• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

28 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1.1 Tahapan Penelitian

Proses pengerjaan penelitian ini melalui beberapa tahapan yang digambarkan dalam bentuk diagram alir untuk memudahkan pembaca memahami metodologi penelitian yang digunakan.

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

(2)

1.2 Penjelasan Tahapan Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis memiliki tiga (3) tahapan, yaitu tahapan pendahuluan, pengolahan data, dan kesimpulan. Setiap tahapan memiliki langkah- langkah sistematis yang harus dilakukan penulis dalam menganalisis studi kasus hingga pembuatan solusi untuk menyelesaikannya. Berikut ini merupakan penjelasan lebih rinci pada masing-masing tahapan penelitian.

1.2.1 Tahapan Pendahuluan

Penulis melakukan observasi terkait dengan topik yang akan diteliti sebelum melakukan penelitian. Observasi yang dilakukan dengan melakukan studi literatur untuk mempelajari penelitian-penelitian terdahulu. Pada tahap ini peneliti mengkaji pustaka untuk memperoleh landasan teori mengenai topik yang akan diteliti.

Penulis melakukan kajian pustaka dengan mempelajari artikel jurnal penelitian sejenis pada tahun-tahun sebelumnya dan buku referensi. Dari hasil studi inilah, penulis memperoleh solusi dari topik permasalahan penelitian dalam bentuk metode yang akan digunakan untuk menyelesaikan studi kasus tersebut.

1.2.2 Tahapan Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan proses inti dari penelitian ini. Pada tahapan dilakukan penentuan indikator penelitian yang kemudian akan digunakan sebagai parameter pengumpulan data. Akhir dari tahap ini adalah menganalisis data yang telah dihimpun untuk dapat menafsirkan hasil penelitian.

1. Perumusan Masalah dan Tujuan Penelitian

Dalam sebuah penelitian, latar belakang digunakan sebagai pendahuluan yang menggambarkan alasan teoritis penulis melakukan penelitian. Berdasarkan latar belakang itulah, penulis dapat merumuskan permasalahan yang akan diselesaikan melalui penelitian tersebut. Menurut Ridha (2017), ada beberapa kriteria rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain sebagai berikut.

a. Bersifat orisinil atau baru yang berarti rumusan masalah yang dibuat belum pernah dirumuskan oleh peneliti lain.

b. Berorientasi pada kepentingan ilmu pengetahuan terhadap masyarakat luas.

c. Rumusan masalah diperoleh melalui cara-cara ilmiah.

(3)

d. Berupa kalimat yang jelas dan padat, sehingga tidak terjadi kesalahan penafsiran.

e. Rumusan masalah berbentuk kalimat tanya.

f. Kalimat bersifat etis atau tidak menyinggung adat istiadat, ideologi, dan kepercayaan seseorang.

Suatu penelitian dilakukan tentu didasari oleh suatu tujuan. Tujuan penelitian merupakan suatu titik akhir atau sasaran yang ingin dicapai peneliti melalui penelitian yang dilakukan. Penentuan tujuan penelitian ini sejalan dengan rumusan masalah yang telah dibuat sebelumnya. Setelah tujuan diperoleh, bersamaan pula diperoleh manfaat dari hasil penelitian. Manfaat penelitian bisa berorientasi pada diri sendiri atau penulis dan juga kepada pembaca atau masyarakat luas. Dalam proses penelitian, peneliti juga memerlukan suatu batasan penelitian yang berguna untuk membuat suatu lingkup penelitian. Sehingga penelitian yang dilakukan dapat fokus pada topik yang sedang diteliti.

2. Perumusan Model Konseptual

Model konseptual dibangun dengan tujuan mengetahui hubungan antar variabel adopsi teknologi electronic data interchange (EDI), adopsi teknologi radio frequency identification (RFID), dan adopsi teknologi blockchain terhadap sistem traceability. Selain itu juga untuk mengetahui hubungan sistem traceability terhadap kinerja industri ritel. Dasar penentuan variabel-variabel tersebut berdasarkan teori yang sudah ada melalui studi literatur jurnal pendahulu.

Hubungan antar variabel tersebut menjadi dasar penentuan dalam pengambilan hipotesis penelitian. Proses ini penting dilakukan untuk mengetahui dan memahami hubungan dan makna variabel-variabel yang sedang diteliti.

3. Penyusunan Kuesioner

Kuesioner menggunakan metode survei untuk memperoleh informasi terkait opini dari responden (Pujihastuti, 2010). Pada penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kuantitatif dengan mengukur indikator pada masing-masing variabel penelitian dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa kuesioner.

Kuesioner terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian karakteristik responden dan pertanyaan kuesioner. Karakteristik responden menghimpun data identitas responden (usia,

(4)

jenis kelamin, jabatan/divisi/bagian, dan domisili) dan screening terkait pengalaman responden (lama bekerja dan pengalaman pernah atau tidak pernah menggunakan teknologi EDI, RFID, dan blockchain).

Pertanyaan kuesioner disusun berdasarkan atribut pada masing-masing variabel operasional. Penentuan variabel operasional dilakukan penulis dengan melakukan identifikasi melalui studi literatur jurnal. Pengukuran kelompok pertanyaan kuesioner menggunakan skala likert dengan lima tingkatan, yaitu 1 (tidak penting), 2 (kurang penting), 3 (netral), 4 (penting) dan 5 (sangat penting) (Thompson, 2004). Hasil dari kuesioner berupa angka dari skala likert dan dianalisis menggunakan metode statistik.

4. Pilot Test

Sebelum melakukan penyebaran kuesioner formal, diperlukan pilot test untuk mengetahui nilai validitas dan reliabilitas butir-butir pertanyaan pada kuesioner. Pilot test juga berguna dalam mengetahui tingkat pemahaman responden terhadap pertanyaan yang diajukan dan konsistensinya. Responden pada penelitian ini merupakan pegawai ritel yang telah berpengalaman minimal satu tahun menangani produk food cold chain dan pernah menggunakan teknologi sistem traceability. Responden penelitian ini bersifat anonim demi menjaga kerahasiaan perusahaan. Menururt Gall, Borg, and Gall (1996), penelitian eksperimen dan komperatif memerlukan sampel sebanyak 15 hingga 30 responden pada setiap kelompok. Jumlah responden yang digunakan pada pilot test penelitian ini minimal berjumlah 30 responden yang disebarkan melalui media google form dengan teknik purposive sampling.

5. Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Suatu instrumen penelitian dikatakan baik berdasarkan validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas yang dilakukan adalah sebelum melakukan penyebaran kuesioner formal kepada subjek penelitian. Validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana intrumen penelitian dapat mengukur secara tepat apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2013). Uji validitas pada penelitian ini menggunakan Pearson correlation (rhitung) dengan ketentuan apabila nilai rhitung > rtabel, maka kuesioner

(5)

dinyatakan valid. Berikut merupakan pedoman penafsiran koefisien korelasi pada uji validitas.

Tabel 3.1 Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

(Sumber: diadaptasi dari (Sugiyono, 2013))

Reliabilitas dilakukan untuk mengetahui ketepatan suatu instrumen sebagai alat pengukur data yang digunakan. Pengujian reliabilitas menggunakan Cronbach’s Alpha karena intrumen kuesioner memiliki jawaban benar lebih dari 1 (Adamson & Prion, 2013). Ketentuan dalam uji reliabilitas adalah apabila rhitung >

0,70, maka intrumen penelitian diterima dan dikatakan reliabel (Heale & Twycross, 2015). Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS 20.0.

6. Penyebaran Kuesioner Formal (Field Test)

Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan pendekatan metode kuantitatif karena pengukuran variabel-variabel penelitian dengan angka dan analisis menggunakan statistik (Nur & Supomo, 2002). Pegawai industri ritel yang telah berpengalaman minimal satu tahun menangani produk food cold chain dan pernah menggunakan teknologi sistem traceability menjadi populasi yang tidak diketahui pada penelitian ini.

Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling karena peneliti menganggap seseorang yang dipilih memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya (Sugiyono, 2013). Teknik purposive sampling atau disebut juga judgemental sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang memperhitungkan kriteria seleksi tertentu dalam penerimaan sampel (Sibona &

Walczak, 2012). Seleksi dilakukan di awal tahapan penelitian yaitu bagian screening responden. Responden yang tidak memenuhi kriteria persyaratan tidak dapat diikutsertakan dalam analisis penelitian.

(6)

Ukuran sampel yang menggunakan analisis partial least square (PLS) cenderung memiliki sampel yang kecil. Menurut W. Chin (2000), ukuran sampel yang digunakan pada PLS berkisar antara 30 sampai dengan 100 kasus. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Hair karena ukuran populasi tidak diketahui secara pasti. Perhitungan ukuran sampel minimal pada PLS-SEM adalah harus sama dengan atau lebih dari 10 kali jumlah kosntruk variabel laten (Joe F Hair, Ringle, & Sarstedt, 2011). Sehingga jumlah minimal sampel pada penelitian ini adalah 10 x 4 = 40 responden. Dengan melihat karakteristik populasi yang bersifat heterogen, sampel besar diperlukan untuk mencapai kesalahan pengambilan sampel yang dapat diterima (Joseph F Hair, Risher, Sarstedt, & Ringle, 2019). Menurur beberapa ahli sampel kecil berkisar antara N < 100 – 150 (Kline, 2015). Sehingga, ditetapkan sebanyak 209 sampel responden yang disebarkan melalui survey daring dengan bantuan media google form.

7. Analisa Partial Least Square – Structural Equation Model (PLS-SEM)

Analisa faktor konfirmatori (confirmatory factor analysis/CFA) memungkinkan peneliti menguji hipotesis melalui teknik inferensial dan dapat memberikan pilihan analitik yang lebih informatif (Costello & Osborne, 2005).

CFA dipilih karena peneliti telah memiliki teori yang menjadi ekspektasi khusus mengenai jumlah faktor, variabel yang mencerminkan faktor tertentu, dan korelasi faktor (Thompson, 2004). CFA merupakan metode analisis statistik yang membentuk kelompok dengan structural equation modeling (SEM) (Natalya &

Purwanto, 2018). Pada penelitian ini, CFA dilakukan menggunakan metode PLS- SEM dengan bantuan software SmartPLS 3.

Analisis multivariate merupakan salah satu metode analisis data secara statistik untuk menganalisis beberapa variabel secara bersamaan menggunakan pemodelan persamaan SEM (Juliandi, 2018). SEM generasi kedua menggunakan analisis dengan metode partial least square (PLS). Pada PLS dilakukan dua jenis evaluasi model yaitu evaluasi model pengukuran dan model struktural (Ghozali, 2008; Joe F Hair et al., 2011). Kriteria penilaian evaluasi model pengukuran dapat dilihat pada tabel 3.2. Software yang digunakan untuk membantu pengujian struktural PLS-SEM adalah dengan menggunakan Smart-PLS 3.2.9.

(7)

Tabel 3.2 Penilaian Evaluasi Model Pengukuran

Validasi Konvergen dan Diskriminan Reliabilitas Loading Factor (nilai setiap

indikator)

> 0,6 (dengan pertimbangan)

Composite Reliability (mengukur internal consistency) dan Cronbach’s Alpha

> 0,7

Average Varance Extracted (nilai setiap variabel)

> 0,5

Fornell-Larcker (korelasi antar variabel)

Nilai variabel > nilai dengan variabel lain Cross-Loading (korelasi antara

indikator dengan variabel)

Nilai indikator pada variabel > nilai indikator pada variabel lain

Setelah seluruh indikator masing-masing variabel dinyatakan valid dan reliabel, selanjutnya adalah melakukan evaluasi model struktural antar variabel laten pada model konseptual. Berikut parameter penilaian evaluasi pada uji model struktural menurut Joe F Hair et al. (2011).

a. R2 merupakan koefisien determinasi yang menjelaskan proporsi varians dari sebuah variabel laten. Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1. Apabila nilai R2 mendekati 1 maka tingkat akurari prediksi semakin tinggi dan sebaliknya.

b. Path coefficient menjelaskan tingkat signifikan hubungan antar variabel laten dalam model penelitian dengan melihat dari jalur koefisien. Nilai path coefficient berkisar antara -1 hingga +1. Semakin besar nilai path coefficient maka semakin kuat pula pengaruh antar variabel independen terhadap variabel dependen.

c. Predictive relevance dengan menggunakan metrik Q2 atau nilai kekuatan prediksi di luar sampel hingga batas tertentu. Nilai Q2 > 0, maka observasi dikatakan baik dan sebaliknya. Nilai Q2 0,02 untuk observasi lemah, 0,15 adalah sedang atau moderat, dan 0,35 untuk observasi kuat. Kriteria ini diperoleh dengan melakukan metode blindfolding pada model PLS-SEM.

d. Pengujian hipotesis dilakukan untuk menyimpulkan penerimaan hipotesis yang telah dibuat. Pengujian ini menggunakan metode bootstrapping melalui uji t dengan kriteria pengujian apabila nilai tstatistik ≥ ttabel atau Pvalue ≤ level signifikansi (α), maka variabel bebas berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat (W. W. Chin, 1998; Cohen, 1992; Hair Jr, Hult, Ringle, &

Sarstedt, 2016; Lamb, Hair, & McDaniel, 2008).

(8)

1.2.3 Tahapan Kesimpulan

Tahapan ini merupakan tahapan terakhir pada penelitian ini. Pada tahap ini, memberikan usulan terkait implikasi manejerial sebagai pertimbangan penerapan sistem traceability oleh perusahaan industri ritel di Indonesia dalam menangani produk food cold chain di masa pandemi Covid-19. Pengambilan kesimpulan dan solusi juga diberikan terkait hasil pengolahan data yang telah dilakukan. Penarikan kesimpulan dan saran diharapkan dapat menjadi acuan pada pengembangan penelitian selanjutnya.

Gambar

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian
Tabel 3.1 Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi
Tabel 3.2 Penilaian Evaluasi Model Pengukuran

Referensi

Dokumen terkait

Kasus yang pertama jika kegagalan terjadi pada pengiriman data sangat kecil, karena jika memakai tunnel mode IPsec ini sama saja seperti jaringan LAN.. Komputer hanya

Langkah pengujian kualitas aplikasi dengan metode McCall sudah dijelaskan pada poin 2.2.3 dengan urutan menentukan metrik tiap faktor kualitas, menentukan nilai bobot tiap

Kedua patahan yang berpasangan ditempatkan pada posisi berdampingan dan dilapisi dengan emas menggunakan metode sputter coating lalu dimasukkan ke dalam chamber SEM,

Pengamatan kemunculan spesies gulma dilakukan dengan menghitung setiap spesies di semua petak pengamatan pada setiap minggu, mulai tanaman cabai merah berumur 1

Setelah membuat spesifikasi kebutuhan sistem, penulis melakukan proses pengembangan sistem rekomendasi / sistem pendukung keputusan mulai dari proses pengambilan

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari hasil pengujian bahan yang dilakukan oleh penelitian terdahulu, studi pustaka terkait perencanaan campuran aspal,

Mekanisme untuk mendapatkan arus yang sudah ditentukan yaitu dengan menyetel mesin las dengan besar arus yang akan digunakan untuk proses pengelasan pada penelitian sebesar 110

Sistem perangkat yang digunakan untuk pengendali servo 2-axis ini menggunakan sensor kamera CMUCam 5 dan kontroler Arduino Nano V3 yang berfungsi untuk mengolah data yang diperoleh