• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nur Ainiyah, Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam, Al-Ulum, Vol. XIII No. 1 (juni, 2013), 26 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Nur Ainiyah, Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam, Al-Ulum, Vol. XIII No. 1 (juni, 2013), 26 2"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Krisis generasi yang berkarakter Islami, kata tersebut yang mencerminkan keadaan generasi saat ini. Hal terserbut terleihat dengan kurangnya rasa kesopan pada kalangan anak-anak, remaja hingga orang dewasa sebagai cerminan budaya Indonesia.1 Kondisi yang hampir “sempurna” kehancuran bangsa ini, harus disiasati dan ditanggapi secara bersama-sama. Secara sosiologis, bangsa ini mulai mengalami lost generation religious yang artinya terputusnya satu generasi yang memiliki kualitas moral dan beragama yang bagus. Seiring berkembangnya IPTEK justru berbanding terbalik dengan semakin merosotnya moral generasi saat ini yang dilandasi dengan kata modern. Kerusakan moral ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, remaja saja, tetapi orang-orang dewasa dan piblik figur sekalipun saat ini juga menjadi sorotan tentang merosotnya moral.

Perkembangan teknologi yang semakin memudahkan manusia dalam segala hal, dan seharusnya digunakan dengan baik dan positif malah berbalik buruk jika remaja atau anak-anak salah menggunakannya. Kecanggihan ini akan semakin memudahkan remaja mengakses situs-situs pornografi yang mudah diakses di internet, hal ini dikarenakan terlepasnya pantauan orangtua dan pendidik Lembaga.2 Memang sudah tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa internet membawa kepada kemerosota moral, intelektual, tingkahlaku dan mental siswa.

Namun hal tersebut akan berbalik berbeda jika sejak dini sudah ada edukasi tentang penggunakan media sosial (internet) bagi siswa, sehingga siswa tahu apa dan bagaimana menggunakan kecanggihan teknologi.

Dampak dari kemerosotan karakter siswa saat ini sangat terasa karena tidak lepas dari pergaulan bebas yang mereka dapatkan dari lingkungan dan perkembangan zaman. Kemerosotan karakter ini dapat dilihat dari tingkahlaku siswa yang muali sering bolos sekolah, minum-minuman keras dan jauh dari ajaran islam. Penyesalan bukan salah satu solusi untuk berbenah terhadap

1 Nur Ainiyah, “Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam,” Al-Ulum, Vol. XIII No. 1 (juni, 2013), 26

2 Ana Karsiani, Dampak Negatif dan Positif Internet Bagi Remaja, kompasiana, 24 maret, 2

(2)

2

krisisnya moralnya bangsa ini. Sebagai bentuk ikhtiar untuk menata karakter bangsa adalah dengan Pendidikan, maka para pendidik Agama Islam benar- benar bekerja keras untuk membimbing bangsa yang lemah menjadi kuat dengan menunjukkan karakter unggul dan karakter kepemimpinan yang Islami.3

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi itu semua, mulai dari faktor internal hingga faktor eksternal. kurangnya kepedulian dan kasih sayang dari keluarga juga memberi dampak dalam pembentukan karakter anak, ini merupakan faktor internal. Kita tahu bahwa keluarga merupakan tempat awal bagi anak mendapatkan pendindidikan non-formal melalui ikatan emosional yang intim, mendapatkan rasa nyaman, keamanan, dan dicintai tanpa pilih kasih. Selanjutnya adalah sekolah merupakan tempat kedua bagi anak untuk mendapatkan pendidikan formal, sekolah juga perlu memiliki visi tentang penananaman karakte. Dan yang ketiga adalah lingkungan yang memiliki peran dala pememberian pendidikan khas seperti balai pelatihan dan lembaga kursus.4 Kemudian dari aspek eksternal salah satunya karena kurangnya pendidikan yang terkait dengan karakter yang baik di sekolah, meskipun di sekolah ada pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama Islam. Kedua mata pelajaran tersebut dirasa masih belum mampu dalam pembentukan karakter siswa yang baik dan berbudi pengerti yang luhur. Oleh karenanya pihak sekolah mampu membimbing dan membina siswa agar memiliki karakter yang baik dan mampu di implementasikan kedalam kehidupan sehari-hari.5

Ralita yang tampak di lapangan adalah banyak sekolah yang lebih mengedepankan aspek pengetahuan dan keterampilan serta mengabaikan aspek penananaman sikap, nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Hal ini seseuai dengan yang diuangkapak oleh M. Najib dkk, yaitu sekolah hanya dapat menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual namun lemah karakternya.6 Dari pernyataan tersebut sekolah sebagai lembaga pendidikan

3 Nur Ainiyah, “Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam,” Al-Ulum, Vol. XIII No. 1 (juni, 2013), 32-33.

4 Gurniwan Kamil P, Pembentukan Karakter Melalui Pendidikan Sosiologi,” Tingkap, Vol. XI No. 1 (2015), 57-59.

5 Afi Maghfiroh,”Betapa Pentingnya pendidikan Karakter,” Kompasiana, 6 Desember, 2016, 1

6 M. Najib, Novan A Wijayani, Solichin. Manajemen Masjid Sekolah Sebeagai Laboratorium Pendidikan Karakter. (Yogyakarta: Gava Media, 2015), 43.

(3)

3

perlu menyeimbangkan dalam aspek intelektual dan aspek sikap, nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku. Apabila hal ini terus berlanjut atas ketidak seimbangan pada aspek yang tertera diatas maka pendidikan di Indonesia akan mengalami kehilangan karakternya. Sebagai contoh adalah maraknya siswa yang mulai berani berbohong kepada orangtua dan kepada gurunya, keterlibatan siswa terhadap hal-hal yang negatif seperti, tawuran, penylagunaan obat-obatan terlarang hingga porno aksi.

Islam sangat menjunjung sekali terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutaman persoalan akhlak manusia. Sejak kejayaan Islam sendiri masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah saja, tetapi masjid juga difungsikan sebagai tempat untuk belajar mulai dari pelajaran yang formal dan non formal.

Dari awal berdirinya masjid sudah difungsikan juga untuk pusat berdakwah, tempat sholat, berdiskusi tentang politik, dan tempat sekolah.7 Maka tidak heran jika disuatu tempat terdapat ajaran Islam yang berkembang, maka disitulah sebuah masjid bejulang. Pada masa para khalifah masjid-masjid yang telah terbangun juga dilengkapi dengan perpustakan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pembelajaran. Oleh karena itu masjid dan pendidikan Islam pada hakekatnya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, setrta harus terus bersinergi dalam upaya mendidik peserta didiknya.

Peran masjid di Sekolah dan di madrasah memiliki peran yang penting dalam pembentukan generasi muda yang madani. Perlu diketahui bahwa masjid merupakan tempat dan sarana sebagai pembantu dalam pendidikan non formal yang memberi dampak positif bagi lingkungan dan warga sekolah secara keseluruhan. Ada banyak cara yang dilakukan lembaga pendidikan untuk menyikapi lost generation religious dengan mengadakan kegiatan-kegiatan religius melalui masjid ataupu mushalla sekolah. Hal ini didasarkan oleh diberlakukannya peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA.8 Dimana salah satu sarana dan prasana yang harus diadakan adalah

7 Agung Sasongko, “ Masjid dan Pendidikan Islam tak Bisa Dipiahkan,” Republika, 25 September, 2020, 2

8 Akhmad Akromusyuhada, Penerapan Konsep Arsitektur Islam Pada Sarana Dan Prasarana Pendidikan: Tinjauan Peraturan Menetri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24

(4)

4

tempat beribadah seperti masjid/ mushalla yang difungsikan sebagi tempat ibadah dan sebagai tempat pembentukan karakter melalui kegitan-kegiatan religius yang berbasis Islam.

Ibadah merupakan kebutuhan paling dasar bagi kaum muslim, maka seiring bertambahnya siswa yang dimiliki MA Muhammadiyah 2 Malang yang mana dikombinasi oleh muslim akhirnya memberi imbas terhadap pemenuhan kebutuhan dalam beribadah berupa sarana masjid. MA Muhammadiyah 2 Malang telah memiliki masjid yang difungsikan sebagai tempat beribadah, tempat belajar, dan tempat pembentukan karakter religious warga madrasah khususnya para siswanya. Kepala madrasah yang dibantu oleh guru agama berinisiatif untuk memaksimalkan program masjid madrasah. Dengan program ini diharapkan memberi dampak positif dalam pembentukan karakter siswa yang religius serta dapat memaksimalkan fasilitas agar lebih bermanfaat.

Berdasarkan uraian di atas, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaksimalan masjid madrasah dalam pemembentukan karakter religius siswa melalui pemaksimilan sarana dan prasarana yang tersedia.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut:

1. Apa saja kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Madrasah dalam membentuk karakter religius siswa MA Muhammadiyah 2 Malang?

2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kegiatan Masjid Madrasah dalam pembentukan karakter religius siswa MA Muhammadiyah 2 Malang?

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan penelitian ini untuk:

1. Mengetahui seluruh kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Madrasah dalam pembentukan karakter religius siswa MA Muhammadiyah 2 Malang.

2. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kegiatan Masjid sekolah dalam pembentukan karakter religius siswa di MA Muhammadiyah 2 Malang.

Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA, Tahdzibi, Vol. IV No. 1 (Mei, 2019), 42.

(5)

5 D. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi ilmu pengetahuan, dengan terungkapnya hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menabah wawasan dan memberi informasi serta pengalaman, sehingga mampu memberi sumbangsih dalam pengembangan pemikiran tentang pengetahuan yang berhubungan dengan dunia Pendidikan Islam.

2. Bagi MA Muhammadiyah 2 Malang, dengan terungkapnya hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi serta koreksi demi meningkatkan kualitas Pendidikan dalam penyelenggaraan program.

E. DIFINISI ISTILAH

1. Maksimalisasi Masjid Madrasah

Maksimalisasi Masjid Madrasah merupakan kegiatan untuk mengetahui bagaimana pemanajemenan kegiatan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Setidaknya dalam memanajemen kegiatan yang terorganisasi unsur-unsur tersebut perlu diperhatikan agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif.9

Dengan penjelasan yang telah diaparkan penelitian ini bertujuan utuk mengetahui tentang perencanaan kegiatan-kegiatan, mengetahui pengorganisasian kegiatan masjid madrash, mengetahui pelaksanan kegiata masjid madrasah dan mengetahui pengawasan kegiatan masjid, serta apa saja yang menjadi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan masjid madrasah.

2. Karakter Religius Siswa

Karakter merupakan ciri-ciri yang khas seseorang atau kelompok yang terdiri dari nilai-nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.10 Religius merupakan sikap atau perilaku patuh melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran serta rukun terhadap pemeluk agama lain. Menurut Nurul Zuriah

9Fiki Ariyanti, Pengartian Manajemen Fungsi dan Jenis Keilmuan Yang Harus Kamu Tahu, diakses pada tanggal 14 Juni 2020 dari https://www.cermati.com /artikel/ manajemen-pengertian- manajemen-fungsi-dan-jenis-keilmuan-yang-harus-kamu-tahu

10 Agung, Konsep Pendidikan Karakter Islami; Kajian Epistemologis, Al-Tarbawi Al- Haditsah: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. II No. 2.(Desember, 2018), 56

(6)

6

mengungkapkan bahwa seorang bias dikatakan berkarakter apabila ia telah berhasil menyerap nilai-nilai serta norma-norma yang berada di masyarakat.11 Maka dapat disimpulkan bahwa karakter religius adalah ciri khas seseorang yang memegang teguh ajaran agama yang dianutnya dan mampu mengimplementasikan ajaran agamanya dengan baik. Dalam pembentukan karakter religius siswa melalui Masjid Madrasah sebagai media utamanya sebagai pembentukan karakter religius siswa. Kegiatan yang relevan dalam pembentukan karakter religius siswsa antara lain:

Pembiasaan ibadah secara rutin (sholat wajib dan sunnah, adzan dan iqomah, membaca ayat Qur’an, membaca doa sebelum dan sesudah belajar), pembiasaan sopan santun (mengucapkan salam, menghormati dan menghargai orang lain, ramah lingkungan).

11 M. Najib, Novan A Wijayani, Solichin. Manajemen Masjid Sekolah Sebeagai Laboratorium Pendidikan Karakter. (Yogyakarta, Gava Media, 2015), 47

Referensi

Dokumen terkait

Karena itu, sungguh beruntung wilayah Taman Laut Nasional Olele Gorontalo memiliki wilayah yang didalamnya terdapat berbagai kekayaan alam yang dapat memberikan manfaat yang

Keempat, dukungan orang tua, dalam pembentukan karakter jujur dan disiplin peserta didik, dukungan dan pengawasan orang tua sangat dibutuhkan, mengingat para siswa mereka lebih banyak

Teknik analisis data menggunakan Conten Analysis hasil penelitian ini diperoleh bahwasanya peranan guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter siswa dalam Kitāb Ta’līm