• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON TAHUN 2020"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

HIDAYAH KECAMATAN KLANGENAN KABUPATEN CIREBON

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Oleh:

LUSI YULIYANA NIM. 2018.4.6.1.01005

INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON

TAHUN 2020

(2)
(3)

i

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MERONCE PADA KELOMPOK B DI TK IT NOOR HIDAYAH KECAMATAN KLANGENAN KABUPATEN CIREBON

SKRIPSI

Oleh:

LUSI YULIYANA NIM. 2018.4.6.1.01005

INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON

TAHUN 2020

(4)

ii

PERSETUJUAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MERONCE PADA KELOMPOK B DI TK IT NOOR HIDAYAH KECAMATAN KLANGENAN KABUPATEN CIREBON

Oleh:

LUSI YULIYANA NIM. 2018.4.6.1.01005

Menyetujui:

Pembimbing I,

Drs.Sulaiman, M.M.Pd NIDK. 2118096201

Pembimbing II,

H. Barnawi, M.S.I.

NIDK. 8855570018

(5)

iii

PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Meronce Pada Kelompok B Di Tk It Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon” oleh LUSI YULIYANA Nomor Induk Mahasiswa 2018.4.6.1.01005telah diajukan dalam sidang Munaqosah Jurusan Tarbiyah IAI Bunga Bangsa Cirebon pada tanggal

…………...

Skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Jurusan Tarbiyah Institut Agama Islam (IAI) Bunga Bangsa Cirebon.

Cirebon, Januari2020 Sidang Munaqosah,

Ketua

Merangkap Anggota,

Dr. H. Oman Fathurohman, MA.

NIDK. 8886160017

Sekretaris Merangkap Anggota,

Drs. Sulaiman, M.M.Pd.

NIDN. 2118096201

Penguji I, Penguji II,

(6)

iv NOTA DINAS

Kepada Yth.

Ketua Program Studi PIAUD IAI Bunga Bangsa Cirebon di

Cirebon

Assalamu’alaikum Wr, Wb.

Setelah melakukan bimbingan, telaah, arahan dan koreksi terhadap penulisan skripsi dari LUSI YULIYANA Nomor Induk Mahasiswa 2018.4.6.1.01005yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Meronce Pada Kelompok B Di Tk IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon” bahwa skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Ketua Jurusan Tarbiyah untuk dimunaqosahkan.

Wassalamu’alaikum Wr, Wb.

Pembimbing I,

Drs. Sulaiman, M.M.Pd. NIDK. 2118096201

Pembimbing II,

H. Barnawi, M.S.I NIDK. 8855570018

(7)

v

(8)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT senantiasa dipanjatkan, sehingga pada akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul :“Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Meronce Pada Kelompok B Di Tk IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon”.

Shalawat dan salam sejahtera senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, junjungan dan suri tauladan ummat manusia menuju jalan kebenaran. Dalam penyusunan skripsi ini, disampaikan ucapakan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Dr. Dian Widiantari, M.Ag., sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Bunga Bangsa Cirebon.

2. Dr. H. Oman Fathurohman, MA.,sebagaiRektor IAI Bunga Bangsa Cirebon.

3. Drs. Sulaiman, M.M.Pd., sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAI Bunga Bangsa Cirebon.

4. Suzana, M.Pd., sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini IAI Bunga Bangsa Cirebon.

5. Drs. Sulaiman, M.M.Pd., sebagai Pembimbing I.

6. H. Barnawi, M.S.I., sebagai Pembimbing II.

7. Ida Kasida, S.Pd Kepala TKIT Noor Hidayah Klangenan Kabupaten Cirebon.

8. Kedua orang tuaku yang telah membesarkan dan mendidik penulis.

9. Dosen IAI Bunga Bangsa Cirebon yang telah memberikan bimbingan dan mendidik penulis selama di bangku perkuliahan.

10. Segenap Pengurus Perpustakaan IAI Bunga Bangsa Cirebon, yang telah memberikan izin peminjaman buku untuk keperluan referensi pembuatan skripsi.

11. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

Menyadari akan kekurangan dan kealfaan yang terdapat pada diri penulis, sehingga kemungkinan terdapatnya kesalahan dan kekurangan pada karya tulis ini, oleh karena itu semua kesalahan adalah tanggung jawab

(9)

vii

penulis. Dengan demikian, peneliti mengharapkan saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak.

Akhirnya karya tulis yang sederhana ini dipersembahkan kepada almamater dan masyarakat akademis, semoga kiranya menjadi setitik sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang sangat luas.

Cirebon, Maret2020 Penulis

(10)

viii ABSTRAK

LUSI YULIYANA. NIM. 2018.4.6.1.01005. “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Meronce Pada Kelompok B Di TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon”.

Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan keterampilan motorik halus melalui kegiatan meronce menggunakan bahan meronceberupa bunga kamboja pada anak kelompok B TK TK IT Noor Hidayah. Penelitian ini dilator belakangi oleh anak kelompok B yang masih rendah perkembangan motorik khususnya pada keterampilan motorik halus anak serta kegiatan pembelajaran hanya sebatas pada Lembar Kerja Anak.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang secara kolaboratif partisipatif dengan menggunakan model penelitian Kemmis dan Mc Taggart. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 15 anak, yang terdiri dari 8 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Objek dalam penelitian ini adalah keterampilan motorik halus melalui kegiatan meronce menggunakan bahan meronce berupa bunga kamboja. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi, Hasil penelitian dapat diketahui dari pengamatan perkembangan pada tiap siklus yaitu kondisi pra siklus sebesar 35,00%, pada siklus I sebesar 59,17% dengan peningkatan 24,17% dan pada siklus II sebesar 96,50%

dengan peningkatan 37,33%, sehingga persentase peningkatan keterampilan motorik halus melalui kegiatan meronce anak melebihi indikator keberhasilan yaitu 90%. Adapun keberhasilan tersebut dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Penjelasan guru dalam meronce lebih diperjelas dengan guru mendemonstrasikan cara meronce sampai selesai; 2) Peneliti membuat lubang roncean dibuat lebih besar; (3) Guru mendampingi dan memotivasi anak; 4) Peneliti menambah jumlah wadah yang tersedia agar anak tidak berebut saat mengambil roncean.

Hasil tindakan Siklus II mengalami peningkatan, ada sebanyak 15 Anakkriteriasangat baik. Hasil observasi memperoleh persentase 96,5% dari Siklus I yang mendapat persentase sebesar 59,17% karena telah melebihiindikator keberhasilan maka penelitian tidak dilanjutkan.

Peningkatan yang terjadi telah mencapai indikator keberhasilan, bahkan lebih dari yang d iharapkan yaitu mencapai 96,5% sampai 100%

(11)

ix ABSTRACT

LUSI YULIYANA .NIM .2018.4.6.1.01005."The Improving Fine Motor Ability Through Meronce Activities in Group B at TK IT Noor Hidayah, Klangenan District, Cirebon Regency".

The purpose of this study was to improve fine motor skills through meronce activities using meronce material in the form of frangipani flowers in children of group B TK TK IT Noor Hidayah. This research is behind the dilator by group B children who are still low in motor development especially in fine motor skills of children and learning activities are limited to the Child Worksheet

This type of research is classroom action research that is collaboratively participatory using the Kemmis and Mc Taggart research models. The subjects in this study were 15 children, consisting of 8 boys and 7 girls. The object of this research is fine motor skills through meronce activities using meronce material in the form of frangipani flowers. The method used in collecting data in this study is observation and documentation

The results of this study can be seen from observations of development in each cycle, namely the pre-cycle conditions of 35.00%, in the first cycle of 59.17% with an increase of 24.17% and in the second cycle of 96.50% with an increase of 37.33%, so the percentage increase in fine motor skills through children's meronce activities exceeds the 90% success indicator. The success was carried out with the following steps: 1) The explanation of the teacher in the rationing was made more clear by the teacher demonstrating the way to complete it; 2) Researchers make roncean holes made larger; (3) The teacher accompanies and motivates children; 4) Researchers increase the number of containers available so that children do not scramble when taking roncean

The results of the Cycle II actions have increased, there are as many as 15children criterias are very good. The observation results obtained a percentage of 96.5% ofCycle I, which received a percentage of 59.17% because it had exceeded the indicators of success, the study was not continued. The increase that has occurred has reached an indicator of success, even more than expected, reaching 96.5% to 100%

(12)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN... ii

PENGESAHAN ... iii

NOTA DINAS ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR GRAFIK ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Pembatasan Masalah ... 4

D. Perumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Penelitian ... 5

F. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN TEORI ... 9

A. Deskripsi Teori ... 9

1. Kemampuan Motorik Halus ... 9

2. Kegiatan Meronce ... 16

3. Langkah-langka meronce ... 19

4. Hubungan Motorik Halus dengan Meronce ... 20

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 21

C. Kerangka Pemikiran ... 21

D. Hipotesis Tindakan ... 23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30

A. Metode Penelitian ... 30

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 35

(13)

xi

C. Populasi dan Sampel ... 35

D. Teknik Pengumpulan Data ... 36

E. Instrumen Penelitian ... 37

F. Teknik Analisis Data ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

A. Hasil Penelitian... 43

1. Kondisi Awal ... 43

2. Siklus I ... 48

3. Siklus II ... 53

D. pembahasan ... 59

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 69

A. Simpulan ... 67

B. Saran-Saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

xii

DAFTAR TABEL

No. Judul Tabel Halaman

3.1. Jadwal Penelitian ... 35

3.2. Daftar Nama Guru TK IT Noor Hidayah ... 36

3.3. Instrumen Lembar Observasi Keterampilan Motorik Halus... 37

3.4. Rubrik Penilaian Keterampilan Motorik Halus dalam Meronce ... 38

3.5. Klasifikasi Interpretasi ... 40

4.1. Hasil Observasi Pra Siklus... 45

4.2. Rekapitulasi data Keterampilan Motorik Halus Anak dalam Meronce Pra siklus... 47

4.3. Hasil Observasi Siklus I... 50

4.4. Hasil Observasi Siklus II ... 55

4.5. Rekapitulasi Data Perbandingan Persentase Peningkatan Keterampilan Motorik Halus ... 58

4.6. Rekapitulasi Hasil Observasi Pra siklus, Siklus I dan Siklus II Tiap Anak... 61

(15)

xiii

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Gambar Halaman

2.1. Kerangka Pemikiran... 22 3.1. proses penelitian model kemmis dan MC Taggart ... 33

(16)

xiv

DAFTAR GRAFIK

No. Judul Grafik Halaman

4.1. Rekapitulasi Hasil Keterampilan Motorik Halus Anak Pra Siklus .... 48 4.2. Rekapitulasi Hasil Keterampilan Berpikir Halus anak Siklus I ... 52 4.3. Rekapituasi Hasil Keterampilan Motorik Halus Anak Siklus II ... 57 4.4. Rekapitulasi Hasil Keterampilan Motorik Halus Anak Pratindakan,

Siklus I dan Siklus II Anak ... 62

(17)

1 A. Latar Belakang Masalah

Anak usia dini sebagai makhluk sosial dan kaya dengan potensi memiliki dunia serta karakteristik sendiri yang jauh berbeda dari orang dewasa. Anak sangat aktif, dinamis, antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa saja yang dilihat dan didengarnya, serta seolah-olah tak pernah berhenti belajar. Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya, sehingga pada usia dini ini disebut juga usia emas (golden age), yang merupakan“masa peka” dan hanya datang satu kali sehingga menuntut pengembangan anak secara optimal (Depdiknas, 2007: 1).

Lembaga pendidikan anak usia dini adalah tempat yang dirancang sebagai tempat bermain dan belajar bagi anak-anak usia 0-6 tahun yang memberikan pengaruh signifikan terhadap corak dan karakter anak, sebagai tempat dalam proses tahap pertumbuhan dan perkembangan anak, sekaligus merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar perkembangan pembiasaan nilai-nilai agama, moral, sosial emosional, kemandirian dan kemampuan dasar berbahasa, kognitif, fisik motorik dan seni. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 14 menjelaskan bahwa, tujuan pendidikan usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Menurut Undang-undang Sisdiknas (2003), Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.Pendidikan anak

(18)

usia dini dalam pembelajarannya mengembangkan beberapa aspek perkembangan yaitu tentang keagamaan, moral dan sosial emosional, aspek bahasa, aspek kognitif, aspek seni dan fisik motorik, yaitu berupa motorik kasar dan motorik halus. Salah satu aspek perkembangan yang ingin dikembangkan yaitu aspek motorik halus yakni peningkatan keterampilan motorik halus anak usia dini melalui kegiatan meronce dengan berbagai media.

Keterampilan motorik halus adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata dengan tangan, keterampilan yang 3mencakup pemanfaatan dengan alat-alat untuk bekerja dan objek yang kecil atau pengontrolan terhadap mesin misalnya mengetik, menjahit dan lain-lain (Sumantri, 2005:143).

Perkembangan motorik halus dipengaruhi olehberbagai faktor yang mencakup kesiapan belajar, kesempatan belajar, kesempatan berpraktik, model yang baik, bimbingan motivasi, dan dilakukan secara individu (Depdiknas, 2007: 9).

Berdasarkan Pengalaman selama mengajar di kelompokBTK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebonmenunjukkan bahwa kemampuan motorik halus yang dimiliki anak masih rendah.Terbukti dengan adanya dalam observasi penelitian awal nilai pencapaian perkembangan anak kebanyakan Belum Berkembang (BB) namun hanya beberapa saha yang sudah Mulai Berkembang (MB). Selain itu juga Anak-anak masih kurang terampil dalam menggunakan jarijemari tangan untuk melakukan kegiatan yang agak rumit (seperti: mengancingkan baju, mengikat tali sepatu), kurangnya konsentrasi serta kurangnya kecermatan, kurangnya ketelitian dan kesabaran dalam mengerjakan tugas yang berhubungan dengan motorik, terutama pada saat anak harus memfokuskan pandangannya ke obyek-obyek yang kecil ukurannya serta anak masih belum mampu dalam mengkoordinasikan antara mata dan tangan. Hal ini disebabkan karena kurangnya stimulasi yang tepat dalam pengembangan motorik halus anak, anak kurang tertarik dengan pembelajaran yang monoton (mewarnai dan menggambar dengan krayon), serta motivasi yang diberikan guru

(19)

kepada anak dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan motorik halus anak yang kurang berkembang secara optimal.

Peran serta orang tua juga sangat mempengaruhi, karena pengetahuan orang tua dalam motorik halus juga masih kurang, mereka beranggapan bahwa yang paling penting bagi anaknya adalah “calistung” (baca, tulis, dan berhitung), sehingga orang tua masih kurang dalam memotivasi anaknya dibidang motorik halus.

Anak membutuhkan kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, bukan pembelajaran yang monoton (mewarnai dan menggambar dengan krayon) yang membuat anak menjadi lebih cepat bosan.Kemampuan motorik halus anak di kelompok B TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon masih rendah, karena peneliti mengamati pembelajaran yang sering diberikan anak adalah kegiatan menggambar, mewarnai, mengerjakan lembar kerja anak, dan sebagainnya. Guru selalu mengulang-ulang dengan memberikan kegiatan yang sama.

Terkait dengan berbagai masalah tersebut, perlu adanya suatu upaya perbaikan dalam pengembangan kemampuan motorik halus anak.Upaya yang dapat dilakukan pendidik atau guru untuk peningkatan kemampuan motorik halus anak adalah melalui media yang kreatif dan menyenangkan bagi anak.Untuk itu peneliti memilih kegiatanmeronce sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak. Kegiatanmeronce ini dapat melatih otot-otot tangan, dan melatih koordinasi mata dengan tangannya. Meronce adalah teknik menggabungkan beberapa objek menjadi satu.Dengan menggunakan kegiatanmeroncedengan berbagai media diharapkan dapat meningkatkankemampuan motorik halus anak terutama dalam melatih kemampuan jari-jemari tangan, keterampilan menggunakan tangan kanan dan kiri dalam berbagai aktivitas, serta melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran anak dalam mengerjakan tugas yang berhubungan dengan motorik halus.

Tujuan kegiatan meronce ini untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak B TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon. Kegiatan ini akan meningkatkan kreatifitasnya,

(20)

dalam hal membuat bentuk bentuk kegiatan meronce yang bagus, berlatih menggerakan jari-jari tangannya, melatih konsentrasi anak dalam kegiatan meronce. Topik yang dipilih adalah keterampilan meronce.

Kegiatan ini akan dilaksanakan di dalam kelas. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti mengambil judul “Meningkatkan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Meronce Pada Kelas B di TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon”.

.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

1. Kegiatan meronce jarang dilakukan di TK IT Noor Hidayah.

2. Anak kurang konsentrasi, kurang tepat dan rapih, serta kurang sabar dalam mengerjakan kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan motorik halus

3. Kemampuan motorik halus anak berkembang kurang optimal

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka permasalahan hanya dibatasi pada peningkatan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan meronce pada anak kelompok B TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon”

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya yaitu:

1. Bagaimana cara meningkatkan motorik halus anak melalui kegiatan meronce pada anak kelompok B TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon?

(21)

2. Apakah kemampuan motorik halus anak dapat meningkat melalui kegiatan meronce pada anak kelompok B TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai yaitu:

1. untuk mengetahui cara meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan meronce pada anak kelompok BTK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon.

2. Kemampuan motorik halus anak usia dini melalui kegiatan Meronce dapat meningkat pada Kelompok B TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta dapat dijadikan bahan kajian bagi para pembaca, khususnya untuk meningkatkan kemampuan motorik halus melalui meronce.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peserta didik, untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak dalam meronce.

b. Bagi pendidik, untuk mengetahui seberapa jauh peningkatan kemampuan motorik halus anak melalui meronce, dan menjadi masukan untuk memperbaiki proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan kemampuan motorik halus.

c. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan motorik halus.

(22)

9 BAB II KAJIAN TEORITIS A. Deskripsi Teori

1. Kemampuan Motorik Halus

a. Pengertian Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini

Perkembangan motorik halus adalah proses sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan gerakan individu meningkat dari keadaan sederhana, tidak terorganisasi, dan tidak terampil kearah penampilan keterampilan motorik yang kompleks dan terorganisasi dengan baik, yang pada akhirnya kearah penyesuaian keterampilan menyertai terjadinya proses menua atau menjadi tua (Sumantri, 2005: 47).

Keterampilan motorik halus, yangdipergunakan adalah sekelompok otot-otot kecil, seperti: jari-jari, tangan, lengan, dan sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata dan tangan.

Keterampilan motorik halus adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil, seperti jari-jari jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata dan tangan(MS Sumantri, 2005:143). MenurutSukadiyanto (1997:70), keterampilan motorik adalah keterampilan seseorang dalam menampilkan gerak sampai gerak yang lebih kompleks.

Pendapat lain tentang keterampilan motorik halus (fine motor skill) oleh Mahendra(MS. Sumantri, 2005: 143) yaitu keterampilan-keterampilan yang memerlukan kemampuan untuk mengendalikan otot-otot kecil untuk dapat melakukan keterampilan yang berhasil.

Magill A. Richard (1989:11) menjelaskan bahwa berdasarkan kecermatan dalam melakukan gerakan, keterampilan motorik dibagi menjadi dua sebagai berikut: Keterampilan motorik kasar (gross motor skill)

1) Keterampilan motorik kasar merupakan keterampilan gerak yang menggunakan otot-otot besar. Tujuan akan kecermatan gerakan bukan merupakan suatu hal yang penting, akan tetapi

(23)

koordinasi yang halus dalam gerakan adalah hal yang penting untuk penampilan keterampilan dalam tugas ini. Contoh dari keterampilan gerak kasar yaitu berjalan, melompat, melempar dan meloncat.

2) Keterampilan motorik halus (fine motor skill) Keterampilan motorik halus merupakan keterampilan yang memerlukan kontrol dari otot-otot kecil dari tubuh untuk mencapai tujuan dari keterampilan. Secara umum, keterampilan ini meliputi koordinasi mata dan tangan. Keterampilan ini membutuhkan derajat tinggi dari kecermatan gerak untuk menampilkan suatu keterampilan khusus dalam level tinggi dalam kecakapan.

Contohnya yaitu menulis, melukis, menjahit, membentuk menggunakan media platisin, dan mengancingkan baju.Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin, 10 seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya

Hurlock (2000: 150) menyatakan bahwa motorik halus sebagai pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan kelompok otot yang 9 lebih untuk menggenggam, melempar dan menangkap bola. Kartini Kartono (1995: 83) menjelaskan bahwa motorik halus adalah ketangkasan, keterampilan, jari tangan dan pergelangan tangan serta penugasan terhadap otot-otot urat wajah

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot-otot kecil dan koordinasi mata-tangan yang dipengaruhi oleh kesempatan belaja dan berlatih yang ditandai dengan kemampuan mengkoordinasikan gerakan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit, melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media, mengekspresikan diri dengan berkarya seni menggunakan berbagai media, mengontrol gerakan tangan yang menggunakan otot halus, menempel gambar dengan tepat.

(24)

b. Manfaat Motorik Halus Bagi Anak Usia Dini

Pengembangan keterampilan motorik halus anak akan berpengaruh terhadap kesiapan anak dalam menulis (pengembangan bahasa), kegiatan melatih koordinasi antara tangan dengan mata yang diajurkan dalam jumlah waktu yang cukup meskipun penggunakan tangan secara untuh belum mungkin tercapai. MS. Sumantri (2005: 145) menjelaskan koordinasi antara mata dan tangan dapat dikembangkan melalui kegiatan permainan membentuk dari tanah liat/lilin, adonan, memalu, menggambar, mewarnai, menempel dan mengguting, memotong, merangkai benda dengan benang (meronce).

Fungsi dari pengembangan keterampilan motorik halus adalah mendukung aspek perkembangan lainnya, seperti kognitif dan bahasa serta sosial karena pada dasarnya setiap pengembangan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Adapundalam keterampilan motorik halus anak mempunyai fungsi dan prinsip-prinsip pengembangan keterampilan motorik halus

Gusril (2004:51) menjelaskan bahwa fungsi utama motorik ialah mengembangkan kesanggupan dari keterampilan setiap individu yang berguna untuk mempertinggi daya kerja.

Sedangkan fungsi keterampilan motorik halus menurut Dirjen Manajemen Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah (2007:3) adalah sebagai berikut:

a) Melatih kelenturan otot jari tangan

b) Memacu pertumbuhan dan perkembangan motorik halus dan rohani

c) Meningkatkan perkembangan emosi anak

d) Menumbuhkan perasaan menyenangi terhadap diri sendiri Menurut MS. Sumantri (2005:146), fungsi dari keterampilan motorik halus yaitu untuk mendukung aspek pengembangan lainnya seperti kognitif, bahasa, dan sosial. Karena setiap aspek tidak dapat terpisah satu sama lainnya. Sedangkan pendapat Yudha M. Saputra & Rudyanto (2005:116) menyebutkan fungsi dari keterampilan motorik halus:

(25)

a) Sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan gerak kedua tangan

b) Sebagai alat mengembangkan koordinasi kecepatan tangan dengan gerakan mata.

c) Keterampilan motorik halus adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jamari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasimata dengan tangan, keterampilan yang mencangkup pemanfaatan dengan alat-alat untuk bekerja dan obyek yang kecil dan atau pengontrolan terhadap mesin misalnya mengetik, menjahit dan lain-lain (MS. Sumantri 2005:143).

d) Sebagai alat untuk melatih penguasaan emosi

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan fungsi motorik halus adalah membantu anak dalam mengembangkan keterampilan gerak tangan dan sosial emosionalnya. Prinsip keterampilan motorik halus anak menurut MS. Sumantri (2005:148) bahwa pendekatan pengembangan motorik halus anak usia PAUD hendaknya memperhatikan beberapa prinsip-prinsip sebagai berikut:

a) Berorentasi pada kebutuhan anak

Kegiatan pengembangan anak usia dini harus senantiasa berorientasi pada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah masa yang sedang membutuhkan stimulasi secara tepat untuk mencapai optimalisasi seluruh aspek pengembangan baik fisik maupun psikis

b) Belajar sambil bermain

Upaya stimulasi yang diberikan pendidik terhadap anak usia dini (4-6 tahun) hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Menggunakan pendekatan bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukaan dan memanfaatkan ojek-objek yang dekat dengannya sehingga diharapkan kegiatan akan lebih bermakna

c) Kreatif dan inovatif

(26)

Aktivitas kreatif dan inovatif dapat dilakukan oleh pendidik melalui kegiatankegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berfikir kritis, dan menemukan hal-hal baru

d) Lingkungan Kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian menarik, sehingga anak akan betah. Lingkungan fisik hendaknya memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain.

e) Tema

Jika kegiatan yang dilakukan memanfaatkan tema, maka pemilihan tema hendaknya disesuaikan dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana, dan menarik minat anak f) Mengembangkan Keterampilan Hidup

Proses pembelajaran perlu diarahkan untuk pengembangan keterampilan hidup. Pengembangan keterampilan hidup didasarkan dua tujuan yaitu: 1) memiliki kemampuan untuk menolong diri sendiri (self help), disiplin, dan sosialisasi; 2) memiliki bekal keterampilan dasar untuk melanjutkan pada jenjang selanjutnya

g) Menggunakan Kegiatan Terpadu

Kegiatan pengembangan hendaknya dirancang dengan menggunakan model pembelajaran terpadu dan berajak dari tema yang menarik minat anak (center of interst).

h) Kegiatan berorientasi pada prinsip-prinsip pekembangan anak kegiatan pengembangan hendaknya memperhatikan prinsip bahwa siklus belajar anak selalu berulang serta melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak-anak lain, ia akan belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi.

c. Perkembangan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia 5-6 tahun Menurut Penney Upton (2012:63-64), perkembangan keterampilan motorik halus anak antara lain meliputi:

(27)

1) Keterampilan motorik halus melibatkan otot kecil yang memungkinkan fungsi-fungsi seperti menggenggam, dan memanipulasi objek-objek kecil

2) Keterampilan melibatkan kekuatan, pengendalian motorik halus dan kecekatan

3) Secara bertahap diperolah keahlian yang lebih tinggi dalam memanipulasi objek, sehingga pada akhir tahun pertama usianya bayi mampu melakukan genggaman yang jauh lebih unggul yaitu genggaman menjepit (pincer) merupakan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk unruk manggambil objek-objek kecil.

4) Ini merupakan perkembangan penting dalam hal cekatan, karena genggaman jari dan ibu jari menjadi dasar bagi keterampilan-keterampilan manual yang lebih canggih seperti menulis, menggunakan gunting dan alat pemotong, membalik halaman buku, dan sebagainya (Fentress&Mcleod, 1986).

Prof. Janet W Lerner (Agung Triharso, 2013: 23-24) berpendapat bahwa, motorik halus adalah keterampilan menggunakan media dengan koordinasi antara mata dan tangan. Oleh karena itu gerakan tangan perlu dikembangkan dengan baik agar keterampilan dasar meliputi garis horizontal, vertikal, miring kiri atau kanan, lengkung atau lingkaran dapat ditingkatkan. Adapun alat-alat yang digunakan sebagai penunjang keterampilan dasar seperti:lilin, papan tulis, kertas, ranting kayu, pensil gambar dan spidol, jari jemari, alat pemasang memasang, gunting, bentuk geometri untuk menjiplak

Menurut Bredekamp & Copple (1997 dalam M.Ramli, 2005:

191-192), perkembangan motorik halus anak usia lima tahun sebagai berikut:

1) Memukul dengan kepala palu menggunakan gunting dan obeng tanpa bantuan

(28)

2) Membangun kerangka balok tiga dimensi; mengerjakan 10-15 buah teka-teki dengan mudah

3) Suka melepas benda-benda dan merangkainya kembali serta melepaskan dan memasangkan baju boneka

4) Memiliki pemahaman dasar tentang kanan dan kiri tetap mencampurnya pada suatu saat

5) Menyalin berbagai bentuk; mengkombinasikan dua bentuk geometri atau lebih dalam gambar dan kontruksi

6) Menggambar orang; mencetak huruf secara kasar tetapi kebanyakan dapat dikenal oleh orang dewasa, termasuk konteks atau pemandangan dalam gambar; mencetak nama pertama

7) Membuka reseliting mantel; memasang kancing dengan baik;

mengikat sepatu dengan bantuan orang dewasa; berpakaian dengan cepat

d. Prinsip-prinsip Keterampilan Motorik

Ada Lima prinsip utama perkembangan motorik menurut BEF.Montolalu (2005 dalam Ika Budi Maryatun, ___: 8-9) yaitu sebagai berikut:

1) Kematangan

Kemampuan anak melakukan gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang mengatur gerakan tersebut

2) Urutan

Pada Usia 5 tahun anak telah memiliki kemampuan motorik yang bersifat komplek yaitu gerakan yang mengkoordinasi gerakan motorik tangan seimbang, seperti berlari sambi melompat, mengendarai sepeda

3) Motivasi

Kematangan motorik memotivasi anak untuk melakukan aktivitas motorik dalam lingkup yang luas, hal ini dapat dilihat sebagi berikut: Aktivitas fisik yang meningkat tajam dan Anak seakan tidak mau berhenti melakukan aktivitas fisik yang menggunakan motorik kasar dan halus

(29)

4) Pengalaman

Perkembangan gerakan dasar bagi perkembangan berikutnya Latihan danpendidikan gerak pada anak usia dini lebih ditujukan bagi pengayaan gerak, pemberian pengalaman yang membangkitkan rasa senang dalam suasana riang gembira anak

5) Praktek

Beberapa kebutuhan anak usia PAUD yang berkaiatan dengan perkembangan motoriknya perlu dipraktekkan anak dengan bimbingan guru

2. Kegiatan Meronce a. Pengertian Meronce

Meronce merupakan salah satu contoh kegiatan pengembangan motorik halus di TK, kegiatan menguntai dengan membuat untaian dari bahan-bahan yangberlubang, disatukan dengan tali atau benang. Memasukkan benang atau tali kedalam lubang-lubangnya dibantu dengan jarum/tanpa jarum.Kegiatan meronce ditujukan untuk melatih koordinasi mata dan tangan anak.Memperoleh hasil roncean yang menarik tentu perlu terampil dan kreatif. Terampil melakukan roncean dengan lancar, tanpa mendapat luka/sakit jari, selain itu jarum dan bahan dapat digunakan. Bahan tersebut terdapat di sekitar lingkungan rumah atau sekolah, kreatif dalam mengkombinasikam susunan roncean, garis menurut bentuknya.

b. Manfaat Meronce

Menurut Nurani Musta’in (2010: 78) kemampuan anak dalam kegiatan meronce dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:

1) Melatih Motorik Halus Anak

Pada saat melakukan kegiatan meronce sebagian anak mungkin mengalami kesulitan karena membutuhkan gerakan-gerakan halus dari jari-jari untuk mengambil bahan, mengelem, dan menempelnya dibidang gambar. Dengan 20

(30)

praktik secara langsung dapat menstimulasi keterampilan motorik halus anak dan jemari-jemarinya akan siap untuk diajak belajar menulis.

2) Meningkatkan Kreativitas

Kegiatanmeronce dapat meningkatkan kreativitas anak, salah satunya dengan menyediakan berbagai pilihan warna, pola gambar yang menarik, tempat menempel, alat dan media yang beragam sesuai dengan kebutuhan anak

3) Melatih Konsentrasi

Butuh konsentrasi cukup tinggi bagi anak saat melepas dan menempelkan bahanmeronce ke pola gambar. Lambat laun kemampuan konsentrasinya akan semakin terasa. Pada saat berkonsentrasi melepasdan menempel dibutuhkan pula koordinasi gerakan antara tangan dan mata.Koordinasi ini sangat baik untuk merangsang pertumbuhan otak anak dimasa yang sangat pesat.

4) Mengenal warna

Meronce terdiri atas banyak sekali warna: merah, hijau, kuning, biru, dan lainnya. Anak dapat belajar mengenal warna agar wawasan dan kosakatanya bertambah banyak.

5) Mengenal bentuk

Selain warna, berbagai bentuk pun ada pada meronce.Adakalung, gelang, gantungan dan sebagainya.Pengenalan bentuk geometri dasar yang baik, kelak membuat anak memahami lingkungannya dengan baik.

6) Melatih Memecahkan Masalah

meronce merupakan sebuah “masalah” yang harus diselesaikan anak, tetapi bukan masalah sebenarnya melainkan hanya sebuah permainan yang harus dikerjakan anak.Masalah yang mengasikkan yang membuat anak tanpa sadarsebenarnya sedang dilatih memecahkan sebuah masalah.

Hal ini akan memperkuat kemampuan anak untuk keluar dari permasalahan dalam kehidupan sehariharinya, seperti

(31)

bagaimana mengancingkan baju, menalikan tali sepatu, memakai kaos kaki.

7) Mengasah Kecerdasan Spasial

Kecerdasan spasial adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami ruang. Kemampuan spasial anak akan ikut terasah dalam permainan ini, sebab terdapat banyak bentuk bahan yang ukurannya berbeda-beda dan anak harus berusaha menyesuaikannya dengan ruang yang ada di pola gambar.

8) Meningkatkan Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri sangat positif untuk mengembangkan keterampilan dan menambah kreativitas anak karena mereka tidak merasa takut atau malu pada saat mengerjakan sesuatu.

c. Bahan Meronce

Berbagai jenis material yang dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan meronce, material yang digunakan dalam pembuatanmeronce di Taman Kanak-kanak tentu berbeda dengan material pada umumnya, namun prinsip yang digunakan sama. Perbedaanya adalah bahan baku yang digunakan, untuk pembelajaran meronce di TK akan lebih sederhana dan tidak membahayakan bagi anak.Secara umum jenis bahan Baku meronce dapat dikelompokkan menjadi:

1) Bahan alam

Bahan alam adalah bahan yang bersumber dari alam, misalnya seperti: daun, ranting, bunga kering, kerang, batu-batuan, akar, kulit batang, biji-bijian, dan lain-lain.

2) Bahan Olahan

Bahan olahan adalah bahan yanag diolah dari bahan yang telah ada, seperti: plastik, serat sintetis, logam, karet, dan lain- lain

3) Bahan Bekas

Bahan bekas adalah bahan sisa yang sudah tidak digunakan lagi namun masih bisa untuk dimanfaatkan ulang dan banyak

(32)

terdapat dilingkungan sekitar, seperti: majalah bekas, koran bekas, bungkus permen, tutup botol, kaleng, plastik, dan sebagainya.

3. Langkah-langkah meronce

Langkah-langkah dalam pengerjaan meronce menurut Syakir Muharrar (2013:31) adalah sebagai berikut:

1) Sebelum kegiatan dimulai, guru terlebih dahulu menyiapkan bahan, media,

2) Alat yang akan digunakan dalam kegiatan meronce.

3) Selanjutnya ditata dengan rapi diatas meja agar anak-anak dapat melihatnya.

4) Guru memberikanpenjelasan tentang bahan, media, dan alat yang dibutuhkan dalam kegiatan meroncedan bagaimana Cara penggunaanya.

5) Guru memperlihatkankepada anak-anak bahan yang akan di gunakanmeronce yang sudah terbentuk sebagai contoh, agar anak-anak menjadi lebih semangat dalam membuat meronce.

6) Guru memberikan contoh bagaimana cara memasukan benang kedalam benda material bahan meronce, menjelaskan posisi untuk menempelkan bahan meroncedengan benar sesuai denganbentuk gambar secara hati-hati sehingga hasil tempelannya rapi tidak lepas, dan mendemonstrasikannya.

7) Guru mengingatkan kepada anak-anak agar tidak terburu-buru cepat selesai dalam membuat meronce. Apabila anak-anak belum memahami dengan baik, maka perlu diulangi lagi penjelasannya sampai anak benar-benar dapat memahami dengan jelas. Karena biasanya kalau sudah paham, anak dapat dengan mudah mengerjakan meroncesendiri. Dengan memperhatikan peragaan guru, diharapkan anak-anak mampu membuat gelang atau kalung dengan teknik yang telah diperagakan dengan benar.

8) Guru memberikan motivasi kepada anak berupa pujian seperti:

tepuk tangan, pintar, acungan jempol dan lain-lain.

9) Guru memberikan bimbingan kepada anak yang belum berhasil dalam melakukan kegiatan meronce

(33)

4. Efektivitas Kegiatan meronce Dalam Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak.

Edward L. Thorndike dalam hukum latihan (the law of exercise) dalam Sumanto (2005: 88) menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akanmejadi kuat apabila sering digunakan. Hukum ini menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi lemah apabila tidak ada latihan. Peningkatan kemampuan motorik halus pada anak akan terjadi apabila anak selalu berlatih secara terus- menerus.Sehingga dalam meningkatkan motorik halus anak, guru dapat membantu anak dengan menggunakan stimulus yang dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui meronce dengan berbagai media.

5. Hubungan Motorik Halus dengan Meronce

Kemampuan motorik halus merupakan kesanggupan untuk menggunakan otot tangan dengan baik, terutama jari-jari tangan antara lain memasukan benangmeeratkan meronce dengan meronce jari, menyusun dan merekatkan bahanmeronce dengan memasukan pada permukaan gambar.Hubungan keduanya sangat terkait, melaluimeroncedapat menggerakan 25 jari-jemari dalam kegiatan menempel potongan meronce pada pola gambar selain itu mengkoordinasikan gerakan mata dan tangan.Menurut John W.

Santrock (2007:207) bahwa pekembangan motorik halus anak Taman Kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan meletakkan atau memegang suatu obyek dengan menggunakan jari tangan. Sejalan dengan di atas Rita Eka Izzaty (2005:55) menjelaskan bahwa perkembangan motorik halus anak usia TK semakin meningkat terlihat dari koordinasi mata-tangan.

(34)

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dalam penelitian ini antara lain:

1. Hasil penelitian Nur Khalimah (2016) yang berjudul: ‘’Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Meronce Dengan Berbagai Media Pada Anak Kelompok B3 Di Tk Aba Ngoro-Oro Patuk Gunungkidul’’ menunjukan bahwa melakukan penelitian dengan menggunakkan beberapa media meronce penilaian anak mengalami peningkatkan. Yang membedakan di peneliti ini menggunakan berbagai media meronce

2. Hasil Penelitian Ajeng Marselyna (2016) yang erjudul:

“Meningkatkan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Seni Melipat Kertas Di Paud Tunas Asa Kemilingbandar Lampung” peneliti ini menggunakan media melipat untuk meningakatkan Motorik halus sedangkan pada peneliti yang saya buat menggunkan media meronce namun jenis penelitiannya sama.

3. Hasil penelitian Kiki Ria Mayasari (2014) Judul Penelitian:

“Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Melipat Kertas Pada Kelompok B4 Di Tk Masjid Syuhada Yogyakarta” yang memedakan penelitian ini dengan penelitian yang saya buat adalah media yang di gunakan saya menggunakan media meronce sedangkan peneliti ini menggunakan melipat dan cara mengumpulkan data berbeda

C. Kerangka Pemikiran

Perkembangan motorik halus merupakan hal yang sangat penting bagi anak usia dini. Perkembangan kemampuan motorik halus pada anak memungkinkannya untuk melakukan lebih banyak kegiatan yang memerlukan keterampilan jari-jemari tangannya.

Keterampilan motorik halus anak memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk kegiatan seperti: menulis, makan, memakai pakaian sendiri, menyikat gigi, yang membutuhkan koordinasi mata dan tangan. Salah satu kegiatan yang dapat menstimulasi kemampuan motorik halus anak adalah kegiatan meronce. Peningkatkan kemampuan motorik halus anak usiadini

(35)

melalui kegiatan meronce dengan berbagai media merupakan suatu tekhnik melatih kemampuan koordinasi motorik halus yang berhubungan dengan keterampilan gerak kedua tangan, serta mengkoordinasikan indera mata dan aktivitas tanganBerikut bagan konsep kerangka berpikir

Gambar 2.1 kerangka Pemikiran

Keterampilan motorik halus sangatlah penting bagi perkembangan anak karena memainkan peran dalam kehidupan sehari-hari yang akan dibutuhkan

anak sampai kelak mereka tumbuh dewasa. Stimulasi dari orangtua dan guru sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus

anak agar dapat berkembang optimal sesuai dengan tahapan usianya

Teori pengembangan motorik halus menurut pendapat beberapa ahli yaitu tentang pengajaran rupa melalui alat indera, asas bekerja sendiri, dan latihan motorik halus menyebutkan bahwa anak- anak perlu diberi banyak kesempatan dan latihan serta kebebasan berekspresi untuk mengembangkan kemampuan motorik halusnya dengan bimbingan guru/orangtua

Melalui kegiatan meronce yang dilakukan dengan menggunakan bahan alam, bahan olahan, dan bahan bekas dapat membantu menstimulasi kemampuan motorik halus anak dalam meningkatkan kepercayaan diri, kreativitas

dan memecahkan masalah.

(36)

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara dalam suatu penelitian menurut Suharsimi (2007) hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban sementara yang bersifat sementara permasalahan penelitian.

Berdasarkan pendapat di atas penulis mengambil hipotesis penelitian yaitu:

“Jika kegiatan Meronce dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak, maka kemampuan motorik halus anak usia dini akan meningkat”

(37)

30 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Penelitian tindakan kelas merupakan suatu perencanaan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas (Zainal, 2006: 11). Penelitian ini disusun untuk memecahkan masalah dan diterapkan dalam situasi yang sebanarnya dengan melihat kekurangan dan kelebihan, serta melaksanakan perubahan yang berfungsi sebagai peningkatan.Penelitian ini dilakukan sebagai strategi pemecahan dengan manfaat tindakan nyata, kemudian melaksanakan refleksi terhadap hasil tindakan. Hasil tindakan dan refleksi tersebut dapat dijadikan sebagai langkah pemilihan tindakan berikutnya sesuai permasalahan yang dihadapi.

Suharsimi Arikunto (2010:3) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Penelitian ini dimaksudkan untuk peningkatan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatanmeroncepada kelompokB TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon

Prosedur penelitian ini mengacu pada model penelitian tindakan kelas (Action Research) yang dirancang dalam dua siklus, bagan siklus model spiral dari Kemmis dan Mc Taggart (Suharsimi Arikunto, 2010: 137).Berikut adalah gambarnya:

Penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan meronce dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan atau observasi, dan refleksi yang selanjutnya disebut dengan satu siklus. Dengan menggunakan model siklus, apabila dalam awal pelaksanaan kurang baik hasilnya maka dapat dilakukan tindakan pada siklus selanjutnya sampai target yang di inginkan tercapai. Langkah-langakah penilaian yang akan dilakukan melalui 4 tahap, yaitu sebagai berikut:

(38)

1. Rencana Tindakan

a. Menentukan tema, sub tema, dan indikator kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

b. Membuat Satuan Kegiatan Harian (dengan kegiatan kreasi meronce).

c. Menyusun dan mempersiapkan lembar observasi mengenai kegiatan meronce

d. Mempersiapkan sarana dan media pembelajaran yang digunakan.

e. Menyiapkan alat dokumentasi.

2. Pelakasanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakanini dilakuka dengan panduan perencanaanyang telah dibuat dan pelaksanaanya bersifat fleksibel dan terbuka terhadap perubahan-perubahan selama proses pembelajaran berlangsung. Pendidik menggunakan acuan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) yang telah dibuat. Peneliti dibantu oleh teman sejawat melakukan pengamatan terhadap aktivitas anak dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan motorik halus. Peneliti terlibat langsung dalam kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Adapun pelaksanaan yang dilakukan antara lain:

a. Menyiapkan anak berbaris didepan kelas, kemudian masuk keruang kelas.

b. Kegiatan awal, semua anak diajak duduk melingkan memberi salam dan berdo’a bersama-sama.

c. Menyanyi dan menanyakan kabar anak.

d. Apersepsi.

e. Guru menjelaskan dan meperlihatkan semua bahan yang akan dipakai dalam kegiatan meronce.

f. Anak dibagi menjadi 3 kelompok.

g. Kegiatan inti, tiap kelompok melakukan kegiatan meroce dengan menggunakan bunga kamboja.

h. Guru melakukan observasi dan bimbingan kepada anak selama proses pembelajaran.

i. Setelah selesai, peneliti mendokumentasikan hasil kegiatan anak.

(39)

j. Kegiatan akhir, kegiatan ini digunakan untuk bercakap-cakap serta mendengarkan cerita anak tentang asyiknya kegiatan meronce di kelas.

k. Penutup, kegiatan ini ditutup dengan berdo’a bersama 3. Pengamatan atau Observasi

Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran di kelas berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Observasi dilakukan untuk melihat langsung bagaimana kemampuan motorik halus anak 15 dalam kegiatan meronce pada saat proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan yang dilakukan antara lain:

a. Peneliti mengamati dan mencatat perkembangan kemampuan kreativitas anak sesuai dengan instrumen observasi yang telah direncanakan

b. Mencatat data yang diperoleh

c. Melakukan pendokumentasian Dalam penelitian ini untuk pendokumentasian dan mendukung catatan kemampuan anak, maka peneliti melakukan pendokumentasian berupa foto

4. Data yang diperoleh melalui observasi dianalisis kemudian dilaksanakan refleksi. Refleksi dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Melakukan pengamatan hasil akhir gambar anak dengan melakukan penilaian proses yang terjadi, masalah yang muncul dan segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang dilakukan.

b. Mencari jalan keluar terhadap masalah-masalah yang mungkin terjadi agar dapat dibuat rencana perbaikan.

(40)

Penelitian ini menggunakan tindakan kelas model Kemmis dan Mc Taggart (Suharsimi Arikunto, 2010:137). Berikut ini adalah gambarnya:

Gambar 3.1. Proses Penelitian oleh model Kemmis dan Mc Taggart

Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dengan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Perencanaan

Menurut Suharsimi Arikunto (2012: 17) bahwa perencanaan adalah menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa dan

(41)

bagaimana tindakan akan dilakukan dalam penelitian ini. Perencanaan dalam penelitian ini dimulai dari observasi atau pengamatan guna mengetahui permasalahan, kondisi, situasi dan potensi yang ada dalam kelompok B, analisis situasi, perumusan program perbaikan atau alternatif pemecahan masalah, penyusunan rencana kegiatan, penyusunan perangkat program pembelajaran mulai dari RPPM (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan) maupun RPPH (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian) dan media pembelajaran dan instrumen pengumpulan data dan evaluasi yang akan digunakan.

2. Tindakan Observasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2012: 18) bahwa tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan dengan tindakan di kelas yang mengalamimasalah. Pelaksanaan dilakukandalam pembelajaran seperti biasa sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Observasi serta tindakan dilaksanakan dalam waktu yang sama. Saat ada tindakan peneliti mengobservasi perkembangan anak menggunakan lembar observasi. Dalam pelaksanaan ini guru dan peneliti merekam semua yang terjadi dalam pembelajaran baik dalam bentuk catatan dan foto guna dijadikan data yang akan digunakan sebagai bahan refleksi.

3. Refleksi

Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi.Kegiatan refleksi dalam penelitian initerkait dengan jumlah siklus yang dibutuhkan.Jika ditemui permasalahan makaakan direfleksikan dan dicari pemecahan masalahnya. Apabila hasil refleksi menunjukkan belum adanya perbaikan sesuai yang diinginkan maka kemudian disusun kembali rencana perbaikan yang akan dilakukan dalam siklus berikutnya.

Banyaknya siklus dalam penelitian tindakan kelas tersebut tergantung dari hasil tindakannya.Jika hasil tindakan telah sesuai dengan indikator keberhasilan makan tindakan selanjutnya tidak perlu dilakukan.

(42)

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat

Penulis akan melaksanakan penelitian di kelompok B TK IT Noor Hidayah Jalan Taman Pengampon RT/RW 001/002 Desa Danawinangun Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon.

2. Waktu Penelitian

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian

No. Jenis kegiatan Okto Nov Des Jan Feb Mart 1. Menyusun

proposal penelitian

2 Perencanaan Penelitian

3 Pelaksanaan penelitian

4 Melaksanakan siklus I

5 Melaksanakan siklus II

6 Pengelolaan data

7 Penyusunan laporan penelitian

8 Seminar hasil penelitian

9 Perbaikan laporan

C. Populasi dan Sampel

Subjek penelitian ini adalah siswa–siswi kelompok B TK IT Noor Hidayah Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon yang berjumlah 15 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 7 siswi perempuan.

Selain siswa dan siswinya sekolah ini juga memiliki beberapa daftar nama guru TK IT Noor Hidayah pada tahun ajaran 2019/2020 adalah sebagai berikut:

(43)

Tabel 3.2

Daftar Nama Guru TK IT Noor Hidayah

No Nama pegawai/NUPTK Jabatan TMT Status Kepeg

Tugas Mengajar 1. Ida Kasida,S.Pd Kepala

TK

2014 GTY Kepala

Sekolah

2. Lusi Yuliyana,S.Pd Guru 2013 GTY B1

3. Sutiah Guru 2013 GTY A1

4. Desi Fitriyanti,S.Pd Guru 2014 GTY A3

5. Ratna Dewi, S.Pd Guru 2015 GTY B1

6. Suherni,S.Pd Guru 2016 GTY A2

7. Dita Retna,S.Pd Guru 2018 GTY B2

8. Tiara Monika

Verani,S.Pd

Guru 2018 GTY B2

9. Lismania,S.Pd Guru 2019 GTY B3

10. Imah Nurhalimah,S.Pd Guru 2019 GTY B3

11. Husnul Khotimah,S.Pd Guru 2019 GTY A1

12. Tina Artati, S.T Guru 2018 GTY A3

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah hal yang sangat penting dalam penelitian karena tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh data.Menurut Sugiyono (2005: 63) terdapat beberapa teknik pengumpulan data yaitu observasi wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini observasi dan dokumentasi yang akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Observasi

Wijaya dan Dedi (2010: 66) mengemukakan bahwa observasi atau pengamatan adalah proses pengambilan data dalam penelitian di mana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian. Observasi dilakukan secara kolaborasi dengan guru kelas. Melalui observasi peneliti belajar tentang perilaku dan maknadari perilaku anak yang

(44)

ada di kelas tersebut. Observasi atau pengamatan dilakukan terhadap perkembangan motorik halus anak dalam kegiatan meronce di kelompok B. Pengamatan ini dilakukan dengan lembar observasi yang diisi dengan tanda check list (√) Wina Sanjaya (2011: 93) menjelaskan check list atau daftar cek adalah pedoman observasi yang berisikan daftar dari semua aspek yang akan diobservasi. Peneliti tinggal memberi tanda ada atau tidak ada dengan tanda cek (√) pada kolom yang sesuai dengan hasil pengamatan.

b. Dokumentasi

Sugiyono (2005: 329) menjelaskan bahwa hasil observasi atau pengamatan akan lebih dipercaya apabila didukung dengan adanya dokumentasi. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya seseorang.

Dokumentasi dalam penelitian ini berupa foto hasil penelitian mengenai apa yang dilakukan anak ketika dilakukan pembelajaran pada kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir mengenai kegiatan meronce dan hasil kerja anak dari kegiatan anak dalam meronce menggunakan berbagai bahan.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi berupa instrumen untuk mencatat kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan meronce. Adapun pedoman observasi dengan kisi-kisi instrumennya adalah sebagai berikut:

(45)

Tabel 3.3

Instrumen Lembar Observasi Keterampilan Motorik Halus No Nama Kriteria Penelian

Total

skor % Kriteria Kecermatan

Kecepatan

1 (BB)

2 (MB)

3 (BSH)

4 (BSB)

1 (BB)

2 (MB)

3 (BSH)

4 (BSB)

1 2 3 4 5

Tabel 3.4

Rubrik Penilaian Keterampilan Motorik Halus dalam Meronce No Aspek yang

Diamati

Kriteria Skor Deskripsi

1 kecermatan BSB 4 Anak memasukkan tali ke dalam lubang roncean membentuk (kalung atau gelang) dan mengikatnya

BSH 3 Anak memasukkan tali ke dalam lubang roncean sudah dapat membentuk kalung atau gelang

(46)

tetapi belum bisa mengikat

MB 2 Anak sudah berusaha

memasukkan tali ke dalam lubang roncean tetapi belum berhasil

BB 1 Anak tidak memasukkan tali ke dalam lubang roncean (tidak membentuk)

2 Kecepatan BSB 4 Anak menyelesaikan roncean sebelum

pembelajaran berakhir

BSH 3 Anak menyelesaikan roncean saat pembelajaran berakhi

MB 2 Anak menyelesaikan kegiatan meronce setelah pembelajaran berakhir

BB 1 Anak tidak menyelesaikan pekerjaannya karena tidak melakukan kegiatan meronce F. Teknik Analisis Data

Data yang telah terkumpul yang berupa pengamatan, dokumen foto maupun rekaman video tidak akan bermakna tanpa dianalisis yaitu diolah dan di interpretasikan. Menurut Wina Sanjaya (2009: 106), analisis data adalah suatu proses mengolah dan menginterpretasikan data dengan tujuan untuk mendudukkan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya sehingga memiliki makna. Peneliti mengumpulkan semua instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data untuk dikelompokkan sesuai

(47)

masalah.Hal ini jugamemungkinkan peneliti untuk membuang data yang tidak diperlukan.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dan kuantitatif untuk analisis kualitatif yaitu cara interaksi yang terdiri dari pemaparan data dan penyimpulan. Hasil pengamatan tersebut dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif yang digambarkan dengan kata- kata atau kalimat dan dipisahkan-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Sedangkan untuk analisis kuantitatif menggunakan rumus:

𝑃 =𝐹

𝑁X 100 % Keterangan:

P: Persentase

F: Alternatif jawaban responden N: Jumlah responden

100%: Bilangan tetap

Anas Sudjino (2010: 43) menyatakan data yang diperoleh selanjutnya diinterpretasikan kedalam empat tingkatan yaitu:

Tabel 3.4 Klasifikasi Interpretasi Interval Korelasi Keterangan

80%-100% Sangat Tinggi

60%-79% Tinggi

30%-59% Cukup Tinggi

0%-29% Rendah

(48)

Analisis data yang menggunakan teknik deskriptif kualitatif memanfaatkan persentase merupakan langkah awal saja dari keseluruhan proses analisis. Persentase yang dinyatakan dalam bilangan sudah jelas merupakan ukuran yang bersifat kualitatif, bukan kuantitatif. Jadi pernyataan persentase bukan hasil analisis kuantitatif.

(49)

43 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Lokasi penelitian ini berada di TK IT Noor Hidayah, Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon.TK ini terletak di tengah wilayah pedesaan yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan pegawai.Adapun daftar guru yang terdapat pada TK IT Noorhidayah sebagai berikut:

1. Kondisi Awal Anak Sebelum Tindakan a. Perencanaan (Plan)

Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah membuat langkah- langkah perencanaan tindakan, yaitu menyusun instrumen penelitian diantaranya:Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan Harian (RPPH) dan Lembar Observasi (terlampir).

b. Pelaksanaan

Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasatanggal 26 Desember 2019 dengan Tema Tanaman sub tema macam-macam tanaman obat. Dalam pelaksanaannya peneliti menentukan materi pembelajaran yang akan diteliti, mengidentifikasi masalah untuk dijadikan fokus perbaikan pada pelaksanaan tindakan dengan proses kegiatan awal, kegiatan inti, istirahat dan kegiatan akhir.

Secara lebih jelas mengenai pelaksanaan tindakan yang dilakukan peneliti dapat dilihat pada pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:

1) Kegiatan Awal

a) Guru mengucapkan salam b) Guru menanyakan kabar anak

c) Guru dan anak berdoa atau dzikir pagi

d) Guru memberikan ice breaking untuk memfokuskan anak e) Guru melakukan apersepsi

f) Guru bercerita tentang materi yang akan diajarkan

(50)

2) Kegiatan Inti

a) Guru mempersiapkan media, berupa LKA bentukgambar jahe b) Guru menyediakan media yang telah dipersiapkan

c) Guru menjelaskan dan memberi contoh hasil mewarnai d) Anak mengambil media yang telah disedikan guru e) Anak mewarnai gambar jahe pada LKA

f) Guru berkunjung ke setiap kelompok anak untuk melihat dan menanyakan kesulitan anak

g) Guru membimbing anak yang belum bisa mewarnai h) Anak menghitung jumlah huruf dari kata jahe 3) Istirahat

a) Anak mencuci tangan b) Anak berdoa sebelum makan c) Anak makan kue/bekal 4) Kegiatan Akhir/Penutup

a) Guru memberikan evaluasi terhadap pembelajaran anak b) Guru menyampaikan materi yang akan diajarkan kepada anak

selanjutnya

c) Guru dan anak berdoa akhir majlis d) Guru mengucapkan salam

(51)

Tabel 4.1

Hasil Observasi Pra Siklus

No Nama

Indikator Penilaian

Skor % Kriteria Kecermatan Kecepatan

B B

M B

B S H

B S B

B B

M B

B S H

B S B 1

2 3 4 1 2 3 4

1

Akmal 2 1 3 37,5 % Kurang

2

Amira

2 2

4 50%

Cukup Baik 3

Aqil

1 1 2

25 %

Kurang 4

Aka

1 2 3

37,5%

Kurang 5

Alvan

1 2

3 37,5%

Kurang 6

Syifa

1 1

2

25 % Kurang 7

Darin

1 1

2

25 % Kurang 8

Dovo

1 1

2

25 % Kurang 9

Keisha

1 2

3

37,5% Kurang 10

Amel

1 2 3 37,5% Kurang

11

Nisa

2 2

4 50 %

Cukup Baik 12

Lubna

1 1

2 25 %

Kurang

(52)

13

Sabila

2 2

4 50 %

Cukup Baik 14

Rian

2 1

3 37,5 %

Kurang 15

Daffa

1 1

2 25 %

Kurang Jumlah

Skor

20 22

42

CUKUP BAIK

Rata-rata 1,33 1,47

2,8

Persen % 33,33 % 36,67 %

35%

Keterangan:

Kriteria Sangat Baik : 80%-100%

Kriteria Baik : 60%-79%

Kriteria Cukup Baik : 30%-59 %

Kriteria Kurang : 0%-29%

Berdasarkan tabel 4.1 di atas diketahui bahwa kemampuan motorik halus anak berdasarkan indikator-indikator yaitu aspek kecermatan dengan skor 20, skor rata-rata 1,33 dan presentase sebesar 33,3% dengan interpretasi kurang. Adapun indikator yang kedua yaitu kecepatan memperoleh skor 22, skor rata-rata 1,47dan presentase sebesar 36,67%

dan interpretasi kurang. Adapun total persentase pencapaian kemampuan motorik halus anak pada waktu pratindakan sebesar 35% dengan interpretasi kurang.

Dengan demikian kemampuan motorik halus anak pada waktu pra Siklus termasuk kurang. Hal tersebut diperoleh karena beberapa anak belum bisa mencapai skor yang diharapkan dalam aspek kecermatan dan kecepatan. Perkembangan keterampilan motorik halus anak dengan aspek kecermatan dan kecepatan dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Gambar

Gambar 2.1 kerangka Pemikiran
Gambar 3.1. Proses Penelitian oleh model Kemmis dan Mc Taggart
Tabel 3.1  Jadwal Penelitian
Tabel 3.4  Klasifikasi  Interpretasi  Interval Korelasi  Keterangan
+2

Referensi

Dokumen terkait

“Kami tidak hanya jualan produk makanan, tetapi harus juga menjelaskan kandungan protein dan cara pengolahan yang baik kepada masyarakat,” kata Trisna, salah satu mahasiswa yang

Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan, yaitu proses isolasi α -selulosa dari serbuk tandan kosong kelapa sawit, dan proses sintesis selulosa dengan penambahan

Dengan keamanan data tersebut, maka dalam pembuatan laporan perhitungan gaji pegawai, pengontrolan dan keakuratan data akan lebih terjamin, sehingga gaji akan diterima oleh

Persepsi Guru Pamong Terhadap Kompetensi Pedagogik Mahasiswa Program Pengalaman Lapangan (Ppl) Jurusan Pendidikan Teknik Elektro.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini adalah : “Apakah penggunaan model cooperative learning

Dari grafik yang ada maka dilakukan analisis data dengan menggunakan persamaan regresi linear yakni y = a + bx sehingga diperoleh konsentrasi besi (Fe) pada sampel air laut yang

Mungkin sebagian orang menganggap tindakan berjongkok diatas kloset duduk, tidak mengerti menggunakan jetspray atau washlet , gagal mengidentifikasi toilet kering

berguna dan dapat dipasarkan untuk seluruh orang dengan kemampuan beragam. Prinsip ini bertujuan untuk menyediakan sarana yang dapat digunakan oleh semua pengguna; fasilitas