Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sulaw esi Tenggara menyajikan kajian mengenai perkembangan ekonomi Sulaw esi Tenggara yang meliputi perkembangan ekonomi makro, perkembangan inflasi daerah, perkembangan perbankan dan sistem pembayaran, info rmasi tentang keuangan daerah serta prospek perekonomian daerah Sulaw esi Tenggara.
Kajian ini disusun secara triw ulanan oleh Kantor Bank Indonesia Kendari baik dengan menggunakan data internal maupun data yang diperoleh dari instansi terkait di luar Bank Indonesia. Untuk itu, tanggung jaw ab penulisan laporan ini sepenuhnya berada pada Kantor Bank Indonesia Kendari.
Kami berharap kajian ini dapat terus ditingkatkan mutu , isi dan cara penyajiannya sehingga dapat bermanfaat bagi para pihak yang membutuhkannya. Untuk itu, saran dan masukan guna perbaikan dan penyempurnaan buku kajian ini sungguh akan kami hargai.
Akhirnya, kami menyampaikan penghargaan setinggi -tingginya kepada semua pihak yang memungkinkan tersusunnya buku kajian ini dan kiranya kerja sama, saling tukar menukar informasi dan data dapat terus berkelanjutan.
Kendari, November 2010 BANK INDONESIA KENDARI
KATA PENGANTAR
... i
DAFTAR ISI
... iii
D AFTAR GRAFIK
... v
DAFTAR TABEL
... vii
RINGKASAN EKSEKUTIF ... 1
PERKEMBANGAN EKONOMI... 1
INFLASI ... 1
PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN ... 2
KEUANGAN DAERAH ... 5
KETEN AGAKERJAAN D AN KESEJAHTERAAN ... 6
PROSPEK EKONOMI... 7
BAB I. ASESMEN MAKROEKONOMI ... 9
1.1 Kondisi Umum ... 9
1.2 PDRB Menurut Penggunaan ... 10
1.3 PDRB Menurut Lapangan Usaha ... 16
BAB II. ASESMEN INFLASI ... 25
2.1 Kondisi U mum ... 25
2.2 Perkembangan Inflasi Bulanan di Provinsi Sulawesi Tenggara ... 26
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi /Deflasi ... 32
2.4 Inflasi Tahun Berjalan dan Inflasi Tahunan ... 33
2.4 Inflasi/Deflasi Terbesar per-Sub Kelompok ... 35
BAB III. PERKEMBANGAN PERBANKAN ... 37
3.1 Kondisi Umum ... 37
3.2 Perkembangan Aset ... 38
3.3 Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) ... 39
3.4 Penyaluran Kredit/Pembiayaan ... 40
3.5 Perolehan Laba ... 43
3.6 Perkembangan Kredit U MKM dan KUR ... 44
BAB V. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN ... 52
5.1 Perkembangan Pembayaran Tunai ... 52
5.2 Perkembangan Pembayaran Non Tunai ... 54
BAB VI. TENAGA KERJA D AERAH DAN INDIKATOR KESEJAHTERAAN ... 61
6.1 Ketenagakerjaan Daerah ... 61
6.2 Kesejahteraan ... 62
BAB VII. PROSPEK EKONOMI DAN INFLASI DAERAH ... 67
7.1 Prospek Ekonomi Makro ... 67
7. 2 Perkiraan Inflasi ... 68
N ama Grafik ...N omor H alaman
Grafik. 1.1. Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tenggara ... 9
Grafik. 1.2. Indeks Keyakinan Konsumen Sulawesi Tenggara... 11
Grafik. 1.3. Indeks Kondisi Ekonomi saat ini ... 11
Grafik. 1.4. Penerimaan Pajak... 12
Grafik. 1.5. Konsumsi Air ... 12
Grafik. 1.6. Konsumsi Bahan Bakar... 12
Grafik. 1.7. Perkembangan Realisasi Kredit Konsumsi... 12
Grafik. 1.8. Realisasi Kredit Investasi... 13
Grafik. 1.9. Volume Ekspor Provinsi Sultra... 14
Grafik. 1.10. Arus Bongkar Muat Pelabuhan ... 15
Grafik. 1.11. Kontribusi Tiap Sektor ... 16
Grafik. 1.12.Share Tiap Sektor ... 17
Grafik. 1.13. Produksi Biji Nikel PT.Antam, Tbk ... 18
Grafik. 1.14. Produksi Ferronikel PT.Antam, Tbk ... 19
Grafik. 1.15. Tingkat Penghunian Kamar Hotel Sultra... 20
Grafik. 1.16. Jumlah Arus Penumpang Di Bandara Haluoleo... 21
Grafik. 1.17. NTB Perbankan Sulawesi Tenggara ... 22
Grafik. 2.1. Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m) Nasional dan Kendari ... 25
Grafik. 2.2. Perkembangan Harga Beras dan Inflasi Bulanan Sub-Kelompok Padi -padian ... 29
Grafik. 2.3. Perkembangan Emas Internasional (per troy ounce) ... 31
Grafik. 2.4. Perkembangan Harga Gula Pasir dan Inflasi Bulanan Sub-Kelompok Minuman Tidak Beralkohol ... 32
Grafik. 2.5. Inflasi Tahunan dan Tahun Berjalan Kota Kendari... 34
Grafik. 3.1. Pangsa Kepemilikan Aset ... 38
Grafik. 3.2. Pangsa DPK Golongan Pemilik ... 40
Grafik. 3.3. Pangsa Penyaluran Kredit M enurut Sektor Ekonomi ... 42
Grafik. 4.1. Realisasi Pendapatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009 ... 48
Grafik. 4.2. Realisasi Belanja Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009 ... 50
Grafik. 5.1. Aliran Uang Keluar /Outflow Triwulan II-2010 ... 52
Grafik. 5.2. Aliran Uang MasukI Inflow Triwulan II-2010 ... 53
Nama Tabel ... Nomor Halaman
Tabel . 1.1. Pertumbuhan PDRB Penggunaan Sulawesi Tenggara ... 8
Tabel . 1.2. Kontribusi Komponen PDRB Penggunaan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tenggara ... 8
Tabel . 1.3. Pertumbuhan Tiap Sektor (dalam persen) ... 14
Tabel . 1.4. Produksi Padi Provinsi Sulawesi Tenggara ... 16
Tabel . 1.5. Perkembangan Kredit Perumahan/Ruko ... 20
Tabel . 2.1. Perkembangan Inflasi Kendari ... 26
Tabel . 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan (mtm) ... 27
Tabel . 2.3. Sumbangan Per Kelompok Terhadap Inflasi Bulanan (mtm) ... 27
Tabel . 2.4. Komoditi Penyumbang Inflasi Kelompok Bahan Makanan Bulan April-Juni ... 29
Tabel . 2.5. Komoditi Penyumbang Inflasi/Deflasi Kelompok Sandang Bulan April-Juni ... ... 30
Tabel . 2.6. Inflasi Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Bulan April-Juni ... 32
Tabel . 2.7. Bebrapa Faktor Yang Mempengaruhi Inflasi/Deflasi Di Kota Kendari ... 33
Tabel . 2.8. Inflasi (Deflasi) Terbesar Per Sub Kelompok Secara Bulanan ... 35
Tabel . 3.1. Perkembangan Indikator Perbankan Sulawesi Tenggara ... 38
Tabel . 3.2. Perkembangan Penghimpunan DPK ... 40
Tabel . 3.3. Perkembangan Penyaluran Kredit Berdasarkan Penggunaan ... 41
Tabel . 3.4. NPLs Kredit Bank Umum Berdasarkan Penggunaan ... 43
Tabel . 3.5. Perkembangan Pendapatan Bunga Bank ... 44
Tabel . 3.6. Perkembangan Kredit UMKM ... 45
Tabel . 4.1. Realiasai Pendapatan dan Belanja Sulawesi Tenggara Tahun 2009 ... 47
Tabel . 6.1. Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan ... 59
Tabel . 6.2. Pekerja berdasarkan lapangan kerja utama ... 62
Tabel . 6.3. Pekerja berdasarkan status pekerjaan ... 62
Tabel . 6.2. Nilai Tukar Petani (NTP) ... 63
KAJIAN EKO N O M I REGIO NAL
PROVIN SI SU LAW ESI TEN GGARA
TRIW U LAN III-2010
PERKEM BANGANEKONOM I
Perekonomian Sulaw esi Tenggara pada triw ulan III-2010 sebesar 8,32%
Inflasi Kendari triw ulan III-2010 tercatat sebesar 3,99% (y.o.y)
Perekonomian Sulaw esi Tenggara pada triw ulan III-2010 tercatat tumbuh sebesar 8,32% secara tahunan1. Pertumbuhan tersebut meningkat secara tahunan, namun mengalami perlambatan dibandingkan dengan triw ulan II-2010 yang tercatat sebesar 8,98% .
Dari sisi permintaan, sumber pertumbuhan pada periode berjalan didominasi oleh komponen investasi yang tercatat tumbuh 9,49% yang diikuti oleh komponen konsumsi rumah tangga dengan pertumbuhan
sebesar 4,33% . Namun, pertumbuhan kedua komponen tersebut
mengalami perlambatan dibandingkan tahun dan dibandingkan triw ulan sebelumnya.
Dari sisi penaw aran, pertumbuhan ekonomi pada triw ulan III-2010 terutama didorong oleh pertumbuhan pada sektor perdagangan, hotel dan restauran (PHR), sektor bangunan, dan sektor pertambangan. Ketiga sektor tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi masing-masing sebesar 10,80% , 14,08% dan 22,96% secara tahunan.
INFLASI
tercatat mengalami inflasi dimana kelompok sandang tercatat sebagai kelompok yang mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,53% (m.t.m).
Pada sisi lain, Kota Kendari tercatat mengalami inflasi yang cukup tinggi pada bulan Juli dan Agustus 2010. Inflasi Kota Kendari pada bulan Juli 2010 tercatat sebesar 2,19% (m.t.m). Berdasarkan kelompoknya, inflasi tersebut didorong oleh inflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok transportasi yang masing-masing tercatat sebesar 4,76% (m.t.m) dan 4,40% (m.t.m). Pada sisi lain terdapat tiga kelompok yang mengalami deflasi dimana kelompok sandang tercatat mengalami deflasi terendah sebesar -0,84% (m.t.m).
PERBANKAN DANSISTEM PEM BAYARAN
..
Total asset perbankan pada triw ulan III-2010 tercatat sebesar Rp7.872,33 miliar.
Dengan kondusifnya kondisi makro ekonomi tersebut, telah memberikan peluang kepada perbankan Sulaw esi Tenggara untuk meningkatkan kinerjanya, sebagaimana terlihat pada beberapa indikator seperti
meningkatnya penghimpunan dana pihak ketiga maupun
kredit/pembiayaan yang disalurkan, perolehan laba dan efisiensi usaha, serta terjaganya risiko kredit yang tercermin rendahnya non performing loans(NPLs).
Peningkatan dana pihak ketiga, selain didorong oleh kemampuan masyarakat untuk menabung, juga tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh perbankan dalam mendorong minat masyarakat untuk menabung, yang antara lain dilakukan melalui program edukasi serta
peluncuran dan sosialisasi program tabungan bersama seperti
TabunganKu.
DPK yang berhasil dihimpun oleh perbankan Sulaw esi Tenggara pada triw ulan III-2010 tercatat sebesar Rp5.834,37 miliar, secara nominal meningkat sebesar Rp127,80 miliar (2,24% ) dibandingkan triw ulan II-2010 yang tercatat sebesar Rp5.706,77 miliar (q-t -q).
Jumlah kredit yang disalurkan pada triw ulan III-2010 tercatat sebesar Rp5.687,75 miliar.
Kredit pembiayaan mikro, kecil dan mengah tercatat sebesar Rp5.378,26
Peran perbankan Sulaw esi Tenggara dalam mendorong peningkatan
kapasitas perekonomian Sulaw esi Tenggara terus menunjukkan
peningkatan. Hal ini terlihat pada jumlah kredit/pembiayaan yang disalurkan dimana pada posisi triw ulan III-2010 tercatat sebesar Rp5.687,75 miliar, tumbuh sebesar 5,34% atau meningkat Rp288,21 miliar dibandingkan posisi triw ulan II-2010 yang sebesar Rp5.399,54 miliar (q-t-q), sehingga selama tahun berjalan kredit/pembiayaan yang disalurkan tumbuh sebesar 19,09% atau sebesar Rp911,78 miliar (y-t-d)
Seiring dengan meningkatnya penyaluran kredit dan efisiensi usaha, perolehan laba usaha yang berhasil dibukukan oleh perbankan Sulaw esi Tenggara juga menunjukkan peningkatan. Pada III-2010 laba perbankan Sulaw esi Tenggara tercatat sebesar sebesar Rp417,47 miliar, tumbuh 27,63% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009 yang sebesar Rp327,09 miliar.
Peran perbankan Sulaw esi Tenggara dalam membantu pembiyaan cukup signifikan, hal ini terlihat pada jumlah kredit/pembiayaan mikro, kecil dan menengah yang disalurkan dimana pada triw ulan III-2010 tercatat sebesar Rp5.378,26 milar atau mencapai 94,56% dari total kredit yang disalurkan. Dibandingkan triw ulan II-2010, kredit UM KM meningkat sebesar 5,89% (q-t-q), sehingga selama tahun berjalan (y-t -d) telah meningkat sebesar 18,59% .
SISTEM PEM BAYARAN
Seiring dengan perkembangan perekonomian Sulaw esi Tenggara, dimana pada triw ulan III-2010 secara tahunan tumbuh 8,32%2
Jumlah uang yang
Indonesia Kendari juga terus menunjukkan peningkatan. Peningkatan transaksi tunai tercermin pada meningkatnya aliran uang ke luar (out flow ) sementara peningkatan aktivitas pembayaran non tunai tercermin pada kegiatan SKNBI maupun melalui BI-RTGS.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang kartal
khususnya untuk keperluan transaksi (transaction motive), pada triw ulan III-2010 (Juli-September) Kantor Bank Indonesia Kendari telah mengedarkan uang kartal baik melalui perbankan maupun langsung kepada masyarakat yang ada di w ilayah Sulaw esi Tenggara sebesar Rp765,26 miliar, meningkat 54,83% dibandingkan periode yang sama tahun 2009 yang sebesar Rp494,27 miliar.
Jumlah aliran uang kartal yang masuk dari perbankan dan masyarakat yang ada di Sulaw esi Tenggara ke KBI Kendari pada triw ulan III-2010 (Juli-September) sebesar Rp126,82 miliar. Pecahan terbesar yang masuk yaitu pecahan 50.000,00 emisi tahun 2005 yang mencapai Rp64 m ilyar atau 4 5 % dari jumlah uang yang masuk.
Perkembangan pembayaran non tunai tercermin dari perkembangan jumlah w arkat dan nominal kliring. Warkat kliring meningkat sebesar 8,74% , dari 22.168 lembar menjadi 24.105 lembar, sedangkan nominal kliring meningkat sebesar 13,95% dari Rp529,21 miliar menjadi Rp603,01 miliar.
Demikian hal dengan kegiatan transaksi non tunai melaui sarana Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) juga menunjukkan peningkatan, sebagaimana terlihat pada meningkatnya jum lah maupun nominal transaksi. Jumlah transaksi melalui BI-RTGS pada triw ulan III-2010 tercatat sebanyak 17.195 transaksi, meningkat sebesar 49,69% dari periode yang sama tahun 2009 yang sebanyak 11.487 transaksi (y-o-y), sementara jumlah nominal transaksi tercatat sebesar Rp12.138 miliar, meningkat sebesar 11,06% .
KEUANGANDAERAH
Realisasi pendapatan
yang relatif kecil yaitu masing-masing sebesar 45,60% dan 22,82% dari target APBD TA 2010.
Realisasi pendapatan Provinsi Sulaw esi Tenggara semester I tahun 2010 tercatat sebesar Rp523 ,10 milyar atau 45,60% dari anggaran pendapatan dalam APBD tahun 2010 sebesar Rp1.147,2 M ilyar . Berdasarkan kelompoknya, realisasi pendapatan tersebut didominasi oleh dana perimbangan sebesar Rp388,24 M ilyar atau 74,22 % dari total realisasi pendapatan.
Realisasi dana perimbangan Provinsi Sulaw esi Tenggara pada semester I tahun 2010 tercatat sebesar Rp388,24 milyar. Berdasarkan sub komponen nya, penerimaan dana perimbangan terutama didominasi oleh dana alokasi umum (DAU) yang tercatat sebesar Rp 347,17,84 milyar atau 47,80% dari total dana perimbangan sedangkan realisasi dana alokasi khusus (DAK) tercatat sebesar Rp7,20 milyar atau 0,99 % dari total dana perimbangan
Realisasi belanja daerah Provinsi Sulaw esi Tenggara pada semester I tahun 2010 tercatat sebesar Rp301,30 milyar atau 22,82 % dari pagu anggaran belanja Provinsi Sulaw esi Tenggara tahun 2010. Proporsi terbesar atau 61,26% dari total realisasi belanja daerah adalah belanja operasional terutama pengeluaran untuk tidak langsung yaitu sebesar Rp 218,44 milyar dengan proporsi dari total realisasi belanja mencapai 72,49% .
KETENAGAKERJAANDAERAHDANKESEJAHTERAAN
Pada bulan Februari 2010, jumlah angkatan kerja tercatat sebesar 1.033.568 orang atau meningkat 4,81% dibandingkan bulan Februari 2009 dimana angkatan kerja tercatat sebanyak 986.096 orang. Dari total angkatan kerja tersebut, jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebanyak
984.271 orang atau meningkat 5,49% dibandingkan data jumlah
NTP bulan September yang didoro ng oleh konsumsi masyarakat yang meningkat.
bulan Agustus 2010 sebesar 107,84. Penurunan NTP bulan Agustus 2008 tersebut karena terdapat empat sub sektor yang mengalami penurunan. Penurunan indeks terbesar terjadi pada sektor perkebunan yaitu sebesar -1,61% yang disebabkan oleh menurunnya indeks yang diterima oleh petani (tabel 6.5). Kondisi ini seiring dengan berakhirnya masa panen kakao sehingga produksi cenderung mengalami penurunan. Selanjutnya, tingginya curah hujan di sentra perkebunan kakao berdampak terhadap penurunan kualitas biji kakao. Sementara, indeks yang dibayar petani tercatat mengalami peningkatan sebesar 0,61% yang antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Pada bulan September 2010, IKRT Provinsi Sulaw esi Tenggara tercatat sebesar 0,76% lebih rendah/lebih lambat dibandingkan dua bulan sebelumnya. M eskipun menunjukkan kecenderungan melambat, namun indeks konsumsi rumah tangga Sulaw esi Tenggara tersebut masih di atas rata-rata IKRT pada beberapa provinsi di Sulaw esi sebesar 0,57% pada bulan September 2010. Peningkatan IKRT tertinggi tercatat di Provinsi Sulaw esi Barat, sedangkan perubahan negatifi tercatat di Provinsi Sulaw esi Tengah.
PROSPEKEKONOM I
Kondisi perekonomian Sulaw esi Tenggara pada triw ulan IV-2010 diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi dan berada pada kisaran 8% + 1% (y.o.y). Perkiraan kinerja perekonomian tersebut sesuai deng an optimisme responden Survei Konsumen akan ekspektasi terhadap kondisi perekonomian yang akan datang pada Indeks Ekspektasi Konsumen dengan nilai SB sebesar 130,42.
memperkirakan inflasi akan bergerak naik pada triw ulan IV-2010.
I
ASESM EN MAKRO EKO N O M I
1.1 KONDISIUM UM
Perekonomian Sulaw esi Tenggara pada triw ulan III-2010 tercatat tumbuh
sebesar 8, 32% secara tahunan1. Pertumbuhan tersebut meningkat secara tahunan, namun mengalami perlambatan dibandingkan dengan triw ulan II-2010 yang tercatat sebesar 8,98% .
Dari sisi permintaan, sumber pertumbuhan pada periode berjalan didominasi
oleh komponen investasi yang tercatat tumbuh 9,49% yang diikuti oleh komponen
konsumsi rumah tangga dengan pertumbuhan sebesar 4,33% . Namun, pertumbuhan
kedua komponen tersebut mengalami perlambatan dibandingkan tahun dan dibandingkan triw ulan sebelumnya.
Dari sisi penaw aran, pertumbuhan ekonomi pada triw ulan III-2010 terutama
didorong oleh pertumbuhan pada sektor perdagangan, hotel dan restauran (PHR),
sektor bangunan, dan sektor pertambangan. Ketiga sektor tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi masing-masing sebesar 10,80% , 14,08 % dan 22,96% secara tahunan.
Grafik 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sulaw esi Tenggara
0.00%
2007 2008 2009 2010
PDRB
Growth
Juta
Sumber: data BPS diolah
Sumber : BPS Sultra
* ) Proyeksi Bank Indonesia Kendari
1.2 PDRB M ENURUT PENGGUNAAN
Pada sisi penggunaan, posisi komponen konsumsi yang pada periode-periode
sebelumnya menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dominasinya digeser oleh
komponen investasi yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Sulaw esi
Tenggara. Kontribusi investasi pada pertumbuhan ekonomi triw ulan III-2010 tercatat sebesar
2,84% sementara kontribusi konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 2,30% .
Tabel 1.1 Pertumbuhan PDRB Penggunaan Sulaw esi Tenggara
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3
Konsumsi Rumah Tangga 8.48% 7.95% 5.45% 1.18% 4.20% 3.14% 4.33% Konsumsi Pemerintah 23.32% 7.02% 2.69% 0.33% 3.73% 14.43% 8.69%
Investasi 8.26% 8.76% 14.11% 29.81% 20.02% 14.80% 9.49%
Ekspor 3.06% 1.95% -0.47% 18.37% 1.83% 7.38% 23.30%
Impor 15.05% 4.04% 2.66% 15.36% 2.92% 6.27% 15.90%
GROW TH 7.40% 7.47% 6.65% 8.73% 8.23% 8.98% 8.32%
2009 2010
PENGGUNAAN
Tabel 1.2 Kontribusi Komponen PDRB Penggunaan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Sulaw esi Tenggara
Konsumsi Rumah Tangga 2.30%
Konsumsi Pemerintah 1.66%
Investasi 2.84%
Ekspor 4.88%
Impor 8.32%
PENGGUNAAN Kontribusi
1.2.1 KONSUM SI
Aktivitas konsumsi rumah tangga pada triw ulan III-2010 secara tahunan
tumbuh 4,33% (Tabel 1.1). Pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan dibandingkan
dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 5,45% .
Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) yang turun dari 129,88 pada triw ulan II-2009 menjadi 129,09 (Grafik 1.3).
M eski mengalami perlambatan, konsumsi pada periode berjalan masih tumbuh positif, hal ini sesuai dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mengalami penurunan namun masih berada pada level optimisme.
Grafik 1.2 Indeks Keyakinan Sulaw esi Tenggara
0.00
Indeks Keyakinan Konsumen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini Indeks Ekspektasi Konsumen
Grafik 1.3 Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini
0.00
Aug Oct Dec Feb Apr Jun
2010
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini
Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu
Ketersediaan lapangan kerja saat ini
Ketepatan waktu pembelian (konsumsi) barang tahan lama
Optimisme tersebut didorong oleh keyakinan masyarakat akan adanya kenaikan penghasilan saat ini dibanding enam bulan yang lalu yang juga t ercermin dari peningkatan penerimaan hasil pajak oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kendari yaitu sebesar 24,44% (yoy) (Grafik 1.4).
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Kendari
Sumber: LBU
Grafik 1.4 Penerimaan Pajak Grafik 1.5 Konsumsi Air
Selain itu beberapa indikator lainnya yang tumbuh positif juga mencerminkan pertumbuhan sektor konsumsi rumah tangga antara lain konsumsi air, dan konsumsi bahan bakar. Konsumsi air di Kota Kendari pada triw ulan II-2010 tumbuh 8,00% secara tahunan (Grafik 1.5) dengan rata-rata pemakaian air sebesar 23 M3.
Konsumsi bahan bakar khususnya bahan bakar minyak tanah, premium dan solar juga mengalami peningkatan yang masing-masing sebesar 6,40% , 143,20% dan 68,00% secara tahunan (Grafik 1.7).
2006 2007 2008 2009 2010
B
Pajak Penghasilan PPN & PPnBM Pendapatan atas Pl dan PIB
0
2006 2007 2008 2009 2010
T
Konsumsi Air Rumah Tangga (M3) Growth Konsumsi Air Rumah Tangga
-50%
2007 2008 2009 2010
M
PREMIUM M.SOLAR Growth Premium Growth M.Solar
-80%
Realisasi Kredit Konsumsi Growth Konsumsi
Ju
ta
a
n
Sementara itu, pembiayaan oleh perbankan terhadap konsumsi rumah tangga juga tumbuh positif yang tercermin dari pertumbuhan realisasi kredit baru untuk konsumsi sebesar 17,05% (y.o.y) (Grafik 1.8).
Sumber: Kantor Pajak Pratama Kendari Sumber: PDAM Kendari
Sumber: Pertamina Kendari
Grafik 1.6 Konsumsi Bahan Bakar Grafik 1.7 Perkembangan Realisasi Kredit
Faktor utama yang mendorong pertumbuhan positif konsumsi rumah tangga pada periode berjalan antara lain faktor musiman perayaan hari raya Idul Fitri bagi umat muslim yang merupakan agama mayoritas di Sulaw esi Tenggara.
Berbeda dengan perlambatan pertumbuhan pada konsumsi rumah tangga,
pertumbuhan investasi pada periode berjalan mengalami peningkatan dari 2,69 % pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 8,69 % (y.o.y). Peningkatan pertumbuhan tersebut disebabkan oleh mulai berjalannya proyek-proyek pembangunan pemerintah setelah masa lelang dan proses administratif yang berlangsung hingga bulan Juni.
1.2.2 INVESTASI
Pada triw ulan III-2010 investasi Sulaw esi Tenggara menunjukkan
perkembangan yang cukup agresif dengan pertumbuhan sebesar 8,69% (y.o.y)
(Tabel 1.1). Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan yang cukup tinggi khususnya
ditengah kondisi bulan Ramdhan yang bertepatan jatuh pada periode berjalan.
Pertumbuhan investasi tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit investasi pada triw ulan-III 2010 yang secara tahunan tercatat sebesar 3,51% . Selain itu, realisasi kredit investasi juga tumbuh sebesar 44,25% (Grafik 1.8).
-100%
Realisasi Kredit Investasi Growth Investasi
Jutaan
Perkembangan investasi tersebut diperkirakan didorong oleh aktivitas sw asta yang cukup tinggi khususnya pada sektor bangunan, hal ini juga tercermin dari pertumbuhan sektor bangunan yang cukup tinggi yaitu sebesar 14,08% secara tahunan.
Sumber : Laporan Bank Umum
Sumber: Dataw arehouse Bank Indonesia 1.2.3 EKSPOR& IM POR
Ekspor Sulaw esi Tenggara pada triw ulan III-2010 menunjukkan pertumbuhan
yang cukup tinggi yaitu sebesar 23,30% (y.o.y) (Tabel 1.1). Pertumbuhan tersebut
mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar -0,47% (yoy).
Peningkatan pertumbuhan ekspor luar negeri tercermin pada peningkatan volume ekspor yaitu sebesar 7,77% (grafik 1.9) pada triw ulan III-2010. Relatif tingginya pertumbuhan ekspor tersebut didorong oleh peningkatan ekspor komoditas pertambangan dan industri pengolahan antara lain Bijih Nikel dan Ferronikel. Selain itu, ekspor komoditas pertanian juga tercatat cukup tinggi khususnya komoditas perikanan dan kelapa saw it. Nilai ekspor komoditas sektor pertambangan pada periode berjalan tumbuh sebesar 37,99% (q.t.q) yaitu dari USD 20.154.976 menjadi sebesar USD 27.811.415,6 02
.
Grafik 1.9 Volume Ekspor Per Komoditas Provinsi Sulaw esi Tenggara
-Peningkatan ekspor juga tergambar dari aktivitas perdagangan antar w ilayah yang juga menjadi bagian perhitungan ekspor yang tercatat pada PDRB Sulaw esi Tenggara. Pada periode berjalan, perdagangan antar pulau mengalami peningkatan yang tercermin dari peningkatan arus muat barang di pelabuhan Kendari yaitu sebesar 7,04% (y.o.y) menjadi 33.756 Ton dari 31.536 Ton pada triw ulan III-2009 (Grafik 1.10).
2
Grafik 1.10 Arus Bongkar dan M uat Pelabuhan
Bongkar (Ton) Muat (Ton) Growth Bongkar Growth Muat
Impor Sulaw esi Tenggara pada periode berjalan secara tahunan menunjukkan
pertumbuhan sebesar 15,90% , mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode
yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 2,66% (yoy) (Tabel 1.1).
Peningkatan pertumbuhan impor Sulaw esi Tenggara tercermin dari peningkatan pertumbuhan perdagangan antar pulau dengan indikator peningkatan aktivitas arus bongkar pada pelabuhan utama Sulaw esi Tenggara yaitu pelabuhan Kendari yang tercatat mengalami pertumbuhan 7,52% (Grafik 1.1 0).
M eningkatnya pertumbuhan impor diperkirakan disebabkan oleh peningkatan kebutuhan barang konsumsi masyarakat khususnya pada masa bulan Ramadhan yang berlangsung pada bulan Agustus hingga September 2010.
Dengan kondisi impor yang tumbuh lebih tinggi dari ekspor maka Net Balance arus perdagangan Sulaw esi Tenggara pada triw ulan III-2010 masih tercatat negatif sebesar Rp330,00 M iliar.
* ) Proyeksi Bank Indonesia
1.3 PDRB M ENURUT LAPANGAN USAHA
Perkembangan perekonomian Sulaw esi Tenggara secara sektoral pada triw ulan III-2010 menunjukkan pertumbuhan yang positif pada semua sektor. (Tabel 1.4).
Tabel 1.4 Pertumbuhan Tiap Sektor (dalam persen)
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3
Pertanian 2.86% 2.67% -0.11% 5.58% 0.36% 2.22% 2.57%
Pertambangan -1.08% 23.81% 21.48% -16.86% 16.25% 13.98% 22.96%
Industri 2.25% -12.02% -9.35% 10.26% 18.70% 21.64% 20.38%
Listrik, Gas dan Air 11.65% 15.52% 17.57% 17.74% 5.77% 10.65% 8.73%
Bangunan 10.10% 10.13% 14.55% 15.25% 19.86% 16.15% 14.08%
Perdagangan 13.61% 13.73% 14.71% 16.21% 15.32% 13.55% 10.80%
Angkutan 16.66% 19.16% 21.38% 20.80% 9.10% 6.90% 8.60%
Keuangan 9.79% 10.10% 2.56% 7.89% 10.51% 24.33% 10.27%
Jasa-jasa 11.08% 10.64% 8.62% 5.13% 2.31% 1.18% 1.02%
GROWTH 7.40% 7.47% 6.65% 8.73% 8.23% 8.98% 8.32%
2009 2010
Sektor
Sektor yang memiliki pertumbuhan tertinggi yaitu sektor
pertambangan,sektor industri pengolahan dan sektor bangunan. Sementara itu, sektor
yang memiliki kontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi yaitu sektor perdagangan, hotel dan restauran (PHR), sektor industri pengolahan, dan sektor bangunan yaitu
masing-masing sebesar 1,88% , 1,69% dan 1,27 % (Grafik 1.12).
Grafik 1.11 Kontribusi Tiap Sektor Terhadap Pertumbuhan PDRB
(dalam persen) Listrik, Gas dan Air Bangunan Perdagangan Angkutan Keuangan Jasa-jasa
0.00% 0.50% 1.00% 1.50% 2.00%
Pada triw ulan III-2010, sektor pertanian masih merupakan sektor dengan pangsa terbesar sumbangannya dalam perekonomian Sulaw esi Tenggara yaitu sebesar 30,75% yang disusul oleh sektor Jasa-jasa sebesar 12,09% (grafik 1.1 3).
Grafik 1.12 Share Tiap Sektor
30.75%
Listrik, Gas dan Air
Bangunan
Perdagangan
Angkutan
Keuangan
Jasa-jasa
Perkembangan tiap sektor ekonomi yang memiliki kontribusi terhadap pembentukan PDRB akan dianalisis lebih lanjut dalam sub bab berikut ini.
1.3.1 Sektor Pertanian
Perkembangan sektor pertanian pada triw ulan III-2010 menunjukkan
pertumbuhan positif sebesar 2,57% (y.o.y) (Tabel 1.4) dengan kontribusi terhadap
pertumbuhan ekonomi sebesar 0,84% (Grafik 1.11). Pertumbuhan tersebut meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar -0,11 % (yoy) (Tabel 1.4).
Beberapa hal yang mendorong peningkatan pertumbuhan sektor pertanian antara lain masih berlangsungnya masa panen Kakao hingga Agustus dan meningkatnya produksi rumput laut3.
Sejalan dengan peningkatan pertumbuhan sektor pertanian, hasil produksi padi pada periode berjalan juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu dari 78.063 Ton menjadi 120.179 Ton.
3
Sumber: Data Dinas Pertanian Prov. Sulaw esi Tenggara
Tabel 1.6 Produksi Padi Prov. Sultra 2010
Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Triwulan I Triwulan II Triwulan III Produksi Padi (Ton) 60,762.00 124,047.96 78,063.00 84,353.16 22,491.73 185,618.00 120,179.00 Luas Lahan (Ha) 31,180.00 29,884.00 16,755.00 3,606.00 32,497.00 27,871.00 31,714.00 Luas Panen (Ha) 15,600.00 31,848.00 20,042.00 21,253.00 3,365.00 43,450.00 28,132.00
Indikator
2009 2010
1.3.2 Sektor Pertambangan
Perkembangan sektor pertambangan Provinsi Sulaw esi Tenggara pada
triw ulan III-2010 mengalami pertumbuhan sebesar 22,96% (y.o.y) meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 21,48 % (Tabel 1.4). Kontribusi sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar sebesar 0,90% (Grafik 1.11).
Peningkatan pertumbuhan sektor pertambangan juga tercermin pada peningkatan hasil pertambangan komoditas bijih nikel PT.Antam, Tbk yang tercatat tumbuh sebesar 51,77% (y.o.y) (Grafik 1.1 3). Peningkatan produksi bijih nikel tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan yang datang dari Jepang dan Cina. Selain komoditas bijih nikel, komoditas lainnya yang diperkirakan mengalami peningkatan produksi adalah komoditas aspal buton yang didorong oleh adanya permintaan komoditas aspal buton yang datang dari Cina4.
Grafik 1.13 Produksi Bijih Nikel PT.Antam, Tbk
-80.00%
2007 2008 2009 2010
Biji Nikel (WMT) Pertumbuhan
4
Liason Bank Indonesia Kendari ke PT. Aspal Buton Sumber: PT. Antam Tbk
1.3.3 Sektor Industri Pengolahan
Perkembangan sektor industri pengolahan pada triw ulan II I-2010
menunjukkan pertumbuhan sebesar 20,38% (y.o.y) (Tabel 1.4) dengan kontribusi
terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,50 % (Grafik 1.11).
Salah satu indikator peningkatan pertumbuhan sektor industri adalah peningkatan produksi Ferronikel pada PT.Antam, Tbk yaitu sebesar 84,70% (y.o.y) (Grafik 1.1 4). Sama halnya dengan komoditas bijih besi, peningkatan produksi Ferronikel juga didorong oleh meningkatnya permintaan dari negara Cina dna Jepang.
Selain itu, pembiayaan perbankan terhadap sektor industri pengolahan juga mengalami peningkatan yang tercermin dari pertumbuhan kredit sektor industri pengolahan sebesar 8,36% (y.o.y).
Grafik 1.14 Produksi Ferronikel PT.Antam, Tbk
-80.00%
2007 2008 2009 2010
Ferronikel (Ton Ni) Pertumbuhan
1.3.4 Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran
Pada triw ulan III-2010 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) tumbuh
10,80% (y.o.y) (Tabel 1.4) melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
yang tercatat sebesar 14,71% (y.o.y) dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,88% (Grafik 1.11 ).
Pada sektor perhotelan, melambatnya kinerja sector PHR tersebut antara lain ditandai dengan menurunnya tingkat penghunian kamar hotel di Sulaw esi Tenggara yang tercatat dari 67,81% menjadi 6 5,15% pada triw ulan III-20105 (Grafik1.15). Lebih lanjut, aktivitas perdagangan di Sulaw esi Tenggara juga menunjukkan perlambatan yang tercermin dari melambatnya pertumbuhan aktivitas arus bongkar muat di pelabuhan Kendari yaitu dari 33,37% menjadi 7,39% (y.o.y) (Grafik 1.10). M elambatnya konsumsi masyarakat diperkirakan menjadi penyebab melambatnya sektor PHR.
Grafik 1.15 Tingkat Penghunian Kamar Hotel Di Sulaw esi Tenggara
0
Perkembangan sektor bangunan pada triw ulan II-2010 menunjukkan
pertumbuhan sebesar 14,08% (y.o.y) (Tabel 1.4) relatif sama dibandingkan dengan
pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 14,55 % (y.o.y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1, 27% (Grafik 1.11).
Relatif tingginya pertumbuhan sektor bangunan juga sesuai dengan tingginya pertumbuhan kredit perumahan/ruko pada perbankan yang tercatat tumbuh 25,16% (y.o.y) menjadi sebesar Rp499 ,21 M iliar (Tabel 1.7).
Pertumbuhan sektor bangunan yang relatif tinggi diperkirakan didorong oleh aktivitas sw asta yang cukup tinggi dengan semakin berkembangnya perekonomian Sulaw esi Tenggara. Selain itu, realisasi proyek-proyek pembangunan pemerintah juga turut mendorong pertumbuhan sektor bangunan.
5
Data Juli-Agustus 2010 dibandingkan dengan data Juli-Agustus 2009 Sumber: BPS Prov. Sulaw esi Tenggara
Tabel 1.7 Perkembangan Kredit Perumahan/ Ruko
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 q.t.q y.o.y
KPR s/d Type 70 140,905 164,981 197,633 225,515 369,651 393,687 378,189 -3.94% 91.36% KPR Di atas Type 70 102,958 114,773 122,028 140,885 31,349 28,688 39,746 38.55% -67.43% Ruko dan Rukan 76,657 79,835 79,190 82,148 55,005 69,276 81,274 17.32% 2.63% Total 320,520 359,589 398,851 448,548 456,005 491,651 499,209 1.54% 25.16%
Penggunaan 2009 2010 Growth
1.3.6 Sektor Angkutan dan Komunikasi
Perkembangan sektor angkutan dan komunikasi pada triw ulan III -2010
mengalami pertumbuhan yang positif yaitu sebesar 8,60% (Tabel 1.4) namun
mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 21,38% (y.o.y). Kontribusi sektor angkutan dan komunikasi terhadap pertumbuhan ekonomi Sulaw esi Tenggara tercatat sebesar 0,75 % (Grafik 1.11).
Peningkatan sektor angkutan ditandai dengan meningkatnya jumlah arus penumpang yang menggunakan alat transportasi udara di Bandara Haluoleo. Pada per iode berjalan jumlah penumpang yang tiba di bandara Haluoleo tercatat sebanyak 7 4.199 orang, dan jumlah penumpang yang berangkat tercatat sebanyak 76.166 orang (Grafik 1.15) yang masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 8,50% dan 2,97 % (y.o.y).
M eningkatnya pertumbuhan sektor angkutan dan komunikasi didorong oleh tingginya mobilitas masyarakat Sulaw esi Tenggara terkait pada masa hari raya idul fitri.
Grafik 1.16 Jumlah Arus Penumpang Di Bandara Haluoleo Kendari
-10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3
2007 2008 2009 2010
TIBA BERANGKAT
1.3.7 Sektor Keuangan
Sektor keuangan pada triw ulan III-2010 tumbuh sebesar 7,75% (y.o.y).
mengalami perlambatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 10,27 % (y.o.y). Kontribusi sektor keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi Sulaw esi Tenggara tercatat sebesar 0,66% .
Grafik 1.17 NTB Perbankan Di Sulaw esi Tenggara
-0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3
2008 2009 2010
Pertumbuhan sektor keuangan juga tercermin pada peningkatan NTB perbankan Sulaw esi Tenggara yang tercatat sebesar Rp1.449,62 M iliar juta atau meningkat dibandingkan triw ulan III-2009 yang tercatat sebesar Rp1.079 ,97 M iliar (grafik 1.1 7).
Selain itu, perkembangan sektor keuangan juga tercermin dari pertumbuhan penyaluran kredit yang pada triw ulan III-2010 tercatat 26,41% (y.o.y) atau menjadi sebesar Rp5.636 ,34 M iliar.
1.3.8 Sektor Lainnya
Perkembangan sektor listrik, gas & air bersih (LGA) serta sektor jasa-jasa pada
triw ulan III-2010 menunjukkan pertumbuhan yang positif masing masing sebesar
8,37% (y.o.y) dan 1,02% (y.o.y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
masing-masing sebesar 0,06% dan 0,13% .
Peningkatan pertumbuhan sektor jasa-jasa antara lain didorong oleh peningkatan pembiayaan perbankan terhadap sektor jasa dunia usaha yang mengalami pertumbuhan sebesar 26,41% (y.o.y).
-3.0% -2.0% -1.0% 0.0% 1.0% 2.0% 3.0% 4.0% 5.0% 6.0% 7.0%
2007 2008 2009 2010
Inflasi Nasional (M t M ) Inflasi Kendari (M tM )
II
ASESM EN IN FLASI
2.1 Kondisi Umum
Indeks Harga Konsumen (IHK) Nasional pada bulan September 2010 mengalami inflasi sebesar 0,44% . (mtm). Laju inflasi tahun kalender sampai dengan September 2010 sebesar 5,28% (ytd), sementara inflasi tahunan bulan September 2010 sebesar 5,80% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan bulan Agustus 2010 (6,44% ). Penyumbang inflasi bulan September 2010 terutama adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,10% ), kelompok bahan makanan, dan transpor, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing sebesar 0,09% . Komoditas barang dan jasa yang dominan menyumbang inflasi antara lain ikan segar (0,10% ), daging ayam ras (0,06% ), tarif angkutan antar kota (0,05% ), emas perhiasan (0,04% ), daging sapi (0,03% ), beras, tarif angkutan udara, dan upah pembantu rumah tangga masing-masing sebesar 0,02% .
Pada sisi lain, komoditas yang menyumbang deflasi terbesar adalah cabe merah (0,19% ), cabe raw it (0,04% ), telur ayam ras (0,02% ) dan baw ang merah (0,02% ). Berdasarkan perkembangan harga yang terjadi di 66 kota pada bulan September 2010, 57 kota mengalami inflasi dan 9 kota sisanya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 1,80% sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Lhokseumaw e sebesar 1,28% .
Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m) Nasional & Kendari
IHK (m.t.m) (y.t.d) (y.o.y) IHK (m.t .m) (y.t.d) (y.o.y)
Januari 118.01 0.84 0.84 3.72 123.55 0.57 0.57 3.15
Februari 118.36 0.3 1.14 3.81 122.59 -0.78 -0.21 2.15
M aret 118.19 -0.14 0.99 3.43 122.60 0.01 -0.20 1.36
April 118.37 0.15 1.15 3.91 122.98 0.31 0.11 0.73
M ei 118.71 0.29 1.44 4.16 123.54 0.46 0.56 1.59
Juni 119.86 0.97 2.42 5.05 123.46 -0.06 0.50 2.41
Juli 121.74 1.57 4.02 6.22 126.16 2.19 2.69 4.09
Agustus 122.67 0.76 4.82 6.44 128.66 1.98 4.73 5.72
September 123.21 0.44 5.28 5.8 128.12 -0.42 4.29 3.99
2010
Nasional Kendari
Tahun Bulan
Pada bulan September 2010, Kota Kendari menjadi salah satu kota yang
tercatat mengalami deflasi. Perkembangan harga yang digambarkan oleh perubahan
Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Kendari tercatat mengalami deflasi sebesar
-0,42% (m.t.m) sementara laju inflasi tahunan tercatat sebesar 3,99 % (y.o.y) lebih rendah
dibandingkan laju inflasi tahunan nasional bulan September 2010 tercatatat sebesar 5,80 % (y.o.y). Selanjutnya, inflasi tahun berjalan Kota Kendari sampai dengan bulan September 2010 tercatat sebesar 4,29% (y.t.d). Relatif rendahnya laju inflasi tahunan Kota Kendari tersebut antara lain dipengaruhi oleh kembali stabilnya permintaan konsumen setelah mengalami peningkatan seiring dengan adanya tahun ajaran baru yang berdekatan dengan hari raya keagamaan. Berdasarkan kelompoknya, deflasi yang terjadi pada bulan September 2010 terutama didorong oleh deflasi kelompok bahan makanan.
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Kota Kendari
Sumber: data BPS diolah
2.2 Perkembangan Inflasi Bulanan di Provinsi Sulaw esi Tenggara
Perkembangan IHK di Kota Kendari pada periode Juli – September 2010
ditandai dengan terjadinya deflasi pada bulan September 2010 (tabel 2.1) sebesar
-0,42% (m.t.m). Pada bulan tersebut, terdapat dua kelompok yang tercatat mengalami deflasi
dimana kelompok bahan makanan tercatat mengalami deflasi sebesar -1,91 % (m.t.m). Sementara itu, lima kelompok tercatat mengalami inflasi dimana kelompok sandang tercatat sebagai kelompok yang mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,53% (m.t.m).
4,76% (m.t.m) dan 4,40% (m.t.m). Pada sisi lain terdapat tiga kelompok yang mengalami deflasi dimana kelompok sandang tercatat mengalami deflasi terendah sebesar -0,84% (m.t.m).
Laju inflasi Kota Kendari masih berlanjut pada bulan Agustus 2010 dimana inflasi tercatat sebesar 1,98% (m.t.m). Laju inflasi tersebut terutama didorong oleh inflasi kelompok bahan makanan sebesar 5,61% (m.t.m). Selain itu, inflasi yang cukup tinggi juga terjadi pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 1,84% (m.t.m). Pada sisi lain, kelompok kesehatan tercatat sebagai satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi sebesar -0,07% (m.t.m).
Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan (m.t.m)
KELOM POK Jul-10 Aug-10 Sep-10
Bahan M akanan 4.76 5.61 -1.91
M akanan Jadi, M inuman, Rokok & Tembakau 0.94 0.66 0.25
Perumahan -0.04 0.80 0.16
Sandang -0.84 0.02 0.53
Kesehatan -0.17 -0.07 0.02
Pendidikan, Rekreasi, & Olah Raga 0.82 1.84 0.41
Transportasi & Komunikasi 4.40 0.51 -0.12
U M U M 2.19 1.98 -0.42
Tabel 2.3. Sumbangan Per Kelompok Thd Inflasi Bulanan (m.t.m)
KELOM POK Jul-10 Aug-10 Sep-10
Bahan M akanan 1.24 1.50 -0.53
M akanan Jadi, M inuman, Rokok & Tembakau 0.12 0.08 0.03
Perumahan -0.01 0.19 0.04
Sandang -0.07 0.00 0.04
Kesehatan -0.01 0.00 0.00
Pendidikan, Rekreasi, & Olah Raga 0.05 0.11 0.02 Transportasi & Komunikasi 0.87 0.10 -0.02
U M U M 2.19 1.98 -0.42
Berdasarkan data di atas (tabel 2.2 dan 2.3), pergerakan inflasi Kota Kendari pada periode Juli –September 2010 dipengaruhi oleh pergerakan inflasi kelompok bahan makanan. Sementara itu, inflasi kelompok makanan jadi dan kelompok sandang pada periode laporan menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Selanjutnya, inflasi kelompok perumahan serta kelompok tarnsportasi & komunikasi masih cukup stabil. Dua kelompok tersebut memiliki kontribusi cukup besar dalam pembentukan inflasi umum Kota Kendari.
Sumber: Data BPS Prov. Sultra
2.2.1 Kelompok Bahan M akanan
Pada bulan Juli 2010, kelompok bahan makanan tercatat mengalami inflasi
sebesar 4,76% (m.t.m) dan memberikan sumbangan sebesar 1,24% terhadap inflasi
umum bulan April 2010. Inflasi kelompok bahan makanan pada periode laporan, antara lain
didorong oleh inflasi yang terjadi pada sub kelompok sayur mayur dan sub kelompok bumbu-bumbuan masing-masing sebesar 32,68 % (m.t.m) dan 22,56% (m.t.m). Pada sisi lain, sub kelompok padi-padian, yang memiliki bobot cukup besar dalam pembentukan inflasi
kelompok bahan makanan, masih menunjukkan kecenderungan penurunan harga
sebagaimana tercermin pada angka def lasi sub kelompok padi-padian sebesar -0,22 % (m.t.m).
Pada bulan Agustus 2010, kelompok bahan makanan tercatat mengalami inflasi lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Inflasi kelompok bahan makanan tercatat sebesar 5,61% (m.t.m). Berdasarkan sub kelompoknya, seluruh sub kelompok yang termasuk dalam kategori bahan makanan mengalami inflasi. M asih tingginya inflasi sub kelompok sayur mayur dan bumbu-bumbuan masing -masing sebesar 16,74% (m.t.m) dan 11,16% (m.t.m) menjadi pendorong inflasi pada periode laporan. Sementara, sub kelompok padi-padian yang mengalami inflasi sebesar 4,13% (m.t.m) juga menjadi pemicu inflasi kelompok bahan makanan bulan Agustus 2010.
Komoditi Sumbangan Komoditi Sumbangan Komoditi Sumbangan
Bayam 0.42 Ikan cakalang 0.34 Bayam -0.38
Cabe raw it 0.11 Beras 0.25 Cakalang -0.19
Kacang panjang 0.09 Bayam 0.24 Kangkung -0.14
Baw ang putih 0.09 Kacang panjang 0.15 Saw i hijau -0.10
Kangkung. 0.08 Cabe raw it 0.15 Telur ayam ras -0.07
Teri 0.08 Ikan kembung 0.14 Baw ang merah -0.06
Baw ang merah 0.08 Kangkung 0.11 Pisang -0.05
Telur ayam ras 0.07 Saw i hijau 0.10
Saw i hijau 0.06 Pisang 0.07
Tomat sayur 0.06
Ayam hidup 0.06
Kol 0.05
Cabe merah 0.03
Daging ayam ras 0.03
Daging ayam kampung 0.03
Inflasi Juli 2010 Inflasi Agustus 2010 Deflasi September 2010
0
Juni 2010 Juli 2010 Agust 2010 Sept 2010
R
p
/K
g
Tabel 2.4 . Komoditi Penyumbang Inflasi/ Deflasi Kelompok Bahan M akanan Bulan Juli – September 2010
Sumber : Data BPS Prov. Sultra diolah
Berdasarkan data di atas (tabel 2.4), pergerakan inflasi kelompok bahan makanan pada periode bulan Juli sampai dengan September 2010 dipengaruhi oleh sub kelompok sayur mayur. Kondisi tersebut tercermin dari beberapa komoditi pada sub kelompok sayur mayur yang memberikan sumbangan cukup besar dalam pembentukan Inflasi.
Grafik 2.2. Perkembangan Harga Sayur M ayur
Sumber : Data Survei Bank Indonesia Jul-10 Aug-10 Sep-10 32.68% 16.74% -12.87%
Komoditi Sumbangan Komoditi Sumbangan Komoditi Sumbangan
Semen -0.12 Tarif listrik 0.11 Semen 0.02
Besi beton -0.03 Semen 0.03 Bahan bakar rumah tangga 0.02
Paku -0.002 Bahan bakar 0.01 Sabun cream detergent 0.0003
Sewa rumah 0.01 Sabun detergent bubuk 0.0003
Inflasi Agustus 2010 Inflasi September 2010 Deflasi Juli 2010
2.2.2 Kelompok Perumahan
Pada bulan Juli 2010, kelompok perumahan tercatat menjadi salah satu
kelompok yang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,04% (m.t.m) dan sedikit
meredam laju inflasi umum pada periode laporan. Berdasarkan sub kelompoknya, biaya
tempat tinggal tercatat sebagai satusatunya sub kelompok yang mengalami deflasi sebesar -1,07% (m.t.m). Pada sisi lain, dua sub kelompok tercatat mengalami inflasi dimana sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga tercatat mengalami inflasi terrtinggi sebesar 5,00% (m.t.m).
Berbeda dengan periode sebelumnya, kelompok perumahan tercatat mengalami inflasi sebesar 0,80% (m.t.m) pada bulan Agustus 2010 dan memberikan sumbangan terhadap inflasi umum sebesar 0,19% . Pada periode tersebut, seluruh sub kelompok tercatat mengalami inflasi dimana sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air tercatat mengalami inflasi terbesar yaitu 2,41% (m.t.m). Selanjutnya, sub kelompok biaya tempat tinggal juga mengalami inflasi sebesar 0,45% (m.t.m).
M eskipun mengalami perlambatan namun kelompok perumahan masih tercatat mengalami inflasi pada bulan September 2010 sebesar 0,16% (m.t.m) dan memberikan sumbangan terhadap laju inflasi sebesar 0,04% . Berdasarkan sub kelompoknya, tercatat tiga sub kelompok mengalami inflasi dimana sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air serta sub kelompok biaya tempat tinggal tercatat mengalami inflasi tertinggi masing -masing sebesar 0,39% (m.t.m) dan 0,15% (m.t.m). Sementara, sub kelompok perlengkapan rumah tangga tercatat tidak mengalami perubahan harga pada periode laporan.
Tabel 2.5. Komoditi Penyumbang Inflasi Kelompok Perumahan Juli – September 2010
Sumber : Data BPS Prov. Sultra diolah
perumahan pada bulan Juli 2010. Namun demikian, kembali berkurang nya pasokan semen pada bulan Agustus dan September 2010 mengakibatkan kembali terjadinya inflasi kelompok perumahan pada dua bulan tersebut.
Grafik 2.3. Realisasi Pengadaan Semen Dan Inflasi Biaya Tempat Tinggal
-2%
Realisasi Pengadaan Semen Inflasi (m.t.m) Biaya Tempat tinggal
Sumber: data ASI diolah
2.2.3 Kelompok Transportasi Dan Komunikasi
Pada bulan Juli 2010, kelompok transprotasi dan komunikasi menjadi salah satu kelompok yang tercatat mengalami inflasi cukup tinggi sebesar 4,40% (m.t.m). Berdasarkan sub kelompoknya, terdapat tiga sub kelompok yang tercatat mengalami inflasi dimana sub kelompok transportasi mengalami inflasi tertinggi sebesar 5,92% (m.t.m). Sementara, sub kelompok komunikasi dan sub kelompok sarana penunjang transportasi masing-masing mengalami inflasi sebesar 0,45% (m.t.m) dan 0,55% (m.t.m).
Laju inflasi kelompok transportasi dan komunikasi masih berlanjut pada bulan Agustus 2010 dimana kelompok ini tercatat mengalami inflasi sebesar 0,51% (m.t.m) lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan sub kelompoknya, terdapat dua sub kelompok yang tercatat mengalami inflasi yaitu sub kelompok transportasi serta sub
kelompok komunikasi masing-masing sebesar 0,60% (m.t.m) dan 0,42% (m.t.m).
Komoditi Sumbangan Komoditi Sumbangan Komoditi Sumbangan
Angkutan udara 0.87 Angkutan udara 0.09 Angkutan udara -0.05
Telepon seluler 0.02
Inflasi Juli 2010 Inflasi Agustus 2010 Deflasi September 2010 Berbeda dengan dua periode seb elumnya, kelompok transportasi dan komunikasi tercatat mengalami deflasi sebesar -0,12% (m.t.m). Berdasarkan sub kelompoknya, deflasi kelompok transportasi dan komunikasi pada bulan September 2010 dipengaruhi oleh deflasi yang terjadi pada sub kelompok transportasi sebesar -0,16% (m.t.m). Pada sisi lain, tiga sub kelompok lainnya tercatat tidak mengalami perubahan harga.
Tabel 2.5. Komoditi Penyumbang Inflasi
Kelompok Transportasi dan Komunikasi Juli – September 2010
Sumber : Data BPS Prov. Sultra diolah
Berdasarkan tabel di atas, tarif angkutan udara menjadi pendorong pergerakan inflasi/deflasi kelompok transportasi dan komunikasi pada periode Juli – September 2010. Relatif tingginya tarif angkutan udara khususnya pada bulan Juli dan Agustus 2010 antara lain dipengaruhi oleh peningkatan mobilitas penduduk seiring dengan adanya libur sekolah dan Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
2.3 Disagregasi Inflasi
Inflasi inti Kota Kendari pada periode Juli – Agustus 2010 menunjukkan
peningkatan, namun kembali mengalami penurunan pada bulan September 2010.
Pada bulan Juli dan Agustus 2010 inflasi inti Kota Kendari masing-masing tercatat sebesar 0,16% (m.t.m) dan 0,52% (m.t .m). Peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi oleh inflasi volatile food yang tercatat sebesar 4,76% (m.t.m) pada bulan Juli 2010 dan 5,67% (m.t.m) pada bulan Agustus 2010. Secara umum, komoditi pada kelompok volatile food digunakan sebagai input makanan olahan sehingga inflasi volatile food akan berpengaruh terhadap inflasi inti. Sementara, kenaikan biaya pendidikan serta harga gula pasir juga turut mendorong inflasi inti pada bulan Juli dan Agustus 2010. Selanjutnya, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada bulan Juli 2010 memberikan tekanan inflasi administered price namun demikian dampak kenaikan TDL tersebut agak teredam oleh melambatnya inflasi transportasi bulan Agustus 2010.
administered price juga tercatat mengalami perlambatan dari 0,93% (m.t.m) pada bulan Agustus 2010 menjadi 0,10% (m.t.m).
Grafik 2.3. Disagregasi Inflasi Kota Kendari
100
IHK Umum Inflasi Core/Inti
Inflasi Volatile Foods (m.t.m) Inflasi Administered Price (m.t.m)
Sumber : Data BPS Prov. Sultra diolah
2.3 Faktor Yang mempengaruhi Inflasi/ Deflasi
Secara umum, pergerakan harga di Kota Kendari pada periode Juli – September 2010 sebagaimana tercermin dari laju inflasi Kota Kendari masih cukup terkendali meskipun laju inflasi tercatat cukup tinggi pada bulan Juli dan Agustus 2010. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh harga bahan makanan serta datangnya masa liburan sekolah dan Hari Raya Keagamaan. Namun demikian, pergerakan harga Kota Kendari cenderung mengalami penurunan pada bulan September 2010 seiring dengan kembali normalnya konsumsi masyarakat.
-5
Tabel 2.7. Beberapa Faktor Yang M empengaruhi Inflasi Juli – September 2010 Di Kota Kendari
Faktor Penyebab Dampak
Faktor cuaca yang ditandai oleh curah hujan dimana pada bulan Juli – September 2010 curah hujan sebagian besar w ilayah Sulaw esi Tenggara cenderung tinggi yaitu 201 – 4 00 mm dan bersifat diatas normal1. Kondisi tersebut berdampak terhadap terganggunya supplai beberapa komoditi sayur mayur dan bumbu bumbuan.
Inflasi pada kelompok bahan makanan
M eningkatnya konsumsi masyarakat seiring dengan datangnya masa liburan sekolah yang berdekatan dengan Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1431H serta adanya peningakatan pendapatan masyarakat sejalan dengan penerimaan THR.
Kenaikan tarif dasar listrik rata- rata 10% pada mulai bulan Juli 2010.
Inflasi kelompok perumahan pada bulan Agustus 2010
2.4 Inflasi Tahun Berjalan dan Inflasi Tahunan
Inflasi tahun berjalan pada bulan September 2010 menunjukkan pergerakan
yang cenderung rendah yaitu tercatat sebesar 4,29% (y.t.d) (grafik 2.5). Angka
tersebut berada dibaw ah angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 5,28% (y.t.d).
Selanjutnya, inflasi tahunan Kota Kendari tercatat sebesar 3,99% (y.o.y) sedangkan
inflasi nasional tercatat sebesar 5,80% (y.o.y)
Grafik 2.5 Inflasi Tahunan dan Tahun Berjalan Kota Kendari
1Sumber: BMKG
Sumber: Data BPS Prov. Sultra diolah
Kelompok/Sub Kelompok Inflasi/Deflasi September 2010
BAHAN M AKANAN -1.91%
Bumbu Bumbuan 3.89%
Sayur M ayur -12.87%
M AKANAN JADI, M INUM AN, ROKOK & TEM BAKAU 0.25%
Rokok, Tembakau & M inuman Beralkohol 0.93% M inuman Yang Tidak Beralkohol -0.48%
PERUM AHAN 0.16%
Bahan Bakar, Penerangan & Air 0.39%
Perlengkapan Rumah Tangga 0.00%
SANDANG 0.53%
Barang Pribadi dan Sandang Lainnya 1.25%
Sandang Anak-Anak 0.00%
KESEHATAN 0.02%
Peraw atan Jasmani & Kosmetika 0.06%
Jasa Peraw atan Jasmani 0.00%
PENDIDIKAN, REKREASI & OLAH RAGA 0.41%
Rekreasi 1.36%
Biaya Pendidikan 0.00%
TRANSPORT & KOM UNIKASI -0.12%
Komunikasi & Pengiriman 0.00%
Transportasi -0.16%
U M U M -0.42%
M eskipun tercatat mengalami inflasi yang cukup tinggi pada bulan Juli dan Agustus 2010, namun inflasi tahunan Kota Kendari sampai dengan bulan September 2010 masih berada dalam kondisi normal meskipun terdapat kelompok yang mengalami inflasi cukup tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, laju inflasi tahun berjalan Kota Kendari juga menunjukkan pergerakan yang masih terkendali. Secara umum, sampai dengan bulan September 2010, inflasi Kota Kendari cenderung mulai mengalami peningkatan pada bulan M ei 2010 dan mengalami puncaknya pada bulan Agustus 2010. Namun demikian, pergerakan harga di Kota Kendari menunjukkan kecederungan perlambatan pada bulan September 2010 seiring dengan mulai normalnya permintaan pasca hari raya keagamaan serta terjaganya pasokan komoditi di Kota Kendari.
2.5 Inflasi/ Deflasi Terbesar per- Sub kelompok
Berdasarkan kelompoknya, kelompok sandang tercatat mengalami inflasi bulanan tertinggi yaitu sebesar 0,53% (m.t.m) pada bulan September 2010. Inflasi pada
kelompok tersebut terutama didorong oleh inflasi sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya seiring dengan kenaikan harga emas di Kota Kendari.
Tabel 2.8. Inflasi (Deflasi) terbesar per-Sub Kelompok Secara Bulanan
III
PERKEM BAN GAN PERBAN KAN
3.1. Kondisi Umum
Kondisi makro ekonomi Sulaw esi Tenggara hingga triw ulan III-2010 terus menunjukkan trend yang positif. Hal ini terlihat pada laju pertumbuhan ekonomi dimana secara tahunan tumbuh sebesar 8,32 (y-o-y)1 berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,80% . Sementara inflasi pada tahun berjalan (y-t -d) berada pada level 4,29% lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 5,28% . Terjaganya trend positif tersebut tidak terlepas dari terpeliharanya iklim usaha yang kondusif sebagaimana diindikasikan oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha yang dilakukan oleh KBI Kendari, dimana persepsi sektor usaha terhadap kondisi usaha di Sulaw esi Tenggara selama triw ulan III-2010 mengatakan cukup baik dengan nilai saldo bersih sebesar 129.33.
Dengan kondusifnya kondisi makro ekonomi tersebut, telah memberikan peluang kepada perbankan Sulaw esi Tenggara untuk meningkatkan kinerjanya, sebagaimana terlihat pada beberapa indikator seperti meningkatnya penghimpunan dana pihak ketiga maupun kredit/pembiayaan yang disalurkan, perolehan laba dan efisiensi usaha, serta terjaganya risiko kredit yang tercermin rendahnya non performing loans (NPLs) (Tabel 3.1.).
Peningkatan dana pihak ketiga, selain didorong oleh kemampuan masyarakat untuk menabung, juga tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh perbankan dalam mendorong minat masyarakat untuk menabung, yang antara lain dilakukan melalui program edukasi serta peluncuran dan sosialisasi program tabungan bersama seperti TabunganKu.
Sementara itu, laju pertumbuhan kredit selain didorong oleh meningkatnya permintaan kredit untuk pembiyaan kegiatan usaha seiring membaiknya kondisi perekonomian, juga didorong oleh adanya program pemerintah antara lain Kredit Usaha Rakyat (KUR), dimana pada tahun 2010 ketentuan mengenai KUR telah mengalami perubahan terutama pada pengaturan plafon dan suku bunga.
1
Tabel 3.1. : Perkembangan Indikator Perbankan Sulaw esi Tenggara
Dalam Juta Rp.
Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III q-t-q y-t-d y-o-y
Aset 6,734,110 7,180,415 7,306,899 7,936,553 7,872,333 -0.81% 9.64% 16.90% - Bank Um um 6,674,495 7,115,034 7,242,588 7,870,361 7,806,461 -0.81% 9.72% 16.96% - BPR 59,615 65,381 64,311 66,192 65,872 -0.48% 0.75% 10.50%
DPK 5,059,012 5,261,893 5,303,128 5,706,766 5,834,568 2.24% 10.88% 15.33% - Bank Um um 5,009,644 5,207,284 5,249,854 5,651,856 5,779,613 2.26% 10.99% 15.37%
- BPR 49,368 54,609 53,274 54,910 54,955 0.08% 0.63% 11.32%
Kredit 4,508,296 4,775,972 4,989,670 5,399,541 5,687,750 5.34% 19.09% 26.16% - Bank Um um 4,458,821 4,725,364 4,937,428 5,348,030 5,636,335 5.39% 19.28% 26.41%
- BPR 49,475 50,608 52,242 51,511 51,415 -0.19% 1.59% 3.92%
LDR 89.11% 90.77% 94.09% 94.62% 97.48%
- Bank Um um 89.00% 90.75% 94.05% 94.62% 97.52% - BPR 100.22% 92.67% 98.06% 93.81% 93.56%
NPLs (Gross ) 3.43% 2.42% 2.48% 2.05% 2.54%
- Bank Um um 3.40% 2.36% 2.43% 1.99% 2.49%
- BPR 6.01% 7.54% 7.83% 7.50% 8.47%
Grow t h
Indikat or 2009 2010
Sumber : LBU Bank Umum dan BPR
3.2. Perkembangan Aset
Volume usaha perbankan Sulaw esi Tenggara sebagaimana tercermin pada jumlah aset hingga triw ulan III-2010 tetap menunjukkan peningkatan. Total aset tercatat sebesar Rp7.872,33 miliar, meningkat 16,90%
dibandingkan dengan periode yang
sama tahun 2009 yang sebesar
Rp6.734,11 miliar (y-o-y). Aset
tersebut sebagian besar
pembentukannya masih didominasi
oleh bank umum dengan pangsa
mencapai 99,16% , sementara aset BPR
pangsanya hanya sebesar 0,84% .
Perkembangan aset tersebut terutama didorong oleh peningkatan dana pihak yang berhasil dihimpun, dimana secara
tahunan tumbuh sebesar 15,33% (y-o-y) (Grafik 3.1).
Grafik 3.1 : Perkembangan Pangsa Aset Bank Umum M enurut Pemilik
Rendahnya pangsa aset BPR terhadap aset perbankan Sulaw esi Tenggara tidak terlepas dari masih sedikitnya jumlah BPR yang beroperasi, dimana hingga akhir triw ulan III-2010 tercatat sebanyak 6 BPR dengan 9 jaringan kantor . Berdasarkan jenis bank, peningkatan aset terjadi pada semua jenis bank, baik bank umum maupun BPR dengan laju pertumbuhan masing-masing sebesar 16,96% 10,50% (y-o-y).
3.3. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK)
DPK yang berhasil dihimpun oleh perbankan Sulaw esi Tenggara pada triw ulan III-2010 tercatat sebesar Rp5.834,37 miliar,
secara nominal meningkat sebesar Rp127,80 miliar (2,24% ) dibandingkan triw ulan II-2010 yang tercatat sebesar Rp5.706,77 miliar (q-t -q). Dari total
DPK tersebut, sebagian besar
pembentukannya disumbangkan oleh kelompok bank umum yakni sebesar Rp5.779 miliar (99,06% ) dan BPR sebesar Rp54,99 miliar (0,94% ). (Grafik 3.2.).
Berdasarkan jenis simpanan, hanya tabungan yang mengalami pertumbuhan yakni sebesar 7,05% , sedangkan giro dan deposito masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,50% dan 1,33% (q-t -q). Peningkatan DPK terutama pada tabungan, selain didorong oleh meningkatnya kemampuan masyarakat untuk menyimpan dananya di bank juga tidak terlepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh perbankan dalam menggali potensi dana yang ada dimasyarakat yang antara lain melalui program edukasi serta peluncuran program tabungan bersama tanpa biaya administrasi seperti tabunganKu. Sementara, berdasarkan kelompok bank, peningkatan DPK terjadi pada semua kelompok bank baik bank umum maupun BPR dengan laju pertumbuhan masing-masing sebesar 7,07% dan 4,13% (q -t-q).
Grafik 3.1 : Perkembangan DPK (q-t -q) Perbankan Sulaw esi Tenggara
-4,00
Tw-I Tw -II Tw-III Tw-IV Tw-I Tw-II Tw-III
2009 2010
Pertumbuhan Dlm. Nominal Pertumbuhan Dlm. Prosen
Komposisi DPK perbankan Sulaw esi Tenggara masih didominasi oleh tabungan yakni sebesar Rp3.365,11 miliar (57,67% ), diikuti giro dan deposito masing-masing sebesar
Rp1.353,93 miliar (23,21% ) dan
Rp1.115,57 miliar (19,12% ) (Grafik 3.2).
Besarnya pangsa tabungan pada
struktur DPK mencerminkan bahw a motivasi masyarakat Sulaw esi Tenggara menempatkan dananya di bank untuk berjaga-jaga (precautionary motive) terhadap kebutuhan bertransaksi bukan untuk investasi. Hal ini juga didorong oleh banyaknya kemudahan bertransaki yang ditaw arkan perbankan yang dapat dilakukan melalui rekening tabungan
kepada nasabahnya seperti penarikan tunai, transfer maupun pembayaran berbagai tagihan seperti listrik, telepon dan kartu kredit melaui anjungan tunai mandiri (ATM ). Tingginya pangsa tabungan dan giro memberikan keuntungan tersendiri bagi perbankan Sulaw esi Tenggara karena dana-dana tersebut merupakan dana murah.
Sementara itu berdasarkan golongan pemilik, sebagian besar (79,72% ) DPK perbankan Sulaw esi Tenggara merupakan milik perorangan yang disimpan dalam bentuk tabungan dan deposito yang berjangka w aktu pendek sehingga tingkat volatilitasnya tinggi, kondisi tersebut mendorong bank lebih banyak menempatkan dananya pada penyaluran kredit/pembiayaan berjangka w aktu pendek seperti kredit modal kerja dan konsumsi. Selain perorangan, pemilik DPK terbesar pada perbankan Sulaw esi Tenggara adalah pemerintah daerah dengan pangsa 13,40% , diikuti oleh perusahaan sw asta dan pemerintah pusat dengan pangsa masing-masing sebesar 2,68% dan 1,16% (grafik 3.3.).
Dalam rangka meningkatkan minat masyarakat untuk menabung khususnya para pelajar, dan tindak lanjut dari Gerakan Indonesia M enabung yang telah dicanangkan oleh Presiden RI pada Februari 2010, maka pada November 2010 Bank Indonesa bekerja sama dengan Kelompok Kerja Edukasi Perbankan akan meluncurkan program “ Gerakan Sisw a M enabung” secara nasional.
Grafik 3.3. Pangsa DPKM enurut Golongan Pemilik
79,72% 13,40%
2,68%1,16% 3,04%
Perorangan Pemerintah Daerah Perusahaan Swasta Pemerintah Pusat Lainnya
Sumber LBU BU
Grafik 3.2. : Komposisi DPK berdasarkan Penggunaan
3.2. Penyaluran Kredit / Pembiyaan
Peran perbankan Sulaw esi Tenggara dalam mendorong peningkatan kapasitas perekonomian Sulaw esi Tenggara terus menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat pada
jumlah kredit/pembiayaan yang
disalurkan dimana pada posisi triw ulan III-2010 tercatat sebesar Rp5.687,75 miliar, tumbuh sebesar 5,34% atau meningkat Rp288,21 miliar dibandingkan posisi triw ulan II-2010 yang sebesar Rp5.399,54 miliar (q-t -q), sehingga selama tahun berjalan kredit/pembiayaan yang disalurkan tumbuh sebesar 19,09% atau sebesar Rp911,78 miliar (y-t -d) (Grafik 3.3).
Berdasarkan kelompok bank,
peningkatan kredit/pembiayaan terjadi pada kelompok bank umum yakni sebesar 5,39% , dari Rp5.348,03 miliar pada triw ulan II-2010 menjadi Rp5.636,34 miliar pada triw ulan III-2010 (q-t-q), sedangkan pada kelompok BPR sedikit mengalami penurunan yakni sebesar 0,19% , dari Rp51,51 miliar menjadi Rp51,42 miliar.
Peningkatan kredit/pembiayaan yang disalu rkan khususnya pada bank umum selain didorong oleh meningkatnya kebutuhan kredit masyarakat untuk membiayai kegiatan usaha seiring membaiknya kondisi perekonomian, juga dipicu adanya kredit program yang diluncurkan pemerintah dalam mendorong
pengembangan sektor UM KM , seperti Kredit Usaha Rakyat dimana dalam upaya
peningkatan penyerapannya telah
dilakukan revisi terhadap beberapa ketentuan seperti jumlah plafon dan suku bunga.
Sementara itu berdasarkan
penggunaannya, kredit yang disalurkan perbankan Sulaw esi Tenggara sebagian besar disalurkan untuk kredit konsumsi
Grafik 3.4. Pangsa Kredit M enurut Penggunaan
34,97%
7,81% 57,23%
Modal Kerja Investasi Konsumsi
Sumber LBU BU /BPR
Grafik 3.3. Pertumbuhan Kredit Perbankan Sulaw esi Tenggara
Pertumbuhan Nominal Pertumbuhan Prosen
dengan nominal mencapai Rp3.254,93 miliar atau sebesar 57,23% dari total kredit yang disalurkan, sementara pangsa kredit modal kerja sebesar 34,97% (Rp1.988,77 miliar) dan investasi sebesar 7,81% (Rp444.05 miliar). Besarnya pangsa kredit konsumsi tersebut tidak terlepas dari relatif terjaminnya pengembalian kew ajiban oleh debitur, mengingat kredit konsumsi umumnya berupa kredit kepada pegaw ai, hal ini terlihat pada NPL gross kredit konsumsi yang hanya sebesar 0,83% , sementara NPL kredit modal kerja dan investasi masing-masing sebesar 4,17% dan 7,17% . M eskipun pangsa kredit konsumsi cukup besar, namun dilihat pertumbuhannya kredit produktif khususnya kredit modal kerja pertumbuhannya lebih tinggi yakni sebesar 10,97% (q-t-q) dan 21,92% (y-t-d), dibandingkan kredit konsumsi yang pertumbuhannnya sebesar 5,59% (q-t-q) dan 21,18% (y-o-y). Dengan meningkatnya laju pertumbuhan kredit produktif tersebut, tentunya akan memberikan muliflier effect yang lebih besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sulaw esi Tenggara (Grafik 3.4.).
Secara sektoral, sebagian besar kredit/pembiayaan disalurkan ke sektor lainnya yang umumnya digunakan untuk konsumsi dengan pangsa mencapai 62,25 %. Kredit tersebut umumnya dipergunakan oleh debitur untuk pembelian rumah, kendaraan bermotor, peralatan elektronik maupun multi guna. Sedangkan sektor-sektor lain yang menyerap kredit/pembiayaan cukup besar adalah
sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), konstruksi, jasa dunia usaha dan pertanian dengan pangsa masing-masing sebesar 25,12% , 4,24% , 2,75% dan 2,45% (Grafik 3.5).
Tingginya penyaluran kredit ke sektor PHR, nampaknya sejalan dengan struktur PDRB Sulaw esi Tenggara dimana kontribusi sektor PHR terhadap pembentukan PDRB sektoral pada triw ulan III-2010 di atas 18% . Kondisi yang berbeda terjadi pada sektor pertanian, dimana kontribusinya terhadap
pembentukan PDRB relatif tinggi yang berada di atas 32% , namun kredit yang disalurkan ke sektor tersebut relatif kecil. Rendahnya penyaluran kredit pada sektor pertanian antara lain karena persepsi perbankan bahw a risikonya relatif lebih tinggi dibandingkan sektor lain. Selain itu perbankan umumnya mengemukakan bahw a skala ekonomi usaha di sektor
Grafik 3.5. : Pangsa Penyaluran Kredit M enurut Sektor Ekonomi
pertanian relatif kecil sehingga dalam penyaluran kredit dapat menimbulkan masalah dalam administrasi, overhead cost dan span of control setelah pemberian kredit direalisasikan. Untuk mengurangi risiko bagi perbankan dalam menyalurkan kredit/pembiyaan ke sektor pertanian, pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan program revitalisasi pertanian khususnya perkebunan karet, kelapa saw it dan kakao melalui program subsidi bunga, namun belum berjalan secara optimal. M eskipun demikian dilihat pertumbuhannya, secara triw ulanan kredit sektor pertanian tumbuh signifikan yakni sebesar 32,63% dari Rp105,05 miliar pada triw ulan II-2010 menjadi Rp139,32 miliar pada triw ulan III-2010. Hal ini memprlihatkan bahw a peranan perbankan dalam pengembangan sektor pertanian telah mengalami peningkatan.
Dengan meningkatnya laju pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan DPK, telah mendorong peningkatan Loan to Deposit Ratio (LDR), yang merupakan cerminan pelaksanaan fungsi intermediasi dari 94,62% pada triw ulan II-2010 menjadi 97,48% pada triw ulan III-II-2010. Tingginya LDR tersebut mencerminkan bahw a secara agregat hampir seluruh DPK yang dihimpun perbankan Sulaw esi Tenggara disalurkan
dalam bentuk kredit/pembiayaan. Dengan demikian apabila perbankan mampu
meningkatkan DPK sebagai sumber pem biyaan secara lebih optimal maka kredit/pembiayaan yang dapat disalurkan akan lebih tinggi lagi.
M eskipun kredit yang disalurkan menunjukkan peningkatan yang signifikan, namun risiko kredit (credit risk) tetap terjaga. Hal ini terlihat pada rasio non performing loan (NPLs) gross yang cukup rendah yang tercatat hanya sebesar 2,54% . Guna memitigasi risiko kerugian yang muncul, bank telah membentuk cadangan berupa penyisihan penghapusaan aktiva produktif (PPAP) yang cukup sebagimana terlihat pada NPLs net yang hanya sebesar 1,22% .
3.3. Perolehan Laba
Seiring dengan meningkatnya penyaluran kredit dan efisiensi usaha, perolehan laba usaha yang berhasil dibukukan oleh perbankan Sulaw esi Tenggara juga menu njukkan peningkatan. Pada III-2010 laba perbankan Sulaw esi Tenggara tercatat sebesar sebesar Rp417,47 miliar, tumbuh 27,63% dibandingkan dengan periode yang sama