3
BAB II PEMAHAMAN PROYEK
2.1 Pengertian Proyek
Secara bahasa, Islamic Center memiliki pengertian berupa pusat kegiatan yang berhubungan dengan Islam. Pengertian dasar tersebut menjadi acuan sederhana dalam menentukan fungsi-fungsi pada pembentukan ruang. Hal-hal yang menyertai definisi utama ini merupakan hasil kajian yang relatif terhadap pengembangan Islamic Center itu sendiri. Sebagai tempat dengan nama yang menyandang agama, kaitannya terhadap spiritualitas tentu dipandang penting. Meskipun keberagaman kegiatan yang ada menimbulkan interaksi sosial yang berbeda, esensi Islamic Center sebagai tempat ibadah tetap harus terlihat. Fikih2 Islam dengan kompleksitas
yang tinggi juga berperan dalam membantu mengatur penataan ruang secara arsitektural sehingga lingkup Islamic Center lebih jelas.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI mengartikan Islamic Center sebagai lembaga keagamaan yang bertujuan untuk membina dan melaksanakan dakwah dalam era pembangunan. Pengertian ini tentunya sejalan dengan visi Kementerian Agama dalam membangun masyarakat yang saleh, moderat, cerdas, serta unggul (Kemenag, 2017).
Proyek berupa perancangan yang terpadu dan konseptual sebuah pusat kegiatan Islam atau yang dikenal dengan istilah Islamic Center tersebut. Lokasi yang digagas berada di daerah kota Metro, Lampung. Kota Metro merupakan salah satu kota besar di Lampung dan memiliki penganut Islam lebih dari 90%, namun belum memiliki Islamic Center yang cukup luas dengan fasilitas yang tergolong lengkap. Proyek ini dimaksudkan agar memiliki hasil rancangan yang berguna dalam membentuk karakter masyarakat dengan terpenuhinya fasilitas pusat informasi dan pembinaan kelembagaan Islam. Manfaat hasil rancangan juga harus terlihat dari peran kegiatan yang terbentuk di ruang atau area Islamic Center dalam mengembangkan gagasan yang berhubungan dengan kebudayaan dan keagamaan secara terintegrasi.
2 Bidang ilmu syariat Islam yang membahas persoalan hukun untuk mengatur berbagai aspek kehidupan baik kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun dengan hubungan dengan Tuhan.
4
2.2 Tipologi Proyek
Islamic Center bermula dari semangat bersilaturahmi muslim di negara barat karena sedikitnya penganut Islam. Sebuah ruang dibutuhkan untuk menampung kegiatan Islami seperti beribadah dan menuntut ilmu sambil bersosialisasi. Kegiatan tersebut tak bisa dilakukan di tempat umum karena diversitas beragama. Namun dalam perkembangannya, Islamic Center telah menjadi pusat peradaban yang bisa dilihat dari terbangunnya berbagai Islamic Center bahkan di daerah yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Melihat lebih sempit bangunan utama Islamic Center yaitu masjid, pada pengertian dasarnya yang menjadikan masjid menjadi sebuah masjid adalah memiliki makna berupa dinding yang secara tepat menghadap kiblat, tidak harus memiliki atap, tidak ada ukuran minimum, tidak harus tertutup keseluruhan ruang, dan tidak membutuhkan aksesori liturgi (Hillenbrand, 1994). Namun sejalan dengan perkembangan arsitektur Islam masjid menjadi bangunan dengan makna yang lebih dari sekadar tempat untuk sujud. Masjid menjadi Rumah Tuhan yang harus dimuliakan, sehingga masjid memperoleh penerapan optimal dalam hal keterampilan estetika, teknologi, serta falsafah dalam rangkaian sejarah arsitektur Islam (Barliana, 2008).
Sama halnya dengan Islamic Center, bahwa yang menjadikan sebuah tempat menjadi pusat kegiatan islam adalah dengan menerapkan kaidah islami pada desain ruang dan fungsi bangunan. Islamic Center merupakan suatu lembaga yang meliputi beberapa fungsi yaitu sebagai wadah untuk bermusyawarah mengenai permasalahan baik yang berhubungan dengan agama maupun kehidupan bermasyarakat, sebagai pusat informasi, serta sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengkajian Islam (Sukmawati, 2009). Jika kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dapat terpenuhi dari segala level maka tempat tersebut masuk ke dalam tipologi Islamic Center berdasarkan fungsi.
Tipologi Islamic Center yang ada di Indonesia berdasarkan tampak eksterior sangat terpengaruh oleh arsitektur Timur Tengah. Bangunan utama masjid menjadi acauan terhadap bangunan lain jika merupakan multibangunan. Ornamentasi yang melimpah, penerapan arc, serta kubah dengan berbagai bentuk sudah menjadi identitas tersendiri. Namun di beberapa bangunan lama masih terlihat lokalitas pada atap masjid yang berbentuk limas serta bertumpuk. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan akan arsitektur timur tengah sehingga langgam nusantara bisa diterapkan dengan baik.
5
2.3 Studi Preseden
A. Islamic Center Tubaba
Terletak di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, Islamic Center Tubaba ini didesain oleh Andramatin dengan bentuk yang unik. Identitas masjid yang umum dikenal dengan adanya kubah dihilangkan dalam desain ini. Namun isu filosofis tetap dijawab secara kental pada perancangan jumlah dan ukuran struktur bangunan. Misalnya tinggi masjid yang memiliki altitud 30 meter mengibaratkan jumlah juz dalam Al-Quran. Luas lantai dasar yang dinaungi berukuran 34x34 meter berdasarkan jumlah sujud salat wajib. Dimensi penutup yang menaungi masjid serta sisi-sisi masjid membentuk segi lima sebagai representasi rukun islam yang berjumlah 5 buah. Kolom-kolom yang menopang masjid berjumlah 114 mengibaratkan jumlah surah dalam Al-Quran. Penerapan asmaul husna juga ditunjukkan pada lampu-lampu plafon yang berjumlah 99 buah.
Di sebelah masjid yang dipisah oleh pelataran terdapat balai kebudayaan yang perwajahannya kontras dengan bangunan masjid. Balai ini juga berfungsi sebagai balai desa. Langgam yang diambil merupakan arsitektur rumah sesat dengan bentuk atap menyerupai aksara Lampung. Kolam buatan didesain di sekitar balai dan masjid untuk area serapan dan pendingin suhu mikro alami. Kolam yang berada di dekat balai memiliki sirkulasi pedestrian yang membelah kolam sebagai representasi shiratal mustaqim. Kolam yang berada di dekat masjid terlihat organik dan lebih luas. Kedua kolam ini merupakan kolam ikan yang bisa diberi makan oleh pengunjung.
6 Perancangan area Islamic Center Tubaba ini mengambil konsep regionalisme arsitektur dan menerapakan kejujuran arsitektur pada fasad bangunan. Tapak ditata sedemikian rupa sehingga setiap elemen lanskap yang ada di area ini memberikan refleksi arsitektur dan ketuhanan yang terintegrasi namun tetap menjadikan masjid sebagai focal point.
B. Andalusia Islamic Center
Masjid di Islamic Center ini memiliki kapasitas yang sama dengan perancangan masjid Islamic Center Metro yaitu 2.500 jemaah. Fasilitas yang disediakan juga memiliki kemiripan fungsi seperti kantor sekretariat, madrasah, perpustakaan, aula serba guna, poliklinik, dan lain-lain. Karena digagas oleh tokoh ekonomi islam, maka sistem yang diterapkan pada Islamic Center ini benar-benar luas, bukan sekadar tempat ibadah. Terdapat produk ekonomi dari masyarakat yang dibina dari Islamic Center ini. Selain itu, satuan pengamanan juga profesional serta parkir yang memiliki gate sendiri. Pengelolaan yang sustainable dapat menjaga ketahanan pemakaian dan tetap menjadikan Islamic Center ini sebagai pusat peradaban.
Gambar 2. 2 Denah Lokasi Islamic Center Tubaba Sumber: google.com/maps
7 Salah satu program untuk mencapai tujuan visi Masjid Andalusia adalah kajian-kajian dan siraman rohani yang berusaha kami sajikan dalam berbagai bentuk dan kesempatan. Kajian Dhuhur setiap senin dan kamis, kajian ba’da maghrib, kajian muslimah dan kajian bulanan adalah kajian-kajian yang rutin dilaksanakan di masjid andalusia, selain pula kajian insidentil lain yang sesuai dengan topik yang sedang banyak diperbincangkan di masyarakat, kajian insidentil ini meliputi kajian akbar, kajian Special Isra’ Mi’raj, Kajian Nuzulul Quran, Kajian Tahun Baru dan lain sebagainya (Andalusia Islamic Center : Pusat Pergerakan Islam Di Sentul, 2020).
C. Masjid Darul Ulum Universitas Pamulang
Lokasi masjid berada di area Universitas Pamulang, Tangerang Selatan. Masjid ini dirancang oleh RAD+ar dengan mengusung konsep Bioclimatic Community. Tujuannya adalah untuk menjawab permasalahn lingkungan sekitar yang panas serta menunjukkan kembali konteks postmodern pada wajah masjid yang tak hanya dijadikan ruang salat tetapi untuk ruang komunitas islami. Atap masjid tak menggunakan kubah melainkan pelat beton yang di atasnya berupa planter sebagai penghijauan dan berfungsi untuk mendinginkan suhu di dalam masjid. Oleh sebab itu, ventilasi mekanis yang memakan biaya tinggi tak lagi diperlukan karena sirkulasi udara dioptimalkan.
Gambar 2. 3 Masjid Andalusia Islamic Center Sumber: sentul.city
8 Sebagai upaya mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi, arsitek memutuskan untuk mengganti 95% fasad yang seharusnya menjadi partisi bata dan menggantinya dengan lebih dari 30.000 lembar roster block (menyediakan lampu dan terowongan angin dengan tetap menjaga privasi) yang diproduksi secara manual oleh masyarakat setempat. Pendekatan geometris-volumetrik dasar sebagai massa cekung (memanfaatkan suhu yang lebih rendah) ditumpuk untuk memungkinkan banyak tingkat variasi kecepatan angin melintasi bangunan sehingga memberikan naungan total dan suhu ekstrem serta perbedaan tekanan udara yang memastikan ventilasi silang 24 jam dengan efek cerobong termal. (Abdel, 2020)
Gambar 2. 5 Struktur masjid Darul Ulum Pamulang Sumber: archdaily.com
Gambar 2. 4 Masjid Darul Ulum Pamulang Sumber: archdaily.com
9
2.4 Kesimpulan Studi Tipologi dan Preseden
Isu identitas dalam perancangan dan pembangunan masjid memang masih sering ditemui. Karena perkembangan gaya arsitektur yang terjadi, bentuk dan wajah masjid tak lagi terbatas dalam keharusan memiliki elemen kubah. Namun dalam buku “Arsitektur yang Lain” (Armand, 2017) terdapat istilah religious symbolism; yaitu penggunaan simbol-simbol termasuk bentuk arsitektur, seni, kejadian, atau fenomena alam, oleh sebuah agama. Maka meskipun generalisasi ke-kubahan pada masjid dapat dihilangkan, identitas masjid sebagai bangunan ibadah tetap harus dapat dilihat oleh orang dari fisik arsitekturnya.
Perancangan tapak menjadi salah satu isu penting karena selain lahan yang luas Islamic Center yang akan didesain juga merupakan multibangunan, sehingga dibutuhkan desain tapak yang terintegrasi secara utuh. Tata letak dan sirkulasi berperan penting dalam penciptaan alur pengguna selama mengunjungi dan memakai fasilitas Islamic Center.
Terdapat beberapa fitur yang sangat aplikatif baik untuk estetika maupun fungsi bangunan. Vent block atau roster yang didesain sebagai sirkulasi udara selain berguna untuk mengurangi pemakaian pendingin udara mekanis juga secara repetitif menciptakan fasad yang unik.