commit to user 62
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Sejarah Singkat SMP Negeri 10 Surakarta
SMP Negeri10 Surkarta berdiri sejak tahun 1962. Lokasi SMP Negeri 10 Surakarta berada di Jalan Kartini No. 12 Surakarta yang merupakan pemisahan dari SMP Negeri 3 Surakarta.
Sebelum lokasi tersebut didirikan gedung SMP Negeri 10 Surakarta, lokasi ini adalah milik seorang pangeran yang kemudian dijadikan yayasan Van De Venter School oleh Belanda. Semasa pendudukan Jepang, lokasi tersebut dijadikan tempat tahanan orang Belanda.
Setelah proklamasi kemerdekaan, sekolah tersebut dijadikan sekolah guru putri (SGP). Pada tanggal 25 November 1945 dilangsungkan kongres Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGRI) dan di tempat tersebut didirikan monumen PGRI. Tempat tersebut kemudian digunakan sebagai asrama tentara setelah SGP pindah.
Pada tahun 1945 lokasi tersebut digunakan oleh SMP Negeri 3 Surakarta yang terdiri dari 26 kelas. Pada tahun 1962, SMP Negeri 3 Surakarta dipisah menjadi 2 bagian yang terdiri dari 14 kelas untuk SMP Negeri 3 Surakarta dan 12 Kelas untuk SMP Negeri 10 Surakarta.
2. Visi dan Misi SMP Negeri 10 Surakarta Visi:
Terwujudnya sekolah berkualitas formal mandiri yang menghasilkan lulusan yang Terpuji dalam Perilaku dan Prima dalam Prestasi, yang memiliki sikap dan wawasan keimanan, ketakwaan dan budi pekerti yang tinggi, menjunjung tinggi wawasan keunggulan dan hak asasi manusia, serta berpengertian dan berwawasan global.
Misi:
1) Mewujudkan standar pelayanan minimum menuju standar nasional pendidikan 2) Mewujudkan kurikulum tingkat sekolah yang komprehensif
3) Mewujudkan proses pembelajaran yang efektif
4) Mewujudkan sistem penilaian yang transparan dan akuntabel 5) Mewujudkan pencapaian Standar Kompetensi Lulusan
6) Mewujudkan sarana dan prasarana sekolah yang optimal untu pencapaian tujuan sekolah
7) Mewujudkan pengelolaan sekolah yang profesional berbasis teknologi informasi
8) Mewujudkan siswa yang berperilaku terpuji
9) Mewujudkan siswa yang unggul dalam prestasi akademik
10) Mewujudkan peningkatan prestasi siswa di bidang olahraga dan seni 11) Mewujudkan citra sekolah unggul
3. Keadaan Fisik SMP Negeri 10 Surakarta a. Keadaan Fisik SMP Negeri 10 Surakarta
1) Luas Tanah : 5011 m2 2) Jumlah ruang kelas : 21 ruang 3) Ukuran ruang kelas : 1350,2 m2 b. Keadaan Lingkungan Sekolah
1) Jenis bangunan yang berbatasan
a) Sebelah selatan berbatasan dengan jalan perkampungan b) Sebelah timur berbatasan dengan SMP Negeri 5 Surakarta c) Sebelah utara berbatasan dengan SMP Negeri 3 Surakarta d) Sebelah barat berbatasan dengan Jalan Kartini
2) Kondisi Lingkungan Sekolah
a) Ruang kelas cukup luas untuk para peserta didik
b) Halaman sekolah yang luas dan terletak di tengah sekolahan
c) Ruang guru cukup luas, tapi karena banyaknya jumlah guru ruangan tersebut terlihat padat.
B. Deskripsi Data Penelitian
Penelitian ini membahas tentang pengaruh model pembelajaran Generative Learning terhadap civic knowledge siswa. Variabel dalam penelitan ini adalah model pembelajaran Generative Learning sebagai variabel bebas dan civic knowledge siswa pada kompetensi dasar menjelaskan hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat sebagai variabel terikat.
Lokasi penelitian ini adalah SMP Negeri 10 Surakarta, tetapi hanya pada tingkatan kelas VII. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 212 siswa yang tersebar dalam tujuh kelas. Sedangkan sampel dalam penelitan ini adalah kelas VII D dan VII F yang masing-masing terdiri dari 30 siswa. Jadi sampel dalam penelitan ini berjumlah 60 siswa atau 2,830% dari jumlah populasi.
Adapun sampling dilakukan secara acak yaitu melalui undian dengan menggunakan gulungan kertas. Hasilnya yakni kelas VII D sebagai kelas kontrol dan kelas VII F sebagai kelas ekperimen.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan ekperimen.
Desain penelitian ini adalah true eksperimental design yaitu dengan model posttest only control design. Adapun perlakuan (treatment) yang digunakan berupa model pembelajaran, dimana kelas VII F menggunakan model pembelajaran Generative Learning dan kelas VII D menggunakan model pembelajaran konvensional.
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket, tes objektif, observasi, dan dokumentasi. Setelah dilakukan penelitian di kelas VII SMP Negeri 10 Surakarta yang dipilih sebagai sampel, diperoleh data penelitian sebagai berikut:
1. Data Mengenai Model Pembelajaran Generative Learning a) Dokumentasi
Sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dokumentasi dilakukan dengan melakukan analisis terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang juga dinilai oleh dua orang observer. Lembar analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran digunakan untuk menilai RPP yang telah disusun oleh peneliti
sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas eksperimen. Lembar analisis dokumentasi RPP digunakan sebagai data penunjang untuk memperoleh data kesesuaian RPP kelas eksperimen dengan langkah-langkah model pembelajaran Generatve Learning. Data lembar analisis dokumentasi dilakukan satu kali pada tanggal 4 April 2015. RPP dianalisis oleh dua orang obvserver sebagai observer 1 dan observer 2. Kedua observer kemudian memberikan tanda check (√) pada kolom lembar analisis RPP yang telah disediakan oleh peneliti.
Hasil analisis dokumentasi RPP yang telah dilakukan oleh observer kemudian diperoleh skor 93,75 dari observer 1, sedangkan dari observer 2 yaitu 91,66. Selanjutnya skor yang telah diperoleh dari dua observer di akumulasikan yakni sebesar 185,41 dan diperoleh rata-rata keduanya yakni 92,705, sehingga masuk pada kategori sangat baik. Tabel data dan perhitungan observasi dapat dilihat pada lampiran 9.
Kriteria perolehan skor lembar observasi pembelajaran Generatve Learning dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. 91-100 = Sangat baik b. 81-90 = Baik
c. 71-80 = Cukup d. 61-70 = Kurang e. < 60 = Sangat kurang
Tabel 4.1. Rangkuman hasil analisis RPP model pembelajaran Generatve Learning kelas VII F (Kelas Eksperimen)
Hasil Lembar Analisis RPP Model Pembelajaran Generatve Learning
Observer Skor
Observer 1 93,75
Observer 2 91,66
Jumlah 185,41
Rata-rata 92,705
Kategori Sangat Baik
(Sumber: hasil perhitungan lembar analis RPP, lampiran 9)
Berdasarkan tabel perhitungan rangkuman hasil analisis RPP model pembelajaran Generative Learning di atas dapat disimpulkan bahwa Recana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) model pembelajaran Generative Learning sudah layak untuk dijadikan sebagai pedoman dalam menerapkan model pembelajaran Generative Learning di kelas eksperimen.
b) Pelaksanaan Penelitian
Selain menggunakan angket untuk variabel Model Generative Learning juga menggunakan instrumen penunjang yaitu observasi. Observasi dilakukan saat peneliti mengajar di kelas eksperimen yang dilakukan oleh dua orang observer. Observasi dilakukan pada kelas VII F sebagai kelas eksperimen.
Tujuan dilakukannya observasi adalah untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran Generatve Learning. Kegiatan observasi dilakukan pada hari sabtu tanggal 4 April dan 18 April 2015 pada jam pelajaran pertama dan kedua. Observasi dilakukan oleh dua orang observer yang mengamati kegiatan peneliti dan siswa selama proses pembelajaran. Kedua observer berada di belakang kelas dengan tujuan agar tidak menganggu konsentrasi siswa pada saat kegiatan pembelajaran. Kedua observer bertugas untuk mengamati perilaku siswa secara keseluruhan selama diterapkannya model pembelajaran Generatve Learning oleh peneliti selama proses pembelajaran. Kedua observer kemudian memberikan tanda check (√) pada lembar observasi model pembelajaran Generatve Learning yang sebelumnya telah diberikan oleh peneliti.
Hasil observasi yang telah dilakukan oleh observer kemudian memperoleh skor 80 dari observer 1, sedangkan dari observer 2 yaitu 82,5.
Selanjutnya skor yang telah diperoleh dari dua observer di akumulasikan yakni sebesar 162,5 dan diperoleh rata-rata dari keduanya yakni 81,25, sehingga masuk pada kategori baik Tabel data dan perhitungan observasi dapat dilihat pada lampiran 10.
Kriteria perolehan skor lembar observasi pembelajaran Generatve Learning dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. 91-100 = Sangat baik
b. 81-90 = Baik c. 71-80 = Cukup d. 61-70 = Kurang e. < 60 = Sangat kurang
Tabel 4.2. Rangkuman hasil observasi model pembelajaran Generatve Learning kelas VII F
Hasil Lembar Observasi Model Pembelajaran Generatve Learning
Observer Skor
Observer 1 80
Observer 2 82,5
Jumlah 162,5
Rata-rata 81,25
Kategori Baik
(Sumber: Hasil perhitungan lembar observasi, lampiran 10)
Berdasarkan tabel rangkuman hasil observasi model pembelajaran Generative Learning di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Generative Learning yang dilakukan oleh peneliti di kelas eksperimen sudah terlaksana dengan baik sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran Generative Learning.
2. Data Civic Knowledge Siswa Pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Hakikat Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat
a) Tes Civic Knowledge Siswa Kelas Eksperimen
Variabel Civic Knowledge siswa merupakan variabel (Y) atau variabel terikat dalam penelitian ini. Data variabel Civic Knowledge siswa diperoleh dengan menggungakan instrumen tes objektif yang terdiri dari 40 butir soal.
Setelah dilakukan uji coba instrumen yang dilakukan pada 30 siswa diluar sampel penelitian diperoleh 30 butir soal yang memenuhi syarat validitas dan reliabilitas, sehingga butir soal tersebut digunakan untuk mengumpulkan data tentang Civic Knowledge siswa kelas VII SMP Negeri 10 Surakarta tahun 2014/2015 ang mempunyai populasi 212 dan diambil sampel sebanyak 60 yang
terdiri dari 30 siswa kelas VII D sebagai kelas kontrol dan 30 siswa kelas VII F sebagai kelas eksperimen.
Dari hasil perhitungan data Civic Knowledge siswa pada kelas eksperimen diperoleh skor terendah 76 dan skor tertingi 94. Mean data tersebut adalah 83,9, median 82, dan modus 79. Rentang nilai diperoleh 15, banyak kelas 5,8744 yang kemudian dibulatkan menjadi 6, panjang kelas 2,5 yang kemudian dibulatkan menjadi 3, dan standar devisiasi 4,73. Perhitungan statistik deskriptifnya dapat dilihat pada lampiran 15. Tabel distribusi frekuensinya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.3. Distribusi frekuensi skor baku Variabel Civic Knowledge Kelas VII F SMP Negeri 10 Surakarta tahun 2014/2015
NO KELAS
INTERVAL f Xi Xi2 fXi fXi2
1 76-78 4 77 5929 308 23716
2 79-81 7 80 6400 560 44800
3 82-84 6 83 6889 498 41334
4 85-87 5 86 7396 430 36980
5 88-90 5 89 7921 445 39605
6 91-93 3 92 8464 276 25392
Jumlah 30 2517 211827
(Sumber: Tabel Hasil Tes Perhitungan Uji Normalitas Kelas Eksperimen, lampiran 16)
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi variabel (Y) Civic Knowledge siswa pada kompetensi dasar menjelaskan haikikat kemerdekaan mengemukakan pendapat di kelas eksperimen yaitu kelas VII F SMP Negeri 10 Surakarta tahun 2014/205 dapat diketahui bahwa jumlah nilai terbanyak berada pada rentangan 79-81 dengan frekuensi 7 responden, sedangkan yang paling sedikit terdapat pada rentangan 91-93 dengan frekuensi 3 responden. Selengkapnya untuk hasil pengumpulan data Civic Knowledge siswa pada kelas VII F sebagai kelas eksperimen SMP Negeri 10 Surakarta dapat dilihat pada grafik histogram sebagai berikut:
Gambar 4.1. Grafik Histogram Data Mengenai Civic Knowledge Siswa Pada Kelas Eksperimen
b) Tes Civic Knowledge Siswa Kelas Kontrol
Sedangkan hasil perhitungan data Civic Knowledge siswa pada kelas kontrol diperoleh skor terendah 61 dan skor tertinggi 82. Mean dari data tersebut 71,83, median 70, dan modus 67. Rentang nilai diperoleh 21, banyak kelas 5,874 yang kemudian dibulatkan menjadi 6, panjang kelas 3,5 yang kemudian dibulatkan menjadi 4, serta diperoleh standar deviasi 5,97. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada statistik deskriptif lampiran 17. Tabel distribusi frekuensinya dapat dilihat pada tabel berikut:
0 1 2 3 4 5 6 7 8
77 80 83 86 89 92
Frekuensi
Nilai Tengah
Nilai Tengah Civic Knowledge Siswa
Pada Kelas Eksperimen
Tabel 4.4. Distribusi frekuensi skor baku kelas Variabel Civic Knowledge Kelas VII D SMP Negeri 10 Surakarta tahun 2014/2015
NO KELAS
INTERVAL F Xi Xi2 fXi fXi2
1 61 – 64 3 62,5 3906,25 187,5 11718,75
2 65 – 68 8 66,5 4422,25 532 35378
3 69 – 72 5 70,5 4970,25 352,5 24851,25
4 73 – 76 6 74,5 5550,25 447 33301,5
5 77 – 80 6 78,5 6162,25 471 36973,5
6 81 – 84 2 82,5 6806,25 165 13612,5
Jumlah 30 2155 155835,5
(Sumber: Tabel Hasil Tes Perhitungan Uji Normalitas Kelas Kontrol, lampiran 18)
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa distribusi frekuensi variabel (Y) Civic Knowledge siswa pada kompetensi dasar menjelaskan haikikat kemerdekaan mengemukakan pendapat di kelas kontrol yaitu kelas VII D SMP Negeri 10 Surakarta tahun 2014/2015 dengan jumlah responden sebanyak 30 siswa, dapat diketahui bahwa jumlah nilai terbanyak berada pada rentangan 65-68 dengan frekuensi 8 responden, sedangkan yang paling sedikit terdapat pada rentangan 81-84 dengan frekuensi 2 responden. Selengkapnya untuk hasil pengumpulan data Civic Knowledge siswa pada kelas VII D sebagai kelas kontrol SMP Negeri 10 Surakarta dapat dilihat pada grafik histogram sebagai berikut:
Gambar 1. Grafik Histogram Data Mengenai Civic Knowledge Siswa Pada Kelas Kontrol
C. Pengujian Persyaratan Analisis
Sebelum melakukan analisis variansi untk menguji hipotesis penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Uji prasyarat analisis diperlukan guna mengetahui apakah analisis data untuk pengujian hipotesis dapat dilanjutkan atau tidak. Data yang telah terkumpul dari penelitian akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis uji T.Test dua sampel.
1. Uji Normalitas
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang normal atau tidak. Uji normalitas ini menggunakan uji Chi Kuadrat.
Hasil uji normalitas dengan taraf signifikansi 0,05 pada masing-masing kelas.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
62,5 66,5 70,5 74,5 78,5 82,5
Frekuensi
Nilai Tengah
Nilai Tengah Civic Knowledge Siswa
Pada Kelas Kontrol
a) Uji Normalitas Variabel Civic Knowledge siswa pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Hakikat Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat
Hasil uji normalitas tetang Civic Knowledge pada kompetensi dasar menjelaskan hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat yang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut dan selengkapnya pada lampiran 16 dan lampiran 18.
Tabel 4.6. Hasil Uji Normalitas
Kelas Harga χ2hitung Harga χ2tabel
Eksperimen 2,733 7,815
Kontrol 3,12 7,815
(Sumber: Hasil uji normalitas, lampiran 16 dan 18)
Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika χ2hitung <
χ2tabel. Harga χ2hitung pada masing-masing variabel dan kelas di atas lebih kecil dari χ2tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel dalam penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah beberapa varian populasi adalah sama atau tidak. Uji Homogenitas yang digunakan adalah uji Bartlet dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil uji homogenitas yang dilakukan antara data civic knowledge siswa kelas eksperimen dan civic knowledge siswa kelas kontrol diperoleh nilai sebesar χ2 hitung = 2,417 sedangkan maka nilai χ2 tabel = 3,841. Hal ini menunjukkan bahwa χ2 hitung = 2,417 < χ2
tabel = 3,841 maka Ho diterimadan Ha ditolak, artinya harga varians masing-masing kelompok adalah homogen. Jadi dapat disimpulkan variansi populasi kedua kelompok bersifat homogen karena χ2 hitung lebih kecil daripada χ2 tabel. Perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran 20.
D. Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan setelah uji prasyarat analisis terpenuhi. Untuk mengetahui uji hipotesis analisis data yang digunakan adalah uji-t. Pengujian hipotesis pada dasarnya merupakan suatu langkah untuk menguji apakah persyaratan yang dikemukakan dalam perumusan hipotesis dapat diterima atau tidak. Hipotesis diterima apabila data yang diperoleh mendukung persyaratan dalam hipotesis yang diajukan.
Sebaliknya, ditolak apabila fakta-fakta empiris yang ada tidak dapat mendukung persyaratan dalam hipotesis yang diajukan. Berikut disajikan rangkuman analisis data civic knowledge siswa setelah mendapat perlakuan model pembelajaran Generative Learning.
Tabel 4.6. Rangkuman Hasil Analisis Uji-t
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
thitung
N Mean SD N Mean SD
30 82,9 6,359 30 72,1 4,736 7,4688
(Sumber: hasil uji hipotesis dengan t-test, lampiran 21)
Berdasarkan hasil perhitungan di atas untuk perbandingan civic knowledge siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen, keputusan uji hasil analisis data dengan menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5% diperoleh thitung sebesar 7,4688 sedangkan ttabel sebesar 2,0017 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima karena thitung >ttabel atau 7,4688 > 2,0017 (lampiran 21). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara yang menggunakan model Generative Learning dengan model konvensional, dimana hasil dari kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Generative Learning memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandikan dengan kelas kontrol yang menggunakan model konvensional atau 82,9 > 72,1, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan model pembelajaran Generative Learning Terhadap Civic Knowledge Siswa Pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Hakikat Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat.
E. Pembahasan Hasil Analisis Data
Setelah melakukan analisis data untuk pengujian hipotesis, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pembahasan terhadap analisis data. Pembahasan mengenai hasil analisis data selengkapnya adalah sebagai berikut:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh model pembelajaran Generative Learning Terhadap Civic Knowledge Siswa Pada Kompetensi Dasar Menjelaskan Hakikat Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat pada Kelas VII SMP Negeri 10 Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015. Penelitian ini menggunakan sampel dua kelas yaitu kelas VII F sebagai kelas eksperimen dan VII D sebagai kelas kontrol.
Pada kedua kelas tersebut diberikan model pembelajaran yang berbeda, kelas VII F sebagai kelompok eksperimen digunakan model pembelajaran Generative Learning sedangkan kelas VII D sebagai kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional.
Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran (X) yaitu model pembelajaran Generative Learning, sedangkan variabel terikatnya adalah civic knowledge siswa pada kompetensi dasar menjelaskan hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat (Y).
Kegiatan penelitian dimulai dengan melakukan tryout tes yang akan digunakan, gunanya adalah untuk mengetahui validitas dan reliabilitas tes yang akan digunakan dalam penelitian. Berdasarkan hasil tryout yang telah dilakukan maka diperoleh hasil 40 butir soal tes objektif terdapat 30 item soal yang valid. Kemudian setelah dilakukan uji validitas selanjutnya dilakukan uji reliabilitas dengan hasil koefisien alpha 0,964 untuk soal tes objektif civic knowledge, reliabilitas tersebut termasuk dalam kategori reliabilitas yang sangat tinggi karena berada pada interpretasi antara 0,800 sampai dengan 1,00.
Berdasarkan perhitungan keputusan uji hasil analisis data dengan menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5% diperoleh thitung sebesar 7,4688 sedangkan ttabel sebesar 2,0017 sehingga Ho ditolak karena thitung > ttabel. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terdapat adanya perbedaan antara yang menggunakan model Generative Learning dengan model konvensional, sehingga hal tersebut membuktikan adanya pengaruh yang signifikan dengan diterapkannya model pembelajaran Generative Learning Terhadap Civic Knowledge Siswa Pada Kompetensi Dasar Menjelaskan hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat dapat dilihat dari rerata antara kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol atau 82,9 > 72,1.
Kegiatan dimulai dengan melakukan kegiatan pelajaran di kelas kontrol pada tanggal 1 April 2015 dan pada kelas eksperimen pada tanggal 4 April 2015 saat jam pelajaran tujuh dan delapan untuk kelas VII D sebagai kelas kontrol dan jam pelajaran pertama dan kedua untuk kelas VII F sebagai kelas eksperimen. Pembelajaran di kelas VII D sebagai kelas kontrol dilaksanakan dengan model pembelajaran konvensional.
Langkah-langkah kegiatan pelajaran dengan model konvensional adalah sebagai berikut: 1) Apersepsi (pembukaan), 2) Kegiatan inti berupa penyampaian materi pelajaran, 3) Penutup berupa kegiatan penyimpulan. Pada kegiatan pelajaran di kelas kontrol, peneliti melakukan kontrol secara penuh saat kegiatan pelajaran berlangsung.
Siswa mendengarkan penjelasan materi kemudian melakukan kegiatan diskusi mengenai materi yang telah disampaikan, setelah itu siswa mengumpulkan hasil diskusi kepada peneliti. Pada kegiatan penutup, peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyipulkan kegiatan yang telah dilakukan, tetapi karena tidak ada respon dari siswa maka peneliti menyimpulkan sendiri kegiatan yang telah dilakukan.
Kegiatan pembelajaran di kelas VII F sebagai kelas eksperimen menggunakan model Generative Learning. Penelitian dilakukan pada hari sabtu 4 April 2015 dan 18 April 2015 pada jam pelajaran pertama dan kedua, kemudian pada hari sabtu berikutnya pada jam pelajaran pertama.
Model Generative Learning memiliki lima langkah pembelajaran yang meliputi:
tahap orientasi, tahap pengumpulan ide, tahap tantangan dan restrukturisasi, tahap penerapan, dan tahap melihat kembali.
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran dengan model Generative Learning:
1) Apersepsi dengan pemberian motivasi, tanya jawab, penyampaian tujuan pembelajaran 2) Kegiatan inti yang meliputi penyampaian materi pelajaran, tahap orientasi (siswa diminta untuk mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari), tahap pengumpulan ide (siswa diminta untuk mengemukakan pendapat mereka mengenai ide-ide sesuai dengan materi), tahap tantangan atau restrukturisasi(siswa diminta untuk membandingkan pendapatnya dengan kelompok lain), tahap penerapan (siswa diberi pertanyaan dan diminta untuk menjawab sesuai dengan konsep yang telah dipelajari), tahap melihat kembali (siswa diminta untuk mengevaluasi konsep lama mereka) 3) Penutup yang meliputi kegiatan merangkum dan menyimpulkan kegiatan yang telah dilaksanakan, serta memberikan tes objektif kepada siswa. Kelebihan model Generative Learning diantaranya dapat merangsang rasa ingin tahu siswa, dapat meningkatan aktifitas belajar siswa diantaranya dengan bertukar pikiran dengan siswa lain ataupun menjawab pertanyaan dari guru. Model Generative Learning juga memiliki kekurangan yaitu kemunginan terjadinya miskonsepsi bagi siswa apabila bimbingan dan evaluasi konsep dari guru kurang tepat.
Penerapan model Generative Learning dilakukan karena model pembelajaran generatif merupakan model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan yang terkait. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab persoalan yang terkait, maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Bloom (dalam Waluya, 2008) juga mengatakan pemahaman konsep adalah kemampuan menangkap pengertian-pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan kedalam bentuk yang lebih dipahami, mampu memberikan interpretasi, dan mampu mengaplikasikannya.
Pemahaman konsep sangat diperlukan bagi siswa yang sudah mengalami proses belajar.
Pemahaman konsep yang dimiliki oleh siswa dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang ada kaitan dengan konsep yang dimiliki. Dalam pemahaman
konsep siswa tidak hanya sebatas mengenal tetapi siswa harus dapat menghubungkan satu konsep dengan konsep lain.
Aplikasi penggunaan model pembelajaran ini, yaitu menggunakan kelompok kecil supaya siswa bekerja sama dan dapat bertanggung jawab pada tugas yang siswa pegang. Dalam kelompok pembelajaran generatif, siswa diberikan tugas untuk mencari hal-hal yang perlu siswa ketahui dalam kompetensi dasar menjelaskan hakikat kemerdekaan mengemukakan pendapat, kemudian siswa mendiskusikannya dengan kelompok masing-masing dan saling memberikan ide, gagasan, dan pendapatnya, lalu siswa mendiskusikan untuk menarik kesimpulan dari apa yang telah siswa pelajari. Hal ini sejalan dengan pengertian model pembelajaran generatif menurut Grouws yang berpandangan bahwa dalam pembelajaran siswa berpartisipasi aktif dalam membangun konsep-konsep dengan kemampuannya sendiri melalui proses pembentukan mental sehingga konsep itu terbangun menjadi konsep baru.
Dalam penerapan model pembelajaran Generative Learning di kelas VII F SMP Negeri 10 Surakarta siswa mampu memahami apa yang ditugaskan guru, siswa mampu menyelesaikan tugas belajar, siswa mampu memanfaatkan sumber belajar. Pada tahap awal ada beberapa siswa yang belum mengetahui dan memahami penerapannya, sehingga menyebabkan siswa kurang mampu memahami pelajaran dengan baik. Hal tersebut terjadi karena minat dan perhatian serta konsentrasi siswa dalam belajar yang asih kurang. Akan tetapi dalam pertemuan berikutnya sebagian siswa telah mampu menguasai dan memahami tahapan proses model pembelajaran Generative Learning sehingga dirasakan suasan pembelajaran yang baik dan efektif.
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan data berupa hasil tes dengan menggunakan model pembelajaran Generative Learning terhadap penguasaan konsep siswa. Sebelum dilakukan model pembelajaran Generative Learning kegiatan pembelajaran berpusat pada guru, aktivitas siswa kurang mampu mengemukaan dan mengaplikasikan ide-ide.
Pengetahuan itu didapat tidak dengan sendirinya melainkan melalui usaha seseorang dengan menggunakan potensi yang dimilikinya dan usaha kognitifnya karena pengetahuan bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan. Pembelajaran generatif ini
mengedepankan aktivitas siswa dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat melakukan eksplorisasidan menemukan pengetahuannya sendiri. Dimana tersedianya ruang yang lebih baik bagi keterlibatan siswa di dalam kelas, melakukan eksplorisasi serta menggali secara lebih dalam kemampuan, potensi, dan sikap perilaku yang terbuka. Pembelajaran Generative Learning juga dapat meningkatkan rasa ingin tahun siswa tentang materi kemerdekaan mengemukakan pendapat. Dengan model pembelajaran Generative Learning, beberapa konsep yang dirasakan sulit bagi siswa menjadi lebih mudah dipahami karena pembelajaran terfokus pada ide-ide awal siswa menuju konsep baru.
Hal ini sejalan dengan pengertian pembelajaran generatif menurut George Masson yang menyatakan bahwa siswa terlibat secara aktif selama proses pembelajaran dalam menghubungkan ide-ide baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
Model pembelajaran Generative Learning termasuk dalam model pembelajaran berbasis konstruktivisme. Model pembelajaran yang menganut teori belajar konstruktivisme merupakan model pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan prinsip model pembelajaran Generative Learning yang menuntut siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran sejalan pula dengan pendapat Jonasse (dalam Waluya, 2008) yang mengemukakan bahwa model pembelajaran generatif, “are those that require learners consciously and deliberately to relate new information to existing knowledge”. Dengan demikian melalui model pembelajaran generatif, pengetahuan yang dimiliki oleh siswa adalah hasil daripada aktivitas yang dilakukan oleh pelajar tersebut dan bukan pengajaran yang diterima secara pasif.
Berdasarkan pada pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran Generative Learning merupakan model yang dapat meningkatkan knowledge siswa. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingan dengan kelas kontrol. Hal ini dikarenakan langkah-langkah pembelajaran model Generative Learning yang berbeda dengan model pembelajaran konvensional sehingga tidak membosankan dan dapat menarik minat siswa saat kegiatan pembelajaran.
Penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran pada merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan civic knowledge siswa. Hal tersebut dibuktikan dengan lebih tingginya rata-rata siswa pada kelas eksperimen yaitu 82,9 > 72,1 pada kelas kontrol. Sehingga model pembelajaran Generative Learning memiliki pengaruh yang signifikan terhadap civic knowledge siswa kelas VII SMP Negeri 10 Surakarta.