• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TERPAAN TAYANGAN DRAMA KOREA GENRE ROMANTIS TERHADAP PERILAKU SEKS REMAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH TERPAAN TAYANGAN DRAMA KOREA GENRE ROMANTIS TERHADAP PERILAKU SEKS REMAJA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TERPAAN TAYANGAN DRAMA KOREA GENRE

ROMANTIS TERHADAP PERILAKU SEKS REMAJA

(Pengaruh Terpaan Tayangan Drama Korea Genre Romantis “It’s Okay to Not Be

Okay” terhadap Perilaku Seks Remaja Followers @kdrama_menfess)

Alya Rahma Adelia Chatarina Heny Dwi Surwati

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstract

Technological developments play a very important role in spreading Korean wave or Hallyu throughout the world, including Indonesia. This is marked by the increasing popularity of Korean dramas, especially among teenagers. Nevertheless, some Korean dramas often shows several sexual scenes that are not suitable for teenagers. It is feared that teenagers would imitate this behavior. This study uses the theory of S-O-R (Stimulus, Organism, Response) wich argues that a stimulus (can be in the form of verbal and non-verbal messages or symbols) will stimulate the communicant in a certain way. The purposes of this study is to determine the relation between the exposure of romantic Korean dramas with mid and late teenager’s sexual behavior among followers of @kdrama_menfess.

The method used in this study is quantitative research methods with ordinal regression method. This research was conducted by distributing questionnaires to 100 respondents who were selected using simple random sampling techinique from 350,034 population of followers of @kdrama_menfess on Twitter.

Based on the results of data analysis that has been carried out with the help of the SPSS program, it is known that the variable x affects the variable y positively. This is evidenced by the coefficients obtained are positive, that is 𝛽 = 1,749, so 𝐻0 is accepted and 𝐻𝑖 is

rejected. The magnitude of the effect is 13,2% which is obtained from pseudo 𝑅2. With

the odds ratio that adolescents who are exposed to the Korean drama “It’s Okay to Not Be Okay” will tend to have sexual behaviour 5.74 times compared to adolescents who are not exposed to the Korean drama “It’s Okay to Not be Okay”.

Keyword: Korean Drama, Sexual Behavior, Adolescent, Media Exposure

Pendahuluan

Perkembangan teknologi membuat hampir seluruh proses dalam setiap bagian kehidupan manusia menjadi jauh lebih mudah dan cepat, salah satunya dalam bidang komunikasi massa. Menurut Gorge Gerbner (dalam Hadi, Wahjudinata, & Indrayani,

(2)

2021:3), komunikasi massa adalah produksi dan distribusi berbasis teknologi dan lembaga dari aliran pesan yang berkelanjutan serta paling luas dibagikan dalam masyarakat industri. Sejak beberapa tahun terakhir, pasar Indonesia mulai kedatangan beberapa produk komunikasi massa dari budaya atau negara lain. Salah satu produk yang berhasil mendapat hati masyarakat adalah produk asal Korea Selatan, seperti film, drama, hingga musik pop.

Budaya Korea bergerak semakin masif sejak awal abad ke-21. Korean Culture and Information Service, (2011:13) menjelaskan bahwa terdapat istilah yang menjelaskan mengenai persebaran budaya pop Korea Selatan yang terjadi di luar negeri, yakni disebut dengan istilah “Korean Wave” atau “Hallyu”. Melansir dari KBS World (2020), laporan yang diterbitkan oleh Korea Foundation (KF) yang bergerak di bawah naungan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, disebutkan bahwa hingga bulan Desember tahun 2019 terdapat sekitar 99.320.000 orang penggemar Hallyu di seluruh dunia. Angka ini diketahui meningkat sebanyak 11 persen dibanding satu tahun sebelumnya.

Fenomena Korean Wave pertama kali diprakarsai oleh ekspor drama TV ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia. Salah satu drama Korea yang sangat populer adalah drama “It’s Okay to Not Be Okay” (IOTNBO). Drama dengan genre romantis ini telah ditayangkan di tvN dan Netlix secara bersamaan pada tanggal 20 Juni hingga 9 Agustus 2020. AGB Nielsen Media Research mencatat drama dengan judul asli “사이코지만 괜찮아” ini berhasil memperoleh rata-rata rating sebesar 6,025% di wilayah Seoul dan 5,425% di seluruh Korea Selatan. Sedangkan di Netflix, drama ini berhasil masuk ke dalam 6 besar tayangan Netflix yang paling banyak ditonton pada 13 Juli 2020 di seluruh dunia. Berdasarkan informasi yang diambil dari Netflix pada laman “Peringkat dan Klasifikasi Kedewasaan”, drama ini diberi kode rating 15+ di Korea Selatan, dan diberi kode rating 13+ di Indonesia. Peringkat tersebut ditetapkan oleh Netflix dan/atau oleh organisasi standar di negara masing-masing.

Berdasarkan peringkat kode rating tersebut, drama ini dinilai sudah layak ditonton oleh remaja yang berusia 13 dan 15 tahun ke atas. Meski demikian, ternyata drama ini memuat cukup banyak konten seksual di dalamnya. Bahkan pada episode 3 yang telah ditayangakan pada tanggal 27 Juni 2020, drama ini sempat mendapat peringatan dari

(3)

Badan Penyiaran Korea (KCSC) terkait adegan yang menjurus ke adegan seksual yang kurang pantas (Stefanie, 2020).

Hal tersebut sangat disayangkan sebab, banyak remaja yang menonton drama tersebut. Berdasarkan prasurvei yang dilakukan kepada 53 followers @kdrama_menfess, diketahui sebanyak 75,5% diantaranya adalah remaja dengan rentang usia 14-21 tahun dan sebanyak 86,8% orang pernah menonton drama IOTNBO. Steinberg (2017:4), mendefinisikan masa remaja sebagai awal dari pubertas dan berakhir ketika individu melakukan transisi ke peran dewasa, kira-kira dari usia 10 hingga awal 20-an.Pada masa ini remaja sangat membutuhkan perhatian khusus dari orang-orang di sekitarnya.

Heng (2018:47) menerangkan bahwa masa remaja merupakan masa di mana seseorang ingin tahu dan mencoba banyak hal, mereka akan meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari media massa, sebab pada umumnya mereka belum terlalu memahami masalah seksual secara jelas dari orang tuanya. Steinberg (2017:3) menambahkan, bahwa selama masa remaja, individu menjadi tertarik pada seks dan secara biologis sudah mampu mempunyai anak.

Melansir dari situs resmi BKKBN (2019) berdasarkan SDKI 2017, didapatkan hasil bahwa sekitar 81% remaja perempuan dan 84% remaja laki-laki telah berpacaran. Sekitar 64% perempuan dan 75% laki-laki darinya mengaku berpengangan tangan, 17% perempuan dan 33% laki-laki pernah berpelukan, 30% perempuan dan 50% laki-laki berciuman bibir, 5% perempuan dan 22% laki-laki meraba atau diraba bagian sensitif, 2% perempuan dan 8% laki-laki melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual pranikah sangat beresiko bagi remaja terutama bagi perempuan, di mana seringkali berakibat pada kehamilan usia dini, kehamilan di luar nikah, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, hingga terinfeksi penyakit menular seksual.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pada penelitian ini, populasi yang akan diteliti adalah followers @kdrama_menfess. Penulis memilih akun @kdrama_menfess karena akun tersebut adalah akun autobase terbesar di Indonesia yang khusus membahas mengenai drama korea dengan followers sebanyak 350.034 (24/6/21). Akun autobase pada dasarnya seperti sebuah forum diskusi, di mana semua orang dapat mengirimkan mention confess (menfess) secara anonim, dengan cara mengirim direct message (DM) sesuai dengan format yang telah ditetapkan oleh operator akun tersebut. Seperti namanya akun @kdrama_menfess membahas dan mendikusikan mengenai drama

(4)

Korea dan aktornya. Akun ini bisa mengirimkan ratusan tweet mengenai drama Korea dalam satu hari dan menjadi wadah diskusi yang aktif bagi penggemar drama Korea di Indonesia.

Pengaruh suatu media terhadap perilaku remaja memang selalu menarik untuk diteliti, sebab remaja merupakan masa-masa ketika seseorang banyak belajar mengenai dunia. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Terpaan Tayangan Drama Korea genre Romatis terhadap Perilaku Seks Remaja (Pengaruh Terpaan Tayangan Drama Korea Genre Romantis “It’s Okay to Not Be Okay” terhadap Perilaku Seks Remaja Followers Autobase @kdrama_menfess)”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan menjadi “Apakah terdapat pengaruh terpaan tayangan drama korea genre romantis “It’s Okay to Not Be Okay” terhadap perilaku seks remaja penggemar drama korea followers autobase @kdrama_menfess?”

Kajian Pustaka Komunikasi

DeVito (1997:23) menjelaskan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan nonverbal. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih (Mulyana, 2004:3). Menurut Lasswell, Komunikasi adalah pesan yang disampaikan kepada komunikan (penerima) dari komunikator (sumber) melalui saluran-saluran tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk memberikan dampak atau efek kepada komunikan sesuai dengan yang diinginkan komunikator (Koesomowidjojo, 2021:71). Model komunikasi Lasswell dapat digambarkan sebagai berikut:

(5)

Gambar 1.1

Model Komunikasi Lasswell

Sumber: Wiryanto (2004:17)

Bila dijelaskan secara lebih rinci, ke lima unsur dalam model komunikasi ini, yaitu sebagai berikut (Koesomowidjojo, 2021:71):

a. Who (Siapa)

Who dalam hal ini memiliki kedudukan sebagai sumber informasi atau komunikator, yakni pihak yang berkepentingan untuk berkomunikasi dan memulai suatu komunikasi baik individu, kelompok, atau lembaga sebagai komunikator.

b. Says What (Berbicara apa)

Says what berarti pesan atau isi informasi yang ingin disampaikan dan dikomunikasikan oleh komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima).

c. In Which Channel (Dengan media apa)

In which channel berarti media atau saluran yang digunakan oleh komunikator dalam menyampaikan pesan kepada komunikan, baik secara langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (melalui media cetak atau elektronik). Pemilihan media berpengaruh pada penerimaan pesan sesuai keinginan pengirim pesan.

d. To Whom (Kepada siapa)

To whom merupakan komunikan atau penerima pesan. Ketika mengirim pesan, perlu ditentukan kepada siapa pesan tersebut akan disampaikan (individu, kelompok, atau lembaga).

e. With What Effect (Dampak atau efek yang ditimbulkan)

With what effect artinya adalah dampak atau efek pada penerima pesan. Setelah terjadi proses pengiriman pesan, adakah dampak atau efek berupa perubahan sikap, pengetahuan, atau perubahan pendapat.

Komunikasi Massa

Komunikasi massa dalam Bahasa Inggris mass communication merupakan salah satu cabang dalam Ilmu Komunikasi. Komunikasi ini berfokus pada bagaimana

(6)

sekumpulan orang dalam suatu lembang atau perseorangan menggunakan media massa dalam aktivitas pengiriman pesan sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas. Menurut Gorge Gerbner dalam (Hadi, Wahjudinata, & Indrayani, 2021:3) Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi berbasis teknologi dan lembaga dari aliran pesan yang berkelanjutan serta paling luas dibagikan dalam masyarakat industri.

Menurut (Romli, 2016:14) komunikasi memiliki berbagai efek terhadap audiensnya, diantaranya adalah efek kognitif, afektif, dan behavioral.

a. Efek Kognitif

Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan yang sifatnya informatif. Sehingga khalayak dapat mendapatkan informasi dari televises yang dapat membantunya mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitif.

b. Efek Afektif

Efek afektif berhubungan dengan emosi, perasaan dan attitude (sikap) dari audiens yang ditimbulkan setelah mendapatkan suatu informasi melalui media massa. Menurut Karlinah dalam (Fitriasyah, 2018:172), efek afektif merupakan efek lebih lanjut dari efek kognitif dimana komunikasi massa bertujuan untuk membuat khalayak setelah mengetahui suati informasi, khalayak diharapkan dapat merasakannya.

c. Efek Behavioral

Efek behavioral atau konatif berhubungan dengan perilaku dan niat unutk melakukan sesuatu menurut cara tertentu. Menurut (Fitriasyah, 2018:172) efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.

Drama Korea

Kata “drama” berasal dari Bahasa Yunani dran yang artinya bertindak atau berbuat. Program drama merupakan pertunjukan yang menyajikan cerita mengenai kehidupan atau karakter beberapa orang yang diperankan oleh pemain yang melibatkan konflik dan emosi (Morissan, 2008:213). Adapun drama Korea mengacu pada drama Korea Selatan yang ditulis dan diperankan oleh orang Korea Selatan dan ditujukan untuk orang Korea Selatan (Nichols, 2009:9).

(7)

Genre Romantis

Istilah genre diambil dari Bahasa Perancis yang memiliki arti “tipe” atau “bentuk” (Neale dalam Alfathoni & Manesah, 2020:54). Dalam film, genre berarti jenis atau klasifikasi dari sekelompok film yang memiliki karakter atau pola sama seperti setting, isi, subjek cerita, tema, struktur cerita, aksi atau peristiwa, periode, gaya, situasi ikon, mood, dan tokoh (Pratista dalam Alfathoni & Manesah, 2020:54). Danesi dalam (Panuju, 2019:28) membagi genre film ke dalam 18 bentuk, yakni Drama kriminal, Fiksi ilmiah, Animasi, Komedi, Drama karakter, Drama sejarah, Dokumenter, Detektif, Suspense, Moneter, Horor, Musik, Perang, Aksi petualangan, Noir, Western, Roman, Melodrama.

Istilah roman berasal dari Bahasa Perancis “romance” atau percintaan. Dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah “romantis”. Menurut Pratista, genre roman merupakan pengembangan dari genre drama yang sasarannya adalah kalangan perempuan remaja dan dewasa. Kristin Ramsdell, mendefinisikan roman sebagai cerita cinta di mana fokus utamanya adalah pada pengembangan dan penyelesaian yang memuaskan dari hubungan cinta antara dua karakter utama, yang ditulis sedemikian rupa untuk membuat pembaca merasa emosional (Ramsdell, 2012:6). Selanjutnya Ramsdell menjelaskan bahwa tidak semua cerita cinta dapat disebut roman, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebagai syarat dari roman yang layak. Kriteria atau syarat cerita romantis, adalah sebagai berikut (Ramsdell, 2012:4):

a. Plot harus fokus pada hubungan cinta yang berkembang atau masa pacaran antara protagonis.

b. Harus ada akhir yang memuaskan, biasanya disebut sebagai akhir “HEA—Happily Ever After” (bahagia selamanya), meskipun memuaskan bisa berarti sesuatu selain pertunangan atau pernikahan.

c. Cerita harus melibatkan pembaca secara emosional.

d. Meskipun ada beberapa hal lain yang terjadi dalam sebuah cerita roman, beberapa orang mengatakan bawha jika romansa adalah masalah terakhir yang diselesaikan dalam sebuah cerita (sebagai lawan dari misteri, dll), maka itu adalah cerita romansa.

(8)

Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Dalam Bahasa Latin remaja dikenal dengan istilah adolescere dan dalam Bahasa Inggris dikenal dengan adolescence yang artinya tumbuh menuju kematangan (Wirenviona A. A & Riris, 2020:1). Terdapat beberapa versi batasan usia untuk remaja. WHO menyebutkan, remaja adalah penduduk yang berusia 10-19 tahun. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun. Disamping itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mengkategorikan remaja sebagai usia 10-24 tahun dan belum menikah. Selanjutnya Steinberg (2017:4), menjelaskan bahwa ilmuwan sosial yang mempelajari masa remaja, telah mengkategorikan masa remaja menjadi, masa remaja awal (sekitar usia 10-13 tahun), remaja pertengahan (sekitar usia 14-17 tahun), dan remaja akhir (sekitar 18-21 tahun).

Adapun kategori usia remaja yang dalam penelitian ini menggunakan kategori dari Steinberg (2017:4), seorang Profesor Psikologi dari Universitas Amerika yang memiliki spesialisasi dalam perkembangan psikologis anak dan remaja. Subjek dari penelitian ini adalah remaja Twitter followers autobase @kdrama_menfess, di mana Twitter sendiri telah memiliki persyaratan batas usia pengguna yakni 13 tahun atau lebih. Dengan pertimbangan tersebut, maka kriteria remaja yang akan digunakan pada penelitian ini mengerucut pada remaja pertengahan (14-17 tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun).

Perilaku Seksual

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis (Hurlock dalam Sebayang et al., 2018:12). Perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja umumnya merupakan perilaku seks bebas atau seks pranikah. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah remaja, yakni (Nurjanah dalam Pertiwi, 2020:29):

a. Pengetahuan;

b. Pengawasan orang tua; c. Sikap teman sebaya; dan d. Media massa.

(9)

Katchadourian (1980:20) membagi perilaku seksual ke dalam dua aspek yang diberi istilah dengan autoerotic (autoerotik) dan sociosexual (sosioseksual).

a. Autoerotic: perilaku seksual yang yang dilakukan dan dialami sendirian, dengan melakukan berfantasi seksual dan masturbasi (Steinberg, 2017:293).

b. Sociosexual: perilaku seksual yang melibatkan orang lain (Steinberg dalam Untari, 2017:23). Perilaku ini terdiri dari dari aktivitas yang kurang intim hingga intim, seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, necking, petting, oral sex, dan intercourse.

Terpaan Media

Terpaan dapat diartikan sebagai kegiatan mendengar, melihat, dan membaca pesan-pesan media ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap individu atau kelompok (Ardianto, 2014:168). Rosengren mengenai terpaan media, menurutnya pengunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubungan antara individu konsumen dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan (Rakhmat, 2003:66). Menurut Ardianto dan Ediayana Dalam mengukur terpaan media, maka dapat menggunakan 3 faktor sebagai berikut (Yuliana, 2012:18):

a. Frekuensi: merupakan ukuran dari berapa kali sehari individu menggunakan media dalam satu minggu.

b. Durasi: merupakan ukuran penggunaan media dari seberapa lama individu menggunakan media dan mengikuti suatu program.

c. Atensi (perhatian): merupakan proses mental seseorang dalam menyimak suatu program. Meliputi menonton dengan melakukan kegiatan lain, menonoton dengan tidak melakukan kegiatan lain, dan menonton dengan melakukan diskusi.

Teori S-O-R

Teori S-O-R merupakan seingkatan dari kata Stimulus-Organism-Respon. Teori ini berasumsi bahwa suatu stimulus (dapat berupa pesan verbal, non-verbal atau simbol-simbol) akan merangsang seseorang, yang dalam hal ini komunikan untuk merespon dengan cara tertentu (Huda, 2019:9). Morissan (2010:17) menjelaskan dalam teori ini,

(10)

bahwa media massa memiliki kekuatan yang sangat besar dalam memengaruhi penerima pesan atau komunikan, teori ini bermula dari S-R (Stimulus-Response), dimana proses komunikasi secara sederhana hanya melibatkan dua komponen saja, yakni media massa dan penerima pesan atau audiens. Namun respon sebenarnya juga dimodifikasi oleh organisme (O) yang stimulus dan penerima menanggapinya dengan menunjukan respon, sehingga dinamakan teori R. Effendy (2003:255) menggambarkan bagan teori S-O-R sebagai berikut.

Gambar 1.2 Gambaran Teori S-O-R

Sumber: Effendy (2003:255)

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan pengumpulan data dan menggunakan daftar pertanyaan berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti yang kemudian menghasilkan data kuantitatif (Amiruddin, 2010:1). Penelitian yang mengunakan pendekatan kuantitatif merupakan penelitian yang menitikberatkan pada pengujian hipotesis, data yang digunakan harus terukur, dan akan menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisasikan (Anshori & Iswati, 2009:155).

Populasi dalam penelitian ini adalah pengikut akun autobase @kdrama_menfess di Twitter yang berjumlah sekitar 350.034 pada Kamis, (24/6/21). Sampel yang diambil sekitar 100 orang dengan menggunakan teknik simple random sampling dengan rumus dari Issac and Michael. Metode pengumpulan data primer dilakukan dengan menyebarkan kuesioner yang diberi Skala Likert kepada 100 responden tersebut, dan data sekunder diambil melalui studi kepustakaan, atau mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti surat kabar, artikel, dan lainnya.

Teknik analisis data pada penelitian ini adalah statistik inferensial non parametrik. Statistik non-parametrik menurut Hadi (1975) dalam (Ismail, 2018:13) adalah statistik

(11)

bebeas sebaran (distribution free) atau bebas dari uji normalitas dan homogenitas pada datanya. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS 25.0. Penelitian ini meneliti tentang pengaruh suatu variabel terhadap variabel lainnya. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji pengaruh adalah menggunakan analisis regresi. Adapun analisis regresi yang digunakan adalah regresi ordinal, sebab data pada penelitian ini berskala ordinal. Analisis regresi ordinal digunakan pada anaisis multivariat dengan variabel terikat berupa variabel berskala kategorik ordinal yang memenuhi asumsi proporsional odds rasio (Dahlan, 2014:13).

Model yang digunakan pada regresi ordinal adalah model logit. Pada model ini sifat ordinal dari 𝑌 dituangkan dalam peluang kumulatif (Hosmer dan Lemeshow dalam Kurniawan, 2019:111). Peluang kumulatif 𝑃(𝑌 > 𝑗|𝑥) didefinisikan sebagai berikut:

𝑃(𝑌 ≤ 𝑗|𝑥) = exp⁡[∝𝑗+ ∑ 𝛽𝑘𝑥𝑘

𝑝

𝑘=1 ]

1 + exp⁡[∝𝑗+ ∑𝑝𝑘=1𝛽𝑘𝑥𝑘]

Di mana 𝑗 = 1, 2, … , 𝐽 adalah kategori respon (Agresti dalam (Kurniawan, 2019:111).

Sesuai dengan definisi cummulative logit model di atas maka didapatkan model sebagai berikut:

𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡⁡𝑃(𝑌 ≤ 𝑗|𝑥) = log⁡ [𝑃(𝑌 ≤ 𝑗|𝑥) 𝑃(𝑌 > 𝑗|𝑥)]

Jika mensubstitusikan kedua persamaan di atas, maka didapatkan persamaan sebagai berikut.

𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡⁡𝑃(𝑌 ≤ 𝑗|𝑥) = log [𝑃(𝑌 ≤ 𝑗|𝑥)

𝑃(𝑌 > 𝑗|𝑥)] = ⁡∝𝑗+ ∑ 𝛽𝑘𝑥𝑘

𝑝

𝑘=1

Persamaan dalam regresi ordinal bergantung pada jumlah kategori dari variabel ordinal. Jika jumlah kategori sebanyak 𝑛 maka jumlah persamaan adalah 𝑛 − 1. Berikut persamaan yang akan diperoleh bila jumlah kategori ada tiga (Dahlan, 2014:27).

𝑦1 = 𝑎1− (𝛽1𝑋1… + 𝛽𝑖𝑋𝑖)⁡ 𝑦2 = 𝑎2− (𝛽1𝑋1… + 𝛽𝑖𝑋𝑖)⁡ di mana,

• 𝑦1 : persamaan logit pertama • 𝑦2: persamaan logit kedua

(12)

• 𝑎1: konstanta persamaan pertama

• 𝑎2: konstanta persmaan kedua • 𝑥1: variabel bebas ke-1

• 𝛽1: koefisien dari variabel bebas ke-1

• 𝑥𝑖: variabel bebas ke-i

• 𝛽𝑖: koefisien dari variabel bebas ke-i • Nilai 𝑎1 tidak sama dengan 𝑎2

• Nilai koefisien (𝛽) sama untuk semua persamaan. a. Estimasi Parameter Model

Estimasi parameter model menggunakan metode maximum likelihood estimator (MLE). Metode ini memberikan nilai estimasi β dengan memaksimumkan fungsi likelihood sampel yang diteliti (Zakariyah, 2015:10).

b. Uji Signifikansi Parameter (Model Fitting Information)

Uji signifikansi paramter atau model fitting information dilakukan untuk mengetahui apakah taksiran parameter peubah prediktor yang diperoleh berpengaruh secara signifikan terhadap model atau tidak (Fatonah et al., 2017:150). Uji dilakukan secara serentak dengan membandingkan likelihood menggunakan uji G. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut (Fatonah et al., 2017:150).

𝐺 = −2𝐼𝑛 [𝑙𝑖𝑘𝑒𝑙𝑖ℎ𝑜𝑜𝑑⁡(𝑚𝑜𝑑𝑒𝑙⁡𝐵) 𝑙𝑖𝑘𝑒𝑙𝑖ℎ𝑜𝑜𝑑⁡(𝑚𝑜𝑑𝑒𝑙⁡𝐴)]

di mana, model B = model yang hanya terdiri dari konstanta, dan model A = model lengkap dengan peubah prediktor. Hipotesis dari persamaan di atas adalah:

𝐻0: 𝛽1 = 𝛽2 = ⋯ 𝛽𝑝 = 0 𝐻1:⁡minimal terdapat 𝛽𝑝 ≠ 0

c. Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)

Uji kelayakan model digunakan untuk mengetahui kesesuaian model yang digunakan (Albana, 2013 dalam Fatonah et al., 2017:151). Pengujian ini menggunakan statistik uji Deviance, dengan hipotesis:

𝐻0: model sesuai jika 𝐷ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝑋2𝑎(𝑛−𝑝) 𝐻1: model tidak sesuai jika 𝐷ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑋2

(13)

d. Interpretasi Model

Interpretasi model bertujuan untuk mendefinisikan unit perubahan variabel respon yang disebabkan oleh variabel prediktor serta menentukan hubungan fungsional diantara kedua variabel tersebut. Untuk menginterpretasikan model maka digunakan nilai odds ratio (OR) (Hosmer dan Lemeshow, 2000 dalam Zakariyah, 2015:13). Logaritma asli odds adalah logit dari peluang kejadian yang terjadi, yakni:

𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡⁡(𝑝) = 𝐼𝑛 ( 𝑝 1 − 𝑝)

Logaritma asli odds ratio adalah selisih logit peluang kejadian yang terjadi.

𝐼𝑛(𝑂𝑅) = 𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡(𝑝) − 𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡(𝑞) =

𝐼𝑛 (1 − 𝑝)𝑝

𝐼𝑛 (1 − 1)1

Maka, jika j adalah banyaknya kategori respon yang berskala ordinal, dan 𝑥1 adalah kejadian terjadi dan 𝑥2 adalah kejadian yang tidak terjadi maka didapatkan persamaan

sebagai berikut (Wiguna, 2016 dalam Fatonah et al., 2017).

𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡(𝑥1) − 𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡(𝑥2) = 𝐼𝑛 [ 𝑃(𝑌 ≤ 𝑗|𝑥1)/𝑃(𝑌 > 𝑗|𝑥1) 𝑃(𝑌 ≤ 𝑗|𝑥2)/𝑃(𝑌 > 𝑗|𝑥2)] dengan, 𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡(𝑥1) = 𝐼𝑛 ( 𝑃(𝑌≤𝑗|𝑥1 1−𝑃(𝑌≤𝑗|𝑥1) dan 𝑙𝑜𝑔𝑖𝑡(𝑥2) = 𝐼𝑛 ( 𝑃(𝑌≤𝑗|𝑥2 1−𝑃(𝑌≤𝑗|𝑥2)

Nova dan Ispiyanti (2012) dalam (Fatonah et al., 2017:151) menjelaskan nilai odds rasio dapat dihitung dengan 𝑒𝑥𝑝(𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛⁡𝑝𝑒𝑢𝑏𝑎ℎ⁡𝑝𝑟𝑒𝑑𝑖𝑘𝑡𝑜𝑟).

e. Mengetahui Probabilitas Individu Mengalami Kejadian

Regresi ordinal dapat digunakan untuk menghitung probabilitas seseorang mengalami kejadian. Adapaun probabilitas tersebut dihitung dengan persamaan berikut (Dahlan, 2014:39):

𝑝≤𝑔 =

1

1 + exp⁡(−(𝑦≤𝑔))

Di mana,

𝑝: probabilitas subjek mengalami

(14)

𝑔: titik potong

Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh variabel terpaan tayangan drama Korea genre romantis “It’s Okay to Not Be Okay” (X) terhadap perilaku seksual remaja (Y) di kalangan followers @kdrama_menfess. Sebelum melakukan uji hipotesis, penulis terlebih dahulu melakukan uji validitas dan relabilitas. Pada uji validitas, item pernyataan ke-dua pada variabel X dinilai tidak valid, sehingga tidak diikutsertakan dalam uji hipotesis. Sedangkan pada uji reliabilitas seluruh item dinyatakan reliabel.

Sebelum menguji pengaruh, peneliti melakukan uji kelayakan model (Goodness of Fit) terlebih dahulu. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diketahui nilai Deviance yang didapatkan adalah 0,707. Artinya nilai 𝐷ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝑋2(0,05,1)= 3,8415, sehingga terima 𝐻0 dan tolak 𝐻1, sehingga model logit regresi layak digunakan. Adapun model regresi logistik ordinal yang terbentuk adalah sebagai berikut:

𝑃(𝑌 ≤ 1|𝑥) = 𝑝1 = 𝑒𝑥𝑝[6,290 + 1,749] 1 + 𝑒𝑥𝑝[6,290 + 1,749] 𝑃(𝑌 ≤ 2|𝑥) = 𝑝2 = 𝑒𝑥𝑝[8,985 + 1,749] 1 + 𝑒𝑥𝑝[8,985 + 1,749]

Diketahui bahwa 𝛼1 = 6,290 < 𝛼2 = 8,985. Jika 𝜃𝑗 < 𝜃𝑗+1, maka model ini adalah model kumulatif dengan kemiringan yang sama yakni model garis regresi yang berdasarkan pada peluang kumulatif kategori respon (Albana, 2013 dalam Fatonah et al., 2017:156). Sehingga diketahui bahwa peluang kumulatif perilaku seks rendah lebih kecil dari pada peluang kumulatif perilaku seks rendah atau sedang.

Pada tabel parameter estimates diketahui nilai uji wald adalah 7,060 > 𝑋2(0,05,1)=

3,84 sehingga tolak 𝐻0 dan terima 𝐻1, atau dapat disimpulkan terdapat hubungan yang

bermakna antara variabel terpaan tayangan drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” terhadap perilaku seks remaja followers @kdrama_menfess. Kemudian untuk melihat pengaruh, dapat dilihat melalui nilai koefisien yang didapatkan dari parameter estimates pula. Diketahui bahwa nilai koefisien yang didapatkan bernilai positif yakni 𝛽 = 1,749. Menurut Basuki dan Pratowo (dalam Fatonah et al., 2017:157) dasar pengambilan keputusannya yakni, tidak terdapat pengaruh atau berpengaruh negatif jika 𝐻0: 𝛽1 ≤ 0

(15)

dan terdapat pengaruh atau berpengaruh positif bila 𝐻1: 𝛽1 > 0 dengan. Sehingga tolak

𝐻0 dan terima 𝐻1, artinya terdapat pengaruh yang positif antara terpaan drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” terhadap perilaku seks remaja followers @kdrama_menfess.

Nilai odds ratio (OR) yang didapat yakni 5,74885 > 1, maka dikatakan setiap kenaikan peubah prediktor sebanyak satu unit akan meningkatkan peluang sebanyak nilai odds ratio yang didapatkan. Seperti apa yang dikatakan dalam (Albana, 2013:19), bahwa odds ratio pada variabel prediktor diartikan sebagai jumlah relative di mana peluang hasil meningkat (odds ratio > 1) atau turun (odds ratio < 1) ketika nilai prediktor meningkat sebesar 1 unit. Adapun interpretasi yang didapatkan berdasarkan nilai odds ratio tersebut adalah, remaja yang terpapar drama Korea genre romantis “It’s Okay to Not Be Okay” akan cenderung melakukan perilaku seks sebesar 5,74 kali dibandingkan remaja yang tidak terpapar drama “It’s Okay to Not Be Okay”

Hasil dalam penelitian ini sesuai dengan teori S-O-R (stimulus, organism, response) yang dikemukakan oleh Houland. Teori tersebut menjelaskan bahwa suatu stimulus (dapat berupa pesan verbal, non-verbal, atau simbol-simbol) akan merangsang komunikan untuk merespon dengan cara tertentu (Huda, 2019:9). Dalam hal ini komunikan adalah remaja yang telah terpapar tayangan drama “It’s Okay to Not Be Okay” dan kemudian merespon dalam bentuk perilaku seksual. Remaja sedang dalam masa perkembangan, di mana mereka banyak belajar dan meniru lingkungan sekitarnya, termasuk apa yang mereka tonton di media massa seperti film dan drama.

Drama “It’s Okay to Not Be Okay” merupakan drama korea genre romantis yang cukup banyak menunjukan adegan romantis maupun adegan seksualnya, mulai dari bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, cuddling, hingga hubungan seksual meskipun tidak ditampilkan secara eksplisit. Perilaku-perilaku tersebut merangsang dan mempengaruhi remaja untuk melakukan hal yang sama. Padahal remaja merupakan usia yang sangat rawan untuk melakukan aktivitas seksual. Sehingga diperlukan perhatian khusus dalam menerima dan memahami informasi yang didapatkan dari media massa.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah kemukakan pada bab sebelumnya mengenai “Pengaruh Terpaan Tayangan Drama Korea genre romantis “It’s Okay to Not Be Okay” terhadap perilaku seks remaja followers @kdrama_menfess”, maka dapat

(16)

dibuat kesimpulan sebagai berikut. Terdapat hubungan yang bermakna antara terpaan Terpaan Tayangan Drama Korea genre romantis “It’s Okay to Not Be Okay” (X) dengan perilaku seks remaja (Y) di kalangan followers @kdrama_menfess. Terpaan tayangan drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” (X) berpengaruh secara positif terhadap perilaku seks remaja (Y) di kalangan followers @kdrama_menfess, sebab nilai koefisien bersifat positif, yakni 𝛽 = 1,749. Sehingga dapat dikatakan semakin tinggi terpaan tayangan drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” semakin tinggi pula perilaku seksual pada remaja followers @kdrama_menfess. Adapun besaran pengaruh terpaan drama “It’s Okay to Not Be Okay” terhadap variabel perilaku seks remaja yang didapat dari koefisien determinasi pseudo 𝑅2 adalah sebesar 13,2%, dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Dengan rasio peluang remaja yang terpapar drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” akan cenderung melakukan perilaku seks sebesar 5,74 kali dibandingkan remaja yang tidak terpapar drama “It’s Okay to Not Be Okay”.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, penulis memiliki beberapa saran sebagai berikut:

1. Bagi khalayak umum

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terpaan tayangan drama Korea genre romantis “It’s Okay to Not Be Okay” memiliki pengaruh yang positif terhadap perilaku seksual. Maka dari itu, penliti menyarankan agar remaja dapat memilih tontonan yang tepat. Remaja diharapkan tidak menelan materi pada drama Korea genre romantis secara mentah-mentah. Selain itu orang tua juga perlu memperhatikan tayangan yang ditonton oleh anak mereka, sebab remaja cenderung meniru apa yang dilihatnya. Sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan ke perilaku seksual yang negatif.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian berikutnya hendaknya dikembangkan dengan melakukan kontrol usia sebagai pembanding untuk mengetahui perbedaan perilaku seksual antara remaja dan dewasa. Selain itu perlu meneliti faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku seksual, seperti tingkat pendidikan seksual, dan interaksi komunikasi peer group.

(17)

Daftar Pustaka

Albana, M. (2013). Aplikasi Regresi Logistik Ordinal Untuk (Universitas Pakuan). Universitas Pakuan. Retrieved from

http://perpustakaan.fmipa.unpak.ac.id/file/Skripsi-Majid Albana-064108017-Aplikasi Regresi Logistik Ordinal Untuk Menganalisa Tingkat Kepuas.pdf Alfathoni, M. A. ., & Manesah, D. (2020). Pengantar Teori Film. Yogyakarta:

Deepublish.

Amiruddin, Z. (2010). Statistik Pendidikan. Yogyakarta: Teras.

Anshori, M., & Iswati, S. (2009). Metodologi Penelitian Kuantitatif (1st ed.). Surabaya: Airlangga University Press.

Ardianto, E. (2014). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

BKKBN. (2019). Kesehatan Reproduksi dan Nikah Dini. Retrieved June 7, 2021, from BKKBN website: https://www.bkkbn.go.id/detailpost/kesehatan-reproduksi-dan-nikah-dini

Dahlan, M. S. (2014). Regresi Ordinal (Pertama). Jakarta: Epidemiologi Indonesia. DeVito, J. (1997). Komunikasi Antar Manusia (5th ed.; A. Maulana, Ed.). Jakarta:

Professional Books.

Effendy, O. U. (2003). Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Fatonah, L., Sanapiah, & Febrilia, B. R. A. (2017). Regresi Logistik Ordinal (Studi Kasus Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Stress Mahasiswa dalam

Menyelesaikan Skripsi). Media Pendidikan Matematika, 5(2). Retrieved from https://e-journal.undikma.ac.id/index.php/jmpm/article/view/1501/1355

Hadi, I. P., Wahjudinata, M., & Indrayani, I. I. (2021). Komunikasi Massa. Pasuruan: Qiara Media.

Heng, P. H. (2018). Perilaku Delinkuensi: Pergaulan Anak dan Remaja Ditinjau dari Pola Asuh Orang Tua. Yogyakarta: Andi Offset.

Huda, F. (2019). Hubungan Aktivitas Menonton Vlog Youtube Paranormal Experience Channel Raditya Dika dengan Perilaku Paranoid (Universitas Kristen Satya Wacana). Universitas Kristen Satya Wacana. Retrieved from

https://repository.uksw.edu/handle/123456789/19762

Ismail, F. (2018). Statistika untuk Penelitian Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Prenada Media Group.

K-Drama: A New TV Genre with Global Appeal. (2011). Seoul: Korean Culture and Information Service Ministry of Culture, Sports and Tourism.

(18)

27(1), 17–28. https://doi.org/10.1016/S0031-3955(16)33816-0

KBSWorld. (2020). Penggemar “Hallyu” akan Capai 100 Juta Orang di Seluruh Dunia. Retrieved June 5, 2021, from KBS World website:

http://world.kbs.co.kr/service/news_view.htm?lang=i&Seq_Code=57452 Koesomowidjojo, S. M. I. (2021). Dasar-Dasar Komunikasi. Jakarta: Bhuana Ilmu

Populer.

Kurniawan. (2019). Analisis Data Menggunakan Stata Se 14. Yogyakarta: Deepublish. Morissan, M. A, et al. (2010). Teori Komunikasi Massa. Bogor: Ghalia Indonesia. Morissan. (2008). Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana Prenada Media

Group.

Mulyana, D. (2004). Komunikasi Efektif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Netflix. (n.d.). Maturity ratings and classifications on Netflix. Retrieved July 20, 2021, from Netflix website: https://help.netflix.com/en/node/2064

Nichols, R. (2009). Modern Korean Drama: An Anthology. New York: Columbia University Press.

Panuju, R. (2019). Film Sebagai Proses Kreatif. Malang: Inteligensia Media.

Pertiwi, L. G. (2020). Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi dengan Sikap terhadap Seks Pranikah Remaja pada Siswa Kelas XI SMA 1 Cangkringan Kabupaten Sleman Tahun 2019. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Rakhmat, J. (2003). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramsdell, K. (2012). Romance Fiction: A Guide to the Genre (2nd Editio). California: Libraries Unlimited.

Sebayang, W., Gultom, D. Y., & Sidabutar, E. R. (2018). Perilaku Seksual Remaja. Yogyakarta: Deepublish.

Stefanie, C. (2020). It’s Okay to Not Be Okay Diperingati Terkait Konten Seksual. Retrieved July 5, 2021, from CNN Indonesia website:

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200829153209-234-540647/its-okay-to-not-be-okay-diperingati-terkait-konten-seksual

Steinberg, L. (2017). Adolescence (Eleventh E). New York: Temple University. Untari, A. D. (2017). Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seks

Pranikah pada Remaja yang Tinggal di Wilayah Eks Lokalisasi Berdasarkan Teori Transcultural Nursing (Universitas Airlangga). Universitas Airlangga. Retrieved from http://repository.unair.ac.id/77566/2/full text.pdf

Wikipedia. (2021). It’s Okay to Not Be Okay. Retrieved July 17, 2020, from Wikipedia website: https://en.wikipedia.org/wiki/It%27s_Okay_to_Not_Be_Okay

Wirenviona A. A, R., & Riris, I. D. C. (2020). Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan UNAIR.

(19)

Yuliana, I. (2012). Pengaruh Terpaan Tayangan Drama Seri Korea terhadap Perilaku Imitasi pada Remaja di Kota Bandung (Telkom University). Telkom University. Retrieved from https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/15809/skripsi- pengaruh-terpaan-tayangan-drama-seri-korea-terhadap-perilaku-imitasi-pada-remaja-di-kota-bandung.html

Zakariyah. (2015). Analisis Regresi Logistik Ordinal pada Prestasi Belajar Lulusan Mahasiswa S1 ITS Surabaya Berbasis SKEM (Insititut Teknologi Sepuluh November). Insititut Teknologi Sepuluh November. Retrieved from

Gambar

Gambar 1.2  Gambaran Teori S-O-R

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH TERPAAN IKLAN HP SAMSUNG DALAM DRAMA KOREA TERHADAP

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dikemukakan penulis pada bab- bab sebelumnya mengenai “ Pengaruh Terpaan Tayangan Talk Show Dr.Oz Indonesia

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : “Apakah terpaan tayangan Korean Wave (Demam Korea) dapat mempengaruhi gaya

Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada pembaca ataupun masyarakat tentang konstruksi sosial drama Korea terhadap gaya hidup remaja

lainnya untuk lebih memahami mengenai pengaruh tayangan drama Korea “Goblin” terhadap interaksi sosial. Juga diharapkan dapat menjadi kontribusi yang berguna untuk

Alasan saya memilih judul “ Pengaruh Terpaan Drama Seri Korea di Channel VIU terhadap Perilaku Budaya dan Gaya Hidup Wanita di Indonesia “ adalah karena pada saat ini Sebagian

Dari hal tersebut, sebagaimana permasalahan yang telah diteliti dan dibahas yakni mengenai “pengaruh terpaan media terhadap perubahan sikap dari tayangan sinetron 7

PENUTUP Berdasarkan pengolahan data, uraian teori, dan pengujian analisis data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 97 responden mengenai Pengaruh Terpaan Tayangan