• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membuka Jendela Baru. edisi 01. Maret 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Membuka Jendela Baru. edisi 01. Maret 2009"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KITA perlu terbitan berkala FISIP Unair karena kita butuh rekaman tertulis tentang kegiatan-kegiatan di fakultas kita dan tentang kegiatan sivitas akademika fakultas kita. Ham - pir tiap hari ada saja kegiatan yang layak dicatat. Tentang kegiatan di fakultas kita, begitu banyak! Bahkan tidak jarang dalam satu hari ada tiga

kegiatan sekaligus. Seminar. Diskusi. Bedah Buku. Lokakarya. Cera mah. Pengajian. Pame - ran Buku. Resensi. Debat. Menerima Tamu.

Rapat Pimpinan. Dan sebagainya. Tentang kegiatan yang dilakukan sivitas akademika fakultas kita juga begitu banyak dan beragam.

Misalnya, melakukan penelitian, pengab dian kepada masyarakat, menja di trainer, menjadi motivator, dan pemakalah atau panelis semi nar.

Selama ini kita hanya meng - an dalkan ingatan (tak tertulis) untuk mengetahui kegiatan yang pernah berlang sung di fakultas kita ini. Sayang nya ingatan kita sangat terbatas dan tersim pan di masing-masing memori indivi dual, sehing ga reka man kegiatan fakultas kita tidak sem pur - na. Ini kita ketahui saat kita membutuhkan, seperti saat kita harus membuat laporan akhir tahun atau evaluasi diri program studi, betapa kita sering atau selalu kelabakan

sendiri kalau mesti membuat rekapitulasi kegiatan-kegiatan itu dalam tabel-tabel yang sudah diformat baku.

Terbitnya Jendela ini diharapkan mampu melayani kebutuhan itu. Untuk keperluan perekaman data itulah maka terbitan ini dibuat berkala bulanan. Sedang kan rubrik yang lain disisipkan sebagai gimmick, supaya tiap edisinya enak dibaca dan tidak terlalu membosankan.

Namanya Jendela? Ini berasal dari banyak pilihan. Warkat Warta. Newsletter. Buletin Fakul tas. Faktum. Langkah. Step. Jendela.

Dinamika. Jejak. Rekam. Jendela itu ya jendela [bila dibuka atau terbuka] menjadi sarana orang lain bisa melihat kita atau kita bisa melihat sesama sivitas akade mika berkiprah di luar pagar rumah kita. Atau bisa juga dibaca JeNDela, akronim dari Jejak Nampan Demo - krasi Airlangga. Yang ini memang mengacu pada kittah kita sebagai komunitas [selalu sedang] belajar (a learning community), demo - kra tis, kritis, pluralis, kreatif, ilmiah dan bertang gung jawab. Jendela ini juga diilhami oleh Warkat Warta FIS Unair yang per nah terbit akhir 1970-an dan awal 1980-an.

Mengapa baru di tahun 2009? Karena justru tahun 2009 ini terjadi perubahan yang mendasar di fakultas kita. Ada block-grant Departemen untuk pengembangan. Ada Hibah Penelitian Soetandyo. Ada Hibah Pengajaran R. Koento. Ada penghi dupan kembali Diskusi Ilmiah Rebo-an. Semuanya membuat fakultas kita lebih dinamis, dan semuanya dalam rangka memelihara kittah kita di tengah-tengah perubahan jaman.

Kita tentu berharap Jendela ini bisa berfungsi sebagaimana diharapkan. Kare na - nya, kita perlu, bahkan wajib, [bersedia]

memberi masukan data dan informasi kepada timnya Pak Yayan Sakti Suryanda ru tentang kegiatan-kegiatan yang jejaknya perlu direkam. Ada kekurangan?! Itu wajar, dan tugas kita semua untuk memperbai kinya.

(I Basis Susilo) Mengapa terbitan ini kita terbitkan? Mengapa baru sekarang? Mengapa terbitan ini berkala bulanan?

Mengapa terbitan ini kita beri nama Jendela? Di bawah ini jawabannya.

Membuka Jendela Baru Membuka Jendela Baru

(I Basis Susilo)

(2)

l PENANGGUNG JAWAB: I. Basis Susilo (Dekan FISIP)

l PIMPINAN UMUM: V. Dugis (Wakil Dekan III) l PIMPINAN REDAKSI: Yayan Sakti Suryandaru

l JURNALIS: Debrina Tedjawidjaja (070710012); Intan Fitranisa (070710369); Putri Rizky Pramadhani (070710367);

Muhammad Zaki Ath.T (070810463); Arfa Darojati (070517560) l LAY-OUT/PRODUKSi: Irfan Wahyudi, S.Sos l Alamat Redaksi: Gedung FISIP Kampus B Universitas Airlangga Jl. Dharmawangsa Dalam Surabaya

Telp. (031) 5011744, 5012442, 5017429, 5034015. Fax. (031) 5047754 ll e-mail: [email protected]

“ Selamat, semoga buletin ini betul-betul menjalankan fungsi ruang publiknya sebagai jembatan antara fakultas dengan masyarakat internal kampus maupun seki- tar kampus…”

(Ibu Rachmah Ida, Ketua Dep. Ilmu Komunikasi)

“Ide yang cukup bagus dan menarik, semoga dapat di- ting katkan secara profesional agar siap terjun ke masyarakat…”

(Pak Subyakto, Penjual Kantin Nasi Goreng)

“Moga-moga media ini benar-benar dapat konsisten, terbit secara kontinyu…”

(Teddy, Menteri Dep.SOSPOL BEM-FISIP)

“… Semoga tidak hanya sebagai sumber informasi saja, tetapi juga sebagai sarana penyalur aspirasi dan pikiran mahasiswa…”

(Sundari, Ketua HIMA Dep. Ilmu Komunikasi)

“Congratz ya! semoga buletin forum ini bisa tetep eksis di kampus kita tercinta…”

(Ignatius, HI ’08)

Merekam

Langkah Perubahan

FISIP tengah berbenah diri. Sebuah tuntutan yang merupakan keniscayaan dan harus ditempuh. Apalagi Unair telah mencanangkan kampus ini harus mampu berada di jajaran ‘World Class University”. Sebuah obsesi yang absurd?

Tentu saja tidak, jika kita memahami bagaimana cara pencapaiannya. Terutama jika ini sudah menjadi komitmen bersama.

Untuk menebarkan spirit perubahan inilah, newsletter JENDELA ini dihadirkan ke hadapan Anda. Sudah sekian tahun FISIP tidak memiliki media internal. Segala gerak langkah kampus oranye ini tidak berbekas. Jika ingin mengetahui apa saja yang telah dilakukan FISIP, tentu saja akan kesulitan. Bahkan, ketika tamu berkunjung ke FISIP tidak ada ‘oleh-oleh’ yang bisa kita berikan.

Orang luar saja perlu (ingin) tahu, apa yang tengah kita lakukan. Apalagi sebagai orang FISIP, tentunya media ini merupakan bagian diri Anda.

Merah hitamnya JENDELA ada di tangan Anda.

Jika banyak program dan aktivitas yang kita lakukan, media ini akan on terus. Kekritisan mahasiswa bisa terekam dalam JENDELA.

Kegairahan meningkatkan potensi diri dosen, juga bisa dipantau lewat lembaran ini. Bahkan, peningkatan layanan staf karyawan bisa terlihat.

Pendeknya, bagaimana tampilan wajah FISIP Unair bisa terlihat dari JENDELA. Jadi bantulah kami untuk selalu memperbaiki diri. Kabarkan kepada kami, setiap aktivitas dan ide Anda. Di setiap edisi, kritik dan saran Anda selalu kami nantikan. Wassalam.

Sang Sakti

l SURAT PEMBACA

10 Maret 2009

KULIAH UMUM CSR FREEPORT Ruang Adisukadana (pukul : 14.00-16.30) 10-12 Maret 2009

COMMUNICATION EXPO

dalam rangka HUT ke-21 Departemen Komunikasi FISIP Unair

Minggu ke-2 Maret 2009

DISKUSI EKONOMI DAN DISKUSI LORONG BEM FISIP Unair

Minggu ke-3 Maret 2009 DEBAT CALON LEGISLATIF BEM FISIP Unair

l AGENDA FISIP

(3)

U

sia pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) tinggal menghitung hari. Selama bergandengan tangan lima tahun (2004- 2009), tercatat berbagai kebijakan telah di- ambil. Dari langkah tersebut, tentu ada banyak hal yang dapat dicermati. Kritik dan evaluasi terhadap kinerja pemerintahan SBY-JK inilah yang dengan cerdas dikupas dalam Seminar Evaluasi Kebijakan Ekonomi Politik Lima Tahun Pemerintahan SBY-JK.

Seminar yang digelar oleh Badan Ek- sekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga pada 17 Februari 2009 ini meng- hadirkan empat pembicara, yaitu Dr. Sri Adiningsih (staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada), Dr. Imam Sugema (staf peneliti INDEF), Airlangga Pribadi, M.Si (staf pengajar Ilmu Politik FISIP Uni- versitas Airlangga), dan Didik Prasetyono, SE. Msi (mantan anggota KPUD Jatim 2003-2008) dengan moderator Robito Alam Islami (mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2003). Seminar berlangsung di Ruang Adi Sukadana Gedung A FISIP Unair dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari kaum akademisi, aktivis organisasi mahasiswa, hingga wartawan.

Dalam seminar tersebut, Sri Adiningsih mengritisi kondisi ekonomi Indonesia se- lama lima tahun terakhir. “Kita harus mampu melihat dengan jernih, apakah ada perubahan dalam pemerintahan SBY-JK.

Sebab, negara-negara yang lain bisa. Saya tidak percaya Indonesia ditakdirkan untuk menjadi negara miskin,” ungkap Sri me- ngawali sesi seminar. Sepanjang tahun 2004-2009, stabilitas ekonomi makro In- donesia rapuh. Ini dapat dilihat dari

goncangan nilai tukar (kurs) rupiah ter- hadap dolar AS (Amerika Serikat). Padahal, Indonesia tidak sedang mengalami krisis meskipun ledakan krisis global di tahun 2008 membuat Indonesia rentan terkena imbasnya.

Ekonom UGM tersebut menuturkan, pertumbuhan ekonomi naik lamban dan kualitasnya cenderung turun. Pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) mengalami pergerakan yang tidak konsisten alias naik- turun. “Dibandingkan Vietnam, Indonesia masih kalah,” jelasnya. Sektor industri pun mengalami penurunan sementara sektor informal justru meningkat. Puncaknya pada tahun 2005, angka kemiskinan meningkat dari 15,9 persen menjadi 17,8 persen. Be- gitu pula dengan angka pengangguran.yang mengalami nasib serupa. Tak pelak, daya saing internasional dan kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadi sangat rendah. Human Development Index tahun 2008 menyatakan Indonesia berada pada peringkat 109, turun dua peringkat dari tahun 2005. “Kita berada di bawah Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina,”

kata Sri Adiningsih, prihatin.

Menilik ekonomi Indonesia yang tidak mengalami kemajuan dari tahun ke tahun, ekonom UGM yang meraih gelar doctor dari University of Illinois ini menegaskan per- lunya perubahan strategi dalam menge lola ekonomi. Perubahan tersebut anta ra lain dengan mengembangkan ekonomi yang mandiri namun tidak antiasing, memban- gun ekonomi domestik yang kuat, mem- bangun manusia Indonesia yang andal, meningkatkan daya saing internasional, mengembangkan kewirausa haan, swasem- bada pangan dan komoditas primer strate-

gis, serta mengembangkan sistem jaminan sosial nasional yang permanen.

Pembicara kedua, Dr. Imam Sugema, mengkritisi kinerja duet SBY-JK dari sisi sosial. Menurut oposan ini pemerintahan SBY-JK terjangkit penyakit 5I, yaitu Instable, Impotent, Irresponsible, Inconsistent, dan In- lander.

Instable, jelas Imam, mengacu pada ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing serta inflasi yang tidak ter- pelihara. Cadangan devisa merosot tajam, mencapai USD 10 milyar dan merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Konsekuensinya, indeks kesengsaraan (mis- ery index) masyarakat Indonesia kian meningkat. Bahkan sudah menembus angka 19,4 persen. “Selama lima tahun ter- akhir ini, masyarakat kita cenderung se- makin sengsara,” ungkapnya.

Direktur International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE) ini juga menilai, pemerintahan SBY-JK tidak efisien dalam mencapai tujuannya. Program-pro- gram tidak didesain dengan baik. Sehingga, meskipun anggaran kemiskinan meningkat hingga tujuh puluh persen, angka kemiski- nan tidak mengalami perubahan yang sig- nifikan. “Itu artinya, pemerintah tidak mempunyai program yang efektif.”lanjut Imam, menjelaskan makna penyakit yang kedua, Impotent.

Kelangkaan berbagai komoditas di tahun 2008 seperti elpiji, minyak tanah, bensin, kedelai, dan pupuk, menurut Imam, merupakan dampak kelalaian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat. (Irrespon- sible). Pemenuhan janji-janji kampanye SBY- JK sangat jauh dari harapan.

Inconsistent, lanjutnya, merujuk pada perbedaan antara apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemerintah. Sementara In- lander, yang merupakan kata serapan dari bahasa Belanda, mengacu pada mentalitas pemerintah yang senantiasa tunduk pada kemauan asing. Tahun 2004, utang luar negeri warga Indonesia per kepala ‘hanya’

9,5 juta rupiah. Sekarang, beban tersebut naik menjadi 11,88 juta. “Makanya, bayi In- donesia nangisnya paling kenceng. Soalnya, baru lahir sudah dibebani utang segitu banyak.” ujar Imam disambut tawa peserta.

(put)

Seminar Evaluasi Kebijakan Ekonomi Politik Lima Tahun Pemerintahan SBY-JK

Pemerintahan SBY-JK Terjangkit 5 i

Para pembicara dan moderator Seminar Evaluasi Kebijakan Ekonomi Politik 5 tahun Sby-JK

(4)

S

aat ini, bukan hanya ekonomi In- donesia saja yang tengah terseok- seok dihantam badai krisis. Namun, yang juga terluka cukup parah adalah ideologi masyarakat. Arus gagasan dari generasi muda yang seharusnya mampu menjadi penggerak kebangkitan bangsa dan demokrasi seper� macet, mandek di tengah jalan. Berangkat dari pemikiran tersebut, FISIP Universitas Airlangga menggelar Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebang saan dan Demokrasi, dimulai Mei 2008. Se�ap bulan, Kuliah Tjokroami - noto menyajikan satu topik bahasan yang dikupas cerdas oleh para pem- bicara. Saat dibuka oleh Amien Rais bulan Mei lalu, misalnya, tema yang di- angkat adalah kedaulatan bangsa, mengambil momen kebangkitan na- sional.

Menurut Joko Susanto, S.I.P, M.Sc.,

Ketua Dewan Pemangku Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi, kegiatan ini diselenggarakan dengan satu tujuan posi�f: menjadi periuk terbuka untuk mema tangkan gagasan-gagasan tentang kebangsaan dan demokrasi, serta mewadahi berba- gai spektrum pemikiran. Topik-topik yang dibahas diharapkan mampu mem- buka cakrawala pandang masyarakat mengenai pen-�ngnya menjawab zaman, membangun tradisi, menuju ke- bangkitan kembali. Ke�ga ‘impian’ itulah yang menjadi tema besar sekaligus lan- dasan seluruh rangkaian perkuliahan Tjokroaminoto. Nama Tjokroaminoto sendiri, lanjut Joko, diambil karena tokoh nasional tersebut dianggap mampu mengge-rakkan ide mengenai ke- bangsaan de-ngan basis kota Surabaya.

Tahun ini, kita �dak akan kehilangan

jejak kuliah Tjokroaminoto. Sepanjang tahun 2009, akan ada enam pertemuan yang digelar. Kalau sebelumnya agenda Kuliah Tjokroaminoto telah tersusun rapi, �dak demikian tahun ini. “Kalau sudah di-se�ng duluan, isu yang diba- has menjadi �dak up to date lagi,”

terang dosen Hubungan Internasional FISIP Unair tersebut. Oleh sebab itu, topik-topik yang disajikan akan dibuat lebih fleksibel. Sedapat mungkin dis- esuaikan dengan isu-isu yang tengah beredar di masyarakat. Prak�s, agenda Kuliah Tjokroaminoto belum dapat dipublikasikan karena hingga saat ini masih dalam tahap perencanaan.

Karena minat masyarakat yang be- gitu �nggi, Kuliah Tjokroaminoto akan semakin berkembang. Tahun ini, ren- cananya, Kuliah Tjokroaminoto akan dis- elenggarakan dengan versi keliling.

Selain digelar di kampus Unair, �m penyelenggara juga tengah bersiap-siap menjaring audience dari kalangan pela- jar SMA di Surabaya. Bahkan, �m penye- lenggara berniat untuk merang kul kelompok-kelompok diskusi mahasiswa yang ada di FISIP Unair. “Sebagai pem- anasan sebelum masuk ke forum utama,” jelasnya.

Tahun ini, �m penyelenggara juga berencana untuk mempublikasikan paper presentasi agar dapat dinikma�

oleh kalangan yang lebih luas. Oleh sebab itu, mahasiswa diharapkan lebih ak�f berpar�sipasi. Tidak hanya sebagai peserta, tapi juga �m penyelenggara dan penulis. “Kami ingin mahasiswa �dak hanya mampu menjadi EO (Event Organ- izer, Red.), tapi juga penulis,” kata Joko.

Pembicara-pembicara pada Kuliah Tjokroaminoto yang kredibel dan kom- peten terbuk� mampu menyedot animo masyarakat. Tahun lalu, saat meng- hadirkan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Strategi Kebudayaan Indonesia Pasca 80 Tahun Sumpah Pemuda, sekitar empat ratus orang memada� Audito- rium Gedung C FISIP Unair. Bahkan,

Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi

Matangkan Gagasan

Kebangsaan dan Demokrasi

Sri Sultan Hamengkubuwono X saat jadi pembicara kuliah Tjokroaminoto

(5)

ke�ka Amien Rais mengisi kuliah, pe- serta menembus angka enam ratus!

Tahun ini, siapa kira-kira ‘tamu besar’

yang bakal diundang? Tim penyeleng- gara belum ingin angkat bicara. Namun, nama Kwik Kian Gie dan Faisal Basri di- gadang-gadang bakal hadir mengisi podium pembicara. “Kami masih konfir- masi.”jelasnya.

Dansa atau Poco-poco?

Bulan Juli lalu, menghadirkan Antun Mardiyanta dan Dr. Pra�kno (staf ahli Mendagri yang juga pakar otonomi daerah), Kuliah Tjokroaminoto memilih tema Dansa atau Poco-poco? Koreografi Kebangsaan di Era Desentralisasi. Dalam kuliah ini, Antun Mardiyanta mengung - kapkan sistem desentralisasi atau otonomi daerah yang tengah dijalankan di Indonesia masih memiliki banyak kekurangan. Sehingga, perlu dilakukan berbagai upaya perbaikan. Di antaranya dengan membangun kepercayaan (trust), kerjasama (rela�onship), dan pe- merintah harus dapat menjalankan tugas sebagaimana mes�nya.

Dalam Indo atau Indon? Ja� Diri Keindonesiaan di Era Globalisasi, Kuliah Tjokroaminoto membahas tentang iden-

�tas bangsa Indonesia. Dr. Yudi La�f dari Universitas Paramadina Indonesia memaparkan, Indo adalah sebutan bagi peranakan Barat (Eropa atau Amerika).

Sedangkan Indon, konon adalah sebutan warga Malaysia bagi orang Indonesia yang mengandung makna meren- dahkan. Yudi menegaskan, kita adalah bangsa Indonesia. Bukan Indo maupun Indon. Memang, iden�tas nasional In- donesia hingga saat ini masih terom- bang-ambing. Kita se-ring kali terlena dengan unsur-unsur asing yang dita- mpilkan media sementara di sisi lain ter- jadi penurunan martabat, seper�

kemiskinan dan ke�dak mampuan ber-

saing di kancah global.

Oleh sebab itu, kita harus menjadi bangsa Indonesia seja�, mengawinkan visi global yang kosmopolitan dengan kekayaan lokal, dan menambahkan unsur-unsur yang lebih produk�f. “Itulah yang disebut cross-culture civiliza�on,”

ungkapnya. Salah satu kekuatan yang mampu menganyam nasionalisme bangsa Indonesia, lanjut Yudi, adalah laut. Sayang, pertahanan negara saat ini masih berorientasi pada daratan.

Akibatnya, banyak kekayaan laut Indonesia yang dirampas oleh asing.

Yudi juga memaparkan, kekuatan nasional bangsa Indonesia selain laut adalah Bahasa Indonesia. Jadi, kita harus bangga terhadap bahasa yang kita miliki.

Bulan Oktober, Kuliah Tjokro ami no - to menghadirkan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai pembicara tunggal dalam Strategi Kebudayaan Indonesia Pasca 80 Tahun Sumpah Pemuda. Dalam kuliah ini, Sultan menjelaskan perbe - daan adalah rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Sayang, selama ini kita hanya diberitahu bahwa kita ini majemuk (bhinneka) yang tunggal (ika). Padahal, kita harus belajar mengenai keikaan yang berbhineka. Bangsa kita mengakui Sumpah Pemuda, bukan Sumpah Palapa. Jika Sumpah Palapa berambisi pada penaklukan etnis lain, Sumpah Pemuda merupakan suatu bentuk kerelaan untuk bersatu.

Sultan juga mengungkapkan, selama ini ada beberapa kesalahan dalam mengelola proses pembangsaan. Kita selalu berorientasi pada pertum buhan ekonomi untuk kesejah teraan masya - rakat. Hal yang benar, menurut Sultan, mem bangun demokrasi untuk kesejahteraan. Menggunakan pende - katan ekonomi dalam memba ngun bangsa sudah bukan hal yang tepat lagi.

Bangsa Indonesia perlu strategi baru

untuk proses tumbuh kembang bangsa.

Jika perlu, UUD yang sekarang sudah diamandemen, sekali lagi diaman de - men.

Pada Bulan November, giliran Yenny Zannuba Wahid atau lebih dikenal dengan nama Yenny Wahid dan Rachmah Ida, Ph.D (dosen Departemen Komunikasi Unair), berbicara mengenai bentuk baru patrio�sme dan kepahla - wanan di masa modern. Kuliah kali ini mengambil tema Korporasi Patrio�k atau Patriot Kor po rasi? Kepahlawanan di Era Corporate Social Responsibility, mempertanyakan apakah CSR meru- pakan bentuk kepahlawanan baru di masa sekarang.

Menurut Yenny, pahlawan adalah mereka yang rela mendahulukan kepen -

�ngan orang lain daripada kepen�ngan diri sendiri. Seorang pahlawan, sekali - pun �dak ditetapkan secara formal, adalah orang yang mampu membang - kitkan kesadaran bagi orang lain. Kurang tepat bila pahlawan hanya disandangkan kepada mereka yang gugur di medan perang. Sebab, semua orang berpeluang menjadi pahlawan.

Saat ini, Indonesia tengah dilanda kekeringan rohani dan kekeringan ekonomi. Sehingga, figur pahlawan menjadi langka. Oleh sebab itu, Yenny menyarankan kepada pemerintah agar mampu memberi rasa aman kepada rakyat dan menjamin kesejahteraan rakyat. “Itu ar�nya negara memenuhi fungsi-fungsi heroiknya,”ujar Yenny.

Yenny mengatakan, CSR �dak bisa disebut sebagai bentuk kepahlawanan atau patrio�sme. Sebab, CSR �dak dilandasi oleh kerelaan karena telah diundang-undangkan. Apalagi, CSR juga seringkali digunakan perusahaan sebagai usaha untuk mendongkrak citra.

Tidak ada bedanya dengan promosi.

(put)

Suasana interaktif Kuliah Tjokroaminoto saat menghadirkan pembicara Yenny Zannuba Wahid

(6)

S

etelah terbentuk di tahun kepengu- rusan yang baru, Badan Ekseku�f Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poli�k (FISIP) Universitas Airlangga nampaknya segera membuk-

�kan eksistensi serta kon sis tensi mereka.

Hal tersebut diwujudkan dengan dise- lenggarakannya Rapat Kerja (Raker) BEM FISIP pada 26-28 Januari 2009 di vila Surya, Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Selain dihadiri anggota BEM FISIP, acara yang telah menjadi agenda tahu- nan ini juga dihadiri oleh pihak dekanat fakultas, rekan-rekan Badan Legisla�f Mahasiswa (BLM), perwakilan dari Sie Kerohanian Islam (SKI), beberapa Kahima, serta sejumlah alumni BEM..

Dibuka oleh Drs. I. Basis Susilo, MA se- laku Dekan Fisip, Raker BEM kali ini membahas sejumlah agenda pen�ng. Di- antaranya penetapan tata ter�b Raker, presentasi program kerja (proker) mas- ing-masing departemen, pengesahan proker, dan tak ke�nggalan sharing ter- buka dengan perangkat-perangkat BEM tahun lalu. “Tata ter�b serta proker �ap departemen sendiri telah disusun ter- lebih dulu pada saat pra-raker yang jad- wal dan tempatnya diagendakan masing-masing departemen,” ung kap Aswin Bahar Muhammad, Presiden BEM Fisip periode 2009.

Yang membedakan Raker kali ini den- gan tahun lalu ialah disisipkannya agenda lokakarya antara BEM dengan pihak fakultas. Loka karya ini berisi pela�- han pembuatan program-program or- ganisasi mahasiswa terkait dengan

sistema�ka penyusunan proker BEM se- lama setahun ke depan.

“Dengan pela�han semacam ini di- harapkan tercipta suatu batasan sistem- a�s mengenai proker BEM. Batasan ini merupakan tolak ukur relevan-�daknya program-program yang akan dija lan kan.

Apakah sudah sesuai dengan visi dan misi fakultas,” kata Aswin. Selain batasan sistemik, alokasi anggaran pun ikut dibicarakan. Program-program yang terseleksi dan layak untuk direalisasikan diper�mbangkan untuk memperoleh anggaran.

“ Harapan saya, lokakarya ini bisa jadi acuan kita dalam menjalankan proker, dan tentunya menjadi sarana sosialisasi program- program BEM dengan pihak fakultas atau bahkan lingkungan kampus Unair.” tutur Aswin. Ia menambahkan,

“BEM sekarang sifatnya adalah koordi- na�f bukan instruk�f, berbeda dengan BEM beberapa tahun lalu yang instruk�f yang se�ap prokernya terdapat campur tangan penuh pihak fakultas.”

Masih menurut Aswin, penyeleng- garaan lokakarya ini amat pen�ng untuk mengkoordinasikan �ap-�ap program BEM agar �dak terjadi mis-komunikasi dengan fakultas. “Program- program BEM selama setahun kedepan telah diru-

muskan, setelah ini �nggal bagaimana BEM dapat menjaga konsistensi pro- gram-program tersebut sehingga ber- jalan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan bersama,” ungkap Aswin.

Sebagai catatan, pada tahun-tahun sebelumnya agenda loka kar ya selalu ter- pisah dari Raker . Bahkan, lokakarya sempat di�adakan pada beberapa tahun silam. Hal itulah yang sering membuat program-program BEM tersendat diten- gah jalan. “Sebab, �dak ada ��k temu antara apa yang dinginkan BEM dengan apa yang akan dihendaki fakultas,” jelas Aswin.

Raker yang berakhir pada tanggal 4 Februari tersebut ditutup dengan pem- bacaan dan pengesahan program-pro- gram setahun ke depan. Dari beberapa program yang dibacakan sudah satu pro- gram terjalankan. Program yang diambil dari proker departemen bidang Sos-Pol tersebut bertajuk “Evaluasi Kebijakan Ekonomi Poli�k Lima Tahun Pemerinta- han SBY-JK”. Seminar yang diadakan pada 17 Februari di ruang Adi Sukadana tersebut dihadiri oleh sejumlah nara- sumber pen�ng. Seper� ekonom UGM Dr. Sri Adiningsih dan Didik Prasetyo, SE, M.Si, mantan anggota KPUD Ja�m dan calon anggota DPD Ja�m. (zaq)

Lokakarya di Raker BEM

Satukan Visi-Misi BEM dan Fakultas

(7)

P

emilu sudah tampak di depan mata. FISIP pun �dak hanya ber- pangku tangan menyambut pesta demokrasi tahun ini. Salah satunya de- ngan melakukan forum group disscussion (FGD) yang diiku� oleh para dosen dari berbagai departemen. Para dosen terse- but berkumpul bersama untuk membi- carakan usulan-usulan yang dapat disampakan guna membangun pemerin- tahan yang lebih efisien dan efek�f.

FGD ini dilakukan dalam rangka pre- sentasi rektor UNAIR yang akan dilaku- kan di salah satu stasiun televisi swasta mengenai tema tersebut. ”Sesuai de- ngan temanya, maka rektor minta dosen- dosen FISIP untuk membuat poin-poin usulan yang nan�nya akan disampaikan oleh rektor,” ujar Joko Susanto, dosen Departemen Hubungan Internasional

Dari kegiatan yang diadakan seba- nyak dua kali, yaitu pada tanggal 16 dan 19 Februari ini lahir sejumlah pemikiran.

Joko mengatakan, di FGD pertama, buah pikir yang dihasilkan sangat beragam dan belum terkonsentrasi pada hal-hal ter- tentu. Begitu banyak masukan yang di- berikan oleh para dosen, seper� Ramlan Surbak�, Daniel Sparingga, Yayan Sak�, Priatmoko, Kacung Maridjan, Hariadi, Gi- tadi Topan, Wisnu Pramutanto, Budi Se-

�awan, Suko Widodo, Airlangga Pribadi dan yang lainnya.

Hasil dari FGD I secara garis besar

mengkri�k kinerja pemerintahan yang dianggap belum menjalankan fungsi nor- ma�f dengan baik karena masih terjebak dalam ego sectoral. Selain itu, pemerin- tah diharapkan mampu memperbaiki pola hubungan antara pemerintah serta dengan para pemilihnya.

Oleh karena FGD I masih belum sem- purna, maka diadakan FGD II di ruang Adi Sukadana. Pada pertemuan ini, para dosen akhirnya menyimpulkan akar per- masalahan dari ke�dakefek�fan dan keefisienan pemerintah dari sudut pan- dang kelembagaan adalah karena ke�- dakmampuan sistem ketatanegaraan dalam menjembatani realitas poli�k In- donesia yang mul�partai dengan sistem presidensiil yang menjadi amanah kons -

�tusi.

Indonesia pasca reformasi sudah me- mulai upaya untuk mengatasi permasala- han tersebut. Menjalankan sistem mul�partai dengan tetap mempertahan- kan sistem presidensiil sesuai amanah kons�tusi. Selain itu, adanya amande- men kons�tusi yang menambahkan pe- milihan langsung dalam pemilihan presiden juga semakin menguatkan amanah kons�tusi yang menghendaki suatu pemerintahan yang kuat.

Sayangnya, desain kenegaraan yang lebih responsif terhadap kemauan poli�k popular ini �dak lantas menjamin adanya ruang yang cukup bagi penguatan kapa-

sitas poli�k pemerintahan untuk mewu- judkan kemauan poli�k popular yang re- presenta�f melalui pembuatan kebijakan-kebijakan serta hasil yang kon- kret secara prak�s.

”Jadi, solusi yang bisa dipakai untuk mengatasi ke�dakefek�fan dan ke�dake- fisienan pemerintahan yaitu dengan me- nerapkan sistem poli�k berbasis dua koalisi kuat. Tujuannya adalah untuk pen- guatan sistem presidensiil,” jelas Joko.

Hal tersebut dapat dilakukan baik secara strategis maupun tak�s. Pilihan strategis yang merupakan pilihan-pilihan jangka panjang melipu� revisi UU Pemilihan Presiden serta revisi UU Pemilu yang mengarah pada penggunaan sistem dis - trik. ”Kalau secara tak�s berar� melipu�

pilihan-pilihan jangka pendek yang dida- sarkan pada kondisi realitas saat ini. Ca- ranya dengan mengupayakan kontrak poli�k yang kuat dan stabil diantara koa- lisi partai poli�k yang memiliki wakil di kabinet,” lanjut Joko.

Selain upaya-upaya tersebut, adanya reformasi pada lembaga legisla�f dan partai poli�k, reformasi pada sistem bi- rokrasi serta reformasi yudika�f juga di- perlukan untuk menyeimbangkan keingi nan dalam membangun tata pe- merintahan yang efek�f dan efesien de- ngan tujuan-tujuan besar demokrasi.

(deb/int)

Suasana FGD di ruang Adi Sukadana

Diskusi Dosen FISIP Jelang Pemilu

Rumuskan Usulan Bangun Pemerintahan

yang Efisien dan Efektif

(8)

S

etelah tahun lalu Fakultas Kedok- teran Gigi (FKG), Fakultas Ekonomi (FE), dan Fakultas Farmasi (FF) mendapat Program Hibah

Kompetisi Institusi (PHKI), tahun ini giliran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poli- tik (FISIP) yang disertakan oleh Universitas Airlangga untuk memperoleh dana dari program hibah terse- but.

Program hibah yang diselenggarakan oleh Di- rektorat Jenderal Pen- didikan Tinggi (DIKTI) ini bertujuan untuk mem- berikan dana kepada semua universitas baik negeri

maupun swasta agar mampu meningkatkan kualitas pembelajarannya. Juga, agar dapat dapat membangun jejaring agar lulusan universitas nantinya dengan mudah terserap oleh lapangan pekerjaan.

Sebenarnya, Program Hibah Kompetisi Institusi tahun ini lebih menekankan pada penggunaan dana oleh universitas untuk mengatasi masalah tropical disease (penyakit tropis). Hal ini tentu saja lebih berkaitan dengan permasalahan-permasala- han di bidang kedokteran. Tapi, pihak

DIKTI tetap membuka pelu- ang bagi jurusan-jurusan sosial yang masih bisa dikaitkan dengan tema per- masalahan tersebut untuk mendapatkan dana dari PHKI. Akhirnya, FISIP menyertakan tiga departe- men yang dinilai masih bisa berkaitan dengan tema tropi- cal disease. Ketiga departe- men itu meliputi Departemen Ilmu Komunikasi, Departe- men Antropologi, dan De- partemen Sosiologi.

Untuk memperoleh dana PHKI dari DIKTI ini ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Pada tahap awal, setiap universitas dapat mengajukan proposal yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh pihak DIKTI.

”Kalau proposal diterima oleh pihak DIKTI, universitas akan dapat dana sebesar 500 juta rupiah pertahun untuk tiap departe- men yang diikutsertakan dalam PHKI.

Dana hibah PHKI sendiri berlaku untuk masa 3 tahun,” terang Liestianingsih, dosen Departemen Komunikasi.

Bila proposal sudah benar-benar diter- ima dan disetujui oleh pihak DIKTI, maka pihak BPP (Badan Perencanaan Pengem- bangan) yang anggotanya juga terdiri dari perwakilan DIKTI, akan mengadakan pen- injauan ke fakultas yang diikutsertakan oleh universitas dalam PHKI. “Jadi, seandainya proposal sudah disetujui, nanti akan ada pihak BPP yang datang langsung dari Jakarta untuk meninjau kondisi di tiga de- partemen yang diajukan FISIP. Tujuannya untuk melihat layak tidaknya mendapat PHKI,” ujar Tri Joko, dosen di Departemen Antropologi.

Sesuai dengan tujuannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dana yang didapat dari PHKI DIKTI bisa digu- nakan untuk pengembangan proses kegiatan belajar mengajar (KBM), pengem- bangan laboratorium, dan penambahan sarana prasarana. Misalnya, di departemen Ilmu Komunikasi, dana PHKI rencananya akan digunakan untuk meningkatkan kual- itas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

Salah satunya dengan mengikutsertakan para dosen pada program pelatihan dan kur- sus-kursus. (int)

Giliran FISIP Dapat PHKI

S

etiap kegiatan membutuhkan pe ren - canaan yang matang agar berja lan lan- car. Untuk itulah, setiap fakultas di Universitas Airlangga membuat Rencana Kegiatan Anggaran Tahunan (RKAT), tak terkecuali FISIP. RKAT merupakan pedo- man untuk pelaksanaan program-program fakultas yang dibuat tiap tahun dari bulan Januari hingga Desember. Pembuatan RKAT tahun depan dilakukan pada tahun yang sedang berjalan.

Menurut Djoko Adi Prasetyo selaku Wakil Dekan II FISIP, RKAT yang dibuat oleh fakultas akan diserahkan kepada rek- tor untuk disetujui. “Kalau fakultas hendak melaksanakan kegiatan yang belum diren- canakan sebelumnya, maka akan dilakukan revisi RKAT sekitar bulan Juli, Agustus, atau September,” ujarnya.

Revisi perlu dilakukan sebab kegiatan yang tidak tercantum dalam RKAT tidak bisa memperoleh dana dari fakultas.”Jadi, seharusnya ada rapat dengan semua de- partemen termasuk BEM dan HIMA su- paya semua kegiatan bisa terangkum dan tidak perlu ada revisi berkali-kali,” tambah Djoko Adi.

RKAT sendiri terdiri atas tiga pos besar, operasional, manajemen, dan pengembangan. Pos operasional meru- pakan rencana anggaran untuk kegiatan- kegiatan rutin dalam pelaksanaan kegiatan fakultas. Hal ini meliputi berbagai macam honorarium tenaga pengajar, alat tulis kan- tor, bantuan kegiatan kemahasiswaan, dan lain-lain. Pos kedua pos manajemen yang menunjang proses berjalannya fakultas meliputi tunjangan teknis di berbagai bidang, belanja gaji pokok non-PNS, uang lembur, dan lain-lain. Pos ope ra sional dan manajemen diturunkan secara rutin tiap bulan oleh universitas.

Berbeda dari kedua pos sebelumnya, pos pengembangan memuat program-pro- gram untuk mengembangkan supaya fakul- tas lebih maju. “Pos pengembangan punya fungsi yang cukup bagus karena kurang lebih 85 persen dikelola oleh masing-mas- ing departemen,” ucap Djoko Adi. Pos pengembangan ini dilakukan melalui proses TUP (Tambahan Uang Pembayaran) dan dibawahi langsung oleh Wadek III.

Namun, untuk segi mekanismenya di-han- dle Wadek II.

Sesuai dengan tujuannya, maka pos pengembangan digunakan untuk me ning - katkan kualitas mahasiswa, dosen, dan karyawan. Bagi mahasiswa, misalnya, terse- dia dana bila ingin ikut serta dalam LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah). Untuk dosen, disediakan dana bantuan sekolah S2 dan S3, termasuk dana penelitian.

Sedangkan bagi karyawan, dana yang ada digunakan untuk mengikutsertakan para karyawan dalam berbagai pelatihan dan kursus.Beragam pelatihan dan kursus tersebut bertujuan untuk mening katkan profesionalisme baik di bidang komputer, akademik, keuangan, maupun sarana dan prasarana. “Hal ini merupakan proses pembenahan menuju model komputerisasi dalam era BHMN sekaligus untuk efisiensi tenaga kerja,” jelas Djoko Adi.

Adanya rincian yang jelas dalam tiap pos diharapkan dapat memperlancar tiap- tiap kegiatan yang akan dilakukan. Sebab, kegiatan tersebut memiliki anggaran dana yang jelas serta tercantum dalam RKAT.

Selain itu, dana yang ada dapat tersalurkan dengan tepat karena adanya pembagian pos-pos yang jelas. Dengan demikian, proses kegiatan di FISIP dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

(int/deb)

RKAT Jelas, Kegiatan Lancar

Liestianingsih

(9)

M

engukur angka kredibilitas aka de - mik mahasiswa �dak cukup hanya melalui kegiatan kuliah di dalam kelas saja, tetapi juga harus memperhi- tungkan aspek-aspek ilmiah yang mereka lakukan di lingkungan. Demikian dikatakan oleh Dr. Drs. Musta’in, M.Si, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poli�k (FISIP) Universitas Airlangga. Menurutnya, hal it- ulah yang mendasari pihak kampus FISIP Unair bersungguh-sungguh dalam pro- gram yang bertajuk “Hibah Kompe�si Ma- hasiswa”.

Program yang baru berjalan satu tahun ini diadakan pertama kali pada Oktober 2008. Pihak fakultas menyediakan anggaran sekitar Rp 6 juta yang diambilkan dari dana IKOMA (Ikatan Orangtua Maha- siswa) untuk 15 sampai 20 judul karya tulis.

Namun sangat disayangkan, dari sejumlah dana yang sudah disiapkan, hanya sekitar tujuh judul yang menda�ar dalam kom- pe�si ini. Dari tujuh proposal tersebut hanya 2 judul yang lolos seleksi dan layak mendapatkan hibah dari pihak kampus.

“Kurangnya minat mahasiswa kampus ini akan hal-hal yang berbau ilmiah menyebabkan program kita tahun lalu ku-

rang sukses” ujar Musta’in.

Seja�nya Musta’in berharap, karya- karya yang terkumpul mampu dibentuk suatu jurnal khusus yang nan�nya akan di- ikutsertakan dalam ajang seper� LKTM (Lomba Karya Tulis Tingkat Mahasiswa).

Jika �dak dilombakan kembali rencananya ada yang akan dimasukkan website kam- pus, dokumentasi perpustakaan unair, hingga diter bit kan.

“Paling �dak FISIP dapat muncul ke permukaan dalam hal-hal karya ilmiah bidang sosial. Jangan kalah dengan Farmasi dan Sains-Tek yang selalu produk�f dengan karya imiahnya di bidang ilmu pas�.” tegas- nya. Faktanya hingga saat ini hanya tercatat satu judul kaya ilmiah dari FISIP yang di- ikutsertakan dalam LKTM �ngkat Universi- tas sejak tahun 2005. Hal yang sungguh disayangkan oleh pihak fakultas.

Untuk penyelenggaraan tahun ini fakultas belum dapat menentukan kapan program Hibah Kompe�si Mahasiswa akan berjalan kembali. Hal ini dikarenakan belum terencananya anggaran untuk pro- gram ini. Pihak fakultas masih menunggu persetujuan dari pihak rektorat mengenai alokasi dana. Fakultas sendiri kini masih

fokus membenahi Student Centre(SC).

Rencananya, SC akan diberi fasilitas kom- puter, printer, serta AC. Pembenahan SC yang dilakukan mulai Maret ini bertujuan agar SC dapat menjadi pusat ak�vitas ilmiah mahasiswa. “Harapan kami agar SC

�dak hanya jadi pusat kegiatan non- akademik saja, tetapi juga mampu menjadi wadah mahasiswa mengadakan kegiatan ilmiah.” Ujar Musta’in.

Sambil menunggu kepas�an dana, fakultas berharap munculnya proyek- proyek ilmiah baru di kampus ini. Hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan menga- jukan proposal karya ilmiah kepada dosen pembimbing �ngkat jurusan untuk kemu- dian disahkan dan dipresentasikan kepada dosen-dosen terkait di jurusan tersebut.

Jika karya tersebut layak untuk maju ke

�ngkat fakultas, maka proposal selanjut- nya dapat diajukan kepada Kabag Akademik Fisip untuk mendapatkan perse- tujuan. Proposal ini kemudian akan dipresentasikan kepada dosen-dosen terkait �ngkat dekanat. Apabila disetujui untuk direalisasikan maka pihak kampus akan mendanai ke �ngkat Universitas bahkan Nasional. (zaq)

Hibah Kompetisi Mahasiswa Minim Peminat

D

osen sebagai salah satu penentu kual- itas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sudah selayaknya memperoleh per- hatian lebih dari pihak universitas. Sadar akan hal itu, tahun ini pihak Universitas Airlangga memberikan hibah yang di- alokasikan bagi para dosen FISIP. Hibah tersebut yakni hibah Soetandyo dan hibah R. Koento. “Tujuan pemberian hibah ini adalah memberikan dana kepada para dosen untuk melakukan aktivitas yang positif. Salah satunya mengadakan penelit- ian,” ucap Djoko Adi Prasetyo, Wakil Dekan II FISIP.

Hibah yang diberi nama sesuai dengan nama dua tokoh pendiri FISIP itu memang baru diadakan tahun ini dan berlaku untuk dosen-dosen FISIP. Hibah Soetandyo dan hibah R.Koento memiliki tujuan yang berbeda. Hibah Soetandyo bertujuan untuk memberikan dana kepada para dosen untuk mengadakan penelitian selama jangka waktu satu tahun. “Jika ada dosen yang ingin mengadakan penelitian, dosen terse- but harus membuat proposal yang jelas mengenai penelitian yang akan dilakukan.

Latar belakang, tinjuan pustaka, hipotesis, pokoknya semuanya harus jelas,” terang Djoko Adi. Hasil penelitian yang telah di- lakukan rencananya juga akan dipub- likasikan, setidaknya untuk kalangan FISIP sendiri.

Berbeda dengan hibah Soetandyo, hibah R.Koento berfokus pada pemberian dana kepada para dosen dalam membuat diktat dan handout untuk tiap mata kuliah.

“Diktat itu nantinya menjadi koleksi de- partemen sekaligus bisa jadi pegangan bagi mahasiswa saat mengikuti perkuliahan,”

ujar Karnaji, Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan. Sama seperti prosedur hibah Soetandyo, dosen juga perlu mem- buat proposal pengajuan dana untuk mem- peroleh dana hibah R.Koento yang nantinya digunakan untuk membuat diktat atau handout.

Setelah proposal diterima, dosen pun akan memperoleh dana hibah berdasarkan jabatan pegawai negeri yang dimiliki dosen tersebut. Pihak universitas sendiri tidak membuat perbedaan jumlah dana yang di- alokasikan untuk hibah Soetandyo dan

hibah R.Koento. ”Dosen yang jabatannya lektor kepala dapat dana 6,6 juta rupiah pertahun. Kalau dosen yang jabatannya lektor atau honorer dapatnya 5,4 juta per- tahun,” terang Karnaji.

Mengenai kelanjutan hibah Soetandyo dan hibah R. Koento di masa yang akan datang, Karnaji belum bisa memastikan.

“Semua itu tergantung universitas karena program hibah dan dananya kan asalnya dari universitas. Kami sih berharapnya hibah ini akan selalu ada tiap tahun. Tidak tahun ini saja,” ungkap Karnaji.

Menilik tujuan serta manfaat yang akan didapat dari program hibah ini, besar hara- pan agar hibah Soetandyo dan hibah R.

Koento dapat menjadi program hibah tahu- nan FISIP. Sebab, adanya dana hibah Soetandyo dan hibah R.Koento dari univer- sitas, dosen-dosen di FISIP tidak akan lagi terbentur kendala dana bila ingin men- gadakan penelitian atau membuat diktat untuk mata kuliah yang mereka ajar. Den- gan begitu, para dosen di FISIP akan lebih termotivasi untuk semakin banyak mela - kukan penelitian yang dapat memberikan manfaat, tidak hanya untuk kalangan FISIP saja, tapi juga masyarakat umumnya. (int)

Hibah untuk Dosen FISIP

(10)

P

endidikan merupakan kebutuhan yang mutlak untuk dipenuhi. Namun, biaya hidup yang terus melangit membuat harga segenggam ilmu menjadi begitu sulit untuk dijangkau. Tidak ingin menutup mata terhadap realita tersebut, pemerintah dan berbagai institusi swasta melalui Subbagian Kemahasiswaan FISIP Unair memberikan sejumlah dana bantuan berupa beasiswa kepada mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi. Beasiswa diperuntukkan bagi mahasiswa yang masuk dari jalur PMDK prestasi dan SPMB.

Saat ini Subbagian Kemahasiswaan menyediakan beragam alternatif beasiswa, antara lain beasiswa Peningkatan Potensi Khusus (PPA), Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM), Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM), Bank Indonesia, Pertamina, IKOMA. Beberapa berasal dari institusi swasta seperti Yayasan Supersemar, Bank Mayapada, Sunlife, Sampoerna, Djarum, dan masih banyak lagi. Mahasiwa bebas memilih beasiswa, asal sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah diten- tukan. “Selain itu, satu mahasiswa hanya berhak mendapatkan satu beasiswa dalam setahun. Kami berusaha melakukan pe- merataan.”jelas Punari, Kepala Subbagian Kemahasiswaan.

Saat ini, beasiswa yang tengah berjalan baru PPA dan BBM. Artinya, masih banyak kesempatan untuk meraih beasiswa lain- nya. Jangan khawatir kerepotan

memenuhi persyaratan yang diberikan. Se- cara garis besar, tiap beasiswa biasanya hanya mensyaratkan indeks prestasi ku- mulatif (IPK) minimal 2,5 sampai 3,00.

Bahkan untuk BKM yang dialokasikan bagi tujuh puluh tiga mahasiswa, tidak ada per- syaratan khusus. Mereka berhak mendap- atkan suntikan dana sebesar lima ratus ribu setiap semester tanpa harus

memenuhi syarat IPK minimal maupun golongan tidak mampu.

Untuk beberapa beasiswa, pihak Sub- bagian Kemahasiswaan memang belum dapat memberikan banyak keterangan.

Sebab, belum ada permintaan dari pihak yang bersangkutan. Namun, tidak ada salahnya bila mahasiswa yang berminat mendapatkan beasiswa mengisi formulir umum. Fungsinya sebagai bank data. “Jadi, apabila ada permintaan (dari institusi yang bersangkutan, Red.) sewaktu-waktu, kami tinggal membukanya. Untuk persyaratan khusus, dapat diselesaikan kemudian.”kata Punari.

Bagi mahasiswa yang berminat, for- mulir dapat diambil di Subbagian Kemaha- siswaan. Jika masih bingung atau

ragu-ragu, Punari membuka pintu lebar- lebar bagi siapa saja yang ingin berkonsul- tasi. “Selama ini, mahasiswa terkesan sungkan. Padahal, kami berharap mereka dapat menjadikan Subbagian Kemaha- siswaan sebagai base camp.”ungkapnya.

Dukungan penuh Subbagian Kemaha- siswaan serta suntikan meteriil tersebut diharapkan mampu menggenjot motivasi dan memaksimalkan prestasi para maha- siswa FISIP Unair. (put)

Banyak Peluang Dapatkan Beasiswa

P

roses registrasi di Fakultas Ilmu So- sial dan Ilmu Politik (FISIP) semes- ter gasal kali ini sedikit berbeda dengan semseter sebelumnya. Kini, pem- bayaran SPP dapat dilakukan di empat bank meliputi Bank Mandiri, Bank BTN, Bank BNI, serta Bank BRI. Tidak hanya itu, pembayaran juga bisa dilakukan se- cara online, ATM, atau setoran tunai.

Perubahan baru ini diharapakan dapat semakin memudahkan para mahasiswa untuk melakukan registrasi ulang. Akan tetapi, beberapa kendala kemudian muncul. Salah satunya yaitu bagi mereka yang membayar lewat ATM.

”Mahasiswa yang membayar lewat ATM, slip ATM nya itu diperbesar dan di- legalisir oleh petugas bank,” kata Jadimin.

Proses ini dinilai kurang efisien dan mere- potkan baik bagi mahasiswa maupun bagi petugas bank. Oleh karena itu, jadimin langsung mengatakan bahwa slip ATM hanya perlu difotokopi sebanyak 2 kali saja, tidak perlu dilegalisir ataupun diper- besar.

Keruwetan proses registrasi tidak

hanya sampai disitu saja. Pada hari per- tama pembayaran SPP, terpampang tuli- san, ”Registrasi bisa dilakukan sehari setelah pembayaran (kecuali Bank Man- diri).” Hal ini membuat beberapa maha- siswa yang telah membayar di bank selain bank Mandiri kecewa, lantaran tak bisa langsung melakukan registrasi. Salah sa- tunya Dinda Nistria yang datang pukul 9 pagi untuk membayar SPP dan terkejut saat melihat tulisan tersebut di depan ruang akademik.

”Pas sudah mbayar ternyata mesti nunggu besok. Kan jadinya tambah ribet,

” keluh dinda. Menurut pak jadimin, keja- dian ini terjadi karena tidak semua bank langsung menampilkan data hasil pem- bayaran di website masing-masing. De- ngan demikian, mahasiswa yang data- datanya belum muncul tidak bisa melaku- kan registrasi walaupun sudah menunjuk- kan bukti transaksi. ”Setelah tahu permasalahan ini saya langsung menghu- bungi bu Lilik dari Kasub akdemik dan Pak Basuni,Kasub data, untuk menanya- kan hal ini. Pada akhirnya, prosesnya saya

Menilik Proses Registrasi Mahasiswa di Semester Gasal

Berubah, Tapi Masih Banyak Kendala

(11)

A

khirnya praktek pengobatan ala Ponari –dukun cilik— ditutup oleh pihak kepolisian. Penutupan ini dilakukan setelah pihak Ponari dan keluarga merasa terganggu setelah berhari-hari ribuan orang mendatangi tempat prakteknya di desa Balongsari di kecamatan Megaluh Kabupaten Jom- bang.

Akankah penutupan pihak ke-

polisian terhadap praktek pengobatan Ponari dapat menghen�kan orang- orang yang sudah terlanjur percaya ter- hadap kemampuan dukun cilik itu?

Melihat animo banyaknya orang datang ke tempat Ponari yang mencapai pu- luhan ribu secara bersamaan tam- paknya usaha penutupan tersebut �dak dapat serta merta menghen�kannya.

Ditambah lagi dengan maraknya peda- gang “kaget” yang mencoba peruntun- gan membuka usaha di tempat dukun cilik tersebut membuka praktek.

Mereka seakan �dak rela pengobatan yang mereka percaya mendatangkan berkah ini ditutup.

Demi seteguk air pu�h yang telah dicelupkan batu “ajaib” hasil gengga- man tangan mungil si dukun, orang- orang yang datang mencari kesembuhan rela berdesakan, mengi- nap di sembarang tempat, bahkan bertaruh nyawa karena sampai ada yang meninggal ternyata bukan men- jadi halangan untuk mendapat berkah dari dukun cilik yang biasa mendapat sebutan dukun �ban itu. Sementara seper� kebanyakan fenomena dukun

�ban lainnya, kepas�an kesembuhan suatu penyakit cenderung hanya di- dasarkan pada kepercayaan semata yang beredar dari mulut ke mulut tanpa mengetahui kepas�an dari mana ke- sembuhan yang sebenarnya. Para pasien sekan tersuges� akan batu

“ajaib” yang dapat menyembuhkan mereka tanpa asal-usul yang jelas.

Mungkin inilah fenomena keper- cayaan yang disebut dengan irrasional.

Orang sudah terlanjur percaya begitu saja tanpa perlu meminta penjelasan yang rasional dengan kacamata ilmu pengetahuan yang dapat dibuk�kan se- caran ilmiah. Memang di masyarakat Indonesia khususnya di Jawa, masih ada fenomena yang menjadikan orang sulit berkelit dari kejadian yang menyandarkan pada keyakinan semata bukan pada pembuk�an ilmiah. Fenom- ena mis�k yang sangat kental di pulau ini dipercaya melebihi segala-galanya

seakan mematahkan �ap-�ap teori ilmiah yang jelas lebih rasional. Hal tersebut seakan sudah menjadi ciri khas masyarakat �mur dimana mereka gemar sekali menyangkutpautkan hal- hal rasional dengan supranatural.

Kenda� demikian, kalau ditelisik lebih dalam, orang yang datang berbon- dong-bondong ke tempat Ponari dapat juga dikatakan sebagai �ndakan irra- sional yang rasional. Di tengah kekuran- gan bahkan keterbatasan sumberdaya (baca: dana) untuk dapat memperoleh pengobatan yang memadai dan layak, kehadiran Ponari seakan menjadi hara- pan baru sebagai alterna�f mencari ke- sembuhan. Apalagi Ponari melalui batunya dipercaya dapat menyem- buhkan segala macam penyakit men- jadi magnet tersendiri bagi masyarakat.

Dari segi biaya, orang yang datang terbilang sangat rasional. Betapa �dak, se�ap orang sakit yang datang ke Ponari dengan penyakitnya masing-masing, mulai penyakit tergolong ringan hingga berat sekelas kanker. Bahkan �dak sedikit orang sakit yang datang ke Ponari sebelumnya telah berobat kem- ana-mana baik dokter maupun orang pintar serta telah menghabiskan uang yang �dak sedikit tetapi �dak kunjung sembuh.

Dari kalkulasi rasional ekonomi orang yang datang ke Ponari, barangkali

�dak ada ruginya. Bagi orang yang datang ke Ponari, justru hukum ekonomi yang kadang berlaku. Dengan biaya “hanya” Rp 5.000,- siapa tahu penyakit dapat sembuh. Dapat dibayangkan betapa bahagianya jika dengan Rp 5.000,- ditambah segelas air pu�h —mungkin seharga Rp 1.000,—-, penyakit kelas berat seper� kanker, stroke dan sebagainya dapat disem- buhkan. Nah, orang yang datang ke Po- nari sangat rasional ataukah irrasional?.

(*)

KARNAJI Ka. Bag. Akademik dan Kemahasiswaan FISIP - Universitas Airlangga

Ponari:

Pengobatan Irrasional yang Rasional

kembalikan seperti dulu,” ungkap Jadi- min.

Merujuk pada prosedur lama, maha- siswa yang sudah memberikan bukti transaksi bisa langsung melakukan regist- rasi dan mengambil Kartu Hasil Studi (KHS) serta Kartu Rencana Studi (KRS).

Kemudian pada pukul tiga barulah para pegawai registrasi melakukan kroscek terhadap data-data tersebut. Jika ada ma- hasiswa yang hingga batas akhir registrasi belum muncul datanya, maka mahasiswa yang bersangkutan akan langsung dihu- bungi oleh Jadimin.

Salah satu kasus tersebut dialami oleh seorang mahsiswa yang sudah melakukan registrasi tapi hingga batas akhir pem- bayaran datanya masih belum juga keluar.

Setelah diselidiki, ternyata mahasiswa ini tidak membayar ke rekening rektor Unair melainkan ke rekeningnya sendiri. ”Lha wong dia ngirim ke rekeningnya sendiri, pantes kok tidak masuk-masuk datanya!,”

ucap Jadimin sembari tersenyum.

Lalu apakah semester depan akan se- perti ini lagi? Untuk pertanyaan berikut Jadimin masih belum bisa memastikan.

Karena menurutnya masih akan diadakan rapat lebih lanjut untuk me mu tuskan pro- ses registrasi yang lebih baik untuk se- mester depan.(deb)

(12)

T T

anggal 28 Februari 2009 merupakan salah satu hari bersejarah bagi Ida Bagus Wirawan, Ketua departemen Sosi- ologi FISIP Universitas Airlangga.

Sebab hari itu di auditorium Rektorat lantai V, ia dikukuhkan menjadi guru besar. Walaupun telah memegang tingkatan tertinggi dalam dunia aka- demis, tak lantas membuatnya lupa daratan.

Bahkan, dengan tutur kata yang halus, beliau menyampaikan bahwa dengan menjadi seorang guru besar berarti ada tanggung jawab sosial dan kelompok untuk mengembang- kan disiplin ilmu sesuai dengan ama- nah yang telah diberikan. ”Harus ada kerja keras untuk mencapai hal itu se- perti sebelumnya, atau bahkan lebih lagi,” ujar Wirawan.

Dalam pidato pengukuhan guru besarnya, Wirawan menjelaskan ten- tang penduduk usia lanjut. Pada mu- lanya, ia menjelaskan penggunaan kata ”usil” untuk menyebut orang- orang usia lanjut serta kondisi para

”usil”. Berdasar data yang dihimpun Wirawan, jumlah para usil ini semakin meningkat tiap tahunnya. Utamanya di negara-negara berkembang seprti Indonesia.

”Meningkatnya jumlah penduduk

”usil” ini, telah membawa beberapa konsekuensi atau persoalan,” kata lu- lusan program doktoral Ilmu Sosial Unair ini. Permasalahan ini terjadi baik dalam tataran individu maupun kelompok. Salah satu masalahnya yaitu otak manusia itu sendiri. Sebab semakin tua semakin banyak sel-sel otak yang mati dan menurunkan fungsi-fungsinya.”orang usil kebanya- kan mengidap gejala 5B yang dapat dilihat antara lain burek, budheg, bo- gang, bungkuk, dan buyutan,” ucap Wirawan.

Permasalahan yang dialami oleh

”usil” tidak hanya dari segi keseha- tan, tapi juga menyangkut kesejahte- raan. Sebab kebanyakan para ”usil”

ini tidak lagi produktif dan mengan- dalkan keluarga sebagai institutional

supporting system untuk memenuhi kebutuhannya. Masalah muncul ma- nakala keluarga tak dapat menjadi in- stitutional supporting system bagi para ”usil” tersebut.

Profesor dengan bidang keilmuan sosial kependudukan ini menerang- kan sudah ada beberapa program dari pemerintah untuk menanggu- langi masalah ini. ”Satu diantaranya adalah terbentuknya Komisi Nasional Usia Lanjut,” ujar Wirawan. Lebih la- njut ia menekankan berbagai perma- salahan yang dialami oleh penduduk usia lanjut memang sangat ba- nyak dan penanganan mela- lui pelayanan sosial

menjadi hal yang pen- ting.

Wirawan mengucapkan terima kasih kepda berbagi pihak yang telah membantu- nya, terutama keluarganya yang telah berkorban waktu dan keinginan untuk berkumpul bersama. Seusai menerima ja- batan sebagai guru besar, Pro- fesor Wirawan berharap segenap civitas akademika FISIP mampu menunjukkan ek- sistensinya tidak hanya di ting- kat nasional, tapi juga di tingkat internasional.

Selain itu, penerima Len- cana kesetiaan dari RI ini juga berharap akan semakin banyak lagi dosen maupun mahasiswa tidak berhenti di jenjang S1 Atau S2 saja, tapi bisa men- capai guru besar pula. Lan- taran menurutnya, peluang untuk mencapai jabatan tersebut tidak lagi sesulit dulu den- gan dihapuskannya peraturan tentang batasan usia.

Jika dulu, peraturan tersebut menjadi salah satu faktor pengham- bat bagi kaum muda untuk mencapai jabatan guru besar, sekarang hal ter- sebut tidak lagi menjadi masalah.

”Malahan hambatan-hambatan yang merintangi itu menuntut kita untuk semakin mengembangkan potensi lebih baik lagi,” tutur Wirawan.

(deb)

Referensi

Dokumen terkait

herbal GANG JIE dan GHO SHIAH Ini sangat ampuh mengobati penyakit sipilis, raja singa, gonore atau kencing nanah, Karena obat herbal gnajie dan gho shiah ini terbuat

Cakupan data meliputi nominal Dana Float Uang Elektronik yang diterbitkan oleh Lembaga Selain Bank (LSB) Satuan Satuan Satuan Satuan: miliar Valuta Valuta Valuta Valuta

ANALISIS KUALITAS PELAYANAN UNTUK MENINGKATKAN JUMLAH ANGGOTA PADA BMT-UGT SIDOGIRI CABANG MALANG KOTA.. adalah hasil karya saya sendiri, bukan “duplikasi” dari karya

Anak yang ragu terhadap kemampuan diri sendiri biasanya kurang dapat menyampaikan pesan kepada orang lain karena salah satu faktor penyebab tidak percaya diri datang dari

Pembakaran dilakukan pada tungku listrik, dimana elemen pemanasnya dapat terbuat dari alloy nikel-chromium untuk pembakaran low-fusing dan alloy platinum untuk

Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Perubahan nutrisi

Pelalawan akibat limbah pabrik, limbah rumah tangga dan kotoranmasyarakat.Berdasarkan parameter fisik (warna, rasa, dan bau, suhu) dan kimia ( pH, fosfat dan nitrat).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) kontribusi pemanfaatan perpustakaaan terhadap hasil belajar auditing,2) kontribusi intensitas belajar terhadap