LAPORAN PELAKSANAAN AKTUALISASI NILAI DASAR PEGAWAI NEGERI SIPIL
Pojok Akuntansi Mahasiswa
OLEH:
Arnadi Chairunnas 199101112019031014
PELATIHAN DASAR CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL(CPNS) GOLONGAN III ANGKATAN LXV TAHUN 2020
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
KENDARI
2020
ii
iv
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah penulis ucapkan atas segala limpahan nikmat dan rezeki dari Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala, sehingga penulis dapat menjadi peserta dalam Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III Angkatan ke LXV. Penulis juga sangat bersyukur memiliki kedua orang tua, serta istri dan anak-anak yang selalu mensupport dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan kegiatan ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga tercinta yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, atas supportnya dalam penyelesaian kegiatan aktualisasi ini. Penulis saat ini telah menyelesaikan Laporan Hasil Aktualisasi yang disusun berdasarkan kegiatan yang telah ditetapkan sebelumnya. Penulis menyusun laporan ini untuk memaparkan penerapan/penghabituasian nilai-nilai dasar ASN (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi). Laporan Hasil Aktualisasi ini dapat dijadikan rujukan bagi para peserta berikutnya, serta dapat bermanfaat bagi para stakeholders.
Penulis juga menyelesaikan penyusunan Laporan Hasil Aktualisasi ini, atas bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Azhari, S.Stp., M.Si selaku Rektor Universitas Sembilanbelas November Kolaka yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan pelatihan dasar CPNS Golongan III ini.
2. Bapak Syahruddin Nurdin, SE. selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti kegiatan pelatihan dasar CPNS Golongan III ini.
3. Ibu Dr. Hj. Nur Endang Abbas, SE., M.Si selaku Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, sekaligus sebagai Penguji Laporan Hasil Aktualisasi penulis, yang telah memberikan banyak saran dan masukan untuk perbaikan Laporan Hasil Aktualisasi ini.
4. Bapak Nursamsir, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sembilanbelas November Kolaka yang juga memberikan
banyak wejangan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Hasil Aktualisasi ini.
5. Bapak Dr. Abdul Sabaruddin, S.Sos., Msi. selaku mentor dan Ketua Program Studi Akuntansi yang telah banyak memberikan motivasi dan arahan kepada penulis, sehingga penulis dalam pelaksanaan aktualisasi dapat berjalan dengan baik dan tepat waktu.
6. Bapak Kafaruddin, S.E., M.Si selaku Coach yang selalu memberikan bimbingan serta arahan kepada penulis dengan sabar, sehingga dalam penyusunan laporan aktualisasi dapat diselesaikan dengan baik.
7. Rekan-rekan LATSAR angkatan LXV yang sangat kompak dan mengagumkan selama mengikiti kegiatan pelatihan dasar CPNS Golongan III.
Semoga Laporan Hasil Aktualisasi yang penulis buat ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Kendari, 2020 Penulis,
Arnadi Chairunnas, SE., M.Acc., Ak., CA.
NIP 199101112019031014
vi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 2
C. Manfaat ... 3
D. Ruang Lingkup Kegiatan Aktualisasi ... 3
BAB II RANCANGAN AKTUALISASI ... 4
A. Deskripsi Organisasi ... 4
B. Struktur Organisasi ... 5
C. Nilai-Nilai Dasar Profesi ASN ... 7
D. Nilai-Nilai Dasar Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI... 13
E. Identifikasi Isu dan Analisis Dampaknya ... 21
BAB III RANCANGAN AKTUALISASI ... 24
BAB IV HASIL PELAKSANAAN AKTUALISASI ... 53
A. Deskripsi Hasil Pelaksanaan Kegiatan dan Keterkaitan dengan Nilai Dasar ... 53
B. Analisis Keterkaitan dengan Nilai Dasar ... 93
C. Nilai Dasar yang diterapkan kegiatan rutin sehari-hari ... 122
D. Analisis Capaian Aktualisasi ... 122
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 123
B. Saran … ... 123
C. Rencana Tindak Lanjut … ... 123
Daftar Pustaka… ... 124
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Data Mahasiswa FISIP USN Kolaka Semester Ganjil 2019/2020 ... 5
Tabel 2.2 Peta Jabatan Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencana, dan Kerja Sama... 6
Tabel 2.3 Analisis APKL ... 21
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 berisi tentang peran dan fungsi Aparatur Sipil Negara (ASN). Peran dan fungsi dari ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan publik, sebagai pelayan publik, dan sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Tujuan nasional bangsa Indonesia salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, termuat dalam UUD 1945. Usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan melalui peran serta Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dosen dalam menjalankan tugasnya.
Tugas seorang dosen (PNS) adalah menjalankan tridharma perguruan tinggi. Tridharma perguruan tinggi yaitu melakukan Pendidikan dan pengajaran, melakukan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kinerja seorang dosen (PNS) dinilai berdasarkan pelaksanaan tugasnya terkait tridharma Perguruan Tinggi.
Seorang dosen (PNS) dalam kegiatan aktualisasinya perlu menerapkan nilai-nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA). Laporan Aktualisasi ini disusun sebagai kelanjutan kegiatan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III angkatan LXV Lingkup Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020 dalam upaya mewujudkan PNS yang professional dan berintegritas.
Universitas Sembilanbelas November Kolaka merupakan sebuah perguruan
tinggi negeri baru (PTN-B). Prodi Akuntansi merupakan prodi baru yang
memperoleh izin operasional sejak tahun 2017 lalu. Penulis menemukan berbagai
permasalahan dalam pelaksanaan tugas, antara lain rendahnya kompetensi teknis
penyusunan laporan keuangan, format penulisan skripsi yang belum seragam, dan
ruangan pembelajaran yang belum memadai. Setelah melakukan analisis tapisan
isu menggunakan kriteria APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan, dan
Kelayakan), diperoleh satu isu yang memiliki skor yang paling tinggi. Isu ini
terkait rendahnya kompetensi teknis mahasiswa dalam penyusunan Laporan
Keuangan. Selain itu, laporan keuangan memang merupakan kebutuhan bagi
instansi pemerintah pusat, daerah, maupun swasta. Regulasi terkait pelaporan
keuangan ini tertuang dalam dalam PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Pelaporan keuangan menjadi hal yang dibutuhkan oleh setiap instansi, dalam rangka pertanggungjawabannya kepada setiap stakeholders.
Misi prodi akuntansi salah satunya yaitu menghasilkan akuntan yang professional. Misi ini dapat tercapai jika luaran prodi memiliki kompetensi teknis (soft skill) yang memadai, salah satunya penyusunan laporan keuangan. Hal ini sejalan dengan urgensi pelaporan keuangan yang merupakan kebutuhan setiap organisasi. Mahasiswa prodi akuntansi memiliki kompetensi teknis pembuatan laporan keuangan yang masih rendah. Rendahnya kompetensi teknis ini diakibatkan oleh keterbatasan ruangan pembelajaran, dan belum adanya lab, sehingga proses pembelajaran belum dapat dioptimalkan.
Proses pembelajaran yang optimal juga menjadi tantangan bagi penulis untuk mewujudkannya, mengingat saat ini pandemi covid-19 sedang melanda Indonesia. Pandemi ini memberikan tantangan bagi para tenaga pengajar untuk mencari solusi yang tepat untuk mengoptimalkan proses pembelajaran, tak terkecuali yang penulis juga alami di prodi akuntansi USN Kolaka.
Kondisi idealnya, mahasiswa prodi akuntansi sudah harus mampu menyusun laporan keuangan setelah menempuh proses perkuliahan. Tahapan awal penyusunan laporan keuangan adalah melakukan pencatatan terhadap setiap transaksi ekonomi yang terjadi. Adanya permasalahan ini menciptakan kesenjangan antara misi prodi akuntansi dengan kondisi faktual yang terjadi saat ini. Permasalahan ini yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat isu terkait rendahnya kompetensi teknis mahasiswa pada prodi akuntansi Universitas Sembilanbelas November Kolaka. Isu ini nantinya akan diselesaikan melalui kegiatan-kegiatan aktualisasi yang telah penulis susun dan produk akhirnya berupa pembuatan wadah untuk penunjang proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi teknis mahasiswa, yang diberi nama “Pojok Akuntansi”.
B. Tujuan a. Umum
Tujuan kegiatan aktualisasi secara umum adalah menerapkan nilai-nilai dasar
Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi
3
teknis mahasiswa di prodi akuntansi Universitas Sembilanbelas November Kolaka melalui pembentukan Pojok Akuntansi.
b. Khusus
Tujuan khusus kegiatan aktualisasi adalah untuk meningkatkan kompetensi teknis mahasiswa di prodi Akuntansi Universitas Sembilanbelas November Kolaka. melalui Pojok Akuntansi.
C. Manfaat
a. Manfaat Untuk Penulis
Kegiatan aktualisasi ini memberikan manfaat untuk pengisian beban kerja dosen. Penulis juga bisa menerapkan nilai-nilai dasar dalam setiap pelaksanaan fungsi dan tugas sebagai seorang dosen di Prodi Akuntansi USN Kolaka.
b. Manfaat Untuk Organisasi
Kegiatan aktualisasi ini memberikan manfaat untuk Prodi Akuntansi USN Kolaka dari sisi peningkatan kompetensi lulusan yang akan berdampak pada penilaian akreditasi.
c. Manfaat Untuk Masyarakat
Kegiatan ini juga berdampak kepada masyarakat umum sebagai pengguna lulusan. Karena lulusan yang dihasilkan siap kerja (job ready). Manfaat lain yaitu untuk masyarakat kampus, dalam hal ini mahasiswa prodi akuntansi, yaitu berupa peningkatan kompetensi teknis.
D. Ruang Lingkup Kegiatan Aktualisasi
Penulis membatasi fokus rancangan aktualisasi ini sebagai berikut:
a. Pojok Akuntansi adalah ruang ilmiah di program studi akuntansi untuk memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan pengajaran, penelitian, pengabdian, dan penelitian dalam lingkup program studi akuntansi.
b. Pojok Akuntansi yang dimaksud adalah ruang ilmiah yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis mahasiswa dalam penyusunan laporan keuangan
c. Pojok Akuntansi yang dimaksud adalah ruang yang memiliki kegiatan berupa
pelatihan teknis dalam hal penyusunan laporan keuangan, mulai dari pencatatan
transaksi sampai kepada tersusunnya laporan keuangan.
BAB II
GAMBARAN UMUM ORGANISASI
A. Deskripsi Organisasi
Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sulawesi Tenggara dengan tiga titik konsentrasi kampus.
Kampus induk beralamat di Jalan Pemuda Nomor 339 Kolaka, kampus kedua beralamat di Desa Popalia, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, dan kampus ketiga berdiri di Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah. USN Kolaka pada mulanya bernama Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) 19 November Kolaka yang dikelola oleh Yayasan Pembangunan Pendidikan Indonesia Kolaka (YAPPIKA) dengan Akta Notaris Nomor 23 tanggal 16 April 1984.
Berdasarkan Surat Keputusan Mendiknas Nomor: 76/D/O/2005 tanggal 8 Juni 2005, status STKIP 19 November Kolaka berubah menjadi Universitas 19 November Kolaka dengan 12 Program Studi, yaitu: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Agribisnis, Perikanan, Peternakan, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu-ilmu Hukum, Teknik Pertambangan, Teknik Sipil, dan Sistem Informasi. Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2014 tanggal 4 April 2014, kampus ini beralih status menjadi perguruan tinggi negeri (PTN) dengan nama Universitas Sembilanbelas November Kolaka (USN Kolaka). Saat ini USN Kolaka memiliki enam fakultas dan 30 Program Studi. Fakultas tersebut adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Hukum, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Teknologi dan Informasi, dan Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USN Kolaka, sejak November 2019 beralamat di Desa Popalia, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka.
Fakultas ini memiliki empat program studi, yakni Administrasi Publik, Manajemen,
Akuntansi, dan Ekonomi Pembangunan. Data tahun 2020, Program Studi
Administrasi Publik memiliki 23 dosen tetap, yang berstatus Pegawai Negeri Sipil
(PNS), Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dan non PNS; Program Studi
5
Manajemen 4 dosen tetap, Program Studi Akuntansi 4 dosen tetap, dan Program Studi Ekonomi Pembangunan terdiri dari 4 dosen tetap. Program Studi Administrasi Pubik merupakan salah satu program studi unggulan dan setiap tahun menarik minat mahasiswa baru. Data terkini menyebutkan ada sebanyak 1.302 mahasiswa Program Studi Administrasi Publik atau 60,72 % dari keseluruhan mahasiswa FISIP USN Kolaka. Selengkapnya dapat dilihat pada data berikut ini .
No Nama Program Studi Aktif Non Aktif Jumlah
1 Administrasi Publik 923 379 1.302
2 Manajemen 358 54 412
3 Akuntansi 348 47 395
4 Ekonomi Pembangunan 31 4 35
Jumlah 1.660 484 2.144
Tabel 2.1 Data Mahasiswa FISIP USN Kolaka Semester Ganjil 2019/2020
B. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi USN Kolaka dapat diklasifikasikan dalam tiga garis besar,
yakni Pimpinan Universitas, Pimpinan Fakultas, dan Tata Usaha. Pimpinan
Universitas terdiri dari Rektor, Wakil Rektor Bidang Akademik, Wakil Rektor Bidang
Umum dan Keuangan, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Tingkat fakultas,
masing-masing juga ada Dekan, Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan
Bidang Umum dan Keuangan. Setiap unit kerja juga ada staff untuk urusan
administrasi umum untuk mendukung kinerja pimpinan dalam melaksanakan
tugasnya. Administrasi umum terdiri dari Biro dan UPT. Terdapat 2 (dua) Biro di
USN Kolaka, yaitu: Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama
(BAKPK), dan Biro Administrasi Umum dan Keuangan. Sedangkan Unit Pelaksana
Teknis (UPT) adalah satuan organisasi yang bersifat mandiri yang melaksanakan
tugas teknis operasional dan/atau tugas teknis dari Universitas. Terdapat 4 (empat)
UPT di Universitas Sembilanbelas November Kolaka, yaitu UPT Laboratorium
Terpadu, UPT Perpustakaan, UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi, dan UPT
Bahasa. Peta Jabatan secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2.2.
Tabel 2.2 Peta Jabatan Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencana, dan Kerja Sama
7
C. Nilai-Nilai Dasar Profesi ASN 1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. PNS yang akuntabel dan amanah adalah PNS yang mampu menjamin terwujudnya nilai-nilai public diantaranya: mengambil pilihan yang tepat ketika terjadi konflik kepentingan, tidak terlibat politik praktis, melayani warga secara adil, dan konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Akuntabilitas merupakan prinsip dasar bagi organisasi yang berlaku pada setiap level/unit organisasi sebagai kewajiban jabatan dalam memberikan pertanggungjawaban laporan kegiatan kepada atasannya.
Terdapat 5 aspek dalam akuntabilitas yaitu: akuntabilitas adalah sebuah hubungan, berorientasi hasil, membutuhkan laporan, memerlukan konsekuensi dan memperbaiki kinerja. Berdasarkan aspek tersebut dapat dijelaskan bahwa akuntabilitas merupakan hubungan yang bertanggung jawab antara dua pihak untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan yang dibuktikan dalam bentuk laporan dengan konsekuensi berupa penghargaan jika melebihi harapan atau sanksi jika terjadi pelanggaran dengan tujuan utama memperbaiki kinerja.
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens, 2007), yaitu:
untuk menyediakan control demokratis, mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, dan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Akuntabilitas public terdiri dari dua macam, yaitu akuntabilitas vertical dan horizontal. Akuntabilitas vertikal adala pertanggungjawaban bawahan kepada atasan, sedangkan akuntabilitas horizontal adalah pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.
Untuk menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel, maka ASN harus menerapkan nilai dasar akuntabilitas dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Nilai dasar tersebut meliputi nilai kepemimpinan, transparansi, integritas, tanggung jawab, keadilan, kepercayaan, keseimbangan, kejelasan dan konsistensi. Adapun penjelasan masing-masing nilai akuntabilitas sebagai berikut:
a) Kepemimpinan yaitu seorang pemimpin harus memiliki komitmen yang
tinggi dalam melakukan pekerjaannya, sehingga dapat memberikan contoh
positif kepada bawahannya. Seorang pemimpin harus mampu memainkan peranan yang penting dalam menciptakan lingkungan yang akuntabel.
b) Transparansi bertujuan untuk mendorong komunikasi dan kerjasama antara kelompok internal dan eksternal; memberikan perlindungan terhadap pengaruh yang tidak seharusnya dan korupsi dalam pengambilan keputusan; meningkatkan akuntabilitas dalam keputusan-keputusan; serta meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kepada pimpinan secara keseluruhan.
c) Integritas yaitu menjadikan suatu kewajiban untuk menjunjung tinggi dan mematuhi semua hukum yang berlaku, Undang-undang, kontrak, kebijakan, dan peraturan yang berlaku.
d) Tanggung Jawab merupakan kewajiban bagi setiap individu dan Lembaga bahwa terdapat suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah dilakukan, karena adanya tuntutan untuk bertanggungjawab atas keputusan yang telah dibuat.
e) Keadilan merupakan landasan utama dari akuntabilitas dan harus dipelihara serta dipromosikan oleh pimpinan pada lingkungan organisasinya.
f) Kepercayaan: lingkungan yang akuntabel terjadi karena adanya kepercayaan.
g) Keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan serta harapan dan kapasitas sangat dibutuhkan untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja
h) Kejelasan: setiap individu harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang diharapkan sehingga dapat memunculkan lingkungan yang akuntabel.
i) Konsisten: Penerapan konsistensi dari sebuah kebijakan, prosedur, sumber
daya akan memiliki konsekuensi terhadap tercapainya lingkungan kerja
akuntabel, akibat menguatnya komitmen dan kredibilitas anggota
organisasi.
9
2. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan pandangan atau paham manusia Indonesia tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan tanah air yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan sekaligus tetap menghormati bangsa lain. Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia didasari oleh nilai-nilai Pancasila. Nasionalisme mengajarkan bangsa Indonesia agar senantiasa menempatkan persatuan kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan; menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara; bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri; mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa; menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia; mengembangkan sikap tenggang rasa.
Seorang ASN wajib memiliki jiwa nasionalisme serta mampu mengaktualisasikannya dalam menjalankan tugas dan fungsinya. ASN yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat memiliki sikap yang lebih mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara. Nilai-nilai dasar pancasila yang menyangkut kepentingan publik menjadi dasar yang harus dimiliki oleh setiap ASN. Indikator nilai-nilai nasionalisme terkandung pada masing-masing sila Pancasila.
1. Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”
a. Percaya Kepada Tuhan YME sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
b.Hormat dan menghormati serta bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda beda sehingga terbina kerukunan hidup.
c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
d.Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaan kepada orang lain . 2. Sila “Kemanusiaan Adil yang Beradab”
a. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
b.Saling mencintai sesama manusia.
c. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
d.Tidak semena-mena terhadap orang lain.
e. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
f. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
g.Berani membela kebenaran dan keadilan.
h.Bangsa indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat Dunia Internasional dan dengan itu harus mengembangkan sikap saling hormat - menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Sila “Persatuan Indonesia”
a. Menjaga persatuan dan kesatuan negara kesatuan republik Indonesia.
b.Rela berkorban demi bangsa dan negara.
c. Cinta tanah air dan bangsa.
d.Bangga sebagai bangsa Indonesia.
e. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kestuan bangsa yang ber- Bhineka Tunggal Ika.
4. Sila “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”
a. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
b.Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
c. Menghargai pendapat orang lain.
d.Musyawarah untuk mufakat.
5. Sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
a. Bersikap adil terhadap sesama.
b.Menghormati hak-hak orang lain.
c. Menolong sesama.
d.Menghargai orang lain.
e. Melakukan pekerjaan yang berguna bagi orang lain
3. Etika Publik
Etika merupakan sistem penilaian perilaku dimasyarakat untuk menentukan
perbuatan baik atau buruknya seseorang serta mengarahkan tentang perilaku yang
seharusnya dilakukan sesuai tatanan nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat. Etika
publik adalah suatu refleksi tentang standar/norma yang menentukan baik/buruk,
benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik
11
dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik. Menurut Azyumardi Azra (2012), etika juga dipandang sebagai karakter atau etos individu/kelompok berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma luhur.
Kode etik merupakan aturan-aturan yang mengatur tingkah laku yang ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk ketentuan-ketentuan tertulis. Kode etik profesi adalah aturan tingkah laku suatu profesi tertentu yang dibuat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok professional tertentu. Kode Etik Aparatur Sipil Negara (ASN) menurut UU ASN yaitu sebagai berikut:
1.Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi.
2.Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.
3.Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan.
4.Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
5.Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang- undangan dan etika pemerintahan.
6.Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.
7.Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efektif dan efisien.
8.Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugasnya.
9.Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.
Adapun Nilai-nilai dasar etika publik yang harus diterapkan oleh ASN sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2014 Pasal 4 tentang ASN, yaitu sebagai berikut:
1.Memegang teguh ideologi Pancasila.
2.Setia dan mempertahankan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta Pemerintahan yang sah.
3.Mengabdi kepada Negara dan rakyat Indonesia.
4.Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
5.Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
6.Menciptakan lingkungan kerja yang nondiskriminatif.
7.Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur.
8.Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.
9.Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program Pemerintah.
4. Komitmen Mutu
Untuk menjalankan pemerintahan yang baik dan bersih dibutuhkan adanya komitmen mutu dalam memberikan pelayanan kepada publik. Penyelenggaraan pemerintahan yang berorientasi pada layanan prima dengan mengedepankan komitmen mutu harus dijalankan untuk meningkatkan kepercayaan dan kepuasan publik. Komitmen mutu didasari oleh nilai efektivitas, efisiensi, inovasi dan mutu itu sendiri. Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa , manusia, proses, dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan konsumen atau pengguna.
Pelayanan publik yang bermutu adalah pelayanan publik yang berorientasi
untuk meningkatkan kepuasan masyarakat (pelanggan), sehingga dapat
meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Pelayanan publik yang
bermutu merupakan wujud akuntabilitas dari pemerintah selaku penyedia layanan
publik. Pelayanan publik yang bermutu merupakan kerjasama antara pemerintah
dan semua elemen yang terdapat dalam sistem pelayanan publik tersebut. Proses
pelaksanaan manajemen mutu terdiri dari mengidentifikasi masalah, menyusun
rencana mutu, melaksanakan pekerjaan berdasarkan rencana mutu, mengawal
proses pelaksanaan, mengawasi hasil, dan merangcang upaya peningkatannya a gar
dapat membangun kredibilitas lembaga pemerintahan. Manajemen mutu terdiri
dari lima pilar yaitu organisasi, pemimpin, komitmen, proses, dan produk. Menurut
Zeithmalh, dkk (1990) menyatakan bahwa nilai dasar mutu pelayanan terdiri dari
tangible (nyata/berwujud), reliability (kehandalan). responsiveness (cepat
tanggap), competence (kompetensi), access (kemudahan), courtesy (keramahan),
communication (komunikasi), credibility (kepercayaan), security (keamanan),
understanding the customer (Pemahaman pelanggan), efektif dan Efisien serta
inovasi.
13
5. Anti Korupsi
Korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang memiliki arti kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Anti korupsi adalah suatu tindakan atau gerakan yang dilakukan untuk memberantas segala tingkah laku atau tindakan yang melawan norma-norma dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi, merugikan Negara maupun masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu cara untuk menghindari korupsi adalah melalui aspek spiritual accountability yang nantinya mampu mendorong public accountability.
Korupsi sering dikatakan sebagai kejahatan luar biasa karena dampaknya menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan yang lebih luas. Terdapat 7 hal yang dikelompokkan dalam tindak pidana korupsi menurut UU No. 31 tahun 1999 Jo UU NO. 20 tahun 2001 yaitu:
merugikan keuangan negara, Suap-menyuap, Pemerasan, Perbuatan curang, Penggelapan dalam Jabatan, benturan kepentingan pengadaan, gratifikasi. Untuk menghindari tindak pidana korupsi, maka setiap ASN harus memiliki nilai -nilai dasar anti korupsi yang diterapkan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Nilai dasar anti korupsi tersebut antara lain: jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana dan berani, dan adil.
D. Nilai-nilai Dasar Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI 1. Manajemen ASN
Manajemen ASN yaitu suatu pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Manajemen ASN lebih menitikberatkan kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya aparatur sipil Negara (ASN) yang unggul selaras dengan perkembangan jaman.
Aparatus Sipil Negara (ASN) berdasarkan jenisnya terbagi menjadi dua
yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian
Kerja (PPPK). Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah warga negara Indonesia (WNI)
yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh
pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan, memiliki
nomor induk pegawai secara nasional. PPPK yaitu Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan kebutuhan Instansi Pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan. Pegawai ASN baik PNS maupun PPPK bertindak sebagai aparatur negara yang melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah dan harus bebas dari politik praktis. Untuk menjalankan kedudukannya, maka fungsi pegawai ASN adalah: sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, perekat dan pemersatu bangsa.
ASN dalam menjalankan tugas dan fungsinya memiliki hak dan kewajiban yang diatur oleh Undang-Undang ASN. Hak merupakan kewenangan atau kekuasaan yang diberikan oleh hukum, suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum, baik pribadi maupun umum. Hak diberikan oleh pemerintah untuk meningkatkan produktivitas kinerja dan menjamin kesejahteraan ASN. Pegawai Negeri Sipil (PNS) memiliki hak memperoleh gaji, tunjangan, dan fasilitas; cuti;
jaminan pensiun dan jaminan hari tua; perlindungan dan pengembangan kompetensi. Sementara PPPK berhak memperoleh gaji dan tunjangan; cuti;
perlindungan dan pengembangan kompetensi. Disamping hak, pemerintah juga wajib memberikan perlindungan kepada ASN berupa jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan bantuan hukum.
Setelah mendapatkan hak, maka ASN berkewajiban menjalankan tugas dan fungsinya dengan penuh tanggungjawab. Kewajiban merupakan suatu beban atau tanggungan yang bersifat kontraktual atau sesuatu yang sepatutnya dilaksanakan oleh ASN.
Kewajiban ASN adalah sebagai berikut:
1.Setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan Pemerintah yang sah.
2.Menjaga Persatuan dan kesatuan bangsa.
3.Melaksanakan kebijan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang berwenang.
4.Manaati ketentuan peraturan perundang-undangan.
5.Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian,kejujuran, kesadaran,
dan tanggungjawab.
15
6.Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan.
7.Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
8.Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
ASN sebagai profesi harus taat terhadap kode etik dan kode perilaku dalam menjalankan tugasnya. Kode etik dan kode perilaku yang diatur dalam UU ASN berfungsi untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN serta menjadi acuan bagi ASN dalam penyelenggaraan birokrasi pemerintah.
Sistem merit merupakan kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang adil dan wajar tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, suku bangsa, golongan, dan sebagainya. Penerapan sistem merit dalam pengelolaan ASN mendukung tercapainya tujuan dan sasaran instansi pemerintah dan dapat menjaga transparansi, akuntabilitas, objektivitas, serta keadilan. Jaminan sistem merit pada setiap aspek pengelolaan pegawai akan menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Setiap pegawai yang memiliki kinerja tinggi diberikan penghargaan (reward), sedangkan pegawai dengan kinerja buruk diberikan bantuan untuk meningkatkan kinerjanya.
2. Whole of Government
WoG merupakan sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuantujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik. WoG juga disebut sebagai pendekatan interagency, yakni pendekatan yang melibatkan beberapa Lembaga yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan. WoG merupakan pendekatan atau pengintegrasian antar istansi pelayanan publik pada lintas sektor untuk mencapai tujuan bersama sebagai respon terpadu pemerintah terhadap isu-isu tertentu.
WoG penting untuk dijalankan pemerintah karena:
1. Adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam mewujudkan
integrasi kebijakan, program pembangunan dan pelayanan agar tercipta
penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik.
2. Faktor-faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi antar sektor dalam pembangunan.
3. Keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta bentuk latar belakang lainnya mendrong adanya potensi disintegrasi bangsa
Praktek Pendekatan WoG baik secara formal maupun informal. Cara tersebut adalah dengan :
1. Penguatan koordinasi antar lembaga : Penguatan koordinasi dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga yang dikoordinasikan masih terjangkau dan manageable.
2. Membentuk lembaga koordinasi khusus : Lembaga koordinasi diberikan status kelembagaan setingkat lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan kelembagaan yang dikoordinasikannya.
3. Membentuk gugus tugas : Gugus tugas merupakan bentuk pelembagaan koordinasi yang dilakukan di luar struktur formal, yang sidatnya tidak permanen.
4. Koalisi sosial : Koalisi sosial merupakan bentuk informal dari penyatuan koordinasi antar sektor atau lembaga, tanpa perlu membentuk pelembagaan khusus dalam koordinasi ini.
Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG ditataran praktek meliputi:
1. Kapasitas SDM dan institusi.
2. Nilai dan budaya organisasi.
3. Kepemimpinan.
Praktek Whole of Government (WoG) dalam pelayanan publik dilakukan dengan mengintegrasikan seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan public.
Jenis pelayanan publik yang sesuai dengan pendekatan WoG adalah:
1. Pelayanan yang bersifat administratif.
2. Pelayanan jasa: Pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, perhubungan.
3. Pelayanan barang: jalan, perumahan, jaringan telepon, listrik.
4. Pelayanan regulatif.
Berdasarkan polanya, pelayanan publik dapat dibedakan menjadi 5 macam pola pelayanan yaitu:
1. Pola pelayanan teknis fungsional.
2. Pola pelayanan satu atap.
3. Pola pelayanan satu pintu.
17
4. Pola pelayanan terpusat.
5. Pola pelayanan elektronik.
Dalam memanfaatkan pendekatan WoG, terdapat beberapa prasyarat agar pendekatan ini dapat diterapkan dengan baik, yaitu:
1. Budaya dan filosofi yaitu Mengabungkan dan adaptasi nilai-nlai WoG ke dalam budaya yang dianut sebelumnya merupakan keharusan agar tidak terjadi “culture shock‟ dalam dinamika organisasi.
2. Cara kerja yang baru yaitu penyelenggaraan kepemimpinan yang berbagi antara satu sector dengan sektor lainnya, keahlian atau expertise yang melekat pada SDM, fleksibel atau tidak kaku, mengikuti perubahan yang mungkin terjadi.
3. Akuntabilitas dan insentif yaitu outcome dan pelaporan dibagi antar sektor, reward dan pengakuan menjadi bagian dari manajemen horizontal.
4. Cara baru pengembangan kebijakan, mendesain program dan pelayanan.
3.Pelayanan Publik
Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Secara umum pengertian Pelayanan publik adalah pemberian layanan atau melayani keperluan orang atau masyarakat dan/atau organisasi lain yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu, sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang ditentukan dan ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada penerima pelayanan.
Tiga unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu organisasi penyelenggara pelayanan publik, penerima layanan (pelanggan) yaitu orang atau masyarakat atau organisasi yang berkepentingan, dan kepuasan yang diberikan atau diterima oleh penerima layanan (pelanggan).
Barang/jasa publik adalah barang/jasa yang memiliki rivalry (rivalitas) dan excludability (ekskludabilitas) yang rendah. Barang/jasa publik yang murni mempunyai syarat: tidak dapat diproduksi oleh sektor swasta karena adanya free rider problem, non-rivalry, dan non-excludable, serta cara mengkonsumsinya dapat dilakukan secara kolektif atau bersama-sama.
Perkembangan paradigma pelayanan publik yaitu:
Old Public Administration (OPA) (<1930).
1. Fokus pada penyediaan barang publik.
2. Sistem tertutup karena prinsip efisiensi.
3. Model pelayanan sentralistik.
New Public Management (NPM) (1990-2000an).
1. Transaksi pelayanan publik.
2. Manajer pelayanan public dituntut inovatif.
3. Model pelayanan berorientasi pada pelayanan prima.
4. Banyak melibatkan swasta.
5. Lebih mengutamakan profit.
New Public Service (NPS).
1. Negara kuat dan memberikan pelayanan gratis.
2. Keberpihakan negara dalam melayani masyarakat (negara hadir untuk masyarakat).
3. Model pelayanan lebih berorientasi pada asas demokrasi dan good governance.
Hal-hal fundamental dalam pelayanan public antara lain: pelayanan public merupakan hak warga negarasebagai amanat konstitusi, pelayanan public diselenggarakan menggunakan pajak yang dibayarkan oleh warga negara, pelayanan public diselenggarakan dengan tujuan untuk mencapai hal-hal strategis bagi kemajuan bangsa di masa yang akan dating, pelayanan public memiliki fungsi tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar warga negara sebagai manusia, tetapi juga sebagai proteksi bagi warga negara.
Birokrasi seringkali mengalami mas, sehingga menimbulkan ketidakefektifan dan ketidakefisienan dalam pelaksanaannya. Adapun bentuk- bentuk patologi birokrasi tersebut adalah:
1. Penggelembungan organisasi.
2. Duplikasi tugas dan fungsi.
3. Red tape.
4. Konflik kewenangan.
5. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
6. Enggan untuk melakukan perubahan.
19
Prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah sebagai berikut:
1. Partisipasif yaitu penyelenggaraan pelayanan publik yang dibutuhkan masyarakat pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya.
2. Transparan yaitu penyelenggaraan pelayanan publik, pemerintah sebagai penyelenggara publik harus menyediakan akses bagi warga negara untuk mengetahui segala hal yang terkait dengan pelayanan publik yang diselenggarakan.
3. Responsif yaitu penyelenggaraan pelayanan publik pemerintah wajib mendengar dan memenuhi tuntutan kebutuhan warga negaranya.
4. Tidak diskriminatif yaitu Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah tidak boleh dibedakan antara satu warga negara dengan warga negara yang lain atas dasar perbedaan, identitas warga negara.
5. Mudah dan Murah yaitu Penyelenggaraan pelayanan publik dimana masyarakat harus memenuhi berbagai persyaratan dan membayar fee untuk memperoleh layanan yang mereka butuhkan yang harus diterapkan prinsip mudah, artinya berbagai persyaratan yang dibutuhkan tersebut harus masuk akal dan mudah untuk dipenuhi.
6. Efektif dan efisien yaitu Penyelenggaraan pelayanan publik harus mampu mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak dicapainya dan cara mewujudkan tujuan tersebut dilakukan dengan prosedur yang sederhana, tenaga kerja yang sedikit, dan biaya yang murah.
7. Aksesibel yaitu Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah harus dapat dijangkau oleh warga negara yang membutuhkan dalam arti fisik ( dekat, terjangkau dengan kenderaan publik, mudah dilihat, gampang ditemukan, dll) dan dapat dijangkau dalam arti non fisik yang terkait dengan biaya dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.
8. Akuntabel yaitu Penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan dengan
menggunakan fasilitas dan sumber daya manusia yang dibiayai oleh warga
negara melaui pajak yang mereka bayar. Oleh karena itu semua bentuk
penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dipertanggung jawabkan secara terbuka kepada masyarakat.
9. Berkeadilan yaitu Penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintah memiliki berbagai tujuan. Salah satu tujuan yang penting adalah melindungi warga negara dari praktik buruk yang dilakukan oleh warga negara yang lain. Oleh karena itu penyelenggraan pelayanan publik harus dapat dijadikan sebagai alat melindungi kelompok rentan dan mampu menghadirkan rasa keadilan bagi kelompok lemah ketika berhadapan dengan kelompok yang kuat.
Beberapa perilaku pelayanan prima yang perlu dibudayakan dalam organisasi atau instansi pemerintah untuk meningkatkan kepuasaan publi antara lain adalah:
1. Menyapa dan memberi salam.
2. Ramah.
3. Cepat dan tepat waktu.
4. Mendengar dengan sabar dan aktif.
5. Berpenampilan rapi.
6. Mengucapkan terima kasih.
7. Mengingat nama pelanggan.
8. Perlakukan pelanggan dengan baik
Prinsip-prinsip pelayanan prima yang harus diberikan oleh ASN kepada pelanggan atau masyarakat adalah:
1. Responsif terhadap pelanggan.
2. Membangun visi dan misi pelayanan.
3. Menetapkan standar pelayanan dan ukuran kinerja pelayanan.
4. Pemberian pelatihan dan pengembangan pegawai terkait bagaimana memberikan pelayanan yang baik.
5. Memberikan apresiasi kepada pegawai
21
E. Identifikasi Isu dan Analisis Dampaknya 1. Identifikasi Isu
Prodi Akuntansi merupakan prodi baru di Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sembilanbelas November Kolaka. Ada beberapa isu yang nampak pada prodi, dan isu yang dipilih berdasarkan kriteria APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan, keLayakan).
No. Isu A P K L Jumlah
1. Rendahnya kompetensi teknis penyusunan LK mahasiswa
5 5 5 5 20
2. Format penulisan skripsi belum seragam
5 4 4 4 17
3. Ruangan pembelajaran belum memadai
5 5 3 4 17
Tabel 2.3 Analisis APKL
Isu yang terpilih adalah rendahnya kompetensi teknis penyusunan laporan keuangan pada mahasiswa. Isu ini memiliki tingkat aktual sangat tinggi (skor 5), karena benar-benar terjadi di prodi akuntansi. Selanjutnya problematik juga sangat tinggi (skor 5), karena permasalahan ini terjadi hampir setiap tahun. Kekhalayakan juga sangat tinggi (skor 5), karena menyangkut hampir semua mahasiswa di prodi akuntansi. Kelayakan untuk dibahas juga sangat tinggi (skor 5), karena sesuai dengan tugas dan fungsi dosen yaitu bidang pengajaran.
2. Deskripsi Isu
Visi prodi akuntansi Universitas Sembilanbelas November Kolaka adalah
menjadi prodi akuntansi unggulan melalui penguatan kompetensi. Hal ini tentunya
membutuhkan kerja keras dari para dosen akuntansi untuk bisa memberikan
penguatan kompetensi mahasiswa. Permasalahan yang terjadi di prodi akuntansi
yaitu rendahnya kemampuan teknis mahasiswa dalam hal penyusunan laporan
keuangan. Isu ini menjadi prioritas sesuai dengan tingkat urgensi, keseriusan, dan
kemungkinan memburuknya yang tinggi. Urgensi isu ini sangat tinggi, akibat
waktu yang dibutuhkan mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi teknisnya sangat singkat. Jika tidak segera diselesaikan, maka ketika lulus, mahasiswa/i tidak memiliki kesiapan teknis untuk memasuki dunia kerja. Tahapan penyusunan laporan keuangan mulai dari pencatatan transaksi (jurnal) sampai tersusunnya laporan keuangan. Mahasiswa/i di prodi akuntansi Universitas Sembilanbelas November Kolaka belum paham cara mencatat transaksi dengan tepat, apalagi jika ditugaskan untuk menyusun laporan keuangan.
3. Sumber
Sumber isu yang terjadi adalah sebagai berikut :
a. Belum memadainya sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran (Pelayanan Publik).
b. Terbatasnya sumber daya manusia (dosen) pada prodi akuntansi (Manajemen ASN).
4. Analisis dampak
Kemampuan teknis dalam hal penyusunan laporan keuangan sangat penting bagi mahasiswa di prodi akuntansi Universitas Sembilanbelas November Kolaka.
Pemahaman dan kemampuan ini merupakan basic dan inti dari prodi akuntansi.
Jika luaran prodi belum mampu menyusun laporan keuangan, maka visi dan misi yang telah ditetapkan belum dapat tercapai, sehingga akan mempengaruhi akreditasi prodi, mahasiswa itu sendiri, dan bisa berdampak bagi masyarakat pengguna jasa akuntan.
5. Gagasan pemecahan isu
Isu atau permasalahan yang timbul yaitu rendahnya kemampuan teknis
mahasiswa/i terkait dengan penyusunan laporan keuangan. Gagasan yang dibuat
untuk pemecahan isu ini menggunakan kriteria KBL (Kontribusi, Biaya,
Kelayakan). Hasilnya adalah isu ini dapat diselesaikan melalui pemanfaatan
lingkungan sekitar dengan cara pembentukan Pojok Akuntansi. Pojok Akuntansi
akan berkontribusi besar dalam pembentukan luaran mahasiswa yang memiliki
kompetensi teknis penyusunan laporan keuangan yang memadai. Biaya yang
dibutuhkan untuk membentuk Pojok Akuntansi juga lebih efisien, dan tingkat
23
kelayakan untuk dijadikan pemecahan isu lebih realistis. Pojok Akuntansi merupakan wadah bagi para mahasiswa untuk belajar dan memahami konsep dasar akuntansi disertai dengan praktiknya. Pojok Akuntansi akan menitikberatkan pada praktik dibandingkan dengan teori.
6. Kegiatan
Kegiatan untuk pemecahan isu adalah sebagai berikut:
No Kegiatan
1 Rencana Pembentukan Pojok Akuntansi
2 Permohonan Izin Pembentukan Pojok Akuntansi (Kaprodi Akuntansi) 3. Permohonan Izin Pembentukan Pojok Akuntansi (Dekan FISIP) 4. Launching Pojok Akuntansi
5. Kegiatan Perdana (Pengenalan Laporan Keuangan)
6. Webinar Series#1 (Konsep Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Perusahaan)
7. Webinar Series#2 (Teknis Penyusunan Laporan Keuangan UMKM) 8. Webinar Series#3 (Teknis Penyusunan Laporan Keuangan Perusahaan
Dagang dan Jasa)
9. Penyelesaian Laporan Aktualisasi
Tabel 2.4 Kegiatan Pemecahan Isu
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI
A. Unit Kerja : Program Studi Akuntansi, FISIP USN Kolaka
B. Isu yang diangkat : Rendahnya kompetensi teknis penyusunan laporan keuangan mahasiswa
C. Gagasan Pemecahan Isu : Pojok Akuntansi
D. Tujuan Gagasan : Peningkatan kompetensi teknis penyusunan laporan keuangan
Kegiatan 1 : Rencana Pembentukan Pojok Akuntansi
Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan dengan Nilai Dasar
1. Mengatur jadwal pertemuan dengan rekan sejawat
Kesepakatan waktu dan tempat Saya mengatur jadwal pertemuan dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya mengatur jadwal
pertemuan Tanpa memaksakan kehendak
(Nasionalisme)
Saya mengatur jadwal
pertemuan dengan bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya mengatur jadwal pertemuan dengan penuh Empati
(Komitmen Mutu)
Saya mengatur jadwal pertemuan dengan jujur (Anti Korupsi)
2. Berdiskusi dengan rekan sejawat terkait
Catatan masukan dari rekan dosen
Saya berdiskusi dengan rekan
sejawat dengan penuh
25
pembentukan Pojok Akuntansi
Kejelasan (Akuntabilitas) Saya berdiskusi dengan rekan sejawat dengan menghargai pendapat orang lain
(Nasionalisme)
Saya berdiskusi dengan rekan sejawat dengan tutur kata yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya berdiskusi dengan rekan sejawat dengan responsive (Komitmen Mutu)
Saya berdiskusi dengan rekan sejawat dengan jujur
(Anti Korupsi)
3. Membuat rancangan kegiatan Pojok
Akuntansi sesuai hasil diskusi dengan rekan sejawat
Draft Rancangan Kegiatan Saya akan Membuat rancangan kegiatan Pojok Akuntansi dengan tahapan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya akan Membuat rancangan kegiatan Pojok Akuntansi dengan Tidak memaksakan kehendak
(Nasionalisme)
Saya akan Membuat rancangan kegiatan Pojok Akuntansi dengan cermat dan
disiplin(Etika Publik)
Saya akan Membuat rancangan kegiatan Pojok Akuntansi dengan Responsif
(Komitmen Mutu)
Saya akan Membuat rancangan kegiatan Pojok Akuntansi dengan sederhana
(Anti Korupsi)
Kontribusi terhadap visi dan misi organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi akan memberikan kontribusi terhadap misi yaitu “Menghasilkan akuntan yang professional”.
Penguatan Nilai Organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi memberikan penguatan nilai
Kreativitas, dan Keunggulan.
27
Kegiatan 2 : Permohonan Izin Pembentukan Pojok Akuntansi (Kaprodi Akuntansi) Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan dengan Nilai
Dasar 1. Konsultasi dengan
Kaprodi terkait rencana pembentukan Pojok Akuntansi
Foto Kegiatan Saya berkonsultasi dengan penuh Kejelasan
(Akuntabilitas)
Saya berkonsultasi dengan menghargai pendapat (Nasionalisme)
Saya berkonsultasi bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya berkonsultasi dengan handal
(Komitmen Mutu)
Saya berkonsultasi dengan penuh tanggungjawab (Anti Korupsi) 2. Pembuatan Draft
dukungan Kaprodi Akuntansi dalam hal pembuatan Pojok Akuntansi
Draft dukungan Kaprodi Akuntansi
Saya membuat draft dukungan dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya membuat draft dukungan Tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya membuat draft dukungan dengan bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya membuat draft dukungan dengan penuh Empati
(Komitmen Mutu)
Saya membuat draft dukungan dengan jujur
(Anti Korupsi) 3. Permintaan dukungan
kepada Kaprodi Akuntansi
Surat Pernyataan dukungan Kaprodi Akuntansi
Saya meminta dukungan dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya meminta dukungan Tanpa memaksakan kehendak
(Nasionalisme)
Saya meminta dukungan dengan bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya meminta dukungan dengan penuh Empati (Komitmen Mutu)
Saya meminta dukungan dengan jujur
(Anti Korupsi) Kontribusi terhadap visi dan misi organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi akan memberikan kontribusi terhadap misi yaitu “Menghasilkan akuntan yang professional”.
Penguatan Nilai Organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi memberikan penguatan nilai
Kreativitas, dan Keunggulan.
29
Kegiatan 3 : Permohonan Izin Pembentukan Pojok Akuntansi (Dekan FISIP USN) Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan dengan Nilai
Dasar 1. Konsultasi dengan
Dekan FISIP USN terkait rencana pembentukan Pojok Akuntansi
Foto Kegiatan Saya berkonsultasi dengan penuh Kejelasan
(Akuntabilitas)
Saya berkonsultasi dengan menghargai pendapat (Nasionalisme)
Saya berkonsultasi bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya berkonsultasi dengan handal
(Komitmen Mutu)
Saya berkonsultasi dengan penuh tanggungjawab (Anti Korupsi) 2. Pembuatan Draft
dukungan Dekan FISIP USN dalam hal pembuatan Pojok Akuntansi
Draft dukungan Dekan FISIP USN
Saya membuat draft dukungan dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya membuat draft dukungan Tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya membuat draft dukungan dengan bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya membuat draft dukungan dengan penuh Empati
(Komitmen Mutu)
Saya membuat draft dukungan dengan jujur
(Anti Korupsi) 3. Permintaan dukungan
kepada Dekan FISIP USN
Surat Pernyataan dukungan Dekan FISIP USN
Saya meminta dukungan dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya meminta dukungan Tanpa memaksakan kehendak
(Nasionalisme)
Saya meminta dukungan dengan bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya meminta dukungan dengan penuh Empati (Komitmen Mutu)
Saya meminta dukungan dengan jujur
(Anti Korupsi) Kontribusi terhadap visi dan misi organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi akan memberikan kontribusi terhadap misi yaitu “Menghasilkan akuntan yang professional”.
Penguatan Nilai Organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi memberikan penguatan nilai
Kreativitas, dan Keunggulan.
31
Kegiatan 4 : Launching Pojok Akuntansi
Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan dengan Nilai Dasar
1. Melakukan survei tempat
Lokasi Saya melakukan survei tempat dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya melakukan survei tempat Tanpa memaksakan kehendak
(Nasionalisme)
Saya melakukan survei tempat dengan professional (Etika Publik)
Saya melakukan survei tempat dengan handal (Komitmen Mutu)
Saya melakukan survei tempat dengan jujur
(Anti Korupsi) 2. Penyediaan sarana
dan prasarana
Karpet, X-Banner, Lampu Saya menyediakan sarana dan prasarana dengan transparan (Akuntabilitas)
Saya menyediakan sarana dan prasarana dengan amanah (Nasionalisme)
Saya menyediakan sarana dan prasarana dengan professional (Etika Publik)
Saya menyediakan sarana
dan prasarana dengan handal
(Komitmen Mutu)
Saya menyediakan sarana dan prasarana dengan jujur
(Anti Korupsi) 3. Launching Pojok
Akuntansi
Pojok Akuntansi Saya membuat launching Pojok Akuntansi dengan tanggungjawab
(Akuntabilitas)
Saya membuat launching Pojok Akuntansi Tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya membuat launching Pojok Akuntansi dengan professional (Etika Publik)
Saya membuat launching Pojok Akuntansi dengan handal (Komitmen Mutu)
Saya membuat launching Pojok Akuntansi dengan kerja keras
(Anti Korupsi) 4. Pemberitaan
Launching Melalui Media Online
Berita Pojok Akuntansi (KlikNews)
Saya memasang pemberitaan dengan penuh kejelasan (Akuntabilitas)
Saya memasang pemberitaan tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya memasang pemberitaan dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik)
Saya memasang pemberitaan
dengan handal (Komitmen
Mutu)
33
Saya memasang pemberitaan dengan kerja keras
(Anti Korupsi) 5. Permohonan
pembuatan SK Dekan terkait legalitas Pojok Akuntansi
SK Dekan Saya melakukan permohonan dengan penuh kejelasan (Akuntabilitas)
Saya melakukan permohonan tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya melakukan permohonan dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik)
Saya melakukan permohonan dengan handal (Komitmen Mutu)
Saya melakukan permohonan dengan jujur
(Anti Korupsi)
Kontribusi terhadap visi dan misi organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi akan memberikan kontribusi terhadap misi yaitu “Menghasilkan akuntan yang professional”.
Penguatan Nilai Organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi memberikan penguatan nilai
Kreativitas, dan Keunggulan.
Kegiatan 5 : Kegiatan Perdana (Pengenalan Laporan Keuangan)
Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan
dengan Nilai Dasar 1. Penyampaian
kegiatan seminar kepada mahasiswa
Foto Kegiatan Saya menyampaikan kegiatan seminar dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya menyampaikan kegiatan seminar dengan bijaksana (Nasionalisme)
Saya menyampaikan kegiatan seminar dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik)
Saya menyampaikan kegiatan seminar dengan handal (Komitmen Mutu)
Saya menyampaikan kegiatan seminar dengan disiplin (Anti Korupsi) 2. Pembukaan
Kegiatan Seminar Pojok Akuntansi
Foto Kegiatan Saya melakukan pembukaan kegiatan seminar dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya melakukan
pembukaan kegiatan
seminar dengan
menjaga ketertiban
(Nasionalisme)
35
Saya melakukan pembukaan kegiatan seminar dengan professional (Etika Publik)
Saya melakukan pembukaan kegiatan seminar dengan handal (Komitmen Mutu)
Saya melakukan pembukaan kegiatan seminar dengan disiplin
(Anti Korupsi) 3. Penyampaian
materi Kegiatan Seminar
Foto Kegiatan Saya menyampaikan materi dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya menyampaikan materi dengan menghargai pendapat
(Nasionalisme)
Saya menyampaikan materi dengan bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya menyampaikan materi handal (Komitmen Mutu)
Saya menyampaikan
materi dengan jujur
(Anti Korupsi) 4. Penutupan
Kegiatan Seminar
Foto Kegiatan Saya menutup kegiatan seminar dengan penuh tanggungjawab (Akuntabilitas)
Saya menutup kegiatan seminar dengan amanah (Nasionalisme)
Saya menutup kegiatan seminar dengan bahasa yang Sopan dan santun (Etika Publik)
Saya menutup kegiatan seminar dengan handal (Komitmen Mutu)
Saya menutup kegiatan seminar dengan disiplin
(Anti Korupsi) Kontribusi terhadap visi dan misi organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi akan memberikan kontribusi terhadap misi yaitu “Menghasilkan akuntan yang professional”.
Penguatan Nilai Organisasi : Pembentukan Pojok Akuntansi memberikan penguatan nilai
Kreativitas, dan Keunggulan.
37
Kegiatan 6 : Webinar Series#1 (Konsep Dasar Penyusunan Laporan Keuangan)
Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan dengan Nilai Dasar
1. Berkoordinasi kepada pimpinan terkait webinar yang akan dilaksanakan
Dokumentasi Saya melakukan koordinasi dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya melakukan koordinasi Tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya melakukan koordinasi dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik)
Saya melakukan koordinasi dengan handal
(Komitmen Mutu)
Saya melakukan koordinasi dengan jujur
(Anti Korupsi) 2. Menghubungi
pemateri terkait rencana webinar
Kesepakatan waktu dan tema kegiatan
Saya menghubungi pemateri dengan penuh Kejelasan (Akuntabilitas)
Saya menghubungi pemateri Tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya menghubungi pemateri dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik)
Saya menghubungi pemateri dengan responsif
(Komitmen Mutu)
Saya menghubungi pemateri
dengan jujur (Anti Korupsi) 3. Pembuatan form
pendaftaran dan pretest peserta
Form Pendaftaran Saya telah membuat form pendaftaran dan pretest dengan penuh kejelasan (Akuntabilitas)
Saya telah membuat form pendaftaran dan pretest tanpa memaksakan kehendak
(Nasionalisme)
Saya telah membuat form pendaftaran dan pretest dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik)
Saya telah membuat form pendaftaran dan pretest dengan handal (Komitmen Mutu)
Saya telah membuat form pendaftaran dan pretest dengan kerja keras
(Anti Korupsi) 4. Pembuatan Flyer
webinar
Flyer webinar Saya membuat flyer webinar dengan penuh kejelasan (Akuntabilitas)
Saya membuat flyer webinar tanpa memaksakan kehendak (Nasionalisme)
Saya membuat flyer webinar dengan bahasa yang sopan dan santun (Etika Publik)
Saya membuat flyer webinar
dengan handal (Komitmen
Mutu)
39