1 PENDAHULUAN
Perguruan tinggi merupakan tahap akhir opsional pada pendidikan formal yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan potensi yang mahasiswa miliki agar menghadapi pekerjanaan. Peran dalam perguruan tinggi melalui kegiatan mendidik dan mencetak tenaga kerja yang professional dan berkualitas dalam berbagai jurusan.
Terutama dalam akuntansi mahsiswa harus memiliki etika sebab etika profesi akuntansi yaitu suatu ilmu yang membahas perilaku atau perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia terhadap pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus sebagai akuntan. Chua &
Preston, (1994) menyatakan bahwa etika profesional juga berkaitan dengan perilaku moral yang lebih terbatas pada kekhasan pola etika yang diharapkan untuk profesi tertentu. Dengan demikian mahasiswa mampu bertindak jika terjadi suatu kecurangan dalam sebuah instansi terutama dalam dunia akademik. Kecurangan terjadi pada dunia akademik yang dilakukan seorang mahasiswa akan terus terjadi pada dunia kerja di masa depan, sebab sudah menjadi kebiasaan pada saat masih belajar. Seorang mahasiswa mimiliki wawasan yang hannya berorientasikan pada hasil serta nilai yang diperoleh, akan menjadi penyebab terjadinya dalam praktik-praktik kecurangan yang disebut sebagai fraud akademik.
Fraud akademik adalah suatu perbuatan yang diakukang dari siswa untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan cara yang tidak beretika. Lambertet al. (2003) menyatakan bahwa kecurangan akademik merupakan suatu intensitas perilaku yang tidak beretika. Kecurangan akademik merupakan perilaku mahaiswa tidak jujur yang berkaitan dengan proses akademis. Contoh kecurangan yang terjadi di kalangan mahasiswa adalah plagiarism yang dengan istilah 3M/ (mencontek, menyalin, meniru), menitip presensi, mengubah nilai akhir dan memanipulasi data ketika menulis tugas akhir.Berbagai alasan mendorong seorang mahasiswa untuk melakukan kecurangan akademik, misalkan tuntutan dari orang tua mahasiswa agar memperoleh nilai yang bagus dan prestasi akademik yang memuaskan. Kecurangan akademik merupakan tindakan seseorang pada saat menyelesaikan proses akademik dalam memberi dan menerima bantuan dari pihak lain dengan cara yang tidak jujur, (Kaufman, 2008). Imran & Ayobami, (2011) menyatakan bahwa seorang mahasiswa akan melakukan tindakan kecurangan akademik
2 karena suatu kebutuhan. Dengan kecurangan akademik yang terbiasa dilakukan oleh mahasiswa akan berakibat negatif bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Bintoro, Purwanto, & Noviyani, (2013) meyatakan bahwa dorongan dari seorang mahasiswa untuk melakukan kecurangan akademik, karena merasa tidak percaya diri dengan kemampuan dirinya sendiri.
Banyaknya tindakan kecurangan akademik yang dilakukan diberbagai ranah akademik Timor Leste menunjukkan sedikit atau bahkan belum adanya pendidikan di Timor Leste yang mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, khususnya dari sisi pembetukan karakter individu mahasiswa. Pendidikan tinggi juga tidak terhindar dari adanya tindakan kecurangan akademik. Banyak mahasiswa mengaku bahwa pernah membuat tindakan kecurangan sebab tugas yang sulit dan takut gagal dalam ujian sebab kurang memahami baik dengan materi pelajaran yang terlalu banyak. Dengan masalah seperti ini yang sering terjadi tetapi selama ini belum ada mahasiswa yang melakukan whistleblowing atas tindakan tersebut. Jika seorang mahasiswa sudah terbiasa dalam melakukan kecurangan maka ia akan tetap melakukannya di tempatnya bekerja sebab telah tertanam sejak mereka masih melakukan pendidikannya. Dengan masalah seperti ini dan realitas pendidikan yang belum berhasil sangat berdampak dan merusak moral peserta didik. Sebagai mahasiswa harus berani melakukan tindakan whistleblowing jika ada kecurangan, agar mampu terlepas tindakan-tindakan yang tidak etis. Sebab mahasiswa merupakan calon pemimpin pada generasi berikutnya untuk membangun bangsa dan negara di masa depan.
Whistleblowing adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk melaporkan kecurangan yang terjadi dalam organisasi, dengan kecurngan yang dilakukan oleh perusahaan maupun atasannya terhadap pihak lain (Elias, 2008). Whistleblowing adalah tindakan yang dilakukan atas sutu kecurangan dari seseorang mengenai suatu kecurangan terhadap pihak lain atau perusahaan. Semendawai & Haris, (2011) meyatakan bahwa seseorang yang telah membuat tindakan whistleblowing atas suatu kecurangan akan disebut whistleblower.Susmanschi(2012) menyatakan bahwa seseorang yang menyampaikan imformasi tentang kecurangan yang terjadi di dalam suatu organisasi, pada publik atau pihak yang berkepentingan akan disebut whistleblower. Keberadaan seorang whistleblower dalam perusahaan memegan peran yang sangat penting karena ia
3 yang mampu memperlihatkan skandal fraud yang terjadi. Untuk menjadi seorang whistleblower yang professional tidak mudah dan gampang, tetapi harus melakukan dengan keberanian dan keyakinan yang ia miliki. Seseorang yang telah melakukan tindakan whistleblowing dalam suatu organisasi akan menghadapi dilema etis pada umumnya saat mengambil suatu keputusan. Entah seseorang tersebut harus mengungkapkan atau membiarkan kecurangan yang terjadi.Nurkholis, (2015) menyatakan bahwa seseorang mungkin memandan whistleblower sebagai pelindung heroik, yang memiliki nilai etika yang baik dan diangap lebih penting daripada loyalitas kepada organisasi, akan tetapi dari pandangan lain whistleblower sebagai penghianat sebab sudah mengungkap rahasia perusahaan tersebut.
Berikut ini merupakan hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh Made Riandika et al,(2017) menyatakan bahwa sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku persepsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat melakukan whistleblowing atas kecurangan akademik.Suastawan et all, (2017) menyatakan bahwa sikap, norma subjektif berpengaruh terhadap niat seseorang untuk melakukan tindakan whistleblowing. Sikap dan norma subyektif memiliki pengaruh terhadap niat seseorang untuk melakukan tindakan whistleblowing,(Indra, 2019). Hasil berbeda diperoleh dari penelitia Putri, (2019)menyatakan bahwa persepsi dan norma subyektif tidak berpengaruh terhadap niat seseorang untuk melakukan tindakan whistleblowing atas kecurangan.Berdasarkan publikasi ilmiah dalam sejumlah penelitian dan perbedaan dari hasil penelitian terdahulu yang menunjukan bahwa penelitian ini masih jarang melakukan di Timor Leste.Dengan demikian penelitian ini mengunakan teori prilaku rencana atau dengan istilah Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai konsep yang menjelaskan tentang perilaku seorang individu yang timbul adanya niat yang melandasi perilakunya.
Terdapat tiga faktor utama dalam Theory of Planned Behavior yaitu sikap terhadap perilaku, norma subyektif dan persepsi kontrol atas perilaku. Perlunya diuji kembali beberapa faktor tersebut, khususnya pada mahasiswa Timor Leste yang memiliki lingkungan yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari.Dengan demikian penelitian ini penting untuk diteliti secara mendalam agar memastikan kesamaan dari penelitian terdahulu dan juga untuk menhindari praktik fraud dalam dunia akademik.
4 Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang bagaimana pegaruh sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku terhadap niat meaporkan kecurangan akademik di kalangan mahasiswa akuntansi di Timor Leste?.Penelitian ini menggunakan pendekatan data kuantitatif dengan metode survey, subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa S1 akuntansi dari Universidade Nasional Timor Lorosae (UNTL). Tujuan dari penelitian adalah untuk menemukan bukti empiris pengaruh sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku terhadap niat meaporkan kecurangan akademik di kalangan mahasiswa akuntansi di Timor Leste. Tujuan penelitian ini agar menjelaskan niat mahiswa untuk berperilaku dalam mengurangi kecurangan akademik, untuk menjelaskan kecurangan akademik yang sering dilakukan dikalangan mahasiswa agar dapat dikurangi tingkat kecurangan tersebut dan untuk memberikan gambaran proses melakukan tindakan whistleblowing atas kecurangan akademik. Sebagai seorang mahasiswa akunansi harus melaporkan suatu tindakan fraud yang terjadi dengan keberanian yang dimiliki. Sebab nantinya akan menjadi sarjana akuntan profesional dan berkompeten dibidang akuntansi.
Manfaat dalam penelitian ini agar mahasiswa akuntansi mampu memiliki keberanian untuk melakukan tindakan whistleblowing atas suatu kecurangan agar mendapatkan pemahaman bahwa whistleblowing sangat berguna dalam pembentukan moral yang baik.Kontribusi teoritis dari penelitian ini adalah memberikan penjelasan bahwa sikap individu berpengaruh positif terhadap niat whistleblowing atas kecurangan akademik.
Selain itu, norma subyektif menjadi aspek yang dapat memperkuat pengaruh persepsi kontrol perilaku terhadap niat whistleblowingatas kecurangan akademik. Secara praktik, penelitian ini memberikan informasi bagi kampus bahwa pentingnya mengetahui faktor yang mempengaruhi niat seorang mahasiswa dalam mengungkapkan kecurangan akademik agar kampus dapat merancang kebijakan dan melatih keberanian dalam mengungkap kecurangan yang terjadi.
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Perilaku Rencanaan Atau Theory Of Planned Behavior (TPB)
Teori perilaku rencanaanatau yang dikenal dengan (Theory of Planned Behavior/TPB) adalah perluasan dari Theory of Reasoned Action (TRA) yang
5 menjelaskan bahwa niat seseorang pada perilaku dibentuk oleh dua faktor utama yaitu niat terhadap perilaku dan norma subjektif yang dikenalkan oleh (Fishbein & Ajzen, 1975). Dalam Theory of Planned Behavior (TPB) ini ditambahkan satu faktor lagi yaitu kontrol perilaku persepsian, karena sebelunya teori ini memiliki beberapa keterbatasan di dalamnya.Guo et al., (2007) menyatakan bahwa Theory of Planned Behavior (TPB) dikembangkan untuk memperkuat Theory of Reasoned Action (TRA) dengan penambahkan variabel ini agar mengendalikan berbagai halangan untuk melakukan suatu perilaku yang berasal dari internal maupun eksternal dalam perusahaan. Variabel kontrol perilaku persepsian ini ditambahkan dalam TPB agar mengontrol perilaku seseorang yang dibatasi oleh kekurangan dan keterbatasan dari sumber daya yang digunakan untuk melekukan perilakunnya sendiri.Pada umumnya mengunakan Theory Of Planned Behavior ini untuk mengetahui niat seseorang tentang perlakuan suatu perilaku tertentu dalam beberapa faktor. Faktor-faktor yang terdapat pada Theory Of Planned Behavior ini terdiri dari sikap terhadap perilaku, norma subjektif dan kontrol perilaku persepsikan.
Mengunakan ketiga faktor tersebut untuk memprediksi niat seseorang, apakah dia mampu melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku nantinya.Faktor-faktor tersebut merupakan intensitas dari komponen dalam diri seseorang yang mengacu pada keinginannya untuk melakukan perilaku tertentu.
Theory of Planned Behavior ini dirancang agar dapat memberi pegangan untuk menganalisa komponen perilaku dalam item yang operasional, karena manusia adalah makhluk yang rasional dalam memperhitungkan selalu keterlibatan dari perilaku yang dilakukan sebelum memutuskannya.Hal ini mudah mempertimbangkan tipe-tipe yang dapat dipencegahkan, karena seeseorang tentu mengharapkan orang di sekitarnya agar menjalankan kehidupannya.Dalam Theory of Planned Behavior (TPB) ini dijelaskan bahwa tindakan seseorang yang dibuat berawal dengan niatnya sendiri.Niat seseorang dipengaruhi oleh keyakinannya sendiri, hal-hal yang bertentanggan dengan sebuah perilaku dari sisi positif maupun negatif yang cenderung bereaksi secara afektif pada suatu perilaku.Sikap seseorang terhadap suatu perilaku diperoleh dari keyakinan pada konsekuensi yang ditimbulkan dari fakror internal maupun eksternal.Sikap adalah suatu wahana dalam seseorang untuk membimbing perilakunya sesuai sikap yang dimilikinya untuk perilaku. Sikap merupakan keteraturan tertentu pada seseorang dalam hal perasaan, pemikiran, dan perilaku terhadap suatu aspek disekitarnya, (McKeen et al., 2013). Norma
6 subyektif dalam lingkungan social akan menghasilkan kesadaran dan tekanan seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Jika perilaku yang dilakukannya dianggap pengtin dan diterima dalam kehidupan orang-orang disekitarnya. Norma subyektif merupakan pengaruh sosial yang mempengaruhi seseorang untuk berperilaku, (Mas’ud, 2014). Kontrol perilaku persepsi sebagai suatu tindakan seseorang bagaimana untuk mengerti perilaku yang ditunjukkannya merupakan hasil pengendalian yang dilakukan oleh dirinya.Theory of Planned Behaviour ini menjelaskan tentang niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan dalam sebuah kewajiban sebagaihasil dari perilakunya. Semua orang pada umumnya mempunyai niat dalam dirinya untuk melakukan suatu kegiatan,hal tersebut akan menunjukkan perilaku positif yang dimiliki oleh orang tersebut.
Gambar 1. Theory Of Planned Behavior
Fraud Akademik
Kecurangan akademik adalah tindakan tidak beretika yang dilakukan oleh seorang mahasiswa untuk memperoleh nilai yang baik.Lisa(2013) meyatakan bahwa keinginan seseorang untuk mendapatkan kepuasaannya dalam hasil yang baik akan melakukan tindakan-tindakan yang curang dengan cara yang tidak beretika dan bermoral. Ketidak puasaan dengan hasil yang diperoleh sehingga mendoron mahasiswa agar melakukan fraud untuk memperoleh hasil yang diinginkan.Purnamasari, (2013) meyatakan bahwa kecurangan akademik merupakan suatu tindakan tidak beretika dalam dunia akademik yang dilakukan oleh seorang mahasiswa untuk memperoleh hasil yang diinginkannya.
Fihandoko, (2014) menyatakan bahwa kecurangan akademik merupakan suatu perbuatan
7 atau tindakan dari mahasiswa yang mencerminkan tidak adanya nilai keadilan didalamnya untuk mendapatkan keuntungan pada dirinya berupa keberhasilan akademik.
Kecurangan akademik sebagai kecurangan atau tindakan tidak etis yang dilakukan oleh seseorang di lingkungan akademik dengan menggunakan segala tidak jujur demi memperoleh keuntungan bagi dirinya, (Saidina, Nurhidayati, & Mawardi, 2017).
Niat Whistleblowing
Niat Whistleblowing merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk melaporkan kecurangan yang terjadi dalam organisasi, dengan kecurngan yang dilakukan oleh perusahaan maupun atasannya terhadap pihak lain. Biasannya whistleblowing terjadi melalui dua bagian yaitu internal maupun eksternal.Whistleblowing yang biasanya terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh rekannya kemudian melaporkan tindakan kecurangan tersebut kepada atasannya disebut Whistleblowing internal. Sedangkanyang biasanya terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh rekannya atau organisasi, kemudian melaporkan kepada pihak di luar organisasi atau penegak hukum karena kecurangan tersebut merugikan pihak lain disebut whistleblowing eksternal. Dari dua bagian pelaporan yang ada, anggota organisasi biasanya melaporkan melalui bagian internal sebab tekanan dari organisasi. Permasalahan yang dilaporkan melalui bagian internal hanya akan di ketahui oleh anggota dalam organisasi, namun permasalahan dilaporkan melalui bagian eksternal, maka publik akan mengetahui permasalahan yang sedan terjadi dalam organisasi, (Near & Miceli, 2016). Niat whistleblowing umumnya digambarkan sebagai niat seseorang yang melaporkan suatu kesalahan kepada pihak yang pengtin dalam organisasi yang mempunyai kekuatan untuk menghentikan tindakan kucurangan yang terjadi. Anggota dalam organisasi dapat melaporkan kesalahan organisasi ke publik atau pihak yang berwewenan dengan bukti kecurangan yang dimilikinya tersebut (Mbago, Mpeera Ntayi, & Mutebi, 2018). Niat whistleblowing merupakan kemungkinan dari niat seseorangdalam melakukan suatu tindakan yang bergantung pada sifat dan kejujuran, (Nopriani, 2019).
8 Pengembangan Hipotesis
Hubungan Antara Sikap Dengan Niat Whistleblowing AtasKecurangan Akademik
Sikap adalah keyakinan seseorang atas tindakannya yang dianggap benar atau tidak pada suatu objek.Sikap seseorang terhadap suatu informasi menunjukkan seberapa jauh orang itu merasakan bahwa informasi tersebut benar atau tidak. Sikap sebagai kecenderungan yang dipelajari untuk memberi respon atau menerima rangsangan terhadap obyek secara konsisten baik dalam rasa suka maupun tidak suka. Hays (2013) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antar sikap terhadap niat seorang akuntan untuk mengungkapkan suatu tindakan fraud akademik. Secara umum semakin besar kecenderungan sikap positif seseorang untuk melakukan whistleblowing semakin besar pula kemungkinan niat orang tersebut untuk melakukan tindakan whistleblowing atas fraud akademk, (Maulana Saud, 2016). Suastawan et al. (2017) menyatakan bahwa sikap memiliki hubungan yang kuat untuk mempengaruhi niat seseorang agar melakukan whistleblowing atas fraud akademik. Hal ini menunjukan bahwa semakin baik penilaian tentang sikap seseorang terhadap whistleblowing maka niat mahasiswa akuntansi untuk melakukan whistleblowingakan semakin tinggi pula. Penelitian yang telah membuktikan bahwa sikap berpengaruh positif pada niat seseorang untuk melakukan whistleblowing atas kecurangan terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh Hays (2013), Maulana Saud (2016) dan Suastawan et al. (2017). Dengan hasil penelitan yang sudah dijelaskan maka penelitian ini merumuskan hipotesis bahwa:
H1 : Sikap memiliki pengaruh terhadap niat whistleblowing atas kecurangan akademik Hubungan Antara Norma Subyektif Dengan Niat Whistleblowing Atas Kecurangan Akademik
Norma subjektif adalah pandangan dari seseorang yang dipertimbangkan agar melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu terhadap kepercayaan orang lain yang mempengaruhi minatnya sendiri.Norma subyektif adalah persepsi dari seseorang tentang kepercayaan orang lain yang akan mempengaruhi pertimbangan dalam berperilaku untuk melakukan suatu keputusan. Umumnya seseorang akan melakukan suatu tindakan tertentu, jika perilakunya dinilai penting bagi kehidupan orang lain maka akan tetap melakukannya. Sebab itu keyakinan normatif yang menciptakan kesadaran dan
9 tekanan dari norma subjektif pada lingkungan sosialnya, (Sulistomo & Prastiwi, 2012).
Norma subyektif memiliki hubungan yang kuat untuk berpengaruh niat seseorang untuk melakukan tindkan whistleblowing ataskecurangan akademik (Hays, 2013). Norma subjektif mempunyai pengaruh yang positif dan signnifikan terhadap niat seseorang untuk melakukan tindakan whistleblowing atas fraud akademik, (Suastawan et al., 2017). Latan et al, (2019) menyatakan bahwa norma subyektif memiliki penaruh yang positif terhadap niat internal dan eksternal whistleblowing atas kecurangan. Penelitian yang telah membuktikan bahwa norma subjektif berpengaruh positif dan signifikan terhaap niat whistleblowing atas kecurangan, terdapat pada penelitian yang dilakuan oleh Sulistomo
& Prastiwi, (2012), Hays,(2013), Suastawan et al., (2017) dan Latan et al, (2019).Dengan hasil penelitan yang sudah dijelaskan maka penelitian ini merumuskan hipotesis bahwa:
H2 : Norma subyektif memiliki pengaruh terhadap niat whistleblowing atas kecurangan akademik.
Hubunganr Anatara Kontrol Perilaku Dengan Niat Whistleblowing Atas Kecurangan Akademik
Kontrol perilaku adalah perasaan dari seseorang yang memiliki implikasi motivasional pada niat orang tersebut.Kontrol perilaku adalah keyakinan seseorang yang pernah melaksanakan maupun belum pernah melaksanakan perilaku tertentu.Kontrol perilaku juga diartikan sebagai persepsi seseorang mengenai kontrol yang dimilikinya sehubungan dengan tingkah laku tertentu.Pengendalian seseorang terhadap suatu tindakan disebabkan oleh yaitu faktor internal dan faktor esternal, misalkan keterampilan dan kemauan berasal dari faktor internal dan faktor eksternal berasal dari lingkungan dikeliling orang tersebut.Hays, (2013) menyatkan bahwa kontrol perilaku berpengaruh terhadap niat seseorang untuk melakukan whistleblowing atas suatu kecurangan. Kontrol perilaku berpengaruh terhadap niat melakukan seseorang untuk melakukan whistleblowing atas fraud akademik, (Suastawan et al., 2017). Latan et al, (2019) menyatakan bahwa norma subyektif memiliki pengaruh yang positif terhadap niat whistleblowing atas fraud. Indra, (2019) menyatakan bahwa kontrol perilaku terbukti memiliki pengaruh terhadap niat seseorang untuk melakukan tindakan whistleblowing atas fraud akademik. Penelitian yang telah membuktikan bahwa kontrol perilaku berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat whistleblowing atas kecurangan, terdapat
10 pada penelitian yang dilakuan oleh Hays, (2013), Suastawan et al., (2017), Latan et al, (2019) dan Indra, (2019). Dengan hasil penelitan yang sudah dijelaskan maka penelitian ini merumuskan hipotesis bahwa:
H3 : Kontrol Perilaku memiliki pengaruh terhadap niat whistleblowing atas kecurangan akademik.
Berikut ini merupakan model penelitian yang peneliti kembangkan:
Gambar 2. Model Penelitian
METODE PENELITIAN Desain Penelitian
Penelitian ini akan mengunakan desain causal explanatory, ini dimaksudkan agar lebih mengetahui dan mengembangkan konsep sesuai dengan keadaan dilapangan yang dilakukan antara variabel sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku persepsian terhadap niat whistleblowing atas fraud akademik. Penelitian mengunakan desain causal explanatory untuk menjelaskan tentang hubungan kausal antara variabel yang mempengaruhi hipotesis. Penelitian ini mengunakan jenis pendekatan data kuantitatif yang akan dijelaskan berdasarkan penghitungan jumlah dari setiap kategori yang diamati oleh peneliti. Penelitian ini mengunakan mahasiswa akuntansi yang ada di Universidade Nasional Timor Lorosae (UNTL) sebagai populasi penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.Penelitian ini mengunakan simple random sampling merupakan teknik pengambilan sampel dari anggota populasi yang dilakukan secara acak
11 tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner.Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yang digunakan untuk mengumpulkan data variabel sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku persepsi pada niat whistleblowing atas fraud akademik.
Variabel dan Pengukuran
Sikap merupakan suatu reaksi dari seseorang yang muncul untuk merespon pada suatu objek yang terjadi.Kemudian reaksi ini menciptakan perilaku seseorang terhadap objek tersebut dengan kelakuan tertentu.Sikap merupakan reaksi perasaan seseorang terhadap sesuatu yang sedag terjadi disekitarnya. Sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan orang tersebut dengan mendukun tidak mendukun tentang kezadian yang sedan terjadi (Azwar, 2013). Sikap bisa diartikan dengan suatu kesadaran dari seseorang terhadap lingkunganya. Objek yang ada disekitar seseorang akan berbentuk dan memberikan stimulus setelah mengenai alat indra orang tersebut melalui suatu imformasi.
Imformasi yang ditangkap akan terbentuk sikap seseorang mengenai suatu peristiwa kemudian diproses dalam otak agar memunculkan suatu reaksi terhadap peristiwa itu.
Sikap seseorang dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya dan informasi sebelumnya yang ia dapat untuk memunculkan suatu penilaian yang positif maupun negatif.
Norma subjektif merupakan persepsi atau asumsi seseorang tentang harapan dari orang lain untuk melakukan atau tidak suatu perilaku tertentu. Norma subjektif adalah pandangan seseorang yang dipertimbangkan agar melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu terhadap kepercayaan orang lain yang mempengaruhi minatnya. Norma subjektif menunjukan dari keyakinan normatif seseorang untuk melakukan perilaku tertentu dari lingkungan sosialnya. Tekanan sosial merupakan aspek utama yang dirasakan oleh seseoran untu orang-orang yang penting, (Zwolinski et al., 2015).
Kontrol perilaku yang dirasakan dari seseorang memiliki implikasi motivasional pada niat orang tersebut. Seseorang yang percaya bahwa dirinya tidak memiliki sumber daya dan intensitas yang kuat untuk melaksanakannya, walaupun ia memiliki sikap yang menyenangkan terhadap perilaku tersebut. Kontrol perilaku persepsi seseorang memiliki implikasi motivasional pada minat orang tersebut.Seseorang yang percaya dirinya,
12 bahwa ia tidak memiliki kesempatan yang ada untuk melakukan suatu perilaku tertentu degan sumber daya yang dimiliki. Seseorang tidak akan membentuk minatnya untuk berperilaku, walaupun ia memiliki sikap yang positif dan mempercayai bahwa orang lain akan mendukun perilaku yang ia lakukan, (Muqarrabin, Ifdhola, & Sheila, 2018).
Niat whistleblowing atas kecurangan akademik adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tentang kecurangan dalam dunia akademik. Niat whistleblowing atas fraud akademik adalah suatu keadaan dimana seseorang ingin melakukan suatu perilaku, pada fraud yang sedang terjadi dalam dunia akademik. Niat whistleblowing sebagai suatu bentuk keseriusan dari seseorang dalam salah satu situasi dengan tanggung jawab besar untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi, walaupun laporan tersebut memiliki dampak negative, (Kreshastuti & Prastiwi, 2014). Niat whistleblowing adalah kemauan dari seseorang dalam menyelesaikan atau melaporkan sesuatu dengan sukarela tampa disuruh oleh orang lain dalam pekerjaannya.
Pengukuran variabel yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu variabel niat whistleblowing atas fraud akademik (Y), data variabel sikap (𝑋1), data variabel norma sunjektif (𝑋2), dan data variabel kontrol perilaku persepsi (𝑋3). Penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan skala likert yang mempunyai 5 alternatif jawaban yaitu Sangat setuju, Setuju, Netral, Tidak setuju dan Sangat tidak setuju.
Indikator Penelitian
Tabel 1. Indikator Penelitian
Variabel Definisi Indikator Sumber Data
1. Sikap Sikap merupakan reaksi perasaan seseorang
terhadap sesuatu yang sedag terjadi disekitarnya.
Keyakinan Perilaku (behavioral belief)
Evaluasi Yang Penting (evaluation of important).
(Putra, 2018)
2. Norma Subyektif
Norma subjektif merupakan
2.1 Kepercayaan normative (normative belief)
13 persepsi seseorang
atau asumsi tentang harapan dari orang lain dengan suatu perilaku tertentu.
2.2 Motifasi (motivation)
3. Control Perilaku Persepsi
Kontrol perilaku yang dirasakan dari seseorang memiliki
implikasi
motivasional pada niat orang tersebut.
3.1 Kontrol keyakinan (control belief)
3.2 Kekuatan yang dirasakan (perceived power)
4. Niat
whistleblowing atas fraud akademik
Niat
whistleblowing
atas fraud
akademik merupakan keinginan
seseorang agar melakukan suatu tindakan tentang kecurangan dalam dunia akademik.
4.1 Niat Perilaku (behavioral intentios)
4.2 Keinginan perilaku (behavioral desire)
Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan Statistik deskriptif untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsian atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau
14 generalisasi. Untuk menguji kualitas instrument penelitian mengunakan uji validitas untuk mengetahui apakah setiap butir dalam instrumen itu valid atau tidak, dapat diketahui dengan cara mengkorelasikan antara skor butir dengan skor total. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dan bisa disebut tepat. Penelitian ini mengunakan juga uji reliabilitas untuk memastikan apakah kuesioner penelitian yang akan dipergunakan dalam pengumpulkan data variabel penelitian reliabel atau tidak. Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari perubah atau konstruk.Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.Reliabilitas suatu test merujuk pada derajat stabilitas, konsistensi, daya prediksi, dan akurasi. (Sugiyono, 2013).
Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda untuk menguji hipotesis agar mengenal dan membuktikan seberapa besar pengaruh antar variabel sikap, norma subyektif dan kontrol persepsi perilaku pada niat whistleblowing atas farud akademik di Timor Leste. Dengan demikian pembentuk model regresi linear berganda ini sudah melibatkan beberapa variabel persamaan regresi sebagai berikut :
Y = a0 + a1X1 + a2X2 + a3X3 + e Yaitu :
Y = Niat Whistleblowing atas farud akademik
X1 = Sikap
X2 = Norma Subyektif (NS)
X3 = Kontrol Persepsi Perilaku (KPP)
a0 = Konstanta
a1, a2, a3 = Koefisien
e = Error
15 HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Deskripsi
Hasil analisis dari mahasiswa jurusan akuntansi pada fakultas ekonomi dan bisnis di Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL) tengtan mean dan standar deviasi untuk variabel sikap (X1), norma subyektif (X2), control perilaku persepsi (X3) dan niat whistleblowing atas fraud akademik (Y) bisa di lihat dari tabel 2.
Tabel 3 menyajikan profil responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini, responden tersebut adalah mahasiswa dari jurusan akuntansi, fakultas ekonomi dan bisnis, Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL). Berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan bahwa berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden adalah perempuan 70,6 persen. Dari sisi usia, 21 dan 22 tahun memiliki 28,2 persen. Dalam kaitannya dengan tingkat semester, 45,9 persen responden dengan kedudukan di semester VII.
Tabel 2. Analisis Deskriptif One-Sample Statistics
N Mean
Std.
Deviation
Std. Error Mean
X1 85 36.8235 4.35938 .47284
X2 85 29.6706 5.18558 .56245
X3 85 43.7059 4.90826 .53238
Y 85 51.6588 6.60186 .71607
Tabel 3. Profil Responden
Uraian Kriteria Frekuensi Presentase (%)
Jenis kelamin Laki-laki 25 29.4%
Perempuan 60 70.6%
Usia 19 tahun 2 2.4%
16
20 Tahun 14 16.5%
21 Tahun 24 28.2%
22 Tahun 24 28.2%
23 Tahun 9 10.6%
24 Tahun 10 11.7%
25 Tahun 2 2.4%
Semester Semester III 1 1.2%
Semester V 30 35.3%
Semester VII 39 45.9%
Semester IX 11 12.9%
Semester XI 4 4.7%
Uji Validitas dan Reliabilitas
Tabel 7 (Lampiran) memperlihatkan bahwa hasil uji validitas pada seluruh item yang penelitian ini mengunakan adalah valid, ini bisa dilihat dari nilai r hitung yang lebih besar dari r tabel pada semua item, serta nilai signifikansi sebesar 0,000 yang mana lebih kecil dari 0,05, (Ghozali, 2012). Hasil analisis ini menunjukkan bahwa semua item yang digunakan dalam penelitian ini mampu mewakili variabel yang dimasukkan kedalam model. Sedangkan hasil dari penguujian reliabilitas, yang ditampilkan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa kelima variabel memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefesien reliabilitas dari kelima variabel yang lebih tinggi dari 0,7 (Ghozali, 2012). Dengan demikian diartikan bahwa item dari keempat variabel ini memiliki ketepatan ukur yang tinggi, sehingga bisa digunakan pada penelitian lainnya.
17 Uji Hipotesis
Uji hipotesis dapat digunakan untuk mengukur ada atau tidanya pengaruh variable Sikap, Norma Subjektif, dan Kontrol Perilaku Persepsi sebagai variabel independen dan niat whitsleblowing atas fraud akademik sebagai variabel dependen. Hipotesis yang diuji berkaitan dengan pengaruh antara keempat variabel.Teknik analisa yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda.Hasil analisis regresi linear berganda secara parsial maupun simultan bisa dilihat pada tabel 3.
Tabel 4, Hasil Analisis Regresi
Variable Coefficient Beta T Sig. Hasil
Sikap 0,732 0.484 4,578 0,000 H1 diterima
Norma Subjektif 0,518 0,407 9,441 0,000 H1 diterima
Kontrol Perilaku Persepsi 0,814 0,605 3,111 0,003 H1 diterima
R2 : 0,449
Adjusted R2 : 0,429 t Tabel : 2,000 Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa secara parsial variable sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku persipsi mempunyai pengaruh signifikan terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik. Hal ini dapat dilihat dari nilai probability.
Sikap secara parsial berpengaruh terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik.Hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitas sebesar 0,000 yang signifikan 5 persen.Selain itu hasil dari nilai coefficient sebesar 0,484 yang bernilai positif dan signifikan terhadap niat whistleblowing atas fraud akademik maka dapat dinyatakan bahwa H1 diterima.
18 Norma subjektif secara parsial berpengaruh terhadap niat whistleblowing atas fraud akademik.Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai probabilitas sebesar 0,000 yang
signifikan 5 persen.Selain itu dari nilai coefficient sebesar 0,407 yang bernilai positif dan signifikan terhadap niat whistleblowing atas fraud akademik maka dapat dinyatakan bahwa H2 diterima.
Kontrol perilaku persepsi secara parsial berpengaruh terhadap niat whistleblowing atas fraud akademik.Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai probabilitas 0,000 yang signifikan 5 persen.Selain itu dari nilai coefficient sebesar 0,605 yang bernilai positif dan signifikan terhadap niat whistleblowing ataskecurangan akademik maka dapat dinyatakan bahwa H3 diterima.
Hubungan sikap terhadap Niat Whistleblowing Atas Fraud Akademik
Temuan penelitian memperlihatkan sikap mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap niat whistleblowing atas kecurangan akademik yang dimiliki oleh mahasiswa S1 akuntansi di Timor-Leste.Temuan ini mengkonfirmasi hasil penelitian dari Hays (2013), Maulana Saud (2016), Suastawan at all (2017) yang menemukan bahwa sikap mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik.
Sikap dalam penelitian ini menggambarkan bagaimana sebagai seorang mahasiswa dalam mengambil suatu tindakan apabila menemukan atau menerima informasi tentang kesalahan pada suatu organisasi.Semakin bertambahnya pengalaman seseorang dan dapat dukungan dari infomasi maka semakin berani pula mereka dalam bertindak. Data karakteristik responden pada tabel 2 (Lampiran), dapat dilihat bahwa 46%
semester VII, 35% semester V, 13% semester IX, 5% semester XI, dan 1% semester III.
Dari hasil analisis deskriptif tersebut menunjukan bahwa mayoritas responden berasal
19 dari mahasiswa semester VII yang mana telah mempunyai kemampuan yang baik dalam memahami arti dari sikap. Sedangkan hasil analisis deskriptif mengenai usia responden mayoritas berusia 21 dan 22 tahun dengan tingkat 28 persen.
Namun bila melihat dari hasil nialai beta sebesar 0,487, diketahui bahwa sikap yang muncul dari seseorang untuk berperilaku dapat mempengaruhi niat dari mahasiswa S1 di Timor-Leste untuk melakukan tindakan whistleblowing atas farud akademik.Azwar, (2013) meyatakan bahwa hal ini dapat terjadi sebab sikap diartikan sebagai suatu reaksi atau respon yang muncul dari seorang individu terhadap objek yang kemudian memunculkan perilaku individu terhadap objek tersebut dengan cara-cara tertentu. Dengan demikian pentingnya seorang mahasiswa bersikap aktif untuk melaporkan suatu fraudyang terjadi dalam dunia akademik agar nantinya bisa menjadi whistleblowing yang baik dalam karirnya.
Hubungan norma subjektif terhadap Niat Whistleblowing Atas Fraud Akademik Temuan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa norma subjektif berpengaruh positif terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik yang dimiliki oleh mahasiswa akuntansi di Timor-Leste. Temuan dalam penelitian ini mengkonfirmasikan hasil yang diteliti oleh Sulistomo & Prastiwi, (2012), Hays,(2013), Suastawan et al., (2017) dan Latan et al, (2019) yang menemukan bahwa norma subjektif mempunyai pengaruh positif terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik.
Norma subjektif dalam penelitian ini mengambarkan seperti apa dukungan yang diterima oleh mahasiswa akuntansi di Timor-Leste, dari teman-teman terdekatnya ketika memutuskan untuk melakukan tindakan whistleblowing atas fraud akdemik. Semakin kuat dukungan yang diterima oleh mahasiswa, maka semakin kuat pula tekad untuk melakukan tindakan whistleblowing atas fraud akdemik.Dalam penelitian ini dukungan
20 untuk melakukan tindakan whistleblowing yang diterima oleh mahasiswa dapat terjadi bila lingkungan sosial yang dimiliki mempunyai pandangan yang baik mengenai niat whistlelowing itu sendiri. Berdasarkan dari hasil deskripsi tanggapan responden variabel
Norma Subjektif. Hal ini dapat dibuktikan dengan responden yang menjawab setuju dengan rata – rata senyak 48.38%, hasil ini dapat dilihat pada tabel 5 (Lampiran).
Norma subjektif dalam penelitian ini mempunyai pengaruh yang signifikan dan kuat terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik, yang dimiliki mahasiswa akuntansi di Timor-Leste. Apabila bila melihat dari nilai beta 0,407, diartikan bahwa norma subjektif memiiki peran paling penting dalam mempengaruhi niat whitsleblowing atas fraud akademik. Sebab Norma subjektif adalah persepsi atau pandangan seseorang terhadap kepercayaan-kepercayaan orang lain yang akan memengaruhi intensi/minat untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang sedang dipertimbangkan (Mintardjo, Mandey, & Binalay, 2016). Hal ini disebabkan oleh dukungan dari orang sekitar yang dapat meningkatkan tekad individu untuk melakukan tindakan whistleblowing atas fraud akademik. Oleh sebab itu sanggatlah penting bagi lingkungan sosial agar mempumyai pandangan dan persepsi yang positif mengenai niat seseorang dalam melakukan whistleblowing. Hal ini disebabkan oleh dukungan dari orang sekitar, dapat meningkatkan
tekad individu untuk melakukan tindakan niat whitsleblowing atas kecurangan akademik.
Hubungan antara kontrol perilaku persepsi terhadap Niat Whistleblowing Atas Fraud Akademik
Temuan penelitian memperlihatkan kontrol perilaku persepsiberpengaruh positif terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik yang dimiliki oleh mahasiswa akuntansi di Timor-Leste. Temuan dalam penelitian ini mengkonfirmasi dan mendukun hasil penelitian dari Hays, (2013), Suastawan et al., (2017), Latan et al, (2019) dan Indra,
21 (2019) yang menemukan bahwa kontrol perilaku persepsimempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik.
Kontrol perilaku persepsi dalam penelitian ini mengambarka bagaimana seorang mahasiswa mengontrolkan diri mengenai perilaku niat whitsleblowing atas fraud akademik.Semakin positif mahasiswa mengontrolkan perilakuya maka semakin baik pula tindakan mahasiswa dalam melakukan whistleblowing atas fraud yang terjadi. Pengaruh positif dan signifkan dari kontrol perilaku persepsi terhadap niat whistleblowing atas fraud akademik ini dapat terjadi sebab, berdasarkan uji statistik dari tabel 6 (lampiran)
yang menghasilkan nilai statistik t hitung 6.927 dengan T tabel sebesar 2.000 atau dengan signifikansi (p) ˂ 0.05.
Kontrol perilaku persepsi dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang positif terhadap niat whistleblowing atas fraud akademik pada mhasiswa akuntansi di Timor- Leste.sebab dengan besarniya nilai beta mencapai 0,605 yang mana paling tinggi dibandin variabel lainya. Kontrol perilaku persepsi adalah persepsi orang-orang terhadap kemudahan atau kesulitan untuk menunjukkan sikap yang diminati, (Primantara & Dewi, 2016). Jadi, seseorang akan memiliki niat untuk melakukan suatu perilaku apabila mereka memiliki persepsi bahwa suatu perilaku tersebut mudah untuk ditunjukkan atau dilakukan.
22 KESIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN DAN SARAN
Ketiga hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima. Sehingga ketiga variabel bebas dalam penelitian ini yaitu sikap (X1), norma subjektif (X2) dan kontrol perilaku persepsian (X3) terbukti memiliki pengaruh postif terhadap Niat Mahasiswa untuk melakukan tindakan Whistleblowing Atas Fraud Akademik. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Fishbein dan Ajzen untuk mengungkapkan bahwa orang akan melakukan suatu tindakan yang tidak akan mengancam atau merugikan dirinya.
Implikasi dalam penelitian ini ada dua yaitu implikasi teoritis dan praktis. Dari segi teoritis, hasil penelitian ini dapat memberikan penjelasan menegenai sikap mahasiswa terhadap niat whitsleblowing atas fraud akademik. Sedangkan sisi praktis, Univesidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL) perlu merancang dan melaih keberanian mahasiswa dalan mengungkap kecurangan yang terjadi.
Penelitian ini hanya dilakukan pada Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Universidade Nacional Timor Lorosa’e (UNTL), sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan pada semua Universitas di Timor-Leste. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengambil beberapa sampel dari berbagai Universitas baik swasta maupun negeri agar hasilnya bisa dapat digeneralisasikan. Penelitian ini hanya terbatas pada pengaruh sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku persepsion terhadap Niat Whistleblowing Atas Fraud Akademik.
Penelitian kedepan diharapkan dapat memperluas model yang sudah ada dengan menambah atau memasukkan lagi beberapa variabel lagi ke dalam model yang sudah ada agar menjadikan model yang lebih baik. Variabel-variabel yang mempengaruhi Niat Whistleblowing Atas Fraud Akademik misalnya, kepemimpinan, otonomi kerja,
keamanan, keadilan, kompensasi dan lain-lain. Penelitian yang akan datang mengenai
23 aspek yang sama sebaiknya melakukan pretest untuk memperkecil kemungkinan indikator-indikator yang tidak valid.
24 DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. (2013). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Sikap Manusia: Teori Dan Pengukurannya. https://doi.org/10.1038/cddis.2011.1
Bintoro, W., Purwanto, E., & Noviyani, D. I. (2013). Hubungan Self Regulated Learning Dengan Kecurangan Akademik Mahasiswa. Educational Psychology Journal.
Chua, W. F., & Preston, A. (1994). Worrying About Accounting In Health Care.
Accounting, Auditing & Accountability Journal.
https://doi.org/10.1108/09513579410064097
Elias, R. (2008). Auditing students’ professional commitment and anticipatory socialization and their relationship to whistleblowing. Managerial Auditing Journal.
https://doi.org/10.1108/02686900810857721
Fihandoko, S. (2014). Pengaruh sifat sinisme, lingkungan dan sifat machiavellian terhadap tindakan kecurangan akademik. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB UB.
Fishbein, M., & Ajzen, I. (1975). Belief, attitude, intention, and behavior: An introduction to theory and research. In Philosophy Rhetoric. https://doi.org/10.1002/cncr.26402 Ghozali, I. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19, Edisi
5, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Terhadap Penghindaran Pajak Di Perusahaan Manufaktur, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Guo, Q., Johnson, C. A., Unger, J. B., Lee, L., Xie, B., Chou, C. P., … Pentz, M. A.
(2007). Utility of the theory of reasoned action and theory of planned behavior for predicting Chinese adolescent smoking. Addictive Behaviors.
https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2006.07.015
Hays, J. B. (2013). An investigation of the motivation of management accountants to report fraudulent accounting activity: Applying the theory of planned behavior.
ProQuest Dissertations and Theses.
Imran, A. M., & Ayobami, O. R. (2011). Academic Dishonesty among Tertiary Institution Students: An Exploration of the Societal Influences Using SEM Analysis.
International Journal of Education. https://doi.org/10.5296/ije.v3i2.636
Indra, S. (2019). Analisis Persepsi Mahasiswa Terhadap Niat Melakukan Whistleblowing. Jurnal Penelitan Ekonomi Dan Bisnis.
https://doi.org/10.33633/jpeb.v3i1.2284
Kaufman, H. E. (2008). Moral and Ethical Issues Related to Academic Dishonesty on College Campuses. Journal of College and Character. https://doi.org/10.2202/1940- 1639.1674
Kreshastuti, D. K., & Prastiwi, A. (2014). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Whistleblowing (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Semarang).
Diponegoro Journal of Accounting.
25 Lambert, E. G., Hogan, N. L., & Barton, S. M. (2003). Collegiate academic dishonesty revisited: What have they done, how often have they done it, who does it, and why did they do it? Electronic Journal of Sociology.
Latan, H., Chiappetta Jabbour, C. J., & Lopes de Sousa Jabbour, A. B. (2019).
‘Whistleblowing Triangle’: Framework and Empirical Evidence. Journal of Business Ethics. https://doi.org/10.1007/s10551-018-3862-x
Lisa Amelia Herman. (2013). Pengaruh Keadilan Organisasi dan Soistem Pengendalian Intern terhadap Kecurangan [Effect of Organizational Justice and the Internal Control System on Fraud]. Jurnal Akuntansi.
Made Riandika Dwi Yoga, 1Edy Sujana, 2Made Aristia Prayudiu. (2017). Pengaruh Penalaran Moral, Sikap, Norma Subjektif, Dan Kontrol Perilaku Terhadap Niat Melakukan Whistleblowing Pada Kecurangan Akademik ( Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Program S1 Universitas Pendidikan Ganesha ). Akuntansi, 8.
Mas’ud, M. H. (2014). Pengaruh Sikap, Norma-Norma Subyektif dan Kontrol Perilaku Yang Dipersepsikan Nasabah Bank Terhadap Keinginan Untuk Menggunakan Automatic Teller Machine (Atm) Bank Bca di Kota Malan. Jurnal Manajemen Dan Akuntansi.
Maulana Saud, I. (2016). Pengaruh Sikap dan Persepsi Kontrol Perilaku Terhadap Niat Whistleblowing Internal-Eksternal dengan Persepsi Dukungan Organisasi Sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal Akuntansi Dan Investasi.
https://doi.org/10.18196/jai.2016.0056.209-219
Mbago, M., Mpeera Ntayi, J., & Mutebi, H. (2018). Does legitimacy matter in whistleblowing intentions? International Journal of Law and Management.
https://doi.org/10.1108/IJLMA-02-2017-0017
McKeen, N. a, Chipperfield, J. G., Campbell, D. W., Garnefski, N., Teerds, J., Kraaij, V.,
… Hs, M. (2013). Representation of The Elderly in a Malaysian English Daily.
Personality and Individual Differences. https://doi.org/10.5296/rae.v6i2.5578 Mintardjo, C. M., Mandey, S., & Binalay, A. G. (2016). Pengaruh sikap, norma subjektif
dan motivasi terhadap minat beli secara online pada mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis di manado. Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi.
https://doi.org/10.35794/emba.v4i1.11607
Muqarrabin, A. M., Ifdhola, R. Y., & Sheila. (2018). Effects of corporate image, brand personality and consumer perceived value on consumer attitude and intention to use du battery saver product. Pertanika Journal of Social Sciences and Humanities.
Near, J. P., & Miceli, M. P. (2016). After the wrongdoing: What managers should know
about whistleblowing. Business Horizons.
https://doi.org/10.1016/j.bushor.2015.09.007
Nopriani, F. (2019). Analisis Kepuasan Pengguna Sistem Informasi Akademik (Studi Kasus : UIN Raden Fatah Palembang). Systemic: Information System and Informatics Journal. https://doi.org/10.29080/systemic.v4i2.414
26 Nurkholis, R. B. (2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi minat pegawai negeri sipil (PNS) untuk melakukan tindakan whistleblowing (Studi pada PNS BPK RI). Jurnal Ekonomi Dan Keuangan.
Primantara, A., & Dewi, M. (2016). Pengaruh likuiditas, profitabilitas, risiko bisnis, ukuran perusahaan, dan pajak terhadap struktur modal. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana.
Purnamasari, D. (2013). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan akademik pada mahasiswa. Educational Psychology Journal.
Putra, A. and M. (2018). Persepsi Mahasiswa Diploma Iii Ekonomi. Jurnal Akuntansi Indonesia, 7(2), 1–11.
Putri, E. (2019). Persepsi Mahasiswa Akuntansi Tentang Keinginan Untuk Melakukan Whistleblowing ( Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta ). Ekonomi dan bisnis.
Saidina, D. A., Nurhidayati, H., & Mawardi, M. C. (2017). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kecurangan Akademik dalam Perspektif Fraud Triangle pada Mahasiswa Akuntansi Universitas Islam Malang. Jurnal Riset Akuntansi.
Semendawai, & Haris, A. (2011). Memahami Whistle Blower. Jakarta: Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.
Suastawan, I. M. D. P., Sujana, E., & Sulindawati, N. luh G. (2017). Pengaruh Budaya Organisasi, Proactive Fraud Audit, Dan Whistleblowing Terhadap Pencegahan Kecurangan Dalam Pengelolaan Dana Bos (Studi Empiris Pada sekolah-sekolah di Kabupaten Buleleng). E-Journal S1 Ak Univ. Pendidikan Ganesha.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif, Dan R&D.
https://doi.org/10.1007/s13398-014-0173-7.2
Sulistomo, A., & Prastiwi, A. (2012). Persepsi mahasiswa akuntansi terhadap pengungkapan kecurangan. Universitas Diponegoro.
Susmanschi, G. (2012). Internal Audit And Whistle-Blowing. Economics, Management, and Financial Markets.
Zwolinski, J., Bayley, A. D., Zou, W. T., Zeng, W. S., Zhang, L. J., Zeng, M., … Mollicone, D. (2015). Assessing Clearcutting Activities. New Forests.
https://doi.org/10.1051/forest