BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

13  Download (0)

Full text

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya. Kebutuhan akan pendidikan dipenuhi manusia dengan memasuki dunia pendidikan. Melalui pendidikan ia membekali dirinya sehingga mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal (UU SISDIKNAS, 2003).

Pendidikan formal atau lebih dikenal dengan sistem persekolahan, mempunyai peran dalam menentukan perkembangan potensi manusia secara maksimal, sehingga manusia memiliki ketajaman respon terhadap lingkungannya, keterampilan, intelektual, sehat dan berkehidupan yang baik, mampu berkompetisi, toleran, dapat menghargai pendapat orang lain, koperatif, mempunyai motivasi yang tinggi untuk berprestasi, dan mampu mencapai kebahagiaan hidup. Peran pendidikan formal atau sekolah dalam pembentukan kepribadian manusia ini belum dapat digantikan oleh sistem yang lain (Sutjipto, 2005).

(2)

Pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa sesuai yang dinyatakan dalam Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab III Pasal 4 (UU SISDIKNAS, 2003). Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutjipto (2005) bahwa proses pendidikan multikultural itu dapat berlangsung dalam lembaga pendidikan. Pendidikan multikultural merupakan proses kulturalisasi tentang multikultural. Jika diperhatikan pula bahwa kultur adalah akibat dari interaksi dengan lingkungan, pendidikan itu sendiri sebenarnya adalah proses pembentukan kultur multikultural.

Menurut Banks (dalam YPSIM, 2012) pendidikan multikultural adalah ide, gerakan pembaharuan pendidikan dan proses pendidikan, yang tujuan utamanya adalah merubah struktur lembaga pendidikan supaya siswa baik pria dan wanita, siswa berkebutuhan khusus, dan siswa yang merupakan anggota dari kelompok ras, etnis, dan budaya (kultur) yang bermacam-macam itu akan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai prestasi. Pendidikan multikultural ini diterapkan pada siswa melalui proses belajar mengajar di sekolah, baik dalam kurikulum, kultur sekolah, kultur kelas, dan guru. Anak didik yang dibiasakan bekerja sama dalam kelompok baik multikultural maupun tidak, akan menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan. Siswa yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan (YPSIM, 2012). Menurut Djamarah (2010), tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri

(3)

tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk tertentu.

Siswa yang saling berinteraksi dalam lingkungan sekolah pasti memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Menurut Eggen (2012), orang cenderung curiga terhadap orang-orang yang berbeda dengan mereka. Seperti yang dinyatakan oleh salah seorang siswa SMK YPSIM berikut:

“Yah gitulah kak, lebih suka kalo campur yang sama ajah meskipun di suruh berbaur kan lebih nyaman kalau kayak ginilah sama suku kita ini, pake bahasa daerah kitanya. Biasa juga ada gabung sama yang lain sih kak cuma nggak nyaman nanti mereka pun ngomong pake bahasa mereka sendiri juga yah nggak ngerti juga mereka itu ngomongin kita atau apa”

(Komunikasi personal, H, 17 Tahun, 7 Maret 2013) Konflik keberagaman pun dapat terjadi di sekolah. Hal ini sangat mungkin terjadi karena selama ini keberagaman yang terjadi di keluarga, sekolah atau di masyarakat kurang mendapatkan perhatian, bahkan kurang dikelola dengan baik (Kusmaryani, 2006). Berdasarkan fenomena tersebut, sebenarnya hal penting yang hendaknya dilakukan untuk mencegah konflik akibat keberagaman yaitu dengan pendidikan multikultural, dimana anak belajar memiliki sikap menghargai dirinya sendiri dan orang lain dalam konteks interaksi sosial. Penyelenggaraan ini memerlukan proses dan membutuhkan kerjasama banyak pihak, seperti keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat yang tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawabnya dalam beberapa persoalan yang berkaitan dengan karakter anak (Kusmaryani, 2006).

Pertimbangan-pertimbangan itulah yang sepertinya perlu dikaji dan direnungkan ulang bagi subjek pendidikan di Indonesia. Salah satunya dengan

(4)

mengembangkan model pendidikan multikultural. Pendidikan yang mampu mengakomodir perbedaan dalam sebuah wadah yang harmonis, toleran, dan saling menghargai. Inilah yang diharapkan menjadi salah satu pilar kedamaian, kesejahteraan, kebahagian, dan keharmonisan kehidupan masyarakat Indonesia, dengan demikian pendidikan multikultural merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok (Ibrahim, 2008).

Menghadapi pembelajaran bermuatan multikultural, seorang individu pasti memiliki sikap. Kecenderungan, pandangan, pendapat atau pendirian seseorang untuk menilai suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek adalah sikap (Azwar, 2000). Terdapat tiga komponen pembentuk sikap, yang terdiri dari kognitif, afektif, dan perilaku (Azwar, 2000). Ketiga komponen tersebut saling berhubungan dan tergantung satu sama lain. Saling ketergantungan tersebut apabila seseorang menghadapi suatu objek tertentu.

Banyak faktor yang mempengaruhi sikap, yaitu pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting (significant others), media massa, institusi/ lembaga pendidikan dan agama, dan faktor emosional. Seperti yang diakui salah satu siswa bahwa pengalaman pribadi mempengaruhi sikapnya, dalam wawancara berikut ini:

“Dulu awal-awal sekolah sih nggak nyaman kak, nggak enak tapi sekarang uda terbiasa dari kelas satu, kelas dua, kelas tiga biasa sama keadaan kalau di sekolah. Lagian juga tiap hari jumpa, tiap hari ngomong kayak komunikasi gitu. Aku bahkan sering denger bahasa daerahnya teman terus belajar dikit-dikit sekarang uda tau

(5)

kadang aku ngerti-ngerti dikit. Bisa dibilang terbiasa jadi enak aja sekarang kak.”

(Komunikasi personal, R, 17 Tahun, 07 Maret 2014)

“Sudah sering nyampur kak, jadi sekarang kayak biasa aja.Yah biasa kak kayak aku denger temen ngomong bahasa daerah, kadang aku juga pake bahasa daerah sama teman. Yah seneng bisa saling mengenal perbedaan satu sama lain bisa saling belajar dari perbedaan kita”

(Komunikasi personal, S, 16 Tahun, 09 Desember 2013) Faktor lain yang berperan dalam pembentukan sikap ialah faktor emosional (Azwar, 2010). Menurut Goleman (2006), Emosi adalah pergolakan pikiran, perasaan, nafsu dari setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.

Kecerdasan emosional bertumpu pada hubungan antara perasaan, watak, dan naluri moral yang mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan memecahkan masalah pribadi, mengendalikan amarah serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Dalam proses pembelajaran, individu yang menguasai emosinya memiliki kemampuan beradaptasi sekaligus mampu memahami, sekaligus menguasai permasalahan- permasalahan yang ada (Daud, 2012).

Sikap tidak dapat diamati secara langsung, namun dapat disimpulkan dari cara kita bertindak. Kecerdasan emosional sangat berhubungan dengan sikap seseorang dalam kehidupan secara keseluruhan, mulai dari kehidupan dalam keluarga, pekerjaan, sampai interaksi dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu kecerdasan emosional berpengaruh pada cara seseorang dalam menyelesaikan masalah di kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, maupun interaksi dengan lingkungan sosialnya (Patton, 1997). Manusia dalam

(6)

kehidupan dengan situasi dan kondisi yang kerap berubah dan memiliki berbagai permasalahan harus dapat memecahkan masalah secara fleksibel.

Goleman (2006) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan permasalahan banyak ditentukan oleh kualitas kecerdasannya.

Seseorang yang cerdas dalam mengelola emosinya akan meningkatkan kualitas kepribadiannya. Kecerdasan Emosional dibutuhkan oleh siswa agar siswa dapat mengelola sikap mereka dalam berhubungan dengan orang lain sehingga serasi dengan yang lingkungan harapkan. Hal ini dapat diaplikasikan pada pembelajaran bermuatan multikultural, karena siswa berhubungan dengan orang lain, yang berasal dari berbagai agama, ras, suku, dan status sosial ekonomi yang berbeda.

“Sekelas yah macem-macem kak, beda-beda agama, suku. Biasa aja kak ada aja sih masalahnya namanya juga ada nggak samanya tiap kita, ada yang memang dasarnya malas, ada yang emang agak kurang pinter, ada nggak gitu punya uang. Kadang kalau bagi tugas yang ribet tapi nggak mungkin aku katain orang itu langsung yang ada nanti sakit hati terus PR makin nggak beres jadi kadang aku bantuin aja”

(Komunikasi personal, S, 17 Tahun, 24 Januari 2014) Salah satu lembaga pendidikan yang telah menerapkan hal ini adalah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), yang berada di Jl. Tengku Amir Hamzah Pekan I, Gang Bakul, Sunggal, Medan, Sumatera Utara. Yayasan ini didirikan pada tanggal 25 Agustus 1987 oleh dr. Sofyan Tan, memiliki visi untuk mengatasi dua permasalahan sosial negeri ini, yakni kemiskinan dan diskriminasi. Kemiskinan yang menyebabkan warga miskin tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah, juga berbagai konflik yang disebabkan oleh stereotype (prasangka), dan perilaku diskriminasi. Sofyan Tan, selaku pendiri yayasan ini, meyakini bahwa kedua hal tersebut dapat dihilangkan lewat

(7)

pendidikan. YPSIM memutuskan untuk membuka jalur bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi agar dapat bersekolah dengan gratis ataupun murah dengan kualitas baik bagi setiap orang, dan menerapkan pembelajaran yang menghargai kemajemukan (YPSIM, 2012).

“Iya kak, sekolah kami kan memang ciri khasnya tidak membeda- bedakan suku dan agama gitu, terus ya bisa kakak lihat-lihat kalau disekolah kami tuh banyak agama dan sukunya.

(Komunikasi personal, S, 16 Tahun, 09 Desember 2013) Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) menerapkan pendidikan multikultural dan diimplementasikan dalam setiap aspek yang ada di sekolah. Seperti dalam kurikulum, kultur sekolah, kultur kelas, guru, hingga pihak luar sekolah. Hal ini terbukti dengan adanya fasilitas sekolah berupa materi pelajaran yang diintegrasikan dengan topik multikultural, penyediaan rumah ibadah dan pendopo dari lima agama besar di Indonesia tujuannya untuk menonjolkan kemajemukan di Indonesia dan membiasakan anak didik melihat, menerima, dan menghargai perbedaan di sekitar mereka. (YPSIM, 2012).

Dalam hal ini, peneliti hendak menyoroti pembelajaran bermuatan multikultural yang diterapkan di YPSIM dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memuat nilai-nilai multikultural ke dalam setiap aspek pembelajaran maupun kebijakan sekolah, serta dalam perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Silabus untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas oleh semua tenaga pendidik di YPSIM. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Abidin (2012), model penyelenggaraan pendidikan multikultur di sekolah dapat dilakukan dengan cara terintegrasi dalam mata pelajaran pada kurikulum tingkat satuan pendidikan. Penerapan atau

(8)

pengintegrasian pendidikan multikultur secara jelas terlihat dalam silabus dan RPP.

Melalui cara itu, maka akan terimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas secara kontekstual.

YPSIM menyusun 18 nilai dalam pembelajaran bermuatan multikultural yang dipraktekkan dalam setiap aspek pembelajaran, antara lain: nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif/mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, nasionalisme, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, kesetaraan gender, dan pluralisme. Nilai-nilai dan indikator inilah yang menjadi acuan bagi setiap guru dalam merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Silabus dalam pembelajarannya. Untuk bisa mengintegrasikan ke dalam pembelajaran, guru perlu melakukan analisis terhadap karakteristik mata pelajarannya, dan juga melihat kondisi yang ada di YPSIM (YPSIM, 2012). Seluruh guru yang mengajar di YPSIM mempraktekkan pendidikan multikultural sebagai landasan untuk merancang kegiatan belajar mengajar.

Pembelajaran bermuatan multikultural dipraktekkan pada setiap jenjang pendidikan di YPSIM, dimulai dari TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Pendidikan menengah atas di Indonesia terdapat dua kategori, yaitu SMA (Sekolah Menengah Atas) dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) (UU SISDIKNAS, 2003).

Kurikulum SMA, siswa akan mendapatkan teori yang akan digabungkan dengan praktek, namun kegiatan praktek hanya sedikit dalam penerapannya. Berbeda halnya dengan SMK, siswa akan diberi teori dan praktek yg memiliki bobot yang sama besar karena lulusan SMK disiapkan untuk siap bekerja. Selama mereka

(9)

sekolah, mereka diberi bekal kemampuan berdasarkan jurusan yang mereka pilih dan ketika lulus, mereka telah siap bekerja atau berwirausaha.

Dalam penelitian ini, peneliti memilih jenjang pendidikan SMK.

Berdasarkan pada buku YPSIM (2012), jenjang pendidikan SMK di YPSIM lebih menekankan pembelajaran bermuatan multikultural pada prakteknya berupa diskusi kelompok dengan anggota yang multikultural. Perbandingan dengan siswa SMA yang lebih sering membahas teori daripada praktek langsung dan lebih sering dilakukan secara individual, sesuai dengan pengakuan siswa SMA YPSIM:

“Praktek ada kok kak, kelompok juga ada. Iya kak, sering dibagi guru gitu. Tapi kalau kami masih bisa kerjain di rumah misalnya pas ada tugas kelompok buat PR latihan gitu, langsung bagi tugas aja sih lebih sering terus ngerjain dirumah sendiri-sendiri baru gabungin terakhirnya. Kalo ngerjain sekelompoknya enaknya pas anggota yang dibagi itu mau kerja. Kalau yang nggak enaknya pas anggota yang dibagi ibu itu yang pada males-males gitu. Lagian latihan kan ngerjainnya biasanya masih bisa lihat buku paket kak, nggak susahlah jadi langsung bagi tugas aja. Iya misalnya kan ada tuh nanti ibunya suruh buat latihan dari buku paket, langsung aja bagi berdasarkan nomorlah kerjain masing-masing.

(Komunikasi personal, K, 17 Tahun, 27 Januari 2014)

“Pas latihan kak yang sering ada kelompoknya, kebanyakan guru yang bagi, kadang kita sendiri bagi juga ada. Misalnya dibuku ada pengertian singkatnya aja atau nggak ada rumusnya, dibagi kelompok terus disuruh cari lebih dalam lagi tentang materi itu.

Kebanyakan sih dikasih waktu minimal satu minggu ngerjainnya, cari di net itu banyakan, kita biasanya bagi tugas aja buat cari bahan, terakhir baru gabung. Pernah juga gara-gara gabungin tugas yang udah kita cari smua langsung tapi nggak dibaca-baca lagi ternyata isinya antara aku sama teman aku sama, dimarahin deh. Hahahaha..

(Komunikasi personal, F, 16 Tahun, 27 Januari 2014)

Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti lebih tertarik melakukan penelitian pada jenjang SMK. Dalam praktek pembelajaran bermuatan

(10)

multikultural di SMK YPSIM, guru membagi kelompok dengan anggota yang multikultural, baik dari ras, gender, suku, agama, ataupun status sosial ekonomi.

Hal ini juga sesuai dengan apa yang diungkapkan siswa SMK YPSIM:

“Kelompok kerja kita biasanya dalam praktek kak, kebanyakan langsung di bagi guru sih biasanya satu kelompok ada lima orang atau enam orang. Iya kak, campur-campur, sengaja taruh yang ranking jelek sama yang ranking bagus jadi satu kelompok.

Soalnya kalau disuruh buat sendiri entar ada satu kelompok hampir semua ranking 10 besarnya. Belakangan ini sih banyak tugasnya kelompok, suka-suka gurunya setiap mata pelajaran, jadi beda-beda orang yang sekelompok setiap mata pelajaran.”

(Komunikasi personal, J, 16 Tahun, 09 Desember 2013)

Praktek pembelajaran siswa SMK di YPSIM, siswa diberi tugas dalam bentuk diskusi kelompok, untuk membahas soal-soal yang diberikan oleh guru.

Dalam kegiatan ini siswa diarahkan untuk membentuk kelompok yang terdiri dari beraneka ragam suku, agama, ras, dan status sosial. Siswa diharapkan untuk menyelesaikan tugas secara bersama dan membantu siswa lain yang belum memiliki buku referensi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Nilai multikultural yang dimiliki oleh siswa adalah nilai peduli sosial, pluralisme, kesetaraan gender (YPSIM, 2012).

“Kelompok lebih enak kak, setidaknya kalau kita nggak gitu ngerti yah temen yang lain masih bisalah bantuin. Prakteknya kak, soalnya kita kebanyakan di kelas pun langsung praktekkan. Sama aja sih kak menurut aku, meskipun beda agama atau suku kan kita sama-sama aja dalam kerjain tugas kelompok yang dikasih guru.

Selama ini sih aku nggak ngerasa susah buat kerja sama mah temen yang beda suku gitu, saling bantu aja sih menurut akunya.”

(Komunikasi personal, M, 16 Tahun, 27 Januari 2014)

“Yah balik-balik itulah kak masalahnya, mah tau lah gimana kak, pasti ada tuh yang nggak mau kerja, parah memang. Lebih suka bagi sendiri kelompoknya yang biasanya se-genk jadi ngerjainnya

(11)

pun enak. Soalnya kalau biasanya guru yang bagi kelompoknya beda agama gitu, nggak nyaman kak.”

(Komunikasi personal, D, 16 Tahun, 09 Desember 2013)

“Sebenernya bukan masalah kerja kelompok nggak enak sih kak, cumanya kelompoknya sering dibagi guru, jadi nggak bareng teman maen yang biasa. Kalau boleh milih sih mau milih sendiri kelompoknya. Apalagi kalau gabung sama temen-temen yang nggak mau kerja, biasanya tuh cowoknya yang nggak mau tau apa-apa, maunya terima bersih aja”.

(Komunikasi personal, F, 16 Tahun, 27 Januari 2014)

Objek sikap adalah pembelajaran bermuatan multikultural. Pendidikan multikultural pada SMK YPSIM yang dipraktekkan dalam keseluruhan sistem pembelajaran bermuatan multikultural, akan menunjukkan sikap siswa yang baik, jika siswa suka pada kegiatan pembelajaran bermuatan multikultural. Sebaliknya, jika sikap siswa terhadap pembelajaran bermuatan multikultural tidak baik, maka respon positif akan cenderung rendah. Kecerdasan emosional ini jelas sangat dibutuhkan oleh siswa, sebab siswa selalu berhubungan dengan siswa yang berbeda latar belakang budaya dan sifatnya. Perbedaan ini menuntut siswa untuk mengenali perasaan dirinya maupun orang lain.

Berdasarkan pemaparan di atas, perbedaan cenderung menimbulkan adanya rasa curiga seperti prejudice berdasarkan teori yang ada. Namun diakui oleh beberapa siswa bahwa mereka nyaman dan tidak mengalami hal tersebut dengan adanya faktor dalam diri dalam berhubungan dengan orang lain, yang dalam hal ini berhubungan dengan komponen kecerdasan emosional, maka peneliti berniat untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional terhadap sikap siswa dalam pembelajaran bermuatan multikultural di SMK YPSIM.

(12)

B. Rumusan Masalah

Melihat adanya fenomena di masyarakat, dimana terdapat sekolah berbasis multikultural, dan sikap siswa SMK dalam praktek pembelajaran bermuatan multikultural akan lebih dapat terlihat karena adanya bobot praktek kerja.

Dengan demikian, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

“Apakah ada pengaruh kecerdasan emosional terhadap sikap siswa dalam pembelajaran bermuatan multikultural di SMK Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada pengaruh kecerdasan emosional terhadap sikap siswa dalam pembelajaran bermuatan multikultural di SMK YPSIM.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya bidang psikologi pendidikan dan dapat dipakai sebagai pedoman dalam penelitian lebih lanjut terutama yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sikap dan multikultural.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya pembinaan sikap siswa dalam pembelajaran bermuatan multikultural. Diharapkan dapat memberi sumbangan dan penelitian lebih lanjut.

(13)

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan proposal penelitian ini adalah:

BAB I: PENDAHULUAN

Berisi penjelasan mengenai latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II: LANDASAN TEORI

Berisi teori yang digunakan sebagai landasan penelitian.

BAB III: METODE PENELITIAN

Berisi penjelasan mengenai metode penelitian yang berisikan tentang identifikasi variabel, definisi operasional variabel, subjek penelitian, alat ukur yang digunakan dan metode analisis data.

BAB IV: HASIL DAN INTERPRETASI DATA

Pada bab ini akan diuraikan tentang gambaran umum dan karakteristik dari subjek penelitian siswa SMK YPSIM serta bagaimana analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa statistik dengan bantuan program SPSS versi 17.0 for windows. Kemudian pada bab ini juga akan dibahas mengenai interpretasi data hasil penelitian beserta pembahasan.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini kesimpulan dari hasil penelitian yang disusun berdasarkan analisa dan interpretasi data serta dilengkapi dengan saran-saran bagi perusahaan dan bagi peneliti lain berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in