PENERAPAN SISTEM TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) PADA RUSUN TOD PONDOK CINA
THE IMPLEMENTATION OF TRANSIT ORIENTED
DEVELOPMENT (TOD) SYSTEM ON RUSUN TOD PONDOK CINA
¹Stevenrolland Anderson Orlaysputra Laia , ²Lia Rosmala Schiffer
Teknik Arsitektur, Universitas Gunadarma. Jalan Akses UI, Kelapa Dua, Tugu, Kec.
Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
¹Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Gunadarma [email protected]
²Dosen Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Gunadarma
ABSTRAK
Sistem Transit Oriented Development (TOD) adalah sistem yang bertujuan untuk memberi pemecahan masalah terhadap pertumbuhan metropolitan yang begitu padat. Sistem ini juga berfokus pada desain yang ramah terhadap pejalan kaki dan pesepeda serta meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas yang dapat mengurangi kemacetan, pencemaran lingkungan, dan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan kendaraan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau bagaimana Penerapan Sistem Transit Oriented Development (TOD) Pada Rusun TOD Pondok Cina dengan menggunakan metode kualitatif. Metode ini menggunanakan 8 variabel TOD Standar yaitu walk, cycle, connecet, transit, mix, densify, compact dan shift. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kawasana Stasiun Pondok Cina sudah memenuhi standar TOD.
Kata kunci: Stasiun Pondok Cina, Transit Oriented Development, Kawasan, Transit ABSTRACT
The Transit Oriented Development (TOD) system is a system that aims to provide solutions to the problem of dense metropolitan growth. This system also focuses on friendly designs for pedestrians and cyclists as well as improving accessibility and mobility which can reduce congestion, environmental pollution, and reduce dependence on the use of private vehicles. This study was conducted to review how the implementation of the Transit Oriented Development (TOD) system no the Rusun TOD Pondok Cina using qualitative methods. This method uses 8 TOD standard variables, namely walk, cycle, connecet, transit, mix, densify, compact and shift.
The results of this study indicate that the Pondok Cina Station area has met the TOD standard.
Key words: Pondok Cina Station, Transit Oriented Development, Area, Transit
PENDAHULUAN
Depok adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat dengan luas sekitar 200,29m2, dan populasi sekitar 2.457.745 jiwa. Pada saat ini, Depok mengalami perkembangan dalam pembangunan dengan sangat cepat. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas urbanisasi yang terus berlanjut. Untuk mengatasi masalah tersebut, hadirlah konsep Transit Oriented Development
(TOD) yang diperkenalkan oleh seorang Arsitek Perencanaan berkebangsaan Amerika, Peter Catlhorpe. TOD sendiri merupakan penggunaan lahan campuran kota dengan kepadatan tinggi, serta pengembangan yang berorientasi kepada pejalan kaki disekitar stasiun keretaa api atau bus.
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah terkait bagaimana penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD) pada Rusun TOD Pondok Cina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terpenuhinya kedelapan standar TOD pada kawasan disekitar Rusun TOD Pondok Cina. Hasilnya diharapkan dapat menjadi gambaran dalam mendukung pengembangan kawasan dengan konsep TOD pada proses perencannan, desain hingga operasionalnya.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini berupaya untuk memberikan hasil analisis dari pengamatan yang dilakukan penulis pada Rusun TOD Pondok Cina, hasil akhir yang didapatkan berupa apa saja penerapan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang di terapkan pada bangunan Rusun TOD Pondok Cina. Adapun untuk mencapai hasil tersebut penulis menggunakan metode kuantitatif.
Metode kualitatif merupakan metode yang dilakukan oleh penulis dalam penelitian ilmiah ini, dimana penulis mengamati apa saja kriteria yang sudah dipenuhi untuk Penerapan Sistem Transit Orientad Development (TOD) di Rusun TOD Pondok Cina. Ada beberapa cara untuk memahaminya, seperti survey langsung ke lokasi atau tempat amatan yaitu Rusun TOD Pondok Cina, melakukan dokumentasi kondisi pengamatan, serta melakukan wawancara ke beberapa narasumber setempat. Dan juga penulis melakukan pengumpulan data dari berbagai media seperti buku, jurnal dan internet.
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Wilayah Penelitian
Rusun TOD Pondok Cina, berdiri diatas tanah seluas kurang lebih 94.385,27 m2 dan berlokasi di Pondok Cina, tepatnya di tepi batas pagar Universitas Indonesia dan Stasion Pondok Cina. Pada sisi Barat berbatasan dengan Universitas Indonesia, dan di sisi Timur memiliki akses ke Jl. Margonda Raya. Rusun ini terdiri atas tiga tipe unit, antara lain tipe studio, tipe satu bedroom, dan tipe dua bedroom.
Dalam perencanaan Rusun TOD Pondok Cina, terdapat pihak pihak yang terlibat di dalamnya antara lain:
Nama Proyek : Proyek Rancang Bangun Rumah Susun Stasiun Pondok Cina - Depok Pemilik Proyek : Kerja Sama PT KAI dan Perum Perumnas
Lingkup : Struktur, Arsitek, Mekanikal, Elektrikal, Pumbling
Luasan GFA : ± 94.385,27 m2
Lokasi : Stasiun Commuter Line Pondok Cina Konsultan MK dan QS : PT. Arkonin
Konsultan Design : PT. Limajabat Jaya (Struktur)
PT. Duta Pratama Eng (MEP) PT. Fajar Nusa Consultant (Arsitek)
Perjalanan Rusun TOD Pondok Cina
Proyek pembangunan Rusun TOD Pondok Cina yang berkonsep Transit Oriented Development (TOD) di lahan parkir Stasiun Pondok Cina sempat terbengkalai selama setahun.
Setelah groundbreaking (peletakkan batu pertama) pada tanggal 2 Oktober 2017 silam, proses pembangunan proyek TOD ini sempat dihentikan dan kembali menjadi lahan parkir.
Adapun penyebab terbengkalainya proyek rusun ini disebabkan tidak adanya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diterbitkan oleh Pemerintah Kota Depok saat itu. Proyek rusun tersebut dibangun atas kerja sama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas). Setelah sempat terbengkalai selama hampir satu tahun, proyek Rusun TOD Pondok Cina pun akhirnya bisa kembali dilanjutkan.
Hal ini disebabkan oleh karena Perum Perumnas sebagai pengembang Rusun TOD Pondok Cina ini telah mengantongi IMB dari Pemkot Depok yang diterbitkan pada 27 Agustus 2018 dengan nomor surat 640/2504/IMB/DPMPTSP/2018.
Penerapan TOD
Transit Oriented Development (TOD) sendiri sebagaimana didefinisikan oleh Calthorpe (1993) adalah, “A mix use community within an average 2000 foot walking distance of a transit stop and core commercial area. TOD mix residential, retail, offices, open space, and public uses in a walkable environment, making it convenient for residents and employees to travel by transit, bicycle, foot or car.”
Pada intinya, konsep tersebut bertujuan untuk memberikan alternatif dan problem solving terhadap pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi. Dengan membuat fungsi campuran (mixed use) yang kompak dalam jangkauan lima hingga lima belas menit berjalan kaki pada area-area transit, di harapkan dapat memberi lebih banyak manfaat. Di antaranya, terjadi internalisasi pergerakan antara hunian, perkantoran dan fungsi-fungsi lain dalam sebuah distrik yang tersentralisasi.
Adapun untuk mencapai tujuan konsep TOD tersebut adalah dengan memberi alternatif bagi pertumbuhan pembangunan kota, dan lingkungan ekologis di sekitarnya. Berdasarkan standar TOD yang dicetus oleh Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) 2014, terdapat delapan variabel yang digunakan sebagai prinsip urban desain berbasis TOD, antara lain:
1. Berjalan Kaki (Walk) 2. Bersepeda (Cycle)
3. Menghubungkan (Connect) 4. Angkutan Umum (Transit) 5. Pembauran (Mix)
6. Memadatkan (Densify)
7. Merapatkan (Compact) 8. Beralih (Shift)
Hasil Observasi Lapangan
Lokasi Rusun TOD Pondok Cina begitu strategis, sesuai syarat syarat suatu area untuk diterapkannya system Transit Oriented Development. Akses menuju Stasiun Pondok Cina dan Stasiun Universitas Indonesia pun terbilang sangat mudah dan dekat.
Analisis Perkotaan
Dalam peta rute Commuter Line Jabodetabek stasiun Pondok Cina merupakan stasiun yang letaknya sangat strategis, dekat dengan Stasiun Universitas Indonesa. Stasiun ini biasa digunakan oleh mahasiswa UI dan Universitas Gunadarma untuk naik - turun KRL, juga terletak dibelakang Depok Town Square, Margo City, dan Code Margonda.
Gambar 1. RTRW Kota Depok Sumber: www.depok.go.id Analisis Pemilihan Wilayah
Kriteria pemilihan lokasi Penataan Kawasan Berkonsep TOD di Kota Depok, memerlukan lokasi yang ideal dan lingkungan yang menunjang untuk berkembang. Kriteria Lokasi tersebut antara lain :
a. Adanya dukungan masyarakat untuk mengembangkan dan menata kembali lingkungan, agar terbentuknya kawasan yang tertata.
b. Lokasi yang strategis dengan pusat kota, pusat komersial dan Permukiman penduduk yang mendasari dikembangkanya kawasan ini
c. Tersedianya akses transportasi yang mendukung agar memudahkan penduduk dalam membentuk kawasan yang tertata.
Analisis Terkait Prinsip-Prinsip TOD
Berdasarkan prinsip urban design dalam transit oriented development yang di kutip dari TOD Standart, maka berikut hasil dari analisis prinsip TOD tersebut pada objek yang ditelili.
Tabel 1. Analisi Tekait Prinsip-prinsip TOD
Prinsip-prinsip TOD Hasil Keterangan
Berjalan Kaki (Walk) √ Terdapat penyebarangan
dan akses bagi pejalan kaki yang lumayan aman.
Bersepeda (Cycle) √ Tersedia jalur bersepeda
disekitar stasiun, tepatnya berada diarea Universitas Indonesia. Terdapat pula parkir sepeda yang cukup memadai.
Menghubungkan (Connect) √ Area dengan blok-blok
pendek memberikan pilihan rute yang lebih beragam dan memperpendek jarak tempuh pejalan kaki.
Ketersediaan jalan dan persimpangan khusus pejalan kaki terhadap jalan dan persimpangan untuk kendaraan bermotor.
Angkutan Umum (Transit) √ Terdapat Angkutan Kota
dan KRL yang dapat dicapai dengan berjalan kaki.
Pembauran (Mix) √ Mendukung konsep Mix
Use Concept (Penggunaan lahan yang beragam dan saling melengkapi).
Memadatkan (Densify) √ Terdapat pencampuran tata
guna lahan antara tata guna lahan untuk permukiman, perkantoran, komersial, pemerintahan.
Merapatkan (Compact) √
Beralih (Shift) √ Perpindahan mobilitas dari kendaraan bermotor menjadi berjalan kaki/bersepeda.
Sumber: Analisis Pribadi
Berjalan Kaki (walk)
Prinsip pertama dalam standar TOD yaitu walk atau berjalan kaki, dalam hal ini, ada beberapa yang menjadi indikator, antara lain pedestrian way (tempat pejalan kaki), penyeberangan, dan penampakan visual bangunan dari jalan.
Gambar 2. Jalan Raya Sumber: Google Maps
Gambar 3. Pedestrian way Sumber: Dokumentasi Pribadi
Pada poin pertama terdapat jalan raya dengan dua jalur dua arah, dan telah tersedia pedestrian way, disetiap pinggir jalan tersebut. Adapun untuk pedestrian way nya berukuran sekitar 1,2 meter yang dapat dilalui oleh dua orang pengguna. Dengan demikian, akses untuk pejalan kaki terebut tergolong nyaman dan layak untuk digunakan.
Berikutnya, terdapat tempat penyeberangan yang telah disedialan bagi pejalan kaki, agar dapat menyeberang dari arah seberang jalan menuju kearah stasiun Pondok Cina maupun Rusun TOD Pondok Cina.
Gambar 4. Zebra-cross menuju Stasiun Pondok Cina Sumber: Dokumentasi Pribadi
Yang pertama terdapat penyeberangan berupa zebra cross atau tempat penyeberangan yang diperuntukkan untuk pejalan kaki yang dinyatakan dengan tanda garis putih dengan celah yang sama panjang, berukuran minimal 2,5 meter yang setidaknya dapat dilalui 3 orang pejalan kaki.
Gambar 5. Jembatan Penyeberangan Orang depan Universitas Gunadarma Sumber: Dokumentasi Pribadi
Kemudian, terdapat juga penyeberangan berupa jembatan layang berukuran sekitar 2 meter didepan kampus Universitas Gunadarma yang dapat digunakan untuk menyeberang kearah kampus maupun stasiun Pondok Cina.
Bersepeda (cyvle)
Prinsip ataupun standart kedua dari TOD adalah cycle atau bersepeda. Dalam hal ini penulis menganalisis apa-apa saja yang menjadi fasilitas yang menunjang untuk bersepeda di sekitar Rusun TOD Pondok Cina. Adapaun terdapat dua indikator, yaitu jalur untuk bersepeda dan tempat parkir sepeda.
Gambar 6. Daerah Bersepeda Sumber: Google Maps
Terdapat jalur bersepeda beserta dengan parkir sepeda yang berada dekat dengan site. Lokasinya tepat berada di belakang site dan stasiun Pondok Cina, yaitu di Universitas UI, dekat danau Kenanga dan Balairung UI.
Gambar 7. Jalur sepeda dan Parkiran Sepeda Universitas Indonesia Sumber: Dokumentasi Pribadi
Pada gambar diatas, yang sebelah kiri merupakan jalur untuk bersepeda, dan tepat disebelah kananya terdapat parkiran yang cukup memadai untuk sepeda tersebut.
Gambar 8. Jalur sepedan dan pedestrian way Universitas Indonesia Sumber: Dokumentasi Pribadi
Disini juga terdapat hal yang menunjukkan perbedaan antara jalur untuk bersepeda dan jalur untuk pejalan kaki. Jalur bersepeda adalah jalur yang menggunakan paving block berwarna kemerahan, dan memiliki palang, sedangkan untuk pejalan kaki berwarna abu-abu tanpa palang.
Menghubungkan (connect)
Desain kawasan TOD merupakan desain kawasan yang ramah terhadap pejalan kaki yang terintegritas dengan waktu tempuh yang singkat, hal ini dapat dilihat melalui adanya hubungan antara jalan dan jaringan yang padat.
Gambar 9. (Dari kiri kekanan: Jalan dan pertigaan menuju stasiun Pondok Cina) Sumber: Dokumentasi Pribadi
Jalan-jalan kecil pada area sekitar stasiun Pondok Cina digunakan bersama oleh kendaraan bermotor, kendaraan tidak bermotor, maupun pejalan kaki. Disekitarnya terdapat beberapa perumahan warga dan juga tempat fotocopy, kios, warung makan, dan sebagainya.
Angkutan Umum (transit)
Untuk memenuhi persyaratan standar TOD, dibutuhkan penggunaan moda transportasi massal yang mengintegrasikan wilayah-wilayah kota yang terlalu jauh bagi pejalan kaki.
Gambar 10. (Dari kiri kekanan: Halte Pondok Cina, Stasiun Pondok cina) Sumber: Dokumentasi Pribadi
Adapun dekat site Rusun TOD Pondok Cina terdapat Halte Pondok Cina sebagai tempat pemberhentian kendaraan umum untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, dan juga terdapat stasiun Pondok Cinadengan fungsi yang sama.
Pembauran (mix)
Pada standar TOD yang berikutnya, terdapat point mix atau pembaruan. Dalam hal ini mengidentifikasi apa-apa saja yang berada disekitar site yang dapat memudahkan masyarakat agar tidak berpergian jauh.
Gambar 11. Tempat-tempat komersial sekitar Stasiun Pondok Cina Sumber: Dokumentasi Pribadi
Disini, penulis mendapatkan bahwa terdapat banyak variasi dalam penggunaan lahan disekitar site, baik itu berupa perdagangan, permukiman, pendidikan, maupun fasilitas umum yang saling melengkapi.
Gambar 12. Area sekitar site Sumber: Google Maps (Satelite)
Penggunaan lahan yang kompak dan bervariasi serta memiliki intensitas yang tinggi, dapat membuat masyarakat yang tinggal disana mendapatkan kemungkinan berjalan kaki sehari-hari yang lebih luas dan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, karena jarak yang ditempuh sedikit.
Memadatkan (densify) dan Merapatkan (compact)
Permukiman disekitar site termasuk padat. Untuk itu pertumbuhan kota dan pola tata ruang harus secara vertical bukan horizontal untuk dapat menopang hal tersebut. Komponen pembentuk konsep compact dan densify adalah penggunaan tata guna lahan campuran (mix) untuk menghemat waktu dan energi untuk menjangkau dan memaksimalkan potensi interaksi antar warganya.
Gambar 13. Pertigaan jalan menuju Pondok Cina Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dengan area yang berjarak pendek, kota padat membutuhkan jaringan dan fasilitas yang dapat menunjang hal tersebut. Hal ini pun dapat dilihat dari area sekitar site, dimana ditemukannya pencampuran tata guna lahan seperti pemukiman, perdagangan, perkantoran, fasilitas umum, komsersial maupun pemerintahan.
Beralih (shift)
Beralih dalam hal ini merupakan perpindahan mobilitas, contohnya dari kendaraan bermotor menjadi berjalan kaki.
Gambar 14. (dari kiri kekanan: Parkir Stasiun Pondok Cina, Halte Pondok cina) Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dari hasil pengamatan penulis, untuk prinsip beralih, sudah cukup memadai, dimana pada gambar pertama (sebelah kiri) terdapat area parkiran di area stasiun Pondok Cina yang cukup tertata rapi dan teratur, sehingga pengguna bisa dengan nyaman meninggalkan kendaraan mereka untuk selanjutnya berjalan kaki. Demikian pula pada gambar kedua dimana disediakan halte tempat untuk menunggu dan juga zebra-cross bagi pengguna agkutan umun untuk selanjutnya dapat berjalan kaki dengan rasa nyaman dan aman ke area yang dituju.
Perlu diketahui bahwa ketika suatu kawasan kota dibangun atas standart dan/atau prinsip- prinsip TOD diatas, didukung oleh desain unmotorized atau tidak bermotor yang ramah kepada pejalan kaki, berarti kendaraan bermotor pribadi tidak menjadi keperluan yang harus dalam kehidupan sehari-hari.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan terhadap site sekitar Rusun TOD Pondok Cina terkait Penerapan konsep TOD, dapat disimpulkan bahwa, untuk dapat menjadi suatu kawasan yang bisa menggunakan Sistem TOD ini, maka diperlukan beberapa syarat yang telah menjadi standar TOD, dan dari hasil analisis, kawasan Rusun TOD Pondok Cina telah memenuhi semua persyaratan tersebut.
Adapun Sistem Transit Oriented Development (TOD) Pada Rusun TOD Pondok Cina direncanakan dengan fasilitas dan infrastruktur yang memadai dengan konsep TOD sehingga para pengguna dapat merasakan kenyaman dan kemudahan untuk melakukan berbagai aktivitas kesehariannya.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, V Sohoni., Mariam Thomas., K V Krishna Rao. 2017.
Application of the concept of transit oriented development to a suburban neighbourhood.
Transportation Research Procedia 25 (2017) 3220–3232 Adji Prama Priadmaja, Anisa, dan Lutfi Prayogi
Penerapan Konsep Transit Oriented Development (Tod) Pada Penataan Kawasan Di Kota Tangerang.
Altoon, Ronald A., dan and James C. Auld. 2011
Urban Transformations: Transit Oriented Development and the Sustainable City Australia: Images Publishing.
Buni Lukito Hadi Fahma
Transit Oriented Development (Tod) Di Sekitar Stasiun Tugu Yogyakarta Cervero Robert. 1998
The Transit Metropolis: A Global Inquiry. Oakland: Island Press.
Hayati, S Hasibuan., Tresna, P Soemardi., Raldi Koestoer, Setyo Moersidik. 2014.
The Role of Transit Oriented Development in constructing urban environment sustainability, the case of Jabodetabek, Indonesia. Procedia Environmental Sciences 20 (2014) 622 – 631.
Hendry Natanael Gumanoa, Yudi Basuki
Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) Pada Titik Transit Trase Light Rail Transit (LRT) Provinsi Sumatera Selatan
Knowles, Richard D., dan Fiona Ferbrache. 2019
Transit Oriented Development and Sustainable Cities. Cheltenham: Edward, Elgar Publishing, Inc.
Ridhon Miftahul dan Muhammad Yusuf Ridhani
Evaluasi Keberlanjutan Terminal Berbasis Transit Oriented Development (TOD), Studi Kasus di Terminal Pal Enam Kota Banjarmasin. Indonesian Green Technology Journal
Sekar Hapsari Ayuningtias, Mila Karmilah
Penerapan Transit Oriented Development (Tod) Sebagai Upaya Mewujudkan Transportasi Yang Berkelanjutan
Toding, Kosmas., Jinca, M. Yamin., Wunas, Shirly. 2012.
Sistem Transit Oriented Development (TOD) Perkeretaapian Dalam Rencana Jaringan Kereta Api Komuter MAMMINASATA. Makassar: Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Widayanti, Rina., Susanto, Remigius Hari. 2013.
Kajian Sistem Transit Oriented Development di Daerah Mixed Use dan Kepadatan Tinggi (Studi Kasus: Kota Depok). Jakarta: Universitas Gunadharma