• Tidak ada hasil yang ditemukan

Citra Diri, Perempuan, Perokok.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Citra Diri, Perempuan, Perokok."

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa Volume 1, No 3, Februari 2022

e-ISSN 2807-789X

Citra Diri Perempuan Perokok

Rezki Halking1, Sitti Murdiana2, Muhammad Nur Hidayat Nurdin3

123Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia

*E-mail:[email protected]

Abstract

Smoking habits are generally carried out by men and become a natural thing for the public, but nowadays women also do not escape smoking behavior, either openly or privately. This study aims to determine the self-image of female smokers. This study uses a qualitative method with a case study approach. Respondents in this study amounted to one person. Respondents were obtained through snowball sampling technique with data collection using semi-structured interviews directly with respondents. The results of this study indicate that respondents display a positive self- image that is confident, friendly, and able to control emotions and display a negative self-image that is feeling inferior, likes to buy time and does not feel proud when smoking. Respondents have a desire to stop smoking when they are married.

Keyword: Self-Image, Smoker, Woman.

Abstrak

Kebiasaan merokok pada umumnya dilakukan oleh kaum pria dan menjadi hal yang wajar bagi masyarakat umum, namun saat ini kaum perempuan pun tak luput dari perilaku merokok, baik secara terbuka atau pun tertutup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran citra diri perempuan perokok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Responden dalam penelitian ini berjumlah satu orang. Responden diperoleh melalui teknik snowball sampling dengan pengambilan data menggunakan wawancara semi terstruktur secara langsung terhadap responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden menampilkan citra diri positif yaitu percaya diri, ramah, dan mampu mengendalikan emosi serta menampilkan citra diri negatif yaitu merasa rendah diri, suka mengulur waktu dan tidak merasa bangga saat merokok. Responden memiliki keinginan untuk berhenti merokok ketika berkeluarga.

Kata kunci: Citra Diri, Perempuan, Perokok.

PENDAHULUAN

Kesehatan menjadi salah satu faktor terpenting dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu yang dapat mengakibatkan kesehatan memburuk adalah merokok. Albery dan Munafo

(2)

121 (2011) mengemukakan bahwa menghisap rokok dapat berefek merugikan kesehatan. Merokok merupakan kegiatan menghisap gulungan tembakau yang dibungkus kertas (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2011). Komalasari dan Helmi (2000) mengemukakan bahwa perilaku merokok merupakan aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku merokok, yang diukur melalui waktu merokok, fungsi merokok, dan intensitas merokok sehari-hari.

Merokok menjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat. Sebagian individu memandang perilaku merokok lebih banyak memberi kerugian daripada keuntungan. Merokok menurut pandangan masyarakat, merupakan salah contoh produk yang dianggap berbahaya dan menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif. Ma’sum (Nurlailah, 2010) mengemukakan perilaku merokok dipandang dari berbagai perspektif, baik dari sudut pandang agama, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Sebagian besar pandangan ini menyiratkan bahwa merokok memiliki dampak negatif, terutama pada kesehatan.

Merokok dapat membawa dampak berbagai penyakit yang berbahaya bagi kesehatan orang perokok dan kesehatan orang lain di sekitarnya. Ma’sum (Nurlailah, 2010) mengemukakan bahwa berdasarkan sudut pandang psikologi, akibat menghisap rokok dapat juga menimbulkan berbagai perilaku yang spesifik yaitu banyak bergerak, bersifat impulsive dan gugup. Rokok mengandung zat adiktif yang dapat menimbulkan ketergantungan atau kecanduan, bahkan dapat menyebabkan kematian walaupun tidak secara langsung. Leppel (2007) mengemukakan bahwa dampak negatif rokok akan disadari bertahun-tahun kemudian, sedangkan kenikmatan yang didapat dari merokok akan langsung terasa.

Wismanto dan Sarwo (2007) mengemukakan bahwa merokok dalam jangka pendek dapat menyebabkan perubahan warna kuning pada kuku, jari tangan dan gigi, mulut dan keringat yang berbau tidak sedap. Secara psikologis dampak tersebut dapat mengurangi rasa percaya diri, menimbulkan kecemasan dan mengganggu interaksi dengan orang lain. Akibat jangka panjang muncul beberapa penyakit seperti, bronkitis, jantung koroner, kanker tenggorokan, mulut dan dan kanker paru-paru, serta gangguan kehamilan dalam kandungan.

Meskipun pada bagian bungkus rokok sudah tertera bahaya akibat rokok, namun himbauan untuk menjauhi rokok seolah tidak berpengaruh kepada para perokok. Casmini (2014)

(3)

122 mengemukakan bahwa perokok akan mengalami kesulitan untuk berhenti, disebabkan rokok mengandung zat adiktif (nikotin) yang sangat berpengaruh terhadap perokok. Semakin lama intensitas merokok, maka semakin tinggi kadar candu yang masuk ke dalam tubuh. Apabila individu mencoba untuk berhenti merokok, biasanya mengalami hal-hal seperti rasa tidak enak dan tersiksa, baik secara fisik maupun mental. Secara psikologis perokok akan merasa tidak nyaman dan serba salah.

Perilaku merokok mulai dari anak-anak hingga dewasa yang pernah merokok sudah sangat marak ditemui di lingkungan umum. Perilaku merokok dipandang tidak baik, dikarenakan dampak negatif yang ditimbulkan. Dampak negatif dari aktivitas merokok di Indonesia dianggap sebagai kebiasaan buruk. Perokok sadar akan efek negatif dari merokok, tetapi tidak peduli jika diingatkan akan ancaman yang dapat menyiksa untuk waktu yang lama bahkan dapat merenggut nyawanya. Hal tersebut disebabkan pengaruh nikotin, dan pemahaman tentang dampak merokok terhadap kesehatan masih kurang, dan dampak merokok memiliki efek jangka panjang yang tidak langsung dirasakan. Akibatnya, perilaku merokok tetap ada dan tampaknya menjadi perilaku yang masing bisa ditolerir oleh masyarakat.

Kebiasaan merokok pada umumnya dilakukan oleh kaum pria, sehingga menjadi hal yang wajar bagi masyarakat umum. Berdasarkan data awal yang dilakukan peneliti, beberapa kaum perempuan pun tak luput dari perilaku merokok, seperti di Kota Makassar baik secara terbuka atau pun tertutup. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan 2 perempuan perokok menunjukkan bahwa, responden merokok di depan umum, tapi tidak ditampakkan di depan keluarga intinya, karena merasa takut.

“Kalau sama ka temanku depan umum ji ka, kalau sama keluargaku nda pernah ka merokok depannya...Takutlah kan cewek ka masa mo ka merokok depan keluargaku”.

(Responden 1)

“tempat umum kak, tapi kalau di rumah yaa sembunyi di kamar”...”tidak kalau kaya om tante mace pace, kalau kaya sepupu merokok jika depannya”. (Responden 2).

Merokok merupakan sebuah pilihan pribadi. Perempuan memilih untuk merokok tentunya memiliki alasan tersendiri. Diantaranya yaitu:

“Awalnya coba-coba, lama kelamaan keterusan”. (Responden 1)

(4)

123 “mengurangi stres sama kegabutan”. (Responden 2)

Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan (Latif, 2017) tentang perokok perempuan di Indonesia menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang cukup besar pada perokok perempuan di Indonesia pada tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumnya. Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati (Kusuma, 2019) mengemukakan bahwa jumlah prevalensi perempuan yang menghisap rokok meningkat, dari 2,5% menjadi 4,8%.

Fenomena perempuan perokok memicu adanya pro dan kontra di tengah masyarakat.

Sebagian masyarakat berasumsi bahwa ketika perempuan merokok, nilai moral individu perempuan akan menurun. Muncul berbagai pendapat tentang kebiasaan merokok yang mengarah pada stigma atau penilaian negatif dari individu yang merokok, khususnya perempuan. Martiany (2016) mengemukakan bahwa industri rokok menerapkan strategi tertentu dalam membentuk image perempuan perokok sebagai perempuan mandiri, trendi, modern, dan glamor. Perempuan terkadang menggunakan rokok sebagai alat untuk membentuk image tersebut. Namun, disisi lain masih ada stereotip gender yang melekatkan image buruk bagi perokok perempuan. Mardian (2013) mengemukakan bahwa penilaian negatif masyarakat terhadap perempuan perokok bermula dari tindakannya yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Perempuan diharapkan berperilaku patuh, feminin, tidak agresif, dan sesuai dengan gender.

Berdasarkan data awal yang dilakukan peneliti dengan mewawancarai tiga perempuan yang bukan perokok, berasumsi mengenai perempuan perokok yaitu:

“Kalau temanku kulihat merokok, biasa ka, tapi kalau orang tidak kukenal, agak kaget ja, wiih perempuan merokok, padahal kan seharusnya bukan kebiasaannya perempuan itu, kenapa na lakukan”. (1)

“Berpikiran negatif ka eee, agak risih ka, aneh sama jorok”. (2)

“nakal, tidak bisa jaga kesehatan untuk dirinya sendiri, apalagi untuk keturunannya nanti”. (3)

Walaupun demikian perempuan tidak dapat memisahkan rokok dari kehidupannya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian negatif masyarakat tersebut sebagai tanggapan atas reaksi masyarakat terhadap yang ditampilkan perempuan perokok.

(5)

124 Dengan demikian, respon masyarakat merupakan salah satu stimulus tentang bagaimana perempuan perokok menampilkan citra dirinya di ruang publik dalam kesehariannya.

Rohman dan Baidun (2013) mengemukakan bahwa citra diri merupakan pandangan, gambaran, cerminan, dan bayangan yang dimiliki oleh individu. Dalam kaitannya dengan lingkungan sekitar, citra diri memiliki dampak yang signifikan terhadap pola pikir dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Buss (Ramadhani & Putrianti, 2014) mengemukakan bahwa citra diri merupakan gambaran mengenai tubuh yang dibentuk dalam pikiran. Hal tersebut dimaksudkan untuk menyatakan suatu cara penampilan tubuh bagi diri sendiri, meliputi perasaan tentang tubuh seperti besar atau kecil, kuat atau lemah, tinggi atau pendek dan cantik atau jelek.

Citra diri yang ditampilkan bersifat positif maupun negatif. Fleet (1997) mengemukakan citra diri terdiri atas dua jenis beserta karakteristiknya, yaitu citra diri yang tinggi (positif), dan citra diri rendah (negatif). Maka dari itu setiap individu harus mampu membangun citra diri yang positif. Citra diri yang positif tidak hanya mencakup penampilan penampilan fisik dan bentuk tubuh, namun juga menyangkut perihal aktivitas, sikap, perasaan, perilaku pada diri individu. Berdasarkan konteks penelitian yang telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk meneliti citra diri perempuan perokok, karena peneliti ingin mengetahui bagaimana perempuan perokok menampilkan citra dirinya dalam kesehariannya.

METODE

Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tahap pengumpulan data dimulai dengan penyusunan pedoman wawancara. Setelah pedoman wawancara rampung, peneliti melaksanakan proses wawancara dua kali pada responden, yaitu perempuan perokok aktif minimal satu tahun yang berusia 24 tahun dan satu significant others dari responden. Serta penelitian dilakukan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Peneliti merampungkan data yang didapatkan untuk kemudian dianalisis setelah penelitian selesai. Teknik analisis data yang digunakan, yaitu mengolah dan menyiapkan data, membaca keseluruhan data, melakukan coding dengan memberikan tanda pada informasi yang diperoleh

(6)

125 dengan melabeli menggunakan istilah khusus dan membuat interpretasi kualitatif memaknai hasil penelitian mengenai citra diri perempuan perokok untuk mengungkap kesesuaian antara hasil penelitian dan teori yang digunakan (Creswell, 2016).

Langkah selanjutnya verifikasi melalui dua tahap, yaitu tahap pertama melakukan uji dependability yaitu melakukan evaluasi terhadap keseluruhan proses penelitian dengan cara pembimbing mengevaluasi keseluruhan aktivitas yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitian. Seperti bagaimana peneliti mulai menentukan masalah, memilih sumber data, terjun ke lapangan, melaksanakan analisis data, sampai pembuatan laporan hasil. Selanjutnya melakukan triangulasi sumber data dari hasil menggali data pada satu informan tambahan untuk memperdalam data mengenai responden utama (Sugiyono, 2018).

HASIL

Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa responden mulai merokok saat duduk di bangku SMA. Merokok dilakukan karena berbagai alasan, seperti berawal dari coba-coba, karena penasaran rasa rokok, dan karena lingkungan pergaulan sehingga terpengaruh. Responden W merokok dimana saja selain di rumahnya. Ketika merokok yang dirasakan yaitu ada sensasi kenikmatan, membuat sakau, memudahkan untuk berpikir atau memudahkan untuk mengambil keputusan. Satu batang rokok membutuhkan waktu kurang dari 1 menit untuk dihisap. Responden W dapat merokok 1 bungkus dalam 2 hari, tetapi dapat merokok 1 bungkus dalam 1 jam jika suasana hatinya sedang buruk. Responden W mempersepsikan bahwa kecantikan itu penting dan perspektif orang lain tentang fisik memiliki pengaruh besar baginya karena lawan jenis melihat fisik ketika bertemu.

Responden tidak mempertimbangkan dengan matang dalam memutuskan untuk merokok pertama kalinya. Ketika merokok di depan umum tidak ada keraguan dan rasanya biasa-biasa saja, kecuali jika ada keluarga yang berpotensi melaporkan kepada orang tuanya, karena responden merasa ragu untuk merokok jika bersama keluarga sebab perempuan perokok memproyeksikan citra negatif. Responden W tidak mendapat tentangan secara langsung dari orang lain, kecuali jika ada keluarga yang tahu maka pasti akan marah. Bagi responden W merokok tidak menghambat justru bagi individu yang basicnya seperti responden seorang

(7)

126 seniman, merokok dapat menambah kreativitas dan aktif dalam berkegiatan.

Merokok bukanlah sebuah prestasi, maka perempuan perokok tidak merasa bangga melakukannya. Responden W pernah mendapat penilaian dari seniman yang menganggap bahwa perempuan perokok adalah hal biasa, namun berbeda jika yang menilai seorang yang agamis, maka perempuan perokok dianggap negatif dalam hal ini responden W. Adapun yang dirasakan atas penilaian dari orang lain adalah dianggap biasa-biasa saja. Pandangan responden terkait perempuan merokok yaitu keren, rokok selalu ada senang maupun susah serta responden memiliki keinginan untuk berhenti merokok jika berkeluarga kelak.

Responden W percaya diri tampil di depan umum, seperti ketika melakukan sebuah pertunjukan. Namun, dalam kondisi tertentu, responden merasa rendah diri, seperti ketika melihat orang lain yang seusianya sudah mapan, sedangkan responden belum, disisi lain dapat berorientasi pada ambisi yang kuat dalam mencapai tujuan, melakukan hal-hal yang lebih positif, mengubah dan mengevaluasi diri sendiri. Responden memiliki kepribadian yang baik serta menyenangkan dan mampu mengendalikan diri ketika sedang emosi. Terkait waktu, responden kadang mengulur waktu ketika menghadiri sebuah acara agar mood nya tetap baik, karena responden tidak menyukai jika harus menunggu lama.

DISKUSI

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, penulis mengklasifikasikan terkait citra diri dan perempuan perokok sebagai berikut:

1. Perempuan Perokok a. Umum

Alasan perempuan merokok yaitu coba-coba, rasa penasaran, dan lingkungan pergaulan.

Hasil penelitian Tarupay, Ibnu, dan Rachman (2014) mengemukakan bahwa faktor perempuan merokok yaitu coba-coba karena tawaran teman, karena stres, efek rokok yang dapat membuat rileks, dan nyaman. Dan yang dirasakan ketika merokok adalah merasakan kenikmatan, membuat sakau, mudah berpikir untuk memutuskan suatu hal. Laventhal dan Cleary (Halim, 2013) mengemukakan bahwa individu merokok untuk menghasilkan emosi yang positif seperti relaksasi, rasa senang, dan merasakan kenikmatan.

(8)

127 b. Frekuensi

Tempat merokok perempuan perokok adalah di mana saja. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Kurniafitri (2015) mengemukakan bahwa tempat-tempat yang dipilih untuk melakukan aktivitas merokok antara lain tempat tinggal partisipan maupun tempat tinggal teman-teman partisipan yang juga seorang perokok, dan tempat umum seperti cafe dan tempat tongkrongan lainnya.

c. Intensitas

Perempuan perokok menghabiskan setengah sampai satu bungkus dalam dua hari. Hal ini sesuai dengan Soedkaji (Perwitasari, 2006) mengemukakan bahwa intensitas merokok dapat diukur melalui seberapa banyak individu menghisap rokok berdasarkan jumlah batang rokok dalam sehari. Perempuan perokok dapat menghisap satu batang rokok dengan durasi kurang dari satu menit. Hal ini sesuai dengan Soekadji (Perwitasari, 2006) mengemukakan bahwa durasi untuk mengetahui rentang waktu yang diperlukan individu dalam merokok.

2. Citra Diri

a. Perceptual Component-Penampilan Dirinya Kondisi Fisik

Pandangan perempuan perokok tentang kecantikan itu penting. Responden memandang dirinya secara fisik merasa biasa-biasa saja dan penilaian orang lain terhadap perempuan perokok terkait fisik sangat berpengaruh seperti kecantikan dan body. Hurlock (Mardian, 2013) mengemukakan bahwa perceptual component merupakan image yang dimiliki oleh individu terkait penampilan dirinya, terutama tubuhnya yang berhubungan dengan daya tarik bagi orang lain, seperti kemolekan tubuh atau kecantikannya.

b. Conceptual Component-Konsep Individu Tentang Karakteristik Dirinya

Perempuan perokok tidak mempertimbangkan dengan matang ketika memutuskan pertama kali untuk merokok, yang dibutuhkan hanyalah keberanian. Perempuan perokok ragu ketika harus merokok di depan keluarga, karena image yang ditampilkan perempuan perokok adalah buruk. Ariestyani (2019) mengemukakan bahwa secara umum, masih banyak perempuan perokok yang bersembunyi saat merokok baik dari keluarga atau pun orang terdekat.

(9)

128 Merokok tidak menghambat aktivitas dalam kehidupan sehari-hari bagi perempuan perokok. Bahkan bagi seorang seniman, merokok dapat menambah kreativitas. Partodiharjo (2007) mengemukakan bahwa rokok dapat meningkatkan kreativitas bagi pecandunya.

Munculnya perasaan tenang, kreatif dan bebas stres merupakan reaksi positif dari psikotropika yang hanya berlaku bagi pecandu.

c. Attitudinal Component-Pikiran dan Perasaan Individu Tentang Dirinya.

Berbagai teori yang ditemukan bahwa merokok dapat menimbulkan rasa bangga pada individu khususnya perempuan, namun data yang diperoleh dilapangan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa merokok tidak memberikan rasa bangga pada perempuan. Perempuan perokok menilai merokok bukanlah prestasi sehingga tidak memiliki rasa bangga terhadap perilaku merokok yang dilakukan. Putri (2016) mengemukakan bahwa perempuan perokok dikelompokkan ke dalam kategori pengalaman yang berbeda seperti merasa lebih keren dan dihargai, pengalaman komunikasi menyenangkan berupa rasa senang dan bangga, serta penerimaan dan pertemanan.

Perempuan perokok tidak merasa malu dan ragu ketika merokok di depan umum kecuali dalam situasi tertentu. Martiana, Wardhana dan Pratiwi (2017) mengemukakan bahwa keberagaman yang ada mampu melahirkan berbagai fenomena sosial budaya, salah satunya adalah fenomena merokok khususnya di kalangan perempuan. Di kota Yogyakarta banyak dijumpai perempuan merokok tanpa ragu di depan umum.

Perempuan perokok di depan umum adalah biasa-biasa saja. Hurlock (Mardian, 2013) mengemukakan bahwa attitudinal component merupakan perasaan dan pikiran individu tentang dirinya, sikapnya terhadap kehidupannya sekarang dan masa depan, kebanggaan, sikap pandangan terhadap diri sendiri yang dinilai memalukan, serta sikapnya terhadap keberhargaan dirinya.

Perempuan perokok mendapat penilaian positif dan negatif tergantung pada individu yang menilai. Martiana, Wardhana, dan Pratiwi (2017) mengemukakan bahwa prasangka positif atau negatif yang diberikan kepada individu lain sesuai dengan pengalaman individu yang menilai.

Ariestyani (2019) mengemukakan bahwa berbagai penilaian moral yang negatif sangat mudah terlontar bagi perempuan yang merokok di depan umum. Penilaian negatif seperti perempuan

(10)

129 liar, nakal, berandal dan perempuan tidak benar. Akbar (2020) mengemukakan bahwa perempuan merokok di depan umum sangat mudah mendapatkan penilaian moral yang negatif.

Pandangan responden terkait perempuan perokok adalah perempuan perokok itu keren dan rokok selalu ada saat senang maupun susah. Martini (2014) mengemukakan bahwa merokok merupakan simbol pemberontakan, simbol keren, dan merokok sebagai cara mendapatkan kenikmatan. Rokok merupakan teman berbagi, teman setia serta rokok merupakan racun yang dinikmati banyak orang.

Responden memiliki keinginan untuk berhenti merokok jika kelak memiliki pasangan yang tidak menyukai perempuan perokok. Sulastri, Herman, dan Darwin (2018) mengemukakan bahwa hampir semua perokok yang ingin berhenti merokok memiliki alasan karena mengalami kerugian ekonomi dan gangguan kesehatan. Selain itu, motivasi untuk berhenti merokok karena mendapat dukungan dari individu terdekat.

Perempuan perokok percaya diri tampil di depan umum, melakukan kegiatan untuk mencapai kesuksesan, berorientasi pada ambisi yang kuat dalam mencapai tujuan, ramah terhadap orang lain serta mampu mengendalikan diri ketika sedang emosi. Fleet (1997) mengemukakan karakteristik citra diri positif yaitu, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, berorientasi pada ambisi yang kuat serta mampu dalam membedakan tujuan hidup, terorganisir dengan baik dan produktif, memiliki kepribadian yang baik dan menyenangkan, serta mampu mengendalikan diri.

Perempuan perokok kadang merasa rendah diri, dan terkait waktu, kadang mengulur waktu ketika menghadiri sebuah acara untuk menjaga mood tetap baik. Fleet (1997) mengemukakan bahwa citra diri negatif yaitu, merasa rendah diri, kurangnya motivasi dan semangat hidup, memiliki gagasan dan emosi yang negatif, sering menunda waktu, pemalu dan penyendiri, serta berkonsentrasi pada kepuasan sendiri.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:

Alasan perempuan merokok adalah awalnya coba-coba, penasaran rasa rokok dan karena pergaulan sehingga responden menjadi perokok aktif. Tempat responden merokok dimana saja

(11)

130 kecuali di rumah dan ketika merokok akan menimbulkan rasa nikmat, merasa enak atau mudah berpikir dalam memutuskan suatu hal. Waktu yang dibutuhkan dalam menghisap 1 batang rokok kurang dari 1 menit. Dalam 2 hari dapat menghabiskan 1 bungkus rokok namun jika mood kurang baik, merokok 1 bungkus dalam waktu 1 jam.

Responden menganggap bahwa kecantikan itu penting dan penilaian orang lain sangat berpengaruh. Responden ragu untuk merokok ketika berkumpul dengan keluarga karena takut keluarga akan marah ketika tahu dirinya merokok. Disisi lain responden menganggap merokok dapat menambah kreativitas. Responden tidak merasa bangga merokok karena bukan sebuah prestasi. Responden tidak ragu merokok di depan umum. Penilain orang lain tidak terlalu berpengaruh bagi responden ketika merokok.

Responden menampilkan citra diri positif yaitu percaya diri, ramah, mampu mengendalikan emosi dan memiliki ambisi untuk sukses. Responden menampilkan citra diri negatif yaitu suka mengulur waktu dan merasa rendah diri.

Adapun saran berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, yaitu:

Bagi responden penelitian agar memperbanyak kegiatan positif dan bergaul dengan lingkungan yang lebih sehat untuk meningkatkan keinginan berhenti merokok. Serta memperbanyak informasi terkait cara untuk berhenti merokok dengan bergaul bersama mantan perempuan perokok, sebagai langkah dalam mengatasi kecanduan dan perasaan was-was saat merokok jika ketahuan oleh keluarga.

Bagi peneliti selanjutnya meneliti responden perempuan perokok pada usia madya atau lanjut usia, sehingga gambaran citra diri perempuan perokok pada segala usia bisa diketahui.

Disarankan untuk memilih responden penelitian dan melakukan wawancara pada orang tua yang mengetahui bahwa anak perempuannya merokok.

REFERENSI

Akbar, F. M. R. (2020). Mahasiswi perokok: studi fenomenologi tentang perempuan perokok di kampus. Jurnal Sosiologi Dialektika, 15(1), 33-40.

Albery, I, P. & Munafo, M. (2011). Psikologi kesehatan. Terjemahan: Daru Wijayanti.

Yogyakarta: Palmall.

(12)

131 Ariestyani, A. (2019). Citra dan komunikasi wanita perokok di Jakarta. Jurnal Becoss, 1(1), 83-

90.

Casmini. (2014). Dinamika psikologis untuk berhenti merokok warga muhammadiyah kecamatan kalasan sleman. Psikologi Dinamika, 19(2), 27-145. (tidak ada di artikel)

Creswell, J., W. (2016). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif dan mixed edisi ketiga. Terjemahan: Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fleet, J. K. V. (1997). Cara meraih pengaruh dan kekuasaan tak terbatas dalam 21 hari.

Terjemahan: Anton Adiwiyoto. Jakarta: Mitra Utama.

Halim, N. A. B. A. (2013). Faktor-faktor psikologis yang menentukan perilaku merokok pada mahasiswi kedokteran di Universitas Hasanuddin tahun 2013). Skripsi Online. Makassar:

Universitas Hasanuddin.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2011). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Komalasari, D. & Helmi, A. F. (2000). Faktor-faktor penyebab perilaku merokok pada remaja.

Jurnal Psikologi, 1, 37-47. ISSN 0215-8884.

Kurniafitri, D. (2015). Perilaku merokok pada perempuan di perkotaan (Studi kasus mahasiswi di kota Pekanbaru). Jurnal IOM Fisip UR. 2(2). 1-15.

Kusuma, H. (2019). Jumlah perokok anak dan wanita meningkat bikin cukai rokok naik.

Online.https://m.detik.com/finance/industri/d-4705320/jumlah-perokok-anak-dan-wanita- meningkat-bikin-cukai-rokok-naik.

Latif, M. (2017). Lebih dari 6 juta wanita Indonesia perokok aktif. Online.

https://www.aa.com.tr/id/budaya/lebih-dari-6-juta-wanita-indonesia-perokok-aktif/87326.

Leppel, K. (2007). The relationship between college class and cigarette smoking. Journal of Health Education, 107(1), 63-80.

Mardian, S. (2013). Citra diri (self-image) perempuan perokok di Kota Bandung (studi kasus eksploratif pada 2 perempuan perokok aktif usia dewasa awal di kota Bandung). Skripsi Online. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Martiana, A., Wardhana, A., & Pratiwi, P. H. (2017). Merokok sebagai simbol interaksi bagi perokok perempuan urban. Jurnal Informasi. 47(1), 109-120).

Martiany, D. (2016). Kendali jumlah perokok untuk melindungi kesehatan perempuan. Majalah Info Singkat Kesejahteraan Sosial, Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis.

VIII(16), 9-12.

Martini, S. (2014). Makna merokok pada remaja putri perokok (smoking meaning in young women smokers). Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan. 3(2), 119-127.

Nurlailah, N. (2010). Hubungan antara persepsi tentang dampak merokok terhadap kesehatan dengan tipe perilaku merokok mahasiswa universitas islam negeri syarif hidayatullah.

Skripsi Online. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Partodiharjo, S. (2007). Kenali narkoba dan musuhi penyalahgunaannya. Jakarta: Esensi.

Perwitasari, R. (2006). Motivasi dan perilaku merokok pada mahasiswa ditinjau dari internal locus of control dan external locus of control. Skripsi Online. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Putri. R, R. (2016). Fenomena perempuan perokok di Pekanbaru. Jom Fisip. 3(1), 1-15.

Ramadhani, N.T., & Putrianti, G. F., (2014). Hubungan antara kepercayaan diri dengan citra diri pada remaja akhir. Jurnal Spirit, 4(2), 22-32. ISSN: 2087-27641.

(13)

132 Rohman, J. & Baidun, A. (2013). Pengaruh citra diri (self image) dan konformitas terhadap

perilaku compulsive buying pada remaja. Journal of Psychology, 1(2), 281-302.

Sugiyono. (2018). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sulastri, S., Herman, D., & Darwin, E. (2018). Keinginan berhenti merokok pada pelajar perokok berdasarkan global youth tobacco survey di SMK negeri kota padang. Jurnal Kesehatan Andalan, 7(2), 205-211.

Tarupay, A., Ibnu, I. F., & Rachman, W. (2014). Perilaku merokok mahasiswa di kota Makassar. Karya Tulis Ilmiah, Makassar: Universitas Hasanuddin.

Wismanto, B., & Sarwo, B. (2007). Strategi Penghentian Perilaku Merokok. Semarang:

Universitas Katolik Soegijapranata.

Referensi

Dokumen terkait

Komunikasi dengan para rekan sekerja bisa dilakuka dengan cara yang ramah, profesional serta terbuka. Dalam melakukan komunikasi yang efektif ditempat kerja,

digunakan dalam penelitian merupakan subyek yang sesuai dengan.

Balai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah lapangan ilmu dan teknologi beserta prakteknya yang bersifat multidisipliner dalam pengendalian efek sampingan

Data yang diperoleh melalui lembar kegiatan atau lembar evaluasi yang merupakan hasil komunikasi guru dan anak setiap pertemuan pembelajaran dalam setiap siklus lalu

Kelemahan uji banding berdasarkan pasangan perlakuan adalah dalam besar resiko jenis I yang sebenarnya, untuk pembandingan 2 perlakuan maka nilai α = ε , tetapi

a) Dengan dilakukannya konfigurasi, semua akses ke aplikasi-aplikasi yang berkaitan dengan pekerjaan dan kebutuhan internal pemerintah Provinsi Gorontalo tidak

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran example non example berbantuan media pictorial

Berisi tinjauan umum mengenai bentuk pertunjukan teater dulmulok kelompok tiang balai desa kembiri dalam lakon asal usul pulau belitong. Bab