ESTIMASI NILAI TPW
(TOTAL PRECIPITABLE WATER) DI ATAS DAERAH PADANG DAN BIAK BERDASARKAN HASIL ANALISIS
DATA RADIOSONDE
IRE PRATIWI
DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN
Ire Pratiwi. G24104007. Estimasi besarnya TPW (Total Precipitable Water) di atas daerah Padang dan Biak berdasarkan hasil analisis data radiosonde.
Dibimbing oleh Idung Risdiyanto, M.Sc dan Dr. Eddy Hermawan, M.Sc.
Pembentukan awan hujan dipengaruhi dua hal penting yaitu mekanisme pengangkatan massa udara dan kandungan uap air dalam suatu kolom udara. Mekanisme pengangkatan udara sangat dipengaruhi oleh stabilitas atmosfer yang digambarkan dengan nilai Brunt Väisälä Frequency Square (N2). Sedangkan untuk mengetahui kandungan uap air dilakukan estimasi nilai TPW (Total Precipitable Water). Estimasi TPW dilakukan di dua daerah yaitu Padang (0.88 LS, 100.35 BT) dan Biak (1.18 LS,136.12 BT) untuk mengetahui perbedaan jumlah kandungan uap air pada kedua lokasi yang berada pada garis ekuator namun memiliki karakteristik curah hujan yang berbeda. Periode pengamatan dilakukan antara bulan Maret 2007 sampai dengan Februari 2008.
Untuk memperkirakan TPW digunakan data kelembaban spesifik yang diturunkan dari data radiosonde. Selanjutnya untuk analisis hubungan dengan curah hujan digunakan data curah hujan harian aktual dengan teknik korelasi silang. Hasil yang didapatkan adalah niali TPW pada Biak dan Padang konstan sepanjang tahun dengan rata-rata pada daerah Padang yaitu 50.5 mm dan pada daerah Biak yaitu 39.6 mm dan osilasi TPW pada daerah padang terjadi sekitar 60 harian dan daerah Biak sekitar 90 harian. Hasil analisis statistik antara TPW dan curah hujan daerah Padang dan Biak menunjukkan korelasi silang diantara keduanya sehingga kedua variabel ini saling berpengaruh dengan nilai maksimum 0.294 dan selang waktu (lag time) adalah 1
Kata Kunci : Brunt Väisälä Frequency Square (N2), TPW, Curah hujan
ESTIMASI NILAI TPW
(TOTAL PRECIPITABLE WATER) DI ATAS DAERAH PADANG DAN BIAK BERDASARKAN HASIL ANALISIS
DATA RADIOSONDE
IRE PRATIWI
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada
Departemen Geofisika dan Meteorologi
DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
Judul
: Estimasi Nilai TPW (Total Precipitable Water) di Atas Daerah Padang dan Biak Berdasarkan Hasil Analisis Data Radiosonde Nama : Ire Pratiwi
NIM : G24104007
Menyetujui:
Pembimbing I, Pembimbing II,
Idung Risdiyanto, S.Si, M.Sc Dr. Ir. Eddy Hermawan, M.Sc
NIP. 132206238 NIP. 300001344
Mengetahui:
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor
Dr. Drh Hasim, DEA NIP. 131578806
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “Estimasi Nilai TPW (Total Precipitable Water) Di Atas Daerah Padang Dan Biak Berdasarkan Hasil Analisis Data Radiosonde”, sebagai syarat mencapai gelar Sarjana Sains pada Program Studi Meteorologi, Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Penulis juga ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi ini :
1. Bapak Idung Risdiyanto, M.Sc sebagai pembimbing I yang memberikan banyak ilmu dan masukan kepada penulis selama mengerjakan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Eddy Hermawan, M.Sc sebagai pembimbing II yang selalu sabar membimbing penulis dan memberi motivasi dalam pengerjaan skripsi ini.
3. Ibu, Bapak, Kakak dan kakak ipar dan seluruh keluarga besar penulis, terima kasih untuk doa, perhatian, dukungan moral dan fasilitas yang sangat besar dan membantu selama ini.
4. Bapak Halimurrahman, MT sebagai Kepala Bidang Pemodelan Iklim
5. Keluarga besar LAPAN: Bu Shinta, Pak Teguh, Pak Terson, Pak Suaydhi, Bu Ina Visa, Pak Arief beserta staf LAPAN lainnya yang selalu memberikan bantuannya.
6. Teman-teman seperjuangan, terutama Ining yang selalu memberikan dukungan penulis, Mei, Diva, Fransiska, Rini, Sisi dan teman GFM 41 lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
7. Teman-teman di wisma bintang, Rira, Fera, V-ter serta adik-adik 42 dan 43
8. Kakak kelas di LAPAN dan BMG (kak Eris 36 dan mba Dian 38 yang telah membantu penulis dalam mendapatkan data)
Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima kritikan, saran, dan tanggapan yang bersifat membangun. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, September 2008
Ire Pratiwi
RIWAYAT HIDUP
Penulis di lahirkan di Malang, pada tanggal 26 September 1986 dari ayah Tamari dan ibu Istiani. Penulis merupakan putri ketiga dari tiga bersaudara.
Tahun 1998 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Tumpang 4 Malang, pendidikan menengah pertama diselesaikan tahun 2001 di SMP Negeri 1 Tumpang-Malang. Pada tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Tumpang-Malang dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur undangan seleksi masuk IPB (USMI). Penulis memilih Program Studi Meteorologi, Jurusan Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di kegiatan kemahasiswaan seperti anggota Himpunan Mahasiswa Geofisika dan Meteorologi (HIMAGRETO) pada tahun 2004 sampai tahun 2006 serta kegiatan kepanitiaan-kepanitiaan di dalam departemen geofisika dan meteorologi.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Pendahuluan ... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stabilitas Udara ... 1
2.2 Kelembaban Atmosfer... 2
2.3 Total Precipitable Water ... 2
2.4 Pertumbuhan Awan Konvektif ... 3
2.5 Curah Hujan ... 3
2.6 Prinsip kerja Radiosonde... 4
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 5
3.2 Alat dan Bahan ... 5
3.3 Metode Penelitian 3.3.1 Identifikasi Stabilitas Atmosfer... 5
3.3.2 Estimasi TPW... 5
3.3.3 Fungsi Power Spectral Density ... 6
3.3.4 Estimasi Hubungan antara TPW dan Curah Hujan ... 6
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Data Bulanan 4.1.1 Identifikasi Stabilitas Atmosfer Harian ... 7
4.1.2 Identifikasi Stabilitas Atmosfer Rata-Rata Bulanan... 9
4.2 Estimasi TPW... 10
4.3 Hubungan Antara TPW dan Curah Hujan ... 11
V. KESIMPULAN ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 13
LAMPIRAN... 16
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Nilai korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Padang pada periode
November 2007-Februari 2008... 12
2. Nilai korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Biak pada periode November 2007-Februari 2008... 12
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Radiosonde ... 42. Diagram alir penelitian ... 7
3. Profil vertikal N2 di daerah Padang tanggal 26 Desember 2007... 7
4. Profil vertikal RH di daerah Padang tanggal 26 Desember 2007 ... 7
5. Profil vertikal N2 di daerah Padang tanggal 26 Juni 2007 ... 7
6. Profil vertikal kelembaban relatif di daerah Padang tanggal 26 Juni 2007... 8
7. Profil vertikal N2 di daerah Biak tanggal 26 Desember 2007 ... 8
8. Profil vertikal kelembaban relatif di daerah Biak tanggal 26 Desember 2007 ... 8
9. Profil vertikal N2 di daerah Biak tanggal 26 Juni 2007 ... 9
10. Profil vertikal kelembaban relatif di daerah Biak tanggal 26 Juni 2007 ... 9
11. Profil vertikal N2 di daerah Padang bulan Desember 2007... 9
12. Profil vertikal N2 di daerah Padang bulan Juni 2007 ... 9
13. Profil vertikal N2 di daerah Biak bulan Desember 2007... 9
14. Profil vertikal N2 di daerah Biak bulan Juni 2007 ... 9
15. Power Spektral Density TPW daerah Padang periode 1 Maret 2007-29 Februari 2008... 10
16. Wavelet TPW daerah Padang Padang periode 1 Maret 2007-29 Februari 2008 ... 10
17. Energi spektral TPW daerah Biak periode 1 Maret 2007-29 Februari 2008 ... 10
18. Wavelet TPW daerah Biak periode 19 Oktober 2007-29 Februari 2008... 10
19. TPW dan curah hujan bulan Juni 2007 di daerah Padang... 11
20. TPW dan curah hujan bulan Desember 2007 di daerah Padang ... 11
21. TPW dan curah hujan bulan Juni 2007 di daerah Biak... 11
22. TPW dan curah hujan bulan Desember 2007 di daerah Biak ... 11
23. Korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Padang pada periode 1 November 2007 sampai dengan 29 Februari 2008 ... 12
24. Korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Biak pada periode November 2007-Februari 2008... 12
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Curah Hujan Bulanan di Daerah Padang dan Biak Bulan Maret 2007-
Februari 2008... 16
2. Pola Angin dan Curah Hujan Bulan Juni 2007 dan Desember 2007 di Wilayah Indonesia ... 16
3. Curah Hujan Harian Bulan Desember dan Juni 2007 ... 16
4. Profil Vertikal N2 di Daerah Padang... 17
5. Profil Vertikal N2 di Daerah Biak... 19
6. Profil Vertikal RH di Daerah Padang ... 21
7. Profil Vertikal RH di Daerah Biak ... 24
8. Profil Vertikal N2 pada Ketinggian 15-18 km di Daerah Padang dan Biak ... 26
9. Data TPW di Daerah Padang ... 27
10. Data TPW di Daerah Biak ... 31
11. Data Curah Hujan Daerah Padang Maret 2007-Desember 2008 ... 34
12. Data Curah Hujan Daerah Biak Maret 2007-Desember 2008 ... 35
13. Korelasi TPW dengan Curah Hujan pada Daerah Padang Panjang dan Sicincin ... 36
14. Script matlab untuk menghitung N2 dan TPW ... 37
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Atmosfer bumi merupakan lapisan yang menyelimuti permukaan bumi dengan komponen penyusunnya berupa partikel- partikel halus dan ringan seperti gas, cairan dan aerosol (Handoko, 1995). Keadaan atmosfer akan mudah berubah seiring dengan proses pendinginan dan pemanasan permukaan bumi karena sebagian besar bahan pengisi atmosfer merupakan gas yang mudah mampat dan mengembang. Menurut Trewartha dan Horn (1980) 75 % dari massa atmosfer yang terdapat pada lapisan troposfer dan lapisan ini merupakan tempat terjadinya awan, hujan dan konveksi udara.
Indonesia sebagai negara maritim yang terletak di ekuator, dikelilingi oleh lautan yang hangat sehingga menyebabkan awan- awan konvektif besar dapat tumbuh di wilayah ini. Kemunculan awan-awan konvektif di wilayah tropis ini dapat mempengaruhi sirkulasi global (Renggono, 2000). Akibat adanya awan-awan tersebut, panas dari boundary layer dapat bergerak ke lapisan atmosfer atas.
Namun dengan potensi pengangkatan massa udara yang besar ini tidak semua awan yang terbentuk akan turun sebagai hujan, tergantung proses pengangkatan massa udara dan besarnya kandungan uap air yang terdapat pada kumpulan awan tersebut. Beberapa bagian dari awan yang terbentuk akan hilang karena terevaporasi kembali ke atmosfer. Sehingga perlu dikaji lebih lanjut tentang proses stabilitas atmosfer dan mekanisme pengangkatan massa udara terkait dengan pembentukan awan.
Selain itu kandungan air dalam suatu kolom udara juga perlu diketahui. Karena jumlah air yang seharusnya jatuh sebagai hujan sangat penting untuk diketahui guna memprediksi jumlah hujan yang akan jatuh sebelum kejadian hujan berlangsung. Selain itu penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui tentang pola variasi kandungan uap air dalam kolom udara dari musim ke musim sehingga osilasinya dapat diketahui di atas daerah Padang dan Biak serta karakteristik dan perbedaan diantara kedua daerah tersebut yang sama-sama terletak disekitar garis ekuator.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui besarnya TPW (total precipitable water) berdasarkan data hasil pengukuran radiosonde 2. Mengetahui profil vertikal atmosfer
dalam hubungannya pada proses pengangkatan massa udara di permukaan
3. Mengetahui pola osilasi TPW di daerah Padang dan Biak
4. Mengetahui keterkaitan antara TPW dengan curah hujan di permukaan pada daerah Padang dan Biak
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stabilitas Udara
Stabilitas udara (atmosfer) adalah kecenderungan udara untuk bergerak naik atau turun. Untuk menentukan stabilitas dilakukan dengan melakukan perbandingan suhu antara parsel udara dan suhu udara di sekitarnya (Ahrens 2007). Udara diasumsikan sebagai parsel yang bergerak dari suatu titik. Pergerakan parsel tersebut dapat mengikuti garis adiabatik kering apabila parsel dalam kondisi tidak jenuh (di bawah LCL) atau mengikuti garis adiabatik basah apabila parsel dalam keadaan jenuh (Stull 2004). Pada berbagai ketinggian, gaya bouyant bergantung pada perbedaan suhu antara parsel dan lingkungannya.
Stabilitas atmosfer digolongkan menjadi tiga yaitu kondisi stabil, netral dan tidak stabil. Apabila gaya bouyant yang bekerja pada parsel mempunyai arah yang sama dengan perpindahan parselnya sehingga udara antara parsel pada ketinggian awal dan pada ketinggian akhir akan tidak stabil.
Akibat ketidakstabilan tersebut, parsel akan terus bergerak sehingga mengakibatkan gerakan konvektif. Suhu parsel pada kondisi ini lebih hangat dibandingkan suhu lingkungan sehingga parsel akan memiliki kerapatan yang lebih rendah dan akan terus naik sampai pada level suhu parsel sama dengan suhu lingkungan.
Pada kondisi netral enviromental lapse rate akan sama dengan adiabatic lapse rate sehingga tidak ada gaya bouyancy yang memindahkan parsel. Parsel akan tetap pada level semula. Sedangkan pada kondisi stabil, suhu parsel udara akan lebih dingin daripada suhu lingkungannya sehingga parsel akan mempunyai kerapatan lebih besar dan cenderung kembali turun ke ketinggian awal atau dengan kata lain
enviromental lapse rate akan lebih kecil daripada adiabatic lapse rate sehingga gaya bouyancy yang memindahkan parsel akan memiliki arah yang berlawanan dengan perpindahannya.
Pada penentuan stabilitas udara diperlukan nilai suhu potensial. Suhu potensial merupakan suhu udara pada saat tekanan 1000 mb. Nilai suhu potensial dapat ditentukan berdasarkan nilai suhu udara berdasarkan persamaan berikut,
0.286
p T 1000
θ
=
Keterangan:
θ : suhu potensial (K) T : suhu udara (K) P : tekanan udara (mb)
Penentuan stabilitas udara dilakukan berdasarkan persamaan berikut ini,
dz 0
dθ> stabil
dz 0
dθ= netral
dz 0
dθ< tidak-stabil Keterangan:
θ : suhu potensial (K) z : ketinggian (meter)
Suatu parsel yang bergerak dalam kondisi adiabatik akan berosilasi yang menggambarkan kondisi stabilitas konvektif lapisan tersebut. Nilai osilasi digambarkan dalam frekuensi yang disebut Brunt Väisälä Frequency Square yang akan meningkat apabila kondisi lingkungan semakin stabil.
Brunt Väisälä Frequency Square dirumuskan sebagai berikut,
z θ θ N2 g
∂
= ∂
(Mc.Ilveen, 1986) Keterangan :
N2 : Brunt Väisälä frequency square (1/s2)
g : Percepatan gravitasi (m/s2) θ : Suhu potensial (Kelvin=ToC+273) z : Ketinggian (meter)
T : Suhu udara (Kelvin) P : Tekanan udara (mb) 2.2 Kelembaban Atmosfer
Uap air merupakan salah satu unsur penting di atmosfer karena merupakan sumber dari segala bentuk kondensasi dan curahan, mengandung bahang laten yang
merupakan sumber energi yang penting untuk sirkulasi atmosfer, serta banyaknya uap air dan distribusi vertikal uap air di dalam atmosfer mempengaruhi kestabilan atmosfer (Prawirowardoyo, 1996)
Menurut Trewartha dan Horn (1980), uap air mempunyai jumlah yang bervariasi mulai dari 3- 4% pada daerah lembab seperti kawasan tropis sampai bernilai nol di kawasan atmosfer yang tinggi. Pada umumnya, uap air terkonsentrasi pada ketinggian dekat permukaan yaitu sekitar kurang dari 10 kilometer di atas permukaan (Arya, 1999). Hal tersebut dikarenakan uap masuk ke atmosfer melalui evaporasi air dari permukaan daratan dan lautan.
Jumlah uap air sangat beragam tergantung kondisi penguapan pada daerah yang bersangkutan. Kandungan uap air yang tinggi terdapat di atas lautan dan hutan hujan tropis yang volumenya dapat mencapai tiga atau empat persen. Demikian pula sebaliknya, pada daerah gurun, uap air hanya merupakan bagian kecil sebesar 1%.
Istilah umum yang digunakan untuk menyatakan kandungan uap air adalah kelembaban. Kelembaban menyatakan jumlah air yang ada di udara dibandingkan dengan jumlah yang dapat disimpan pada suhunya. Untuk menyatakan nilai kelembaban dapat digunakan berbagai istilah seperti kelembaban mutlak, relatif, dan spesifik. Selain itu dapat juga dinyatakan dengan tekanan uap dan mixing ratio.
Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air persatuan volume udara. Sedangkan kelembaban relatif merupakan perbandingan antara tekanan uap air aktual dengan tekanan uap air jenuh pada kapasitas udara untuk menampung uap air (Handoko,1995). Selain itu, kelembaban relatif juga dapat dihitung dari nilai mixing ratio (r) dengan membandingkannya terhadap nilai mixing ratio jenuh (rs). Kelembaban ini biasanya dinyatakan dalam persen (%), secara matematis dapat dimyatakan dengan :
% r 100 RH r
s
×
=
2.3 Total Precipitable Water
Total precipitable water (TPW) di definisikan sebagai banyaknya kandungan uap air yang terkumpul dalam suatu kolom udara yang dapat diendapkan sekaligus diturunkan sebagai presipitasi, bila kandungan uap air dalam kolom tersebut
telah mengembun semua (Y. Viswanadham, 1981)
Jumlah air yang dapat diembunkan sekaligus diturunkan sebagai hujan belum dapat diketahui secara pasti, hal tersebut disebabkan stabilitas atmosfer, variasi kandungan uap air, perbedaan tekanan antara dua lapisan dan musim. Untuk mengetahui besarnya nilai TPW digunakan parameter tekanan (P), suhu (T), kelembaban relatif (RH), percepatan gravitasi bumi (g), mixing ratio (r) dan kerapatan uap air (ρ) disetiap lapisan atmosfer yang diamati.
Pengamatan melalui radiosonde atau peralatan lain memberikan pengukuran struktur vertikal atmosfer dalam bentuk tekanan P (mb), temperatur T (oC) dan kelembaban spesifik q (g kg-1) atau satuan lain yang sejenis.
Tebal atau jumlah air terkandung, dengan menggunakan data P dalam mb dan q dalam g kg-1, dapat dinyatakan dengan :
g (cm) 1
w =
∫
0z
p p
qdp
Persamaan ini digunakan untuk memperkirakan air terkandung di dalam suatu massa udara dengan menggunakan data kelembaban dan tekanan antara dua ketinggian (p0 dan pz) (Juaeni, 1988).
2.4 Pertumbuhan Awan Konvektif Salah satu faktor yang penting dalam proses pembentukan awan adalah konveksi massa udara permukaan ke atas. Awan- awan konvektif yang terbentuk akibat kenaikan udara di permukaan yang relatif panas banyak dijumpai di daerah-daerah sekitar ekouator. Hal tersebut dikarenakan daerah ekuator merupakan daerah konvergensi massa udara dari dua belahan bumi (ITCZ=Inter Tropical Convergence zone).
Awan yang berkembang vertikal dihasilkan oleh kantong massa udara yang hangat dan lembab yang masih mampu naik sampai ketinggian yang cukup tinggi setelah melewati batas kondensasi. Pertumbuhan tersebut disebabkan adanya pelepasan panas laten kondensasi yang cukup besar.
Menurut Tjasyono (1981) akibat penyerapan radiasi matahari oleh permukaan tanah tidak merata (daerah berbukit, daerah tumbuh-tumbuhan dan macam-macam jenis tanah), maka pertumbuhan awan konvektif
cenderung pada daerah dengan pemanasan paling kuat. Di atas daratan pada umumnya keawanan maksimum terjadi pada siang hingga sore hari yang diakibatkan oleh proses konveksi yang kuat terutama pada daerah tropis. Sedangkan pada daerah lautan, keawanan maksimum terjadi pada malam hari pada saat ketidakstabilan meningkat karena adanya pendinginan (pelepasan energi melalui radiasi) dari puncak awan.
Lapisan inversi merupakan hambatan bagi pertumbuhan awan konvektif karena lapisan ini adalah stabil (Tjasyono 1981, diacu dalam Wahab 2005). Hanya dengan up draft yang kuat lapisan ini dapat ditembus oleh awan. Karena adanya lapisan inversi ini, maka bentuk awan konvektif menjadi berubah, ada kalanya seperti cerobong atau seperti balok. Apabila terdapat lapisan inversi, maka kemungkinan untuk turun hujan hampir tidak ada.
2.5 Curah Hujan
Hujan merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung di atmosfer bebas (Haryanto, 1998). Besarnya curah hujan dan lokasi turunnnya curah hujan tergantung beberapa faktor, yaitu kelembaban udara, topografi, arah dan kecepatan angin, suhu udara, dan hadapan lereng (Sandy, 1987)
Menurut Seyhan (1990) suatu curah hujan berdasarkan genetik atau asal-usulnya dapat terjadi apabila didukung oleh tiga faktor utama, yaitu kolom udara yang lembab, inti kondensasi (partikel debu, kristal garam, dan lain-lain), dan suatu sarana untuk menaikan udara yang lembab ini sehingga kondensasi dapat berlangsung sebagai akibat udara yang bertambah dingin.
Proses hujan dimulai dengan udara yang naik dan kemudian temperatur akan turun dengan semakin tingginya ketinggian suatu tempat. Massa udara ini akan naik hingga mencapai titik jenuh, maka udara lembab ini akan mengalami kondensasi. Udara yang naik ini setelah melewati ketinggian kondensasi akan berubah menjadi awan, di dalamnya terjadi proses tumbukan dan penggabungan antar butir-butir air yang akhirnya meningkatkan massa dan volume.
Salah satu jenis hujan adalah hujan konvektif. Hujan konvektif disebabkan oleh naiknya massa udara yang panas dan ringan di sekitar udara yang lebih rapat dan dingin (Haryanto, 1998). Perbedaan suhu yang mencolok antara udara di bagian bawah
dekat permukaan tanah dengan udara di lapisan yang lebih tinggi terjadi akibat pemanasan permukaan tanah yang intens pada siang hari dan menimbulkan arus termal (konveksi) yang memindahkan massa udara di bagian bawah ke lapisan yang lebih tinggi, sehingga memberi peluang yang besar untuk proses pengembunan. Awan yang terjadi melalui proses ini disebut awan konvektif dan dapat menghasilkan hujan dengan curahan bervariasi, namun umumnya sangat lebat.
2.6 Prinsip Kerja Radiosonde
Radiosonde merupakan salah satu alat meteorologi yang digunakan untuk mengukur data meteorologi pada lapisan vertikal atmosfer (OFCM, 1997). Parameter yang diukur antara lain tekanan, suhu dan kelembaban relatif yang ditransmisikan oleh sensor ke stasiun peneriman di permukaan.
Radiosonde juga melakukan pengamatan arah dan kecepatan angin, oleh karena itu biasa juga disebut dengan rawinsonde.
Radiosonde terdiri dari dua bagian penting, yaitu seperangkat alat pengindera atau sensor dan suatu alat pemancar radio yang mengirimkan hasil-hasil pengamatan ke stasiun di permukaan dalam bentuk sinyal-sinyal radio (Tjasyono, 2004). Alat ini dinaikkan ke atas dengan menggantungkannya kepada sebuah balon yang diisi dengan gas yang lebih ringan dari udara sampai balon ini pecah. Setelah balon pecah, radiosonde akan turun ke bawah dengan menggunakan payung yang sudah tersedia.
Stasiun penerima di permukaan mengubah data yang berbentuk kode dalam tekanan, temperatur dan kelembaban.
Sebagai standar, nilai tekanan harus dinyatakan dalam hekto pascal (hPa), sedangkan nilai suhu dalam derajat celcius.
WMO merekomendasikan jarak minimum antara stasiun pengamatan radiosonde yaitu sekitar 250 km pada daerah daratan atau sekitar 1000 km pada daerah lautan atau daratan yang tidak berpenduduk.
Pengukuran dapat dilakukan satu sampai empat kali setiap harinya, namun secara umum dilakukan pengukuran dua kali sehari yaitu pada saat 00.00 and 12.00 UTC.
Radiosonde melakukan pengamatan tidak pada setiap lapisan atmosfer. Lapisan pengukuran radiosonde digolongkan menjadi tiga yaitu lapisan standar, signifikan dan tambahan. Prioritas pengukuran yang pertama adalah lapisan standar kemudian
lapisan signifikan dan yang terakhir adalah lapisan tambahan.
Lapisan standar merupakan lapisan isobarik yang dipilih pada tekanan 1000, 925, 850, 700, 500, 400, 300, 250, 200, 150, 100, 70, 50, 30, 20, 10 hPa. Pada lapisan tersebut, hasil pengamatan harus selalu dilaporkan. Apabila data tidak dapat mengukur pada tekanan yang sama pada tekanan standar, maka dilakukan interpolasi data.
Lapisan signifikan diambil pada saat : 1. Di permukaan
2. Ketinggian maksimum yang dapat dicapai oleh radiosonde
3. Satu lapisan antara tekanan 110 dan 100 hPa
4. Tropopause
5. Suhu maksimum dan minimum inversi serta lapisan isotermal pada lapisan di atas 300 hPa dan tebal 20 hPa
6. Suhu maksimum dan minimum pada semua lapisan inversi dengan perubahan suhu 2.5°C atau RH 20% pada tekanan lebih besar dari 300 hPa
7. Lapisan yang menunjukkan data meragukan atau hilang
Sedangkan lapisan tambahan dipilih pada lapisan antara lapisan standar dan signifikan yang mengacu pada nilai suhu dan kelembaban relatif berdasarkan skala tekanan logaritmik.
Gambar 1. Radiosonde
III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Bidang Pemodelan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung pada bulan Maret –Juni 2008.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat komputer dengan software Microsoft Office, Matlab versi 7.1, RAOB 5.1, serta SPSS versi 13 yang telah di-install di Bidang Pemodelan Iklim LAPAN-Bandung
Adapun bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
a. Data suhu, tekanan dan kelembaban relatif hasil pengukuran radiosonde yang diambil dari situs http://weather.uwyo.edu/upperair/seasia .html yang berupa data harian dan pengukuran setiap lapisan untuk dua daerah yaitu Padang (0.88 LS, 100.35 BT dan 3 MSL) dan Biak (1.18 LS,136.12 BT dan 11 MSL) antara Bulan Maret 2007 sampai dengan Februari 2008 pada masing-masing daerah.
b. Data curah hujan harian pada daerah Padang dan Biak untuk periode Maret 2007 sampai dengan Februari 2008.
3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Identifikasi Stabilitas Atmosfer Identifikasi stabilitas atmosfer dilakukan dengan mengamati nilai Brunt Väisälä Frequency Square (BVFS) yang dirumuskan sebagai berikut,
z θ θ N2 g
∂
= ∂
0.286
p T 1000
θ
=
(Mc.Ilveen, 1986) Keterangan :
N2 : Brunt Väisälä frequency square (1/s2) g : Percepatan gravitasi (m/s2)
θ : Suhu potensial (Kelvin=ToC+273) z : Ketinggian (meter)
T : Suhu udara (Kelvin) P : Tekanan udara (mb)
Nilai N2 yang dihasilkan dari penghitungan data radiosonde digambarkan dalam profil vertikal pada masing-masing
pengukuran dan dibandingkan untuk kedua daerah yang berbeda pada periode waktu tertentu. Semakin stabil suatu kondisi udara maka nilai Brunt Väisälä Frequency square semakin besar .
3.3.2 Estimasi TPW
TPW didefinisikan sebagai jumlah air dalam suatu kolom udara jika seluruh uap air dalam kolom tersebut mengalami kondensasi (Wiesner, 1970).
Untuk menduga nilai TPW ini menggunakan formula :
∫
∫
∫
= += +
=
= +
=
=
−
=
=
=
dz) p(z p
) p(z p dz
z z
z z dz z z
z z
v
i
i i
i i
i
dp g q
dz 10 qρ dz ρ W dengan :
W = precipitable water (mm) zi = ketinggian di i (m)
pzi = tekanan di ketinggian zi (mb) ρ = kerapatan uap air (kg/m3) q = kelembaban spesifik
Pengamatan melalui radiosonde memberikan pengukuran struktur vertikal atmosfer dalam bentuk tekanan p (mb), temperatur T (oC) dan kelembaban relatif (RH) (%).
( )
P,Tes T) (P, RH= e
× +
= 239.7 T
7.567.T s 6.11 10 e
(Riegel, 1992) Keterangan :
RH = kelembaban relatif (%) e = tekanan uap aktual (mb) es = tekanan uap jenuh (mb) T = suhu udara (oC)
Kelembaban spesifik adalah perbandingan massa uap air dengan massa udara lembab, sedangkan mixing ratio adalah perbandingan antara massa uap air dengan massa udara kering. Berdasarkan nilai kelembaban relatif maka untuk menentukan nilai kelembaban spesifik digunakan persamaan sebagai berikut,
( )
p 0.622e
p e e , p 0.622 e r
=
<<<<
= −
r 1 q r
= +
Keterangan :
r = mixing ratio (g/kg) q = kelembaban spesifik (g/kg) e = tekanan uap air (mb) p = tekanan udara (mb)
Massa uap air dalam satu satuan kolom udara adalah :
∫
=
z
0 vdz ρ W
dengan memasukkan persamaan hidrostatik (dp = - ρ g dz), diperoleh :
∫
∫
−
=
=
z
0 z
0
p
p p
p v
g qdp 1
g dp ρ W ρ
Persamaan ini digunakan untuk memperkirakan air terkandung antara dua ketinggian di dalam suatu massa udara dengan menggunakan data kelembaban dan tekanan terhadap ketinggian (Juaeni, 1988).
3.3.3 Fungsi Spectral density
Fungsi spektral density merupakan sebuah fungsi untuk melihat sifat suatu frekuensi dalam sebuah deret data (time series). Salah satu teknik atau metode analisis energi spektral density yang umum digunakan adalah FFT (Fast Fourier Transform). Deret fourier yang dapat dirumuskan sebagai berikut.
( )
∑
∞=
+ +
=
1
0 cos sin
) 2 (
i
r
r rt b rt
a a t F
Pada suatu selang (0,2π),(- π, π) dengan periode 2 π. Dimana :
∫
∫
−
−
=
=
π π π
π π
π π
dt rt t f a
dt t f a
cos ) 1 (
) 1 (
0
r=1,2,....
∫
−
=
π
π πf t rtdt
bn 1 ( )sin
Sedangkan untuk fungsi dari analisis spektral density ini dapat dituliskan sebagai berikut (Christopher. 1989):
) (
) ) (
( ω ω ω
d f = dF
Dimana
F(ω) merupakan fungsi dari distribusi energi spektral
3.3.4 Estimasi Hubungan antara TPW dengan Curah Hujan
Untuk mengetahui besar nilai TPW yang dapat diendapkan sekaligus diturunkan sebagai hujan maka nilai TPW harian yang diperoleh tersebut dibandingkan dengan hasil perhitungan curah hujan aktual dilapangan di atas kota Padang dan Biak.
Hubungan TPW dengan curah hujan ini diukur berdasarkan korelasi yang menunjukan keeratan diantara ke dua data tersebut. Korelasi dilakukan secara silang (Cross Correlation Function (CCF)) untuk menentukan lag yang memiliki korelasi yang tertinggi terhadap curah hujan.
Korelasi ditunjukan oleh nilai koefisien korelasinya, yakni terletak antara -1 dan +1.
Yang menjadi peubah input adalah TPW dan yang menjadi peubah respon adalah CH.
Formula perhitungan korelasi silang :
Sy Sx
Cxy yy(0) xx(0)C C
xy(k) C xy(k)
r = =
dimana:
) (k
r
xy : korelasi silang antara deret x dan deret y pada lag ke-k( )( )
∑−
= − + −
= − n k 1 t
k y Yt t x k X n (k) 1 Cxy
(kovarian antara deret x dan y pada lag ke-k)
( )
∑
=−
= n
1 t
2 t
xx X x
n (0) 1 C
(standar deviasi deret x)
( )
∑
=
−
= n
1 t
2 t
yy Y y
n (0) 1 C
(standar deviasi deret y)
Untuk menguji nilai korelasi silang diatas dengan tingkat kepercayaan 95% dari dilakukan pendekatan perhitungan kesalahan baku dengan rumus :
k n (k)) 1 S(rxy
= −
Gambar 2 Diagram alir penelitian.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Identifikasi Stabilitas Atmosfer 4.1.1 Identifikasi Stabilitas Atmosfer
Harian
Faktor yang menyebabkan pergerakan vertikal udara antara lain perbedaan suhu pada permukaan, efek front, perbedaan topografi, konvergensi dan divergensi (Donn, 1975).
Parameter yang digunakan untuk mengetahui kondisi stabilitas atmosfer adalah nilai Brunt Väisälä frequency square (N2). Menurut Mc.Ilveen (1986) Semakin stabil suatu kondisi udara maka nilai Brunt Väisälä Frequency square semakin besar .
Pengamatan nilai N2 dilakukan pada bulan Desember dan bulan Juni 2007.
Sebagai contoh pada daerah Padang, profil vertikal N2 digambarkan sebagai berikut,
Gambar 3 Profil vertikal N2 di daerah Padang tanggal 26 Desember 2007.
Gambar 4 Profil vertikal RH di daerah Padang tanggal 26 Desember 2007
Berdasarkan gambar 3, nilai N2 cenderung konstan sekitar 0.2x10-3 sampai kenaikan yang besar pada saat mencapai tropopause. Apabila didukung dengan kondisi pemanasan permukaan yang baik dan kelembaban udara yang tinggi, maka proses pengangkatan udara bisa terjadi secara maksimal sampai batas tropopause sehingga kemungkinan terbentuk awan- awan hujan yang besar sangatlah tinggi.
N2 bernilai positif menunjukkan keadaan atmosfer yang stabil. Pada N2 yang bernilai negatif menunjukkan keadaan atmosfer yang tidak stabil dan mengakibatkan suatu parsel udara akan bergerak vertikal ke atas.
Apabila dilihat dari profil kelembaban relatifnya, kondisi di permukaan cenderung konstan lembab sampai pada ketinggian 10 kilometer diatas permukaan. Di atas ketinggian tersebut, kelembaban relatif berkurang. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar uap air akan terkonsentrasi pada ketinggian yang rendah yaitu di bawah 10 kilometer (Arya, 1999)
Gambar 5 Profil vertikal N2 di daerah Padang tanggal 26 Juni 2007
Gambar 6 Profil vertikal kelembaban relatif di daerah Padang tanggal 26 Juni 2007.
Berkebalikan dengan kondisi bulan Desember di daerah Padang, nilai N2 pada bulan Juni cenderung mengalami perubahan pada daerah sekitar permukaan. Kenaikan nilai N2 di dekat permukaan merupakan indikasi kestabilan yang dapat menghambat kenaikan massa udara. Hanya dengan up draft yang kuat lapisan ini dapat ditembus oleh awan (Tjasyono 1981 dalam Wahab 2005).
Pada kondisi atmosfer stabil ini, apabila tidak ada gaya up draft yang kuat sehingga massa udara yang terangkat ke atas akan kembali ke posisi semula (Stull, 2004).
Apabila dilihat dari profil kelembaban relatifnya maka secara umum kondisi kelembaban pada profil tersebut cenderung berfluktuasi dan menurun seiring dengan ketinggian. Sehingga dapat dikatakan seiring dengan pertambahan ketinggian kelembaban relatifnya menjadi semakin rendah akibat kondisi atmosfer yang stabil di daerah dekat permukaan. Akibatnya kemungkinan terbentuknya awan besar adalah kecil.
Apabila ditinjau dari pemanasan permukaan, pada musim kering dengan intensitas radiasi yang besar kemungkinan terjadi pengangkatan massa udara lebih besar dibandingkan dengan musim basah, hal tersebut ditunjukkan dengan ketinggian tropopause musim kering lebih tinggi, namun kondisi kelembabanya juga berkebalikan sehingga peluang terbentuknya awan hujan akan lebih kecil walaupun faktor pemanasan permukaannya sangat mendukung.
Pada daerah biak, dengan waktu pengamatan yang sama, kondisi profil vertikal N2 pada bulan Desember, memiliki
kondisi yang sama dengan daerah Padang.
Hal yang membedakan adalah profil kelembaban relatifnya. Semakin tinggi, nilai kelembaban relatif semakin rendah, sehingga keadaan secara umum lebih kering bila dibandingakan dengan daerah Padang.
Hal tersebut dikarenakan oleh posisi lokal masing-masing daerah.
Gambar 7 Profil vertikal N2 di daerah Biak tanggal 26 Desember 2007.
Gambar 8 Profil vertikal kelembaban relatif di daerah Biak tanggal 26 Desember 2007.
Sedangkan untuk bulan Juni pada daerah Biak kondisi stabilitas atmosfer cenderung sama dengan bulan Desember.
Hal yang membedakan adalah, pada bulan Juni, nilai N2 jauh lebih besar perbedaannya saat mencapai tropopause. Untuk nilai kelembaban relatifnya, seiring dengan naiknya ketinggian, maka kondisi udara semakin kering. Sehingga antara bulan Desember dan bulan Juni tidak terjadi perbedaan yang mencolok diantara keduanya.
Gambar 9 Profil vertikal N2 di daerah Biak tanggal 26 Juni 2007.
Gambar 10 Profil vertikal kelembaban relatif di daerah Biak tanggal 26 Juni 2007.
4.1.2 Identifikasi Stabilitas Atmosfer Rata-rata Bulanan
Kondisi rata-rata per bulan Desember dan bulan Juni pada daerah Padang digambarkan pada profil gambar 11 dan 12,
Gambar 11 Profil vertikal N2 di daerah Padang bulan Desember 2007.
Gambar 12 Profil vertikal N2 di daerah Padang bulan Juni 2007.
Secara umum, pada saat bulan Desember kondisi atmosfir relatif tidak stabil sehingga pengangkatan massa udara terjadi secara intensif sampai ketinggian tropopause. Didukung dengan kondisi udara yang lembab, maka peluang terbentuknya awan-awan besar seperti Cumulonimbus akan sangat besar. Sedangkan pada bulan Juni, kondisi kolom udara cenderung stabil ditunjukkan dengan nilai N2 yang relatif berubah-ubah lebih tinggi, sehingga pengangkatan massa udara kurang intensif yang mengakibatkan kondisi lebih kering.
Gambar 13 Profil vertikal N2 di daerah Biak bulan Desember 2007.
Gambar 14 Profil vertikal N2 di daerah Biak bulan Juni 2007.
Kondisi pada daerah Padang sangatlah berbeda apabila dibandingkan dengan profil rata-rata untuk daerah Biak. Pada daerah Biak selama bulan Desember dan Bulan Juni
rata-rata memiliki kondisi atmosfer yang tidak stabil sehingga peluang up draft yang besar sama-sama tinggi.
4.2 Estimasi TPW
Jumlah kandungan uap air yang dapat diendapkan sekaligus diturunkan sebagai hujan dihitung antara dua level tekanan.
Hasil TPW berupa presipitasi yang merupakan setiap produk dari kondensasi uap air di atmosfer. Jenis presipitasi antara lain hujan, salju, hujan es, embun dan kabut.
Jumlah total kandungan uap air setiap hasil pengukuran radiosonde menunjukkan bahwa massa udara yang banyak mengandung uap air diperoleh disekitar troposfer bawah (kurang dari 10 km).
Analisis selanjutnya dilakukan pada nilai TPW selama satu tahun. Nilai yang dianalisis adalah power spektral density.
Teknik yang digunakan adalah dengan fast fourier transform (FFT). Dengan teknik FFT periode dari deret waktu yang tersembunyi dapat dilihat sehingga puncak osilasi TPW akan terlihat sebagai puncak (peak) energi spektral.
Pada daerah Padang analisis FFT dilakukan pada data selama kurang lebih satu tahun mulai 1 Maret 2007-29 Februari 2008. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut,
Gambar 15 Power Spektral Density TPW daerah Padang periode 1 Maret 2007-29 Februari 2008.
Berdasarkan gambar 15, dapat dilihat bahwa power spektral density terjadi sekitar 60 harian. Hal tersebut menunjukkan kondisi TPW yang sama akan berulang kembali pada 60 hari berikutnya. Hasil yang serupa dapat dilihat pada analisi wavelet berikut ,
Gambar 16 Wavelet TPW daerah Padang Padang periode 1 Maret 2007-29 Februari 2008.
Pada daerah Biak, juga terjadi kondisi yang sama. Dengan menganalisis nilai TPW mulai tanggal 1 Maret sampai dengan 29 Februari 2008 maka dapat terlihat nilai periode osilasi sebesar kurang lebih 90 harian. Berikut energi spektral untuk nilai TPW daerah Biak.
Gambar 17 Energi spektral TPW daerah Biak periode 1 Maret 2007-29 Februari 2008.
Gambar 18 Wavelet TPW daerah Biak periode 19 Oktober 2007-29 Februari 2008.
Apabila kedua daerah yaitu Padang dan Biak dibandingkan maka pola osilasi pada daerah Biak cenderung lebih panjang daripada daerah Padang
~60 harian
~90 harian
4.3 Estimasi Hubungan antara TPW dengan Curah Hujan
Berdasarkan hasil perhitungan, didapatkan bahwa tidak setiap waktu nilai TPW dapat diturunkan sebagai hujan berapapun nilainya baik besar maupun kecil.
Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan pada daerah Padang,
Gambar 19 TPW dan curah hujan bulan Juni 2007 di daerah Padang.
Gambar 20 TPW dan curah hujan bulan Desember 2007 di daerah Padang.
Secara umum, jumlah TPW baik pada bulan Desember maupun Juni relatif konstan yaitu sekitar 60 mm dengan nilai rata-rata tahunan sebesar 50.55 mm, namun nilai uap air yang diturunkan sebagai hujan lebih besar terjadi pada bulan Desember. Hal tersebut dipengaruhi faktor-faktor lain yang tergantung kondisi lokal.
Sedangkan untuk daerah Biak, terjadi juga hal yang serupa yaitu nilai TPW yang relatif konstan pada periode yang sama.
Namun nilainya lebih kecil 10 mm dibandingkan daerah Padang pada bulan Desember dan Juni dengan rata-rata tahunan sebesar 39.6 mm.
Gambar 21 TPW dan curah hujan bulan Juni 2007 di daerah Biak.
Gambar 22 TPW dan curah hujan bulan Desember 2007 di daerah Biak.
Pada daerah Padang, hujan yang terjadi relatif tidak kontinu namun setiap kejadian hujan, intensitasnya dinilai cukup besar.
Jumlah TPW kumulatif pada bulan Desember adalah 1478,79 mm dan yang diturunkan sebagai hujan adalah 461.4 mm.
Sedangkan pada bulan Juni kumulatif nilai TPW adalah 1513,35 dengan jumlah hujan 283.
Di daerah Biak jumlah kumulatif TPW lebih kecil dibandingkan dengan daerah Padang, yaitu 1075,73 mm di bulan Desember dan 1209,98 mm di bulan Juni.
Jumlah kumulatif yang diturunkan sebagai hujan untuk bulan Juni dan Desember relatif sama dan kontinu yaitu 229.6 dan 229.95 mm.
Analisis statistik dilakukan dengan tujuan untuk mengestimasi hubungan antara nilai TPW dan curah hujan. Metode yang digunakan adalah analisis cross-correlation (korelasi silang). Keterkaitan diantara kedua variabel itu dapat terlihat pada grafik yang menggambarkan keduanya.
Estimasi hubungan antara TPW dan curah hujan dilakukan pada kedua daerah kajian yaitu daerah Padang dan Biak. Pada daerah Padang, pengambilan data dilakukan selama 1 November 2007 sampai dengan 29 Februari 2008 untuk kedua variabel. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut.
7 6 5 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 -5 -6 -7
Lag Number 1.0
0.5
0.0
-0.5
-1.0
CCF
Lower Confidence Limit Upper Confidence Limit Coefficient Korelasi TPW dan Curah Hujan Daerah Padang
Gambar 23 Korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Padang pada periode 1 November 2007 sampai dengan 29 Februari 2008.
Tabel 1 Nilai korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Padang pada periode November 2007-Februari 2008
Lag Cross
Correlation Std.Error(a)
-7 -.031 .106
-6 -.098 .105
-5 -.026 .105
-4 .117 .104
-3 .067 .104
-2 .015 .103
-1 .103 .103
0 .053 .102
1 -.260 .103
2 -.294 .103
3 .036 .104
4 .070 .104
5 .011 .105
6 -.016 .105
7 .058 .106
Korelasi silang dilakukan dengan jumlah data sebanyak 121 data (n=121) maka selang kepercayaan adalah
5 . 0
2 n
yaitu sebesar -0.182 sampai dengan 0.182. dapat dilihat dari grafik nilai korelasi silang, tidak semua nilai berada pada selang kepercayaan.
Pada lag 1 melebihi selang kepercayaan yaitu -0.260 dan pada lag 2 yaitu -0.294 maka berarti terjadi korelasi positif antara nilai TPW dan curah hujan pada daerah Padang diantara 1 November 2007 sampai dengan 29 Februari 2008. Sehingga apabila terjadi kenaikan TPW, nilai curah hujan juga
akan meningkat. TPW akan terbentuk sebagai hujan dengan jeda waktu (time lag) sebesar satu hari.
Pada daerah Biak juga dilakukan analisis statistik antara TPW dan curah hujan pada periode yang sama yaitu 1 November 2007 sampai dengan 29 Februari 2008. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut,
7 6 5 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 -5 -6 -7
Lag Number 1.0
0.5
0.0
-0.5
-1.0
CCF
Lower Confidence Limit Upper Confidence Limit Coefficient Korelasi TPW dan Curah Hujan di Daerah Biak
Gambar 24 Korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Biak pada periode November 2007-Februari 2008.
Tabel 2 Nilai korelasi silang TPW dengan curah hujan daerah Biak pada periode November 2007-Februari 2008
Lag Cross
Correlation Std.Error(a)
-7 .136 .115
-6 .126 .114
-5 .182 .113
-4 .105 .113
-3 .030 .112
-2 .118 .111
-1 .162 .110
0 .219 .110
1 .252 .110
2 .089 .111
3 -.113 .112
4 .053 .113
5 .165 .113
6 .046 .114
7 -.004 .115
Berdasarakan hasil korelasi silang, dengan data yang diuji sebanyak 121 data (n=121) maka nilai selang kepercayaan
adalah
5 . 0
2 n
yaitu sebesar -0.182 sampai dengan 0.182. Dari grafik korelasi silang di atas, maka dapat dilihat bahwa pada lag 1 dan lag 0 dengan nilai korelasi sebesar 0.252 dan 0.219 melebihi batas selang kepercayaan. Sedangkan data yang lainnya nilai korelasinya masih berada pada selang kepercayaan. Hal tersebut menggambarkan bahwa antara kedua variabel yaitu TPW dan curah hujan masih memiliki korelasi silang seperti halnya pada daerah Padang. Lag Time terbentuknya hujan pada daerah Biak juga sebesar satu hari. Nilai korelasi yang kecil menunjukkan hubungan diantara keduanya lemah. Hal tersebut disebabkan nilai TPW merupakan nilai gabungan semua dari produk presipitasi tidak hanya curah hujan tetapi juga embun dan virga.
Sehingga kandungan uap air tidak menggambarkan secara langsung jumlah curah hujan di permukaan.
KESIMPULAN
Berdasarkan data hasil pengukuran radiosonde, besarnya TPW (Total Precipitable Water) pada daerah Padang dan Biak relatif konstan sepanjang tahun dengan rata-rata pada daerah Padang yaitu 50.5 mm dan pada daerah Biak yaitu 39.6 mm
Pada kedua daerah Nilai Brunt Väisälä frequency square (N2) pada permukaan relatif konstan di bulan Desember sehingga pengangkatan massa udara bisa terjadi lebih intensif dan peluang pembentukan awan hujan lebih besar.
Sedangkan pada bulan Juni terjadi hal yang sebaliknya,N2 pada permukaan cenderung berubah-ubah, sehingga proses pengangkatan massa udara kurang intensif.
Osilasi TPW pada daerah padang terjadi sekita 60 harian dan daerah Biak sekitar 90 harian.
Hasil analisis statistik antara TPW dan curah hujan daerah Padang dan Biak menunjukkan korelasi silang diantara keduanya sehingga kedua variabel ini saling berpengaruh dengan nilai maksimum 0.294 dan selang waktu (lag time) adalah 1 hari.
DAFTAR PUSTAKA
Ahrens C. D. 2007. Meteorology Today : An Introduction to Weather, Climate, and the Environment. Eight ed. Canada : Thomson Brooks/Cole.
Arya, S. P. 1999. Air Pollution Meteorology and Dispertion. New York : Oxford University Press.
Donn, W. L. 1975. Meteorology. New York : Mc. Graw Hill, Inc.
Juaeni, Ina. 1988. Air Terkandung dan Hubungannya dengan Titik Embun Permukaan, Awan dan Hujan. Skripsi.
Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMIPA – ITB. Bandung.
Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya
Haryanto, U. 1998. Pengaruh Kecenderungan perubahan Indeks Osilasi pada Curah Hujan DAS Citarum.
Jurnal IPTEK Iklim dan Cuaca. No.02.
Tahun 02. 1998.
Mc.Ilveen. 1986. Basic Meteorology a Physical Outline. England : Van Nostrand Reinhold (UK) Co.Ltd.
[OFCM] Ofice of the Federal Coordinator for Meteorological Services and Supporting Research. 1997. Federal Meteorological Handbook No.3.
Washington DC : OFCM.
http://www.ofcm.gov/fmh3/pdf/12-app- d.pdf . [16 Juni 2008]
Riegel, C.A. 1992. Fundamental of atmospheric Dynamics and Thermodynamics. Singapore : World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd.
Sandy, I. M. 1987. Iklim Regional Indonesia. Jakarta: Jurusan Geografi FMIPA. UI.
Stull R . 2004. Meteorology For Scoentis And Engineers. United states : Brooks/Cole Thomson Learning.
Viswanadham, Y. 1981. The Relationship Between Total Precipitable Water and Surface Dew Poin. Jour.of App Met.
Vol. 20 No.1. p:5-12
Weisner, C.J. 1970. Hydrometeorology.
Australia :School of Civil Engineering.
University of New South Wales.
Prawirowardoyo, S. 1996. Meteorologi.
Bandung: ITB.
Renggono, Findy. 2000. Awan Hujan di Serpong Pengamatan dengan Boundary Layer Radar. Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca Vol.1, No.1, Juni 2000.
Seyhan, Ersin. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Tjasyono, Bayong. 2004. Klimatologi.
Bandung : Institut Teknologi Bandung.
Trewartha, G.T., dan L.H. Horn. 1980. An Introduction to Climate, 5th ed.,. New York :Mc-Grawl_Hill. International Company.
Wahab, F. M. A. 2005. Estimasi Total Precipitable Water Berdasarkan Analisis Data Radio Acoustic Sounding System (RASS) Di Atas Kototabang Sumatera Barat [skripsi]. Bogor : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Wyoming University. 2008. Upper air Data. http://weather.uwyo.edu/ upperair/
seasia.html. [1 Maret 2008].
LAMPIRAN
Lampiran 1 Curah Hujan Bulanan di Daerah Padang dan Biak Bulan Maret 2007-Februari 2008
Lampiran 2
Pola Angin dan Curah Hujan Bulan Juni 2007 dan Desember 2007 di Wilayah Indonesia
Lampiran 3 Curah Hujan Harian Bulan Desember dan Juni 2007 Pd
g
Bia Pd k
g
Bia k
Lampiran 4 Profil Vertikal N2 di Daerah Padang
Lampiran 5 Profil Vertikal N2 di Daerah Biak
Lampiran 6 Profil Vertikal RH di Daerah Padang
Lampiran 7 Profil Vertikal RH di Daerah Biak
Lampiran 8 Profil Vertikal N2 Pada Ketinggian 15-18 km di Daerah Padang dan Biak
Lampiran 9 Data TPW di Daerah Padang
Tanggal Bulan TPW
1 mar -
2 mar 52.7979
3 mar 43.1736
4 mar 53.8182
5 mar 54.6855
6 mar 44.8844
7 mar 51.3806
8 mar 45.3953
9 mar 48.143
10 mar 51.0905
11 mar 27.7812
12 mar -
13 mar 52.7032
14 mar 57.8583
15 mar 43.593
16 mar 54.7877
17 mar 49.8225
18 mar 48.8264
19 mar 54.9933
20 mar 53.1409
21 mar 56.811
22 mar 50.4132
23 mar -
24 mar 55.5028
25 mar -
26 mar 37.4052
27 mar 58.9246
28 mar 49.9643
29 mar 48.7852
30 mar 51.1657
31 mar 53.7655
1 apr 57.2435
2 apr 53.0485
3 apr 58.4889
4 apr 8.1094
5 apr 54.1353
6 apr 54.5679
7 apr 50.5639
8 apr 52.0883
9 apr 45.922
10 apr 53.6373
11 apr 57.6679
12 apr 51.3262
13 apr 55.2859
14 apr 37.8702
15 apr 55.9929
16 apr 58.9655
17 apr 50.3693
18 apr 49.9397
19 apr 44.9343
20 apr -
21 apr 55.2216
22 apr 48.3938
23 apr 41.8476
24 apr -
25 apr 11.3189
26 apr 42.0736
27 apr -
28 apr -
29 apr 49.4988
30 apr 58.0536
1 mei 63.5286
2 mei 35.6112
3 mei -
4 mei -
5 mei -
6 mei 53.7758
7 mei 55.4783
8 mei 52.24
9 mei 16.0821
10 mei 41.4428
11 mei 54.9322
12 mei 57.0824
13 mei 55.5835
14 mei 57.7097
15 mei 54.6458
16 mei 51.3819
17 mei 51.5584
18 mei 53.6477
19 mei 50.0194
20 mei 45.4804
21 mei 62.8989
22 mei 50.7525
23 mei 53.3732
24 mei -
25 mei 52.9934
26 mei 53.4666
27 mei 46.971
28 mei 52.3773
29 mei 52.3957
30 mei 56.546
31 mei 52.4028
1 juni 55.4355
2 juni 58.9404
3 juni 48.6583
4 juni 52.137
5 juni 97.5094
6 juni 36.2773
7 juni 56.4652
8 juni 55.7382
9 juni 50.0312
10 juni 55.3121
11 juni 53.6621
12 juni 54.0773
13 juni 55.6218
14 juni 56.45
15 juni 57.9762
16 juni 57.244
17 juni -
18 juni 53.4688
19 juni 55.1886
20 juni 49.0546
21 juni 22.597
22 juni 56.9154
23 juni 59.6597
24 juni 70.3847
25 juni 54.968
26 juni 45.2167
27 juni 45.655
28 juni 14.3291
29 juni 84.38
30 juni -
1 jul 45.8948
2 jul 46.2952
3 jul 28.2737
4 jul 45.7791
5 jul 47.9914
6 jul 49.0976
7 jul 45.355
8 jul 54.4679
9 jul 51.2922
10 jul 50.8992
11 jul -
12 jul 48.171
13 jul 49.7003
14 jul 47.291
15 jul 46.1314
16 jul -
17 jul 45.9797
18 jul 48.8842
19 jul 55.9476
20 jul 48.2296
21 jul 54.581
22 jul 52.449
23 jul 49.9677
24 jul 52.386
25 jul 51.4694
26 jul 47.8566
27 jul 38.1065
28 jul 53.5191
29 jul 53.308
30 jul 45.3417
31 jul 48.5989
1 agst 46.1225
2 agst 47.7427
3 agst 46.9878
4 agst 27.11
5 agst 49.384
6 agst 46.996
7 agst 50.0346
8 agst 59.5633
9 agst 47.8898
10 agst -
11 agst 46.7385
12 agst 30.37
13 agst 46.2611
14 agst 79.96
15 agst 45.0399
16 agst 48.6274
17 agst 56.4651
18 agst 56.2235
19 agst 50.9229
20 agst 48.9514
21 agst 38.5472
22 agst 51.461
23 agst 44.8064
24 agst 34.89
25 agst 49.44
26 agst 35.77
27 agst 43.58
28 agst 42.95
29 agst 45.8607
30 agst 51.3827
31 agst 41.26
1 sept 46.629
2 sept 47.9359
3 sept 50.4856
4 sept 48.455
5 sept 48.0706
6 sept 57.4763
7 sept 56.2724
8 sept -
9 sept 50.0386
10 sept 48.4329
11 sept 51.1533
12 sept 48.752
13 sept 50.3214
14 sept 51.1595
15 sept 55.513
16 sept 37.6163
17 sept 37.6163
18 sept 43.745
19 sept 49.4471
20 sept 52.9539
21 sept 52.1669
22 sept 53.3213
23 sept 29.7184
24 sept 54.5844
25 sept 52.322
26 sept 56.0024
27 sept 52.9804
28 sept 49.61
29 sept 42.0085
30 sept 51.0063
1 oct -
2 oct 59.7947
3 oct 47.5478
4 oct 51.0315
5 oct 46.0714
6 oct 48.6802
7 oct 52.3642
8 oct 49.5391
9 oct 50.4296
10 oct -
11 oct 55.7687
12 oct 50.7259
13 oct 56.6091
14 oct 53.0711
15 oct 48.8089
16 oct 52.5446
17 oct 50.1148
18 oct 53.8141
19 oct 50.74
20 oct 52.832
21 oct 54.6684
22 oct 163.9398
23 oct 42.7696
24 oct 51.0863
25 oct 48.1582
26 oct 51.0511
27 oct 56.0641
28 oct 56.8353
29 oct 59.1033
30 oct -
31 oct 51.8284
1 nov 53.9092
2 nov 52.1133
3 nov -
4 nov 49.8762
5 nov 55.3938
6 nov 56.1061
7 nov 52.0804
8 nov 53.6327
9 nov 55.9925
10 nov -
11 nov 53.7861
12 nov -
13 nov 43.94
14 nov 50.4733
15 nov 50.5279
16 nov 47.117
17 nov 53.9894
18 nov 48.2525
19 nov 48.9433
20 nov 53.2565
21 nov 47.5152
22 nov 47.1107
23 nov 44.0867
24 nov 57.6834
25 nov -
26 nov 52.6874
27 nov 51.9617
28 nov 53.4164
29 nov 51.8065
30 nov 49.9333
1 des 59.2968
2 des 57.8953
3 des 42.5048
4 des 30.2445
5 des 39.8605
6 des 53.4575
7 des 55.0043
8 des 61.3291
9 des 57.2648
10 des 50.2026
11 des 53.6966
12 des 46.5323
13 des 59.154
14 des 52.2758
15 des 50.0968
16 des 58.0542
17 des 53.1313
18 des 55.4869
19 des 40.1208
20 des 50.3048
21 des 49.0894
22 des 43.8738
23 des -
24 des -
25 des 54.8378
26 des 54.2872
27 des 51.7911
28 des 49.8369
29 des 54.0273
30 des 49.1437
31 des 45.9857
1 jan 49.1364
2 jan 48.7251
3 jan 44.5512
4 jan -
5 jan 49.6024
6 jan 50.5076
7 jan 52.2559
8 jan 51.8835
9 jan 51.884
10 jan 56.2156
11 jan 48.1992
12 jan 52.7561
13 jan 49.438
14 jan 51.7583
15 jan 53.845
16 jan 54.1757
17 jan 43.8733
18 jan 52.6092
19 jan 50.9718
20 jan 50.1822
21 jan 54.5336
22 jan 52.9018
23 jan 54.3105
24 jan 51.135
25 jan 53.3188
26 jan 51.9634
27 jan 52.6467
28 jan 55.7729
29 jan 57.4615
30 jan 56.3052
31 jan 56.2145
1 feb 54.8742
2 feb 48.6873
3 feb 52.4116
4 feb 51.9439
5 feb 45.9169
6 feb 52.2179
7 feb 48.9608
8 feb 51.3522
9 feb 43.5743
10 feb 43.9861
11 feb 57.8967
12 feb 51.7436
13 feb 45.3571
14 feb 49.6707
15 feb 52.6634
16 feb 50.4125
17 feb 55.0421
18 feb 51.5497
19 feb 49.5229
20 feb 52.4026
21 feb 49.0713
22 feb 53.5679
23 feb 57.9102
24 feb 49.9246
25 feb 50.6549
26 feb 59.8254
27 feb 54.8226
28 feb 48.7366
29 feb 53.0916