BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kemiskinan merupakan masalah utama pembangunan yang sifatnya kompleks dan multi dimensional. Persoalan kemiskinan bukan hanya berdimensi ekonomi tetapi juga sosial, budaya, politik bahkan juga ideologi.
Secara umum kondisi kemiskinan tersebut ditandai oleh: kerentanan, ketidakberdayaan, keterisolasian, dan ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi dan kebutuhannya. Akibat kemiskinan antara lain: secara sosial ekonomi dapat menjadi beban masyarakat; rendahnya kualitas dan produktivitas masyarakat; rendahnya partisipasi masyarakat; menurunnya ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat; menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, kemungkinan merosotnya mutu generasi di masa datang.
Berbagai negara mempunyai komitmen kuat untuk memerangi
kemiskinan, yang dirumuskan dalam tujuan utama pembangunan abad
milenium (Millenium Development Goals/MDGs). Hal ini perlu diperhatikan,
mengingat berbagai program penanggulangan kemiskinan yang tejadi di masa
lalu belum dapat menyetuh secara radikal tentang bagaimana wabah
kemiskinan tersebut dapat ditumpas. Di dalam MDGs ada 8 (delapan) tujuan
yang menjadi pembahasan yaitu: 1) Menghapuskan kemiskinan dan
kelaparan; 2) Menyediakan pelayanan pendidikan dasar untuk semua; 3)
2 Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; 4) Menurunkan angka kematian anak; 5) Meningkatkan kesehatan ibu; 6) Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; 7) Memastikan keberlanjutan lingkungan hidup; 8) Membangun kemitraan global dalam pembangunan
1Apa yang tercantum dalam MDGs sudah sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Mukadimah/Pembukaan UUD 1945, yang menyatakan untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya dengan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial
.
2
Terkait dengan upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat maka melalui hubungan pusat dan daerah yang di atur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan peranserta dan partisipasi . Penjabaran dari tujuan tersebut adalah tertuang dalam bentuk berbagai perundangan-undangan maupun peraturan lain yang mendukung tercapainya tujuan berdirinya Negara Indonesia.
1
www.undp.or.id
2
Pembukaan UUD 1945
3 masyarakat. Dalam rangka meningkatkan kemampuan Pemerintah Daerah maka daerah diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai permasalahan pengembangan kapasitas dilihat dari tiga tingkatan (sistem, kelembagaan, individu) dan empat tema (good governance, Perencanaan Pembangunan dan Ekonomi, Sumberdaya Manusia dan Kelembagaan, Manajemen Keuangan dan Penganggaran).
Langkah-langkah tersebut sebetulnya sudah dilaksanakan dari tahun ke tahun, baik itu melalui program-program pengentasan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat maupun peningkatan kualitas aparat pemerintah. Namun demikian, upaya tersebut masih jauh dari yang kita harapkan bersama mengingat tantangan dan kendala yang dihadapi dalam mensejahterakan masyarakat masih sangat besar. Disamping itu, faktor rendahnya kemampuan sumber daya manusia, geografis, dan keterbatasan- keterbatasan lainnya juga menjadi penghambat pencapaian tujuan. Salah satu faktor keterbatasan pembangunan di Indonesia terutama dalam pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan adalah masih masih terbatasnya sumber pembiayaan dari Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan masih tergantungnya pembiayaan pembangunan Indonesia pada hutang luar negeri.
Salah satu program yang dijalankan pemerintah adalah Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (disingkat PNPM MANDIRI)
pada hakekatnya adalah gerakan nasional yang dituangkan dalam kerangka
kebijakan yang menjadi acuan pelaksanaan berbagai program
4 penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. Dalam PNPM Mandiri Perdesaan terdapat komponen penting yang menjadikan program bisa berjalan dengan baik yaitu: Bantuan Langsung Masyarakat (Community Block Grants). Bantuan Langsung Masyarakat merupakan pengalokasian dana langsung kepada masyarakat yang disalurkan oleh Pemerintah melalui Pemerintah Daerah Kepada Masyarakat.
Pemberian bantuan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan mekanisme bantuan dana BLM tidak bisa lepas dari kemampuan Pemerintah dalam menyediakan anggaran. Dengan besaran dana BLM per kecamatan pada tahun 2011, antara 450 juta – 3 milyar yang tersebar di 5.020 kecamatan, 393 kabupaten/kota, di 32 provinsi yang berasal dari Pemerintah Indonesia.
Hal ini termuat di salah satu perjanjian pinjaman terkait PNPM Mandiri Perdesaan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan International Bank Recontruction and Develepoment No. 8079-ID dan No 8217-ID yang menyebutkan bahwa pinjaman tersebut disetujui untuk menambah keuangan dalam PNPM Mandiri Perdesaan. Disamping itu, dalam loan agreement disebutkan bahwa ada 4 kategori pinjaman yang digunakan
yaitu: a. Blok Grants; b. Facilitation Support; c. Goods, Consultan Services, Training, Wokrshop; d. Incremental Cost
33