• Tidak ada hasil yang ditemukan

memuat kesimpulan dan saran-saran. BAB II OBLIGASI SEBAGAI INSTRUMEN PERDAGANGAN DI PASAR MODAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "memuat kesimpulan dan saran-saran. BAB II OBLIGASI SEBAGAI INSTRUMEN PERDAGANGAN DI PASAR MODAL"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

bagi investor pemegang obligasi dalam hal emiten gagal bayar (default) serta pembuktian hak kepemilikan obligasi secara elektronik.

Bab V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab terakhir dalam penulisan skripsi ini yang akan memuat kesimpulan dan saran-saran.

BAB II

OBLIGASI SEBAGAI INSTRUMEN PERDAGANGAN DI PASAR MODAL

A. Obligasi sebagai Instrumen Perdagangan di Pasar Modal

Kata obligasi berasal dari Bahasa Belanda, yaitu “Obligatie” atau

“Verplichting” atau “Obligataat”, yang berarti kewajiban yang tak dapat ditinggalkan, atau surat utang suatu pinjaman negara atau daerah swapraja atau perseroan dengan bunga tetap untuk si pemegang. Dalam kamus hukum Sudarsono, obligasi mempunyai dua pengertian, yaitu :

1. Surat pinjaman dengan bunga tertentu dari pemerintah yang dapat diperdagangkan atau diperjualbelikan; atau

2. Surat utang berjangka (waktu) lebih dari satu tahun dan memiliki suku bunga tertentu, dimana surat tersebut dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik dana dari masyarakat guna menutup pembiayaan perusahaan.23

Dalam UUPM tidak terdapat definisi obligasi secara eksplisit, tetapi terdapat kata “obligasi” pada Pasal 1 butir 5, Penjelasan Pasal 21 ayat (3), Pasal

23 Gunawan Widjaja&Jono, Penerbitan Obligasi dan Peran Serta Tanggung Jawab Wali Amanat dalam Pasar Modal,(Jakarta : Kencana, 2006), hlm. 47.

(2)

24 ayat (1), dan Penjelasan Pasal 25 ayat (1), di mana intinya bahwa Obligasi termasuk salah satu jenis efek. Ketentuan yang lebih jelas terdapat pada penjelasan Pasal 51 ayat (4),di mana dikatakan bahwa Obligasi sebagai contoh Efek yang bersifat utang jangka panjang. Obligasi adalah bukti utang dari emiten yang mengandung janji pembayaran bunga atau janji lainnya serta pelunasan pokok pinjaman yang dilakukan pada tanggal jatuh tempo, sekurang-kurangnya tiga tahun sejak tanggal emisi (Pasal 1 butir 34 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1548 / KMK.013/1990 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1199/KMK.010/1991). Obligasi juga dapat diartikan sebagai salah satu instrumen yang bersifat utang yang diperdagangkan di bursa Efek dan jangka waktu jatuh temponya lebih dari satu tahun.24

1. Jenis-Jenis Obligasi di Pasar Modal

Obligasi merupakan salah satu instrumen yang diterbitkan oleh suatu pihak tertentu dan diperjualbelikan di bursa Efek. Di Indonesia, saat ini hanya terdapat satu bursa yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merupakan gabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Ada beberapa macam obligasi yang dikenal dalam kehidupan pasar modal. Semua jenis obligasi tersebut pada dasarnya mempunyai sifat yang sama, yaitu sebagai surat hutang. Hanya saja dalam perkembangan pasar modal, obligasi tidak hanya semata-mata bersifat suatu surat hutang murni, tetapi di modifikasi sedemikian rupa sehingga pemegang obligasi tidak saja memiliki hak atas pelunasan hutang pokok obligasi, tetapi juga memiliki hak-hak lain yang diberikan melalui perjanjian penerbitnya.

24 Ibid, hlm. 48.

(3)

Secara garis besar pada dasarnya ada dua kelompok obligasi. Pertama ialah apa yang disebut sebagai “plain vanilla bonds” yaitu obligasi yang bersifat hutang. Sedangkan yang lain ialah apa yang disebut sebagai “equity like bonds”

atau obligasi yang menyerupai ekuitas atau penyertaan modal. Tujuan dari pembentukan derivatif-derivatif obligasi ini tidak lain adalah agar para pemodal lebih tertarik untuk menginvestasikan dananya pada obligasi yang berbagai jenis tersebut.25

a. Berdasarkan Proses Peralihan Kepemilikan Ada beberapa jenis obligasi, yaitu :

Berdasarkan proses peralihan kepemilikan, obligasi ada 2 jenis yaitu:

1) Obligasi atas nama (registered bond)

Jenis obligasi ini merupakan jenis obligasi yang proses peralihannya harus dibuat dalam suatu akta perjanjian yang menyatakan bahwa pihak yang satu mengalihkan obligasinya kepada pihak lain.

Pembuatan akta tersebut diperlukan karena di dalam surat obligasi sudah tertera nama pemilik asal sehingga mau tidak mau harus dibuat akta perjanjian peralihan. Akta perjanjian peralihan ini akan dijadikan sebagai alat untuk mengklaim pada waktu obligasi tersebut jatuh tempo.

Akta perjanjian peralihan ini merupakan akta cessie sebagaimana dimaksud dalam Pasal 613 ayat (2) KUHPerdata. Peralihan tersebut harus meminta persetujuan atau melaporkan kepada penerbit obligasi.

25 A. Setiadi, Op. cit, hlm. 24.

(4)

Obligasi jenis ini umumnya tidak dapat diperdagangkan dalam burasa Efek karena rumitnya proses peralihan kepemilikan.26

2) Obligasi atas unjuk (Bearer bond)

Jenis obligasi ini merupakan jenis obligasi yang proses peralihan sangat mudah, yaitu hanya berupa penyerahan secara langsung.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa yang memegang sertifikat obligasi, maka dialah sebagai pemiliknya. Dengan kata lain, siapa yang memegang/menguasai sertifikat obligasi, maka dialah sebagai pemiliknya. Ciri-ciri penting dari obligasi atas unjuk meliputi:27

a. Nama pemilik tidak tercantum dalam sertifikat obligasi.

b. Setiap sertifikat obligasi disertai dengan kupon bunga yang dilepaskan setiap pembayaran bunga dilakukan.

c. Sangat mudah untuk dialihkan.

d. Kertas sertifikat obligasi dibuat dari bahan berkualitas tinggi seperti bahan pembuat uang.

e. Bunga dan pokok obligasi hanya dibayarkan kepada orang yang dapat menunjukkan kupon bunga dan sertifikat obligasi.

f. Kupon bunga dan sertifikat obligasi yang hilang tidak dapat dimintakan penggantian.

26 Gunawan Widjaja&Jono, Op. cit, hlm. 49.

27 M. Paulus Situmorang, Op. cit, hlm. 54.

(5)

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa jenis obligasi ini yang bersifat transferable, maka jenis obligasi ini yang biasanya diperjualbelikan dalam bursa Efek.28

b. Berdasarkan Penghitungan Bunga Obligasi

Ada beberapa jenis obligasi dilihat dari segi penetapan dan pembayaran bunga, yaitu:

1) Obligasi dengan bunga tetap

Obligasi dengan bunga tetap merupakan obligasi yang memberikan bunga yang bersifat tetap selama jangka waktu obligasi tersebut.

2) Obligasi dengan bunga tidak tetap

Cara penetapan bunga obligasi ini bermacam-macam, misalnya bunga yang dikalikan dengan indeks atau dengan tingkat bunga deposito atau tingkat bunga deposito yang berlaku.

3) Obligasi yang tidak terbatas jatuh temponya (perpectual bond)

Perpectual bond adalah salah satu jenis obligasi yang tidak mempunyai

batas jatuh temponya. Perusahaan yang menerbitkan surat berharga ini tidak mempunyai kewajiban untuk mengembalikan utang tersebut, kecuali perusahaan tersebut dilikuidasi.

4) Obligasi tanpa bunga (zero coupon bond)

28 Gunawan Widjaja dan Jono, Op. cit, hal. 50.

(6)

Jenis obligasi ini tidak mempunyai kupon bunga dan sebagai konsekuensinya pemilik tidak memperoleh pembayaran bunga secara periodik. Keuntungan yang diperoleh dari pemilikan obligasi ini diukur dari selisih antara nilai pada waktu jatuh tempo dengan harga pembelian.

5) Obligasi dengan bunga mengambang (floating rate bond)

Obligasi ini menjanjikan untuk memberikan suku bunga secara mengambang. Bunga obligasi ini dapat berubah-ubah setiap saat secara periodik.29

c. Berdasarkan Penerbit (Issuer)

Dilihat dari segi penerbitnya, obligasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

1) Obligasi Pemerintah Pusat (Government Bonds)

Obligasi ini merupakan suatu jenis obligasi yang dikeluarkan oleh suatu pemerintah pusat dari suatu negara dengan tujuan untuk membiayai dan membangun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di Indonesia saat ini hanya obligasi Bank Indonesia yang dipasarkan di pasar internasional yang dimaksudkan untuk bench mark bagi obligasi BUMN dan perusahaan swasta nasional.

2) Obligasi pemerintah daerah (municipal bonds)

29 Ibid, hlm. 52.

(7)

Obligasi ini merupakan suatu jenis obligasi yang dikeluarkan oleh suatu pemerintah daerah dengan tujuan untuk membiayai dan membangun Badan Usaha Milik Daerah. Undang-undang Otonom Daerah memungkinkan Pemda untuk mengeluarkan obligasi, karena Pemda sudah lebih bebas menentukan kebijakan dalam memajukan daerahnya.

Obligasi Pemda belum ada di Indonesia, walaupun dari segi potensi ada beberapa Pemda yang mempunyai prospek untuk mengeluarkan obligasi dalam rangka menambah dana investasi Pemda.

3) Obligasi perusahaan swasta (corporate bonds)

Obligasi ini merupakan suatu obligasi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan swasta yang membutuhkan dana atau modal secara cepat dalam rangka membangun dan memperluas bisnis perusahaannya. Di Indonesia, obligasi perusahaan swasta ini diterbitkan oleh suatu perusahaan yang telah memenuhi persyaratan dan pernyataan pendaftarannya telah dinyatakan efektif oleh Bapepam.30

d. Berdasarkan Jaminan atau Kolateral

Ditinjau dari segi jaminan yang diberikan, terdapat beberapa jenis obligasi, yaitu:

1) Obligasi dengan jaminan tertentu (secured bond)

30 Ibid.

(8)

Obligasi jenis ini merupakan obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga.

2) Obligasi tanpa jaminan (unsecured bond)

Obligasi ini merupakan suatu jenis obligasi yang tidak dijamin dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya berdasarkan titel umum atau dengan “earning power” penerbitnya.31

e. Berdasarkan Tujuan Penerbitan 3) Guaranted bonds

Obligasi ini merupakan pembayaran pokok pinjaman beserta bunganya dijamin oleh penanggung utang selaku pihak ketiga.

4) Mortgage and other asset backed bonds

Obligasi ini merupakan obligasi yang diterbitkan dengan jaminan hak tanggungan dan/ atau agunan asset perusahaan lainnya.

Berdasarkan tujuannya, ada 2 jenis obligasi yang bisa ditemukan, yaitu:

1) Improvement bonds

Obligasi ini merupakan suatu obligasi yang diterbitkan oleh suatu pihak (biasanya Pemda) dengan tujuan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak dan pengembalian pinjamannya bergantung pada hasil yang diperoleh dari proyek perbaikan tersebut.

2) Industrial developments bonds

31 A. Setiadi, Op. cit, hlm. 28-31.

(9)

Obligasi ini merupakan suatu obligasi yang dipasarkan oleh Pemda di mana hasil penjualan obligasi tersebut digunakan untuk pembangunan fasilitas bisnis usaha swasta.32

2. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Penerbitan Obligasi

Dalam melakukan penerbitan suatu obligasi, tidak terlepas dari beberapa pihak yang berperan dalam penerbitan obligasi tersebut, antara lain :

a. Emiten (Issuer)

Emiten merupakan suatu perusahaan yang menjadi aktor utama yang bermaksud menerbitkan suatu obligasi. Pasal 1 Angka 6 Undang-Undang Pasar Modal, mendefinisikan Emiten sebagai berikut : “ Emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum”.33 Pihak adalah orang perseorangan, perusahaan usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi. Yang dapat bertindak menjadi Emiten adalah perusahaan, BUMD, BUMN, pemerintah daerah, negara, badan-badan internasional, atau badan otonomi khusus. Untuk mencari dana dari masyarakat pemodal (investor), maka emiten menerbitkan dan memperjualbelikan Efek yang bersifat utang (obligasi) di pasar modal.34 Ada 4 keharusan yang wajib dilakukan Emiten untuk beraktivitas di pasar modal, yaitu :35

1) Keterbukaan Informasi

32 Gunawan Widjaja&Jono, Op. cit, hlm. 54.

33 Bab I Pasal 1 Angka 6 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

34 Ibid, hlm. 56.

35 M. Irsan Nasaruddin & Indra Surya, Op. cit, hlm. 151.

(10)

Setiap Emiten yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif wajib menyampaikan kepada Bapepam dan mengumumkan pada masyarakat secepat mungkin apabila terjadi sebuah peristiwa, informasi atau fakta material yang mungkin dapat mempengaruhi nilai Efek perusahaan atau keputusan investasi pemodal. Pelaksanaan prinsip keterbukaan dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu :

a) Tahap keterbukaan pada saat Emiten melakukan penawaran umum (primary market level).

b) Tahap keterbukaan setelah Emiten mencatat dan memperdagangkan sahamnya di bursa Efek (secondary market level), di mana Emiten berkewajiban untuk menyampaikan secara terus menerus laporan berkala (continuously disclosure) kepada Bapepam.

c) Tahap keterbukaan karena terjadi peristiwa penting yang laporannya harus disampaikan secara tepat waktu kepada Bapepam dan bursa Efek (timely disclosure).

2) Peningkatan Likuiditas

Emiten dapat meningkatkan likuiditas Efek di pasar modal karena harga Efek di pasar modal melalui penambahan jumlah Efek yang beredar, yang dapat dilakukan melalui penawaran dengan Hak Memesan Terlebih Dahulu (HMETD), penerbitan obligasi konversi, dan lain-lain. Melalui peningkatan

(11)

kinerja Emiten, berupa peningkatan laba, hal ini akan lebih menarik investor untuk menginvestasikan dananya pada efek perusahaan.

3) Pemantauan Harga Efek

Emiten harus selalu memantau harga efeknya di pasar modal, karena harga efek adalah cerminan dari kinerja dan kondisi suatu perusahaan.

Harga efek yang tinggi berarti kinerja emiten baik dan sebaliknya harga Efek yang rendah menunjukkan kinerja Emiten baik dan sebaliknya harga Efek yang rendah menunjukkan kinerja Emiten yang buruk.36

4) Menjaga hubungan baik dengan investor

Untuk meningkatkan kepercayaan pemegang saham ataupun calon investor kepada perusahaan, Emiten perlu terus menerus membina hubungan baik pemegang saham dan calon investor. Sehingga apabila suatu saat Emiten memerlukan tambahan dana, Emiten tidak mengalami kendala komunikasi, karena hubungan baik telah terbangun melalui komunikasi.

Dengan begitu calon investor telah mengenal, mengetahui, dan percaya pada kinerja perusahaan.37

b. Penjamin Emisi Efek (Underwriter)

Penjamin emisi Efek merupakan pihak yang juga memegang peranan sangat penting dalam penerbitan obligasi. Pasal 1 Angka 17 UUPM memberikan definisi sebagai berikut :“Penjamin emisi Efek adalah pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan penawaran umum

36 Ibid, hlm. 154.

37 Ibid.

(12)

bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang tidak terjual”38. Penjamin emisi adalah perusahaan yang menjamin penjualan obligasi. Pada dasarnya penjamin emisi merupakan mediator antara Emiten dengan pemodal.39

Dalam praktek penerbitan obligasi biasanya penjaminan emisi efek dilakukan oleh lebih dari satu penjamin emisi. Dalam hal ini salah satu dari penjamin emisi ini akan bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi (managing underwriter) yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan suatu penawaran umum. Jadi, penjamin emisi efek ini yang mempersiapkan segala sesuatunya sehubungan dengan penerbitan obligasi termasuk mempersiapkan prospektus dan sebagainya.40

c. Wali Amanat

Dalam penerbitan obligasi dikenal lembaga wali amanat (trustee).

Lembaga ini merupakan lembaga khusus yang harus ada dalam setiap penerbitan efek yang bersifat hutang seperti obligasi. Wali amanat merupakan pihak yang mewakili para pemegang obligasi dalam hubungannya dengan penerbitan obligasi yang bersangkutan. Obligasi pada dasarnya merupakan surat hutang yang sifatnya sepihak dan para

38 Pasal 1 angka 17 Undang-undang Pasar Modal.

39 Gunawan Widjaja&Jono, Op. cit, hlm. 58.

40 A. Setiadi, Op. cit, hlm. 50.

(13)

pemegangnya tersebar luas. Oleh karena itu untuk mengurus dan mewakili mereka selaku kreditur perlu dibentuk lembaga perwaliamanatan.41

d. Penanggung (Guarantor)

Wali amanat dalam Undang-undang Pasar Modal didefinisikan sebagai berikut: “ Wali amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang efek yang bersifat hutang .” Dalam Undang-undang pasar modal menyebutkan bahwa kegiatan usaha sebagai wali amanat dapat dilakukan oleh bank umum atau pihak lain yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah.

Jasa penanggung (guarantor) diperlukan apabila suatu pihak (perusahaan, negara, pemerintah daerah) menerbitkan obligasi. Tujuannya adalah untuk menjamin pelunasan seluruh pinjaman pokok beserta bunga, apabila ternyata di kemudian hari Emiten tidak mampu membayar atau wanprestasi. Biasanya jasa pertanggungan ini dilaksanakan oleh bank atau lembaga keuangan bukan bank yang mempunyai reputasi sangat baik.42

Penanggung dalam penerbitan obligasi dapat lebih dari satu penanggung. Penanggungan yang demikian merupakan suatu sindikasi.

Dalam hal ini setiap penanggung bertanggung jawab baik secara sendiri- sendiri maupun bersama-sama (tanggung renteng).43

e. Investor (masyarakat pemodal)

Investor merupakan aktor utama yang berperan dalam kegiatan pasar modal. Investor sebagai pihak yang menginvestasikan dananya di pasar

41 Ibid, hlm. 46.

42 Gunawan Widjaja&Jono, Op. cit, hlm. 60.

43 A. Setiadi, Op. cit, hlm. 51.

(14)

modal, dengan cara membeli Efek yang bersifat utang (obligasi) maupun efek yang bersifat ekuitas. Investor yang terlibat dalam pasar modal Indonesia adalah investor domestik dan asing, perorangan dan institusi yang mempunyai karakteristik masing-masing.44

f. Lembaga Kliring

Lembaga ini berfungsi menyelesaikan semua hak-hak dan kewajiban yang timbul dari transaksi di bursa Efek. Lembaga kliring dapat juga bertindak sebagai agen pembayaran atas transaksi jual beli obligasi.

Umumnya yang ditunjuk sebagai lembaga kliring adalah bank. Ia bertugas membayar bunga dan pinjaman pokok atas obligasi, namun keterlibatan hanya setelah obligasi masuk di bursa Efek atau di pasar sekunder.

g. Bursa Efek

Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual beli Efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan Efek di antara mereka (Pasal 1 butir 4 UUPM). 45

h. Profesi Penunjang Pasar Modal

Menurut Undang-undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 Bab VIII dan PP No. 45 Tahun 1995 Bab X, profesi penunjang pasar modal memiliki ketentuan sebagai berikut:46

44 Gunawan Widjaja&Jono, Loc. cit, hlm. 60.

45 Ibid, hlm.61.

46 Ibid, hlm. 62.

(15)

1) Profesi penunjang pasar modal wajib terdaftar di Bapepam.

2) Setiap profesi pasar modal wajib menaati kode etik dan standar profesi yang ditetapkan asosiasinya masing-masing sepanjang tidak bertentangan dengan UU Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya.

3) Dalam melaksanakan kegiatan usaha di bidang pasar modal profesi penunjang pasar modal wajib memberikan pendapat atau penilai independen.

Profesi penunjang pasar modal terdiri dari:

1) Akuntan Publik

Akuntan publik merupakan profesi penunjang pasar modal yang berfungsi memeriksa kondisi keuangan emiten serta memberikan pendapatnya tentang kelayakan Emiten dalam menerbitkan obligasi.

Apabila Emiten adalah perseroan maka penilaian akuntan publik atas kesehatan perusahaan selama dua tahun berturut-turut adalah faktor yang sangat menentukan atas boleh tidaknya perseroan tersebut melakukan penjualan obligasi di bursa efek.47

2) Konsultan Hukum

47 Ibid.

(16)

Konsultan hukum yang ditunjuk oleh Emiten berperan sebagai legal drafter and adviser. Dari segi keberpihakan, fungsi konsultan hukum

dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai inhouse lawyer dan independent lawyer. Sebagai inhouse lawyer tugas konsultan hukum

adalah menyiapkan semua dokumen untuk kepentingan Emiten, terutama membantu Emiten menyiapkan perjanjian penjaminan emisi, perjanjian perwaliamanatan, perjanjian penanggungan, perjanjian dengan lembaga kliring, perjanjian dengan akuntan publik, dan memberikan nasihat mengenai masalah-masalah hukum sehubungan dengan emisi obligasi. Tugas konsultan hukum sebagai inhouse lawyer ini, dapat mewakili Emiten dalam melakukan negoisasi dengan pihak- pihak tertentu, dan berusaha mempertahankan kepentingan emiten dalam berbagai persoalan hukum. Sedangkan sebagai independent lawyer, tugasnya adalah melakukan legal audit dan memberikan

pendapat hukum atas emisi obligasi. Independent lawyer harus bersikap netral dan objektif dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya.48 3) Penilai

Penilai yang dimaksud di sini adalah suatu pihak yang memberikan penilaian atas asset perusahaan yang melakukan penawaran umum.

Penilai di sini juga harus terlebih dahulu terdaftar di Bapepam sebelum melakukan kegiatan sebagai salah satu profesi penunjang pasar modal.

4) Notaris

48 Ibid, hlm. 63.

(17)

Yang dimaksud dengan notaris di sini ialah notaris sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 Angka (1) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam ketentuan tersebut notaris didefinisikan sebagai berikut:49

Notaris yang bermaksud melakukan kegiatan sebagai profesi penunjang pasar modal diwajibkan terlebih dahulu terdaftar di Bapepam. Perlunya notaris dalam proses emisi obligasi ialah dalam rangka pembuatan perjanjian-perjanjian yang berkaitan dengan emisi obligasi, seperti misalnya perjanjian perwaliamanatan, perjanjian penjaminan emisi, perjanjian penanggungan dan sebagainya yang diwajibkan oleh Undang-undang Pasar Modal.

“Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini”.

50

5) Agen Pembayaran (Paying Agent)

Agen pembayaran bertugas membayar bunga obligasi yang biasanya dilakukan setiap dua kali setahun dan pelunasan pada saat obligasi jatuh tempo.

6) Agen Penjual (Selling Agent)

Agen ini umumnya dilakukan perusahaan Efek dengan tugas:

a) Melayani investor yang akan memesan saham;

49 Pasal 1 Angka (1) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

50 Gunawan Widjaja&Jono, Op. cit, hlm. 64.

(18)

b) Melaksanakan pengembalian uang pesanan (refund) kepada investor;

c) Menyerahkan sertifikat Efek kepada pemesan (investor).51

3. Hubungan Hukum Para Pihak Dalam Penerbitan Obligasi

Akibat diterbitkan obligasi tercipta suatu hubungan hukum antara emiten dan wali amanat, emiten dan investor, dan antara wali amanat dan investor.

Hubungan hukum antara emiten dan investor dalam transaksi perdagangan obligasi antara lain berupa kewajiban membayar pinjaman beserta bunga oleh emiten kepada investornya, dengan demikian, timbulnya perjanjian antara kedua belah pihak. Dalam hal ini kedudukan investor sebagai kreditur dan emiten sebagai debitur. Hal ini karena emiten meminjam uang kepada investor, sehingga timbul kewajiban bagi emiten untuk mengembalikan uang yang dipinjamnya kepada investor yang sesuai dengan yang telah diperjanjikannya. Sehingga kedudukan emiten adalah sebagai debitur dan pemegang obligasi sebagai kreditur.

Pemegang obligasi berhak atas pengembalian hutang pokok obligasi (hoofdsom) dan juga bunga (interessen) dari hutang pokok tersebut.

Hubungan hukum perjanjian dalam perdagangan obligasi ini menurut Wirjono Projodikoro merupakan perjanjian pinjam meminjam (Hutang-Piutang)52

“Pinjam meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain sejumlah tertentu barang-barang yang

. Dasar Hukum yang mengatur perjanjian pinjam-meminjam adalah Pasal 1754- 1769 KUHPerdata:

51 Ibid.

52 Bapepam, Op. cit, hlm. 13.

(19)

menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula”.

Akibat hukum yang timbul dari hubungan hukum dalam perjanjian pinjam meminjam yaitu timbulnya hak dan kewajiban antara pihak peminjam (kreditur) dan pihak yang meminjamkan (debitur), hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1759 dan Pasal 1763 KUH Perdata:

Pasal 1759 KUHPerdata:

“Orang yang meminjamkan tidak dapat meminta kembali apa yang telah dipinjamkannya sebelum lewatnya waktu yang ditentukan dalam perjanjian”.53

“Siapa yang menerima pinjaman, sesuatu diwajibkan mengembalikannya dalam jumlah dan keadaan yang sama dan pada waktu yang ditentukan”.

Pasal 1763 KUH Perdata:

54

Hubungan hukum antara emiten dan wali amanat adalah hubungan hukum antara penerbit obligasi dan pihak yang mewakili investor. Hubungan keduanya diawali oleh kewajiban dari setiap emiten yang ingin menerbit obligasi untuk menunjuk salah satu pihak independen sebagai wali amanat yaitu pihak yang mewakili calon investor. Hubungan hukum antara emiten dengan wali amanat di buat dalam suatu kontrak yang disebut kontrak perwaliamanatan. Pada waktu ini wali amanat adalah dianggap sebagai wakil para pemegang obligasi yang nantinya akan membeli obligasi dari penerbit. Kontrak perwaliamanatan merupakan perjanjian tak bernama yang diatur dalam Pasal 1319 KUH Perdata yang

53 Pasal 1759 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

54 Pasal 1763 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

(20)

menyebutkan, semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya. Kesepakatan atas perjanjian yang di buat secara sah merupakan undang-undang bagi pihak-pihak yang membuatnya.55 B. Peran Wali Amanat dalam Perdagangan Obligasi

Menurut ketentuan Pasal 1 butir 30 UUPM, Wali amanat adalah pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat hutang, sedangkan pihak diartikan sebagai orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi. 56

Dalam kegiatan bisnis di pasar modal, salah satu pihak yang berperan penting dalam kegiatan penerbitan Efek bersifat hutang di samping Emiten sendiri, adalah Wali Amanat. Sebagai pihak yang mewakili kepentingan- kepentingan pemegang Efek bersifat Hutang, baik di dalam maupun diluar pengadilan. Peran Wali Amanat sudah mulai berjalan sebelum efek bersifat hutang diterbitkan, terutama dalam perundingan dengan pihak-pihak terkait untuk menyusun suatu kontrak perwaliamanatan. Inilah yang menjadi dasar utama dalam mengatur syarat dan kondisi penerbitan Efek bersifat hutang, termasuk kewajiban para pihak yang terlibat.57

1. Pihak-pihak yang Berhak Menjadi Wali Amanat dalam Penerbitan Obligasi

55 Wirjono Projodikoro, Hukum Perkumpulan, Perseroan dan Koperasi, (Jakarta : Pradnya Paramita, 1986), hlm. 10.

56 Gunawan Widjaja&Jono, Op. cit, hlm. 75.

57 Tim Studi Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia, Studi Tentang Perwaliamanatan Di Pasar Modal Indonesia; Departemen Keuangan Republik Indonesia; Badan Pengawas Pasar Modal;Proyek Peningkatan Efisiensi Pasar Modal, 2005, hlm. 7.

(21)

Pada prinsipnya, tidak semua pihak dapat bertindak sebagai Wali Amanat dalam setiap penerbitan obligasi. Pasal 50 ayat (1) UUPM menentukan bahwa yang dapat melakukan kegiatan usaha sebagai Wali Amanat adalah Bank Umum dan pihak lain yang ditetapkan peraturan pemerintah. Perlu diketahui bahwa tidak semua Bank Umum secara otomatis dapat bertindak sebagai Wali Amanat.

Sebelum Bank Umum bertindak sebagai Wali Amanat, Bank Umum tersebut harus terdaftar terlebih dahulu di Bapepam (sesuai Penjelasan Pasal 50 ayat (2) UUPM dan Pasal 6 huruf I UU Perbankan).58

2. Perjanjian Perwaliamanatan

Pada prinsipnya Wali Amanat ditunjuk oleh emiten yang ingin menerbitkan suatu obligasi pada saat sebelum melakukan emisi. Penunjukkan ini tidak dilakukan oleh pemegang obligasi mengingat pada waktu penunjukkan tersebut belum terdapatnya pemegang obligasi karena pada saat itu obligasi tersebut belum ditawarkan kepada umum. Setelah penunjukkan Wali Amanat oleh emiten, maka antara emiten dengan wali amanat harus dibuat suatu pejanjian yang disebut dengan Perjanjian Perwaliamanatan. Sejak ditandatangani perjanjian perwaliamanatan tersebut, maka wali amanat telah sepakat dan mengikatkan diri untuk mewakili pemegang efek tersebut, tetapi perwakilan tersebut baru berlaku efektif pada saat efek tersebut telah dialokasikan kepada para pemodal. Wali Amanat berhak mewakili pemegang efek tersebut dalam melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan kepentingan pemegang efek tersebut dalam melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan kepentingan pemegang efek

58 Gunawan Widjaja&Jono, Op. cit, hlm. 78.

(22)

tersebut baik di dalam maupun di luar pengadilan. Secara lebih rinci Perjanjian Perwaliamanatan setidak-tidaknya memuat ketentuan tentang:59

a. Penunjukkan wali amanat oleh emiten;

b. Dasar dan tujuan penerbitan obligasi;

c. Jumlah pinjaman pokok;

d. Tingkat bunga dan jumlah lembar kupon bunga;

e. Jenis obligasi serta denominasinya;

f. Penggantian surat obligasi dan kupon bunga yang rusak;

g. Pembayaran bunga dan pinjaman pokok;

h. Jangka waktu pinjaman dan cara-cara pelunasannya;

i. Penyisihan dana untuk pelunasan obligasi (sinking fund) dan pengelolaannya;

j. Agen pembayaran;

k. Perincian dan nilai harga kekayaan emiten yang dijaminkan;

l. Ketentuan mengenai pengelolaan kekayaan jaminan;

m. Ketentuan mengenai penanggung (jika ada);

n. Hak, kewajiban, dan tanggung jawab wali amanat;

o. Penggantian wali amanat;

p. Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO);

q. Sanksi- sanksi.

3. Kewajiban-kewajiban Wali Amanat

59 Ibid, hlm. 81.

(23)

Wali Amanat memiliki berbagai macam kewajiban yang harus dipenuhi atau dilaksanakan olehnya, khususnya yang terkait dengan kegiatan penerbitan efek yang bersifat utang (obligasi), yaitu:60

a. Wali Amanat wajib bersikap netral dan independen serta tidak memihak kepada emiten, melainkan mewakili dan melindungi kepentingan pemegang efek yang bersifat utang. (Penjelasan Pasal 51 Ayat (1) UUPM);

b. Wali Amanat wajib membuat kontrak perwaliamanatan dengan emiten sesuai dengan ketetapan yang ditetapkan oleh Bapepam (Pasal 52 UUPM);

c. Wali Amanat wajib memberikan ganti rugi kepada pemegang efek yang bersifat utang atas kerugian karena kelalaiannya dalam pelaksanaan tugasnya sebagai mana diatur dalam Undang-undang Pasar Modal dan atau peraturan pelaksanaannya serta kontrak perwalimanatan (Pasal 53 UUPM);

d. Wali Amanat wajib menyampaikan laporan kegiatan kepada Bapepam dalam rangkap 4 yang meliputi:

1) Laporan tengah tahunan dan tahunan mengenai kegiatan Wali Amanat yang wajib disampaikan kepada Bapepam paling lambat 30 hari setelah periode laporan yang bersangkutan;

2) Laporan peristiwa penting yang menyangkut kegiatan perwaliamanatan yang wajib disampaikan kepada Bapepam

60 Ibid, hlm. 83.

(24)

paling lambat 2 hari setelah terjadinya peristiwa atau sejak diketahuinya peristiwa tersebut.61

e. Wali Amanat wajib mengadministrasikan, menyimpan dan memelihara catatan, pembukuan, data dan keterangan tertulis yang berhubungan dengan emiten yang menggunakan jasa wali amanat. Dokumen tersebut wajib disimpan di tempat yang aman dan terpisah dari kegiatan bank lainnya dan wajib tersedia setiap saat untuk kepentingan pemeriksaan Bapepam. Penyimpanan dokumen tersebut sekurang- kurangnya untuk masa 5 tahun sejak seluruh kewajiban emiten terhadap pemegang efek bersifat utang telah dipenuhi. Dokumen- dokumen tersebut terdiri dari:62

1) Kontrak perwaliamanatan;

2) Kontrak yang berkaitan dengan pemberian jaminan dan bukt i kepemilikan atau penguasaan atas harta yang dijamnikan;

3) Catatan, risalah dan atau laporan mengenai jumlah dan jenis efek bersifat utang yang masi beredar dan yang telah dilunasi;

4) Catatan, risalah dan atau laporan mengenai pelaksanaan pengawasan terhadap emiten termasuk tindakan yang dilakukan oleh Wali Amanat karena tidak terpenuhinya persyaratan kontrak perwaliamanatan, antara lain tidak dibayarnya pokok dan bunga, atau adanya pelanggaran terhadap peraturan

61 Ibid, hlm. 84.

62 Ibid, hlm. 85.

(25)

perundang-undangan di bidang pasar modal yang dilakukan oleh emiten;

5) Catatan, risalah dan atau laporan mengenai jumlah dan jenis efek bersifat utang yang dapat dikonversikan menjadi saham, apabila ada;

6) Daftar emiten yang menggunakan jasa Wali Amanat; dan 7) Buku pedoman operasional Wali Amanat.63

4. Kegiatan-kegiatan atau Tugas Wali Amanat

Wali Amanat sebagai pihak yang dituntut untuk bersikap netral dan independen dalam melakukan tugasnya sebagai perwakilan dari pemegang efek yang bersifat utang (obligasi). Tugas pokok wali amanat adalah bertindak mewakili dan melindungi kepentingan pemegang efek yang bersifat utang. Ada beberapa kegiatan yang berkaitan dengan tugas pokok wali amanat tersebut adalah sebagai berikut:64

a. Menganalisis kemampuan dan kredibilitas emiten apakah secara operasional perusahaan (emiten) mempunyai kesanggupan menghasilkan dan membayar obligasi beserta bunganya.

b. Menilai kekayaan emiten yang akan dijadikan jaminan wali amanat harus mengetahui dengan pasti apakah nilai kekayaan emiten yang menjadi jaminan setara atau memadai dibanding nilai obligasi yang diterbitkan.

63 Ibid, hlm. 86.

64 Ibid.

(26)

c. Melakukan pengawasan terhadap kekayaan emiten. Apabila harta yang menjadi jaminan tadi dialihkan pemanfaatan atau pemilikannya haruslah sepengetahuan wali amanat.

d. Memantau dan mengikuti perkembangan secara terus menerus terhadap perkembangan perusahaan emiten dan memberikan nasihat dan masukan kepada emiten.

e. Melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap pembayaran bunga dan pinjaman pokok obligasi yang menjadi hak pemodal.

f. Bertindak sebagai agen utama pembayaran untuk menunjang kegiatan pengawasan terhadap pembayaran bunga dan pinjaman pokok, maka wali amanat semula bertindak sebagai agen utama pembayaran.

Dengan telah dibentuknya PT. KSEI, maka pada saat ini kegiatan agen pembayaran dilaksanakan oleh PT. KSEI.

g. Sesuai dengan Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-02/PM/1998, wali amanat berperan juga sebagai pemimpin dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO).65

5. Larangan-larangan bagi Wali Amanat

Wali Amanat yang bertugas mewakili kepentingan pemegang efek yang bersifat utang (masyarakat pemodal) berdasarkan kepercayaan, diharapkan dapat melaksanakan tugasnya secara independen dan netral. Untuk itu ada beberapa larangan bagi wali amanat sebagai berikut:

65 Ibid, hlm. 87.

(27)

a. Wali Amanat dilarang mempunyai hubungan afiliasi dengan emiten kecuali hubungan afiliasi tersebut terjadi karena kepemilikan atau penyertaan modal pemerintah (Pasal 50 Ayat (1) UUPM). Larangan ini bertujuan agar wali amanat dapat melaksanakan fungsinya secara independen sehingga dapat melindungi kepentingan pemegang efek bersifat utang secara maksimal.

b. Wali Amanat dilarang mempunyai hubungan kredit dengan emiten dalam jumlah sesuai dengan ketentuan Bapepam yang dapat mengakibatkan benturan kepentingan antara wali amanat sebagai kerditor dan wakil pemegang efek bersifat utang (Pasal 51 Ayat (3) UUPM).

c. Wali Amanat dilarang merangkap sebagai penanggung dalam emisi efek bersifat utang yang sama (Pasal 54 UUPM).66

C. Jatuh Tempo (Maturity Date) dan Gagal bayar (Default) dalam Perdagangan Obligasi

Dalam obligasi terdapat maturity date, yaitu tanggal jatuh tempo atau jatuh waktu terakhir kali sesuai kesepakatan surat utang tersebut berakhir. Pada waktu itulah surat utang tersebut bisa direalisasikan atau dikembalikan utang pokoknya.

Biasanya dibuat lebih dari 1 tahun, maka obligasi sebagai surat berharga masuk ke dalam kategori surat berharga jangka panjang.67

66 Ibid, hlm. 89.

67 Adrian Sutedi, Op.cit, hlm. 4.

(28)

Bentuk wanprestasi atau kelalaian yang sering terjadi di dalam perdagangan obligasi adalah gagal bayar. Gagal bayar adalah suatu keadaan dimana dalam hal ini emiten selaku debitur telah melakukan ingkar janji (wanprestasi) atau lalai terhadap kewajiban membayar pokok pinjaman dan atau bunga obligasi pada saat jatuh tempo yang telah diperjanjikan dalam perjanjian perwaliamanatan.68 Gagal bayar disebut juga dengan credit risk, hal ini karena gagal bayar obligasi yang jatuh tempo serupa dengan suatu kredit macet dalam pinjaman perbankan.69 Gagal bayar (credit risk/default) dapat terjadi apabila emiten/issuer yang mengeluarkan obligasi mengalami kesulitan keuangan untuk memenuhi kewajiban pembayaran bunga ataupun jumlah pokok utang pada saat jatuh tempo. Pembelian obligasi sebenarnya merupakan kredit kepada emiten/issueryang harus dipertimbvangkan sesuai dengan term dan condition yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.70

Event of Default (kelalaian) terdiri dari dua bentuk, yaitu Technical Default

dan Payment Default. Technical Default adalah pelanggaran yang dilakukan oleh emiten yang tidak ada hubungannnya dengan masalah pembayaran pokok dan bunga obligasi. Payment Default adalah pelanggaran yang berhubungan dengan masalah pembayaran, baik pembayaran utang pokok maupun bunga obligasi.

Kelalaian yang sering terjadi dalam perdagangan obligasi adalah Payment Default (gagal bayar).71

D. Tinjauan Umum Pembuktian Hak Kepemilikan Obligasi

68 Bapepam, Op.cit, hlm. 14

69 Munir Fuady, Pembiayaan Perusahaan Masa Kini (Tinjauan Hukum Bisnis), (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1997), hlm. 14.

70 Ibid.

71 Wahyuni Bahar, Aspek Hukum Perjanjian Perwaliamanatan ( Tanggung Jawab wali amanat dan Emiten, serta Perlindungan Hukum Pemegang Obligasi), Lampiran Makalah Dalam Prosiding Transaksi Obligasi Di Pasar Modal.

(29)

Akibat dari perdagangan obligasi secara elektronik ini adalah adanya perubahan dari bentuk sertifikat obligasi secara fisik menjadi data elektronik dan tersimpan dalam lembaga penyimpanan (Kustodian) secara terpusat yaitu PT.

KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Berdasarkan Pasal 1 angka 2 Undang- undang N0. 8 Tahun 1997 Tentang Dokumen Perusahaan menyebutkan, yaitu:72

“Dokumen Perusahaan yang telah dimuat dalam mikrofilm atau media lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan atau hasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah”.

“Dokumen Perusahaan adalah data, catatan dan atau keterangan yang dibuat dan atau diterima oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan kegiatannya, baik tertulis di atas kertas atau sarana lain maupun terekam dalam bentuk corak apapun yang dapat dilihat, dibaca, atau didengar”.

Selanjutnya dengan memperhatikan Pasal 12 ayat (1) Jo. Pasal 15 ayat (1) UU Dokumen Perusahaan yang menyebutkan:

Pasal 12 ayat (1):

“Dokumen perusahaan dapat dialihkan ke dalam mikrofilm atau media lainnya”.

Pasal 15 ayat (1):

73

72 Pasal 1 Angka (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan.

73 Pasal 15 Ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

• Dalam rangka mengembangkan pasar modal syariah, PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) bersama dengan PT Danareksa Invesment Management (DIM) telah meluncurkan index saham yang dibuat

• Dalam rangka mengembangkan pasar modal syariah, PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) bersama dengan PT Danareksa Invesment Management (DIM) telah meluncurkan index saham yang dibuat

“Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Divident Payout Ratio pada Industri Perbankan yang Listed Di Bursa Efek Jakarta (BEJ)”.. Jurnal Bisnis

Dengan persetujuan para pemegang saham kedua bursa, BES digabungkan ke dalam BEJ yang kemudian menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan tujuan meningkatkan peran pasar

5 Indeks Harga Saham Gabungan dan Nilai Kapitalisasi Pasar……… 6 Perkembangan Indeks LQ45 dan JII di Bursa Efek Indonesia……… 7 Perkembangan Indeks Sektoral di Bursa Efek Indonesia………

5 Indeks Harga Saham Gabungan dan Nilai Kapitalisasi Pasar……… 6 Perkembangan Indeks LQ45 dan JII di Bursa Efek Indonesia……… 7 Perkembangan Indeks Sektoral di Bursa Efek Indonesia………

Rata-rata Earning Per Share EPS pada perusahaan manufaktur subsektor Whole Sale & Retail Trade yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia BEI pada periode 2009-2013 sebesar Rp 123,38..

5 Indeks Harga Saham Gabungan dan Nilai Kapitalisasi Pasar……… 6 Perkembangan Indeks LQ45 dan JII di Bursa Efek Indonesia……… 7 Perkembangan Indeks Sektoral di Bursa Efek Indonesia………