DIGITALISASI UMKM: RONGRONGAN LOCAL WISDOM?
Zumaroh, Rina El Maza, Enny Puji Lestari IAIN Metro
Jl. Ki Hajar Dewantara Kampus 15A Iringmulyo Metro Timur Kota Metro Lampung 34111 Telp. (0725) 41507 Fx. (0725) 47296
Email : [email protected], [email protected], [email protected]
ABSTRACT
The industrial era 4.0 is a challenge for Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs). The Entrepeneurs are required to use digital technology in developing business in the midst of sociaty. The Lampung government provides business and marketing assistance for MSMEs. In fact, out of 110.359 MSMEs in Lampung, there are only 0,54% received business assistance and 0,11% in marketing. One of the MSMEs that carry out a local wisdom is handmade craftmen Tapis Lampung. The production and marketing process is still tranditional. The stigma has appeared among the entrepreneurs that digital technology can undermined the values of social orientation and traditions in society. The important issue in the research is
“how the MSMEs digitalization are able to internalize social values and local wisdom?”. The results of this study show that digital technology is able to combined between traditionalism and modernization on production and marketing products.
Where social values and local wisdom can be maintained in every Tapis business development
Key words: Digitalization, Social Value, Local Wisdom, Business Development.
ABSTRAK
Era industri 4.0 menjadi tantangan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pelaku usaha dituntut menggunakan teknologi digital dalam menjalankan usaha di tengah pembatasan aktivitas sosial. Pemerintah provinsi Lampung melakukan pendampingan usaha dan pemasaran bagi UMKM. Namun realitanya, dari 110.359 UMKM di Lampung baru 0,54% yang memperoleh pendampingan usaha serta 0,11% pada pemasaran. Salah satu UMKM yang mengusung local wisdom adalah pengrajin Tapis. Proses produksi dan pemasaran masih secara tradisional. Digitalisasi UMKM memunculkan stigma bahwa teknologi digital dapat merongrong nilai-nilai social oriented dan tradisi yang telah mengakar di masyarakat. Isu penting dalam penelitian ini adalah
“bagaimana digitalisasi UMKM mampu menginternalisasi nilai social dan local wisdom?”. Penelitian ini merupakan penelitian survey pada UMKM Tapis di Lampung Timur. Penggunaan teknologi digital mampu mengkolaborasikan antara unsur tradisional dan modernisasi, di mana nilai social dan kearifan local tetap dapat dipertahankan dalam pengembangan usaha UMKM Tapis.
Kata kunci : Digitalisasi, Nilai Sosial, Local Wisdom, Pengembangan Usaha
754 A. PENDAHULUAN
Era ekonomi digital dimulai saat berbagai entitas bisnis memadukan antara produktivitas teknologi informasi dengan pengetahuan sumber daya manusia guna menjangkau transaksi global lintas batas antar negara. Pada masa ini, bukan lagi dipertanyakan tentang “apa usaha anda?’ tetapi lebih pada “bagaimana model bisnis digital Anda?”. Berbagai platform sarana bisnis online dirancang untuk memenuhi kebutuhan transaksi bisnis masa kini. Ini menunjukkan pentingnya teknologi informasi dalam mengembangkan usaha di era digital.
Pandemi Covid-19 membawa dampak yang luar biasa terhadap keberlangsungan berbagai entitas bisnis di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Semakin tingginya tingkat penyebaran Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha. Data statistik menunjukkan bahwa UMKM pada sektor usaha kecil menengah mengalami penurunan pendapatan hingga 84%. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menuntut para pelaku usaha untuk menggunakan teknologi digital agar dapat tetap berjalan di tengah pembatasan aktivitas sosial. Penggunaan teknologi digital menjadi permasalahan tersendiri bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mayoritas masih mengandalkan sistem manual dalam pengelolaan usahanya, baik dalam aspek produksi maupun pemasaran.
Untuk memperkuat UMKM pada tahun 2021, pemerintah melakukan upaya peningkatan peluang bisnis berkaitan dengan 4 aspek utama, yaitu: pelatihan teknis dan kewirausahaan, inkubasi usaha, digitalisasi UMKM, dan penguatan kapasitas layanan usaha.1 Pemerintah di provinsi Lampung juga memiliki perhatian yang sama terhadap UMKM. Berikut tersaji data UMKM di provinsi Lampung:
No. Sasaran Capaian Keterangan
1. Jumlah UMKM 110.359 Sebagai perbandingan pada
tahun 2018 terdapat 168.936 2. Jumlah UMKM yang didampingi
usahanya 591
(0,54%)
Data Per 29 Desember 2020
3. Jumlah UMKM yang didampingi
pemasarannya 117
(0,11%)
Data Per 29 Desember 2020
Sumber : Dinas Koperasi & UMKM Provinsi Lampung Tahun 2020
Digitalisasi menjadi bagian penting dalam penguatan UMKM di masa pandemi.
Kesiapan untuk mengaplikasikan teknologi digital pada dunia usaha tidak hanya pada pemerintah, namun juga menjadi tuntutan bagi pelaku UMKM itu sendiri.
1 Liputan6.com, ‘3 Prioritas Pemerintah Dorong Pengembangan UMKM di 2021’, liputan6.com, 2020 <https://www.liputan6.com/bisnis/read/4269902/3-prioritas- pemerintah-dorong-pengembangan-umkm-di-2021> [accessed 27 April 2021].
755
Namun demikian, program pemerintah tentang digitalisasi memunculkan keresahan di kalangan pelaku usaha Tapis. Kekhawatiran akan lunturnya budaya ketimuran yang selama ini dijaga dengan baik serta warisan adat budaya Lampung dalam corak kain Tapis yang sarat dengan nilai filosofis sebagai sebuah tradisi penciri adat Lampung. Jika menggunakan teknologi digital, bisa jadi corak dan sulaman khas yang mempunyai pesan nilai dalam budaya Lampung akan terkikis dan lama kelamaan hilang tergantikan oleh motif kreasi baru yang belum tentu memiliki makna pesan yang sama.2
Tapis yang diproduksi secara turun temurun dengan alat tenun tradisional.
Keterampilan menapis diwariskan pada anggota keluarga atau kerabat yang didominasi oleh kaum perempuan. Karena usaha dibangun oleh para pengrajin secara kekeluargaan, masih kental sekali unsur kebersamaan, gotong royong, dan saling menolong. Saat teknologi digital masuk ada kekhawatiran bahwa kebersamaan dan rasa kekeluargaan itu akan hilang, serta menghapus ciri ketimuran yang selama ini dimiliki dan dipertahankan. Demikian pula apabila teknologi digital digunakan dalam memasarkan produk Tapis akan mengurangi intensi komunikasi langsung serta tertutup kesempatan beramah tamah dengan konsumen. Dimana hal tersebut terbiasa dilakukan selama ini, dan harus diubah menjadi jual beli secara online melalui media sosial ataupun marketplace yang ada.walaupun tidak dipungkiri media sosial sudah digunakan sebagai sarana promosi, tetapi untuk dijadikan sebagai sarana utama transaksi jual beli masih meragukan.3
Uraian di atas menggambarkan permasalahan yang muncul dalam studi ini, yaitu: kekhawatiran pengrajin dan pelaku UMKM Tapis Lampung bahwa digitalisasi akan melunturkan nilai-nilai sosial (budaya ketimuran) serta mengikis warisan adat budaya Lampung. Penggunaan teknologi digital dalam proses produksi dirasa akan mengikis nilai kekeluargaan, kebersamaan dan kegotong royongan pada para pengrajin. Selain itu, jika Tapis dibuat dengan teknologi digital dikhawatirkan corak dan motif asli kain Tapis akan berubah dan itu dapat menghilangkan pesan budaya yang diusung oleh kain itu sendiri. Sedangkan jika digunakan sebagai sarana pemasaran, kebiasaan komunikasi langsung dan beramah tamah dapat hilang dan berganti menjadi aktivitas perdagangan online seluruhnya.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka isu penting yang dirumuskan dalam studi ini adalah “bagaimana digitalisasi UMKM mampu menginternalisasi nilai sosial dan local wisdom?”. Sehingga yang ingin dikaji dalam studi ini adalah menganalisa kemampuan internalisasi nilai sosial dan kearifan lokal melalui pengaplikasian digitalisasi UMKM.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Digitalisasi merupakan bagian dari ekonomi digital. Pada era ini, manusia dituntut mampu mengkombinasikan daya kreativitas dan inovasi produk dengan memanfaatkan tingginya ilmu pengetahuan, kuatnya warisan budaya, serta
2 Linda, Kerajinan Tapis Warisan Budaya Lampung, 2021.
3 Linda.
756
kecanggihan teknologi. Don Tapscott menjelaskan bahwa ekonomi digital mempunyai 12 atribut, yaitu:4
1. Knowledge; pengetahuan melahirkan berbagai inovasi melalui kesempatan terkini untuk menciptakan keunggulan bersaing
2. Digitalization; penggunaan teknologi digital dan informasi digital pada setiap transaksi bisnis
3. Virtualization; dimungkinkannya perubahan barang fisik menjadi barang virtual. Modal intelektual bertransformasi menjadi modal digital
4. Molecularization; adanya transformasi perusahaan dari tradisional menjadi perusahaan yang fleksibel, perusahaan multidivisi berubah menjadi perusahaan yang mudah beradaptasi dengan lingkungan
5. Internetworking ; membangun jejaring interkoneksi ekonomi melalui media internet
6. Disintermediation ; transaksi dapat dilakukan tanpa perantara
7. Convergence; pembentukan platform multimedia interaktif dalam konvergensi, komputasi, komunikasi dan konten bersama
8. Innovation; imaginasi dan kreativitas yang melahirkan inovasi ekonomi 9. Presumption; aspek kunci pada ekonomi digital adalah pengesuaian massa
yang ditandai dengan kaburnya perbedaan antara produsen dan konsumen 10. Immediacy; kecepatan proses teknologi digital
11. Globalization; transaksi global tidak berbatas
12. Discordance; kesenjangan akan muncul antara yang paham teknologi dengan yang tidak paham. Supaya dapat bertahan, setiap pelaku usaha harus memiliki literasi digital yang baik.
Secara sederhana paling tidak terdapat 3 atribut ekonomi digital yang tidak dapat dihindari oleh UMKM, yaitu digitalisasi, inovasi, dan globalisasi. Mengapa demikian? Apabila UMKM ingin bertahan dan berkembang di era ekonomi digital, setidaknya pelaku usaha harus bersentuhan dan menggunakan ketiga atribut tersebut. Selain itu, pelaku usaha juga harus memiliki literasi digital yang baik agar dapat bertahan menghadapi persaingan bisnis yang semakin kompetitif dan kompleks.
Dengan demikian digitalisasi UMKM memberikan alternative pola transaksi penjualan secara online melalui berbagai marketplace sebagai solusi bagi UMKM dalam menghadapi dan bertahan di tengah gejolak perekonomian di masa pandemi Covid-19. Untuk mempermudah pelaku UMKM mengahadapi situasi saat ini, gerakan digitalisasi UMKM dapat meningkatkan aksesibilitas jaringan dalam melakukan transaksi melalui teknologi digital.5
Kain Tapis merupakan salah satu ragam kerajinan masyarakat lampung yang melambangkan keselarasan kehidupan baik dengan pencipta maupun dengan lingkungan. Tapis Lampung memiliki corak dan motif yang secara filosofis melambangkan tentang keesaan, kesatuan, dan kepercayaan yang universal. Motif pada kain Tapis ada yang melambangkan keesaan, di mana hal tersebut dapat
4 Hadion Wijoyo and others, Digitalisasi UMKM (Insan Cendekia Mandiri, 2020), pp. 2–3.
5 Hadion Wijoyo, Strategi Pemasaran UMKM di masa pandemi (Insan Cendekia Mandiri, 2021), p. 47.
757
diinterpretasikan bahwa masyarakat Lampung tunduk kepada Tuhan sang pencipta. Hal tersebut diperkuat dengan corak yang melambangkan tentang kepercayaan yang bersifat universal. Ini menunjukkan Lampung memiliki masyarakat dengan berbagai agama dan kepercayaan yang dianut sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya. Dan Tapis melambangkan makna kesatuan dimana Lampung merupakan jalur perlintasan perniagaan antarpulau sehingga disinggahi oleh berbagai etnis dari berbagai Negara dan daerah di Indonesia.6
Sebuah riset berjudul “Kearifan Lokal Baduy Banten” yang dilakukan oleh Amirulloh Syarbini menunjukkan bahwa suku Baduy tetap teguh mempertahankan nilai-nilai luhur dalam adat suku Baduy, yaitu: membudayakan gotong royong, tolong menolong dan musyawarah dalam kehidupan sehari-hari walaupun hidup di tengah gempuran globalisasi zaman. Suku Baduy bekerja memenuhi kebutuhan sesuai kemampuan diri, tanpa menggangu atau bahkan merugikan orang lain. Keberterimaan suku Baduy atas keberadaan dan tugas kesukuan dengan segala bentuk konsekuensi benar-benar teruji hingga sekarang.7
Studi berjudul “Kearifan Lokal Pela-Gandong di Lumbung Konflik” oleh Hamzah Tuakeka Zn menunjukkan adanya benang merah antara konsep Pela-Gandong dengan teori konflik dan integrasi Lewis A Coser dengan teori dialektika Karl Marx. Kehadiran system Pela-Gandong terbukti tidak hanya mampu mengatasi
6 ‘Kain Tapis Lampung’ <https://gpswisataindonesia.info/> [accessed 27 April 2021].
7 Amirullah Syarbini, ‘Kearifan Lokal Baduy Banten’, Refleksi, 14.1 (2015), 55–74
<https://doi.org/10.15408/ref.v14i1.9577>.
758
konflik dan mendamaikan masyarakat tapi juga mampu menghadapi himpitan modernisasi social, politik, ekonomi dan agama.8
Selanjutnya, artikel berjudul “Kajian Kearifan Lokal Masyarakat “Melayu” Ujung Gading” ditulis oleh Nur Iza Dora menggambarkan tentang kearifan local orang Ujung Gading yang hingga kini masih diberlakukan sebagai sebuah legalitas bagi masyarakat. Kearifan local dianggap sebagai penegasan identitas bagi orang Ujung gading yang merupakan hasil akulturasi 2 budaya, yakni budaya Minang Kabau dan Mandailing. Keunikan tradisi masyarakat Ujung Gading menjadikan social budaya kenagarian Ujung Gading sebagai daerah multietnis karena factor kedekatan geografis antara Minang Kabau dan Mandailing, serta Jawa karena adanya transmigrasi.9
Artikel berjudul “Fiqh Al-Aqalliyyat As An American Version of Local Wisdom”
mengkaji tentang budaya hukum Islam di kalangan Muslim minoritas di Amerika Serikat. Artikel ini mengungkapkan bahwa tradisi keagamaan sebuah komunitas akhirnya akan tumbuh dari konvergensi berbagai tradisi asal yang dibawa setiap individu muslim. Melalui proses teritorialisasi, berbagai interaksi budaya akan mengarah pada 3 jenis tradisi, yaitu: tradisi yang terus berlangsung, tradisi yang disesuaikan, dan tradisi yang disimpan. Fiqh Al-Aqalliyyat ditawarkan oleh Taha Jabir Al-Alwani berisi himpunan praktik ajaran islam yang mengalami penyesuaian terkait status muslim minoritas di Amerika.10
Selanjutnya artikel berjudul “Local Wisdom Of Malay Moslem Community In Bengkulu” menjelaskan bahwa segala bentuk kearifan lokal yang ada di masyarakat Melayu Bengkulu lahir dari proses akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai ajaran Islam yang masuk ke Bengkulu. Akulturasi ini terjadi karena pada saat Islam masuk ke Bengkulu, telah terbangun tradisi dan budaya local.
Masuknya Islam menumbuhkan kreativitas masyarakat sehingga lahirlah perpaduan tradisi Islam dan trandisi local.11
Beberapa studi tersebut menunjukkan bahwa secara praktis kearifan local dapat terbentuk melalui proses akulturasi budaya yang kemudian dilestarikan oleh masyarakat. Masyarakat memiliki peran penting dalam mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada agar tidak tergusur kemajuan zaman. Kesadaran masyarakat untuk tetap mempertahankan kearifan local juga akan menjadi benteng agar tidak terhimpit oleh arus modernisasi.
8 Hamzah Tualeka Zn, ‘KEARIFAN LOKAL PELA-GANDONG DI LUMBUNG KONFLIK’, El- HARAKAH (TERAKREDITASI), 13.2 (2011), 113–32 <https://doi.org/10.18860/el.v0i0.457>.
9 Nur Iza Dora, ‘KAJIAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT “MELAYU” UJUNG GADING’,
IJTIMAIYAH Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya, 2.1 (2018)
<http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/ijtimaiyah/article/view/2923> [accessed 24 March 2021].
10 Abas Mujiburohman, ‘FIQH AL-AQALLIYYAT AS AN AMERICAN VERSION OF LOCAL WISDOM’, Khazanah: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora, 16.1 (2018), 1–22
<https://doi.org/10.18592/khazanah.v16i1.2091>.
11 Maryam Maryam, ‘LOCAL WISDOM OF MALAY MOSLEM COMMUNITY IN BENGKULU’, Journal of Malay Islamic Studies, 2.1 (2018), 65–74 <https://doi.org/10.19109/JMIS.v2i1.2732>.
759 C. METODE PENELITIAN
Studi ini dilakukan dengan pendekatan survey kepada para pengrajin dan pengusaha Tapis di Lampung dengan sampel di kabupaten Lampung Timur sebagai salah satu pusat kerajinan Tapis di Lampung. Data penelitian yang diperoleh melalui proses interview dielaborasikan dengan wacana pemberitaan dan konsep teoritis mengenai digitalisasi UMKM dan Local Wisdom pada usaha kerajinan Tapis Lampung. Dengan teknik GAP analisis, studi ini menyajikan ulasan akademis tentang internalisasi nilai sosial dan local wisdom melalui penggunaan teknologi digital pada UMKM Tapis Lampung.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil
Stigma yang muncul di kalangan pelaku UMKM bahwa kehadiran teknologi digital yang dikembangkan untuk menunjang proses produksi dan pemasaran dapat merongrong nilai-nilai sosial serta kearifan lokal yang telah mengakar di masyarakat. Nilai sosial yang ditanamkan dalam UMKM Tapis Lampung adalah gotong royong, kerjasama, kekelurgaan, tolong menolong dan ramah tamah. Di mana, nilai-nilai tersebut merupakan karakterikstik yang melekat kuat pada masyarakat Indonesia di mata dunia. Dunia mengenal bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah, penuh kekeluargaan dan kegotongroyongan. Masyarakat, termasuk para pengrajin Tapis sudah sangat terbiasa dengan pola hidup bergotong royong, bekerjasama dalam mengerjakan segala sesuatu, serta mengedepankan kebersamaan dan kekeluargaan. Tidak terkecuali dalam menjalankan usaha. Keterampilan menapis tidak diajarkan secara luas kepada semua orang, tetapi ada pertimbangan hubungan kekerabatan. Karena yang diwariskan adalah budaya yang harus dipahami dan dipertahankan nilai-nilai filosofis serta pesan tradisinya. Teknologi digital tidak mewakili aspek tersebut meskipun dapat digunakan sebagai sarana pengembangan usaha yang memberikan peluang lebiih luas dan terbuka.12
Anggapan bahwa teknologi digital akan menjauhkan masyarakat pelaku usaha dari kebiasaan bergotong royong, hilangnya sikap tolong menolong, serta terkikisnya keramah tamahan terhadap sesama karena teknologi digital mampu menjangkau beberapa aktivitas misal dalam produksi serta memutus estafeta distribusi yang panjang. Produk Tapis yang tadinya dikerjakan secara tradisional oleh beberapa anggota keluarga atau masyarakat dapat digantikan dengan penggunaan teknologi digital seperti bordir computer dan e-clothing. Pemasaran produk Tapis yang awalnya dilakukan secara langsung dengan menawarkan kepada kolega maupun pelanggan dapat digantikan dengan teknologi e-commerce dan digitalisasi, dimana pelaku usaha tidak memiliki cukup ruang untuk berkomunikasi langsung dengan konsumen dan sebaliknya.13
12 Yatin, Mempertahankan Corak Asli Tapis di Masa Kini, 2021.
13 Yatin.
760 2. Pembahasan
Sebenarnya stigma tersebut berlebihan dan tidak sepenuhnya benar. Hal tersebut bisa disebabkan oleh kurangnya tingkat literasi masyarakat terhadap digitalisasi UMKM. Penggunaan teknologi digital pada aspek produksi dapat dilakukan dengan tetap menginternalisasikan nilai-nilai sosial yang ada di dalam diri pelaku usaha. Proses pembuatan Tapis tetap dapat dilakukan dengan bergotong royong, memberdayakan banyak sumber daya manusia serta saling membantu antar sesama. Tapis terkait produksi dan pemasaran` kain Tapis diproduksi secara tradisional dengan menggunakan alat tenun. Dalam hal pemasaran pun, masih dilakukan secara langsung oleh pengusaha.
Era digital menuntut daya kreativitas dan inovasi yang tinggi dari para pelaku usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pengembangan inovasi dan kreativitas tersebut dilakukan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya warisan budaya dan teknologi. Kreativitas dan inovasi akan menciptakan suatu ide kreasi produk yang berbeda dari yang sudah ada menjadi varian produk baru yang inovatif dan akan menggerakkan sektor lain, sehingga meningkatkan kualitas hidup. Pengembangan kreativitas dan inovasi dapat mengkombinasikan antara pelestarian budaya lokal dengan perkembangan terbaru untuk menarik atensi generasi muda serta pasar global. Selain itu dapat juga dengan cara melestarikan dan memperkuat nilai budaya dalam rangka meningkatkan citra bangsa di mata dunia melalui cagar budaya dan proteksi terhadap warisan budaya.14
Dari sini jelas bahwa teknologi digital merupakan sarana yang dirancang untuk mempermudah dan meningkatkan produktivitas usaha. Menghilangkan ciri khas sosial sebuah masyarakat atau tidak, sangat tergantung pada bagaimana pemahaman akan peran teknologi digital itu dibangun. Dengan pemilihan dan penggunaan sarana yang tepat, UMKM justru dapat meningkatkan volume produksi dengan tetap mempertahankan kekhasan yang dimiliki baik pada produknya maupun pada produsennya.
Pada aspek produksi, teknologi digital dapat menjadi media untuk membuat desain corak dan motif Tapis kekinian yang menarik tanpa meninggalkan pakem yang lama. Pengrajin dapat menggabungkan berbagai motif khas tradisional dengan kreasi baru untuk diaplikasikan pada berbagai produk fashion yang lebih ringan dan casual. Ini sekaligus menepis labelisasi mahal pada kain Tapis. Dengan kreativitas dan inovasi, pengrajin dapat membuat rancangan varian produk fashion bertema etnic futuristic yang sangat diminati konsumen dari mancanegara dan konsumen domestic yang berasal dari kawula muda. Nilai social tetap terjaga karena teknologi digital hanya membantu mempermudah proses produksi.
Kearifan ljuga tetap lestari karena daya kreativitas yang tinggi justru meningkatkan citra budaya Tapis Lampung itu sendiri di mata dunia.
14 Tim Penulis, TETAP KREATIF DAN INOVATIF DI TENGAH PANDEMI COVID-19 (Penerbit NEM, 2021), p. 146.
761
Pada aspek pemasaran, teknologi digital dapat difungsikan sebagai media perantara promosi dan transaksi virtual karena tuntutan zaman dan kebutuhan pasar. Namun, kebiasaan beramah tamah serta komunikasi langsung masih dapat dipertahankan dan dibudayakan dengan menggunakan media digital juga. Dengan dukungan transaksi global melalui berbagai platform dan marketplace yang tersedia, produk Tapis akan semakin dikenal di berbagai penjuru daerah di Indonesia bahkan dunia. Dengan demikian kelestarian budaya juga akan terjaga dengan semakin tingginya minat pada kain tapis sehingga akan mengembangkan usaha menjadi lebih besar.
Yang dibutuhkan adalah kesadaran masyarakat (pelaku UMKM) akan pentingnya teknologi digital dalam mengembangkan usaha di era digital. Tanpa kesadaran untuk memahami dan mengaplikasikan teknologi digital dalam usaha, akan sangat sulit meningkatkan kualitas dan taraf ekonomi hanya dengan mengandalkan cara-cara tradisional. Agar kesadaran diri terhadap digitalisasi tinggi, pelaku usaha harus memiliki literasi digital yang memadai melalui berbagai literature dan pendampingan yang tersedia. Ini artinya, digitalisasi UMKM tidak semata-mata merongrong kearifan local pada kerajinan Tapis lampung. Tetapi justru dapat mengkolaborasikan antara nilai social, kearifan local, serta teknologi digital dalam mencapai hasil maksimal pada pengembangan usaha. Ini adalah manifestasi dari perpaduan pengetahuan, adat budaya, dan teknologi pada era ekonomi digital.
KESIMPULAN
Uraian pembahasan di atas, dapat diekstrak dalam kesimpulan berikut:
1. Teknologi digital dalam formulasi yang tepat mampu mengkolaborasikan unsure-unsur tradisional dalam produk UMKM Tapis Lampung dengan modernisasi sebagai tuntutan zaman. Teknologi digital merupakan alat dan media terbarukan yang dapat mempercepat proses pengembangan usaha.
Internalisasi nilai-nilai sosial (social values) dan kearifan lokal (local wisdom) yang ingin dipertahankan oleh masyarakat pelaku UMKM Tapis Lampung tetap dapat dilakukan melalui penggunaan teknologi digital dalam proses produksi dan distribusi produk dengan pemilihan platform yang tepat.
2. Digital Literacy penting ditingkatkan oleh pelaku usaha UMKM agar dapat menjawab tantangan dan memenangkan persaingan bisnis. Dari arah yang berbeda dibutuhkan sosialisasi, edukasi, dan pendampingan secara kontinyu oleh pemerintah dan instansi turunannya untuk memupuk self-awareness dalam diri pelaku UMKM akan pentingnya peran digital technology bagi pengembangan usaha.
DAFTAR PUSTAKA
Dora, Nur Iza, ‘KAJIAN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT “MELAYU” UJUNG GADING’, IJTIMAIYAH Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya, 2.1 (2018)
<http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/ijtimaiyah/article/view/2923> [accessed 24 March 2021]
762
‘Kain Tapis Lampung’ <https://gpswisataindonesia.info/> [accessed 27 April 2021]
Linda, Kerajinan Tapis Warisan Budaya Lampung, 2021
Liputan6.com, ‘3 Prioritas Pemerintah Dorong Pengembangan UMKM di 2021’, liputan6.com, 2020 <https://www.liputan6.com/bisnis/read/4269902/3- prioritas-pemerintah-dorong-pengembangan-umkm-di-2021> [accessed 27 April 2021]
Maryam, Maryam, ‘LOCAL WISDOM OF MALAY MOSLEM COMMUNITY IN BENGKULU’, Journal of Malay Islamic Studies, 2.1 (2018), 65–74
<https://doi.org/10.19109/JMIS.v2i1.2732>
Mujiburohman, Abas, ‘FIQH AL-AQALLIYYAT AS AN AMERICAN VERSION OF LOCAL WISDOM’, Khazanah: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora, 16.1 (2018), 1–
22 <https://doi.org/10.18592/khazanah.v16i1.2091>
Penulis, Tim, TETAP KREATIF DAN INOVATIF DI TENGAH PANDEMI COVID-19 (Penerbit NEM, 2021)
Syarbini, Amirullah, ‘Kearifan Lokal Baduy Banten’, Refleksi, 14.1 (2015), 55–74
<https://doi.org/10.15408/ref.v14i1.9577>
Wijoyo, Hadion, Strategi Pemasaran UMKM di masa pandemi (Insan Cendekia Mandiri, 2021)
Wijoyo, Hadion, Hamzah Vensuri, Musnaini, Widiyanti, Denok Sunarsi, Haudi, and others, Digitalisasi UMKM (Insan Cendekia Mandiri, 2020)
Yatin, Mempertahankan Corak Asli Tapis di Masa Kini, 2021
Zn, Hamzah Tualeka, ‘KEARIFAN LOKAL PELA-GANDONG DI LUMBUNG KONFLIK’, El-HARAKAH (TERAKREDITASI), 13.2 (2011), 113–32
<https://doi.org/10.18860/el.v0i0.457>