• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 6 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Pubertas

a. Pengertian Pubertas

Terjadinya pubertas pada perempuan ditandai dengan membesarnya payudara dan pinggul, suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan kemaluan, terjadinya pacu tumbuh, serta perubahan perilaku dan hubungan sosial dengan lingkungan. Berfungsinya sistem reproduksi merupakan tahap akhir dalam pubertas. Kematangan organ reproduksi seperti ovarium, tuba falopii, uterus akan memicu terjadinya ovulasi pada perempuan, kemudian berlanjut dengan menstruasi pertama kali (menarche) (Batubara, 2010a).

Pubertas terjadi pada perempuan dengan rentang usia 8-13 tahun.

Sebagian besar anak perempuan mengalami pertumbuhan payudara dan rambut pubis pada usia 10-11 tahun sedangkan periode menstruasi pertama kali terjadi pada usia 12-13 tahun. Pubertas dapat terjadi lebih cepat atau lebih lambat. Precocious puberty (pubertas prekoks) terjadi bila onset pubertas di bawah 8 tahun dan delayed puberty (pubertas terlambat) terjadi bila onset pubertas lebih dari 18 tahun (Elshman, 2008)

(2)

commit to user

b. Perubahan Hormonal pada Masa Pubertas

Perubahan hormonal yang berhubungan dengan pubertas dimulai sebelum adanya perubahan fisik yang nyata (Prawirohardjo, 2011).

Secara umum, pubertas merupakan hasil dari dua proses fisiologis yang melibatkan sistem endokrin, yaitu adrenarche dan gonadarche (Plant dan Gibb, 2004). Adrenarche merupakan maturasi korteks adrenal yang memicu peningkatan sekresi androgen adrenal, yaitu androstenedion, Dehidroepiandrosteron (DHEA), dan Dehidroepiandrosteron sulfat (DHEA-S). Sekresi androgen oleh adrenal terjadi dua tahun lebih awal dari onset pubertas. DHEA dan DHEA-S bertanggung jawab terhadap awal pertumbuhan rambut pubis dan aksila serta pertumbuhan dan sekresi kelenjar sebasea.

Adrenarche terjadi pada usia 6-8 tahun pada anak perempuan. Sekresi androgen lemah oleh adrenal terjadi lebih awal 2 tahun sebelum onset pubertas. Pemicu pasti terjadinya adrenarche belum diketahui.

Adrenarche tidak tergantung pada pelepasan Adrenocorticotropic Hormone (ACTH), pelepasan gonadotropin, dan fungsi ovarium, tetapi sepertinya merupakan peristiwa intrinsik yang telah diprogramkan di dalam kelenjar adrenal (Heffner dan Schust, 2008).

(3)

commit to user

Gonadarche merupakan aktivasi ovarium pada akhir perkembangan fase pubertas yang memicu peningkatan drastis dari produksi steroid gonad dan penyelesaian gametogenesis. Manifestasi gonadarche pada wanita adalah thelarche (perkembangan payudara) dan menarche (Plant dan Gibb, 2004). Ovarium baru aktif di bawah pengaruh gonadotropin yang disekresi hipofisis anterior dan hormon ini dikeluarkan atas pengaruh Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) dari hipotalamus (Heffner dan Schust, 2008).

Tanda utama pubertas adalah maturasi aksis hipotalamus- hipofisis-gonad. Hipotalamus menghasilkan hormon GnRH yang akan berikatan dengan reseptor di hipofisis sehingga sel-se l gonadotrop akan mengeluarkan luteneizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH). Hal ini terlihat dengan terdapatnya peningkatan sekresi LH 1-2 tahun sebelum awitan pubertas. Sekresi LH yang pulsatil terus berlanjut sampai awal pubertas. Pada anak perempuan, mula-mula akan terjadi peningkatan FSH pada usia sekitar 8 tahun kemudian diikuti oleh peningkatan LH pada periode berikutnya. Pada periode selanjutnya, FSH akan merangsang sel granulosa untuk menghasilkan estrogen dan inhibin.

Estrogen akan merangsang timbulnya tanda-tanda seks sekunder sedangkan inhibin berperan dalam kontrol mekanisme umpan balik

(4)

commit to user

pada aksis hipotalamus- hipofisis-gonad. Hormon LH berperan pada proses menarche dan merangsang timbulnya ovulasi (Bordini, 2011a).

Sekresi Growth Hormone (GH) meningkat bersamaan dengan meningkatnya sekresi gonadotropin pada saat munculnya pubertas.

Peningkatan GH distimulasi oleh estrogen. Perempuan mempunyai kadar basal GH lebih tinggi selama masa pubertas, kadar maksimal sekitar menarche dan kemudian turun. GH menstimulasi produksi Insulin Like Growth Factor 1 (IGF1) di semua jaringan. Selama pubertas efek umpan balik negatif IGF1 pada sekresi GH berkurang karena konsentrasi IGF1 dan GH tinggi. IGF1 dan GH berperan dalam perubahan komposisi badan yang terjadi saat pubertas (Prawirohardjo, 2011).

c. Perubahan Fisik pada Masa Pubertas

Pada fase pubertas terjadi perubahan fisik sehingga pada akhirnya seorang anak akan memiliki kemampuan bereproduksi. Perubahan fisik yang terjadi pada pubertas yaitu pertambahan tinggi badan yang cepat (pacu tumbuh), perubahan komposisi tubuh, perkembangan seks sekunder, dan perkembangan organ-organ reproduksi

Perubahan fisik pada periode pubertas berlangsung dengan sangat cepat dalam sekuens yang teratur dan berkelanjutan

(5)

commit to user 1) Peak Height Velocity (PHV)

Pada anak perempuan, percepatan tumbuh tinggi biasanya mulai segera setelah thelarche (mulainya pertumbuhan payudara) dan mencapai puncaknya kira-kira satu tahun kemudian, pada umumnya dicapai pada usia 10-14 tahun (rata-rata 12 tahun). Tinggi badan anak perempuan pada periode peak height velocity bertambah 8,25 cm per tahun. Peak height velocity terjadi satu tahun sebelum menarche, kemudian pertumbuhan tinggi badan akan melambat setelah menarche dan bertambah 7 cm per tahun sampai usia 15 tahun (Bordini, 2011b).

Setelah usia tersebut, pada umumnya pertambahan tinggi badan hampir selesai. Secara keseluruhan pertambahan tinggi badan pada anak perempuan sekitar 25 cm (Rogol, 2002).

2) Peak Weight Velocity (PWV)

Pertambahan berat badan terutama terjadi karena perubahan komposisi tubuh. Perubahan komposisi tubuh karena pengaruh hormon steroid seks yang mengakibatkan bertambah besar dan jumlah dari sel-sel adiposit. Anak perempuan mempunyai timbunan lemak yang lebih besar dan banyak selama masa pubertas dibandingkan anak laki-laki. Distribusi jaringan lemak pada anak perempuan selain pada tubuh juga pada ekstremitas. Kandungan lemak tubuh anak perempuan bertambah kira-kira 8% sebelum pubertas menjadi lebih dari 20% pada saat terjadi peak weight velocity (Batubara, 2010a).

(6)

commit to user

Saat memasuki awal pubertas, anak perempuan telah mencapai 50% dari berat dewasa. Kenaikan berat badan masih sama dengan kenaikan berat badan pada akhir masa anak-anak yaitu 2.0 kg/tahun.

Pada anak perempuan, setiap tahap perkembangan masa pubertas berhubungan dengan peningkatan dari lemak tubuh. Peak weight velocity terjadi kira-kira 6 bulan setelah peak hight velocity (Rogol, 2002).

3) Pertumbuhan Payudara (Thelarche)

Thelarche adalah perkembangan awal payudara pada anak perempuan yang normalnya dipengaruhi gonadotropin sehingga ovarium memproduksi estrogen. Peningkatan sekresi estrogen ini memicu perkembangan payudara dan berperan pada perubahan komposisi dan distribusi lemak saat pubertas (Solorzano dan McCartney, 2010).

Pada anak perempuan awal pubertas ditandai dengan timbulnya breast budding atau tunas payudara pada rentang usia 8,5–13 tahun, kemudian secara bertahap payudara berkembang menjadi payudara dewasa pada usia 11,8-18,9 tahun (Rosenfield, 2009).

(7)

commit to user

Tabel 2.1 Tahap Pertumbuhan Payudara Menurut Marshall dan Tanner

Tahap Deskripsi Umur saat Onset

(Tahun) Rerata Kisaran 1 Praremaja: hanya papilla yang terangkat

2 Tahap permulaan/pucuk payudara:

Payudara dan papilla menonjol seperti gundukan kecil. Diameter areola membesar

11,2 9,0-13,3

3 Pembesaran lebih lanjut pada payudara dan areola tanpa perbedaan kontur

12,2 10,0-14,3 4 Areola dan papilla menonjol untuk

membentuk gundukan sekunder diatas payudara

13,1 10,8-15,3

5 Tahap matur: penonjolan hanya pada papilla karena kembalinya areola ke kontur umum payudara

15,3 11,9-18,8

4) Pertumbuhan Rambut Pubis (Pubarche)

Rambut pubis mulai tumbuh pada usia 11-12 tahun dan mencapai pertumbuhan lengkap pada usia 14 tahun. Dehidroepiandosteron (DHEA) dan dehidroepiandosteron sulfat (DHEA-S) bertanggung jawab terhadap awal pertumbuhan rambut pubis dan aksila (Heffner dan Schust, 2008)

Tabel 2.2 Tahap Pertumbuhan Rambut Pubis Menurut Marshall dan Tanner

Tahap Deskripsi Usia saat Onset

(Tahun) Rerata Kisaran 1 Praremaja: tidak terdapat rambut

pubis (tidak lebih tebal dari rambut dinding abdomen)

- -

2 Pertumbuhan yang tipis dari rambut halus, panjang dan sedikit berpigmen

11,7 9,3-14,1

(8)

commit to user terutama disepanjang labia

3 Rambut menghitam, menebal, dan sebagian besar keriting. Rambut menyebar jarang disepanjang sambungan labia.

12,4 10-14,6

4 Rambut kini tampak seperti pada orang dewasa, namun areanya lebih kecil dari orang dewasa. Tidak ada penyebaran ke permukaanmedial paha

13,0 10-15,1

5 Penampakan dan jumlah rambut seperti pada orang dewasa. Bentuk menyerupai segitiga terbalik seperti pada wanita. Penyebaran ke permukaan medial aha namun tidak melebihi dasar segitiga

14,4 12-16,7

d. Menarche

1) Pengertian Menarche

Menarche adalah periode akhir dalam proses perkembangan pubertas sebagai manifestasi fisik dari perubahan hormonal axis hipotalamus-hipofisis-gonad (Edward, 2007). Menarche adalah menstruasi pertama kali yang menandakan seorang remaja putri sudah mempunyai kemampuan bereproduksi (Wiknjosastro, 2011)

Penelitian oleh Batubara (2010b) menunjukkan mayoritas remaja putri Indonesia mengalami menarche pada usia 12 tahun (31,33%), 13 tahun (31,30%) dan 14 tahun (18,24%). Rata-rata usia menarche remaja putri Indonesia adalah 12,96 tahun.

(9)

commit to user 2) Mekanisme Terjadinya Menarche

Menarche merupakan puncak dari peristiwa yang kompleks yang meliputi pematangan aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium untuk memproduksi ovum ataupun endometrium matang sehingga dapat menunjang zigot jika terjadi pembuahan. Menurut Heffner dan Schust (2008) tiga tahap pematangan aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium meliputi:

a) Peningkatan pelepasan FSH dan LH dari kelenjar hipofisis b) Pengenalan dan respons ovarium terhadap gonadotropin

sehingga memungkinkan terjadinya produksi steroid ovarium (estrogen dan progesteron)

c) Terbentuknya pengaturan umpan balik positif pada kelenjar hipotalamus dan hipofisis oleh estrogen. Kombinasi dari peristiwa-peristiwa pematangan ini akan menyebabkan terjadinya ovulasi.

Proses menarche normal terdiri dalam tiga fase, yaitu fase folikuler, fase ovulasi, dan fase lutheal (sekretori). Pada fase folikuler terjadi peningkatan GnRH pulsatif dari hipotalamus yang akan merangsang hipofisis untuk mengeluarkan FSH dan LH, kemudian menstimulus pertumbuhan folikel. Folikel kemudian akan mensekresi estrogen yang menginduksi proliferasi sel di endometrium. Kira-kira tujuh hari sebelum ovulasi terdapat satu folikel yang dominan.

(10)

commit to user

Selanjutnya pada fase ovulasi terjadi puncak sekresi estrogen, hipofisis mensekresi LH lebih banyak dan ovulasi terjadi 12 jam setelah peningkatan LH. Pada fase lutheal (sekretori) ditandai dengan adanya korpus luteum yang dibentuk dari proses luteinisasi sel folikel.

Pada korpus luteum kolesterol dikonversi menjadi estrogen dan progesteron. Progesteron ini mempunyai efek berlawanan dengan estrogen pada endometrium yaitu menghambat proliferasi dan perubahan produksi kelenjar sehingga memungkinkan terjadinya implantasi ovum. Tanpa terjadinya fertilisasi ovum dan produksi human chorionic gonadotropine (hCG), korpus luteum tidak bisa bertahan. Regresi korpus luteum mengakibatkan penurunan kadar progesteron dan estrogen yang menyebabkan terlepasnya endometrium, proses tersebut dikenal sebagai menstruasi. Menstruasi terjadi kira-kira 14 hari setelah ovulasi (Batubara, 2010a).

Pada tahun-tahun pertama setelah menarche, banyak terjadi siklus ovulasi yang anovulatoir. Ini menggambarkan kurang matangnya respon umpan balik positif hipotalamus terhadap estrogen ovarium.

Setelah 5 tahun sejak onset menarche, 90% anak perempuan akan mengalami siklus menstruasi yang teratur atau ovulatoir (Heffner dan Schust, 2008).

(11)

commit to user

3) Faktor yang Mempengaruhi Usia Menarche a) Asupan Nutrisi

Nutrisi selalu dianggap sebagai faktor yang berpengaruh besar dalam massa pertumbuhan. Jika asupan nutrisi berlangsung optimal maka kemungkinan pertumbuhan akan terpenuhi atau berlangsung optimal . Kebutuhan nutrisi tertinggi terjadi pada puncak pertumbuhan yaitu pada masa remaja. Nutrisi yang tidak adekuat selama masa ini akan mempunyai konsekuensi jangka panjang sehingga pertumbuhan menjadi terhambat, penurunan massa tulang, dan maturasi seksual menjadi tertunda.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara asupan zat gizi dengan terjadinya menarche. Penelitian Paçadara et al.

(2008) menyatakan bahwa remaja dengan asupan makanan kurang mengalami menarche pada usia 13,3 tahun sedangkan remaja dengan asupan makanan yang baik mengalami menarche pada usia 12.9 tahun. Menurut Susanti dan Sunarto (2012), faktor risiko terjadinya menarche dini adalah rendahnya asupan serat dan tingginya asupan lemak serta kalsium. Hasil penelitian Bagga (2000) di India menyatakan bahwa remaja putri non-vegetarian mengalami menarche enam bulan lebih cepat dibandingkan dengan remaja putri vegetarian.

(12)

commit to user b) Status Gizi

Mengukur status gizi remaja putri dapat menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut umur (Soetjiningsih, 2014).

Dengan IMT/U akan diketahui apakah berat badan seorang remaja putri dikatakan kurus, normal, atau berlebih. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan rasio BB/TB2 (kg/m2), yang dinyatakan dalam rumus seperti terlihat dalam tabel di bawah ini :

IMT =

Setelah hasil penghitungan IMT/U diketahui, gunakan tabel atau grafik standar IMT terhadap umur (WHO 2007), untuk mengetahui status gizi remaja putri apakah sangat kurus, kurus, normal, gemuk atau obesitas.

Berdasarkan hasil penelitian dari Prabasiwi (2011), terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian menarche, hal ini dinyatakan dengan nilai p Value (p = 0,000).

c) Berat Badan

Berat badan berlebih menyebabkan usia menarche yang lebih dini bila dibandingkan dengan remaja putri yang mempunyai berat badan terkontrol. Hal ini berhubungan dengan peningkatan hormon leptin pada remaja putri yang mengalami obesitas. Peningkatan kronis konsentrasi hormon leptin menyebabkan peningkatan sekresi

(13)

commit to user

leuthenizing hormone (LH) lebih dini. Lonjakan LH menstimulasi peningkatan oestradiol serum dan terjadinya menarche (Edward, 2007). Berdasarkan penelitian Lee, et al (2007) menyimpulkan bahwa obesitas mengakibatkan remaja putri di Amerika mengalami menarche yang lebih dini. Penelitian Prabasiwi (2011) menyatakan bahwa semakin tinggi status gizi (semakin gemuk) akan semakin cepat mengalami menarche.

d) Persen Lemak Tubuh

Lemak tubuh mempengaruhi usia menarche. Penelitian Labayen (2009) menunjukkan bahwa kematangan seksual yang lebih awal berhubungan dengan IMT dan lemak tubuh. Metode antropometri sering digunakan untuk mengukur komposisi tubuh yang terdiri dari dua kompartemen, yaitu massa lemak (fat mass) dan lemak bebas (fat free mass). Hasil pengukuran massa lemak dan lemak bebas tersebut dapat menentukan jumlah dan proporsi serta sebagai indikator untuk menentukan status gizi.

Komponen lemak tubuh masing-masing individu berbeda tergantung pada jenis kelamin, tinggi, dan berat badan. Menurut Gibson (2005), klasifikasi persen lemak tubuh pada perempuan dapat diamati pada Tabel 2.3 berikut.

(14)

commit to user

Tabel 2.3 Standar Persen Lemak Tubuh pada Perempuan

Standar Persen Lemak Tubuh

Kurang < 13 %

Optimal 13-23 %

Resiko Rendah 24-27 %

Gemuk 28-32 %

Sangat Beresiko (Obesitas) ≥ 33 %

Menurut Prabasiwi (2011) terdapat hubungan antara persen lemak tubuh dengan usia menarche, proporsi siswi yang sudah mengalami menarche paling banyak pada siswi yang persen lemak tubuhnya

≥17% yaitu sebanyak 87, 3%. Angka ini jauh berbeda pada siswi dengan persen lemak tubuh <17%, hanya 32,2% siswi yang sudah mengalami menarche.

e) Status Menarche Ibu (Genetik)

Secara genetik terdapat berbagai teori yang mengatur awitan pubertas, antara lain pengaturan oleh gen GPR54, suatu G-coupled protein receptor. Mutasi pada gen GPR54 dapat menyebabkan terjadinya hipogonadotropik hipogonadisme idiopatik (Batubara, 2010a).

Bukti yang menunjukkan bahwa genetik mempengaruhi usia menarche berasal dari penelitian yang menunjukkan kecenderungan usia menarche ibu untuk memprediksi usia menarche anak perempuanya (Karapanou, 2010).

Penelitian yang menunjukkan usia menarche ibu mempengaruhi usia menarche anak perempuannya dilakukan oleh Ardhani (2014).

(15)

commit to user

Penelitian tersebut menunjukkan anak perempuan dengan ibu yang mengalami menarche cepat (<12 tahun) memiliki usia menarche yang cepat juga. Sedangkan anak perempuan dengan ibu yang mengalami menarche normal memiliki usia menarche yang normal juga.

f) Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi keluarga mempunyai peran yang cukup tinggi dalam hal percepatan usia menarche. Hal ini berhubungan karena tingkat sosial ekonomi pada suatu keluarga akan mempangaruhi kemampuan keluarga dalam hal ketersediaan pangan rumah tangga yang berdampak pada kecukupan gizi keluarga, terutama gizi anak perempuan dalam keluarga yang dapat mempengaruhi usia menarche-nya.

Penelitian Amaliah (2012) yang dilakukan pada anak usia 10-12 tahun menunjukkan terdapat hubungan yang erat antara staus sosial ekonomi keluarga dengan usia menarche. Usia menarche remaja putri dengan status sosial ekonomi tinggi adalah 12,24±1,07 tahun, lebih cepat bila dibandingkan dengan status sosial ekonomi menengah dan rendah masing-masing 12,41±1,06 tahun dan 12,49±1,08 tahun

Menurut penelitian Atay et al (2011) remaja putri dari status sosial ekonomi tinggi, kemungkinan untuk mencapai menarche 0,4 tahun lebih awal dibanding dengan remaja putri dengan usia yang sama dari status sosial ekonomi yang rendah.

(16)

commit to user g) Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik secara intensif dapat menunda usia menarche pada anak perempuan. Penelitian yang dilakukan Bagga (2000) menyatakan bahwa, aktivitas fisik seperti voli, bulutangkis dan berenang yang dilakukan rutin dan dalam durasi waktu yang lama akan menunda usia menarche, dibandingkan dengan remaja putri yang melakukan aktivitas fisik yang jarang atau dalam durasi waktu yang sebentar. Hal ini dikarenakan seorang atlet memiliki lemak tubuh sedikit tetapi berat badannya lebih daripada orang lain dengan tinggi badan sama karena massa otot yang lebih besar. Pada populasi umum, kelebihan lemak tubuh dan berat badan merupakan kondisi yang bersaman (Varney, 2007)

Abdullah et al (2010) juga mengatakan bahwa terdapat hubungan antara usia menarche dengan kegiatan olahraga. Remaja putri yang aktif melakukan aktifitas fisik akan mendapatkan menarche lebih lambat dibandingkan remaja putri yang tidak aktif (Ajita dan Jiwanjot, 2014).

h) Lingkungan Tempat Tinggal

Lingkungan berpengaruh pada waktu terjadinya menarche. Anak perempuan di lingkungan kota mengalami menarche lebih awal dibanding yang tinggal di desa (Karapanou dan Papadimitriuo, 2010).

(17)

commit to user

Penelitian yang dilakukan Handayani (2013) menunjukkan bahwa usia menarche siswi SMP yang tinggal di perkotaan lebih awal dari pada siswi SMP yang tinggal di desa.

i) Stimulan Eksternal

Media seperti televisi memberikan konstribusi terhadap pendidikan seksual untuk anak dan remaja. Tidak hanya tontonan televisi yang menyenangkan seksualitas, pemasangan iklan juga mengandung tayangan yang berbau seksual. Banyak remaja yang tidak hanya terpapar hal yang berbau seksual secara eksplisit melalui televisi, tetapi juga melalui video, lirik musik populer, dan situs internet (Santrock, 2007).

j) Kondisi Kesehatan Umum

Badan yang lemah atau penyakit yang diderita seorang anak perempuan seperti penyakit kronis maupun cacat konginetal, terutama yang mempengaruhi asupan nutrisi dan oksigenasi jaringan dapat menunda terjadinya menarche (Prawirohardjo, 2011).

k) Etnis

Beberapa penelitian khususnya di Amerika menunjukkan bahwa perbedaan etnis dapat mempengaruhi maturasi pubertas dan menarche. Anak perempuan berkulit hitam lebih cepat mengalami pertumbuhan payudara, pertumbuhan rambut pubis, dan menarche

(18)

commit to user

dibandingkan anak perempuan berkulit putih (Karapanou dan Papadimitriou, 2010).

4) Gangguan Menarche

Menarche adalah suatu kejadian yang penting dalam masa pubertas. Gangguan-gangguan yang penting selama menarche menurut Wiknjosastro (2008) meliputi:

a) Menarche Dini

Pada menarche dini, terjadi menstruasi sebelum usia 10 tahun.

Hormon gonadotropin mulai kembali aktif sebelum anak berusia 8 tahun. Hormon ini merangsang ovarium, sehingga ciri-ciri kelamin sekunder, menarche dan kemampuan reproduksi terjadi sebelum waktunya. Menurut berbagai penelitian, menarche dini menyebabkan berbagai penyakit yang akan terjadi saat dewasa, antara lain:

(1) Kanker Payudara

Usia menstruasi yang lebih awal dan menopause yang terlambat berhubungan dengan paparan estrogen dan progesteron pada wanita yang berpengaruh terhadap proses proliferasi jaringan payudara (Maulina, 2012). Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan Anggorowati (2013) bahwa usia menarche < 12 tahun dan menopause ≥ 48 tahun beresiko tinggi terkena kanker payudara. Usia menstruasi <12 tahun secara signifikan beresiko tinggi terkena kanker payudara.

(19)

commit to user

Penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta oleh Uswatun (2015) menyimpulkan dari 92 responden yang mempunyai kanker payudara, terdapat 63 responden yang mempunyai usia menarche <10 tahun.

(2) Kanker Ovarium

Hasil penelitian Fachlevy (2012) yang dilakukan di RSUP Sudirohusodo Makassar, menyatakan bahwa usia menarche dini merupakan faktor resiko kanker ovarium. Responden yang memiliki usia menarche < 12 tahun memiliki resiko 2,104 kali dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki menarche di bawah usia 12 tahun. Hal ini berhubungan dengan produksi hormon oleh ovarium, yaitu estrogen. Estrogen sendiri terdiri dari tiga jenis hormone ,yaitu estradiol, estriol, dan estrion. Estradiol dan estriol diduga bersifat karsinogenik, hal ini berhubungan dengan proliferasi jaringan ovarium dimana kedua hormon ini diduga memegang peranan penting.

Penelitian di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada tahun 2015 menunjukkan bahwa usia menarche pasien kanker ovarium lebih rendah daripada kanker ginekologi lainnya. Usia menarche pasien kanker ovarium yaitu sebesar 12,8±2,30 tahun sedangkan usia menarche pasien ginekologi lainnya yaitu 14,5±2,03 tahun (Ariandini, 2015).

(20)

commit to user (3) Diabetes Melitus Tipe II

Menarche dini meningkatkan resiko terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2. Salah satu penyebab menarche dini adalah akumulasi jaringan adiposit dalam tubuh, akumulasi jaringan lemak tubuh yang terjadi dini dan kronis dapat menyebabkan intolerensi glukosa dan resistensi insulin (Chunyan, 2009).

(4) Kehamilan Usia Dini

Pada perempuan dengan usia menarche yang masih muda dan perkawinan di bawah umur membuat rentang usia reproduksi menjadi panjang dan berdampak pada banyaknya anak yang dilahirkan (Riskesdas, 2010).

Usia menarche dini berhubungan dengan kehamilan usia dini yang mengakibatkan meningkatnya resiko kelahiran bayi prematur, berat bayi lahir rendah serta mortalitas ibu dan bayi meningkat (Rah, 2009).

b) Menarche Tarda

Menarche tarda adalah menstruasi yang terjadi pada anak perempuan yang berusia lebih dari 14 tahun. Pubertas dianggap terlambat apabila tanda-tanda pubertas baru datang antara usia 14-16 tahun. Menarche yang terlambat dapat disebabkan oleh faktor herediter, gangguan kesehatan, dan kekurangan gizi. Berbagai

(21)

commit to user

kelainan dapat timbul akibat usia menarche yang terlambat, antara lain:

(1) Osteoporosis

Menurut pendapat Rogol (2002) menarche terlambat dapat menurunkan kepadatan tulang karena keterlambatan peran estrogen dalam maturasi tulang dan keterlambatan penutupan lempeng epifisis

Menarche terlambat berhubungan dengan osteoporosis, berdasarkan studi yang dilakukan pada wanita menopause yang mengalami menarche terlambat didapatkan kepadatan tulang yang lebih rendah di lengan bawah, tulang belakang, proximal femur dan meningkatkan resiko fraktur. Penelitian cohort di Jepang menyimpulkan bahwa usia menarche terlambat (>14 tahun) berhubungan dengan peningkatan resiko kepadatan mineral tulang yang rendah di area pinggul pada wanita yang berusia 40 tahun ke bawah (Karapanou, 2010).

(2) Infertilitas

Guldbrandsen (2014) menyimpulkan bahwa usia menarche >15 tahun meningkatkan resiko infertilitas. Anti Mullerian Hormone berhubungan dengan usia mearche pada anak perempuan (Fong, 2012), usia menarche yang terlambat berubungan dengan kadar hormon anti mullerian yang rendah.

(22)

commit to user 2. Komposisi Tubuh

Komposisi tubuh digunakan untuk mengevaluasi status gizi, pertumbuhan dan perkembangan, homeostasis air dan untuk mengetahui status penyakit tertentu. Komposisi tubuh manusia dikelompokkan mulai dari level atomik, molekuler, seluler, jaringan dan level seluruh tubuh (Shils, 2006). Setiap level yang dijabarkan akan saling terkait dan terintergrasi.

Berat badan normal manusia rata-rata terdiri dari 98% oksigen, karbon, hydrogen, nitrogen, dan kalsium; 60-70% air; 10-35% lemak (tergantung dari jenis kelamin), 10-15% protein dan 3-5% minerals.

Komposisi tubuh antar individu sangat bervariasi, terutama karena perbedaan massa lemak tubuh. Perbedaan massa bebas lemak tidak terlalu berpengaruh terhadap variasi komposisi tubuh antar individu.

Menurut Gilbert B Forbes (2015) komposisi tubuh adalah jumlah seluruh dari jaringan lemak tubuh dan massa jaringan bebas lemak.

Williams (2007) menyatakan bahwa komposisi tubuh terdiri dari empat komponen utama yaitu jaringan lemak tubuh total (Total Body Fat), jaringan bebas lemak (Fat Free Mass), mineral tulang (bone mineral), dan cairan tubuh (body water). Menurut William (2007) , komposisi tubuh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor:

(23)

commit to user a. Usia

Pada masa pertumbuhan dan perkembangan terjadi proses pembentukan otot dan jaringan tubuh lain, sedangkan pada usia dewasa massa otot mulai berkurang yang dapat disebabkan oleh penurunan aktivitas fisik dan kemampuan metabolisme.

b. Jenis kelamin

Tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara komposisi tubuh anak laki-laki dan anak perempuan sebelum pubertas. Namun pada usia pubertas perbedaan menjadi sangat besar dimana anak perempuan memiliki lebih banyak deposit lemak, sedangkan anak laki-laki lebih banyak terbentuk jaringan otot.

c. Diet

Diet dapat mempengaruhi komposisi tubuh dalam jangka waktu singkat, seperti pada saat kekurangan air dan kelaparan ataupun dalam jangka waktu lama, seperti pada chronic overeating yang dapat meningkatkan simpanan lemak tubuh.

d. Tingkat aktivitas fisik

Menjalani program aktivitas fisik dapat membantu membangun massa otot dan mengurangi lemak tubuh.

Pembagian komposisi tubuh perlu dipahami berkaitan dengan status gizi dan untuk mengetahui distribusi komponen nutrisi yang mempengaruhi berat badan. Komposisi tubuh manusia

(24)

commit to user

diklasifikasikan menjadi lima level yang saling berkaitan satu sama lain. Menurut Shils (2006), komposisi tubuh diklasifikasikan menjadi level atomic, level molekuler, level seluler, level organ dan jaringan, serta seluruh tubuh.

a. Pembagian Komposisi Tubuh 1) Level Atomik

Level pertama dari komposisi tubuh terdiri dari 11 elemen yang menyusun lebih dari 99,5% berat badan. Akan tetapi, terdapat enam elemen utama yang menyusun lebih dari 98% berat badan. Elemen utama tersebut adalah oksigen, hydrogen, carbon, nitrogen, kalsium dan phospor (Shils, 2006).

2) Level Molekuler

Komponen molekuler yang menyusun berat badan terdiri dari air, protein, karbohidrat, mineral dan lipid. Jumlah total air dalam tubuh sangat tinggi, dapat mencapai 60-70% dari berat badan total. Jumlah total air dalam tubuh (total body water) dapat dibagi menjadi cairan extracelluler dan cairan intracelluler.

Dalam berat badan normal, jumlah lemak tubuh bervariasi antara pria dan wanita. Pria mempunyai kandungan lemak tubuh 10-25%

sedangkan wanita 15-35%. Pada keadaan obesitas, lemak tubuh dapat mencapai 60-70% dari total berat badan. Sementara protein tubuh antara pria lebih tinggi dari wanita karena kandungan massa otot yang

(25)

commit to user

lebih banyak. Protein dalam tubuh menyusun 10-15% dari total berat badan (Gibney, 2002).

Jumlah mineral tubuh bervariasi antara 3-5%, tergantung dari lemak tubuh. Kalsium dan fosfor adalah mineral tubuh utama yang tersimpan dalam tulang. Karbohidrat dalam tubuh disebut glukosa (gula darah) dan glikogen yang disimpan dalam otot dan sel liver.

Jumlah karbohidrat dalam tubuh tidak lebih dari 500 g.

3) Level Seluler

Level seluler komposisi tubuh terdiri dari 3 komponen, yaitu massa sel tubuh, cairan ekstraseluler, padatan ekstraseluler.

Komponen massa sel tubuh adalah air, protein dan mineral. Cairan extraselluler mengandung 95% air. Sedangkan padatan ekstraseluler terutama protein (kolagen) dan mineral (mineral tulang dan mineral yang terlarut dalam cairan ekstraseluler) (Gibney, 2002).

4) Level Jaringan dan Sistem Organ

Level sistem-jaringan pada komposisi tubuh terdiri dari sebagian besar jaringan dan organ. Berat badan pada level ini sama dengan jumlah dari jaringan lemak, otot rangka, tulang dan massa organ visceral (Gibney, 2002).

Level jaringan tubuh dapat diukur dengan beberapa metode khusus, seperti computed tomography (CT-Scan) dan magnetic resonance imaging (MRI) untuk mengukur jaringan adiposa. Dual-

(26)

commit to user

energy X-ray absorbtiometry (DXA) untuk mengukur komposisi tulang dalam tubuh dan MRI atau ulrtrasound untuk menilai organ (Shills, 2006).

5) Level Seluruh Tubuh

Level seluruh tubuh meliputi pengukuran antropometri utama seperti berat badan, tinggi badan, lingkar tubuh, lebar dan tebal kulit.

Pengukuran whole-body yang lain yaitu volume, kepadatan tulang dan impedansi listrik.

b. Pengukuran Komposisi Tubuh 1) Antropometri

Metode antropometri digunakan untuk mengukur komposisi tubuh berdasarkan model dua kompartemen, yaitu lemak dan massa bebas lemak, serta dapat digunakan untuk menentukan status gizi.

Pengukuran komposisi tubuh menggunakan teknik antropometri digunakan karena metode pengukurannya cepat, noninvassive dan membutuhkan sedikit peralatan jika dibandingkan dengan teknik laboratorium.

a) Pengukuran Lemak Tubuh

Pada anak perempuan yang memasuki masa pubertas, terjadi peningkatan lemak tubuh. Lemak tubuh anak perempuan lebih tinggi daripada anak laki-laki, sehingga usia pubertas anak perempuan lebih

(27)

commit to user

awal 2 tahun dibandingkan anak laki-laki. Berdasarkan lokasinya, lemak tubuh dibedakan menjadi lemak esensial dan lemak simpanan.

Lemak esensial ditemukan di tulang belakang, sistem saraf pusat, kelenjar payudara, dan organ lain yang digunakan untuk fungsi fisiologis normal. Lemak esensial menyusun 9% (4,9kg) dari seluruh berat badan. Lemak simpanan terdiri dari lemak inter dan intramuskuler, lemak disekitar organ dalam, lemak di saluran pencernaan, dan lemak subkutan. Proporsi lemak simpanan pada perempuan menyusun sekitar 12% berat badan (Duarte, 2014). Lemak tubuh dapat diukur menggunakan berat badan total dalam kilogram atau persen lemak tubuh.

(1) Tebal Lipatan Kulit (Skinfold Thickness)

Tebal lipatan kulit digunakan untuk meangukur lemak subkutan.

Lemak subkutan digunakan untuk memperkirakan lemak tubuh karena tebal lemak subkutan menunjukkan proporsi yang konstan dari total lemak tubuh dan letak lipatan kulit sebagai tempat pengukuran baik itu pada satu tempat ataupun dua tempat kombinasi menunjukkan rata- rata tebal jaringan lemak subkutan di seluruh tubuh. Bagian tubuh yang digunakan untuk pengukuran tebal lipatan kulit, yaitu lipatan kulit trisep, bisep, subscapular, suprailliaca, midaxillary (Gibson, 2005).

(28)

commit to user

(2) Rasio Lingkar Pinggang-Panggul (Waist–Hip Circumference Ratio)

Pengukuran rasio lingkar pinggang–panggul adalah metode sederhana untuk membandingkan simpanan lemak di area pinggang dan panggul. Simpanan lemak yang diukur dengan rasio lingkar pinggang-panggul terutama mengukur lemak subkutan dan viseral.

Jaringan lemak subkutan terutama terdapat di area panggul sedangkan jaringan lemak viseral terdapat di area pinggang (Gibson, 2005).

Lingkar pinggang diukur pada titik tengah antara tulang rusuk terbawah dengan crista illiaca atau sejajar dengan umbilicus sedangkan lingkar panggul diukur di titik paling maksimal dari pantat dan di atas symphisis ossis pubis (WHO, 2011).

Rasio lingkar pinggang-panggul pada laki-laki >0,90 dan pada perempuan >0,85 diartikan sebagai obesitas sentral dan meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler, tekanan darah tinggi dan diabetes mellitus (WHO, 2011).

(3) Lingkar Pinggang (Waist Circumference)

Berdasarkan penelitian, penilaian akurasi lingkar pinggang menggunakan CT-Scan dan DXA memiliki korelasi yang lebih baik untuk mengukur lemak abdomial dibandingkan dengan pengukuran rasio lingkar pinggang-panggul (Pouliot, 2014). Lingkar pinggang dan

(29)

commit to user

densitometry mempunyai korelasi yang lebih kuat untuk mengukur lemak tubuh daripada rasio lingkar pinggang-panggul.

Menurut WHO (2011) lingkar pinggang diukur pada pertengahan antara titik terbawah tulang rusuk dengan superior dari crista illiaca.

Subjek berdiri tegak dengan lengan berada di samping tubuh, posisi kaki saling berhimpit satu sama lain dan tumpuan berat badan pada kaki. Lingkar pinggang seharusnya diukur pada saat normal akhir ekspirasi, ketika paru-paru berada pada kapasitas residu fungsional.

Pengukuran lingkar pinggang dilakukan 2 kali, jika selisih dua pengukuran tersebut kurang dari 1 cm, maka dihitung rata-ratanya tetapi apabila selisih dua pengukuran lebih dari 1 cm, maka prosedur pengukuran dapat diulang (WHO, 2011). Cameron (2009) menyatakan bahwa pengukuran lingkar pinggang dilakukan pada saat subjek melakukan ekspirasi minimal. Disarankan sebelum mengukur lingkar pinggang, subjek harus dalam keadan berpuasa atau tidak mengkonsumsi makanan minuman satu malam sebelumnya kemudian pengukuran lingkar pinggang dilakukan pada pagi hari, hal ini dikarenakan air, makanan, atau gas di saluran pencernaan dapat menguranggi akurasi pengukuran lingkar pinggang. Cut-off points pengukuran lingkar pinggang pada laki-laki ≥102 cm sedangkan pada perempuan ≥88 cm (WHO, 2011).

(30)

commit to user

b) Pengukuran Massa Bebas Lemak

Massa bebas lemak terdiri dari air, mineral, dan protein, dengan sebagian besar protein disimpan dalam otot. Pengukuran massa otot dapat menunjukkan indeks cadangn protein dalam tubuh. Lingkar lengan atas (mid-upper arm circumference) berhubungan dengan total massa otot dan digunakan untuk memprediksi perubahan status nutrisi protein.

(1) Mid-upper-arm circumference

Lengan atas terdiri dari lemak subkutan dan otot. Penurunan massa otot dan atau penurunan jaringan subkutan ditandai dengan penurunan lingkar lengan atas. Pengukuran lingkar lengan atas digunakan untuk screnning malnutrisi protein dan energi serta kelaparan. Perubahan lingkar lengan atas juga dapat digunakan untuk memonitor terapi nutrisi (Gibson, 2005).

Pengukuran lingkar lengan atas dilakukan dengan pita pengukur khusus, dengan posisi subjek berdiri tegak. Penentuan titik pengukuran dilakukan dengan cara mengukur panjang bahu hingga siku (tulang acromion hingga olecranon) yang dilakukan dalam posisi lengan ditekuk 900. Kemudian hasil pengukuran dibagi dua sebagai nilai pertengahan antara bahu dan siku. Tepat dibagian pertengahan tersebut, pengukuran lingkar lengan dilakukan dengan melingkari bagian tersebut menggunakan pita pengukur (Craig, 2014).

(31)

commit to user

Di Indonesia nilai cut-off point lingkar lengan atas yang digunakan sampai saat ini adalah 23,5 cm. Berdasarkan nilai cut-off point nya, hasil pengukuran lingkar lengan atas ada dua kemungkinan yaitu <23,5 cm atau ≥ 23,5 cm. Wanita dengan lingkar lengan atas <

23,5 cm memiliki resiko kurang energi kronis (KEK) dan melahirkan BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan yang memiliki lingkar lengan atas ≥ 23,5 cm (Depkes RI, 2014)

2) Laboratorium

Tubuh manusia adalah suatu unit yang kompleks, dalam keadaan normal digunakan beberapa model untuk merepresentasikan komposisi tubuh manusia. Komposisi tubuh dua kompartemen dan empat kompartemen adalah model yang sering digunakan.

Model dua kompartemen mengasumsikan massa total tubuh mempunyai dua kompartemen molekuler utama, yaitu lemak tubuh dan massa bebas lemak. Model empat kompartemen membagi tubuh menjadi empat molekuler, yaitu mineral, air, protein, dan lemak.

Metode laboratorium untuk mengukur komposisi tubuh dilakukan mulai dari analisis elemen, kepadatan jaringan, hidrasi dan struktur.

Hal ini penting karena individu yang mengalami malnutrisi dan gangguan metabolik, proporsi relatif dari komponen tubuh tertentu tidak seimbang. Kehilangan protein dan lemak dapat terjadi, tetapi akumulasi air tetap tinggi, sehingga dibutuhkan pengukuran secara

(32)

commit to user

laboratorium untuk mengukur komposisi tubuh yang tidak seimbang mulai dari level elemental, molekuler, seluler dan fungsional (Shils, 2006)

Berikut ini adalah metode untuk mengukur komposisi tubuh, yaitu:

a) Densitometry

Densitometry mengukur komposisi tubuh dua kompartemen, massa lemak dan massa bebas lemak. Secara kimia, massa bebas lemak terdiri dari air, mineral, protein dan sebagian kecil karbohidrat.

Densitas massa lemak adalah 0,900 kg/l dan densitas massa bebas lemak adalah 1.100 kg/l tergantung jumlah relatif mineral, protein dan air massa bebas lemak. Densitas tubuh total tergantung dari rasio massa lemak terhadap massa bebas lemak.

Densitas tubuh dapat ditentukan dengan berbagai macam teknik.

Pengukuran densitas tubuh yang paling akurat adalah underwater weighing. Underwater weighing menggunakan prinsip Archimedes Law’s, berat badan subjek diukur seperti pada umumnya dalam udara terbuka kemudian seluruh tubuh dibenamkan dalam air. Teknik pengukuran ini memberikan hasil yang sangat akurat, dengan kesalahan tidak lebih dari 1% untuk mengukur persen lemak tubuh (Biaggi, 2009).

(33)

commit to user

b) Bioelectrical Impedance Analysis

Pengukuran BIA relatif sederhana, cepat, dan noninvassive (Hofsteenge, 2015). BIA mengukur perbedaan konduktivitas dari massa lemak dan massa bebas lemak. Prinsip penggunaan BIA adalah untuk mengukur total cairan tubuh (total body water). Dengan nilai total cairan tubuh, dapat ditentukan massa lemak tubuh dan massa bebas lemak. Teknik pengukuran impedensi aliran listrik (800 µA; 50 KHz) melewati dua elektroda umumnya berada di kaki kanan dan tangan kanan (Villoria, 2016).

Status hidrasi, aktivitas fisik terakhir, konsumsi makanan dan minuman, kondisi udara dan suhu kulit, status menstruasi dan posisi tubuh adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap validitas dan presisi pengukuran. Sebagai contoh, subjek harus menghindari alkohol dan aktivitas berlebih dalam 24-48 jam sebelum dilakukan pengukuran sehingga cairan tubuh tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pengukuran harus dilakukan pada subjek kira-kira 2 jam setelah makan dan tidak lebih dari 30 menit sebelum buang air dengan subjek berdiri tegak dan anggota gerak tidak menyentuh tubuh (Haroun, 2010).

c) Computerized Tomography (CT Scan)

CT scan digunakan untuk memvisualisasikan jaringan berdasarkan potongan cross-sectional tubuh. Ketebalan potongan

(34)

commit to user

dapat bervariasi, tetapi normalnya adalah 1 cm. Selama proses pengukuran, sumber sinar X berputar tegak lurus mengelilingi tubuh atau segmen tubuh tertentu, sementara photodetector berada berlawanan dengan sumber cahaya. Photodetector digunakan untuk meredam sumber sinar X setelah melewati tubuh. Hasil pengukuran dapat dilihat pada photodetector yang menggambarkan jaringan lemak dan jaringan bukan lemak. Ketepatan dari pengukuran area jaringan atau volume jaringan dari hasil scanning adalah sangat akurat, dengan kesalahan kira-kira 1%. Pengukuran dengan CT scan sangat mahal, paparan terhadap resiko radiasi sangat tinggi, dan pengukuran terbatas hanya pada subjek yang mempunyai indikasi klinis tertentu (Gibney, 2002).

d) Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pengukuran MRI dilakukan dengan cara meletakkan subjek pada area magnetik yang sangat kuat. MRI digunakan untuk melihat perbedaan waktu relaksasi nukleus hydrogen proton pada massa lemak dan massa bebas lemak. Perbedaan waktu relaksasi ini dapat menentukan distribusi massa lemak dan massa bebas lemak. MRI menggambarkan cross-sectional abdomen sehingga distribusi massa lemak dan massa bebas lemak dapat dapat diketahui (Gibson, 2005)

(35)

commit to user

Kelebihan utana MRI dibanding CT-scan dan DXA adalah tidak menggunakan radiasi ion. Akan tetapi, peralatan yang digunakan sangat besar dan mahal.

e) Dual Energy X-ray Absorbtiometry (DXA)

Dual-energy X-ray absorbtiometry (DXA) adalah teknik pengukuran utama untuk komposisi mineral tulang pada tulang axial.

DXA juga digunakan untuk menentukan proporsi relatif dari massa bebas lemak, massa lemak, dan tulang pada subjek secara keseluruhan (Hofsteenge, 2015).

Moderen DXA menggunakan dual-energy X-ray yang bersumber pada sinar X-ray 40 KeV dan 70-100 Kev. Pada area bebas tulang (bone-free regions), didapatkan hasil pengukuran proporsi relatif dari lemak dan massa bebas lemak. Pada area tulang (bone region), didapatkan hasil pengukuran proporsi tulang dan jaringan pengikat.

Hasil pengukuran DXA rata-rata menunjukkan 45% area tubuh secara keseluruhan terdiri dari tulang (Sun, 2015).

c. Perbandingan Metode Pengukuran Komposisi Tubuh

Informasi mengenai komposisi tubuh individu sangat penting, karena komposisi tubuh digunakan sebagai indikator dalam menentukan status gizi dan digunakan sebagai parameter dalam menentukan keadaan akut ketidakseimbangan homeostasis air.

Beberapa metode digunakan untuk mengukur komposisi tubuh. Akan

(36)

commit to user

tetapi, masing-masing metode pengukuran mempunyai kelemahan dan kelebihan.

Biaya yang digunakan dalam melakukan pengukuran, baik itu alat yang digunakan ataupun jumlah personel yang dibutuhkan, paparan stress dan bahaya akibat pengukuran, seperti radiasi, dan lama waktu yang dibutuhkan selama pengukuran dari setiap metode pengukuran berbeda sehingga metode pengukuran yang digunakan tergantung dari keadaan klinis dan fisiologis subjek serta kepentingan pengukuran (Gibney, 2002). Tabel 2.3 memaparkan perbedaan beberapa metode pengukuran komposisi tubuh yang telah dijelaskan sebelumnya.

Tabel 2.4 Perbedaan Metode Pengukuran Komposisi Tubuh Metode

Pengukuran

Akurasi Biaya Radiasi Waktu Kenyamanan Subjek

Antropometri + +++ ++ +

BIA + + +++ +++

DXA +++ +/- - ++ ++

MRI ++ - ++ +

CT Scan ++ - -- ++ ++

Densitometry ++ + ++ +/-

Keterangan:

+++ : Memuaskan +/- : Reasonable ++ : Sangat baik - : Buruk

+ : Baik -- : Sangat buruk

(37)

commit to user

3. Hubungan antara Pubertas dengan Massa Lemak Tubuh

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa usia menarche menurun sebanyak 2-3 bulan per dekade selama 150 tahun sebelum perang dunia II dan kemudian stabil selama 50 tahun kemudian. Penurunan usia menarche ini kembali terjadi pada penelitian akhir-akhir ini, akibat adanya pengaruh nutrisi yang optimal. Pada tahun 1971, Frisch dan Revelle mengemukakan peran nutrisi terhadap awitan pubertas. Frisch dan Revelle menyatakan bahwa dibutuhkan berat badan sekitar 48 kg untuk timbulnya menarche, sedangkan pada penelitian selanjutnya dinyatakan bahwa dibutuhkan perbandingan lemak dan lean body mass tertentu untuk timbulnya menarche dan untuk mempertahankan kapasitas reproduksi.

Usia menarche sangat berhubungan dengan jumlah presentase lemak tubuh. Akhir-akhir ini telah diketahui bahwa terdapat dua tanda metabolik yang dapat bekerja secara sentral dan merupakan penyebab peristiwa- peristiwa dalam pubertas, yaitu IGF-I dan leptin. Kadar IGF-I dalam serum meningkat selama masa kanak-kanak dan memuncak saat pubertas, peningkatan ini terjadi bersamaan dengan DHEA-S yang menupakan penanda adrenarche. Leptin, adalah hormon yang dihasilkan di jaringan lemak (white adipose) yang mengatur kebiasaan makan dan termogenesis diperkirakan juga berperan dalam mengatur awitan pubertas. Leptin

(38)

commit to user

merupakan tanda dari rasa kenyang, bekerja menghambat neuropeptide-Y (NPY). NPY merupakan mediator pada asupan makanan dan juga mengontrol aktivitas neuronal GnRH di hipotalamus. Kadar leptin dalam serum meningkat pada anak perempuan sesaat sebelum pubertas.

Peningkatan kadar leptin akan menghambat NPY. Hal ini selanjutnya akan melepaskan GnRH dari keadaan inhibisi pada masa prapubertas.

Kadar leptin terus meningkat selama pubertas pada wanita yang sehat (Heffner dan Schust, 2008).

Peningkatan lemak tubuh pada masa anak-anak dan remaja mempengaruhi onset pubertas. Sel lemak mensekresi hormon leptin yang menyebabkan efek pada hipotalamus untuk mensekresikan Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) sehingga terjadi peningkatan sekresi Leuteinizing Hormone dan Follicle- Stimulating Hormone dari kelenjar pituitari yang selanjutnya menstimulasi enzim yang diperlukan untuk sintesis hormone androgen pada kelenjar adrenal dan menyebabkan peningkatan hormone seks (Oh, et al, 2012).

Kadar serum leptin sebesar 12,2 ng/ml berhubungan dengan persen lemak tubuh sebesar 29,7%. Penambahan 1 kg lemak tubuh akan menurunkan usia menarche sampai 13 hari. Peningkatan konsentrasi leptin sampai tingkat 12,2 ng/ml dikaitkan dengan penurunan usia menarche. Peningkatan sebesar 1 ng/ml serum leptin menurukan usia

(39)

commit to user

menarche 1 bulan. Rata-rata usia menarche adalah 11,87 ± 1,1 tahun di kelompok obesitas, 12,14 ± 0,9 tahun di kelompok overweight, dan 12,20

± 1,3 tahun di kelompok normal. Penemuan ini menyimpulkan adanya peran penting dari kenaikan lemak tubuh dan hormon leptin pada menarche (Su dan Vogiatzi, 2002).

Gambar 2.1 Hubungan antara Masa Lemak Tubuh dengan Pubertas Ovarium

(Estrogen dan Progesteron) Pubertas Remaja Putri

Menarche

Jaringan Adiposit

Hormon Leptin

Neuropeptide-Y

Hipofisis Anterior (FSH dan LH) Lemak Tubuh

Hipotalamus (GnRH)

(40)

commit to user B. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran

= Variabel Bebas

= Variabel Terikat

= Variabel Perancu

= Variabel Tidak Diteliti Lingkungan Tempat Tinggal

Status Sosial Ekonomi Asupan Nutrisi

Massa Lemak Tubuh Aktivitas Fisik

Status Gizi

Jaringan Adiposit Hormon Leptin

Estrogen dan Progesteron Pubertas

Gonadotropin

Relesing Hormone FSH dan LH

Perubahan Seks Sekunder

Peak Height Velocity

Peak Weight Velocity

Stimultan Eksternal Kondisi Kesehatan Umum

Genetik Etnis Menarche

(41)

commit to user C. Hipotesis

Terdapat hubungan antara massa lemak tubuh dengan pubertas remaja putri di Kelurahan Buran Tasikmadu Kabupaten Karanganyar.

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya kita berbicara mengenai korban penyalahguna narkotika menurut penjelasan Pasal 54 UU Narkotika ialah orang yang ” tidak sengaja menggunakan Narkotika karena

Untuk dan atas nama Pemberi Kuasa, maka Penerima Kuasa mewakili dalam hal menyampaikan dokumen untuk pembuktian kualifikasi dan dokumen penawaran kami untuk paket kegiatan

Tanah dalam peralihan hak terdapat pengecualian, hal ini pada pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2016 tentang Pajak Penghasilana Atas Penghasilan Dari Pengalihan

Jika ion Ni 2+ direaksikan dengan larutan (NH4)2CO3, akan terbentuk endapan hijau dari garam basa yang larut dalam reagen berlebih. Dari hasil percobaan didapati

Hasil deteksi tebing yang terakhir di atas masih berupa citra aras keabuan, untuk mengubahnya menjadi citra biner dapat digunakan operasi thresholding , atau dapat juga

Untuk suatu kadar air tertentu, berat volume kering maksimum secara teorotis didapat bila pori-pori tanah sudah tidak ada udaranya lagi, yaitu pada saat di

Menurut Muhammad (2005) resiko pembiayaan yang diterima bank merupakan salah satu resiko usaha bank, yang diakibatkan dari tidak dilunasinya kembali pinjaman yang

Salah satu komoditas yang selama ini menjadi andalan ekspor adalah karet dan barang karet (pertumbuhan ekspor karet dan barang karet mencapai sekitar 65% dalam 3