• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTRIBUSI PENDIDIKAN GEOGRAFI DI ERA REVOLUSI 4.0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KONTRIBUSI PENDIDIKAN GEOGRAFI DI ERA REVOLUSI 4.0"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN GEOGRAFI

KONTRIBUSI PENDIDIKAN GEOGRAFI DI ERA REVOLUSI 4.0

Bandung, 10 Desember 2019

EDITOR

Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M.S.

Slamet N. Rohman, S.Pd.

Exsa Putra, S.Pd.

Ade Rika S.F, S.Pd.

Sitti Raisa, S.Pd.

Nur Azizah, S.Pd.

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN GEOGRAFI SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

(3)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN GEOGRAFI

“KONTRIBUSI PENDIDIKAN GEOGRAFI DI ERA REVOLUSI 4.0”

SUSUNAN PANITIA PELAKSANA DAN STEERING COMMITTEE

Ketua : Exsa Putra Wakil Ketua : Wiganda Bendahara : Nurwahyuni

Ayu Lestari Sekretaris : Amelia Zahara

Tria Rahma Wirda Nurul Komariah Editor : Slamet N. Rohman

Ade Rika S.F.

Sitti Raisa Nur Azizah Antis Tiwi Ristiani Konsumsi : Avi Valentri

Dinda Redianan Deby Sabrina Frida Acara : Suhendro

Ottovianus Diliano Nery Pardo Wandra

Vrywanty Akbar Ihsan Nelsa Rizki

Perlengkapan : Teza Akbar Soleh Muslihin

Dokumentasi : Robiati Ismail Akbar Ari

Rahmah

Steering Committee:

Prof. Dr. Hj. Enok Maryani. MS.

Slamet N. Rohman, S.Pd Exsa Putra, S.Pd.

Ade Rika S.F. , S.Pd

Sitti Raisa, S.Pd

Nur Azizah, S.Pd

(4)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN GEOGRAFI

“KONTRIBUSI PENDIDIKAN GEOGRAFI DI ERA REVOLUSI 4.0”

ISBN : 978-623-92801-0-9

Tim Editor :

Prof. Dr. Hj. Enok Maryani. MS.

Slamet N. Rohman, S.Pd.

Exsa Putra, S.Pd.

Ade Rika S.F, S.Pd.

Sitti Raisa, S.Pd.

Nur Azizah, S.Pd.

Desain Sampul :

Teza Akbar Soleh, S.Pd.

Penerbit :

Program Studi Magister Pendidikan Geografi Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Redaksi :

Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Kota Bandung 40154 Telp (022) 2001197

Fax (022) 205090

Email : [email protected] Cetakan pertama, Desember 2019

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin

tertulis dari penerbit.

(5)

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas ni’mat, rahmat dan karuniaNya kami telah mampu menyelesaikan Prosiding ini. Prosiding ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Seminar Nasional yang bertemakan “Kontribusi Pendidikan Geografi di Era Revolusi 4.0” telah dilaksanakan di Bandung pada tanggal 10 Desember 2019. Seminar Nasional ini dilaksanakan bertujuan untuk memberikan suatu pandangan mengenai peran serta dan kontribusi Pendidikan Geogafi di era Revolusi 4.0.

Kegiatan Seminar Nasional ini diikuti oleh peserta dari akademisi pendidikan perguruan tinggi, guru dan mahasiswa. Dengan terselenggaranya kegiatan ini kami haturkan terima kasih kepada Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. H. Rd. Asep Kadarohman, M.Si., Direktur Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Syihabuddin, M.Pd., yang telah memberikan arahan mengenai pentingnya kontribusi Pendidikan Geografi di era Revolusi 4.0. Penghargaan dan ucapan terima kasih kami haturkan kepada para narasumber pada kegiatan Seminar Nasional yakni Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd selaku Guru Besar Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Deni Darmawan, M.Si., MCE selaku Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia dan Drs. Abdul Latief, M.Pd selaku Ketua MGMP Geografi Jawa Barat.

Kepada seluruh peserta, panitia dan pihak lain yang telah memberikan kontribusi sehingga terlaksananya kegiatan ini dan tersusunnya prosiding. Kami ucapkan terimakasih.

Semoga semua amal baik menjadi bagian dari ibadah kita. Atas segala kekurangan selama terlaksananya seminar kami mohon maaf.

Bandung, Desember 2019 Ketua Program Studi Magister Pendidikan Geografi UPI

Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, MS.

(6)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii

PEMBICARA TAMU

PEMBELAJARAN PROBLEM BASED SERVICE LEARNING UNTUK

MITIGASI DALAM RANGKA MENCETAK GENERASI PEDULI LINGKUNGAN

Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd. ... 1

INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MENYONGSONG REVOLUSI INDUSTRI 4.0 VERSUS HUMAN INDUSTRY 5.0

Prof. Dr. Deni Darmawan, M.Si., MCE. ... 7

PEMBELAJARAN GEOGRAFI DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN KERUANGAN

Drs. Abdul Latief, M.Pd. ... 19

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER, KECAKAPAN ABAD 21, DAN LIERASI DALAM PEMBELAJARAN

Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, MS. ... 24

LAMPIRAN

Sub Tema 1 : Pendidikan Geografi

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS STEM (SCIENCE,

TECHNOLOGY, ENGINEERING AND MATEMATHICS) PADA MATA

PELAJARAN GEOGRAFI MELALUI PEMANFAATAN MEDIA GEO-DIGITAL

Ana Widiyati... 32

PEMBELAJARAN GEOGRAFI DALAM MEMBENTUK PETA MENTAL ESERTA DIDIK

Ade Rika S.F... 42

STUDI KETERAMPILAN ABAD 21 (LITERACY SKILLS) MAHASISWA PENDIDIKAN GEOGRAFI DI ERA GLOBALISASI

Amelia Zahara ... 47

ANALISIS EDUKASI GEOGRAFI DALAM FILM SEXY KILLER DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

Annisa Nur Indriyanti ... 54

KEMAMPUAN TPACK (TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL DAN CONTENT

KNOWLEDGE) GURU GEOGRAFI DALAM MATERI SISTEM INFORMASI

GEOGRAFI (SIG)

Avi Valentri ... 61

(7)

iii

PEMBELAJARAN TEMATIK MITIGASI BENCANA GERAKAN TANAH DI BANTARAN SUNGAI BERANTAS PADA SISWA SEKOLAH DASAR

Diyas Age Larasati ... 68

ANALISIS KESIAPAN MAHASISWA PENDIDIKAN GEOGRAFI DALAM MENGHADAPI PROGRAM PENGENALAN LAPANGAN PERSEKOLAHAN Ely Satiyasih Rosali

1

, Elgar Balasa Singkawijaya

2

, M. Isnan Hadi

3

,

R. Winda N

4

... 76

MODEL OUTDOOR LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Exsa Putra ... 86

WILAYAH PONTENSI BANJIR DAN UPAYA PENDIDIKAN MITIGASI BENCANA DI KOTA KENDARI

Ismail Akbar ... 90

ANALISIS MINAT TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA SMA NEGERI DI KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA

Iya Setyasih

1

, Yuli Nuriyawati

2

, Mei Vita R

3

... 96

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA MENGGUNAKAN MEDIA VIDEOSCRIBE DENGAN MEDIA ANIMASI PADA POKOK BAHASAN SIKLUS AIR KELAS X SMA NEGERI 1 MUARA TIGA

Novia Zalmita

1

, Nurul Amelia Rizki

2

, Fitriani Yulianti

3

... 104

LITERASI DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

Nur Azizah ... 110

PERAN GURU GEOGRAFI DALAM MENINGKATKAN KESIAPSIAGAAN BENCANA TSUNAMI DI PROVINSI BANTEN

Nurul Komariah ... 115

PROFIL KOMPONEN PENYUSUN KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Pardo Wandra ... 120

KONTRIBUSI MEDIA RUANG GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA Putri Wulan Sari ... 132

BUKU TEKS DAN NON TEKS DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Robiyati ... 136

PENGURANGAN RISIKO BENCANA (PRB) MELALUI PENGUATAN

KEMAMPUAN LITERASI INFORMASI BENCANA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Sitti Raisa ... 140

(8)

iv

IDENTIFIKASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT DALAM KETAHANAN PANGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR GEOGRAFI (Studi Kasus : Kampung Naga Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya)

Slamet Nopharipaldi Rohman. ... 146

ANALISIS KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA BERSTRATA PENILAIAN LMH’S PADA EVALUASI PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Suhendro... 156

PERAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

Teza Akbar ... 166

Sub Tema 2 : Geografi Fisik

DAMPAK TUMPAHAN MINYAK PADA PENINGKATAN RISIKO ABRASI PESISIR KARAWANG BERDASARKAN KERAPATAN MANGROVE DAN KETEBALAN MINYAK PADA SEDIMEN PANTAI

Arip Munawir¹ dan Asep Saepudin² ... 170

ANALISIS HUBUNGAN KELIMPAHAN INVERTEBRATA DAN TUMPAHAN MINYAK SUMUR YYA-1 DI PERAIRAN KARAWANG

Arip Munawir ... 178

REHABILITASI LAHAN PASCA KEGIATAN PENAMBANGAN PASIR GUNUNG GALUNGGUNG DI KECAMATAN MANGKUBUMI

KOTA TASIKMALAYA

Erni Mulyanie ... 187

ECOLITERACY MAHASISWA GEOGRAFI SEBAGAI KONTRIBUSI DALAM

PRO LINGKUNGAN DI KOTA BANDUNG

Nur Wahyuni ... 195

Sub Tema 3 : Mitigasi Bencana

KEARIFAN LOKAL: PENGEMBANGAN KAPASITAS MITIGASI BENCANA DI DESA UMBULHARJO, KABUPATEN SLEMAN, DIY

Achmad Nur

1

, Dedi Setyadi

2

, Yohana Suryana

3

, Marita Ahdiyana

4

... 201

PERAN PERBUKITAN KUTA TANDINGAN – KARAWANG TERHADAP POTENSI ANCAMAN BENCANA BANJIR LUAPAN SUNGAI BERDASARKAN KEMAMPUAN INFILTRASI AIR DAN DAYA TAMPUNG RUN OFF

Arip Munawir¹, Andi Sungkowo², Eko Teguh Paripurno³ ... 208

ANALISIS DAMPAK BENCANA BANJIR SUNGAI BENGAWAN MADIUN MENGGUNAKAN OPEN STREET MAP

Dimas Mazhuri Pambudi Mulya

1

, Dwi Anita Kumalasari

2

,

Sri Wahyuningsih

3

... 217

STRATEGI COPING : ADAPTASI NELAYAN MENGHADAPI KERENTANAN PENDAPATAN

Dini Yuniarti ... 225

(9)

v

DAMPAK LITERASI INFORMASI TERHADAP KEPEDULIAN MASYARAKAT KABUPATEN GARUT DALAM MENGHADAPI ANCAMAN BENCANA

LONGSOR

Eldi Mulyana

1

, Zamzam Nurjaman

2

, Hilmi

3

... 235

STRATEGI MITIGASI BENCANA TSUNAMI BERDASARKAN ANALISIS PENILAIAN KETANGGUHAN BENCANA DI DESA CIPATUJAH

KECAMATAN CIPATUJAH KABUPATEN TASIKMALAYA

Erwin Hilman Hakim ... 246

APLIKASI SIG UNTUK PEMETAAN KESIAPSIAGAAN SEKOLAH TERHADAP BENCANA DAN UPAYA-UPAYA MITIGASINYA DI SEKOLAH NEGERI

SE-BANDAR LAMPUNG

Febry Eko Santoso

1

, Gilang Wijaya

2

... 252

OPTIMALISASI PENDIDIKAN KEBENCANAAN GUNA MENCIPTAKAN SEKOLAH AMAN BENCANA DI KOTA CIMAHI

Fisabil Yusuf Prihadi ... 262

ANALISIS MANAJEMEN BENCANA KEBAKARAN DI PERMUKIMAN DI KELURAHAN JAGALAN, KECAMATAN SEMARANG TENGAH, KOTA SEMARANG

Kristi Dese Imanuel Adi Papa Yohanes

1

, Dicko Agustian

2

... 272

PENENDALIAN BANJIR DAPAT DIATASI DENAN KOLAM RETENSI

Mangambit Juliandar... 277

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL UNTUK MITIGASI BENCANA BANJIR DAN GEMPA MELALUI APLIKASI GENERASI

TANGGUH BENCANA BERBASIS ONLINE STORYMAP

Muhammad Amin Sunarhadi

1

, Pranichayudha Rohsulina

2

, Husyain Rifai

3

,

Ary Wijayanti

4

, Khabibur Rahman

5

, Talitha Rahmawati

6

... 286

ZONASI KERENTANAN BENCANA LONGSOR BERBASIS ANALIS SPASIAL DI DESA CIKUYA KECAMATAN CULAMEGA KABUPATEN TASIKMALAYA

Vinki Ari Lesmana

1

, Muhammad Isnan Hadi

2

, Torik Sahroni

3

... 296

Sub Tema 4 : Geografi Teknik

PERHITUNGAN LUAS WILAYAH DAN PANJANG GARIS PANTAI INDONESIA MENGUNAKAN SISTEM PROYEKSI DISTORSI MINIMAL

Agung Syetiawan

1

... 305

PERUBAHAN PANTAI JUNTINYUAT KABUPATEN INDRAMAYU TAHUN 2009-2019 DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFROMASI GEOGRAFIS

Dicko Agustian

1

dan Dina Kharisma

2

... 316

(10)

vi

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DRONE UNTUK PERCEPATAN PEMETAAN DESA (Studi Kasus: Dusun Parit IV, Kelurahan Kuday, Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka)

Mahardhika Noor Rahmadana Putra ¹, Nuke Mediana Safitri ², Aditya Bagus

Chatria

3

... 325

ANALISIS KEPADATAN PENDUDUK DI KECAMATAN NOGOSARI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2019

Rico Efendi

1

, Ade Suherman

2

, Candra Restu

3

, Aji P

4

, David F. M

5

... 336

SONEC : “SIMULATION OF MOON AND SUN ECLIPSE” DENGAN PENGONTROLAN NIRKABEL VIA SMARTPHONE ANDROID

Rudi Salam

1

, Deni Ramdani

2

, Hana Salsabila

3

... 345

Sub Tema 5 : Geografi Manusia

PERUBAHAN SPASIAL DAN SOSIO KULTURAL PADA MASYARAKAT PINGGIRAN KOTA BANDA ACEH

Alamsyah Taher

1

, Ahmad Nubli Gadeng

2

... 355

PARTISIPASI TOKOH MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNANJALAN TOL BANDA ACEH-SIGLI

Daska Azis

1

, M. Hafizul Furqan

2

, Sayuthi

3

... 369

PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP WISATA HALAL DI KOTA BANDA ACEH

Fitriani Yulianti ... 375

KEARIFAN LOKAL PAWANG UTEUN UNTUK HUTAN ACEH LESTARI

Muslihin ... 384

PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN UNTUK BUDIDAYA IKAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM BIOFLOK DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN KELUARGA DI KELURAHAN KAHURIPAN

KOTA TASIKMALAYA JAWA BARAT

Nedi Sunaedi

1,

Darwis Darmawan

2

... 391

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL SAWAH LODOK: MENGINTEGRASIKAN DAN BERORIENTASI PADA PENDIDIKAN KARAKTER (PEMBELAJARAN GEOGRAFI SMA KELAS XI)

Ottovianus Diliano Nery ... 398

PEMANFAATAN BAMBU DALAM PELESTARIAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT DESA CIAMPANAN KECAMATAN CINEAM KABUPATEN TASIKMALAYA

Yani Sri Astuti

1

, Putri Intan Pratiwi

2

... 407

(11)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

355

Subtema 5: Geografi Manusia

PERUBAHAN SPASIAL DAN SOSIO KULTURAL MASYARAKAT PINGGIRAN KOTA BANDA ACEH

Alamsyah Taher1 dan Ahmad Nubli Gadeng2

1[email protected]

2 [email protected]

1,2 Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

ABSTRACT

The purpose of this study is first, to analyze how the growth of the area that occurred in the suburbs of Banda Aceh City; Second, how is the expansion of Banda Aceh City; Third, to find out how the level of population communality in the city of Banda Aceh; Fourth, to examine more deeply the ambivalence of the lifestyle (lifestyle) of the population in the city of Banda Aceh. The method used in this research is descriptive qualitative. The location in this study is in the city of Banda Aceh and the periphery, namely in the district of Aceh Besar. Data collection techniques through observation at the research location, interviews with the community, and literature studies that are relevant to the focus of the study. Data analysis techniques using the Delphi method. The results showed the growth of urban suburbs experienced rapid growth, as a result of urban expansion, and the large number of rural communities migrating to try their fortune in urban areas. The expansion of the city gives rise to plurality in the periphery. In the suburbs of Banda Aceh there have been rapid spatial and socio-cultural changes. The recommendations of this research are expected by the government to be able to protect the existence of a unique local values and outlook on life which are often defeated by new values that are not necessarily compatible with the character of the community members.

Keywords: Spatial Change, Socio-Cultural, Rural Communities.

ABSTRAK

Tujuan dalam penelitian ini adalah pertama, untuk menganalisis bagaimanakah pertumbuhan wilayah yang terjadi di daerah pinggiran Kota Banda Aceh; Kedua, bagaimanakah perluasan Kota Banda Aceh; Ketiga, untuk mengetahui bagaimanakah tingkat komunalitas penduduk di Kota Banda Aceh; Keempat, untuk menelaah lebih dalam bagaimanakah ambivalensi gaya hidup (lifestyle) penduduk di Kota Banda Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Lokasi dalam penelitian ini yaitu di Kota Banda Aceh dan daerah pinggiran yaitu di Kabupaten Aceh Besar. Teknik pengumpulan data melalui observasi di lokasi penelitian, wawancara kepada masyarakat, dan studi kepustakaan yang relevan dengan fokus penelitian. Teknik analisis data dengan menggunakan metode delphi. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan wilayah pinggiran perkotaan mengalami pertumbuhan yang pesat, sebagai akibat perluasan kota, dan banyaknya masyarakat pedesaan yang bermigran untyuk mengadu nasib di perkotaan. Perluasan kota menimbulkan kemajemukan (pluralitas) di daerah pinggiran. Di daerah pinggiran

kota Banda Aceh telah terjadi perubahan spatial dan sosio kultural dengan pesat.

Rekomendasi penelitian ini diharapkan pemerintah dapat melindungi eksistensi tata nilai dan pandangan hidup lokal yang khas yang justru sering dikalahkan oleh nilai-nilai baru yang belum tentu cocok dengan karakter anggota komunitas tersebut.

Kata Kunci:

Perubahan Spasial, Sosio Kultural, Masyarakat Pinggiran

PENDAHULUAN

Daerah pinggiran perkotaan disebut juga dengan urban fringe area, dewasa ini daerah pinggiran perkotaan sering disorot oleh banyak ahli dari berbagai ilmu seperti geografi, sosial dan perkotaan.

Besarnya perhatian terutama tertuju pada berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh proses ekspansi kota ke wilayah pingiran yang berakibat pada perubahan tata guna lahan, demografi, keseimbangan ekologis serta keseimbangan antara tata guna lahan yang ada dengan kondisi sosial masyarakat di daerah pinggiran. Sebagai daerah yang menjadi sasaran kegiatan pembangunan

(12)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

356

(industri dan pemukiman) daerah pinggiran perkotaan tersebut diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi di perkotaan (urban economic development). Setiap provinsi atau kabupaten memiliki daerah pinggiran perkotaan, begitu juga yang terjadi di Provinsi Aceh, khususnya di Kota Banda Aceh.

Pokok dari persoalan urban fringe area pada dasarnya disebabkan oleh adanya kegiatan perluasan area perkotaan (restrukturisasi internal kota) yang dipicu oleh 2 (dua) hal yaitu pertama tekanan pembangunan fisik, sosial ekonomi dan sosial budaya di kota. Seperti kita ketahui akibat tekanan pembangunan di perkotaan tersebut telah menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan sekaligus berakibat pada punyusutan penduduk di perdesaan. Berdasarkan data statistik tahun 1990 menunjukkan bahwa: bila pada tahun 1980 penduduk perdesaan masih berjumlah 78%, sedangkan pada tahun 1990 penduduk perdesaan telah mengalami penurunan menjadi 69%, diperkirakan dengan laju pertumbuhan penduduk desa hanya 1,2% pertahun, berdasarkan data tersebut dapat diprediksi pada tahun 2010 penduduk perdesaan akan mengalami penurunan signifikan menjadi 48% dari total penduduk Indonesia. Penyusutan penduduk perdesaan juga telah memberikan indikasi bahwa pekerjaaan bidang pertanian cenderung semakin kurang menarik bagi sebagian penduduk perdesaan seiring dengan terjadinya konversi besar-besaran lahan pertanian menjadi nonpertanian di perdesaan, khususnya di sekitar kota-kota besar di Indonesia, tidak terkecuali juga terjadi di Provinsi Aceh fenomena tersebut.

Hal kedua yang menyebabkan kegiatan perluasan kota adalah tersedianya pilihan bagi masyarakat kota untuk mendapatkan tempat tinggal (living space) di luar daerah perkotaan. Dampak dari kondisi itu adalah terjadinya konversi lahan pertanian menjadi nonpertanian, suburbanisasi (urban back flow outward movement) serta terjadinya pergeseran nilai tradisi dan budaya (migrasi kultur) penduduk lokal atau dengan kata lain terjadi proses transformasi spasial dan sosial desa-desa di daerah fringe. Penduduk yang bekerja di Kota Banda Aceh, lebih memilih untuk tinggal di daerah pinggiran kota Banda Aceh. Daerah pinggiran perkotaan (urban fringe area) Kota Banda Aceh yaitu Kabupaten Aceh Besar tepatnya di beberapa kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Banda Aceh.

Dalam kaitannya dengan kegiatan pembangunan yang terjadi di daerah pinggiran, terdapat dua wilayah yang memiliki kepentingan terhadap eksistensi wilayah pinggiran yaitu wilayah perkotaan dan perdesaan. Ada dua alasan yang dapat menjelaskan mengapa dua kawasan ini menjadi penting dalam kaitannya dengan terbentuknya daerah urban fringe. Pertama, keduanya merupakan wilayah yang terkait langsung dengan kegiatan dan kebutuhan pokok hidup manusia yaitu sebagai tempat bekerja dan bermukim. Kedua, dua kawasan tersebut sebenarnya bisa dikatakan sebagai dua kawasan yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga daerah perkotaan dan perdesaan harus hidup berdampingan dengan harmonis dalam masyarakat di kedua daerah tersebut.

Perkembangan global menjelang abad 21 telah banyak memberikan kesempatan kepada daerah perkotaan untuk berkembang lebih dominan daripada wilayah perdesaan. Dalam berbagai kesempatan sering kita dengar bahwa kristalisasi dan aglomerasi ekonomi di perkotaan yang dalam dua dekade ini menunjukkan peningkatan tajam bahkan terjadi dalam skala besar (massive urbanization). Kenyataan inilah yang telah memaksa para penentu kebijakan Kota Banda Aceh mengambil keputusan untuk melakukan restrukturisasi internal kota, yang sebagian pengamat menuding sebagai lambang arogansi kota terhadap desa-desa di sekitarnya, karena secara fisik hal itu ditandai oleh konversi lahan pertanian secara besar-besaran dalam skala luas terutama di pinggiran kota metropolitan utama. Perkembangan dan penyusutan area di dua kawasan di atas memberikan gambaran bahwa telah terjadi transformasi spasial dan sosial secara besar-besaran dalam masyarakat Indonesia dan khususnya di Provinsi Aceh. Hal ini terkait dengan semakin menguatnya pandangan urbanism as a way of life yang dikemukakan oleh Louis Wirth, pada kenyataannya tidak hanya terjadi di perkotaan namun juga di perdesaan. Hal tersebut diakibatkan oleh perkembangan sistem transportasi, komunikasi dan informasi global saat ini yang bertumpu terutama pada aspek ekonomi.

Fenomena ini menyebabkan melemahnya perspektif positif terhadap eksistensi wilayah perdesaan sebagai partner daerah perkotaan, seiring dengan semakin semaraknya pertumbuhan pusat-pusat ekonomi baru di perdesaan dan daerah pinggiran perkotaan yang dengan sendirinya telah merubah morfologi kota dan daerah pinggiran Kota Banda Aceh. Pertumbuhan tersebut tanpa menghiraukan kondisi bentang alam yang rawan akan bencana gempa dan tsunami. The development of new housing (settlement) in the area of Banda Aceh City and Aceh Besar Regency

(13)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

357

located in the red-zone area of a tsunami also grow rapidly, as if that the developer build houses for people without considering the aspect of safety from a natural disaster (Gadeng, 2019:3).

Fenomena menarik yang sedang melanda kota-kota besar saat ini adalah munculnya kecenderungan migrasi penduduk dari kota ke daerah pinggiran (urban backflow) yang dilakukan oleh golongan menengah ke atas. Jika ditilik dari misinya perluasan kota ke daerah pingiran sebenarnya ditujukan untuk menumbuhkembangkan daerah pinggiran. Namun pada kenyataannya yang tejadi adalah terbentuknya enclaves komunitas urban yang didasari oleh kepentingan kelompok menengah ke atas dalam masyarakat yang memberikan kontribusi sosial ekonomi setengah-setengah pada daerah perdesaan.

Sehingga tidak heran jika muncul pendapat bahwa wilayah perdesaan masih dipandang sebagai obyek dimana potensi spasial dan sosio-kulturalnya sering dikalahkan oleh kepentingan dan tujuan para pendatang. Proses yang dikenal juga dengan suburbanisasi ini pada banyak kasus telah menyebabkan terpolarisasinya penduduk pendatang dan penduduk lokal. Tepatnya setelah bencana gempa dan tsunami terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, pertumbuhan penduduk di pusat Kota Banda Aceh dan pinggiran Kota Banda Aceh meningkat dengan sangat pesat. Gadeng, dkk. (2019:4) It is also influenced by the increasing economic growth in Banda Aceh City marked by many job opportunities, so the increase of workforce who come from outside area cause the need for housing is also increasing. Hal tersebut menandakan bahwa kondisi perekonomian di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dewasa ini mengalami peningkatan yang sangat pesat.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti berminat untuk mengkaji fenomena dengan judul

perubahan spasial dan sosio kultural pada masyarakat perdesaan pinggiran Kota Banda Aceh. Kemudian,

adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: pertama, bagaimanakah pertumbuhan wilayah yang terjadi di daerah pinggiran Kota Banda Aceh?; Kedua, bagaimanakah evaluasi terhadap perluasan Kota Banda Aceh?; Ketiga, bagaimanakah tingkat komunalitas penduduk di Kota Banda Aceh?; Keempat, bagaimanakah ambivalensi gaya hidup (lifestyle) penduduk di Kota Banda Aceh?

METODE

Kota Banda Aceh dan Aceh Besar menjadi lokasi penelitian. Dalam kesempatan ini, deskriptif kualitatif sebagai metode yang akan digunakan dalam penelitian ini. Mengingat penelitian ini dilakukan dalam lingkungan kehidupan masyarakat, sehingga teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui observasi lapangan dan wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat yang dianggap dapat memberikan jawaban yang tepat, benar dan konkrit terhadap fenomena yang sedang dikaji dalam penelitian ini. Tidak ketinggalan juga, teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan yang berhubungan sesuai dengan tema yang sedang dibahas dalam artikel ini.

Kemudian, teknik analisis yang digunakan yaitu dengan metode delphi, yang mana nantinya hasil yang didapatkan pada saat penelitian di lapangan, akan ditelaah kembali oleh para ahli di bidangnya masing-masing.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan wilayah

Dilihat dari kepentingan pertumbuhan wilayah, fenomena di atas akan memberikan berbagai dampak yang cukup serius terutama pada wilayah pinggiran. Kalau Graeme Hugo, pakar mobilitas penduduk di Indonesia pernah mengemukakan bahwa sebagian besar kaum migran yang datang ke kota-kota besar merupakan migran sekuler yang tidak berniat untuk tinggal di kota karena desa merupakan tempat tinggalnya, saat ini agaknya perlu dikoreksi kembali terutama jika yang dilihat adalah para petani di sekitar kota-kota besar. Ada kecenderungan bahwa pengembangan kegiatan nonpertanian di daerah pinggiran perkotaan menyebabkan terjadinya kemiskinan di desa pinggiran perkotaan dan marjinalisasi penduduk lokal. Mereka itu adalah petani yang kemudian menyandang predikat buruh tani-karena tidak lagi memiliki sawah-dan para pemilik tanah kecil. Mereka inilah yang kemudian cenderung bermigrasi ke kota untuk menjadi migran permanen dan bekerja di sektor informal serta hidup di kampung-kampung kumuh. Mengingat taraf pendidikan yang mereka miliki hanya berijazah SD, SMP sampai SMA, serta ditambah dengan kemampuan softskills yang rendah, sehingga para migran ini tidak mampu bersaing di tengah kerasnya kehidupan ibukota negara baik ibukota provinsi maupun kabupaten.

(14)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

358

Sementara itu praktisi eksploitasi lahan di pingiran perkotaan dilakukan oleh para pengembang dalam berbagai skala telah menyebabkan terjadinya aglomerasi sosial serta timbulnya sifat sosial yang khas dari komunitas yang terbentuk. Suatu hal yang perlu disadari adalah bahwa akibat perluasan spasial berbagai kota, timbul kemajemukan (pluralitas) kelompok komunitas di daerah pinggiran. Namun tingginya tingkat kemajemukan itu telah pula menyebabkan tingginya tingkat kesulitan membaurnya kelompok-kelompok komunitas pendatang yang diidentikkan dengan moderenitas dan kemajuan dan penduduk lokal yang diidentikkan dengan tradisional dan kemandekan. Kesulitan di atas sebenarnya dapat dieliminir kalau saja batas fisik yuridis formal antara pemukiman baru dan lokal tidak secara tegas ditonjolkan. Disinilah peran para perencana permukiman baru diharapkan, untuk mengolah suatu sistem spasial terbuka, terpadu dan komprehensif guna membuka mekanisme redistribusi interaksi sosial dua kelompok masyrakat terebut dengan praksis paradigma antagonistic cooperation (kerja sama antar pihak yang berbeda).

Strategi ini ditujukan juga untuk mengeliminir eksklusivitas sosial para pendatang yang sudah terbiasa hidup sebagai masyarakat mekanik yang cenderung individualistik sekaligus meningkatkan kualitas hidup penduduk lokal yang masih beorientasi pada masyarakat organik yang sangat homogen.

Dari cara pandang linier proses peluasan kota sebenarnya merupakan proses perubahan masyarakat organik menjadi masyarakat mekanik. Oleh Louis Wirth hal ini akan menghasilkan apa yang disebut sebagai urbanism as a way of life yang menegaskan tata cara hidup perkotaan sebagai stereotipe pandangan hidup masyarakatnya. Perubahan masyarakat ini harus dilihat dalam kaitannya dengan tujuan pembangunan permukiman berskala besar tersebut yaitu mengarahkan agar proses transformasi sosial tersebut dapat berjalan sesuai dengan tahapan dan arah perubahan yang benar guna melindungi eksistensi tata nilai dan pandangan hidup lokal yang khas yang justru sering dikalahkan oleh nilai-nilai baru yang belum tentu cocok dengan karakter anggota komunitas tersebut.

B. Evaluasi Terhadap Perluasan Kota

Kesesakan, stres sosial, polusi, kriminalitas adalah sebagian contoh ketidaknyamanan yang ditawarkan kota-kota besar saat ini. Pembangunan kota-kota baru di pinggiran Kota Banda Aceh sebenarnya dimaksudkan untuk melepaskan diri dari lilitan masalah kota di atas, dan ditujukan pula untuk meningkatkan kualitas kehidupan kota. Ironisnya harapan terhadap timbulnya kota-kota baru dapat berperan sebagai counter magnet kota induk yang belum seluruhnya menjadi kenyataan.

Daerah pinggiran perdesaan yang terdapat di Kota Banda Aceh yaitu masuk ke dalam Kabupaten Aceh Besar terdiri dari beberapa kecamatan menjadi tujuan tempat tinggal penduduk yang bekerja di Kota Banda Aceh seperti Kecamatan Peukan Bada, Kecamatan Darul Imarah, Kecamatan Ingin Jaya, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kecamatan Darussalam dan Kecamatan Baitussalam. Hanya 6 kecamatan dari 23 kecamatan yang terdapat di seluruh Kabupaten Aceh Besar, menjadi daerah pinggiran perdesaan Kota Banda Aceh. 6 kecamatan tersebut jaraknya tidak jauh dari pusat kota dan berada di sekeliling Kota Banda Aceh, sehingga sangat layak untuk dijadikan sebagai tempat pemukiman para penduduk yang bekerja di sekitar wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar 1 (Peta Sub-Urban Kota Banda Aceh).

Dominasi konsideran ekonomi dalam pembangunan dan perluasan kota, agaknya telah menggiring warga kota yang notabene menginginkan perbaikan kualitas dan kuantitas ruang hidup, pada posisi yang sulit dalam memilih tempat tinggalnya. Di satu pihak walaupun perubahan fisik daerah pinggiran mampu meningkatkan kualitas fisik ruang, namun ternyata belum mampu menekan biaya untuk berkomuter. Di pihak lain untuk tinggal di kota mereka akan dihadapkan pada fenomena ruang sempit dan mahal serta tingginya social cost yang harus ditanggung.

Tantangan masalah perkotaan ini harus diantisipasi dengan dua pendekatan yaitu pertama, meningkatkan peran permukiman berskala besar agar secara nyata dapat menjadi daya tarik komparatif terhadap kota induk yaitu dengan membentuk suatu komunitas yang dapat mengakomodasi kebutuhan perekonomian penduduk serta kebutuhan sosio-kultural komunitasnya.

Kedua, mengarahkan arus suburbanisasi (urban backflow) yang terjadi pada pola distribusi yang lebih merata dan terpadu di daerah pinggiran hingga dapat membentuk satu komunitas yang benar- benar mandiri. Hal ini ditujukan untuk menghindari terbentuknya morfologi ruang kota yang amorphius, tidak efisien dan berkembang tanpa batas.

(15)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

359 Gambar 1.

Peta Kawasan Sub-Urban Kota Banda Aceh

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa kegiatan perluasan kota ke daerah pinggiran yang tanpa batas dan kurang tekendali dapat mengakibatkan kesenjangan antara kondisi fisik spasial dan sosio-kultural yang bermuara pada kesenjangan antara strategi pembangunan pertanian dan pembangunan perkotaan. Untuk itu, kebijaksanaan perluasan kota harus juga diarahkan pada kepentingan sosial dan ekonomi desa-desa di pinggiran kota. Gadeng (2019:9) the settlement and housing development can create a pleasant climate in economic because the new centers of population growth in Banda Aceh City are established.

Dengan demikian, pembangunannya hendaknya dipadukan dengan kebijaksanaan pengembangan kota antar regional (desa-kota), sehingga pola perluasan spasialnya dapat lebih diorientasikan pada distribusi merata yang mampu mengintegrasikan tata nilai fisik dan sosial wilayah. Hal ini perlu dikembangkan guna menunjang interaksi ekonomi, sosio-kultural serta mengedepankan peran positif yang disandang oleh para pendatang. Budihardjo (2009) Dalam menentukan lokasi pemukiman dan perumahan yang baik dan ideal harus memperhatikan faktor ekonomis: menciptakan kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat sekelilingnya. Gadeng (2019:9) It is because the land had been inhabited by many people and filled by various activities, and automatically the shops will grow and develop a shopping center in people-environment to fulfill their daily needs. So the outcome of this trading can increase household income of the low-income family. Pada akhirnya, pertumbuhan pemukiman baru bermanfaat untuk masyarakat lokal yang bertempat tinggal di sekitar wilayah tersebut.

Gadeng (2019:9) Finally, it can eliminate isolated and undeveloped area in Banda Aceh City, the area located in the red zone of tsunami should avoid the overcrowded population so that disaster evacuation can be done quickly when tsunami disaster occurs in the future. Hal ini juga untuk mendorong dan mengembangkan pertumbuhan daerah pinggiran sekaligus mengeliminir ketimpangan antara pertumbuhan kota dan desa serta keseimbangan ekologis dan sosio-kultural antar regional dengan tetap memperhatikan hakikat ideologi dan kondisi dinamika sosio-kultural masyarakatnya. Untuk itu, kebijaksanaan dan upaya untuk mengembangkan strategi pengembangan kota tetap harus direorintasikan pada eksisensi dan aspirasi penduduk lokal di daerah pinggiran.

Gambaran ideal struktur daerah (urban) dinyatakan oleh Bintarto (1989) sebagai susunan zone- zone interaksi konsentrik, meskipun pada kenyataannya jalur-jalur tersebut tidak lagi bersifat konsentrik, yang terdiri dari kota, suburban (subdaerah perkotaan), suburban fringe (jalur tepi subdaerah perkotaan), urban fringe (jalur tepi daerah perkotaan paling luar) dan rural urban fringe ( jalur batas yang masing-masing memiliki suasana kehidupan modern yang dapat disebut sebagai daerah perkotaan (urban). (Gambar 2). Sementara itu, teori mengenai urban fringe yang

(16)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

360

dikembangkan oleh beberapa ahli perkotaan negara maju umumnya dikembangkan berdasarkan pandangan dikotomik antara daerah perkotaan dan perdesaan (Soussan, 1981; Lyon, 1983; Besley, 1986). Soussan (1981) menyebutkan bahwa daerah urban fringe yang terbentuk akibat pertumbuhan kota adalah merupakan daerah peralihan atau transisi antara kenampakan perkotaan dan perdesaan, sehingga kawasan ini memiliki ciri baik perkotaan maupun perdesaan terutama pada penggunaan lahannya. Pengertian urban fringe secara umum diartikan sebagai suatu daerah yang berada dalam proses transformasi dari daerah perdesaan menjadi perkotaan.

Gambar 1. Skema Zona Kota-Desa Gambar 2.

Gambaran ideal struktur daerah (urban) Sumber: Bintarto (1989:67)

Leeming dan Soussan (1979) “In the vast field of rural urban relationship a topic of perticular interest and importances is th fringes of the cities... those zone where the cities, in the course of their growth, are transforming tracts of rural territory and society into city areas.” Kemudian, Nangia (1976) “The zone which lies immediantely outside the city area, and has strong interaction with the city proper in terms of daily commutation, exchange of goods an services and bears an urban reflection on the phisical, occupational and demographic structure”. Gopi (1976,1978) “Is neither urban nor rural but combines the future of both. In other words it is a transitional area which is ini the process of rapid change under the influence of expanding city.” Tiga definisi di atas menjelaskan bahwa urban fringe diartikan sebagai daerah transisi antara daerah yang berkarakter kota dengan daerah yang berkarakter desa. Sebagai daerah transisi, Beesley (1986) mengusulkan bahwa paling tidak empat karakter dapat dipakai untuk mengklasifikasikan suatu daerah dapat disebut sebagai urban fringe yaitu,

1. Sebelumnya merupakan daerah perdesaan dengan dominasi guna lahan pertanian dan komunitas masyarakat pedesaan.

2. Merupakan daerah yang menjadi sasaran serbuan perkembangan kota serta menjadi ajang spekulasi tanah bagi para pengembang

3. Merupakan daerah yang diinvasi oleh penduduk perkotaan dengan karakter sosial perkotaan 4. Merupakan daerah dimana berbagai konflik muncul, terutama antara penduduk pendatang dan

lokal, antara penduduk kota dan desa serta antara petani dan pengembang.

Prior (1971) dalam Yunus (1987) memahami daerah urban fringe dengan menggunakan istilah

“urban-rural land use triangle” yang di dalamnya mengungkapkan gabungan konsep invasi perkotaan dengan kondisi penggunaan lahan yang sangat heterogen di pinggir kota.

City Suburban Suburban fringe Urban fringe Rural urban fringe Rural

(17)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

361

0 25 50 75 100

75 75

50 50

25 25 0 0

Gambar 3.

Gambar 3. Urban Rural Land Use Triangle Sumber: Yunus (1987:2)

Prior (1971) mengatakan bahwa urban fringe adalah sub area dari rural urban fringe yang masih memiliki hubungan dan berbatasan langsung dengan kota, kepadatan rumah lebih tinggi daripada rata-rata total kepadatan rural urban fringe; proporsi yang meningkat antara lingkungan hunian, komersial, industri, dan kosongnya tanah pertanian dengan tingginya angka peningkatan kepadatan penduduk; peralihan fungsi lahan serta tinggnya angka para komuter. Urban fringe sendiri adalah semua daerah batas luar kota yang memiliki sifat-sifat mirip kota atau merupakan jalur tepi daerah perkotaan paling luar. (lihat gambar 3).

Pada perkembangannya, karena beragamnya daerah urban fringe tersebut, para ahli membuat klasifikasi lebih rinci dan membagi fringe menjadi tiga yaitu, (1) rural urban fringe, (2) urban fringe, (3) rural fringe. Rural-urban fringe sebagaimana didefinisikan oleh Prior (1971) merupakan zona transisi atau overlaping antara lingkungan terbangun kota dengan lingkungan perdesaan. Urban fringe oleh Prior juga didefinisikan sebagai subzone dari rural urban fringe yang mempunyai intensitas perkembangan lebih rendah daripada rata-rata intensitas perkembangan daerah rural urban fringe. Sebagai zone transisi yang memiliki karakter kota, urban fringe sebenarnya juga (akan) merupakan bagian dari kota. Mencoba untuk lebih merepresentasikan apa yang terjadi secara khas di kota-kota di Asia, Terry McGee menggunakan istilah ‘kota desasi’ untuk menggambarkan fenomena

‘overlapping’ atau tumpang tindihnya lingkungan perkotaan dengan perdesaan. Dalam teori kota desasi tersebut tersirat tentang proses transformasi desa-desa yang bersifat rural menjadi desa-desa urban.

Dampak Perubahan Spasial

Proses perubahan spasial telah menyebabkan terciptanya berbagai kondisi perkembangan masyarakat yang spesifik. Perubahan spasial yang terjadi, terutama disebabkan oleh semakin banyaknya pendatang daripada perubahan yang terjadi akibat banyaknya penduduk lokal yang pergi.

Gadeng (2019:8) The rapid development and advance influence it in Banda Aceh City which causes many immigrants to come to Banda Aceh City to find a job, and they need a comfortable house to stay together with their family.

Kondisi ini menunjukkan keadaan tingginya ekspansi penduduk perkotaan ke daerah perdesaan.

Dengan adanya proses suburbanisasi ini maka proses perubahan sosial dan kultural lebih banyak dipengaruhi oleh banyaknya pendatang yang datang ke lokasi ini. Dalam proses ini, penduduk lokal yakni mereka yang telah secara turun-temurun mendiami wilayah ini seakan pasif dalam proses dan terhadap arah perkembangan masyarakat. Pada sisi lain mereka lebih bersifat defensif terhadap pengaruh budaya kaum pendatang disamping berusaha secara perlahan menyesuaikan diri. Suatu realitas sosial yang tidak dapat mereka hindarkan adalah terjadinya perubahan-perubahan kualitas komunalitas dalam masyarakat.

Sangat terasa bagi penduduk lokal bahwa komunalitas masyarakat di lokasi penelitian ini lebih longgar dibandingkan dengan kondisi pada masa-masa yang lalu, ketika penduduk pendatang belum banyak dan belum seintensif seperti saat ini. Longgarnya komunalitas ini pada kenyataannnya diakibatkan oleh semakin beragamnya status pekerjaan dan latar belakang penduduk daerah

Persentase urban land-use Persentase rural land-use Batas lahan perdesaan

Batas area terbangun daerahperkotaan

Urban fringe Rural fringe

(18)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

362

penelitian. Dengan longgarnya tingkat komunalitas ini maka secara spesifik dapat dikatakan bahwa tidak lagi dapat ditemukan adanya kebiasaan atau adat tradisional yang dapat dikatakan merupakan ciri kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan. Kehidupan sosial terdiferensiasi dalam berbagai kelompok dan lapisan sosial. Dengan demikian kita akan mendapatkan adanya kebiasaan dan perilaku kaum pendatang yang dapat kita pertentangkan dengan penduduk lokal.

Dalam hal jenis pekerjaan, sangat tampak adanya suatu pola yang cukup spesifik dimana penduduk pendatang lebih banyak berprofesi sebagai pegawai negeri dan pengusaha namun penduduk lokal banyak yang menjadi buruh dan petani (sektor informal). Dalam level individu, lebih banyak penduduk lokal yang menganggap pekerjaan sebagai pegawai negeri kurang baik dari pekerjaan lainnya. Menurut mereka, menjadi pegawai negeri dan pegawai pada umumnya gajinya sedikit. Namun pekerjaan tersebut menyebabkan badan sama capeknya dengan apabila bekerja pada pekerjaan lain yang lebih banyak menghasilkan uang. Tampak bahwa sebagian besar penduduk lokal lebih melihat pekerjaan sebagai buruh bangunan sebagai salah satu pilihan.

Pandangan ini rupanya cukup realistis dan rasional. Pandangan rasional ini mereka kembangkan pula untuk melihat berbagai aspek dalam mengelola sumber daya yang mereka miliki termasuk tanah. Dalam hal ini terdapat perubahan yang cukup drastis pada penduduk lokal dalam memandang nilai sebuah tanah. Perubahan persepsi ini sebetulnya baru terjadi pada awal 80-an. Sampai dasawarsa tersebut, penduduk sebagian besar masih bekerja sebagai petani. Namun pada saat ini luas lahan pertanian hanya tinggal 50 persen dari luas pada waktu itu. Hal ini masih didorong oleh kenyataan bahwa sebagian besar dari mereka tidak lagi mengolah lahan pertanian secara penuh.

Pekerjaan di sektor pertanian pada saat ini merupakan pekerjaan sambilan bagi penduduk lokal.

Perubahan pandangan ini masih berlanjut terus dan menurut panduduk, hasil dari bertani cukup kecil dan lebih baik dari tanah dibuat kebun ataupun didirikan kost-kostan. Mereka beranggapan bahwa dengan menyewakan rumah atau kamar maka merekan akan lebih banyak mendapatkan untung.

Dengan dibuat kebun maka apabila mereka akan menjual tanah mereka tidak lagi harus mencari ijin pengeringan. Transaksi jual beli dapat segera mereka lakukan dengan selesainya negosisasi.

Ekspansi pembangunan perumahan yang menyebabkan terjadinya pembebasan tanah secara besar-besaran berakibat secara langsung dalam hal tata guna tanah. Menurut penduduk sebelum ada perubahan, jarak rumah dengan tanah pertanian cukup dekat. Dengan jarak yang dekat ini maka tidak ada kesulitan bagi penduduk untuk datang ke sawah setiap hari. Namun pola ini berubah dengan datangnya berbagai proyek perumahan. Akibat yang terjadi dan mereka rasakan adalah semakin jauhnya jarak sawah dengan rumah tempat tinggal mereka. Tidak sedikit pula penduduk yang membeli tanah di luar desa dan bahkan di luar kecamatan. Pada sisi lain banyak pula penduduk yang tidak membeli tanah. Uang hasil penjualan banyak digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan dan membangun rumah.

Tingkat Komunalitas Penduduk

Pengaruh jenis pekerjaan baru terhadap kondisi kehidupan kemasyarakatan ternyata cukup besar. Ada suatu tendensi bahwa dalam level komunitas, terdapat kecenderungan semakin memudahnya kualitas hubungan antara penduduk lokal dengan pendatang. Bahkan kondisi ini semakin parah karena adanya kecenderungan hubungan antara penduduk lokal dan pendatang tidak lagi terintegrasi dengan baik. Secara sosial antara penduduk lokal dan pendatang terpisahkan dalam kehidupan sosial mereka masing-masing. Pola pembangunan perumahan yang sekarang berkembang semakin memicu kondisi ini. Kelangsungan tradisi tidak dapat diperhatikan lagi dalam level komunitas desa. Tradisi adalah milik sebagian penduduk lokal. Kaum pendatang adalah orang lain yang tidak mungkin menjadi bagian dari tradisi. Dengan demikian, melalui kondisi tersebut maka diharapkan saluran untuk interaksi sosial semakin sempit, kemudian antara pendatang dan penduduk lokal yang mendiami daerah tersebut secara turun-temurun tidak lagi terdapat saluran yang menyatukan keduanya. Kualitas hubungan sosial tidak lagi mengarah pada pola hubungan paguyuban namun lebih ke dalam pola masyarakat mekanis.

Berbagai fenomena sosial dan kultural di daerah penelitian tersebut cukup menarik untuk diperhatikan terutama kaitan antara pola pembentukan permukiman pendatang dengan permukiman penduduk lokal. Di desa tampak bahwa terdapat dua kecenderungan pembentukan permukiman baru.

Pola pertama adalah adanya pola permukiman penduduk pendatang yang terintegrasi dengan penduduk lokal. Sedangkan pola kedua adalah permukiman penduduk pendatang yang merupakan

(19)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

363

enclave dalam konteks keruangan permukiman penduduk lokal. Pola pemukiman ini akan memunculkan adanya beberapa konsekuensi sosio-kultural.

Pola permukiman penduduk pendatang yang terintegrasi dengan penduduk lokal secara sosial dan kultural lebih berimplikasi positif dibandingkan pembentukan enclave. Permukiman yang terintegrasi cukup memberikan peluang adanya interaksi antara pendatang dan penduduk lokal.

Diantara peduduk lokal dan pendatang terjadi kerjasama dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Adanya interaksi ini telah memungkinkan terjadinya transfer sikap hidup yang lebih urbanus dari masyarakat pendatang ke penduduk lokal.

Berbeda dengan pola pertama, pada pola kedua pembentukan permukiman baru menggunakan pola mengelompok dan beberapa secara ekslusif. Permukiman tersebut secara fisik diberi batas secara tegas. Kondisi ini telah menciptakan pola interaksi sosial antara pendatang dan penduduk lokal agak renggang. Antara kedua kelompok sosial terasa sekali kurangnya saluran-saluran interaksi sosial. Kedua kelompok cenderung membentuk kegiatan sendiri terlepas dari kelompok yang lainnya. Istilah orang kampung dan orang perumahan atau orang kota lebih banyak mereka gunakan untuk menyebut orang-orang dari luar kelompok mereka.

Perkembangan pola permukiman urban fringe justru banyak mengambil pola ini. Hal tersebut rupanya cukup ironis bila kita kaitkan dengan upaya membentuk suatu pola permukiman yang memiliki kualitas keharmonisan secara fisik, sosial, maupun budaya. Keserasian lingkungan dalam perubahan fisik di daerah pinggiran kota akhirnya tidak terbentuk sepenuhnya. Perkembangan fisik perumahan-perumahan yang terkonsentrasi pada lokasi tertentu memang memberikan jaminan adanya keserasian lingkungan fisik. Berbagai fasilitas yang lebih memberikan kesan eklusifitas tampak tersedia.

Kesan yang muncul kemudian adalah bahwa pola perkembangan perumahan di daerah pinggiran kota menciptakan suatu kantong-kantong perumahan yang secara fisik terlepas dari daerah sekitarnya. Pola perumahan ini akhirnya mengakibatkan munculnya lingkungan-lingkungan sosial baru dimana berbagai lapisan masyarakat hidup dengan gaya dan perilaku yang berbeda-beda sesuai dengan lokalitas tempat tinggal. Penduduk yang tinggal di lokasi perumahan lebih mengesankan adanya privasi dibandingkan yang tinggal di luar. Pola hubungan sosial tidak dapat terbentuk secara alamiah. Penduduk perumahan secara jelas memang terlihat cukup berbeda bila dibandingkan dengan penduduk kampung.

Dalam bidang perekonomian kehadiran pendatang menyebabkan perubahan sesial ekonomi, namun perubahan ini tidak sebesar perubahan yang diakibatkan oleh adanya proses pengalihan fungsi tanah pertanian ke permukiman. Beberapa anggota masyarakat desa ini memiliki pekerjaan baru. Hal ini terkait dengan adanya perubahan kependudukan yang menyebabkan munculnya jenis pekerjaan baru. Sebagian dari mereka saat ini memiliki pekerjaan sebagai pengambil sampah. Selain itu, dengan adanya pendatang baru banyak penduduk lokal yang membuka warung. Berdasarkan pengamatan tampak bahwa sebagian besar penduduk yang membuka warung adalah penduduk lokal.

Gadeng (2019:8) The developers expect that by rebuilding settlement and housing located in the red zone of the tsunami disaster, the population will increase in some of those sub-districts and the economic level can develop as expected by the government. Sehingga dengan adanya penduduk lokal membuka warung di sekita perumahan, maka dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi tingkat kemiskinan penduduk di suatu wilayah pinggiran Kota Banda Aceh.

Secara sosial, kualitas hubungan antara pendatang dan penduduk lokal cukup baik hanya saja mereka belum menyatu secara kultural. Dalam kondisi ini, penduduk lokal memberikan kesempatan kepada penduduk pendatang untuk berpartisipasi dan duduk dalam kepengurusan desa. Dalam kondisi tertentu, konflik antar pendatang dan penduduk lokal sering terjadi dan penduduk pendantanglah yang menyesuaikan dengan penduduk lokal.

Kondisi Sosio Kultural Penduduk

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dengan adanya pendatang yang secara intensif masuk ke daerah ini maka dalam kehidupan penduduk lokal terjadi berbagai perubahan baik yang terkait dengan pola kebiasaan lama, masalah kehidupan sosial, gaya hidup, kepemilikan barang, pendapatan, pekerjaan, dan mobilitas penduduk. Pola-pola hubungan tersebut pada satu sisi semakin menguat namun pada sisi lain terdapat ketimpangan-ketimpangan hubungan antara penduduk lokal dan pendatang.

(20)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

364

Dalam beberapa hal, penduduk lokal tetap berusaha mempertahankan tradisi lama seperti upacara memetik padi dan bersih desa. Hanya saja tampak bahwa berbagai aktifitas ini semakin lama semakin memudar. Memudarnya pamor berbagai kebiasaan ini merupakan indikator bahwa pola kehidupan tradisional semakin ditinggalkan oleh sebagian penduduk terutama pendatang. Pada saat ini berbagai upacara tradisional seperti upacara memetik padi, bersih desa dan kenduri telah banyak ditinggalkan. Jika upacara tersebut masih ada yang melaksanakannya biasanya tidak diikuti oleh seluruh warga masyarakat.

Pola ini jelas berbeda dengan daerah pedesaan pada umumnya, dimana biasanya berbagai upacara tradisional diikuti oleh berbagai kelompok anggota masyrakat tanpa pandang bulu. Upacara tradisional pernikahanpun semakin banyak ditinggalkan. Keterlibatan kaum pendatang dalam bergaul dengan penduduk lokal didorong oleh kesadaran diri bahwa mereka adalah suku yang selayaknya tetap mempertahankan tradisi.

Ambivalensi Gaya Hidup (Lifestyle) Penduduk

Proses perubahan spasial yang cepat dan kemudian diikuti dengan terjadinya pergeseran jenis- jenis pekerjaan telah menyebabkan terjadinya dualisme gaya hidup penduduk lokal. Apabila dikaitkan dengan pekerjaan dan perubahan spasial yang ada maka pada dasarnya masyarakat desa ini tidak lagi cocok untuk mengusahakan sektor pertanian. Namun beberapa penduduk masih tampak berusaha dalam bidang peternakan khususnya ternak kambing dan sapi. Dalam konteks ini maka akan terlihat adanya dualisme pola pikir dalam masyarakat lokal.

Dualisme pola pikir ini dapat ditemukan yakni antara pola pikir sebagai masyarakat yang berusaha meninggalkan sektor pertanian menuju masyarakat yang mengandalkan jasa (buruh) namun pada sisi yang lain mereka masih menggunakan pola tradisional dalam hal menabung. Sektor peternakan ternyata digunakan untuk menabung. Dengan ambevalensi pola pikir ini maka akan dapat ditemukan adanya rumah-rumah penduduk yang telah padat dan berarsitektur baru namun di depan rumah dan samping rumah (tanpa batas yang jelas) terdapat rumah sapi atau kambing.

Pola jaminan ekonomi ini dapat pula kita pahami sebagai indikator masih rentannya kedudukan mereka dalam sektor ekonomi nonpertanian. Pada umumnya, mereka yang bekerja di luar sektor pertanian memiliki pekerjaan sebagai buruh bangunan. Bagi kaum wanita jenis-jenis pekerjaan yang baru adalah menjadi pembantu rumah tangga di beberapa rumah kaum pendatang baik yang tinggal di perumahan maupun yang telah menyatu dengan penduduk lokal.

Gaya hidup penduduk lokal yang tampak menonjol adalah keinginan mereka untuk tidak kalah dengan penduduk pendatang dalam hal kepemilikan misalnya sepeda motor dan rumah. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga agar rumah mereka tidak lagi tampak tertinggal dengan penduduk pendatang. Mobilitas penduduk desa terkait erat dengan pekerjaan mereka. Secara umum, dalam hal mobilitas, pada saat ini tidak ada halangan. Sarana dan prasarana transportasi cukup memadai. Jalan dusun dan desa kualitasnya sudah cukup baik dan sebagian besar jalan telah diperkeras dengan aspal dan conblock. Beberapa bagian desa juga dilalui jalan kabupaten dan provinsi. Alat transportasi berupa mobil dan sepeda motor merupakan alat yang umum dan telah dimiliki penduduk. Dari segi mobilitas penduduk, tampak bahwa penduduk pendatang memiliki tingkat mobilitas yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mobilitas penduduk lokal. Hal ini terkait dengan jenis pekerjaan mereka dimana sebagian besar penduduk pendatang memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri dan karyawan swasta di kota.

Dengan demikian mereka memiliki tingkat mobilitas yang tinggi. Hal ini berbeda dengan penduduk lokal. Mereka pada umumnya hanya bekerja di beberapa proyek dan sebagian lainnya masih menekuni kegiatan bertani. Dengan semikian mereka dapat dikatakan immobile. Mobilitas penduduk lokal justru tidak ke kota namun sebagian ke perdesaan sekitarnya. Hal ini disebabkan sebagai dari penduduk lokal memiliki tanah pertanian di luar desa.

Interaksi Antar Kelompok Komunitas

Dalam kehidupan sosial komunitas manusia yang tinggal pada suatu wilayah idealnya anggota masyarakat komunitas tersebut terdiri dari berbagai kolompok komunitas baik secara ekonomi maupun sosial. Kehidupan plural ini dikenal dalam kehidupan kelompok masyarakat urban yang masing-masing saling membutuhkan. Secara teoritis semakin tinggi tingkat keaneka-ragaman dan

(21)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

365

kemajemukan kelompok komunitas akan semakin tinggi pula tingkat kesulitan integrasi kelompok- kelompok komunitas tersebut.

Khususnya, kepada dua kelompok komunitas yang ada di daerah urban fringe, yaitu kelompok penduduk lokal dan pendatang yang berbeda baik secara sosial, ekonomi dan kultur (dalam hal ini kultur kota dan kultur desa), seperti yang dikatakan oleh Summer dan Gumplowics, interaksi kehidupan sosialnya akan berorientasi pada paradigma antagonistic cooperatin (kerjasama antara pihak yang berbeda) dan prinsip repulsion (hukum penolakan). Dua kelompok komunitas di desa penelitian ini meskipun mempraktekkan paradigma yang dikemukakan oleh Summer dan Gumplowics namun tidak seluruhnya berlaku. Usaha integrasi penduduk pendatang efektif terjadi pada kelompok pendatang yang tinggal di perkampungan penduduk lokal. Sedang mereka yang tinggal di kelompok lokal secara total. Hal ini tidak lepas dari keterbatasan yang dimiliki oleh para pendatang itu terutama terkait dengan kultur kehidupan perkotaan berupa mobilitas sosial dan ekonomi yang tidak jarang menimbulkan image kepada penduduk lokal penolakan integritas sosial karena hubungan interaksi mereka lebih bersifat untung-rugi sehingga menimbulkan kesalahpahaman penduduk lokal (stereotipe negatif) yang berpotensi menimbulkan konflik.

Secara fisik dapat dilihat bahwa terjadi diferensiasi kelompok komunitas tertentu yaitu mereka yang tinggal di permukiman kelompok dan mereka yang tinggal di perkampungan. Praksis diferensiasi ini menyebabkan dua kelompok komunitas ini sulit untuk disatukan dalam suatu kegiatan bersama karena mereka masing-masig memiliki kegiatan dan sistem sosial yang spesifik dan hanya pada kelompok mereka. Ketergantungan sosial dan ekonomi serta perspektif yang berkembang dari dua kelompok penduduk di desa ini sebenarnya mampu meredam konflik tersebut karena faktor ketergantungan dan perspektif yang berkembang ini merupakan faktor yang sangat signifikan dalam setiap interaksi sosial antar kelompok komunitas. Ketergantungan ini dapat bersifat positif maupun negatif tergantung dari tingkat perbedaan sosial dan ekonomi kelompok-kelompok komunitas tersebut.

Secara eksplisit definisi dan delinitas daerah urban fringe sulit untuk dirumuskan mengingat dinamika perubahan fisik terutama pada kota-kota yang memiliki konsentrasi kegiatan ekonomi dan sosialnya tinggi, umumnya terjadi jauh lebih cepat daripada perubahan yang terjadi secara nonfisik.

Hal ini menyebabkan pergerakan wilayah urban fringe ke arah perdesaan juga berlangsung cepat.

Dari sini dapat digambarkan empat varian daerah urban fringe yang terjadi pada desa-desa di pinggiran kota. (Gambar 4).

Dari hasil analisis peta makro yang didapatkan di lapangan, perkembangan daerah urban fringe ditentukan paling tidak oleh tiga faktor yaitu,

1. Berkembangnya pusat kegiatan baru yang bersifat kekotaan di pedesan yang sekaligus memiliki potensi mampu memberikan harapan penduduk lokal untuk memperbaiki tingkat ekonomi mereka. Pusat kegiatan baru tersebut dapat berupa fasilitas umum (jasa) yang bisa jadi tidak memberikan pelayanan langsung kepada penduduk lokal.

2. Pembangunan permukiman berskala besar di perdesaan. Tingkat kuantitas dan kualitas permukiman dan fasilitas pendukung yang diadakan akan menentukan besarnya tingkat stimulasi perkembangan daerah urban fringe tersebut.

3. Tingkat intensitas tekanan pembangunan kota terhadap desa-desa di sekitarnya. Secara diagramatis aksi tekanan pembangunan perkotaan yang secara alamiah akan menimbulkan reaksi penolakan dari daerah perdesaan paling tidak akan menghasilkan empat variasi daerah urban fringe seperti yang tergambar pada gambar 4.

(22)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

366

1 2

3 4 5

i n t e r s e c ti o n a r e a

6

1 2

3 4 5

6

1 2

3 4 5

6

1 2

3 4 5

6

1. Urban fringe sebagai intersection area 2. Urban fringe sebagai in between area antara kota dan desa kota dan desa

3. Urban fringe sebagai contact area 4. Urban fringe sebagai intersection area antara kota dan desa yang diwarnai oleh disparitas karakter

kota dan desa Gambar 4.

Empat Varian Daerah Urban Fringe

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yang terkait dengan proses transformasi urban fringe dalam konteks perkembangan kota yaitu,

1) Transformasi spasial terutama menyangkut tata guna lahan disebabkan oleh:

a. Proses sub urbanisasi yaitu berpindahnya penduduk kota ke arah urban fringe. Pada daerah urban fringe terutama yang wilayahnya berpotensi sebagai daerah luapan intensif perkembangan kota, proses transformasi spasial cenderung jauh meninggalkan proses transformasi sosio-kultural penduduknya. Restrukturisasi internal daerah urban fringe yang pada kasus desa ini berupa pergeseran fungsi inti kelompok komunitas urban fringe dari kehidupan komunitas perdesaan dengan fungsi dan kegiatan pertanian sebagai basis kehidupan sosial-ekonomi komunitasnya menjadi pusat-pusat fungsi dan kegiatan permukiman baru merupakan faktor utama penyebab tingginya tingkat transformasi spasial di daerah urban fringe. Secara fisik restrukturisasi internal ini ditandai oleh transformasi tata guna lahan pertanian menjadi nonpertanian yang dalam kasus penelitian ini berupa kelompok permukiman baru.

b. Pandangan masyarakat baik penduduk pendatang maupun penduduk lokal. Bagi pendatang mendapatkan tanah di daerah urban fringe didasari dua tujuan ekonomi yaitu pertama sebagai investasi ekonomi terutama bagi mereka yang telah memiliki rumah, dan kedua membeli tanah dengan harga lebih murah dibandingkan harga tanah di kota. Bagi mereka masalah jarak

(23)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi UPI 2019 ISBN : 978-623-92801-0-9

367

tempat hunian ke tempat relatif masih bisa dijangkau meskipun hal-hal yang terkait dengan masalah transportasi ini sebenarnya sering diabaikan karena bagi mereka permasalahan transportasi lebih bersifat umum daripada masalah perumahan yang bersifat pribadi. Bagi penduduk lokal, tanah pertanian tidak lagi menguntungkan secara ekonomis. Bagi mereka sektor pertanian menjadi mata pencaharian yang tidak mempunyai kepastian pendapatan. Hal ini terjadi karena tanah-tanah pertanian yang mereka miliki tidak lagi produktif menghasilkan produk-produk pertanian karena terputus saluran irigasi teknis yang ada. Kondisi ini mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan di luar sektor pertanian.

2) Transformasi sosio kultural penduduk yang disebabkan oleh:

a. Masuknya para pendatang yang umumnya tingkat dan status ekonomi mereka dipandang oleh penduduk lokal lebih tinggi daripada penduduk lokal. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini mereka yang melakukan proses migrasi besar-besaran (massive migration) ke urban fringe bukan dari kelompok masyarakat menengah ke bawah, namun justru dari kelompok menengah ke atas, mengingat harga tanah dan bangunan yang dijual umumnya tidak terjangkau oleh golongan ekonomi menengah ke bawah.

b. Masuknya budaya konsumerisme (ekonomi) secara internal di daerah urban fringe ditunjang oleh keinginan untuk mengikuti kemajuan yang ada. Hal ini akan memperlemah sistem nilai budaya tradisional asli sekaligus merubah pola tata kehidupan sosial di urban fringe.

c. Perubahan pekerjaan penduduk lokal. Penduduk pada dasarnya tidak lagi tergantung secara ekonomis terhadap tanah (pertanian), meskipun sebenarnya perpindahan tersebut tidak menjamin peningkatan taraf ekonomi penduduk. Perpindahan jenis pekerjaan penduduk dari sektor pertanian ke sektor jasa merupakan akibat dari banyaknya alternatif kesempatan kerja di luar sektor pertanian seperti sektor pembangunan fisik terutama di perkotaan. Perubahan pekerjaan ini juga merupakan indikator bahwa penduduk memiliki persepsi yang berubah tentang pekerjaan. Pola pikir umum tentang pekerjaan yang dilakukan penduduk adalah lebih mengutamakan jenis-jenis pekerjaan yang cepat menghasilkan uang. Dalam konteks ini sektor pertanian tidak lagi mendukung pola pikir umum penduduk daerah urban fringe sehingga sangat logis kalau mereka tidak tertarik pada sektor pertanian sebagai sumber mata pencahariannya.

d. Intensitas kegiatan pembangunan fisik di daerah urban fringe. Hal ini mengakibatkan menciutnya lahan-lahan pertanian terutama sekali pada lahan pertanian yang sudah memiliki sistem irigasi teknis. Rusaknya sistem irigasi teknis tersebut telah menyebabkan tanah pertanian menjadi lahan kering secara ‘alamiah’ sehingga penduduk tidak dapat meggunakan tanah-tanahnya untuk kegiatan pertanian dan mengalihkan fungsi lahan pertanian tersebut ke sektor non pertanian.

e. Proses dan pola alih lahan yang tidak terprogram. Hal ini menyebabkan penduduk asli banyak dirugikan karena hal itu menyebabkan terputusnya sistem irigasi teknis yang ada sehingga mereka tidak dapat mengolah tanahnya untuk kegiatan pertanian dan pada akhirnya terpaksa menjual tanahnya serta beralih pekerjaan yang belum tentu sesuai dengan tingkat pendidikan, keahlian dan ketrampilannya.

f. Interaksi sosio-kultural antara penduduk lokal dan pendatang. Paradigma antagonistic cooperation antara pendatang dan penduduk lokal yang ada di desa penelitian menunjukkan kecenderungan stereotiope positif dalam arti perbedaan yang ada tidak menimbulkan konflik sosial. Hal ini dapat terjadi karena adanya azas ketergantungan (interpendensi) antar kelompok yang merupakan prinsip kehidupan bersama pada komunitas yang plural, yang dapat diterapkan pada beberapa sektor kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Pada prakteknya pengaruh kultur kota (moderen, dinamis, inovatif) lebih dominan mempengaruhi penduduk lokal daripada sebaliknya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT yang sudah memberikan kesehatan sehingga penulis mampu menyelesaikan artikel ini disela-sela kesibukan sebagai seorang tenaga pengajar. Kemudian, kami mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Syiah Kuala, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Ketua Jurusan Pendidikan Geografi, dan seluruh anggota keluarga yang sudah memberikan dukungan dan motivasi dengan tiada henti-hentinya,

Gambar

Gambar 1. Skema Zona Kota-Desa  Gambar 2.
Gambar 3. Urban Rural Land Use Triangle  Sumber: Yunus (1987:2)

Referensi

Dokumen terkait

Menciptakan karya seni fungsional dengan memvisualkan tanaman jambu air “Dalhari” sebagai motif maupun bentuk karya pada soft furnishings kamar tidur remaja

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara hasil pengukuran DVO dan panjang jari kelingking pada

Dengan demikian prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam Piagam Madinah yang merupakan cita Ideal Islam, harus menjadi orientasi baru bagi upaya membangun kehidupan (civil

Informasi tentang penyelenggaraan pemberian Penghargaaan APN disebarluaskan dan disosialisasikan oleh Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan baik di tingkat Pusat, provinsi,

Salah satu misi pembangunan yang tertuang dalam GBHN tahun 1999-2004 adalah perwujudan kesejahteraan rakyat yang ditandai oleh meningkatnya kehidupan yang layak dan

Contoh kasus kemunculan MCC di perbatasan wilayah perbatasan antara Sumatera Barat dan Riau dengan intesitas curah hujan yang cukup tinggi pada saat kejadian

Pada penelitian untuk mengetahui perilaku beton terhadap kuat tekan dan berat volume dari beton berlubang ini digunakan beberapa alat yang terdiri dari : a..

BB081 -Adiatma Yudistira Manogar Siregar, SE.,MEconSt..