• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menelaah Eksistensi Lembaga Pendidikan Islam (MI, Mts, dan MA) di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Menelaah Eksistensi Lembaga Pendidikan Islam (MI, Mts, dan MA) di Indonesia"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Menelaah Eksistensi Lembaga Pendidikan Islam (MI, Mts, dan MA) di Indonesia

Sandiko1

1STAI Nurul Huda Kapongan Situbondo [email protected] Abstract

At the philosophical and practical levels of Islamic education in Indonesia, there are various problems, both acute and factual. Acute problems such as the endless discourse between religious science and general science. While the factual problems are more related to the technical problems of implementing Islamic education. As for the map of Islamic education, it mostly covers religious education institutions, namely the discussion of the problems of Islamic education is more focused on obstacles that occur in institutions characterized by Islam, especially the elementary to middle school levels, namely Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah and Madrasah Aliyah. Therefore, the discussion of this journal will focus more on discussing the history of Islamic educational institutions and the development of madrasas in Indonesia? How do Madrasas and Islamic religious education actualize students in social life? And the Development of MI, MTs & MA Madrasas and Their Existence? So that it can be seen how the real existence of Islamic educational institutions based on madrasas in Indonesia is.

Keywords: Islamic education management, Islamic educational institutions, Indonesian education.

Abstrak

Pada tataran filosofis dan praksis pendidikan Islam di Indonesia tak luput dari bermacam persoalan baik yang bersifat akut maupun faktual. Persoalan akut seperti diskursus yang tak kunjung usai antara ilmu agama dan ilmu umum. Sementara problema faktual lebih terkait pada masalah-masalah teknis implementatif pelaksanaan pendidikan Islam. adapun Peta pendidikan Islam lebih banyak meliputi pada lembaga pendidikaan keagamaan yakni pembahasan problematika pendidikan Islam lebih dititik beratkan pada hambatan terjadi di lembaga yang bercirikan Islam terutama tingkat sekolah dasar hingga menengah yakni Madrasah Ibtidaiyah Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Karena itu pembahasan jurnal ini akan lebih fokus membahas tentang Bagaimana sejarah lembaga pendidikan islam dan perkembangan madrasah di indonesia? Bagaimana Madrasah dan pendidikan agama Islam mengaktualisasikan peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat? Dan Perkembangan Madrasah MI, MTs & MA serta Eksistensinya? Sehingga dapat diketahui bagaimana sesungguhnya eksistensi lembaga pendidikan islam yang berbasis madrasah di Indonesia.

Kata kunci: manajemen pendidikan islam, lembaga pendidikan islam, pendidikan Indonesia.

(2)

Latar belakang

Madrasah (Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah) sebagai salah satu unsur pendidikan nasional mempunyai peranan yang cukup penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional terutama dalam mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Peranan yang penting itu seirama dengan derap langkah pembangunan.Hal ini menjadi lebih penting lagi mengingat tugas madrasah adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh guna memasuki era otonomi daerah dan otonomi pendidikan.

Peningkatan kualitas merupakan salah satu prasyarat agar kita dapat memasuki era globlalisasi yang penuh dengan persaingan. Keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam tidak akan lepas dari persaingan global tersebut. Untuk itu peningakat kualitas merupakan agenda utama dalam meningkatkan mutu madrasah agar dapat survive dalam era global.

Pendirian madrasah oleh para pemuka muslim di berbagai pelosok negeri memainkan peranan yang sangat penting dalam membuka akses bagi masyarakat miskin dan terpencil untuk memperoleh layanan pendidikan. Komitmen moral ini dalam kenyataan tidak pernah surut, sehingga secara kelembagaan madrasah terus mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga sekarang.

Pendidikan keagamaan Islam merupakan sesuatu yang wajib diajarkan pada semua jalur dan jenjang pendidikan. Pelaksanaan pendidikan keagamaan Islam diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan. Peraturan Pemerintah ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari Undang- Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Madrasah merupakan terjemahan dari istilah sekolah dalam bahasa Arab. Namun, konotasi madrasah dalam hal ini bukan pada pengertian etimologi tersebut, melainkan pada kualifikasinya. Selama ini madrasah dianggap sebagai lembaga pendidikan Islam yang mutunya lebih rendah daripada mutu lembaga pendidikan lainnya (Faliyandra & Rosi, 2021).

Terutama sekolah umum, walaupun beberapa madrasah justru lebih maju daripada sekolah umum.

Apabila diamati secara mendalam, ada banyak faktor yang membuat kualitas madrasah rendah diantaranya adalah kondisi kultur masyarakat. Kondisi ini bisa berupa pandangan atau penilaian masyarakat terhadap madrasah (Qomar, 2007:81). Madrasah

(3)

dipersepsikan sebagai lembaga pendidikan kelas ekonomi, tidak bermutu, hanya mengajarkan agama semata, jurusan akhirat, tempat penampungan anak-anak orang miskin, bersistem kolot, dan sebagainnya. Semua persepsi tersebut merupakan hal yang salah kaprah karena tidak berdasar. Meskipun demikian, persepsi itu tetap bertahan memengaruhi masyarakat umum, yang selama ini memang jauh dari kehidupan madrasah. Mereka terpengaruh lantaran tidak mengetahui realitas yang sebenarnya.

Dengan adanya persepsi masyarakat tersebut maka madrasah dituntut mencari solusi untuk mengatasinya. Karena masyarakat memiliki peranan yang sangat penting terhadap keberadaan, kelangsungan, bahkan kemajuan lembaga pendidikan Islam. Setidaknya, salah satu parameter penentu nasib lembaga pendidikan Islam yang maju, hampir bisa dipastikan salah satu faktor keberhasilan tersebut adalah keterlibatan masyarakat yang maksimal. Begitu pula sebaliknya, bila ada lembaga pendidikan Islam yang bernasib memprihatinkan, salah satu penyebabnya bisa jadi karena masyarakat enggan mendukung.

Disini dapat dikatakan bahwa kepercayaan masyarakat menjadi salah satu kunci kemajuan lembaga pendidikan Islam. Ketika masyarakat memiliki kepercayaan terhadap lembaga pendidikan Islam, mereka akan mendukung penuh bukan saja dengan memasukkan purta-putrinya ke dalam lembaga pendidikan tersebut, tetapi bahkan memengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sebaliknya, ketika masyarakat tidak percaya, mereka bukan hanya tidak mau memasukkan putra-putrinya ke lembaga pendidikan tersebut, tetapi bahkan memprovokasi tetangga atau kawannya. Ini berarti masyarakat harus mendapat perhatian penuh dari pengelola lembaga pendidikan umumnya dan lembaga pendidikan Islam khususnya.

Masyarakat sebagai salah satu konsumen lembaga pendidikan sekarang ini lebih kritis dan realitas dalam memilih lembaga pendidikan. Sikap masyarakat seperti itu menuntut lembaga pendidikan untuk tetap menjaga dan meningkatkan image yang positif lembaganya di mata masyarakat. Untuk menjaga image (citra) positif tersebut dibutuhkan pengelolaan humas dengan efektif dan efisien serta profesionalisasi para praktisi humas di lembaga pendidikan tersebut, karena peran dan fungsi humas tidak dapat dipisahkan dari opini publik.

Disebabkan fungsi humas diantaranya mengelola opini publik guna menumbuhkan kemauan baik, partisipasi, dan keterlibatan dari publik dalam rangka menciptakan opini yang baik.

Pengertian opini publik adalah pendapat umum.

(4)

Dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan, maka persaingan antar lembaga semakin ketat sehingga menuntut lembaga untuk mempunyai strategi pemasaran mengelola pemasaran sebaik mungkin. Pemasaran atau marketing dalam pendidikan berbeda dengan marketing dalam bisnis. Marketing dalam pendidikan termasuk non profit organization. Karena Marketing dalam pendidikan yang dipasarkan adalah jasa pendidikan yang dibeli oleh konsumen. Muhaimin mengemukakan bahwa Pemasaran merupakan suatu proses yang harus dilakukan oleh sekolah/madrasah untuk memberikan kepuasan pada stakeholder dan masyarakat (Muhaimin, 2009:98).

Pembahasan

Pengertian Lembaga Pendidikan Islam

Dalam bahasa Inggris lembaga disebut institute (dalam pengertian fisik), yaitu sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dan lembaga dalam pengertian non-fiksi atau abstrak disebut institution yaitu suatu system norma untuk memenuhi kebutuhan. Lembaga dalam pengertian fisik disebut juga dengan bangunan, dan lembaga dalam pengertian non- fisik disebut dengan pranata (Ramayulis, 2002:277).

Secara terminology menurut Hasan Langgulung, Lembaga pendidikan adalah suatu system peraturan yang bersifat mujarrad, suatu konsepsi yang terdiri dari kode-kode, norma- norma, ideologi-ideologi dan sebagainya, baik tertulis maupun tidak tertulis, termasuk perlengkapan material dan organisasi simbolik: kelompok manusia yang terdiri dari individu- individu yang dibentuk dengan sengaja atau tidak, untuk mencapai tujuan tertentu dan tempat-tempat kelompok itu melaksanakan peraturan-peraturan tersebut adalah: masjid, sekolah, kuttab dan sebagainya (Lunggulung, 1988:12-13).

Lembaga pendidikan Islam dapat pula diartikan suatu wadah atau tempat berlangsungnya proses pendidikan Islam. Dari devinisi diatas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan itu mengandung pengertian konkret berupa sarana pra sarana dan juga pengertian yang abstrak, dengan adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu, serta penanggung jawab pendidikan itu sendiri. Sedangkan Sifat dan Karakter Lembaga Pendidikan Islam antara lain, a) lembaga pendidikan Islam bersifat holistic, terdiri dari lembaga pendidikan Informal, nonformal, dan formal. Bentuk lembaga Informal yaitu:

rumah (al-bait). bentuk lembaga pendidikan nonformal yaitu: masjid, al-Maristan, al- Zawiyah, al-Ribath, al-Kuttab, al- Hawanit al-Wariqin, al- Shalun Adabiyah, al- Badiyah dan al- Maktabat. sedangkan bentuk pendidikan formal yaitu madrasah, b) lembaga pendidikan

(5)

Islam bersifat dinamis, responsive, fleksibel, terbuka, dan religius, c) lembaga pendidikan Islam berbasis terhadap masyarakat.

Sejarah Pendidikan dalam Islam

Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di bumi. Proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an dan terjabar dalam sunnah Rasul bermula sejak Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajaran tersebut kepada umatnya.

Pertama, sejarah Pendidikan Islam pada Masa Kejayaan. Masa kejayaan Islam merupakan satu periode dimana pendidikan Islam berkembang pesat yang ditandai dengan berkembangnya lembaga pendidikan Islam dan madrasah (sekolah) formal serta universitas- universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Lembaga-lembaga pendidikan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan pola budaya umat Islam.

Kedua, membangun Lembaga Pendidikan. Yang dimaksud dengan lembaga pendidikan disini adalah tempat atau wadah yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, pengajaran, bimbingan, dan pelatihan, baik yang bersifat formal, nonformal, maupun informal. Termasuk didalamnya telah disebutkan bahwa dimasa kekuasaan khalifah Abbasiyah telah muncul lembaga pendidikan, yaitu: al-Hawaniet al-Wariqin (toko buku), al- Manazil al-Ulama (rumah para ulama), al-Salon al-Adabiyah (sanggar sastra), Madrasah (lembaga pendidikan formal), Bait al-Hikmah (rumah kegiatan ilmu), Observatorium, al- Ribath dan al-Zawiyah (tempat pengajaran dan praktik thariqat yang mengambil tempat di masjid (Nata, 2011:170).

Ketiga, masa Kemunduran Pendidikan Islam. Kehidupan sufi berkembang dengan pesat, keadaan frustasi yang merata dikalangan umat, menyebabkan orang kembali kepada Tuhan (bukan hanya sekedar dalam sikap hidup yang fatalistis), dalam arti yang sebenarnya, bersatu dengan Tuhan, sebagaimana yang diajarkan oleh para sufi. Madrasah-madrasah yang ada dan yang berkembang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan sufi. Madrasah-madrasah berkembang menjadi zawiyah-zawiyah untuk mengadakan riyadlah, merintis jalan untuk kembali dan menyatu dengan Tuhan, dibawah bimbingan dan otoritas dari guru-guru sufi (Zuhairini, 1986:111).

(6)

Madrasah di Indonesia

Di Indonesia, pada awal berdirinya, sebagian besar madrasah masih lebih banyak memberikan ilmu-ilmu keagamaan daripada ilmu-ilmu umum, namun terjadi perubahan seteah keluarnya Surat Keputusan Tiga Menteri yaitu menteri agama, menteri pendidikan dan kebudayaan, daan menteri dalam negeri, yang berisi ketentuan agar semua madrasah mengubah kurikulumnya menjadi 70% bidang umum dan 30% bidang studi agama. Hal ini berlaku bagi madrasah negeri yang dikelola oleh Kementerian Agama Republic Indonesia, sedangkan madrasah yang dikelola oleh swasta, terdapat beberapa variasi yakni ada 60%

bidang studi agama dan 40% bidang studi umum, dan ada pula yang tetap yakni 70% bidang studi agama dan 30% bidang studi umum. Kehadiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam, memiliki beberapa latar belakang yaitu, a) sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan system pendidikan Islam, b) usaha penyempurnaan terhadap system pesantren ke arah suatu system pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sama dengan lulusan sekolah umum, c) adanya sikap pada sebagian kalangan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada barat sebagai system pendidikan mereka, d) sebagai upaya untuk menjembatani antara system pendidikan tradisional yang dilakukan oleh pesantren dan system pendidikan modern.

Selain itu, menurut Dedi Supardi, madrasah seperti MI, MTs, dan MA adalah lembaga pendidikan umum yang mempunyai cirri khas agama, yaitu agama Islam. Akan tetapi lembaga pendidikan ini tetap memberikan porsi yang lebih banyak kepada materi pendidikan keagamaan dibandingkan dengan lembaga pendidikan umum non-keagamaan.

Pelaksanaan pendidikan agama dan keagamaan melalui pendidikan keagamaan berada di bawah koordinasi Departeman Agama (sekarang: Kementerian Agama). Dedi mengatakan bahwa lembaga pendidikan keagamaan ini juga adalah merupakan salah satu sarana pendidikan agama dan budi pekerti, karena pendidikannya berpusat pada agama (Supriadi, 2004:130).

Pada madrasah, paling tidak ada dua kepentingan bertemu, yaitu hasrat kuat masyarakat Islam untuk berperan serta dalam pendidikan dan motivasi keagamaan yang menyertainya.

Indikasi ini dapat dilihat dari fakta bahwa banyak madrasah (pada awalnya) berafiliasi dengan pondok pesantren (Supriadi, 2004:137).

Kedudukan Madrasah dalam Sistem Pendidikan Nasional

(7)

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan nasional (UUSPN), madrasah memiliki kedudukan dan peran yang sama dengan lembaga pendidikan lainnya (persekolahan).

Namun demikian perhatian pemerintah terhadap keberadaan madrasah masih sangat kurang, bahkan menurut Yahya Umar menyebutnya sebagai “forgotten community”. Pernyataan Yahya Umar tersebut bagi banyak orang mungkin mengejutkan, namun realitas membenarkannya. Berdasarkan data yang dikeluarkan Center for Informatics Data and Islamic Studies (CIDIES) Departemen Agama dan data base EMIS (Education Management Syatem) Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama, jumlah madrasah (Madrasah Ibtidaiyah/MI (SD), Madrasah Tsanawiyah/MTs (SMP) dan madrasah Aliyah/MA (SMA)) sebanyak 36.105 madrasah (tidak termasuk madrasah diniyah dan pesantren). Dari jumlah itu 90,08 % berstatus swasta dan hanya 9,92 % yang berstatus negeri.

Kondisi status kelembagaan madrasah ini dapat digunakan untuk membaca kualitas madrasah secara keseluruhan, seperti keadaan guru, siswa, fisik dan fasilitas, dan sarana pendukung lainnya, karena keberadaan lembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah di tanah air pada umumnya sangat tergantung kepada pemerintah. Atas dasar itu, tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa madrasah-madrasah swasta yang berjumlah 32.523 buah mengalami masalah yang paling mendasar yaitu berjuang keras untuk mempertahankan hidup, bahkan sering disebut lâ yamûtu walâ yahya (tidak hidup dan perlu banyak biaya (agar tidak mati)). Namun demikian, madrasah bagi masyarakat Indonesia tetap memiliki daya tarik. Hal ini dibuktikan dari adanya peningkatan jumlah siswa madrasah dari tahun ke tahun rata-rata sebesar 4,3 %, sehingga berdasarkan data CIDIES, pada tahun 2005/2006 diperkirakan jumlah siswanya mencapai 5, 5 juta orang dari sekitar 57 juta jumlah penduduk usia sekolah di Indonesia (Tobirin, 2012).

Perkembangan pendidikan Islam Madrasah (MI, MTs dan MA)

Secara legal, madrasah sudah terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional sejak di- berlakukannya Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perkembangan madrasah kemudian berlangsung cepat. Di tingkat MI, siswanya mencapai 11 persen dari total siswa tingkat dasar. Di tahun 1999, terdapat 21.454 MI dan sekitar 93,2 persennya diselenggarakan oleh pihak swasta1.

11 Potret Madrasah Ibtidaiyah Di Indonesia: Menyoal Revitalisasi Madrasah Ibtidaiyah di Era Otonomisasi Daerah, (situs: myownreport.wordpress.com, 25 Juni 2011), diakses: 19 Desember 2012, 02.00.

(8)

Di tahun 1972 terdapat sekitar 22.000 madrasah setingkat SD. Sementara itu, berdasarkan data yang dikeluarkan kemenag, jumlah keseluruhan siswa MI hingga tahun 2007/2008 mencapai 2.870.830 anak. Dari data-data ini dapat diketahui bahwa sebenarnya madrasah ibtidaiyah mengalami peningkatan, terlihat dari jumlah pendaftar MI yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hanya saja yang perlu untuk selalu dikembangkan ialah mutu dari madrasah ibtidaiyah itu sendiri, seperti yang penulis ungkapkan pada bagian

“Kedudukan Madrasah dalam Sistem Pendidikan Nasional” di atas.Sementara itu, madrasah boleh dikatakan sebagai fenomena baru dari lembaga pendidikan Islam yang ada di Indonesia, yang kehadirannya sekitar permulaan abad ke-20 (Depag, 2006)..

Namun dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajarannya masih belum punya keseragaman antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, terutama sekali menyangkut kurikulum dan rencana pelajaran. Usaha ke arah penyatuan dan penyeragaman sistem tersebut, baru dirintis sekitar tahun 1950 setelah Indonesia merdeka. Dan pada perkembangannya madrasah terbagi dalam jenjang-jenjang pendidikan; Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Salah satu pilar pendidikan nasional adalah perluasan dan pemerataan akses pendidikan.

Upaya perluasan dan pemerataan akses pendidikan yang ditujukan dalam upaya perluasan daya tampung satuan pendidikan dengan mengacu pada skala prioritas nasional yang memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik dari berbagai golongan masyarakat yang beraneka ragam baik secara sosial, ekonomi, gender, geografis, maupun tingkat kemampuan intelektual dan kondisi fisik. Perluasan dan pemerataan akses memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi penduduk Indonesia untuk dapat belajar sepanjang hayat dalam rangka peningkatan daya saing bangsa di era globalisasi.

Pendirian madrasah oleh para pemuka muslim di berbagai pelosok negeri memainkan peranan yang sangat penting dalam membuka akses bagi masyarakat miskin dan terpencil untuk memperoleh layanan pendidikan. Komitmen moral ini dalam kenyataan tidak pernah surut, sehingga secara kelembagaan madrasah terus mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga sekarang. Berdasarkan statisik pendidikan Islam tahun 2007, laju pertumbuhan madrasah dalam lima tahun terakhir mencapai rata-rata kisaran 3% per tahun dan lebih dari 50% madrasah berada di luar Jawa yang terdistribusi di daerah pedesaan.Sumbangan madrasah dalam konteks perluasan akses dan pemerataan pendidikan tergambar secara jelas dalam jumlah penduduk usia sekolah yang menjadi peserta didik madrasah. Pada tahun

(9)

2007, jumlah seluruh peserta madrasah pada semua jenjang pendidikan sebesar 6.075.210 peserta didik. Adapun Angka Partisipasi Kasar (APK) madrasah terhadap jumlah penduduk usia sekolah pada masing-masing tingkatan adalah 10,8% MI, 16,4% MTs, dan 6,0% MA.

Kontribusi APK tersebut tersebar berasal dari madrasah swasta pada masing-masing tingkatan (Depag, 2006).

Sumbangan lain dari madrasah dalam pembangunan pendidikan nasional adalah dalam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) sembilan tahun. Program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun pada pendidikan madrasah dikembangkan melalui Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Jumlah MI sebanyak 22.610 buah dengan 3.050.555 peserta didik. Jumlah MTs sebanyak 12.498 buah dengan 2.531.656 peserta didik. Jumlah peserta didik dalam program wajib belajar pendidikan sembilan tahun terdiri dari 47,2% peserta didik MI dan 31,8 peserta didik MTs. Sisanya 21,0% peserta didik/santri pondok pesantren salafiah. Kontribusi madrasah terhadap penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun cukup lumayan besar mencapai 17%.

Meskipun belum tercapai, namun diharapkan sampai tahun 2009 dapat dituntaskan.

Kriteria tuntas adalah angka partisipasi kasar (APK) mengikuti pendidikan SMP atau Madrasah Tsanawiyah mencapai 95%. Sampai tahun 2008 baru mencapai sekitar 92,3%.

Angka sisanya yaitu sekitar 2,7 % diharapkan pada tahun 2009 dapat dicapai angka partisipasi kasar pendidikan dasar sembilan tahun hingga 95%. Artinya wajib belajar pendidikan dasar pendidikan dasar sembilan tahun itu dianggap tuntas, meskipun 95%

masih ada sisanya 5%. Angka 5% dari 50 juta anak usia sekolah bisa dikatakan lumayan banyak yang tercecer, tetapi bisa dianggap selesai.

Sedangkan jika dilihat secara keseluruhan termasuk Madrasah Aliyah, kontribusi madrasah dari mulai MI sampai MA terhadap angka partisipasi mengikuti pendidikan di berbagai jenjang pendidikan secara agregat atau secara keseluruhan itu bisa mencapai 21%.

Bukan angka sedikit 21% dari sekitar 60 juta penduduk. Artinya masyarakat terutama madrasah telah memberikan andil pada upaya-upaya pemerintah menyediakan lembaga- lembaga pendidikan yang cukup besar. Di samping kenaikan APK, indikator lain dari percepatan penuntasan program wajib belajar sembilan tahun adalah semakin menurunnya angka drop out pada tahun 2006 sebesar 0,6 % menjadi 0,4 % pada tahun 2007 untuk MI dan untuk MTs sebesar 1,06 % pada tahun 2006 menjadi 1,02 % pada tahun 2007. Pada

(10)

tahun 2008 angka drop out pada MI dan MTs diperkirakan turun 1,04 % sedangkan APK pada MI dan MTs masing-masing mencapai 14,75 % dan 20,70 % (Depag, 2008).

Eksistensi Pendidikan Islam Madrasah (MI, MTs & MA)

Melihat kenyataan sejarah, kita tentunya bangga dengan sistem dan lembaga pendidikan Islam madrasah yang ada di Indonesia. Apalagi dengan metode dan kurikulum pelajarannya yang sudah mengadaptasi sistem pendidikan serta kurikulum pelajaran umum. Peran dan kontribusi madrasah yang begitu besar itu pada gilirannyasejak awal kemerdekaan sangat terkait dengan peran Departemen Agama yang mulai resmi berdiri 3 Januari 1946. Lembaga inilah yang secara intensif memperjuangkan politik pendidikan Islam di Indonesia.

Orientasi usaha Departemen Agama dalam bidang pendidikan Islam bertumpu pada aspirasi umat Islam agar pendidikan agama diajarkan di sekolah-sekolah, di samping pada pengembangan madrasah itu sendiri. Perkembangan serta kemajuan pendidikan Islam terus meningkat secara signifikan. Hal itu dapat dilihat misalnya pada pertengahan dekade 60-an, madrasah sudah tersebar di berbagai daerah di hampir seluruh propinsi Indonesia.

Dilaporkan bahwa jumlah madrasah tingkat rendah pada masa itu sudah mencapai 13.057. dengan jumlah ini, sedikitnya 1.927.777 telah terserap untuk mengenyam pendidikan agama. Laporan yang sama juga menyebutkan jumlah madrasah tingkat pertama (tsanawiyah) yang mencapai 776 buah dengan jumlah murid 87.932. Adapun jumlah madrasah tingkat Aliyah diperkirakan mencapai 16 madrasah dengan jumlah murid 1.881.

Dengan demikian, berdasarkan laporan ini, jumlah madrasah secara keseluruhan sudah mencapai 13.849 dengan jumlah murid sebanyak 2.017.590. Perkembangan ini menunjukkan bahwa sudah sejak awal, pendidikan madrasah memberikan sumbangan yang signifikan bagi proses pencerdasan dan pembinaan akhlak bangsa (Depag, 2008).

Dalam konteks kekinian, image madrasah atau sekolah Islam telah berubah. Madrasah sekarang tidak lagi menjadi sekolah Islam yang hanya diminati oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Melainkan sudah diminati oleh siswa-siswa yang berasal dari masyarakat golongan kelas menengah ke atas. Hal itu disebabkan sekolah-sekolah Islam atau madrasah elit yang sejajar dengan sekolah-sekolah umum sudah banyak bermunculan.

Diantara madrasah atau sekolah Islam itu adalah; Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, Sekolah Islam al-Azhar, Sekolah Islam al-Izhar, Sekolah Islam Insan Cendekia, Madania School, dan lain sebagainya.

(11)

Kemampuan bahasa asing yang bagus di era globalisasi seperti sekarang ini mutlak diperlukan. Oleh karena itu, di beberapa madrasah dan sekolah Islam itu kemudian tidak hanya memberikan pengetahuan bahasa Inggris saja. Lebih dari itu, pengetahuan bahasa asing lainnya juga absolut diajarkan oleh madrasah seperti bahasa Arab misalnya. Atau bahasa Jepang, Mandarin dan lainnya pada tingkat Madrasah Aliyah. Di samping itu, dalam menghadapi era globalisasi, madrasah sebagai institusi pendidikan Islam tidak lantas cukup merasa puas atas keberhasilan yang telah dicapainya dengan memberikan pengetahuan bahasa asing kepada para siswanya dan desain kurikulum pendidikan yang kompatibel dan memang dibutuhkan oleh madrasah (Mustofa, 1999:155).

Dari pendidikan keterampilan nantinya diharapkan akan berguna ketika para siswa lulus dari madrasah. Karena jika sudah dibekali dengan pendidikan keterampilan, ketika ada siswa yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi seperti universitas misalnya, maka siswa dengan bekal keterampilan yang sudah pernah didapatnya ketika di madrasah tidak akan kesulitan lagi dalam upaya mencari pekerjaan.

Kesimpulan

Almuhafadhoh ala qodimis sholeh, wal akhdu bijadidil ashlah, ini adalah sebuah solusi yang mungkin bisa memecahkan permasalahan yang mengakar ditubuh madrasah sekarang ini, seperti yang telah di paparkan diatas bahwa softskil atau keterampilan siswa itu sangatlah urgen dalam perkembangan pendidikan siswa. Kita tahu bahwa image yang ada tentang madrasah cenderung mengarah ke sesuatu yang bersifat agamis saja, berbeda dengan Sekolah Umum yang masyhur dengan sainsnya. Semua itu bisa kita rubah dengan tetep mempertahankan dasar madrasah sebagai wadah pendidikan yang bersifat agamis, tanpa mengenyampingkan ilmu pengetahuan umum atau dalam hal ini adalah sains dan keterampilan.

Solusi yang kedua adalah dengan mempertimbagkan kembali ide yang sebenarnya sudah lama disuarakan oleh beberapa kalangan, yaitu adanya pendapat yang menginginkan

“pendidikan satu atap” di negeri ini. Seperti yang diungkapkan bahwa fenomena penganaktirian madrasah sesungguhnya adalah konsekwensi dari pemberlakuan dualisme manajemen pendidikan di negeri ini yang berlangsung sudah sejak lama. Maka terkait dengan masalah dualisme pendidikan ini, ide tentang pendidikan satu atap ini juga layak kembali dipertimbangkan.

(12)

Menurut saya ketika semangat otonomi pendidikan menjadi isu sentral dalam reformasi pendidikan nasional, maka madrasah seharusnya include dalam semangat otonomi itu. Ada banyak alasan ilmiah yang menguatkan bahwa otonomi pendidikan diyakini akan mendatangkan kemaslahatan terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional di masa datang.

Saya beranggapan bahwa pendidikan satu atap, dimana pendidikan hanya dikelola oleh satu departemen, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, akan memberikan dampak luar biasa kepada perkembangan madrasah pada masa datang. Apalagi UU No.20/2003 telah menegaskan bahwa madrasah dalam banyak hal, seperti dalam hal kedududukan, status, dan kurikulum sama persih dengan sekolah umum, maka secara yuridis ide pendidikan satu atap ini sesungguhnya telah memiliki landasan hukum yang sangat kuat.

Daftar Pustaka

Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam. (2008). Kebijakan Departemen Agama dalam Peningkatan Mutu Madrasah di Indonesia. Jakarta: Ditjen Penais Departemen Agama.

Faliyandra, F., & Rosi, F. (2021). Peran Kepala Madrasah Pasca Pandemi Covid-19: Kajian Integrasi Manajemen Pendidikan dan Kecerdasan Sosial Perspektif Islam. Dirasah:

Jurnal Studi Ilmu dan Manajemen Pendidikan Islam, 4(2), 89-103.

Langgulung, H. (1988). Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21. Jakarata: Pustaka Al- Husna

Muhaimin. (2009). Manajemen Pendidikan: Aplikasinya Dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta : Kencana.

Mustofa, A.(1999). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Untuk Fakultas Tarbiyah.

Bandung: CV. Pustaka Setia

Nata, A. (2011). Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan. Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada.

Poerwadarminta, W.J.S. (1984). Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cet. VII; Jakarta: Balai Pustaka.

Qomar, M. (2007). Manajemen Pendidikan Islam: Strategi Baru Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam. Malang : Erlangga.

Ramayulis. (2002). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Supriadi, D. (2004). Membangun Bangsa Melalui Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya

(13)

Suwito. (2005). Sejarah Sosial Pendidikan Islam.Jakarta: Kencana.

Tobroni. (2012). Percepatan Peningkatan Mutu Madrasah, (Sebuah tulisan yang dibuat untuk menanggapi kebijakan yang disampaikan oleh Prof. Dr. yahya Umar, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama), (situs: emiardiyanti.blogspot.com, 2009), diakses: 19 Desember 2012, 01. 28.

Zuhairini. (1986). Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Referensi

Dokumen terkait

Temuan penelitian tidak ada satupun dokter gigi melakukan pelimpahan wewenang kepada perawat gigi secara tertulis sesuai kewenangan dan kompetensi perawat gigi

Kondisi yang sama juga terlihat pada kekayaan spesies ikan karang berdasarkan jenis dan bentuk terumbu buatan dimana jumlah spesies cenderung meningkat dengan

Berdasarkan berbagai macam penelitian serta data dari pemboran migas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya di Pulau Jawa terdapat 3 (tiga) arah kelurusan struktur yang

Sebaliknya dari karang Timor,  18 Osw dapat direkonstruksi berdasarkan kandungan  18 O dan Sr/Ca dalam karang dari Timor karena kesalahan ( error ) hasil rekonstruksi

Dari sini dapat dipahami bahwa yang menjadi titik awal atau tingkatan pertama dalam sistem ekonomi Islam adalah distribusi, bukan produksi sebagaimana dalam

Hasil penelitian untuk reksa dana pendapatan tetap menunjukkan bahwa kinerja masa lalu, size, MER berpengaruh signifikan terhadap aliran dana ( fund flow )

bahwa Tarif Retribusi Pelayanan Parkir yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Retribusi Pelayanan Parkir khususnya untuk jenis kendaraan Truk, Bus

guru. Evaluasi diri akan menjadi suatu bentuk self-awareness yang kuat, yang mendasari self-esteem dan self-efficacy dalam setiap diri guru sehingga akan terbentuk