• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISLAM & DEMOKRASI PENGEMBANGAN MODEL DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISLAM & DEMOKRASI PENGEMBANGAN MODEL DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA"

Copied!
366
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi i

PROSIDING SEMINAR NASIONAL

ISLAM & DEMOKRASI

PENGEMBANGAN MODEL DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA

Auditorium Kantor Pusat Bank Bukopin, 25 Juli 2017

&

Gedung Alawiyah Lt.8 Kampus UIA, 26 Juli 2017

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM AS-SYAFI’IYAH JAKARTA

2017

(2)

Tim Penyunting Prosiding

SEMINAR NASIONAL ISLAM DAN DEMOKRASI, Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan

Yang Maha Esa

Penasehat

Prof. Dr. Zainal Arifin Hoesin, SH, MH Prof. M. Taufik Makarao, SH, MH

Dr. A. Ilyas Ismail, MA Ketua

Slamet Riyanto, SH, MH Anggota

Dr. Ir. Atifah Thaha, MSc., M.Ec.Dev.

Dr. Efridani Lubis, SH, MH Rohmat Adi Yulianto, Lc., MDLS

Euis Nurhidayati, SPd, M.Psi Arifudin, SH, MH

Diterbitkan Oleh : Program PASCA SARJANA Universitas Islam As-Syafi‘iyah

Jl. Jatiwaringin No. 12 Pondok Gede, Jakarta Timur 17411

ISBN : 978-602-72544-3-5

Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini kedalam bentuk apapun, secara elektronis maupun mekanis, termasuk fhotocopy, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.

Undang-undang Nomor 11 Tahun 2000 tentang Hak Cipta , Bab XII Ketentuan Piadana, Pasal 72, Ayat (1), (2), dan (6).

(3)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi iii

KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadlirat Ilahi Rabbi, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya buku prosiding ini dapat diterbitkan oleh Program Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi‘iyah (UIA). Buku prosiding ini berisi kumpulan makalah yang merupakan pemikiran kritis para ulama, pakar/ahli, dan cendekiawan muslim, serta tulisan para dosen dan mahasiswa Program Pascasarjana dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang disampaikan pada Seminar Nasional Islam dan Demokrasi: Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa, yang diselenggarakan di Jakarta oleh Program Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi‘iyah pada tanggal 25-26 Juli 2017.

Materi dalam prosiding ini dikelompokkan dalam dua bagian utama. Pertama, pemikiran para ulama, pakar/ahli, dan cendekiawan muslim yang merupakan materi utama dan diletakkan pada bab kedua sampai bab kelima. Dan kedua, pemikiran para dosen dan mahasiswa Program Pascasarjana dari perguruan tinggi di seluruh wilayah Indonesia yang disampaikan sebagai call for paper seminar.

Materi utama prosiding dibagi dalam enam bab, yang masing-masing menunjukkan pengelompokan tema yang dibahas dalam seminar. Bab pertama memuat gambaran umum pokok permasalahan, yakni relasi antara Islam dan demokrasi, dengan perspektif pada pengembangan model demokrasi berketuhanan yang maha esa. Bab kedua menyajikan konsep permikiran mengenai paradigma, konseptualisasi, dan konvergensiIislam dan demokrasi dalam model demokrasi berketuhanan yang maha esa. Ada dua tulisan yang disajikan, yakni Islam dan Demokrasi Dalam Konstitusi Indonesia yang dtulis oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, M.Sc. dan Islam dan Demokrasi, oleh Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo, MA.

Bab ketiga menyajikan pembahasan penting mengenai pengembangan pemikiran dan pelembagaan model demokrasi berketuhanan yang maha esa. Dua tulisan ulama dan ahli menjadi sajian utama, yakni Islam dan Demokrasi: Pengembangan Pemikiran Kenegaraan Dalam Islam yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Ma‘ruf Amin, MA, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Islam, Nomokrasi, Demokrasi, dan Teokrasi, yang ditulis Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, MH.

Bab keempat berisi pembahasan mengenai Islam dan demokrasi dalam perspektif teologi politik sebagai model demokrasi berketuhanan yang maha esa, yang menyajikan berbagai tulisan dari tiga pakar/ahli kajian keislaman, yakni Prof. Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA, Prof. Dr.

(4)

Achmad Mubarok, MA, dan Dr. Fachry Aly, MA. Prof. Dr. Din Syamsuddin menyumbangkan lima tulisan menarik dengan lima tema berbeda, yakni Negara Pancasila, Negara Perjanjian dan Kesaksian (Darul Ahdi was Syahadah); Viable Islamic State In The Modern Era; Islam, Pluralism, and Democracy; Islam and Democracy in Indonesia, serta Perspective On The Caliphate Today. Dua tulisan lagi mengenai Islam dan Demokrasi: Perspektip Teologi Politik Sebagai Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa oleh Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA, dan Perkembangan Islam dan Demorasi Di Indonesia oleh Dr. Fachry Aly, MA.

Bab kelima menyajikan tiga tulisan ahli mengenai pengalaman beberapa negara Islam dalam menerapkan prinsip demokrasi berketuhanan yang maha esa, Dalam bagian ini disajikan tulisan Islam dan Demokrasi: Penerimaan Dalam Sistem Pemerintahan Di Beberapa Negara Islam oleh Prof. Dr. Deddy Ismatullah, SH, MH, Islam dan Demokrasi: Melihat Pengalaman Negara Turki oleh Dr. Hamdan Basyar, M.Si, serta Islam dan Demokrasi: Mencari Model Demokrasi Untuk Negeri-Negeri Islam (Sebuah Background) oleh Dr. A. Ilyas Ismail, MA.

Materi pelengkap merupakan call for paper seminar, berisi beragam pemikiran yang ditulis oleh para dosen dan mahasiswa Program Pascasarjana dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia. Tulisan-tulisan ini diletakkan dalam bab enam.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan atas terselenggaranya Seminar dan penerbitan prosiding ini, antara lain Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI, Pemerintah Provinsi, Jawa Barat, PT. Bank Bukopin, serta Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi‘iyah (YAPTA).

Besar harapan kami penerbitan prosiding ini dapat menjadi salah satu sumbangan pemikiran Program Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi‘iyah terhadap pengembangan khasanah ilmu pengetahuan dalam rangka menumbuhkembangkan nilai-nilai Islam dan demokrasi di Indonesia.

Billahit taufiq wal hidayah Jakarta, 25 Agustus 2017

Tim Penyunting

(5)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi v DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... iii - iv Daftar Isi ... v-vi Pengantar Penerbitan ... vii Ketua Panitia Seminar, Prof. Dr. Zainal Arifin Husein, SH, MH

Sambutan Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah, ... vii - xvi Dr. Masduki Ahmad, SH, MM

BAB I : ... 1 - 8 PENDAHULUAN

Islam & Demokrasi : Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa BAB II:

PARADIGMA, KONSEPTUALISASI, DAN KONVERGENSI ISLAM DAN DEMOKRASI DALAM MODEL DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA

1. Islam Dan Demokrasi Dalam Konstitusi Indonesia ... 9 - 16 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, M.Sc.

2. Islam dan Demokrasi, ... 17 - 34 Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo, MA

BAB III :

PENGEMBANGAN PEMIKIRAN DAN PELEMBAGAAN MODEL DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA

1. Islam dan Demokrasi: Pengembangan Pemikiran Kenegaraan Dalam Islam, .. 35 - 38 Prof. Dr. KH. Ma‘ruf Amin, MA

2. Islam, Nomokrasi, Demokrasi, dan Teokrasi, ... 39 - 56 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, MH

BAB IV :

ISLAM DAN DEMOKRASI DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI POLITIK SEBAGAI MODEL DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA.

1. BAGIAN SATU : Negara Pancasila, Negara Perjanjian dan Kesaksian (Darul Ahdi was Syahadah) ... 57 - 64 Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA,

Bagian Dua : Viable Islamic State In The Modern Era, ... 65 - 74 Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA,

Bagian Tiga : Islam, Pluralism, and Democracy, ... 75 - 80 Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA,

Bagian Empat: Islam and Democracy in Indonesia, ... 81 - 84 Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA,

Bagian Lima: Perspective On The Caliphate Today, ... 85 - 88 Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA,

2. Islam dan Demokrasi : Perspektif Teologi Politik Sebagai Model Demokrasi

Berketuhanan Yang Maha Esa, ... 89 - 100 Prof. Dr. Achmad Mubarok, MA

3. Perkembangan Islam dan Demokrasi Di Indonesia, ... 101 - 106 Dr. Fachry Aly, MA Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi iii

(6)

BAB V :

PENGALAMAN BEBERAPA NEGARA ISLAM DALAM MENERAPKAN PRINSIP DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA,

1. Islam dan Demokrasi: Penerimaan Dalam Sistem Pemerintahan Di Beberapa Negara Islam, ... 107 - 124 Prof. Dr. Deddy Ismatullah, SH, MH.

2. Islam dan Demokrasi: Melihat Pengalaman Negara Turki, ... 125 - 146 Dr. Hamdan Basyar, M.Si

3. Islam dan Demokrasi: Mencari Model Demokrasi Untuk Negeri-Negeri Islam (Sebuah Background), ... 147 - 150 Dr. A. Ilyas Ismail, MA

BAB VI:

ISLAM DAN DEMOKRASI DARI BERBAGAI PERSPEKTIF (CALL FOR PAPER) 1. Musyawarah dan Demokrasi Menurut Perspektif Al Qur’an, ... 151 - 192 Dr. Baharudin Husin, MA (Dosen Program Pascasarjana Magister Komunikasi Islam

Universitas Islam As-Syafi‘iyah – Jakarta)

2. Islam dan Demokrasi Dalam Perspektif Fiqh Siyasah Untuk Mengembangkan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa, ... 193 - 204 Dr. Zahratul Idami, SH, MH (Dosen Universitas Negeri Syiah Kuala – Banda Aceh)

3. Apa Kesalahan Islam terhadap Demokrasi ... 205 - 222 Abdul Hadi, Lc, MA (Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam As- Syafi‘iyah- Jakarta)

4. Kontribusi Islam Dalam Perwujudan Paradigmatik Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa, ... 223 - 240 Damrah Mamang, SH, MH (Dosen Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum/Mahasiswa Program Pascasarjana Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam As-Syafi‘iyah - Jakarta) 5. Demokrasi Deliberatif Yang Berketuhanan: Sebuah Konsep Konvergensi Islam dan Demokrasi ... 241 - 254 Ahmad Baihaki, SHI, MH,, Adi Nur Rohman, S.H.I., M.Ag, dan Rahmat Ferdian Andi Rosidi, S.H.I, M.H. (Dosen Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Raya)

6. Islam dan Konstitusi: Studi Terhadap Perkembangan Amandemen Konstitusi Republik Arab Mesir Tahun 2011-2014 ... 255 - 274 Rohmat Adi Yulianto, Lc, MDLS (Dosen Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum

UIA/Mahasiswa Program Doktor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga - Yogyakarta) 7. Demokrasi Ekonomi Dalam Islam ... 275 - 286 Dr. Atifah Thaha, M.Ec. (Ketuan Program Studi Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Islam As-Syafi‘iyah - Jakarta)

8. Sistem Ekonomi Kerakyatan Sebagai Pengembangan Pemikiran dan Perkembangan Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa, ... 287 - 308 Dr. Efridani Lubis, SH, MH (Dosen Program Pascasarjana Doktor Ilmu Hukum Universitas Islam As-Syafi‘iyah - Jakarta)

9. Kepemimpinan Etik : Studi Kasus Kepemimpinan Presiden Soeharto Dalam Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia ... 309 - 318 Gunawan Wibisono

10. Wacana Pemikiran Islam Pada Masa Orde Baru ... 319 - 338 Saipudin dan Ika Kartika

(7)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi vii

PENGANTAR PENERBITAN

Dalam perspektif konstitusi negara RI, agama mendapatkan posisi yang terhormat, karena secara tegas diatur baik dalam Pembukaan UUD maupun dalam batang tubuh. Dalam perspektif ini maka dasar Ketuhanan Yang Maha Esa (agama) telah ditempatkan sebagai bagian dari landasan bernegara dan pembetukan hukum negara. Implikasi terhadap pemahaman cita hukum, maka rumusan Pasal 29 UUD 1945 dapat dilihat dari dua sisi yaitu persuasive source dan authoritative source. Persuasive source, diartikan sebagai sumber yang orang harus diyakinkan untuk menerimanya dan authoritative source, diartikan sebagai sumber yang otoritatif yaitu sumber yang mempunyai kekuasaan (authority).

Demokrasi sebagai suatu gagasan yang memiliki nilai universalitas dan moralitas, selalu merujuk pada sumber otoritas pemiliknya yakni rakyat itu sendiri. Nilai universalitas memberikan dasar pembenar bagi berlakunya kebebasan manusia dan pengakuan hak-hak dasar manusia dalam kehidupan negara. Demikian pula nilai moralitas merupakan prinsip-prinsip moral yang bersifat umum dan dapat ditelaah oleh akal manusia. Kedua nilai tersebut merupakan esensi yang tetap yang dijadikan ide dasar tentang perumusan hakekat demokrasi yang berkeadilan. Oleh karena itu, Islam dan demokrasi sama-sama memiliki nilai universalitas dan moralitas.

Dalam perspektif Pasal 29 UUD 1945, maka nilai universalitas dan moralitas Islam dan negara memiliki sumber yang sama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Paradigma demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa merupakan esensi dari demokrasi ideal yang dirumuskan dalam Pembukaan dan ketentuan Pasal 29 UUD 1945. Nilai Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa akan menjadi perdebatan akademik dan praksis, karena dari segi ontologis belum dirumuskan secara utuh makna substansi demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa. Demikian pula secara praksis belum pernah dirumuskan baik segi konsep operasional, kelembagaan maupun parketknya.Seminar Nasional ini berniat untuk menggali dan mengexplor tentang gagasan Islam dan Demokrasi: Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan konstitusi Indonesia (UUD 1945).

Mudah-mudahan buku hasil seminar nasional ini bermanfaat untuk kemajuan islam dan demokrasi di indonesia.

Jakarta, 25 Agustus 2017 Direktur Pascasarjana

Universitas Islam As-Syafi’iyah

Prof. Dr. Zainal Arifin Hoesein, SH.,MH

(8)

Kata Sambutan Islam dan Demokrasi

Dinamika Kehidupan Sosial-Demokrasi di Indonesia Saat Ini Dr. Masduki Ahmad, SH., MM

Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah

Assalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya atas kesempatan yang diberikan untuk memberikan pengantar pada buku ini yang diberi judul ―Islam dan Demokrasi: Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa‖. Walaupun secara masif kajian ini telah banyak dilakukan diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, namun tidak banyak yang kemudian dapat menghasilkan suatu produk pemikiran serta gagasan yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam rangka penguatan ideologi bangsa serta pengembangan model sistem kedaulatan negara .

Kajian khusus mengenai Islam dan Demokrasi dalam buku ini merupakan hasil dari seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Islam As-Syafi‘iyah. Seminar tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian awal kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya secara berkala dan bertahap, yakni Majelis Mudzakkarah As-Syafi‘iyah (MMA). Majelis Mudzakkarah As-Syafi‘iyah merupakan suatu majelis (forum) ilmiah yang membahas mengenai berbagai macam problem dan isu-isu keummatan. Majelis ini diselenggarakan setiap bulan sekali (minimal), dan selalu direspon secara antusias oleh seluruh sivitas akademika di UIA baik pimpinan, dosen, mahasiswa serta karyawan. Hal tersebut juga yang kemudian menjadikan Majelis Mudzakkarah As-Syafi‘iyah ini sebagai salah satu ciri khas yang dimiliki oleh Universitas Islam As-Syafi‘iyah.

Majelis Mudzakkarah As-Syafi‘iyah selalu membahas tentang isu-isu yang up to date dan topik-topik yang sedang hangat di lingkungan masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karena itu, tidak jarang MMA ini selalu menghasilkan gagasan serta ide-ide alternatif sebagai solusi dalam menyikapi berbagai tantangan dan permasalahan kekinian bangsa.

Di penghunjung akhir tahun 2016 hingga pada pertengahan tahun 2017, isu integrasi bangsa menjadi trending topic di kalangan masyarakat bangsa Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta. Secara paralel, isu ini mulai muncul ke permukaan setelah adanya pidato dari pejabat Gubernur DKI -saat itu- berujung pada vonis hakim (untuk sang Gubernur) bersalah karena dianggap menodai agama. Hal ini kemudian semakin menguat karena bertepatan dengan momentum perayaan pesta demokrasi pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang juga menyebabkan terjadinya pertarungan politik yang dinamis. Kekuatan-kekuatan politik dan kepentingan praktis (dalam hal pemilihan Gubernur DKI) semakin memanfaatkan isu keagamaan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Isu agama ini kemudian berdampak pada penyebaran isu-isu kebencian yang membuat sebagian besar orang larut dalam kebencian terhadap salah satu pihak atau kelompok,

(9)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi ix sehingga tidak jarang menyebabkan terjadinya konflik-konflik sosial. Muncul gerakan-gerakan masif seperti, aksi bela Islam jilid I, II, III dan gerakan 411, 212, tabligh akbar 901 dan gerakan lainnya yang cenderung saling membenarkan satu sama lain yang pada akhirnya memunculkan konflik horizontal di masyarakat. Tidak jarang berita-berita hoax, fitnah, kebohongan dan isu-isu kebencian lainnya sengaja disebarluaskan di lingkungan masyarakat dengan maksud agar kehidupan masyarakat menjadi tidak stabil, yang pada akhirnya bepotensi menimbulkan chaos.

Dampak dari adanya dinamika sebagaimana dijelaskan di atas, berlangsung secara masif ke berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat, hingga menyentuh pada ranah ideologi bangsa Indonesia, yakni Pancasila. Mulai dibentuk persepsi bahwa berbagai gerakan sosial kemasyarakatan yang dilandasi dengan basis keagamaan adalah sebagai upaya untuk merubah ideologi Pancasila. Gerakan dakwah yang disampaikan secara kritis dianggap sebagai perlawanan terhadap ideologi bangsa Indonesia.

Islam, dalam konteks perkembangan bangsa Indonesia memiliki peranan penting dan utama. Selain sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas bangsa Indonesia, tidak sedikit bahkan nilai-nilai serta prinsip dalam Hukum Islam dijadikan sebagai rujukan dalam membentuk peraturan perundang-undangan di Indonesia. Bahkan sudah sejak lama, ada peradilan khusus dalam ruang lingkup Mahkamah Agung yang menangani perkara perdata untuk subjek hukum pemeluk agama Islam (muslim) yakni peradilan agama.

Dinamika sejarah proses pembentukan dan penetapan pancasila sebagai landasan dan dasar negara, mulai muncul dan menguat kembali sebagai topik hangat hingga saat ini. Isu sara yang semakin menguat, menjadikan pergolakan kondisi sosial masyarakat mengarah kepada pembahasan sejarah pembentukan Pancasila. Tahun lalu (2016), isu ini muncul dan mencuat di permukaan setelah adanya penetapan 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila oleh Presiden Joko Widodo. Keputusan penetapan hari lahir Pancasia ini menimbulkan perdebatan pandangan di masyarakat bangsa Indonesia. Ada yang berpandangan bahwa pancasila itu tidak lahir pada saat 1 Juni, melainkan pada 18 Agustus 1945, karena secara syah Pancasila dijadikan dasar negara pada saat sidang PPKI 18 Agustus 1945. Kemudian ada juga yang berpandangan, bahwa rumusan pancasila yang ada sekarang ini dianggap tidak syah, karena rumusan pancasila yang sah adalah rumusan seperti yang ada dalam Piagam Jakarta, karena penghapusan 7 (tujuh) kata dari Piagam Jakarta itu tidak memenuhi quorum (dalam prosesnya) dan tidak seimbang. Serta pandangan lainnya yang juga memperkuat Keputusan Presiden Joko Widodo bahwa pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945 ketika Soekarno menyampaikan pidatonya dalam sidang BPUPKI tentang dasar negara Indonesia. Perdebatan tersebut pada tahun 2016, masih dapat diredam dan tidak terlalu berdampak masif terhadap kehidupan sosial masyarakat. Namun dalam kurun waktu terakhir ini, di tahun 2017, perdebatan pandangan ini semakin tajam dan meluas. Lebih masif lagi

(10)

adalah adanya aturan pemerintah (Perppu Ormas) yang cenderung diprediksi mengancam nilai- nilai kehidupan demokrasi bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari perspektif yang berbeda dalam memaknai dan memahami sejarah bangsa Indonesia.

Terlepas dari berbagai pandangan dan perspektif sebagaimana disebutkan di atas, tidak dapat dipungkiri bahwa nilai, prinsip dan spirit Islam sangat menjiwai dasar serta landasan negara Indonesia. Pancasila yang telah disepakati menjadi dasar negara, kemudian dituangkan kedalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) yang dijadikan sebagai landasan konstitusi bangsa dan negara Indonesia. Dalam konteks sederhana, dapat dibandingkan bahwa dalam UUD NRI 1945, dijelaskan bahwa pembentukan negara Indonesia adalah untuk mewujudkan kesejahteraan secara umum (tidak hanya bangsa Indonesia, namun lebih luas lagi). Nilai ini sangat dijiwai oleh nilai dan semangat Islam (Al-Qur‘an). Islam merupakan agama yang disyiarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan berdasarkan pada wahyu yang diturunkan dari Allah SWT (Al-Qur‘an). Menurut Fazlur Rahman, tujuan diturunkannya Al- Qur‘an ini tidak lain adalah untuk menegakkan sebuat tata masyarakat yang adil dan menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil „alamin). Kemudian hal lain, adalah prinsip musyawarah.

Dalam Sila ke-empat Pancasila, disebutkan bahwa kepemimpinan serta kebijakan yang diambil oleh negara (Penguasa) harus berada dalam koridor permusyawaratan (musyawarah). Sama halnya dengan prinsip dalam Islam, dikenal dengan istilah syura yang artinya (secara bahasa) menjelaskan, menyatakan atau mengajukan pendapat yang baik, disertai dengan menanggapi dengan baik pula pendapat tersebut. Perintah untuk musyawarah ini, khususnya tertuang dalam Q.S As-Syura ayat 38, bahwa segala urusan yang berkaitan dengan mereka (masyarakat) agar dilakukan dan diputuskan dengan musyawarah diantara mereka.

Kemudian hal lain dalam konteks sistem kedaulatan (kekuasaan), negara Indonesia berdasarkan pasal 1 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 bahwa ―kedaulatan berada di tangan rakyat...‖. Hal ini menunjukan bahwa negara Indonesia menganut sistem Demokrasi (Kedaulatan Rakyat). Menurut Abraham Lincoln, Demokrasi merupakan sebuah sistem

―pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat‖.Istilah demokrasi ini berasal dari negara Yunani, ‗Demos‟ artinya pemerintahan dan‗Kratos‟ artinya rakyat. Lebih lanjut Robet Dahl mengatakan, “the demos should include all adult subject to the binding collectivedecisions of the association”,

Demokrasi tumbuh begitu pesat ketika sampai masa renaissance, dimana demokrasi menjadi alat untuk melawan bentuk kekuasaan pemerintahan yang berbasis dogma-dogma keagamaan (gereja). Istilah yang digunakan pada masa renaissance, adalah suatu sistem demokrasi langsung, yakni masyarakat secara langsung menempati posisi pemerintahan. Mereka

(11)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi xi berperan dalam seluruh aktivitas politik, legislatif, eksekutif, yudikatif. Sejak dulu, sistem pemerintahan semacam ini ditentang oleh filsuf-filsuf besar. Plato menyifatinya sebagai pemerintahan orang-orang bodoh. Aristoteles menamakannya pemerintahan orang-orang miskin tak berkeutamaan. Abu Nasr Al-Farabi dan IbnRusyd menyebutnya sebagai kebusukan dalam pemerintahan utama (madinah fadillah).

Dalam perkembangannya, salah satu hal yang menjadi beban berat dalam penerapan sistem demokrasi adalah bahwa sistem ini cenderung tidak praktis apabila jumlah masyarakat semakin membesar. Berdasarkan hal tersebut, Jean Jacques Rousseau beserta filsuf politik lain menyempurnakannya dengan teori demokrasi perwakilan, sistem pemilihan para wakil rakyat sebagai pemerintah. Sistem perwakilan ini telah menjadi norma berharga dan prinsip yang diterima di dunia sehingga memaksa banyak cendekiawan muslim menciptakan teori demokratisasi Islam.

Prinsip dasar dalam sistem demokrasi adalah prinsip persamaan, prinsip adanya kesamaan antara seluruh umat manusia. Nilai dan semangat dari prinsip ini yang menjiwai segala macam bentuk perlawanan terhadap sistem kekuasaan di berbagai negara hingga saat ini. Sebagai contoh di negara-negara Eropa, perlawanan ini berkembang pada zaman renaissance. Kemudian di negara-negara timur tengah, terjadinya ―Arab Spring‖, di tahun 1970-an terjadinya revolusi Iran, dan yang terjadi di beberapa tahun terakhir ini adalah dinamika pergolakan politik setelah tumbangnya Hosni Mubarak, kemudian naiknya Muhammad Mursi yang pada akhirnya terjadi kudeta militer. Secara umum, dinamika di negara-negara timur tengah ini merupakan proses dari demokratisasi sistem kekuasaan atau kedaulatan di masing-masing negara. Karena mayoritas, sistem kekuasaan yang dianut di negara-negara timur tengah adalah Monarki, yang kecenderungannya menimbulkan otoritarianisme yang tidak menerapkan prinsip persamaan bagi seluruh warga negaranya.Hal ini yang menjadi basis utama, mengapa adanya intervensi (demokratisasi) di negara-negara timur tengah.

Krisis otoritarianisme yang melanda dunia ini ternyata tidak mesti mengarah pada pemunculan rezim-rezim demokrasi liberal. Meskipun demokratisasi muncul diberbagai belahan dunia seperti Eropa Timur, Amerika Latin, Asia Timur, akan tetapi revolusi liberal menyisakan sebagian wilayah tertentu seperti Timur Tengah yang relatif tidak tersentuh. Islam dipandang sebagai penghalang utama menuju demokrasi, sebagaimana ditunjukkan pada pemilu di Aljazair (1990), atau Iran pada periode lebih awal, demokrasi yang lebih luas tidak boleh menyebabkan liberalisasi yang lebih luas karena membawa pada kekuatan kaum fundamentalis yang berharap menciptakan bentuk teokrasi yang popular.Sehingga menurut Huntington, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mayoritas penduduknya beragama Islam bisa dikategorikan sebagai negara demokratis. Dan jika demokratisasi berkembang di Timur Tengah justru cenderung memberikan

(12)

peluang bagi kebangkitan ―fundamentalisme‖ Islam. Seperti disinggung Samuel P. Huntington bahwa dewasa ini yang paling potensial menjadi kekuatan politik alternatif –baik bagi rezim- rezim diktator militer maupun monarki absolute—di kawasan Timur Tengah, tidak lain dari kaum

―fundamentalis‖. Seperti terjadi di Aljazair, Kuwait, Libanon, Mesir.

Tidak dapat kita pungkiri bawha istilah, gagasan, konsep serta penerapan sistem demokrasi muncul dan berkembang dari negara barat. Sehingga ketika setiap kali membahas mengenai demokrasi, selalu berkaitan erat dengan barat.Dalam konteks kajian antara Demokrasi dengan Islam, maka pembahasan ini merupakan kajian peradaban, ideologi serta latar belakang sejarah yang masing-masing berbeda.Demokrasi tumbuh dan berkembang di barat (Eropa), sedangkan Islam muncul, lahir dan berkembang di Arab.Krisis otoritarianisme yang melanda dunia ini ternyata tidak mesti mengarah pada pemunculan rezim-rezim demokrasi liberal.

Meskipun demokratisasi muncul diberbagai belahan dunia seperti Eropa Timur, Amerika Latin, Asia Timur, akan tetapi revolusi liberal menyisakan sebagian wilayah tertentu seperti Timur Tengah yang relatif tidak tersentuh. Islam dipandang sebagai penghalang utama menuju demokrasi, sebagaimana ditunjukkan pada pemilu di Aljazair (1990), atau Iran pada periode lebih awal, demokrasi yang lebih luas tidak boleh menyebabkan liberalisasi yang lebih luas karena membawa pada kekuatan kaum fundamentalis yang berharap menciptakan bentuk teokrasi yang populer.Sehingga menurut Huntington, tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mayoritas penduduknya beragama Islam bisa dikategorikan sebagai negara demokratis. Dan jika demokratisasi berkembang di Timur Tengah justru cenderung memberikan peluang bagi kebangkitan ―fundamentalisme‖ Islam. Seperti disinggung Samuel P. Huntington bahwa dewasa ini yang paling potensial menjadi kekuatan politik alternatif –baik bagi rezim-rezim diktator militer maupun monarki absolute—di kawasan Timur Tengah, tidak lain dari kaum

―fundamentalis‖. Seperti terjadi di Aljazair, Kuwait, Libanon, Mesir.

Hubungan antara Islam dengan demokrasi pada prinsipnya besifat aksiomatis dan cukup kompleks.Sebab, Islam adalah agama dan risalah yang mengandung prinsip-prinsip serta asas- asas yang mengatur ibadah, akhlak dan muamalat manusia.Sedangkan, demokrasi hanyalah merupakan sebuah sistem pemerintahan dan mekanisme kerja antaranggota masyarakat serta simbol yang diyakini membawa banyak nilai-nilai positif.Kemudian, dunia Islam tidak hidup dalam keseragaman ideologis sehingga terdapat satu spektrum panjang terkait hubungan antara Islam dan demokrasi ini. Khaled Abou El Fadl, mengatakan bahwa meskipun Al-Qur`an tidak secara spesifik dan eksplisit menunjukkan preferensi terhadap satu bentuk pemerintahan tertentu, tetapi dengan gamblang memaparkan seperangkat nilai sosial dan politik penting dalam suatu pemerintahan untuk Muslimin.

(13)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi xiii Suatu polemik hubungan demokrasi dengan Islam ini berakar pada sebuah ―ketegangan teologis‖ antara rasa keharusan memahami doktrin atau kebiasaan yang telah ajeg atau mapan oleh sejarah-sejarah dinasti muslim dengan tuntutan untuk memberikan pemahaman yang baru terhadap kebiasaan tersebut sebagai respon dan reaksi atas fenomena sosial yang telah berubah (perkembangan zaman).

Setidaknya terdapat 3 hal dalam perbincangkan antara Islam dan Demokrasi, (1) sejarah menunjukan bahwa umat Islam secara empirik selalu bersentuhan dengan pengalaman- pengalaman politik kenegaraan yang variatif (berbeda-beda), tidak baku; (2) banyak yang percaya bahwa terdapat prinsip-prinsip yang tertuang dalam Al-quran yang sangat bersesuaian dengan demokrasi. Ada tuntutan untuk menegakkan prinsip-prinsip ini dalam praktek politik negara dan pemerintahan; (3) banyak juga yang menolak demokrasi karena diyakini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara keagamaan.

Berkaitan dengan Demokrasi, Secara empirik, demokrasi biasanya menggunakan sejumlah indikator antara lain:(1) kedaulatan rakyat, (2)pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah (rakyat), (3) kekuasaan mayoritas, (4) hak-hakminoritas, (5) jaminan hak- hak asasi manusia, (6)pemilihan yang bebas dan jujur, (7) persamaan di depanhukum, (8) proses hukum yang wajar, (9) pembatasanpemerintah secara konstitusional, (10) pluralisme sosial,ekonomi dan politik, dan (11) nilai-nilai toleransi, (12) pragmatisme, (13) kerjasama dan (14) mufakat.

Apabila dikomparasikan denga beberapa indikator sebagaimana dijelaskan di atas, secara jelas dan gamblang dapat dikatakan bahwa Demokrasi tidak bertentangan denga Islam.Bahkan dengan sistem demokrasi, nilai-nilai serta prinsip Islam dapat dilaksanakan. Perbandingan pendekatan yang harus dilakukan dalam mengkaji dan membandingkan antara Islam dan Demokrasi, adalah dengan memahami proses lahirnya Piagam Madinah, baik secara formil maupun materil.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, Negara Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam UUD NRI Tahun 1945 menganut sistem Demokrasi. Demokrasi yang dianut tidak an sich sebagaimana perkembangan di Barat, tetapi Demokrasi yang dijiwai serta dilandasi oleh Nilai- nilai Pancasila. Hal ini yang merupakan hasil kesepakatan dari para pendiri Bangsa, dan menjadi ciri khas khusus Indonesia dalam sistem kedaulatan negara. Dengan kondisi geografis serta demografis yang beragam, menjadikan Indonesia memiliki karakter yang berbeda dibandingkan negara-negara lainnya.Sehingga dalam sistem kedaulatannya pun memiliki pendekatan yang berbeda.

(14)

Sila-sila dalam Pancasila, menjadi dasar serta pedoman bagi setiap warga (bangsa) Indonesia dalam menjalankan kehidupanna Berbangsa dan Bernegara. Kelima sila tersebut memiliki keterikatan dan saling berkaitan satu sama lain. Namun, dari kelima Sila dalam Pancasila tersebut, yang menjadi pondasi utama yang menjiwai seluruh sila adalah substansi pada nilai Sila yang Pertama, yakni Ketuhanan (Ketauhidan).Dengan landasan ini, bangsa Indonesia adalah merupakan bangsa yang ber-Tuhan. Sehingga tidak sama dengan negara-negara Barat yang kecenderungannya berpandangan sekuler dalam penerapan sistem demokrasi.

Dari penjelasan di atas, muncul sebuah petanyaan, bagaimana kondisi nyata kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini? Apakah sudah selaras dengan apa yang telah disepakati oleh para Pendiri Bangsa? Sebagaimana telah disinggung di awal, bahwa gesekan atau konflik yang dilandasi dengan unsur SARA sangat sensitif dan berdampak masif, meluas yang pada akhirnya dapat menimbulkan situasi yang tidak stabil, bahkan chaos.

Hal di atas kemudian menjadi trending topic akhir-akhir ini, sehingga menjadi bahasan utama dalam Majelis Mudzakkarah As-Syafi‘iyah. Dikarenakan fenomena serta gejolak sosial yang semakin dinamis dalam merespon dampak dari dinamika Pilgub DKI, Penistaan Agama oleh Pejabat Publik (Gubernur), hingga pada isu perlawanan dari kelompok radikal, fundamentalis agama yang dianggap mendorong adanya perubahan ideologi kebangsaan, yang kemudian direspon dengan ditetapkannya Perppu No.2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Selain sarat dengan unsur politis, dinamika tersebut tidak lain adalah ketidakharmonisan pemahaman mengenai demokrasi dengan agama, khususnya dalam hal ini adalah Islam.

Oleh karena itu, Universitas Islam As-Syafi‘iyah berinisasi untuk melakukan sebuah kajian khusus yang komprehensif mengenai Islam dan Demokrasi. Selain sebagai upaya merespon isu-isu kekinian bangsa Indonesia, kajian khusus ini ditujukan agar dapat memberikan sumbangsih pemikiran serta solusi untuk mengatasi tantangan sosial yang terjadi dalam kurun waktur terakhir ini. Wujud dari kajian khusus ini, dikemas dalam beberapa rangkaian diskusi Majelis Mudzakkarah As-Syafi‘iyah, yang kemudian dilakukan Seminar Nasional Islam dan Demokrasi: ―Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa‖.

Kegiatan Seminar Nasional tersebut dilaksanakan pada tanggal 25-26 Juli 2017, bekerjasama dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI), Bank Jabar dan Banten (BJB), Bank Umum Koperasi Indonesia (BUKOPIN) Jakarta. Setidaknya terdapat 5 (lima) hal yang menjadi tujuan dari penyelenggaraan seminar tersebut, diantaranya: (1) menghimpun pandangan dari berbagai ahli/pakar tentang konseptuliasasi, dan konvergensi Islam dan demokrasi; (2) menghimpun pandangan para ahli tentang kelembagaan yang ideal untuk mengimplementasikan prinsip Islam dam dan demokrasi; (3) menghimpun pengalaman

(15)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi xv pelaksanaan demokrasi berkarakter lslam di beberapa negara sebagai suatu model; (4) merumuskan persemaian ideal antara islam dan demokrasi dalam kelembagaan demokrasi yang islami; (5) merumuskan model ideal Islam dan demokrasi yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa dalam tataran ontologis dan aksiologis.

Atas nama Pimpinan Universitas Islam As-Syafi‘iyah, mengucapkan terima kasih atas partisipasi serta kerjasamanya bagi semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara seminar nasional ini, terkhusus bagi para Narasumber yakni Prof.Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof.Dr. KH.Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA, Dr.Fachry Ali, Dr. M.HamdanBasyar, M.Si, Prof.Dr. Jimly Asshiddiqie, SH., MH, Prof.Dr.K.H. Ma‘ruf Amin, Prof. Dawam Rahardjo, Prof.Dr. Achmad Mubarok, MA., dan seluruh tokoh lainnya yang telah menyumbangkan pemikiran serta gagasannya mengenai Islam dan Demokrasi. Semoga buku ini dapat menjadi rujukan alternatif solusi untuk mengatasi tantangan zaman saat ini dan semoga dapat memberikan inspirasi dalam perkembangan keilmuan serta gagasan konsep Islam dan Demokrasi, khususnya dalam konteks sistem demokrasi di Indonesia. Terima Kasih….

Billahittaufiq Wal Hidayah,

Wassaamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 1 Agustus 2017

Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah

Dr. Masduki Ahmad, SH., MM

(16)
(17)

BAB I

PENDAHULUAN

(18)
(19)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi 1 ISLAM DAN DEMOKRASI:

PENGEMBANGAN MODEL DEMOKRASI BERKETUHANAN YANG MAHA ESA1

I. Islam dan Demokrasi dalam Konstitusi Indonesia

Dalam perspektif historis, perdebatan tentang dasar Negara terjadi tarik menarik antara kelompok nasionalis (sekuler) dengan kelompok nasionalis (Islam). Untuk merumuskan gagasan yang berkembang, maka dibentuk Tim Perumus yang beranggota 9 orang ( Panitia 9 ) yang melahirkan rumusan Piagam Jakarta (Jakarta Charter ) yang juga merupakan gentlemen's agreement. Rumusan Piagam Jakarta muatannya mengandung aspek politik, hak asasi manusia, staatidee dan rechsidee. Terdapat lima rumusan dasar yang menjadi inti dari Piagam Jakarta yang bermaktub dalam alinea 4 yaitu : " ... Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Republik Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada : Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." Rumusan Panitia 9 (sembilan) mendapat reaksi keras dari anggota BPUPKI terutama mengenai rumusan Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Reaksi keras ini menimbulkan perdebatan sengit bagi golongan nasionalis sekuler maupun beberapa anggota nasionalis Islam. Rumusan tersebut menimbulkan implikasi politik dan dikhawatirkan terjadi perpecahan bangsa. Setelah mendapat beberapa penjelasan panjang lebar dari golongan nasionalis Islami yang duduk dalam Panitia 9, maka tanggal 14 Juli 1945 disetujui secara bulat Piagam Jakarta sebagai mukaddimah (Preambule) UUD.

Dalam konstalasi politis dan normatif, agama telah ditempatkan pada posisi sebagai bagian dari landasan bernegara. Hal ini dapat ditelusuri pada Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang menegaskan bahwa Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan pada ayat (2) ditegaskan pula bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk

1 Tulisan ini disampaikan pada Seminar Nasional Islam dan Demokrasi: Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa, yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi‟iyah (UIA), di Auditorium Lantai 3 Gedung Bukopin, Jakarta, tanggal 25-26 Juli 2017.

(20)

memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Memahami ketentuan Pasal 29 UUD 1945 tidak terlepas dari perdebatan yang muncul pada masa perumusannya yang diawali dengan perumusan Piagam Jakarta.

Piagam Jakarta merupakan konsensus nasional yang lahir sebagai antisipasi klimaks dari perjuangan panjang bangsa Indonesia. Dikatakan konsensus nasional, karena Piagam Jakarta dilahirkan oleh lembaga yang dibentuk pada zaman penjajahan Jepang (oleh Dai Nippon) yaitu Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI (Dokuritsu Zyunbi Tyooskai). Oleh karena itu, dalam perspektif konstitusi negara RI, maka agama mendapatkan posisi yang terhormat, karena secara tegas diatur baik dalam Pembukaan UUD maupun dalam batang tubuh. Dalam perspektif ini maka dasar Ketuhanan Yang Maha Esa (agama) telah ditempatkan sebagai bagian dari landasan bernegara dan pembetukan hukum negara. Implikasi terhadap pemahaman cita hukum, maka rumusan Pasal 29 UUD 1945 dapat dilihat dari dua sisi yaitu persuasive source dan authoritative source.

Persuasive source, diartikan sebagai sumber yang orang harus diyakinkan untuk menerimanya dan authoritative source, diartikan sebagai sumber yang otoritatif yaitu sumber yang mempunyai kekuasaan (authority).

Ide (Bernegara) dan Konstruksi Undang-Undang Dasar 1945 penting untuk dikaji dengan beberapa pertimbangan. Pertama, perkembangan sosial kemasyarakatan, politik kenegaraan, ekonomi, budaya dan pergaulan internasional terus berubah bahkan sangat dinamis. Kedua, Perubahan UUD 1945 pascareformasi ditandai (bersamaan dengan) konsolidasi demokrasi dan ketatanegaraan yang juga dinamis. Ketiga, ide bernegara disatu sisi dan konstruksi (isi) konstitusi juga terus dikaji, diteliti, ditulis dan disoal oleh banyak kalangan selama masa transisi dan konsolidasi ketatanegaraan pasca reformasi ini.

Terkait dengan demokrasi, Pasal 1 Ayat (2) UUD 1945 menegaskan, Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Para penyusun UUD 1945 sepakat memilih demokrasi sebagai jalan kemaslahatan berbangsa dan bernegara.

Bangsa ini telah mantap memosisikan rakyat sebagai basis ontologis setiap aturan dan kebijakan negara. Tak ada sistem lain sebaik demokrasi, meskipun demokrasi diakui bukanlah sistem yang sempurna. Ketika bicara soal demokrasi apa yang hendak dibangun, Hatta menyatakan bahwa demokrasi Indonesia kelak adalah demokrasi yang sesuai dengan kultur dan nilai luhur bangsa, bukan demokrasi asal „jiplak‟ mentah-mentah konsepsi Barat.

Untuk itu, kata Hatta, model demokrasi yang musti dikembangkan ialah demokrasi yang cocok dan disesuaikan dengan karakter keindonesiaan sendiri, yakni demokrasi kekeluargaan berlandaskan permusyawaratan. Mengenai demokrasi, idenya menyimpul pada gagasan yang sama, yakni demokrasi haruslah memperjuangkan keseimbangan pencapaian kebebasan,

(21)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi 3 kesetaraan, keadilan, dan persaudaraan, dalam semangat permusyawaratan. Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, perikemanusiaan, persatuan, dan keadilan. Dalam pengertian semacam ini pula, rumusan dalam Alenia Keempat Pembukaan UUD 1945 “…..kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, harus diberi pengertian bahwa demokrasi disertai kewajiban untuk mengedepankan musyawarah demi pencapaian mufakat dalam prinsip kekeluargaan.

Model demokrasi Indonesia berangkat dari karakter luhur bangsa yang menjunjung tinggi semangat kekeluargaan dan gorong royong. Untuk itulah, siapapun yang berkecimpung dalam dunia politik, seharusnya senantiasa membuka hati dan pikiran untuk memudahkan jalan musyawarah dengan menjunjung etika politik dan semangat kekeluargaan.

Demokrasi sebagai suatu gagasan yang memiliki nilai universalitas dan moralitas, selalu merujuk pada sumber otoritas pemiliknya yakni rakyat itu sendiri. Nilai universalitas memberikan dasar pembenar bagi berlakunya kebebasan manusia dan pengakuan hak-hak dasar manusia dalam kehidupan negara. Demikian pula nilai moralitas merupakan prinsip- prinsip moral yang bersifat umum dan dapat ditelaah oleh akal manusia. Kedua nilai tersebut merupakan esensi yang tetap yang dijadikan ide dasar tentang perumusan hakekat demokrasi yang berkeadilan. Oleh karena itu, Islam dan demokrasi sama-sama memiliki nilai universalitas dan moralitas. Dalam perspektif Pasal 29 UUD 1945, maka nilai universiltas dan moralitas Islam dan negara memiliki sumber yang sama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Paradigma demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa merupakan esensi dari demokrasi ideal yang dirumuskan dalam Pembukaan dan ketentuan Pasal 29 UUD 1945. Nilai Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa akan menjadi perdebatan akademik dan praksis, karena dari segi ontologis belum dirumuskan secara utuh makna substansi demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa. Demikian pula secara prakasis belum pernah dirumuskan baik segi konsep operasional, kelembagaan maupun parketknya. Seminar Nasional ini berniat untuk menggali dan mengexplor tentang gagasan Islam dan Demokrasi:

Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan konstitusi Indonesia (UUD 1945).

II. Issue Startegis

Abad baru ditandai oleh menguatnya tuntutan terhadap demokrasi politik, penegakan Hak-hak Asasi Manuisa (HAM), kesetaraan dan keadilan gender, serta kesadaran tentang ancaman kerusakan lingkungan global. Inilah 4 issu utama yang mengemuka sejak

(22)

penghujung abad yang lalu, dan makin fenomenal belakangan ini. Reformasi tahun 1998 yang terjadi di negeri kita dan terus bergulir hingga kini, sesungguhnya merupakan dampak langsung dari tuntutan global demokratisasi politik ini. Demikian pula gerakan dan reformasi politik yang mengguncang negeri-negeri Islam dan Arab dimulai dari Tunisia, Mesir, Lybia, Suriah, Jordania, Yaman, Arab Saudi, dan beberapa negara Monarchi di Teluk, menjadi saksi nyata menguatnya demokratisasi politik. Pergolakan ini, seperti kita saksikan, terus berlangsung hinggga kini, dan belum ada yang bisa memprediksi kapan akan berakhir.

Dalam tesis Francis Fukuyama, dengan background jatuhnya Uni Soviet dan berakhirnya perang dingin, tuntutan terhadap demokrasi politik itu tidak pernah akan berakhir. Ia dipandang justru sebagai akhir dari sejarah yang bisa diperjuangkan oleh umat manusia unuk mencapai keadaban. (Fukuyama, The End of History and the Last Man: 1997). Ini berarti gerakan demokrasi akan terus menguat seiring dengan lahirnya gerakan kebebasan (liberalisme) dalam semua lapangan kehidupan yang menyertai globalisasi saat ini. Seperti pernah diramalkan Huntington, gerakan demokratisasi atau apa yang ia namakan “the fourth wave democracy” (demokrasi gelombang keempat) dipastikan menguat dan akan menyapu seluruh negeri dan bangsa-bangsa di dunia, tak terkecuali negeri-negeri Arab dan Afrika Utara.

Sampai titik ini, tesis Fukuyama dan Huntington mengandung segi-segi kebenaran.

Gerakan demokrasi yang mengguncang negeri-ngeri Arab (Arab Spring) menjadi saksi nyata kebangkitan gelombang demokrasi itu. Namun, seperti diketahui, gerakan demokrasi Arab itu kini menemui jalan buntu. Malahan banyak pakar menilai bahwa gerakan demokrasi Arab itu dipandang telah gagal, terlebih lagi setelah munculnya gerakan ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) yang notabene-nya anti Barat dan anti demokrasi, malahan memandang demokrasi sebagai ajaran setan yang merusak dan melemahkan Islam. ISIS tampil pada saat yang tepat (the truth moment) di kala negara-negara Arab sedang gonjang-ganjing dan sedang mencari bentuk, akibat terpaan angin kencang Arab spring. Tak dapat disangkal bahwa ISIS telah meramaikan panggung dan pergolakan politik di Timur Tengah. Meski ditolak oleh Islam mainstream, dan dilawan secara internal maupun melalui kekuatan- kekutan asing (Barat), ISIS tetap eksis dan menyebarkan ancamannya secara luas, tak hanya di negeri-negeri Arab, tetapi juga bagi negeri-negeri lain di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Dari berbagai fenomena yang dikemukakan di atas, patut dipertanyakan satu masalah pokok (issu penting), yaitu hubungan Islam dan demokrasi. Pertanyaan dasarnya, apakah Islam kompatibel dengan demokrasi? Apakah demokrasi dapat menjadi jalan terbaik mengatasi berbagai konflik politik di negeri-negeri Islam? Terhadap pertanyaan dasar ini,

(23)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi 5 sebagian pakar meragukan dan pesimistis. Dalam banyak studi atau riset, disimpulkan, Islam justru dipandang sebagai pendorong otoritarianisme Arab (Rothstein, 2011 dan Chenny, 2012). Kesimpulan yg sama dikemukakan oleh Kuru, 2014 dan Van Hoorn, 2013. Sejumlah 2/3 penduduk Mesir memilih pemerinahan seperti Arab Saudi ketimbang Turki. Dari vedio yang diputar ISIS, tidak semua pemuda Mesir yang terpelajar dan melek IT, setuju dan pro demokrasi. Namun, tidak sedikit pula pakar yang bersikap optimistik. Sikap ini didasarkan pada kecenderungan baru pada era globalisasi yang menyemburkan gerakan liberalisasi dan demokratisasi saat ini. Beberapa hasil studi memperkuat pendapat yang optistik ini.

Penelitian yang dilakukan John L Esposito terhadap 6 negeri Islam, meliputi Algeria, Mesir, Sudan, Iran, Pakistan, dan Malaysia, menunjukan dengan jelas bahwa tidak ada kontradiksi antara Islam dan demokrasi. Dengan kata lain, Islam sejalan dan kompatibel dengan demokrasi. Studi lebih luas dan dalam dilakukan oleh Gallup terhadap 25 negeri Islam (2001 dan 2007) dengan kesimpulan yang sama. Islam sebangun dengan demokrasi.

Di luar itu semua, demokrasi itu sendiri adalah sebuah proses seperti ditulis oleh Colette Rausch (2012) dalam analisisnya tentang demokrasi di Myanmar. Rausch menegaskan bahwa demokrasi adalah sebuah perjalanan. Di dalamnya, proses adalah substansi yang terpenting. Ini berarti, bagaimana proses itu dibangun, itulah yang menentukan makna dan substansi dari demokrasi an sich. Disamping itu, demokrasi juga selalu mengandung paradoks. Pada satu sisi, demokrasi menjanjikan kebebasan, keadilan, dan kedamaian dalam mengatasi konflik-konflik politik, sehingga demokrasi diabsolutkan, dan dipandang sebagai doktrin atau system politik yang terbaik. Namun, pada sisi lain, ajaran demokrasi belum sepenuhnya memenuhi “janji manis” yang ditawarkannya. Pada kenyataannya, demokrasi tidak selalu berkorelasi secara positif dengan keadilan. Contoh terbaru, terpilihnya Donald Trump, mengalahkan Hillary Clinton, dengan system electoral vote, dianggap kurang memenuhi rasa keadilan, karena secara popular vote, Clinton jauh lebih unggul dibanding Trump.

Di Indonesia sendiri, sejak reformasi 1998, demokrasi politik terus digaungkan. Sebagai bangsa, kita berbangga, bahwa Indonesia dipandang sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika dan India. Pujian pun datang dari banyak pengamat yang menilai Indonesia adalah satu-satunya negeri Islam yang bisa membangun dan mengembangkan demokrasi, dengan Turki sebagai satu-satunya pengecualian. Merle Calvin Ricklefs, peneliti asal Australia, memandang Islam Jawa (dalam arti luas: Islam Indonesia) mengalami kemajuan singnifikan, baik secara politik, ekonomi, maupun sosial budaya.

Terjadi sintesis baru di Indonesia saat ini, bukan antara Islam dan mistik, melainkan Islam dan demokrasi. Ini merupakan perkembangan menarik dan sekaligus menggembirakan. Tak

(24)

heran bila cendekiawan Muslim, Ziauddin Sardar, merekomendasikan agar Indonesia menjadi model pengembangan demokrasi di negeri-negeri Islam. Meskipun demikian, demokrasi di Indonesia bukan tanpa masalah. Pertama, demokrasi kita dianggap menyimpang dari falsafat bangsa (Pancasila). Kedua, demokrasi kita tidak substansial, tetapi hanya procedural. Naiknya kembali Novanto sebagai Ketua DPR dapat dijadikan sebagai contoh. Meski absah secara metodologis, namun hal itu dirasakan kurang memenuhi rasa keadilan, bahkan dapat dipandang cacat secara moral. Tak heran bila banyak pakar mengusulkan agar demokrasi politik kita diubah dari demokrasi prosedural ke demokrasi substansial atau system politik yang oleh Cliford Geerzt disebut “politik makna” (the politics of meaning) dalam Culture and Politics in Indonesia (1972). Ketiga, demokrasi kita ternyata tidak berkorelasi secara positif dengan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Lantas pertanyaannya, Apakah masih ada alasan membela dan memajukan demokrasi kalau sebagai sistem politik, demokrasi di negara-negara yang dinamakan young democracies tidak sanggup mencegah korupsi dalam pemerintahan dan gagal juga menghentikan praktik- praktik yang melanggar HAM dalam masyarakat? Pertanyaan lainnya, karena demokrasi juga tidak tunggal, paling tidak dalam implementasinya dalam pemerintahan, model demokrasi seperti apa yang harus dibangun dan dikembangkan di Indonesia dan negeri- negeri Islam lain?

Respons Islam dalam menghadapi tantangan modernitas bersifat dinamis. Di satu pihak, terdapat gerakan yang melakukan pengambilan secara selektif (appropriation) terhadap unsure-unsur sains – teknologi dan seni dari Barat, seperti dikembangkan oleh Muhammadiyah. Di sisi lain, ada gerakan otentisasi (authentication) dengan berpaling pada tradisi-tradisi keagamaan local sebagai bentuk resistensi terhadap serangan modernitas, seperti yang ditempuh oleh Nahdlatul Ulama (NU). Sehebat apapun gempuran modernism dan skripturalisme, kontinuitas pandangan dan etos relegi Nusantara masih bisa dipertahankan. Geertz (1981) menyimpulkan bahwa karena peran ulama sebagai pialang budaya, pengaruh reformisme Islam dari Timur Tengah itu masih bisa diseleksi, disesuaikan dengan konteks lokal, sehingga ketahanan mental primordial Nusantara yang bersifat adaptif, menyerap , gradualistis, dan kompromistis masih bisa bertahan. Radiasi reformisme keagamaan dalam perkembangannya tak mengarah kepada kedalaman pemurnian (force), tetapi perluasan (scope).

Perkembangan dunia pasca-industrial dengan revolusi dibidang telekomunikasi, transportasi, dan turisme membawa arus globalisasi yang makin luas cukupannya, dalam penetrasinya, dan instan kecepatannya. Dengan intensitas dan ekstensivitas arus globalisasi, radiasi budaya dari lapisan terluar (teknologi) bisa cepat disusul oleh peradiasian pada

(25)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi 7 lapisan – lapisan budaya yang lebih dalam hingga menembus jantung spiritualitas bangsa ini.

Dengan posisi awal dan konsekuensinya yang tidak sama, globalisasi membelah dunia kedalam pihak “yang menang” (winners) dan “yang kalah” (losers); serta menumbuhkan ketidaksetaraan, baik secara internasional maupun dalam negara bangsa (Hobsbawn, 2007).

Selain menimbulkan deprivasi social bagi pihak – pihak yang kalah, hidup dalam sebuah dunia pasca-modern, seperti yang dijelaskan Baudrillard (1992), berarti hidup dalam sebuah gerak interpenetrasi pengalaman-pengalaman cultural dan pluralisasi alam kehidupan yang dialami manusia sehingga melahirkan ketidakjelasan nilai – nilai ideal dan menumbuhkembangkan gaya hidup konsumerisme yang menyebabkan terjadinya diferensiasi dan fragumentasi dalam pandangan dunia.

Keretakan dalam pandangan dunia ini diperburuk oleh distorsi komunikatif dalam ruang publik akibat penaklukan rasionalitas nilai kebijakan hidup bersama, oleh rasionalitas instrumental dari dunia sistem kapitalisme. Distorsi komunikatif ini menimbulkan alienasi sosial, yang melemahkan hubungan – hubungan permusyawaratan dengan hikmat- kebijaksanaan dalam kehidupan bersama. Meluasnya gejala deprivasi dan alienasi sosial membawa dampak serius pada corak keagamaan Indonesia. Arus radiasi budaya dari penyebaran teknologi baru bersama seni dan konsekuensi nilai etis yang ditimbulkannya melahirkan resistensi dalam bentuk revivalisme keagamaan, dengan menarik agama ke arah politik identitas. Dengan politisasi identitas keagamaan, manusia yang pada dasarnya multi- identitas direduksi habis-habisan ke dalam satu identitas-keagamaan. Dalam kerangka politik identitas, fanatisisme dirayakan dengan menolak rasionalitas, perbedaan tafsir, prinsip representasi dan inklusivitas, serta pemerintahan konstitusional sebagai bantalan vital demokrasi. Pandangan dunia keagamaan menjadi hitam-putih, kawan – kawan, kehilangan elan vital etos klasik keagamaan di Indonesia yang bersifat adaptif, estetis, dan toleran.

Serangan gencar terhadap jantung keberagamaan ini bisa mengubah secara mendasar jati diri kebangsaan Indonesia. Jalan nasionalisme kewargaan di Indonesia tidak menempuh trayek sekularisme. Dalam pengalaman Eropa, munculnya nasionalisme bangkit, agama memainkan peran penting. Kemunculan masyarakat sipil dan politik utamanya terlahir dari komunitas agama – budaya, bukan dari komunitas pasar. Jalan menuju nasionalisme kewargaan ditempuh dengan cara pengadaban masyarakat keagamaan dan kesukuan untuk bisa memasuki kehidupan publik secara damai dan toleran.

Paradigma demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa merupakan esensi dari demokrasi ideal yang dirumuskan dalam Pembukaan dan ketentuan Pasal 29 UUD 1945. Nilai Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa akan menjadi perdebatan akademik dan praksis, karena dari segi ontologis belum dirumuskan secara utuh makna substansi demokrasi

(26)

Berketuhanan Yang Maha Esa. Jika demokrasi difahami dari sudut logika politik akan melahirkan penguatan kekuasaan walau dengan cara melawan nilai-nilai etika moral dan keadaban, namun jika demokrasi difahami dari sudut logika hukum, kebenaran dan keadilan, akan melahirkan kekuasaan yang legitimate, competence dan legal. Inilah ruh sebenarnya dari nilai dasar Pancasila untuk berneraga. Hal-hal tersebut itulah, yang akan dikaji, dan dibahas dalam seminar ini dengan tema “Islam Dan Demokrasi: Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa”

(27)

BAB II:

PARADIGMA, KONSEPTUALISASI, DAN KONVERGENSI ISLAM DAN DEMOKRASI

DALAM MODEL DEMOKRASI

BERKETUHANAN YANG MAHA ESA

(28)
(29)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi 9 ISLAM DAN DEMOKRASI1

Oleh: Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH2

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bapak-bapak dan ibu-ibu, peserta hadirin yang saya muliakan. Izinkan saya menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang sub tema yang dibahas dalam seminar ini mengenai demokrasi kaitannya dengan islam, baik dalam teori maupun praktik di negara-negara modern sekarang ini. Saya akan beritik tolak membahas masalah ini dari premis di dalam al-Quran surat Al-Baqarah ayat 185 yang mengatakan:

Artinya:” Di bulan Ramadhan itu Allah menurunkan al-Qur‟an untuk dijadikan sebagai petunjuk bagi ummat manusia dan penjelasan atas petunjuk itu sesuatu yang akan membedakan (antara yang benar dan yang batil) (al-Baqarah: 185)

Dari konteks ini kita bisa memahami bahwa sesungguhnya Al-Qur‟an adalah sebuah petunjuk universal untuk semua ummat manusia, dan penjelasan atas petunjuk itu serta sesuatu yang membedakan, al-Qur‟an memberikan petunjuk sesuatu dan menjelaskan segala sesuatu dan tidak ada satu persoalan yang tidak dicakup oleh al-Qur‟an. Tetapi meskipun demikian cakupan al-Qur‟an terhadap persoalan-persoalan manusia, masyarakat, dunia internasional, maupun tentang alam semesta ini tidak bersifat detail tetapi memberikan penjelasan yang bersifat umum dengan menekankan kepada aspek-aspek tertentu.

Kata-kata al-Qur‟an jelas mengandung suatu sejarah tetapi al-Qur‟an bukanlah suatu teksbook yang mengandung sejarah. al-Qur‟anberkisah tentang Lukman yang tidak dijelaskan kapan dan dimana dia hidup, tetapi yang ditekankan di dalam al-Qur‟an bahwa Lukman merupakan prototype sebagai seorang ayah yang baik dan bijaksana. Ketika diangkat sebagai prototype seorang yang bijak, maka tema Lukman menjadi tema moral yang bersifat universal dan berlaku kapan pun dan dimana pun, dan dia juga menjadi contoh tauladan begi semua ummat manusia.

Dalam konteks kehidupan politik dan negara, jauh sebelum Islam, negara-negara itu sudah ada, kekuatan politik dunia pun sudah ada. Maka kalau kita melihatnya dalam perspektif

1 Tulisan ini disampaikan pada Seminar Nasional Islam dan Demokrasi: Pengembangan Model Demokrasi Berketuhanan Yang Maha Esa, yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi‟iyah (UIA), di Auditorium Lantai 3 Gedung Bukopin, Jakarta, tanggal 25-27 Juli 2017.

2 Guru Besar Hukum Tata Negara pada Universitas Indonesia dan Universitas Islam As-Syafi‟iyah (UIA)

(30)

modern adanya kekuatan super power itu sudah ada sebelum kedatangan islam. Negara dan kekuata politik itu juga sudah tercermin dalam surat al-Qur‟an Ar-Ruum yang mengisahkan dua super power di dunia ini yang saling kalah mengalahkan antara kerajaan Romawi di Barat dan kerajaan Persia di Timur. Maka disamping itu ada kekuatan-kekuatan penyeimbang yang lain seperti kekuatan China yang dipimpin oleh Dinasti Tang pada zaman nabi Muhammad, bahkan ada kemunculan kekuatan politik besar di negara ini di bawah Kerajaan Sri Wijaya pada awal abad ke-6 Masehi. Tetapi al-Qur‟an tidak secara spesifik membicarakan sebuah sistem politik.

Karena tuhan bukan sistem, tetapi Tuhan adalah petunjuk. Dengan petunjuk itulah kita membuat sistem. Sistem adalah buatan manusia. Hasil rancangan dan hasil ijtihad manusia dengan melakukan studi perbandingan empiris tentang sistem yang berkembang di negara-negara lain, baik dalam sejarah maupun apa yang sedang hidup pada waktu itu. Sistem juga dapat terbentuk yang didasari oleh prinsip-prinsip atau petunjuk-petunjuk universal yang ditulis dalam al-Qur‟an itu.

Walaupun banyak sekali lieratur yang ditulis baik oleh sejarah-sejarah yang ditulis oleh islam itu sendiri maupun oleh orang-orang barat yang melakukan studi tentang islam, misalnya tulisan tentang Muhammad Prophet Assessment yang artinya Muhammad adalah seorang nabi dan seorang negarawan, dan sebagainya. Bahkan banyak buku yang ditulis dalam konteks Hukum Tata Negara yang menganalisis perjanjian antara Rasullulah dengan kelompok-kelompok masyarakat Madinah ketika Rasullullah sampai di Yastrib, maka beberapa kelompok orang-orang di sana (Yastrib), termasuk orang-orang Yahudi termasuk orang-orang mukminin yaitu Muhajirin dan Anshor yang dituangkan dalam suatu naskah yang oleh Ibn Ishak disebut Kitabun Nabiyu, yang banyak orang dikemudian hari mengatakan - termasuk guru kita Almarhum Prof. Zainal Abidin Ahmad - menulis buktu berjudul Piagam Madinah Konstitusi Pertama yang ada di Dunia.

Dan Prof. Zainal Abidin Ahmad mengatakan bahwa kontrak social (social contract) yang ditulis oleh JJ Rosseau pada awal zaman modern di Eropa itu hanya suatu teori filosofis, tetapi secara empiris kontrak social terjadi di Zaman nabi yang kemudian membentuk Madinah sebagai civil state yang juga menunjuk Rasul sebagai pemimpinnya, tetapi tidak disebutkan secara jelas posisi Nabi itu apa, baik kepala negara ataukah apa. Namun di dalam al-Qur‟an dengan tegas mengatakan Wama Muhammadun illa Rasuul, yang artinya tidaklah Muhammad itu kecuali ia seorang Rasul. Jadi ini adalah historis pertama dari praktik politik kontrak sosial yang membentuk Madinah sebagai suatu komunitas dan dibahas agak detail mengenai pengertian tentang Madinah yang menggambarkan suatu konsep kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dari konsep „Din‟ yang dikenal dalam islam itu sendiri.

(31)

Prosiding Seminar Nasional - Islam dan Demokrasi 11 Dalam kepemimpinannya itu, nabi Muhammad bertindak sebagai pemimpin masyarakat Madinah dan menentukan segalanya serta melakukan musyawarah dengan pengikut-pengikutnya sehingga kemudian turunlah ayat-ayat tentang musyawarah, turun juga ayat-ayat tentang ulil amri dan turun juga ayat-ayat tentang peperangan. Sehingga kemudian juga kita melihat struktur perjanjian dalam piagam madinah ada kewajiban kelompok militer dari semua pihak. Contohnya adalah ada kesepakatan yang menyatakan apabila Madinah diserang dari luar, maka baik itu umat Muslim maupun Yahudi maupun lainnya akan bersatu padu dan saling mempertahankan Madinah daru serangan musuh tersebut. Itu adalah kesepatakan militer, dmana dalam zaman modern dikenal dengan wajib militer. Sehingga dalam keadaan Madinah diserang kemudian Yahudi melakukan diskresi dengan tidak mau ikut berperang dan mereka tidak mau diperintah yang akhirnya Madinah mengalami kekalahan dikalangan umat islam, lalu 100 orang Yahudi itu didakwa dipengadilan karena tidak ikut berperang, maka ia dikenakan sanksi hukuman mati karena dianggap melakukan diskresi.

Hal ini kemudian yang jadi perdebatan saya dengan Prof Figural Harini yang mengatakan begitu kejamnya hukum islam. Tetapi setelah saya buka diskusi persidangan waktu itu, ternyata Zaid bin Sabid mengadili peristiwa itu dan terbukti 100 orang Yahudi melakukan diskresi.

Setelah terbukti melakukan diskresi, Zaid bertanya kepada pendeta Yahudi, dalam kitab Toga perbuatan diskresi maka hukumannya apa yang diberlakukan? Lalu pendeta mengatakan hukumannya adalah hukuman mati, lalu kemudian diketok dan dijatuhkan hukuman tersebut. Jadi hukuman hukuman yang dikenakan kepada Yahudi bukan dari hukum islam melainkan hukum Yahudi itu sendiri. Lalu dimana letak tidak adilnya?

Dari kejadian tersebut memberikan satu isyarat bahwa piagam Madinah memberikan inspirasi yang sangat penting bagi perkembangan apa yang disebut demokrasi yang berkembang dikemudian hari yaitu adanya suatu struktur masyarakat demokrasi yang beragam. Orang Islam ada 2 (dua) kelompok, Anshar dan Muhajirin, dan Yahudi sebanyak 12 suku, dan ada juga orang Kristen Historia yang ada sekitar Madinah itu. Ada juga orang arab yang fanatisme. Mereka membentuk suatu komunitas dalam suatu perjanjian yang kemudian disebut Madinah yang orang Islam diberlakukan hukum islam, orang Yahudi diberlakukan hukum Taurat, dan kepada orang Arab non muslim diberlakukan hukum adat mereka. Jadi sebenarnya hal ini merupakan suatu konteks yang sangat modern. Indonesia ini dikatakan secara hukum dikenal dengan sebutan unity in diversity, yaitu bersatu di dalam keragaman, karena di Indonesia ini ada hukum privat yang mustahil disatukan. Makanya dikatakan dalam perkawinan dikatakan bahwa perkawinan adalah sah jika dilakukan menurut hukum agamanya masing-masing, dan ketika terjadi perceraian, maka harta yang ada dikembalikan pada hukum agama atau hukum adat masing-masing. Jadi ini memang suatu teori yang sangat modern dalam piagam madinah yang mengakui adanya pluralitas

Referensi

Dokumen terkait