• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAKNAAN IKLAN ROKOK LA LIGHTS (Studi Semiotik Tentang Iklan Rokok LA Lights Indiefest Versi “Saatnya Besarin Musik Loe” di Televisi ).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMAKNAAN IKLAN ROKOK LA LIGHTS (Studi Semiotik Tentang Iklan Rokok LA Lights Indiefest Versi “Saatnya Besarin Musik Loe” di Televisi )."

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

OLEH :

GANDA ARY PRASETYO

NPM. 0643010105

YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” JATIM

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

(2)

Jurusan :

Ilmu

Komunikasi

Fakultas

: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Telah disetujui untuk mengikuti Seminar Proposal

Menyetujui,

Pembimbing Utama

Zainal Abidin Ahmad, M.Si. M.Ed.

(3)

NPM :

O643010105

Jurusan :

Ilmu

Komunikasi

Fakultas

: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Telah disetujui untuk mengikuti Ujian Skripsi

Menyetujui

Pembimbing Utama

Zainal Abidin, M.Si, M.Ed

NPT : 3 7305 9901 701

Mengetahui,

Dekan

(4)

GANDA ARY PRASETYO

NPM. 0643010105

Telah dipertahankan di hadapan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Pada 1 Desember 2010

Menyetujui,

DOSEN PEMBIMBING T I M P E N G U J I : 1. Ketua

Zainal Abidin, M.Si, M.Ed. Juwito, S.Sos, M.Si NPT : 3 7305 9901 701 NPT : 367049500361

2. Sekretaris

Drs. Kusnarto, M.Si NPT. 370 069 400 351

3. Anggota

Zainal Abidin, M.Si, M.Ed NPT : 3 7305 9901 701

Mengetahui,

DEKAN

(5)

Nya kepada penulis, tak lupa salam & sholawat kita jungjungkan kepada Nabi

Muhammad Saw yang telah membawa kita dari jaman yang gelap gulita ke jaman

yang terang benderang seperti sekarang ini. sehingga dapat menyelesaikan Skripsi

dengan judul “Pemaknaan Iklan Rokok La Lights” Maka pada kesempatan

ini,

penulis

mengucapkan

terima

kasih

kepada

Bapak

Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan,

nasehat serta motivasi kepada penulis. Dan penulis juga banyak menerima bantuan

dari berbagai pihak, baik itu berupa moril, spiritual maupun materiil. Untuk itu

penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1.

Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

2.

Ibu Dra. Hj. Suparwati, MSi. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu

Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3.

Bapak Juwito ,S.Sos, MSi selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu

Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran “ Jawa

Timur.

4.

Bapak Drs. Syaifudin Zuhri. MSi selaku Sekertaris Jurusan Program Studi Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa

Timur.

5.

Bapak Zaenal Abidin Achmad, MSi. MEd. selaku dosen pembimbing yang

(6)

ii

8.

Teman-teman seperjuangan “THE GIMBRUT’S”. Anyus, Cece, Any, Babe, Om,

Duyung, Rangga, Arifin, Dimas & teman-teman yang tidak bisa disebutkan

satu-persatu. Thank’s buat dukungannya sehingga akhirnya kita dapat menyelesaikan

skripsi bareng-bareng.

9.

Papa dan Mama, terima kasih atas doanya serta supportnya baik berupa moril

maupun materiil.

10. Terimakasih Buat Kakakku Tercinta Mbak Dini, Mbak Noy dan Mas Ady yang

telah membantu penyusunan Skripsi ini.

11. Semua pihak yang secara langsung dan tidak langsung telah membantu

penyusunan Skripsi ini yang tidak bisa di sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka

kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah dibutuhkan guna memperbaiki

kekurangan yang ada. Akhir kata semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua

pembaca, khususnya untuk teman-teman di Program Studi Ilmu Komunikasi.

Surabaya,

November

2010

(7)

HALAMAN JUDUL………..

LEMBAR PERSETUJUAN ...i

KATA PENGANTAR ...………...ii

DAFTAR ISI……….iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah ………

1

1.2

Perumusan Masalah ………..

7

1.3

Tujuan Penelitian………..

7

1.4

Kegunaan Penelitian ………...8

1.4.1 Kegunaan Teoritis………

8

1.4.2 Kegunaan Praktis………. 8

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori ……… 8

2.1.1 Pengertian Iklan ………

8

2.1.2 Kreatifitas Iklan……….12

2.1.3 Iklan Televisi (TVC/Television Commercial)………..12

2.1. 4Unsur-Unsur Iklan Televisi………...14

2.1.5 Pendekatan Semiotik John Fiske Dalam Iklan Televisi…………17

2.1.6 Respon psikologi Warna………23

(8)

2.2.1 Alat Musik Dalam Iklan La Lights Indiefest………27

2.3 Kerangka Berpikir ………

28

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian ……….……… 30

3.2.

Corpus

……….………

31

3.3. Unit Analisis ……….

31

3.4. Teknik Pengumpulan Data ……….………...32

3.5. Teknik Analisis data ………..34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ...36

4.1.1. Tahun Berdirinya...36

4.1.2. Fokus Pada Pelanggan...37

4.1.3. Keuangan...39

4.1.4. Bidang Usahanya...40

4.1.5. Kejayaan...40

4.1.6. Analisis Strategis...41

4.2. Analisis Tampilan Visual dalam Scene Iklan Rokok

LA Lights Indiefest di televisi dengan

Pendekatan Semiologi John Fiske...42

(9)

v

v

4.4 Makna Iklan Rokok LA Lights Indiefest di Televisi dalam

Pendekatan Semiologi Roland Barthes ...79

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan...80

5.2 Saran...81

(10)

Ganda Ary Prasetyo. (0643010105). PEMAKNAAN IKLAN ROKOK LA

LIGHTS (Studi Semiotik Tentang Iklan Rokok LA Lights Indiefest Versi

“Saatnya Besarin Musik Loe” di Televisi )

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pemaknaan

iklan Rokok La Lights Indiefest Versi “Saatnya Besarin Musik Loe” dengan

teori-teori yang digunakan antara lain : teori-teori iklan, kreativitas iklan, iklan televisi,

unsur-unsur iklan televise, dengan pendekatan semiotik John Fiske.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan metode

semiotik John Fiske dikarenakan dalam ilustrasi iklan LA Lights Indiefest versi

“Saatnya Besarin Musik Loe”di televisi ini terdapat berbagai makna yang sesuai

dengan kode-kode televisi dalam metode Semiotik John Fiske.

Dari hasil penelitian ini Dalam visualisasi iklan Rokok LA Lights Indiefest

di televisi secara keseluruhan adalah tentang festival yang diadakan Rokok LA,

bagi grup band yang amatir (indie) dan belum terkenal yang digambarkan dengan

kecilnya semua peralatan yang digunakan, dan pencahayaan yang suram serta

setting di gudang menandakan bahwa bila ingin musiknya dan grup bandnya

menjadi besar harus mengikuti LA Light Indiefest

(11)

CIGARETTE ADVERTISING (Semiotic Studies About LA Lights Cigarette

Advertising Indiefest Version "Saatnya Besarin Musik Loe" on TV)

The purpose of this study is to investigate how the meanings of La Lights

Cigarette ads Indiefest Version "Saatnya Besarin Musik Loe" with theories that

are used among others: the theory of advertising, creative advertising, television

advertising, television advertising elements, with the semiotic approach of John

Fiske.

The method used in this study, using the method of semiotics John Fiske due in

advertising illustration LA Lights Indiefest version of "Saatnya Besarin Musik

Loe" in this television there are various in accordance with codes of television in

the methods of John Fiske.

From the results of this research in visualization Indiefest LA Lights Cigarette

advertising on television as a whole is about the festival that is held Cigarette LA,

for an amateur band (indie) and not yet known who is described as a small all of

the equipment used, and the dim lighting and setting in warehouse signifies that if

you want his music and his band became a big need to follow LA Light Indiefest

(12)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam era globalisasi dan konsumerisme. terutama di kota-kota besar,

kegiatan periklanan sangat lekat dalam kehidupan masyarakat. Dalam satu hari,

masyarakat kota selalu berhadapan dengan iklan, dalam manifestasinnya yang

sangat beragam. Iklan muncul di billboard di sepanjang jalan, di

spanduk-spanduk, bahkan di pohon-pohon sepanjang jalan. Belum lagi ketika iklan

menggunakkan jasa media massa seperti Koran, radio, dan ataupun televisi.

(Widodo, 2003:1-5)

Di Indonesia, Masyarakat periklanan Indonesia mengartikan iklan sebagai

segala bentuk pesan tentang suatu produk atau jasa yang disampaikan lewat suatu

media yang di tujukan keseluruhan proses yang meliputi persiapan, perencanaan,

pelaksanaan dan pengawasan penyampaian iklan (Widyatama, 2007:16). Iklan

adalah sebuah komunikasi persuasif yang mampu mengubah perilaku khalayak.

Sebuah iklan diciptakan untuk dapat menggiring pola pikir dan atau

tindakan-tindakan yang diharapkan oleh pembuat iklan. Daya pikat iklan di bangun untuk

mengingatkan khalayak pada pencitraan tertentu.

Kemajuan teknologi televisi seprti sekarang ini mengagetkan siapa saja,

yang sebenarnya tidak memperkirakan begitu cepat perkembangannya sehingga

(13)

“lubang penembus space” menjadikan dunia bahkan jagad raya ini menjadi

selebar daun kelor (Bungin, 2006: 133).

Salah satu media untuk menyampaikan pesan berupa iklan adalah televisi.

Hal ini dikarenakan peranan televisi memiliki kelebihan jika di bandingkan

dengan media lain dalam upaya membantu proses keberhasilan penyebaran iklan.

Karenannya memperbincangkan iklan televisi sangatlah menarik, selain memiliki

sisi kreasi dan inovasi dalam hal ini mengedepankan informasi, hiburan, dan

pendidikan atau gabungan dari semuanya. Iklan televisi juga mampu

mempengaruhi emosi masyarakat yang bertempat tinggal tersebar dan heterogen

dalam memenuhi standard dan gaya hidup pemirsanya terutama atas rangsangan

visual, sehingga menjadikannya sebeagai medium yang intim dan personal.

Dari segala macam produk yang diiklankan di televisi, iklan produk rokok

termasuk dalam kategori iklan yang terbatas dalam memvisualisasikan kelebihan

produknya dibandingkan iklan lainnya. Ada tiga produk yang selelu menimbulkan

kontroversi yaitu produk alcohol, rokok, dan kondom. Dalam dunia praktisi

periklanan menyebutnya sebagai produk AKROBAT, akronim dari: Alkohol,

Kondom, Rokok dan Obat-obatan. Khusus untuk produk rokok sebuah iklan

rokok hanya boleh menampilkan image atau citra produk tanpa adanya

perwujudan dari produk rokok tersebut. Banyak produk iklan untuk yang

menggunakan pendekatan citra. Peraturan tentang iklan rokok di televisi yang di

keluarkan oleh (TKTCPI) Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia ini

(14)

a. Iklan tidak boleh mempengaruhi atau merangsang orang untuk mulai

merokok.

b. Iklan tidak boleh menyarankan bahwa tidak merokok adalah hal yang

wajar.

c. Iklan tidak boleh menggambarkan orang merokok dalam

kegiatan-kegiatan yang dapat membahayakan keselamatan.

d. Iklan rokok tidak boleh di muat pada media periklanan yang khalayak

sasaran utamanya adalah anak-anak di bawah usia 16 tahun dan wanita

hamil.

e. Iklan rokok tidak boleh dimuat pada media perikalanan yang khalayak

sasaran utamanya adalah anak-anak di bawah usia 16 tahun.

(www.imple.or.id)

Tata Krama dan tata cara periklananan Indonesia (TKTCPI) di atas

semakin mempersempit ruang gerak para produsen beserta biro iklan rokok.

Untuk menampilkan ide-ide atau konsep-konsep yang lebih kreatif, sehingga

untuk memvisualisasikan sebuah iklan rokok tanpa harus menampilkan bentuk

dan perwujudan rokok akan tetapi dapat mengetahui jenis produk yang diiklankan.

Adanya peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh komisi periklanan

Indonesia pada dasarnya mengharuskan para pembuat iklan rokok di televisi

berusaha untuk lebih berpikir kreatif dalam pembuatan Iklan Produk mereka di

televisi. Di belakang setiap iklan yang baik terdapat sebuah konsep kreatif, sebuah

gagasan besar yang membuat pesannya menjadi berbeda, merebut perhatian, dan

(15)

Keleluasaan pengembangan konsep kreatif pada iklan rokok menjadikan

iklan-iklan yang muncul lebih kreatif dan variatif. Salah satu tempat berlabuh

konsep dan nilai-nilai produk rokok adalah wilayah budaya pop. Pemilihan

budaya pop sebagai tempat berlabuh dapat disidik dari kelebihan-kelebihan dan

kemampuan wilayah tersebut dalam men-deliver ide-ide dan nilai-nilai produk

kepada konsumennya. Budaya pop memberi ruang yang mampu menghimpun

massa dan sekaligus mudah dipahami oleh massa yang lebih luas.

Dengan melalui biro-biro iklannya, perusahaan rokok berusaha untuk

menciptakkan karakter yang kuat atas produknya. Hal tersebut mendorong tim

kreatif biro iklan televisi berusaha untuk berusaha mencari ide-ide segar dan

inovatif dalam penyusunan konsep sebuah iklan rokok. Misalnya iklan rokok

dalam media televisi, Djarum Super menampilkan maskulinitas dan petualang

sejati, kebudayaan dan alam Indonesia sebagai tampilan rokok Djarum Coklat,

kenikmatan tembakau asli bersama Dji Sam Soe, dan Gudang Garam Merah

dengan Slogan “Selera Pemberani”. Sejauh ini hampir semua iklan rokok di

televisi pada umumnya menampilkan laki-laki macho, pemberani, dan pahlawan.

Di dalam iklan ini mereka terlihat jelas maskulinitasnya, misalnya aktivitas olah

raga menantang, memperlihatkan otot, kejantanan, dan keberanian yang

kebanyakan dilakukukan di alam bebas. Hal tersebut dikarenakan konsumen

rokok adalah laki-laki. Tetapi sekarang semakin banyak juga iklan rokok yang

(16)

ide-ide lucu adalah iklan rokok jenis mild yang pangsa pasarnya di tujukan kepada

anak muda.

Selain iklan, event — khususnya event musik menjadi arena perang produk

rokok hampir setiap merek mempunyai atau setidaknya menjadi sponsor pada

ajang musik tertentu, baik event outdoor maupun tayangan TV. Aktivitas

menggelar acara ini ini boleh dibilang sangat mengena dengan target pasar rokok

mild, yaitu anak muda. Tak heranlah, dalam menggelar aktivitas ini pun terjadi

persaingan yang sangat kental. Mulai dari A mild,Class Mild, hingga La Lights.

Di tahun keempat ini, LA Lights Indiefest kembali mencari talenta baru

yang siap memberikan semua kreatifitas. Pemilihan band indie sebagai peserta

festival didasari oleh perkembangan musik indie yang cukup melesat beberapa

tahun belakangan. Bahkan, dari jalur independent pun sudah banyak band yang

dikenal seantero nusantara. Bukan kelas lokal saja.

"Seiring dengan bertambahnya jumlah band indie yang berkualitas,

diperlukan suatu wadah yang mampu menampung kreativitas pelaku industri

independen ini. Nah, LA Lights Indiefest dimaksudkan sebagai salah satu wadah

yang bisa digunakan untuk menampung karya anak-anak indie di seluruh

Indonesia," dan musikalitas mereka.(www.lalightsindiefest.com)

Nah saat ini LA Lights mengeluarkan iklan televisi versi “Saatnya Besarin

Musik Loe” seiring dengan adanya kontes musik untuk para musisi indie. Dalam

iklan tersebut digambarkan bagaimana iklan festival musik yang berkonsep

(17)

dengan empat personil sedang bermain musik dalam sebuah ruangan seperti di

sebuah gudang.

Terlihat sound system dengan ukuran yang tidak biasanya, sound system

berukuran kecil seperti mainan. Dalam scene itu digambarakan bahwa band itu

menggunakkan sound dengan ukuran yang kecil. Seperti bukan sound system pada

umumnya. lalu seorang personil memainkan gitar, tetapi gitar yang dimainkan

juga berukuran kecil seperti mainan. Pada scene lainnya seorang personil bass

juga memainkan bass yang juga berukuran kecil. Pada scene slenjutnya pemain

drum memainkan drum berukuran kecil. Pada cerita selanjutnya memperlihatkan

seorang vokalis band itu berteriak menyanyikan lagu yang menjadi backsound

dari iklan tersebut tetapi dengan menggunakkan pengeras suara (Mic) yang

berukuran kecil juga.

Pada scene lain setelah terlihat bahwa semua personel band yang ada

dalam scene tersebut memainkan alat music dengan ukuran yang kecil munculah

scene berbentuk slide bertuliskan “SAATNYA BESARIN MUSIK LOE”, disusul

dengan scene selanjutnya yang bertuliskan “KIRIM CD DEMO KE SIGN UP

CENTER, JAKARTA 021-9259 1886, BANDUNG 022-9131 2010,

YOGYAKARTA 0274-826 2010, SURABAYA 031-8198 2010 dan dibawah

tulisan tercantum website WWW.LA LIGHTSINDIEFEST.COM .

Pada scene berikutnya tertulis informasi dengan tulisan HOTLINE

NUMBER 0812 8181 2010 yang menunjukan bahwa informasi lebih lanjut bisa

menghubungi nomer telepon tersebut. Pada scene selanjutnya yang menjadi scene

(18)

bertuliskan INDIEFEST FREEDOM OF EXPRESSION dan di bawah tulisan

tersebut terdapat alamat website WWW.LALIGHTSINDIEFEST.COM.

Dari uraian iklan La Lights versi “Saatnya Besarin Musik Loe ” di televisi,

dapat diperoleh sebuah gambaran bahwa sebuah band yang bermain

menggunakkan alat musik berukuran kecil adalah sebuah band yang nama dan

hasil karyanya belom dikenal di masyarakat. Dengan mengikuti event musik indie

“Saatnya Besarin Musik Loe” diharapkan kalangan musisi indie dapat

mempunyai wadah untuk menyalurkan musiklitas mereka agar musik mereka

dapat dikenal oleh pecinta musik tanah air.

Berdasarkan uraian diatas maka pada penelitian ini, peneliti tertarik untuk

melakukan sebuah studi semiotika untuk mengetahui pemaknaan dari iklan LA

Lights Indiefest Versi “Saatnya besarin Musik Loe” di televisi.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka perumusan masalah dalam penelitian ini

adalah “Bagaimanakah pemaknaan iklan Rokok LA Lights Indiefest di televisi

dengan menggunakkan pendekatan semiotik John Fiske.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pemaknaan

iklan Rokok La Lights Indiefest Versi “Saatnya Besarin Musik Loe” dengan

(19)

1.4 Kegunaan Peneletian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

Diharapkan pada penelitian ini dapat memberikan masukan atas

wawasan serta bahan referensi bagi mahasiswa komunikasi pada jenis

penelitian semiotika, serta seluruh mahasiswa pada umumnya agar dapat

diaplikasikan untuk perkembangan ilmu komunikasi.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Diharapkan dapat menjadi bagian kerangka acua bagi pihak

produsen maupun biro iklan untuk menghasilkan strategi kreatif iklan yang

lebih inovatif dan variatif dalam menggambarkan iklan sebagai realitas

kehidupan, cermin budaya masyarakat, sehingga mudah di pahami

(20)

9

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Iklan

Periklanan adalah suatu cara untuk menciptakan kesadaran pilihan. Kita

tidak membeli barang secara langsung kepada para pabrikan melainkan melalui

agen yang disebut sebagai distributor. Distributor inilah yang menjual produk ke

masyarakat dengan menggunakan para penjual. Para penjual tersebut memerlukan

informasi yang aktual yang perlu disampaikan pada khalayak berkenaan dengan

produknya. Informasi tersebut disampaikan melalui sejumlah media, diantaranya

surat kabar, majalah, radio, televisi maupun media-media lain. Ketika pasar

industri menerima informasi tersebut, mereka merespon untuk memilih dan

membeli produk. Akhirnya kegiatan yang di dalamnya melibatkan perputaran

uang yang sangat besar (Widyatama, 2007;143-138).

Iklan ada karena ia mempunyai fungsi. Dilihat sebagai alat, iklan dapat

digunakan untuk mencapai berbagai tujuan. Ia tergantung pada komunikator

hendak mengarahkan pesannya. Bisa jadi iklan akan diarahkannya hanya pada

upaya memberitahukan kepada masyarakat atas sesuatu hal. Artinya, iklan

memang diharapkan hanya sekedar untuk mengetahui apa yang disampaikan.

Komunikator tidak bermaksud untuk lebih dari sekedar untuk mengetahui apa

(21)

membertahu sesuatu, misalnya mengharap agar khalayak terbujuk atau mengikuti

saran sebagaimana yang disarankan dalam pesan iklan.

Berbagai fungsi tersebut dapat digunakan dalam jangka pendek maupun

jangka panjang. Jangka pendek adalah tujuan dimana iklan diharapkan mampu

memberikan dampak segera setelah iklan disampaikan di tengah masyarakat.

Jangka panjang adalah dampak yang baru dapt dipetik dalam kurun waktu yang

lama setelah iklan diluncurkan, umumnya adalah terbentuknya citra baik

perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan.

Menurut Alo Weri dalam Widyatama (2007 : 144-146) iklan mempunyai

fungsi yang sangat luas, diantaranya adalah :

1. Fungsi Pemasaran

Fungsi pemasaran adalah fungsi iklan yang diharapkan untuk membantu

pemasaran atau menjual produk. Artinya iklan digunakan untuk mempengaruhi

khalayak untuk membeli dan mengkonsumsi produk. Hampir setiap iklan

komersial memiliki fungsi pemasaran.

2. Fungsi Komunikasi

Fungsi komunikasi adalah sebentuk pesan dari komunikator kepada

khalayaknya. Sama halnya dengan berbicara kepada orang lain, maka iklan

juga merupakan pesan yang menghubungkan antara komunikator dengan

(22)

3. Fungsi Pendidikan

Fungsi ini mengandung makna bahwa iklan merupakan alat yang dapat

membantu mendidik khalayak mengenai sesuatu, agar mengetahui dan mampu

melakukan seseuatu. Mendidik dalam hal ini cenderung diartikan dalam

perspektif kepentingan komersialisme, industrialisme, dan kapitalisme. Artinya

situasi khalayak yang sudah terdidik tersebut di maksudkan agar khalayak siap

menerima produk yang dihasilkan produsen.

4. Fungsi Ekonomi

Fungsi ekonomi mengandung makna bahwa iklan mampu menjadi penggerak

ekonomi agar kegiatan ekonomi tetap dapat berjalan. Fungsi ini terjadi karena

melalui iklan, masyarakat menjadi terbentuk untuk membeli barang dan

melakukan konsumerisme.

5. Fungsi Sosial

Dalam fungsi ini. Iklan telah mampu menghasilkan dampak sosial psikologis

yang cukup besar. Iklan membawa berbagai pengaruh dalam masyarakat,

seperti munculnya budaya konsumerisme, menciptakan status sosial baru,

menciptakan budaya pop dan sebagainya.

Selain itu, iklan juga mampu berfungsi sebagai penyambung komunikasi

antar personal. Sering terjadi ditengah kehidupan masyarakat, iklan dijadikan

sebagai sarana untuk berbasa-basi guna mengawali komunikasi maupun

(23)

2.1.2 Kreatifitas Iklan

“Kreatifitas” adalah salah satu kata yang mungkin paling sering dan umum

dugunakan dalam industry periklanan. Iklan bahkan kerap disebut dengan kata

“kreatif” saja. Mereka yang terlibat dalam produksi iklan sering di sebut dengan

“tim kreatif” atau “orang kreatif”. Tanggung jawab tim kreatif adalah mengubah

seluruh informasi mengenai produk seperti atribut atau manfaat produk hingga

tujuan komunikasi yang di tetapkan menjadi suatu manfaat produk hingga tujuan

komunikasi yang di tetapkan menjadi suatu bentuk konsep kreatif yang mampu

menyampaikan pesan kepada khalayak.

Pandangan mengenai apa yang di maksud dengan iklan yang kreatif

ternyata tidak sama. Salah satu pandangan mengatakan bahwa iklan kreatif adalah

iklan yang mampu meningkatkan penjualan produk. Pandangan lain mengatakan

iklan yang kreatif adalah iklan yang berasal dari ide orisinil, memiliki, nilai,

artistic, estetik serta mampu memenangkan penghargaan. Pendapat lain menyebut

iklan kreatif adalah iklan yang mampu menarik perhatian dan mampu

memberikan efek kepada audien (Morissan,2007:265)

2.1.3 Iklan Televisi (TVC/Television Commercial)

Iklan menjadi wacana penting dalam bisnis, terutama dalam proses

membangun merk atau banding. Kegiatan periklanan yang efektif dipandang

mampu mempengaruhi kecenderungan mengkonsumsi dalam masyarakat. Iklan

yang efektif juga akan mengubah pengetahuan public mengenai ketersediaan dan

(24)

dipengaruhi aktifitas periklanan. Iklan televisi atau TVC sesungguhnya hanya

sebagian kecil dalam proses branding, masih banyak elemen-elemen lain dalam

mencapai sebuah merk yang kuat dan (diharapkan) mempunyai brand life cycle

yang panjang bahkan abadi (http://www.makin.co.id)

Dalam membuat iklan harus cerdas, kreatif sekaligus menjual. Artinya dari

segi pendekatan bahasa komunikasinya (visual atau verbal) iklan tersebut harus

mampu menarik target audience untuk melihat (stopping power), mengerti dan

kemudian mengambil tindakan yang diharapkan. Jadi iklan yang cerdas bukan

hanya tertanam kuat di benak konsumen (reminding) tetapi juga mampu

menggerakan calon konsumen untuk mengambil keputusan (Action). (Majalah

cakram khusus edisi juni 2005)

Periklanan dianggap sebagai media yang paling lazim digunakan suatu

perusahaan untuk mengarahkan komunkasi yang persuasif pada konsumen. Iklan

ditujukan untuk mempengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaaan,

sikap dan citra konsumen yang berkaitan dengan suatu produk atau merk. Tujuan

ini bermuara pada upaya mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli,

meskipun tidak secara langsung berdampak pada pembelian. Iklan menjadi sarana

untuk membantu pemasaran yang efektik dalam menjalin komunikasi antara

perusahaan ke konsumen dan sebagai upaya perusahaan untuk menghadapi

pesaing. Kemampuan ini muncul karena adanya suatu produk yang dihasilkan

suatu perusahaan. Bagaimanapun bagusnya suatu produk yang dirahasiakan dari

(25)

Penggunaaan televisi sebagai media beriklan bukannya sebuah ruang kosong yang

hampa makna, tetapi merupakan sedderet penanda (Signifiers) yang

memientasibawa bersama sederet penanda atau makana (Signifieds), menyangkut

gaya hidup, karakter manusia, nilai kepemimpinan hingga wajah realitas sosial

masyarakat.

(www.kompas.com/kompasmediacetak/0308/17/seni/495655.htm)

Pada dasarnya media televisi bersifat transistory atau hanya sekilas dan

penyampaian pesannya dibatasi oleh durasi (jam,menit,detik). Pesan dari televisi

memiliki kelebihan tersendiri, tidak hanya di dengar tetapi juga dapat dilihat

dalam gambar yang bergerak (audio visual). Televisi merupakan media yang

paling disukai oleh pengiklan. Hal tersebut disebabkan karena keistimewaan

televisi yang mempunyai unsure audio dan visual, sehingga para pengiklan

percaya bahwa televisi mampu menambah daya tarik iklan disbanding media lain.

televisi juga diyakini sangat berorientasi mengingatkan khalayak sasaran terhadap

pesan yang disampaikan (kasali,1992:172)

2.1.4 Unsur-Unsur Iklan Televisi

Dalam komunikasi periklanan, iklan tidak hanya menggunakan bahasa

sebagai alatnya, tetapi juga alat komunikasi lainnya, seperti gambar, warna dan

bunyi. Iklan disampaikan melalui dua saluran media massa yaitu,

1. Media Cetak, seperti : Surat kabar, majalah, brosur, papan iklan, dan billboard.

(26)

Pengirim pesan adalah penjual produk, sedangkan penerimanya adalah khalayak

ramai yang menjadi sasaran (Sobur, 2006:116)

Teknik visualisasi adalah salah satu bagian dari unsur iklan, yang

merupakan teknik-teknik pekerjaan yang dipadukan sedemikian rupa dengan

merekayasa gambar atau produk yang ingin ditampilkan secara audio visual

menjadi sebuah karya seni yang dapat mempengaruhi khalayak. Sehingga dapat

menarik perhatian khalayak atau pemirsa.

Unsur-unsur iklan yang dimaksud adalah bagian-bagian dalam iklan yang

ditayangkan di televisi, yang terdiri dari video, suara (audio), model (talent),

Peraga (props), latar (settings), pencahayaan (lighting), grafik (grapich),

kecepatan (Pacing). (Wells, Burnet & Mariarty, 1999 : 391-394).

1. Unsur video segala sesuatu yang ditampilkan di layar yang bisa dilihat pada

iklan di televisi merupakan stimulus yang merangsang perhatian khalayak atau

dijadikan perhatian karena pada dasarnya manusia secara visual tertarik pada

obyek yang bergerak. Dengan kata lain manusia lebih tertarik pada iklan

display yang bergerak.

2. Unsur suara atau audio dalam iklan televisi, pada dasarnya sama dengan yang

ada di radio, yaitu dengan memanfaatkan musik, lagu-lagu singkat (jingle),

atau suara orang (Voice). Misalnya, seorang model iklan menyampaikan

pesan, langsung kepada khalayak melalui dialog yang terekam pada kamera.

3. Unsur aktor atau model iklan (talent) juga menjadi unsure penting dalam

(27)

komunikasi juga ditentukan oleh cirri-ciri dari komunikator, seperti

kredibilitas dan daya tarik.

4. Alat peraga (Porps) adalah peralatan-peralatan lain yang digunakan untuk

mendukung pengiklanan sebuah produk. Misalnya, untuk mengiklankan

sebuah rokok akan terlihat lebih menarik yang mendukung keberadaan

seorang model iklan yang berpenampilan menarik. Unsure utama alat peraga

ini harus merefleksikan karakter, kegunaan, dan keuntungan produk, seperti

logo, kemasan dan cara penggunaan suatu produk.

5. Latar atau suasana (setting) adalah tempat atau lokasi dimanapengambilan

gambar (shooting) ketika adegan tertentu dalam iklan itu berlangsung. Lokasi

tersebut dipilih berdasarkan tema iklan.

6. Unsur pencahayaan (Lighting) sangat penting untuk menarik perhatian

khalayak dalam menerima suatu obyek tentang kejelasan gambar.

7. Unsur gambar atau sampling yang bisa dilihat pada iklan di televisi

merupakan stimulus yang merangsang perhatian khalayak dalam menerima

dan mempersepsikan makna yang disampaikan. Unsur gambar ini misalnya

mengandalkan komposisi warna atau bahasa tubuh (gesture) dari pameran

iklan.

8. Unsur kecepatan atau pengulangan merupakan unsur yang sering dipakai,

yaitu dengan melakukan pengulangan slogan-slogan atau kata-kata. Sebagai

contoh misalnya pengulangan nama merk atau keunggulan produk

(28)

yang disampaikan berkali-kali bila disertai variasi akan menarik perhatian

orang.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa suatu iklan akan

berhasil apabila memenuhi unsur-unsur yang menjadi komponen iklan.

Unsur-unsur iklan yang dimaksud adalah video, suara, model, peraga, latar pencahayaan,

grafik, dan kecepatan. Semua komponen iklan tersebut harus lengkap guna

memperoleh hasil yang optima, karena dengan kurangnya salah satu komponen

akan membuat iklan tersebut tidak menarik.

2.1.5 Pendekatan Semiotik John Fiske Dalam Iklan Televisi

Menurut John Fiske, dalam bukunya Cultural And Communication studies,

disebutkan bahwa terdapat dua perspektif dalam mempelajari ilmu komunikasi.

Perspektif yang pertama melihat komunikasi sebagai transmisi pesan. Sedangkan

perperktif yang kedua melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran

makna. Berkaitan dengan penelitian ini, maka peneliti hanya akan menggunakan

perprspektif yang kedua, yaitu dari sisi produksi dan pertukaran makna.

Perspektif produksi dan pertukaran makna memfokuskan bahasanya pada

bagaimana sebuah pesan ataupun teks berinteraksi dengan orang-orang di

sekitarnya untuk dapat menghasilkan sebuah makna. Hal ini berhubungan dengan

peranan teks tersebut dalam budaya. Perpspektif ini seringkali menimbulkan

kegagalan dalam berkomunikasi karena pemahaman yang berbeda antara

pengirim pesan dan penerima pesan. Meskipun demikian, yang ingin dicapai

(29)

itulah pendekatan yang berasal dari perspektif tentang teks dan budaya ini

dinamakan pendekatan semiotik. (Fiske, 2006:9)

Perspektif produksi dan pertukaran makna memfokuskan bahasanya pada

bagaimana sebuah pesan ataupun teks berinteraksi dengan orang-orang

disekitarnya untuk dapat menghasilkan sebuah makna. Hal ini berhubungan

dengan peran teks tersebut dalam budaya kita. Perspektif ini seringkali

menimbulkan kegagalan berkomunikasi karena pemahaman yang berbeda antara

pengirim pesan dan penerima pesan. Meskipun demikian, yang ingin dicapai

adalah signifikasinya dan kejelasan sebuah pesan disampaikan. Untuk itulah

pendekatan yang berasal dari perspektif tentang teks (iklan) dan budaya ini

dinamakan pendekatan semiotik.

Definisi semiotik yang umum adalah studi mengenai tanda-tanda

(Chandler, 2002 : www.aber.ac.uk) Studi ini tidak hanya mengarah pada “tanda”

dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga tujuan di bautnya tanda-tanda tersebut.

Bentuk-bentuk tanda disini antara lain berupa kata-kata, gambar (images), suara,

gerak tubuh dan objek. Bila kita mempelajari tanda yang satu dengan tanda-tanda

yang lain membentuk sebuah sistem, dan kemudian di buat sistem tanda. Lebih

sederhananya semiotik mempelajari bagaimana sistem tanda membentuk sebuah

makna menurut John Fiske, konsentrasi semiotik adalah pada hubungan yang

timbul antara sebuah tanda dan makna yang terkandung di dalamnya, juga

(30)

Menurut James Monaco, seorang ahli yang lebih berafiliasi dengan

gramatika (tata bahasa) mengatakan bahwa film (iklan) tidak mempunyai

gramatika (film has no grammar). Untuk itu ia menawarkan kritik bahwa teknik

yang digunakan dalam film (iklan) dan gramatika pada sifat kebahasaannya

adalah tidak sama. Akan sangat beresiko apabila memaksa dengan menggunakan

kajian linguistik untuk menganalisa sebuah film (iklan), karena film (iklan) terdiri

dari kode-kode yang beraneka ragam. “There is no ‘language’ or photographs of

film, no single significant of system (as supposed to technical apparatus) upon

which all photographs or film dependen (in the sense in which all texts in English

depend upon the English language) : there is a rather a heterogenous complex of

codes upon which photographs or film may draw” (Chandler, 2002 :

www.aber.ac.uk)

Penerapan Semiotik pada iklan televisi, berarti kita harus memperhatikan

aspek medium televisi yang berfungsi sebagai tanda. Maka dari sudut pandang ini

jenis ambilan kamera (selanjutnya disebut shot saja) dan kerja kamera (camera

work). Dengan cara ini, peneliti bisa memahami shot apa saja yang muncul dan

bagaimana maknanya. Misalnya, Close-Up (CU) shot berarti pengambilan kamera

dari leher ke atas atau menekankan bagian wajah, makna dari (CU) shot adalah

keintiman dan sebagainya. Selain shot, yang terdapat pad camera work atau kerja

kamera yaitu bagaimana gerak kamera terhadap objek, misalnya panning-up atau

pan-up yaitu gerak kamera mendongak pada poros horisontal. Pan-up berarti

kamera melihat ke atas, dan ini bermakna adanya otoritas atau kekuasaan pada

(31)

Lebih lanjut yang haus diperhatikan tidak hanya shot dan camera work

tetapi juga suara. Suara meliputi sound effect dan musik. Televisi sebagai media

audio visual tidak hanya mengandung unsur visual tidak hanya mengandung unsur

visual, namun juga suara, karena suara merupakan aspek kenyataan hidup. Suara

yang keras, menghentak, lemah, memiliki makna yang berbeda-beda. Setiap suara

mengekspresikan sesuatu yang unik (Sumarno, 1996 : 71)

Diasumsikan pembuatan iklan televisi sama dengan perbuatan film cerita.

Analistik semiotik yang dilakukan pada cinema atau film layar lebar menurut John

Fiske disetarakan dengan analisis film (iklan) yang ditayangkan di televisi.

Sehingga analisis yang dilakukan pada iklan LA Lights indiefest menurut John

Fiske dibagi menjadi tiga level yaitu :

1. Level Realitas

Pada level ini, realitas dapat berupa penampilan, pakaian dan make-up yang

digunakan oleh pemain, lingkungan, perilaku, ucapan, gerak tubuh (gesture),

ekspresi, suara, dan sebagainya yang dipahami sebagai kode budaya yang

ditangkap secara elektronik melalui kode-kode teknis. Kode-kode sosial yang

merupakan realitas yang akan diteliti dalam penelitian ini dapat berupa :

a) Penampilan, kostum, dan make-up yang digunakan oleh tokoh di iklan

A-Mild versi LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe”. Dalam

penelitian ini tokoh yang menjadi obyek penelitian adalah tiga orang pria, satu

orang wanita, dan bayangan yang selalu

(32)

Meliputi kerja kamera, pencahayaan, editing, musik, dan suara, yang

diterminasikan sebagai kode-kode representasi yang bersifat konvensional.

Bentuk-bentuk representasi dapat berupa cerita, konflik, karakter, action,

dialog, setting,, casting, dan sebagainya.

Level Representasi meliputi :

a) Teknik Kamera

Ada tiga jenis shot gambar yang paling dasar yaitu meliputi :

1. Long Shot (LS) yaitu shot gambar yang jika objeknya adalah manusia

maka dapat diukur antara lutut kaki hingga sedikit ruang di atas kepala.

Dari jenis shot ini dapat dikembangkan lagi yaitu Extreme Long Shot

(LES), mulai dari sedikit ruang di bawah kaki hingga ruang tertentu di

atas kepala. Long Shot ini menggambarkan dan memberikan informasi

kepada penonton mengenai penampilan tokoh (termasuk bahasa tubuh,

mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki) yang kemudian

mengarah pada karakter serta situasi dan kondisi yang sedang terjadi

pada adegan itu.

2. Medium Shot (MS), yaitu shot gambar yang jika objeknya adalah

manusia, maka dapat diukur sebatas dada hingga sedikit ruang di atas

kepala. Dari medium shot dapat dikembangkan lagi, yaitu Wide

Medium Shot (WMS), gambar medium shot tapi agak melebar ke

samping kanan kiri. Pengambilan gambar Medium shot

menggambarkan dan memberikan informasi kepada penonton tentang

(33)

3. Close-Up (CU), yaitu shot gambar yang jika objeknya adalah manusia,

maka diukur dari bahu hingga sedikit ruang di atas kepala.

Pengambilan gambar close-up menggambarkan dan memberikan

informasi kepada penonton tentang penguatan ekspresi dan dialog

penting untuk lebih diperhatikan penonton.

4. Extreme Close-Up , menggambarkan secara details ekspresi pemain

dari suatu peristiwa (lebih detail pada ekspresi tubuh, seperti mata,

bibir, tangan, dan sebagainya).

Sedangkan untuk teknik perpindahan kamera antara lain :

1) Zoom, yaitu gerakan kamera yang secara pelan dan cepat, baik

sesungguhnya maupun buatan, menuju suatu objek. Juga diterapkan

ketika menjauhi objek (Efendy, 2002 : 156). Biasanya digunakan

untuk memberi kejutan pada penonton, penekanan dialog dan atau

tokoh, setting serta informasi tentang situasi dan kondisi.

2) Dollying (trucking), yaitu pergerakan kamera pengambilan gambar

dengan menggunakan kendaraan beroda yang mengakomodasikan

kamera dan operator kamera (Efendy, 2002:135). Kecepatan dallying

ini mampu mempengaruhi perasaan penonton.

3) Follow Shot, yaitu pengambilan gambar dengan kamera bergerak

berputar untuk mengikuti pemeran dalam adegan (Efendy, 2002 : 38)

4) Swish Pan, yaitu gerakan panning ketika kamera digerakkan secara

(34)

kabur untuk memunculkan kesan gerakkan mata cepat dari satu sisi

ke sisi lain (Efendy, 2002 : 152).

3. Level Ideologi

Level ini diorganisasikan ke dalam kesatuan (coherence) dan penerimaan

sosial (social acceptability) seperti individualism, kelas patriarki, pluralisme,

umur, ras, dan sebagainya.

2.1.6 Respon Psikologi Warna

Warna merupakan symbol yang menjadi penandaan dalam suatu hal.

Warna juga lebih dianggap sebagai satu fenomena psikologi. Respon psikologi

dari masing-masing:

1. Merah berarti power, enrgi, kehangatan , cinta, nafsu, agresi, bahaya.

Merah jika dikombinasikan dengan putih akan mempunyai arti bahagia.

2. Biru berarti kepercayaan konservatif, keamanan, teknologi, kebersihan,

keteraturan.

3. Hijau berarti alami, sehat, keberuntungan dan pembaruan.

4. Kuning berarti optimis, harapan, filosofi, ketidakjujuran.

5. Ungu berarti energi, keseimbangan dan kehanagatan.

6. Orange berarti energy, keseimbangan dan kehanagatan.

7. Coklat berarti tanah atau bumi, realibility, nyaman, comfort dan daya

tahan.

8. Abu-abu berarti intelektual, masa depan, kesederhanaan, kesedihan.

9. Putih Berarti kesucian, kebersihan, ketepatan, ketidak beralahan, steril dan

(35)

10.Hitam berarti power, seksualitas, kecanggihan, kematian.misteri,

ketakutan, keanggunan

2.2 Iklan & Event LA Lights Indiefest

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan

kegiatan promosi, tetapi tidak semua perusahaan dapat melakukannya. Rokok

merupakan salah satu produk yang memiliki keterbatasan dalam berpromosi. Hal

ini dikarenakan tidak semua alat promosi dapat digunakan dalam memasarkan

produk rokok. Berbagai pembatasan media komunikasi dilakukan pemerintah

melalui PP No.81/1999, pembatasan tersebut menyangkut media dan promosi apa

saja yang tidak diperbolehkan untuk mempromosikan produk rokok. Misalnya

kegiatan pemberian sampel rokok gratis dan ajakan langsung untuk membeli

rokok pada konsumen akhir. Hal ini tentu membatasi produsen rokok untuk

melakukan promo penjualan. Karena berbagai pembatasan tersebut maka

PT.Djarum sebagai salah satu perusahaan rokok di Indonesia berusaha mencari

strategi dalam mengkomunikasikan atau mempromosikan produknya kepada

konsumen. Salah satu bentuk promosi yang ditujukan kepada konsumen akhir

adalah melalui event sponsorship. Event sponsorship adalah bentuk promosi

merek yang mengikat suatu aktifitas seperti olahraga, hiburan, sosial, budaya, atau

tipe aktifitas lain yang mempunyai minat publik yang tinggi (Terence A ship

2000:615).

PT.Djarum dalam pemasarannya memasarkan beberapa jenis produk

(36)

Djarum Black, Djarum Super Mezzo. Dari berbagai produk tersebut rokok LA

Lights adalah rokok mild yang memiliki tingkat penjualan tertinggi diantara

beberapa rokok mild PT. Dajrum lainnya. Karena rokok LA Lights memiliki

kualitas dan image yang berbeda diantara beberapa rokok mild produksi PT.

Djarum atau merek perusahaan lain. Rokok LA Lights adalah rokok yang

menggunakan event sponsorship sebagai salah satu strategi dalam memasarkan

produk.

Event sponsorship yang dilakukan oleh LA Lights sebagai lini produk PT.

Djarum memang diakui sebagai bentuk promosi yang cukup menonjol, dan

mendapatkan banyak perhatian. Event sponsorship reguler LA Lights diantaranya

penyelenggaraan LA Lights Indiefest yang merupakan ajang pencarian band indie

yang di seleksi diberbagai daerah yang finalisnya akan mengisi album kompilasi

LA Lights Indiefest, LA Lights Street Ball merupakan event kompetisi basket 3 on

3 yang diadakan setiap satu tahun sekali, LA Lights indie Movie merupakan ajang

kompetisi film indie yang diadakan setiap satu tahun sekali di berbagai kota, LA

Lights Mobile Movie Competition merupakan ajang kompetisi film yang dibuat

menggunakan media telepon seluler, LA Lights enjoy music merupakan event live

music yang diadakan di tempat-tempat umum.

Di tahun keempat ini, L.A. Lights Indiefest kembali mencari talenta baru

yang siap memberikan semua kreatifitas. Pemilihan band indie sebagai peserta

festival didasari oleh perkembangan musik indie yang cukup melesat beberapa

tahun belakangan. Bahkan, dari jalur independent pun sudah banyak band yang

(37)

jumlah band indie yang berkualitas, diperlukan suatu wadah yang mampu

menampung kreativitas pelaku industri independen ini. Nah, LA Lights Indiefest

dimaksudkan sebagai salah satu wadah yang bisa digunakan untuk menampung

karya anak-anak indie di seluruh Indonesia," dan musikalitas mereka.(www.LA

Lightsindiefest.com)

Dengan adanya event tersebut maka sekarang LA Lights mengeluarkan

iklan televisi versi “Saatnya Besarin Musik Loe” seiring dengan adanya kontes

musik untuk para musisi indie. Dalam iklan tersebut digambarkan bagaimana

iklan festival musik yang berkonsep menarik. dalam iklan itu terjadi beberapa

kejadian yang unik dimana sebuah band dengan empat personil sedang bermain

musik dalam sebuah ruangan seperti di sebuah gudang.

Terlihat sound system dengan ukuran yang tidak biasanya, sound system

berukuran kecil seperti mainan. Dalam scene itu digambarakan bahwa band itu

menggunakkan sound dengan ukuran yang kecil. Seperti bukan sound system pada

umumnya. lalu seorang personil memainkan gitar, tetapi gitar yang dimainkan

juga berukuran kecil seperti mainan. Pada scene lainnya seorang personil bass

juga memainkan bass yang juga berukuran kecil. Pada scene slenjutnya pemain

drum memainkan drum berukuran kecil. Pada cerita selanjutnya memperlihatkan

seorang vokalis band itu berteriak menyanyikan lagu yang menjadi backsound

dari iklan tersebut tetapi dengan menggunakkan pengeras suara (Mic) yang

berukuran kecil juga.

Pada scene lain setelah terlihat bahwa semua personel band yang ada

(38)

munculah scene berbentuk slide bertuliskan “SAATNYA BESARIN MUSIK LOE”,

disusul dengan scene selanjutnya yang bertuliskan “KIRIM CD DEMO KE SIGN

UP CENTER, JAKARTA 021-9259 1886, BANDUNG 022-9131 2010,

YOGYAKARTA 0274-826 2010, SURABAYA 031-8198 2010 dan dibawah

tulisan tercantum website WWW.LA LIGHTSINDIEFEST.COM .

Pada scene berikutnya tertulis informasi dengan tulisan HOTLINE

NUMBER 0812 8181 2010 yang menunjukan bahwa informasi lebih lanjut bisa

menghubungi nomer telepon tersebut. Pada scene selanjutnya yang menjadi scene

paling akhir adalah logo dari LA LIGHTS INDIEFEST 2010 dengan tulisan grafis

bertuliskan INDIEFEST FREEDOM OF EXPRESSION dan di bawah tulisan

tersebut terdapat alamat website WWW.LALIGHTSINDIEFEST.COM.

Dari uraian iklan LA LIGHTS INDIEFEST versi “SAATNYA BESARIN

MUSIK LOE” di televisi, dapat diperoleh sebuah gambaran bahwa sebuah band

yang bermain menggunakkan alat musik berukuran kecil adalah sebuah band yang

nama dah hasil karyanya belom dikenal di masyarakat. Dengan mengikuti event

music indie “SAATNYA BESARIN MUSIK LOE” diharapkan kalangan musisi

indie dapat mempunyai wadah untuk menyalurkan musiklitas mereka agar music

mereka dapat dikenal oleh pecinta music tanah air.

2.2.1 Alat Musik Dalam Iklan La Lights Indiefest

Dalam iklan LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe”di

televisi menampilkan sebuah band yang memainkan alat music di sebuah ruangan

(39)

setiap personel band kecil layaknya alat musik mainan sebagai salah satu unsur

utama yang ditampilkan dalam iklan tersebut. yang seharusnya sebuah band dalam

dunia yang nyata memainkan alat musik yang sesungguhnya bukan bermain

musik dengan memainkan alat musik mainan sepeti yang di gambarkan dalam

iklan LA lights. Peneliti menilai dalam iklan tersebut cukup membuat penonton

atau khalayak berpikir mengenai sesuatu yang janggal dalam iklan LA Lights

Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe”.

2.3 Kerangka Berpikir

Berdasarkan landasan teori yang telah disampaikan, maka dapat diketahui

bahwa untuk mengerti, memahami, dan memaknai iklan LA Lights Indiefest versi

“Saatnya Besarin Musik Loe”di televisi, maka peneliti melakukan pemaknaan

terhadap tanda lambang dengan menggunakan metode semiotik John Fiske,

sehingga akhirnya diperoleh hasil dan interpretasi data mengenai penggambaran

iklan LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe”di televisi.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode semiotik John Fiske

dikarenakan dalam ilustrasi iklan LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin

Musik Loe”di televisi ini terdapat berbagai makna yang sesuai dengan kode-kode

televisi dalam metode Semiotik John Fiske.

(40)
[image:40.612.133.509.101.259.2]

Gambar 2.2

Bagan Kerangka Pikir Peneliti Tentang Pemaknaan Iklan

LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe”di Televisi  

Iklan LA Lights Indiefest 

versi “Saatnya Besarin  Musik Loe” 

Di televisi  

Analisis semiotik John  Fiske dalam proses 

pemaknaan dalam 13 

Scene Gambar dari 

Iklan LA Lights Indiefest 

versi “Saatnya Besarin  Musik Loe” 

 

 

Hasil pemaknaan iklan 

LA Lights Indiefest versi  “Saatnya Besarin Musik 

Loe” 

Di televisi  

(41)

30

3.1 Metode Penelitian

Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,

kualitatif, penelitian ini menginterpretasikan penggambar iklan televisi komersial.

Metode penelitian berupa deskriptif dengan menggunakan pendekatan semiotic

John Fiske untuk mengetahui pemaknaan secara menyeluruh iklan rokok LA

Lights Indiefest Versi “Saatnya Besarin Loe” di Televisi.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. Artinya data yang di

gunakan merupakan data kualitatif (data yang tidak berdiri atas angka-angka)

melainkan berupa pesan-pesan visual yang terdapat pada tayangan iklan LA Lights

Indiefest Versi “Saatnya Besarin Musik loe” di televisi. Data-data kualitatif

Tersebut berusaha di interpretasikan dengan rujukan, acuan atau

referensi-referensi secara ilmiah.

Penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif ini di

karenakan karena adanya beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode

kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda, Kedua,

metode ini menyajikan secara langsung hakikat peneliti dan yang di teliti; dam

ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuiakan diri dengan banyak

penajaman bersama terhadap pola-pola yang dihadapi (Meleong,2002:5)

(42)

3.2 Corpus

Corpus merupakan kumpulan bahan yang terbatas yang di lakukan pada

perkembangannya oleh analisa dengan kesemenaan corpus haruslah cukup luas

untuk memberikan harapan yang beralasan bahwa unsur-unsurnya akan

memelihara sebuah system kemiripan dan perbedaan yang lengkap. Corpus juga

bersifat sehomogen mungkin, baik homogen pada taraf substansi maupun

homogen pada taraf waktu (sinkroni). (Kurniawan, 2001:70).

Sebagai analisis, Corpus bersifat terbuka pada konteks yang beraneka

ragam yang memungkinkan untuk memahami khalayak aspek dari sebuah teks

yang tidak dapat di tangkap atas dasar suatu analisis yang bertolak dari unsur

tertentu yang terpisah dan berdiri dari teks yang bersangkutan (Arkoun, 2003:40).

3.3 Unit Analisis

Unit analisis pada penelitian ini komposisi visual yang terdapat dalam

iklan rokok La Lights Indiefest Versi “Saatnya Besarin Musik Loe” kemudian

diinterpretasikan dengan menggunakkan semiotik John Fiske dalam shot-shot

gambar pada iklan rokok LA Lights Indiefest “Saatnya Besarin Musik Loe” di

televisi sehingga didapat pemaknaan meneyeluruh dari tampilan iklan tersebut.

Sehingga peneliti dapat menginterpretasikan ssemua unsur yang terdapat

pada iklan rokok LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe” di

televisi dan menyimpulkan berbagai makna atau arti dari tampilan berdurasi 15

(43)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah

teknik pengumpulan data primer yaitu dengan cara mengamati iklan LA Lights

Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe” di televisi secara langsung, merekam

dalam digital, kemudian mengcapture berdasarkan shot/perpindahan pengembilan

gambara dalam iklan tersebut dan selanjutnya dianalisis semiotic John Fiske. Dari

tampilan LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe” di televisi

terdapat unsur-unsur iklan yang dapat dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu

pengkajian visual/ Video dan Audio dari unsur-unsur keseluruhan iklan.

1.Visual

1) Deskriptif yang terdapat dalam tampilan iklan tersebut adalah

gambaran sebuah band yang terdiri dari 4 orang sedang

ngeband/bermain musik dengan menggunakkan alat music yang kecil

di sebuah gudang. Mereka seolah-olah ngeband dan bergaya seprti

layaknya orang yang sedang mae music. Padahal alat musik yang

digunakkan oleh masing-masing personel adalah alat musik mainan.

Kemudian muncul ]slide bertuliskan “SAATNYA BESARIN MUSIK

LOE”, disusul dengan scene selanjutnya yang bertuliskan “KIRIM CD

DEMO KE SIGN UP CENTER, JAKARTA 021-9259 1886,

BANDUNG 022-9131 2010, YOGYAKARTA 0274-826 2010,

SURABAYA 031-8198 2010 dan dibawah tulisan tercantum website

(44)

2) Pada scene berikutnya tertulis informasi dengan tulisan HOTLINE

NUMBER 0812 8181 2010 yang menunjukan bahwa informasi lebih

lanjut bisa menghubungi nomer telepon tersebut. Pada scene

selanjutnya yang menjadi scene paling akhir adalah logo dari LA

LIGHTS INDIEFEST 2010 dengan tulisan grafis bertuliskan

INDIEFEST FREEDOM OF EXPRESSION dan di bawah tulisan

tersebut terdapat alamat website www.LaLightsindiefest.com

3) Wardrobe atau pakaian yang di kenakan yaitu kostum layaknya anak

muda/anak band jaman sekarang.

4) Setting atau lokasi tempat pengambilan gambar dalam iklan ini sebuah

ruangan/gudang

5) Property atau disingkat props yaitu perlrngkapan yang di perlukan

untuk mendukung isi iklan tersebut yaitu antara lain: Gudang beserta

isi di dalamnya ,rak, kotak kayu, sound system mainan, alat musik

mainan.

6) Tanda-tanda non verbal berupa gerakan-gerakan non verbal yang di

lakukan oleh pemain sangatlah signifikan dalam mengirimkan pesan

kepada audience. Gerakan yang termasuk dalam iklan ini adalah

ekspresi wajah dan gerakan tubuh. Selain itu penempatan posisi objek

juga termasuk dalam tanda non verbal.

7) Tanda Verbal berupa teks yang ada dalam iklan itu yaitu “Saatnya

(45)

8) Sudut pengambilan gambar dalam iklan inin secara close up. Extreme

close up, medium shot dan medium close up.

2. Audio

1) Musik dapat mendukung isi pesan iklan. Musik dalam iklan ini yaitu

berirama musik dari band bernama The Banery, yang tidak lain adalah

pemenang fetifal music LA Lights Indiefest pada tahun sebelumnya.

2) Voice Over tidak ada dalam iklan rokok “LA Lights Indiefest Versi

“Saatnya Besarin Musik Loe”. Iklan tersebut hannya di iringi

music/Backsound dari band The Banery.

3.5 Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan sebagai pendekatan dalam menganalisis data

penelitian ini adalah penelitian semiotic John Fiske, yaitu:

1. Level Realitas

Pada level ini, realitas dapat berupa penampilan, pakaian dan make

up yang digunakan oleh pemain, lingkungan, perilaku, ucapan, gerak

tubuh, (Geture), ekspresi, suara dan sebagainya yang di pahami sebagai

kode budaya yang di tangkap secara elektronik melalui kode-kode teknis.

2. Level Representasi

Meliputi kerja kamera, pencahayaan, editing, music dan suara yang

ditransmisikan sebagai kode-kode representasi yang bersifat konvensional.

Bentuk-bentuk representasi dapat berupa cerita, konflik, karakter, action,

(46)

3.Level Ideologi

Level ini diorganisasikan ke dalam kesatuan (coherence) dan

penerimaaan sosial (Sosial Acceptability) seperti individualisme, kelas

patriarki, pluralisme, umur, ras, kelas sosial, gender da sebagainya.

Dalam ikan LA Lights Indiefest versi “Saatnya Besarin Musik Loe” di

Televisi dengan durasi 15 detik terdapat 13 scene yang secara keseluruhan di

kemas atau di eksekusi dalam bentuk dramatisasi pesan iklan. Unit analisis dalam

penelitian ini adalah semua tanda-tanda berupa komposisi visual (setting,

wardrobe, prop, camera, angle) yang terdapat dalam iklan LA Lights Indiefest

(47)

LAMPIRAN

         

Scene 1 Scene 2

Scene 3 Scene 4

(48)

Scene 7 Scene 8

Scene 9 Scene 10

(49)

(50)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

PT Djarum adalah salah satu perusahaan rokok di Indonesia.

Perusahaan ini mengolah dan menghasilkan jenis rokok kretek dan cerutu.

Ada tiga jenis rokok yang kita kenal selama ini. Rokok Cerutu (Terbuat dari

daun tembakau dan dibungkus dengan daun tembakau pula), rokok putih

(Terbuat dari daun tembakau dan dibungkus dengan kertas sigaret), dan rokok

kretek PT Jarum adalah salah satu jenis perusahaan perseroan yang ada di

Indonesia. Namun dahulu PT Jarum adalah sebuah perusahaan perseorangan

karna didirikan oleh seorang Oei Wie Gwan. PT. Djarum memiliki, 5

nilai-nilai inti dalam pengembangan perusahan. Nilai-nilai-nilai itu adalah .Fokus pada

pelanggan, Profesionlisme, Organisasi yang terus belajar, Satu Keluarga,

Tanggung Jawab Sosial.

4.1.1. Tahun Berdirinya

Rokok kretek adalah sebuah produk yang racikannya ditemukan

oleh H. Djamhari (Kebangsaan Indonesia) pada tahun 1880 di kota Kudus

(Kudus kota keretek). Saat itu H. Djamhari adalah seorang perokok dan ia

sering merasa sesak napas. Saat ia menderita sesak, ia menggunakan

(51)

mencoba meracik daun tembakau dan bunga cengkeh untuk rokoknya.

Alhasil percobaannya tersebut membuahkan hasil dan rokok tersebut

disebut kretek karena letupan api yang membakar cengkeh menghasilkan

bunyi tek-tek-tek. Perusahaan rokok kretek Djarum berdiri pada 25

Agustus 1950 dengan 10 pekerja. Oei Wie Gwan, mantan agen rokok

Minak Djinggo di Jakarta ini, mengawali bisnisnya dengan memasok

rokok untuk Dinas Perbekalan Angkatan Darat. Pada tahun 1955, Djarum

mulai memperluas produksi dan pemasarannya. Produksinya makin besar

setelah menggunakan mesin pelinting dan pengolah tembakau pada tahun

1950.

4.1.2. Fokus Pada Pelanggan

Pelanggan merupakan bagian yang sangat penting dalam

keberlangsungan suatu perusahaan, tanpa ada pelanggan, tanpa

ketertarikan pelanggan terhadap produk yang telah diproduksi, perusahan

akan mandet. PT.Djarum selalu mengutamakan agar pelanggan selalu puas

terhadap produknya, dengan memberikan harga yang relatif rendah

meskipun keuntungan yang dicapai berkurang, hal ini diatasi dengan

peningkatan hasil yang baik dan jumlah penjualan, selain itu juga

PT.Djarum memberikan dana kepada beberapa pelanggan untuk

memasarkan produknya sehingga tercipta hubungan yang sangat dekat.

Profesionalisme. dalam membangun perusahaan secara baik, dimulai

dengan perekrutan karyawan-karywati yang potensial (salah satu elemen

(52)

perusahaan untuk melakukan inovasi secara terus menerus. seiring

tuntutan tersebut, PT.Djarum selalu memberikan respon yang inovatif pada

konsumen. Profesional dalam mengimplementasikan strategi-strategi yang

telah dirancang dengan penuh optimis. Dengan profesionalisme tersebut

semuanya dapat tercapai. Organisasi yang terus belajar. Dengan

keberhasilan yang diperoleh berupa penghargaan-penghargaan dan

produk-produk yang inovatif. PT.Djarum tidak berpuas hati, dengan

keberhasilan tersebut, selalu belajar keberhasilan itu. Tidak hanya selalu

menilai perusahaannya sendiri. Melakukan sharing dengan perusahaan lain

berbagi pengetahuan. Satu keluarga, Rasa kekeluargaan sangat terasa di

lingkungan PT.Djarum, ini terlihat ketika pada waktu istirahat, terkadang

para direksi bergabung bersama karyawan,berbagi cerita, bercanda, ini

menciptakan kesenangan bagi para karyawan. Disinilah kekompakan dari

segenap jajaran manajemen dan karyawan. Mereka bersama-sama untuk

memajukan perusahaan,dengan dukungan organisasi yang solid,serta kerja

keras dari semua karyawan. Tanggung Jawab Sosial. Dalam hal tanggung

jawab sosial, untuk karyawan, PT.Djarum sangat memperhatikan

karyawannya dengan memberikan jaminan sosial berupa jaminan

kesehatan, hadiah tahunan, tunjangan, jaminan kecelakan & jaminan

pensiun. PT.Djarum juga memberikan beasiswa pendidikan pada

anak-anak karyawan sehingga dapat melanjutkan pendidikannya dengan baik.

Tanggung jawab sosial yang di berikan PT. Djarum tidak hanya kepada

(53)

tanggung jawab ini PT. Djarum melakukan Coorporate Social

Responsibility (CSR). Yang sangat jelas saat ini ,yaitu: Djarum

memberikan dananya 30 miliar rupiah dalam pembangunan lapangan

bulutangkis, GOR PT.Djarum Bakti Bangsa, yang digunakan untuk

merekrut para pemain bulutangkis yang handal kelas dunia. Dalam bidang

lingkungan PT. Djarum semakin memantapkan perjalanannya dalam

industri rokok murni pribumi, tanpa tersentuh aset-aset asing. Semangat

nasionalismelah yang semakin membangkitkan perusahaan ini.

4.1.3. Keuangan

Untuk upah harian, Jerih payah buruh pabrik ini memang

terbilang kecil bagi ukuran gaji buruh di Jakarta. Mereka dibayar dengan

upah perjam sekitar Rp.9.750/per 1.000 batang buat satu grup yang terdiri

dua orang tersebut. Tetapi biasanya, satu grup bisa membuat 3.000 batang

dalam waktu kurang dari 4 jam. PT Djarum untuk tahun 2006 menyentuh

6,99 milyar rupiah. Jumlah itu didapati lewat omset perbungkusnya

mencapai angka 23,66 milyar rupiah/perhari. Sementara itu, produksinya

tahun lalu tercatat sekitar 38,36 unit milyar dengan asumsi sekitar 127,87

(54)

4.1.4. Bidang Usahanya

PT. Djarum adalah salah satu perusahaan rokok di Indonesia.

Perusahaan ini mengolah dan menghasilkan jenis rokok kretek dan cerutu.

Bidang usaha yang digeluti oleh PT Djarum tidak lain dan tidak bukan

ialah rokok. Dalam sehari perusahaan ini mampu menghasilkan omeset

sekitar 23,66 milyar rupiah/perhari, karna sasaran penjualanya tidak hanya

di Indonesia saja tetapi juga di Austria, Polandia, Prancis, Spanyol,

Portugal, Turki, Belgia, Belanda, Luxemburg, Jerman, Brazil, Jepang,

Malaysia, Kanada, Usa dll.

4.1.5. Kejayaan

Sejak awal berdiri pada tahun 25 Agustus 1950 perusahaan ini

sudah menjadi perusahaan yang sangat pesat dalam perkembangan nya.

Karna didirikan oleh Oei Wie Gwan, mantan agen rokok Minak Djinggo.

PT Djarum sejak bediri sampai sekarang masih saja mengalami masa

kejayaan. Hal ini di karnakan Perusahaan ini memiliki 76 lokasi kerja (70

di Kudus, 3 di Pati, 1 Rembang dan 2 di Jepara) ini cukup diakui masalah

kesehatan dan keselamatan kerja karyawannya. Hal ini dibuktikan dari

perolehan Zero Accident Acknowledgement pada tahun 2002. Pada tahun

2004 di Audit External Keselamatan dan Kesehatan dengan hasil 85%.

Karena hasil auditan yang memuaskan, pada tahun 2005 memperoleh

Bendera Emas. Pada tahun 2007, hasil auditan meningkat menjadi 93%

(55)

hal itulah masalah keselamatan dan kesehatan bukan lagi menjadi masalah

bagi perusahaan ini.

Selain masalah keselamatan dan kesehatan, perusahaan ini juga

aktif dalam bidang koperasi. Pada tahun 1976, koperasi karyawan dibuka.

Koperasi yang memiliki anggota sebanyak 51 ribuan orang ini memiliki

kas hingga 75 ribu miliaran hingga Januari 2008 ini. Karena

ketekunannyalah, koperasi ini juga memperoleh penghargaan sebagai

Koperasi Teladan dari tahun 1993 sampai dengan 1996. Selain itu,

perusahaan ini juga memiliki kinerja yang sesuai dengan standar ISO (ISO

tahun 9001-1994). Pada tahun 2001 mendapatkan penghargaan dan ISO

diperbaiki menjadi ISO 9001-2000.

4.1.6. Analisis Strategis

PT. Djarum mengeluarkan beberapa produk diantaranya Djarum

Super, Djarum Coklat, Djarum 76, Djarum Istimewa. Kesemuanya

merupakan rokok berjenis kretek. Akan tetapi djrum melihat pangsa pasar

ini stagnan sehingga PT.Djarum merambah pasar rokok mild, diantaranya

adalah L.A Light, L.A Menthol, Djarum Super Mezzo, Djarum Black dan

Djarum Black Menthol. Selain itu djarum menciptakan rasa yang lebih

varian dengan mengkombinasikan cita rasa cappuccino dan the dengan

nama brand yang di kenal Djarum Black Tea & Djarum Black cappuccino.

(56)

2005, perusahaan ini meluncurkan rokok mild dengan merk Djarum Super

Mezzo untuk melengkapi portofolio produk Djarum Super dan merambah

segmen premium serta menjadi alternatif pilihan rokok mild baru dengan

cita rasa tinggi. Khusus untuk peluncuran PT. Djarum membuat program

promosi modern dengan menggunakan balon mini zeppelin yang

berputar-putar wilayah Jakarta sekitar 3 minggu. program tersebut juga

diiringi oleh iklan televisi yang menampilkan visual yang luar biasa, iklan

televisi mezzo versi “Leap” dan “Race”.

4.2. Analisis Tampilan Visual dalam Scene Iklan Rokok LA Lights

Indiefest di televisi dengan Pendekatan Semiologi John Fiske

Tampilan visual dalam scene iklan Rokok LA Lights Indiefest di

televisi ini dianalisis dengan menggunakan semiologi Barthes yang

mengkaji tanda-tanda dalam dua tahap pemaknaan yaitu denotasi dan

konotasi. Namun untuk menentukan penggalan-penggalan dari satu

squence menjadi beberapa scene yang kemudian terbagi lagi menjadi

beberapa shot. Peneliti menggunakan kerangka analisis semiotik dalam

film (iklan) yang di kemukakan oleh John Fiske yang membaginya dalam

dua level yaitu level realitas (reality), pada level ini realitas dapat dilihat

dari kolstum pemain (wardrobe), tata rias, setting, gesture, ekspresi, suara

perilaku, dan ucapan. Level representasi (representation), meliputi kerja

(57)
[image:57.612.212.427.131.291.2]

4.2.1 Tampilan Visual dalam Scene 1

Gambar 4.1. Group Band memainkan music di gudang

Analisis :

Deskripsi visual yang ditampilkan adalah :

Level Realitas

(1) Setting

Setting yang ditampilkan dalam iklan Rokok LA Lights Indiefest adalah di

sebuah gudang dengan banyak tumpukan kardus, dan tumpukan

barang-barang lainnya, yang umumnya group band berlatih music di studio musik.

Hal ini dapat dimaknai bahwa grup band tersebut, masih kecil yang belum

bisa menyewa studio music untuk berlatih.

(2) Wardrobe

Para personel group band dalam iklan Rokok LA Lights Indiefest

menggunakan wardrobe baju anak band atau trend baju anak muda yang

sedang musim dikenakan anak muda. Hal ini dimaknai bahwa trend baju

(58)

(3) Property

Property yang dipakai dalam iklan Rokok LA Lights Indiefest ini yaitu

tumpukan kardus-kardus, lampu gantung, gergaji, rak-rak,

perkaka

Gambar

Gambar 2.2
Gambar 4.1. Group Band memainkan music di gudang
Gambar 4.2. Personil Band memainkan bass kecil
Gambar 4.3. Personel Band memainkan gitar kecil
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lights menthol versi lukisan Monalisa di media cetak, dengan teori yang digunakan antara lain : teori iklan dengan pendekatan semiotik Charles S.. Metode yang digunakan

Seperti dalam iklan extra joss versi laki di televisi, dalam iklan tersebut menampilkan seorang pekerja lapangan yang sedang tidak bersemangat bekerja, para semua

Berdasarkan uraian diatas maka pada penelitian ini, peneliti tertarik untuk melakukan sebuah studi semiologi untuk mengetahui pemaknaan dari iklan rokok Djarum 76

Penelitian tentang semiotik iklan ini, telah dilakukan di Kecamatan Maulafa dan Oebobo Kota Kupang, untuk mengetahui makna iklan baliho rokok L. Lights versi OSPEK dan

Iklan produk adalah iklan yang berisi pesan tentang barang, sementara iklan bukan produk berisi informasi atau jasa.Tampilan iklan-iklan pada media televisi berlomba-lomba

Penelitian yang kami lakukan ini berjudul “Makna Identitas Sosial dalam Iklan Rokok di Televisi (Analisis Semiotik Dalam Rokok Djarum 76 versi “Jin Botol”)”.. Secara

Seperti dalam iklan extra joss versi laki di televisi, dalam iklan tersebut menampilkan seorang pekerja lapangan yang sedang tidak bersemangat bekerja, para semua

Hasil dari analisis yang telah dilakukan oleh peneliti pada makna sukses dalam iklan LA Lights versi “Taklukkan Tantanganmu” adalah mengorbankan waktu untuk meraih kesuksesan, berani