HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH
DAFTAR ISI ... i
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Masalah Penelitian ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 13
D. Manfaat Penelitian ... 14
E. Penjelasan Istilah ... 15
1. Pergeseran Nilai Masyarakat ... 15
2. Konflik Etnik di Maluku Utara ... 17
3. Integrasi Nasional ... 18
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 24
A. Konsep Nilai ... 24
4. Hierarkhi Nilai ... 35
5. Makna Nilai Bagi Manusia ... 38
6. Nilai Sebagai Perwujudan Diri ... 41
7. Cara Memperoleh Nilai ... 43
8. Nilai diantara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder ... 44
B. Pergeseran Nilai ... 46
1. Perubahan Nilai dan Arah Perubahan Nilai ... 46
2. Faktor-faktor Pendorong Proses Perubahan Masyarakat ... 47
3. Pewarisan Nilai Budaya ... 53
4. Proses Pewarisan Nilai Budaya ... 54
5. Tempat Pewarisan Nilai Budaya ... 56
7. Pergeseran Nilai Budaya, Agama, dan Etika ... 61
C. Memahami Konflik Antaraetnik ... 64
1. Mitos Tentang Konflik ... 64
a. Pengertian Konflik ... 67
b. Bentuk Konflik ... 70
c. Fungsi Konflik ... 72
d. Konteks dan Sumber Konflik ... 76
2. Konsep Etnik ... 83
a. Definisi Etnik ... 83
e. Pengertian Konflik Antaretnik ... 98
f. Tahap-tahap Konflik Antaretnik ... 101
D. Perubahan Sosial ... 108
1. Pengertian Perubahan Sosial ... 109
2. Teori Perubahan Sosial ... 113
3. Ciri Perubahan Sosial ... 118
4. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial ... 120
5. Beberapa Bentuk Perubahan Sosial ... 123
E. Integrasi Sosial dan Integrasi Nasional ... 127
1. Pengertian Integrasi Sosial ... 127
2. Bentuk-bentuk Integrasi Sosial ... 129
3. Faktor-faktor Pendorong Integrasi Sosial ... 131
4. Faktor-faktor Penghambat Integrasi Sosial ... 135
5. Pengertian Integrasi Nasional ... 137
6. Faktor Pendorong dan Penghambat Integrasi Nasional ... 143
BAB III METODE PENELITIAN ... 150
A. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 150
B. Teknik Pengumpulan Data ... 153
1. Observasi Partisipatif ... 153
C. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 156
D. Analisis Data Penelitian ... 157
1. Analisis Sebelum di Lapangan ... 158
2. Analisis Selama di Lapangan ... 159
a. Penyajian Data ... 161
b. Reduksi Data ... 161
c. Penarikan Kesimpulan / Verifikasi ... 162
E. Konstruksi Data ... 162
1. Deskripsi ... 162
2. Verifikasi ... 163
3. Validasi Data ... 163
F. Prosedur Penelitian ... 165
BAB IV DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN... 167
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 167
1. Letak Geografis ... 167
2. Iklim dan Topografi ... 170
3. Jumlah Penduduk ... 171
4. Kepadatan Penduduk ... 172
5. Tenaga Kerja dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) ... 173
9. Lembaga Agama ... 180
B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 180
1. Kondisi Masyarakat Sebelum Konflik Etnik di Maluku Utara ... 180
2. Kondisi Masyarakat Pasca Konflik ... 184
3. Pergeseran Nilai dan Implikasinya pada Integrasi Sosial dan Nasional ... 187
4. Upaya yang Ditempuh dalam Mengatasi Pergeseran Nilai dan Menyatukan Masyarakat ... 190
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 193
1. Nilai-nilai Budaya Masyarakat Sebelum Konflik ... 193
2. Nilai-nilai Kehidupan (Budaya) Masyarakat Pasca Konflik ... 202
3. Pergeseran Nilai Masyarakat dan Implikasinya pada Integrasi Sosial dan Integrasi Nasional ... 211
4. Upaya-upaya yang Ditempuh dalam Mengatasi Pergeseran Nilai dan Menyatukan Masyarakat Ternate, sehingga tidak Mengakibatkan Terjadinya Disintegrasi Bangsa ... 222
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 231
2. Kesimpulan Khusus ... 232
B.Rekomendasi ... 234
DAFTAR PUSTAKA ……… 236
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan bangsa yang multi etnis, hal ini ditandai dengan
keanekaragaman suku bangsa (etnis), budaya, adat-istiadat, bahasa, dan agama.
Kondisi ini disadari menyimpan potensi besar terjadinya pertentangan antaretnis
yang satu dengan etnis lainnya. Sementara itu, sebagai mahluk sosial, manusia
tentu saja selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Apabila dalam interaksi
tersebut terdapat kesamaan tujuan, maka terjadilah kerjasama, dan apabila salah
satu individu ingin melebihi individu lainnya, maka terjadilah persaingan atau
kompetisi. Dan apabila dua individu atau kelompok mempunyai kepentingan yang
berbeda atau bertentangan satu dengan yang lain, maka dapat memicu terjadinya
konflik.
Warnaen (2002:12) mengidentifikasi setidaknya terdapat sekitar 205 suku
bangsa atau etnis yang berbeda di Indonesia. Banyaknya etnis dengan berbagai
perbedaan kebudayaan memperkuat gambaran Indonesia sebagai bangsa yang
multi etnis. Keanekaragaman dan perbedaan dalam etnis (suku bangsa),
adat-istiadat, budaya, bahasa, dan agama di Indonesia merupakan mozaik yang indah
dan merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Apabila keanekaragaman tersebut
tidak dapat dikelola dengan baik, akan dapat memicu terjadinya konflik sosial dan
Indonesia sendiri (Bachtiar, 1987:33). Menurut Nasikun (2007:5) konflik pada
hakikatnya merupakan suatu gejala sosial yang melekat di dalam kehidupan setiap
masyarakat, dan melekat pula di dalam kehidupan setiap bangsa.
Konflik dan tidak konflik (kerja sama) merupakan suatu pilihan bagi setiap
orang yang ada dalam organisasi maupun yang ada ditengah – tengah masyarakat.
Konflik selalu ada disetiap organisasi dan masyarakat, meskipun tidak terlihat
adanya konflik. Pada umumnya, munculnya konflik ke permukaan sangat sulit
untuk diprediksi, konflik tersebut muncul manakala kepentingan individu atau
kelompok merasa terganggu atau terancam disertai dengan kondisi yang
menciptakan kesempatan timbulnya konflik, meskipun sebenarnya mereka tidak
mengarah secara langsung terhadap konflik, tetapi salah satu dari kondisi ini dapat
memicu konflik. (Ranjabar: 2006:185).
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami konflik etnis
dan agama. Konflik–konflik ini terdiri dari berbagai bentuk dan intensitas yang
berbeda. Ini adalah situasi yang mengerikan dan berbahaya, tidak saja bagi orang–
orang yang terlibat dalam konflik, tapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia. Setiap
konflik mempunyai latar belakang sejarah, sosial, ekonomi, budaya dan politik
sendiri. Hal itu merupakan akibat dari faktor struktural dan kegagalan para politisi
dan lainnya dalam mengambil tindakan. Seringkali latar belakang provokasi yang
terencana oleh pihak–pihak dengan kepentingan tersembunyi dalam mengarahkan
kekacauan.
Latar belakang umum terjadinya konflik–konflik ini, yaitu perlu dipahami
menempatkan konflik – konflik ini kedalam suatu perspektif sosial. Untuk
melakukan hal itu, harus dilihat dalam konteks iklim umum dari tindakan
kekerasan yang telah umum di Indonesia saat ini. Iklim ini telah terbukti dalam
seluruh konflik. Kedua, Setiap kesalahpahaman kecil ditempat keramaian dapat
dengan mudah menjadi pertumpahan darah, bahkan seringkali melibatkan
komunitas masing–masing. Karena itu, masyarakat kita seperti sedang dalam
gangguan dan cengkeraman budaya kekerasan, dimana konflik yang biasa terjadi
sehari–hari tidak lagi dikelola dengan cara konstruktif, tetapi sebaliknya segera
menjadi kekerasan dan dapat melibatkan seluruh komunitas. Hal itu terjadi tanpa
ada tanda-tanda bahwa pihak yang tertarik dapat dengan mudah mengambil
keuntungan dari situasi ini.Bahayanya adalah bahwa begitu agama terlibat,
mekanisme pembentukan solidaritas dapat berubah menjadi gerakan dengan
dampak secara nasional ( Suseno, 2003: 120-121).
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, terjadinya konflik dalam
hubungan atau interaksi adalah mungkin, karena segmentasi dalam bentuk
terjadinya kesatuan–kesatuan sosial yang terkait ke dalam ikatan–ikatan
primordial dengan sub kebudayaan yang berbeda satu sama lain sehingga mudah
sekali menimbulkan konflik diantara kesatuan–kesatuan sosial tersebut. Sesuai
pengamatan sistemik, sumber–sumber untuk konflik antara suku bangsa atau
golongan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, paling tidak ada lima
macam ,(Ranjabar: 2006:194-195) yaitu :
yang terbatas adanya dalam masyarakat. Contoh; konflik yangS terjadi di Aceh dan Papua.
b. Konflik biasa terjadi kalau warga dari dua suku bangsa masing– masing bersaing dalam hal mendapatkan lapangan mata pencaharian hidup bersama. Contoh; konflik yang terjadi di Sambas, Kalimantan Barat.
c. Konflik biasa terjadi kalau warga dari satu suku bangsa mencoba memaksakan unsur–unsur dari kebudayaanya kepada warga dari suatu suku bangsa lain. Contoh; konflik yang terjadi di Sampit Kalimantan Tengah.
d. Konflik biasa terjadi kalau warga dari satu suku bangsa berusaha mendominasi suatu suku bangsa yang lain secara ideologis. Pada tingkatan yang bersifat ideologis, konflik tersebut berwujud di dalam bentuk konflik antar sistem nilai yang dianut. Contoh ; konflik yang pernah terjadi di Maluku, Kupang, Mataram, dan Poso. e. Potensi konflik terpendam yang ada dalam hubungan antara suku bangsa yang telah bermusuhan secara adat. Contoh; konflik yang sering terjadi di Papua (konflik antara suku di pedalaman Papua).
Konflik itu sendiri merupakan sebuah konsekuensi dari proses perubahan
sosial. Oleh sebab itu teori konflik memandang bahwa masyarakat senantiasa
berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan–pertentangan
yang terus–menerus diantara unsur–unsurnya (Ritzer, 1992:30). Sepanjang
peradaban manusia di muka bumi, konflik merupakan warna lain kehidupan yang
tidak bisa dihapuskan. Konflik yang menggunakan kekerasana adalah suatu
realitas yang tidak membutuhkan pembenaran moral, karena kekerasan memiliki
kualitas pembaruan, pembebasan manusia untuk mengikuti ketentuan tidak
rasional dari sifat bawaannya sendiri (Ranjabar: 2006: 195).
Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, sistem sosial
yang berbeda, menjadi semakin rapuh pada tahun 1990-an. Ini merupakan bukti
yang menunjukkan bahwa kerusuhan massal yang lebih sering terjadi, dengan
jelas sebelum Pemilu 1997, dimana sejumlah kerusuhan terjadi di beberapa
wilayah Indonesia (Azra:2003:61).
Sejumlah konflik komunal berdarah telah mengguncang beberapa daerah
di Indoneisa pada sekitar akhir tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an.
Gelombangn konflik dengan kekerasan ini merisaukan banyak kalangan, di
samping karena lambannya penyelesaian oleh negara, juga menyangkut jatuhnya
korban yang tidak sedikit. Berbagai penjelasan dan hipotesis telah dikemukakan
untuk menganalisis terjadinya konflik. Ada pandang yang mengatakan bahwa
transisi politik dari otoritarianisme menuju demokrasi duduga sebagai salah satu
variabel antara terjadinya berbagai konflik komunal di nusantara yang
multikultural ini. Beberapa pihak juga mengaitkan akumulasi dampak negatif
pembangunan orde baru, seperti ketidakadilan (marginalisasi), kesenjangan
ekonomi, maupun faktor kultural dan rusaknya jaringan sosial budaya
lokal-tradisional sebagai sumber pendukung pecahnya konflik komunal, sebagaimana
yang terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan beberapa daerah
lainnya di Indonesia.
Konflik kekerasan yang terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan
Tengah dikaitkan sebagai kerusuhan antar-etnik yang tergolong masif. Kelompok
– kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai suku asli Kalimantan –etnik
Dayak dan Melayu , berhadapan dengan kelompok masyarakat yang dianggap
sebagai pendatang dari pulau Madura (etnik Madura). Saling bunuh tak
terhindarkan tatkala antaretnik sudah tidak lagi saling percaya dan menganggap
Pada akhir Februari 2001, kerusuhan pecah di wilayah Kalimantan
Tengah. Ribuan orang Dayak bersenjatakan busur, panah, tombak, memburu
warga dari etnik Madura. Pembunuhan dan pengrusakan nyaris berlangsung di
semua desa. Kerusuhan semula terjadi di kota Sampit, namun kemudian merembet
ke Kuala Kapuas, Pangkalan Bun, dan Palangkaraya. (Cahyono, 2008:3). Dua
tahun sebelumnya kerusuhan serupa terjadi di Kalimantan Barat, yakni pada
Februari 1999 yang terjadi di Kabupaten Sambas. Pada kejadian di Sambas, etnik
Dayak membantu etnik Melayu dengan target yang sama, yakni suku Madura.
Catatn resmi menyebutkan korban meninggal sekitar 200 orang. Konflik ini masih
berlanjut, sebab setahun kemudian pada tanggal 25 oktober tahun 2000 massa
dalam jumlah besar kembali mengepung GOR Pontianak, tempat penampungan
pengungsi dari kelompok etnik Madura.
Meskipun dari sudut aktor pelaku tindak kekerasan di lapangan terdapat
persamaan, namun dari karakteristik dan sumber konflik diantara keduanya
terdapat perbedaan yang cukup mendasar. Konflik etnik di Kalimantan Barat
memiliki sejarah yang panjang dan telah berlangsung selama beberapa dekade.
Sejak tahun 1950-an pertikaian antara etnik Madura dan Dayak nyaris tak
berkesudahan dan telah mengakibatkan ribuan orang meninggal dari kedua belah
pihak. Hubungan sosial antaretnik di wilayah ini tidak berlangsung dengan baik.
Selama puluhan tahun hubungan antara etnik dayak dan Madura gagal
menghasilkan proses adaptasi yang sehat. Konflik lebih mengemuka
dibandingkan dengan kerjasama, serta integrasi gagal terwujud. Berkurangnya
memarginalkan penduduk asli setempat telah mengakselerasi dan mengakumulasi
prasangka antaretnik, sementara di pihak lain pola pemukiman khususnya warga
Madura tersegregasi secara eksklusif. Pemukiman – pemukiman yang terpisah
dari penduduk setempat ini telah mempersulit terjadinya kontak sosial dengan
warga etnik lain. Lain halnya dengan Kalimantan Tengah, dalam sejarahnya dapat
dikatakan tidak pernah terjadi konflik yang menjurus pada kekerasan. Hubungan
sosial antara warga pendatang dengan penduduk asli terjalin cukup baik,
meskipun mulai diperumit dengan masalah terdesaknya suku asli Dayak dari
kehidupan ekonomi.
Ada beberapa faktor penyebab mengapa konflik di Kalbar dan Kalteng
dapat meluas. Selain kebijakan komersialisasi hutan yang cenderung membuat
rakyat setempat menjadi frustasi (eksploitasi dan ketimpangan) , tidak
ditegakkannya hukum oleh aparat keamanan, situasi politik yang tidak menentu ,
resesi ekonomi, euforia otonomi daerah, kemajemukan etnisitas, tidak adanya
budaya dominan, dan adanya perbedaan budaya antara kaum pendatang dengan
penduduk setempat, serta yang tidak kalah pentingnya ialah kemungkinan peranan
provokator khususnya yang terjadi di Kalimantan Tengah (Cahyono, 2008:5).
Semboyan nasional Bhineka tunggal Ika, yang berarti meskipun berbeda–
beda tetapi satu juga atau kesatuan dalam keanekaragaman, dalam waktu yang
cukup lama mampu menyatukan keanekaragaman di dalam masyarakat Indonesia.
Akan tetapi, sejauh ini interaksi sosial dalam bentuk konflik sosial ternyata selalu
ada dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Konflik–konflik pada masa lalu
sejak lama. Sementara itu, beberapa tahun terakhir khususnya setelah Indonesia
mengalami krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 yang selanjutnya
didikuti dengan krisis politik, konflik sosial begitu banyak terjadi, baik konflik
sosial yang bersifat vertikal maupun horizontal.
Konflik vertikal misalnya terjadi antara rakyat dengan pemerintah, atau
antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Konflik ini terjadi dalam
bentuk demonstrasi (people power) untuk menolak kebijakan pemerintah.
Misalnya, demonstrasi menentang pemerintah yang disebut Aksi Reformasi pada
tahun 1998. konflik vertikal antara rakyat dengan pemerintah juga terlihat dalam
keinginan rakyat di daerah–daerah tertentu yang ingin memisahkan diri
(merdeka)dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti Aceh dan Irian Jaya
(Papua). Selain itu, konflik vertikal juga dapat terjadi antara bawahan (karyawan)
dengan atasan (pimpinan). Dalam partai politik, konflik vertikal dapat terjadi
antara pemimpin partai politik dengan anggota– anggotanya. Konflik horizontal
terjadi antara rakyat dengan rakyat lainnya, misalnya dalam bentuk konflik
antaretnik atau antarsuku, antarras, antarpemeluk agama, antarapenduduk desa,
antarapelajar, atau antarapemuda.
Effendi Noer (Ranjabar : 2006:197), mengatakan bahwa konflik sosial
menjadi tidak lumrah dan menjadi sumber biang malapetaka dan kehancuran
kehidupan berbangsa ketika disertai dengan tindakan anarkhis dan kebrutalan,
seperti yang terjadi dipenghujung kebangkrutan Orde Baru dan di awal masa
reformasi. Konflik sosial yang terjadi itu diwarnai dengan agresivitas
perikemanusiaan disertai dengan kekerasan. Konflik sosial semakin terasa sangat
tidak patut karena sudah menuju ke bentuk kekereasan sosial di hampir seluruh
lapisan masyarakat, yang semua itu menandai rapuhnya integrasi nasional.
Dahrendorf 1959 (Pruit dan Rubin: 2004:34-35) menyebutkan tiga kondisi
yang mendukung kemunculan sebuah struggle group, yang seringkali menjadi
pendorong terjadinya konflik, yaitu:
1. Komunikasi terus-menerus diantara orang – orang senasib.
2. Adanya seorang pemimpin yang membantu mengartikulasikan ideologi, mengorganisasikan kelompok, dan memformulasikan rencana untuk melakukan tindakan kelompok.
3. Legitimasi kelompok di mata komunitas yang lebih luas atau setidak-tidaknya tidak ada tekanan komunitas yang efektif terhadap kelompok.
Meskipun konflik dapat ditemukan hampir disetiap bidang interaksi
manusia, Darwin, Freud, dan Marx ( Pruitt dan Rubin, 2004: 12-13). Mengatakan
bahwa konflik merupakan peristiwa – peristiwa paling signifikan dan pantas
menjadi berita dalam kehidupan manusia, tetapi anggapan bahwa setiap interaksi
perlu melibatkan konflik adalah salah. Orang pada umumnya mampu bergaul
dengan baik dengan orang – orang, kelompok, maupun organisasi lain. Pergaulan
itu mereka lakukan dengan penuh perhatian, kemauan untuk membantu, dan
keterampilan sedemikian rupa sehingga hanya sedikit terjadi konflik di dalamnya.
Bilamana konflik itu memang terjadi, maka lebih sering konflik itu dapat diatasi
daripada tidak, bahkan dapat diselesaikan dengan sedikit masalah dan dapat
memuaskan semua pihak.
Meskipun konflik sebenarnya tidak perlu menimbulkan konsekuensi
destruktif, tetapi konflik yang buruk bisa berakibat mengerikan. Bambang
pendidikan mutlak diperlukan” mengatakan bahwa ”pendidikan nasional bukan
hanya belum berhasil meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak didik,
melainkan gagal dalam membentuk karakter dan watak kepribadian bangsa,
bahkan terjadi adanya degradasi moral”.
Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat
unik, yaitu : Pertama secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan
– kesatuan sosial berdasarkan perbedaan – perbedaan suku-bangsa (etnis),
perbedaan – perbedaan agama, adat, serta perbedaan – perbedaan kedaerahan.
Kedua secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya
perbedaan – perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup
tajam (Nasikun: 2007:34).
Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pada pergeseran nilai pasca
konflik konflik horizontal (konflik antaretnik), dan tidak akan meneliti atau
membahas secara khusus tentang konflik vertikal. Sejak reformasi, banyak konflik
yang muncul ke permukaan, baik bernuansa politik, bernuansa etnik, agama,
ataupun hanya sekedar perwujudan rasa ketidakpuasan. Konflik – konflik sosial
yang terjadi di Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini telah menyentuh
perasaan manusia dan membangkitkan kecemasan serta ketakutan, sebab konflik –
konflik tersebut cenderung bersifat destruktif (merusak) dan meyebabkan
kesengsaraan bagi banyak orang. Hal ini karena konflik tersebut tidak dapat
dipecahkan oleh mekanisme yang ada, seperti melalui musyawarah, baik oleh
pihak – pihak yang berkonflik maupun oleh bantuan pihak ketiga (mediator atau
Dipihak lain, struktur yang ada tidak mampu menyelesaikan konflik dalam
waktu yang singkat. Keadaan ini diperparah dengan semakin membudayanya
kekerasan dalam masyarakat disebabkab faktor media yang semakin mengglobal,
dan juga akumulasi kebencian dalam masyarakat. Suseno 2003:122 (Moeis
2006:6).
Sebagai akibat dari ketidakmampuan dalam memecahkan konflik secara
damai, beberapa konflik etnik justru meningkat menjadi konflik fisik yang
menggunakan kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik. Konflik –
konflik ini selanjutnya menyebabkan dampak negatif bagi banyak orang, baik
material maupun nonmaterial, baik fisik maupun psikologis. Misalnya konflik
yang terjadi di Sambas, Sampit, Palangkaraya, Poso (Sulawesi Tengah), Ambon
(Maluku), dan Maluku Utara.
Seperti halnya di daerah – daerah lain, penyebab terjadinya konflik etnik
di Maluku Utara tidaklah tunggal. Masalah kesenjangan sosial, perebutan
sumberdaya alam, pertikaian elite politik dan birokrasi merupakan faktor
penyebab terjadinya konflik etnik di Maluku Utara. Pada bulan September 1999,
parlemen di Jakarta secara resmi sepakat untuk membentuk Maluku Utara
menjadi Provinsi baru. Namun pemerintah pusat tidak menyediakan anggaran dan
tidak ada peraturan peralihan, sehingga timbul keadaan tidak pasti dimana – mana.
Ditengah – tengah kegembiraan dan waktu yang mendesak, perkelahian antaretnis
yang sebelumnya terjadi pada tanggal 19 Agustus, pecah kembali di Malifut
Kecamatan Kao pada tanggal 24 oktober 1999. Kali ini, etnis Makian kalah total
titik yang tidak dapat dikendalikan (Ahmad dan Oesman:2000:119).
Konflik yang terjadi mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, baik
korban hartabenda, maupun korban nyawa. Begitu banyak orang yang harus
kehilangan tempat tinggal, dan sanak saudaranya. Konflik ini bahkan menyisakan
penderitaan yang berkepanjangan bagi masyarakat Maluku Utara. Masyarakat
mengalami depresi, mereka takut untuk kembali ke daerahnya masing – masing,
karena khawatir peristiwa itu akan terulang kembali, sampai akhirnya pemerintah
pusat melakukan pemulangan ke daerah masing - masing dan memberikan
bantuan untuk membangun kembali tempat tinggal mereka.
Setelah kondisi Maluku Utara kembali aman, hal ini tentu saja membawa
dampak bagi masyarakat di Maluku Utara dalam berbagai aspek kehidupan,
seperti aspek sosial-ekonomi, sosial-budaya, etika, pendidikan, agama, moralitas,
hukum, dampak psikologi, dan lain-lain yang tentu saja berpengaruh terhadap
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bahkan kehidupan bernegara.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan
penelitian tesis tentang ” Pergeseran Nilai Masyarakat Pasca Konflik Etnik di
Maluku Utara Implikasinya pada Integrasi Nasional (Studi Kasus di Kota
Ternate)”.
B. Masalah Penelitian
Bertolak dari latar belakang penelitian tersebut, maka dapat peneliti
rumuskan suatu pokok permasalahan yaitu “ Mengapa terjadi pergeseran nilai
implikasinya pada integrasi nasional?” Untuk memudahkan pembahasan hasil
penelitian, maka masalah pokok penelitian tersebut peneliti jabarkan dalam
beberapa sub masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi nilai-nilai budaya masyarakat sebelum konflik etnik di
Maluku Utara?
2. Bagaimana kondisi nilai – nilai kehidupan (budaya) masyarakat pasca
konflik etnik di Maluku Utara?
3. Apakah pergeseran nilai masyarakat berimplikasi pada integrasi sosial dan
nasional ?
4. Upaya – upaya apa yang dapat ditempuh dalam mengatasi pergeseran nilai
dan menyatukan masyarakat Ternate (Maluku Utara) agar tidak
mengakibatkan terjadinya disintegrasi Bangsa ?
Sub – sub masalah tersebut dapat dijadikan pertanyaan pokok penelitian.
C. Tujuan Penelitian.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
memperoleh gambaran secara faktual mengenai pergeseran nilai masyarakat pasca
konflik etnik di Maluku Utara, implikasinya pada integrasi nasional. Dari tujuan
umum tersebut di atas, dapat dirumuskan tujuan khusus sebagai berikut :
a. Mengkaji tentang deskripsi nilai – nilai budaya masyarakat yang
berkembang sebelum konflik etnik di Maluku Utara.
b. Mengkaji tentang deskripsi nilai – nilai kehidupan (budaya) masyarakat,
c. Mengkaji apakah pergeseran nilai masyarakat berimplikasi
pada integrasi sosial dan integrasi nasional.
d. Melihat gambaran upaya – upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan
masyarakat dalam mengatasi pergeseran nilai dan menyatukan masyarakat
Ternate (Maluku Utara) sehingga tidak mengakibatkan terjadinya
disintegrasi Bangsa.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat, baik secara
keilmuan (teoritik) maupun secara empirik (praktis) dalam rangka pengembangan
Pendidikan Kewargnegaraan. Secara teoritik, penelitian ini akan menggali,
mengkaji dan mendeskripsikan, serta mengorganisasikan informasi tentang
pergeseran nilai masyarakat pasca konflik etnik di Maluku Utara, implikasinya
pada integrasi nasional yang akan menghasilkan kerangka dasar secara
konseptual-teoritis tentang pergeseran nilai masyarakat yang terjadi pasca konflik
etnik di Maluku Utara yang di butuhkan dalam rangka menanamkan nilai – nilai
etika dan moral bagi warganegara, khususnya di Maluku Utara serta mengatasi
terjadinya disintegrasi nasional.
Dari temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis
bagi beberapa pihak sebagaimana diuraikan berikut :
1. Para akademisi atau komunitas akademik, khususnya dalam bidang
pengembangan warganegara yang bermoral, bertanggungjawab, serta
menjaga dan mempertahankan integrasi nasional.
2. Para pengembang kurikulum pendidikan kewarganegaraan, dari tingkat
pendidikan dasar sampai pada perguruan tinggi.
3. Para pengambil kebijakan khususnya yang terkait dengan program
penanaman dan pembinaan nilai – nilai budaya, etika dan moral, serta
pembentukan warga negara yang baik, cerdas, bertanggung jawab, dan
memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, serta dapat menghargai dan
menerima keanekaragaman sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa
Indonesia.
E. Penjelasan Istilah
Dalam judul penelitian ini terdapat konsep utama, yakni pergeseran nilai
masyarakat, konflik etnik di Maluku Utara, dan integrasi nasional.
1. Pergeseran Nilai Masyarakat
Jack R. Fraenkel (Djahiri, 1985:20) mengulas sejumlah rumusan tentang nilai
yang intinya sebagai berikut : nilai / value adalah idea atau konsep yang bersifat
abstrak tentang apa yang dipikirkan seseorang atau dianggap penting oleh
seseorang. Dan biasanya mengacu pada estetika (keindahan), etika (pola laku),
dan logika (benar / salah) atau keadilan (justice). Nilai menuntun orang untuk
berbuat terarah, indah, baik, efisien dan bermutu / berharga (worth), serta benar
dan adil.
yes, ” sesuatu yang ditujukan dengan ’ya’ kita”. Nilai adalah sesuatu yang kita
iakan atau kita aminkan. Nilai selalu mempunyai konotasi positif, sebaliknya
sesuatu yang kita jauhi seperti penderitaan atau penyakit adalah lawan dari nilai
atau ”non-nilai”. Djahiri (1985: 20), mengatakan bahwa
Nilai merupakan keyakinan / belief yang sudah merupakan milik diri dan akan
menjadi barometer actions and the wiil yang bersangkutan.
Maluku Utara merupakan salah satu dari beberapa provinsi termuda di
Indoneisa. Pada kenyataanya, dalam beberapa tahun terakhir setelah terjadi
konflik sosial di Maluku Utara, masyarakat lebih banyak menyelesaikan masalah
– masalah yang terjadi dengan cara – cara yang tidak rasional, bahkan tidak
sedikit yang menggunakan kekerasan dan tindakan – tindakan anarkhis lainnya.
Ironisnya, tindakan – tindakan tersebut dianggap sebagai hal yang biasa saja,
padahal apabila kita melihat kebelakang, jauh sebelum Maluku Utara mengalami
konflik etnis dan konflik – konflik sosial lainnya, tindakan – tindakan anarkhis
seperti ini sangat jarang terjadi di kalangan masyarakat, meskipun masyarakat
Maluku Utara dikenal mempunyai karakter yang keras akan tetapi tindakan –
tindakan anarkhis yang terjadi beberapa tahun terakhir, bukan merupakan bagian
dari budaya dan ciri khas masyarakat Maluku Utara.
Pergeseran nilai masyarakat mengandung pengertian terjadinya perubahan
pola pikir (idea/ konsep) masyarakat, yang selanjutnya membawa perubahan pada
pola tindak masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Pergeseran nilai disini mengarah pada nilai – nilai yang justru sangat
dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut telah mengintegrasikan masyarakat selama
bertahun-tahun.
2. Koflik Etnik di Maluku Utara
Pruitt dan Rubin (2004:9), mengatakan bahwa konflik berarti persepsi
mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest), atau suatu
kepercayaan bahwa aspirasi pihak – pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai
secara simultan. Konflik etnik di Maluku Utara, merupakan konflik yang terjadi
antara etnik Kao (Desa Sosol dan Wangeotak), dengan etnik Makian di
Kecamatan Malifut yang terjadi sejak tanggal 19 Agustus 1999 dan merambat
hampir keseluruh pelosok Maluku Utara (Ahmad dan Oesman:2000:85).
Kerusuhan beruntun dalam waktu yang relatif singkat, manakala
penyelenggaraaan pemerintahan Provinsi Maluku Utara baru berusia empat hari.
Pertikaian tersebut selanjutnya berkembang hampir ke seluruh pulau Halmahera
dan dampaknya sangat merugikan daerah ini, manakala meletusnya perpecahan
masyarakat secara beruntun di kawasan Halmahera Utara yang mencakup
Kecamatan Tobelo, Galela, Jailolo, Sahu, Loloda, dan Ibu, dimana posisi strategis
Tobelo dan Sidangoli yang merupakan konsentrasi dan economic of power
kawasan Halmahera Utara telah menjadi ajang pertumpahan darah yang telah
memporak – porandakan sendi – sendi kehidupan masyarakat dan infrastruktur
ekonomi yang esensial.
Posisi kota Ternate sebagai ibukota pemerintahan (Kota Ternate,
berbagai aktifitas menghadapi kendala dan masalah secara internal dan eksternal
dalam dimensi peran dan fungsi kota tersebut. Hancurnya infrastruktur ekonomi
Tobelo secara makro merugikan perekonomian daerah Provinsi Maluku Utara dan
juga secara mikro sangat merugikan masyarakat setempat dan wilayah kecamatan
sekitarnya. Upaya Pemerintah Daerah dan masyarakat yang mengharapkan
kembalinya warga eksodus, pasca kerusuhan di Kota Ternate ternyata
menimbulkan benturan karena kepulangan mereka terutama para konglomerat
lokal diharapkan akan memulihkan stabilitas ekonomi daerah, namun di sisi lain
timbulnya konflik fase kedua di Ternate melahirkan kebencian warga antar
kelompok etnis semakin memuncak. Masalah internal yang di hadapi oleh
pemerintah Kota Ternate adalah membludaknya pengungsi Halmahera Utara
(tujuh kecamatan), yang membutuhkan penampungan serta sandang dan pangan
yang memadai. Sementara itu, masalah internal yang dihapi adalah pasokan bahan
pangan (sembako) dan kebutuhan lainnya yang mendesak. Belum lagi dampak
negatif lainnya yang ditimbulkan seperti dampak psikologis, sosial, pendidikan,
dll (Ahmad dan Oesman:2000:126.)
3. Integrasi Nasional
Dalam Sumpah Pemuda 1928, sebuah tekad dari beberapa organisasi
pemuda berdasarkan ikatan primordial, bersatu untuk berikrar Indonesia yang
satu. Bukti sejarah ini menunjukkan bahwa multikulturalisme masyarakat tidak
hanya dipandang mempunyai potensi konflik, akan tetapi lebih dari itu
pembangunan kebudayaan nasional. Pemikiran ini dapat kita jumpai dalam
Amandemen UUD 1945 Pasal 32 (1) yang menyatakan bahwa: ”Negara
memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan
menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan
nilai-nilai budayanya”.
Peursen (Ritiauw: 2008: 57) menjelaskan: disadari bahwa karena di dalam
masyarakat yang multikultural itu, baik dilihat dari sudut suku bangsa, golongan
agama dan daerah, di mana golongan-golongan yang ada tidak sama kemampuan
dan kesempatan-kesempatan baru atau untuk membela diri terhadap aspek-aspek
negatifnya, masalah persatuan bangsa merupakan suatu masalah yang terus
menerus memerlukan perhatian dan usaha yang efektif. Segala aspek ini bertemu
dalam usaha untuk merumuskan suatu strategi yang mampu membimbing
integrasi.
Lebih luas lagi, Howard Wriggins (Muhaimin, 1991: 51) memberi catatan
dan komentar tentang integrasi dan menguraikannya menjadi lima tipe, yaitu:
(1) Integrasi menunjuk pada proses penyatuan berbagai kelompok
budaya dan sosial ke dalam satu kesatuan wilayah, dan pada pembentukan identitas nasional. Di sini integrasi bangsa menunjuk pada masalah pembangunan rasa kebangsaan dengan cara menghapus kesetiaan-kesetiaan pada ikatan yang lebih sempit.
(2) Integrasi dapat menunjuk pada masalah pembentukan wewenang
kekuasaan nasional pusat di atas unit-unit atau wilayah-wilayah politik yang lebih kecil yang mungkin beranggotan suatu kelompok budaya atau sosial tertentu.
(3) Integrasi dapat juga menunjuk pada upaya menghubungkan
(4) Integrasi kadang-kadang juga digunakan untuk menunjukkan adanya konsensus nilai yang minimum yang diperlukan untuk memelihara tertib sosial.
(5) Integrasi dapat juga menunjuk pada pembicaraan mengenai tingkah laku untuk berorganisasi demi mencapai beberapa tujuan.
Dengan identifikasi yang dibuatnya, Wriggins mengemukakan pula bahwa
istilah integrasi merangkum hubungan-hubungan dan sikap-sikap manusia yang
sangat luas yakni integrasi antar berbagai kesetiaan kultural dan penciptaan rasa
kebangsaan, integrasi unit-unit politik kerangka wilayah bersama dengan satu
pemerintah kekuasaan, integrasi antara pemerintah dan yang diperintah, integrasi
warga-warga ke dalam proses yang dijalankan bersama, serta integrasi
individu-individu ke dalam organisasi-organisasi dengan kegiatan-kegiatan yang berguna.
Pengertian-pengertian tersebut, meskipun berbeda-beda, mengandung kesamaan
yang konsisten, yaitu adanya upaya mendefinisikan sesuatu yang bisa menyatukan
masyarakat dengan sistem politik.
Dari kondisi suatu bangsa yang demikian, Weiner (Muhaimin, 1991: 44)
menyatakan perlu disusun adanya dua strategi kebijaksanaan pemerintah untuk
mencapai integrasi nasional, yaitu:
(1) Penghapusan sifat-sifat kultural utama dari komunitas-komunitas yang berbeda menjadi semacam kebudayaan nasional. Strategi ini disebut “policy asimilasionis”.
(2) Penciptaan kesetiaan nasional tanpa menghapuskan kebudayaan-kebudayaan kecil. Strategi ini disebut “policy bhineka tunggal ika” (integrated pluralism).
Dari paparan di atas, menggambarkan bahwa sebuah integrasi dan
dipertahankannya sistem budaya adalah karena adanya komitmen-komitmen nilai
Berkaitan dengan komitmen-komitmen nilai tersebut, Talcott Parsons
(Johnson:1986:114), dalam teori tindakannya menguraikan mengenai tindakan
manusia yang dipengaruhi oleh dua macam orientasi, yaitu orientasi motifasional
yang bersifat pribadi dan orientasi nilai-nilai yang bersifat sosial. Orientasi
motifasional menunjuk pada keinginan individu yang bertindak itu untuk
memperbesar kepuasan dan mengurangi kekecewaan. Sedangkan orientasi nilai
menunjuk pada standar-standar normatif yang mengendalikan pilihan-pilihan
individu (alat dan tujuan) dan prioritas sehubungan dengan adanya
kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan yang berbeda. Hal ini mengandung pengertian bahwa
tindakan seseorang itu dipengaruhi oleh kehendak pribadinya dan sekaligus di
kontrol oleh nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Tindakan manusia menurut Parsons memiliki empat elemen sistem, yaitu sub sistem budaya, sub sistem sosial, sub sistem kepribadian dan sub sistem perilaku organisme. Keempat sub sistem tersebut berada dalam suatu hubungan hirarki. Sistem budaya merupakan orientasi nilai dasar dan
pola normatif yang dilembagakan dalam sistem sosial dan
diinternalisasikan dalam struktur kepribadian para anggotanya. Norma diwujudkan dalam peran-peran tertentu dalam sistem sosial yang juga disatukan dalam struktur kepribadian anggota sistem itu. Perilaku organisme merupakan energi dasar yang dinyatakan dalam pelaksanaan peran dalam sistem sosial. Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial.
Yanse,(2000:19) mengatakan bahwa ” integrasi memiliki dua pengertian,
yaitu : 1) Pengendalian terhadap koflik dan penyimpangan sosial dalam suatu
sistem sosial tertentu, 2) Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan
unsur-unsur tertentu”. Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang
sosial atau kemasyarakatan. Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat
tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan
fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.
Lebih lanjut Yanse,(2000:23) mengatakan bahwa Menurut pandangan para
penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua
landasan berikut :
1 Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar). 2 Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus
menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting
affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan
kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.
Integrasi nasional merupakan penyatuan atau kesepakatan warga
masyarakat Indonesia akan nilai – nilai umum tertentu yang disepakati bersama
dan nilai – nilai umum tersebut benar – benar dihayati melalui proses sosialisasi.
Tidak dapat disangsikan lagi bahwa pengakuan bertumpah darah satu,
berkebangsaan satu, dan berbahasa satu, Indonesia, yang tumbuh sebagai hasil
gerakan nasionalisme dari permulaan abad ke-20 yang berjiwa anti kolonialisme
itu merupakan konsensus nasional yang memiliki daya tiada terkira di dalam
mengintegrasikan masyarakat Indonesia sampai saat ini. (Nasikun: 2007:80).
Selanjutnya menurut Liddle (Nasikun:2007:81) suatu integrasi nasional
yang tangguh hanya dapat berkembang apabila : (1) sebagian besar anggota suatu
masyarakat bangsa bersepakat tentang batas – batas teritorial dari negara sebagai
besar angota masyarakat tersebut bersepakat mengenai struktur pemerintahan dan
aturan – aturan daripada proses – proses politik yang berlaku bagi seluruh
masyarakat di atas wilayah negara tersebut.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Metode Penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.
Penelitian kualitatif (Qualitative Research) adalah suatu penelitian yang di
tujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas
sosial, sikap kepercayaan, persepsi dan pemikiran orang secara individu maupun
kelompok. Dalam paradigma ini realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang
holistik/menyeluruh, kompleks, dinamis, dan penuh makna.
Konsep di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Lincoln dan
Guba (1985:39), yakni ”ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan-
kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari
konteksnya.
Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan
pada pertimbangan bahwa: metode kualitatif menyajikan secara langsung hakikat
hubungan antara peneliti dan informan, Obyek dan subyek penelitian bersentuhan
langsung. Pemaparan di atas, dimaknai bahwa penelitian kualitatif merupakan
suatu cara meneliti langsung tanpa rekayasa, atau intervensi dari pihak manapun
sehingga memperoleh data deskriptif tentang perilaku manusia. Untuk
menghindari kerancuan dalam pelaksanaan pengumpulan data secara operasional,
dari penelitian kualitatif sebagai berikut :
1. Peneliti sendiri sebagai instrumen utama untuk mendatangi secara langsung sumber data.
2. Mengimplementasikan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka.
3. Menjelaskan bahwa hasil penelitian lebih menekankan kepada proses tidak semata-mata kepada hasil.
4. Melalui analisis induktif, peneliti mengungkapkan makna dari keadaan yang diamati.
5. Mengungkapkan makna sebagai hal yang essensial dari pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif merupakn sistem perangkat kerja dalam menggali,
menguji dan membentuk teori, penilitian kualitatif menghendaki adanya
kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipamahi jika dipisahkan dari
konteksnya. Sebab itu, peneliti mengambil tempat pada keutuhan dalam konteks
dari fenomena yang ada
Dalam penelitian ini, terdapat beberapa karakteristik yang ditonjolkan.
Pertama, peneliti bertindak sebagai instrumen utama (key instrument), dengan
melakukan wawancara sendiri pada informan dan pengumpulan bahan yang
berkaitan dengan objek penelitian dan peneliti terlibat aktif dalam proses
penelitian, peneliti berpartisipasi aktif selama penelitian berlangsung dalam
rangka menjaring data dan mendapatkan informasi dilokasi penelitian. Analisis
data diolah selama berlangsungnya kegiatan penelitian.
Kedua, penonjolan rincian kontekstual artinya peneliti mengumpulkan dan
mencatat data-data dengan rinci, yang berkaitan dengan masalah yang sedang
diamati. Ketiga, melakukan triangulasi data, atau konfirmasi dari data lain,
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk
keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu, karena data
yang telah diperoleh dari salah satu informan akan dikonfirmasi keabsahaannya
pada informan lainnya. Tujuannya untuk memberi perbandingan informasi tentang
hal yang diperoleh dari berbagai pihak, agar tingkat kepercayaan terhadap data
cukup tinggi. Keempat, dengan manggunakan perspektif emik, artinya
membandingkan pandangan informan, bagaimana ia memandang dan menafsirkan
masalah dalam pandangannya sendiri. Peneliti memasuki lapangan dengan tidak
membuat generalisasi dan tidak mempengaruhi jalan pikirannya informan.
Kemudian, dalam wawancara, akan dilakukan receking bagi data yang diperoleh
dari informan sebelumnya. Kelima, melakukan analisis sepanjang penelitian
dilakukan. Analisis dengan sendirinya akan muncul saat tiba pada penafsiran data.
Menurut Nasution (1988:9) alasan manusia sebagai instrumen utama
adalah; 1). Peneliti sebagai alat peka dan dapat berinteraksi terhadap segala
stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi
penelitian, 2). Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek
keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus, 3). Tiap situasi
merupakan suatu keseluruhan, 4). Suatu situasi yang melibatkan interaksi
manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata – mata, untuk
memahaminya kita sering perlu merasakannya, menyelaminya, berdasarkan
penghayatan kita, 5). Peneliti sebagai instrumen dapat segera mengalisis data yang
diperoleh, 6). Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan
sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau
penolakan, dan 7). Dalam penelitian dengan menggunakan test atau angket yang
bersifat kuantitatif yang diutamakan adalah respons yang dikuantitikasi agar dapat
diolah secara statistik, sedangkan yang menyimpang dari itu tidak dihiraukan.
Dengan manusia sebagai instrumen, respons yang aneh, yang menyimpang justru
diberi perhatian. Respons yang lain daripada yang lain , bahkan yang bertentangan
dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman
mengenai aspek yang diteliti.
B. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, maka digunakan
teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1. Observasi Partisipatif
Menurut Black dan Champion, (1999:286) yakni mengamati dan
mendengar perilaku seseorang selama beberapa waktu, tanpa melakukan
manipulasi atau pengendalian serta mencatat penemuan yang memungkinkan atau
memenuhi syarat untuk digunakan ke dalam tindakan penafsiran analisis.
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang
yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Dengan
observasi partisipatif ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan
sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak. Teknik
ini memungkinkan untuk menarik kesimpulan tentang makna dan sudut pandang
2. Wawancara Mendalam (In-depth interview).
Merupakan kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh
data dari informan yang berupa pemahaman, perasaan dan makna sesuatu. Tujuan
wawancara ialah untuk mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran dan hati
orang lain, bagaimana pandangannya tentang dunia, yaitu hal-hal yang tidak dapat
diketahui melalui observasi (Nasution; 1988: 73). Dalam wawancara dengan
informan, peneliti memberikan keleluasaan kepada untuk menjawab segala
pertanyaan, sehingga memperkuat data-data melalui pengamatan. Wawancara
dilakukan secara tidak terstruktur dan menggunakan pedoman wawancara.
Nasution, (1988:69) mengemukakan bahwa “observasi saja tak memadai dalam
melakukan penelitian, itu sebabnya observasi harus delengkapi dengan
wawancara“.
Kelemahan wawancara adalah responden bisa saja tidak jujur atau tidak
berterus terang untuk menjawab sesuatu yang sensitif atau mengancam dirinya.
Dalam hal ini responden cenderung berkesimpulan bahwa peneliti menginginkan
responden menjawab sesuai dengan keinginan peneliti. Dengan demikian untuk
mengatasi kelemahan-kelemahan ini peneliti melakukan observasi.
3. Studi Dokumentasi
Selain melalui observasi dan wawancara, dalam hal ini dilakukan juga studi
dokumentasi yang bertujuan untuk mendukung di dalam proses pengungkapan dan
pendeskripsian hasil penelitian. Selain itu studi dokumentasi bertujuan untuk
beberapa sumber informasi lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.
Lincoln dan Guba,(1985:276-277) mengatakan bahwa dokumentasi dan
catatan digunakan sebagai pengumpul data didasarkan pada beberapa hal yakni :
1. Dokumen dan catatan ini selalu dapat digunakan terutama karena mudah diperoleh dan relatif lebih murah.
2. Merupakan informasi yang mantap baik dalam pengertian merefleksikan situasi secara akurat maupun dapat dianalisis ulang tanpa melalui perubahan di dalamnya.
3. Dokumen dan catatan merupakan sumber informasi yang kaya.
4. Keduanya merupakan sumber resmi yang tidak dapat di sangkal, yang menggambarkan kenyataan formal.
5. Tidak seperti pada sumber manusia, baik dokumen maupun catatan non kreatif, tidak memberikan reaksi dan respon atau perlakuan peneliti.
Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan informasi-informasi yang
berguna. Banyak dokumen resmi dan laporan yang oleh sebagian orang dipandang
sebagai arsip yang tidak berguna, namun bagi peneliti ini sangat penting untuk
memahami aktivitas yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu, yang
faktanya tersimpan didalam dokumen. Adapun dokumen yang peneliti maksudkan
yakni : arsip daerah, kecamatan, catatan-catatan yang dibuat oleh pemerintah,
tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, yang dapat memberikan gambaran
tetang inti dari penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga tingkat validitas
data yang nantinya akan dikumpulkan oleh peneliti.
4. Snowball Sampling
Dalam sampling ini peneliti mulai dengan kelompok kecil yang diminta
untuk menunjuk kawan masing-masing. Kemudian kawan-kawan ini diminta pula
kelompok itu senantiasa bertambah besarnya bagaikan bola salju yang kian
bertambah besar.
Sampling ini dipilih bila kita ingin menyelidiki hubungan antar-manusia
dalam kelompok yang akrab, atau menyelidiki cara-cara informasi tersebar di
kalangan tertentu. Untuk meneliti penyebaran informasi dikalangan kelompok
terbatas sampling ini sangat bermanfaat. Disamping itu diperoleh gambaran
tentang hubungan antar-manusia dalam kelompok itu antara lain siapa menjadi
tokoh yang berpengaruh dalam kelompok itu (Nasution, 2008:99).
C. Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Kota Ternate. Dasar pertimbangan
dijadikannya Kota Ternate sebagai lokasi penelitian yaitu karena Kota Ternate
merupakan salah satu wilayah yang mengalami konflik, serta sebagai pusat
eksodus ketika terjadi konflik etnik di Maluku Utara dan hingga saat ini masih
ada pengungsi yang belum dipulangkan ke daerah asalnya dan menetap di Kota
Ternate. Alasan lainnya yaitu karena Kota Ternate memiliki penduduk yang
sangat heterogen jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Subjek penelitian
yang menjadi sumber data dalam penelitian ini dapat dikategorikan sebagai
berikut:
Pertama, sumber responden (human resources), dipilih secara purposive
sampling dan bersifat snowball sampling. Sumber data pada tahap awal memasuki
lapangan dipilih oleh orang yang memiliki power dan otoritas pada situasi sosial
akan mengumpulkan data. Dengan demikian subjek penelitian yakni terdiri atas :
tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, guru PKn, dan Pemerintah Daerah.
Karena bersifat snowball sampling, maka informan yang diteliti menjadi
berkembang dilapangan apabila peneliti menemukan orang yang lebih mengetahui
tentang permasalahan yang diteliti.
Kedua, sumber bahan cetak (kepustakaan) yang meliputi: buku teks,
dokumen negara, makalah, kliping tentang nilai, moral, konflik , konflik
antaretnik, dan pergeseran nilai – nilai agama, budaya , etika, integrasi sosial dan
integrasi nasional yang diperoleh melalui jurnal, majalah ilmiah, surat kabar,
internet, dan lain-lain.
D. Analisis Data Penelitian
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum
memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah di lapangan dalam hal ini
Nasution (1988) menyatakan “Analisis telah dirumuskan dan menjelaskan
masalah, sebelum terjun kelapangan, dan berlangsung terus sampai penelitian dan
hasil penelitian dicapai. Dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan
selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.
Lincoln dan Guba (1985: 345) mengatakan bahwa :
Tujuan analisis data yang dilakukan oleh peneliti yakni proses mencari dan
menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan
lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya
dapat diinformasikan kepada orang lain. Analsis data dilakukan dengan
mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit sintesa, menyusun
ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan
membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Menurut Creswell, (1998:147-150) langkah-langkah yang sering dipakai
dalam penelitian fenomenologi adalah sebagai berikut :
1. Peneliti memulai dengan suatu deskripsi penuh mengenai pengalaman
pribadinya tengtang fenomena tersebut.
2. Peneliti kemudian menemukan pernyataan-pernyataan, tentang
bagaimana orang memahami topik yang diteliti, membuat daftar pertanyaan yang signifikan dan memperlakukan semua data secara sama.
3. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian dikelompokan ke dalam ”unit-unit makna”, peneliti membuat daftar ”unit-unit-”unit-unit ini dan kemudian menulis sebuah deskripsi.
4. Peneliti kemudian melakukan refleksi pada deskripsi pribadinya dan menggunakan variasi imajinatif atau deskripsi struktural, mencari semua makna.
5. Peneliti kemudian menyusun suatu deskripsi menyeluruh dari makna dan esensi dari pengalaman tersebut.
Bertolak dari dasar konsep di atas, maka untuk memudahkan peneliti
dalam proses menganalisis data dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan
alur analisis sebagai berikut :
1. Analisis Sebelum di Lapangan
Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti
atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menemukan fokus penelitian.
Dalam kaitan dengan itu maka, peneliti telah melakukan analisis terhadap
beberapa tesis dan hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Maluku Utara tentang
konflik etnis dan sosial. Analisis ini diharapkan dapat memberikan sedikit
gambaran tentang masalah yang akan dikaji oleh peneliti.
Namun demikian fokus penelitian ini masih bersifat sementara, dan
akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.
Sugiyono,(2005:90) mengibaratkan tahapan ini seperti :
seseorang yang sedang mencari pohon jati di suatu hutan. Berdasarkan karakteristik tanah dan iklim, maka dapat diduga bahwa hutan tersebut ada pohon jatinya. Oleh karena itu peneliti dalam membuat proposal penelitian, fokusnya adalah ingin menemukan pohon jati pada hutan tersebut, berikut karakteristiknya. Setelah peneliti masuk ke hutan beberapa lama, ternyata hutan tersebut tidak ada pohon jatinya. …… kalau fokus penelitian yang dirumuskan dalam proposal tidak ada di lapangan, maka peneliti akan merubah fokusnya, tidak lagi mencari kayu jati di hutan, tetapi akan berubah dan mungkin setelah masuk hutan lagi tidak tertarik pada kayu jati, tetapi beralih ke pohon-pohon yang lain, bahkan juga mengamati binatang yang ada di hutan tersebut.
2. Analisis Selama di Lapangan
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan
data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.
Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang
diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum
memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari
tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman: 1992: 16-18). Analisis
data kualitatif merupakan upaya yang berlanjut, berulang dan terus menerus.
Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan merupakan rangkaian
kegiatan analisis yang saling susul menyusul. Langkah-langkah analisis
ditunjukan pada gambar berikut ini :
Gambar : 1.1.
Komponen – komponen Analisis Data
( Miles dan Huberman, 1992 :20 )
Dari bagan tersebut dapat dijelaskan bahwa ada tiga jenis kegiatan utama
analisis data yang merupakan proses siklus dan interaktif. Peneliti harus siap
bergerak diantara empat ”titik” kumparan itu selama pengumpulan data, Pengumpulan
data
Reduksi data
Penyajian data
selanjutnya bergerak bolak balik diantara kegiatan reduksi, penyajian, serta
penarikan kesimpulan / verifikasi.
a. Penyajian Data.
Bagian kedua dari analisis adalah Penyajian data, penyajian yang
dimaksudkan adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan
kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian
yang paling sering digunakan pada data kualitatif dalam bentuk teks naratif.
Dalam hal ini Miles dan Huberman (1992) menyatakan “ the mos frequent from of
display data for qualitative research dat in the past been narrative tex” yang
paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah
dengan teks yang bersifat naratif.
b. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, melihat hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan
demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan
mencarinya bila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan
elektronik seperti komputer mini, dengan menggunakan kode pada aspek-spek
tertentu.
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data yang muncul dari
catatan-catatan lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama
menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan
akhir dapat ditarik dan diverifikasi.
c. Penarikan Kesimpulan / Verifikasi
Langkah ketiga dalam analisis kualitatif menurut Miles dan Huberman
adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang ditemukan
masih bersifat sementara, dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat
yang mendukung tahapan pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila
kesimpulan yang dikemukakan pada tahapan awal, didukung oleh bukti-bukti.
Kesimpulan akhir tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan
lapangan, pengkodean, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang
digunakan, serta kecakapan peneliti.
E. Konstruksi Data
1. Deskripsi
Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan
angka-angka. Karena menggunakan pendekatan kualitatif, selain itu semua data yang
dikumpulkan kemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti (Moleong,
2007:11). Dalam penelitian ini diusahakan mengumpulkan data deskriptif yang
banyak yang dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Penelitian ini tidak
menutamakan angka-angka dan statistik, walaupun tidak menolak data kuantitatif
2. Verifikasi
Untuk memperoleh hasil yang lebih dipercaya, peneliti mencari kasus-kasus
yang berbeda atau yang bertentangan dengan apa yang telah ditemukan. Maksudnya
ialah memperoleh hasil yang lebih tinggi tingkat kepercayaannya yang mencakup
situasi yang lebih luas, sehingga apa yang semula tampaknya berlawanan akhirnya
dapat diliputi dan tidak lagi mengandung aspek-aspek yang tidak sesuai.
3. Validasi Data
Perolehan data yang akurat dan absah, terutama yang diperoleh melalui
observasi, wawancara, maupun dokumentasi teknik yang digunakan adalah
memeriksa derajat kepercayaan atau kredibilitasnya. Kredibilitas data dapat
diperiksa melalui beberapa cara, antara lain :
a. Memperpanjang masa observasi
Usaha peneliti dalam memperpanjang waktu keikutsertaan dengan
para nara sumber adalah dengan cara meningkatkan frekuensi pertemuan
dan menggunakan waktu seefisien mungkin, misalnya mencari waktu yang
tepat untuk melakukan penggalian data pada saat aktivitas masyarakat
berlangsung.
b. Melakukan Pengamatan Secara Seksama
Pengamatan secara seksama dilakukan secara terus-menerus untuk
memperoleh gambaran yang nyata tentang pergeseran nilai masyarakat
pasca konflik etnik serta implikasinya pada integrasi nasional, serta
c. Triangulasi
Data atau informasi dari satu pihak harus dichek kebenarannya
dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain, misalnya dari pihak
kedua, ketiga, dan seterusnya dengan menggunakan metode yang
berbeda-beda. Tujuannya ialah membandingkan informasi tentang hal yang sama
yang diperoleh dari berbagai pihak, agar ada jaminan tentang tingkat
kepercayaan data. Cara ini juga mencegah bahaya subjektivitas
(Nasution;1988:10).
d. Menggunakan Bahan Referensi
Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan keabsahan informasi yang
dibituhkan dengan menggunakan dukungan bahan referensi yang cukup
baik melalui media elektronika. Menggunakan referensi yang cukup adalah
menyediakan semaksimal mungkin sumber data dan media cetak (buku,
jurnal,makalah, majalah ilmiah, surat kabar, kertas kerja,dll), media
elektronika (alat rekam), serta realitas lapangan seperti catatan-catatan
observasi dan foto-foto dokumentasi.
e. Melakukan Memberchek
Mmemberchek merupakan salah satu teknik yang penting untuk
mempertinggi kredibilitas. Memberchek dilakukan dengan cara meminta
pendapat para responden untuk menilai kebenaran data, tafsiran, serta
kesimpulan. Selanjutnya mengadakan perbaikan sesuai dengan saran dan
masukan dari subjek penelitian. Dengan demikian memberchek
penelitian dengan cara menginformasikannya dengan sumber data
(Nasution;1988:150).
F. Prosedur Penelitian.
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini dilakukan melalui
beberapa tahap kegiatan, yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap
pelaporan.
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan bertujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan
lengkap mengenai masalah yang hendak diteliti. Tahap awal ini diawali dengan
penjajakan lapangan untuk menentukan permasalahan atau fokus penelitian. Lebih
lengkap tahap ini meliputi pemilihan masalah, studi pendahuluan, penyusunan
proposal dan perijinan.
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data sesuai dengan fokus dan tujuan
penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara
mendalam, dan studi dokumentasi. Demi kelancaran tahap ini maka peneliti harus
memahami beberapa hal yakni pemahaman tentang latar belakang penelitian, tata
cara memasuki lapangan, dan peran sertanya dalam mengumpulkan data.
Pemahaman terhadap latar penelitian bertujuan untuk menghindarkan
mengumpulkan data yang relevan sebanyak mungkin dari sudut pandang informan
tanpa mempengaruhinya. Selain itu agar data dapat diperoleh dengan baik maka
peneliti harus melakukan hubungan yang akrab dengan responden, memahami etika
di daerah latar penelitian dan tetap menyadari perannya sebagai peneliti. Untuk
lebih lengkapnya kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi pengumpulan
data, pengolahan data, dan penarikan kesimpulan.
3. Tahap Pelaporan
Tahap ini merupakan tahap akhir dalam penulisan tesis, hal ini
dimaksudkan sebagai alat untuk mengkomunikasikan hasil penelitian kepada
pihak lain.
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Dari deskripsi dan pembahasan hasil penelitian pada bab IV, dapat peneliti
rumuskan suatu kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut :
A. Kesimpulan
1. Kesimpulan Umum
Sebelum konflik, masyarakat Ternate sangat menjunjung tinggi nilai-nilai
budaya seperti adat-istiadat, kesusilaan (moral), hukum, kekerabatan, toleransi,
gotong-royong, dan lain-lain. Nilai-nilai ini kemudian sanggup menyatukan
masyarakat Ternate yang sangat heterogen. Kehidupan masyarakat saat itu sangat
harmonis, tidak ada gangguan-gangguan keamanan yang berarti, hubungan antara
agama yang satu dengan agama lainnya terjalin baik, demikian juga hubungan
antara suku (etnik) yang satu dengan suku (etnik) lainnya sangat harmonis, rukun,
dan rasa kekeluargaan terjalin sangat erat. Akan tetapi dengan terjadinya konflik
etnik tersebut, masyarakat mengalami perubahan nilai-nilai budaya, etika, pola
pikir dan tingkah laku serta memudarnya nilai-nilai gotong royong, toleransi,
rengganggnya (tidak harmonisnya) hubungan antara anggota masyarakat yang
berbeda etnis dan agama, serta marak terjadinya tindakan-tindakan anarkhis dan
amoral, yang sangat meresahkan masyarakat luas. Kondisi yang demikian tentu
saja dapat menghambat integrasi sosial masyarakat, khusnya