• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ekonomi Hukum & Humaniora ISSN : Volume : 1 Nomor: 1 1 Maret 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Ekonomi Hukum & Humaniora ISSN : Volume : 1 Nomor: 1 1 Maret 2020"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

131 | P a g e

PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN DAN KEJELASAN SASARAN ANGGARAN TERHADAP AKUNTABILITAS PADA SEKOLAH

MENENGAH PERTAMA ISLAM TERPADU NURUL ‘ILMI DELI SERDANG

Joko Prayogi Universitas Amir Hamzah

Abstrak

Dalam organisasi dan lembaga pendidikan, menggunakan sistem akuntansi sebagai alat untuk menjamin akuntabilitas dan transparansi dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Akuntansi merupakan proses pencatatan, pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan transaksi-transaksi keuangan entitas sebagai suatu kesatuan dari unit-unitnya serta penafsiran atas hasil-hasil dari aktivitas sistem dan mekanisme penganggaran (budgeting) yang dilakukan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruj partisipasi anggaran terhadap akuntabilitas. Untuk mengetahui pengaruh kejelasansasaran anggaran terhadap akuntabilitas. Untuk menguji pengaruh partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran terhadap akuntabilitas.

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif, yakni menguji dan menganalisis data dengan perhitungan angka-angka dan kemudian menarik kesimpulan dari pengujuan tersebut dengan statistik deskriptif. Uji asumsi klasik, regrasi berganda, koefisien determinasi dengan bantuan software SPSS.

Hasil penelitian bahwa pertisipasi anggaran berpengaruh signifikan terhadap akuntabilitas. Kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap akuntabilitas. Partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran secara simultan berpengaruh signifikan terhadap akuntabilitas.

Kata Kunci: Partisipasi Anggaran, Kejelasan sasaran anggaran, Akuntabilitas.

(2)

(Jurnal.grahakirana.ac.id) [email protected]

132 | P a g e Pendahuluan

Fenomena kebocoran dana BOS terjadi dengan modus memperlambat pencairan hingga pemberian gratifikasi atau uang terima kasih. Pada tahap pembelanjaan, modus membocorkan dana BOS dengan menurunkan kualitas spesifikasi barang. Pengelolaan dana BOS telah berkolusi dengan instansi/penyedia barang, bukan hanya keterlambatan pelaporan. Tetapi juga penyajian laporan meliputi tranpasransi dan akuntabilitas laporan. Salah satu alat pengendalian yang mempunyai ukuran-ukuran akuntansi adalah anggaran. Menurut Hansen dan Mowen (2004), anggaran adalah suatu rencana kuantitatif dalam bentuk moneter maupun non moneter yang digunakan untuk menerjemahkan tujuan dan strategi perusahaan dalam suatu operasi.

Tinjauan Pustaka Akuntabilitas

Akuntabilitas berasal dari kata accountability yang berarti pertanggungjawaban (Salim, 2007:16). Sedangan menurut Lenvine Dwiyanto (2005:147) mendefinisikan akuntabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar proses penyelenggaraan pelayanan sesuai dengan kepeningan stakeholders.

Menurut Atmosoeprapto (2005:181) factor yang mempengaruhi akuntabilitas adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor ekspernal terdiri dari politik, ekonomi, dan social, sedangkan factor internal terdiri dari tujuan organisasi, struktur organisasi, SDM dan budaya organisasi.

Anggaran

Adisaputro dan Asri (2003:6) mendefinisikan anggaran sebagai pendekatan yang formal dan sistematis dari pelaksaan tanggungjawab manajemendalam perencanaan, koordinasi dan pengawasan.

Partisipasi Anggaran

Partisipasi anggaran menggambarkan keterlibatan manajer dalam menyusun anggaran pada pusat pertanggjawaban. Partisipasi memungkinkan terjadinya komunikasi yang semakin baik, interaksi satu sama lain serta bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan organisasi (Kurnia, 2004). Indikator dalam partisipasi anggaran (Brownell dan Falikhatun, 2007) yaitu keterlibatan, pengaruh atas target anggaran dan penghargaan atas tercapainyabtarget anggaran serta komitmen terhadap anggaran.

Kejelasan Sasaran Anggaran

Kennis (2011) mendefinisikankejelasan sasaran anggaran yaitu menggambarkan tujuan

anggran yang dinyatakan secara jelas dan spesifik, serta dimengerti oleh pihak-pihak yang

bertanggungjawab terhadap pencapaiannya. Fungsi kejelasan sasaran anggaran menurut

Supriono (2000:41) yaitu fungsi koordinasi yang bertujuan untuk mengkoordinasikan rencana

dan tindakan berbagai unit atau segmen yang ada didalam organisasi agar dapat bekerja secara

selaras kearah pencapaian tujuan. Fungsi komunikasi meliputi penyampaian informasi yang

berhubungan dengan tujuan, strategi, kebijakan, rencana, pelaksanaan, dan penyimpangan

yang timbul. Fungsi motivasi dilakukan dengan cara pemberian insentif dalam bentuk hadiah

berupa uang, penghargaan, dan sebagainya kepada mereka yang mencapai prestasi. Fungsi

pengendalian adalah membandingkan antara rencana dengan pelaksanaan sehingga dapat

ditentukan penyimpangan yang timbul. Fungsi pendidikan sebagai alat untuk mendidik

manager mengenai bagaimana bekerja secara terinci pada pusat pertanggungjawaban.

(3)

133 | P a g e Indikator kejelasan anggaran menurut Nazaruddin (2008) yaitu jelas, spesifik, dapat dipahami, ketepatan waktu.

Pengaruh Partisipasi Anggaran terhadap Akuntabilitas

Berdasarkan hasil perhitungan t hitung untuk variable partisipasi anggaran sebesar 5,404 dengan nilai dengan nilai signifikan 0,000, sedangkan t tabel adalah 1,68, sehingga t hitung > t tabel (5,404 >

1,68), maka H0 ditolak Ha diterima, artinya partisipasi anggaran berpengaruh signifikan terhadap akuntabilitas.

Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran terhadap Akuntabilitas

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh kejelasan sasaran anggaran memiliki t hitung sebesar 7,732 t tabel 1,68 sehingga t hitung > t tabel (7,732 > 1,68), maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya kejelasan sasaran anggaran berpengaruh siginifikan terhadap akuntabilitas.

Pengaruh Partisipasi Anggaran dan Kejelasan Sasaran Anggaran terhadap Akuntabilitas

Dari uji ANOVA atau F test, diperoleh F hitung sebesar 41,162, dengan tingkat signifikan 0,000, sedangkan F tabel sebesar 3,29 dengan signifkansi 0,05. F hitung > F tabel (41,162 > 3,29) dan siginifikansi penelitian <0,05 (0,000 < 0,05), artinya partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran secara simultan berpengaruh positif terhadap akuntabilitas.

Metode Penelitian Uji Validitas

Dilakukan untuk mengetahui Valid atau tidaknya instrument penelitian yang dibuat.

Uji Reliabilitas

Dilakukan untuk mengukur kuisioner yang merupakan indikator dari variable dan mengukur konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu.

Teknik Analisis Data 1. Statistik Deskriptif

Dimana peneliti mengelompokkan data dan menginterpretasikan hasil jawaban dari observasi dan kuesioner.

2. Uji asumsi klasik

Dalam regresi linear berganda dikenal dengan beberapa asumsi klasik regresi berganda atau dikenal juga dengan BLUE (Best Linear Unbias Estimation). Pengujian asumsi klasik secara sederhana bertujuan untuk mengidentifikasi apakah model regresi merupakan model yang baik atau tidak. Ada beberapa pengujian asumsi klasik tersebut, yakni:

1. Linearitas

Partisipasi Anggaran

Kejelasan Sasaran

Akuntabilitas

(4)

(Jurnal.grahakirana.ac.id) [email protected]

134 | P a g e 2. Normalitas

3. Multikolinearitas 4. Heterokedastisitas 5. Autokorelasi

3. Regresi Linier Berganda

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan bantuan Statistical Product and Services Solution (SPSS) versi 16.0 for windows. Untuk menguji hipotesis 1 sampai dengan hipotesis 5, dilakukan pengujian menggunakan Multiple regression analysis dengan persamaan Y = α + β 1 X 1 + β 2 X 2

Hasil Penelitian Uji Normalitas

Pengujian normalitas data dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independennya memiliki distribusi normal atau tidak. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model regresi memenuhi asumsi normalitas (Gujarati, 2003; Santoso, 2000, Arif, 1993).

Tabel IV. 14

Hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik p-plot diatas terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal serta penyebarannya agak mendekati dengan garis diagonal sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi terdistribusi secara normal.

Multikolinearitas

Multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi yang kuat antar variabel independen (Gujarati, 2003; Santoso, 2000, Arif, 1993). Cara yang digunakan untuk menilainya adalah dengan melihat nilai faktor inflasi varian (Variance Inflasi Factor/VIF), yang tidak melebihi 4 atau 5 (Hines dan Montgomery, 1990). Besarnya tingkat multikolinearitas yang masih dapat ditolerir yaitu, tolerance > 0.10, dan nilai VIF ,5.

Tabel 4.6

Uji Multikolinearitas

(5)

135 | P a g e Tabel 4.6

Uji Multikolinearitas Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF 1 ( Constant)

X1 ,765 1,307

X2 ,765 1,307

Nilai tolerance pertisipasi anggaran dan kejelasan anggaran adalah 0.765, variabel independen juga lebih kecil dari 5 yaitu partisipasi anggaran 1,307, kejelasan sasaran anggaran 1,307.

Artinya tidak terjadi multikolonearitas antara variable independen yang diindikasikan dari nilai tolerance setiap variabel besar dari 0.1.

Heterokedastisitas

Heterokedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari suatu pengamatan yang lain. Jika variasi residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas, dan jika varians berbeda disebut heterokedastisitas. Model yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas (Arief, 1993; Gujarati, 2001).

Dasar pengambilan keputusannya adalah: jika pola tertentu, seperti titik-titik (poin- poin) yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur, maka terjadi heterokedastisitas.

Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik (point-point) menyebar di bawah dan di atas angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas (Santoso, 2000).

Gambar di atas memperlihatkan titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk pola yang jelas/teratur, serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y.

Dengan demikian “tidak terjadi heterokedastisitas” pada model regresi.

Analisis Regresi Berganda

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan program SPSS versi 18, diperoleh data sebagai

berikut:

(6)

(Jurnal.grahakirana.ac.id) [email protected]

136 | P a g e Tabel IV. 4.7 Regresi Berganda

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 10,649 6.668 1.597 .119

X1 .468 .116 .427 5.404 .000

X2 .793 .168 .816 7.732 .000

a Dependent Variable : Y

berdasarkan table diatas didapatlah persamaan regresi sebagai berikut:

Y= 10,649+0,468 X1+0.793X2

1. Konstanta sebesar 10,649 menunjukkan apabila tidak ada variabel independen (X1=0, X2=0), maka nilai akuntabilitas sebesar 10,649

2. β 1 sebesar 0,468 menujukkan bahwa setiap kenaikan partisipasi anggaran sebesar 1%

akan diikuti oleh peningkatan akuntabilitas sebesar 0,468 dengan asumsi variabel lain tetap.

3. Β 2 sebesar 0,793 menunjukkan bahwa setiap kenaikan kejelasan sasaran anggaran sebesar 1% akan diikuti oleh kenaikan akuntabilitas sebesar 0.793 dengan asumsi variabel lain tetap.

Uji hipotesis

Dalam buku Ghazali analisis path hanya melakukan Uji hipotesis. Secara statistik, uji statistik dikatakan signifikan jika berada dalam daerah penerimaan H0. Pada penelitian kali ini, uji hipotesis yang digunakan adalah Uji t dan Uji F.

1. Uji t

Dari table regresi dapat dilihat besarnya thitung untuk variabel partisipasi anggaran sebesar 5,404 dengan nilai signifikan 0,000, sedangkan ttabel adalah 1,68, sehingga thitung> ttabel (5,404>1,68) maka partipasi anggaran menunjukkan angka , 0,05 (0,000<0,05), maka H0 ditolak dan Ha diterima , artinya partisipasi anggaran berpengaruh signifikan terhadap akuntabilitas. Kejelasan sasaran anggaran memiliki thitung sebesar 7,732 dengan nilai signifikan 0,000 sedangkan ttabel adalah 1,68, sehingga thitung >ttabel (7,732>1,68), maka kejelesan sasaran anggaran secara individual mempengaruhi akuntabilitas. Signifikansi penelitian juga menunjukkan angka ,0,05 (0,000<0,05), maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya kejelsan sasaran anggaran berpengaruh terhadap akuntabilitas.

Tabel 4.8 Uji T

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 10,649 6.668 1.597 .119

X1 .468 .116 .427 5.404 .000

X2 .793 .168 .816 7.732 .000

2. Uji F

(7)

137 | P a g e Untuk melihat pengaruh partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap akuntabilitas secara simultan. Dari hasil uji ANOVA atau F test diperoleh Fhitung sebesar 41,162 dengan tingkat signifikansi 0,000, sedangkan Ftabel sebesar 3,29 dengan signifikansi 0,05. Fhitung > Ftabel (41,162>3,27) dan signifikansi penelitian , 0,05 (0,000<0,05). Disimpulkan bahwa partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap akuntabilitas.

Tabel 4.9 Uji F ANOVA (b)

Model Sum of

Squares df

Mean

Square F Sig.

1 Regression Residual

647,484 2 323.742 41.162 .000(a) 275.279 35 7.865

Total 922.763 37

a. Predictors: (Constant), X2, X1 b. Dependent Variable Y

Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan rumus D = R 2 x 100%

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .838

a

.702 .685 2.80448

Durbin Watson 1.650

Adjusted R Square sebesar 0.685 berarti 68,5% partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran mempengaruhi akuntabilitas sementara sisanya 32,5% adalah factor-faktor lain mempengaruhi akuntabilitas.

Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis pengaruh partisipasi anggaran terhadap akuntabilitas membuktikan hipotesis diterima. Artinya adanya partisipasi dalam proses penyusunan anggaran adalah menunjukkan seberapa besar tingkat keterlbatan karyawan dan diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam pengambilan keputusan selalui negosiasi terhadap anggaran. Ini penting karena karyawan akan jadi lebih produktif dan puas terhadap pekerjaannya sehingga memungkinkan munculnya perasaan berprestasi yang akan meningkatkan kinerjanya.

Hasil pengujian hipotesis pengauh kejelasan sasaran anggaran terhadap akuntabilitas membuktikan hipotesis diterima. Artinya penetapan tujuan spesifik akan lebih produktif daripada menetapkan tujuan secara umum dan ini akan mendorong orang-orang didalamnya untuk melakukan yg terbaik bagi pencapaian tjuan yang dikehendaki. Adanya sasaran anggaran yg jelas maka akan mempermudah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tugas organisasi.

Hasil pengujian hipotesis pengaruh partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran terhadap akuntabilitas membuktikan hipotesis diterima dan berpengaruh signifikan positif.

Artinya partisipasi anggaran dan kejelasan sasaran anggaran merupakan bagian dari factor

system yang dapat mempengaruhi akuntabilitas menurut Slamet (2005:6)

(8)

(Jurnal.grahakirana.ac.id) [email protected]

138 | P a g e Kesimpulan

1. Partisipasi anggaran berpengaruh terhadap akuntabilitas. Dalam konteks yang lebih spesifik, partisipasi dalam penyusunan anggaran menunjukkan seberapa besar tingkat keterlbatan karyawan dan diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam pengambilan keputusan selalui negosiasi terhadap anggaran.

2. Kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap akuntabilitas. Adanya sasaran anggaran yg jelas maka akan mempermudah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tugas organisasi.

3. Partisipasi dan kejelasan susunan anggaran secara simultan berpengaruh terhadap akuntabilitas yang memang keduanya bagian dari factor system yang dapat mempengaruhi akuntabilitas tersebut.

Daftar pustaka

Abbas, Salim. (2007). Asuransi dan Manajemen Risiko, Jakarta. PT Raja Grafindo Persada Abdul Latif. (2014). Pengaruh Pertisipasi Anggaran Kejelasan Tujuan dan Kerakteristik

Terhadap Akuntabilitas Aparat Pemerintah Kabupaten Gorontalo, Jurnal Al-Buhuts, Volume. 10 Nomor.1

Adisautro, Gunawan dan Marwan Asri, 2003, Anggaran Perusahaan, Buku 1, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Beny Arifin W. (2012) Pengaruh Pertisipasi Anggaran, Kejelasan Sasaran Anggaran, Pengendalian Akuntansi dan Sistem Pelaporan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Daerah dengan Komitmen Organisasi sebagai variabel moderasi, Jurnal Akuntansi dan Investasi.

Burhan Bungin (2005). “Metodologi Penelitian Kuantitatif Komunikasi, Ekonomi, Dan Kebijakan Publik Ilmu-ilmu Sosial Lainya”. Jakarta: Kencana, 2005.

Denny Boy dan Hotniar Siringoringo (2009). “Pengaruh Akuntabilitas Dan Transparansi Pengelolaan Anggaran Penapatan Dan Belanja (Apbs) Terhadap Partisipasi Orang Tua Murid”. Depok: Universitas Gunadarma, Jurnal Ekonomi Bisnis, no. 12 vol. 14 2009.

Ginting, Ahyari. (2009). Anggaran Perusahaan. Yogyakarta. BPFE

Halim, Abdul (2004), Akuntansi Keuangan Daerah, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Imam Ghozali (2006). “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS”. cetakan IV, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2006.

Mayura (2014) Pengaruh Kejelasan Dan Tujuan Anggaran Terhadap Akuntabilitas Aparat Pemerintah Gorontalo.

Muhammad Yusuf (2015) Prosedur Penyusunan Anggaran Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Mulyadi (2001), Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga, Jakarta: Salemba Empat.

(9)

139 | P a g e Nafarin, M (2007) Penganggaran Perusahaan, Salemba Empat, Jakarta.

Nazaruddin (2008) Penyusunan Anggaran Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat

Reni Yulianti (2008) Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran, Kesulitan Anggaran Pengendalian Akuntansi dan Sistem Pelaporan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Jurnal Akuntansi.

Robbins, Stephen P. dan Mary Coulter, (2004). Manajemen. Edisi Ketujuh, diterjemahkan oleh T.Hermaya dan Harry Slamet, Jakarta: Indeks

Slamet Suyanto. (2005). Dasar-dasar Pendidikan Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta;

Hikayat Publishing.

Suhartono, Ehrmann dan Mochammad Solichin (2006) Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran Terhadap Senjangan Anggaran Instansi Pemerintah Daerah Dengan Komitmen Organisasi Sebagai Pemoderasi. Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang.

Supriono. (2000). Akuntansi Biaya. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.

Tangkilisan, Hessel Nogi S. (2005) Manajemen Publik. Jakarta :Gramedia Wdia Sarana

Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam pembuatan tokoh-tokoh Wayang ini perancang mencoba mengekplorasi gambar komik karya Oto Suastika (Siauw Tik Kwie) dan juga wayang Wacinwa karya Gan Thwan Sing dari

Dari hasil dan pembahasan praktikum Penginderaan Jauh dapat disimpulkan bahwa mozaik udara adalah hasil perakitan dari dua atau lebih foto yang saling

Alasan untuk Berpoligami Pemaknaan terhadap poligami karena alasan nafsu, empat orang informan perempuan tidak sejalan dengan pesan media, sementara dua informan

Pembelajaran IPA materi pokok Konduktor dan Isolator dengan menggunakan metode demontrasi Siklus I pada siswa kelas VI SD Negeri Kertaharja 03 Kabupaten Tegal semester

Hutan adalah suatu lapangan pertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan perseketuan hidup alam hayati beserta alam lingkungan nya dan ditetapkan oleh

Studi mengenai investasi dan tenaga kerja juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartikasari (2017) dan Astuti, Ayu Windi; Hidayat, Muhammad; Darwin,

Hal yang sama juga terjadi bila proses kerusakan selaput myelin terjadi pada tingkat akar saraf thoracal, karena akan terjadi kelemahan otot-otot pernafasan, yakni otot

Kondisi DAS yang cukup luas sebagai lahan hijauan merupakan potensi yang baik untuk usaha pengembangan peternakan terutama ternak sapi potong.. Diperkirakan desa