodya/kabupaten maupun provinsi. Hal ini dilakukan terutama dimaksudkan untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidikan dan untuk menjaga keakuratan soal-soal yang disajikan.

Disamping untuk menghemat tenaga dan biaya, pengembangan soal bias

(43)

dilakukan oleh bang soal, dan bias digunakan secara berulang-ulang selama soal tersebut masih layak digunakan.

Ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan. Bahan- bahan yang diujikan meliputi seluruh kompetensi dasar yang telah diberikan, dengan penekanan pada kompetensi dasar yang dibahas pada kelas-kelas tinggi. Hasil evaluasi ujian akhir ini terutama digunakan untuk menentukan kelulusan bagi setiap peserta didik, dan layak tidaknya untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat atasnya.

Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran, dan penentuan kenaikan kelas.

2) Tes Kemampuan Dasar

Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program remedial). Tes kemampuan dasar dilakukan pada setiap tahun akhir kelas III.

3) Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi

Pada setiap akhir semester dan ahun pembelajaran diselenggarakan kegiatan penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar tidak semata-mata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang sekolah.

4) Benchmarking

Benchmarking merupakan standard untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses dan hasil untuk mencapi suatu keunggulan yang

(44)

sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan keuletannya.

Untuk dapat memperoleh data dan informasi tentang pencapaian benchmarking tertentu dapat diadakan penilaian secara nasional yang dilaksanakan pada akhir satuan pendidikan. Hasil penilaian tersebut dapat dipakai untuk melihat keberhasilan kurikulum dan pendidikan secara keseluruhan, dan dapat digunakan untuk memberikan peringkat kelas, tetapi tidak untuk memberikan nilai akhir peserta didik. Hal ini dimaksudkan sebahai salah satu dasar untuk pembinaan guru dan kinerja sekolah.

5) Penilaian Program

Penilaian program dilakukan oleh Departement Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinu dan berkesinambngan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian KTSP dengan dasar, fungsi dan tujuan pendidkan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyarakat dan kemajuan jaman.

6) Teknik Penilaian

Permendiknas No. 22 tahun 2006 menyatakan bahwa Standar Isi (SI) untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Di dalam SI dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran dalam KTSP meliputi tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.

Tatap muka adalah pertemuan formal antara pendidik dan peserta didik dalam pembelajaran di kelas. Penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standard kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik, sedangkan waktu penyelesaian kegiatan mandiri

(45)

tidak terstruktur diatur sendiri oleh peserta didik. Sejalan dengan ketentuan tersebut, penilaian dalam KTSP harus dirancang untuk dapat mengukur dan memberikan informasi mengenai pencapaian kompetensi peserta didik yang diperoleh melalui kegiatan tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.

B. Kerangka Berfikir

Dari uraian diatas dapat dilihat lebih jelasnya dalam kerangka berfikir dibawah ini :

Gambar 1 : Kerangka pemikiran Analisis Kaidah Pembelajaran

KTSP di SMK (Prinsip, Pelaksanaan,

Penilaian KTSP)

Pembelajaran di PTS/B (Prinsip, Pelaksanaan,

Penilaian)

Kesimpulan

(46)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian

Dalam melakukan penelitian / research diperlukan suatu tempat penelitian untuk memperoleh data-data yang mendukung tercapainya tujuan penelitian.

Adapun yang menjadi tempat penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di PTS/B UNS dengan alasan sebagai berikut:

a. Di PTS/B UNS terdapat data yang dibutuhkan dan relevan dengan permasalahan yang diteliti.

b. Penulis ingin menyumbangkan informasi yang bermanfaat untuk kemajuan PTS/B UNS.

c. Tempat dekat dengan domisili peneliti sehingga mudah dijangkau.

2. Waktu Penelitian

2008-2010

2008 2009 2010

5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1

Pengajuan judul

Pra proposal

Proposal

Seminar Proposal

Revisi Proposal

Perijinan penelitian

Pelaksanaan Analisi data Penyusunan laporan

Ujian dan Revisi

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Teknik Bangunan pada Departemen Pendidikan Teknik Sipil. Fakultas Pendidikan

Minat Berwirausaha Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI. Universitas Pendidikan Indonesia |

Mahasiswa dengan Dosen terhadap Hasil Belajar Mahasiswa pada Mata. Kuliah RAB Jurusan Pendidikan Teknik Sipil FPTK

Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik - UNDIP Mahasiswa S1 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik - UNDIP Dosen Pembimbing Utama Jurusan Teknik Sipil, Fakultas

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Teknik Bangunan pada Departemen Pendidikan Teknik Sipil. Fakultas Pendidikan

Dalam tahap ini dosen atau peneliti menyiapkan silabus, SAP Dan GBPP, Menyiapkan media atau sumber pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan

Diharapkan metode ini dapat diajarkan kepada mahasiswa program diploma III politeknik jurusan Teknik Sipil khususnya bidang kosentrasi bangunan air, sehingga dapat

Abdul Azis Rahmansyah, Copyright ©2021, MIB, Page 1076 Alur Ujian Semester Secara Online Prodi Pendidikan Dosen Sistem Mahasiswa Mulai Menyiapkan Jadwal Ujian Membuat Surat