doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
418
DAMPAK NEGATIF MEDIA SOSIAL YOUTUBE TERHADAP PERILAKU PESERTA DIDIK
MADE SAIHU Institut PTIQ Jakarta Email: [email protected]
ABSTRACT
This research was conducted because it saw the many negative impacts caused by YouTube social media. Basically, innovation and creation were created to make it easier for humans to carry out their daily activities. However, if this is done in a way that is not wise, then slowly the goal will not be achieved, instead it will have an adverse impact on its users. The purpose of this study was to determine the negative impact of YouTube social media on students. This research is classified as a case study research with qualitative descriptive analysis techniques by collecting data or materials related to the theme of the discussion and the problems taken from the sources found in the research location. The negative impacts of YouTube social media include: First, the decline in student enthusiasm for learning. The two are fighting with friends. The third said no good. The four interrupt in class
Keywords: Social Media, Behavior, YouTube
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan karena melihat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari media sosial YouTube. Pada dasarnya, inovasi dan kreasi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam menjalani kegiatan sehari-harinya. Akan tetapi, apabila hal tersebut dilakukan dengan cara yang tidak bijak, maka secara perlahan tujuan tersebut tidak akan dicapai, malah justru akan menyebabkan dampak yang tidak baik bagi para pengguna nya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan dari media sosial YouTube terhadap siswa. Penelitian ini tergolong penelitian Studi Kasus dengan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan cara mengumpulkan data atau bahan-bahan yang berkaitan dengan tema pembahasan dan permasalahan yang diambil dari sumber-sumber yang ditemukan di lokasi penelitian. Dampak negatif yang ditimbulkan dari media sosial YouTube adalah antara lain: Pertama menurunnya semangat siswa dalam belajar. Kedua berkelahi dengan teman. Ketiga berkata tidak baik. Keempat mengganggu di kelas.
Kata Kunci: Media Sosial, Perilaku, YouTube
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
419
A. PENDAHULUAN
Dampak kemajuan teknologi sudah mulai memasuki setiap sisi kehidupan manusia, mulai dari makanan, gaya hidup, kesenian, dan hobi tak luput dari dampak kemajuan teknologi. Lebih jauh lagi, pada masa ini sudah memasuki era industri 4.0 yang mana kemajuan era ini berdasarkan pada kemajuan teknologi.1 Dunia saat ini memasuki era Revolusi Industri 4.0. Peralihan abad ini (revolusi digital) ditandai perpaduan teknologi dan mengaburkan garis ruang fisik, digital, serta biologis. Era Revolusi Industri jilid 4.0 ini semakin sedikit aktivitas terikat secara fisik pada lokasi geografis. Sebab, semua kegiatan manusia terkonversi dari manual menuju digital.2
Era Industri 4.0 adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada era dimana terjadi perpaduan teknologi yang mengakibatkan dimensi fisik, biologis, dan digital sehingga membentuk suatu perpaduan yang sulit untuk dibedakan.3 Misalnya, dua orang dapat saling berbagi informasi secara langsung dengan bantuan digital tanpa harus berada pada tempat yang sama atau pada waktu yang bersamaan baik secara Psikis maupun biologis. Terjadinya digitalisasi informasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara massif di berbagai sektor kehidupan manusia, termasuk di dunia pendidikan, adalah tanda dimulainya era industri 4.0.4 Dampak dari fenomena ini telah menjalar di segala bidang kehidupan. Mulai industri, ekonomi, pendidikan, politik, dan sebagainya. Fenomena ini juga telah berhasil menggeser gaya hidup (life style) dan pola pikir (mindset) masyarakat dunia. Disruptive innovation secara sederhana dapat dimaknai sebagai fenomena terganggunya para pelaku industri lama (incumbent) oleh para pelaku industri baru akibat kemudahan teknologi informasi (media sosial).5
Terdapat beberapa media sosial yang banyak digunakan oleh remaja dan anak-anak dalam kesehariannya, diantaranya adalah YouTube. Aplikasi Youtube saat ini banyak digandrungi oleh kaum muda, tak terkecuali anak-anak. Perkembangan teknologi dan informasi memberikan banyak sekali dampak kepada para penggunanya baik secara langsung atau tidak langsung sehingga sangat perlu diperhatikan dan dijaga penggunaan nya. Ibarat sebilah pisau, apabila digunakan oleh orang yang bijak maka pisau itu akan memberikan banyak manfaat akan tetapi apabila digunakan oleh yang tidak bijak maka pisau itu akan menjadi masalah dan meyakiti banyak orang bahkan si pemilik pisau itu sendiri. Perlu pengalaman dan ilmu pengetahuan agar teknologi dan informasi dapat digunakan dengan tepat sekaligus bermanfaat. Memudahkan setiap orang bukan malah menyusahkan. Baik atau buruk dari jejaring sosial itu tergantung dari kemampuan seseorang mengatur dirinya. Jika tidak digunakan secara berlebihan tentu tidak akan merugikan penggunanya sendiri dan tentu saja para pengguna harus lebih berhati-hati dalam menggunakannya agar tidak menjadi korban kriminalitas
Beberapa dampak media sosial YouTube terhadap perilaku anak usia 7-13 tahun adalah banyaknya tindakan amoral bahkan menjurus ke kriminal. Lalu mengapa media sosial menarik bagi anak usia 7-13 tahun?. Tulisan ini bertujuan untuk melihat dan mendeskripsikan dampak dari tayangan YouTube serta pengaruhnya terhadap perilaku siswa di sekolah tahfidz plus Khoiru Ummah Karang Tengah.
1 Henry Praherdhiono dkk., Teori Dan Implementasi Teknologi Pendidikan: Era Belajar Abad 21 Dan Revolusi Industri 4.0 (Seribu Bintang, Jakarta: 2019). 18 - 21
2 Delipiter Lase, ―Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0,‖ Jurnal Sundermann, 2019, https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18.. 3
3 FORKOMSI FEB UGM, Revolusi Industri 4.0 (CV Jejak (Jejak Publisher), 2019), 136.
4 Hendra Suwardana, ―Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental,‖ JATI UNIK : Jurnal Ilmiah Teknik Dan Manajemen Industri 1, No. 1 (18 April 2018): 102, Https://Doi.Org/10.30737/Jatiunik.V1i2.117. 10
5 Sigit Priatmoko, ―Memperkuat Eksistensi Pendidikan Islam Di Era 4.0,‖ Ta’lim : Jurnal Studi Pendidikan Islam 1, no. 2 (30 Juli 2018): 221–39.
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
420 B. Kajian Teori
YouTube Sebagai Media Sosial
Secara terminologi media sosial tersusun dari dua kata, yakni media dan sosial.
Media diartikan sebagai alat, sedangkan kata sosial diartikan sebagai kenyataan sosial bahwa setiap individu melakukan aksi yang memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pada kenyataannya, media dan semua perangkat lunak merupakan alat sosial atau dalam makna lain dapat dikatakan bahwa keduanya merupakan produk dari proses sosial.6
Sedangkan menurut etimologi, Andreas Kaplan dan Michael Haenlein, mendefinisikan media sosial sebagai ―sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , sehingga memungkinkan penciptaan atau pertukaran konten oleh para pengguna nya‖.7 Berdasarkan penjelasan diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.8
YouTube adalah salah satu media sosial dengan situs web yang menyediakan berbagai macam video mulai dari video clip sampai film, serta video-video yang dibuat oleh pengguna YouTube itu sendiri. YouTube merupakan salah satu media sosial yang sangat populer pada saat ini baik di Indonesia bahkan dunia.9 Banyak orang yang menggunakan YouTube sebagai tempat untuk berkarya terutama untuk anak muda. Rata rata anak muda yang menggunakan YouTube sebagai tempat berkarya adalah dengan membuat video, dimulai dari video lucu-lucuan, romatis-romantisan atau sebagainya.
Orang-orang yang biasa menggunakan YouTube sebagai tempat berkarya mereka biasa di sebut YouTubers.10
Bukan hanya menjadi terkenal karena video yang mereka upload di YouTube.
Mereka juga dapat menambah penghasilan dari video mereka apabila video tersebut memiliki jumlah penonton yang banyak. Hal ini yang menjadi daya tarik bagi seseorang untuk terus berusaha membuat konten yang menarik agar semakin banyak orang yang menonton sehingga semakin besar pula uang yang mereka dapatkan dari situs jejaring sosial ini.11
Lebih dari itu, media sosial YouTube menyajikan berbagai macam informasi yang dapat memanjakan para pengguna nya hanya dengan satu ketukan saja. Informasi yang diberikan oleh media sosial ini sangatlah beragam, mulai dari informasi politik, sosial, budaya, ekonomi, hiburan, pendidikan dan berbagai macam sisi informasi lainnya yang diinginkan oleh penggunanya. Inilah yang menjadi daya tarik dari media sosial ini sekaligus perhatian bagi para pengguna nya supaya kemudahan mencari informasi tersebut tidak di salah gunakan dalam hal negatif.
Perilaku dalam Berbagai Pandangan
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan arti yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dalam pengertian umum perilaku adalah
6 Nurfitri, ―Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan.‖
7 Feri Sulianta, Keajaiban Sosial Media (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2015). 25
8 Sitti Nurhalimah dkk, Media Sosial Dan Masyarakat Pesisir : Refleksi Pemikiran Mahasiswa Bidikmisi (Yogyakarta: Deepublish, 2019). 27
9 Deny Setiawan, Rahasia Mendapat Dollar dari Youtube (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016).
10 Jefferly Helianthusonfri, Yuk Jadi Youtuber (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2018). 2
11 Jubilee Enterprise, Kitab YOUTUBER (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2018). 1
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
421
segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh manusia.12 Psikologi memandang bahwa perilaku manusia atau biasa disebut Human Behavior adalah sebuah reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks13. Setidaknya terdapat beberapa faktor penting dalam pembentukan perilaku manusia seperti hakikat stimulus itu sendiri, latar belakang pengalaman individu, motivasi, status kepribadian, dan sebagainya. Memang sikap individu memegang peranan dalam menentukan begaimanakah perilaku seseorang di lingkungannya. Pada gilirannya, lingkungan secara timbal balik akan mempengaruhi sikap dan perilaku. Perilaku juga diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya, reaksi yang dimaksud digolongkan menjadi dua, yakni: 1) Bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkrit); 2) Dalam bentuk aktif (dengan tindakan konkrit).14
Skinner, merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori ―S-O-R‖ atau Stimulus – Organisme – Respon.15 Robert Y. Kwick menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari.16. Menurut Heri Purwanto, perilaku adalah pandangan-pandangan atau perasaan yang disertai kecendrungan untuk bertindak sesuai sikap suatu objek. Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh Petty dan Cacioppo, bahwa perilaku adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya sendiri, obyek atau sebuah isu.17
Louis Thurstone, Rensis Likert dan Charles Osgood, berargumen bahwa perilaku adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Berarti sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Menurut Elton Mayo Studi Hawthorne di Western Electric Company, Chicago pada tahun 1927-1932 merupakan awal munculnya studi perilaku dalam organisasi Mayo seorang psikolog bersama Fritz Roetthlisberger dari Harvard University memandu penelitian tentang rancang ulang pekerjaan, perubahan panjang hari kerja dan waktu kerja dalam seminggu, pengenalan waktu istirahat, dan rencana upah individu dibandingkan dengan upah kelompok. Jadi tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kondisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah.
C. METODE
Penelitian ini bertujuan untuk mendapat gambaran dan informasi yang lebih jelas, lengkap, serta memungkinkan dan mudah bagi peneliti untuk melakukan penelitian observasi. Oleh karena itu, maka penulis menetapkan lokasi penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan. Dalam hal ini, lokasi penelitian terletak di Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Karang Tengah Tingkat Dasar. Penelitian ini dilakukan pada 25 Mei 2020 sampai dengan 20 Juli 2020.
12 Kris H. Timotius, Otak dan Perilaku (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2018). 2
13 Dr Irwan S. KM M.Kes, Kearifan Lokal Dalam Pencegahan Hiv/Aids Pada Remaja Beresiko Tinggi (Yogyakarta: Absolute Media, 2018). 20
14 Ns Alfeus Manuntung, Terapi Perilaku Kognitif Pada Pasien Hipertensi (Malang: Wineka Media, 2019). 2
15 Iffah Rosyiana, Innovative Behavior At Work: : Tinjauan Psikologi & Implementasi Di Organisasi (yog: Deepublish, 019). 25
16 Agus Pratomo Andi Widodo, Nizamia Learning Center 2018 (sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2018). 3
17 Alo Liliweri, Komunikasi Antar Personal (Jakarta: Prenada Media, 2017). 157
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
422 Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata. penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun rekayasa manusia.18 Adapun tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui bagaimana dampak negatif media sosial YouTube terhadap perilaku anak usia 7-13 tahun.
Teknik pengumpulan data pada tulisan ini menggunakan: teknik Observasi atau pengamatan yang dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.19 Observasi ini menggunakan observasi partisipasi, di mana peneliti terlibat langsung dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dalam observasi secara langsung ini, peneliti selain berlaku sebagai pengamat penuh yang dapat melakukan pengamatan terhadap gejala atau proses yang terjadi di dalam situasi yang sebenarnya yang langsung diamati oleh observer pada lokasi penelitian.
Selain itu juga menggunakan teknik wawancara atau percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan.20 Dalam hal ini, peneliti menggunakan wawancara terstruktur, di mana seorang pewawancara menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan untuk mencari jawaban atas hipotesis yang disusun dengan ketat.
Dalam melaksanakan teknik wawancara (interview), pewawancara harus mampu menciptakan hubungan yang baik sehingga informan bersedia bekerja sama, dan merasa bebas berbicara dan dapat memberikan informasi yang sebenarnya. Teknik wawancara yang peneliti gunakan adalah secara terstruktur (tertulis) yaitu dengan menyusun terlebih dahulu beberapa pertanyaan yang akan disampaikan kepada informan. Hal ini dimaksudkan agar pembicaraan dalam wawancara lebih terarah dan fokus pada tujuan yang dimaksud dan menghindari pembicaraan yang terlalu melebar. Selain itu juga digunakan sebagai patokan umum dan dapat dikembangkan peneliti melalui pertanyaan yang muncul ketika kegiatan wawancara berlangsung.
Keabsahan data dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan kriteria kredibilitas. Untuk mendapatkan data yang relevan, maka peneliti melakukan pengecekan keabsahan data hasil penelitian dengan cara: 1) Perpanjangan Pengamatan Peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Perpanjangan pengamatan peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti mengecek kembali apakah data yang telah diberikan selama ini setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data lain ternyata tidak benar, maka peneliti melakukan pengamatan lagi yang lebih luas dan mendalam sehingga diperoleh data yang pasti kebenarannya. Dalam penelitian ini peneliti melakukan perpanjangan pengamatan, dengan kembali lagi ke lapangan untuk memastikan apakah data yang telah penulis peroleh sudah benar atau masih ada yang salah; 2) Ketekunan pengamatan dengan cermat dan berkesinambungan.
Dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis. Meningkatkan ketekunan itu ibarat seseorang mengecek soal-soal,
18 Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan (Jakarta: Prenada Media, 2016). 328
19 Andra Tersiana, Metode Penelitian (Jakarta: Anak Hebat Indonesia, 2018). 94
20 Asrori dan Rusman, Classroom Action Research Pengembangan Kompetensi Guru (Banyumas: Pena Persada, 2020). 74
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
423
atau makalah yang telah dikerjakan, apakah ada yang salah atau tidak. Dengan
meningkatkan ketekunan itu, maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak.
.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Sebagai Lokus Penelitian
Sekolah Tahfid Plus Khoiru Umma Karang Tengah Tangerang berada di jl telaga III, blok B 9, no 286, komplek Ciledug Indah I, Pedurenan, Karang Tengah, Tangerang, Banten. Visi Misi Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Karang Tengah adalah menjadi representasi institusi pendidikan berbasis Akidah Islam yang terdepan dalam melahirkan generasi pemimpin pembangun peradaban mulia (Islam). Visi ini diturunkan dalam beberapa misi, antara lain: 1) Mendidik generasi Muslim menjadi generasi pemimpin pembangun peradaban mulia; 2) Menyiapkan para Guru menjadi teladan dan pendidik terbaik bagi anak didiknya; 3) Mengembalikan peran orang tua sebagai guru pertama dan utama dalam mendidik anak-anaknya serta mensinergikannya dengan peran sekolah; 4) Membangun sinergi dengan Pemerintah dan lembaga-lembaga Pendidikan Islam dalam melahirkan generasi pemimpin pembangun peradaban mulia; 5) Mensosialisasikan konsep pendidikan berbasis Akidah Islam di tengah-tengah masyarakat.
Struktur Organisasi Guru
Ketua Yayasan Indah Trisyana, S.km
Kepala Sekolah Rahmawati Dewi Oktaviani, S.Pi
Kurikukulum Eva Maryamah, S.Pd
Bendahara Yuli Kristiani, Amkeb
Administrasi Hendra andriyan
Kesiswaan Iib Asdori, S.T
Sarana dan prasarana Indra Janar
Anggota dewan guru Frisca Avicena, S.pd.I Khaerul Anwar, S.Pd Rima Damayanti Ruli
Adiyatma, S.E
Proses Pembentukan Perilaku
Proses pembentukan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, faktor-faktor tersebut antara lain: 1) Persepsi; 2) Motivasi;
3) Emosi; 4) Belajar.21 Perilaku manusia terjadi melalui suatu proses yang berurutan.
Penelitian Carl Rogers mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu: 1) Kesadaran; 2) Ketertarikan; 3) Evaluasi; 4) Percobaan; 5) Adaptasi.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng.22
21 Sunaryo, Psikologi (Jakarta: EGC, 2004). 6-8
22 Jhon Retei Alfri Sandi, Lembaga Adat Dan Hak-Hak Adat Masyarakat Dayak Dalam Pusaran Politik: Studi Kasus Kalimantan Tengah 2011-2016 (Tangerang: An1mage, 2019). 10
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
424 Dampak Negatif Media Sosial YouTube Terhadap Perilaku Siswa Pada Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Karang Tengah Tangerang.
1. Menurunnya semangat siswa dalam belajar.
Era globalisasi merupakan sebuah masa dimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang secara sangat pesan hingga saat ini, penyebaran informasi serta akses telekomunikasi maupun transportasi semakin lebih cepat dan mudah.23 Media sosial merupakan sebuah media online dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, dan berbagi apapun yang mereka inginkan. Hal ini memberikan dampak yang sangat besar dalam setiap aspek kehidupan tidak terkecuali pendidikan.
Masa anak–anak dan remaja adalah masa-masa yang paling penting bagi perkembangan hidup manusia24. Apabila selama proses perkembangan yang mereka terima itu merupakan sebuah proses yang baik, maka semakin baik pula perkembangan yang akan terjadi. Akan tetapi sebaliknya, apabila selama proses perkembangan tersebut yang diterima oleh anak adalah sesuatu yang buruk, baik berupa perkataan ataupun tontonan maka akan buruk pula perkembangan yang dilalui anak. Oleh karena itu, apapun stimulus yang diberikan, baik berupa perkataan atau tontonan yang diberikan dan diterima oleh anak-anak pada masa itu sudah seharusnya merupakan hal-hal yang terbaik.25 Jangan sampai hiburan di media sosial itu justru membuat anak-anak menjadi tidak baik. Apalagi kalau tontonan atau konten yang diperoleh mereka memang kurang mendidik.
Hal ini penyusun temukan dalam proses penelitian di lokasi penelitian. Penyusun menemukan fakta bahwa tingkat popularitas media sosial YouTube sangatlah tinggi.
Berdasarkan sample yang penyusun ambil, keseluruhan objek yang diteliti mengetahui media sosial YouTube dan pernah mengoperasikannya. Fakta ini penyusun dapatkan dalam poin pertanyaan ―apakah ananda mengetahui media sosial YouTube?‖. Melalui pertanyaan ini, penyusun menemukan fakta bahwa mereka sudah pernah menggunakan media sosial baik dengan izin orang tua mereka ataupun tidak dengan izin orang tua nya.26
Lebih lanjut penyusun mengadakan penelitian di lokasi penelitian mengenai respons yang siswa berikan ketika mereka akan menggunakan media sosial ini. Penyusun menemukan fakta bahwa sebanyak 44,7% siswa sangat tidak senang dan 55,3% sisanya merasa tidak senang dalam kategori wajar ketika mereka tidak diizinkan menggunakan media sosial YouTube. Bagi siswa yang merasa sangat tidak senang ketika mereka tidak diizinkan oleh orang tua nya untuk menggunakan media sosial ini, mereka terkadang menunjukkan perilaku yang tidak baik seperti marah dan tidak mau mendengarkan perkataan orang tua nya. Sedangkan bagi siswa yang masuk kedalam kategori wajar, terkadang mereka perlu diberikan stimulus yang menarik agar minat mereka terhadap pelajaran dapat semakin meningkat. 27
Dalam menggunakan media sosial ini, sangatlah diperlukan pendampingan oleh orang tua kepada siswa, agar apa yang mereka lihat bisa diatur dan di kontrol oleh orang tua. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Dewi Oktaviani, selaku kepala sekolah, Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Karang Tengah Tingkat dasar bahwa:
dalam dunia digital seperti sekarang ini, pertukaran informasi merupakan hal yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun dan kapan pun terutama dalam menggunakan media sosial.
23 Hamid Darmadi, Pengantar Pendidikan Era Globalisasi (Tangerang: An1mage, 2019). 235
24 gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. 26
25 Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak (Jakarta: EGC, 1995). 136
26 Observasi siswa melalui angket penelitian. Point pertanyaan nomor 1 dan 2
27 Observasi siswa melalui angket penelitian. Point pertanyaan nomor 3
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
425
Sehingga perlu diadakannya arahan yang tepat bagi siswa dalam menggunakan media sosial terutama YouTube yang sering mereka akses.28
Berdasarkan penelitian yang penyusun lakukan, sebanyak 55,3% siswa merasa sangat senang dan 44,7% lainnya merasa senang dalam kategori wajar ketika menggunakan media sosial YouTube. Bagi siswa yang merasa sangat senang, media sosial ini mempunyai berbagai sisi yang sangat menarik sehingga mereka merasa sangat senang dan nyaman berlama-lama dalam menggunakan media sosial ini. Sehinggas fokus dan minat mereka terhadap pelajaran atau tugas yang diberikan sekolah menjadi terabaikan dan tidak diselesaikan dengan baik.
Sedangkan bagi siswa yang merasa senang dalam kategori wajar, mereka masih dapat mengimbangi antara belajar dan bermain media sosial, sehingga mereka masih dapat fokus terhadap pelajaran dan merasa tidak masalah apabila kegiatan bermain media sosial mereka dihentikan sementara.29
Dengan berbagai konten yang ditawarkan, media sosial YouTube memanjakan para penggunanya sehingga bagi anak-anak, media sosial ini bagaikan dunia kedua nya yang penuh dengan hal-hal menarik, sehingga fokus mereka tertuju pada media sosial ini yang kemudian memberikan dampak negatif pada perilaku mereka. Tidak berhenti sampai disitu, pertukaran informasi yang cepat dan masif dapat menimbulkan terjadinya sebuah proses adopsi perilaku yang berasal dari konten yang mereka tonton.
Semangat dalam belajar sangat diperlukan, karena dengan semangat belajar yang tinggi siswa akan mampu mengikuti pembelajaran di dalam kelas dengan baik, efektif dan efisien sesuai dengan yang diinginkan oleh guru dan siswa. Selain itu, tingginya semangat siswa dalam belajar juga turut berpengaruh terhadap kemampuan berkonsentrasi selama berada di dalam kelas. Kemampuan berkonsentrasi sangatlah diperlukan, karena tanpa konsentrasi yang baik siswa akan sulit menerima pelajaran yang diberikan oleh guru.
Ketika siswa tidak memahami materi yang disampaikan maka akan muncul sebuah perasaan tidak percaya diri yang mengakibatkan semakin hilangnya semangat siswa dalam belajar.30
2. Berkelahi dengan Teman
Tingkat keberagaman konten yang tinggi menjadikan media sosial YouTube tidak membosankan bagi para penggunanya. Terdapat berbagai macam konten yang bisa diakses melalui media sosial ini, mulai dari kartun, video memasak, video tutorial, kecantikan dan lain sebagainya. Bagi sebagian anak-anak konten kartun atau super hero merupakan sebuah konten video yang sangat menarik perhatian. Hal ini disebabkan karena mereka dapat bermain peran bersama dengan teman nya sesuai dengan karakter film yang telah mereka setujui.
Masa kanak-kanak merupakan sebuah fase dimana mereka akan senang mencari tahu sesuatu yang menarik dalam persepsi mereka. Bermain peran sebagai seorang super hero merupakan sebuah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Selain dapat bermain bersama dengan teman, kegiatan ini pula menjadi sebuah ajang untuk menunjukkan kelebihan mereka didepan teman-temannya. Pada hakikatnya seorang anak akan senang apabila mendapatkan pujian dan sanjungan. seolah-olah dalam diri mereka ingin mengatakan ―sebaiknya anda menghargai saya \‖ atau ―sebaiknya anda menghormati keberadaan saya‖. Oleh karena itu, tak jarang pula mereka melakukan berbagai cara untuk
28 Wawancara, Dewi Oktaviani, kepala sekolah Sekolah Tahfidz Plus khoiru Ummah Karang Tengah tingkat Dasar.
29 Observasi siswa melalui angket penelitian. Point pertanyaan nomor 4
30 Hendra Surya, Menjadi Manusia Pembelajaran (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2009). 19
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
426 menjadi yang terbaik diantara teman-temannya bahkan tidak jarang pula mereka menyakiti teman nya baik secara langsung atau tidak langsung. Dengan membuka media sosial YouTube, mereka dapat mencari informasi mengenai karakter yang mereka inginkan.
Setelah mereka mendapatkan informasi yang mereka inginkan, maka tibalah waktunya untuk menunjukkan kehebatannya dalam memainkan peran tersebut. Sifat mereka yang terkadang ingin selalu menjadi yang terbaik menimbulkan sebuah respons terhadap perlakuan teman nya sehingga tidak jarang justru menyakiti teman nya dan akhirnya terjadilah sebuah perkelahian diantara mereka.
Hal ini penulis temukan selama melakukan penelitian di lokasi penelitian.
Mayoritas siswa yang berkelahi sering dipicu karena suatu alasan yang kecil seperti bercanda, memperebutkan sebuah karakter di dalam permainan dan lain sebagainya.
Penyusun menemukan sebuah fakta bahwa sebanyak 23 siswa atau 48,9% menyukai konten aksi yang di dalam nya sering menampilkan adegan berkelahi entah antara tokoh antagonis atau protagonis dalam sebuah cerita31. Tentu hal ini menjadi sebuah perhatian bagi guru dan siswa, karena banyak siswa yang menjadikan karakter di dalam kartun atau super hero yang sering mereka lihat sebagai contoh atau idola nya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka kurang memperhatikan norma dan peraturan yang berlaku baik ketika di sekolah ataupun di rumah.
Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Dewi Oktaviani bahwa:
―setiap manusia hakikatnya memang senang meniru sesuatu dari orang lain.
Karenanya Allah memberikan kita akal agar bisa menimbang-nimbang yang mana bisa tiru dan dijadika role model dalam menjalani kehidupan dan mana yang tidak layak untuk dijadikan role model. Ditambah lagi anak-anak itu sangat mudah sekali meniru apa yang dia lihat, masalahnya ketika anak-anak kita tidak pernah diarahkan untuk bisa menggunakan akalnya dalam menimbang apakah yang dia saksikan itu layak atau tidak untuk ditiru berdasarkan pertimbangan yang tepat‖32
Padahal bagi seorang muslim sudah terdapat contoh atau panutan yang sangat pantas untuk ditiru yaitu Nabi Muhammad SAW. Hal ini tertuang dalam Al-Qur‘an surat al-Ahzab ayat 21.
ٌةَنَسَح ٌة َوْسُأ ِ هاللَّ ِلوُس َر يِف ْمُكَل َناَك ْدَقَل
―Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu‖.
Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang mencontoh Rasulullah SAW dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya. Untuk itu Allah SWT memerintahkan manusia untuk mencontoh dan meneladani Nabi Muhammad SAW pada hari setiap aspek kehidupan baik dalam kesabaran, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran nya dalam menanti pertolongan dari Robb-nya. 33
Pertukaran informasi, seni dan budaya ini sangatlah berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Karena pengetahuan yang didapatkan oleh siswa dari berbagai macam sumber dapat mempengaruhi perilaku mereka. Karena dengan belajar perilaku seseorang akan berubah seiring dengan Persepsi atau Knowledge yang mereka dapatkan selama proses tersebut berlangsung. Berbagai macam konten yang dibuat oleh para konten kreator bertujuan agar menarik para calon penerima informasi atau Viewers. Semakin banyak jumlah Viewers yang didapat maka akan semakin terkenal pembuat konten tersebut. Hal ini yang mendasari para konten kreator terkadang tidak memperhatikan tingkat keamanan
31 Hasil observasi siswa melalui angket pada point pertanyaan no 7
32 Wawancara Dewi Oktaviani, Kepala sekolah Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Karang Tengah.
33 Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Niaga Swadaya, 2005). 461
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
427
demi Viral nya konten yang mereka buat. Bahkan tidak jarang pula mereka memasukan konten kekerasan ataupun adegan berbahaya tanpa memikirkan para Viewers nya.
Penulis mendapatkan fakta bahwa sebanyak 60% siswa yang sering menonton konten yang bersifat laga atau aksi mereka sering mempraktikkan nya di dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sengaja ataupun tidak. Fakta ini penyusun dapatkan melalui pertanyaan ―apakah ananda menyukai konten aksi atau super hero?‖. Persepsi yang mereka dapatkan dari hasil menonton film kesukaan mereka menjadi sebuah trial proses atau proses uji coba dalam keseharian mereka. Sehingga terkadang perilaku mereka menyerupai dengan apa yang mereka tonton.
3. Berkata yang Tidak Baik
Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan.
Bahasa merupakan anugerah dari Allah SWT, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam dan pencipta nya, serta mampu menempatkan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan budayanya.34
Tiap individu diharapkan dapat melakukan proses pertukaran informasi, ide dan perasaan, dengan tujuan terjadinya komunikasi dua arah yang sama-sama diharapkan baik oleh pemberi informasi atau yang menerima informasi sehingga komunikasi tersebut menjadi sebuah komunikasi yang efektif.35 Anak-anak lebih dapat mengerti apa yang dikatakan orang lain daripada mengutarakan pikiran dan perasaan mereka dengan kata- kata. Semakin matang organ-organ yang berkaitan dengan proses berbicara seperti alat bicara dan pertumbuhan atau perkembangan otak, anak semakin jelas dalam mengutarakan kemauan, pikiran maupun perasaannya melalui ucapan atau bahasa. Hal itu tidak lepas dari pengaruh lingkungan, terutama orang tua atau keluarga. Anak yang selalu mendapat motivasi positif akan terpacu untuk mengembangkan potensi bicaranya. Bagi anak yang sering mendapatkan stimulus yang kurang baik maka secara tidak langsung mereka menjadikan itu sebagai dasar dari perilaku mereka. Apa yang mereka ucapkan adalah hasil dari apa yang mereka dengar. Semakin beragam bahasa yang didengar, maka semakin beragam pula bahasa yang akan keluar dari lisan mereka. Oleh karena itu peran orang dewasa sangat diperlukan bagi mereka.36
Berbagai macam fenomena yang terjadi di dunia menjadi daya tarik bagi setiap orang di tengah era globalisasi pada saat ini. Terlebih lagi di dukung dengan pesat nya perkembangan media sosial sehingga berbagai macam jenis informasi dapat diterima oleh setiap kalangan. Penyusun menemukan fakta bahwa sebanyak 78,8% orang tua merasa konten yang berada di media sosial terutama YouTube sering menggunakan bahasa yang kurang baik. Mulai dari susunan kalimat yang tidak benar sampai menggunakan kalimat gaul untuk menaikkan tingkat popularitas mereka37
Pendidik atau guru, harus menjadi benar-benar bisa menjadi panutan bagi peserta didiknya, guru yang profesional, rapi, sopan, bijak, berilmu serta bertanggung jawab adalah guru yang sangat dibutuhkan saat ini. Terutama bisa menjadi panutan untuk bisa menjadi bimbingan dan contoh untuk anak didiknya agar menjadi anak yang berilmu dan menjadi anak kebanggaan bagi bangsa. Di era globalisasi ini dapa diketahu bahwa banyak anak-anak yang menjadi sulit dididik akibat kesalahan dalam bersosialisasi di lingkungan mereka sendiri dan ini bisa menjadi kerja keras bagi guru untuk mendidik mereka agar menjadi anak didik yang baik.
34 Jahja, Psikologi Perkembangan. 53
35 Arie Cahyono, Menciptakan Sebuah Kekuatan Komunikasi Efektif: Unggul Berkomunikasi (Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2019). 33
36 Wawancara Dewi Oktaviani, Kepala sekolah Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Karang Tengah.
37 Observasi siswa melalui angket penelitian. Point pertanyaan nomor 11
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
428 Untuk membuat suatu koneksi antara guru dan murid, mereka harus tahu bagaimana caranya untuk berbicara dan berbahasa. Ketika berbicara dengan mereka pun seorang guru harus penuh sopan agar mereka bisa belajar dengan berbicara dengan sopan, sedangkan untuk berbahasa dengan mereka pun seorang guru perlu menggunakan bahasa yang mereka bisa mengerti atau pahami agar mereka dapat menanggapi apa yang disampaikan kepada mereka. Apabila keduanya digunakan akan secara otomatis anak didik akan mengerti dan cara berbicara mereka menjadi sopan, ini akan menjadi nilai yang positif tersendiri untuk masa depan mereka.
Bahasa yang digunakan banyak memiliki fungsi dan sangat menentukan bagi perkembangan anak terutama murid yang masih bersekolah dasar. Oleh karena itu pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran yang banyak ditemui pertama kali saat duduk di sekolah dasar, karena fungsi bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang akan menentukan anak memiliki pengetahuan dan keterampilan berbahasa serta akan memudahkan untuk berkomunikasi dengan orang-orang sekitarnya, yang manfaatnya akan membantu perkembangan siswa dalam berhubungan dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Begitu pula fungsi bahasa sebagai pengantar pendidik, pemahaman anak dan pengenalan anak serta keterampilan anak dalam berbahasa Indonesia akan dapat bermanfaat dalam proses pendidikan secara lebih optimal.
4. Mengganggu di Kelas
Media sosial YouTube merupakan sebuah media yang menyajikan berbagai macam konten yang dibutuhkan oleh orang yang menggunakannya. Sehingga mereka tidak merasa bosan ketika mengaksesnya. Kemudahan dan inovasi yang ditawarkan menjadi daya tarik bagi semua orang tidak terkecuali anak-anak.
Sifat anak-anak yang selalu ingin tahu menjadikan media sosial ini sebagai sebuah jalan pintas untuk mencari informasi apapun yang mereka kehendaki. Setelah mereka mengetahui informasi tersebut mereka akan merasa puas dan muncul perasaan ingin berbagi informasi dengan teman nya agar keberadaan mereka diakui dan mendapatkan pujian sehingga tidak jarang pula mereka membicarakan informasi tersebut di dalam kelas ketika jam pelajaran berlangsung.
Hal ini penulis temukan dalam proses penelitian bahwa sebanyak 55,3%38 siswa merasa sangat antusias dan bersemangat ketika mereka dapat menggunakan media sosial ini. Hal ini tentu pasti berpengaruh kepada minat mereka terhadap belajar, karena di dalam benak mereka sudah tergambar sebuah stimulus yang lebih menyenangkan daripada belajar yaitu menggunakan media sosial YouTube atau hanya sekadar membahas mengenai konten yang berada di dalamnya.
E. KESIMPULAN
Kajian ini menyimpulkan bahwa YouTube memiliki dampak negatif bagi anak didik yang dapat mengganggu aktivitas belajarnya, antara lain: 1) Menurunnya semangat siswa dalam belajar dibuktikan hilangnya motivasi belajar; 2) Berkelahi dengan teman, dibuktikan dengan meningkatnya kenakalan dan pentengkaran antar peserta didik; 3) Berkata tidak baik, dibuktikan dengan banyak peserta didik yang suka berkata kasar, tidak saja kepada sesama temannya tetapi juga kepada para guru; 4) Mengganggu di kelas, perilaku ini dipicu dari ketidakfokusan peserta didik atau tidak berkonsentrasi dalam mengikuti arahan yang diberikan oleh guru. Selain itu, persepsi yang mereka dapatkan dari hasil mengakses media sosial YouTube menjadikan belajar adalah sebuah proses yang membosankan sehingga terkadang mereka malah sibuk mengobrol dengan teman nya
38 Observasi siswa melalui angket penelitian. Point pertanyaan nomor 4
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
429
membahas berbagai macam konten yang berada di media sosial tersebut. Bahkan tidak jarang pula mereka mempraktikkan nya di dalam kelas sehingga suasana di dalam kelas tidak kondusif dan mengganggu suasana belajar.
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
430 DAFTAR PUSTAKA
Aditiawarman, Mac, Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Ekasakti, dan Dosen Fakultas Sastra Universitas Ekasakti. Variasi Bahasa Masyarakat. Padang: Lembaga Kajian Aset Budaya Indonesia Tonggak Tuo, 2019.
Ahmadi, Farid. Guru SD di Era Digital: Pendekatan, Media, Inovasi. Semarang: Pilarr Nusantara, 2017.
Aida, Nurul, dan Rr Amanda Pasca Rini. ―Penerapan Metode Bermain Peran Untuk Meningkatkan Kemampuan Bersosialisasi Pada Pendidikan Anak Usia Dini.‖
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia 4, no. 1 (16 Desember 2015).
https://doi.org/10.30996/persona.v4i1.494.
Akmal. Lebih dekat dengan Industri 4.0. Yogyakarta: Deepublish, 2019.
Aliyyu, Annur. ―Disruptive Behavior Dan Bentuk Perlakuan Guru.‖ Indonesian Journal of Educational Counseling 3, no. 3 (5 Agustus 2019): 199–210.
https://doi.org/10.30653/001.201933.101.
Alo Liliweri. Komunikasi Antar Personal. Jakarta: Prenada Media, 2017.
Anisah, Ani Siti. ―GANGGUAN PRILAKU PADA ANAK DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR.‖ JPsd (Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar) 1, no. 2 (16 September 2015): 5–20.
https://doi.org/10.30870/jpsd.v1i2.689.
Arie Cahyono. Menciptakan Sebuah Kekuatan Komunikasi Efektif: Unggul Berkomunikasi.
Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2019.
Asmaroini, Ambiro Puji. ―IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PANCASILA BAGI SISWA DI ERA GLOBALISASI.‖ Citizenship Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan 4, no. 2 (3 April 2016): 440–50. https://doi.org/10.25273/citizenship.v4i2.1077.
Asrori, dan Rusman. Classroom Action Research Pengembangan Kompetensi Guru.
Banyumas: Pena Persada, 2020.
Badri, Muhammad. Sentuhan Jiwa untuk Anak Kita. Bekasi: Daun Publishing, 2020.
Budaya Populer Indonesia: Diskursus Global/Lokal dalam Budaya Populer Indonesia.
Surabaya: Air Langga University Press, 2017.
Candra, I. Wayan, I. Gusti Ayu Harini, dan I. Nengah Sumirta. Psikologi Landasan Keilmuan Praktik Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2017.
Dacholfany, M. Ihsan. ―REFORMASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI.‖ AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam 20, no. 1 (14 April 2015): 173–94.
Darmadi, Hamid. PENGANTAR PENDIDIKAN ERA GLOBALISASI. Tangerang: An1mage, 2019.
Djiwandon, Sri Esti W. Psikologi Pendidikan (Rev-2). Jakarta: Grasindo, 1989.
dkk, Herri Zan Pieter. Pengantar Psikologi dalam Keperawatan. Jakarta: Kencana, 2017.
dkk, Sitti Nurhalimah. Media Sosial Dan Masyarakat Pesisir : Refleksi Pemikiran Mahasiswa Bidikmisi. Yogyakarta: Deepublish, 2019.
Dopo, Ferdinandus Bate, dan Christina Ismaniati. ―Persepsi Guru Tentang Digital Natives, Sumber Belajar Digital Dan Motivasi Memanfaatkan Sumber Belajar Digital.‖ Jurnal Inovasi Teknologi Pendidikan 3, no. 1 (2016): 13.
https://doi.org/10.21831/tp.v3i1.8280.
Enterprise, Jubilee. Kitab YOUTUBER. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2018.
———. Trik Mendapatkan Pekerjaan Idaman Menggunakan Linkedin. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013.
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
431
Fadhal, Soraya, dan Lestari Nurhajati. ―Identifikasi Identitas Kaum Muda Di Tengah Media Digital (Studi Aktivitas Kaum Muda Indonesia Di Youtube).‖ JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL 1, no. 3 (4 April 2012): 176–200.
Fahmi, Abu Bakar. Mencerna Situs Jejaring Sosial. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013.
Graha, Chairinniza. Keberhasilan Anak Tergantung Orang Tua. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013.
gunarsa, singgih. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Gunarsa, Singgih D. Psikologi praktis: anak, remaja dan keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
Hakim S, Rachmad. Cara Cerdas Mengelola Blog. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2008.
Hamid, Sohana Abdul. ―Pengaruh Media Massa Terhadap Perubahan Sosial Masyarakat.‖
Journal of Social Sciences and Humanities, 2016.
Harun, Cut Zahri. ―MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER.‖ Jurnal Pendidikan Karakter 0, no. 3 (2013). https://doi.org/10.21831/jpk.v0i3.2752.
Haryadi, Toto, dan Dimas Irawan Ihya‘ Ulumuddin. ―Penanaman Nilai dan Moral pada Anak Sekolah Dasar dengan Pendekatan Storytelling Melalui Media Komunikasi Visual.‖
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia 2, no. 01 (2016): 56–
72. https://doi.org/10.33633/andharupa.v2i01.1018.
Hasanuddin. Biopsikologi Pembelajaran : Teori dan Aplikasi. aceh: Syiah Kuala University Press, 2017.
Helianthusonfri, Jefferly. Yuk Jadi Youtuber. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2018.
Herlina, Vivi. Panduan Praktis Mengolah Data Kuesioner Menggunakan SPSS. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019.
Herwibowo, Yudhi. You Tube. Jakarta: Bentang Pustaka, 2008.
Hutahayan, Benny. Peran Kepemimpinan Spiritual Dan Media Sosial Pada Rohani Pemuda Di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Cililitan. Yogyakarta: Deepublish, 2019.
Ibda, Hamidulloh. ―PENGUATAN LITERASI BARU PADA GURU MADRASAH IBTIDAIYAH DALAM MENJAWAB TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0.‖ JRTIE: Journal of Research and Thought of Islamic Education. Vol. 1, 2018.
Ichsan, Ahmad Shofiyuddin. ―‗MANIAK‘ MEDIA SOSIAL DAN GAME PADA ANAK USIA DASAR (Studi pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Yogyakarta).‖ MAGISTRA:
Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar dan Keislaman, 2019.
https://doi.org/10.31942/mgs.v10i1.2638.
Imani, Rakaiza. ―PENGARUH YOUTUBE TERHADAP PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA PADA ANAK USIA 8 TAHUN.‖ Metabahasa: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia 3, no. 1 (9 Februari 2020): 11–24.
Indrra, Hasbi. Pendidikan Islam Tantangan & Peluang di Era Globalisasi. Yogyakarta:
Deepublish, 2016.
Jahja, Yudrik. Psikologi Perkembangan. jakarta: Kencana, 2011.
Jasmine, Cindy. Cepat & Mudah Menguasai Facebook. Jakarta: IndonesiaTera, 2009.
Jelamu Ardu Marius. ―Perubahan Sosial.‖ Jurnal Penyuluhan 2, no. 2 (2006): 125–32.
Kosasi, Sandy, dan Kalimantan Barat. ―Perancangan E-learning untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Guru dan Siswa,‖ 2015, 7.
Kriyantono, Rachmat. Teori-Teori Public Relations Perspektif Barat & Lokal: Aplikasi Penelitian & Praktik. 2017: Kencana, 2017.
Lase, Delipiter. ―Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0.‖ Jurnal Sundermann, 2019.
https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18.
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
432 Lefudin. Belajar dan Pembelajaran Dilengkapi dengan Model Pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Pendekatan Pembelajaran dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta:
Deepublish, 2017.
Manuntung, Ns Alfeus. TERAPI PERILAKU KOGNITIF PADA PASIEN HIPERTENSI.
Malang: WINEKA MEDIA, 2019.
Mat, Chek. Pengurusan Imej. Cheras: Utusan Publications, 2007.
Mawardi, Isal. ―Geger Perploncoan Siswa SD untuk Latihan Tawuran.‖ detiknews. Diakses 9 Januari 2020. https://news.detik.com/berita/d-4706017/geger-perploncoan-siswa-sd- untuk-latihan-tawuran.
M.Kes, Dr Irwan S. KM. KEARIFAN LOKAL DALAM PENCEGAHAN HIV/AIDS PADA REMAJA BERESIKO TINGGI. Yogyakarta: Absolute Media, 2018.
Morissan. Teori Komunikasi Individu Hingga Masa. Jakarta: Prenada Media, 2015.
Morisson, Paul, dan Philip Burnard. Caring and Communicating Hubungan Interpersonal dalam Keperawatan. Jakarta: EGC, 2009.
M.Pd.I, Dr Lalu Muhammad Nurul Wathoni. Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Pemikiran Filosofis Kurikulum 2013. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2018.
Mudhar. ―PERAN ORANG TUA DALAM MEMINIMALKAN PERILAKU DISRUPTIF.‖
WAHANA 70, no. 1 (1 Juni 2018): 39–45. https://doi.org/10.36456/wahana.v70i1.1566.
Muhammad, Abdullah bin. Tafsir Ibnu Katsir. Bogor: Niaga Swadaya, 2005.
Muis Junaedy, Abdul. Konsep dan Strategi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0.
Yogyakarta: Laksana, 2019.
Ngafifi, Muhamad. ―Kemajuan Teknologi Dan Pola Hidup Manusia Dalam Perspektif Sosial Budaya.‖ Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi 2, no. 1 (2014): 33–
47. https://doi.org/10.21831/jppfa.v2i1.2616.
Nugroho, Yohanes Arianto Budi. Kepemimpinan Untuk Mahasiswa: Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Penerbit Unika Atma Jaya Jakarta, 2019.
Nurfitri, Aldila Dyas. ―Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan‖ 25, no. 1 (2017): 36–44.
https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.22759.
Nurhakim, Syerif. Dunia Komunikasi dan Gadget: Evolusi alat Komunikasi, Menjelajah Jarak dengan Gadget. Jakarta: Zikrul Hakim Bestari, 2015.
Prabowo Setyabudi, M Nur, dan Albar Adetary. Pengantar Studi Etika Kontemporer: Teoritis dan Terapan. Malang: UB Press, 2017.
Praherdhiono, Henry, Punaji Setyosari, I. Nyoman Sudana Degeng, Sulton, Taufik Ikhsan Slamet, Ence Surahman, Eka Pramono Adi, Made Duananda Kartika Degeng, Susilaningsih, dan Zainul Abidin. TEORI DAN IMPLEMENTASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN: Era Belajar Abad 21 dan Revolusi Industri 4.0. Seribu Bintang, 2019.
Prasetiawann, Hardi. ―Cyber Counseling Assisted with Facebook CYBER COUNSELING ASSISTED WITH FACEBOOK TO REDUCE ONLINE GAME ADDICTION.‖
GUIDENA JOURNAL, no. 1 (2016): 28–36.
Prasetyo, Banu, dan umi Trisyanti. ―REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN TANTANGAN PERUBAHAN SOSIAL.‖ IPTEK Journal of Proceedings Series 0, no. 5 (2018): 22–
27. https://doi.org/10.12962/j23546026.y2018i5.4417.
Pratama, Bayu Indra. Etnografi Dunia Maya Internet. Malang: Universitas Brawijaya Press, 2017.
Priatmoko, Sigit. ―Memperkuat Eksistensi Pendidikan Islam Di Era 4.0.‖ TA’LIM : Jurnal Studi Pendidikan Islam 1, no. 2 (30 Juli 2018): 221–39.
https://doi.org/10.29062/ta'lim.v1i2.948.
Psi, Riana Mashar, M. Si. Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya. Jakarta:
Kencana, 2015.
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
433
Purnama, Sigit. ―Pengasuhan Digital untuk Anak Generasi Alpha.‖ Al Hikmah Proceedings on Islamic Early Childhood Education 1 (2018): 10.
Putra, Asaas, dan Diah Ayu Patmaningrum. ―PENGARUH YOUTUBE DI SMARTPHONE TERHADAP PERKEMBANGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANAK THE INFLUENCE OF YOUTUBE ON SMARTPHONE TOWARDS DEVELOPMENT OF CHILD‘S INTERPERSONAL COMMUNICATION.‖ Jurnal Penelitian Komunikasi 21, no. 2 (2018): 159–72. https://doi.org/10.20422/jpk.v21i2.589.
Putra, Asaas, dan Diah Ayu Patmaningrum. ―Pengaruh Youtube di Smartphone Terhadap Perkembangan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Anak.‖ Jurnal Penelitian Komunikasi 21, no. 2 (20 Desember 2018). https://doi.org/10.20422/jpk.v21i2.589.
Rachmawati, Yeni. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak. Jakarta: Prenada Media, 2012.
Rahmi, Amelia. ―PENGENALAN LITERASI MEDIA PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR.‖ Sawwa: Jurnal Studi Gender 8, no. 2 (15 Mei 2013): 261.
https://doi.org/10.21580/sa.v8i2.656.
Respati, Wira. ―Transformasi Media Massa Menuju Era Masyarakat Informasi di Indonesia.‖
Humaniora 5, no. 1 (1 April 2014): 39. https://doi.org/10.21512/humaniora.v5i1.2979.
Riniwati, Harsuko. Manajemen Sumberdaya Manusia: Aktivitas Utama dan Pengembangan SDM. Malang: Universitas Brawijaya Press, 2016.
Rosyiana, Iffah. Innovative Behavior At Work: : Tinjauan Psikologi & Implementasi Di Organisasi. Yogyakarta: Deepublish, 2019.
S, Bambang, Endah Masrunik, dan M.Rizal. Motivasi Kerja Dan Gen Z: Teori Dan Penerapan. Malang: Zaida Digital Publishing, 2020.
Sa‘ad, Dr Musthafâ Abû. 30 Strategi Mendidik Anak: Cerdas Emosional, Spiritual, Intelektual. Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2016.
Salmiah, Salmiah, Fajrillah Fajrillah, Acai Sudirman, Muhammad Noor Hasan Siregar, Janner Simarmata, Abdul Rahman Suleman, Lenny Menara Saragih, dkk. Online Marketing. Medan: Yayasan Kita Menulis, 2020.
Samsuar, Samsuar. ―ATRIBUSI.‖ Network Media 2, no. 1 (3 September 2019).
http://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/junetmedia/article/view/450.
Sandi, Jhon Retei Alfri. LEMBAGA ADAT DAN HAK-HAK ADAT MASYARAKAT DAYAK DALAM PUSARAN POLITIK: Studi Kasus Kalimantan Tengah 2011-2016. Tangerang:
An1mage, 2019.
Sangadji, Zhapyrend Putri, Angen Ainur Ruhmah, Fauzi, Moch Iqbal Qholid Hasibi, Trisnanda Yulia Putri, Wilis Sofia Utami, Hilmi Amrullah, dkk. Literasi Media dan Peradaban Masyarakat. Malang: Intrans publishing group, 2020.
Saptarini, Eriska Riyanti & Risti. ―UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MELALUI PERUBAHAN PERILAKU ANAK.‖ Majalah Ilmu Kedokteran Gigi 11, no. 2009 (2009). http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/detail.php?dataId=12369.
Setiadi, Elly M. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Jakarta: Kencana, 2017.
Setiawan, Deny. Rahasia Mendapat Dollar dari Youtube. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2016.
Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC, 1995.
Soetjiningsih, Christiana Hari. Seri Psikologi Perkembangan: Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai dengan Kanak-Kanak Akhir. Jakarta: Kencana, 2018.
Soliha, Silvia Fardila. ―TINGKAT KETERGANTUNGAN PENGGUNA MEDIA SOSIAL DAN KECEMASAN SOSIAL.‖ Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi 4, no. 1 (2 Januari 2015): 1–10.
Sulianta, Feri. Keajaiban Sosial Media. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2015.
Sunaryo. Psikologi. Jakarta: EGC, 2004.
doi.org/10.36670/alamin.v2i02.20
434 Supriyadi, A. Adang. Airmanship. Jakarta: Gramedia pustaka utama, 2019.
Surahman, Sigit. ―DAMPAK GLOBALISASI MEDIA TERHADAP SENI DAN BUDAYA INDONESIA.‖ LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi 2, no. 1 (2013).
https://doi.org/10.30656/lontar.v2i1.334.
Surya, Hendra. Menjadi Manusia Pembelajaran. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2009.
Suryadi, Sudi. ―Peranan Perkembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Kegiatan Pembelajaran Dan Perkembangan Dunia Pendidikan.‖ Jurnal Informatika 3, no. 3 (2019): 9–19. https://doi.org/10.36987/informatika.v3i3.219.
Susatio, Gonang. ―Gara-gara YouTube, Anak SD di Kulon Progo Keracunan | Tagar.‖
Diakses 9 Januari 2020. https://www.tagar.id/garagara-youtube-anak-sd-di-kulon- progo-keracunan.
Suwardana, Hendra. ―Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental.‖ JATI UNIK : Jurnal Ilmiah Teknik dan Manajemen Industri 1, no. 1 (18 April 2018): 102.
https://doi.org/10.30737/jatiunik.v1i2.117.
Tersiana, Andra. Metode Penelitian. Jakarta: Anak Hebat Indonesia, 2018.
Timotius, Kris H. Otak dan Perilaku. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2018.
Triwahyuni, Eges. ―PENANGANAN MISBEHAVIOR PADA ANAK USIA DINI YANG MENGANGGU DI KELAS.‖ JURNAL AUDI : Jurnal Ilmiah Kajian Ilmu Anak dan Media Informasi PAUD 3, no. 1 (8 Juni 2018): 47–55.
https://doi.org/10.33061/ad.v3i1.2073.
UGM, FORKOMSI FEB. Revolusi Industri 4.0. CV Jejak (Jejak Publisher), 2019.
Wade, Carole, dan Carol Tavis. PSIKOLOGI. Jakarta: Erlangga, 2015.
Watie, Errika Dwi Setya. ―Komunikasi Dan Media Sosial (Communications and Social Media).‖ Jurnal The Messenger 3, no. 2 (23 Maret 2016): 69–74.
https://doi.org/10.26623/themessenger.v3i2.270.
Widayati, Weka. Ekologi Manusia: Konsep, Implementasi, dan Pengembangannya. Kendari:
Unhalu Press (kini Universitas Halu Oleo Press), 2011.
Widodo, Agus Pratomo Andi. Nizamia Learning Center 2018. sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2018.
Widyarini, Nilam. Membangun Hubungan Antar Manusia. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013.
windura, Sutanto. Brain Mgt Series: Be an Absolute Genius. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2008.
Yusuf, Muri. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan. Jakarta:
Prenada Media, 2016.
Zahid, A. ―Sensualitas Media Sosial di Era Globalisasi (Kajian Sosiologi Media McLuhan sebagai Analisis Media Masa Kini).‖ Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) 13, no. 1 (6 Agustus 2019): 1–15. https://doi.org/10.24815/jsu.v13i1.13030.