PENGELOLAAN MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Oleh : Masbur
(
Dosen Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
) Email:[email protected]
ABSTRAK
Pengetahuan tentang Media Pembelajaran PAI makin dirasakan manfaatnya bagi mahasiswa yang menekuni ilmu keguruan. Pengetahuan ini uga sangat dibutuhkan oleh guru yang hendak memperbaiki proses pembelajaran siswa di kelas. Guru dapat memanfaatkan dan berperan aktif dalam menyediakan fasilitas yang diperlukan agar pengadaan media dapat terorganisir dengan baik karena kehadiran media sangat berpengaruh dalam menyukseskan dan dapat meningkatkan minat peserta didik. Guru dapat memanfaatkan berbagai media untuk pengadaan dalam pembelajaran baik konvensional maupun modern. Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya perhatian pihak sekolah, guru, dan pihak terkait lainnya dalam media pembelajaran agar tercipta sebuah tujuan yang diharapkan, sehingga peserta didik lebih meningkatkan dalam proses pembelajaran.
Mengembangkan kemampuan anak perlu adanya proses pembelajaran yang menyenangkan dan menarik bagi siswa dan salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menarik perhatian anak adalah dengan menggunakan media yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi. Guru dituntut dapat mengelola media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.
Guru mampu berkreatif dalam pengelolaan media guna untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan memotivasi siswa
.Kata Kunci: Pengelolaan, Media, Pembelajaran PAI.
A. PENDAHULUAN
Media pembelajaran merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembelajaran dan sama pentingnya dengan pembelajaran itu sendiri.
Dalam perkembangannya, dunia pendidikan termasuk yang paling diuntungkan dari kemajuan TI (teknologi informasi) karena memperoleh manfaat yang luar biasa. Salah satu manfaat dari penggunaan media pembelajaran adalah untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam dunia pendidikan, media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif.
Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti „perantara‟ atau „pengantar‟.1 Dalam bahasa Arab, kata media atau perantara disebut dengan kata bentuk jamak dari.2 Jadi secara bahasa media berarti pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Secara lebih khusus, pengenalan media dalam proses belajar mengajar mendorong diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.3
Menurut Azhar Arsyad, media pendidikan memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut :
1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindera.
2. Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada peserta didik.
3. Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
4. Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
1 Arief S. Sadiman, dkk, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 6.
2 Mahmud Yunus, Bahasa-Arab-Kamus, (Hidakarya Agung, Jakarta, 1990), hal. 499.
3Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 3.
5. Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
6. Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya : radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya : film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya : modul : komputer, radio, tape/ kaset, video, recorder).4
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta kemauan peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bruner ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic).5
Sebagai gambaran misalnya, belajar memahami apa dan bagaimana shalat atau wudhu. Dalam tingkatan pengalaman langsung untuk memperoleh pemahaman peserta didik tentang shalat atau wudhu secara langsung ia mempraktekkan atau mengerjakan shalat atau wudhu. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang shalat dan wudhu dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video tentang shalat dan wudhu. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, peserta didik memahaminya lewat membaca atau mendengarkan uraian tentang shalat dan wudhu.
Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, peserta didik sebaiknya diajak untuk memanfaatkan
4Azhar Arsyad, Media Pengajaran…, hal. 6.
5Azhar Arsyad, Media Pengajaran…, hal. 7.
semua alat inderanya. Guru berupaya untuk menampilkan rangsangan (stimulus) yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan.d engan demikian, peserta didik diharapkan akan dapat menerima dan menyerap dengan mudah dan baik pesan-pesan dalam materi yang disajikan.
Tenaga pendidik dapat memanfaatkan berbagai media untuk pengadaan dalam pembelajaran baik konvensional maupun modern yang dapat meningkatkan proses pembelajaran, salah satunya pengadaan sarana prasarana baik buatan guru maupun media yang sudah tersedia, agar guru dapat mengkombinasikan dengan berbagai media sesuai tujuan pembelajaran.
Penggunaan media yang tepat dapat memberikan materi pembelajaran lebih menarik dan mudah didapat. Tidak hanya itu, mereka juga akan mendapatkan pengetahuan yang sangat luas. Kemudian kalau seorang guru mau kreatif banyak hal yang bisa dimanfaatkan untuk media pembelajaran tanpa harus mengeluarkan biaya dan menyita banyak waktu.
Guru yang kreatif akan bisa memanfaatkan lingkungan di mana siswa belajar akan dijadikan sebagai objek media pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran akan menjadi hal yang sangat mudah dan menyenangkan. Media pembelajaran berbasis teknologi dapat membantu mengelola media pembelajaran dalam pendidikan, dapat mempermudah dalam mengelola administrasi sekolah.
Siswa juga dapat mengembangkan bakat dan potensinya sendiri dengan bantuan teknologi tersebut. Pendidikan yang sudah dibantu oleh teknologi, tidak dapat secara mutlak digantikan peranannya oleh teknologi yang sekarang ini tak bisa lepas dari kehidupan. Dengan bantuan teknologi, guru akan lebih bereksistensi dalam pendidikan. Guru dapat mengembangkan media pembelajaran berbasis
teknologi. Tentunya dengan pendampingan dan bimbingan dari tenaga pendidik dalam proses pembelajaran.6
Sistem pembelajaran konvensional di sekolah saat ini dinyakini kurang efektif, konsep-konsep kemampuan otak, kecerdasan, dan kreativitas telah berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang teknologi dan komunikasi. Perkembangan tersebut memberikan pengaruh terhadap penguatan yang ingin mengoreksi kelemahan dan kekurangan yang ada pada sistem pembelajaran konvensional. Dalam sistem konvensional, proses transfer of knowledge dilakukan dengan menggunakan papan tulis sebagai sarana utama, ruangan dikelola dengan format yang statis dan guru menjadi satu-satunya informan yang expect dalam bidangnya (teacher centered). Perlunya kesadaran akan pentingnya perubahan dan pencerahan dalam pendidikan agama Islam, harusnya mendorong setiap guru untuk selalu mengembangkan kompetensinya. Perubahan ini mutlak. Menurut penulis, hal ini disebabkan karena banyaknya inovasi-inovasi yang harus dibuat dan atau digunakan guru dalam pembelajaran PAI.7
Keberadaan teknologi informasi bagi dunia pendidikan berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pembelajaran baik untuk menyiarkan program pembelajaran baik secara searah maupun secara interaktif. Pemanfaatan teknologi informasi ini penting mengingat kondisi geografis Indonesia secara umum berada pada daerah pegunungan yang terpencar kedalam banyak pulau-pulau.8
Menurut Nuryana mengkutip dari Zalik Nuryana, mengatakan bahwa belajar tidak selamanya bersentuhan dengan hal-hal yang kongrit, baik dalam konsep
6Kustandi, Cecep dan Bambang Sujipto, Media Pembelajaran Manual dan Digital, (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2006), hal. 21.
7Nuryana Zalik, Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pendidikan Agama Islam, (Pendidikan Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta), hal. 4.
8 Husaini M, Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Bidang Pendidikan (E- education),(IAIN Raden Intan Lampung, Volume 2 No.1, 2014), hal. 3.
maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar sering kali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada dibalik realitasnya.
Karena itu, multimedia memiliki andil untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak dan menunjukan hal-hal yang tersembunyi. Dalam hal ini pendidikan harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya sekedar sebagai penerima arus informasi global, tetapi juga harus memberikan bekal kepada mereka agar dapat mengolah, menyesuaikan, dan mengembangkan segala hal yang diterima melalui arus informasi itu, yakni manusia yang kreatif dan produktif.9
Pemanfaatan teknologi informasi disekolah akan menjadi suatu hal yang biasa disekolah sebagai alah satu bentuk lembaga pendidikan formal. Namun sejauh mana sekolah dapat mendukung keberadaan teknologi informasi ini masih bergantung pada beberapa hal, diantaranya factor dana dan biaya yang diperlukan oleh teknologi informasi itu. Adapun factor keluasaan pemakaiannya, yakni seberapa jauh teknologi informasi itu diadakan disekolah. Adapula faktor keterlibatan peserta didik pada teknologi informasi dimana sekolah perlu mengambil keputusan, bagian teknologi informasi mana saja yang perlu didukung oleh sekolah.10
Islam merespon sangat cepat untuk memahami nilai pembelajaran dengan pijakan ayat Al-Qur‟an dimana allah akan meninggikan derajat orang- orang yang berilmu sebagaimana tertuang dalam surat 58 al-mujadillah ayat 11.
Ayat ini memberikan peluang kepada umat islam untuk senantiasa mengambangkan diri dengan ilmu pengetahuan dan bermanfaat dengan kehidupan melalui media apapun, seperti teknologi informasi, oleh karna itu menuntun menuntut ilmu wajib bagi setiap umat muslim. Hal ini dikarnakan dasar dari peradaban modern ilmu pengetahuan dan teknologi pengembangannya memberikan berkah dan anugrah bagi kehidupan umat manusia. Dunia teknologi
9Nuryana Zalik, Pemanfaatan Teknologi Informasi…, hal. 3.
10 Darmawan Deni, Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hal. 55.
informasi kini memberikan banyak pilihan kepada semua orang. Tak terkecuali guru pendidikan agama islam (GPAI).11
B. PEMBAHASAN
Agar pengelolaan media berjalan dengan baik dan efisien maka diperlukan Manajemen untuk mengatur segala sesuatunya yang berkaitan dengan pengelolaan media. Pada dasarnya, manajemen erat kaitannya dengan organisasi.
Organisasi menurut Griffin adalah "a group of people working together in a structured and coordinated fasion to achieve a set of goals". Orgnisasi adalah sekelompok orang yang berkerja sama dalam struktur dan koordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu. Sekumpulan orang atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu dan berupaya untuk mewujudkan tujuannya melalui kerjasama.
Lantas, apa yang dimaksud dengan manajemen? Manajemen, seperti diungkapkan oleh Mary Parker Foller adalah seni dalam menyelesaikan sesuatu melalui orang lain. Management is the art of getting things done trough people.
Nickelsand McHugh mendefinisikan manajemen sebagaisebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangakian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya. "The process used to accomplish organizational goals thorugh planning, organizing, diricting, and controlling people and other organizational resources". Salah satu definisi manajemen sebagaimana dicatat Encyclopedia Americana berbunyi " the art of coordinating the elements of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization".
Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui peng-gunaan manusia (man), bahan produksi (materials), dan mesin (machines).12
11Nuryana Zalik, Pemanfaatan Teknologi Informasi…, hal. 6-9.
12 Hasibuan, Malayu, Manajemen = Dasar, Pengertian dan Masalah, (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2005), hal. 62.
Henry L. Sisk mendefinisikan “Management is the coordination of all resourcess through the processes of planing, organizing, and controlling in order to attain stated objectifities” artinya; Manajemen adalah mengkoordinasikan semua sumber-sumber melalui proses-proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasaan di dalam ketertiban untuk mencapai tujuan.13
Pengelolaan juga bisa diartikan suatu tindakan yang melalui tiga aspek, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Menurut William H. Newman bahwa perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode, prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal seharihari.
Sedangkan pelaksanaan adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan perencanaan manejerial dan usaha-usaha organisasi pendidikan.14
Kemudian pengertian dari evaluasi adalah suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data, berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan. Sedangkan evaluasi pembelajaran menurut Norman E. Gronlound adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.15
1. Perencanaan yang Dilakukan Pihak Sekolah dalam Pengelolaan Media Pembelajaran PAI
Perencanaan media Pembelajaran PAI adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-
13Hanry l sisk, principles of management a system apach to the management process, (cicago: publishing company, 1969), hal. 10.
14Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 15.
15Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 3.
metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan evaluasi lingkungan untuk mengelola media pembelajaran PAI yang baik di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu. Perencanaan yang dimaksud adalah menekankan pada program rencana yang dibuat oleh pihak sekolah beserta guru PAI secara sistematis mengenai pengelolaan media pembelajaran PAI. Aspek perencanaan media pembelajaran PAI bahwa, sekolah menyediakan fasilitas sebagai penunjang untuk kebutuhan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan guru memanfaatkannya dalam proses pembelajaran.
Dalam perencanaan dan pengelolaan media pembelajaran PAI sebelum melakukan proses pembelajaran Pertama merencanakan strategi pembelajaran dengan pendekatan metode dan teknik yang sudah disesuaikan dengan kompetensi pembelajaran, kedua; menyiapkan media pembelajaran yang disesuaikan dengan keperluan pembelajaran, ketiga mempersiapkan materi pembelajaran yang diambil dari buku paket dan sumber lainnya, keempat Merencanakan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami pembelajaran yang sudah diajarkan.
Kemudian dirumuskan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru PAI mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari: kalender pendidikan, analisis waktu, program tahunan, program semester, silabus, RPP, jurnal perencanaan pembelajaran guru, absensi dan daftar nilai.
Guru dapat merancang sendiri media sesuai dengan kebutuhan masing- masing sesuai dengan materi pelajaran yang disajikan. Penggunaan media, seyogyanya tenaga pendidik dapat memanfaatkan berbagai media untuk pengadaan dalam pembelajaran baik konvensional maupun modern yang dapat meningkatkan proses pembelajaran agar memudahkan bagi guru atau siswa dalam kegiatan belajar mengajar, selain pengadaan dari sekolah guru bisa merancang sendiri media dari barang bekas agar dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, supaya media tetap membawa manfaat bagi guru dan siswa. Sarana dan prasarana adalah hal yang sangat urgen dalam dunia pendidikan, oleh karena itu dalam dunia pendidikan media pembelajaran baik konvensional maupun modern tidak bisa dipisahkan dalam
pembelajaran, baik buatan guru maupun media yang sudah tersedia, agar guru dapat mengkombinasikan dengan berbagai media sesuai tujuan pembelajaran.
Sebelum melakukan proses pembelajaran perlu adanya perencanaan dalam menjalankan tugas sebagai pendidik yaitu dengan menyediakan fasilitas serta alat- alat pendukung sebagai sarana yang dapat memudahkan dalam proses pembelajaran, baik dengan rancangan (tiruan) maupun media yang tersedia yang biasa dimanfaatkan dalam pembelajaran dengan menggunakan media, kemungkinan tercapainya tujuan pelajaran dapat diwujudkan dan proses pembelajaran akan mudah dilaksanakan sesuai panduan yang telah ditetapkan.
Perencanaan sumber belajar dimulai dengan mengadakan identifikasi kebutuhan media pembelajaran di suatu lingkungan pendidikan.
Perencanaan yang dimaksud adalah menekankan pada program rencana yang dibuat oleh sekolah beserta guru PAI secara sistematis mengenai pengelolaan media pembelajaran PAI. Lembaga pendidikan khususnya jalur pendidikan formal harus mampu mengelola media pembelajaran dengan menetapkan konsep manajemen mulai dari perencanaan, pengadaan, pelaksanaan, pemanfaatan, dan pemeliharaan serta mengetahui faktor penghambat serta pendukung media pembelajaran PAI. Dengan penerapan pola manajemen yang sesuai, diharapkan sekolah dapat memiliki media yang layak serta efektif baik dari kualitas, kuantitas maupun berdaya guna dalam mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.
Sekolah menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh guru di lapangan dengan cara menyeleksi skala prioritas di lapangan agar dapat dipenuhi dengan dana operasional sekolah. Oleh karena itu penggunaan media pembelajaran sangat berpengaruh dalam menyukseskan, dan dapat meningkatkan siswa dalam memahami materi yang disajikan. Perencanaan dalam pengelolaan media pembelajaran PAI di sekolah dengan memfasilitasi untuk kebutuhan sekolah di antaranya menyiapkan media pembelajaran yang disesuaikan dengan keperluan pembelajaran, seperti computer, laptop, infokus, dan WiFi untuk keperluan
pembelajaran. Jadi peran guru di sini diharapkan dapat meningkatkan proses pembelajaran yang lebih baik.
2. Pelaksanaan/Pemanfaatan Media Pembelajaran PAI
Proses pelaksanaan pengelolaan media pembelajaran merupakan tahap implementasi program yang telah disusun. Dalam tahap ini kemampuan yang dituntut adalah ketelitian, kreatifitas guru dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan media pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun. Dalam pelaksanaan proses pengelolaan media pembelajaran harus terencana dan sistematis. Memperhatikan tujuan, prosedur, target/sasaran serta jenis media yang ada. Tahap pelaksanaan pengelolaan media pembelajaran PAI dengan menggunakan media pembelajaran berbasis elektronik. Adapun mengenai jenis-jenis media yang digunakan dalam proses pembelajaran yaitu:, laptop, infokus, papan tulis, HP, dan buku paket.
Pendidik merupakan contoh dan panutan bagi peserta didik, jadi padanya harus memiliki nilai-nilai teladan dan saling menghargai satu sama lain. Dengan demikian pada anak didik sudah terlatih dan juga menanamkan nilai-nilai akhlak dengan membiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu tugas guru/pendidik bukan hanya mengajak tetapi mendidik, membimbing, dan mengarahkan peserta didik ke arah yang lebih baik, sebagaimana tuntutan dalam syariat dalam hal ini pendidik berupaya menerapkan metode-metode di antaranya berupa: tegur, sapa, ajak diskusi, perhatian dan lain-lain. Agar peserta didik mendapat perhatian, keakraban dan juga meningkatkan semangat dalam belajar.
Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan dan bahkan pengaruh psikologis terhadap siswa. Fungsi kognitif dapat memperoleh temuan-temuan informasi dari media tersebut. Guru PAI dalam melaksanakan pembelajaran mempunyai peran penting dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar karena berhubungan langsung dengan siswa sebagai objek dan subjek belajar. Kemampuan guru PAI dalam
mengimplementasikan ilmunya harus mengacu pada silabus dan RPP yang telah dirumuskan dalam program perencanaan.
Dalam pelaksanaannya guru PAI melaksanakan atau adanya perencanaan yang dituangkan dalam RPP, menerapkan strategi pembelajaran, menggunakan metode dalam belajar-mengajar, dan juga menggunakan media pembelajaran walau hanya keterbatasan media yang ada. Adapun pada tahap pelaksanaan pengelolaan media pembelajaran PAI agar dapat membuat suasana belajar lebih efektif dan menarik. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan media oleh guru dalam proses pembelajaran dapat disajikan dengan mengkombinasikan media yang ada atau pemanfaatan media yang baik yang tersedia maupun hasil buatan guru dapat mempermudah guru dan siswa lebih aktif dalam pembelajaran, membuat suasana KBM lebih hidup dan menyenangkan, meningkatkan kemampuan mengajar, dan meningkatkan pemahaman siswa.
Adapun tujuan pelaksanaan media pembelajaran adalah untuk mencapai tujuan dan indikator pembelajaran sehingga kemampuan siswa semakin meningkat baik mutu maupun prestasi serta memudahkan bagi guru dalam penyampaian pesan terhadap materi yang akan disajikan terhadap peserta didik dan memudahkan bagi guru dalam proses belajar mengajar baik segi waktu maupun materi yang disampaikan lebih efisien. Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Di samping itu juga dengan kehadiran media membuat suasana lebih menyenangkan dan meningkatkan motivasi siswa.
3. Monitoring dan Evaluasi dalam Pengelolaan Media Pembelajaran PAI Monitoring dan evaluasi merupakan proses pemantauan dan penilaian kemajuan serta keberhasilan suatu kegiatan pendidikan terutama dalam peningkatan kinerja guru yang dapat menunjang berjalannya proses pendidikan yang baik.
Monitoring dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mengikuti suatu program dan pelaksanaannya secara mantap, teratur dan terus-menerus dengan cara mendengar, melihat dan mengamati, serta mencatat keadaan serta perkembangan program tersebut. Kegiatan monitoring dimaksudkan untuk mengetahui kecocokkan dan ketepatan kegiatan yang dilaksanakan dengan rencana yang telah disusun.
Evaluasi adalah proses untuk menentukan nilai atau harga dari sebuah program, kursus, atau prakarsa lainnya menuju pada tujuan akhir yaitu menghasilkan keputusan mengenai penerimaan, penolakan atau perbaikan inovasi.
Tujuan evaluasi berfungsi sebagai pengarah kegiatan evaluasi dan sebagai acuan untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas terhadap suatu kegiatan. Supervisi selain membina menilai juga di mana kelemahannya agar dapat dibina dari kekurangan yang ada. Jadi dalam supervisi tersebut, guru dapat memperoleh bimbingan, pemahaman secara baik dari hasil supervisi yang dapat meningkatkan wawasan keilmuan pada guru. Sebagaimana yang disebutkan di atas dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) guru harus memiliki kesiapan terlebih dahulu sebelum melakukan proses pembelajaran baik mental maupun perangkat pembelajaran seperti yang tertuang dalam RPP. Namun terkadang guru masih belum memiliki kesiapan secara dhohiriah yang dilakukan saat melakukan kegiatan pembelajaran, sehingga guru terlihat tidak memiliki kompetensi dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
Monitoring dan evaluasi pelaksanaan tugas mengajar dilaksanakan untuk menjawab dua pertanyaan mendasar, yaitu pada batasan mana sebaiknya guru mengimplementasikan dan melaksanakan model pengajaran dan bagaimana siswa mencapai hasil belajar. Ini merupakan contoh evaluasi yang menekankan pada kualitas hasil belajar siswa di sekolah. Dalam konteks pendidikan, monitoring adalah suatu proses pemantauan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Jadi, fokus monitoring adalah pemantauan pada pelaksanaan pengelolaan sekolah, bukan pada hasilnya. Tepatnya, fokus monitoring adalah pada komponen proses pengelolaan sekolah, baik menyangkut
proses pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, maupun pengelolaan proses belajar mengajar. Sedangkan evaluasi merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi tentang hasil pengelolaan sekolah.
Sedangkan fokus evaluasi adalah pada hasil pengelolaan. Informasi hasil ini kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan, berarti pengelolaan sekolah berlangsung efektif. Sebaliknya, jika hasil tidak sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan, maka pengelolaan sekolah dianggap tidak efektif atau gagal. Monitoring dan evaluasi satuan pendidikan memberikan manfaat baik bagi siswa atau peserta pendidikan, pengajar maupun manajemen, serta pengelolaan satuan pendidikan.
Dari sisi pendidik, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik untuk menetapkan upaya-upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Selanjutnya tindak lanjut dari monitoring adalah pengawasan terhadap supervisi guru dapat memberi pengaruh positif bagi guru bersangkutan, sehingga dapat pembinaan dan meningkatkan kemampuan guru dalam penguasaan terkait professional guru serta komponen- komponen penting lainnya. Kemudian dari supervisi tersebut guru dapat mengetahui kelemahan masing-masing agar dapat melakukan perbaikan serta mendapat binaan dari kekurangan yang dimiliki, baik secara individu maupun kelompok.
Monitoring dan evaluasi sekolah dilakukan dengan dua cara, yaitu internal dan eksternal. Yang dimaksud dengan monitoring dan evaluasi internal adalah yang dilakukan oleh sekolah sendiri yaitu kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, dan warga sekolah lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Dengan cara ini diharapkan sekolah memahami tingkat ketercapaian sasaran, menemukan kendala-kendala yang dihadapi dan catatan-catatan bagi penyusunan program selanjutnya. Sedangkan monitoring dan evaluasi eksternal dapat dilakukan oleh pihak luar sekolah, misalnya, pengawas, dinas pendidikan yang hasilnya dapat digunakan untuk rewards system terhadap individu, sekolah dalam rangka meningkatkan iklim kompetisi sehat antar sekolah. Jadi peran kepala sekolah
juga perlu melakukan pengawasan terhadap kinerja guru dalam pelaksanaan pembelajaran, agar dapat meningkatkan kemajuan dan kemampuan guru dalam menjalankan tugas profesionalisme sebagai seorang pendidik.
Dari sini terlihat jelas bahwa monitoring dan evaluasi dilakukan dengan cara internal dapat berupa pengawasan dari kepala sekolah dalam rangka supervisi guru dalam pelaksanaan pembelajaran juga pelaksanaan guru di kelas serta evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui hasil yang diperoleh dari penguasaan terhadap pelaksanaan yang dilakukan di lapangan. Sedangkan monitoring dan evaluasi eksternal dapat dilakukan oleh pihak luar sekolah, misalnya, pengawas, dinas pendidikan yang hasilnya dapat digunakan untuk rewards system terhadap individu, dan hasil yang diperoleh dapat membantu guru terhadap kekurangan yang dimiliki dengan berupa pelatihan atau bimbingan khusus yang dapat meningkatkan kompetensi guru yang lebih baik.
Guru diharapkan bisa menganalisis hasil evaluasi, sehingga bisa mengadakan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran berikutnya.
Perbaikan tersebut seperti bagaimana strategi menyampaikan materi dapat diterima oleh siswa dan menyenangkan, dan melaksanakan remedial atau perbaikan bagi siswa yang tidak tuntas atau tidak mencapai KKM. Metode apa yang tepat digunakan dan media apa yang dapat digunakan disesuaikan dengan sarana yang ada.
Kegiatan evaluasi dimulai dari perencanaan yaitu membuat kisi-kisi dan butir soal, pelaksanaan, mengelola nilai dan menganalisis hasil evaluasi, mengadakan remedial bagi siswa di bawah nilai KKM dan pengayaan bagi siswa di atas rata-rata KKM. Monitoring dan evaluasi sekolah dilakukan dengan dua cara, yaitu internal dan eksternal. Yang dimaksud dengan monitoring dan evaluasi internal adalah yang dilakukan oleh sekolah sendiri yaitu kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, dan warga sekolah lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan dirinya sendiri (sekolah) sehubungan dengan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Dengan cara ini diharapkan sekolah memahami tingkat ketercapaian sasaran, menemukan kendala-kendala yang dihadapi dan catatan-catatan bagi
penyusunan program selanjutnya. Sedangkan monitoring dan evaluasi eksternal dapat dilakukan oleh pihak luar sekolah, misalnya, pengawas, dinas pendidikan yang hasilnya dapat digunakan untuk rewards system terhadap individu, sekolah dalam rangka meningkatkan iklim kompetisi sehat antar sekolah, kepentingan akuntabilitas publik, bagi perbaikan sistem yang ada keseluruhan dan membantu sekolah dalam mengembangkan dirinya.
Adapun monitoring yang dilakukan oleh pengawas sekolah dan kepala sekolah terhadap guru PAI dalam proses pembelajaran dengan pemanfaatan media pembelajaran dilakukan selama dua kali dalam satu semester, kemudian diberikan binaan serta bimbingan sesuai kondisi guru yang bersangkutan. Selanjutnya evaluasi dalam pembelajaran, proses penilaian dari guru terhadap keberhasilan siswa dalam memahami materi yang diterima, mengadakan remedial bagi siswa di bawah nilai KKM.
C. PENUTUP
Dalam upaya meningkatkan serta memaksimalkan Pembelajaran PAI dengan Media Pembelajaran Guru PAI dituntut lebih variatif dalam memanfaatkan media pembelajaran. Hal ini perlu dilakukan agar interaktivitas dari media pembelajaran dengan siswa dapat lebih aktif dalam pembelajaran, misalnya dengan penambahan animasi maupun games ringan yang sesuai dengan materi.
Guru PAI, selalu memantau serta mengingatkan dan mendorong siswa untuk antusias belajar, berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dari awal sampai akhir, dan mengerjakan tugas tepat waktu. Guru bekerja sama dengan orang tua untuk memotivasi dan menasehati siswa serta mengawasi anaknya, karena dengan sarana akses internet terbuka, siswa memiliki kebebasan untuk mengakses lebih banyak informasi dan konten yang tersedia, sehingga orang tua harus selalu mengawasi anaknya agar tidak memiliki kesempatan untuk menggunakan Smartphone selain untuk kegiatan pembelajaran.
Hal ini sangat penting, mengingat kondisi pembelajaran Jarak Jauh memang minim pantauan langsung dari Guru. Peserta didik harus selalu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar, tidak mudah menyerah, menghilangkan rasa malas mengikuti pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Fadhilah (2018). Manajemen kesiswaan di sekolah. Wangndowo, Blok F3. Bojong.
Pekalongan.
Arsyad, Azhar. (1997). Media Pengajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997.
Sadiman, Arief, dkk., (2006). Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Yunus, Mahmud. (1990). Bahasa-Arab-Kamus. Hidakarya Agung, Jakarta.
Kustandi, Cecep dan Bambang Sujipto. (2006). Media Pembelajaran Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia.
Purwanto, Ngalim. (2010). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Majid, Abdul. (2009). Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sisk, Hanry l. (1969). Principles of Management a System Apach to the Management Process. Chicago: Publishing company.
Hasibuan, Malayu. (2005). Manajemen= Dasar, Pengertian dan Masalah.
Jakarta:PT Bumi Aksara.
Darmawan, Deni. (2013). Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Zalik, Nuryana. (2018). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pendidikan Agama Islam. Pendidikan Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Husaini, M. (2014). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Bidang Pendidikan (E-education), (IAIN Raden Intan Lampung, Volume 2 No.1, 2014.