• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. commit to user

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. commit to user"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. GAMBARAN UMUM A. Kabupaten Sukoharjo

a. Sejarah Kabupaten Sukoharjo

Pada masa pendudukan Jepang, wilayah Karesidenan Surakarta pernah merupakan Daerah Istimewa yang dikenal dengan Solo Ko (Kasunanan) dan Mangkunegaran Ko (Mangkunegaran).

Wilayah Mangkunegaran meliputi daerah Kabupaten Karanganyar, Wonogiri, dan sebagian kota Solo. Sedangkan wilayah Kasunanan meliputi daerah Kabupaten Sragen, Klaten, Boyolali, dan Kabupaten Kutha Surakarta.

Sukoharjo pada waktu itu hanya merupakan suatu daerah tepi dengan pimpinan pemerintahan tertinggi adalah “Wedono”, tak ubahnya dengan Bekonang, dan Kartasura. Kawedanan Sukoharjo, Bekonang, dan Kartasura ini menjadi satu masuk wilayah Kabupaten Kutha Surakarta, di bawah pemerintah Kasunanan.

Pada tanggal 27 Mei 1946 Kabupaten Karanganyar secara defakto menyatakan diri lepas dari pemerintahan Mangkunegaran.

Hal ini kemudian diikuti oleh Kabupaten Boyolali dan Sragen yang juga menyatakan diri lepas dari pemerintahan Kasunanan.

Kabupaten Kutha Surakarta kemudian diputuskan pindah ke Sukoharjo. Bersamaan dengan munculnya gerakan anti Swapraja dan berbagai dukungan untuk membentuk pemerintah Kota Surakarta, akhirnya dengan suatu kebulatan tekad dari “Wong Solo”, mereka menyatakan berdirinya Pemerintah kota Surakarta yang lepas dari Kasunanan pada tanggal 16 Juni 1946. Tanggal ini kemudian menjadi hari lahir Pemerintah Daerah Kotamadya Surakarta

commit to user

(2)

Kemudian disusul keluarnya Penetapan Pemerintah Nomor: 16/SD tanggal 15 Juli 1946 lingkungan Karesidenan Surakarta dibentuk suatu daerah baru dengan kota Surakarta yang dikepalai oleh seorang Walikota. Dengan keluarnya Penetapan Pemerintah Nomor: 16/SD tanggal 15 Juli 1946, maka secara formal Pemerintah Kasunanan dan Mangkunegaran dipandang sudah tidak ada lagi, dan wilayah- wilayahnya untuk sementara menjadi wilayah Karesidenan Surakarta. Ini berarti wilayah Karesidenan Surakarta terdiri dari bekas wilayah-wilayah Mangkunegaran yaitu Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri, serta bekas wilayah Kasunanan yaitu Kabupaten Klaten, Sragen, Boyolali, dan Sukoharjo (Kawedanan Sukoharjo, Bekonang, Kartasura), ditambah Kotamadya Surakarta.

Keadaan ini mengilhami para pemimpin pada waktu itu untuk membentuk kabupaten baru di luar kota Surakarta agar ketiga kawedanan (Sukoharjo, Bekonang, Kartasura) dapat dibina dalam satu naungan pemerintah kabupaten. Kemudian secara spontan KNI Daerah Surakarta menunjuk KRMT Soewarno Honggopati Tjitrohoepojo untuk menjadi Bupati.

Atas dasar tersebut di atas serta pertimbangan analisa, logis dan kronologis yang dikaitkan dengan landasan yuridis meskipun landasan yuridis itu tidak bersifat mengatur secara khusus, maka pada hari Senin Pon tanggal 15 Juli 1946, saat ditetapkannya Penetapan Pemerintah Nomor: 16/SD tersebut ditetapkan menjadi Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo. Penetapan ini kemudian dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Sukoharjo No. 17 tahun 1986 tentang Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo, yang disahkan dengan SK Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah tanggal 15 Desember 1986 No. 188.3/480/1986 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Dati II Sukoharjo No. 3 Tahun 1987 Seri D No.2 tanggal 9 Januari 1987.

commit to user

(3)

b. Tata Letak Kabupaten Sukoharjo

Kabupaten Sukoharjo merupakan kabupaten terkecil kedua di Propinsi Jawa Tengah, Secara geografis, terletak di 110° 57’

33.70” BT - 110° 42’ 6.79” BT dan antara 7° 32’ 17.00” LS - 7°

49’ 32.00” LS. Dengan luas 46,666 Km2, atau 1,43% luas wilayah Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Sukoharjo memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut:

a) Sebelah Utara terdapat Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar

b) Sebelah Selatan terdapat Kabupaten Gunung Kidul (DIY) dan Kabupaten Wonogiri

c) Sebelah Barat terdapat Kabupaten Karanganyar

d) Sebelah Timur terdapat Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten

B. BKD Kabupaten Sukoharjo

a. Sejarah BKD Kabupaten Sukoharjo

Berdasarkan peraturan pemerintahan republik indonesia nomor 41 tahun 2007 tentang organisasi perangkat desa, maka dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kepala daerah dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan dan koordinasi, diwadahi dalam sekretariat, unsur pengawas yang diwadahi dalm bentuk inspektorat, unsur perencanaan yang diwadahi dalam bentuk badan, unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spresifik, diwadahi dalam lembaga teknis daerah, serta unsur pelaksana urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah.

commit to user

(4)

Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Sukoharjo terletak di Jalan Kyai Mawardi Nomor 01 (Gedung KPT Lt.02) Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. Dalam peraturan daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 3 tahun 2008 tentang organisasi dan tata kerja dinas daerah Kabupaten Sukoharjo, maka dibentuk organisasi dinas Kabupaten Sukoharjo Nomor 3 tahun 2008 menjadi peraturan daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 10 tahun 2011, perubahan pada peraturan daerah nomor 10 tahun 2011 ini meliputi perubahan terhadap fungsi DPPKAD, pergantian dan penambahan susunan organisasi DPPKAD.

Berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 12 tahun 2016, nama Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) berubah menjadi Badan Keuangan Daerah (BKD). Perubahan nama tersebut ditetapkan pada tahun 2017.

Sehingga mulai tahun 2017 nama DPPKAD berubah menjadi BKD dan akan terus berlaku sampai terjadiya perubahan atas peraturan daerah Kabupaten Sukoharjo yang terbaru nantinya.

b. Tugas Pokok dan Fungsi BKD Kabupaten Sukoharjo

Badan Keuangan Daerah Kabupaten Sukoharjo mempunyai tugas yaitu membantu bupati dalam melaksanakan tugas penunjang urusan pemerintahan di bidang keuangan daerah yang menjadi kewenangan daerah. Sedangkan fungsi Badan Keuangan Daerah, sebagai berikut:

1) Penyusunan kebijakan teknis di Bidang Keuangan Daerah 2) Pelaksanaan tugas dukungan teknis Bidang Keuangan Daerah 3) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksaan tugas dukungan

teknis di Bidang Keuangan Daerah.

4) Pembinaan teknis penyelenggaraan fungsi-fungsi penunjang urusan pemerintahan daerah di Bidang Keuangan Daerah.

5) Pelasaksaan fungsi kesekretariatan Badan Keuangan Daerah.

6) Pengendalian penyelenggaran tugas unit pelaksana teknis badan. commit to user

(5)

7) Pelaksana fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh bupati, sesuai dengan tugas dan fungsinya.

c. Visi dan misi BKD Kabupaten Sukoharjo 1) Visi

Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Sukoharjo mempunyai visi yaitu terwujudnya peningakatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya pengelolaan keuangan daerah dan peningkatan pendapatan daerah dengan semangat desentralisasi, demokratisi, transparansi dan akuntabilitas dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat.

2) Misi

BKD Kabupaten Sukoharjo mempunyai misi-misi yaitu sebagai berikut :

a) Menigkatkan kualitas sumber daya pengelolaan keungan daerah.

b) Meningkatkan fungsi perencanaan dan penyusunan anggaran daerah.

c) Meningkatkan fungsi pemungutan pendapatan daerah dan efisiensi belanja daerah.

d) Meningkatkan fungsi pengendalian kas daerah, pembendaharaan umum daerah dan verifikasi serta perhitungan anggaran, pertanggungjawaban keuangan daerah

commit to user

(6)

d. Struktur Organisasi BKD Kabupaten Sukoharjo

Gambar 1.1

Struktur Organisasi BKD Kabupaten Sukoharjo Sumber: BKD Kabupaten Sukoharjo

e. Deskripsi Jabatan BKD Kabupaten Sukoharjo

Berdasarkan Peraturan Bupati Sukoharjo Nomor 51 tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, Serta Tata Kerja Badan Daerah Kabupaten Sukoharjo. Susunan organisasi Badan Keuangan Daerah (BKD) terdiri dari: commit to user

(7)

a. Kepala b. Sekretariat c. Bidang

d. Unit Pelaksana Teknis Badan e. Kelompok Jabatan Fungsional

Berikut ini merupakan penjabaran dari susunan organisasi Badan Keuangan Daerah yaitu sebagai berikut:

a. Kepala

Badan keuangan daerah dipimpin olek seorang kepala badan yang mempunyai tugas membantu bupati dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan pemrintah di bidang keungan daerah yang menjadi kewenangan daerah.

b. Sekretariat

Sekretariat dalam hal ini adalah unsur pembantu pimpinan, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala badan keuangan daerah. Sekretariat bertugas untuk melaksanakan perumusan konsep dan pelaksana kebijakan, pengoodinasian, pemantauan, evaluasi, pelaporan meliputi keuangan, hukum, informasi kehumasan, keorganisasian dan ketatalaksanaan, pembinaan ketatausahaan, kearsipan, kerumahtanggaan, kepegawaian, pengelolaan dan penatausahaan aset, dan pelayanan administrasi di lingkungan badan keuangan daerah.

Sekretariat mempunyai fungsi yaitu sebagai berikut:

1. Pengoordinasian penyusunan kebijakan, rencana, progam, kegiatan, dan anggaran dilingkungan badan keuangan daerah.

2. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi keuangan, hukum, hubungan masyarakat, ketatausahaan, kearsipan, kerumahtanggan, dan pelayanan administrasi di lingkungan badan keuangan daerah.

commit to user

(8)

3. Pengoordinasian, pembinaan dan penataan organisasi dan tata laksana di lingkungan badan keuangan daerah.

4. Pengoodinasian dan penyusunan peraturan perundang- undangan serta pelaksanaan advokasi hukum di lingkungan badan keuangan daerah.

5. Pengoodinasian pelaksanaan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) dan pengelolaan informasi dan dokumentasi

6. Penyelenggaraan dan penatausahaan aset da pelayanan pengadaan barang/jasa di lingkungan badan keuanga daerah.

7. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan sesuai dengan lingkup tugasnya.

8. Pengelolaaan kepegawaian di lingkungan badan keuangan daerah.

9. Pelaksanaan fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan fungsinya.

Sekretariat terdiri atas:

1) Subbagian perencanaan dan keuangan

Tugas subbagian perencanaan dan keuangan adalah melaksnakan penyiapan behan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, serta laporan di bidang perencanaan, data, informasi, dan progam kerja, dan pengelolaan keuangan di lingkungan badan keuangan daerah.

2) Subbagian umum dan kepagawaian

Tugas sub bagian umum dan kepegawaian adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evalausi serta laporan yang meliputi pembinaan ketatusahaan, hukum, kehumasan, keorganisasian, ketatalaksanakan, kerumahtanggan, kearsipan, kepegawaian, pengelolaan dan penatausahaan aset commit to user

(9)

dan pelayanan administrasi di lingkungan badan keuangan daerah.

c. Bidang

Terdapat 5 (lima) bidang dalam susunan organisasi badan keuangan daerah kabupaten sukoharjo, yaitu sebagai berikut:

1) Bidang anggaran

Bidang anggaran adalah unsur penunjang fungsi pelaksana anggaran, berada dibawah tanggung jawab kepada kepala badan keuangan daerah. Tugas bidang anggaran adalah melakukan perumusan konsep dan pelaksanaan kebijakan, pengoodinasian, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi perencanaan anggaran, penyusunan anggaran, dan pelaksanaan anggaran. Selain melaksanakan tugas, bidang anggaran mempunyai fungsi, yaitu:

a) Perumusan petunjuk teknis kegiatan di bidang anggaran b) Pengoordinasian, pengembangandan fasilitas kegiatan

dibidang anggaran

c) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan di bidang anggaran.

d) Pelaksanaan fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan fumgsinya.

Bidang anggaran terdiri dari:

a) Subbidang perencanaan anggaran

Subbidang perencanaan anggaran mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi penyusunan rancangan dan nota pengantar kebijakan umum anggaran, prioritas dan plafon anggaran sementara beserta perubahanya.

commit to user

(10)

b) Subbidang penyusunan anggaran

Subbidang penyusunan anggran mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi penyusunan pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan anggaran, penelitian, pengesahan dan perubahan dokumen pelaksanaan perubahan anggaran perangkat daerah dan standar harga satuan pokok

2) Bidang pendapatan

Bidang pendapatan adalah unsur penunjang fungsi pelaksana pendapatan, berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala badan keunagan daerah. Bidan pendapatan bertugas untuk melakukan perumusan konsep dan pelaksanaan kebijakan, pengoordinasian, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi pendaftaran dan pendapatan, penetapan, dan penrimaan penagihan dan pelaporan. Selain melaksanakan tugas, bidang pendapatan mempunyai fungsi, yaitu:

a) Perencanaan progam dan kegiatan serta perumusan petunjuk teknis kegiatan di bidang pendapatan

b) Pengoodinasian, pengembangan dan fasilitasi kegiatan di bidang pendapatan

c) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan di bidang pendapatan

d) Pelaksanaan fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan fungsinya

Bidang Pendapatan terdiri dari:

commit to user

(11)

a) Subbidang pendaftaran dan pendataan

Tugas subbidang pendaftaran dan pendataan adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi pendaftaran dan pendataan objek pajak, pembuatan NPWPD, surat pemberitahuan pajak daerah, dan pemberitahuan lapangan ats data wajib pajak.

b) Subbidang penetapan

Tugas sub bidang penetapan adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksana, pemantauan, evalausi serta pelaporan meliputi pembuatan, penerbitan, dan pendistribusian surat ketetapan pajak daerah (SKPD), penerbitan dan pendistribusian surat tagihan pajak daerah (STPD), dan pembuatan nota perhitungan pajak daerah.

c) Sub bidang penerimaan, penagihan dan pelaporan

Tugas subbidang penerimaan, penagihan dan pelaporan adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi pengelolaan administrasi realisasi pajak daerah, pelaksanaan penagihan pajak daerah, pelaksanaan administrasi tunggakan pajak, penyusunan laporan realisasi pendapatan daerah dan pengendalian operasional pendapatan.

3) Bidang pembendaharaan

Bidang pendapatan adalah unsur penunjang fungsi pelaksana pendapatan, berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala badan keunagan daerah. Bidan pendapatan bertugas untuk melakukan perumusan konsep dan pelaksanaan commit to user kebijakan, pengoordinasian, pemantauan,

(12)

evaluasi serta pelaporan meliputi belanja langsung, belanja tidak langsung pengendalian kas. Selain melaksanakan tugas, bidang pembendaharaan mempunyai fungsi, yaitu:

a) Perumusan petunjuk teknis kegiatan dibidang pembendaharaan

b) Pengoordinasian, pengembangan dan fasilitasi kegiatan dibidang pembendaharaan;

c) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan dibidang pembendaharaan;

d) Pelaksanaan fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan fungsinya

Bidang Pembendaharaan terdiri dari:

a) Subbidang belanja langsung

Tugas subbidang belanja langsung adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi penelitian dukumen surat perintah membayar untuk belanja langsung, pengendalian penyediaan dokumen plafon anggaran, penerbitan, pencatatan dan pembuatan daftar surat perintah pencairan dana, dan dokumne persyaratan dan laporan untuk pencairan dana dari pemerintah provinsi dan pusat.

b) Subbidang belanja tidak langsung

Tugas subbidang belanja tidak langsung adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi penelitian dokumen surat perintah membayar untuk belanja tidak langsung dan pembiayaan, pengendalian penyediaan dokumen plafon anggran, penerbitan, pencatatan dan pembuatan daftar surat commit to user

(13)

perintah pencairan dana, dokumen persyaratan dan laporan untuk pencairan dana dari pemerintah provinsi dan pusat, rekapitulasi realisasi pembayaran gaji aparatur sipil negara dan penerbitan surat keterangan penghentiaan pembayaran.

c) Subbidang pengendalian kas

Tugas subbidang pengendalian kas adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi penerbitan surat penyediaan dana, administrasi penerimaan, pengeluaran dan penyimpanan setoran uang dan surat berharga, rekonsiliasi dengan kas daerah dan penyusunan aliran kas.

4) Bidang akuntasi dan pelaporan

Bidang akuntansi dan pelaporan adalah unsur penunjang fungsi pelaksana pendapatan, berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala badan keunagan daerah.

Bidang akuntansi dan pelaporan bertugas untuk melakukan perumusan konsep dan pelaksanaan kebijakan, pengoordinasian, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi pembukuan dan akuntansi, verifikasi, fasilitasi penyusunan laporan keuangan. Selain melaksanakan tugas, bidang akuntasni dan pelaporan mempunyai fungsi, yaitu:

a) Perumusan petunjuk teknis kegiatan di bidang akuntansi dan pelaporan.

b) Pengoordinasian, pengembangan dan fasilitasi kegiatan di bidang akuntansi dan pelaporan.

c) Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan dibidang akuntansi dan pelaporan.

commit to user

(14)

d) Pelaksanaan fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan fungsinya.

Bidang Akuntansi dan Pelaporan terdiri dari:

a) Sub bidang pembukuan dan akuntansi

Tugas sub bidang pembukuan dan akuntansi adalah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi penyusunan laporan realisisasi anggaran (LRA), laporan saldo anggaran lebih (SAL), lapora arus kas ((LAK), neraca, Laporan perubahan ekuitas (LPE), catatan ats laporean keuangan (CALK), laporan operasional (LO), dan rangcangan peraturan daerah tentang laporan pertanggung jawaban pelaksanaan APBD dan rancangan bupati tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

b) Sub bidang verifikasi

Sub bidang verifikas adlah melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanan, pemantauan, evaluasi serta pelaporan meliputi verifikasi surat pertanggungjawaban (SPJ) fungsional dan administrasi, verifikasi bukti penerimaan dan pengeluaran, lapaoran realisasi anggaran (LRA), laporan saldo anggarn lebih (SAL), laporan arus kas (LAK), Neraca, laporan perubahan ekuitas (LPE), catatan atas laporan keuangan (CALK), dan laporan operasional (LO)

c) Sub bidang fasilitasi penyusunan laporan keuangan

Tugas subbidang fasilitas penyusunan laporan keuangan adlah melakukan penyiapan bahan perumusan, evaluasi serta pelaporan meliputi bimbinga teknis dan sosialiasasi penyusunan laporan keuangan dan peraturan commit to user

(15)

baru, rancangan bary, rancangan peraturan bupati tentang kebijakan akuntansi, dan sistem dan prosedur akuntansi.

5) Bidang aset daerah

Bidang aset daerah adalah unsur penunjang fungsi pelaksana pendapatan, berada dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala badan keunagan daerah. Bidang aset daerah adalah perumusan konsep dan pelaksanaan kebijakan, pengoordinasian, pemantauan, evaluasi serta pelaporan penatausahaan aset daerah, pemanfaatan aset daerah dan perubahan stastus hukum aset daerah. Selain melaksanakan tugas, bidang aset daerah mempunyai fungsi, yaitu:

a) Perumusan petunjuk teknis kegiatan penatausahaan, penghapusan, pemanfaatan dan pemindahtanganan di bidang aset daerah.

b) Pengoordinasian, pengembangan, dan fasilitas kegiatan penerimaan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pengamanan dan pemeliharaan, pemanfaatan, penilaian, penghapusan, serta pemindahtanganan di bidang aset daerah.

c) Pelaksanaan monitorig, evaluasi, dan pelapora kegiatan perencanaan kebutuhan dan penganggaran, penatausahaan serta pengadaan di bidang aset daerah.

d) Pelaksanaan fungsi kedinasan lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan fungsinya

Bidang Aset Daerah terdiri dari:

a. Sub bidang penatausahaan aset daerah

Sub bidang penataushaaan aset daerah mempunyai tugas penyiapan bahan perumusan kebijakan, pengoordinasian, commit to user pengkonsolidasian, pembinaan,

(16)

pengendalian, dan pemberian, bimbinga meliputi, meliputi pelaporan aset daerah, pelaksanaan inventarisasi aset daerah, serta melaksanakan kegiatan pelatihan teknis peningkatan kemampuan pengelola aset daerah.

b. Sub bidang pendayagunaan dan pemanfaatan aset daerah Sub bidang pendayagunaan dan pemanfaatan aset darah mempunyai tugas penyiapan bahan perumusan kebijakan, pengoordinasian, pengkonsolidasian, pembinaan, pengendalian, dan pemberian bimbingan meliputi penyusunan laporan konsolidasi perencanaan kebutuhan dan pemeliharaan barang daerah, penyusunan konsolidasi laporan hsil pengadaan aset daerah, berita acara penyerahan hasil kegiatan, penetapan penggunaan aset daerah, lelang penggarapan tanah bekas bondo desa, pengelolaan dan pemberdayaan aset yang tidak ditangani perangkat daerah da fasilitasi tuntutan ganti rugi aset daerah

c. Sub bidang perubahan status hukum dan pengamanan aset daerah.

Sub bidang perubahan status hukum dan pengamanan aset daerah mempunyai tugas penyiapan bahan perumusan kebijakan, pengoordinasian, pembinaan, pengendalian, dan pemberian bimbingna meliputi usulan perubahan status hukum, penataan administrasi penghapusan aset daerah, konsolidasi aset daerah kondisi rusak berat, penilaian aset daerah dan pengamanan aset daerah.

d. Unit pelaksana teknis badan (UPTB)

Unit pelaksana teknis badan adalah unsur pelaksana teknis badan yang melaksanakan kegaiatan teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang tertentu. commit to user

(17)

e. Kelompok fungsional jabatan

Mempunyai tugas menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan singkronisasi, baik dalam lingkungan unit organisasi masing-masing mampu antar satuan organisasi di lingkungan pemerintah daerah dengan instansi lain diluar pemerintah daerah.

B. LATAR BELAKANG

Pajak daerah merupakan salah satu komponen dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan. Oleh karena itu, pajak daerah dikelola secara transparan dan profesional guna mengoptimalisasi dan meningkatkan kontribusi terhadap Pendapat Asli Daerah (PAD). Pajak daerah nantinya akan digunakan untuk mengoptimalkan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah, meningkatkan serta memeratakan kesejahteraan masyarakat.

Menurut perubahan UU No. 28 Tahun 2009, pajak daerah merupakan kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. Dari pengertian pajak tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil penerimaan pajak yang dibayarkan dari masyarakat merupakan wujud peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan untuk mewujudkan kesejahteraan dan pembangunan negara. Dan secara tidak langsung, masyarakat dapat merasakan dan menerima imbalan berupa perbaikan atau peningkatan fasilitas dan keperluan umum lainnya.

Pendapatan Asli Daerah Sukoharjo didapat dari berbagai aspek, salah satunya pajak daerah. Pajak daerah memiliki beberapa jenis yaitu diantaranya:

commit to user

(18)

a) Pajak hotel b) Pajak restoran c) Pajak hiburan d) Pajak reklame

e) Pajak penerangan jalan f) Pajak bahan galian g) Pajak parkir

h) Pajak air bawah tanah

i) Pajak Bumi dan Bangunan perdesaan dan perkotaan, dan j) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Dari pajak tersebut akan masuk ke dalam APBD yang kemudian dapat memengaruhi pendapatan dan pengeluaran daerah guna memperbaiki / meningkatkan fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat Sukoharjo.

Setiap jenis pajak daerah memiliki potensinya masing masing, salah satunya pajak penerangan jalan. Pajak penerangan jalan merupakan pajak atas penggunaan listrik. Listrik tak lepas dari keseharian kita. Hingga saat ini, masih banyak kegiatan usaha baik industri maupun non industri yang menggunakan tenaga listrik. Pajak penerangan jalan merupakan salah satu jenis pajak daerah yang angka pendapatannya paling tinggi di antara jenis pajak daerah lainnya yaitu pada tahun 2016 sebesar Rp 61.250.000.000 dan pada tahun 2019 mencapai Rp 70.000.000.000. Meskipun tidak terjadi perubahan tarif, peningkatan pajak penerangan jalan dari tahun 2016 – 2019 yang stabil diharapkan mampu memberikan kontribusi dan peran serta yang dapat memaksimalkan perkembangan pembangunan di Kabupaten Sukoharjo.

Belum banyak penulis yang membahas tentang pajak penerangan jalan yang memberikan kontribusi yang tinggi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Sukoharjo. Selain itu, dengan penyediaan dana yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka semestinya pemerintah juga mempertimbangkan efektivitas sekaligus mengevaluasi tingkat kontribusi pajak penerang jalan terhadap Pendapatan Asli Daerah agar tidak menurun kan standar pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Sukoharjo. commit to user

(19)

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai tingkat efektifvitas penerimaan Pajak Penerangan Jalan dari tahun ke tahun di Kabupaten Sukoharjo sehingga penulis mengambil judul

“ANALISIS EFEKTIVITAS, TINGKAT PERTUMBUHAN DAN KONTRIBUSI PAJAK PENERANGAN JALAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2016 s.d 2019”.

C. PERUMUSAN MASALAH

Atas dasar uraian di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Seberapa besar tingkat efektivitas penerimaan pajak penerangan jalan di Kabupaten Sukoharjo?

2. Bagaimana tingkat pertumbuhan penerimaan pajak penerangan jalan?

3. Bagaimana tingkat kontribusi pajak penerangan jalan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Sukoharjo?

4. Apa saja hambatan yang dialami dalam mengoptimalkan penerimaan pajak penerangan jalan di Kabupaten Sukoharjo?

D. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui tingkat efetivitas penerimaan pajak penerangan jalan di Kabupaten Sukoharjo.

2. Mengetahui tingkat pertumbuhan penerimaan pajak penerangan jalan.

3. Mengetahui tingkat kontribusi pajak penerangan jalan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Sukoharjo.

4. Mengetahui hambatan yang dialami dalam mengoptimalkan penerimaan pajak penerangan jalan di Kabupaten Sukoharjo.

commit to user

(20)

E. MANFAAT PENELITIAN

Berdasarkan uraian di atas, diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi Badan Keuangan Daerah Kabupaten Sukoharjo

Sebagai sumbangan pikiran dan masukan bagi Pemerintah Daerah khususnya Badan Keuangan Daerah yang diharapkan dapat membantu dalam meciptakan efisiensi untuk menjadi lebih baik dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari sektor pajak, khususnya Pajak Penerangan Jalan.

2. Bagi Penulis

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan di bidang perpajakan, khususnya tentang Pajak Penerangan Jalan sekaligus menjadi perbandingan dan mengaplikasikan antara teori atau terapan ilmu di bidang perpajakan yang telah diperoleh di bangku perkuliahan dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan.

3. Bagi Pihak Lain

Penelitian ini dapat digunakan sebagai literasi dan informasi bagi pembaca untuk menambah wawasan dan referensi sebagai bahan pembahasan mengenai perkembangan pajak daerah dalam pembuatan penelitian selanjutnya, khususnya bagi mahasiswa jurusan D3 Perpajakan yang sedang menyusun Tugas Akhir.

F. METODOLOGI PENELITIAN

Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode kualitatif yang dikaji dalam bentuk deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk menggunakan kesimpulan yang lebih luas (Sugiyono, 2009:21) dalam (Irmawati 2014:55). Pengumpulan data berlokasi di BKD Kabupaten Sukoharjo. commit to user

Referensi

Dokumen terkait

mempengaruhi juga tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat bukan peserta yang tinggal di sekitar lokasi program dalam ha1 kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam

Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan perilaku

Dengan hasil tersebut membuktikan bahwa variabel brand muhammadiyah dan kepercayaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap minat jasa koperasi keuangan syariah

Menu import laporan digunakan user untuk mengirim data laporan yang telah di diexport sebelumnya melalui menu report. Klik pada layanan apa yang akan user kirim setelah itu

Melalui latar belakang tersebut maka penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui bagaimana rasionalitas para tenaga pengajar dari yayasan katolik tersebut

PKM-e merupakan pakan yang baik digunakan sebagai pakan larva (maggot) Hermetia illucens untuk dapat menggantikan pakan ikan karena memiliki nutrisi berupa kandungan

Pemilihan teknologi yang tepat didapatkan pada perlakuan tumpangsari ubikayu digulud dengan kombinasi pupuk organik (P6), perlakuan tersebut secara efektif mampu menekan jumlah

bahwa sesuai ketentuan Pasal 28 ayat (1) Peraturan Daerah Kabupaten Blora Nomor 20 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota