7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Dari judul penelitian diatas maka diperlukan penelitian terdahulu sebagai referensi dan pedoman dalam membandingkan hasil penelitian yang penulis lakukan sekarang dengan penelitian terdahulu dan dengan judul yang masih relevan. Sementara, judul yang sama dengan penulis lakukan belum pernah ada, maka penelitian terdahulu yang dimuat berdasarkan variabel yang diangkat yang tentunya masih relevan dengan judul penelitian yang sedang berlangsung.
Dalam penelitiani Lestari (2016), terdapat hasil yaitu Secara umum atas ketiga variabel yang diteliti peneliti memiliki pengaruh positif signifikan.
Sehingga tingkat Pendapatan keluarga, jumlah tanggungan keluarga, dan pendapatan responden (suami/istri) sangat memengaruhi tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga. Sedangkan terdapat perbedaan pada penelitian yang sedang berlangsung yaitu terkait pada variabel penelitian yang berbeda dengan penelitian yang sedang dilakukan, sehingga hasil kesimpulan dari penelitian pun berbeda.
Penelitian yang dilakukan oleh Hanum (2018), Dari penelitian tersebut dilihat dari variabel dan alat analisis memiliki persamaan dengan penelitian yang sedang dilakukan namun, memiliki perbedaan pada subyek, hasil determinasi R2 yang dimiliki hanya sebesar 64,9% pengaruh ketiga variabel independen dengan variabel dependen. Sehingga dapat dikatakan pengaruh antar variabel sangat sedikit.
Penelitian Herman (2020) Dengan hasil penelitian Bahwa besarnya variabel yang diteliti berpengaruh singnifikan terhadap konsumsi rumah tangga dikomplek perumahan_X kelurahan Sidomulyo, Pekanbaru.
Perbedaan dengan penelitian yang sedang berlangsung yaitu Penelitian yang dilakukan oleh Herman (2020) memiliki perbedaan pada Teknik analisis data dimana penelitian terdahulu tidak menggunakan uji multikolonieritas.
8
Penelitian yang dilakukan Zulkifli, dkk (2015) Memiliki hasil penelitian bahwa Pendapatan yang dilakukan oleh nelayan di Kelurahan Boneoge, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala dikatakan berpengaruh postitif sugnifikan terhadap konsumsi rumah tangga, begitupun dengan variabel yang lain bernilai positif. Sedangkan perbedaan dengan penelitian sekarang adalah Penelitian yang dilakukan oleh Zulkifli, dkk (2015) memiliki perbedaan dengan penelitian yang sedang berlangsung yaitu pada
variabel yang diteliti dan juga pada Teknik analisis data dan teori yang digunakan.
Penelitian yang dilakukan Muttaqim (2014), Dengan hasil penelitian Hasil penelitian diketahui bahwa pendapatan kepala keluarga berpengaruh positif terhadap konsumsi rumah tangga di kecamatan Bandar Sakti Lhokseumawe. Penelitian yang dilakukan oleh Muttaqim (2014) memiliki perbedaan dengan penelitian yang sedang berlangsung yaitu pada variabel yang diteliti dan juga pada Teknik analisis data.
Penelitian yang dilakukan illahi, dkk (2018), Bahwa pada variabel x yang diteliti berpengaruh postifi signifikan semua, terhadap konsumsi rumah tangga di Indonesia.
Variabel tersebut meliputi pendapatan pemerintah, suku bunga deposito, Pendidikan tinggi, dummy krisis ekonomi. Dan memiliki perbedaan pada Penelitian sekarang yaitu pada variabel x yang diteliti yaitu (Pendapatan pemerintah, suku bunga deposito, Pendidikan tinggi, dummy krisis ekonomi).
B. Landasan Teori
Teori pada suatu penelitian sangat diperlukan untuk memperkuat variabel yang akan diteliti. Maka pada judul penelitian yang diteliti menggunakan berbagai teori untuk mendukung hasil pada judul penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan teori Keynes yaitu tentang Kecenderungan mengkonsumsi marjinal (Marginal Propensity to Consume/MPC) merupakan konsep dimana suatu konsumsi akan
bertambah apabila pendapatan disposibel bertambah. Dengan kata lain konsumsi yang dilakukan saat ini dipengaruhi oleh pendapatan yang didapat saat ini. Sehingga jika pendapatan naik maka konsumsi juga akan naik, dan sebaliknya jika pendapatan turun maka konsumsi akan berkurang.
9
Menurut Sukirno (2007), apabila pendapatan meningkat maka pengeluaran terhadap tingkat konsumsi juga akan meningkat, begitupun sebaliknya jika pendapatan menurun maka pengeluaran konsusmsinya juga akan rendah.
Teori pola konsumsi dari Duesenberry yang menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi seseorang dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi orang disekitarnya. Selain itu, seseorang ketika pendapatannya naik pola konsumsinya akan berbeda dengan ketika pendapatan mereka turun. Menurut Mangkoesubroto pola pengeluaran konsumsi seseorang pada dasarnya juga dipengaruhi oleh masa siklus hidup mereka. Sementara teori konsumsi dengan hipotesis siklus hidup membagi pola konsumsi kedalam tiga bagian berdasarkan umur 1) usia 0 sampai usia tertentu dimana mereka sudah memiliki pendapatan maka dapat dikatakan mengalami dissaving (memghasilkan pendapatan hanya cukup untuk biaya konsumsi, tidak ada tabungan); 2) seseorang yang sudah mengalami persaingan; 3) usia tua yang tidak dapat menghasilkan pendapatan dan akan mengalami dissaving lagi. Sedangkan menurut Kusuma (2008) bahwa pola konsumsi seseorang pada saat pendapatannya naik akan berbeda ketika saat pendapatannya turun.
Teori Pendapatan Permanen Teori pendapatan permanen (Permanent Income Hypothesis) disampaikan oleh Milton Friedman. Bahwa pendapatan merupakan faktor
yang paling berpengaruh terhadap tingkat konsumsi dalam hal ini pendapatan permanen. Pendapatan permanen adalah pendapatan tetap yang didapat oleh seseorang dalam bekerja yang jumlah nominalnya tidak berubah setiap waktu namun, akan meningkat ketika individu menganggap dirinya memiliki nilai lebih atas pekerjaan tersebut. Sumber pendapatan itu dapat berasal dari gaji atau upah yang diberikan atas upaya balas jasa. Konsumen akan merencanakan pengeluaran mereka dalam jangka menengah hingga Panjang berdasarkan pada gaji/ upah permanen yang mereka dapat.
Teori pendapatan relatif ini dikembangkan oleh James Duessenberry. Teori ini menyatakan bahwa pengeluaran tertinggi sesorang ditentukan oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah dicapai seseorang tersebut. Selain itu tingkat konsumsi tetangga disekitar akan mempengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga yang lain. Apabila tingkat pendapatan individu semakin tinggi maka pengeluaran terhadap konsumsi juga akan meningkat seiiring dengan peningkatan pendapatan tersebut.
Sedangkan apabila tingkat pendapatan mengalami penurunan, tingkat konsumsi tidak
10
akan turun mengikuti konsumsi jangka panjang, tetapi mengikuti fungsi jangka pendek.
Menurut Lestari (2016), jumlah tanggungan keluarga dapat memengaruhi tingkat konsumsi yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga yang bersangkutan karena hubungan dengan kebutuhannya yang semakin banyak.. Menurut Situngkir (2007), tanggungan keluarga adalah salah satu alasan utama bagi seorang anggota keluarga untuk turut serta dalam membantu kepala keluarga lainnya dalam memperoleh penghasilan yaitu dengan bekerja.
Menurut James F. Engel et al bahwa perilaku konsumen adalah suatu Tindakan konsumen secara langsung terlibat dalam usaha untuk memperoleh dan menggunakan barang ataupun jasa termasuk proses pengambilan keputusan dalam mengonsumsi produk. Menurut David L.loudon dan Albert J. Della Bitta perilaku konsumen merupakan sebuah proses dalam pengambilan keputusan konsumen yang melibatkan proses evalusi, dan memperoleh barang dan jasa. Dalam teori perilaku konsumsi utilitas berarti rasa senang yang individu dalam mengonsumsi suatu barang.
Sedangkan utilitas secara subyektif muncul karena mengonsumsi suatu barang tergantung pada selera konsumen, perilaku dan preferensi seseorang terhadap berbagai barang dan jasa, ataupun sebuah kesukaan dan ketidaksukaan dalam mengonsumsi barang tersebut.
Dan pola konsumsi individu atau kelompok dapat dinyatakan dengan bagaimana mereka mengelola kebutuhan hidupnya yang didasarkan pada pendapatan yang mereka terima setiap bulannya. Untuk itu pendekatan ordinal terkait perilaku konsumen dalam memilih preferensi kebutuhan yang berpatokan pada pendapatan disposibel mereka setiap bulannya dapat diperjelas dengan tiga teori yaitu teoeri prefrensi konsumsen, teori budget constraint, dan teori maksimal utility. Dari ketiga toeri tersebut dapat menjelaskan bagaimana sebaikanya konsumen dalam berperilaku untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang berkaitan dengan pola konsumsi setiap harinya.
1. Teori Preferensi konsumen
Teori preferensi konsumen berarti kesukaan, pilihan atau sesuatu hal yang lebih disukai konsumen. Preferensi terbentuk dari persepsi konsumen terhadap produk.
11
sehingga dapat diartikan sebagai salah satu cara konsumen dalam menentukan pilihannya terhadap suatu produk yaitu dengan menyusun pilihan dari yang terbaik hingga yang terburuk. Dengan demikian individu tidak pernah salah dalam menentukan pilihannya karna sebelumnya sudah dirangking mana yang memang terbaik dan terburuk.
Dari tabel diatas diketahui bahwa tingkat preferensi individu terhadap makanan dan pakaian berbeda namun mereka tidak merasa dirugikan dengan pilihan yang lain hal ini berarti setiap individu memiliki preferensi konsumsi berbeda namun memiliki tingkat utititas yang sama dengan individu yang lain. Selanjutnya akan dijelaskan melalui kurva indiferensi dibawah.
Gambar 2.1 Kurva Indiferensi Harga
50 B
40 E
H A
30 D
20 G
10 U1
Barang
10 20 30 40
(Sumber : microeconomy Robert S Pyndick, edisi 8)
Kurva indiferensi diatas U1 yang melewati keranjang belanja A menunjukkan seluruh keranjang memberikan konsumen tingkat utilitas yang sama seperti halnya jika beralih dari keranjang A ke B konsumen tidak merasa dirugikan dalam mengorbankan 10 unit makanan untyk 20 tambahan pakaian. Demikian pula konsumen merasa tidak peduli antara titik A dan D yang akan mengorbankan 10 unit pakaian untuk 20 tambahan makanan. Dan seluruh kurva indiferensi memiliki kemiringan menurun didasarkan pada asumsi bahwa akan ada lebih banyak barang dan sedikit barang karena
12
kurva indiferensi mengukur tingkat subtitusi marginal konsumen (MRS) antar kedua barang.
Hal ini berarti bahwa tingkat konsumsi setiap rumah tangga karyawan BUMDes memiliki tingkat preferensi konsumsi masing-masing dan tidak ada yang merasa dirugikan dengan preferensi rumah tangga yang lain. Dan tingkat barang yang dikonsumsi rumah tangga memiliki jumlah yang banyak dan ada yang lebih sedikit tergantung pada tingkat preferensi masing-masing.
2. Teori Batasan anggaran
Teori Batasan anggaran (budget constraint) yaitu teori yang menjelaskan bahwa penghasilan yang diperoleh individu akan digunakan untuk membeli barang/jasa yang mereka butuhkan. Semakin tinggi penghasilan individu maka, semakin banyak pula kombinasi barang/jasa yang mereka butuhkan begitupun sebaliknya. Namun Ketika individu dihadapkan dengan sebuah pilihan sedangkan memiliki penghasilan yang terbatas. Maka individu tersebut harus terpaksa memilih salah satu yang menurutnya menjadi kebutuhan paling penting.
Garis anggaran menggambarkan kombinasi barang yang dapat dibeli berdasarkan pendapatan rumah tangga dan dengan harga yang tersedia. Setiap rumah tangga memiliki pendapatan mingguan $80 dan dengan berbagai kombinasi barang yang berbeda namun memiliki pendapatan yang tetap setiap minggunya.
Gambar 2.2 Kurva Garis Anggaran Harga
80
40
13
L1:(1:$80) L2:(1:$160)
L3:(1:$40)
40 80 120 160 Barang (Sumber : microeconomy Robert S Pyndick, edisi 8)
Perubahan pada pendapatan dengan (harga yang tetap) menyebabkan garis anggaran bergeser secara paralel terhadap garis anggaran awal (L1). Dan ketika pendapatan $80 (pada L1) meningkat ke $160 garis anggaran bergeser keluar ke L2.
Jika pendapatan $40 garisnya bergeser kedalam ke L3. Hal ini berarti individu rumah tangga yang mengonsumsi lebih banyak makanan akan mengalami peningkatan daya beli. Dan jika ada penurunan harga makanan maka tingkat konsumsi makanan akan naik dua kali lipat. Disisi lain jika harga makanan naik berlipat ganda maka individu rumah tangga akan beralih ke pakaian saja tanpa peningkatan konsumsi makanan.
Gambar 2.3 Kurva Garis Anggaran (Dampak dari perubahan harga) Harga
40
L3 L1 L2 (p:1/2) (p:2) (p:1)
Barang (Sumber : microeconomy Robert S Pyndick, edisi 8)
Kurva diatas menggambarkan keadaan dimana ketika karyawan BUMDes belanja dipasar Landungsari, dimana nantinya akan memperoleh harga yang rendah dibandingkan jika karyawan BUMDes belanja dipasar yang lain. Dalam kurva ini jika terjadi perubahan harga tidak berpengaruh pada kemiringan garis anggaran. Namun
14
jika harga barang turun garis anggaran akan bertambah keluar kearah kanan, sebaliknya jika harga naik garis anggaran akan bertambah keluar kekiri.
3. Teori Kepuasan maksimal
Teori perilaku konsumen dengan konsep maximation utility ialah teori yang beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimalnya dalam mengonsumsi barang ataupun jasa. Namun dalam teori ini berarti kepuasan maksimal yang diperoleh individu berada pada pemakaian pertama dalam hal mengonsumsi produk, untuk konsumsi kedua dan selanjutnya individu mengalami penurunan tingkat kepuasan.
Dengan preferensi dan anggaran yang tersedia, dapat diketahui bahwa konsumen memilih berapa banyak barang yang dibeli dan pilihan tersebut secara rasional untuk memaksimalkan kepuasan yang mereka dapat berdasarkan anggaran terbatas yang dimiliki. Kemudian syarat memaksimalkan kepuasan ada dua meliputi: 1) Harus berada pada garis anggaran; 2) harus memberikan kombinasi barang dan jasa yang paling disukai oleh konsumen.
Gambar 2.4 Kurva kepuasan konsumen maksimal Biaya
40
30 D
U3 20 B
A U2 Garis anggaran U1
20 40 80 Barang
(Sumber : microeconomy Robert S Pyndick, edisi 8)
Dapat dilihat bahwa titik U1 merupakan tingkat kepuasan terendah konsumen sedangkan titik U3 merupakan tingkat kepuasan tertinggi konsumen. Namun, kenyataannya titik yang bersinggungan merupakan titik A dimana titik yang
15
menghasilkan tingkat kepuasan yang dapat dicapai konsumen dalam hal ini rumah tangga karyawan BUMDes. Sedangkan titik U3 merupakan titik tertinggi yang tidak dapat dicapai konsumen karna berdasarkan anggaran yang dimilikinya saat ini.
Kepuasan mencapai maksimum ketika manfaat marginal (manfaat yang berkaitan dengan konsumsi satu unit makanan) sama dengan biaya marginal (biaya dari satu unit tambahan makanan). Hal ini berarti tingkat kepuasan individu pada rumah tangga karyawan BUMDes akan maksimal jika sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk membelinya.
C. Kerangka Pikir
Pendapatan sangat berpengaruh terhadap konsumsi rumah tangga, keduanya berhubungan positif yang berarti jika pendapatan yang diperoleh meningkat maka konsumsi juga akan meningkat, dan sebaliknya jika pendapatan menurun maka tingkat konsumsi juga akan menurun. Pendapatan menjadi faktor penting yang mempengaruhi perilaku konsumsi. Pendapatan dapat menggambarkan kemampuan seseorang dalam melakukan konsumsi baik secara kualitas maupun kuantitas. Menurut teori Keynes tentang Kecenderungan mengkonsumsi marjinal (Marginal Propensity to Consume/MPC) adalah rata-rata penghasilan individu yang dikeluarkan untuk
mengonsumsi barang atau jasa dibanding untuk ditabung. Atau dengan kata lain konsumen akan menghabiskan pendapatanya untuk konsumsi barang atau jasa dibandingkan memilih untuk ditabung. Yang dimaksud pendapatan dalam penelitian ini bukan penghasilan yang diperoleh karyawan BUMDes melainkan pendapatan kepala keluarga yang bekerja di BUMDes. Dimana nanti akan melihat seberapa besar kontribusi BUMDes dalam mewadahi potensi masyarakat dalam mengembangkan ekonominya.
Hubungan Pendidikan dengan Konsumsi rumah tangga menurut Fadillah (2014) dimana konsumsi dipengaruhi oleh human capital misalnya pendidikan seseorang, orang yang berpendidikan tinggi cenderung memiliki konsumsi yang tinggi karena tingkat sumber daya manusianya juga tinggi dan berpengaruh pada upah yang mereka terima atau pendapatan mereka akan besar sehingga pengeluaran konsumsinya juga akan tinggi.
16
Hubungan Jumlah Tanggungan Keluarga dengan Konsumsi rumah tangga.
Menurut Lestari (2016), besarnya jumlah tanggungan keluarga dapat memengaruhi tingkat konsumsi yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga tersebut karena berhubungan dengan kebutuhannya yang semakin banyak.
D. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut :
Ho : Terdapat hubungan signifikan antara variabel pendapatan, pendidikan, dan jumlah tanggungan terhadap tingkat konsumsi rumah tangga.
H1 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pendapatan, pendidikan, dan jumlah tanggungan terhadap tingkat konsumsi rumah tangga.
Konsumsi Rumah Tangga (Y) Pendidikan (X2)
Pendapatan (X1)
Jumlah Tanggungan (X3)