Pikiran
Rakyat
~
UNPAD
NON U=-,
o
Selasa0
Rabu0
Kamis0
Jumat0
Sabtu.
Minggu4
G)
6 7 8 9 --':;0 11 12 13 14 15 1620
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
o
Mar.
Apr0
Mei0
Jun0
Jut0
Ags0
Sep0
Okt0
Nov0
Des.,
~_._._._-_.__....__.._.__.._-_.---..---....---.---..---UJIAN nasional
(UN) seolah
menja-di hal yang sangat
mengerikan
bagi
anak. Bukan hanya
anak yang
diha-dang stres
karena-nya, orang tua pun
ketiban buluh.
Ma-lah, sering kali
orang tua yang
le-bih stres dibanding~
kan dengan
'anak-nya. Akibatnya,
orang tua memaksa
anak belajar ekstra
kera,s, nyans
mele-bihi takaran yang
semestinya.
S
TRFS berkepanjangandialami Yanti (42), ke-dua putranya akan mengikuti UN.
"Bagaimana enggak stres, yang besar mau UN di SMA, yang keeil di SD, tapi mereka santai-santai saja. Disuruh ikut try out juga harus sete-ngah dipaksa, ikut bimoel ba-nyakjarang masuknya," ujar Yanti nyeroeos saat dimintai komentar tentang UN yang akan dihadapiputra putrinya.
Kendati begitu, Yanti meng-aku, dirinya masih percaya ka-lau anak-anaknya tetap ber-tanggung jawab. Hanya, ia se-ring merasa tidak percaya diri kalau melihat anaknya diban-dingkan dengan anak teman-_nya.
""'ADak
teman saya itu rajin
banget ikut try out. Dengan
begitu, kita orang tua bisa ta-hu kemampuan anak. Tapi anak saya, walaaah malah se-baliknya. Disuruh bimbel (bimbingan belajar -red.), bo-los terus," ujarnya nyaris tan-pa titik dan koma.
. Lain Yanti, lain pula Lina (34). Sebagai perempuan kari-er yang sukses dan pkari-ernah menjadi juara kelas beberapa kali ketika sekolah, Lina tak habis-habisnya mendorong Dodi (17) putra sulungnya un-tuk privat di bimbel. "Kalau engg~ begitu, persaingan za-man sekarang sangat ketat. Hanya yang berkualitas yang bisa menjadi orang," ujarnya. Lina ingin anaknya masuk Teknik Informatika ITB atau Fakultas Kedokteran Unpad Hanya dua jurusan itu yang menurutnya mumpuni untuk saat ini. Tak mengherankan bila Lina mengikutsertakan ana)<-nya pada berbagai try out, pri~ vat di bimbel, dan les-les lain. Cemas atan ambisius?
Yanti dan Lina, menurut psikolog Universitas Kristen Maranatha Yuni, S.Psi., meru-pakan dua ibu yang mewakili I potret orang tua saat ini. Yanti
termasuk orang tua yang pen-cemas, tetapi masih memberi kepercayaan kepada putra putrinya, Sedangkan Lina me-rupakan potret orang tua yang ambisius dengan target-target dirinya sehingga tidak lagi memperhatikan keinginan anal<yang sesungguhnya.
"Ini bahaya. Di satu sisi, anak mungkin menjadi penu-rut bila di rumah, tetapi entah
.
kalau di luar. Sebaliknya, mungkin saja putranya Ibu Yanti lebih tidak penurut di rumah,tetapi dapat berkem-bang baik di luar rumah," ujar Yuni.Kliping
Humos
Unpod
--Pahami anak
Psikolog Paulus Hidayat Prasetya menekankan pen-tingnya memahami anak. Hal
itu disampaikan dia saat menjadi pembicara dalam
talkshow "Peran Orang Tua
Siapkan Mental Anak Hadapi Ujian Nasional", di Gedung Rektorat Universitas Widya-tama, Jln. Cikutra, Bandung, Sabtu (28/3).
Menurut Paulus, orang tua pasti akan stres bila melihat anaknya yang cuek mengha-dapi UN. Agar hal itu tidak teIjadi, Paulus menganjurkan orang tua agar memahami dan mengenali karakter anak terlebih dahulu. Baru kemu-dian menentukan pendam-pingan seperti apa yang bisa membantu mereka.
Pemahaman ini diperlukan karena tidak semua anak membutuhkan perlakuan yang sarna.
"Coba tanya anak, apa yang kira-kira dia perlukan dari kita sebagai orang tua. Apakah ketika belajar perlu ditemani atau perlu birnbing-an. Hal-hal seperti ini yang harus kita tawarkan kepada anak-anak ketika mereka menghadapi tantangan da-lam hidupnya, termasuk UN ini," ujarnya.
1'fJillain yang penting di-P'- rhatikan, penyakit yang se-'y~ lalu dialami anak-anak
cer-\
"
das. Mereka patut diwaspadai ka-rena selalu menganggap en-teng. Tidak heran jika di ke-las atau dalam sebuah ujian, justru anak yang tidak terma-suk cerdaslah yang memper-oleh nilai terbaik.
"Yang paling merusak anak zaman sekarang adalah bu-daya instan yang membuat daya juang anak menipis. Sis-tern kebut semalam dan gaya hidup konsumtif membuat daya juang mereka semakin hilang, " tuturnya.
Sementara itu, Yuni mene-kankan pentingnya orang tua menggali kelebihan dan ke-mampuan anak. Ingatkan kembali anak tentang keber-hasilan -keberkeber-hasilan yang pernah diraihnya. Sela:in anak akan merasa bangga, anak pun akan terpacu untuk berbuat yang lebih baik lagi.
Kebanyakan orang tua cen-derung hanya mengkritik atau marah-marah jika anak-nya kurang berhasil. Sedang-kan pada saat anaknya ber-hasil dan sukses, mereka lu-pa memujinya. Kecenderung-an ini sKecenderung-angat tidak kondusif bagi jiwa kompetitif anak. Anak hanya akan merasa ber-salah dan tidak pernah patut dibanggakan.
Padahal, dengan orang tua terbiasa mengkritik dan me-muji, anak akan merasa di-perlakukan adil.
I
i
Me,*atur waktu
Guru matematika SMAN 3 Bandung yang juga Wakasek Kurikulum, Firman Syah Noor mengat~, kelemahan siswa dalam mempersiapkan UN pa-da umumnya terleta:k papa-da pengaturan manajemen waktu belajar. Terkadang siswa tidak fokus dan menganggap de-ngan belajar lebih lama dia akan leblh mengerti.
"padahal tidak seperti itu, yang terpenting adalah fokus dan kontinu dalam belajar. Ti-dak perlu dari pagi sampai malam belajar, sementara dia sendiri tidak fokus. Akhirnya tidak efektif," katanya.
Oleh karena itu, Firman le-bih menekankan efektivitas belajar kepada anak didiknya. Selain juga penekanan terha-dap konsep dm-isetiap materi pelajaran yang diberikan guru di kelas. "Tidak dapat dimung-kiri kalau anak-anak sekarang lebih paham metode cepat tanpa mengetahui konsep da-sarnya. Akibatnya apa? Ketika UN yang materinya sederhana justru mereka tidak bisa
me-ngerjakan. Ini yang sering ter-jadi, " ucapnya.
Sementara itu, Koordinator Bimbingan Konseling SMAN 3 Bandung, Samsudin mengata-kan, peran orang tua sangat berpengaruh terhadap kesiap-an mental dkesiap-an psikologis siswa dalam menghadapi UN. "Oleh
kare-nanya,
orang tua juga haI'U$ paham bagaimana kondisi anak. Tidak perlu rnenuntut dan menekan anak 'agar terus belajar, apalagi memberikan target. Anak pasti memiliki strategi sendiri dan tabu persis apa yang dia hadapi dan ba-gaimana cara menghadapinya. Kalau orang tua banyak me-nuntut harns belajar ini, harns les itu, anakjustru semakin terbebani," ujarnya.
Unsur kenyamanan di ru-mah sangat diperlukan. siswa agar mereka merasa 'siap menghadapi UN. Untuk mewu-judkannya, kata dia, Hanya bisa diperoleh melalui koqmnikasi yang baik antara orang tua dan anak. Bersetuju dengan Sams-udin, Yuni juga menggarisba-wahi orang tua sebag~ "zona nyaman" anak. Menurut dia, orang tua harus menjadi zona ternyaman bagi putra putrinya. Tidak saja saat menj$ng UN seperti sekarang, tetaw juga untuk saat penting lafunya.
Satu hal yang disetujui se-mua narasumber, jika orang tua memahami anak dan anak memahami apa yang diingin-kan orang tuanya, 1.JN1tidak
.
akan menjadi sesuatuiyang
mengerikanlagi.