• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENAMPILAN AYAM PEDAGING UMUR 3 MINGGU YANG DIBERI BERBAGAI MACAM RANSUM KOMERSIAL DENGAN ARAS OPTIZYME BERBEDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENAMPILAN AYAM PEDAGING UMUR 3 MINGGU YANG DIBERI BERBAGAI MACAM RANSUM KOMERSIAL DENGAN ARAS OPTIZYME BERBEDA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PENAMPILAN AYAM PEDAGING UMUR 3 MINGGU YANG DIBERI BERBAGAI MACAM RANSUM KOMERSIAL

DENGAN ARAS OPTIZYME BERBEDA

Oleh

Ir. R.R. Indrawati, MS NIP : 195204251981032001

PROGRAM STUDI ILMU PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS UDAYANA

APRIL 2016

(3)

RINGKASAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan ayam pedaging unsexed strain MB 202 P umur 0 – 3 minggu yang menggunakan rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah jenis pakan P1 (Charoen), P2 (Wonokoyo), P3 (Royal) dan faktor kedua adalah aras optizyme yaitu A1 (kontrol/tanpa aras), A2 (aras 0,75 g/kg pakan), A3 (aras 1,5 g/kg pakan), sehingga terdapat sembilan kombinasi perlakuan disetiap kelompok ( jumlahkelompok empat). Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari lima ekor anak ayam umur sehari, sehingga jumlah seluruh anak ayam yang dipergunakan adalah 180 ekor.

Selama penelitian ransum dan air minum diberikan secara ad libitum.

Variabel yang diamati adalah bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konversi ransum dan konsumsi air minum.

Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara macam pakan dengan aras optizyme terhadap semua variabel yang diamati. Bobot badan akhir pada P3 yaitu 705,08 g/ekor sedangkan P1 dan P2 masing- masing 8,54 % dan 7,31 % nyata lebih tinggi ( P < 0,05 ) dibandingkan P3. P1 1,15 % tidak nyata ( P > 0,05 ) lebih tinggi dari P2. Pada P1, pertambahan bobot badan yang dihasilkan adalah 718,13 g/ekor lebih tinggi 1,22 % dibandingkan dengan P2, namun berbeda tidak nyata ( P > 0,05), sedangkan dibandingkan dengan P3 ; 8,41 % lebih tinggi dan berbeda nyata ( P < 0,05 ). Konsumsi pakan, ayam dengan perlakuan P2 adalah 925,47 g/ekor, sedangkan pada perlakuan P1 dan P3 masing- masing 1,12 % dan 4,71 % berbeda tidak nyata ( P > 0,05 ) lebih sedikit mengkonsumsi pakan. Pada P2 FCR sebesar 1,31, ini lebih rendah 2,24 % dari P3 dan 2,29 % lebih tinggi dari P1, namun secara statistik berbeda tidak nyata ( P > 0,05 ). Konsumsi air minum pada P1; 1.651,25 ml, sedangkan pada P2 dan P3 masing- masing 2,63 % dan 0,81 % lebih sedikit dan secara statistik berbeda tidak nyata ( P >

0,05 ). Pada A3, bobot badan yang dihasilkan adalah 759,50 g/ekor, sedangkan pada A1 dan A2 masing- masing 3,38 % dan 3,39 % lebih rendah, namun berbeda tidang nyata ( P > 0,05 ).

Pertambahan bobot badan pada A3 adalah 711,92 g/ekor, sedangkan pada A1 dan A2

menghasilkan pertambahan bobot badan 1,58 % dan 3,53 % lebih rendah, namun berbeda tidak

(4)

nyata ( P > 0,05 ). Ransum yang dikonsumsi dengan perlakuan A1 adalah 924,25 g/ekor, sedangkan pada perlakuan A2 dan A3 masing- masing 2,36 % dan 3,07 % berbeda tidak nyata

(P > 0,05 ) lebih sedikit mengkonsumsi pakan.

Pada A1 FCR sebesar 1,35, ini lebih tinggi 2,27 % dan 6,66 % lebih tinggi dari A2 dan A3, namun secara statistik berbeda tidak nyata ( P > 0,05 ). Konsumsi air minum pada A1; 1.606,67 ml, sedangkan pada A2 dan A3 masing- masing 2,14 % dan 2,65 % lebih banyak dan secara statistik berbeda tidak nyata ( P > 0,05 ).

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

1. Tidak terdapat interaksi antara aras optizyme yang berbeda dengan berbagai macam ransum komersial terhadap penampilan ayam pedaging unsexed umur 0 – 3 minggu 2. Optizyme tidak memberikan respon nyata pada penampilan ayam pedaging umur 0 – 3

minggu

3. Pakan Royal memberikan berat badan dan pertambahan berat badan paling rendah

dibandingkan pakan Charoen dan Wonokoyo

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENDAHULUAN ……… 1

1.1. Latar Belakang ……… 1 – 3 1.2. Hipotesis ………. 3 – 4 1.3. Tujuan ………. 4

1.4. Manfaat ……… 4

II. MATERI DAN METODE ………. 5

2.1. Materi ……… 5 – 6 2.2. Metode ……….. 6 – 9 III. HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 10

3.1. Hasil ……… 10

3.1.1. Bobot Badan Akhir ……… 10

3.1.2. Pertambahan Bobot Badan ………. 10

3.1.3. Konsumsi Ransum ……….. 11

3.1.4. Konversi Ransum ……… 11

3.1.5. Konsumsi Air Minum ……….. 12

3.2. Pembahasan ……… 13

3.2.1. Pengaruh Jenis Pakan Terhadap Penampilan Ayam Pedaging … 13 3.2.2. Pengaruh Aras Optizymen Terhadap Penampilan Ayam Pedaging .. 14 – 15 IV. KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 16

4.1. Kesimpulan ……… 16

4.2. Saran ……….. 16

(6)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, perubahan gaya hidup dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi, menyebabkan semakin tingginya permintaan terhadap bahan makanan asal hewan baik dalam jumlah maupun mutunya.

Daging ayam merupakan hasil peternakan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani. Menurut Sukata (2001), daging ayam merupakan sumber protein hewani yang cukup murah dan cepat diproduksi serta terjangkau oleh hampir seluruh masyarakat.

Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani, unggas yang dimotori oleh ayam ras khususnya ayam pedaging mengambil peranan ± 53 %, ternak besar 30 % dan ternak kecil 17 % ( Oetoro, 2001 ). Menurut Irawan (1996) masyarakat lebih memilih daging broiler, karena ekonomis, harganya lebih murah dibandingkan dengan daging lain yang ada di pasar.

Untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat, ayam pedaging dipelihara sampai umur yang lebih singkat. Selain itu konsumen sangat menyenangi ayam pedaging yang dipotong pada umur muda, karena seratnya lebih lunak dan belum terjadi penimbunan lemak (AAK, 1986). Menurut Rasyaf (1993) pemotongan ayam pedaging pada saat beratnya masing rendah, disebabkan oleh kesediaan konsumen yang cenderung membeli karkas utuh, yang tidak terlalu besar, juga disebabkan karena dagingnya cukup lunak, lemak belum banyak serta tulang tidak begitu keras. Ayam ayam tersebut biasanya disajikan per ekor dan disebut “Spring Chicken”.

Dalam usaha meningkatkan produktifitas ayam pedaging, faktor kualitas maupun

efisiensi penggunaan ransum sangat menentukan, karena biaya pakan untuk ternak unggas

komersial merupakan biaya produksi terbesar yaitu berkisar antara 60 – 70 % (Rasyaf,

2003). Untuk mengefektifkan biaya pakan perlu dicarikan alternatif penggunaan zat- zat

additif yang mampu mengoptimalkan penggunaan pakan misalnya enzim. Penambahan zat-

zat additif seperti enzim sangat efektif dan ekonomis dalam meningkatkan daya cerna bahan

pakan dan mutu pakannya sendiri. Penambahan enzim pada pakan dapat meningkatkan

(7)

efisiensi ransum dan meningkatkan bahan pakan yang berkualitas rendah (Anon, 1996).

Untuk meyakinkan bahwa zat- zat makanan dalam pakan itu dikonsumsi, dicerna, dicegah dari kerusakan, diabsorbsi dan ditransportasi ke sel- sel tubuh, sering ditambahkan makanan pelengkap, salah satunya adalah enzim (Wahyu, 1992). Penambahan enzim pada pakan merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan kulaitas dan kuantitas pakan serta menekan harga pakan yang terus meningkat. Optizyme adalah salah satu enzim feed additive yang sering digunakan pada pakan ternak.

Penggunaan optizyme dalam pakan unggas dimaksudkan untuk penghematan biaya pakan yaitu melalui efisiensi pencernaan pakan. Penambahan optizyme yang mengandung multienzim seperti protease, lipase, amilase, amiloglukosidase, xylanase, β-Glukanase, hemiselulase, selulase, pentosanase, selobiase, arabinoxylanase dan

α-Galaktosidase yang berguna antara lain untuk mencerna serta kasar dalam pakan. Mutu enzim dari optizyme mampu memaksimalkan pencernaan pakan, memperbaiki efisiensi pakan dan performans, meningkatkan daya cerna bahan baku pakan kualitas rendah, mengurangi jumlah ekskreta, mengurangi kadar air ekskreta serta memperbaiki kondisi litter (Anon, 2002).

Pada saat krisis ekonomi, usaha peternakan ayam mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap kualitas dan kuantitas pakan. Sifat ketergantungan ini dapat menjurus pada kerawanan terhadap kelangsungan produksi harga pakan dan “Day Old Chick” yang terus meningkat dan sering tidak diikuti oleh peningkatan harga dari produk peternakan, sehingga keuntungan yang diperoleh sering menipis bahkan anyak yang mengalami kerugian.

Disamping itu sekarang telah beredar berbagai macam pakan komersial yang harganya

saling bersaing. Pakan yang termahal adalah Charoen Pokphand, disusul Wonokoyo dan

Royal. Untuk menekan harga pakan ada kemungkinan penambahan bahan pakan sumber

protein dan energi misalnya tepung darah, tepung bulu ayam yang mempunyai kadar protein

85 % dan 80 %, serta dedak yang harganya lebih murah, dimana bahan baku pakan tersebut

susah dicerna oleh ayam. Pakan ternak pada umumnya hanya 7 – 10 % terdiri dari bahan

asal hewan yang diutamakan sebagai sumber protein hewani, sisanya terdiri dari tumbuh-

tumbuhan baik sebagai sumber energi maupun sumber protein. Jagung sebagai sumber

energi banyak mengandung polisakarida yang sering disebut dengan polisakarida bukan pati

(8)

(PBP) seperti galaktan, arabinoxylan, pentosan. Kebanyakan polisakarida berikatan satu sama lain dan membentuk hemisellulose dan sulit dicerna oleh unggas, keberadaan dari polisakarida ini menyebabkan ketersediaan pati menjadi tidak efektif (Chot dan Annison, 1990 ; Annison, 1991). Arabinoxylan yang termasuk PBP dapat mengganggu kecernaan lemak, protein dan bahan kering, sehingga ketersediaan lemak, protein dan bahan kering menjadi rendah, sehingga arabinoxylan sering disebut anti nutrisi, karena berikatan susunan dengan yang lain dalam polisakarida (Ward dan Marquardt, 1987 ; Fengler dan Marquardt, 1998 ; Chot, 2001).

Efek anti nutrisional dari arabinoxylan sebagian besar dipengaruhi oleh bentuk polimer dari polisakarida dan kerekatan susunannya (Chot, 2001). Menurut Pack dan Bedford (1997) penambahan enzim pada ransum dapat mendepolimerisasi PBP yang larut maupun tidak larut kedalam bentuk polimer yang lebih kecil, sehingga dapat meningkatkan ketersediaan energi.

Adanya anti nutrisi pada biji- bijian sebagai sumber protein dapat menurunkan kecernaan dari pada bahan baku tersebut serta menurunkan kecernaan protein, karbohidrat dan menghambat penggunaan mineral serta vitamin, sehingga kebutuhan akan zat- zat tersebut meningkat. Penambahan enzim protease akan mampu memperbaiki kecernaan atau mampu meningkatkan ketersediaan asam amino (Rooke et al., 1996 ; Heasing et al., 1996 ; Beal et al., 1999). Sebaliknya supplementasi enzim protease tidak mempunyai efek positif apabila formulasi pakan sudah tinggi kandungan proteinnya (Schang et al., 1997). Hamdy (1995) melaporkan bahwa adanya respon yang baik dengan dosis penambahan 4 – 5 gram enzim komersial setiap 1 kg barley sebagai pengganti jagung terhadap penampilan ayam pedaging.

Dengan penambahan optizyme yang mengandung multienzim pada pakan diharapkan dapat meningkatkan kecernaan dari polisakarida tersebut maupun protein yang terutama berasal dari nabati.

1.2. Hipotesis

1. Terdapat interaksi yang nyata antara macam pakan komersial dengan aras optizyme

yang berbeda terhadap penampilan ayam pedaging yang dipelihara sampai umur 3

minggu yaitu pakan Wonokoyo dengan aras optizyme 0,75 g/kg pakan dan pakan Royal

(9)

dengan aras optizyme 1,5 g/kg pakan memberikan penampilan yang lebih baik dibandingkan tapa aras optizyme.

2. Ayam yang diberi pakan Charoen penampilannya lebih baik dibandingkan ayam yang diberi pakan Wonokoyo mapun Royal

1.3. Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh aras optizyme pada berbagai macam pakan komersial terhadap penampilan ayam pedaging umur 0 – 3 minggu

1.4. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna kepada

peternak ayam pedaging, khususnya mengenai penggunaan optizyme sebagai “feed

additive” yang efektif dan efisien untuk berbagai ransum komersial ayam pedaging.

(10)

II. MATERI DAN METODE

2.1. Materi 2.1.1. Ayam

Pada penelitian ini menggunakan 180 ekor ayam pedaging “unsexed”strain MB 202 umur 1 hari (DOC)

2.1.2. Kandang dan Perlengkapan

Kandang yang digunakan sebanyak 4 (empat) buah, dimana dalam satu kandang terdiri dari 9 (sembilan) unit. Ukuran masing- masing kandang adalah panjang 1 m, tinggi 75 cm dan lebar 1 m. Kandang tersebut terbuat dari bambu, sedangkan atap nauangannya terbuat dari asbes. Lantai kandang dilapisi sekam agar lantai kandang tetap kering dan tidak lembab. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum yang terbuat dari plastik. Pemanasan pada masa brooding menggunakan bola lampu 60 watt

2.1.3. Ransum dan Air Minum

Ransum dan air minum diberikan secara ad lib. Ransum yang diberikan adalah ransum komersial CP 511 (Charoen), BR I (Wonokoyo) dan R 11 (Royal) untuk masa starter. Kandungan nutirisi masing- masing pakan dapat dilihat pada tabel 1 dan standar kandungan nutrisi ransum broiler di Indonesia pada tabel 2. Air minum yang diberikan selama penelitian berasal dari air Perusahaan Air Minum (PAM)

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Ransum

Kandungan CP 511* BR-1** R-11***

Kadar air (maks) Protein Kasar (min) Lemak (min) Serat Kasar (maks) Abu (maks)

Kalsium (min) Fosfor (min) Antibiotika Coccidiostat ME (kkal/kg)

13 % 21 – 23 %

5 % 5 % 7 % 0,9 % 0,6 % Zin Bacitracin

Monensin 2.900 – 3.000

12 % 21 % 5 % 4 % 6,5 % 0,9 – 1,1 % 0,7 – 0,9 %

+ + 3.100

13 % 21 – 23 %

5 % 5 % 7 % 0,9 % 0,6 % Zin Bacitracin

Monensin

3.000 – 3.100

(11)

Keterangan :

* Brosur pakan Charoen Pokphand

** Brosur pakan Wonokoyo

*** Brosur pakan Royal

Tabel 3. Standar Kandungan Nutrisi Ransum Broiler di Indonesia*

Kandungan Masa “Starter”

Kadar Air (maks) Protein Kasar (min) Lemak Kasar (min) Serat Kasar (maks) Abu (maks)

Kalsium Fosfor ME (kkal/kg)

14 % 21 – 23 % 2,5 – 8,0 % 3,0 – 5,0 %

6,5 % 0,9 – 1,1 % 0,7 – 0,9 % 2.800 – 3.100

* Sumber : Ichwan (2003) 2.1.4. Optizyme

Ensim yang digunakan adalah optizyme yang berbentuk tepung dan berwarna putih yang diproduksi oleh Vetindo dan cara menggunakannya adalah dengan mencampurkan pada pakan

2.1.5. Peralatan dan Perlengkapan Lain

Pada penelitian ini digunakan berbagai alat antara lain timbangan digital merk

Soundlay dengan kapasitas 1,5 kg dengan kepekaan 1 gram yang digunakan untuk

menimbang berat badan ayam, timbangan kue dengan kapasitas 5 kg kepekaan 20

gram yang digunakan untuk menimbang ransum, termometerbasah kering dan

termometer maksimum minimum digunakan untuk mengetahui suhu dan

kelembaban kandang, gelas ukur volume 500 ml digunakan untuk mengukur air

minum yang diberikan dan sisa air minum, kantung plastik untuk menampung sisa

pakan, alat penyemprot ruangan dan alat tulis. Untuk tanda pengenal individu ayam

digunakan “wing band” dari aluminium yang dipasang pada lipatan kulit sayap.

(12)

2.2. Metode

2.2.1. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial yang terdiri dari dari dua faktor yaitu faktor pertama adalah jenis pakan yaitu P1 (Charoen), P2 (Wonokoyo), P3 (Royal) dan faktor kedua adalah aras optizyme A1 (tanpa optizyme), A2 (optizyme 0,75 g/kg pakan), A3 (optizyme 1,5 g/kg pakan), sehingga terdapat sembilan kombinasi perlakuan :

- P1A1 : Charoen Pokphand tanpa optizyme

- P1A2 : Charoen Pokphand dengan optizyme 0,75 g/kg pakan - P1A3 : Charoen Pokphand dengan optizyme 1,5 g/kg pakan - P2A1 : Wonokoyo tanpa optizyme

- P2A2 : Wonokoyo dengan optizyme 0,75 g/kg pakan - P2A3 : Wonokoyo dengan optizyme 1,5 g/kg pakan - P3A1 : Royal tanpa optizyme

- P3A2 : Royal dengan optizyme 0,75 g/kg pakan - P3A3 : Royal dengan optizyme 1,5 g/kg pakan

Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari lima ekor anak ayam umur 1 hari (DOC) di keempat kelompok kandang penelitian, sehingga jumlah anak ayam yang digunakan adalah 9 x 5 x 4 = 180 ekor

2.2.2. Pengacakan Ayam

DOC yang telah diberi “wing band” ditimbang dan dikelompokkan menjadi empat kelompok menurut kisaran berat badannya masing- masing mulai dari yang terberat sampai paling ringan, sehingga bobot badan antara perlakuan didalam satu kelompok secara statistik berbeda tidak nyata

2.2.3. Pencampuran Ransum

Sebelum dilakukan pencampuran ransum dengan optizyme, terlebih dahulu

dilakukan penimbangan optizyme sesuai dengan kebutuhan pada masing- masing

perlakuan. Pencampuran ransum dengan optizyme dilakukan diatas lembaran

(13)

plastik kemudian diatasnya ditaburkan optizyme. Bahan- bahan yang siap dicampur mula- mula dibagi menjadi empat bagian yang sama kemudian masing- masing bagian diaduk secara merata, dan ini diulang beberapa kali, terakhir keempat bagian tersebut dicampur menjadi satu, sehingga campuran tersebut benar- benar homogen.

Ransum yang telah terampur kemudian ditimbang kembali dan dimasukkan kedalam kantong plastik yang telah diberi tanda sesuai dengan perlakuan.

2.2.4. Pemberian Ransum dan Air Minum

Ransum dan air minum diberikan secara ad lib. Pemberian pakan dan air minum dilakukan pagi hari, yaitu sekitar pukul 07.00 WITA. Pakan yang diberikan sebelumnya ditimbang terlebih dahulu dan ditambahkan setiap saat, sehingga selalu tersedia. Air minum hanya diisikan ½ dari kapasitas tempat minum, untuk mencegah tumpahnya air minum. Penambahan air minumdilakukan setiap saat untuk menghindari kehabisan air. Sebelum pengisian air minum, sisa air minum diukur terlebih dahulu kemudiantempat air dibersihkan untuk menjaga agar air minum tetap bersih.

2.2.5. Pemberian Vitamin dan Pencegahan Penyakit

Sebelum penelitian dimulai ruangan kandang disemprot dan peralatan kandang didensifeksi dengan antiseptik iodium. Penggunaanya dengan mencampurkan 3 ml antisep dalam 1 liter air. DOC yang baru datang diberi larutan gula dengan dosis 20 gram/liter air dan diberikan selama 5 jam. Pemberian air gula ini bertujuan untuk mengembalikan tenaga yang hilang serta mencegah stress pada ayam.

Untuk mencegah serangan New Castle Disease, dilakukan vaksinasi pada umur tiga hari dan umur 18 hari. Vaksin yang digunakan adalah Medivac ND Hitchner B1 yang diteteskan pada mata sebanyak satu tetes.

2.2.6. Pelaksanaan Penelitian

Pada penelitian ini data diambil setiap minggu. Data konsumsi pakan didapat dari

selisih antara pakan yang disediakan dengan sisa pakan pada akhir minggu. Data

(14)

berat badan diperoleh dari penimbangan individu- individu ayam yang dilakukan setiap minggu.

Untuk mengetahui pertambahan bobot badan dilakukan penimbangan setiap minggu pada pagi hari sebelum ayam diberi pakan. Pertambahan bobot badan setiap minggu diperoleh dengan menghitung selisih antara bobot badan minggu tersebut dengan bobot badan minggu sebelumnya.

Data konsumsi air minum didapat berdasarkan selisih air minum yang diberikan dengan sisa air minum setiap minggu pada setiap unit perlakuan.

Konversi pakan dihitung berdasarkan perbandingan antara rataan pertambahan bobot badan dengan rataan konsumsi ransum setiap minggu

Pengambilan data kelembaban dilakukan dengan pencatatan pada termometer basah kering setiap hari sekitar puku 07.00 WITA, 13.00 WITA dan 19.00 WITA.

Pengambilan data suhu maksimum minimum lingkungan dilakukan dengan pencatatan pada termometer maksimum minimum satu kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WITA.

2.2.7. Variabel Yang Diamati

Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, konversi pakan dan konsumsi air minum sampai umur 3 minggu.

2.2.8. Tempat dan Lama Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Peguyangan Kaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar selama 3 minggu

2.2.9. Analisa Statistik

Data yang diperoleh dianalisa dengan sidik ragam, apabila antara perlakuan

terdapat berbeda nyta (P < 0,05), maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda

Duncan (Steel dan Torrie, 1993)

(15)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata (P > 0,05) antara penambahan optizyme pada aras yang berbeda pada berbagai macam ransum komersial terhadap semua variabel yang diamati.

3.1.1. Bobot Badan Akhir

Bobot badan akhir yang dihasilkan paling rendah adalah pada perlakuan P3 yaitu 705,08 g/ekor, sedangkan perlakuan P1 dan P2 masing- masing 8,54 % dan 7,31 % nyata lebih tinggi (P < 0,05) (Tabel 3). Perlakuan P1 menghasilkan bobot badan akhir 1,15 % lebih tinggi dibandingkan P2 namun secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0,05).

Ayam pedaging yang mendapat perlakuan aras optizyme 1,5 g/kg pakan (A3) menghasilkan bobot badan akhir 759,50 g/ekor, sedangkan pada perlakuan A1 dan A2 masing- masing menghasilkan bobot badan akhir 3,38 % dan 3,39 % lebih rendah dibanding A3 namun berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel 4).

3.1.2. Pertambahan Bobot Badan

Pada perlakuan P1, pertambahan bobot badan yang dihasilkan718,13 g/ekor dibandingkan dengan P2 1,22 % lebih tinggi namun berbeda tidak nyata (P > 0,05), sedangkan dibandingkan dengan perlakuan P3 8,41 % nyata lebih tinggi (P < 0,05) (Tabel 3)

Pertambahan bobot badan rata- rata per ekor selama penelitian pada perlakuan A3

adalah 711,92 g/ekor, sedangkan perlakuan A1 dan A2 masing- masing 3,58 % dan

3,53 % lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan A3, namun secara statistik

berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel4)

(16)

3.1.3. Konsumsi Ransum

Ayam pedaging yang mendapat perlakuan P2 mengkonsumsi pakan paling banyak yaitu 925,47 g/ekor, sedangkan P1 dan P3 masing- masing mengkonsumsi pakan 1,12 % dan 4,71 % lebih rendah dibandingkan P2 namun secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel 3)

Jumlah ransum yang dikonsums oleh ayam pedaging yang mendapat perlakuan A1 adalah 924,25 g/ekor. Pada perlakuan A2 dan A3 berturut turut mengkonsumsi ransum 2,36 % dan 3,07 % lebih rendah dibandingkan A1, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel 4)

3.1.4. Konversi Ransum

Pada perlakuan P2 konversi ransum ayam pedaging adalah 1,31 dan nilai ini 2,24

% lebih rendah dari P3 dan 2,29 % lebih tinggi dari P1, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel 4).

Konversi ransum pada perlakuan A1 adalah 1,35 dibandingkan dengan perlakuan A2 dan A3 masing masing 2,27 % dan 6,66 % lebih tinggi, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel 4)

Tabel 3. Pengaruh Jenis Pakan Terhadap Penampilan Ayam Pedaging

Variabel Perlakuan

3)

SEM

2)

P1 P2 P3

Berat Badan Awal (g) Berat Badan Akhir (g)

Pertambahan Berat Badan (g) Konsumsi Ransum (g)

Konversi Pakan

Konsumsi Air Minum (ml)

47,18

a 1)

765,32

a

718,13

a

915,13

a

1,28

a

1.651,25

a

47,30

a

756,64

a

709,34

a

925,47

a

1,31

a

1.607,83

a

47,38

a

705,08

b

657,70

b

881,92

a

1,34

a

1.637,83

a

0,26 8,65 8,57 17,40

0,03 32,57 Keterangan :

1). Nilai dengan huruf yang sama pada baris yang sama adalah berbeda tidak nyata (P >

0,05)

(17)

2). SEM : Standard Error of The Treatment Mean 3). P1 : Pakan Charoen Pokphand

P2 : Pakan Wonokoyo P3 : Pakan Royal

3.1.5. Konsumsi Air Minum

Konsumsi air minum yang paling banyak adalah pada perlakuan P1 yaitu 1.651,25 ml, pada perlakuan P2 dan P3 konsumsi air minum masing masing 2,63 % dan 0,81 % lebih rendah dibandingkan dengan P1 namun secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel 3)

Konsumsi air minum rata- rata per ekor sampai umur 3 minggu paling rendah adalah pada perlakuan A1 yaitu 1.606,67 ml, sedangkan pada perlakuan A2 dan A3 masing- masing 2,14 % dan 2,65 % lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A1, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P > 0,05) (Tabel 4)

Tabel 4. Pengaruh Aras Optizyme Terhadap Penampilan Ayam Pedaging

Variabel Perlakuan

3)

SEM

2)

A1 A2 A3

Berat Badan Awal (g) Berat Badan Akhir (g)

Pertambahan Berat Badan (g) Konsumsi Ransum (g)

Konversi Pakan (g)

Konsumsi Air Minum (ml)

47,35

a 1)

733,81

a

686,46

a

924,25

a

1,35

a

1.606,67

a

46,93

a

733,73

a

686,80

a

902,43

a

1,32

a

1.641,00

a

47,58

a

759,50

a

711,92

a

895,83

a

1,26

a

1.649,25

a

0,26 8,65 8,57 17,40

0,03 32,57 Keterangan :

1). Nilai dengan huruf yang sama pada baris yang sama adalah berbeda tidak nyata (P >

0,05)

2). SEM : Standard Error of The Treatment Mean

3). A1 : Perlakuan tanpa optizyme

(18)

A2 : Perlakuan optizyme dengan aras 0,75 g/kg pakan A3 : Perlakuan optizyme dengan aras 1,5 g/kg pakan

3.2. Pembahasan

3.2.1. Pengaruh Jenis Pakan Terhadap Penampilan Ayam Pedaging

Pertambahan bobot badan dan bobot akhir ayam pedaging secara statistik berbeda nyata dimana perlakuan P1 dan P2 lebih baik dari pada perlakuan P3 dengan konsumsi rasum yang berbeda tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa pakan Charoen Pokphand dan Wonokoyo mempunyai kualitas yang bagus dibandingkan dengan pakan Royal. Menurut Rasyaf (2003) kualitas ransum merupakan salah satu faktor untuk menghasilkan berat padan maupun pertambahan berat badan yang optimal

Konsumsi ransum menunjukkan hasil berbeda tidak nyata, hal ini dikarenakan ransum- ransum komersial tersebut memiliki kandungan energi sesuai dengan standar. Ransum mengandung energi yang tnggi akan menyebabkan konsumsi ransum sedikit. Wahyu (1992) menyatakan bahwa ayam mengkonsumsi ransum untuk memenuhi kebutuhan akan energi.

Konversi ransum merupakan salah satu cara untuk mengetahui efisiensi penggunaan ransum. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga perlakuan berbeda tidak nyata (Tabel 3). Keadaan ini disebabkan kandungan nutrisi ke tiga ransum komersial tersebut tidak berbeda dan sesuai dengan standar, sehingga menyebabkan konversi ransum tidak berbeda nyata. Anggorodi (1990) menyatakan bahwa konversi ransum ditentukan oleh kualitas ransum, lingkungan dan manajemen. Pendapat ini juga didukung oleh Sudiyanto (2001) yang menyatakanbahwa pakan yang mempunyai kandungan nutrisi yang bagus dapat menurunkan nilai konversi ransum.

Konsumsi air minum menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata, hal ini

disebabkan karena ke tiga pakan komersial tersebut mengandung nutrisi yang tidak

berbeda seperti serat kasar. Menurut Wahju (1992), tingkat serat kasar merupakan

faktor yang menentukan jumlah konsumsi air minum.

(19)

3.2.2. Pengaruh Aras Optizyme Terhadap Penampilan Ayam Pedaging

Pertambahan bobot badan dan bobot akhir ayam pedaging yang mendapat ransum dengan penambahan optizyme (Multi Enzim Sistem) secara statistik berbeda tidak nyata. Penambahan optizyme pada aras 0 , 0,75 dan 1,5 g/kg pakan tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata, karena pada “level” tersebut optizyme belum mampu bekerja secara maksimal, sehingga masih perlu dipertimbangkandengan pemberian kualitas pakan yang berbeda, selain itu ransum komersial tersebut memiliki kualitas yang bagus dan kandugan zat- zat makanan dalam ransum tersebut mudah dicerna serta sudah memenuhi kebutuhan ransum ayam pedaging. Disamping itu ransum- ransum komersial tersebut juga mengandung “feed additif” lain yaitu Zinc Bacitracin yang dapat membantu dan meningkatkan pencernaan pakan, sehingga pertumbuhan ayam pedaging meningkat, hal ini juga yang menyebabkan penambahan optizyme sebagai “feed additif”

didalam ransum komersial tidak berfungsi efektif. Mastika (2001) menyatakan

bahwa Zinc Bacitracin merupakan “feed additif” yang biasa disarankan untuk

ransum ternak nggas yang larut dalam air dan efektif untuk bakteri yang hidup

dalam saluran pencernaan. Penambahan optizyme pada berbagai macam ransum

komersial tidak menunjukkan hasil yang maksimal disebabkan karena ransum

komersial tersebut mengandung serat yang tidak berbeda. Optizyme bekerja lebih

efektif pada ransum atau bahan pakan yang mengandung protein relatif rendah dan

serat kasar yang cukup tinggi (Anon, 2002). Rasyaf (1995) menyatakan bahwa

pertumbuhan pada yam pedaging dipengaruhi berbagai faktor yaitu faktor genetik,

lingkungan, ransum dan manajemen. Tillman et al. (1998) berpendapat bahwa

kualitas dan kuantitas ransum merupakan faktor yang sangat menentukan dalam

suatu peningkatan berat badan dan laju pertumbuhan. Lebih lanjut dinyatakan

bahwa kualitas dan kuantitas ransum yang dikonsumsi akan mempengaruhi

pertumbuhan, karena pertambahan berat badan, konsumsi pakan dan berat awal

yang sama akan menghasilkan berat badan sama. Hal serupa dinyatakan oleh

Wahyu (1992) bahwa ransum yang kalitasnya sama akan menghasilkan

pertumbuhan yang berbeda tidak nyata.

(20)

Konsumsi ransum dipengaruhi oleh kandungan nutrisi dalam ransum. Ransum komersial tersebut memiliki kandungan nutrisi yang telah memenuhi kebutuhan ayam pedaging misalnya protein. Dengan penambahan optizyme yang mengandung protein, molekul protein dari optizyme dapat meningkatkan jumlah protein yang masuk dalam saluran pencernaan. Apabila protein yang masuk kedalam tubuh melebihi standar kebutuhan, maka kelebihannya akan digunakan untuk menghasilkan energi. Produksi panas yang berlebihan ini akan cenderung meningkatkan suhu tubuh, sehingga ayam akan membatasi aktifitas dan konsumsi ransum (Tillman et al., 1998). Menurut Schang et al. (1997) penambahan enzim protease tidak memberikan pengaruh apabila formulasi pakan sudah tinggi kandungan proteinnya.

Konversi pakan tidak ada perbedaan yang nyata, karena kandungan nutrisi ransum komersial tersebut tidak berbeda, sehingga penambahan optizyme pada pakan komersial belum mampu bekerja secara optimal. Hal ini menyebabkan penambahan optizyme tidak berpengaruh terhadap efisiensi pakan.

Sudiyanto (2001) menyatakan bahwa faktor- faktor yang menentukan konversi pakan adalah jenis ternak, jenis kelamin, kandungan nutrisi dalam pakan, temperatur lingkungan dan kesehatan ternak.

Konsumsi air tidak menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Hal ini disebabkan optizyme belum mampu mencerna serat kasar yang terdapat dalam ransum komersial tersebut, sehingga optizyme tidak bekerja secara efisien.

Menurut Wahyu (1992) enzim merupakan salah satu faktor yang menentukan

konsumsi air minum. Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa air mempunyai

peranan penting dalam reaksi katabolisme dan anabolisme yang menggunakan

enzim sebagai katalisator.

(21)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

1. Tidak terjadi interaksi antara penambahan optizyme pada berbagai macam ransum komersial terhadap penampilan ayam pedaging umur 0 – 3 minggu

2. Ayam yang diberikan pakan Royal, bobot badan akhir dan pertambahan bobot badannya paling rendah dibandingkan pakan Charoen dan Wonokoyo

3. Optizyme tidak memberikan respon pada penampilan ayam peaging umur 0 – 3 minggu

4.2. Saran

Untuk pemeliharaan ayam pedaging umur 0 – 3 minggu bisa menggunakan pakan

Charoen dan Wonokoyo tanpa penambahan optizyme, karena menghasilkan bobot badan

akhir dan pertambahan bobot badan lebih tinggi yang disertai dengan efisiensi konsumsi

pakan yang lebih baik

(22)

DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1986. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Kanisius, Yogyakarta

Anggorodi, 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan ke-4 Penerbit PT Gramedia Jakarta Annison, G., 1991. Relations between the level of solube nonstarch polysacharidas and the

apparent metabolizable energy of wheats assayed in broiler chickens. Journal Of Agricultural And Food Chemistry. 39, 1252 – 1256

Anonymous, 1996. Enzymes in action. World Poultry. Vol 12 No. 11 Anonymous, 2002. OPTIZYME (Multi Enzim Sistem). Penerbit Vetindo

Beal, JD., Books and H. Schulze, 1999. The effect of protease pre treatment of raw or micromized soyabean meal on the growth performance and carcas compozation in liqued feed grower and finishing pigs. British Society Of Animal Science Winter Meeting, Scarbowngh, UK. Page 170

Chot, M. and G. Annison, 1990. Anti nutritive activity of what pentozans in broiler diets.

British Poultry Science. 31, 811-822

Chot, M., 2001. Enzyme supplementation of poultry diets based vscows cereals, In : Bedford, M.R. and G.G. Partridge (eds). Enzymes In Farm Animal Nutrition. CABI Pub. UK.

Page 145-160

Fengler, A.I. and R.R. Marquardt, 1988. Water soluble arabinoxylans from rye. Isolation Partial Purification And Characteriosation Cercal Chemistry. 65, 291-297

Hamdy, S.M., 1995. Enzymes as a tool for improving the nutritional value of barley and wheat in broiler diet. Official Journal of Poultry Science Association, Inc. University of Alberta Edmonton, Alberta, Canada

Hessing, M.H. Vanhaarhoven, J.A. Rooke and A Morgan, 1996. Quality of soyabean meals and effect of micobial enzymes in degrading soya antinutritional compounds. In 2

nd

International Soyabean Processing And Utilization Conference Bangkok, Thailand. Pp. 8- 13

Irawan, A.H.S.R., 1996. Ayam- Ayam Pedaging Unggul. Penerbit CV Aneka, Solo

Mastika, I.M., 2001. Ilmu Gizi Ternak Unggas UPT. Penerbit Universitas Udayana

(23)

Oetoro, 2001. Tetapkan perunggasan menjadi unggulan agribisnis nasional. Trobos No. 257 Hal. 25

Pack, M. and M. Bedford, 1997. Feed enzymes for corn soyabean broiler diets. A New Concept To Improve Nutrional Value And Economics. AFMA Matrix

Rasyaf, M., 1993. Memelihara Ayam Pedaging. Cetakan ke-8 Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Rasyaf, M., 2003. Makanan Ayam Broiler. Cetakan ke-7. Penerbit Kanisius, Yogyakarta Rooke, J.A., H. Frasch, M. Shanks and A. Morgan, 1996. The potential for soyabean meal in

diets for weaned piglets bay protease treatment comparison with othe protein sources.

British Society Of Animal Science Winter Meeting. Scarbowgh. UK. Page 136

Schang, M.J., J.O. Areona and J.E. Aries, 1997. Effect of soya enzyme supplement on performance of broiler feed corn. Poultry Science 76 (Suppl. 1), 132 (Abstract)

Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie, 1993. Prinsip dan Prosedur Statistik. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Sudiyanto, 2001. Tips memperbaiki konversi pakan pada broiler. Poultry Indonesia. Hal. 36-37 No. 257

Sukata, K.T.., 2001.. Tantangan, kendala serta prospek perunggasan nasional dan peranannya dalam pengembangan otonomi daerah. Makalah Seminar Nasional Peternakan, 5-8 Mei.

Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo, 1998.

Ilmu Makanan Ternak Dasar. Penerbit Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Wahyu, J., 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-3 Gajah Mada University Press, Yogyakarta Ward, A.T. and R.R. Marquardt, 1987. Anti nutritional activity of a water soluble pentozans rich

fraction from rye grain. Poultry Science. 66, 1665-1674

(24)

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Bupati Grobogan Nomor 55 Tahun 2014 tentang Besaran Penghasilan Tetap, Tunjangan, Jaminan Kesehatan dan Penerimaan Lainnya Yang Sah Bagi Kepala Desa dan

Sifat wadah gelas yang nlenguntungkan adalah ti- dak bereaksi (inert). tetapi penggunaan wadah gelas terbatas, karena gelas mudah pecah dan berat, sehingga menyulitkan

Tetsuya Toma, Hiroshi Takizuka*, Koichiro Yoshimura, Shigehiro Oi, and Yasuhiro Koike, “Development of a Blade for Graded Index Plastic Optical Fiber GI-POF to Minimize Optical

Dari hasil analisis terghadap tingkat kesukaran soal Uji Kompetensi Laboratorium (UKL) pada kegiatan Pekan Raya Biologi (PRB) 2016 dapat dikatakan bahwa soal

lainnya secara mandiri, maka Busuu.com layak dikunjungi dan mendaftar sebagai pengguna agar dapat menguasai materi pelajaran bahasa yang telah disusun dengan baik dan

Vevi Oktriana   Tgl/Honor 2008   Alamat Cot Mesjid Kec.Samatiga Kab. Aceh Barat.   Sumber Anggaran – Keterangan Bakti  32... Kenyamanan belajar murid 

artistik pada sebuah karya. Tekstur yang menjadi acuan adalah bagaimana penulis mengamati dan merasakan tekstur dari setiap objek seperti pada tekstur kulit kayu batu tekstur awan

Dalam pembuatannya, tembe nggoli memiliki beberapa tahap, yaitu: persiapan alat dan bahan, penggulungan benang (moro), pemisahan benang (ngane), memasukan benang ke sisir